Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Archive for Category: Imunisasi

Showing 1–10 of 37 results

  • Pneumonia merupakan infeksi atau peradangan pada jaringan paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasite, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Sekitar 450 juta kasus pneumonia menyerang manusia setiap tahunnya dan merupakan penyebab kematian dan kesakitan terbayak di dunia. Angka kematian sekitar 1.4 juta pertahunnya secara global (7% penyebab kematian didunia). Angka kematian […]

    Wuhan Pneumonia, Wabah baru yang menyerang China

    Pneumonia merupakan infeksi atau peradangan pada jaringan paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasite, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Sekitar 450 juta kasus pneumonia menyerang manusia setiap tahunnya dan merupakan penyebab kematian dan kesakitan terbayak di dunia. Angka kematian sekitar 1.4 juta pertahunnya secara global (7% penyebab kematian didunia). Angka kematian terbanyak pada usia anak-anak dan orang tua (> 75 tahun).

    Pneumonia menular melalui udara melalui cairan dahak/batuk orang yang sakit. Beberapa orang lebih rentan terkena pneumonia karena daya tahan tubuhnya yang sedang menurun seperti pada pasien kanker, penyakit imun dan HIV. Nah, bagi Sahabat sehat yang sering travelling keluar negri, terutama derah Asia Timur harus mempersiapkan diri terhadap pencegahan penyakit ini. Hal ini karena beberapa waktu lalu muncul satu jenis pneumonia di daerah Wuhan China dan sering disebut dengan Wuhan Pneumonia.

    Wuhan pneumonia diduga menular karena kontak yang terjadi di salah satu pasar ikan di China. Penderitanya rata-rata pedagang dan pembeli tetap di pasar ikan tersebut. Mereka mengalami demam yang tinggi, disertai dengan sesak dan kesulitan bernafas. Pada pemeriksaan rontgen ditemukan gambaran pneumonia pada paru-parunya. Awalnya sekitar 27 kasus ditemukan dan berkembang menjadi 59 dengan satu orang meninggal dunia.

    Baca Juga: Kenali dan Cegah Hepatitis

    WHO mengeluarkan pernyataan bahwa penyebab Wuhan Pneumonia adalah jenis baru dari coronavirus dan sedang diteliti lebih lanjut. Pasar ikan yang diduga menjadi tempat penularan penyakit ini telah ditutup untuk dilakukan pemeriksaan dan pembersihan sanitasi lingkungan. Beberapa Negara melaporkan kasus-kasus suspek serupa dengan di Wuhan yaitu di Singapura, Seoul, Thailand dan Hongkong. Di Singapura dan Bangkok terdapat penerbangan langsung dari Wuhan. WHO mengonfirmasi ada satu kasus di Thailand, terdeteksi virus baru yang berasal dari outbreak pneumonia di Tiongkok. Kasus tersebut merupakan traveler dari Wuhan, Tiongkok.

    Nah, supaya terhindar dari pneumonia kita bisa melakukan pencegahan dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi terhadap pneumonia ada 3 jenis, yaitu:

    • Vaksin Pneumokokus (atau PCV : Pneumococcal Conjugate Vaccine)

    Vaksin PCV13 (merek dagang Prevnar®) memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri Streptococcus pneumoniae, yang paling sering menyebabkan penyakit pneumokokus pada manusia. Masa perlindungan sekitar 3 tahun. Vaksin PCV13 utamanya ditujukan kepada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun.

    • Vaksin Pneumokokus PPSV23

    Vaksin PPSV23 (nama dagang Pneumovax 23®) memberikan proteksi terhadap 23 strain bakteri pneumokokus. Vaksin PPSV23 ditujukan kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa usia 65 tahun ke atas, atau usia 2 hingga 64 tahun dengan kondisi khusus.

    • Vaksin Hib Di negara berkembang, bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib) merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama. Di Indonesia vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pers Release Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dalam rangka WORLD PNEUMONIA DAY 2018. [Internet]. Available at: klikpdpi.com/index.php?mod=article&sel=8704
    2. Novel-Coronavirus China. 2020.[Internet]. Available at: who.int/csr/don/12-january-2020-novel-coronavirus-china/en/
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Pneumoccal vaccination: what everyone should know. 2019. [Interen]. Available at: cdc.gov/vaccines/vpd/pneumo/public/index.html
    4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Press Releas “Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Outbreak Pneumonia Di Tiongkok.
    Read More
  • Baru-baru ini kita dikagetkan dengan unggahan Kim Kardashian tentang curhatan yang sedih lantaran, Saint sang buah hati mengidap pneumonia atau dikenal dengan infeksi paru-paru. Hal ini membuat sedih lantaran sang buah hati baru berumur 2 tahun harus dirawat selama 3 hari. Pada unggahannya (@kimkardashian) kim menuliskan “Bayiku sangat kuat! Setelah menghabiskan tiga malam di rumah […]

    Vaksinasi Hib Bantu Cegah Pneumonia Pada Anak

    Baru-baru ini kita dikagetkan dengan unggahan Kim Kardashian tentang curhatan yang sedih lantaran, Saint sang buah hati mengidap pneumonia atau dikenal dengan infeksi paru-paru. Hal ini membuat sedih lantaran sang buah hati baru berumur 2 tahun harus dirawat selama 3 hari.

    Pada unggahannya (@kimkardashian) kim menuliskan “Bayiku sangat kuat! Setelah menghabiskan tiga malam di rumah sakit dan melihat bayiku diinfus serta terhubung dengan tabung oksigen”. Hal ini tentu membuat kita bingung apa sebenarnya pneumonia itu? Pneumonia sendiri merupakan radang infeksi akut yang berada pada saluran pernafasan bawah yang disebabkan dari virus, bakteri atau jamur.

    Pneumonia paling banyak menyerang bayi usia dibawah 2 tahun, penyakit ini dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Bunda perlu mewaspadai jika buah hati mengalami demam, batuk, susah bernafas atau nafas lebih cepat dan sesak. Karena penyebarang penyakit satu ini ditularkan oleh bakteri melalui percikan ludah yang berasal dari batuk, bersin ataupun saat berbicara.

    Pada negara berkembang seperti Afrika bagian sub-Sahara dan Asia Selatan, hampir 99% balita pneumonia meninggal dunia. Melihat dari tingginya kematian pada balita akibat Pneumonia, maka langkah pencegahannya yaitu dengan vaksinasi. Vaksinasi yang dilakukan sejak dini dapat mengurangi angka kematian balita, dua jenis vaksin yang diberikan yaitu vaksin pneumokokus dan vaksin Haemophilus influenza type B (Hib) yang lebih sering digunakan.

    Apa sih vaksin pneumokokus dan vaksin HiB itu? Vaksin Pneumokokus sendiri merupakan vaksin yang berisi protein konjugasi bertujuan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut dengan kuman pneumokokus. Vaksin ini ditunjukkan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus, yaitu anak-anak.

    Sedangkan vaksin HiB adalah vaksin untuk memberikan perlindungan terhadap kuman Haemophillus influenza tipe b, salah satu penyebab tersering pneumonia pada anak. Vaksin Hib ini diberikan di usia 2, 4 dan 6 bulan yang lakukan ulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB dapat diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi. Vaksin Hib sering dikombinasikan dengan DPT  yang menjadi vaksin DPT-Hib. Vaksin ini bukan hanya mencegah infeksi pneumonia Haemophilus influenza type B melainkan juga penyakit meningitis, pneumonia serta epiglotitis (infeksi yang berada pada katup pita suara dan tabung suara) yang juga disebabkan oleh kuman Haemophilus influenza type B. Pemberian vaksin kombinasi juga sekaligus mencegah infeksi yang disebabkan oleh difteri, pertusis dan tetanus. Namun vaksin Hib juga dapat diberikan secara terpisah.

    Pemberian vaksin DPT-Hib dapat diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan.  Untuk anak yang baru memulai vaksin di usia 1-5 tahun maka cukup diberikan sebanyak 1 kali. Apakah ada efek samping yang timbul setelah vaksinasi? Terdapat tanda radang (nyeri, kemerahan dan bengkak) pada tempat suntikan, demam mencapai 380 C hingga lebih, si kecil akan mudah rewel dan kehilangan nafsu makan, muntah ataupun diare.

