Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 1–10 of 216 results

  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Frekuensi BAB pada bayi harus diperhatikan. Terutama pada bayi yang baru lahir. Karena frekuensi BAB menunjukkan kesehatan si kecil. Jika intensitas BAB pada bayi terlalu banyak atau terlalu sedikit mungkin saja ada masalah pada kesehatan si kecil. Terutama sistem pencernaannya. Dengan mengetahui kondisi kesehatan […]

    Frekuensi BAB yang Normal dan Sehat Pada Bayi Baru Lahir

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Orang Tua Harus Mengetahui Frekuensi BAB Normal Bayi Baru Lahir Agar Dapat Memantau Kondisi Kesehatannya

    Frekuensi BAB pada bayi harus diperhatikan. Terutama pada bayi yang baru lahir. Karena frekuensi BAB menunjukkan kesehatan si kecil. Jika intensitas BAB pada bayi terlalu banyak atau terlalu sedikit mungkin saja ada masalah pada kesehatan si kecil. Terutama sistem pencernaannya.

    Dengan mengetahui kondisi kesehatan si kecil sejak baru lahir, orang tua dapat menentukan tindakan dini jika ditemukan ada masalah pada kesehatannya. Semakin cepat penanganan akan sangat membantu tumbuh kembangnya.

    Frekuensi BAB Normal Bayi Baru Lahir

    Sahabat Sehat, table frekuensi bab normal bayi baru lahir di bawah ini dapat dijadikan acuan frekuensi buang air besar ideal pada anak dalam kurun waktu 24 jam selama enam bulan pertama kehidupannya.

    Jangka Waktu Jumlah minimal BAB Warna tinja
    Hari ke-1 1 Hitam
    Hari ke-2 0 – 1 Hitam
    Hari ke-3 1 Hijau transisi
    Hari ke-4 4 Kuning atau hijau
    Hari ke-5 3 – 4 kuning
    Hari ke-6 3 – 5 Kuning
    6 minggu + Sekitar 3 – 5 kali per hari atau bahkan lebih kuning

    Setiap anak tentunya memiliki frekuensi buang air besar yang berbeda-beda hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah usia. Pada bayi yang baru lahir, mereka biasanya memiliki frekuensi yang BAB kurang lebih 10 kali dalam sehari karena refleks gastrolika di dalam tubuh bayi.

    Bayi Usia 1 Hingga 3 Hari

    Kotoran bayi akan terus mengalami perubahan dari hari ke hari. Bayi yang baru lahir umumnya mengeluarkan feses yang lengket dan berwarna gelap selama beberapa hari, yang disebut mekonium. Feses ini mengandung empedu dan berbagai zat lainnya yang ditelan bayi saat didalam kandungan.

    Lihat Juga: Cara Melancarkan BAB pada Bayi

    Selama 24 jam pertama kehidupannya, bayi setidaknya harus mengeluarkan kotoran satu kali karena kadar air susu ibu yang pertama dikeluarkan (kolostrum) mengandung gula yang berfungsi sebagai pencahar alami dan dapat mendorong feses. Pada hari ketiga, kotoran yang keluar akan lebih ringan, cair, dan mudah dibersihkan. Selanjutnya kotoran bayi akan berubah tampak hijau kekuningan di hari keempat. 

    Selama 12 Minggu Pertama Kehidupan

    Frekuensi BAB bayi yang mengkonsumsi ASI selama 12 minggu pertama kehidupannya mencapai sekitar satu 1 hingga 8 kali dalam sehari, dengan rata-rata empat kali buang air besar per harinya. Kondisi ini juga bergantung pada sistem pencernaan Si Kecil, serta frekuensi Si Kecil menyusu.

    Bahkan beberapa bayi yang minum ASI juga sering kali tidak BAB selama 7 hingga 10 hari dan masih dianggap normal jika tidak disertai dengan gejala lain. Sedangkan pada bayi yang mengkonsumsi susu formula, frekuensi rata-rata BAB dapat mencapai 2 kali sehari ataupun lebih sering. 

    Usia 4 Bulan, Sebelum Diberi Makanan Padat

    Seiring bertambahnya usia, frekuensi BAB bayi umumnya menjadi lebih jarang. Di usia 4 bulan, sebagian besar bayi umumnya akan BAB sekitar 2 kali sehari. Namun, di usia ini frekuensi BAB tiga hari sekali juga masih dapat dikatakan normal jika feses yang dikeluarkan tetap lunak, berat badan bertambah, serta tidak disertai dengan keluhan sakit perut atau kembung. 

    Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

    Meski bayi yang baru lahir sering BAB merupakan hal yang wajar, namun Sahabat Sehat tetap perlu mewaspadai dan memantau kondisi kesehatan Si Kecil agar selalu sehat dan tumbuh dengan baik. Segeralah periksakan Si Kecil apabila mengalami keluhan seperti berikut ini :

    • Feses tampak kehitaman, cerah, pucat, atau kemerahan.
    • Frekuensi BAB lebih sering dari biasanya, hingga lebih dari 3 – 4 kali per hari dan tampak cair maupun berlendir.
    • Anak tampak lemas
    • Tidak berselera makan atau minum
    • Tidak aktif seperti biasanya
    • Bibir kering 
    • Menangis tanpa mengeluarkan air mata. 

