Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 51–60 of 756 results

  • Tahukah Sobat bahwa tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengembangkan penelitian terkait kandidat senyawa yang dapat mencegah virus corona, salah satunya bisa didapatkan dari jambu biji. Metode penelitian bioinformatikan ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, dengan total basis […]

    Jambu Biji Diteliti untuk Mencegah Virus Corona

    Tahukah Sobat bahwa tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengembangkan penelitian terkait kandidat senyawa yang dapat mencegah virus corona, salah satunya bisa didapatkan dari jambu biji. Metode penelitian bioinformatikan ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, dengan total basis data sebanyak 1.377 senyawa herbal. Senyawa-senyawa ini akan dipetakan sesuai struktur dan ligand kemudian hasilnya dikonfirmasi dengan penelitian molekuler untuk mengevaluasi aktivitas antivirusnya.

    Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, diperoleh beberapa golongan senyawa yang berpotensi untuk menghambat dan mencegah ikatan protein virus SARS-CoV-2 ke reseptor tubuh manusia. Golongan senyawa yang didapatkan dan diprediksi dapat menjadi antivirus adalah hesperidia, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin. Senyawa ini dapat ditemukan dalam jambu biji, daun kelor, madu, dan kulit jeruk. Pada buah jambu, senyawa yang disebutkan tersebut dapat ditemukan pada bagian daun dan kulit batangnya. Penelitian ini memang sedang dipersiapkan untuk publikasi internasional. Namun, prosesnya masih panjang karena membutuhkan percobaan lanjutan dan akses untuk melakukan uji preklinik, uji klinik, uji pada binatang, kemudian pada manusia.

    Psidium guajava atau yang dikenal sebagai jambu biji adalah buah yang mudah ditemukan sehari-hari terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Jambu adalah buah yang bisa dikonsumsi dengan mudah, baik dimakan langsung atau dibuat jus. Kulit buah jambu mengandung banyak vitamin A, C, besi, fosfor, kalsium, dan mineral lainnya, buah ini juga mengandung banyak konten metabolit organik maupun inorganik yang bersifat sebagai antioksidan, antibakterial, antijamur, antivirus, dan anti peradangan. Jambu dapat mengendalikan infeksi virus, salah satunya adalah virus influenza, hal ini terjadi karena ekstrak buah jambu dapat menahan replikasi virus dengan mendegradasi protein. Buah ini memang banyak khasiatnya sehingga sering digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk diare, disentri, hipertensi, diabetes, pereda nyeri, batuk, dan pilek.

    Kandungan vitamin C dalam buah jambu ternyata hampir empat kali lebih banyak dibandingkan buah jeruk. Dalam setiap 100 gram buah jambu mengandung 228 mg vitamin C, sedangkan dalam 100 gram buah jeruk hanya mengandung 53 mg vitamin C. Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang sudah terbukti bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian orang dewasa adalah 100-200 mg/hari.

    Sejauh ini tidak ditemukan efek samping yang berbahaya dari mengonsumsi buah jambu atau suplemen daun buah jambu yang beredar di pasaran. Namun, disarankan bagi ibu hamil atau ibu yang sedang menyusui, serta orang-orang yang mengonsumsi obat-obatan rutin untuk tetap konsultasi ke dokter sebelum menggunakan suplemen untuk memastikan tidak ada interaksi antar obat ataupun efek samping lain yang tidak diinginkan.

    Buah jambu sudah lama digunakan sebagai pengobatan tradisional berbagai macam penyakit di berbagai negara. Terdapat beragam penelitian terdahulu yang membuktikan efektivitas buah jambu untuk meningkatkan kesehatan. Saat ini sedang dikembangkan penelitian di dalam negeri untuk menilai kandungan buah jambu biji sebagai antivirus corona. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan temuan-temuan ini. Pastikan untuk tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan virus ini, seperti rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta segera memeriksakan diri ke dokter bila terdapat gejala.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA 

    1. Ayu W. Tim FK UI dan IPB Temukan Kandidat Pencegah Virus Corona [Internet]. Universitas Indonesia. 2020. Available from: ui.ac.id/tim-fk-ui-dan-ipb-temukan-kandidat-pencegah-virus-corona/
    2. Riset UI-IPB: Jambu Biji Diprediksi Bisa Mencegah Corona [Internet]. Available from: cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200324091059-255-486316/riset-ui-ipb-jambu-biji-diprediksi-bisa-mencegah-corona
    3. Naseer S, Hussain S, Naeem N, Pervaiz M, Rahman M. The phytochemistry and medicinal value of Psidium guajava (guava). Clinical Phytoscience. 2018 Dec 12;4(1):32.
    4. Health benefits of guava: How to use it, nutrition, and risks [Internet].. Available from: medicalnewstoday.com/articles/324758
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    Read More
  • Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri […]

    Benarkah Vitamin C dan E Tingkatkan Antibodi untuk Mencegah Corona?

    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan. Namun, pada penderita yang memiliki gangguan sistem imun dan penyakit lain yang mendasari, infeksi virus ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan yang lebih berat.

    Belakangan ini informasi seputar konsumsi vitamin C dan E untuk meningkatkan antibodi sudah sering Sobat dengar bukan? Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh yang dapat membantu melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, dikenal juga sebagai antigen, seperti virus ataupun bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Bila ada antigen yang masuk ke dalam tubuh, sel imun akan mengenali dan melakukan serangkaian proses biokimia untuk memproduksi antibodi. Antibodi yang diproduksi ini akan spesifik untuk melawan antigen jenis tersebut, sehingga antigen dapat dihancurkan dan dikeluarkan dari tubuh. Saat pertama kali seseorang terpapar dengan antigen, sistem imun tubuh membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk membentuk antibodi yang spesifik guna melawan penyakit. Setelah infeksi teratasi, maka tubuh dapat mengingat jenis antigen yang sudah pernah menyerang tubuh ini. Sehingga bila berikutnya tubuh terpapar terhadap antigen yang sama, proteksi antibodi akan menjadi lebih cepat.

    Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian adalah 100-200 mg/hari. Konsumsi vitamin C menjadi populer sejak tahun 1970, saat Linus Pauling seorang penerima Hadiah Nobel merekomendasikannya untuk mencegah batuk pilek biasa yang dikenal juga sebagai common cold. Namun, hasil dari berbagai penelitian sampai saat ini masih tidak konsisten dan sering menimbulkan kontroversi. Memang terdapat beberapa penelitian yang mengatakan dengan mengonsumsi vitamin C saat dilanda common cold dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala yang dialami, hal ini diduga karena adanya efek antihistamin pada vitamin C dosis tinggi. Konsumsi vitamin C tidak dapat mencegah common cold pada populasi umum. Namun, konsumsi vitamin C sebanyak 250 mg/hari dapat menurunkan 50% kejadian common cold pada orang yang melakukan aktivitas fisik ekstrim seperti pelari marathon atau tentara. Vitamin C cenderung aman untuk dikonsumsi asalkan sesuai dengan dosis yang dianjurkan, bila lebih dari 1000 mg, vitamin C meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan diare berat.

