Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 1–10 of 191 results

  • Ditulis oleh : dr. Monica C Sahabat Sehat, baru-baru ini beberapa sekolah telah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Namun berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) per 20 September 2021 dari 46.500 sekolah, terdapat 2,8 % atau sekitar 1.296 sekolah yang melaporkan terjadinya klaster Covid-19.  Klaster Covid-19 Pada Tiap Tingkat Sekolah […]

    Baru Mulai Sekolah Tatap Muka, Ribuan Siswa Terinfeksi Covid

    Ditulis oleh : dr. Monica C

    Protokol Mencuci Tangan saat Sekolah Tatap Muka untuk Mencegah Terjadinya Klaster Covid

    Protokol Mencuci Tangan saat Sekolah Tatap Muka untuk Mencegah Terjadinya Klaster Covid

    Sahabat Sehat, baru-baru ini beberapa sekolah telah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Namun berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) per 20 September 2021 dari 46.500 sekolah, terdapat 2,8 % atau sekitar 1.296 sekolah yang melaporkan terjadinya klaster Covid-19. 

    Klaster Covid-19 Pada Tiap Tingkat Sekolah

    Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbud Ristek, Jumeri mengungkapkan bahwa klaster Covid-19 paling banyak terjadi pada tingkat sekolah dasar, yaitu mencapai 2,78 % dengan total guru dan tenaga kependidikan mencapai 3.174 orang terinfeksi Covid-19 dari total 581 klaster sekolah dasar. Sementara peserta didik yang positif Covid-19 mencapai 6.908 orang.

    Selanjutnya klaster Covid-19 di tingkat sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berjumlah 251 sekolah atau 1,91%. Adapun jumlah guru dan siswa PAUD yang terkonfirmasi Covid-19 masing-masing sebanyak 956 pendidik dan 2.006 peserta didik.

    Disusul klaster Covid-19 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mencapai 244 sekolah atau 3,42 %. Jumlah guru dan siswa SMP yang terinfeksi Covid-19 selama PTM terbatas masing-masing mencapai 1.482 orang guru dan 2.201 orang siswa.

    Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) ditemukan klaster penularan Covid-19 mencapai 109 sekolah atau 4,55 % dengan rincian 797 orang guru dan 1.934 orang siswa yang telah terkonfirmasi menderita Covid-19.

    Akankah Pembelajaran Tatap Muka Dihentikan?

    Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan menghentikan PTM terbatas meski ditemukan 1.000 lebih sekolah yang menjadi klaster penularan Covid-19.

    Namun Nadiem memastikan bahwa Kemendikbud Ristek akan tetap memonitor kasus penyebaran dan penularan Covid-19 di sekolah yang telah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Bagi sekolah yang menggelar PTM terbatas harus segera menutup kegiatan pembelajaran apabila ditemukan kasus Covid-19 di lingkungannya.

    Tips Si Kecil Tetap Sehat di Masa Pandemi Covid-19

    Agar Si Kecil tetap sehat di masa pandemi Covid-19, khususnya jika jika harus melakukan sekolah tatap muka, Sahabat Sehat sebaiknya memperhatikan berbagai hal berikut:

    Asupan Makanan

    Beri makanan bergizi seimbang, seperti buah, sayur, susu, maupun multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hindari memberikan makanan yang dapat menurunkan daya tahan tubuhnya seperti gorengan, dan makanan tinggi lemak.

    Atur Waktu Istirahat

    Pastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Tujuannya agar daya tahan tubuh meningkat dan Si Kecil terhindar karena kebal dari infeksi berbagai penyakit.

    Penggunaan Masker

    Mulai ajarkan Si Kecil menggunakan masker agar terbiasa saat memulai pembelajaran tatap muka. Pastikan dia memahami bagaimana menggunakan masker yang baik dan benar. Namun pastikan juga agar si kecil merasa nyaman selama menggunakan masker. Oleh sebab itu, pilihlah masker yang sesuai dengan ukuran si kecil.

    Imunisasi

    Si kecil tetap perlu diberikan imunisasi sesuai jadwal untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menghindari infeksi berbagai penyakit. Selain vaksin Covid-19, imunisasi seperti imunisasi flu sangat diperlukan saat sekolah tatap muka di masa pandemi.

    Terapkan Protokol Kesehatan dengan Ketat

    Terapkan protokol kesehatan sepulangnya Si Kecil dari sekolah, misalnya mengganti pakaian serta membersihkan tas dan peralatan lainnya yang digunakan selama di sekolah.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai angka kasus Covid-19 yang meningkat di klaster sekolah seiring dengan dimulainya pembelajaran tatap muka. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil, Sahabat Sehat dapat memberikan multivitamin maupun pelayanan imunisasi ke rumah dari Prosehat.

    Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik https://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Putra N. HEADLINE: 1.303 Sekolah Jadi Klaster Covid-19 Selama PTM Terbatas, Penanganannya? [Internet]. Indonesia : Liputan 6. 2021 [updated 2021 Sep 24; cited 2021 Sep 24].
    2. Sagita N. 1.296 Sekolah Catat Klaster Baru COVID-19, Siswa SD Paling Banyak Tertular [Internet]. Indonesia : Detik Health. 2021 [updated 2021 Sep 22; cited 2021 Sep 24].
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Saat ini anak kecil sudah boleh untuk naik kereta ataupun masuk dalam mall. Namun tentunya dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Ya, meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlaku dari 21 September hingga 4 Oktober, namun terdapat beberapa perubahan aturan dan beberapa kelonggaran. […]

    5 Syarat Agar Anak Kecil Boleh Naik Kereta dan Masuk Mall

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Syarat Anak Boleh Masuk Mall ataupun Naik Kereta Api

    Saat ini anak kecil sudah boleh untuk naik kereta ataupun masuk dalam mall. Namun tentunya dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Ya, meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlaku dari 21 September hingga 4 Oktober, namun terdapat beberapa perubahan aturan dan beberapa kelonggaran. Dengan demikian, tidak semua anak kecil boleh naik kereta ataupun masuk mall.

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan bahwa ada sejumlah perubahan dalam ketentuan perpanjangan PPKM 21 September hingga 4 Oktober ini. Kebijakan tersebut berkaitan dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No.43 tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, level 3, level 2 Coronavirus Disease 2019 di wilayah jawa-Bali.

    Syarat Agar Anak-Anak Boleh Naik Kereta dan Masuk Mall

    Jika pada aturan PPKM sebelum 21 September anak-anak tidak boleh naik kereta dan masuk mall, namun kini aturan tersebut sudah agak dilonggarkan. Anak kecil boleh masuk mall dan naik kereta asalkan memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:

    Berusia di Atas 12 Tahun

    Hanya mereka yang berusia di atas 12 tahun boleh menggunakan transportasi umum seperti kereta api. Begitu juga untuk masuk mall, hanya anak-anak berusia 12 tahun ke atas yang boleh masuk ke pusat perbelanjaan modern seperti mall.

    Untuk anak-anak berusia di bawah 12 tahun masih boleh masuk ke dalam pusat perbelanjaan namun dengan syarat harus didampingi oleh orang tua dan wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan ini bersifat uji coba dan bisa berubah sewaktu-waktu berdasarkan evaluasi dari pemerintah.

