Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 51–60 of 1399 results

  • Sudah tidak perlu diragukan, Indonesia memang surganya untuk urusan keindahan bawah laut. Ada banyak destinasi wisata yang bisa dieksplor untuk mendapatkan pengalaman menjelajahi Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Salah satu kepulauan yang memiliki sejumlah objek wisata bahari ini memiliki Taman Bawah Laut yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara, khususnya para penyelam kelas dunia. Kepulauan […]

    8 Tips Mempersiapkan Liburan Menjelajahi Pulau Derawan

    Sudah tidak perlu diragukan, Indonesia memang surganya untuk urusan keindahan bawah laut. Ada banyak destinasi wisata yang bisa dieksplor untuk mendapatkan pengalaman menjelajahi Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

    Salah satu kepulauan yang memiliki sejumlah objek wisata bahari ini memiliki Taman Bawah Laut yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara, khususnya para penyelam kelas dunia. Kepulauan Derawan memiliki tiga kecamatan, yakni, Pulau Derawan, Biduk Biduk, dan Maratua. 

    8 Tips Mempersiapkan Liburan Menjelajahi Pulau Derawan

    8 Tips Mempersiapkan Liburan Menjelajahi Pulau Derawan

    Terdapat empat pulau yang sangat populer bagi para penyelam di kepulauan ini, yakni Pulau Maratua, Derawan, Salangki, dan Kakaban. Tempat ini dihuni oleh banyak satwa langka seperti, penyu sisik dan penyu hijau. 

    Pastikan Anda sudah sudah vaksin flu sebelum berlibur: Paket Vaksinasi Flu Dewasa 4 Strain ke Rumah

    Nah, bagi Anda yang memiliki rencana menjelajahi Pulau Derawan, sebaiknya persiapkan beberapa hal dibawah ini agar liburan Anda tetap nyaman dan menyenangkan.

    Dry bag dan kantong plastik

    Saat berlibur ke pantai, kantong kedap air atau dry bag ini wajib dibawa karena sangat berguna sekali untuk menyimpan barang penting yang tak boleh terkena air, seperti ponsel, dompet, kamera, maupun baju kering Anda. Dengan dry bag maka Anda tak perlu lagi khawatir barang-barang penting Anda akan rusak terkena air. 

    Selain dry bag, membawa kantong plastik juga tak kalah pentingnya. Kantong plastik dapat Anda gunakan untuk menyimpan pakaian basah setelah main air dan untuk menampung sampah Anda. 

    Pelindung dari sinar matahari

    Musim panas maupun musim hujan, pantai cenderung akan menyuguhkan paparan sinar matahari yang terik meski tidak dalam durasi seharian penuh. Walau begitu, sengatan matahari tetap dapat menyebabkan penggelapan kulit, iritasi kulit, atau bahkan meningkatkan risiko kanker kulit jika terlalu lama terpapar. 

    Mengoleskan tabir surya atau sunblock ke seluruh permukaan kulit dengan minimal SPF 30 akan memberi perlindungan yang cukup untuk kulit. Agar lebih maksimal, Anda dapat membawa kacamata hitam, pakaian lengan panjang, dan topi untuk mendapatkan perlindungan ekstra.

    Konsumsi makanan sehat dan air mineral yang cukup

    Terkadang, beberapa penginapan dan pantai memiliki lokasi yang cukup jauh dari pusat perbelanjaan atau mini market. Maka, persiapkan bekal makanan sehat dari rumah, seperti buah-buahan, sayuran, dan camilan sehat untuk dikonsumsi agar tubuh tetap sehat dan bugar selama liburan. 

    Cuaca pantai yang panas juga akan membuat Anda mengeluarkan keringat yang lebih banyak dari biasanya. Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh dehidrasi sehingga akan mudah lelah. Oleh karena itu, sediakan stok air mineral yang cukup agar Anda dapat mengonsumsi banyak air. 

    Baca Juga: Vaksinasi Influenza untuk Keluarga Siap Liburan

    Krim anti-nyamuk dan cairan anti-bakteri

    Saat Anda berlibur di musim hujan, terutama di daerah tropis seperti di Pulau Derawan, bawalah krim atau spray anti-nyamuk untuk melindungi tubuh Anda dari gigitan nyamuk yang mungkin akan mengganggu liburan Anda. Selain itu jangan lupa untuk membawa cairan anti-bakteri atau desinfektan agar Anda terbebas dari paparan virus, kuman, bakteri, maupun penyakit selama berlibur. Dengan membawa barang-barang ini setidaknya akan mengurangi risiko Anda dari diare atau penyakit lainnya.

    Jas hujan

    Untuk dibawa berlibur, sebaiknya pilihlah jas hujan yang berbahan tipis dan dapat dilipat kecil. Sehingga saat hujan turun Anda tak terjebak karena harus berteduh lama untuk menunggu hujan reda ketika akan kembali ke penginapan atau sekedar berkeliling pantai.

    Pakaian berbahan dry-fit

    Berlibur ke daerah tropis yang lembab seperti Pulau Derawan membutuhkan pakaian yang kering dan terasa sejuk saat dikenakan. Maka, pilihlah pakaian berbahan dry-fit atau campuran polyester yang dapat menyerap keringat dengan cepat.

    Selain mudah kering, pakaian berbahan dry-fit juga termasuk lebih ringan saat dibawa, sehingga tas Anda tidak akan terasa terlalu berat. Ingat, hindari membawa pakaian berbahan denim dan katun yang mudah menyerap kelembapan, sehingga akan terasa dingin saat digunakan.

    Alas kaki anti-slip

    Saat memutuskan untuk berwisata dan menjelajahi Pulau Derawan, gunakanlah alas kaki yang aman dan nyaman, misalnya yang memiliki alas bergerigi seperti sepatu kets atau sandal gunung. Selain itu, pilih pula alas kaki yang tahan air sehingga Anda dapat dengan nyaman menggunakannya saat berkeliling di pantai tanpa harus takut alas kaki Anda basah dan menjadi rusak.

    Catat kontak darurat

    Kemanapun Anda akan berpergian, sebaiknya Anda mencatat semua nomor darurat di daerah yang akan Anda kunjungi ke dalam ponsel Anda. Ini bertujuan untuk antisipasi jika tiba-tiba Anda mengalami musibah seperti kecelakaan dijalan, diserang hewan liar, ataupun tindak kriminal.

    Sahabat Sehat, persiapan adalah bagian penting dari sebuah perjalanan. Persiapan yang baik akan membuat perjalanan Anda menyenangkan. Jangan lupa untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dan melengkapi vaksinasi Covid-19 dan vaksinasi perjalanan, seperti vaksin hepatitis A dan influenza, agar Anda terlindungi dari berbagai penyakit menular.

    Baca Juga: Mengapa Perlu Vaksin Hepatitis A Sebelum Bepergian?

    Dapatkan: Layanan Vaksinasi Hepatitis A

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan imunisasi ke rumah, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Discoveryshoresboracay.com. 2021. 4 Ways To Stay Healthy During A Summer Beach Vacation | Discovery Boracay.
    2. Generalitravelinsurance.com. 2021. 10 Beach Safety Tips for Your Summer Vacation.
    3. Nast, C., 2021. 6 Ways to Stay Healthy and Refreshed During Your Next Beach Trip.
    4. Kaltimprov.go.id. 2021. Kepulauan Derawan.