    Selain itu, Sahabat Sehat juga perlu waspada jika frekuensi BAB bayi yang sebelumnya sering menjadi lebih jarang, terlebih jika feses tampak keras, kering, dan Si Kecil kesulitan mengeluarkan feses, maka sebaiknya periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Salah satu penyebab masalah BAB pada bayi adalah infeksi rotavirus yang dapat menyebabkan diare. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memberikan imunisasi Rotavirus pada bayi. Untuk Sahabat Sehat yang ingin memberikan layanan imunisasi Rotavirus untuk si kecil, dapatkan layanan: Imunisasi Rotavirus ke Rumah

    Itulah detail frekuensi bab normal bayi baru lahir yang penting untuk diketahui setiap orang tua. Jika terdapat gejala yang tidak seharusnya pada kondisi kesehatan si kecil, jangan ragu dan segera lakukan pemeriksaan medis ke dokter. Dengan demikian, kesehatan dan tumbuh kembangnya akan terus terjaga.

    Referensi:

    1. Medical News Today. How often should a newborn poop? Frequency and issues
    2. Healthline. How Often Should a Newborn Poop?
    3. Parents. How Often Should a Newborn Poop?
    4. Healthline. Newborn Poop: What’s Normal
    5. First Cry Parenting. How Often Should Your Newborn Baby Poop?
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Anak yang tidak mau makan memang membuat orang tua khawatir. Namun sebaiknya hindari sembarangan memberi vitamin penambah nafsu makan. Karena sembarangan memberi vitamin penambah nafsu makan dikhawatirkan dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan. Ketika anak kurang nafsu makan, otang tuanya pasti merasa cemas […]

    Perlukah Anak Mengkonsumsi Vitamin Penambah Nafsu Makan?

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Ketika Anak Tidak Mau Makan Maka Orang Tua Bisa Menentukan Perlu Tidaknya Vitamin untuk Penambah Nafsu Makan Anak

    Anak yang tidak mau makan memang membuat orang tua khawatir. Namun sebaiknya hindari sembarangan memberi vitamin penambah nafsu makan. Karena sembarangan memberi vitamin penambah nafsu makan dikhawatirkan dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan.

    Ketika anak kurang nafsu makan, otang tuanya pasti merasa cemas sekaligus khawatir. Karena asupan nutrisi dan gizi harian akan mempengaruhi pertumbuhan dan masa depannya nanti. Lantas apakah yang kurang nafsu makan perlu untuk segera diberi vitamin penambah nafsu makan? Mari simak dari beberapa poin berikut ini:

    Penyebab Si Kecil Kehilangan Nafsu Makan

    Nafsu makan anak memang tidak bisa ditebak, terkadang lahap dan pada hari lain bisa saja Si Kecil malas makan. Anak susah makan pada umumnya disebabkan karena Si Kecil tidak menyukai rasa atau tekstur makanan yang disajikan. Hal ini dapat dipicu akibat kebiasaan Si Kecil mengkonsumsi makanan manis atau makanan yang mengandung penyedap rasa. Kebiasaan ini dapat membuat Si Kecil merasa makanan lain, seperti sayuran dan buah terasa lebih hambar. 

    Selain itu ada beberapa penyebab lain yang membuat Si Kecil kehilangan nafsu makannya, seperti:

    • Adanya masalah kesehatan seperti sakit tenggorokan, demam, batuk, pilek, dan ruam.
    • Kebiasaan waktu makan yang tidak teratur
    • Anak terlalu banyak mengkonsumsi cairan, seperti jus di jeda waktu makan 
    • Tidak banyak bergerak sehingga energinya tidak terbakar. 

    Salah satu penyebab anak kurang nafsu makan adalah karena sakit. Oleh sebab itu, untuk menjaga daya tahan tubuhnya, bantu imunitas anak dengan memberikannya imunisasi yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan layanan imunisasi anak, silahkan cek: Layanan Imunisasi Anak

    Jika tidak mengalami beberapa hal di atas dan anak masih tetap aktif, Sahabat Sehat tidak perlu khawatir sebab penurunan nafsu makan biasanya hanya berlangsung sementara. Namun bila Si Kecil sudah tidak nafsu makan selama lebih dari satu minggu, segera konsultasikan kondisinya ke dokter.

    Perlukah Vitamin Penambah Nafsu Makan untuk Anak?

    Pada anak yang terlihat sehat dan tumbuh secara normal, vitamin penambah nafsu makan sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Namun apabila anak tiba-tiba kurang nafsu makan dan orang tua merasa perlu memberi vitamin penambah nafsu makan, maka sebaiknya penuhi dahulu nutrisi si kecil dengan memberikannya makanan-makanan bergizi. Sangat disarankan juga untuk memberikan si kecil makanan-makanan yang dapat merangsang nafsu makannya.