    Harus Sudah Vaksin Covid-19

    Berusia 12 tahun atau lebih saja tidak cukup. Masyarakat umum, terutama anak-anak wajib sudah divaksin minimal dosis pertama agar boleh naik kereta maupun masuk ke dalam mall. Hal yang menarik adalah bahwa jika belum divaksin karena memiliki riwayat penyakit (komorbid) atau karena baru saja sembuh dari Covid maka masih boleh masuk mall dengan syarat menunjukkan surat keterangan dari rumah sakit.

    Tambahan: Jika hendak naik kereta untuk perjalanan jauh, anak kecil wajib menyertakan juga hasil PCR/Swab Antigen dengan hasil negatif.

    Wajib Menggunakan Aplikasi Peduli Lindungi

    Setelah mendapatkan vaksin, pengunjung mall juga perlu mengunduh aplikasi Peduli Lindungi. Melalui aplikasi Peduli Lindungi, Sahabat Sehat akan mendapatkan sertifikat vaksin yang dapat digunakan saat memasuki kawasan mall. 

    Nantinya Sahabat Sehat akan diminta untuk melakukan scan QR code yang telah disediakan pengelola mall di area pintu masuk. Jika telah memenuhi semua persyaratan maka pengunjung diperbolehkan masuk mall. Jangan lupa untuk check-out kembali menggunakan aplikasi Peduli Lindungi saat meninggalkan mall.

    Mematuhi Protokol Kesehatan

    Agar diperbolehkan menggunakan transportasi kereta api, anak-anakpun harus tetap mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker dengan baik dan benar, serta menghindari kerumunan. Selain itu juga wajib duduk pada tempat yang sudah disediakan dengan memperhatikan jarak antar penumpang.

    Begitu juga untuk masuk mall. Wajib mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan yang mungkin terjadi di dalam mall.

    Mengikuti Aturan Pihak Mall dan KAI

    Kapasitas pengunjung mall saat ini masih dibatasi maksimal 50% dengan jam operasional mall yang buka hingga pukul 21.00 waktu setempat. Makan ditempat untuk restoran yang berada di dalam bangunan mall masih diperbolehkan dengan durasi 60 menit dengan kapasitas maksimum 50%. Walaupun anak-anak, persyaratan ini wajib dipatuhi.

    Sementara itu, PT KAI memiliki aturan bahwa penumpang harus menunjukkan NIK. Untuk anak-anak yang tidak memiliki NIK akan dimintai menunjukkan sertifikat vasin beserta dengan kartu vaksin. Selama di dalam kereta, anak-anak wajib mengikuti arahan dari petugas.

    Syarat Menonton Bioskop di Dalam Maall

    Kabar terbaru, bioskop pada wilayah PPKM level 2 dan 3 juga telah mendapat izin untuk kembali beroperasi dengan kapasitas pengunjung maksimum 50% dan menggunakan aplikasi Peduli Lindungi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

    Anak-anak boleh ikut menonton bioskop di dalam mall dengan syarat tetap menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan secara ketat selama di dalam mall. Namun sebaiknya anak-anak tetap mendapat pengawasan orang tua selama di dalam bioskop.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai informasi terkini perihal aturan PPKM periode 21 September hingga 4 Oktober 2021. Sejalan dengan pembaharuan kebijakan tersebut, Pemerintah terus menghimbau kepada masyarakat agar sekali lagi tidak terhanyut dengan euforia aturan baru PPKM terbaru.

    Jika Sahabat Sehat memerlukan pemeriksaan Covid-19 baik ke rumah maupun di Klinik Kasih, segera manfaatkan layanan Prosehat. Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Fatimah S. Jangan Lupa, Ini Syarat Masuk mall Terbaru di Masa PPKM [Internet]. Indonesia :  Detik Finance. 2021 [updated 2021 Sep 14; cited 2021 Sep 22].
    2. Anwar M. PPKM Diperpanjang, Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk mall [Internet]. Indonesia : Kompas. 2021 [updated 2021 Sep 20; cited 2021 Sep 22].
    3. Muhammad A. Simak Aturan Masuk mall dan Pusat Perbelanjaan Terbaru di Masa PPKM Level 3 [Internet]. 2021 [updated 2021 Sep 21; cited 2021 Sep 22]. Indonesia : SINDOnews.com.
    4. CNN Indonesia. Syarat Anak-anak Boleh ke mall di Era Pelonggaran PPKM [Internet]. Indonesia : CNN Indonesia. 2021 [updated 2021 Sep 21; cited 2021 Sep 22].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Cara mengatasi anak yang rewel dengan langsung memenuhi permintaannya hanya membuat dia jadi semakin manja. Juga semakin mudah tantrum. Oleh sebab itu, sebagai orang tua bukan hanya mendiamkan si kecil yang rewel, namun juga membuat si kecil menjadi pribadi yang tidak […]

    7 Cara Ampuh Mengatasi Anak yang Rewel dan Mudah Tantrum

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Cara Mengatasi Anak yang Rewel dengan Pendekatan Persuasif

    Cara mengatasi anak yang rewel dengan langsung memenuhi permintaannya hanya membuat dia jadi semakin manja. Juga semakin mudah tantrum. Oleh sebab itu, sebagai orang tua bukan hanya mendiamkan si kecil yang rewel, namun juga membuat si kecil menjadi pribadi yang tidak lagi rewel, lebih bertanggung jawab, dan jauh lebih mandiri.

    Bagaimana langkah yang benar dalam mengatasi perilaku si kecil yang mudah rewel? Apa yang harus dilakukan jika si kecil terus merengek, rewel, dan tantrum?

    Cara Mengatasi Anak yang Rewel

    Saat Si Kecil masih bayi, orang tua akan menganggap bila bayi rewel dan sering menangis merupakan hal yang sangat wajar karena bayi masih belum dapat mengekspresikan perasaan mereka selain dengan cara menangis.

    Namun Sahabat Sehat perlu mengetahui bahwa ternyata pola asuh yang kurang tepat turut menjadi penyebab Si Kecil menjadi mudah rewel atau cengeng. Anak yang terlalu dilindungi dan tidak diberikan kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri akan tumbuh menjadi pribadi yang cengeng. Selain itu, anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya dapat mengakibatkan kurang percaya diri dan mudah cengeng. Perasaan dan emosi Si Kecil kadang kala sulit ditebak.

    Penting sekali bagi Sahabat Sehat untuk  mengambil langkah yang tepat agar si kecil tidak lagi mudah rewel. Berikut ini beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah untuk mengatasi Si Kecil yang rewel:

    Buat Si Kecil Nyaman

    Pada usia anak 2-4 tahun, Si Kecil masih dalam tahap mengenal dan mempelajari emosi yang ada didalam dirinya. Terkadang Si Kecil tidak mengerti cara untuk mengungkapkan perasaannya sehingga mereka akan menangis atau rewel secara tiba-tiba. Berikan rasa hangat dan peluk Si Kecil agar merasa nyaman.

    Jangan Berteriak atau Membentak Si Kecil 

    Jika Si Kecil rewel, sebaiknya diam dan bersabar. Jangan membentak Si Kecil yang sedang marah atau menangis karena akan memperparah keadaan.4 Jika Sahabat Sehat berhasil mengendalikan emosi, nantinya Si Kecil akan meniru cara orang tua mengatasi emosi.