    Jika ingin melindungi keluarga tercinta dari pneumonia, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Sumber:

    Putri, Ucha Merendar. “Cegah Pneumonia Pada Anak dengan Vaksinasi”. tanyadok.com
    Mother & Baby. “Anak Kim Kardashian Terkena Pneumonia. motherandbaby.co.id
    IDAI. “Sekilas Vaksin Pneumokokus”. idai.or.id
    IDAI. “Melengkapi atau Mengejar Imunisasi (Bagian III)”. idai.or.id

    Read More
  • Siapa sih di antara kalian yang sudah mengenal penyakit ini? Atau siapa di antara kalian yang sama sekali belum kenal dengan penyakit paru-paru ini? Radang paru, atau yang biasa kita kenal dengan pneumonia adalah salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian sewaktu-waktu bila penanganannya terlambat. Penyakit berbahaya yang satu ini merupakan suatu infeksi pada […]

    Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Siapa sih di antara kalian yang sudah mengenal penyakit ini? Atau siapa di antara kalian yang sama sekali belum kenal dengan penyakit paru-paru ini? Radang paru, atau yang biasa kita kenal dengan pneumonia adalah salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian sewaktu-waktu bila penanganannya terlambat. Penyakit berbahaya yang satu ini merupakan suatu infeksi pada jaringan paru-paru dan penyebabnya sendiri bermacam-macam. Ketika seseorang mengalami pneumonia, kantong udara di paru (alveoli) akan terisi cairan karena infeksi, sehingga kemampuan paru-paru untuk menampung oksigen berkurang.

    Memangnya seberapa sering sih kasus pneumonia ini terjadi? Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang tidak asing lagi di dunia kedokteran dan menyerang 450 juta orang tiap tahunnya, 150 juta di antaranya adalah anak-anak. Kasus pneumonia ini jauh lebih tinggi daripada kasus AIDS, malaria, ataupun campak yang terjadi di seluruh dunia. Kenapa pneumonia ini banyak terjadi pada anak-anak? Jawabannya tentu saja karena anak-anak belum memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan mudah ditularkan pada lingkungan yang tidak bersih alias kotor; sehingga tidak heran jika kita banyak menemukan kasus pneumonia pada negara berkembang ataupun pada keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah.

    Namun, apakah hanya anak-anak saja yang rentan terhadap radang paru-paru? Sayangnya, pneumonia ini merupakan penyakit membahayakan yang bisa menyerang siapa saja dan di mana saja tanpa pandang bulu – alias bisa menyerang anak-anak hingga lansia. Yup, pneumonia juga merupakan salah satu penyakit yang tidak asing lagi bagi lansia – khususnya bagi orang tua yang sudah menderita penyakit tertentu seperti sudah mengalami penyakit diabetes, ginjal, ataupun HIV/AIDS. Lalu, bagaimana dengan kita yang berada dalam usia produktif? Apakah kita juga rentan terserang penyakit radang paru-paru?

    Kabar baiknya, kasus pneumonia jarang terjadi pada kita yang berada di usia produktif. Meskipun kasus ini jarang terjadi pada anak muda, bukan berarti kita sama sekali terbebas dari penyakit ini karena infeksi paru-paru bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa kita prediksi sebelumnya. Kasus pneumonia sering luput dari pengawasan orang tua ketika terjadi pada anaknya karena sering kali orang tua menganggap jika anaknya hanya mengalami batuk pilek biasa dan akan sembuh dengan sendirinya dalam hitungan hari – di mana pada kasus pneumonia gejala akan hilang dalam waktu beberapa minggu. Lalu, sebenarnya apa saja gejala dari penyakit radang paru-paru ini?

    Gejala Pneumonia

    Pengetahuan terhadap gejala suatu penyakit sangatlah penting karena kita perlu segera melakukan penanganan terhadap penyakit yang kita miliki dan tentu saja untuk meminimalisir penyakit ini akan menyebar ke bagian tubuh lainnya – dan membuat tubuh kita semakin tidak berdaya. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas beberapa gejala pneumonia agar penanganan yang diberikan tidak terlambat. Ketika kita rasa beberapa gejala awal pneumonia muncul pada diri kiita ataupun orang terdekat, sebaiknya kita segera melakukan pemeriksaan medis selanjutnya alias melakukan pemeriksaan sinar X serta tes darah untuk memastikan betul apakah kita mengalami radang paru-paru. Nah berikut adalah beberapa gejala awal pneumonia yang harus kita ketahui:

    1. Batuk disertai dahak

    Batuk disertai dahak adalah gejala pertama dari pneumonia yang sering kali muncul bagi kita yang paru-parunya sudah terinfeksi. Sering kali lendir yang muncul pada batuk berdahak ini bewarna kekuningan atau kehijauan yang menandakan ada yang tidak beres pada organ dalam kita sehingga menyebabkan kerja paru-paru terganggu. Bukan suatu hal yang mengherankan lagi jika dahak terkadang dapat disertai dengan darah apabila kerusakan pada paru-paru sudah termasuk dalam level yang parah.

    1. Nyeri dada

    Nyeri dada merupakan gejala pneumonia berikutnya di mana gejala nyeri dada sendiri sering kali muncul pada berbagai penyakit berbahaya dan biasanya berujung pada kematian – atau memicu timbulnya penyakit berbahaya lainnya. Nyeri dada biasanya terjadi ketika kita sedang menarik udara ataupun bernapas dalam kondisi rileks. Nyeri dada biasanya akan mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan dalam bernafas atau irama nafas mereka yang menjadi tidak beraturan – lebih tepatnya menjadi sangat cepat ataupun menjadi pendek-pendek. Indikasi bersin yang terlalu sering ataupun tidak kunjung berhenti dalam jangka waktu tertentu juga bisa menjadi gejala dari pneumonia.

    1. Demam tinggi dan menggigil

    Gejala pneumonia berikutnya adalah demam tinggi yang terkadang disertai dengan menggigil. Akibat demam tinggi, denyut jantung menjadi lebih cepat dari biasanya disertai adanya rasa nyeri pada dada pasien pneumonia. Radang paru-paru sendiri mengakibatkan paru-paru tidak mampu menampung oksigen sebanyak sebelumnya dan hal ini justru menyebabkan jantung bekerja lebih ekstra daripada ketika kondisi tubuh kita normal. Seramnya lagi ketika radang paru-paru ini tidak segera ditangani alias penanganan yang diberikan terlambat maka dapat menyebabkan kematian sewaktu-waktu.

    1. Mual dan muntah

    Gejala terakhir dari pneumonia berikutnya yang harus kita ketahui adalah mual dan muntah yang sering kali hal ini membuat pasien radang paru-paru menjadi lemas dan tidak bisa beraktivitas dengan optimal seperti ketika kondisi tubuh mereka sehat. Mual dan muntah disebabkan berkembangnya bakteri dan virus dalam tubuh dengan cepat yang tentu saja hal ini menyebabkan nafsu makan kita juga akan menurun drastis. Penurunan nafsu makan ini juga disebabkan karena kondisi tubuh yang kekurangan oksigen sehingga pasien pneumonia seringkali memerlukan infus selama perawatannya di rumah sakit agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi dengan baik.

    Pencegahan Pneumonia

    Setelah kita mengetahui berbagai gejala dari pneumonia, pastilah sebagian dari kita berpikir apakah penyakit radang paru-paru ini bisa dicegah. Kabar baiknya, kita bisa melakukan berbagai cara untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya ini pada anak atau orang tua kita lho! Wah yang benar nih? Memangnya apa saja yang bisa kita lakukan sebagai upaya pencegahan pneumonia? Berikut adalah beberapa upaya pencegahan pneumonia yang pastinya mudah untuk dilakukan:

    1. Menghentikan kebiasaan merokok

    Siapa sih di antara kita yang suka merokok? Berapa banyak rokok yang biasa kalian konsumsi dalam sehari? Seperti yang kita tahu, rokok merupakan kebiasaan buruk yang dapat memicu datangnya berbagai penyakit berbahaya pada diri kita. Kebiasaan merokok yang dilakukan tiap hari tentu saja akan memicu timbulnya pneumonia karena  disebabkan kandungan nikotin di dalamnya. Selain itu, kita harus menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol karena alkohol bukan saja hanya menganggu kinerja sistem saraf pusat tetapi juga dapat mengganggu kinerja paru-paru kita.