     

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memaparkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat penyakit meningitis, yaitu kondisi peradangan dan infeksi selaput otak. Jika tidak ditangani dengan tepat 50% kasus meningitis akan berakhir pada kematian. Apa yang menjadi penyebab infeksi otak Meningitis dan bagaimana cara pencegahan penyakit meningitis ? Mari simak penjelasan berikut. […]

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memaparkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat penyakit meningitis, yaitu kondisi peradangan dan infeksi selaput otak. Jika tidak ditangani dengan tepat 50% kasus meningitis akan berakhir pada kematian. Apa yang menjadi penyebab infeksi otak Meningitis dan bagaimana cara pencegahan penyakit meningitis ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Apa Itu Penyakit Meningitis ?

    Meningitis merupakan kondisi peradangan pada selaput lapisan otak atau yang disebut dengan meninges. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan jamur yang menginfeksi cairan otak dan tulang belakang. Selain itu beberapa kondisi medis lainnya dapat menyebabkan meningitis, yaitu cedera kepala, kanker, efek samping obat dan komplikasi infeksi pada area tubuh lainnya.

    Dapatkan : Layanan Paket Vaksinasi Meningitis dan Flu 4 Strain ke Rumah

    Penyebab Meningitis

    Berikut adalah beberapa organisme yang menyebabkan meningitis, yaitu :

    • Meningitis Bakteri

    Disebabkan oleh beberapa jenis bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes

    • Meningitis Virus

    Meningitis virus adalah infeksi selaput otak yang disebabkan karena infeksi virus, seperti enterovirus, mumps, virus HIV, virus herpes simplex, virus west nile. Biasanya meningitis virus memiliki gejala yang tergolong ringan dan dapat pulih dengan sendirinya dibandingkan dengan meningitis bakteri.

    • Meningitis Jamur

    Meningitis jamur biasanya menyerang seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita penyakit autoimun, kanker dan penyakit kronis tertentu (misalnya, HIV/AIDS). Beberapa jamur yang dapat menyebabkan meningitis antara lain cryptococcus, Blastomyces, histoplasma dan coccidioides yang terdapat pada kotoran hewan seperti burung dan kelelawar.

    • Meningitis Parasit

    Biasanya disebabkan karena parasit Angiostrongylus cantonensis dan Baylisascaris procyonis yang menginfeksi melalui makanan yang tercemar kotoran seperti siput, ikan dan unggas.

    • Meningitis Amoeba

    Meningitis yang disebabkan karena amoeba sangat jarang terjadi.Amoeba yang menyebabkan meningitis adalah Naegleria fowleri yang biasanya disebabkan karena mengkonsumsi air minum dari alam bebas yang tercemar amoeba ini.

    Baca Juga: Tanda dan Gejala Meningitis Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

    Gejala Meningitis

    Secara umum gejala meningitis pada fase awal sangat mirip dengan gejala influenza. Berikut ini gejala meningitis secara umum, yaitu :

    • Demam 
    • Leher kaku
    • Nyeri kepala berat
    • Nyeri kepala disertai dengan mual dan muntah
    • Sulit berkonsentrasi
    • Kejang
    • Mengantuk dan sulit berjalan 
    • Sensitif terhadap cahaya 
    • Nafsu makan menurun
    • Kemerahan pada kulit 

    Jika mengalami keluhan diatas, sebaiknya Sahabat Sehat segera memeriksakan ke dokter agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Tips Mencegah Meningitis

    Untuk mencegah meningitis Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai hal berikut: 

    • Mencuci tangan setiap kali selesai beraktivitas atau sebelum makan.
    • Memasak makanan hingga matang 
    • Menggunakan masker bila sedang sakit
    • Hindari kontak dengan pasien yang sedang terinfeksi
    • Jangan berbagi makanan atau minuman yang sedang dimakan atau barang pribadi (pisau cukur, lipstick, sikat gigi)
    • Menerapkan pola hidup sehat, misalnya olahraga teratur dan cukup istirahat minimal 7-9 jam
    • Mengikuti vaksinasi, seperti vaksin meningitis, vaksin PCV (pneumococcal), maupun Vaksin Hib (Haemophilus influenzae B), untuk melindungi dari kuman penyebab meningitis.9,10

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit infeksi otak meningitis yang menyerang selaput otak. Jika Sahabat Sehat berminat menerima vaksinasi untuk mencegah meningitis, segera manfaatkan layanan imunisasi ke rumah dari Prosehat.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan imunisasi ke rumah, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Antara News. Setahun mengenang Glenn Fredly, ketahui gejala meningitis pada anak [Internet]. Indonesia : Antara News.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis [Internet]. USA :  Centers for Disease Control and Prevention.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. About Bacterial Meningitis Infection [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Viral Meningitis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Fungal Meningitis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Parasitic Meningitis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    7. Centers for Disease Control and Prevention. Amebic Meningitis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    8. Centers for Disease Control and Prevention. Non-Infectious Meningitis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    9. Mayo Clinic. Meningitis – Symptoms and causes [Internet]. USA : Mayo Clinic.
    10. Cassoobhoy A. Meningitis (Bacterial, Viral, and Fungal) [Internet]. USA : WebMD.

     

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Read More
  • Pemerintah baru saja mengumumkan bahwa akan menjadikan vaksin human papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi anak SD. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia. Human papillomavirus merupakan virus penyebab kanker serviks (leher rahim) dan beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker tenggorokan, amandel, dan anus. Selain itu juga bisa menyebabkan penyakit kulit […]

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Pemerintah baru saja mengumumkan bahwa akan menjadikan vaksin human papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi anak SD. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia.

    Human papillomavirus merupakan virus penyebab kanker serviks (leher rahim) dan beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker tenggorokan, amandel, dan anus. Selain itu juga bisa menyebabkan penyakit kulit dan kelamin. Cara yang paling ampuh untuk pencegahan kanker serviks adalah dengan vaksinasi, Tapi Pentingkah Vaksinasi HPV untuk anak-anak? Mari simak penjelasannya.

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Penyebab kematian kedua terbanyak di Indonesia

    Angka kejadian kanker serviks di Indonesia mencapai 15.000 hingga 21.000 kasus setiap tahunnya. Angka ini menjadikan jumlah kasus kanker serviks sebagai penyebab kematian nomor dua terbanyak bagi perempuan di Indonesia.

    Penyebaran kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan melakukan vaksinasi kanker serviks (HPV).

    Cegah Kanker Serviks Pada Anak: Harga Vaksinasi HPV ke Rumah

    Pentingnya Vaksinasi HPV

    Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa vaksinasi HPV untuk anak-anak tidak diperlukan. Alasannya karena anak-anak belum berhubungan seksual di usia tersebut.

    Tapi sebenarnya efek perlindungan dari vaksin ini lebih bagus bila orang tersebut belum melakukan hubungan seksual. Justru, akan terlambat jika vaksin HPV diberikan setelah seseorang melakukan hubungan seksual karena ada risiko ia sudah terinfeksi.

    HPV tidak hanya menimbulkan penyakit pada wanita namun juga dapat menyerang pria karena virus ini bisa menyebabkan kanker penis.

    Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papillomavirus), yang disebabkan oleh tipe 16 dan 18 (sebanyak 70% kasus di dunia). Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui menjadi 90% penyebab kasus kutil kelamin.

    Vaksinasi HPV

    Vaksinasi HPV untuk anak-anak dianjurkan diberikan pada usia 9-14 tahun, vaksinasi sebaiknya dilakukan 2 kali dengan jarak 6-12 bulan.

    Sedangkan, bagi anak usia 15 tahun ke atas, HPV diberikan sebanyak 3 kali dengan jadwal pemberian vaksinasi pada bulan 0, 1 atau 2 bulan setelah penyuntikan pertama (tergantung dari jenis vaksin apa yang digunakan, apakah bivalen ataukah tetravalent) dan terakhir adalah 6 bulan setelah penyuntikan pertama. Apabila pemberian vaksinasi ada yang terlewat, maka vaksinasi dapat terus dilanjutkan tanpa mengulangi dosisnya dari awal.

    Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalent yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim. Sedangkan vaksin tetravalent mengandung 4 tipe virus HPV (tipe 6, 11, 16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim dan juga kutil kelamin.

    Baca Juga: 7 Hal Yang Harus Bunda Ketahui Tentang Vaksinasi HPV Anak

    Efek Samping Vaksinasi HPV

    Efek samping yang mungkin timbul setelah dilakukan vaksinasi paling umum adalah reaksi lokal di tempat penyuntikan seperti nyeri, kemerahan, memar atau bengkak.

    Selain itu, gejala lainnya antara lain demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, ruam, urtikaria, pusing dan rasa lelah.

    Tidak Disarankan Pemberian Vaksinasi HPV

    Vaksinasi HPV umumnya tidak dapat diberikan atau perlu dilakukan penundaan pemberian apabila adanya kondisi sebagai berikut :

    • Memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap vaksin HPV
    • Memiliki reaksi alergi atau hipersensitif terhadap lateks atau ragi.
    • Sedang hamil
    • Mengalami penyakit berat, kronis atau keganasan.

    Baca Juga: Aman dan Nyaman Melakukan Imunisasi Kejar Anak dari Rumah

    Sahabat Sehat, jadi vaksin HPV aman untuk diberikan ke anak-anak selama ia tidak memiliki kontraindikasi yang disebutkan di atas. Efek perlindungannya juga lebih bagus bila diberikan di usia dini sesuai rekomendasi ahli. Segera vaksinasi anak Anda agar ia terlindungi. Bila Anda khawatir untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan, vaksinasi juga bisa dilakukan dengan layanan ke rumah (home care).

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan imunisasi ke rumah, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.



    Referensi 

    1. Wijaya, d., 2021. Pentingnya Vaksin HPV Pada Anak dan Dewasa. [Internet] RS Bunda Group.
    2. Armstrong, MD, M. and Whelan, C., 2022. HPV Vaccine for Kids: What You Need to Know.
    3. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV [Internet]. Perdoski.id. 2021.
    4. IDAI | Sekilas tentang Vaksin HPV [Internet]. Idai.or.id. 2017.
    5. HPV Vaccination: What Everyone Should Know | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021.
    6. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination [Internet]. Plannedparenthood.org. 2021.

     

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Mengejan saat buang air besar (BAB) merupakan hal yang wajar. Namun, Bila anak mengejan saat BAB secara berlebih, perlu diwaspadai mungkin ia mengalami sembelit atau konstipasi karena ada gangguan kesehatan. Anak Mengejan Berlebihan Tanda Sembelit Sembelit adalah gangguan kesehatan yang umum dialami anak-anak. Pada mayoritas anak, mereka yang mengalami sembelit akan mengalami buang air besar […]

    Anak Mengejan Saat BAB, Waspadai Tanda dan Gejala Sembelit

    Mengejan saat buang air besar (BAB) merupakan hal yang wajar. Namun, Bila anak mengejan saat BAB secara berlebih, perlu diwaspadai mungkin ia mengalami sembelit atau konstipasi karena ada gangguan kesehatan.

    Anak Mengejan Saat BAB, Waspadai Tanda dan Gejala Sembelit

    Anak Mengejan Saat BAB, Waspadai Tanda dan Gejala Sembelit

    Anak Mengejan Berlebihan Tanda Sembelit

    Sembelit adalah gangguan kesehatan yang umum dialami anak-anak. Pada mayoritas anak, mereka yang mengalami sembelit akan mengalami buang air besar yang keras (tinja), dengan susah payah dan menyakitkan, serta dengan frekuensi yang lebih jarang dari biasanya. Kondisi ini akan menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit yang biasanya bersifat sementara. Namun, jika tidak diobati, gejala nya akan bertambah parah. 

    Umumnya, sembelit disebabkan oleh perubahan pola makan atau proses belajar BAB di toilet (toilet training). Perubahan makan yang dimaksud ialah saat anak mulai diperkenalkan makanan padat atau kurangnya asupan serat pada menu hariannya. 

    Sembelit dapat terjadi saat feses bergerak terlalu lambat di dalam usus besar menuju anus. Semakin lambat makanan menuju saluran cerna, maka semakin banyak jumlah air yang diserap oleh usus besar, akibatnya feses akan semakin mengeras. 

    Setiap anak sebenarnya memiliki pola cerna yang berbeda. Yang mungkin dianggap normal untuk anak lain, bisa jadi berbeda pada anak Anda. Sebagian anak mungkin buang air besar sebanyak 2 kali sehari. Namun, sebagian lainnya mungkin BAB setiap 2 hingga 3 hari sekali. 

    Produk Terkait: Jual Obat Sembelit

    Bahaya Mengejan pada Anak Akibat Sembelit

    Sembelit akan menyebabkan ketidaknyamanan pada perut anak. Gangguan sistem pencernaan ini juga membuat anak mengejan saat BAB, sehingga berisiko menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

    Robekan kecil jaringan anus

    Fisura ani atau robekan kecil pada jaringan yang melapisi anus terjadi saat anak memaksakan diri mengeluarkan feses saat BAB dengan mengejan berlebihan. Ketika jaringan ini robek, anak akan merasakan perih dan akan ada perdarahan pada anus anak saat BAB.

    Wasir

    Wasir atau juga disebut ambeien akan terjadi saat pembuluh darah di anus dan rektum mengalami pembengkakan akibat mengejan berlebihan. Wasir biasanya akan menimbulkan rasa gatal atau nyeri pada dubur anak.

    Prolaps rektum

    Prolaps rektum adalah kondisi ketika rektum anak keluar ke anus dari posisi awalnya. Mengejan berlebihan dan sering akan meningkatkan risiko terjadinya prolaps rektum.

    Baca Juga: Makanan Sehat Pencernaan Lancar

    Langkah Pencegahan Sembelit pada Anak

    Agar anak terhindar dari sembelit, orang tua dapat membantunya dengan:

    Memenuhi kebutuhan serat harian anak. Berikan anak makanan berserat tinggi seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, atau sereal gandum utuh. Diet serat seperti ini juga dapat membantu pencernaan anak untuk membentuk tinja yang lebih lunak. 

    Cukupi kebutuhan cairan. Cairan yang dimaksud adalah air putih sebagai pilihan terbaik.

    Aktivitas fisik. Anda dapat mendorong anak untuk melakukan aktifitas fisik yang teratur untuk membantu merangsang fungsi usus yang normal. Bagi anak yang lebih kecil, bermain, berlompat, dan sejenisnya adalah aktivitas fisik yang diperlukan. Bagi anak yang lebih besar dapat disarankan melakukan olahraga kesukaannya.

    Buat rutinitas toilet. Secara teratur dan perlahan sisihkan waktu setelah makan untuk anak Anda menggunakan toilet. Bila perlu sediakan bangku kaki agar anak dapat duduk dengan nyaman di toilet.

    Ingatkan anak untuk tidak menahan buang air besar. Banyak anak yang begitu asik bermain sehingga sering mengabaikan keinginan untuk BAB. Untuk itu, cobalah dorong anak dengan memberikan hadian kecil jika ia berhasil BAB di toilet, seperti dengan memberikan menu makanan favoritnya. Dan jangan menghukum anak jika ia mengotori celana dalamnya.

    Perhatikan obat. Jika anak Anda mengonsumsi obat yang menyebabkan sembelit, tanyakan ke dokter untuk pilihan obat lain.