    Minta Si Kecil Menjelaskan Perasaannya

    Setelah Si Kecil tenang, secara perlahan mintalah Si Kecil menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Berikan pengertian bahwa saat meminta sesuatu atau merasakan sesuatu tidak perlu diucapkan dengan emosi atau menangis. Ajarkan Si Kecil untuk mengungkapkan emosinya secara perlahan.

    Mengalihkan Emosi

    Agar Si Kecil tidak merengek terus menerus, alihkan energinya dengan melakukan aktivitas lain misalnya berolahraga, menggambar, atau bernyanyi. Jika memungkinkan, gendong si kecil, dan goda dia dengan mengayun-ayunkan si kecil.

    Berikan Pujian Saat Si Kecil Tidak Menangis

    Setelah Si Kecil berhasil mengendalikan emosinya, berikan pujian atau ucapan terima kasih karena Si Kecil tidak rewel. Dengan adanya pujian ini, si kecil akan terbiasa untuk lebih mandiri karena dia merasa perilaku mandirinya akan lebih dihargai oleh orang tuanya.

    Ajak Si Kecil untuk Lebih Disiplin

    Biasanya malas menjadi kepribadian anak yang mudah rewel dan menangis. Hasilnya, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak disiplin. Oleh sebab itu, si kecil perlu diajarkan untuk hidup lebih disiplin. Misalnya sehabis bangun harus merapikan tempat tidurnya sendiri. Sebelum tidur harus menggosok gigi, dan harus berdoa sebelum serta setelah makan. Latihan-latihan kedisiplinan ringan ini akan membantu si kecil tidak lagi mudah rewel dan tantrum.

    Hindari Terlalu Memanjakan Si Kecil

    Sahabat Sehat tentu ingin agar si kecil menghentikan tangis ataupun tantrum yang sedang dia lakukan. Namun tentunya bukan dengan langsung mengalah dan memberikan apa mau si kecil. Ajarkan pada si kecil mengapa permintaannya tidak bisa dipenuhi saat ini, dan berikan syarat agar permintaannya bisa dipenuhi. Misal dia ingin memiliki sebuah boneka berukuran besar, Sahabat Sehat bisa menjanjikan memberi boneka tersebut dengan syarat si kecil rajin menggosok gigi sebelum tidur selama sebulan penuh.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips dan cara mengatasi anak yang rewel dan mudah tantrum. Pastikan agar si kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan semakin mandiri. Dengan demikian, akan menjadi bekalnya di masa dewasa nanti.

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. theAsianparent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : theAsianparent; [cited 23 August 2021].
    2. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    3. Herliafifah R. 7 Tips Jitu Mengatasi Anak Cengeng Tanpa Drama [Internet]. Indonesia : Hello Sehat; [cited 23 August 2021].
    4. The Times of India. How to deal with a cranky toddler [Internet]. India : The Times of India. 2019 [updated 2019 Dec 06; cited 23 August 2021].
    5. Trillium School. 8 Ways to Calm Down a Cranky Kid [Internet]. USA : Trillium School; [cited 23 August 2021].
    6. Banks C. Angry Child Outbursts: 10 Essential Rules for Dealing with an Angry Child [Internet]. USA : Empowering Parents; [cited 23 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Sebenarnya faktor risiko penyebab bayi kuning setelah lahir bisa terdeteksi sejak dini. Juga dapat dicegah dengan beberapa prosedur. Misalnya dengan memperhatikan kesehatan ibu hamil sehingga tidak sampai harus melahirkan dalam kondisi prematur. Atau dengan melakukan perencanaan kehamilan dengan matang ketika ibu memiliki rhesus negatif, sementara rhesus darah sang […]

    Penyebab Bayi Kuning Setelah Lahir dan Cara Mencegahnya

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Penumpukan Bilirubin pada Darah yang Menjadi Penyebab Bayi Kuning Setelah Lahir

    Sebenarnya faktor risiko penyebab bayi kuning setelah lahir bisa terdeteksi sejak dini. Juga dapat dicegah dengan beberapa prosedur. Misalnya dengan memperhatikan kesehatan ibu hamil sehingga tidak sampai harus melahirkan dalam kondisi prematur. Atau dengan melakukan perencanaan kehamilan dengan matang ketika ibu memiliki rhesus negatif, sementara rhesus darah sang suami adalah positif.

    Sahabat Sehat mungkin tidak asing dengan istilah “bayi kuning” yang kerap dialami bayi baru lahir. Neonatal jaundice atau yang biasa dikenal sebagai penyakit kuning pada bayi merupakan kondisi adanya perubahan warna kulit dan mata bayi yang terlihat kuning. Sahabat Sehat, apa penyebab kondisi ini dan bagaimana cara mencegahnya ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Bayi Kuning Setelah Lahir

    Neonatal jaundice terjadi akibat darah bayi mengandung zat bilirubin dalam jumlah yang berlebihan. Penyakit kuning pada bayi merupakan kondisi umum dialami terutama pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 38 minggu (bayi prematur), dan pada beberapa bayi yang diberikan susu formula.

    Penyakit biasanya terjadi karena hati bayi belum cukup matang untuk menyingkirkan bilirubin dalam aliran darah. Bayi beresiko tinggi menderita penyakit kuning, jika mengalami berbagai kondisi berikut :

    • Bayi lahir prematur, yaitu sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu
    • Bayi kurang minum asi maupun susu formula
    • Perdarahan pada saat proses bersalin
    • Gangguan hati
    • Infeksi dalam tubuh
    • Penyebab lain, seperti gangguan enzim dan abnormalitas sel darah merah
    • Rhesus darah ibu adalah negatif, sementara sang ayah adalah positif

    Gejala Bayi Kuning

    Sahabat Sehat dapat mendeteksi penyakit kuning dari kulit dan mata Si Kecil, yang mulai tampak pada hari ke 2-4 sejak dilahirkan. Warna kekuningan dapat mulai terlihat pada area wajah (biasanya kulit dan bagian putih mata bayi) dan kemudian meluas ke seluruh tubuh. Kadar bilirubin meningkat mulai pada hari ke 3-7 sejak dilahirkan.

    Urine bayi yang mengalami gejala bayi kuning biasanya berwarna kuning pekat. Untuk tinjanya akan berwarna lebih pucat. Selain itu, telapak tangan bayi dan telapak kakinya yang seharusnya putih kemerahan justru tampak berwarna kekuningan.

    Bayi yang mengalami bayi kuning setelah dilahirkan perlu mendapat pertolongan segera. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan bayi mengalami komplikasi serius seperti:

    • Kerusakan otak akibat penumpukan bilirubin (kernikterus)
    • Cerebral Palsy
    • dan Gangguan Pendengaran

    Tips Mencegah dan Mengatasi Penyakit Bayi Kuning

    Untuk mencegah bayi menderita penyakit kuning, Sahabat Sehat dianjurkan memberikan susu yang cukup sebanyak 8 hingga 12 kali per hari selama beberapa hari pertama kehidupannya agar tubuh tidak kekurangan cairan sehingga bilirubin dapat dikeluarkan dari tubuh. 