    1. Gaya hidup sehat

    Agar tidak gampang sakit, maka kita harus mempertahankan daya tahan tubuh seoptimal mungkin. Bila daya tahan tubuh kita baik, maka kuman atau viruspun “hanya lewat” saja dan tidak menginfeksi. Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah konsumsi makanan sehat, bergizi, dan seimbang, rutin melakukan olahraga, dan kelola stres agar tidak gampang sakit.

    1. Melakukan vaksinasi

    Pencegahan pneumonia terakhir yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan vaksinasi pneumonia secara rutin, di mana vaksin ini berfungsi untuk mencegah pneumonia pada pasien semakin parah. Vaksin pneumonia diberikan pada anak-anak di bawah 2 tahun dan lansia berusia 65 tahun ke atas, orang dewasa 19-64 tahun yang memiliki kondisi tertentu (penyakit kronis, HIV/AIDS, penurunan daya tahan tubuh, implant koklea dan perokok).

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai pneumonia. Pastinya sekarang sudah tahu kan bagaimana cara mengenali pneumonia dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencegah pneumonia datang menghantui hidup kita? Satu hal yang perlu kita ingat adalah untuk tetap menjaga pola hidup yang sehat agar kita terhindar dari berbagai penyakit mematikan, seperti halnya penyakit radang paru-paru yang satu ini. So, pastinya sekarang kita lebih memperhatikan kesehatan kita bukan?

    Untuk sobat prosehat yang mau vaksinasi namun tidak mau antri maka kamu bisa melakukan vaksinasi di prosehat. Prosehat memberikan layanan imunisasi pneumonia lengkap dan terjangkau. Yuk vaksinasi sekarang.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • docdoc.com/id/info/condition/pneumonia/
    • tribunnews.com/regional/2011/06/19/waspada-penyakit-radang-paru-paru
    • tanyadok.com/anak/pneumonia-pembunuh-utama-balita-di-dunia
    Read More
  • Seringkali orang tua tidak sadar kebiasaan kecil yang salah bisa menyebabkan masalah atau penyakit yang nantinya akan berdampak pada kondisi anak. Bukan tanpa sebab, ada beberapa penyakit atau kejadian yang berawal dari masalah serupa juga salah satunya adalah paru-paru basah. Siapa yang sangka bahwa hujan-hujanan atau tinggal di kondisi yang lembab atau gelap dan basah […]

    Pneumonia : Pembunuh Balita Utama di Dunia

    Seringkali orang tua tidak sadar kebiasaan kecil yang salah bisa menyebabkan masalah atau penyakit yang nantinya akan berdampak pada kondisi anak. Bukan tanpa sebab, ada beberapa penyakit atau kejadian yang berawal dari masalah serupa juga salah satunya adalah paru-paru basah. Siapa yang sangka bahwa hujan-hujanan atau tinggal di kondisi yang lembab atau gelap dan basah bisa mendatangkan penyakit.

    Penyakit yang biasanya menyerang paru ini disebut sebagai Pneumonia. Faktanya penyakit ini telah membunuh ratusan balita yang ada di dunia begitupun yang ada di Indonesia. Tentu hal ini tidak dapat dianggap sepele saja, untuk itu dalam artikel ini akan kita bahas secara gamblang mengenai pneumonia sebagai pembunuh balita utama di dunia.

    Apa itu pneumonia/paru-paru basah ?

    Pneumonia merupakan penyakit yang disebabkan infeksi pada satu atau kedua paru-paru anak. Jika kondisinya sehat oksigen akan masuk ketika bernafas dan bergerak melalui tabung pernafasan. Setelah itu oksigen masuk ke dalam darah melalui kantung udara di paru (alveoli).

    Jika anak terkena pneumonia, paru-paru tidak dapat melakukan pekerjaan seperti biasa, dimana ada cairan atau lendir yang menghalangi alveoli. Hal inilah yang menyebabkan oksigen sulit untuk masuk penuh ke dalam paru-paru. Tempat yang seharusnya dilewati darah akan sulit masuk akibat cairan atau lendir yang tidak mudah dibersihkan.

    Gejala pneumonia pada anak

    Setelah mengetahui apa itu penyakit pneumonia, selanjutnya adalah gejala yang dapat Sobat kenali khususnya pada anak. Semakin cepat maka akan semakin baik, karena gejala ini bisa menunjukan bahaya pada kondisi sistem pernafasan anak. Apa saja ?

    • Batuk berdahak dan cukup parah, tetapi jenis dahaknya berbeda yakni hijau dan terkadang bercampur dengan darah.
    • Demam yang cukup tinggi dan terjadi secara berkala
    • Sesak nafas, dimana ritme napas terjadi lebih cepat dan juga pendek
    • Nyeri pada dada yang ditambah dengan batuk sehingga semakin buruk pada anak. Tidak jarang karena kondisi ini menyebabkan berat badan anak turun dan anak merasa stress atau kelelahan. Pada balita seringkali disertai dengan menangis dan juga sakit pada
    • Detak jantung kencang dan parah.
    • Merasa lelah dan lemah disertai mual serta muntah
    • Mengi atau napas berbunyi.

    Tindakan medis terhadap pneumonia

    Lantas bagaimana jika anak menunjukan gejala bahwa anak mengalami pneumonia ? tentu ada beberapa tindakan yang bisa anda ambil. Jangan menyepelekan terutama jika gejala utama muncul seperti dahak hijau dan juga berdarah.

    • Konsultasikan ke dokter anak secara langsung, biasanya dokter akan memeriksa terlebih dahulu dan dianjurkan untuk melakukan rangkaian tes.
    • Dokter akan memastikan menggunakan X-Ray untuk melihat foto dada anak, gambaran pneumonia adalah spot berawan putih di paru-paru pada hasil foto.
    • Dokter akan menganalisa dari hasil tes karena pneumonia bisa terjadi karena berbagai faktor. Menentukan solusi yang tepat dan penanganan yang tepat harus sesuai dengan penyebabnya.
    • Pengobatan biasanya dilakukan dengan antibiotik, obat, serta menyemprotkan larutan air asin (saline) di bagian hidung anak juga dapat membantu mengencerkan lendirnya. Sehingga anak bisa bernafas dengan baik.

    Cara Mencegah Pneumonia pada Anak

    Mencegah lebih baik dibandingkan mengobati, rasanya kata-kata ini sudah banyak didengar oleh orang tua sekarang ini karena pneumonia dan penyakit sistem pernafasan seringkali menyerang anak-anak termasuk di Indonesia. Penyakit ini dapat menular lewat percikan ludah ketika penderita bersin maupun batuk yang dahaknya bisa mengandung bakteri. Termasuk saat anda mencuci atau menyentuh sapu tangan penderita. Selain dapat menular lewat udara, makan dan minum milik penderita juga harus dipisah karena bisa menularkan.

    Agara terhindar dari penyakit ini berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

    • Gizi yang cukup

    Ketika anak sedang dalam masa pertumbuhan, akan ada masanya dimana mereka sering tidak nafsu makan karena energi yang mereka gunakan lebih tinggi dan mobilitas mereka tinggi. Selain itu, anak juga rentan terkena penyakit karena sistem imun anak mudah sekali turun hanya karena makanan atau istirahat. Bayi dapat diberikan ASI yang maksimal di enam bulan pertama, yang artinya ibu juga yang memberikan ASI harus tahu seberapa banyak dan apa saja nutrisi yang mereka konsumsi. Cukupi kebutuhan nutrisi anak dengan memberikannya buah, sayuran, dan makanan bergizi lainnya.