    Baca Juga: 5 Jenis Gangguan Pencernaan pada Bayi Beserta Gejalanya

    Sahabat Sehat, waspadai bila anak sering mengejan saat buang air besar. Segera atasi dengan cara-cara di atas. Bila diperlukan, konsultasikan dengan dokter langkah yang terbaik untuk mengatasi sembelit Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. 2021. Constipation in children – Symptoms and causes.
    2. nhs.uk. 2021. Constipation in children.
    3. HealthyChildren.org. 2021. Constipation in Children
    4. WebMD. 2021. Treatments for Constipation in Children.
    5. Medicalnewstoday.com. 2021. Constipation: Causes, symptoms, treatments, and more.

     

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Cacar air atau disebut juga varicella atau chickenpox, dapat menyerang siapa saja baik anak, dewasa dan wanita hamil. Ibu hamil yang menderita cacar air beresiko membahayakan dirinya dan janin dalam kandungan. Lalu apa dampak jika cacar air saat hamil? Mari simak penjelasan berikut. Cacar Air Cacar air atau varicella merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi […]

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya? Ini Penjelasannya

    Cacar air atau disebut juga varicella atau chickenpox, dapat menyerang siapa saja baik anak, dewasa dan wanita hamil. Ibu hamil yang menderita cacar air beresiko membahayakan dirinya dan janin dalam kandungan. Lalu apa dampak jika cacar air saat hamil? Mari simak penjelasan berikut.

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya Ini Penjelasannya

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya? Ini Penjelasannya

    Cacar Air

    Cacar air atau varicella merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster virus. Virus ini menyebar dari penderita cacar air ke orang lain melalui kontak dengan pasien yang terinfeksi. Virus menyebar melalui udara yang terkontaminasi dari droplet bersin atau batuk orang yang terinfeksi. Cacar air sangat menular mulai dari 1-2 hari sebelum timbul kemerahan sampai dengan lentingan kecil kemerahan pada tubuh mengering, yang dialami kurang lebih selama 14-16 hari.

    Cegah dengan Vaksinasi: Paket Vaksinasi Pranikah Lengkap ke Rumah

    Apa Gejala Cacar Air ?

    Cacar air menimbulkan bintik kemerahan berisi lentingan cairan pada anggota tubuh yang dapat pecah. Beberapa orang terjadi lentingan hanya di beberapa bagian tubuh, namun ada juga di seluruh area tubuh terutama di area wajah, telinga, kulit kepala, lengan, dada, perut dan kaki. Selain itu, Sahabat Sehat dapat mengalami demam dan tidak enak badan disertai dengan batuk dan bersin.

    Apa Dampak Cacar Air Pada Masa Kehamilan ?

    Kebanyakan ibu hamil yang terkena cacar air dapat sembuh tanpa efek apapun. Namun, sebagian lagi mengalami komplikasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu hamil berisiko terjadi komplikasi cacar air pada saat kehamilan seperti merokok, riwayat penyakit paru-paru, mengkonsumsi obat-obatan kortikosteroid dan mengandung lebih dari 20 minggu.

    Salah satu komplikasi cacar air pada ibu ketika hamil yang paling ditakutkan adalah terjadinya pneumonia. Infeksi pneumonia cukup mengkhawatirkan dan serius. Gejala pneumonia meliputi batuk, nyeri dada ketika bernapas dan batuk, demam, lelah dan napas pendek. Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai resiko yang dapat dialami janin jika ibu cacar air saat hamil: 

    • Jika cacar air terjadi pada usia kehamilan 20 minggu pertama, meningkatkan resiko gejala sindrom kongenital atau cacat bawaan pada janin seperti :
      Bekas luka (scar) pada kulit
      Kelainan atau cacat pada anggota gerak tubuh janin (tangan dan kaki) dan mata (kebutaan)
      Gangguan pencernaan
      Berat badan lahir rendah
      Ukuran kepala kecil
      Gangguan pada otak hingga timbul kejang sampai keterbelakangan mental.
    • Jika cacar air terjadi diantara 2 minggu sebelum melahirkan sampai 2 minggu setelah melahirkan, biasanya bayi tidak ikut terinfeksi. Namun apabila bayi ikut tertular, biasanya gejala yang dialami cukup ringan. Apabila virus kembali aktif dapat menyebabkan herpes zoster (cacar api) pada tahun pertama kehidupan Si Kecil.
    • Apabila cacar air terjadi 5 hari sebelum melahirkan sampai 2 hari setelah melahirkan, biasanya bayi berisiko terinfeksi. Penanganan yang optimal dapat meringankan gejala.
    • Apabila melahirkan secara prematur yaitu sebelum usia kehamilan 37 minggu maka resiko terjadinya komplikasi akan semakin meningkat.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Penanganan Cacar Air Saat Masa Kehamilan

    Apabila ibu hamil lupa apakah masa kecilnya sudah pernah mengalami cacar air atau belum, sebaiknya diperiksakan ke dokter agar diketahui kadar antibodi dalam darah terhadap virus varicella zoster. 

    Apabila ibu hamil tidak sengaja kontak dengan penderita cacar air, maka segera lakukan konsultasi ke Dokter agar diberi penanganan lanjutan seperti imunoglobulin atau antibodi untuk memberikan kekebalan terhadap virus varicella. Immunoglobulin umumnya dapat diberikan maksimal 10 hari setelah riwayat kontak dengan pasien yang terkena cacar air.

    Namun, apabila ibu hamil sudah mengalami gejala yang mengarah pada cacar air, maka dokter akan memberikan beberapa obat-obatan termasuk anti virus untuk meringankan gejala dan keparahan komplikasi.

    Kapan Harus Segera Menemui Dokter ?

    Berikut ini gejala yang mengharuskan ibu hamil yang terkena cacar air untuk segera ke Dokter :

    • Kesulitan bernapas dan sesak pada dada
    • Nyeri kepala, muntah dan tidak enak badan
    • Perdarahan vagina
    • Lentingan kemerahan nyeri dan berdarah

    Baca Juga: Faktor Penyebab Bayi Lahir Prematur dan Cara Mencegahnya

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai resiko yang dapat dialami janin jika ibu cacar air saat hamil. Untuk mencegah berbagai komplikasi tersebut, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan vaksinasi Varicella sebelum program hamil maupun sebelum menikah untuk mencegah cacar air. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Jika berminat melakukan vaksinasi Varicella, segera manfaatkan layanan imunisasi ke rumah maupun di Klinik Kasih Prosehat. Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Stanford Children’s Health. Chickenpox (Varicella) and Pregnancy [Internet]. UK : Stanford Children’s Health.
    2. Marple K. Chicken pox during pregnancy [Internet]. USA : BabyCenter.
    3. RCOG. Chickenpox and pregnancy [Internet]. UK : RCOG.
    4. March of Dimes. Chickenpox during pregnancy [Internet]. USA : March of Dimes. 2021.
    5. Danielsson K. Will Exposure to Chickenpox During Pregnancy Cause a Miscarriage? [Internet]. USA : Verywell Family. 2021.

     

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Read More
  • Menteri Kesehataan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa vaksin HPV menjadi vaksin wajib dan memasukkannya dalam program nasional. Salah satu vaksin yang menjadi target untuk dimasukkan adalah vaksin kanker serviks (HPV). Jenis vaksin ini dimasukkan akibat tingginya angka kematian perempuan di Indonesia yang disebabkan oleh kanker serviks.  Mengutip dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin […]

    Siap-siap! Vaksin HPV Menjadi Vaksin Wajib, Apakah Gratis?