    Jangan lupa menjemur Si Kecil di bawah sinar matahari pagi karena dapat membantu menurunkan kadar bilirubin. Pantau kondisi Si Kecil secara berkala, dan konsultasikan dengan dokter jika kulit dan mata Si Kecil terlihat kuning. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab bayi kuning serta cara mengatasinya. Untuk mendeteksi penyakit kuning pada bayi, Sahabat Sehat dapat melakukan pemeriksaan darah yang meliputi pemeriksaan bilirubin, golongan darah, serta pemeriksaan darah lainnya. 

    Jika Sahabat Sehat berminat melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi ada tidaknya faktor risiko penyebab bayi kuning setelah lahir maka segera manfaatkan layanan Paket Pemeriksaan Bayi Kuning In Clinic yang dapat dilakukan di Prosehat. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Moores D. Understanding Newborn Jaundice [Internet]. USA : Healthline. 2017 [updated 2017 July 25; cited 2021 Sep 04].
    2. National Health Service. Newborn Jaundice [Internet]. UK : National Health Service. 2018 [updated 2018 Sep 04; cited 2021 Sep 04]. 
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Pada umumnya cara mengatasi muntaber pada anak adalah dengan memberikannya larutan oralit. Namun oralit saja sebenarnya belum cukup. Ada beberapa langkah lanjutan agar si kecil terhindar dari dehidrasi akibat muntaber dan bisa benar-benar sembuh. Selain memberikan si kecil larutan oralit, Sahabat […]

    Langkah Awal Cara Mengatasi Muntaber pada Anak di Rumah

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Penanganan Awal Cara Mengatasi Muntaber pada Anak

    Pada umumnya cara mengatasi muntaber pada anak adalah dengan memberikannya larutan oralit. Namun oralit saja sebenarnya belum cukup. Ada beberapa langkah lanjutan agar si kecil terhindar dari dehidrasi akibat muntaber dan bisa benar-benar sembuh.

    Selain memberikan si kecil larutan oralit, Sahabat Sehat juga perlu mengetahui apa penyebab si kecil mengalami muntaber. Dengan demikian, Sahabat Sehat dapat melakukan pencegahan agar masalah ini tidak kembali dialami si kecil.

    Penyebab Muntaber Pada Anak

    Muntaber atau dalam istilah medis disebut juga sebagai Gastroenteritis adalah suatu gangguan pencernaan berupa meradangnya selaput lendir saluran cerna yang ditandai dengan perubahan konsistensi feses menjadi lunak atau berair dan disertai lendir dengan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari, serta muntah.1

    Anak-anak, terutama pada usia dibawah 5 tahun rentan menderita muntaber daripada orang dewasa. Anak yang mengalami muntaber beresiko mengalami dehidrasi atau kehilangan cairan pada tubuh. Sahabat Sehat, bagaimana penyebab dan penanganan muntaber yang dialami Si Kecil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Berikut adalah berbagai penyebab muntaber yang perlu Sahabat Sehat ketahui :

    Infeksi Virus dan Bakteri

    Kebanyakan kasus muntaber diakibatkan karena infeksi pada saluran cerna baik infeksi virus (misalnya rotavirus dan norovirus) dan infeksi bakteri (misalnya E.coli dan Salmonella) serta infeksi parasit (misalnya Giardia dan Entamoeba).

    Keracunan Makanan

    Keracunan makanan turut dapat menyebabkan muntaber pada anak. Makanan yang sudah basi, atau makanan dengan kualitas yang buruk dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme yang menyebabkan muntaber.

    Traveler’s Diare

    Kondisi ini disebabkan karena makanan dan minuman tercemar kuman, biasanya terjadi pada seseorang yang baru saja bepergian ke tempat atau negara lain.

    Gejala  Keparahan Muntaber Pada Anak

    Muntaber ditandai dengan si kecil yang terus menerus muntah disertai dengan buang air besar. Kondisi ini memiliki tingkat keparahan. Beda tingkat keparahan tentunya akan beda juga pertolongan yang perlu dilakukan.

    Sahabat Sehat, berikut adalah skala untuk menentukan derajat keparahan bila Si Kecil muntah :

    • Gejala ringan : frekuensi muntah 1-2 kali dalam satu hari.
    • Gejala sedang : frekuensi muntah sebanyak 3-7 kali dalam sehari.
    • Gejala berat : muntah setiap saat, lebih dari 8 kali sehari.

    Selanjutnya, berikut adalah skala untuk menentukan derajat keparahan bila Si Kecil mengalami diare:

    • Gejala ringan : frekuensi buang air besar cair sebanyak 3-5 kali dalam sehari.
    • Gejala sedang : frekuensi buang air besar cair sebanyak 6-10 kali perhari dalam sehari
    • Gejala berat : frekuensi buang air besar lebih dari 10 kali perhari.

    Gejala yang dialami anak saat muntaber selain muntah dan diare yaitu sakit atau kram pada perut, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, demam, sakit kepala dan nyeri pada anggota gerak. Gejala ini dapat muncul setelah 1-3 hari sejak terinfeksi dan berlanjut selama 1-2 hari atau bahkan lebih.

    Jika gejala memiliki tingkat keparahan berat, pastikan untuk segera mencari pertolongan medis untuk si kecil. Dokter akan segera menentukan cara mengatasi muntaber pada anak dan tindakan medis apa yang diperlukan.

    Cara Mengatasi Muntaber pada Anak

    Jika Si Kecil mengalami muntaber dalam skala gejala ringan atau sedang, sebaiknya lakukan beberapa hal berikut di rumah untuk mempercepat proses pemulihan :

    Perbanyak istirahat

    Istirahat sangat diperlukan agar Si Kecil cepat pulih. Anak membutuhkan waktu istirahat lebih lama dibandingkan dengan orang dewasa yaitu 10-12 jam. Batasi aktivitas anak seperti bermain, serta ciptakan suasana yang nyaman agar anak bisa beristirahat.

    Berikan minum yang cukup

    Muntah dan diare beresiko menyebabkan dehidrasi atau hilangnya cairan dalam tubuh. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya berikan asupan cairan yang cukup. Jika Si Kecil masih mendapatkan ASI eksklusif maka ASI dapat dilanjutkan pemberiannya. Pada anak yang lebih besar dapat diberikan air putih dan oralit untuk menggantikan cairan tubuh dan elektrolit yang keluar.

    Beri makanan sehat

    Saat anak mengalami diare dan muntah, tubuhnya kemungkinan lemas karena banyaknya cairan yang keluar. Untuk itu berikan makanan dalam porsi sedikit namun sering serta makanan yang mudah dicerna seperti bubur, atau nasi tim dan makanan berkuah seperti sup.

    Hindari pemberian obat diare

    Pemberian obat anti diare tidak dianjurkan pada anak. Apabila gejala tidak membaik dalam waktu 2 hari, maka segera periksakan anak ke Dokter.

    Waspadai Dehidrasi Anak saat Muntaber

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai apabila Si Kecil mengalami gejala berikut, sebab dikhawatirkan kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) yaitu tidak buang air kecil selama lebih dari 8 jam, warna urin kuning atau coklat gelap dan pekat, mulut dan lidah kering, anak menangis namun tidak keluar air mata, rewel, detak jantung meningkat, kulit pucat dan anggota gerak (tangan dan kaki) teraba dingin.