    Cara selanjutnya adalah dengan imunisasi yang biasa disebut HiB atau Haemophilus influenzae tipe B. Dimana vaksin ini banyak diberikan pada anak untuk menghindari masalah lain seperti meningitis ataupun masalah lainnya. Imunisasi menjadi cara yang ampuh untuk mencegah Pneumonia yang bisa menyerang anak. Selain itu anak biasanya diberikan imunisasi lain yaitu vaksinasi Pneumokokus (PCV). Nah, anda bisa menerima vaksin yang sama dengan rekomendasi dokter dan juga konsultasi sebelumnya kepada dokter anak.

    • Kesehatan lingkungan

    Cara terakhir adalah menjaga kesehatan lingkungan, dimana saat makan dan juga kebersihan lingkungan anda harus mencuci dan membersihkan lingkungan tempat tinggal atau tempat tidur Sobat. Selain itu jauhkan dari asap rokok dan polusi udara yang memungkinkan anak terpapar atau bahkan menghisapnya.

    Jangan biarkan pneumonia menyebabkan kondisi yang lebih serius, dimana anda harus bisa menajga kebersihan. Khususnya kondisi untuk tidur yang lembab dan basah bisa menimbulkan pneumonia berat pada anak.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Vaksinasi terbukti dapat menurunkan angka penyakit, angka kecacatan dan kematian dari berbagai penyakt infeksi. Sebuah penelitian vaksin terbaru untuk melindungi 13 penyakit mengemukakan bahwa vaksin dapat mencegah 20 juta kasus penyakit dan lebih dari 40 ribu kematian. Vaksin bukan hanya memberikan perlindungan bagi individu, tetapi dapat memberikan perlindungan komunitas dengan mengurangi penyebaran penyakit pada populasi. […]

    Vaksinasi untuk Ibu Menyusui

    Vaksinasi terbukti dapat menurunkan angka penyakit, angka kecacatan dan kematian dari berbagai penyakt infeksi. Sebuah penelitian vaksin terbaru untuk melindungi 13 penyakit mengemukakan bahwa vaksin dapat mencegah 20 juta kasus penyakit dan lebih dari 40 ribu kematian. Vaksin bukan hanya memberikan perlindungan bagi individu, tetapi dapat memberikan perlindungan komunitas dengan mengurangi penyebaran penyakit pada populasi.

    Vaksinasi pada ibu menyusui sangat penting. Pada saat hamil, antibodi ibu melewati plasenta ke bayi yang sedang tumbuh selama akhir kehamilan sehingga dapat memberikan bayi perlindungan pasif paling signifikan selama beberapa minggu kehidupannya. Setelah bayi lahir, antibodi yang diproduksi oleh wanita menyusui yang telah divaksinasi dikeluarkan dalam ASI. Kemungkinan vaksin memberikan perlindungan bagi bayi setelah tertelan bayi tergantung pada jenis vaksin yang diterima dan faktor ibu yang mempengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh seperti gen, usia dan kesehatan.

    apakah menyusui menyebabkan osteoporosis prosehat

    Beberapa vaksin aman diberikan pada ibu menyusui, antara lain:

    • Vaksin yang inaktif (vaksin hepatitis A, HPV, Japanese Enchepalitis, Polio (IPV), dan rabies),
    • Vaksin yang berisi virus hidup yang dilemahkan (vaksin influenza, MMR, varisela, tifoid/Ty21A),
    • Vaksin rekombinan (hepatitis B, meningokokal meningitis/MenB),
    • Vaksin konjugasi (meningitis (MPSV4 danMenACWY), pneumokokal (PCV13)),
    • Vaksin polisakarida (Pneumokokal (PPSV23) dan tifoid/ViCPS)
    • Vaksin toksoid (Tdap/Td)

    Meskipun beberapa vaksin ada yang berisi virus hidup yang dilemahkan, sebagian tidak dieksresikan di ASI. Vaksin rubella dapat dieksresikan di ASI, tetapi virusnya tidak menginfeksi bayi, bila infeksi terjadi bayi dapat menoleransinya karena virusnya dilemahkan.

    Pemberian vaksin variola (smallpox) dan yellow fever  pada ibu hamil harus ditunda karena adanya kemungkinan transmisi virus ke janin yang dikandung. Meskipun begitu, bila ibu menyusui tidak dapat menunda kepergiannya ke daerah endemis, maka pemberian vaksin ini diperbolehkan.

    Nah, Sahabat tidak ada alasan lain lagi kan yang dapat menunda Bunda menyusui untuk mendapatkan vaksinasi. Ingat, penyakit pada ibu menyusui dan bayi dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Segera konsultasikan dengan dokter Sahabat mengenai cara pemberian vaksinasi ibu menyusui. Salam sehat!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Orenstein WA, Ahmed R. Simply put: vaccination saves life. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 2017;114(16).
    2. Immunisation Advisory Center The University of Auckland. Immunisation and breastfeeding. [Internet]. Available at: immune.org.nz/sites/default/files/AdministrationBreastfeedingImac20160820V02Final_1.pdf
    3. Center for Disease Control and Prevention. Vaccination safety for breastfeeding mothers. 2018. [Internet]. Available at: cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/vaccinations-medications-drugs/vaccinations.html
    Read More
  • Polio mungkin bukanlah penyakit yang baru di telinga kita semua, terutama para Ibu yang pasti sudah sering mendengarnya saat membawa si kecil untuk imunisasi. Berkat imunisasi, kasus polio di seluruh dunia saat ini sudah sangat berkurang, bahkan beberapa strain virus polio sudah dinyatakan tidak ada lagi atau tereradikasi. Berdasarkan data WHO, kasus polio sudah berkurang […]

    Apa Saja Fakta tentang Polio yang Perlu Diketahui?

    Polio mungkin bukanlah penyakit yang baru di telinga kita semua, terutama para Ibu yang pasti sudah sering mendengarnya saat membawa si kecil untuk imunisasi. Berkat imunisasi, kasus polio di seluruh dunia saat ini sudah sangat berkurang, bahkan beberapa strain virus polio sudah dinyatakan tidak ada lagi atau tereradikasi.

    Berdasarkan data WHO, kasus polio sudah berkurang sebesar 99% sejak tahun 1988, dari 350.000 kasus dalam lebih dari 125 negara endemis, turun menjadi 22 kasus pada tahun 2017 di seluruh dunia. Sekitar 16 juta orang telah selamat dari kelumpuhan sebagai dampak usaha global mengeradikasi virus polio. Ini menunjukkan betapa pentingnya vaksinasi polio bagi anak-anak. Nah, apa saja fakta tentang penyakit polio ini? Yuk, kita simak bersama.

    Polio atau yang disebut sebagai poliomielitis adalah infeksi susunan saraf pusat yang disebabkan karena virus polio. Virus ini sangat berbahaya dan biasanya menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Virus tersebutdapat menyebabkan kelumpuhan dalam hitungan jam, dan 1 dari 200 individu yang terkena infeksi polio mengalami kelumpuhan pada kaki yang bersifat permanen. Sekitar 5-10% individu yang terinfeksi polio jika tidak ditangani dengan baik dapat mengalami kematian karena tidak bisa bernapas yang disebabkan karena lumpuhnya otot-otot pernafasan.

    Virus polio yang sangat infeksius ini ditularkan dengan carafekal-oral. Feses anak yang terinfeksi polio juga akan mengandung virus polio, sehingga dapat menularkan lewat air dan makanan/minuman yang terkontaminasi. Gejala yang dapat ditimbulkan dari infeksi polio ini bervariasi, yaitu:

    • 72% orang yang terinfeksi virus polio biasanya tidak menimbulkan gejala, ini merupakan bentuk infeksi polio yang paling sering.
    • 24% orang mengalami gejala minor/ringan seperti demam, sakit tenggorokan, lemas, sakit kepala, mual dan muntah.
    • 4% orang akan mengalami nonparalytic poliomyelitis (aseptic meningitis), dimana gejala awal berupa demam, nyeri tenggorokan, mual, dan lemas, kemudian diikuti dengan kekakuan pada leher/punggung, nyeri pada kaki, punggung dan leher, muntah, dan nyeri kepala yang hebat. Dapat juga terjadi kelumpuhan kaki yang ringan.
    • <1% mengalami paralytic poliomyelitis. Kondisi ini sangat jarang, dengan gejala awal berupa gejala ringan dan dilanjutkan dengan 1-3 hari bebas gejala, yang kemudian diikuti oleh kelumpuhan salah satu kaki yang tiba-tiba dan progresif.