    Makanan bergizi yang sebaiknya diberikan adalah makanan dan minuman yang kaya akan vitamin V, vitamin D, zat besi dan kalsium. Beberapa contoh makanan tersebut antara lain:

    Susu dan Produk Olahannya
    Misalnya yoghurt, keju, mentega, dan margarin. Susu UHT ataupun sarapan sereal yang diberi susu juga bisa menjadi menu makanan bergizi yang merangsang nafsu makan anak. Makanan-makanan dari olahan susu ini penting untuk si kecil karena mengandung kalsium, vitamin D, dan fosfor.

    Sayur dan Buah-Buahan
    Beberapa jenis buah yang bisa diberikan antara lain alpukat dan pisang. Berikan juga sayur mayur dalam menu makan si kecil. Jika si kecil tidak suka sayur mayur, orang tua dapat mengolah sayur mayur menjadi makanan lain, misalnya sop yang banyak sayurnya, atau mencoba menu olahan bakwan isi sayur yang biasanya disukai si kecil.

    Protein Hewani
    Protein hewani sangat penting bagi pertumbuhan si kecil. Berikan ikan, daging ayam, daging sapi, hati ayam, hati sapi, atau telur bagi si kecil agar dia mendapatkan protein hewani. Selain mengandung protein, makanan-makanan tersebut juga mengandung zat besi dan zink yang tinggi sehingga dapat meningkatkan nafsu makan si kecil.

    Kondisi Anak Perlu Penambah Nafsu Makan

    Saat Si Kecil tidak nafsu makan, orang tua cenderung panik dan terburu-buru memberikannya suplemen penambah nafsu makan. Padahal sebagian besar anak tidak membutuhkan suplemen tambahan karena nutrisi yang diperlukan Si Kecil masih dapat diperoleh dari berbagai sumber alami. 

    Oleh sebab itu, pemberian suplemen penambah nafsu makan anak biasanya baru akan diberikan apabila telah direkomendasikan oleh dokter. Dokter akan memberikan suplemen penambah nafsu makan untuk anak jika anak mengalami kondisi khusus, seperti:

    • Kelainan genetik atau cacat bawaan lahir yang membuat anak mudah kekurangan gizi
    • Menderita penyakit tertentu, seperti asma, diare, infeksi, kanker, atau penyakit kurang gizi lainnya
    • Anak pemilih makanan (picky eater)
    • Gangguan tumbuh kembang
    • Pola makan khusus, seperti pola makan vegetarian atau vegan
    • Anak terlalu sering mengonsumsi makanan olahan atau cepat saji
    • Anak terlalu banyak minum soda

    Jika dokter menyarankan untuk memberikan Si kecil suplemen tambahan, sebaiknya pilihlah suplemen yang dirancang sesuai usia anak. Pastikan vitamin dan mineral yang terkandung di dalam suplemen tersebut tidak melebihi takaran saji per hari. 

    Rekomendasi Vitamin Penambah Nafsu Makan Anak

    Ada beberapa jenis vitamin yang dipercaya mampu meningkatkan nafsu makan pada anak dan melengkapi nutrisinya,yakni :

    Vitamin A
    Nutrisi penting ini perlu dipenuhi dalam mendukung proses tumbuh kembang si Kecil secara menyeluruh. Misalnya dalam memelihara kesehatan mata dan kulit, mendukung pertumbuhan tulang yang kuat, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Anak usia 1 – 9 tahun membutuhkan vitamin A sekitar 400 – 500 RE setiap harinya.

    Vitamin B Kompleks
    Dapat membantu anak lebih aktif dan berenergi, serta meningkatkan nafsu makannya. Selain itu nutrisi ini juga berperan penting dalam mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya.

    Vitamin C
    Memiliki sifat antioksidan yang mampu menjaga daya tahan tubuh anak untuk tetap kuat serta membantu tubuhnya menyerap zat besi dari makanan secara optimal. Zat besi bermanfaat dalam memproduksi sel darah merah, mencegah anemia, dan merangsang nafsu makan anak.

    Vitamin D
    Berfungsi dalam meningkatkan penyerapan kalsium dan menjaga sistem kekebalan tubuh. Selain itu, nutrisi ini juga sangat bermanfaat dalam mendukung tumbuh kembang anak, terutama pada pertumbuhan dan perkembangan gigi dan tulang. Anak usia 1 tahun keatas membutuhkan asupan vitamin D skitar 15 mikrogram (mcg) per harinya.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan vitamin untuk anak yang dapat membantu kesehatan dan pertumbuhannya, silahkan cek: Layanan Pesan Vitamin untuk Kesehatan Anak

    Selain keempat vitamin tersebut, ada beberapa zat gizi lain yang juga dapat meningkatkan nafsu makan pada anak seperti zinc serta omega 3 dan 6 yang terkandung dalam minyak ikan. 

    Tips Mengatasi Anak yang Tidak Nafsu Makan

    Memahami penyebab anak tidak nafsu makan akan membantu Sahabat Sehat menentukan cara terbaik dalam mengatasi kondisi tersebut. Berikut beberapa tips yang dapat dicoba untuk menyiasati Si Kecil yang tidak nafsu makan, yakni:

    Cari Tahu Apakah Masih dalam Tahap Wajar

    Pahami bahwa penurunan nafsu makan merupakan hal yang wajar dialami oleh anak usia 2 – 5 tahun. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak yang cenderung mulai melambat pada usia tersebut.