    Agar si kecil tidak sampai mengalami dehidrasi, pastikan cairan tubuhnya tetap tercukupi dengan memberinya larutan oralit dan hanya memberikannya minum air putih. Jika anak tidak ada perbaikan kondisi, atau bahkan mengalami perparahan seperti muntah darah, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai cara mengatasi muntaber pada anak. Jika Sahabat Sehat memerlukan pertolongan awal, segera manfaatkan layanan Panggil Dokter Homecare. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Asih R. Lakukan Beberapa Cara Ketika Anak Alami Muntaber [Internet]. Sariasih.com. 2021 [cited 31 August 2021].
    2. Vomiting With Diarrhea [Internet]. Seattle Children’s Hospital. 2020 [cited 31 August 2021].
    3. Mathis, MD C, Burrows, MD, PhD H, Laule, MD S. Vomiting and Diarrhea | CS Mott Children’s Hospital | Michigan Medicine [Internet]. Mottchildren.org. 2018 [cited 31 August 2021].
    4. Diarrhoea and vomiting in children [Internet]. Healthdirect.gov.au. 2019 [cited 31 August 2021].
    5. Vomiting and Diarrhea in Children [Internet]. Aafp.org. 2001 [cited 31 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Banyak sekali penyebab anak rewel dan cengeng. Selain karena lapar atau tidak bisa jauh dari orang tua, ada beberapa faktor lainnya. Dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab si kecil mudah cengeng dan rewel, orang tua akan lebih mudah mencari solusi terbaik […]

    Penyebab Anak Rewel yang Jarang Diketahui Para Orang Tua

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Orang Tua yang Bingung Mencari Penyebab Anak Rewel Sehingga Si Kecil Terus Menangis

    Banyak sekali penyebab anak rewel dan cengeng. Selain karena lapar atau tidak bisa jauh dari orang tua, ada beberapa faktor lainnya. Dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab si kecil mudah cengeng dan rewel, orang tua akan lebih mudah mencari solusi terbaik agar si kecil jadi lebih kalem, tidak mudah ngambek dan tidak mudah menangis.

    Penasaran bagaimana caranya? Mari simak jawabannya melalui penjelasan berikut ini:

    Faktor Utama Penyebab Anak Rewel

    Biasanya pola asuh yang kurang tepat juga dapat berdampak pada anak yang mudah rewel atau cengeng. Misalnya anak yang terlalu dilindungi dan dikekang, dan kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya, dapat mengakibatkan Si Kecil tumbuh menjadi anak yang ragu dengan kemampuannya, pesimis, cengeng dan pemurung.

    Sahabat Sehat, berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab utama Si Kecil rewel sehingga Sahabat Sehat tahu bagaimana cara mengatasinya:

    Khawatir Saat Ditinggal Orang Tua

    Rata-rata Si Kecil memiliki ikatan yang erat dengan orang tua yang mengasuh sehari-hari. Kadang kala jika Sahabat Sehat harus bepergian dan meninggalkan Si Kecil sementara, dapat mengakibatkan Si Kecil menjadi rewel dan menangis.

    Merasa Lapar

    Kondisi lapar merupakan penyebab tersering Si Kecil rewel. Pada bayi yang lapar, tangisannya akan berirama dan semakin lama semakin nyaring. Untuk mengantisipasinya, berikan makanan atau susu sesuai jadwal.

    Adaptasi Lingkungan Baru

    Jika Sahabat Sehat membawa Si Kecil bepergian ke lingkungan yang baru, Si Kecil bisa saja rewel dan menangis karena belum beradaptasi dengan tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

    Sedang Sakit

    Si Kecil yang rewel dapat menjadi pertanda bahwa ia sedang sakit, misal sedang demam, perut kembung, sulit BAB, atau sedang menahan rasa nyeri (contohnya saat sedang tumbuh gigi). Sahabat Sehat perlu lebih bersabar dan memberi penanganan medis sesuai kondisi anak.

    Merasa Takut

    Jika Si Kecil berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, atau baru saja dimarahi orang tua maka Si Kecil dapat menjadi rewel dan menangis. Dalam menghadapi Si Kecil yang tengah rewel, tidak dianjurkan memarahi sebab dapat memperburuk keadaan. Sahabat Sehat sebaiknya biarkan Si Kecil menangis dan baru menasehati jika tangisan sudah mereda.

    Mengantuk

    Anak-anak tidak dapat mengutarakan apa yang mereka rasakan, termasuk saat mereka merasa ngantuk maka Si Kecil mengkomunikasikannya dalam bentuk tangisan. Pada minggu-minggu awal setelah lahir, bayi akan membutuhkan rata-rata 16-18 jam tidur setiap harinya. Jika Si Kecil kurang tidur atau terganggu saat tidur, maka dapat terlihat rewel dan menangis.

    Tidak Nyaman

    Pada kondisi yang tidak nyaman seperti popok basah, suhu udara yang terlalu panas atau terlalu dingin, maupun suara yang berisik dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan menangis.

    Meluapkan Emosi

    Pada anak yang berusia lebih besar, perasaan marah, sedih atau kecewa juga dapat diekspresikan dengan menangis. Sahabat Sehat sebaiknya mengkomunikasikannya dengan baik tanpa memarahi anak.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai penyebab anak rewel yang perlu diketahui oleh semua orang tua. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    2. The Asian Parent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : The Asian Parent; [cited 23 August 2021].
    3. The Asian Parent. 5 Situasi Penyebab Balita Rewel dan Cara Mengatasinya [Internet]. Indonesia : The Asian Parent; [cited 1 September 2021].
    4. K. Kaneshiro, Zieve D. Fussy or irritable child [Internet]. USA : Medlineplus; [cited 1 September 2021].
    5. American Psychological Association. What Makes Children Angry [Internet]. USA : American Psychological Association. 2017 [updated 2017 June; cited 1 September 2021]
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Musik dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Karenanya, banyak sekali manfaat mendengarkan musik pada janin dan bagi kesehatan ibu hamil. Alunan irama musik dipercaya dapat mempengaruhi suasana hati yang tidak stabil pada ibu hamil akibat perubahan hormon di masa kehamilan. Selain itu para ahli menganggap […]

    5 Manfaat Mendengarkan Musik pada Janin dan Ibu Hamil

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Manfaat Mendengarkan Musik pada Janin dan Kesehatan Ibu Hamil

    Musik dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Karenanya, banyak sekali manfaat mendengarkan musik pada janin dan bagi kesehatan ibu hamil. Alunan irama musik dipercaya dapat mempengaruhi suasana hati yang tidak stabil pada ibu hamil akibat perubahan hormon di masa kehamilan.

    Selain itu para ahli menganggap bahwa dengan mendengarkan jenis musik tertentu saat hamil dapat menunjang perkembangan otak janin. Sahabat Sehat, apa saja manfaat mendengarkan musik bagi janin dan ibu hamil? Mari simak penjelasan berikut.

    Bisakah Janin Mendengarkan Musik?

    Meski masih didalam kandungan, pendengaran Si Kecil sudah mulai terbentuk seiring mendekati waktu kelahirannya. Janin sudah mulai dapat mendengar saat usia kehamilan mencapai 23 minggu. Memasuki usia kehamilan 29 hingga 33 minggu, janin sudah mampu membuat tangisan atau suara keras lainnya.