    Selain dapat membantu untuk menjaga kesehatan kulit dan mata, vitamin E juga merupakan senyawa yang larut dalam lemak dan bersifat sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan penyakit. Kebutuhan harian vitamin E adalah 15 mg/hari (22.4 IU). Terdapat penelitian yang mengatakan pemberian vitamin E 200 mg/hari dapat menurunkan angka kejadian dan memperpendek durasi common cold. Konsumsi vitamin E diatas 400 IU setiap harinya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung. Selain itu, penggunaan suplemen vitamin E juga tidak disarankan untuk ibu yang sedang hamil karena meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung bawaan.

    Vitamin C dan E dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sumber vitamin bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan. Vitamin C bisa didapatkan dari buah dan sayuran seperti jeruk, lemon, strawberi, kiwi, brokoli, dan tomat. Vitamin E bisa didapatkan dari kacang-kacangan, sayuran, dan minyak sayur seperti minyak jagung dan olive oil. Pada kelompok yang berisiko terhadap kekurangan vitamin, ataupun lansia, pemberian suplemen dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar dapat mengoptimalkan kerja sistem imun.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Cascella M, Rajnik M, Cuomo A, Dulebohn SC, Di Napoli R. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554776/
    2. Murin CD, Wilson IA, Ward AB. Antibody responses to viral infections: a structural perspective across three different enveloped viruses. Nat Microbiol. 2019;4(5):734–47.
    3. Wuhan novel coronavirus: epidemiology, virology and clinical features [Internet]. GOV.UK. Available from: gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-background-information/wuhan-novel-coronavirus-epidemiology-virology-and-clinical-features
    4. Writers S. How Vaccines Work [Internet]. PublicHealth.org. 2019. Available from: publichealth.org/public-awareness/understanding-vaccines/vaccines-work/
    5. Carr AC, Maggini S. Vitamin C and Immune Function. Nutrients. 2017 Nov 3;9(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5707683/
    6. Lee GY, Han SN. The Role of Vitamin E in Immunity. Nutrients [Internet]. 2018 Nov 1];10(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6266234/
    7. Lewis ED, Meydani SN, Wu D. Regulatory role of vitamin E in the immune system and inflammation. IUBMB Life. 2019;71(4):487–94.
    Read More
  • ProSehat, startup kesehatan Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bidang komunikasi, informasi, dan edukasi untuk mewujudkan penyebaran informasi dan mengedukasi masyarakat dalam menghadapi Corona Virus Disease atau COVID-19. ProSehat, tergabung sebagai salah satu anggota ATENSI (Aliansi Telemedika Indonesia) terus berperan aktif dalam melakukan penyebaran informasi dan edukasi melalui platform asisten kesehatan maya […]

    Hadapi COVID-19, ProSehat dan ATENSI Jalin Kerja Sama dengan Kemenkes RI

    ProSehat, startup kesehatan Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bidang komunikasi, informasi, dan edukasi untuk mewujudkan penyebaran informasi dan mengedukasi masyarakat dalam menghadapi Corona Virus Disease atau COVID-19. ProSehat, tergabung sebagai salah satu anggota ATENSI (Aliansi Telemedika Indonesia) terus berperan aktif dalam melakukan penyebaran informasi dan edukasi melalui platform asisten kesehatan maya (virtual health assistant) yang dikembang oleh ProSehat pada kanal Whatsapp dan kanal media lainnya yang dikelola oleh ProSehat.

    ATENSI merupakan organisasi dalam menaungi berbagai individu, institusi dan perusahaan swasta untuk mengembangkan pelayanan telemedik di Indonesia. Bersama-sama dengan ATENSI dan 11 startup lainnya, ProSehat memberikan dukungan pemerintah RI menghadapi situasi COVID-19, utamanya melalui pemanfaatan teknologi telemedisin.

    ATENSI menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Kamis (19/02/20). Kerja sama yang dijalin merupakan salah satu program kebijakan sosial sebagai bentuk kepedulian ATENSI terhadap masyarakat. Tujuan kerja sama dalam bidang komunikasi, informasi, dan edukasi tersebut untuk mewujudkan penyebaran informasi dan mengedukasi masyarakat dalam menghadapi COVID19.

    “Perjanjian kerja sama ini mengukuhkan kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha khususnya yang bergerak di bidang telemedik di Indonesia dalam menanggulangi pandemi COVID-19,” ujar ketua ATENSI Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, Ph.D.

    Ada dua belas perusahaan kesehatan digital yang sudah memberikan surat kuasa kepada ATENSI untuk turut membantu menanggulangi COVID-19. Perusahaan tersebut terdiri dari ProSehat, DokterSehat, Alodokter, Halodoc, SehatQ, Klikdokter, Good Doctor Technology Indonesia, Link MedisSehat, Klinikgo, Perawatku.id, Aveeno, dan Docquity.

    Ruang lingkup kerja sama yang diatur dalam perjanjian ini yaitu penyediaan informasi dan edukasi terkait COVID-19, pemanfaatan informasi, serta pemanfaatan infrastruktur komunikasi yang mendukung penyediaan informasi dan edukasi.

    Langkah ATENSI dalam penanggulangan wabah COVID-19 yaitu dengan memberi edukasi tentang COVID-19 yang selaras dengan strategi Pemerintah Indonesia, khususnya dalam bidang promotif dan preventif. Beberapa di antaranya seperti cara cuci tangan yang benar, etika batuk, hingga penerapan social distancing. ATENSI juga membantu pemerintah dalam memberikan informasi COVID-19 yang benar, sehingga tidak ada informasi kesehatan yang palsu/hoax untuk mengurangi kepanikan masyarakat Indonesia.

    Pemberian informasi alternatif mengenai cara menjaga kesehatan, karantina mandiri (selfquarantine), hingga nasihat kesehatan pun akan diberikan sesuai kewenangan yang dimiliki oleh tim dokter ATENSI. Cara ini diharapkan akan membantu fasilitas kesehatan untuk lebih fokus terhadap penanganan pasien positif COVID-19.

    Langkah lain yang dilakukan ATENSI bersama dengan ProSehat dan startup kesehatan lainnya untuk membantu masyarakat Indonesia menghadapi COVID-19 yaitu dengan cara menghubungkan seseorang yang merasa kurang sehat ke fasilitas kesehatan terdekat maupun rumah sakit rujukan sesuai dengan protokol resmi pemerintah. “Mudah-mudahan dengan saling bekerja sama, kita bisa mengatasi wabah COVID-19, sehingga Indonesia bisa pulih seperti sediakala,” tandas Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, Ph.D.