    Sajikan Makanan dalam Kondisi yang Disukai Anak

    Sajikan makanan bergizi dengan tekstur dan rasa yang sesuai dan disukai Si Kecil. Jika anak sulit menghabiskan makanan dengan porsi biasa, sajikan makanan dalam porsi yang lebih kecil namun berikan lebih sering.

    Berikan Makanan Baru yang Sehat dan Disukai Anak

    Cobalah untuk memperkenalkan makanan baru secara bertahap kepada anak. Bisa dengan mencoba memberikan anak cemilan yang sehat dan kaya nutrisi, seperti sayuran, buah-buahan, atau yogurt. Namun hindari memberikannya dalam jumlah besar atau pada saat menjelang waktu makan.

    Ajak Anak Berolahraga

    Setelah aktivitas fisik yang menguras energi, nafsu makan akan bertambah. Cobalah ajak anak untuk lebih sering beraktivitas fisik, seperti bermain dan berolahraga bersama. Baca juga: Cara Mengatasi Anak Susah Makan

    Jika beberapa tips ini telah dilakukan dan anak tetap menolak untuk makan hingga berat badannya berkurang dan menggangu tumbuh kembangnya, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

    Nah Sahabat Sehat itulah mengenai tips mengatasi Si Kecil yang tidak nafsu makan serta multivitamin yang dapat diberikan. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti pemeriksaan Covid-19 ke rumah, multivitamin, dan imunisasi, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Perlukah suplementasi vitamin dan mineral pada bayi dan anak?
    2. Mayo Clinic. Children’s nutrition: 10 tips for picky eaters
    3. About Kids Health. Appetite slump in toddlers
    4. Healthline. Appetite Stimulant: Types, Methods, in Adults, in Toddlers, and More
    5. Medical News Today. The 5 best vitamins to boost metabolism
    6. Mayo Clinic. Do young kids need a daily vitamin?
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica C Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. Bahkan efek sampingnya juga berbeda. Oleh sebab itu, sangat penting memahami perbedaan antara imunisasi polio tetes dengan suntik. Pastikan memilihkan imunisasi yang cocok untuk si kecil. Imunisasi polio tetes […]

    Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik Meliputi Efek Samping Hingga Dosis Pemberian

    Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. Bahkan efek sampingnya juga berbeda. Oleh sebab itu, sangat penting memahami perbedaan antara imunisasi polio tetes dengan suntik. Pastikan memilihkan imunisasi yang cocok untuk si kecil.

    Imunisasi polio tetes disebut juga imunisasi OPV. Sementara imunisasi polio suntik biasa disebut dengan imunisasi IPV. Walaupun sama-sama untuk mengatasi polio, namun banyak perbedaan antara keduanya.

    Mengapa Harus Imunisasi Polio?

    Tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio.

    Virus Polio adalah virus yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus yang memperbanyak diri di dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Virus Polio terdiri dari 3 strain yaitu Strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig) dan strain-3 (Leon), termasuk family Picornavirde. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motorik atau saraf pada sumsum tulang belakang.

    Virus polio dapat menyerang siapa saja, tetapi paling banyak menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit yang paling banyak ditakuti di negara-negara industri karena menyebabkan kelumpuhan pada ratusan ribu anak setiap tahun. 

    Polio adalah sebutan lain untuk penyakit poliomyelitis, yang berasal dari Bahasa Yunani artinya peradangan tulang belakang. Dulu orang-orang menyebutnya sebagai kelumpuhan pada anak-anak. Salah satu cara memberantas penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi polio.

    Penyebaran Virus Polio

    Virus Polio menyebar melalui kontak dengan penderita polio, sekresi oral (mulut) dan hidung misalnya air liur dan lendir hidung, serta kontak dengan feses yang terkontaminasi dengan virus polio. Setelah itu, virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan terus berlipat ganda sepanjang waktu hingga mencapai ke saluran cerna.

    Dalam kasus polio yang menyebabkan kelumpuhan, virus meninggalkan saluran cerna dan masuk kedalam aliran darah lalu menyerang sel saraf. Sebanyak kurang dari 2% penderita polio dapat mengalami kelumpuhan. 

    Pada kasus yang lebih berat, tenggorokan dan dada dapat ikut serta lumpuh. Bila tidak ada alat bantu pernapasan maka pasien dapat meninggal dunia. Imunisasi Polio pada anak dapat mencegah kejadian ini.

    Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Terdapat dua jenis cara pemberian vaksin polio, yaitu melalui injeksi (suntikan) atau tetesan di mulut. Perbedaan antara kedua vaksin untuk imunisasi ini bukan hanya beda di cara pemberiannya. Banyak hal yang menjadi beda imunisasi polio tetes dan suntik. Pembeda tersebut antara lain:

    Jenis Virus yang Digunakan

    Vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik sama-sama menggunakan virus polio. Namun kondisi virus polio yang digunakan berbeda. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 2 jenis vaksin polio:

    Vaksin Polio Inaktif

    Vaksin ini berasal dari virus polio yang dimatikan. Cara pemberiannya dengan menyuntikan ke paha atau lengan. Dengan kata lain, vaksin polio suntik berisi vaksin dari virus polio yang telah dimatikan.