    Cukup mengerikan bukan? WHO bahkan menyatakan selama ada 1 anak saja yang masih terinfeksi polio, maka seluruh anak-anak di dunia masih berisiko terinfeksi polio. Apalagi sampai saat ini tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit polio. Polio hanya dapat dicegah dan pencegahan terbaik adalah dengan vaksinasi. Itu sebabnya vaksinasi polio sangat penting bagi anak-anak kita.

    Vaksin polio yang diberikan terdiri dari dua macam, yaitu vaksin polio tetes/oral (OPV) dan vaksin polio yang disuntikkan (IPV). Keduanya penting diberikan bagi si kecil untuk memastikan proteksi yang maksimal terhadap virus polio. Efek samping pasca imunisasi polio pun biasanya jarang, biasanya dapat terjadi diare yang tidak menyebabkan demam. Dosis pemberian vaksin polio yang direkomendasikan di Indonesia adalah 4 dosis dan ditambah dengan 1x dosis booster pada 18 bulan. Proteksi vaksin polio ini cukup besar yaitu sebesar 99%.

    Nah, fakta tentang polio ternyata cukup luar biasa bukan? Dan para ibu tidak perlu khawatir, karena imunisasi polio sudah termasuk dalam imunisasi dasar dan wajib di Indonesia. Pastikan buah hati Moms diberikan imunisasi dasar lengkap dan sesuai jadwal agar ia selalu sehat dan terlindungi dari berbagai macam penyakit, salah satunya polio. Nah, bagi Moms yang ingin melakukan vaksin pada si kecil, kini tak perlu repot. Ada layanan vaksin ke rumah loh! Silakan cek lewat www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan vaksinasi maupun kesehatan. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. World Health Organization. Poliomyelitis. Diupdate 14 Maret 2018. Diakses 4 Oktober 2018. Available at: who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
    2. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 867.
    3. Vesikari T, Damme PV. Pediatric vaccines and vaccinations. Switzerland: Springer; 2017. p. 60-3.
    4. Tanya jawab polio. Diupdate 28 Agustus 2013. Diakses 4 Oktober 2018. Available at: idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-polio
    5. Polio vaccination. Diupdate 4 Mei 2018. Diakses 4 Oktober 2018. Available at: cdc.gov/vaccines/vpd/polio/index.html
    Read More
  • Moms, berita tentang vaksin MR masih simpang siur kita dengar, mungkin Anda pernah mendengar rumor kalau vaksin MR bisa mengakibatkan autis pada anak, atau masalah lainnya. Lantas, sudahkah Moms memahami apa itu vaksinasi MR? Seberapa penting vaksin MR bagi kita? Jadi, vaksinasi atau imunisasi merupakan suatu cara memasukkan virus/bakteri mati atau yang telah dilemahkan ke […]

    Seberapa Pentingkah Imunisasi MR Dilakukan?

    Moms, berita tentang vaksin MR masih simpang siur kita dengar, mungkin Anda pernah mendengar rumor kalau vaksin MR bisa mengakibatkan autis pada anak, atau masalah lainnya. Lantas, sudahkah Moms memahami apa itu vaksinasi MR? Seberapa penting vaksin MR bagi kita?

    Jadi, vaksinasi atau imunisasi merupakan suatu cara memasukkan virus/bakteri mati atau yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia sehingga sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh dan membentuk antibodi atau pertahanannya. Oleh karena itu, bila suatu saat terinfeksi virus tersebut, tubuh kita mampu melawannya. Vaksinasi MR merupakan kombinasi dari vaksin Campak atau Measles (M) serta vaksin Campak Jerman atau Rubella (R). Fungsi dari pemberian vaksinasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella.

    Sebelum membahas lebih jauh, mari kita bahas mengenai penyakit Campak (Measles) dan Rubella terlebih dahulu.

    CAMPAK

    Campak merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi anak, terutama pada seseorang yang tidak terlindungi vaksinasi sebelumnya, seseorang dengan gizi kurang serta sistem imun rendah (HIV, kanker, pasien dengan gangguan sistem imun).

    Gejala yang dapat timbulkan jika seseorang terkena campak antara lain demam, gejala tampak seperti gejala flu (batuk, pilek, mata merah dan berair), disertai rash atau bercak kemerahan pada seluruh tubuh. Campak dapat memberikan efek penyakit lainnya seperti diare, tuli atau gangguan pendengaran, infeksi pada otak (ensefalitis) dan infeksi pada selaput otak (meningitis), infeksi paru (pneumonia), peradangan pada ovarium dan testis, dan efek yang paling paling fatal ialah kematian.

    RUBELLA

    Sedangkan Rubella atau campak jerman (Measles) sering sekali terjadi pada anak, remaja maupun ibu hamil yang dapat berakibat pada keguguran, bayi lahir cacat seperti tuli maupun kebutaan atau sampai terjadi bayi lahir mati. Gejala awal Rubella yaitu demam, radang tenggorokan, nyeri kepala, iritasi pada mata dan rash atau bercak merah pada seluruh tubuh.

    Apabila kita tidak melakukan vaksinasi MR, maka ada kemungkinan terkena infeksi Campak dan Rubella, mengingat penularan dari orang ke orang sangat cepat. Saat ini, Vaksinasi MR (Measless Rubella) mulai digalakkan kembali, mengingat dampak yang ditimbulkan dari infeksi Campak dan Rubella yang cukup serius bahkan dapat berujung kematian. Sehingga, pemerintah cukup serius untuk menggalakan program imunisasi MR kembali. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), Indonesia menempati urutan ke 10 dengan kasus Campak terbanyak di Asia, saat ini Indonesia terdapat 4.897 kasus campak. sedangkan untuk kasus Rubella, Indonesia menempati urutan pertama di Asia, dengan total 1.853 kasus.

    Indonesia masuk 10 besar kasus campak

    Kementerian Kesehatan RI serta WHO atau Badan Kesehatan Dunia telah menyatakan bahwa imunisasi ini sangat aman diberikan, bahkan imunisasi MR telah diberikan pada lebih dari 141 negara di dunia serta izin beredarnya sudah disahkan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), sehingga kita tidak perlu ragu lagi untuk menjalankan program pemerintah dalam mencegah penyebaran virus Campak dan Rubella.

    Menurut program pemerintah, jadwal vaksinasi MR yang diberikan pemerintah ditargetkan khususnya untuk anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Dengan jadwal penyuntikan 9 bulan, 18 bulan serta usia 6 tahun (kelas 1 SD atau sederajat). Ibu hamil sebaiknya tidak melakukan vaksinasi MR, sebaiknya vaksinasi MR dilakukan kurang lebih 4 minggu sebelum merencanakan kehamilan.

