Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 71–80 of 1354 results

  • Operasi tumor payudara bisa menyisakan bekas luka yang kecil hingga besar, tergantung dari ukuran tumornya. Jika tidak dirawat dengan benar, luka pasca operasi tumor akan lebih lama sembuhnya bahkan hingga terjadi infeksi tambahan. Kebersihan area luka adalah kunci dari pemulihan luka. Tapi, Sahabat Sehat tidak boleh sembarang membersihkan. Ada hal-hal yang Anda perlu perhatikan. Mari […]

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Operasi tumor payudara bisa menyisakan bekas luka yang kecil hingga besar, tergantung dari ukuran tumornya. Jika tidak dirawat dengan benar, luka pasca operasi tumor akan lebih lama sembuhnya bahkan hingga terjadi infeksi tambahan.

    Kebersihan area luka adalah kunci dari pemulihan luka. Tapi, Sahabat Sehat tidak boleh sembarang membersihkan. Ada hal-hal yang Anda perlu perhatikan. Mari simak cara perawatan luka di bawah ini untuk mengetahui langkahnya.

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Ciri-Ciri Benjolan Tumor Payudara Jinak

    Tumor adalah pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal (abnormal). Terdapat dua jenis dari tumor payudara yaitu kanker dan non-kanker (jinak).

    Tidak semua jenis benjolan pada payudara merupakan tumor ganas, sebagian besar tumor pada payudara termasuk jinak dan tidak membahayakan penderitanya, misalnya fibroadenoma mammae atau yang disebut FAM.

    Tumor payudara yang bersifat ganas dan jinak dapat dibedakan berdasarkan dengan ciri-ciri fisiknya, seperti :

    • Batasan bentuk tumor jinak jelas dan tegas

    Benjolan pada tumor payudara jinak memiliki batas yang jelas dan tegas dengan tepi rata, tidak seperti tumor ganas yang tidak beraturan bentuknya dengan batasan tepi yang tidak jelas.

    • Teraba kenyal dan lunak pada tumor payudara jinak

    Benjolan payudara yang bersifat jinak memiliki konsistensi yang kenyal dan lunak. Berbeda sekali dengan tumor payudara ganas pada kanker payudara misalnya. Pada kanker payudara, benjolan akan teraba keras dan padat.

    • Mudah digerakkan

    Benjolan akibat tumor payudara jinak akan mudah untuk digerakkan (mobile), sedangkan pada tumor ganas, benjolan menyatu dengan jaringan sekitarnya dan terikat sehingga sulit apabila digerakkan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Operasi Tumor Payudara Jinak

    Prinsip utama dalam terapi tumor payudara adalah pembedahan atau operasi (eksisi lokal). Prosedur pembedahan akan dilakukan apabila tumor payudara jinak semakin membesar dan menimbulkan nyeri.

    Merawat Luka Pasca Operasi

    Setelah operasi, berikut cara perawatan luka yang harus dilakukan:

    • Jangan melepas kasa pada area yang dioperasi

    Sebaiknya kasa diganti oleh dokter atau perawat luka terlatih.

    • Jaga luka operasi tetap kering.

    Salah satu perawatan bekas sayatan operasi yang terpenting adalah menjaga luka sayatan agar tetap kering. Hindari luka operasi dari air selama kurang lebih 24-48 jam pertama. Oleh karena itu, disarankan agar pasien tidak mandi atau hanya menyeka badan dengan waslap lembap.

    Selain itu, pasien tidak disarankan untuk berenang atau berendam hingga jahitan dinyatakan kering dan boleh dilepas. Apabila kasa penutup jahitan basah atau terlepas, maka pasien harus menggantinya dengan kassa yang kering atau ke dokter untuk mengganti kasa penutup.

    • Ganti perban secara berkala

    Kasa perban yang digunakan bertujuan untuk melindungi luka bekas sayatan operasi dari cidera luar agar tidak mudah tergesek dan memberikan waktu agar luka sembuh lebih cepat. Perban perlu diganti secara berkala, dokter akan memberikan arahan apakah perban perlu diganti oleh dokter atau dapat dilakukan secara mandiri di rumah.

    Berikut arahan untuk mengganti perban:

    1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memegang luka operasi.
    2. Basahi perekat dengan air bersih sebelum dibuka agar tidak sakit ketika perekat kasa ditarik.
    3. Setelah perban dibuka, pasien dapat membersihkan luka bekas sayatan dengan cairan steril atau cairan infus, usap dengan lembut dan jangan ditekan.
    4. Hindari penggunaan cairan antiseptik, alkohol atau povidone iodine karena berpotensi merusak kulit sekitarnya sehingga luka akan lebih sulit sembuh.
    5. Jangan mengoleskan salep sembarangan tanpa anjuran dokter.
    6. Jaga agar kassa dan luka sayatan tetap kering.
    • Hindari penggunaan bra terlalu kencang.

    Baca Juga: Mengapa Perlu Melakukan Pemeriksaan Pap Smear?

    Yang Harus Diperhatikan

    Berikut ini hal yang perlu diperhatikan dan segera ke dokter, apabila:

    1. Demam tinggi dalam 24 jam pasca operasi
    2. Apabila pada area operasi ditemukan bengkak, nyeri, kemerahan pada area luka operasi
    3. Nyeri yang sangat berat walaupun sudah dibantu dengan obat-obatan.

    Sahabat Sehat, itulah cara perawatan luka pasca operasi tumor payudara agar bekas luka tidak kotor atau terkontaminasi kuman sehingga bisa cepat pulih. Jika Sahabat Sehat memerlukan perawatan luka di rumah, Prosehat siap membantu Anda.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Perbedaan Kanker Serviks dan Kanker Rahim

    Bila Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Breast Tumors – National Breast Cancer Foundation.
    2. Cancer.org. What Is Breast Cancer?
    3. Columbia Surgery. Non-Cancerous Breast Disease.
    4. Suyatno. Peran Pembedahan Pada Tumor Jinak Payudara.
    5. Farrar, M.D. J, Kubiak, M.D. B, McCord, M.D. C. Breast Reconstruction Surgery Post-Op.
    Read More
  • Oral seks adalah rangsangan pada alat kelamin dengan menggunakan mulut dan ludah. Oral seks merupakan salah satu cara infeksi menular seksual (IMS) yang paling sering ditularkan. Seks oral meliputi seks oral pada penis (fellatio), seks oral pada vulva (cunnilingus) dan seks oral pada anal (rimming). Seseorang beresiko tertular penyakit menular seksual jika memiliki lebih dari satu […]

    Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Oral seks adalah rangsangan pada alat kelamin dengan menggunakan mulut dan ludah. Oral seks merupakan salah satu cara infeksi menular seksual (IMS) yang paling sering ditularkan.

    Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Seks oral meliputi seks oral pada penis (fellatio), seks oral pada vulva (cunnilingus) dan seks oral pada anal (rimming). Seseorang beresiko tertular penyakit menular seksual jika memiliki lebih dari satu pasangan seksual sehingga semakin banyak pasangan yang dimiliki maka semakin besar resiko untuk terinfeksi penyakit menular seksual.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine pada tahun 2007 menunjukkan resiko yang lebih besar untuk kanker orofaringeal pada orang yang melakukan seks oral dengan setidaknya enam pasangan yang berbeda. Selain resiko kanker, infeksi menular seksual juga dapat disebabkan akibat oral seks.