    Vaksin Polio Oral

    Adalah virus polio hidup yang dilemahkan. Ini adalah vaksin yang dilakukan pada anak, diberikan melalui tetesan di mulut. Dengan kata lain, vaksin polio tets berisi vaksin dari virus polio hidup yang telah dilemahkan.

    Waktu Pemberian

    Vaksin polio tetes (OPV) biasa juga disebut vaksin polio Sabin sesuai dengan penemunya. Vaksin ini dapat mencegah infeksi dari 3 jenis polio. Vaksin polio tetes diberikan sebanyak tiga dosis untuk memberikan kekebalan seumur hidup.

    Pemberian vaksin polio tetes dilakukan pada saat anak berusia:

    • Baru lahir
    • Usia 6-12 minggu (8 minggu setelah dosis pertama)
    • Usia 6-18 bulan

    Vaksin Polio Suntuk (IPV) sebenarnya lebih dulu ditemukan daripada OPV, disebut juga vaksin polio Salk, sesuai dengan nama penemunya Jonas Salk pada tahun 1955. Vaksin IPV berisi virus inaktif yang berisi 3 tipe virus polio.

    Vaksin yang disuntikkan akan meningkatkan daya tahan tubuh. Vaksin IPV mampu mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody yang tinggi. Berbeda dengan vaksin polio tetes yang diberikan sebanyak 3 kali, vaksin polio suntik diberikan sebanyak 4 kali.

    Pemberian suntik vaksinasi IPV dilakukan saat anak berusia :

    • 2 bulan
    • 4 bulan
    • 6-18 bulan
    • 4-6 tahun

    Efektivitas

    Vaksin polio tetes dan suntik sama-sama memberikan kekebalan dari infeksi polio. Namun vaksin polio oral dianggap lebih efektif untuk pemberantasan poliomyelitis, karena virus yang dilemahkan akan mengadakan replikasi atau berkembang biak pada saluran pencernaan sehingga mencegah virus lain menempel pada saraf sehingga mencegah kelumpuhan.

    Tetapi vaksin IPV (vaksin polio suntik) juga memiliki kelebihan. Dibandingkan dengan vaksin OPV, vaksin IPV mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang cukup baik bagi sebagian besar orang. Selain itu, vaksin polio suntik tidak mengandung virus yang dilemahkan, maka tidak ada resiko berupa kelumpuhan akibat vaksinasi.

    Efek Samping

    Beda imunisasi polio tetes dan suntik juga berupa KIPI atau efek samping yang ditimbulkan. Adapun efek samping dari vaksin OPV (vaksin polio tetes) meliputi:

    • Sakit kepala
    • Sakit perut
    • Demam
    • Diare
    • Kelelahan
    • Kelumpuhan (jarang terjadi)

    Sementara itu, vaksin polio suntuk juga memberikan efek samping. Menurut penelitian yang terbit pada Jurnal Morbidity and Mortality Week Report CDC, pemberian vaksin IPV pada 2 tahun pertama dapat menimbulkan efek samping ringan sedang berupa:

    • Demam
    • Ruam di area yang disuntik
    • Pembengkakan di area yang disuntik
    • Rewel
    • Peradangan dan pendarahan pembuluh darah kecil (jarang terjadi)
    • Penurunan trombosit (jarang terjadi)
    • Alergi berat (jarang terjadi)

    Biasanya efek samping pasca vaksinasi polio suntik akan hilang dengan sendirinya setelah 3-4 hari. Karena memiliki efek samping yang lebih banyak, biasanya diperlukan skrining terlebih dahulu sebelum diperkenankan untuk menerima vaksin polio suntik. Kondisi yang membuat anak tidak diperkenankan imunisasi polio suntuk antara lain:

    • Memiliki dan mengalami alergi berat yang dapat mengancam nyawa
    • Anak sedang mengalami sakit seperti influenza yang disertai demam

    Walaupun ada efek samping, namun efek samping vaksin polio tetes dan suntik sebenarnya bersifat ringan. Dibandingkan dengan efek sampingnya, manfaat imunisasi polio jauh lebih besar. Dengan melakukan pemberian imunisasi anak, bukan hanya anak-anak yang divaksin saja yang dapat menerima manfaatnya. Keluarga serta warga di lingkungan tersebut juga dilindungi dari ancaman penyebaran virus polio.

    Lihat Juga: Polio Menular atau Tidak

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai beda imunisasi polio tetes dan suntik. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan imunisasi polio, dapatkan layanan imunisasi polio ke rumah yang disediakan oleh Prosehat. Cek layanan: Layanan Imunisasi Polio ke Rumah

    Referensi:

    1. Novita D, Alam S, Kelyombar D. Buletin Surveillant dan Imunisasi.
    2. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan. Poliomyelitis Penyakit Virus
    3. Kurniawan S. Manfaat dan Kapan Imunisasi Polio Diberikan
    4. Satari H, Ibbibah L, Utoro, S. Eradikasi Polio. Sari Pediatri
    5. Permatasari D. Vaksin Polio Tetes (OPV): Dosis, Jadwal Pemberian, Efek Samping, dan Bedanya dengan IPV
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Ditinjau oleh : dr. Monica C Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa. Penurunan cakupan imunisasi ini diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga para orang tua takut untuk memberikan imunisasi untuk anak-anaknya. Para orangtua rata-rata khawatir anaknya tertular Covid-19 saat membawa […]

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Pentingnya Imunisasi Bagi Si Kecil Meski di Masa Pandemi

    Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa. Penurunan cakupan imunisasi ini diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga para orang tua takut untuk memberikan imunisasi untuk anak-anaknya. Para orangtua rata-rata khawatir anaknya tertular Covid-19 saat membawa anak ke fasilitas kesehatan.

    Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Anak Indonesia, Prof. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K) mengatakan para orang tua dianjurkan segera melengkapi imunisasi anaknya meski sedang pandemi Covid-19 sehingga Si Kecil menerima imunisasi dasar lengkap.

    Menurut UNICEF, sejak Maret 2020, terjadi penurunan angka imunisasi anak di seluruh Indonesia. Pada Mei 2020 misalnya, vaksinasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT3) serta campak dan Rubella turun sebanyak 35% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ikatan Dokter Anak Indonesia Menegaskan bahwa program imunisasi dasar anak, sangatlah penting untuk kesehatan anak dan menurunkan resiko terkena penyakit menular pada masa mendatang.

    Badan Kesehatan Dunia atau yang disebut WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa pemberian imunisasi anak diwajibkan guna melindungi Si Kecil dari sejumlah penyakit infeksi. Lewat imunisasi, Si Kecil mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu yang membahayakan kesehatan dan bahkan mengancam jiwa.

    Mengapa Tidak Boleh Menunda Imunisasi Anak?

    IDAI meminta orangtua agar tidak menunda imunisasi anak demi kepentingan bersama. Ketika menunda imunisasi, resiko terjadinya wabah suatu penyakit menular akan bertambah. Sebab, imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk mencegah munculnya wabah.

    Kementerian Kesehatan dan IDAI telah menyusun jadwal imunisasi anak sesuai dengan usianya. Pemberian imunisasi sebaiknya mengikuti jadwal seharusnya untuk memastikan efektivitas vaksin tersebut. Pandemi Covid-19 dapat memicu terjadinya pandemi penyakit lain akibat turunnya angka imunisasi anak. Bila terjadi lebih dari satu pandemi dalam waktu yang bersamaan, tidak dapat dibayangkan dampak yang terasa oleh masyarakat.

    Pentingnya Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Setiap manusia yang lahir, pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan tubuh alami sejak Si Kecil berada didalam kandungan untuk melindunginya dari serangan penyakit. Namun, sistem kekebalan tubuh Si Kecil masih belum sempurna dan optimal seperti sistem imun orang dewasa sehingga mereka gampang sakit. Jadi, pentingnya imunisasi adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil sejak baru dilahirkan.

    Imunisasi anak saat masa pandemi adalah cara memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil sehingga kebal akan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit dan lainnya di masa pandemi ini. Melalui imunisasi dasar, berarti orang tua membantu melindungi Si Kecil dari berbagai resiko penyakit dimasa yang akan datang. Imunisasi akan membantu daya tahan tubuh Si Kecil agar memproduksi antibodi khusus untuk melawan jenis penyakit tertentu.

    Pandemi covid bukan berarti penyakit lain menghilang dan hanya ada covid saja. Oleh sebab itu, ada ataupun tidaknya covid tetap saja anak wajib untuk diberikan imunisasi.

    Jenis Imunisasi yang Penting Bagi Anak

    Berikut ini imunisasi wajib yang diberikan pada usia anak-anak menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.42 Tahun 2013 dan No.12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, disebutkan bahwa ada 5 jenis imunisasi wajib yang harus diperoleh Si Kecil yaitu:

    Imunisasi Hepatitis B

    Imunisasi hepatitis B diberikan sebanyak 4 kali. Pemberian pertama segera setelah bayi lahir dan paling lambat 12 jam setelah bayi dilahirkan, kemudian dilanjutkan pada usia 2,3,dan 4 bulan.

    Imunisasi Polio

    Imunisasi polio diberikan dalam bentuk tetes mulut, namun ada juga yang berbentuk suntikan. Imunisasi polio diberikan sebanyak 4 kali, yaitu pada saat bayi baru lahir atau paling lambat usia 1 bulan, kemudian usia 2, 3 dan 4 bulan. Sedangkan vaksin suntik diberikan sebanyak 1 kali yaitu pada usia 4 bulan.

    Imunisasi BCG

    Imunisasi BCG atau imunisasi yang dilakukan untuk mencegah penyakit TBC, dilakukan  sebanyak 1 kali dan diberikan pada saat bayi berusia 2 atau 3 bulan. Imunisasi ini diberikan melalui suntikan pada kulit Si Kecil.

    Imunisasi Campak

    Imunisasi campak pada anak diberikan sebanyak 3 kali, yaitu saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan 6 tahun. Namun, apabila Si Kecil sudah melakukan pemberian imunisasi MR/MMR pada usia 15 bulan, maka imunisasi campak pada usia 18 bulan tidak diperlukan lagi.

