Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Imunisasi

Showing 31–40 of 41 results

  • Seringkali orang tua tidak sadar kebiasaan kecil yang salah bisa menyebabkan masalah atau penyakit yang nantinya akan berdampak pada kondisi anak. Bukan tanpa sebab, ada beberapa penyakit atau kejadian yang berawal dari masalah serupa juga salah satunya adalah paru-paru basah. Siapa yang sangka bahwa hujan-hujanan atau tinggal di kondisi yang lembab atau gelap dan basah […]

    Pneumonia : Pembunuh Balita Utama di Dunia

    Seringkali orang tua tidak sadar kebiasaan kecil yang salah bisa menyebabkan masalah atau penyakit yang nantinya akan berdampak pada kondisi anak. Bukan tanpa sebab, ada beberapa penyakit atau kejadian yang berawal dari masalah serupa juga salah satunya adalah paru-paru basah. Siapa yang sangka bahwa hujan-hujanan atau tinggal di kondisi yang lembab atau gelap dan basah bisa mendatangkan penyakit.

    Penyakit yang biasanya menyerang paru ini disebut sebagai Pneumonia. Faktanya penyakit ini telah membunuh ratusan balita yang ada di dunia begitupun yang ada di Indonesia. Tentu hal ini tidak dapat dianggap sepele saja, untuk itu dalam artikel ini akan kita bahas secara gamblang mengenai pneumonia sebagai pembunuh balita utama di dunia.

    Apa itu pneumonia/paru-paru basah ?

    Pneumonia merupakan penyakit yang disebabkan infeksi pada satu atau kedua paru-paru anak. Jika kondisinya sehat oksigen akan masuk ketika bernafas dan bergerak melalui tabung pernafasan. Setelah itu oksigen masuk ke dalam darah melalui kantung udara di paru (alveoli).

    Jika anak terkena pneumonia, paru-paru tidak dapat melakukan pekerjaan seperti biasa, dimana ada cairan atau lendir yang menghalangi alveoli. Hal inilah yang menyebabkan oksigen sulit untuk masuk penuh ke dalam paru-paru. Tempat yang seharusnya dilewati darah akan sulit masuk akibat cairan atau lendir yang tidak mudah dibersihkan.

    Gejala pneumonia pada anak

    Setelah mengetahui apa itu penyakit pneumonia, selanjutnya adalah gejala yang dapat Sobat kenali khususnya pada anak. Semakin cepat maka akan semakin baik, karena gejala ini bisa menunjukan bahaya pada kondisi sistem pernafasan anak. Apa saja ?

    • Batuk berdahak dan cukup parah, tetapi jenis dahaknya berbeda yakni hijau dan terkadang bercampur dengan darah.
    • Demam yang cukup tinggi dan terjadi secara berkala
    • Sesak nafas, dimana ritme napas terjadi lebih cepat dan juga pendek
    • Nyeri pada dada yang ditambah dengan batuk sehingga semakin buruk pada anak. Tidak jarang karena kondisi ini menyebabkan berat badan anak turun dan anak merasa stress atau kelelahan. Pada balita seringkali disertai dengan menangis dan juga sakit pada
    • Detak jantung kencang dan parah.
    • Merasa lelah dan lemah disertai mual serta muntah
    • Mengi atau napas berbunyi.

    Tindakan medis terhadap pneumonia

    Lantas bagaimana jika anak menunjukan gejala bahwa anak mengalami pneumonia ? tentu ada beberapa tindakan yang bisa anda ambil. Jangan menyepelekan terutama jika gejala utama muncul seperti dahak hijau dan juga berdarah.

    • Konsultasikan ke dokter anak secara langsung, biasanya dokter akan memeriksa terlebih dahulu dan dianjurkan untuk melakukan rangkaian tes.
    • Dokter akan memastikan menggunakan X-Ray untuk melihat foto dada anak, gambaran pneumonia adalah spot berawan putih di paru-paru pada hasil foto.
    • Dokter akan menganalisa dari hasil tes karena pneumonia bisa terjadi karena berbagai faktor. Menentukan solusi yang tepat dan penanganan yang tepat harus sesuai dengan penyebabnya.
    • Pengobatan biasanya dilakukan dengan antibiotik, obat, serta menyemprotkan larutan air asin (saline) di bagian hidung anak juga dapat membantu mengencerkan lendirnya. Sehingga anak bisa bernafas dengan baik.

    Cara Mencegah Pneumonia pada Anak

    Mencegah lebih baik dibandingkan mengobati, rasanya kata-kata ini sudah banyak didengar oleh orang tua sekarang ini karena pneumonia dan penyakit sistem pernafasan seringkali menyerang anak-anak termasuk di Indonesia. Penyakit ini dapat menular lewat percikan ludah ketika penderita bersin maupun batuk yang dahaknya bisa mengandung bakteri. Termasuk saat anda mencuci atau menyentuh sapu tangan penderita. Selain dapat menular lewat udara, makan dan minum milik penderita juga harus dipisah karena bisa menularkan.

    Agara terhindar dari penyakit ini berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

    • Gizi yang cukup

    Ketika anak sedang dalam masa pertumbuhan, akan ada masanya dimana mereka sering tidak nafsu makan karena energi yang mereka gunakan lebih tinggi dan mobilitas mereka tinggi. Selain itu, anak juga rentan terkena penyakit karena sistem imun anak mudah sekali turun hanya karena makanan atau istirahat. Bayi dapat diberikan ASI yang maksimal di enam bulan pertama, yang artinya ibu juga yang memberikan ASI harus tahu seberapa banyak dan apa saja nutrisi yang mereka konsumsi. Cukupi kebutuhan nutrisi anak dengan memberikannya buah, sayuran, dan makanan bergizi lainnya.

    Cara selanjutnya adalah dengan imunisasi yang biasa disebut HiB atau Haemophilus influenzae tipe B. Dimana vaksin ini banyak diberikan pada anak untuk menghindari masalah lain seperti meningitis ataupun masalah lainnya. Imunisasi menjadi cara yang ampuh untuk mencegah Pneumonia yang bisa menyerang anak. Selain itu anak biasanya diberikan imunisasi lain yaitu vaksinasi Pneumokokus (PCV). Nah, anda bisa menerima vaksin yang sama dengan rekomendasi dokter dan juga konsultasi sebelumnya kepada dokter anak.

    • Kesehatan lingkungan

    Cara terakhir adalah menjaga kesehatan lingkungan, dimana saat makan dan juga kebersihan lingkungan anda harus mencuci dan membersihkan lingkungan tempat tinggal atau tempat tidur Sobat. Selain itu jauhkan dari asap rokok dan polusi udara yang memungkinkan anak terpapar atau bahkan menghisapnya.

    Jangan biarkan pneumonia menyebabkan kondisi yang lebih serius, dimana anda harus bisa menajga kebersihan. Khususnya kondisi untuk tidur yang lembab dan basah bisa menimbulkan pneumonia berat pada anak.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Pilek. Siapa sih di antara kita yang sering mengalami penyakit ini? Kapan sih terakhir kalian terserang pilek? Pilek merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang kita sewaktu-waktu bahkan sudah dikenal sebagai penyakit yang tidak berbahaya dan dapat sembuh tanpa resep dokter – bahkan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, apakah benar pilek tidak berbahaya seperti yang […]

    Cara Mencegah Pilek pada Anak

    Pilek. Siapa sih di antara kita yang sering mengalami penyakit ini? Kapan sih terakhir kalian terserang pilek? Pilek merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang kita sewaktu-waktu bahkan sudah dikenal sebagai penyakit yang tidak berbahaya dan dapat sembuh tanpa resep dokter – bahkan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, apakah benar pilek tidak berbahaya seperti yang kita pikir selama ini? Siapa sebenarnya yang rentan untuk terserang pilek?

    Pada penderita pilek, masa inkubasi virus biasanya berlangsung selama 2 hingga 3 hari dan gejala penyakit ini justru muncul setelah masa inkubasi selesai. Pliek merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, alias bisa menyerang dari mereka yang masih balita hingga yang sudah berusia paruh baya bahkan berusia lanjut. Lalu siapa yang paling rentan terserang virus pilek?

    Seperti berbagai penyakit lainnya, tentu saja penyakit pilek sangat mudah untuk menyerang mereka yang berdaya tahan tubuh lemah. Balita cenderung lebih menderita ketika terserang pilek karena daya tahan tubuh mereka lemah dan penyakit pilek ini cenderung lebih lama daripada golongan usia lainnya, yaitu dengan rentang waktu 10 hingga 14 hari. Hal ini cukup berbeda ketika anak sudah menginjak usia lebih besar, di mana penyakit pilek ini hanya berlangsung dalam kurun waktu 7 hingga 10 hari.

    Kok bisa? Tentu saja jawabannya karena daya tahan tubuh kita yang semakin kuat dari hari ke hari. Anak-anak diperkirakan bisa mengalami penyakit ini sebanyak 8 hingga 12 kali dalam setahun sedangkan orang dewasa hanya 2 hingga 4 kali. Perbedaan yang cukup mencolok bukan?

    Pilek cenderung muncul hanya dalam bulan-bulan tertentu, lebih tepatnya ketika dalam masa pergantian antara musim kemarau ke musim penghujan – lebih tepatnya terjadi antara bulan Oktober hingga Februari. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir terserang virus pilek ini? Apa yang menandakan kita atau anak sedang terserang virus pilek? Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai gejala pilek serta upaya mencegah terjangkit virus pilek yang pastinya praktis untuk dilakukan. Daripada semakin penasaran, yuk kita simak penjelasan yang satu ini!