    Oleh sebab itu bagi Sahabat Sehat yang tengah mengandung dianjurkan memberi rangsangan seperti mengajak Si Kecil berbicara sambil mengelus perut, atau mendengarkan musik yang menenangkan. Biasanya janin akan memberikan respon dari dalam kandungan dengan membuat gerakan tertentu.

    Manfaat Mendengarkan Musik pada Janin

    Sebuah penelitian mengungkapkan jika ibu hamil mendengarkan musik di masa kehamilannya, bayi menjadi lebih aktif dan peka dengan lingkungan sekitarnya setelah dilahirkan. Selain itu, beberapa manfaat musik bagi janin antara lain adalah:

    1. Meningkatkan kecerdasan dan kemampuan berpikir anak
    2. Daya tahan si kecil meningkat dan lebih sehat
    3. Si kecil jadi memiliki potensi yang tinggi di bidang seni

    Selain memberikan manfaat bagi si kecil dalam kandungan, mendengarkan musik juga akan bermanfaat bagi ibu hamil.

    Manfaat Mendengarkan Musik Bagi Ibu Hamil

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai manfaat yang dapat Sahabat Sehat peroleh dengan mendengarkan musik selama hamil:

    Meredakan cemas dan stress 

    Perubahan hormon yang dialami ibu hamil kerap menimbulkan cemas dan stress. Ibu hamil yang mengalami stress dan depresi selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, berat bayi lahir rendah, dan gangguan perkembangan kognitif Si Kecil. Mendengarkan musik dengan alunan lembut dan menenangkan adalah salah satu solusi untuk mengatasi stress di masa kehamilan.

    Mengatasi sulit tidur

    Irama lagu yang lembut dapat membantu tubuh dan pikiran ibu hamil lebih rileks. Sebuah studi membuktikan bahwa ibu hamil yang rutin mendengarkan musik selama 4 minggu berturut-turut memiliki kualitas tidur yang jauh lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak mendengarkan musik sama sekali.

    Menjaga tekanan darah stabil

    Salah satu komplikasi yang sering terjadi selama hamil adalah preeklampsia atau disebut juga keracunan kehamilan. Kondisi ini diakibatkan oleh tekanan darah ibu hamil yang tinggi sehingga menyebabkan plasenta kekurangan asupan darah dan oksigen. Berdasarkan penelitian, dengan mendengarkan musik yang lembut dapat membantu Sahabat Sehat menjadi lebih rileks dan tekananan darah menjadi stabil. Tentunya perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan makanan yang dikonsumsi.

    Meredakan nyeri saat hamil

    Efek relaksasi dari mendengarkan musik juga mampu membantu meredakan rasa nyeri yang sering muncul di masa kehamilan, seperti nyeri perut, nyeri punggung, hingga sakit kepala. Saat Sahabat Sehat mendengarkan musik yang disukai atau musik beralunan lembut, tubuh akan menghasilkan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami.

    Hal Penting Saat Mendengarkan Musik

    Jika Sahabat Sehat mendengarkan musik selama hamil, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut agar tidak berdampak buruk bagi kondisi ibu dan janin :

     

    • Hindari memutar musik dengan suara keras (> 80 db) yang diputar berulang sebab dapat berdampak pada pendengaran dan otak janin.

     

    • Volume musik yang dianjurkan untuk janin yakni sekitar 50-60 desibel atau sebesar suara normal saat berbicara.
    • Tidak diperkenankan untuk meletakan barang elektronik seperti handphone, perangkat musik atau loudspeaker secara langsung di perut selama masa kehamilan.
    • Musik dengan irama lambat, lembut, dan teratur seperti musik pengantar tidur ataupun musik klasik dianggap paling cocok untuk kesehatan ibu dan janin.

     

     

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa hal mengenai manfaat mendengarkan musik pada janin yang dapat Sahabat Sehat jadikan panduan selama kehamilan. Jika Sahabat Sehat memiliki pertanyaan lain seputar kehamilan, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Baby Centre UK. Will my baby learn anything in the womb? [Internet]. UK : Baby Center UK; [cited 2021 Aug 26]. Available from : https://www.babycentre.co.uk/a1049781/will-my-baby-learn-anything-in-the-womb
    2. Gordon S. Loud and Clear: What Your Baby Can Hear in Utero [Internet]. USA : Very Well Family. 2021 [updated 2021 June 14; cited 2021 Aug 26].
    3. International Forum for Wellbeing in Pregnancy. Listening to music during pregnancy: Myths and Facts – International Forum for Wellbeing in Pregnancy [Internet]. USA : International Forum for Wellbeing in Pregnancy; [cited 2021 Aug 26].
    4. The Asian Parent. 7 manfaat mendengarkan musik saat hamil, nomor 5 paling diharapkan semua orangtua [Internet]. Indonesia : The Asian Parent; [cited 2021 Aug 26].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Bagi yang pertama kali memiliki anak, tentu cukup bingung bagaimana cara agar si kecil tidak rewel dan nangis. Terutama di malam hari. Sebagian besar Sahabat Sehat mungkin pernah mengalami hal ini. Banyak sekali hal yang dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan sensitif […]

    Cara Terbaik Agar Si Kecil Tidak Rewel dan Mudah Ngambek

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Panduan Mengatasi Anak Tantrum Agar Si Kecil Tidak Rewel dan Mudah Marah

    Bagi yang pertama kali memiliki anak, tentu cukup bingung bagaimana cara agar si kecil tidak rewel dan nangis. Terutama di malam hari. Sebagian besar Sahabat Sehat mungkin pernah mengalami hal ini. Banyak sekali hal yang dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan sensitif misalnya Si Kecil merasa, lapar, tidak nyaman, kelelahan atau sedang ada keluhan yang dirasa.

    Saat Si Kecil masih bayi, orang tua akan menganggap bila bayi rewel dan sering menangis merupakan hal yang sangat wajar karena bayi masih belum dapat mengekspresikan perasaan mereka selain dengan cara menangis.

    Namun Sahabat Sehat perlu mengetahui bahwa ternyata pola asuh yang kurang tepat turut menjadi penyebab Si Kecil menjadi mudah rewel atau cengeng. Anak yang terlalu dilindungi dan tidak diberikan kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri akan tumbuh menjadi pribadi yang cengeng. Selain itu, anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya dapat mengakibatkan kurang percaya diri dan mudah cengeng.

    Lantas apa solusinya?

    Cara Agar Si Kecil Tidak Rewel Lagi

    Perasaan dan emosi Si Kecil kadang kala sulit ditebak. Penting sekali bagi Sahabat Sehat untuk  mengambil langkah yang tepat dalam mengatasi hal ini. Berikut ini beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah untuk mengatasi Si Kecil yang rewel tersebut:

    Buat Si Kecil Nyaman

    Pada usia anak 2-4 tahun, Si Kecil masih dalam tahap mengenal dan mempelajari emosi yang ada didalam dirinya. Terkadang Si Kecil tidak mengerti cara untuk mengungkapkan perasaannya sehingga mereka akan menangis atau rewel secara tiba-tiba. Berikan rasa hangat dan peluk Si Kecil agar merasa nyaman.

    Jangan Berteriak atau Membentak Si Kecil 

    Jika Si Kecil rewel, sebaiknya diam dan bersabar. Jangan membentak Si Kecil yang sedang marah atau menangis karena akan memperparah keadaan.4 Jika Sahabat Sehat berhasil mengendalikan emosi, nantinya Si Kecil akan meniru cara orang tua mengatasi emosi.