    Reaksi yang mungkin timbul setelah melakukan vaksinasi MR tidaklah serius. Gejala yang mungkin muncul seperti demam ringan, nyeri dan kemerahan di tempat penyuntikan. Namun, tidak semua orang dapat melakukan vaksinasi MR, ada beberapa kondisi dimana seseorang tidak dapat melakukannya, antara lain:

    1. Seseorang yang sedang mengalami penyakit yang serius atau memiliki hipersensitif atau alergi terhadap bahan vaksinasi.
    2. Wanita hamil.
    3. Sedang menderita kelainan sistem imun (HIV/AIDS, kanker, leukimia) atau menjalani pengobatan dengan imunosupressan, pengobatan dengan kortikosteroid, menjalani pengobatan kanker dengan kemoterapi.
    4. Baru saja donor atau transfusi darah. Apabila baru saja melakukan donor maupun transfusi darah disarankan untuk menunda vaksinasi dengan jarak minimal 3 bulan setelahnya.
    5. Sedang menderita infeksi paru-paru tuberkulosis (TBC).
    6. Baru saja mendapatkan vaksinasi selain MR, vaksinasi MR harus dijeda minimal 4 minggu setelah vaksinasi lain diberikan.
    7. Sedang kurang sehat misalnya demam atau terjangkit flu, diare atau penyakit lainnya, sebaiknya ditunda dulu vaksinasi MR.
    8. Seseorang yang menderita gangguan fungsi hati.
    9. Seseorang yang menderita gangguan fungsi ginjal.
    10. Seseorang yang sedang menderita gangguan fungsi darah, misalnya mempunyai riwayat kelainan pembekuan darah (darah sulit berhenti ketika mengalami luka).

    Pada umumnya, pencegahan suatu penyakit tidak hanya dengan vaksinasi saja, namun ada beberapa hal yang tidak kalah pentingnya yang harus kita perhatikan juga, seperti:

    1. Selalu menjaga kebersihan tubuh, mandi secara rutin, selalu mencuci tangan sebelum memasukkan makanan ke dalam mulut atau bersalaman dengan seseorang yang sedang sakit.
    2. Lakukan aktivitas fisik setiap hari secara rutin, olah raga minimal 5 kali dalam seminggu, minimal selama 30 menit.
    3. Makan makanan yang bergizi seperti sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang mengandung bahan yang berpengawet.
    4. Istirahat yang cukup, minimal 6-8 jam per hari.
    5. Minum air putih, minimal 8 gelas per hari.

    Setelah membaca ulasan di atas, kini Moms sudah lebih tahu seputar vaksinasi MR bukan? Yuk, turut serta membantu program pemerintah dalam memberantas penyebaran Campak dan Rubella di Indonesia. Jika Anda masih membutuhkan informasi kesehatan lain, bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Bahkan tersedia layanan vaksinasi ke rumah loh. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    Daftar Pustaka

    1. Subuh H, Soepardi J, Yosephine P. Petunjuk Tehnis Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. 1st ed. Jakarta: Direktorat Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan; 2017 [cited 24 August 2018]. Available from: ibi.or.id/media/files/Kampanye%20dan%20Intro%20MR%20Final.pdf
    2. Measles Rubella Immunization Campaign in Java Island on Aug –Sep 2017 [Internet]. South-East Asia Regional Office. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: searo.who.int/indonesia/topics/immunization/MR_CAMPAIGN/en/
    3. Global Measles and Rubella Update 2018 [Internet]. Who.int. 2018 [cited 30 August 2018]. Available from: who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/surveillance_type/active/Global_MR_Update_August_2018.pdf?ua=1
    4. Reaching more children to get MR vaccine [Internet]. South-East Asia Regional Office. 2018 [cited 30 August 2018]. Available from: searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_reaching/en/
    5. Information Sheet Observed Rate of Vaccine Reactions Measles, Mumps and Rubella Vaccines [Internet]. Who.int. 2018 [cited 30 August 2018]. Available from: who.int/vaccine_safety/initiative/tools/MMR_vaccine_rates_information_sheet.pdf
    Read More
  • Ketika buah hati Moms jatuh sakit, tentu kecemasan melanda Anda ya. Tentu tak akan ada satupun ibu yang tidak khawatir. Berbagai cara tentu dilakukan seorang ibu agar si kecil kesayangannya tetap sehat dan bugar. Seperti kita ketahui, vaksin merupakan salah satu hal terpenting untuk kesehatan si buah hati. Pemberian vaksin akan membuat anak terlindung dari […]

    Apa Beda Vaksin yang Bikin Anak Demam dan Tidak?

    Ketika buah hati Moms jatuh sakit, tentu kecemasan melanda Anda ya. Tentu tak akan ada satupun ibu yang tidak khawatir. Berbagai cara tentu dilakukan seorang ibu agar si kecil kesayangannya tetap sehat dan bugar. Seperti kita ketahui, vaksin merupakan salah satu hal terpenting untuk kesehatan si buah hati. Pemberian vaksin akan membuat anak terlindung dari kemungkinan terpaparnya penyakit.

    Pada bayi yang baru lahir, sistem imun di dalam tubuhnya belum terbentuk sempurna, bahkan selama beberapa bulan kehidupannya, seorang bayi masih menggunakan imun atau kekebalan tubuh yang didapat dari ibunya. Pastinya kasihan sekali Moms, bayi yang masih begitu mungil dengan segala keterbatasan sistem organ tubuh yang belum matang, harus berperang melawan penyakit. Itulah gunanya dilakukan vaksinasi. Oleh karena itu, vaksinasi sangat penting bagi bayi, jangan melewatkan jadwal vaksinasi buah hati ya Moms. Jadwal imunisasi di Indonesia direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Meskipun vaksin terbukti efektif, tak sedikit para ibu mengeluhkan tentang si kecil yang menjadi demam atau rewel setelah vaksin. Hal ini membuat Moms khawatir dan bingung untuk menanganinya atau mungkin menjadi ragu untuk membawa si kecil untuk imunisasi. Mari kita bahas tentang kejadian demam setelah imunisasi dan apa beda vaksin yang bikin anak demam dan tidak.

    Demam merupakan salah satu bentuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yaitureaksi yang dapat terjadi setelah dilakukannya imunisasi. Tapi tenang saja Moms, tidak semua vaksin memberikan respons demam, hanya beberapa vaksin saja yang sering memberikan respons tubuh berupa demam. Contoh vaksin yang umumnya memberikan respons demam adalah campak dan difteri-pertusis-tetanus (DPT). Sebanyak 42,9% anak yang divaksinasi DPT mengalami demam ringan dan sekitar 2,2% anak mengalami demam berat. Kemudian, tercatat 5-15% kasus demam dijumpai pada anak yang divaksinasi campak. Demam ringan ini biasanya mulai dijumpai pada hari kelima sampai keenam sesudah imunisasi dan demam ini dapat terus berlangsung selama 5 hari. Namun, Momstak perlu khawatir, mengingatsetiap respons imun manusia berbeda-beda, maka tidak semua anak yang diimunisasi campak dan DPT akan mengalami respons tubuh berupa demam. Ada anak yang setelah diimunisasi campak atau DPT akan baik-baik saja, tidak ada demam sama sekali.

    Hal yang sering menjadi pertanyaan banyak orang adalah apa beda antara vaksin yang bikin anak demam dan tidak? Salah satu alasan utama pembedanya adalah komponen vaksin tersebut. Vaksin dapat terbuat dari kuman yang sudah mati, atau kuman yang hanya dilemahkan, ada yang seluruh bagian utuh, atau sebagian, dan ada juga yang berupa toksin (zat racun) dari mikroorganisme tersebut. Reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi sering kali lebih hebat bila imunisasi berisi kuman hidup yang dilemahkan yang terbuat dari seluruh komponen antigen kuman. Hal ini terjadi karena reaksi pertahanan tubuh akan lebih kuat melawan kuman yang utuh dibandingkan hanya sebagian kecil dari komponen kuman. Reaksi tubuh terhadap antigen kuman dari vaksin inilah yang merupakan proses pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

    Salah satu contoh, saat ini terdapat dua jenis vaksin Difteri Pertusis Tetanus (DPT), atau sering dituliskan sebagai DPT dan DPaT. Lantas apa bedanya? Vaksin DPT terbuat dari seluruh komponen antigen kuman Pertusis, sedangkan vaksin DPaT hanya mengandung bagian antigen kuman Pertusis tertentu yang diperlukan untuk kekebalan tubuh. Perbedaan jenis antigen inilah yang menyebabkan DPT lebih sering menimbulkan efek samping seperti demam dan ruam setelah penyuntikan, dibandingkan dengan DPaT. Atas dasar tersebut, beberapa Moms memilih untuk vaksin DPaT dibandingkan dengan DPT. Dari segi efektivitas sendiri, DPaT terbukti juga efektif dalam memberikan perlindungan optimal bagi si kecil dari kuman difteri-pertusis-tetanus. Untuk menjaga keefektifan vaksin, perlu dilakukan pengulangan imunisasi DPT pada jadwal yang telah ditentukan.