    ProSehat bersama-sama dengan ATENSI dan 11 startup kesehatan lainnya memberikan bantuan kepada masyarakat Indonesia dalam menghadapi COVID-19 ini dengan mengkomunikasikan, menyampaikan informasi yang benar dan mengedukasi masyarakat di tengah-tengah situasi COVID-19. Sahabat ProSehat dapat mengakses informasi dan edukasi COVID-19 ini melalui chatbot ProSehat di Whatsapp nomor 0811 15 12 800 dengan menyapa asisten kesehatan Maya. Sapa Maya dengan “Hi” dan Sahabat akan dipandu untuk melakukan skrining COVID-19 dan akses informasi lengkap terkait COVID-19.

    Sahabat ProSehat dapat mengakses informasi dan edukasi COVID-19 ini melalui Chatbot ProSehat di Whatsapp nomor 0811-1816-800 dengan menyapa asisten kesehatan Maya. Sapa Maya dengan “Hi” dan Sahabat akan dipandu untuk melakukan skrining COVID-19 dan akses informasi lengkap lain terkait COVID-19.

    Read More
  • Saat ini COVID-19 sedang menyebar di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Selain virus ini, terdapat juga virus dan bakteri lain, serta mikroorganisme lain yang menyebar lewat udara. Salah satunya adalah Bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri Tuberculosis ini memiliki daya infeksius dan tingkat fatality rate lebih tinggi dibandingkan dengan COVID-19. Pada artikel ini akan dijelaskan 10 […]

    Cara Membersihkan Tempat Kerja* dari Virus Corona, Semua Virus, Bakteri, dan Mikro Organisme Mematikan/Patogen

    Saat ini COVID-19 sedang menyebar di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Selain virus ini, terdapat juga virus dan bakteri lain, serta mikroorganisme lain yang menyebar lewat udara. Salah satunya adalah Bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri Tuberculosis ini memiliki daya infeksius dan tingkat fatality rate lebih tinggi dibandingkan dengan COVID-19.

    Pada artikel ini akan dijelaskan 10 langkah melakukan pembersihan terhadap COVID-19, bakteri, dan mikroorganisme di area kerja. 10 Langkah tersebut adalah sebagai berikut :

    1. Memberitahukan kepada semua karyawan tentang kegiatan pembersihan terhadap virus/bakteri yang akan dilaksanakan (meliputi : lokasi tempat yang akan dibersihkan, waktu pelaksanaan, siapa tenaga pelaksana yang akan membersihkan, dan bagaimana proses membersihkannya dari awal sampai akhir).
    2. Pilih tenaga kerja pembersih yang benar-benar sehat dan memakai Alat Pelindung Diri masker bedah N-95 pada saat akan melakukan pembersihan.
    3. Analisa bangunan/ruangan tempat kerja yang akan dibersihkan, apakah secara structural konstruksi aman atau tidak. Jika keadaan dinilai tidak aman, lakukan koordinasi dengan pihak yang mengetahui (misalkan Bagian kemananan, pemeliharaan, atau bagian umum).
    4. Buat aliran ventilasi udara dari outdoor (dari luar area kerja Gedung/ ruangan) ke indoor (dalam area yang akan dibersihkan). Kemudian buat aliran ventilasi udara dari indoor ke outdoor. Posisi buangan outdoor adalah ke tempat tinggi, terbuka, dan terkena matahari. Intinya dalam hal ini adalah membuat sirkulasi udara. Jika memungkinkan sirkulasi udara tersebut mengalir selama 24 jam. Hal bertujuan untuk menurunkan kadar COVID-19/virus/bakteri/mikro organisme pathogen yang ada di dalam tempat kerja tersebut.
    5. Melindungi dokumen penting dan alat-alat penting perusahaan yang ada di area kerja tersebut agar jangan sampai rusak (jika misalkan terjadi kelembaban/cipratan air hujan dari ventilasi udara outdoor).
    6. Melakukan pembersihan tempat kerja menyeluruh dengan menggunakan vaccum cleaner untuk menyedot debu, dan kemudian dilanjukan dengan menggunakan air, sabun detergent, dan lap.
    7. Melakukan proses desinfektan di area kerja tersebut.
    8. Melakukan proses pemanasan di tempat kerja tersebut secara menyeluruh dengan udara kering dan panas (misal dengan blower).
    9. Tunggu 2 jam, setelah itu cek kembali tempat kerja tersebut, apakah udaranya masih bau atau sudah segar. Apabila udaranya sudah segar, tempat kerja ini siap digunakan.
    10. Lakukan aktivitas 5 R (Rapi, Ringkas, Resik, Rawat, dan Rajin) di tempat kerja secara rutin. Selain itu buat tempat kerja mendapatkan ventilasi udara yang baik, terkena sinar matahari, dan tidak lembab.

    Selain 10 langkah diatas, juga dapat dilakukan Program Promosi Kesehatan di Tempat Kerja (seperti : menjaga kebersihan diri, mencuci tangan dengan sabun jika tangan dirasakan kotor, menjaga pola hidup sehat, istirahat yang cukup dan teratur, serta mengedukasi etika batuk pilek yang benar – yaitu dengan menutup pakai tisu dan langsung buang tisu tersebut ke tempat sampah tertutup serta memakai masker bila sedang sakit).

    Sedangkan untuk karyawan yang diperkirakan Orang Dalam Pemantauan (ODP), maka karyawan ini  harus dirumahkan terlebih dahulu untuk bekerja di rumah. Karyawan yang bersangkutan diberitahukan tentang penyakitnya dan diminta untuk mengecek/merawat dirinya ke fasilitas kesehatan serta melakukan karantina diri sendiri agar jangan sampai menulari keluarga atau orang lain. Sampai karyawan ini benar-benar sembuh baru dapat masuk kantor kembali.

    Apabila karyawan yang ODP ini tetap ngotot untuk masuk kerja, hendaknya ia bekerja di ruangan yang terisolasi. Pada saat karyawan ingin diskusi/berbicara dengan rekan kerja yang lain, ia wajib untuk memakai masker bedah N-95. Begitu juga dengan rekan bicaranya untuk memakai masker bedah N-95. Jika dimungkinkan, ruangan isolasi tersebut mempunyai ventilasi terbuka dan dapat dimasuki sinar matahari.