    Menteri Kesehataan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa vaksin HPV menjadi vaksin wajib dan memasukkannya dalam program nasional. Salah satu vaksin yang menjadi target untuk dimasukkan adalah vaksin kanker serviks (HPV). Jenis vaksin ini dimasukkan akibat tingginya angka kematian perempuan di Indonesia yang disebabkan oleh kanker serviks. 

    Siap-siap! Vaksin HPV Menjadi Vaksin Wajib, Apakah Gratis

    Siap-siap! Vaksin HPV Menjadi Vaksin Wajib, Apakah Gratis?

    Mengutip dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin Kemenkes) tahun 2019, data yang diambil dari Rumah Sakit Kanker Dharmais pada tahun 2018 bahwa penyumbang kasus kanker terbesar berasal dari perempuan, yakni kanker payudara sebesar 19,18 persen dan kanker serviks 10,69 persen.  

    Cegah Kanker Serviks sebelum terlambat: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV 4 Strain ke Rumah

    Menkes Rencanakan Vaksin HPV Menjadi Vaksin Wajib

    Saat ini kanker serviks sudah ada vaksinnya yang disebut dengan vaksin human papillomavirus (HPV). HPV adalah jenis virus yang menjadi penyebab utama kanker serviks.

    Program vaksin kanker serviks sudah berjalan sejak tahun 2021 namun baru berlangsung di 2 provinsi dan 5 kabupaten/kota. Sementara pada tahun 2022, program ini diperluas hingga 3 provinsi dan 5 kabupaten/kota. Dan rencananya di tahun 2023 dan 2024 sudah bisa berlaku di seluruh provinsi di Tanah Air. Hal ini disampaikan Menkes Budi saat menghadiri acara Pertemuan Diaspora Kesehatan Indonesia di Kawasan Indonesia. 

    Lanjutnya, Menkes Budi menyebutkan bahwa perlu ada penambahan jenis vaksin wajib yang sebelumnya hanya 11 menjadi 14 antigen. Pihaknya berencana menambahkan vaksin HPV, PCV, dan rotavirus.

    Alih-alih mengurus pasien kanker yang butuh perawatan di rumah sakit, Menkes mendorong masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan. Hal ini karena biaya perawatan untuk pasien kanker terbilang mahal, mulai dari operasi hingga kemoterapi. 

    Biaya perawatan di rumah sakit juga cukup mahal dan hanya akan membuat pasien dan keluarga yang merawat lebih menderita.

    Vaksin Kanker Serviks Gratis untuk siswa kelas 5 dan 6 SD

    Kemenkes RI akan mewajibkan program vaksinasi HPV sebagai upaya pencegahan kanker serviks. Nantinya, pemberian vaksin HPV akan masuk ke dalam program imunisasi nasional dan bersifat gratis karena menjadi tanggung jawab pemerintah. 

    Selain itu, pemberian vaksin HPV ini juga akan berlangsung secara bersamaan dengan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya pada bulan Agustus dan November. 

    Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, Prima Yosephine mengatakan bahwa target vaksin HPV gratis ini adalah siswa kelas 5 SD dan kelas 6 SD. Diluar kelompok tersebut, vaksin HPV akan dikenakan bayaran. 

    Baca Juga: Mengapa Vaksinasi HPV Juga Diperlukan Untuk Si Gadis?

    Apa itu vaksin HPV?

    Vaksin HPV adalah jenis vaksin yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi human papillomavirus (HPV). Vaksin ini bisa diberikan mulai dari anak-anak usia 9 tahun, laki-laki dan perempuan, hingga orang dewasa yang belum pernah atau belum lengkap mendapatkan vaksin HPV. 

    Selain kanker serviks, human papillomavirus dapat menyebabkan infeksi kulit, termasuk kutil kelamin. Virus ini bisa menular melalui kontak langsung dengan kulit penderita, terutama saat berhubungan seksual. Selain itu, virus HPV juga dapat memicu munculnya beberapa jenis kanker di bagian belakang tenggorokan, amandel, pangkal lidah, dan di organ kelamin, seperti vagina, vulva, penis, dan anus.

    Orang yang memiliki riwayat kanker di keluarga juga perlu waspada terhadap kanker ini.

    Kapan vaksin HPV diberikan?

    Dikutip dari jadwal imunisasi anak IDAI, anak-anak mulai dari usia 9 tahun bisa mendapatkan dua dosis vaksin HPV secara terpisah dengan jarak pemberian 6 sampai 12 bulan. 

    Bagi anak-anak yang baru divaksinasi HPV setelah usia 15 tahun, maka mereka membutuhkan tiga dosis yang diberikan terbagi dengan jarak 6 bulan.

    Pemberian vaksin HPV dilakukan sejak dini karena perlindungannya lebih efektif dibandingkan bila diberikan saat dewasa.

    Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Vaksin HPV Sebelum Menikah Itu Penting

    Nah Sahabat Sehat, dengan diberlakukannya vaksin HPV menjadi vaksin wajib bagi anak-anak, anak-anak Indonesia akan terlindungi masa depannya dari kanker serviks dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh human papillomavirus. Tentunya hal ini harus dibarengi dengan gaya hidup yang sehat juga. Bila anak Anda belum mendapatkan vaksin HPV, segera jadwalkan dengan dokter.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, produk imunisasi, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

     

    Referensi

    1. K, N., 2022. Siap-siap! Menkes RI Bakal Tambah Vaksin Kanker Jadi Vaksin Wajib, Ini Alasannya.
    2. Nurfadilah, P., 2022. Menkes Sebut Vaksin Kanker Serviks Akan Masuk Vaksin Wajib.
    3. Indonesia, C., 2022. Fakta-fakta Vaksin Kanker Serviks yang Bakal Diwajibkan Tahun Depan.
    4. Acog.org. 2022. Human Papillomavirus Vaccination.
    5. idai.or.id. 2022. sekilas tentang vaksin hpv.
    6. Azizah, K., 2022. Asyik! Bakal Diwajibkan, Vaksin Kanker Serviks Gratis untuk Kelompok Ini.

     

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Disaat dunia bergulat dengan pandemi Covid-19, Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) terus memastikan agar anak-anak mendapatkan vaksinasi Covid-19 Pada tanggal 2 November 2021, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi pembaruan terkait vaksin Covid-19 bagi anak berusia 6 tahun ke atas. Sebagaimana diketahui, virus corona tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga […]

    Anak Batuk Pilek, Apakah Tetap Boleh Divaksin COVID-19?

    Disaat dunia bergulat dengan pandemi Covid-19, Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) terus memastikan agar anak-anak mendapatkan vaksinasi Covid-19

    Pada tanggal 2 November 2021, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi pembaruan terkait vaksin Covid-19 bagi anak berusia 6 tahun ke atas. Sebagaimana diketahui, virus corona tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga anak-anak. Anak-anak bisa tertular dari orang tua, tamu, teman, guru, dan lain-lain, walau mungkin tidak bergejala.

    IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Covid-19 jenis Coronavac pada anak usia 6 tahun ke atas dengan dosis 3 ug atau 0,5 ml sebanyak dua kali pemberian dengan jarak dosis pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu. Sebelum divaksin, Anak akan di skrining kesehatan oleh tenaga kesehatan. Bagaimana jika anak batuk pilek boleh di vaksin covid atau tidak? simak penjelasan berikut.

    anak batuk pilek boleh di vaksin covid

    Anak Batuk Pilek, Apakah Tetap Boleh Divaksin COVID-19?

    Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi anak sebelum menjalani vaksinasi COVID-19. Diantaranya, kondisi fisik anak harus dalam keadaan sehat, tidak memiliki penyakit kronis tertentu, dan juga tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh misalnya obatan-obatan kanker dan pengobatan menggunakan steroid jangka panjang.