    Infeksi menular seksual dapat menyebar sebagai akibat dari kontak fisik yang dekat dengan orang lain. Infeksi biasanya menyebar melalui seks vagina, anal dan juga oral. Menurut CDC (Center of Disease Control and Prevention), berikut ini penyakit infeksi yang dapat disebabkan akibat oral seks :

    HIV

    Seks oral merupakan aktivitas yang relatif beresiko rendah untuk penularan HIV, terutama jika dibandingkan dengan aktivitas seksual melalui alat kelamin. Meskipun penularan HIV jarang terjadi melalui seks oral, namun resiko penularan masih tetap ada. Resiko HIV meningkat apabila :

    • Apabila memiliki luka di area mulutnya
    • Jika ejakulasi dilakukan didalam mulut
    • Jika seseorang yang menerima seks oral memiliki infeksi menular seksual lainnya.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Herpes Simpleks

    Meskipun herpes genital dan herpes oral disebabkan oleh jenis virus herpes simpleks yang berbeda (HSV-2 dan HSV-1), namun kedua virus ini mampu menginfeksi lokasi tersebut. Oleh karena itu, herpes dapat menular akibat seks oral. Resiko tertular infeksi herpes selama seks oral sangat signifikan dan dapat terjadi walaupun pasangan tidak mengalami gejala apapun.

    Human Papillomavirus (HPV)

    Seks oral sangat memungkinkan terjadinya transmisi virus HPV. Faktanya, diyakini bahwa HPV yang didapat saat melakukan seks oral merupakan faktor resiko utama terjadinya kanker mulut dan tenggorokan. Infeksi HPV mudah menyebar karena bisa menular hanya karena kontak kulit, bukan melalui cairan tubuh.

    Baca Juga: Agar Tidak Tertular, Ini 8 Cara Mencegah Penyakit Kelamin

    Gonore (Kencing Nanah)

    Tingkat penularan Gonore sangat tinggi pada pria yang berhubungan dengan sesama jenis dan biseksual. Beberapa penelitian melaporkan bahwa sekitar 6,5% pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis mengalami infeksi gonore pada tenggorokan. Gonorrhea merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.

    CDC memperkirakan ada sekitar 1,14 juta kasus baru setiap tahunnya. Gonorrhea dapat ditularkan melalui seks oral. Gonorrhea dapat mempengaruhi tenggorokan, alat kelamin, saluran kemih dan rektum.

    Chlamydia

    Penyakit Chlamydia disebabkan oleh infeksi bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini tak hanya ditularkan melalui hubungan seks oral, namun juga dapat ditularkan melalui hubungan seks anal dan melalui vagina. Penyakit ini dapat menyerang tenggorokan, alat kelamin, saluran kemih dan rectum.

    Baca Juga: Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    Sifilis

    Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penyakit sifilis dapat menyerang mulut, bibir, alat kelamin, anus, dan rektum. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyerang area tubuh lainnya termasuk pembuluh darah dan saraf.

    Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual ?

    Penyakit menular seksual dapat dicegah dengan menggunakan alat pelindung seperti kondom, setiap kali melakukan hubungan seks oral dan menghindari berganti pasangan seksual. Penis dapat dilindungi dengan kondom lateks dan jika alergi terhadap latex maka dapat menggunakan kondom plastik (poliuretan). Sementara bagi wanita, dapat menggunakan dental dam pada area kemaluannya.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. National Health Service. What infections can I catch through oral sex?
    2. Goodwin M, Zambon V. Oral sex STD risk charts: Safety and prevention.
    3. Downs M, Katz M. Oral Sex: Safety, Risks, Relationships, STD Transmission.
    4. Boskey E, Brahmbhatt J. Did You Know That Oral Sex Isn’t Safer Sex?
    5. White C, Scaccia A. The Facts on Oral STDs.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. STD Risk and Oral Sex.
    Read More
  • Sahabat Sehat mungkin sudah mendengar bahwa pemerintah telah menambahkan vaksin HPV (human papillomavirus) sebagai salah satu imunisasi wajib bagi anak. Sayangnya, program pemerintah ini baru menyasar anak sekolah dasar (SD) berusia antara 10-11 tahun atau SD kelas 5-6 saja, belum untuk kelompok lainnya. Vaksin HPV diindikasikan bagi semua perempuan mulai dari usia 9 tahun dengan tujuan […]

    Perbedaan Vaksin HPV Bivalent dan Quadrivalent, Pilih yang Mana?

    Sahabat Sehat mungkin sudah mendengar bahwa pemerintah telah menambahkan vaksin HPV (human papillomavirus) sebagai salah satu imunisasi wajib bagi anak. Sayangnya, program pemerintah ini baru menyasar anak sekolah dasar (SD) berusia antara 10-11 tahun atau SD kelas 5-6 saja, belum untuk kelompok lainnya.

    Perbedaan Vaksin HPV Bivalent dan Quadrivalent, Pilih yang Mana

    Perbedaan Vaksin HPV Bivalent dan Quadrivalent, Pilih yang Mana

    Vaksin HPV diindikasikan bagi semua perempuan mulai dari usia 9 tahun dengan tujuan agar terhindar dari infeksi HPV penyebab kanker serviks. Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian vaksin HPV di usia 10 tahun ke atas.

    Saat ini ada tiga macam vaksin HPV, yaitu vaksin HPV yang mencakup 2 strain, 4 strain, dan 9 strain. Di Indonesia sendiri hanya ada dua jenis vaksin HPV yang tersedia, yaitu vaksinasi HPV 2 strain (bivalent) dan 4 strain (quadrivalent). Lalu apakah perbedaan dari kedua vaksinasi HPV tersebut? Mari simak ulasannya berikut ini.

    Tipe HPV yang menyebabkan Kanker Serviks

    Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma Virus), yang disebabkan oleh tipe 16 dan 18 (sebanyak 70% kasus di dunia). Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui menjadi 90% penyebab kasus kutil kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual.

    Virus HPV dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Pada daerah kelamin, kanker tidak hanya terjadi pada leher rahim (serviks), tapi juga vulva atau bibir vagina, vagina dan penis. Sedangkan pada daerah non-kelamin, virus HPV dapat menyerang bagian mulut dan saluran napas atas.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Kasus Kanker Serviks di Indonesia

    Angka kejadian kanker serviks di Indonesia mencapai 15.000 hingga 21.000 kasus setiap tahunnya. Angka ini menjadikan kanker serviks sebagai penyebab kematian akibat kanker nomor 1 bagi perempuan di Indonesia, sekaligus menempatkan Indonesia pada urutan kedua di dunia untuk kasus kanker serviks di dunia. Penyebaran kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan melakukan vaksinasi kanker serviks.

    Baca Juga: Mari Lindungi Si Gadis Dari Kanker Serviks

    Perbedaan jenis vaksin HPV, pilih yang mana?