    Minta Si Kecil Menjelaskan Perasaannya

    Setelah Si Kecil tenang, secara perlahan mintalah Si Kecil menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Berikan pengertian bahwa saat meminta sesuatu atau merasakan sesuatu tidak perlu diucapkan dengan emosi atau menangis. Ajarkan Si Kecil untuk mengungkapkan emosinya secara perlahan.

    Mengalihkan Emosi

    Agar Si Kecil tidak merengek terus menerus, alihkan energinya dengan melakukan aktivitas lain misalnya berolahraga, menggambar, atau bernyanyi.

    Berikan Pujian Saat Si Kecil Tidak Menangis

    Setelah Si Kecil berhasil mengendalikan emosinya, berikan pujian atau ucapan terima kasih karena Si Kecil tidak rewel.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips dan cara terbaik agar si kecil tidak rewel lagi, terutama di malah hari. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. 

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. theAsianparent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : theAsianparent; [cited 23 August 2021].
    2. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    3. Herliafifah R. 7 Tips Jitu Mengatasi Anak Cengeng Tanpa Drama [Internet]. Indonesia : Hello Sehat; [cited 23 August 2021].
    4. The Times of India. How to deal with a cranky toddler [Internet]. India : The Times of India. 2019 [updated 2019 Dec 06; cited 23 August 2021].
    5. Trillium School. 8 Ways to Calm Down a Cranky Kid [Internet]. USA : Trillium School; [cited 23 August 2021].
    6. Banks C. Angry Child Outbursts: 10 Essential Rules for Dealing with an Angry Child [Internet]. USA : Empowering Parents; [cited 23 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi Ada cara mengajari anak pakai masker tanpa perlu memarahinya. Cara yang akan membuatnya senang hati pakai masker saat keluar rumah. Si kecil juga akan merasa harus pakai masker ketika berjumpa dengan mereka yang bukan orang tuanya. Penasaran bagaimana caranya? Yuk simak penjelasan berikut ini dan silahkan gunakan untuk mendidik […]

    Cara Mengajari Anak Supaya Mau Pakai Masker dengan Benar

    Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi

    Pendekatan Persuasif adalah Kunci Keberhasilan Cara Mengajari Anak Pakai Masker

    Ada cara mengajari anak pakai masker tanpa perlu memarahinya. Cara yang akan membuatnya senang hati pakai masker saat keluar rumah. Si kecil juga akan merasa harus pakai masker ketika berjumpa dengan mereka yang bukan orang tuanya.

    Penasaran bagaimana caranya? Yuk simak penjelasan berikut ini dan silahkan gunakan untuk mendidik si kecil agar terbiasa menggunakan masker dengan baik dan benar.

    Cara Mengajari Anak Pakai Masker dengan Baik dan Benar

    Seiring meningkatnya kasus Covid-19 pada anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut menghimbau agar anak mulai diajarkan menggunakan masker. Sebelumnya World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa anak yang berusia 12 tahun ke atas diperkenankan menggunakan masker, terutama jika berada di tempat umum dengan tingkat penularan Covid-19 yang tinggi. Sahabat Sehat, bagaimana cara mengajarkan anak menggunakan masker ? Mari simak penjelasan berikut.

    Perhatikan Usia Anak

    Anak berusia 12 tahun keatas diwajibkan menggunakan masker seperti orang dewasa, terutama ketika mereka tidak bisa menjaga jarak dari orang lain. Selain itu, kondisi tubuh anak lebih rentan dan lebih beresiko tertular Covid-19.
    Untuk kelompok anak usia 6-11 tahun, penggunaan masker dipertimbangkan berdasarkan beberapa hal berikut :

    • Intensitas penularan di suatu daerah
    • Kemampuan anak menggunakan masker
    • Ketersediaan masker
    • Pengawasan orang dewasa untuk membantu memakai dan melepas masker dengan aman.

    Sementara untuk kelompok anak yang berusia dibawah 5 tahun, belum dianjurkan menggunakan masker sebab anak belum mampu menggunakan masker dengan benar tanpa dibantu orang lain. Oleh sebab itu, hindarkan si kecil di bawah 5 tahun dari interaksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya.

    Selain itu, orang tua juga wajib melihat dampak menggunakan masker pada perkembangan belajar dan psikososial anak. Konsultasikan juga dengan guru serta tenaga kesehatan jika dirasa ada masalah jika anak menggunakan masker selama kegiatan belajar mengajar.

    Gunakan Cara Mengajar Penggunaan Masker Secara Persuasif

    Sahabat Sehat perlu mengajari pentingnya penggunaan masker. Ajari si kecil dengan pendekatan antara orang tua dengan anak. Agar Si Kecil mau menggunakan masker, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa hal berikut :

    Ajak Si Kecil Saat Memilih Masker

    Ketika Sahabat Sehat membeli masker, ajaklah Si Kecil memilih sendiri motif masker untuk dirinya. Selain itu, ajak Si Kecil membuat dekorasi tambahan pada masker seperti menuliskan inisial nama. Cara seperti ini akan menciptakan rasa kepemilikan anak terhadap masker yang digunakan.

    Memberi Contoh Menggunakan Masker

    Anak-anak umumnya selalu meniru tindakan orang tua. Jadi berikan Si Kecil contoh cara menggunakan masker, serta cara melepaskan masker setelah digunakan. Bukankah ada pepatah, cara paling baik mengajari anak adalah dengan menjadi contoh bagi si kecil. Jadi cara mengajari anak pakai masker bisa dilakukan dengan Sahabat Sehat disiplin menggunakan masker sehingga si kecil akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

    Beri Informasi Manfaat Menggunakan Masker

    Jelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa penggunaan masker dapat melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar dari Covid-19. Apabila Si Kecil kurang mengerti, berikan ilustrasi dari tayangan video agar mudah dipahami. Jika Si Kecil merasa takut, coba dengarkan pendapatnya lebih dahulu.

    Buat Jadwal Rutin Menggunakan Masker

    Langkah selanjutnya adalah dengan mengajak anak berlatih menggunakan masker. Cobalah meminta Si Kecil mengenakan masker selama di rumah dalam kurun waktu tertentu agar terbiasa. Berikan penghargaan, misal memberi cemilan kesukaannya jika Si Kecil berhasil menggunakan masker selama kurun waktu yang telah ditentukan.

    Pilih Masker yang Nyaman

    Anak yang tidak memiliki riwayat sakit apapun dapat menggunakan masker kain atau masker non-medis. Namun bagi anak yang memiliki riwayat penyakit tertentu, dianjurkan menggunakan masker medis. Sahabat Sehat perlu memastikan masker berukuran pas dan dapat menutupi area hidung, mulut dan dagu anak.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips mengajarkan Si Kecil menggunakan masker. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat.