    Pastikan anak sudah mendapatkan vaksinasi flu sebelum berlibur: Paket Vaksinasi Flu Anak 4 Strain ke Rumah

    Dapatkah Anak Melakukan Vaksinasi COVID-19 saat Anak Pilek atau Flu?

    dr. Anggraini Alam, Sp. A (K), ketua UKK Infeksi Penyakit Tropis IDAI mengatakan bahwa anak dengan keluhan batuk, pilek dan demam sebaiknya ditunda dulu untuk melakukan vaksinasi Covid-19 sampai kondisi anak benar-benar sehat.

    Center for Disease Control Amerika Serikat (CDC) juga mengatakan bahwa tidak ada bukti penyakit akut seperti flu mengurangi kemanjuran vaksin Covid-19 atau meningkatkan reaksi alergi dan efek samping vaksin. Walau begitu, CDC tetap menganjurkan agar anak yang sedang sakit untuk menunda divaksinasi.

    Anak yang mengalami gejala mirip Covid-19 sebaiknya melakukan tes Covid-19 terlebih dahulu dan menunggu untuk divaksinasi sampai kondisi kesehatan sudah membaik. Hal ini dikarenakan agar gejala flu yang sedang dialami tidak semakin parah akibat efek samping vaksinasi maka vaksinasi COVID-19 perlu ditunda hingga gejala Flu atau pilek mereda.

    Baca Juga: Aman dan Nyaman Melakukan Imunisasi Kejar Anak dari Rumah

    Kontra Indikasi Vaksinasi COVID-19

    Berikut ini kontraindikasi lainnya yang perlu diketahui untuk melakukan vaksinasi COVID-19 pada anak :

    1. Anak mengalami defisiensi Imun Primer, penyakit autoimun yang tidak terkontrol
    2. Penyakit Sindrom Guillain Barre, myelitis transversa, acute demyelinating encephalomyelitis.
    3. Anak yang didiagnosis kanker dan sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi.
    4. Sedang menjalani pengobatan Imunosupresan/ sitostatika berat
    5. Demam 37,50 atau lebih.
    6. Baru saja sembuh dari COVID-19 kurang dari 3 bulan.
    7. Pasca imunisasi lain kurang dari 1 bulan
    8. Hamil
    9. Hipertensi tidak terkendali
    10. Diabetes melitus yang tidak terkendali
    11. Penyakit-penyakit kronik atau kelainan kongenital yang tidak terkendali.

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi COVID-19?

    Sahabat Sehat, itulah mengenai anak batuk pilek boleh di vaksin covid atau tidak. bila Si Kecil belum divaksinasi Covid-19, segera ajak ke sentra vaksin atau fasilitas kesehatan agar ia memiliki kekebalan tubuh terhadap virus Corona. Bila ia juga belum melengkapi imunisasinya dikarenakan pandemi, sudah saatnya ia mengikuti Program Imunisasi Kejar. Sekarang imunisasi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan dan di rumah. Pilihlah yang nyaman bagi Moms dan Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, produk imunisasi, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.


    Referensi 

    1. Who.int. 2022. COVID-19 Vaccines Advice.
    2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2021. IDAI Rekomendasikan Pemberian Vaksin COVID-19 Sinovac Pada Anak Usia 6 Tahun ke Atas.
    3. IDAI. 2021. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Pemberian Vaksin COVID-19 (Coronavac®) pada anak usia 6 tahun ke atas Pemutakhiran 2 November 2021.
    4. Desideria, B., 2022. Anak Batuk Pilek, Sebaiknya Tetap Ikut atau Tunda Vaksinasi COVID-19?.
    5. Smith, J. and Miller, K., 2022. Can You Get the COVID-19 Vaccine if You’re Sick With Cold-Like Symptoms?.

     

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Japanese encephalitis merupakan salah satu virus yang menyebabkan peradangan otak (ensefalitis). Virus Japanese encephalitis merupakan flavivirus, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk culex yang terinfeksi. Beberapa negara dengan angka insidensi Japanese encephalitis cukup tinggi diantaranya Tiongkok, Taiwan, Jepang, Korea Utara, Cambodia, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Timor leste dan Papua New Guinea.2 Virus ini juga […]

    Perlukah Si Kecil Vaksin Japanese Encephalitis, Kapan Dibutuhkannya?

    Japanese encephalitis merupakan salah satu virus yang menyebabkan peradangan otak (ensefalitis). Virus Japanese encephalitis merupakan flavivirus, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk culex yang terinfeksi.

    Beberapa negara dengan angka insidensi Japanese encephalitis cukup tinggi diantaranya Tiongkok, Taiwan, Jepang, Korea Utara, Cambodia, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Timor leste dan Papua New Guinea.2 Virus ini juga ditemukan di seluruh dunia, namun terbanyak di Asia, Pasifik bagian barat dan Australia bagian utara.

    Perlukah Si Kecil Vaksin Japanese Encephalitis, Kapan Dibutuhkannya

    Perlukah Si Kecil Vaksin Japanese Encephalitis, Kapan Dibutuhkannya?

    Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan sebanyak kurang lebih 67.900 kasus Japanese encephalitis setiap tahun terjadi di 24 negara endemis, dan 75% kasus terjadi pada anak-anak usia 0-14 tahun.

    Di Indonesia, kasus Japanese encephalitis pertama yang dikonfirmasi berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu pada tahun 1996. Kasus Japanese encephalitis terjadi sepanjang tahun, terutama pada musim hujan. Cara pencegahan yang sudah terbukti ampuh dan mampu meminimalisir penyebaran infeksi virus ini adalah lewat vaksin japanese encephalitis.

    Penularan virus ini terutama terjadi di daerah pertanian dan pedesaan. Namun, pada beberapa wilayah di Asia, kondisi ini dapat terjadi di dekat kota besar.

    Kini Imunisasi Si Kecil bisa di Rumah: Panggil ProSehat, Imunisasi Anak ke Rumah

    Gejala Japanese Encephalitis

    Biasanya Japanese encephalitis tidak bergejala atau bergejala tetapi tidak spesifik. Tanda dan gejala penyakit radang otak biasanya muncul dalam 4-14 hari setelah gigitan nyamuk, seperti:

    • Nyeri kepala
    • Demam tinggi mendadak
    • Perubahan status mental/ gangguan kesadaran
    • Gangguan pencernaan
    • Perubahan cara berbicara dan berjalan

    Sedangkan pada anak, gejala dapat berupa :

    • Demam
    • Anak tampak rewel
    • Muntah
    • Diare 
    • Kejang.

    Mengapa Japanese Encephalitis Berbahaya?

    Japanese encephalitis dapat menyebabkan kematian. Didapatkan 67.900 kasus anak setiap tahunnya, dengan angka kematian sebanyak 20-30%. Angka kematian ini terbilang cukup tinggi, terutama pada anak berusia di bawah 10 tahun.

    Pada anak yang bertahan hidup, biasanya akan mengalami gejala sisa atau komplikasi, antara lain:

    • Gangguan sistem motorik (motorik halus, kelumpuhan, gerakan-gerakan abnormal)
    • Gangguan perilaku (agresif, emosi tak terkontrol, gangguan perhatian, dan depresi)
    • Gangguan intelektual (retardasi)
    • Gangguan fungsi saraf lain (gangguan daya ingat, epilepsi, dan kebutaan).