    Di Indonesia ada 2 jenis vaksin HPV yang beredar, yaitu bivalent dan quadrivalent. Berikut ini perbedaan kedua vaksin tersebut :

    • Vaksinasi HPV bivalent

    Vaksin HPV ini mengandung 2 tipe HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim. Vaksinasi HPV bivalent ini hanya ditujukkan bagi wanita saja.

    • Vaksin HPV Quadrivalent 

    Vaksin HPV ini mengandung 4 tipe virus HPV (tipe 6, 11, 16 dan 18) yang dapat mencegah kanker dan pra kanker pada leher rahim, kanker vulva, kanker vagina dan juga kanker anus. Selain mencegah kuman HPV tipe 16 dan 18 yang menyebabkan kanker serviks, vaksin HPV quadrivalent juga mencegah kuman HPV tipe 6 dan 11 sebagai penyebab kutil kelamin. Vaksinasi ini dapat diberikan pada laki-laki dan juga perempuan.

    Untuk vaksin quadrivalent dapat digunakan untuk laki-laki yang berusia 9-26 tahun dan vaksinasi pada perempuan dapat dilakukan dengan rentang usia 9-45 atau bahkan 55 tahun.

    Pada anak berusia 9-14 tahun, vaksin ini diberikan sebanyak dua kali dengan jarak 6-15 bulan. Jika diberikan pada usia 15 tahun ke atas, vaksin diberikan sebanyak tiga kali dengan jadwal sebagai berikut:

    • Vaksin HPV bivalent: dosis kedua 1 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.
    • Vaksin HPV quadrivalent: dosis kedua 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.

    Baca Juga: Pria Juga Berisiko Terinfeksi Virus HPV

    Efek Samping Pemberian Vaksin HPV

    Efek samping yang mungkin timbul setelah dilakukan vaksinasi yaitu:

    • Nyeri dan kemerahan di area tempat suntikan
    • Pusing dan nyeri kepala
    • Mual dan muntah.

    Baca Juga: Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturan Penggunaannya

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L


    Referensi

    1. Perdoski. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    2. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    3. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    4. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    5. CDC. Human Papillomavirus (HPV) Vaccine.
    6. Mayo Clinic. HPV vaccine: Get the facts.
    Read More
  • Moms, bayi dan anak-anak diketahui memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga membuatnya rentan terserang penyakit. Salah satu penyakit yang pernah mewabah di Indonesia dan masih perlu diwaspadai keberadaannya adalah polio. Penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Di negara yang pernah wabah polio […]

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Moms, bayi dan anak-anak diketahui memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga membuatnya rentan terserang penyakit. Salah satu penyakit yang pernah mewabah di Indonesia dan masih perlu diwaspadai keberadaannya adalah polio.

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Di negara yang pernah wabah polio seperti Indonesia, vaksin ini diberikan pertama kali saat bayi lahir atau sampai dengan usia 1 bulan dalam bentuk vaksin oral (oral polio vaccine/ OPV) atau tetes.

    Tapi, sudah tahukah Moms, ternyata vaksin polio ada juga dalam bentuk suntik? Yuk cari tahu usia berapa anak boleh diberikan vaksin polio suntik, Moms!

    Pentingnya Imunisasi Polio

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi polio menjadi salah satu bagian dari jadwal rutin imunisasi anak. pasalnya, melengkapi imunisasi anak sangat penting guna meningkatkan kekebalan tubuhnya dalam melawan penyakit. 

    Berdasarkan jadwal imunisasi IDAI 2020, vaksin polio oral direkomendasikan diberikan sebanyak empat kali sedangkan vaksin polio suntik (IPV) sebanyak dua kali. Hal ini juga didukung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni akan ada perubahan pada tahun 2023 untuk mewajibkan semua negara melakukan imunisasi polio suntik atau IPV sebanyak 2 kali. 

    Polio sendiri merupakan penyakit menular yang mematikan lantaran menyerang sistem saraf otak. Kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen hingga kematian pada penderitanya.

    Itulah mengapa setiap anak wajib mendapat suntikan vaksin polio, karena vaksin ini secara efektif melindungi anak dari penyakit polio dan komplikasinya yang mungkin terjadi. Pemerintah pun telah menetapkan vaksin polio sebagai vaksin yang wajib diberikan pada anak. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Usia Berapa Anak Vaksin Polio Suntik?

    Setiap jenis vaksin memiliki jadwal pemberiannya masing-masing. Vaksin polio sendiri memiliki dua bentuk, yakni oral/ tetes (OPV) dan suntik/ injeksi (IPV). Hanya vaksin polio oral yang boleh diberikan saat bayi baru lahir atau sampai dengan bulan pertama.

    Baca Juga: Tujuan Imunisasi Polio yang Perlu Diketahui

    Perbedaan dari kedua jenis vaksin polio ini adalah OPV berisi virus polio yang dilemahkan sedangkan IPV berisi virus polio yang dimatikan.

    Sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2020, anak-anak harus mendapatkan vaksin polio total empat dosis sebagai berikut:

    • Dosis 1: saat lahir sampai dengan 1 bulan
    • Dosis 2: usia 2 bulan
    • Dosis 3: usia 3 bulan
    • Dosis 4: usia 4 bulan

    Untuk dosis booster sendiri diberikan saat anak berusia 18 bulan.

    Vaksin polio suntik (IPV) diberikan minimal 2 kali sebelum anak berusia 1 tahun bersamaan dengan imunisasi DPT.

    Efek Samping Vaksin Polio

    Serupa dengan jenis vaksin lainnya, efek samping yang mungkin terjadi akibat suntikan vaksin polio adalah reaksi alergi, meskipun hal tersebut jarang terjadi. 

    CDC memperkirakan bahwa ada sekitar 1 dari 1 juta dosis vaksin polio yang dapat memicu reaksi alergi. Reaksi tersebut biasanya terjadi dalam beberapa menit atau jam usai mendapat suntikan vaksin. Bahkan beberapa orang juga akan merasakan sakit di tempat dimana suntikan vaksin diberikan. 

    Baca Juga: Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Nah Moms, itulah berbagai informasi mengenai pentingnya vaksin polio pada anak serta usia tepat untuk anak mendapatkan imunisasi polio. Semua orang tua tentunya mendambakan anaknya selalu dalam kondisi sehat. Oleh karena itu, pastikan Si kecil mendapatkan semua vaksin wajib yang telah direkomendasikan agar terhindar dari penularan penyakit dan risiko komplikasinya. 

    Prosehat melayani imunisasi polio oral dan suntik. Jika Si Kecil belum mendapatkan imunisasinya, segera hubungi Prosehat untuk layanan imunisasi di klinik Prosehat di Jakarta dan Bekasi, atau layanan imunisasi di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Moms dan Si Kecil. Ada juga paket imunisasi yang berisikan beberapa jenis vaksin yang Si Kecil butuhkan sesuai usianya. Semua lengkap di Prosehat!

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. CDC. Polio Vaccine.
    2. IDAI. Jadwal Imunisasi IDAI 2020.
    3. CDC. Routine Polio Vaccination.
    4. Kidshealth.org. Your Child’s Immunizations (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    Read More
  • Pernahkah Sahabat Sehat merasa terdesak untuk buang air kecil atau kencing dan kesulitan menahannya? Bagi orang awam, kondisi ini sering disebut dengan “beser”. Meski dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian orang, terutama pada lansia, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada tubuh. Sahabat Sehat, apa saja penyebab sulit […]

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Pernahkah Sahabat Sehat merasa terdesak untuk buang air kecil atau kencing dan kesulitan menahannya? Bagi orang awam, kondisi ini sering disebut dengan “beser”. Meski dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian orang, terutama pada lansia, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada tubuh.