    Bagi karyawan yang diketahui baru saja kontak dengan penderita Covid-19, tetapi saat ini dirinya masih fit (tidak menderita gejala penyakit/Orang Sehat Dalam Pemantauan), hendaknya (jika bisa) dilakukan karantina selama 14 hari. Tetapi apabila ia tidak mau dikarantina dan memaksa untuk bekerja, hendaknya ia bekerja di ruangan terisolasi yang berbeda dengan karyawan yang masuk dalam kriteria ODP seperti yang disebutkan sebelumnya.

    Secara umum gejala Covid-19 dapat muncul sebagai gejala ringan (missal : hidung berair, bsakit tenggorokan, batuk kering) sampai dengan gejala yang berat (misal : batuk berdahak, demam, pneumonia, dan kesulitan bernafas).

    Pada beberapa orang yang memiliki daya tahan tubuh yang kuat, orang ini mungkin dapat tertular Covid-19, tapi tidak muncul gejala sama sekali. Orang ini disebut pembawa (carrier). Orang ini dapat menularkan Virus Covid-19 yang ia bawa ke orang lain.

    Penyakit Covid-19 ini sebenarnya dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Penyakit ini dapat menjadi fatal (menyebabkan kematian) pada orang-orang tertentu, seperti orang lanjut usia, orang yang mempunyai daya tahan tubuh rendah (misalnya pada orang dengan HIV, kanker, orang yang sedang mengonsumsi obat penekan sistem imun, dll), orang yang mempunyai riwayat penyakit diabetes, sakit jantung, pneumonia, dll yang saat ini sedang dalam kondisi tidak terkontrol.

    *Definisi tempat kerja dalam artikel ini adalah : tempat kerja diluar tempat kerja yang mempunyai potensi bahaya tertinggi adalah hazard biologi (misalkan : Fasilitas Kesehatan, Laboratorium, Peternakan, dll).

    Ditulis Oleh : dr.  Stevens Sp.Ok

    Read More
  • Jumlah penderita virus corona makin hari makin bertambah, di Indonesia sendiri jumlah penderita mencapai 514 orang (23/3/2020) dan memakan korban jiwa mencapai 48 jiwa1. Angka ini diprediksi akan terus meningkat jika tidak ditangani dengan segera. Deteksi secara dini dianggap sebagai metode paling ampuh dalam upaya menurunkan angka kematian corona. Deteksi dini diawali dengan mengetahui tanda […]

    Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    Jumlah penderita virus corona makin hari makin bertambah, di Indonesia sendiri jumlah penderita mencapai 514 orang (23/3/2020) dan memakan korban jiwa mencapai 48 jiwa1. Angka ini diprediksi akan terus meningkat jika tidak ditangani dengan segera. Deteksi secara dini dianggap sebagai metode paling ampuh dalam upaya menurunkan angka kematian corona.

    Deteksi dini diawali dengan mengetahui tanda dan gejala dari virus tersebut. Secara umum, virus corona memiliki gejala demam, batuk dan kesulitan bernafas yang dapat berlangsung hingga 14 hari. Jika diteliti lebih lanjut, gejala corona akan berbeda dari hari ke hari, simak penjelasan berikut:

    Hari ke-1

    Pada hari pertama, penderita corona akan muncul gejala berupa nyeri sendi, lemah badan, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang, gejala virus corona berbeda tergantung usia dan jenis kelamin individu. Pada wanita usia 40 tahun gejala umumnya demam yang tidak terlalu tinggi. Sedangkan pada wanita usia usia 70 tahun, gejala demam lebih tinggi mencapai 38 derajat. Pada laki-laki usia 40 tahun, gejala yang timbul antara lain kelelahan, berkeringat, panas dingin dan nyeri otot. Sedangkan pada laki-laki usia 70 tahun demam dan nyeri tenggorokan2. Pada kasus yang lebih jarang akan muncul gejala pencernaan seperti mual, muntah dan diare

    Hari ke 4-5

    Pada saat ini gejala demam, batuk yang bersifat kering lebih dominan. Batuk yang timbul umumnya batuk kering sebanyak 68% kasus. Pada 33% kasus batuk yang timbul batuk berdahak. Demam semakin tinggi mencapai 39 derajat. Pada pasien usia tua dapat muncul gejala sesak nafas

    Hari ke 6-7

    Gejala pneumonia akan semakin jelas. Biasanya pasien akan mulai mencari pertolongan ke rumah sakit pada masa–masa ini. Sedangkan pada pasien yang sudah mendapat pertolongan dari awal, pada hari ke-7 akan mengalami perbaikan

    Hari ke 8

    Bila gejala belum mengalami perbaikan pada hari sebelumnya, di hari ke-8 pada 15% pasien akan mengalami gangguan pernafasan. Pada pemeriksaan radiologi tampak adanya penumpukan cairan pada paru-paru. Pada tahap ini, alat bantu pernafasan sangat diperlukan

    Hari ke 10

    Pada pasien yang dapat melewati hari sebelumnya, di hari ke-10 umumnya sudah menimbulkan perbaikan gejala yang ditandai dengan berkurangnya rasa sesak dan demam yang sudah turun. Sebaliknya pada pasien yang memiliki risiko tinggi seperti lansia, pasien dengan penyakit penyerta seperti jantung, asma, diabetes, gagal ginjal serta pasien dengan obesitas5 pada hari-hari ini dapat terjadi perburukan. Hal ini disebabkan penyebaran virus secara menyeluruh dalam tubuh yang menyebabkan terjadi infeksi sekunder dan menimbulkan kondisi sepsis.

    Bila berlanjut akan menimbulkan kematian.

    Hari ke 14

    Jika pasien sudah dapat memasuki saat ini, umumnya pasien sudah dapat dinyatakan sembuh. Meskipun demikian, penderita korona ini tetap harus isolasi secara mandiri selama dua minggu lagi di rumah karena meskipun sudah tidak ada gejala namun tetap dapat menjadi sumber transmisi bagi orang lain.