    Baca Juga: Waspada Japanese Encephalitis Saat Berlibur ke Persawahan

    Pentingnya Imunisasi Japanese Encephalitis

    Hingga saat ini, masih belum ditemukan obat untuk mengatasi Japanese encephalitis. Namun, dengan vaksinasi, penyakit ini dapat dicegah. Vaksin ini pun sudah luas tersedia di berbagai negara guna mencegah dan menurunkan beban akibat dari penyakit ini.

    Pada tahun 2017, Indonesia melaksanakan pengenalan imunisasi Japanese encephalitis dengan sasaran anak berusia 9 bulan sampai 15 tahun dan dilakukan di seluruh provinsi Bali pada tahun 2017. Setelah pelaksanaan program imunisasi Japanese encephalitis di Bali, imunisasi ini dimasukkan ke dalam imunisasi rekomendasi bagi anak usia 9 bulan.

    Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) merekomendasikan pemberian dosis tunggal vaksin Japanese encephalitis di area endemis seperti Indonesia. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.

    Rekomendasi Vaksin Japanese Encephalitis

    Vaksinasi ini direkomendasikan bagi:

    • Orang yang berencana tinggal dan menetap di negara tinggi kasus Japanese encephalitis
    • Orang yang berencana mengunjungi negara dimana Japanese encephalitis terjadi untuk waktu yang lama (misalnya satu bulan atau lebih)
    • Orang yang sering bepergian ke daerah yang banyak terjadi kasus Japanese encephalitis
    • Mengunjungi daerah pedesaan dan memiliki risiko tinggi gigitan nyamuk.

    Baca Juga: Persiapan Mengajak Si Kecil Berlibur ke Luar Negeri di Masa Transisi Covid-19

    Sahabat Sehat, vaksinasi Japanese encephalitis adalah salah satu vaksinasi yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingat Indonesia adalah salah satu negara endemis Japanese encephalitis. Selain itu, bila Anda berencana untuk melakukan perjalanan ke luar negeri bersama Si Kecil, baik untuk berlibur atau kunjungan lainnya, disarankan agar Anda dan Si Kecil mendapatkan vaksin Japanese encephalitis sebelum keberangkatan sebagai bentuk perlindungan tubuh.

    Vaksin untuk Japanese encephalitis sangat direkomendasikan karena dapat mencegah terjadinya penyakit tersebut. Sahabat Sehat yang membutuhkan vaksinasi Japanese Encephalitis, silahkan pesan melalui: Layanan Vaksin JE dari Prosehat.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, pemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Kurniawan, R., 2018. Vaksin Japanese Encephalitis: Manfaat dan Komplikasi. Cermin Dunia Kedokteran, [online] CDK-271/ vol. 45 no. 12 th. 2018, p.896.
    2. VAXCORP INDONESIA. 2020. Daftar Negara Endemis Japanese Encephalitis – VAXCORP INDONESIA.
    3. Prasetyo, Sp.A(K), P., 2018. IDAI | Japanese Encephalitis.
    4. Kemkes.go.id. 2017. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
    5. Yoanita SpA, d., 2020. Seputar Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) pada Anak – Primaya Hospital. [online] Primaya Hospital.
    6. HealthyChildren.org. 2021. Japanese Encephalitis Vaccine: What You Need to Know (VIS).

     

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Presiden RI Joko Widodo memberi kelonggaran pada anak-anak usia di bawah 18 tahun selama periode mudik Lebaran 2022, Anak tak perlu antigen untuk mudik. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi dalam konferensi pers virtualnya dari Istana Negara, Senin (18/4) lalu.  Pemerintah membebaskan anak usia di bawah 18 tahun untuk ikut mudik tanpa […]

    Aturan Mudik Diperbarui, Anak Tak Perlu Antigen untuk Mudik

    Presiden RI Joko Widodo memberi kelonggaran pada anak-anak usia di bawah 18 tahun selama periode mudik Lebaran 2022, Anak tak perlu antigen untuk mudik. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi dalam konferensi pers virtualnya dari Istana Negara, Senin (18/4) lalu. 

    Anak Usia di Bawah 18 Tahun Tak Perlu Antigen untuk Mudik

    Anak Usia di Bawah 18 Tahun Tak Perlu Antigen untuk Mudik

    Pemerintah membebaskan anak usia di bawah 18 tahun untuk ikut mudik tanpa harus melakukan tes Covid-19, baik secara PCR maupun antigen asalkan telah menerima vaksinasi Covid-19 sebanyak dua kali. Sebab hingga kini vaksinasi booster hanya diperuntukkan bagi masyarakat usia 18 tahun ke atas.

    Syarat Dua Dosis Vaksinasi Covid-19 Bagi Anak Usia di Bawah 18 Tahun

    Sebelumnya, pemerintah telah mengatur perjalanan domestik pada semua moda transportasi di masa Ramadhan dan Idul Fitri. Pada peraturan tersebut, pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) tidak wajib melakukan pemeriksaan Covid-19 jika sudah booster. 

    Kini Bunda bisa melakukan imunisasi Si Kecil di rumah: Panggil ProSehat, Imunisasi Anak ke Rumah

    Sementara bagi individu yang belum vaksin booster, tetap wajib menunjukan bukti hasil tes negatif Covid-19. Orang yang telah mendapatkan dua kali suntikan tetap harus menunjukkan hasil tes antigen negatif yang diambil 1 x 24 jam atau PCR yang diambil 3 x 24 jam sebelum keberangkatan. Sedangkan, bagi yang baru divaksinasi satu kali harus menunjukkan hasil tes PCR negatif 3 x 24 jam sebelum keberangkatan.

    Individu yang tidak dapat divaksinasi karena kondisi kesehatan tertentu atau penyakit penyerta, Pemerintah mewajibkan untuk menunjukkan bukti hasil tes PCR negatif yang diambil 3 x 24 jam sebelum keberangkatan serta surat keterangan resmi dari rumah sakit. Syarat ini untuk memastikan bahwa yang mudik dalam keadaan sehat walau belum divaksinasi booster.

    Namun sekarang, peraturan tersebut telah direvisi sehingga anak-anak berusia di bawah 18 tahun yang ingin mudik cukup melengkapi vaksinasi Covid-19 sebanyak dua dosis. Jadi Anak tak perlu antigen atau PCR. Hal ini menjadi hadiah dari Presiden Jokowi kepada anak-anak yang hendak melakukan perjalanan mudik bersama keluarga.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Flu untuk Penderita Penyakit Kronis

    Tips Aman Mudik Bagi Anak Usia di Bawah 6 Tahun Meski Belum Vaksin COVID

    Program vaksinasi Covid-19 di Tanah Air baru tersedia untuk kelompok usia 6 tahun ke atas. Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) juga belum memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 pada anak usia 6 tahun ke bawah.

    Oleh sebab itu, Anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA(K) mengimbau setiap orang untuk memastikan seluruh anggota keluarganya dalam kondisi aman sebelum berangkat mudik.

    Tak hanya itu, seluruh penumpang baik di kendaraan pribadi maupun yang menggunakan transportasi umum, sebaiknya lakukan tes Covid-19 PCR untuk benar-benar memastikan risiko penularan masing-masing. Misalnya seperti berikut ini:

    • Bagi pelaku perjalanan menggunakan kendaraan pribadi mungkin lebih aman, tapi sebaiknya semua penumpang dalam kendaraan tetap melakukan tes PCR, agar yakin bahwa tidak ada yang sakit.
    • Bagi pelaku perjalanan menggunakan kendaraan umum, seperti bus atau kereta api, Prof. Soedjatmiko menekankan agar masyarakat tidak lalai dalam penggunaan masker dan menjauhi kerumunan. Hal ini karena masker adalah benteng pertama untuk melindungi seseorang dari Covid-19.