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Sahabat Sehat, apa saja penyebab sulit menahan buang air kecil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil

    Dalam dunia medis, kondisi ketika seseorang sulit menahan buang air kecil disebut juga dengan istilah “inkontinensia urine”. Kondisi ini terjadi ketika kontrol otot kandung kemih melemah sehingga urin keluar tanpa bisa dikontrol.

    Meski bukan termasuk sebagai kondisi yang dapat mengancam jiwa, tetapi kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Berikut adalah berbagai jenis penyebab seseorang sulit menahan buang air kecil, yakni:

    Inkontinensia Stress

    Inkontinensia stres adalah kondisi sulit menahan buang air kecil akibat kandung kemih dan otot saluran urin (uretra) yang tiba-tiba mengalami tekanan ekstra sehingga urine keluar dengan sendirinya. Kondisi ini kerap dialami pada lansia dan wanita yang telah melahirkan. Biasanya urin akan keluar tanpa disadari ketika mengangkat berat, bersin, batuk, tertawa, dan ketika berolahraga dengan intensitas berat.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Inkontinensia Urgensi

    Inkontinensia urgensi terjadi saat dorongan untuk buang air kecil muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat ditahan akibat kandung kemih yang terlalu aktif. Berikut beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan hal ini, yakni :

    • Perubahan posisi tubuh secara tiba-tiba
    • Aktivitas seksual, terutama saat orgasme
    • Otot kandung kemih yang terlalu aktif akibat kerusakan saraf kandung kemih, otot kandung kemih, dan sistem saraf. 

    Inkontinensia Overflow

    Kondisi ini diakibatkan hilangnya kemampuan mengosongkan kandung kemih secara menyeluruh sehingga terjadi kebocoran urin. Kondisi ini umumnya terjadi pada penderita gangguan prostat, sehingga lebih sering buang air kecil atau air kencing terus menetes keluar dari kemaluan.

    Baca Juga: Awas, Penyebab Miss V Gatal Bisa Jadi Ada Kencing Manis

    Inkontinensia Total

    Kondisi ini terjadi ketika kandung kemih tidak dapat menampung urin dengan baik, sehingga terus menerus mengalami kebocoran urin atau secara berkala mengalami kebocoran urin yang tidak terkendali dalam jumlah besar. Berikut beberapa kemungkinan penyebab inkontinensia total:

    • Kelainan bawaan lahir, misalnya kelainan pada kandung kemih
    • Riwayat cedera pada sumsum tulang belakang atau kandung kemih. 

    Inkontinensia Fungsional

    Kondisi ini mengakibatkan penderitanya tidak dapat menahan buang air kecil karena kesulitan mencari kamar mandi. Meski sadar akan keinginannya untuk buang air kecil, ada beberapa faktor yang dapat membuat penderitanya tidak bisa mencapai kamar mandi untuk buang air kecil sebagaimana mestinya. Inkontinensia jenis ini paling banyak dialami oleh orang tua. Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan inkontinensia fungsional, misalnya :

    • Gangguan mengingat (Dementia)
    • Gangguan penglihatan atau mobilitas yang buruk
    • Ketangkasan yang buruk, seperti kesulitan membuka kancing celana
    • Kecemasan, depresi, atau kemarahan sehingga enggan untuk menolak ke kamar mandi. 

    Baca Juga: 5 Tanda Gejala Diabetes atau Kencing Manis

    Bagaimana Penanganan Sulit Menahan Buang Air Kecil ?

    Sahabat Sehat, penanganan untuk mengatasi sulitnya menahan buang air kecil akan disesuaikan dengan jenis penyebabnya. Berikut adalah beberapa penanganan yang dilakukan yakni :

    1. Melakukan latihan senam kegel untuk memperkuat otot panggul
    2. Pemberian obat untuk memperkuat otot kandung kemih
    3. Penggunaan alat bantu seperti selang kencing (kateter) atau pun pessarium
    4. Stimulasi saraf untuk membantu memperkuat kontrol kandung kemih
    5. Prosedur operasi

    Baca Juga: Sahabat Sehat, Mari Kenali Kencing Nanah atau Gonore

    Bagaimana Mencegah Hal Ini ?

    Langkah utama untuk mencegah sulitnya menahan buang air kecil adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Sahabat Sehat dapat melakukan berbagai hal berikut dirumah, yaitu :

    • Konsumsi makanan berserat untuk mencegah sembelit
    • Berhenti merokok
    • Menurunkan berat badan agar mencapai berat badan ideal
    • Menghindari konsumsi minuman berkafein
    • Menghindari mengangkat beban yang terlalu berat
    • Latihan otot dasar panggul, seperti senam kegel 
    • Buang air kecil yang terjadwal dan hindari menahan buang air kecil
    • Olahraga secara rutin

    Baca Juga: Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab sulitnya menahan buang air kecil. Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Causes of Urinary Incontinence, Treatments, and More.
    2. Levine B, Jasmer M. What Is Urinary Incontinence? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment, and Prevention.
    3. Mayo Clinic. Urinary incontinence – Symptoms and causes.
    4. Cleveland Clinic. Overactive Bladder: Causes, Symptoms, Treatment & Prevention.
    5. Medicinenet. What Are 4 Types of Urinary Incontinence.
    6. Medical News Today. Urinary incontinence: Treatment, causes, types, and symptoms.
    Read More
  • Tahukah, Moms, kalau imunisasi masih dibutuhkan saat anak remaja? Ya, langkah pencegahan yang efektif melindungi diri dari berbagai penyakit menular ini masih berperan penting pada usia remaja. Remaja termasuk kelompok yang rentan terhadap penyakit infeksi karena semakin luas ruang eksplorasi dan pertemanannya. Seiring pertambahan usia, perlindungan dari vaksin yang ia dapat semasa kecil juga akan […]

    Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Tahukah, Moms, kalau imunisasi masih dibutuhkan saat anak remaja? Ya, langkah pencegahan yang efektif melindungi diri dari berbagai penyakit menular ini masih berperan penting pada usia remaja.

    Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Remaja termasuk kelompok yang rentan terhadap penyakit infeksi karena semakin luas ruang eksplorasi dan pertemanannya. Seiring pertambahan usia, perlindungan dari vaksin yang ia dapat semasa kecil juga akan berkurang, sehingga diperlukan imunisasi penguat atau booster agar ia tetap terlindungi. 

    Berikut beberapa jenis vaksin yang penting bagi remaja beserta kisaran biayanya:

    Vaksin Tdap

    Tdap adalah jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah tetanus, difteri dan pertussis (batuk rejan). Vaksin ini merupakan kelanjutan dari vaksin DPT yang diberikan sewaktu bayi. 

    Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan bakteri yang dapat ditemukan di tanah dan masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Penyakit ini dapat menyebabkan kejang otot yang dapat memicu kematian akibat kesulitan bernapas. 

    Difteri adalah penyakit yang mungkin jarang terjadi, tetapi pernah mewabah di Indonesia beberapa tahun silam karena penularannya yang mudah. Ketika seseorang terkena difteri akan muncul selaput tebal di bagian belakang hidung atau tenggorokan yang membuat penderitanya kesulitan bernapas atau menelan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kelumpuhan otot hingga gagal jantung. 

    Pertusis atau batuk rejan, atau yang dikenal juga sebagai batuk seratus hari, termasuk salah satu penyakit yang sangat mudah menular melalui batuk atau bersin. Penderita pertusis biasakan akan mengalami batuk berat yang bisa membuatnya sulit bernafas.

    Vaksin Tdap diberikan pada remaja mulai usia 10 tahun dan pemberiannya perlu diulang setiap 10 tahun. 

    Biaya paket Imunisasi Tetanus, Difteri, Pertussis (Tdap) dari Prosehat berkisar antara Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000, tergantung berapa kali suntik dan lokasi penyuntikan (di klinik Prosehat atau di rumah).

     

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Vaksin Influenza

    Influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan umumnya penderitanya mengalami gejala batuk, demam, menggigil, nyeri otot, dan merasa lemas. Virus Influenza sangat mudah menular melalui bersin, batuk, atau kontak langsung dengan cairan orang yang terinfeksi.

    Walau sering dianggap remeh karena gejalanya mirip dengan batuk pilek biasa, sebenarnya virus influenza dapat berakibat fatal, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru atau jantung, usia sangat muda atau tua, dan wanita hamil. 

    Vaksin influenza dianjurkan untuk diberikan kepada anak mulai dari usia 6 bulan ke atas. Sedangkan untuk anak usia 9 tahun atau lebih, imunisasi influenza direkomendasikan untuk diberikan setiap tahun sekali. 

    Imunisasi Influenza yang tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat berkisar antara harga Rp 500.000 – Rp 550.000.

    Vaksin HPV

    Human papillomavirus (HPV) merupakan jenis virus penyebab kanker serviks yang biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Kanker ini adalah kanker yang banyak menyebabkan kematian pada wanita Indonesia. Siapapun yang pernah melakukan hubungan seksual memiliki risiko untuk terinfeksi oleh HPV. 

    Vaksin HPV direkomendasikan untuk diberikan pada anak mulai usia 10 tahun. Vaksin ini perlu diberikan sebanyak 2 kali jika anak berusia antara 9-14 tahun, dan 3 kali jika berusia 15 tahun ke atas.

    Ada dua jenis vaksin HPV, yaitu HPV bivalent (2 strain) dan HPV quadrivalent (4 strain). Kedua vaksin ini tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat dengan harga berkisar antara Rp. 1.700.000 – Rp. 6.000.000, tergantung jenis paketnya dan berapa kali suntik. 

    Baca Juga: Cegah Tipes Dengan Vaksin Tifoid

    Vaksin Tifoid

    Demam tifoid atau yang lebih dikenal sebagai tipes merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Infeksi bakteri ini menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Penderita tipes biasanya akan mengalami gejala berupa demam, diare, lemas, hingga nyeri kepala. 

    Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, gejala tipes mungkin akan menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti perdarahan dan pecahnya usus hingga memicu kematian. 

    Vaksin tifoid dapat diberikan sejak anak usia 2 tahun. Sedangkan pada remaja, imunisasi ini dapat diulang setiap 3 tahun sekali. 

    Imunisasi tifoid yang tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat berkisar antara harga Rp. 300.000 – Rp. 350.000. 

    Vaksin Hepatitis A

    Hepatitis A adalah penyakit yang menyerang organ hati yang disebabkan oleh virus. Virus tersebut dapat ditemukan pada feses orang yang terinfeksi, kemudian menyebar ke orang lain melalui makanan dan air. 

    Orang yang terinfeksi hepatitis A umumnya akan mengalami gejala berupa kulit dan mata yang berwarna kuning. 

    Vaksin hepatitis A dapat diberikan pada anak sejak usia 2 tahun. Namun pada remaja, vaksin ini dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan jika ia belum mendapatkannya saat anak-anak.

    Kisaran harga imunisasi hepatitis A yang tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat mulai dari Rp. 450.000 – Rp. 1.440.000, tergantung jenis paket dan berapa kali suntik.

    Baca Juga: Mari Lindungi Si Gadis Dari Kanker Serviks

    Moms, itulah jenis-jenis imunisasi yang perlu diberikan kepada anak remaja. Cek kembali apakah ia sudah melengkapi imunisasinya dan jika belum, segera lakukan imunisasi kejar. Moms bisa mendapatkan layanan imunisasi di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kemudahan dan kenyamanan Moms dan anak.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. HealthyChildren.org. Vaccines for Teenagers & Young Adults.
    2. CDC. Teen Vaccines.
    3. IDAI. Imunisasi Pada Remaja.
    4. Primaya Hospital. Daftar Vaksin Penting untuk Usia Remaja.
    5. ProSehat. ProSehat sedia Vaksinasi Dewasa.
    Read More
  • Lansia (lanjut usia) atau dikenal juga dengan istilah medis geriatri merupakan istilah untuk menyebutkan seseorang yang sudah berusia diatas 60 tahun. Pada umur ini, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka kesakitan lansia mencapai 28,62%, pada tahun 2018 sebanyak 25,99%, dan pada tahun 2019 naik lagi mencapai […]

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Lansia (lanjut usia) atau dikenal juga dengan istilah medis geriatri merupakan istilah untuk menyebutkan seseorang yang sudah berusia diatas 60 tahun. Pada umur ini, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi.

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka kesakitan lansia mencapai 28,62%, pada tahun 2018 sebanyak 25,99%, dan pada tahun 2019 naik lagi mencapai 26,20%. Namun pada tahun 2020, Indonesia berhasil mencapai titik terendah untuk angka kesakitan lansia yaitu sebanyak 24,35%, angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar 24 dari 100 lansia mengalami sakit dalam sebulan terakhir.

    Pada umumnya, penyakit yang dialami lansia merupakan penyakit yang tidak menular dan bersifat degeneratif. Artinya, penyakit yang disebabkan karena adanya faktor dan proses penuaan. Seperti misalnya penyakit jantung, diabetes melitus, stroke, rematik dan cedera. Penyakit tersebut bersifat kronis, menyebabkan disabilitas atau kecacatan pada lansia dan berbiaya besar.

    Kesadaran lansia terhadap keluhan kesehatan yang diderita sudah cukup baik. Mayoritas lansia mengobati keluhan kesehatan dengan mengobati diri sendiri atau berobat jalan sebanyak 96,12%. Namun masih ada sekitar 4 dari 100 orang lansia yang enggan mengobati keluhan kesehatannya.

    Sahabat Sehat, apa saja penyakit yang kerap diderita lansia ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyakit yang Kerap Diderita Lansia

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit yang sering dialami oleh lansia yaitu :

    Hipertensi

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang paling sering dialami oleh pasien lansia, yaitu sebanyak 54%. Tekanan darah tinggi adalah kondisi saat jantung memompa darah dengan kuat namun pembuluh darah sempit sehingga aliran darah menjadi tertahan sehingga tekanan pada pembuluh darah menjadi tinggi.

    Hipertensi  dapat mengganggu fungsi organ tubuh lainnya seperti stroke dan serangan jantung. Berikut ini hal yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah, antara lain:

    • Menjaga berat badan agar tetap normal
    • Mengendalikan stress
    • Batasi konsumsi alkohol dan juga garam
    • Olahraga secara teratur
    • Periksa tekanan darah secara teratur ke fasilitas kesehatan terdekat.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Kadar Kolesterol Tinggi

    Sebanyak 47% lansia mengalami kadar kolesterol tinggi didalam darah, hal ini dapat menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah arteri yang menyebabkan pembekuan darah sehingga memicu gangguan jantung. Berikut ini gaya hidup yang dapat mengurangi resiko tingginya kolesterol darah:

    • Hindari merokok dan juga mengkonsumsi alkohol
    • Lakukan aktivitas fisik seperti berolahraga secara teratur
    • Kendalikan berat badan 
    • Hindari makanan yang mengandung lemak berlebih.

    Artritis

    Sebanyak 31% lansia mengalami penyakit peradangan pada sendi atau yang disebut dengan artritis, yang menyebabkan nyeri hebat dan kekakuan pada sendi. Artritis biasanya terjadi pada wanita berusia lebih dari 60 tahun keatas.

    Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya artritis:

    • Olahraga secara teratur selama 30 menit, 5 kali dalam seminggu seperti aerobic, dan pemanasan ringan 
    • Mengendalikan berat badan agar meringankan beban sendi kaki dalam menopang berat badan.
    • Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan cedera sendi
    • Hindari merokok.

    Baca Juga: Ketahui 8 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Berfungsi Maksimal

    Penyakit Jantung Koroner

    Sebanyak 29% lansia mengalami penyakit jantung koroner yang menyebabkan jantung kekurangan oksigen untuk memompa darah akibat sumbatan pada pembuluh darah. Sumbatan plak ini berasal dari kolesterol yang menumpuk di dalam pembuluh darah secara bertahun-tahun sehingga menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah.

    Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya :

    • Hindari mengkonsumsi terlalu banyak lemak jenuh, gula dan garam
    • Tidur minimal 7 jam setiap malam
    • Management stress
    • Olahraga kardio secara teratur seperti jalan pagi, berlari, berenang atau bersepeda.

    Diabetes

    Diketahui sekitar 27% lansia menderita diabetes, yang diakibatkan karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin atau tubuh resisten terhadap insulin sehingga menyebabkan gula darah terlampau tinggi didalam darah. Akibatnya kadar gula darah meningkat dan tubuh kekurangan energi untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah naiknya gula darah, antara lain:

    • Makan makanan sehat, hindari makanan yang terlalu banyak mengandung gula, karbohidrat dan kalori.
    • Olahraga minimal 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu.
    • Turunkan berat badan sebanyak 5-7% dari berat badan saat ini apabila sudah termasuk pre-diabetes.

    Baca Juga: Mitos Apa Fakta : Cuci Ginjal Alamiah dengan Menggunakan Seledri dan Buah Alpukat

    Gangguan Ginjal

    18% pasien lansia mengalami gangguan ginjal kronis atau CKD (Chronic Kidney Disease) atau menurunnya fungsi ginjal seiring bertambahnya usia. Pasien dengan CKD memiliki resiko lebih besar juga timbulnya gagal ginjal dan gagal jantung. Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya CKD:

    • Mengenal apa saja faktor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal misalnya seperti tekanan darah tinggi dan diabetes tak terkontrol.
    • Memeriksakan secara rutin fungsi ginjal, dengan tujuan mendeteksi secara dini apabila terjadi gangguan ginjal.

    Gangguan Jantung

    Sekitar 14% lansia diketahui menderita gangguan jantung yang menyebabkan pasokan darah dan juga nutrisi ke organ tubuh tidak terpenuhi dengan baik. Kondisi jantung mungkin akan membesar, memompa darah lebih cepat dibanding dengan yang tubuh butuhkan sehingga akan menimbulkan gejala seperti cepat lelah, nyeri kepala, mual kebingungan dan menurunnya nafsu makan. Satu-satunya cara mencegah terjadinya gangguan jantung adalah dengan memeriksakan kesehatan jantung secara berkala dan mengendalikan tekanan darah tinggi.

    Baca Juga: Berbagai Pilihan Olahraga yang Aman Untuk Lansia

    Depresi

    Sekitar 14% lansia mengalami depresi dengan gejala perasaan sedih, merasa tidak berdaya, kelelahan yang berkepanjangan, sulit untuk menentukan tujuan atau sulit mengambil keputusan, kehilangan nafsu makan, kehilangan gairah untuk melakukan aktivitas.

    Banyak hal yang dapat dihindari agar tidak terjadi depresi saat lansia, antara lain :

    • Management level stress dengan meditasi, berbicara dan berbagi masalah yang sedang dialami dengan kerabat terdekat.
    • Makan makanan sehat dan teratur. Makanan yang masuk ke dalam tubuh dapat berpengaruh pada mood, selain itu, makanan yang sehat dapat meningkatan pelepasan hormon endorphin (hormon bahagia). 
    • Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein, alkohol serta makanan manis.
    • Olahraga yang teratur
    • Berkonsultasi dengan dokter apabila sudah mengalami gejala depresi seperti gejala yang telah disebutkan sebelumnya.

    Penyakit Alzheimer

    Sebanyak 11% lansia mengalami alzheimer atau penyakit demensia tipe lainnya, yang ditandai dengan hilangnya daya ingat dan kemampuan berpikir serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Demensia bukan merupakan penyakit akibat proses penuaan, tetapi disebabkan karena adanya perubahan fungsi otak dari waktu ke waktu. Faktor yang memperbesar terjadinya resiko demensia antara lain keturunan, riwayat keluarga yang mengalami alzheimer, gaya hidup (tidak terlalu banyak aktivitas fisik). 

    Untuk mengurangi resiko demensia, maka dapat dilakukan beberapa hal seperti :

    • Meningkatkan aktivitas fisik seperti berolahraga
    • Tidur cukup, minimal 7 jam per hari
    • Pilih makanan yang sehat (makanan junk food, dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan otak).

    Gangguan Pernapasan

    Sebanyak 11% lansia mengalami gangguan pernapasan berupa PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Penyakit ini merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan gejala batuk terus menerus, nyeri pada dada dan kesulitan bernapas serta nafas pendek. Penyebab PPOK antara lain merokok, perokok pasif, maupun akibat menghirup bahan kimia beracun dan debu yang dapat mengiritasi paru-paru.

    Baca Juga: Apa itu Luka Dekubitus dan Cara Mengatasinya

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai jenis penyakit yang kerap dialami lansia. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri di RS.
    2. Kata Data. Angka Kesakitan Lansia di Indonesia 2015-2019.
    3. Ayu R. Cetak Rekor Terendah, Angka Kesakitan Lansia Jadi 24,35% pada 2020.
    4. Madeline R. Vann M, Pat F. Bass III M. The 15 Most Common Health Concerns for Seniors.
    5. The National Council on Aging. The Top 10 Most Common Chronic Conditions in Older Adults.
    6. Daily Caring. 10 Most Common Chronic Diseases in Older Adults: Tips to Prevent and Manage.
    Read More
  • Seiring bertambahnya usia, Sahabat Sehat mungkin mudah merasa khawatir akan kondisi kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang mungkin Sahabat Sehat alami yaitu demensia. Sahabat Sehat, apakah ada cara untuk mencegah demensia? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Demensia ? Demensia diartikan sebagai hilangnya ingatan, serta ketidakmampuan dalam menjalani pekerjaan dan aktivitas kehidupannya secara mandiri. Kondisi […]

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    Seiring bertambahnya usia, Sahabat Sehat mungkin mudah merasa khawatir akan kondisi kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang mungkin Sahabat Sehat alami yaitu demensia. Sahabat Sehat, apakah ada cara untuk mencegah demensia? Mari simak penjelasan berikut.

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    Apa Itu Demensia ?

    Demensia diartikan sebagai hilangnya ingatan, serta ketidakmampuan dalam menjalani pekerjaan dan aktivitas kehidupannya secara mandiri. Kondisi ini dapat disebabkan karena berbagai hal misal cedera ataupun proses penuaan. 

    Bagaimana Mencegah Demensia ?

    Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat dianjurkan menerapkan berbagai hal berikut di rumah :

    1. Olahraga teratur

    Rutin melakukan latihan fisik dipercaya dapat menurunkan risiko demensia hingga 50%. Selain itu, olahraga juga dapat memperlambat kerusakan pada mereka yang telah menunjukan adanya masalah kognitif. Lakukan kombinasi olahraga kardio dan latihan kekuatan otot. Bagi pemula, Sahabat Sehat dapat memulainya dengan olahraga jalan santai atau berenang.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    2. Mengikuti aktivitas sosial

    Dengan tetap terlibat dalam aktivitas sosial, Sahabat Sehat dapat melindungi diri dari penyakit demensia di kemudian hari. Lakukan beberapa aktivitas berikut dirumah :

    • Mengikuti aktivitas sukarelawan.
    • Bergabung dengan komunitas lokal atau grup sosial.
    • Mengunjungi pusat komunitas lokal.
    • Mengikuti kelas kelompok (seperti senam, pengajian, atau keterampilan).
    • Menjalin hubungan baik dengan tetangga.
    • Membuat acara mingguan dengan teman-teman.
    • Berekreasi bersama keluarga.
    • Menjaga pola makan

    Baca Juga: Berbagai Pilihan Olahraga yang Aman Untuk Lansia

    Mengatur pola makan menjadi salah satu langkah efektif dalam mengurangi terjadinya peradangan dan dapat melindungi otak Sahabat Sehat. Mengonsumsi makanan manis dan karbohidrat olahan berlebih seperti tepung putih, nasi putih, dan pasta dapat memicu lonjakan besar pada gula darah sehingga akan mempengaruhi kinerja otak. Sebaiknya konsumsi buah, sayur, serta kendalikan berat badan agar tidak berlebih. 

    Konsumsi lemak omega 3. DHA yang terkandung dalam lemak omega 3 terbukti dapat membantu mencegah penyakit demensia dengan mengurangi plak beta-amyloid.

    Sumber makanan yang banyak mengandung omega 3 yakni berbagai jenis ikan air dingin seperti ikan salmon, tuna, mackerel, trout, sarden dan rumput laut. Selain itu, omega 3 juga dapat dipenuhi dari suplemen minyak ikan.

    Baca Juga: Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    3. Melatih mental

    Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat harus terus melatih otak misalnya belajar bahasa asing, berlatih alat musik, atau mempelajari berbagai keterampilan baru untuk melatih otak.

    • Permainan asah otak dan strategi seperti bermain puzzle, tebak gambar, dan lainnya turut dapat melatih mental Sahabat Sehat. 
    • Mengelola stress

    Depresi dan stress kronis yang berlangsung terus-menerus dapat sangat membebani otak dan berujung pada penyusutan di area memori utama. Kondisi ini akan menghambat sel saraf, dan meningkatkan risiko penyakit demensia.

    Latihan pola pernapasan, berdoa, meditasi, refleksi, dan ibadah lainnya secara teratur dapat membuat mental Sahabat Sehat lebih kuat terhadap pemicu stress yang mungkin akan dihadapi.

    Baca Juga: Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat dapat mencukupi asupan gizi dengan mengkonsumsi buah dan sayur serta multivitamin.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Smith M, Segal J, Robinson L. Preventing Alzheimer’s and Dementia—or Slowing its Progress.
    2. Alzheimer’s Society. How to reduce your risk of Alzheimer’s and other dementias.
    3. Better Health Channel. Dementia – reducing your risk.
    4. Alzheimer’s gov. Reducing Your Risk for Dementia.
    5. National Health Service. Dementia guide.
    Read More
  • Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi. Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India. TBC pada anak biasanya […]

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi.

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India.

    TBC pada anak biasanya terjadi akibat anak menghirup bakteri TBC yang berada di udara. Bakteri ini kemudian terjebak didalam paru-paru dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, bahkan otak.

    Anak-anak berpeluang besar tertular TBC dari orang dewasa disekitarnya yang menderita penyakit tersebut, dibanding tertular dari teman sebayanya. Cara yang efektif untuk melindungi anak hingga mereka dewasa adalah dengan melakukan imunisasi BCG.

    Gejala TBC Pada Anak

    Gejala TBC pada anak bisa berbeda-beda dan cenderung lebih sulit dideteksi sehingga kerap terlambat mendapatkan penanganan. Berikut adalah beberapa gejala umumnya:

    • Demam
    • Penurunan berat badan
    • Pertumbuhan yang buruk
    • Batuk
    • Kelenjar getah bening tampak bengkak, beberapa lainnya mungkin mulai mengeluarkan cairan melalui kulit
    • Panas dingin

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Sedangkan pada anak yang lebih besar, berikut adalah beberapa gejala TBC yang paling umum ditemukan :

    • Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu
    • Sakit atau nyeri di dada
    • Batu disertai darah
    • Mudah lelah
    • Kelenjar getah bening bengkak
    • Penurunan berat bdan
    • Nafsu makan menurun
    • Demam
    • Berkeringat di malam hari
    • Panas dingin

    Gejala TBC terkadang terlihat seperti penyakit lainnya, konsultasikan dengan dokter untuk memastikannya.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Gejala Saat TB Menyerang Organ Tubuh Lain

    Infeksi TBC pada anak tidak hanya membahayakan paru-paru, tetapi juga seluruh organ tubuh lainnya. Oleh sebab itu, ada gejala khusus yang akan timbul saat organ tubuh tertentu diserang oleh bakteri tuberkulosis. Berikut beberapa organ tubuh anak yang paling sering di serang oleh infeksi TBC:

    Tuberkulosis kelenjar

    Biasanya terjadi pada kelenjar getah bening di leher, dengan ukuran diameter kurang lebih 1 cm. Benjolan terlihat seperti kelereng yang berderet dengan konsistensi yang kenyal, tetapi tidak nyeri.

    Tuberculosis otak dan selaput otak (meningitis TB)

    Infeksi TBC juga sangat mudah menyebar ke otak. Saat mengenai selaput otak, biasanya akan menjadi rewel, sakit kepala, kejang hingga kaku.

    Tuberkulosis tulang

    Gejala yang ditimbulkan tergantung pada bagian tulang yang terkena infeksi tuberkulosis, misalnya :

    • TB tulang belakang (spondylitis), ditandai dengan penonjolan tulang belakang (gibbus).
    • TB tulang panggul (koksitis), ditandai dengan gangguan berjalan, pincang, atau terjadi peradangan di daerah panggul.
    • TB tulang lutut (gonitis), ditandai dengan pincang dan/ bengkak pada area lutut tanpa ada sebab yang jelas. 
    • TB tulang kaki dan tangan (spina ventosa/ dactylitis), ditandai dengan pembengkakan pada area persendian kaki atau tangan. 

    Skrofuloderma

    Disebut juga sebagai tuberkulosis kulit. Ditandai dengan timbulnya luka atau borok yang disertai dengan fistula atau jembatan kulit antar tepi luka. Anak biasanya mengalami demam.

    Tuberkulosis usus

    Kondisi ini biasanya memiliki gejala berupa gangguan pada sistem pencernaan, seperti diare, kembung, dan nyeri perut. Infeksi TBC pada usus beresiko menyebabkan infeksi dan peradangan pada saluran cerna, yang disebut peritonitis TB.

    Tuberkulosis ginjal

    Infeksi ini akan dicurigai saat ditemukan gejala seperti gangguan buang air kecil, dimana urin yang keluar berwarna terlalu pekat dan menimbulkan nyeri pada pinggang tanpa adanya sebab yang jelas. 

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Pentingnya Imunisasi BCG

    Dengan memberikan vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin), si Kecil dapat terlindungi dari bahaya infeksi bakteri tuberkulosis. Imunisasi BCG sudah dapat diberikan sejak si Kecil lahir hingga berusia 1 bulan. Jika Si Kecil sudah berusia diatas 3 bulan, vaksin BCG masih bisa diberikan. Namun, sebelum melakukan imunisasi BCG dianjurkan untuk pemeriksaan tuberkulin terlebih dahulu.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengapa imunisasi BCG sangat penting bagi anak-anak Indonesia. Tidak hanya melindungi saat kecil, tapi juga kelak ia dewasa. Dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat dan mendapatkan imunisasi lengkap, anak terlindungi dari penyakit-penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. IDAI. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi I.
    2. CDC. Tuberculosis (TB) – TB Treatment for Children.
    3. TB Facts. TB in Children – Getting, diagnosing & treating TB.
    4. University of Rochester Medical Center. Tuberculosis (TB) in Children – Health Encyclopedia.
    5. Kids Health. Tuberculosis (for Parents).
    Read More
  • Mungkin banyak diantara Sahabat Sehat mengalami nyeri, sakit, dan kaku pada punggung, leher, lengan, ataupun kaki. Salah satu penyebabnya adalah akibat saraf terjepit. Saraf di tulang belakang dan bagian tubuh lainnya yang mengalami gangguan saraf terjepit dapat menimbulkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan. Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara penanganannya? Mari simak penjelasan berikut. Apa […]

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya?

    Mungkin banyak diantara Sahabat Sehat mengalami nyeri, sakit, dan kaku pada punggung, leher, lengan, ataupun kaki. Salah satu penyebabnya adalah akibat saraf terjepit. Saraf di tulang belakang dan bagian tubuh lainnya yang mengalami gangguan saraf terjepit dapat menimbulkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan.

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya?

    Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara penanganannya? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Saraf Terjepit?

    Saraf kejepit atau disebut juga pinched nerve adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sensasi tidak nyaman, nyeri, atau mati rasa yang disebabkan oleh saraf yang tertekan oleh bagian sekitarnya sehingga memicu iritasi atau kerusakan pada saraf. Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan keluhan nyeri pada punggung atau leher. 

    Berbagai Faktor Resiko Penyebab Saraf Terjepit

    Saraf terjepit dapat terjadi akibat adanya tekanan pada saraf di tulang belakang. Tekanan ini dapat berupa gerakan berulang yang dilakukan dalam jangka waktu lama. Berikut berbagai faktor risiko  lain yang dapat menyebabkan saraf terjepit:

    • Riwayat kecelakaan atau trauma di area tulang belakang
    • Postur tubuh yang tidak baik 
    • Stres pada tulang dan sendi akibat pekerjaan yang berulang
    • Melakukan berbagai jenis olahraga yang rentan mengalami cedera
    • Berat badan berlebihan

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Gejala Saraf Terjepit ?

    Saraf kejepit umumnya ditandai dengan beberapa gejala seperti berikut :

    • Mati rasa, kebas, atau menurunnya sensasi untuk ‘merasa’ 
    • Muncul sensasi sakit atau nyeri seperti terbakar yang menjalar 
    • Kesemutan
    • Lemahnya otot pada bagian tubuh yang diduga mengalami saraf kejepit.

    Terkadang gejala dapat memburuk saat Sahabat Sehat melakukan gerakan tertentu, seperti memutar kepala atau menegangkan leher. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka dapat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari.

    Baca Juga: Benarkah Fisioterapi Bantu Atasi Saraf Terjepit ?

    Bagaimana Cara Mengatasi Saraf Terjepit?

    Kondisi saraf terjepit pada setiap orang dapat ditangani sesuai dengan tingkat keparahan dari saraf yang bermasalah. Secara umum berikut adalah penanganan yang dilakukan untuk mengatasi saraf terjepit : 

    • Istirahat

    Untuk saraf kejepit yang tergolong ringan, dokter mungkin akan meminta untuk istirahat yang cukup. Sahabat Sehat dianjurkan menghindari aktivitas yang mungkin akan memperburuk keluhannya. 

    • Minum Obat Pereda Nyeri

    Apabila gejala menetap dan rasa sakit memberat, sebaiknya segera konsultasikan dengan  dokter. Obat yang diberikan merupakan jenis obat pereda nyeri serta pereda radang untuk mengurangi keluhan nyeri akibat saraf terjepit.

    • Terapi Fisik

    Saraf terjepit juga dapat diatasi dengan melakukan terapi fisik atau fisioterapi, yakni latihan untuk memperkuat dan meregangkan otot pada bagian tubuh yang bermasalah untuk mengurangi tekanan pada saraf. 

    • Operasi

    Pada kondisi yang lebih berat, dokter mungkin akan merekomendasikan Sahabat Sehat untuk melakukan operasi untuk memperbaiki saraf yang bermasalah. Jenis operasi yang dilakukan pun tidak selalu sama, tergantung pada lokasi terjadinya saraf kejepit. Pada umumnya penanganan saraf terjepit akan disesuaikan kembali dengan kondisi tubuhnya.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai informasi mengenai penanganan saraf terjepit. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Pinched nerve – Symptoms and causes.
    2. WebMD. Pinched Nerve (Compressed Nerve): Symptoms and Treatment.
    3. Medicine Net. Pinched Nerve.
    4. Cleveland Clinic. Pinched Nerves: Causes, Symptoms & Treatment.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com