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    • World Health Organization. Coronavirus disease (COVID-19): Children and masks [Internet]. USA : World Health Organization. 2020 [updated 2020 Aug 21; cited 2021 Aug 26].
    • Ikatan Dokter Anak Indonesia. FAQ Pemakaian Masker [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2020 [updated 2020 Mar 27; cited 2021 Aug 26].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Banyak tanda anak alergi susu sapi yang dia minum. Namun sayang, banyak orang tua tidak sadar anaknya memiliki alergi pada susu sapi. Akibatnya, si kecil tetap dipaksa minum hingga akhirnya kesehatan anak menjadi bermasalah. Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak, mungkin […]

    5 Tanda Anak Alergi Susu Sapi dan Cara untuk Mengobatinya

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Menangis Saat Hendak Diberi Susu Kemungkinan Menjadi Tanda Anak Alergi Susu Sapi

    Banyak tanda anak alergi susu sapi yang dia minum. Namun sayang, banyak orang tua tidak sadar anaknya memiliki alergi pada susu sapi. Akibatnya, si kecil tetap dipaksa minum hingga akhirnya kesehatan anak menjadi bermasalah.

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak, mungkin sudah tidak asing dengan kondisi “alergi susu sapi” yang kerap dialami anak-anak. Alergi susu sapi merupakan suatu reaksi imunologis terhadap protein susu sapi. Biasanya alergi terhadap protein susu sapi diketahui pada tahun pertama awal kehidupan Si Kecil.

    Waspda, Inilah Tanda Anak Alergi Susu Sapi

    Sebelum Sahabat Sehat mengetahui cara mengatasi alergi susu sapi, berikut adalah berbagai gejala yang mungkin dialami Si Kecil jika mengalami alergi setelah minum susu sapi:

    Gejala Kulit

    Jika Si Kecil mengalami alergi susu sapi, muncul bintik atau ruam kemerahan yang terasa gatal pada kulit dan dapat ditemukan pada area lipatan kulit seperti lipatan siku dan lutut. Selain itu timbul Urtikaria atau dikenal dengan istilah biduran atau kaligata. Si Kecil juga mungkin akan mengalami Angioedema, yaitu kondisi pembekakan pada mata, bibir dan area wajah.

    Masalah Saluran Pernapasan

    Alergi susu sapi dapat menyebabkan masalah pada saluran pernapasan si kecil. Si Kecil terlihat lebih sering bersin, batuk, hidung tersumbat dan pilek. Gejala tersebut umumnya timbul tanpa disertai dengan demam.

    Gangguan Saluran Pencernaan

    Si Kecil dapat mengalami diare, dan muntah setiap kali diberikan susu sapi. Umumnya keluhan akan mereda apabila pemberian susu sapi dihentikan. Jika hal ini terjadi, hentikan pemberian susu sapi.

    Menjadi Lebih Rewel dan Gampang Nangis

    Setelah meminum susu, anak biasanya menjadi lebih tenang dan tertidur lelap. Namun berbeda pada anak dengan reaksi alergi pada susu sapi. Mereka biasanya akan lebih bawel dan menjadi gampang menangis setelah minum susu. Hal ini biasa terjadi karena ada reaksi tubuh yang tidak nyaman setelah minum susu. Misalnya badannya menjadi gatal, ataupun terasa sakit pada area tertentu di tubuhnya.

    Mata Berair

    Kondisi alergi juga bisa ditandai dengan mata berair beberapa menit setelah konsumsi susu sapi. Walaupun tanda ini tampak tidak terlalu menggangu si kecil, namun jika dibiarkan maka reaksi alergi bisa bertambah serius. Oleh sebab itu, konsumsi susu sapi harus dihentikan sampai didapatkan informasi lebih jelas penyebab mata berair setelah konsumsi susu sapi.

    Catatan: Reaksi alergi biasanya muncul 20 sampai 30 menit setelah konsumsi susu sapi. Namun pada beberapa kasus, reaksi alergi pada anak bisa saja terjadi pada jam ke 2 setelah konsumsi susu sapi.

    Pemeriksaan Lanjutan pada Alergi Susu Sapi

    Jika Sahabat Sehat menemukan Si Kecil mengalami keluhan di atas, Sahabat Sehat dianjurkan memeriksakan ke Dokter. Untuk memastikan reaksi yang dialami Si Kecil memang tanda anak alergi susu sapi. Dokter akan menyarankan berbagai pemeriksaan berikut :

    Pemeriksaan Kadar IgE

    Pemeriksaan kadar IgE dalam darah merupakan pemeriksaan yang paling spesifik dalam menentukan senyawa yang menimbulkan alergi. Namun pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan pada anak yang menderita eksim (ruam kemerahan dan gatal) berat atau pada anak yang menderita alergi dan telah mengkonsumsi obat pereda alergi.

    Pemeriksaan Total IgE

    Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan kadar total IgE, namun pemeriksaan ini tidak spesifik menunjukkan zat penyebab alergi. Kadar total IgE dalam tubuh dapat meningkat pada penderita eksim, infeksi parasit dan kondisi medis lainnya.

    Pemeriksaan Total Eosinofil

    Eosinofil merupakan salah satu jenis sel darah putih yang bertugas untuk melawan infeksi parasit dan cacing. Namun kadar eosinofil juga dapat meningkat pada penderita alergi seperti rhinitis alergi, asma dan eksim.

    Tes Paparan Alergen Secara Oral

    Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling akhir dilakukan apabila dari pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya tidak menunjukkan hasil. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memberikan susu sapi untuk Si Kecil dan dipantau apakah terjadi reaksi alergi setelah meminumnya. Apabila timbul reaksi alergi, maka dapat dipastikan Si kecil mempunyai alergi terhadap protein susu sapi.

    Tips Mengatasi Alergi Anak pada Susu Sapi

    Untuk mengatasi alergi susu sapi, umumnya Dokter akan memberikan terapi sesuai dengan keluhan yang dialami Si Kecil. Berikut adalah beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

    • Jika kulit Si Kecil tampak kemerahan dan gatal, berikan losion Calamine atau bedak anti gatal. 
    • Hindari pemberian susu sapi serta bahan makanan yang terbuat dari susu sapi 
    • Jaga kebersihan kulit Si Kecil
    • Jaga kebersihan botol susu yang digunakan
    • Pertimbangkan pemberian susu formula atau susu soya dan ASI agar asupan nutrisi Si Kecil tetap baik.

    Itulah beberapa tanda anak alergi susu sapi yang perlu diketahui oleh Sahabat Sehat sebagai orang tua. Jika Sahabat Sehat memerlukan produk susu dan multivitamin, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat.  Selain itu konsultasikan dengan Dokter mengenai perubahan susu sapi dengan susu jenis lain untuk menghindari reaksi alergi. Informasi lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Anak Indonesia. Diagnosis dan Tatalaksana Alergi Susu Sapi. 2015. Jakarta : UKK Alergi Imunologi, UKK Gastrohepatologi dan UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik
    2. Eigenmann P, Markovic M, Hourihane J, Lack G, Lau S, et al. Testing children for allergies: why, how, who and when. Pediatric Allergy and Immunology. 2013: 24;195– 209. 
    3. Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Allergy Testing 2019 [Internet]. Australia : Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy; [cited 2021 Aug 25].
    4. Dorevitch pathology. Laboratory Allergy Testing [Internet]. Australia : Dorevitch pathology; [cited 2021 Aug 25].
    5. The Doctors Laboratory. Allergy Testing in Primary Care : A quick reference guide to allergy and specific IgE testing [Internet]. USA :  The Doctors Laboratory; [cited 2021 Aug 25].
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja