Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Penyebab Infeksi Hepatitis B pada Bayi

Hepatitis B adalah penyakit peradangan pada hati dan merupakan penyakit menular. Penyebab infeksi hepatitis B adalah virus Hepatitis B (VHB). Virus hepatitis B dalam perjalanan penyakitnya dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis.

Hepatitis merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia. Indonesia  menjadi negara kedua tertinggi sebagai negara endemisitas hepatitis B di antara negara South East Asian Region(SEAR) lainnya. Sedangkan peringkat satu sebagai negara endemisitas hepatitis B tertinggi adalah Myanmar.

Virus Hepatitis B telah menginfeksi sekitar 2 milyar orang di dunia. Sekitar 240 juta orang diantaranya menjadi pengidap Hepatitis B kronik. Sebanyak 1,5 juta penduduk dunia meninggal setiap tahunnya karena Hepatitis. Menurut Riskesdas 2013, prevalensi hepatitis di Indonesia adalah 1,2% dari jumlah total penduduk. Sekitar 1-5% diantaranya merupakan ibu hamil dengan virus hepatitis B.

Penularan infeksi virus hepatitis B dapat terjadi melalui 2 cara, yaitu penularan secara horizontal dan penularan secara vertikal. Penularan horizontal virus hepatitis B dapat terjadi melalui berbagai cara seperti penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah, hubungan seksual, dan lainnya. Sementara penularan secara vertikal biasanya didapatkan pada bayi yang memiliki ibu dengan hepatitis B akut atau persisten. Istilah penularan vertikal ini sering juga disebut sebagai Mother to Child Transmission atau MTCT.

Penyebab penularan infeksivirus hepatitis B secara  MTCT atau Mother to Child Transmission dapat terjadi melalu tiga cara. Tiga cara tersebut yaitu penularanVHB in-utero (di dalam kandungan), penularanVHB perinatal (saat melahirkan) dan penularanVHB post natal (setelah melahirkan).

Penularan virus hepatitis B in-utero atau dalam kandungan ini sampai sekarang belum diketahui dengan pasti mekanismenya. Karena salah satu fungsi plasenta adalah sebagai proteksi terhadap bakteri atau virus. Bayi dikatakan mengalami infeksi in-utero jika dalam 1 bulan post partum atau 1 bulan setelah lahir sudah menunjukkan HbsAg positif.

Penularan perinatal adalah penularan yang terjadi pada saat persalinan. Sebagian besar ibu dengan HbeAg ( salah satu bentuk antigen yang menandakan adanya replikasi atau perbanyakan virus hepatitis b secara aktif) positif akan menularkan infeksi VBH vertikal kepada bayi yang dilahirkannya. Sedangkan ibu dengan anti-Hbe (salah satu bentuk antibodi untuk melawan virus yang sedang bereplikasi) positif tidak akan menularkannya. Untuk mengurangi risiko penularan perinatal, maka pada ibu dengan hepatitis b akut dan aktif lebih baik disarankan persalinan dengan operasi sectio ceasaria. Penularan virus hepatitis B pada bayi yang lahir dengan operasi sectio caesaria elektif (direncanakan) memiliki persentase yang lebih rendah yaitu 1,4%, jika dibandingkan dengan persalinan pervaginam (persalinan normal) yaitu 3,4% atau operasi sectio caesaria darurat yaitu 4,2%.

Penularan post natal terjadi setelah bayi lahir misalnya melalui ASI yang diduga tercemar oleh virus hepatitis B yang masuk ke dalam tubuh bayi melalui luka kecil di dalam mulut bayi. Untuk mencegah infeksi tersebut maka bayi perlu dilakukan vaksinasi. Dan apabila bayi sudah diduga terpapar virus hepatitis B atau ibu memiliki HbeAg positif, maka bayi juga dianjurkan untuk diberikan imunoglobulin (HBIG). Tidak ada masalah untuk menyusui bayi jika bayi sudah mendapatkan vaksinasi. Setelah divaksinasi, maka tubuh bayi akan membentuk antibodi sehingga mampu melawan virus hepatitis B yang masuk dari ibu.

Infeksi akut virus hepatitis B pada ibu hamil tidak dikaitkan dengan peningkatan mortalitas (kematian) dan teratogensitas (kecacatan) pada janin. Namun, apabila anak tersebut lahir dan tertular secara vertikal dari ibu dengan HBsAg (+) selama tahun pertama kehidupannya, 90% nya akan berkembang menjadi hepatitis B kronis dan anak akan menjadi carrier. Sedangkan anak-anak yang terinfeksi sebelum usia 6 tahun, 30% sampai 50% nya akan berkembang menjadi infeksi kronis. Dan berdasarkan data statistik, 25% anak tersebut akan meninggal karena kanker hati. Maka pencegahan penularan secara vertikal merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam memutus rantai penularan Hepatitis B dan kanker hati.

Segera setelah lahir atau kurang dari 12 jam setelah lahir, bayi harus segera mendapatkan vaksinasi hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B dilakukan secara intramuskular (disuntikan di otot) di bagian paha kiri lateral (bagian luar). Vaksin hepatitis B diulangi saat bayi berusia 1-2 bulan dan saat usia 6 bulan, setelah bayi berusia 10 tahun ke atas dapat diberikan booster vaksin hepatitis B. Untuk bayi yang perlu mendapatkan imunoglobulis hepatitis B atau HBIG harus segera diberikan sebelum bayi berusia satu minggu. HBIG disuntikkan di paha kanan bagian lateral.

Penyebab bayi dapat terinfeksi hepatitis B adalah karena penularan vertikal dari ibu yang memiliki hepatitis B positif. Pada bayi-bayi dengan ibu yang memiliki hepatitis B positif, perlu dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HBsAg  berkala pada usia 7 bulan atau satu bulan setelah pemberian vaksin hepatitis B ketiga. Bila pada usia 7 bulan anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang antiHBs danHBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun. Namun, bila pada usia 7 bulan dalam pemeriksaan didapatkan anti HBs negative dan HBs Agpositif, maka dilakukan pemeriksaan 6 bulan kemudian dan bila hasilnya masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis. Bayi dikatakan non responder apabila setelah pemberian vaksin tambahan namun anti HBs dan HbsAgnya tetap negatif.

Oleh karena itu, Jika Anda ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

instal aplikasi prosehat

Referensi:

  1. KementerianKesehatan RI. Pusat Data danInformasi. Jakarta: KementerianKesehatan RI; 2014.
  2. Depkes RI. RisetKesehatanDasar. Jakarta:BadanPenelitiandanpengembanganKesehatanKementrianKesehatan RI;2013.
  3. Dunkelberg JC, Berkley. Hepatitisb and c in pregnancy: a review andrecommendations for care. J Perinatol.2014.
  4. Ankur J, Sarin K. Prevention ofperipartum hepatitis b transmission. NewDelhi : New England J Med 2017.
  5. Ayoub, Cohen. Hepatitis managementin the pregnant patient : an update. USA :JClin Trans Hepatol. 2016.
  6. Pujiarto PS, Sari Pediatri: Bayi Terlahir dari Ibu Hepatitis B. Jakarta: 2013.
  7. Kemenkes RI. PedomanPengendalian Hepatitis Virus. Jakarta: KementrianKesehatanRepublik Indonesia; 2012.

 

WhatsApp Asisten Maya saja