    Setelah mengetahui perbedaan vaksin yang membuat anak demam dan tidak, sudahkah Moms tahu bagaimana cara menangani anak yang demam pasca dilakukan vaksinasi? Pastinya setiap ibu akan merasa panik saat menghadapi anak yang demam pasca vaksinasi, tidak tahu apakah hal ini normal, tidak tahu kapan anak yang demam harus dibawa ke rumah sakit dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan saat di rumah.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemberian parasetamol (penurun panas) pada anak, 30 menit sebelum akan dilakukan imunisasi DPT/DT. Hal ini tidak hanya untuk mengurangi demam tetapi juga mengurangi nyeri pasca vaksinasi. Setelah itu, obat penurun panas dapat dilanjutkan setiap 3-4 jam sekali apabila masih terjadi demam dan maksimal sebanyak 6 kali dalam 24 jam. Hal lainnya yang dapat dilakukan ialah memberikan minum atau ASI lebih banyak kepada anak, memakaikan anak pakaian yang tipis dan memberikan kompres hangat agar demam turun. Apabila anak tetap demam, segera bawa anak ke dokter. Moms tidak perlu takut, obat penurun demam tidak memengaruhi potensi vaksin.

    Parasetamol sebagai Pencegahan dan Pengobatan Demam Pasca Vaksinasi

    Nah, bagi Moms yang ingin melakukan vaksin pada si kecil, kini tak perlu repot. Ada layanan vaksin ke rumah loh! Silakan cek lewat www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan vaksinasi maupun kesehatan. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Dasar. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009;8: 557.
    2. Fuleihan, R. Imunologi. Dalam: Endaryanto A, Sumadiono, editor. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi VI. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011:311-4.
    3. Hadinegoro SRS. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri. 2000; 2(1):2-10.
    4. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. 2013.
    5. Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi [Internet]. IDAI. 2018 [cited 31 August 2018]. Available from: idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi.
    6. Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Pedoman Imunisasi di Indonesia.Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014;5:404.
    Read More
  • Moms, mungkin kita masih banyak yang belum begitu mengerti tentang apa yang dimaksud vaksin serta vaksin apa saja yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu yang sangat penting adalah vaksin polio. Kurangnya pengetahuan serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai vaksin menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit polio di Indonesia. Sebelum dibahas mengenai vaksin polio, ada baiknya kita […]

    Apa Penyebab Penyakit Polio?

    Moms, mungkin kita masih banyak yang belum begitu mengerti tentang apa yang dimaksud vaksin serta vaksin apa saja yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu yang sangat penting adalah vaksin polio. Kurangnya pengetahuan serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai vaksin menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit polio di Indonesia. Sebelum dibahas mengenai vaksin polio, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan vaksin, apa itu vaksin polio, kapan waktu yang tepat bagi si anak untuk mendapatkan vaksin polio, serta apa yang dimaksud dengan polio, gejala yang mungkin ditimbulkan apabila sudah terjangkit virus polio serta apa saja yang dapat kita lakukan apabila sudah terjangkit polio.

    Kita mulai dari membahas apa yang dimaksud dengan vaksinasi atau imunisasi, Vaksinasi merupakan suatu cara memasukan virus mati atau virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia yang bertujuan dengan pemberian vaksin ini, sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat mengatasinya secara otomatis apabila suatu saat kita terinfeksi virus tersebut. Vaksinasi polio terdapat 2 jenis yaitu OPV (Oral Polio Vaccine) atau Imunisasi Polio Oral merupakan vaksinasi dari virus hidup yang sudah dilemahkan dan yang kedua adalah IPV (Injection Polio Vaccine) atau polio suntik yang menggunakan virus yang telah dimatikan atau dinonaktifkan dan diberikan dengan cara suntikan di lengan. Jadwal penyuntikan IPV ketika anak berusia 2 bulan, 4 bulan dan 6-18 bulan, sedangkan dosis penambah atau booster diberikan sejak anak berusia 6-8 tahun. Sedangkan OPV diberikan secara tetes di mulut anak sejak saat lahir, usia 2, 4, 6, 18 bulan.

    Sedangkan vaksinasi pada dewasa diberikan hanya kepada seseorang yang status vaksinasinya masih diragukan atau yang tidak pernah melakukan vaksinasi polio sama sekali sebelumnya dan apabila seseorang hendak mengunjungi negara dengan angka insiden polio tinggi. Vaksinasi polio dewasa diberikan dengan jarak waktu antara dosis pertama dan kedua, 4-8 bulan dan dosis ketiga, 6-12 bulan setelah pemberian dosis kedua.

    Reaksi yang mungkin timbul akibat penyuntikan vaksinasi polio sangat ringan berupa kemerahan di tempat suntikan, demam ringan, reaksi ini bersifat sementara, apabila anak demam setelah imunisasi, maka lakukan pengompresan pada dahi, lipat paha serta lipat ketiak anak serta diberikan obat penurun panas. Sedangkan reaksi yang dapat terjadi karena penyuntikan OPV mungkin diare tapi hal ini sangat jarang terjadi.

    Tidak semua anak dapat diimunisasi polio, misalnya anak sedang dalam kondisi demam atau tidak sehat, anak dengan riwayat alergi yang parah atau alergi terhadap obat tertentu, sebaiknya konsultasikan dahulu ke dokter sebelum melakukan vaksinasi.

    Lalu, apakah yang terjadi bila kita menolak dilakukan imunisasi pada si kecil? Tentunya anak kita tidak terhindar dari risiko infeksi virus polio.Polio merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio yang terdapat di tenggorokan dan di dalam saluran pencernaan, polio sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf, pada pasien penderita polio dapat menimbulkan gejala kesulitan bernapas, kelumpuhan atau bahkan sampai terjadi kematian.

    Indonesia bersama dengan regional Asia Tenggara telah mendapatkan sertifikat negara bebas polio dari WHO (World Health Organization) berkat program pemerintah yang serius untuk membasmi kasus polio. saat ini, negara endemis polio sangat berkurang drastis yaitu dari 125 negara menjadi hanya 3 negara yaitu Nigeria, Pakistan dan Afganistan (data WHO tahun 2017).

    Penyakit polio disebabkan oleh virus polio, yang dapat terinfeksi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja atau kotoran yang mengandung virus polio, dari tetesan bersin atau batuk. Dalam tubuh manusia, virus ini menginfeksi tenggorokan sampai usus, bahkan sampai masuk ke aliran darah dan menyerang sistem saraf. Orang-orang yang berisiko terjangkit polio adalah anak-anak, wanita hamil, seseorang dengan imunitas rendah, serta seseorang yang tinggal dengan sanitasi yang buruk, misalnya belum ada toilet bersih di daerah tinggal serta sumber air minum yang buruk.

    Apabila seseorang sudah positif terjangkit virus polio, awalnya tidak disadari karena tidak menimbulkan gejala yang berat. Masing-masing polio mempunyai gejala yang berbeda, yaitu:

    POLIO NON-PARALISIS

    merupakan tipe polio yang tidak pernah mengalami kelumpuhan. Berikut ini gejala Polio Non-Paralisis:

    1. Demam lemah otot atau kaku, biasanya anggota gerak serta leher terasa sakit dan kaku.
    2. Muntah
    3. Demam
    4. Meningitis
    5. Sakit tenggorokan.
    6. Sakit kepala.

    Gejala umum Polio Non paralisis umumnya dapat berlangsunng antara 1-10 hari.

    POLIO PARALISIS

    Polio jenis paralisis merupakan polio yang paling parah, gejalanya hampir sama dengan gejala non paralisis yaitu pusing, sakit kepala, lemah otot, serta saluran pernapasan terganggu sampai kematian. Kelumpuhan pada polio jenis ini dapat terjadi hanya beberapa jam setelah infeksi virus polio. Polio paralisis dapat dibagi sesuai dengan bagian tubuh yang terjangkit misalnya batang otak, saraf tulang belakang ataupun campuran keduanya. Hal yang paling ditakuti dari polio tipe paralisis adalah kelumpuhan dari sistem pernapasan sehingga pernapasan menjadi terhambat atau bahkan tidak berfungsi sama sekali, hal ini diperlukan penanganan medis secara serius.