    Gejala Pilek Anak

    Meskipun pilek bukan suatu penyakit berbahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang, tentu saja kita sebaiknya segera menanganinya ketika muncul beberapa gejala pilek agar penyakit ini tidak bertambah parah dari waktu ke waktu. Berikut adalah beberapa gejala pilek awal yang mudah dikenali pada anak:

    1. Anak mengalami kelelahan yang berlebih atau lebih cepat lelah daripada sebelumnya meskipun melakukan aktivitas yang sama. Kelelahan ini juga disertai dengan terjadinya gangguan pada sistem pernafasan anak seperti tidak berhenti bersin ataupun batuk kering;
    2. Anak mengalami demam. Demam yang dialami oleh anak pun tidak biasa, alias anak tiba-tiba mengalami demam bahkan bisa berlangsung selama beberapa hari. Demam yang dimaksud di sini pun tidak main-main alias bisa mencapai 38,3 derajat celcius dan apabila tidak segera ditangani tentu saja dapat menyebabkan kejang. Parahnya lagi, anak yang mengalami pilek dan berusia di atas 6 bulan suhunya dapat mencapai hingga 39,3 derajat ataupun lebih.
    3. Nafsu makan anak menurun. Hal ini tentu saja disebabkan kondisi tubuh anak yang tidak enak bahkan untuk menelan saja terasa sakit yang membuat anak enggan untuk makan, meskipun hanya mengemil atau biasanya nafsu makan anak besar. Bukan saja hanya nafsu makan menurun, anak juga bisa mengalami muntah ataupun diare ketika penanganan pilek terlambat.
    4. Anak mengalami gangguan pernafasan. Meskipun kita sudah tahu jika virus pilek menyerang saluran pernafasan, gejalanya akan terlihat sebagai gejala awal pilek di mana nafas anak akan menjadi pendek-pendek atau justru nafas anak menjadi sangat cepat dan tidak terkendali. Timbulnya gejala yang satu ini biasanya juga disertai dengan anak mengeluhkan timbulnya rasa nyeri pada bagian telinga.

    Cara Mencegah Pilek Pada Anak

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah paham, kan mengenai apa saja gejala pilek anak yang harus kita waspadai dan segera kita lakukan penanganan agar penyakit ini tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Lalu apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah datangnya virus ini ke anak? Tentu saja ada! Wah apa saja ya kira-kira cara mencegah pilek pada anak yang mudah untuk dilakukan? Nah daripada semakin penasaran, yuk kita simak penjelasannya yang satu ini!

    1. Mencuci tangan

    Meskipun kelihatannya hal ini sepele, mencuci tangan merupakan hal yang efektif untuk dilakukan untuk mencegah anak terjangkit virus pilek. Tentu saja mencuci tangan yang dimaksud di sini pun bukan sembarangan alias kita perlu melakukan teknik cuci tangan yang tepat agar kuman dan bakteri dapat mati. Teknk cuci tangan yang dimaksud di sini pun mudah dilakukan , yaitu mencuci kedua tangan dengan sabun setidaknya selama 15 detik kemudian dibilas dengan air hingga bersih.

    2. Menjauhkan anak dari orang sakit

    Cara ini juga mudah untuk dilakukan sekaligus efektif untuk meminimalisir anak terserang penyakit. Seperti yang kita tahu pula, daya tahan tubuh anak belum sebagus orang dewasa sehingga sebaiknya kita menjauhkan anak dari orang lain yang sedang mengalami penyakit tertentu; setidaknya 6 meter agar kesehatan anak tetap terjaga. Hal ini juga bisa kita terapkan di rumah, di mana ketika ada anggota keluarga lainnya yang sakit sebaiknya anak tidak berada di satu ruangan dengan mereka.

    3. Vaksinasi Flu

    Seperti layaknya penyakit berbahaya lainnya, kita juga bisa memberikan vaksin flu pada anak sehingga daya tahan tubuh anak semakin kuat dan pastinya anak semakin kebal terhadap virus flu ataupun pilek. Vaksin flu bisa kita berikan sejak anak menginjak usia 6 bulan dan bisa kita berikan secara berkala alias setiap tahun yang berfungsi sebagai penguat (booster). Vaksin pilek bisa diberikan dalam dua bentuk, yaitu suntikan ataupun semprotan di mana vaksin ini diberikan dengan cara disemprotkan ke dalam lubang hidung atau biasa kita kenal dengan “flu mist”. Flu mist sendiri bisa diberikan pada anak yang sudah berusia 2 tahun dan juga bisa diberikan pada kita yang sudah tidak muda lagi – lebih tepatnya vaksin ini tetap bisa bekerja dengan efektif untuk mereka yang sudah menginjak usia 49 tahun.

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai pilek – lebih tepatnya bagaimana pilek menyerang anak dan gejala apa yang biasanya muncul. Mengetahui bagaimana cara mencegah anak terserang virus pilek juga merupakan hal penting supaya anak selalu dalam kondisi fit dan pastinya bisa riang gembira sepanjang hari. Bukan suatu hal yang sulit untuk dilakukan bukan untuk mencegah anak terserang pilek?

    Buat sobat yang ingin melakukan vaksinasi tapi tak sempat maka bisa mencoba salah satu layanan imunisasi flu dari prosehat. Prosehat memberikan layanan vaksinasi lengkap datang ke rumah. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/8-jurus-ampuh-cegah-flu
    Read More
  • Siapa sih di antara kalian yang sudah mengenal penyakit ini? Atau siapa di antara kalian yang sama sekali belum kenal dengan penyakit paru-paru ini? Radang paru, atau yang biasa kita kenal dengan pneumonia adalah salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian sewaktu-waktu bila penanganannya terlambat. Penyakit berbahaya yang satu ini merupakan suatu infeksi pada […]

    Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Siapa sih di antara kalian yang sudah mengenal penyakit ini? Atau siapa di antara kalian yang sama sekali belum kenal dengan penyakit paru-paru ini? Radang paru, atau yang biasa kita kenal dengan pneumonia adalah salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian sewaktu-waktu bila penanganannya terlambat. Penyakit berbahaya yang satu ini merupakan suatu infeksi pada jaringan paru-paru dan penyebabnya sendiri bermacam-macam. Ketika seseorang mengalami pneumonia, kantong udara di paru (alveoli) akan terisi cairan karena infeksi, sehingga kemampuan paru-paru untuk menampung oksigen berkurang.

    Memangnya seberapa sering sih kasus pneumonia ini terjadi? Pneumonia merupakan salah satu penyakit yang tidak asing lagi di dunia kedokteran dan menyerang 450 juta orang tiap tahunnya, 150 juta di antaranya adalah anak-anak. Kasus pneumonia ini jauh lebih tinggi daripada kasus AIDS, malaria, ataupun campak yang terjadi di seluruh dunia. Kenapa pneumonia ini banyak terjadi pada anak-anak? Jawabannya tentu saja karena anak-anak belum memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan mudah ditularkan pada lingkungan yang tidak bersih alias kotor; sehingga tidak heran jika kita banyak menemukan kasus pneumonia pada negara berkembang ataupun pada keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah.

    Namun, apakah hanya anak-anak saja yang rentan terhadap radang paru-paru? Sayangnya, pneumonia ini merupakan penyakit membahayakan yang bisa menyerang siapa saja dan di mana saja tanpa pandang bulu – alias bisa menyerang anak-anak hingga lansia. Yup, pneumonia juga merupakan salah satu penyakit yang tidak asing lagi bagi lansia – khususnya bagi orang tua yang sudah menderita penyakit tertentu seperti sudah mengalami penyakit diabetes, ginjal, ataupun HIV/AIDS. Lalu, bagaimana dengan kita yang berada dalam usia produktif? Apakah kita juga rentan terserang penyakit radang paru-paru?

    Kabar baiknya, kasus pneumonia jarang terjadi pada kita yang berada di usia produktif. Meskipun kasus ini jarang terjadi pada anak muda, bukan berarti kita sama sekali terbebas dari penyakit ini karena infeksi paru-paru bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa kita prediksi sebelumnya. Kasus pneumonia sering luput dari pengawasan orang tua ketika terjadi pada anaknya karena sering kali orang tua menganggap jika anaknya hanya mengalami batuk pilek biasa dan akan sembuh dengan sendirinya dalam hitungan hari – di mana pada kasus pneumonia gejala akan hilang dalam waktu beberapa minggu. Lalu, sebenarnya apa saja gejala dari penyakit radang paru-paru ini?

    Gejala Pneumonia

    Pengetahuan terhadap gejala suatu penyakit sangatlah penting karena kita perlu segera melakukan penanganan terhadap penyakit yang kita miliki dan tentu saja untuk meminimalisir penyakit ini akan menyebar ke bagian tubuh lainnya – dan membuat tubuh kita semakin tidak berdaya. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas beberapa gejala pneumonia agar penanganan yang diberikan tidak terlambat. Ketika kita rasa beberapa gejala awal pneumonia muncul pada diri kiita ataupun orang terdekat, sebaiknya kita segera melakukan pemeriksaan medis selanjutnya alias melakukan pemeriksaan sinar X serta tes darah untuk memastikan betul apakah kita mengalami radang paru-paru. Nah berikut adalah beberapa gejala awal pneumonia yang harus kita ketahui:

    1. Batuk disertai dahak

    Batuk disertai dahak adalah gejala pertama dari pneumonia yang sering kali muncul bagi kita yang paru-parunya sudah terinfeksi. Sering kali lendir yang muncul pada batuk berdahak ini bewarna kekuningan atau kehijauan yang menandakan ada yang tidak beres pada organ dalam kita sehingga menyebabkan kerja paru-paru terganggu. Bukan suatu hal yang mengherankan lagi jika dahak terkadang dapat disertai dengan darah apabila kerusakan pada paru-paru sudah termasuk dalam level yang parah.

    1. Nyeri dada

    Nyeri dada merupakan gejala pneumonia berikutnya di mana gejala nyeri dada sendiri sering kali muncul pada berbagai penyakit berbahaya dan biasanya berujung pada kematian – atau memicu timbulnya penyakit berbahaya lainnya. Nyeri dada biasanya terjadi ketika kita sedang menarik udara ataupun bernapas dalam kondisi rileks. Nyeri dada biasanya akan mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan dalam bernafas atau irama nafas mereka yang menjadi tidak beraturan – lebih tepatnya menjadi sangat cepat ataupun menjadi pendek-pendek. Indikasi bersin yang terlalu sering ataupun tidak kunjung berhenti dalam jangka waktu tertentu juga bisa menjadi gejala dari pneumonia.