    Meskipun penyakit ini pada awalnya mirip seperti flu biasa namun virus corona memiliki kekhasan tersendiri, yaitu berkaitan dengan perkembangan gejala dari waktu ke waktu. Pada flu atau pneumonia biasa, gejala akan membaik dalam minggu awal. Sebaliknya pada virus corona, gejala akan mengalami perburukan dari waktu ke waktu. Namun Sobat tidak perlu khawatir. Lakukan tindakan pencegahan dengan selalu cuci tangan, makan makanan bergizi, olahraga, istirahat yang cukup dan yang paling utama segera periksakan diri ke dokter bila menemukan gejala di atas.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Fenyta Christyani

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 22 Maret 2020 » Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI [Internet]. Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. 2020 [cited 23 March 2020]. Available from: https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/info-corona-virus/situasi-terkini-perkembangan-coronavirus-disease-covid-19-22-maret-2020/
    2. [Internet]. 2020 [cited 23 March 2020]. Available from: https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-symptoms/
    3. [Internet]. Ecdc.europa.eu. 2020 [cited 23 March 2020]. Available from: https://www.ecdc.europa.eu/sites/default/files/documents/RRA-sixth-update-Outbreak-of-novel-coronavirus-disease-2019-COVID-19.pdf
    4. [Internet]. Who.int. 2020 [cited 24 March 2020]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/clinical-management-of-novel-cov.pdf
    5. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 24 March 2020]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/people-at-higher-risk.html
    6. Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study – Chen et al, The Lancet, January 30, 2020
    7. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (COVID-19). Indonesia: Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    8. Clinical Characteristics of 138 Hospitalized Patients With 2019 Novel Coronavirus–Infected Pneumonia in Wuhan, China – JAMA, Wang et al., February 7, 2020
    Read More
  • Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di Cina untuk menganalisa sampel darah dari 2.173 penderita Coronavirus disease 2019 (COVID-19), terdapat kecenderungan peningkatan risiko terhadap golongan darah A, sedangkan risiko yang lebih rendah pada golongan darah O untuk terinfeksi virus SARS-CoV 2. Dengan mengetahui kecenderungan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat membantu para petugas medis dalam tata laksana […]

    Benarkah Golongan Darah A Lebih Rentan dengan Virus Corona?

    Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di Cina untuk menganalisa sampel darah dari 2.173 penderita Coronavirus disease 2019 (COVID-19), terdapat kecenderungan peningkatan risiko terhadap golongan darah A, sedangkan risiko yang lebih rendah pada golongan darah O untuk terinfeksi virus SARS-CoV 2. Dengan mengetahui kecenderungan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat membantu para petugas medis dalam tata laksana pasien COVID-19. Mari kita telaah lebih lanjut.

    Penelitian pendahuluan berjudul “Relationship between the ABO Blood Group and the COVID-19 Susceptibility”, oleh beberapa peneliti asal Cina yang melakukan riset untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kerentanan pada penyakit COVID-19.  Penelitian pendahuluan ini berasal dari situs medRxiv, sebuah website tempat peneliti mempublikasi temuan awal mengenai sebuah topik, sehingga penelitian tersebut belum ditelaah dan dinilai oleh peneliti lainnya, jadi belum dapat dipastikan apakah metodologi dan penemuannya dapat diterapkan.

    Penyebaran golongan darah pada populasi normal di Wuhan adalah tipe A (31%), tipe B (24%), tipe AB (9%), dan tipe O (34%). Sedangkan penyebaran golongan darah pada penderita COVID-19 yang dikumpulkan pada penelitian dari Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Cina, adalah tipe A (38%), tipe B (26%), tipe AB (10%), dan tipe O (25%). Penyebaran golongan darah ini juga serupa dari dua rumah sakit lainnya di Wuhan dan Shenzhen.

    Darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan cairan yang dikenal sebagai plasma. Pembagian golongan darah selama ini adalah berdasarkan antibodi dan antigen yang ditemukan dalam darah. Antibodi adalah glikoprotein yang ditemukan dalam plasma darah, yang merupakan bagian dari sistem imun tubuh, antibodi dapat mengenali benda asing seperti kuman penyakit dan mengaktifkan sistem imun tubuh untuk melawannya. Sedangkan antigen adalah molekul glikoprotein yang ditemukan pada permukaan sel darah merah.

    • Golongan darah A, memiliki antigen A, antibodi anti B.
    • Golongan darah B, memiliki antigen B, antibodi anti A.
    • Golongan darah AB, memiliki antigen A dan B, namun tidak memiliki antibodi anti A dan anti B.
    • Golongan darah O, tidak memiliki antigen A dan B, namun memiliki antibodi anti A dan anti B.

    Mekanisme yang mendasari mengapa golongan darah A lebih rentan belum dapat dipastikan dari penelitian tersebut. Salah satu dugaan adalah adanya anti-A antibodi yang dimiliki oleh orang dengan golongan darah selain tipe A, yang dapat menghambat adesi virus ke reseptor sel tubuh manusia.

    Limitasi dari penelitian ini adalah sampel yang terbatas oleh jumlah dan batasan geografis, selain itu pengambilan sampel yang dilakukan hanya pada penderita yang dirawat di rumah sakit. Hal ini tidak dapat mewakili keseluruhan populasi penderita COVID-19, karena penderita dengan gejala ringan juga banyak yang tidak dirawat di rumah sakit.

    Selain itu penyebaran karakteristik dasar pengambilan sampel juga tidak disajikan, seperti usia, faktor risiko, gejala klinis, dan temuan lainnya sehingga sangat banyak parameter lainnya yang dapat menjadi bias dalam penelitian ini.

    Kesimpulannya, hasil penelitian tersebut belum dapat diaplikasikan pada praktik klinis saat ini. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang mendukung temuan yang didapatkan ini. Sehingga bagi mereka yang memiliki golongan darah A tidak perlu panik dan mereka yang memiliki golongan darah O juga masih rentan terhadap COVID-19, sehingga pastikan untuk tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan virus, seperti rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta memeriksakan diri bila terdapat gejala.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Blood Type May Affect COVID-19 Risk: Study [Internet]. WebMD. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.webmd.com/lung/news/20200320/blood-type-may-affect-covid19-risk-study
    2. Jiao Z, Yan Y, Han-Ping H. Relationship between the ABO Blood Group and the COVID-19 Susceptibility. The Southern University of Science and Technology Shenzhen. 2020;
    3. The Week That Wasn’t in COVID-19: Centenarian Survives, High-Risk Blood Types [Internet]. Medscape. [cited 2020 Mar 23]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/927299
    4. ABO Grouping: Overview, Clinical Indications/Applications, Test Performance. 2019 Nov 26 [cited 2020 Mar 23]; Available from: https://emedicine.medscape.com/article/1731198-overview#a2
    5. Blood groups [Internet]. nhs.uk. 2017 [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/blood-groups/
    6. Is blood type linked to coronavirus infection risk? [Internet]. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/is-blood-type-linked-to-covid-19-risk
    7. Are People With Type-A Blood More Susceptible to COVID-19? [Internet]. Snopes.com. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.snopes.com/fact-check/blood-type-covid-19/
    8. Advice for public [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    9. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 19]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    Read More
  • Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona. Penyebaran infeksi virus corona di […]

    Kenali Apa dan Bagaimana Rapid Test Corona

    Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona.

    Penyebaran infeksi virus corona di dunia sangatlah cepat dan sudah menjadi masalah dunia atau pandemi. Menurut data yang diambil dari WHO (World Health Organization), per tanggal 23 Maret 2020 telah tercatat kasus positif corona sebanyak 294.110 kasus, dengan kasus kematian yang disebabkan karena infeksi virus corona sebanyak 12.944 kasus yang tersebar di 186 negara di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah terdeteksi sebanyak 579 kasus positif COVID-19, dengan kasus yang meninggal sebanyak 49 kasus dan kasus sembuh sebanyak 30 kasus.

    Tingginya kasus COVID-19 terurtama di Indonesia, membuat pemerintah menggalakkan salah satu upaya pendeteksi dini yang disebut rapid test corona. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan rapid test dan apakah efektif untuk mendeteksi corona ?

    Rapid test merupakan salah satu cara atau pemeriksaan yang dapat dilakukan secara cepat untuk melihat suatu adanya infeksi di dalam tubuh manusia. Pada kasus ini, rapid test corona berarti alat yang digunakan sebagai pendeteksi diri secara cepat adanya infeksi corona di dalam tubuh seseorang. Pada kasus corona, cara kerja rapid test menggunakan metode pemeriksaan kadar antibodi (sistem imun tubuh) terhadap infeksi penyakit, dalam hal ini adalah IgM dan IgG yang diambil dari sampel darah.

    IgM atau immunoglobulin M dan IgG adalah immunoglobulin G, yang keduanya merupakan bentuk antibodi atau sistem imun yang ada di dalam tubuh, yang terbentuk apabila tubuh terjadi infeksi. Selain itu, IgG bertugas sebagai sel memori yang dapat mengingat infeksi bakteri yang pernah masuk sebelumnya. Sedangkan antibodi IgM merupakan pertanda bahwa kita sedang terinfeksi virus tertentu. Intinya, saat kita terinfeksi, IgM yang paling awal naik kemudian lambat laun akan menurun dan digantikan dengan IgG. Karena rapid test merupakan test secara kasar saja, apabila hasilnya positif, maka diperlukan pemeriksaan lebih spesifik yang dilakukan di laboratorium yang ditunjuk, yaitu pemeriksaan swap tenggorokan dan swap hidung. Namun, apabila hasilnya negatif, jangan berbesar hati terlebih dahulu, dalam test ini bisa saja terjadi false negative (artinya, seseorang sedang terinfeksi namun belum terdeteksi di dalam darah), sehingga tidak menutup kemungkinan masih dapat menularkan virus ke orang lain.

    Lalu, siapa saja yag memerlukan rapid test? Bapak Presiden RI, Joko Widodo menyarankan untuk melakukan rapid test masal bagi seluruh warga Indonesia. Namun, karena alat rapid test masih terbatas, maka yang didahulukan adalah para tenaga medis, pasien dengan gejala khas (demam, batuk, pilek dan sesak napas), adanya paparan atau kontak dengan para penderita yang telah di diagnosis COVID-19 atau mempunyai riwayat perjalanan ke luar negeri atau kontak dengan seseorang yang baru pulang dari luar negeri.

    Saat rapid test, pasien ditusuk dengan jarum pada salah satu jari tangannya kemudian diteteskan ke papan rapid test, lalu ditambahkan tetesan reagen kemudian ditunggu selama beberapa menit, lalu akan timbul garis. Pemeriksaannya terbilang sangat cepat dan mudah sehingga dapat dijadikan sebagai tes penyaring untuk mendeteksi infeksi virus corona namun bukan pemeriksaan acuan atau pegangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Menurut beberapa peneliti, rapid test menjadi kurang efektif bagi pasien dengan penyakit immunocompromized (gangguan penurunan sistem imun akibat penyakit kronis) seperti HIV karena kekebalan tubuhnya sedang mengalami gangguan.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: Jesica Chintia Dewi

    DAFTAR PUSTAKA

    1. arcgis.com. 2020. Experience. [online] Available at: <https://experience.arcgis.com/experience/685d0ace521648f8a5beeeee1b9125cd> [Accessed 23 March 2020].
    2. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). [online] Available at: <https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/testing-laboratories.html> [Accessed 23 March 2020].
    3. Confirm BioSciences. 2020. Coronavirus (COVID-19) Instant Test Kit | Confirm Biosciences. [online] Available at: <https://www.confirmbiosciences.com/covid19-instant-coronavirus-test-kit/> [Accessed 23 March 2020].
    4. European Centre for Disease Prevention and Control. 2020. Rapid Risk Assessment: Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic: Increased Transmission In The EU/EEA And The UK – Sixth Update. [online] Available at: <https://www.ecdc.europa.eu/en/publications-data/rapid-risk-assessment-novel-coronavirus-disease-2019-covid-19-pandemic-increased> [Accessed 23 March 2020].
    5. Rodriguez, A., O’Donnell, J. and Alltucker, K., 2020. How Can I Get Tested For Coronavirus? What You Should Know About Test Kits. [online] Usatoday.com. Available at: <https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/03/06/coronavirus-test-kit-how-can-get-tested-us-covid-19-virus/4973697002/> [Accessed 23 March 2020].
    Read More
  • Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah […]

    Kenali Avigan dan Klorokuin, Obat yang Disiapkan Jokowi untuk COVID-19

    Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah Avigan dan Kloroquin? Bagaimana cara kedua obat tersebut dapat melawan virus corona?

    Favipiravir (Avigan)

    Avigan merupakan nama dagang dari Favipiravir (T-705), yaitu suatu agen anti-viral yang ditemukan di Laboratorium Penelitian Toyama Chemical Co., Ltd. Pada saat itu, Favipiravir digunakan sebagai obat anti-viral terhadap virus Influenza yang merupakan virus RNA. Selain itu, Favipiravir juga menunjukkan aktivitas anti-viralnya terhadap virus RNA lainnya seperti flavivirus, alphavirus, filovirus, bunyavirus, arenavirus, dan norovirus.4,5

    Favipiravir bekerja dengan menghambat replikasi virus. Mekanisme ini termasuk unik untuk suatu obat anti-viral karena pada umumnya hanya menghambat proses masuk (entry) atau penyebaran (release) virus dari sel. Proses ini awalnya dimulai dengan Favipiravir masuk ke dalam sel yang terinfeksi virus. Enzim dalam sel tersebut akan mengaktivasi Favipiravir menjadi bentuk aktifnya yaitu Favipiravir-RTP yang dianggap sebagai substrat oleh virus sehingga masuk ke rantai RNA virus lalu menghambat pemanjangan rantai RNA virus yang mengakitbatkan terhentinya proses replikasi dari virus pada sel tersebut.4 Dengan dasar tersebut dan fakta bahwa COVID-19 merupakan virus RNA, maka Favipiravir  diduga memiliki potensial sebagai anti-viral untuk COVID-19. Namun terdapat juga efek samping dari obat ini berupa teratogenik dan embriotoksik yang berarti dapat mengganggu perkembangan dan bersifat racun untuk janin pada ibu hamil.4 Saat ini telah didapatkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral terhadap COVID-19. Sebuah penelitian terhadap 80 pasien juga menunjukkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral yang lebih poten dibandingkan dengan Iopinavir/Ritopinavir terhadap COVID-19. Meski demikian, penemuan tersebut masih dalam tahap penelitian lebih lanjut.5,6

    Kloroquin

    Obat ini mungkin pernah terdengar familiar bagi Sobat? Ini karena Kloroquin telah digunakan sebagai obat anti malaria lebih dari 70 tahun. Selain itu kloroquin juga digunakan sebagai obat autoimun, dan juga dapat digunakan sebagai anti-viral spektrum luas sejak 2006.5,6 Kloroquin termasuk dalam pedoman pengobatan COVID-19 di Cina dan juga CDC.5,7

    Peran Kloroquin dalam tubuh adalah mem-block infeksi dari COVID-19 pada konsentrasi mikromolar-rendah. Kloroquin bekerja dengan cara mengganggu proses fusi virus/sel (dengan meningkatkan pH endosom) dan mengganggu (proses glikosilasi) reseptor selular virus corona. Ditemukan bahwa Kloroquin bekerja pada stadium entry dan post entry dari COVID-19. Selain itu, Kloroquin juga memiliki efek meningkatkan imun yang dapat membantu dalam melawan infeksi virus. Obat ini tersebar dengan mudah ke seluruh jaringan tubuh, termasuk paru.6,8 Pemberian Kloroquin harus dengan dosis dan anjuran yang tepat karena terdapat beberapa efek samping seperti mual, muntah, diare, nyeri perut hingga keracunan Kloroquin yang menyebabkan kerusakan pigmen epitel retina, gangguan jantung, dan kerusakan saraf.9,10,11

    Dari hasil penelitian terkini, telah didapatkan bahwa Favipiravir dan Kloroquin dapat melawan infeksi COVID-19. Favipiravir dan Kloroquin memiliki mekanisme anti-viral yang berbeda. Favipiravir menghambat replikasi virus dalam sel, sedangkan Kloroquin menghambat masuknya virus ke dalam sel. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk kedua obat tersebut. Pastikan untuk tidak membeli dan menggunakan kedua obat tersebut tanpa anjuran atau instruksi dari dokter. Jika Sobat mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, sesak napas, dan berkunjung atau terpapar seseorang yang berkunjung pada negara risiko tinggi, segeralah periksakan diri Sobat ke dokter atau hubungi call center krisis virus corona 119 ext 9.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: Jonathan Christopher

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
    2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html
    3. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    4. FURUTA Y, KOMENO T, NAKAMURA T. Favipiravir (T-705), a broad spectrum inhibitor of viral RNA polymerase. Proceedings of the Japan Academy, Series B. 2017;93(7):449-463.
    5. Dong L, Hu S, Gao J. Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19). Drug Discoveries & Therapeutics. 2020;14(1):58-60.
    6. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M et al. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020;30(3):269-271.
    7. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html
    8. Cortegiani A, Ingoglia G, Ippolito M, Giarratano A, Einav S. A systematic review on the efficacy and safety of chloroquine for the treatment of COVID-19. Journal of Critical Care. 2020;.
    9. Chloroquine and Hydroxychloroquine : Side Effects of Medications : The Eyes Have It [Internet]. Kellogg.umich.edu. 2020.Available from: http://kellogg.umich.edu/theeyeshaveit/medica/chloroquine-hydorxychloroquine.html
    10. DeMott M, Young M, Williams S, Clark R. Overdose of Cardiotoxic Drugs. Cardiac Intensive Care. 2010;:427-442.
    11. Cavaletti G. Toxic and Drug-Induced Neuropathies. Neurobiology of Disease. 2007;:871-883.
    Read More
  • Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya. Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan […]

    6 Tips Menjaga Kesehatan bagi Sobat yang Tidak Bisa Kerja dari Rumah (WFH)

    Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya.

    Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Sehingga Sobat yang tidak dapat melakukan pekerjaannya dari rumah harus lebih menjaga kesehatan. Saat ini vaksin untuk COVID-19 masih belum ada, sehingga hal terbaik untuk mencegah penularan adalah mengurangi paparan pada virus. COVID-19 menular melalui kontak erat dan percikan saat batuk maupun bersin.1

    Berikut tips yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan dan terhindar dari COVID-19:

    1. Rutin mencuci tangan, biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang bersih selama minimal 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudahtercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol minimal 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, dan bila tangan terlihat kotor. Hindari menyentuh wajah baik sebelum maupun sesudah cuci tangan.
    1. Mengetahui etika batuk dan bersin, gunakan tisu atau bagian lipat dalam siku untuk menutup hidung dan mulut saat batuk maupun bersin, jangan gunakan tangan. Tisu yang digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya.
    2. Menjaga jarak dengan orang lain, jagalah jarak minimal 1 meter dari orang lain. Hindari kontak fisik dengan orang lain, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala, atau membungkuk.
    3. Membersihkan barang-barang yang sering disentuh, membersihkan barang-barang yang digunakan setiap hari dengan disinfektan seperti meja, gagang pintu, handphone, dan keran air.
    4. Menerapkan pola hidup sehat:
    • Pola makan yang baik dan benar, biasakan untuk mengonsumsi makanan bergizi, pastikan untuk memenuhi kebutuhan makronutrien Sobat, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien seperti vitamin dan mineral juga yang banyak didapatkan dari buah dan sayuran. Selain makan, jaga pula hidrasi tubuh, konsumsi air putih sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari.
    • Cukup istirahat, tidur yang cukup karena regenerasi sel tubuh terjadi saat sedang beristirahat. Pastikan untuk tidur selama minimal 8 jam sehari agar sistem imun tetap prima.
    • Hindari stres, adanya pandemik dapat menyebabkan stres bagi beberapa orang baik orang dewasa maupun anak-anak. Cobalah untuk mengambil waktu sejenak dan ambil nafas yang dalam atau melakukan meditasi. Lakukan aktivitas yang membuat Anda santai dan lebih rileks. Berbicaralah dengan orang-orang sekitar. Hindari membaca atau mendengar berita mengenai pandemik secara terus-menerus.
    • Rutin berolahraga, olah raga yang rutin dapat meningkatkan kebugaran sistem jantung dan paru-paru Sobat. Lakukanlah olah raga minimal 150 menit selama satu minggu. Aktif bergerak dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti membatasi duduk yang terlalu lama, memilih untuk naik tangga dibandingkan dengan eskalator, jalan kaki bila tujuan dekat, dan lain-lain.
    • Hindari rokok dan alkohol, rokok dapat menurunkan sistem imun tubuh karena zat kimia yang terkandung didalamnya mengandung banyak radikal bebas yang dapat menurunkan kerja sistem imun tubuh.
    1. Segera memeriksakan diri bila terdapat gejala, segera melakukan pemeriksaan bila Sobat mengalami demam, batuk, pilek, serta kesulitan bernapas. Gunakan masker hanya bila Sobat sakit, masker yang dapat digunakan adalah masker bedah atau masker N95 yang memiliki saringan untuk mencegah penularan virus.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    2. Advice for public [Internet].Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    4. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    5. A healthy lifestyle [Internet]. 2020. Available from: http://www.euro.who.int/en/health-topics/disease-prevention/nutrition/a-healthy-lifestyle
    6. Chaput J-P, Dutil C, Sampasa-Kanyinga H. Sleeping hours: what is the ideal number and how does age impact this? Nat Sci Sleep. 2018 Nov 27;10:421–30.
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    8. Sato J, Takahashi I, Umeda T, Matsuzaka M, Danjyo K, Tsuya R, et al. Effect of alcohol drinking and cigarette smoking on neutrophil functions in adults. Luminescence. 2011;26(6):557–64.
    9. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    Read More
  • Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan membeli antiseptik, hand sanitizer, sabun cuci tangan serta alkohol yang diyakini dapat membunuh virus penybab infeksi Corona. Lalu, apakah pembersih tubuh yang benar-benar efektif dapat membunuh virus Corona? Perlu Sobat ketahui, cairan pembersih seperti antiseptik, alkohol, hand sanitizer bahkan sabun mandi biasa secara teori dapat merusak struktur […]

    Ingat! Batasi Gunakan Hand Sanitizer Sampai 5 Kali

    Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan membeli antiseptik, hand sanitizer, sabun cuci tangan serta alkohol yang diyakini dapat membunuh virus penybab infeksi Corona. Lalu, apakah pembersih tubuh yang benar-benar efektif dapat membunuh virus Corona?

    Perlu Sobat ketahui, cairan pembersih seperti antiseptik, alkohol, hand sanitizer bahkan sabun mandi biasa secara teori dapat merusak struktur virus. Lantas, manakah yang lebih baik? Jawabannya semua baik, tergantung ketersediaan dan cara menggunakannya.

    Apabila memungkinkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, hal ini lebih direkomendasikan. Namun, apabila tidak dekat dengan sumber air, penggunaan alkohol ataupun hand sanitizer boleh digunakan.

    Sabun Biasa VS Sabun Antiseptik

    Penggunaan sabun antiseptik nyatanya sangat efektif untuk membasmi kuman seperti bakteri, virus dan juga jamur. Sabun antiseptik umumnya mengandung bahan aktif triclosan 0,1-0,45% atau triclocarbon yang lebih ampuh untuk membasmi kuman dibandingkan dengan sabun biasa. Namun, karena mengandung bahan kimia aktif maka tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan iritasi seperti kulit kering dan gatal apabila sering dipakai. Pada orang yang mempunyai kulit yang sensitif, maka akan menimbulkan dermatitis kontak iritan atau dermatitis kontak alergi. Namun, sejumlah penelitian menyatakan bahwa sabun biasa ternyata juga efektif untuk membunuh kuman, karena struktur virus yang terdiri dari lipid (lemak) dan protein dapat dirusak juga dengan sabun mandi biasa, minimal cuci tangan 20 detik dan dengan gerakan cuci tangan yang benar.

    Hand sanitizer Batasi Sampai 5 Kali

    Hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60% dapat membunuh kuman, keuntungan hand sanitizer dibanding alkohol biasa karena hand sanitizer biasanya telah dilengkapi dengan kandungan pelembap sehingga tidak menyebabkan kulit kering.

    Namun ternyata, KEMENKES RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) menyatakan bahwa penggunaan hand sanitizer lebih dari 5 kali berturut-turut dapat menyebabkan kuman menjadi resisten, sehingga setelah 5 kali penggunaan, tangan perlu tetap dicuci dengan sabun kemudian dibilas dengan air mengalir.

    Ditambah lagi, penggunaan alkohol diatas 60% memang terbukti efektif dalam membunuh kuman. Namun, penggunaannya diperlukan perhatian khusus, karena dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi, penyimpanan di rumah juga perlu perhatian khusus, jauhkan dari jangkauan anak-anak (hindari terhirup atau terminum oleh anak-anak) dan hati-hati karena alkohol mudah terbakar.

    Selain penggunaan antiseptik untuk mencuci tangan, berikut hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah infeksi virus Corona :

    1. Membersihkan lingkungan rumah (buka jendela rumah setiap pagi agar cahaya matahari masuk serta memperbaiki pertukaran udara).
    2. Bersihkan benda-benda yang sering digunakan (seperti gagang pintu, telpon selular, laptop) dengan menggunakan cairan antiseptik.
    3. Mandi setelah bepergian dari luar rumah.
    4. Apabila sedang sakit batuk dan pilek, gunakan masker penutup hidung dan mulut.
    5. Jangan sentuh bagian depan masker.
    6. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau dengan antiseptik lainnya setelah memegang benda.
    7. Hindari memegang wajah (mata, hidung dan mulut).
    8. Social distancing (hindari keluar rumah untuk hal yang tidak penting, hindari kerumunan).
    9. Jangan menggunakan pakaian yang telah dipakai berulang kali.
    10. Jaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang sehat (sayur, buah-buahan, suplemen multivitamin) serta istirahat yang cukup.
    11. Apabila terdapat gejala demam, batuk, sesak napas, serta riwayat berpergian keluar negeri (selama 14 hari terakhir) atau kontak dengan orang yang baru pulang dari luar negeri atau orang yang positif COVID-19 segera hubungi Dokter.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: Jesica Chintia Dewi

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Lodish H. Molecular cell biology. 4th ed. New York: W.H. Freeman; 2000.
    2. Yasemin Saplakoglu L. Researchers Map Structure of Coronavirus &ldquo;Spike&rdquo; Protein [Internet]. Scientific American. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: scientificamerican.com/article/researchers-map-structure-of-coronavirus-spike-protein/
    3. Cuci Tangan dengan Sabun dan Air Mengalir versus Hand sanitizer [Internet]. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: promkes.kemkes.go.id/?p=2589
    4. Mohammed M. Why Alcohol-Based Hand sanitizers Are the Best to Use During the Coronavirus Pandemic [Internet]. The National Interest. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: nationalinterest.org/blog/buzz/why-alcohol-based-hand-sanitizers-are-best-use-during-coronavirus-pandemic-132977
    5. Advice for public [Internet]. Who.int. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Prevention & Treatment [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/prevention.html

     

    Read More
Chat Asisten ProSehat aja