    Sindrom Pasca Polio

    Sindrom pasca polio biasanya terjadi pada pasien yang pernah mengalami riwayat polio, 30-40 tahun yang lalu. Gejala yang terjadi dapat ringan sampai berat. Berikut gejala yang mungkin timbul pada sindrom pasca polio:

    1. Mudah lelah
    2. Tidak kuat menahan suhu dingin
    3. Gangguan tidur
    4. Gangguan mood atau suasana hati, dapat jatuh ke dalam kondisi depresi.
    5. Kelainan bentuk anggota gerak, lemah pada anggota gerak dan nyeri.
    6. Gangguan daya ingat
    7. Kesulitan bernapas atau menelan.

    Apabila seseorang mengalami gejala di atas, untuk memastikan apakah benar terjangkit polio atau tidak, tentunya diperlukan berbagai tes untuk menegakkan diagnosis pasti. Mulai dari pemeriksaan fisik oleh dokter, pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah, tinja serta cairan serebrospinal.

    Sayangnya, belum ada pengobatan yang pasti untuk vaksin polio ini, hanya obat-obatan untuk menghilangkan gejala serta fisioterapi untuk mengurangi kekakuan anggota gerak. Oleh karena itu, pemerintah sangat menggalakkan untuk mengikuti program vaksinasi polio.

    Selain vaksinasi, berikut ini langkah untuk mencegah penyakit polio:

    1. Selalu biasakan cuci tangan sebelum makan.
    2. Tutup makanan agar tidak dihinggapi lalat.
    3. Gunakan air minum dari air bersih yang sudah dimasak.
    4. Virus polio menyebar dari sanitasi yang buruk, sehingga usahakan di lingkungan tempat tinggal sudah dibangun sarana MCK yang memadai, sehingga warganya tidak buang air besar di sungai.
    5. Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan masker atau sapu tangan apabila sedang batuk, pilek dan bersin.
    6. Makan makanan yang sehat.
    7. Istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh meningkat sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit.

    Nah, setelah membaca ulasan di atas, Moms tentunya sudah lebih mengetahui seputar penyebab polio dan lainnya bukan? Untuk informasi kesehatan lainnya, Moms bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Bahkan ada layanan vaksin polio ke rumah loh! Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Poliomyelitis [Internet]. World Health Organization. 2018 [cited 7 September 2018]. Available from: who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
    2. Ochmann S, Rosser M. Polio [Internet]. Our World in Data. 2017 [cited 7 September 2018]. Available from: ourworldindata.org/polio
    3. Semi Annual Status Report Polio July to December 2017 [Internet]. 3rd ed. Switzerland: Polio Global Eradication Initiative; 2018 [cited 5 September 2018]. Available from: polioeradication.org/wp-content/uploads/2018/05/who-polio-donor-report-july-december-2017-20180504.pdf
    4. Mehndiratta M, Mehndiratta P, Pande R. Poliomyelitis. The Neurohospitalist [Internet]. 2014 [cited 5 September 2018];4(4):223-229. Available from: Poliomyelitis Historical Facts, Epidemiology, and Current Challenges in Eradication.

     

    Read More
  • Penyakit polio adalah salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan seringkali mereka yang mengalami penyakit ini terlihat dari bentuk kakinya yang beda daripada orang normal – yaitu cenderung berbentuk O. Polio sendiri merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular antara satu orang ke orang lainnya, contohnya saja bisa […]

    Tujuan Imunisasi Polio yang Perlu Diketahui

    Penyakit polio adalah salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan seringkali mereka yang mengalami penyakit ini terlihat dari bentuk kakinya yang beda daripada orang normal – yaitu cenderung berbentuk O. Polio sendiri merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular antara satu orang ke orang lainnya, contohnya saja bisa melalui makanan, minuman, air liur, bahkan tinja. Lalu apa yang akan terjadi ketika virus polio menyerang seseorang?

    Ketika seseorang terserang polio, virus ini akan masuk melalui mulut dan menyerang usus yang tentunya akan menyebabkan infeksi. Polio yang terlambat ditangani akan menyebar ke bagian tubuh lainnya dan tentu saja akan menyerang pada bagian sistem syaraf pusat. Bagian syaraf yang terserang virus polio inilah yang akan menyebabkan bentuk kaki mereka berbeda bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Pastinya tidak ada yang mau hal ini terjadi pada diri mereka bukan? Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah polio?

    Imunisasi Polio

    Vaksinasi atau lebih sering dikenal dengan imunisasi polio adalah jawaban yang tepat untuk mencegah risiko anak mengalami polio sejak dini atau di kemudian hari. Vaksin polio sendiri terbuat dari virus polio yang sudah dilemahkan dan justru hal ini lah yang membuat tubuh kita menjadi kebal terhadap virus polio. Di Indonesia, vaksin polio yang sering diberikan adalah jenis vaksin OPV atau biasa dikenal dengan vaksin oral yang diberikan dengan cara diteteskan pada mulut. Vaksin polio perlu dilakukan beberapa kali dan vaksin pertama kali diberikan setelah anak lahir.

    Vaksinasi ini perlu diulangi ketika anak menginjak usia 2, 3, 4 dan dosis penguat usia18 bulan. Apakah vaksinasi ini perlu diulang ketika dewasa? Vaksinasi polio perlu diulangi terlebih ketika kita tidak mendapatkan vaksinasi ini ketika kecil. Tujuan dilakukannya vaksinasi polio ini adalah mencegah risiko mengalami penyakit ini terlebih ketika kita sedang bepergian ke tempat yang rawan akan kasus polio. Pekerja laboratorium ataupun petugas kesehatan yang sering berinteraksi langsung dengan orang yang mengalami penyakit polio tentu saja harus mendapatkan vaksinasi polio sebelumnya untuk menimilisir polio dapat menyerang mereka sewaktu-waktu.

    Pemberian Vaksinasi Polio

    Mempersiapkan kondisi anak sebelum vaksinasi polio dilakukan merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah beberapa reaksi yang mungkin timbul setelah vaksinasi dilakukan. Manfaat vaksinasi polio yang mencegah datangnya penyakit polio di kemudian hari adalah alasan utama masyarakat melakukan vaksinasi yang satu ini dan sebaiknya orang tua tidak menunda memberikan vaksinasi ini pada anak. Penunandaan pemberian vaksinasi merupakan pengecualian bagi anak yang sakit sedang atau parah karena jika dipaksakan maka dikhawatirkan akan timbul reaksi tertentu setelah vaksinasi dilakukan. Oleh sebab itulah sebaiknya kita menunggu hingga anak benar-benar sembuh.

    Pengecualian berikutnya juga berlaku untuk anak yang mengalami alergi terhadap polio suntik. Alergi ini disebabkan oleh berbagai kandungan yang terdapat pada vaksin polio, seperti polymyxin B, streptomycin, serta neomycin. Beberapa contoh reaksi yang dapat terjadi dari vaksinasi polio antara lain adalah anak mengalami demam beberapa jam setelah vaksinasi, kulit anak yang memerah bahkan bisa bengkak pada daerah sekitar suntikan, ataupun terjadi pengerasan kulit pada daerah sekitar suntikan. Kabar baiknya, kita bisa mengurangi efek samping ini dengan mengompres menggunakan air dingin atau dengan memberikan parasetamol. Reaksi ini biasanya berlangsung hanya selama 1 hingga 2 hari.

    Nah bagaimana? Pastinya sudah tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksinasi polio pada anak? So, tunggu apalagi untuk memberi jaminan kesehatan pada anak sejak dini?

    instal aplikasi prosehat

    Read More

Showing 1–10 of 37 results

WhatsApp Asisten Maya saja