    1. Demam tinggi dan menggigil

    Gejala pneumonia berikutnya adalah demam tinggi yang terkadang disertai dengan menggigil. Akibat demam tinggi, denyut jantung menjadi lebih cepat dari biasanya disertai adanya rasa nyeri pada dada pasien pneumonia. Radang paru-paru sendiri mengakibatkan paru-paru tidak mampu menampung oksigen sebanyak sebelumnya dan hal ini justru menyebabkan jantung bekerja lebih ekstra daripada ketika kondisi tubuh kita normal. Seramnya lagi ketika radang paru-paru ini tidak segera ditangani alias penanganan yang diberikan terlambat maka dapat menyebabkan kematian sewaktu-waktu.

    1. Mual dan muntah

    Gejala terakhir dari pneumonia berikutnya yang harus kita ketahui adalah mual dan muntah yang sering kali hal ini membuat pasien radang paru-paru menjadi lemas dan tidak bisa beraktivitas dengan optimal seperti ketika kondisi tubuh mereka sehat. Mual dan muntah disebabkan berkembangnya bakteri dan virus dalam tubuh dengan cepat yang tentu saja hal ini menyebabkan nafsu makan kita juga akan menurun drastis. Penurunan nafsu makan ini juga disebabkan karena kondisi tubuh yang kekurangan oksigen sehingga pasien pneumonia seringkali memerlukan infus selama perawatannya di rumah sakit agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi dengan baik.

    Pencegahan Pneumonia

    Setelah kita mengetahui berbagai gejala dari pneumonia, pastilah sebagian dari kita berpikir apakah penyakit radang paru-paru ini bisa dicegah. Kabar baiknya, kita bisa melakukan berbagai cara untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya ini pada anak atau orang tua kita lho! Wah yang benar nih? Memangnya apa saja yang bisa kita lakukan sebagai upaya pencegahan pneumonia? Berikut adalah beberapa upaya pencegahan pneumonia yang pastinya mudah untuk dilakukan:

    1. Menghentikan kebiasaan merokok

    Siapa sih di antara kita yang suka merokok? Berapa banyak rokok yang biasa kalian konsumsi dalam sehari? Seperti yang kita tahu, rokok merupakan kebiasaan buruk yang dapat memicu datangnya berbagai penyakit berbahaya pada diri kita. Kebiasaan merokok yang dilakukan tiap hari tentu saja akan memicu timbulnya pneumonia karena  disebabkan kandungan nikotin di dalamnya. Selain itu, kita harus menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol karena alkohol bukan saja hanya menganggu kinerja sistem saraf pusat tetapi juga dapat mengganggu kinerja paru-paru kita.

    1. Gaya hidup sehat

    Agar tidak gampang sakit, maka kita harus mempertahankan daya tahan tubuh seoptimal mungkin. Bila daya tahan tubuh kita baik, maka kuman atau viruspun “hanya lewat” saja dan tidak menginfeksi. Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah konsumsi makanan sehat, bergizi, dan seimbang, rutin melakukan olahraga, dan kelola stres agar tidak gampang sakit.

    1. Melakukan vaksinasi

    Pencegahan pneumonia terakhir yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan vaksinasi pneumonia secara rutin, di mana vaksin ini berfungsi untuk mencegah pneumonia pada pasien semakin parah. Vaksin pneumonia diberikan pada anak-anak di bawah 2 tahun dan lansia berusia 65 tahun ke atas, orang dewasa 19-64 tahun yang memiliki kondisi tertentu (penyakit kronis, HIV/AIDS, penurunan daya tahan tubuh, implant koklea dan perokok).

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai pneumonia. Pastinya sekarang sudah tahu kan bagaimana cara mengenali pneumonia dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencegah pneumonia datang menghantui hidup kita? Satu hal yang perlu kita ingat adalah untuk tetap menjaga pola hidup yang sehat agar kita terhindar dari berbagai penyakit mematikan, seperti halnya penyakit radang paru-paru yang satu ini. So, pastinya sekarang kita lebih memperhatikan kesehatan kita bukan?

    Untuk sobat prosehat yang mau vaksinasi namun tidak mau antri maka kamu bisa melakukan vaksinasi di prosehat. Prosehat memberikan layanan imunisasi pneumonia lengkap dan terjangkau. Yuk vaksinasi sekarang.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • docdoc.com/id/info/condition/pneumonia/
    • tribunnews.com/regional/2011/06/19/waspada-penyakit-radang-paru-paru
    • tanyadok.com/anak/pneumonia-pembunuh-utama-balita-di-dunia
    Read More
  • Liburan. Siapa sih yang tidak senang ketika mendengar kata ini? Kapan sih terkahir kali kalian liburan? Liburan adalah suatu hal yang dinanti-nantikan oleh semua orang karena  merupakan saat di mana kita terbebas dari semua kewajiban dan kita bisa menikmati hari-hari dengan bersantai. Bukan suatu hal yang baru pula jika liburan adalah suatu hal yang dinantikan […]

    Checklist Persiapan Kesehatan Agar Travelling Sukses

    Liburan. Siapa sih yang tidak senang ketika mendengar kata ini? Kapan sih terkahir kali kalian liburan? Liburan adalah suatu hal yang dinanti-nantikan oleh semua orang karena  merupakan saat di mana kita terbebas dari semua kewajiban dan kita bisa menikmati hari-hari dengan bersantai. Bukan suatu hal yang baru pula jika liburan adalah suatu hal yang dinantikan oleh semua orang dan tentu saja kita harus mempersiapkan banyak hal sebelum berangkat.

    Memangnya apa yang kita perlu siapkan sebelum berangkat liburan? Tentu saja banyak! Contohnya saja kita perlu mempersiapkan pakaian yang cukup dan lebih baik lagi jika kita menyiapkan pakaian lebih sebagai antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan – seperti pakaian yang tiba-tiba basah karena hujan ataupun insiden lainnya. Bukan hanya pakaian, kita juga perlu mempersiapkan biaya dengan baik sehingga kita tidak kehabisan uang ketika bepergian dan pastinya hal ini akan merepotkan kita nantinya.

    Apakah hanya hal ini saja yang perlu kita siapkan ketika akan pergi liburan? Tentu saja tidak! Ada satu hal lagi yang tidak boleh kita lupakan ketika akan pergi berlibur, yaitu persiapan kesehatan. Yup, melakukan persiapan kesehatan sama pentingnya kita dengan mempersiapkan pakaian dan biaya karena pastinya tidak ada yang mau jatuh sakit ketika pergi berlibur. Bila kita sakit saat ketika bepergian karena akan menyebabkan gagalnya beberapa hal yang sudah direncanakan sebelumnya.

    Lalu, apa saja persiapan kesehatan yang harus kita siapkan sebelum kita pergi berlibur? Apakah hanya melakukan cek kesehatan ke dokter sebelum beberapa hari keberangkatan sudah cukup? Apa yang perlu kita lakukan selama berlibur supaya tidak jatuh sakit? Nah pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa hal yang harus kita persiapkan dengan baik sebelum pergi berlibur dan kita bisa membuat checklist dari berbagai hal ini supaya kegiatan liburan kita berjalan dengan lancar. Daripada semakin penasaran mengenai apa saja yang harus kita persiapkan, yuk mending kita simak penjelasannya yang satu ini!

    1. Melakukan vaksinasi flu

    Seperti yang kita tahu, flu adalah salah satu penyakit yang sangat mudah menular dari satu orang ke orang lainnya dan bukan suatu hal yang baru pula jika flu adalah penyakit yang sering menyerang kita yang sedang pergi berlibur. Flu dapat menjadi penyakit yang mengganggu aktivitas liburan kita terlebih ketika kita tidak segera memberikan penanganan terhadap penyakit ini, salah-salah kita bisa harus berdiam diri di kamar hotel bahkan rumah sakit. Pastinya kita tidak ingin hal ini terjadi, bukan? Nah, untuk mencegah hal ini terjadi, kita bisa melakukan vaksinasi flu terlebih dahulu  yang bisa dilakukan setidaknya satu atau dua minggu sebelum perjalanan. Bentuk dari vaksin flu ini berupa suntikan yang akan disuntikkan pada lengan atas Sobat.

    1. Berkonsultasi dengan dokter

    Hal yang satu ini sangatlah disarankan mengingat kita tidak bisa bertemu dengan dokter yang biasa menangani kita selama liburan berlangsung. Berkonsultasi dengan dokter sebelum pergi liburan merupakan langkah cerdas karena kita bisa mengetahui obat apa saja yang aman untuk dikonsumsi ketika kita jatuh sakit dan pastinya sesuai tubuh kita masing-masing. Ceritakan riwayat kesehatan Sobat pada dokter karena tidak semua obat cocok untuk satu orang dengan orang lainnya.

    1. Menggunakan asuransi perjalanan wisata

    Apakah  kalian biasa menggunakan asuransi perjalanan wisata ketika berlibur ke suatu tempat? Jenis asuransi yang satu ini biasanya dipilih oleh seseorang ketika mereka bepergian dalam jarak jauh, contohnya saja ketika kita akan pergi berlibur ke luar negeri utnuk memiliki asuransi perjalanan wisata adalah hal yang sangat disarankan. Kenapa begitu? Tentu saja jawabannya karena memiliki asuransi memberikan keamanan tersendiri bagi kita sehingga sewaktu-waktu kita jatuh sakit, tidak perlu pusing lagi memikirkan biaya yang harus dikeluarkan. Asuransi perjalanan wisata ini bisa kita dapatkan dari agen travel liburan dan pastinya dibanderol dengan harga yang bervariasi dan bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan.

    1. Memperhatikan makanan yang kita konsumsi

    Yup, makanan adalah salah satu tujuan lain ketika kita pergi berlibur setelah kita mendapatkan pemandangan ataupun waktu bersantai yang kita inginkan. Bahkan, saat ini banyak dari kita yang pergi ke suatu tempat karena tertarik dengan makanan khas dari daerah tertentu dan bukan suatu hal yang mengherankan jika kita bisa menghabiskan banyak biaya untuk menikmati jenis makanan tertentu. Namun, apakah kalian memperhatikan kebersihan dari makanan yang dikonsumsi? Seringkali ketika kita kurang memperhatikan kebersihan dari makanan yang kita beli – dan ketika kebersihannya kurang terjaga maka kita bisa jatuh sakit. Sakit perut hingga diare bukanlah suatu hal yang baru ketika kita salah makan ketika berpergian. Bukan hanya saat berlibur saja kita perlu memperhatikan jenis makanan yang kita konsumsi, tapi setiap hari hendaklah kita menghindari konsumsi berbagai makanan yang dapat mengganggu sistem pencernaan kita

    1. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh

    Hal terakhir yang perlu kita masukkan dalam checklist persiapan kita sebelum berlibur adalah untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh setiap waktu. Yup, hal ini sangatlah penting untuk dilakukan mengingat ketika kebutuhan cairan kita tidak terpenuhi dalam sehari maka kita akan berisiko mengalami dehidrasi. Dehidrasi akan menjadi halangan untuk kita dalam mendapatkan liburan yang menyenangankan dan sebaliknya kita harus berdiam diri di kamar hotel ataupun rumah sakit hingga badan kita kembali fit. Pastinya kita tidak ingin hal ini terjadi bukan? Konsumsilah air putih dengan cukup dalam sehari, setidaknya 2 liter atau 8 gelas air putih.

    Nah, itu tadi adalah beberapa hal yang bisa kita masukkan dalam checklist persiapan kesehatan sebelum kita berlibur. Mempersiapkan kesehatan kita dengan baik adalah suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan terlebih ketika kita ingin kegiatan berlibur kita dapat berjalan dengan lancar. Pastinya sekarang sudah tidak bingung lagi, kan bagaimana cara untuk menjaga tubuh tetap fit selama liburan? So, kapan kalian akan berangkat liburan?

    Untuk sobat yang ingin melakukan vaksinasi flu dan tidak mau antri atau capek maka sobat bisa memesannya di prosehat. Berbagai layanan vaksinasi dan kebutuhan kesehatan kamu juga tersedia di Prosehat. Instal aplikasinya dan dapatkan berbagai kelebihan dari ProSehat. Ingat Sehat Ingat Prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Polio. Siapa sih di antara kita yang tidak asing dengan penyakit ini? Atau siapa sih di antara kita yang tidak mengenal penyakit ini? Penyakit polio merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena merupakan salah satu penyakit berbahaya dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Apakah penyakit berbahaya yang satu ini masih […]

    Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Polio. Siapa sih di antara kita yang tidak asing dengan penyakit ini? Atau siapa sih di antara kita yang tidak mengenal penyakit ini? Penyakit polio merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena merupakan salah satu penyakit berbahaya dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Apakah penyakit berbahaya yang satu ini masih sering ditemui di Indonesia? Jika iya, seberapa seringkah seseorang mengalami penyakit ini?

    Polio merupakan salah satu penyakit yang sangat sering menyerang balita bahkan juga bisa menyerang kita yang sudah tidak muda lagi. Seperti layaknya penyakit campak ataupun cacar, penyakit polio sangat mudah menyerang mereka yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang bagus. Data UNICEF menyatakan jika 20 tahun silam setidaknya 1.000 anak menjadi lumpuh karena penyakit ini. Dampak yang sangat mengerikan dari polio bukan? Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi penyakit polio?

    Dokter melakukan gerakan inovatif, lebih tepatnya Gerakan Pemberantasan Polio Global yang digalakkan sejak tahun 1988. Apakah gerakan ini berhasil? Kabar bahagianya, pada tahun 2004 hanya ditemukan 1.266 kasus polio di seluruh dunia berkat dilakukannya gerakan ini. Penurunan yang cukup drastis bukan? Lalu, bagaimana dengan kasus polio di Indonesia setelah dilakukannya gerakan ini? Apakah juga menurun layaknya di negara lain?

    Angka Polio Indonesia

    Apakah Gerakan Pemberantasan Polio Global juga memiliki pengaruh positif di Indonesia? Sayangnya kasus polio ini muncul kembali di Indonesia pada tahun 2005, di mana kasus ini terjadi pada anak berusia 20 bulan. Semenjak kasus ini terjadi, polio juga mulai bermunculan di berbagai daerah Indonesia lainnya – terlebih anak yang belum mendapatkan imunisasi polio. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara di peringkat ke 16 yang kembali terserang virus polio bahkan dikhawatirkan dapat menjadi pengekspor virus polio ke negara tetangga, bahkan Asia Timur. Lalu, apa upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini?

    Yup, bukan rahasia lagi jika virus polio adalah virus ganas yang dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya; baik cepat ataupun lambat. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang mampu mengatasi polio sehingga WHO (World Health Organization) menggalakkan program imunisasi polio dan hal ini juga dilakukan di Indonesia. Kabar baiknya, sejak tahun 2014 Indonesia sudah dinyatakan sebagai salah satu negara yang bebas polio seperti halnya beberapa negara di Asia Tenggara, Eropa, Pasifik Barat, juga Amerika Serikat. Sebemarnya bagaimana sih asal mula polio ini terjadi? Kapan kita tahu seseorang terjangkit virus mematikan yang satu ini?

    Diagnosis Polio

    Meskipun Indonesia sudah dinyatakan sebagai salah satu negara yang bebas polio, bukan berarti kita sudah 100 persen aman dari penyakit ini. Ketika seseorang terserang virus polio, cepat atau lambat virus ini akan menyerang sistem pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan sewaktu-waktu – terutama pada bagian kaki. Virus polio  merupakan salah satu virus yang cepat menyebar dari satu orang ke orang lainnya terutama melalui makanan ataupun minuman yang sudah terkontaminasi dengan tinja virus tersebut (fekal-oral). Seramnya lagi, virus polio juga bisa menyebar dengan cepat melalui udara atau lebih tepatnya ketika sesorang bersin ataupun batuk. Lalu, siapa saja yang rentan terserang virus polio?

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, virus polio sangatlah rentan menyerang kita yang tidak memiliki daya imun yang bagus. Namun, bukan hanya itu saja, virus polio juga mudah menyerang mereka yang bepergian ke suatu tempat yang masih rawan virus polio seperti beberapa negara di Afrika; misalnya saja Nigeria, Afganistan, ataupun Pakistan. Seseorang yang juga sudah melakukan operasi amandel juga lebih mudah mengalami penyakit polio karena daya tahan tubuh yang lebih rendah daripada orang lainnya. Kapan kita bisa mengetahui seseorang terjangkit polio? Gejala apakah yang biasanya muncul dari penyakit polio ini?

    Gejala Polio

    Apa saja, ya kira-kira gejala dari penyakit polio? Sebelum kita membahas apa saja gejala polio, ada baiknya kita mengetahui apa saja jenis dari penyakit polio. Wah, memangnya polio terdiri dari berbagai jenis ya?

    Penyakit polio sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, serta sindrom pasca-polio. Memangnya, apa sih perbedaan antara satu jenis polio dengan jenis polio lainnya? Nah, daripada semakin penasaran, yuk mending kita simak penjelasan yang satu ini!

    1. Polio non-paralisis

    Jenis penyakit polio yang pertama sering kali dikenal dengan poli non-paralisis. Jenis polio yang satu ini tidak berbahaya seperti jenis polio lainnya alias tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejala polio non-paralisis antara lain adalah radang selaput otak (meningitis) yang biasanya ditandai dengan kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Kemudian, gejala polio non-paralisis lainnya adalah merasa cepat lelah, sakit tenggorokan, demam, melemahnya otot serta rasa sakit pada bagian kaki, tangan, leher serta punggung.

    2. Polio paralisis

    Jenis polio berikutnya adalah jenis polio yang berbahaya karena dapat menyebabkan kelumpuhan sewaktu-waktu. Lalu bagaimana dengan gejala polio paralisis? Gejalanya sendiri sama dengan gejala polio non-paralisis dan biasanya berlangsung dalam rentang waktu satu pekan. Sedangkan kelumpuhan sendiri bisa terjadi sewaktu-waktu alias tanpa prediksi yang jelas, contohnya saja bisa terjad dalam hitungan jam setelah kita terinfeksi virus polio ataupun dalam hitungan hari.

    3. Sindrom pasca-polio

    Jenis polio terakhir biasa kita kenal dengan sindrom pasca-polio, terjadi pada seseorang yang mengalami polio sebelumnya dan muncul pada usia sudah dewasa – lebih tepatnya dalam rentang usia 30 hingga 40 tahun. Beberapa gejala yang menandakan kita mengalami sindrom pasca-polio adalah sebagai berikut:

    • Sulit berkonsentrasi atau bahkan mudah lupa;
    • Bagian persendian atau otot yang melemah atau sering terasa sakit;
    • Mengalami depresi atau suasana hati yang mudah berubah;
    • Kesulitan untuk tidur disertai dengan kesulitan bernafas;
    • Tidak kuat terhadap suhu dingin.

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai polio. Yup, polio adalah sebuah penyakit yang mudah untuk menular sehingga kita perlu rutin melakukan vaksin polio sehingga kita tidak terserang penyakit mematikan ini. Vaksin polio sendiri sudah bisa diberikan sejak balita, lebih tepatnya sejak anak lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan yang terakhir adalah ketika anak berusia 18 bulan sesuai dengan rekomendasi pemerintah. Lalu, bagaimana dengan kita yang tidak mendapatkan vaksin polio ketika kecil?

    Menariknya, kita yang sudah beranjak dewasa tetapi belum pernah mendapatkan vaksin polio sebelumnya juga bisa mendapatkan vaksin ini sebanyak tiga kali. Vaksin polio untuk orang dewasa bisa dilakukan sebanyak tiga kali, di mana rentang antara vaksin pertama dengan vaksin kedua adalah 1 hingga 2 bulan sedangkan dengan vaksin ke-tiga dengan rentang waktu antara 6 hingga 12 bulan. Tentu saja kita bisa mendapatkan vaksin ini pada pelayanan kesehatan terdekat sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk malas melakukan vaksin polio. Pastinya sekarang sudah tidak takut lagi dengan penyakit polio bukan?

    Untuk sobat yang tidak ingin antri melakukan vaksinasi maka bisa membeli vaksin polio di prosehat. Layanan vaksinasi datang ke rumah, aman dan terjangkau. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • https://www.tanyadok.com/anak/polio-tidak-hanya-menyerang-kaki-anda
    Read More
  • TB atau Tuberculosis merupakan penyakit yang tak asing lagi bagi kita karena telah menjadi masalah yang cukup besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis ini merupakan penyakit yang cukup sering terjadi pada anak-anak. Para orangtua pasti sangat khawatir akan bahaya penyakit TB. Namun hendaknya, sebelum […]

    Bahaya TB pada Anak yang Perlu Kamu Ketahui

    TB atau Tuberculosis merupakan penyakit yang tak asing lagi bagi kita karena telah menjadi masalah yang cukup besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis ini merupakan penyakit yang cukup sering terjadi pada anak-anak. Para orangtua pasti sangat khawatir akan bahaya penyakit TB. Namun hendaknya, sebelum membahas bahaya TB lebih lanjut, perlu diketahui beberapa hal penting mengenai penyakit ini.

    Bagaimana Penularan TB dan Faktor Resikonya?

    Anak biasanya tertular penyakit TB dari orang dewasa atau anak-anak yang mempunyai penyakit TB yang berkontak erat dengannya. TB menular melalui udara, yaitu apabila droplets atau dahak penderita ketika batuk atau bersin terhirup masuk ke saluran pernafasan anak.1 Namun, penularan TB ini tidak berlangsung dengan cepat. Anak dapat tertular TB apabila sistem kekebalan tubuhnya sedang menurun dan tinggal satu rumah dengan penderita TB selama 3 bulan atau lebih. Selain itu, anak yang lebih rentan adalah anak yang berusia kurang dari 5 tahun, menderita gizi buruk atau malnutrisi berat, maupun mengidap infeksi HIV.2 Diagnosa TB anak  ditegakkan bila penyakit TB terjadi pada anak usia 0-14 tahun.3

    Bagaimana Gejala TB?

    Gejala TB pada anak berbeda menurut umur. Anak-anak yang lebih kecil, di bawah 2 tahun, umumnya gejala muncul lebih cepat dan lebih berat dibanding anak yang lebih besar.4 Gejala pada anak pun berbeda jika dibandingkan dengan orang dewasa. Jika orang dewasa umumnya gejala yang utama adalah batuk lama atau batuk darah, pada anak-anak biasanya muncul demam dalam waktu lama yang tak kunjung sembuh. Berat badan anak juga sulit mengalami kenaikan, bahkan cenderung mengalami penurunan berat badan. Gejala lain yang tidak khas pada anak yang lebih besar adalah; lemah, letih, lesu, kurang aktif dalam bermain, keringat malam, kurang nafsu makan, diare yang berlangsung lama dan tak kunjung sembuh tanpa sebab yang jelas.5

    Bagaimana Diagnosis TB?

    Pada umumnya, penyakit TB didiagnosis apabila terdapat kuman pada sediaan tubuh seperti pada dahak, cairan otak (cairan serebrospinal), cairan pada lapisan paru (pleura), lambung, maupun biopsi jaringan.1 Namun, prosedur yang sulit dilakukan pada anak-anak dan jumlah  dahak yang kurang menyebabkan sulit untuk menemukan kuman penyebab TB. Oleh karena itu, di Indonesia umumnya digunakan sistem skoring TB untuk menegakkan diagnosis penyakit TB dengan informasi berupa; ada atau tidak kontak erat dengan penderita, uji Tuberkulin (Mantoux), gejala klinis, dan pemeriksaan rontgen paru.3

    Apa Bahaya TB pada Anak?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya Sobat, kuman TB dapat menular melalui udara dan paling banyak menyerang paru-paru. Namun, kuman ini juga dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh lainnya seperti usus, kulit, kelenjar getah bening, tulang, bahkan ke selaput otak.4 Sehingga, gejala lain yang muncul juga khas dari organ tubuh yang diserang, seperti kelainan pada kulit yang khas, pembesaran kelenjar getah bening, penonjolan tulang belakang, gangguan pada sistem saraf, dan  gejala khas lainnya. TB harus diobati dengan tuntas karena penyakit dapat berlanjut hingga menyebabkan kematian. Orangtua harus mengawasi pemberian obat TB pada anak hingga benar-benar sembuh.

    Adapun komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

    • TB miller

    TB milier adalah jenis dari TB yang berupa luka yang kecil (1-5mm) dan ditandai dengan penyebaran yang luas pada tubuh. Penamaannya ini dikarenakan ditemukan bercak kecil yang   menyebar di seluruh paru yang menyerupai biji millet, yang tampak pada gambaran rontgen. TB milier ini dapat menyerang berbagai organ tubuh diantaranya paru-paru, hati, dan limpa. Anak dengan TB milier mempunyai kemungkinan 20-40% terjadinya meningitis TB. Hal ini karena bakteri menyebar ke otak dan selaput otak (ruang subarachnoid).

    • Meningitis TB

    Meningitis atau peradangan pada selaput otak rentan terjadi pada bayi, anak-anak, dan dewasa muda. Meningitis TB merupakan peradangan selaput otak yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini merupakan kompikasi yang sering muncul pada TB paru yang tidak diobati dengan baik. Infeksi awalnya muncul di paru-paru, lalu menyebar melalui darah dan jaringan limfa ke bagian tubuh lainnya.6 Meningitis TB seringkali menyerang bayi dan anak kecil yang kekebalan alaminya masih rendah. Pengetahuan yang benar terutama kepada orangtua mengenai Meningitis TB dapat mengurangi angka kematian akibat  penyakit ini.

    • Efusi Pleura

    Efusi pleura merupakan penimbunan cairan di lapisan paru, (rongga pleura) yang biasanya terjadi karena penyakit lain, baik infeksi maupun bukan infeksi. Pada anak-anak, efusi pleura umumnya disebabkan karena infeksi, salah satunya adalah infeksi TB paru. Masalah yang paling sering dikeluhkan adalah sesak napas pada anak terutama bila terdapat cairan  yang banyak pada lapisan di paru tersebut.

    • Pneumotoraks

    Pneumotoraks merupakan terkumpulnya udara dalam lapisan paru (rongga pleura) yang terjadi akibat trauma pada dinding dada atau robekan pada jaringan paru. Pneumotoraks dapat terjadi sebagai bentuk komplikasi dari penyakit infeksi paru.

    • Bronkiektasis

    Bronkiektasis adalah kondisi dimana saluran bronkus dalam paru-paru mengalami  kerusakan, penebalan, dan pelebaran yang tidak hilang dengan sendirinya. Kerusakan ini memicu penyumbatan saluran udara dan infeksi berulang karena bakteri dan cairan lebih mudah terkumpul di dalam bronkus. Infeksi paru yang mengalami komplikasi yang tidak diobati dapat menyebabkan bronkiektasis, salah satunya yang disebabkan oleh kuman TB.

    • Atelektasis

    Atelektasis merupakan kondisi dimana satu bagian atau satu segmen paru tidak berfungsi dengan normal. Pada atelektasis, kantong-kantong udara (alveoli) paru mengempis, tidak bisa mengembang sehingga mengganggu pernapasan. Infeksi kronis dapat melukai dan mempersempit saluran pernapasan. Salah satunya penyebab infeksinya adalah TB. Anak-anak di bawah 3 tahun lebih rentan mengalami kelainan ini.

    Bagaimana Cara Pencegahan Penyakit TB?

    Bahaya yang disebabkan oleh penyakit TB pada anak ini cukup serius, sehingga hendaknya orangtua juga memperhatikan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya penyakit ini dari infeksi TB ke penyakit TB yang menimbulkan komplikasi yang lebih berat.

    Adapun hal yang dapat dilakukan adalah:

    • Edukasi yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran orangtua akan pentingnya deteksi dini dan terapinya agar dapat menghentikan penularan. Orangtua harus membantu mencari sumber penularan serta mengetahui jika masih ada kemungkinan transmisi kuman dan ada anak lain yang serumah yang mungkin juga tertular.2 Konsultasi dan komunikasi yang baik dengan dokter dapat membantu menemukan faktor penyebab munculnya penyakit dan bagaimana perjalanan penyakit tersebut agar dapat segera diterapi sebelum terjadi komplikasi yang membahayakan.
    • Vaksinasi BCG yang berasal dari kuman Mycobacterium Bovis yang dilemahkan. Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk mencegah terjadinya TB berat. Vaksin ini diberikan pada bayi usia 1-3 bulan, apabila bayi berusia lebih dari 3 bulan, pemberian vaksin harus didahului dengan uji Tuberkulin.
    • Untuk anak yang kontak erat dengan penderita TB diberikan terapi pencegahan dengan Isoniazid selama 6-12 bulan.

    Referensi :

    1. Pediatric Tuberculosis: Overview of Tuberculosis, TB Risk Factors, Mechanism of TB Infection. 2015 Aug 4. Available from: emedicine.medscape.com
    2. Rusliana A, Retno H, Martini, Ari U. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TB Paru pada Anak [Internet]. Available from: ejournal3.undip.ac.id
    3. TB Anak: TB Indonesia [Internet]. Available from: tbindonesia.or.id
    4. Tuberkulosis [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. Available from: idai.or.id
    5. Salah Kaprah Vlek pada Anak [Internet]. IDAI – Ikata Dokter Anak Indonesia. Available from: idai.or.id
    6. Behrman, Kliegman, Arvin, editor Prof. Dr. dr. A. Samik Wahab, Sp.A (K) et al: Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, edisi 15, buku 2, EGC 2008, hal 1028-1042.
    Read More
  • Daya tahan tubuh bayi dan anak-anak berusia di bawah 5 tahun, masih lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Mereka sangat rentan tertular penyakit. Salah satunya penyakit Tuberkulosis (TB). Penularan TB sangat mudah melalui udara, yaitu ketika penderita TB bersin, batuk, meludah atau berbicara, membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit ini ikut terbang dan mudah terhirup oleh […]

    Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Daya tahan tubuh bayi dan anak-anak berusia di bawah 5 tahun, masih lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Mereka sangat rentan tertular penyakit. Salah satunya penyakit Tuberkulosis (TB).

    Penularan TB sangat mudah melalui udara, yaitu ketika penderita TB bersin, batuk, meludah atau berbicara, membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit ini ikut terbang dan mudah terhirup oleh orang di sekitarnya, termasuk bayi Moms. Terlebih jika saat itu bayi berdekatan dengan penderita TB dalam ruangan tertutup dan berventilasi buruk, peluang untuk tertular, sangat besar.

    Pencegahan, tentu lebih baik daripada pengobatan. Itulah sebabnya, bayi perlu mendapatkan imunisasi BCG sejak usia dini. Suntik BCG seringkali menimbulkan bekas di kulit bayi, apakah itu aman? Berikut penjelasannya.

    Apa Itu Tuberkulosis?

    Sebelum membahas soal imunisasi BCG dan suntik BCG yang berbekas di kulit bayi, ada baiknya kita ketahui apa itu penyakit TB. Penyakit TB merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang bayi, anak-anak maupun dewasa.

    TB umumnya mempengaruhi paru-paru, tetapi dapat  juga menyebar ke organ lain dari tubuh, seperti kelenjar getah bening, tulang, sendi dan ginjal (TB milier). Pada keadaan lebih lanjut, penyakit TB yang serius dapat menyebabkan meningitis atau radang selaput otak (meningitis TB). Hal ini bisa sangat berbahaya sekaligus mematikan dan sering menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 3 tahun.

    Gejala TB pada Bayi dan Dewasa

    Penyakit TB masih menjadi permasalahan di dunia. Bahkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2017 mencatat ada sekitar 1.020.000 kasus penyakit TB di Indonesia. Namun, di antara sekian banyak jumlah tersebut, baru 420.000 kasus yang terlaporkan di Kementerian Kesehatan RI.

    Banyak orang tak tahu kalau dirinya terjangkit TB sebab gejalanya bisa pula ditemui pada penyakit lain. Berikut beberapa gejala yang biasanya terdapat pada penderita TB, yaitu:

    – Batuk. Pada tahap yang lebih lanjut, penderita mengalami batu berdahak berwarna abu-abu atau kuning yang bisa pula bercampur dengan darah
    – Adanya penurunan berat badan yang signifikan dan tak bisa dijelaskan
    – Kelelahan, demam, panas dingin hingga sesak napas
    – Turunnya nafsu makan

    Namun, bila bayi terkena TB, gejala yang ditimbulkan tidak sama dengan orang dewasa, Moms. Ia tidak mengalami batuk berdahak seperti kebanyakan penderita TB dewasa. Namun, beberapa gejala yang umumnya menyertai, antara lain:

    Demam berkepanjangan. Nah, ini juga kerap membingungkan orangtua. Kebanyakan Moms bahkan tidak sadar kalau bayinya terkena TB. Sebab, bayi akan alami demam atau panas yang hilang timbul selama 1 – 2 bulan. Suhu demam juga hanya berkisar 37,8°C – 38°C.

    Berat badan tidak naik selama 2 bulan berturut-turut. Kita tahu, kenaikan berat badan sangat penting bagi seorang bayi. Jika angka berat badan bayi Moms tidak merangkak naik selama 2 bulan berturut-turut, sepatutnya perlu waspada!

    Meskipun kedua tanda di atas bisa dijadikan patokan apakah bayi terkena TB atau tidak, sebaiknya bayi perlu dilakukan tes Mantoux atau uji tuberkulin agar hasilnya lebih akurat. Hal ini untuk menghindari terjadinya salah diagnosis maupun over-diagnosis. Sebab, berbeda pada orang dewasa yang bisa membuktikan infeksi TB dengan memeriksakan dahaknya di laboratorium, bayi tak mengeluarkan dahak saat batuk. Ini salah satu faktor yang menyebabkan diagnosis TB pada anak-anak lebih sulit.

    Vaksin BCG

    Mengingat bayi dan anak-anak lebih berisiko menderita infeksi TB berat sehingga bisa menimbulkan kesakitan dan kematian tinggi, maka imunisasi BCG pada bayi perlu diberikan sejak dini.

    Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin) adalah suntikan yang diberikan untuk melindungi tubuh dari infeksi TB yang parah. Vaksin ini terbuat dari bakteri Mycobacterium bovis yang dilemahkan. Bakteri ini yang paling mendekati kemiripan dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab penyakit TB.

    Vaksin BCG cukup diberikan 1 kali yang biasanya dilakukan pada bayi saat berusia 1 – 3 bulan. Namun, jika imunisasi BCG diberikan pada anak berusia lebih dari 3 bulan,  sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Perlu diketahui, pemberian vaksin BCG ini hanya efektif untuk mencegah infeksi TB yang lebih berat yaitu infeksi TB milier dan meningitis tetapi tidak untuk infeksi TB paru.

    Suntik BCG Aman untuk Bayi

    Adapun suntik BCG dilakukan secara intrakutan, yakni tepat di bawah kulit. Saat dilakukan penyuntikan, posisi jarum harus datar sehingga vaksin bisa masuk ke jaringan lemak di bawah kulit. Untuk lokasi penyuntikan vaksin BCG, biasanya dilakukan  di kulit lengan kiri bagian atas.

    Umumnya setelah bayi menerima suntik BCG, area terjadinya suntikan akan mengeras diikuti dengan kondisi kulit yang sedikit melepuh. Namun jangan khawatir ya, Moms, hal ini adalah reaksi yang normal (terjadi pada 9 dari 10 bayi).

    Lalu, dalam dua hingga enam minggu setelah penyuntikan,  akan timbul suatu titik kecil di tempat suntikan yang kemudian membesar atau membengkak seperti benjolan. Kulit bekas suntikan ini dapat terasa sakit dan memar selama beberapa hari, tapi pada akhirnya akan sembuh. Biasanya, bekas suntik BCG ini akan meninggalkan bekas luka kecil di kulit. Namun, Moms tak perlu risau berlebihan! Bekas luka suntik yang berbekas di kulit bayi ini, lama-lama juga akan menghilang dengan sendirinya seiring usia anak yang semakin besar.

    Namun, kadang-kadang, pada beberapa bayi mungkin terjadi reaksi kulit yang lebih parah, tetapi ini juga biasanya akan sembuh dalam beberapa minggu. Tapi jika Moms menduga bahwa reaksi kulit bayi Anda tidak normal atau mungkin mengalami  infeksi,  jangan ragu dan sungkan untuk menanyakan langsung pada dokter Anda.

    Selain itu, efek samping seperti reaksi anafilaktik (reaksi alergi yang serius) setelah mendapatkan vaksin BCG, sangat jarang terjadi. Mungkin ini hanya terjadi pada satu dari sejuta kasus. Jadi, tak perlu khawatir ya, Moms. Suntik BCG aman diberikan pada bayi selama hal tersebut dilakukan oleh ahlinya.

    Nah, jika bayi Moms ingin diberikan vaksin BCG, tak perlu repot mencari informasinya. Anda hanya perlu mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut mengenai vaksinasi BCG, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. BCG vaccine | medicine [Internet]. Encyclopedia Britannica. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: britannica.com
    2. BCG Vaccine: Information for Parents – English version | HealthEd [Internet]. Healthed.govt.nz. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: healthed.govt.nz
    3. BCG Vaccine (TB vaccine) | Vaccine Knowledge [Internet]. Vk.ovg.ox.ac.uk. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: vk.ovg.ox.ac.uk
    4. Bukan Batuk Biasa, Waspadai TBC dengan 8 Gejala Khasnya [Internet]. liputan6.com. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: liputan6.com
    5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peduli TBC, Indonesia Sehat. 2018.[Internet]. Available at: depkes.go.id
    6. Ratnasari E. Waspada Tuberkulosis pada Anak [Internet]. gaya hidup. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: cnnindonesia.com
    7. Yolanda N. Skar BCG. 2016. [Internet]. Available at: idai.or.id
    8. BCG (TB) vaccine side effects [Internet]. nhs.uk. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: nhs.uk
    9. Media K. Usia Bayi Bukan Patokan Imunisasi – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2018 [cited 13 August 2018]. Available from: lifestyle.kompas.com
    Read More
  • Rubella merupakan salah satu penyakit yang ditakuti dimanapun dan juga kapanpun. Kasusnya yang merenggut jutaan manusia di masa lalu menjadi catatan kelam medis yang ada di dunia. Bahkan termasuk di Indonesia sendiri, rubella benar-benar ditakuti dan dihindari wabahnya. Pemerintah memberikan vaksin Rubella rutin kepada anak-anak dan juga siswa/i secara gratis dan beberapa vaksin lainnya. Vaksin […]

    Virus Rubella – Gejala, Resiko, Penyebab dan Pencegahannya

    Rubella merupakan salah satu penyakit yang ditakuti dimanapun dan juga kapanpun. Kasusnya yang merenggut jutaan manusia di masa lalu menjadi catatan kelam medis yang ada di dunia. Bahkan termasuk di Indonesia sendiri, rubella benar-benar ditakuti dan dihindari wabahnya.

    Pemerintah memberikan vaksin Rubella rutin kepada anak-anak dan juga siswa/i secara gratis dan beberapa vaksin lainnya. Vaksin berhasil mengurangi masalah atau kasus rubella hingga 95%. Indonesia terbebas dari masalah tersebut, meskipun masih ada beberapa daerah yang harus hidup dalam sanitasi yang buruk dan rentan terkena Rubella. Nah, berikut ini akan dibahas mengenai virus rubella dan serba-serbinya.

    Apa itu Virus Rubella

    Rubella biasa disebut juga sebagai campak jerman, dimana penyakit menular ini berasal dari virus yang bernama virus Rubella. Gejala yang ditimbulkan pertama kali yakni ruam disertai dengan masalah tubuh lainnya. Meskipun gejalanya hampir sama dengan demam berdarah tetapi rubella tidak menimbulkan demam tinggi hanya demam ringan saja.

    Mereka yang terserang rubella memang tidak separah terserang virus lainnya seperti polio. Rubella biasa terjadi pada anak dan remaja terutama untuk mereka yang belum mendapatkan vaksin. Walaupun begitu, tetap saja masih banyak masyarakat tidak mengenal apa itu rubella dan belum sadar seberapa penting vaksin rubella untuk tubuh.

    Jika berbicara soal penyerangan apakah virus rubella hanya bisa menyerang anak-anak ? maka jawabannya tidak. Hal ini karena virus dapat juga menyerang orang dewasa bahkan ibu hamil sekalipun, bahayannya pada ibu hamil rubella mempengaruhi perkembangan janin ketika di perut.

    Usia berapapun ibu hamil yang kemungkinan terserang rubella berpotensi mengalami cacat bawaan ataupun kematian janin. Kasus atau masalah ini dinamakan sebagai Sindroma Rubella Kongenital (CRS).  Menurut data WHO, dari semua kasus yang ada di dunia minimal 100.000 bayi di dunia lahir setiap tahunnya akibat CRS ini. jelas hal yang sebenarnya bisa dicegah menjadi polemik tersendiri bagi penderitanya.

    Gejala-gejala Rubella

    Beberapa kasus menjelaskan bahwa pasien anak-anak yang terjangkit rubella lebih ringan dibandingkan penderita dewasa. Namun, Sobat tetap tidak bisa menyepelekan gejala dari penyakit ini. Adapun gejala umum yang bisa dikenali jika ada pasien atau anak yang terjangkit virus rubella, yaitu :

    • Tanda atau gejala ini akan muncul 14-21 hari dari serangan, sehingga gejala tidak akan berhenti selama kurun waktu tersebut
    • Demam disertai dengan sakit kepala berkala dan sulit hilang meskipun sudah menggunakan obat generik atau obat biasa
    • Menurunnya nafsu makan
    • Mata merah dan adanya pembengkakan di bagian dekat telinga dan belakang kepala.
    • Adanya ruam yang muncul di wajah kemudian menyebar di bagian tangan dan kaki serta seluruh badan khususnya punggung. Ruam ini bisa berlangsung selama 1-3 hari setelah muncul demam.
    • Nyeri sendi yang berlebih khususnya pada

    Penyebab Rubella

    Jika berbicara soal penyebab maka sudah jelas penyebabnya adalah virus Rubella yang bertengger dan memperbanyak diri di dalam tubuh manusia khususnya anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Penyebab rubella memang tidak bisa ditebak dimana saja dan kapan saja, sehingga vaksin jelas memudahkan perlindungan yang sudah ada dalam tubuh anak-anak tanpa perlu khawatir membatasi gerak dan area mereka.

    Penyebab rubella juga bisa jadi kondisi anak yang tidak fit atau sedang tidak sehat, virus bersama dengan bakteri dan biasa disebut bakteriofage yang masuk kedalam tubuh, serta makanan yang kurang sehat menyebabkan penyakit rubella ini bisa masuk dalam tubuh.

    Metode Penanganan Rubella

    Rubella memang tidak membutuhkan penanganan khusus jika gejalanya masih ringan, pengobatan saja sudah cukup terutama Sobat yang tinggal cukup jauh dari rumah sakit atau klinik layaknya di daerah. Namun, jika Sobat memiliki kesempatan untuk ke dokter baiknya Sobat konsultasikan kondisi tubuh Sobat.

    Berikut ini ada beberapa tips mencegah rubella selain dari mendapatkan vaksin dari rumah sakit atua klinik :

    • Istirahatlah yang cukup dan berkualitas, jangan terganggu oleh smartphone atau gadget dan alat elektronik lainnya. Tidur yang berkualitas tentu akan membentuk sistem imun yang bagus juga.
    • Mengonsumsi air putih sebanyak mungkin agar bisa mencegah dehidrasi yang dialami
    • Mengurangi nyeri sendi sementara akibat rubella dengan antinyeri yang bisa menurunkan demam sekaligus.
    • Vaksinasi rutin

    Rubella dan Kematian

    Meskipun rubella masuk kedalam virus yang hampir sejenis dengan flu, tetapi bukan berarti virus ini tidak bisa menyebabkan kematian atau masalah serius yang bisa membahayakan. Jarang memang terjadi tetapi ada beberapa penyakit yang mengakibatkan komplikasi serius setelah terjangkit virus ini.

    Dalam satu dari 6.000 kasus, penyakit rubella yang menyerang manusia bisa menyebabkan radang otak. Selain itu satu dari 3000 kasus rubella yang menyerang dapat mempengaruhi pembekuan darah yang dilakukan tubuh. Masa inkubasi rubella adalah 14-21 hari, kebanyakan orang mengalami ruam antara 14-17 hari setelah paparan, sebaiknya dalam masa inkubasi tersebut Sobat mengistirahatkan tubuh dan membiarkan tubuh membaik.

    Tingkat kematian rubella memang tidak setinggi virus dan penyakit lainnya tetapi bukan berarti Sobat bisa bebas dari gangguan dan juga ancaman virus rubella. Penularannya cukup mudah yaitu dari udara, kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang terjangkit dan dimana tempat yang sanitasinya bersih. Segera lakukan vaksin yang akan mencegah terkena Rubella.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Imunisasi merupakan salah satu program pemerintah yang wajib diikuti oleh setiap anak untuk memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap penyakit yang berbahaya pada anak. Di Indonesia, terdapat imunisasi wajib dan imunisasi yang dianjurkan. Keduanya sebenarnya sama-sama penting, hanya saja imunisasi wajib dibiayai oleh pemerintah, sedangkan imunisasi yang dianjurkan boleh diikuti bagi mereka yang mampu. Imunisasi wajib […]

    Yuk Kenali dan Pahami Imunisasi WAJIB VS DIANJURKAN!

    Imunisasi merupakan salah satu program pemerintah yang wajib diikuti oleh setiap anak untuk memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap penyakit yang berbahaya pada anak. Di Indonesia, terdapat imunisasi wajib dan imunisasi yang dianjurkan. Keduanya sebenarnya sama-sama penting, hanya saja imunisasi wajib dibiayai oleh pemerintah, sedangkan imunisasi yang dianjurkan boleh diikuti bagi mereka yang mampu.

    Imunisasi wajib menjadi salah satu program pemerintah yang berisikan pemberian vaksin penyakit tertentu yang dianggap sangat diperlukan untuk perlindungan anak. Imunisasi wajib biasanya diberikan melalui fasilitas kesehatan pemerintah seperti puskesmas atau posyandu sehingga setiap anak, baik dari kalangan mampu dan tidak mampu mendapatkan perlindungan ini.

    Adapun beberapa imunisasi wajib yang disediakan secara gratis oleh pemerintah Indonesia adalah sebagai berikut:

    1. Hepatitis B

    hepatitis b

    Vaksin hepatitis B adalah vaksin yang diberikan untuk melindungi anak dari serangan penyakit hepatitis. Vaksin hepatitis B diberikan setelah bayi lahir, paling lambat setelah 12 jam kelahiran. Vaksin ini akan melindungi bayi terhindar dari hepatitis B yang ditularkan lewat ibunya. Bayi yang prematur juga wajib mendapatkan vaksin ini karena daya tahan tubuhnya jauh lebih lemah dibandingkan bayi pada umumnya.

    6. DPT-HB

    Vaksin ini mempunyai fungsi yang sama seperti vaksin DPT, yakni melindungi anak dari penyakit difteri, pertusis, dan tetanus, hanya saja terdapat perlindungan lainnya yakni perlindungan dari penyakit hepatitis B. Pemberian vaksin DPT-HB juga dilakukan sebanyak 3 kali, yakni 2, 3, dan 4 bulan.

     

    3. Campak

    Imunisasi wajib selanjutnya adalah vaksin campak. Vaksin campak diberikan sebanyak dua kali pada anak, yakni ketika umur 9 bulan dan penguatan pada usia 18 bulan dan 6-7 tahun. Vaksin campak kedua tidak diberikan bila anak sudah menerima suntikan MMR. Vaksin ini akan melindungi anak dari penyakit campak yang dapat menyebabkan demam tinggi, ruam pada tubuh, kebutaan, gangguan pendengaran, kerusakan otak, hingga kematian.

    4. Polio

    Imunisasi polio juga menjadi salah satu imunisasi wajib dari pemerintah Indonesia. Imunisasi polio diberikan untuk mencegah anak terkena penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Imunisasi polio diberikan ketika anak berusia 0, 2, 3, dan 4 bulan dengan cara diteteskan langsung ke dalam mulut dengan alat tetes khusus.

    5. DPT

    Vaksin DPT berfungsi untuk melindungi anak dari penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin ini diberikan sebanyak 6 kali ketika anak berusia 2, 3, dan 4 bulan dengan penguatan pada usia 18 bulan, 5 tahun. DTP 6 diberikan 10-12 tahun dalam bentuk Td/TdaP dan dapat dilakukan penguatan setiap 10 tahun.  Penyakit ini dapat menyebabkan demam tinggi, batuk kering yang cukup lama, dan diare parah.

     

    6. BCG

    Vaksin BCG diberikan hanya satu kali saja sebelum bayi berusia 3 bulan. Vaksin ini akan memberikan perlindungan dan pencegahan dari penyakit tuberkulosis. Bentuk vaksin yang kering menyebabkan bekas luka parut pada bagian tubuh yang disuntikkan.

    7. MR

    Pada mulanya, vaksin MR termasuk ke dalam jenis imunisasi yang dianjurkan. Namun seiring dengan perkembangan di dunia kesehatan, pemerintah Indonesia akhirnya memasukkan vaksin MR ke dalam imunisasi wajib. Saat ini, pemerintah sedang gencarnya mensosialisasikan imunisasi ini.

    Vaksin MR berfungsi untuk melindungi anak dari penyakit campak dan rubella. Penyakit campak dan rubella sangat mudah menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan demam tinggi, kebutaan, gangguan otak, hingga kematian. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 kali, yakni ketika anak berusia 15-18 bulan dan 5 tahun.