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap untuk Bayi

    Sahabat Sehat, selain menerapkan protokol kesehatan, melengkapi imunisasi dasar dapat melindungi anak usia di bawah 6 tahun selama perjalanan mudik baik dengan kendaraan pribadi maupun umum. Segera lengkapi imunisasi Si Kecil dari sekarang agar ia terlindungi saat Lebaran.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 0811-1816-800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Sehat Negeriku. 2022. Anak-anak Usia di Bawah 18 Tahun Bisa Mudik Tanpa PCR dan Antigen.
    2. katadata.co.id. 2022. anak-anak yang mudik tak perlu tes covid-19 wajib vaksin dua dosis.
    3. Muliandari, R., 2022. IDAI Bagikan Tips Aman Mudik Anak di Bawah 6 Tahun Meski Belum Vaksin COVID

     

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Read More
  • Bulan Ramadan menjadi momen untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Selain itu, Ramadan  waktu yang tepat untuk menurunkan berat badan. Kenyataannya, masih banyak orang yang mengeluh berat badannya terus naik saat berpuasa. Penyebab berat badan naik selama berpuasa dipengaruhi dari gaya hidup seseorang pada bulan Ramadan. Apa saja penyebabnya? Cek selengkapnya disini 1. Tidur […]

    7 Penyebab Berat Badan Terus Naik Saat Puasa Ramadan

    Bulan Ramadan menjadi momen untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Selain itu, Ramadan  waktu yang tepat untuk menurunkan berat badan. Kenyataannya, masih banyak orang yang mengeluh berat badannya terus naik saat berpuasa.

    Penyebab berat badan naik selama berpuasa dipengaruhi dari gaya hidup seseorang pada bulan Ramadan. Apa saja penyebabnya? Cek selengkapnya disini

    1. Tidur Setelah Sahur

    Tidur Setelah Sahur

    Banyak orang yang memilih melanjutkan tidurnya setelah sahur. Namun ternyata, kebiasaan tidur setelah makan akan meningkatkan risiko penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau naiknya asam lambung ke bagian atas kerongkongan yang seringkali mengiritasi kerongkongan.

    Jika sering terjadi, GERD akan menyebabkan perubahan pada struktur dinding kerongkongan hingga berujung pada penyakit Barrett’s yang merupakan lesi pra-kanker.

    Menurut dr Dian Permatasari,M.Gizi, SpGK, tidur setelah sahur tidak masalah. Namun, disarankan untuk memberi jarak saat sekitar satu jam setelah makan.

    Baca Juga: 8 Makanan yang Dianjurkan Saat Puasa

    2. Kurangnya Aktivitas Fisik

    olahraga, yoga

    Tubuh mudah lemas saat melakukan aktivitas fisik selama puasa, sehingga kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur dibandingkan berolahraga. Hal ini akan membuat berat badan Sahabat melonjak.

    Terlebih lagi jika Sahabat banyak mengonsumsi makanan berlemak, timbunan lemak makin menumpuk. Jadi, jangan malas berolahraga, ya.

    3. Banyak Mengonsumsi Makanan Manis

    Makanan dan minuman manis menjadi godaan kita saat berpuasa terlebih lagi saat berbuka. Namun, Sahabat harus ingat jangan mengonsumsi gula secara berlebihan.

    Memang saat berpuasa, tubuh akan kehilangan banyak gula dan tubuh terasa lemas. Konsumsi gula secukupnya, ya, Sahabat.

    Baca Juga: 10 Komplikasi Diabetes yang Perlu Diwaspadai

    Mengonsumsi makanan dan minuman manis justru akan disimpan sebagai lemak tubuh dan membuat diet Sahabat menjadi kacau. Minuman manis juga menjadi risiko Diabetes Melitus yang  dapat mengancam kesehatan Sahabat.

    4. Porsi Makan Berlebihan

    makanan porsi besar

    Berpuasa seharian membuat perut kita menjadi sangat lapar. Godaan untuk makan menjadi meningkat dibandingkan biasanya. Segala macam makanan yang berada di hadapan akan habis dalam seketika setelah waktu berbuka tiba.

    Hal ini seringkali menjadi penyebab berat badan Sahabat naik. Padahal, makan secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti obesitas, bau mulut, gagal organ, hingga masalah asam lambung.

    Baca Juga: Fakta dan Mitos Diabetes

    5. Mengonsumsi Banyak Karbohidrat

    Tahukah Sahabat, bahwa gorengan dapat memicu naiknya berat badan. Hal ini karena makanan favorit saat berbuka puasa mengandung banyak lemak dan karbohidrat yang cepat disimpan menjadi lemak dalam tubuh.

    Pilihlah konsumsi makanan yang mengandung tinggi protein atau karbohidrat komplek seperti kentang atau nasi merah sebagai gantinya gorengan. Hal ini dapat membantu pencernaan Anda dapat mencerna lebih lambat. Sehingga bahan makanan yang masuk tidak langsung disimpan sebagai lemak.

    6. Kurang Tidur

    Tidur dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan berat badan saat puasa. Kurangnya tidur akan mengacaukan sistem metabolisme tubuh Sahabat. Akibatnya, tubuh tidak membakar cadangan lemak secara efektif.

    Aturlah tidur Sahabat dengan memanfaatkan saat sahur, saat istirahat dan setelah tarawih. Saat sahur dan shalat subuh, maka gunakan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam sebelum persiapan berangkat ke kantor.

    Saat siang hari, Sahabat diberikan waktu kurang lebih satu jam untuk beristirahat. Maka gunakanlah waktu tersebut untuk tidur selama 5 menit. Meskipun waktu tidur terbilang singkat, dapat membuat tubuh menjadi lebih bugar.

    Setelah Sahabat menjalankan ibadah tarawih, gunakan waktu luang untuk istirahat. Sahabat bisa mendapatkan waktu tidur lebih dari 6 jam yang merupakan waktu normal manusia untuk mencukupi kebutuhan tidurnya.

    Baca Juga: Cara Atasi Dehidrasi Anak Saat Travelling

    7. Kurang Konsumsi Air Putih

    minum air putih

    Saat kita berpuasa, tubuh akan kehilangan banyak cairan. Sementara cairan di tubuh kita banyak digunakan untuk membantu pencernaan bekerja lebih. Konsumsi air dapat membantu kita diet sehat selama berpuasa.

    Selain membantu pencernaan, air putih memberikan manfaat lainnya. Air putih dapat mempercepat metabolisme tubuh, meningkatkan imunitas tubuh, mencegah migrain, membuat kulit lebih bersinar, meningkatkan energi hingga membantu menumbuhkan rambut.

    Baca Juga: Cegah Dehidrasi Saat Berpuasa di Bulan Ramadan

    Itulah penyebab-penyebab berat badan menjadi naik saat puasa. Selalu berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat yang baik untuk Sahabat dan keluarga.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, produk imunisasi, pemeriksaan kesehatan, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

     

    Referensi

    1. Bangkapos. “Jangan Langsung Tidur Setelah Sahur, Ini Bahayanya bagi Kesehatan Tubuh.”
    2. Setia, Unoviana K. “3 Kebiasaan Penyebab Berat Badan Naik Selama Ramadan”.
    3. Sartika, Resa Eka. “Tidur Setelah Sahur Boleh, Asal…”
    4. Setyani, Christina A. “Lima Bahaya yang Mengintai Saat Anda Makan Terlalu Banyak”.
    5. Tyas. “Mengantuk Saat Puasa?”
    6. CCN Indonesia. “10 Manfaat Minum Air Putih Saat Perut Kosong”.
    Read More
Chat Dokter 24 Jam