    Itulah beberapa imunisasi wajib yang disediakan oleh pemerintah. Sedangkan imunisasi yang dianjurkan dan bisa didapatkan di beberapa rumah sakit adalah sebagai berikut:

    1. HiB

    Vaksin HiB adalah vaksinyang berisikan Haemophilus Influenza Tipe B yang berfungsi untuk melindungi anak dari penyakit selaput radang otak. Vaksin ini diberikan pada anak ketika usia 2,3,4 bulan dengan penguatan pada usia 15-18 bulan.

    2. PCV

    Imunisasi yang dianjurkan selanjutnya adalah vaksin PCV. Vaksin ini diberikan agar anak terlindungi dari penyakit pneumokokus. Vaksin ini diberikan sejak anak berusia 2 bulan sebanyak 3 kali, yakni pada usia 2, 4, dan 6 bulan dan penguatan pada usia 12-15 bulan.

    3. Rotavirus

    Vaksin rotavirus berfungsi untuk melindungi anak dari diare parah yang biasanya berlangsung pada musim pancaroba. Vaksin rotavirus diberikan pada anak berusia 2 dan 4 bulan serta 6 bulan (bila vaksin yang diberikan berupa pentavalent).

    4. Varisela

    Vaksin vaerisela dianjurkan untuk diberikan pada anak sejak usia 1 tahun dan akan jauh lebih baik jika diberikan sebelum anak masuk sekolah. Vaksin ini akan melindungi anak dari penyakit cacar air.

    5. Influenza

    Imunisasi yang dianjurkan lainnya adalah vaksin influenza. Vaksin influenza akan memberikan perlindungan anak terhadap infeksi saluran pernapasan. Vaksin ini dapat diberikan pada anak sejak usia 6 bulan.

    6. Tifoid

    Vaksin tifoid berguna untuk melindungi anak dari demam tifus. Diberikan pada anak mulai usia 2 tahun dan diberikan vaksin ulang setiap 3 tahun.

    7. HPV

    Vaksin hpv berguna untuk melindungi sobat dari kanker serviks yang banyak menyerang wanita. Tentu pemberian vaksin ini efektif diberikan jika sebelum menikah.

    Itulah beberapa imunisasi yang dianjurkan untuk diberikan pada anak-anak. Meskipun beberapa imunisasi belum sepenuhnya diwajibkan dan dibiayai oleh pemerintah, mari kita dukung sepenuhnya program imunisasi pemerintah yang telah berjalan agar ke depannya pemerintah dapat lebih baik dalam memfasilitasi kesehatan bagi masyarakat Indonesia, terutama anak-anak.

    Read More
  • Orang tua menaruh perhatian besar terhadap anak-anak mereka, selain rasa kasih sayang yang dalam.  Mereka akan selalu mengawasi kondisi anak, terutama kesehatannya. Anak masih rentan terhadap penyakit di sekitar karena perkembangannya yang masih belum sempurna. Wabah difteri yang menyebabkan anak meninggal di Indonesia membuat orang tua menjadi khawatir  terhadap anak mereka. Isu ini membuat pemerintah […]

    Bagaimana Aturan Pemberian Vaksin Difteri pada Anak ?

    Orang tua menaruh perhatian besar terhadap anak-anak mereka, selain rasa kasih sayang yang dalam.  Mereka akan selalu mengawasi kondisi anak, terutama kesehatannya. Anak masih rentan terhadap penyakit di sekitar karena perkembangannya yang masih belum sempurna. Wabah difteri yang menyebabkan anak meninggal di Indonesia membuat orang tua menjadi khawatir  terhadap anak mereka.

    Isu ini membuat pemerintah cepat menangani wabah sebelum menyebar ke tempat anak-anak lainnya. Salah satu cara pemerintah dengan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI), yakni imunisasi difteri ulang yang dilakukan oleh tiga provinsi yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Sebelum mengenal regulasi dan juga aturan vaksinnya, yuk kita kenali dulu apa yang dimaksud dengan Difteri ?

    Difteri dan Serangannya

    Penyakit difteri merupakan infeksi yang termasuk ke dalam penyakit menular dan disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphtheriae. Difteri menular melalui cairan yang dikeluarkan oleh penderita saat bersin atau batuk serta kontak langsung dengan penderitanya. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa, terutama pada anak-anak yang belum diimunisasi.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin BCG Pada Anak

    Gejala-gejala Difteri

    Sobat harus waspada bila ada gejala di bawah ini, kemungkinan anak terkena  penyakit difteri:

    • Tenggorokan terasa gatal dan jika dilihat menggunakan senter seperti dilapisi selaput tebal berwarna abu
    • Radang tenggorokan disertai suara yang serak dan sulit berbicara
    • Adanya pembengkakan pada leher dan juga kelenjar
    • Kesulitan menelan bahkan hingga bernafas
    • Demam disertai menggigil
    • Batuk yang keras disertai dahak

    Produk Terkait: Jual Vaksin Difteri Lengkap dari Prosehat

    Kemudian, pada beberapa kasus, difteri diperparah dengan adanya infeksi yang menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung sampai sistem saraf. Tak hanya itu, kulit juga bisa menjadi bagian tubuh yang terserang bakteri ini dan akhirnya meracuni seluruh tubuh. Kondisi  lainnya dapat disertai dengan jantung berdebar dan juga perasaan tidak nyaman, khusus bagi anak-anak akan terus rewel karena rasa sakit pada tenggorokan dan tubuh mereka.

    Aturan Vaksin Difteri

    Agar terlindungi dari penyakit difteri, Sobat bisa langsung datang ke Puskesmas maupun sekolah khusus di 3 provinsi yang sudah disebutkan di atas untuk mendapatkan vaksin difteri. Namun, bila Sobat berada diluar 3 provinsi tersebut, Sobat dapat mendatangi rumah sakit atau puskesmas terdekat. Lalu, bagaimanakah aturan vaksin untuk anak ?

    • Berapa kali dilakukan?
      Anak harus mendapatkan imunisasi difteri minimal enam kali sampai usia 18 tahun. Biasanya vaksin tergabung dalam pemberian vaksinasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus).
    • Imuniasi 1 – 3 tiga kali imunisasi dilakukan ketika bayi, pada saat bayi berusia 2,3, dan 4 bulan.
    • Imunisasi 4 dilakukan satu tahun setelah mendapat imunisasi yang ketiga tepatnya saat bayi berusia 18 bulan. Jika belum maka selesaikan dulu 3 imunisasi awal.
    • Kemudian Sobat bisa melakukan imunisasi 5 tiga tahun setelah mendapat imunisasi keempat saat anak berusia 5 tahun.
    • Sobat bisa melakukan imunisasi 6 lima tahun setelah mendapat imunisasi kelima saat anak berusia 10-12 tahun.
    • Saat anak berusia 18 tahun dapat diberikan tambahan penguat imunisasi dan dapat diulang setiap 10 tahun.

    Catatan tambahan dimana Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau biasa disebut BIAS, vaksin akan diberikan di sekolah pada anak kelas I, II, dan V dan telah menjadi program sekolah. Sobat bisa memberikan pengajuan atau proposal kepada pemerintah dan menjadikan sekolah anak Sobat sebagai salah satu anggota penerima vaksin.

    Pertanyaan selanjutnya yang biasa muncul, apakah imunisasi harus dilakukan enam kali sesuai panduan ? maka jawaban pastinya adalah YA. Mengapa ?

    Kekebalan terhadap bakteri difteri akan turun 2-3 tahun setelah imunisasi ketiga saat bayi. Sehingga 3 vaksin ketika bayi hanya mencegah sementara saja. Imunisasi lengkap dibutuhkan sampai enamh kali pada anak-anak sehingga perbekalan mereka untuk melawan difteri tercukupi. Setelah dewasa, tubuh akan mencoba melawan bakteri  dengan kekebalan nutrisi yang lebih banyak. Sobat juga bisa membekali tubuh dengan olahraga dan makanan yang sehat serta bernutrisi.

    Baca Juga: Serba Serbi Suntik Difteri yang Perlu Kamu Ketahui

    Bagaimana jika Terlambat ?

    Bagiamana jika Sobat sebagai orang tua atau justru diri Sobat sendiri belum pernah mendapatkan vaksin difteri ? bagaimana jika memang sudah terlambat ?

    Bagi Sobat yang sudah dewasa, vaksin difteri memiliki aturannya sendiri termasuk dosis dan juga boosternya. Sobat dapat mendatangi rumah sakit terdekat, tetapi jika sudah berusia lanjut tidak akan bisa diberikan vaksin. Maksimal usia atau rentang usia hanya sampai 64 tahun itu pun melalui serangkaian tes, apakah memang sudah terjangkit difteri atau belum.

    Bagi anak-anak yang terlambat imunisasi DTP dapat dilakukan imunisasi kejaran yang diberikan dan tidak akan mengulang dari awal. Anak yang masih dibawah usia 7 tahun yang belum pernah melakukan imunisasi DTP ataupun tidak lengkap maka masih bisa diberikan  vaksin difteri dengan imunisasi kejaran sesuai anjuran dokter anak.

    Bagaimana dengan anak sudah memasuki usia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP ? terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan dan bisa berfungsi sama yaitu melindungi tubuh dari bakteri penyebab difteri. Kita sebagai orang tua tidak boleh  menyerah dalam  memberikan anak perlindungan agar sehat dan tidak berpotensi terserang penyakit difteri. Jangan lupa untuk memberikan imunisasi difteri pada anak Sobat agar tidak tertular penyakit yang berbahaya ini.

    Baca Juga: Kenali Dulu Apa Itu Ori Difteri

    Untuk yang tidak ingin terlambat mendapatkan layanan vaksinasi, pastikan kamu sudah menginstal aplikasi prosehat yang memberikan informasi seputar vaksinasi dan imunisasi. Prosehat memberikan layanan vaksinasi ke rumah loh jadi tidak perlu khawatir ketika tidak ada waktu untuk ke tempat layanan kesehatan. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Read More

Showing 31–40 of 41 results

Chat Asisten ProSehat aja