    Imunisasi DPT-HB-Hib

    Imunisasi ini dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis. Imunisasi ini diberikan pada usia 2,3,4, dan 18 bulan.

    Menunda apalagi tidak memberikan imunisasi anak saat masa pandemi dapat berisiko mengganggu kesehatannya. Apalagi jika tinggal di daerah yang notabene menjadi daerah endemik suatu penyakit.

    Apabila Si Kecil Tidak di Imunisasi

    Banyak risiko kesehatan yang dapat terjadi pada si kecil jika tidak diberi imunisasi. Risiko kesehatan ini bahkan dapat mempengaruhi kesehatannya saat dewasa nanti. Berikut ini resiko bila si kecil tidak diimunisasi:

    Sistem kekebalan tubuh tidak kuat dalam menghadapi penyakit

    Anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti hepatitis, TBC, batuk rejan dan difteri.

    Resiko komplikasi akibat penyakit menular

    Anak yang tidak diimunisasi memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang menyebabkan kecacatan pada bayi bahkan kematian. Hal ini disebabkan tubuh Si Kecil tidak mendapatkan kekuatan dari sistem pertahanan khusus yang dapat mendeteksi jenis penyakit berbahaya tertentu. Sehingga, kuman akan lebih mudah berkembang biak dan menginfeksi.

    Membahayakan anak atau orang lain disekitarnya

    Kasus-kasus penyakit menular di kalangan kelompok rentan dapat berkembang menjadi wabah di masyarakat. Untuk alasan inilah pemerintah masih memberikan imunisasi polio kepada anak untuk mencegah penyakit ini kembali mewabah.

    Penurunan kualitas hidup

    Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki resiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas atau cacat menetap. Contohnya, campak dapat menyebabkan komplikasi kebutaan. Atau polio dapat menyebabkan kelumpuhan dan cacat permanen.

    Resiko penurunan harapan hidup

    Vaksinasi yang tidak lengkap akan menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap akan mudah tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya menurun.

    Sayangnya masih banyak orang tua yang takut jika pergi ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi. Alasannya tentu saja karena di masa pandemi ini fasilitas kesehatan berisiko menjadi sarana penularan Covid-19. Terutama jika di fasilitas kesehatan tersebut terjadi kerumunan.

    Tips Cegah Penularan Covid-19 Saat Imunisasi Anak

    Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari penyebaran virus corona saat membawa si kecil ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi anak saat masa pandemi:

    1. Buat janji temu dengan Dokter atau Fasilitas Kesehatan penyedia jasa imunisasi
    2. Seleksi tempat imunisasi yang memenuhi standar protokol kesehatan
    3. Terapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker
    4. Menjaga jarak aman dengan orang lain selama di tempat imunisasi
    5. Mencuci tangan atau membawa hand sanitizer
    6. Hindari menyentuh area wajah (mulut, hidung, mata) selama di tempat umum

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pentingnya memberikan imunisasi anak saat masa pandemi Covid-19. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti imunisasi, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Kementerian Kesehatan. Orang Tua Wajib Lengkapi Imunisasi Dasar Anak Meski Pandemi COVID-19
    2. UNICEF. Imunisasi Rutin pada Anak Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia
    3. Dahlan. Bolehkah Menunda Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19
    4. Primaya Hospital. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun IDAI – Primaya Hospital
    5. Soedjatmiko, S., Sitaresmi, M., Hadinegoro, S, et al. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun
    6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya
    7. UNICEF. 7 konsekuensi dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi rutin
    8. Centers of Disease Control and Prevention. Not Vaccine Risk
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D Ditinjau oleh : dr. Monica C Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin covid pada anak merupakan hal yang lumrah. Namun sebenarnya vaksin covid itu aman. Manfaatnya juga jauh lebih besar ketimbang beberapa efek samping yang ditimbulkan. Pada tanggal 2 November 2021 lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  […]

    Tips Hadapi Efek Samping atau KIPI Vaksin Covid pada Anak

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Efek Samping Vaksin Covid pada Anak Jauh Lebih Kecil Dibandingkan Manfaatnya

    Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin covid pada anak merupakan hal yang lumrah. Namun sebenarnya vaksin covid itu aman. Manfaatnya juga jauh lebih besar ketimbang beberapa efek samping yang ditimbulkan.

    Pada tanggal 2 November 2021 lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  mengeluarkan rekomendasi pembaruan terkait pemberian vaksin COVID-19 (Coronavac) pada usia 6 tahun ke atas. Hal ini terkait dengan dikeluarkannya izin penggunaan dalam keadaan darurat  (EUA) Vaksin Coronavac produksi Sinovac khusus anak berusia 6-11 tahun oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta mempertimbangkan dimulainya pembelajaran tatap muka.

    Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaitu dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) menyatakan bahwa rekomendasi terbaru ini dikeluarkan karena anak juga dapat tertular dan atau menularkan virus corona dari dan ke orangtua di sekitarnya (orangtua, orang lain yang tinggal serumah, orang yang datang ke rumah, teman atau guru di sekolah dengan dimulai pada pembelajaran tatap muka), walaupun tanpa gejala.

    IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Covid-19 Coronavac pada anak dengan golongan usia 6 tahun ke atas dengan pemberian secara intramuskuler (lewat otot lengan) dengan dosis 3 ug (0,5 ml) sebanyak dua kali pemberian dengan jarak pemberian dosis pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu.

    Manfaat Vaksinasi Covid-19 Pada Anak

    Bagi anak-anak, terutama yang kini mulai melakukan sekolah tatap muka, vaksin covid dapat membantu daya tahan tubuh agar lebih kuat melawan infeksi Covid-19. Secara lengkap, berikut ini manfaat pemberian vaksinasi Covid-19 pada anak:

    Membantu Mencegah Anak Terinfeksi Covid-19

    Meskipun Covid-19 pada anak terkadang lebih ringan dari pada orang dewasa, namun beberapa anak yang terinfeksi Covid-19 dapat mengalami infeksi paru yang berat serta beresiko rawat inap. Mengingat varian delta serta omicron yang lebih menular saat ini.

    Mengurangi Penyebaran Covid-19

    Vaksin Covid-19 dapat melindungi anak dan orang lain, mengurangi kemungkinan mereka menularkan virus ke orang lain, termasuk keluarga dan teman yang mungkin lebih rentan terhadap konsekuensi infeksi yang lebih berat.

    Menghentikan Munculnya Varian Lain

    Kasus Covid-19 meningkat pada anak-anak dan varian delta tampaknya berperan. Vaksinasi mengurangi penularan virus untuk bermutasi menjadi varian baru yang mungkin lebih berbahaya.

    Kontra Indikasi Vaksin Covid-19 Pada Anak

    Semua anak sebenarnya perlu untuk diberi vaksin Covid-19. Namun beberapa anak tidak dapat menerima vaksin karena adanya kondisi tertentu. Berikut ini kondisi anak-anak yang tidak dapat menerima vaksinasi:

    • Defisiensi imun atau penyakit autoimun yang tidak terkontrol
    • Anak dengan Penyakit Sindrom Guillain Barre
    • Anak dengan Mielitis transversa
    • Anak dengan Acute demyelinating encephalomyelitis
    • Anak kanker yang sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi.
    • Sedang mendapatkan pengobatan penekan sistem imun
    • Sedang demam 37,50C atau lebih
    • Baru sembuh dari Covid-19 kurang dari 3 bulan
    • Pasca imunisasi lain kurang dari 1 bulan
    • Hipertensi tidak terkendali
    • Diabetes melitus tidak terkendali
    • Penyakit-penyakit kronik atau kelainan genetik
    • Memiliki penyakit bawaan yang tidak terkendali

    Jika memiliki kondisi di atas, sebaiknya bicarakan dengan tenaga kesehatan. Orang tua dan anak harus jujur saat proses skrining sebelum diberikan dosis vaksin Covid-19.

    Efek Samping Vaksin Covid Pada Anak

    Menurut ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau efek samping vaksin Covid-19 pada anak terbilang ringan. Beliau menyebutkan bahwa tidak ada KIPI berat yang disebabkan langsung oleh vaksinasi tersebut. Sejauh ini, KIPI yang dilaporkan hanya sebatas demam saja, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

    Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito meminta agar para orangtua tidak panik. Beberapa gejala KIPI pada anak hanya berupa nyeri pada lengan bekas suntikan, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, menggigil, mual dan muntah, rasa lelah, demam yang ditandai suhu diatas 37,80C dan gejala yang mirip dengan flu selama 1-2 hari.

    Tips Atasi Efek Samping Vaksin Covid pada Anak

    Sahabat Sehat tidak perlu panik apabila Si Kecil demam pasca diberikan vaksin Covid-19. Lakukan beberapa hal berikut sebagai penanganan awal, yakni :

    • Biarkan Si Kecil beristirahat.
    • Berikan obat pereda demam dan nyeri apabila diperlukan. 
    • Berikan air putih yang cukup. 
    • Kompres dengan kain bersih yang dibasahi dengan air dingin untuk meredakan nyeri dan bengkak

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa hal mengenai pemberian vaksin Covid-19 pada anak usia 6-11 tahun serta tips yang dapat dilakukan jika Si Kecil mengalami KIPI yang disebabkan efek samping vaksin covid pada anak. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti imunisasi anak, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. 

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Satuan Gugus Tugas Covid-19. Rekomendasi Pemberian Vaksin Covid 19 Sinovac Pada Anak Usia 6 Tahun Keatas
    2. Christina S. COVID Vaccine: What Parents Need to Know
    3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Pemberian Vaksin COVID-19 (Coronavac®) pada anak usia 6 tahun ke atas
    4. Satuan Gugus Tugas Covid-19. Satgas: Jangan Panik, Segera Penanganan Dini Jika Anak Bergejala KIPI Paska Vaksinasi
    5. Detik Health. Satgas IDAI Ungkap KIPI Vaksin COVID-19 Anak 6-11 Tahun yang Banyak Dilaporkan
    6. KIPI Covid-19. Informasi Tentang KIPI atau Reaksi Setelah Vaksinasi COVID-19
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjatu oleh : dr. Monica C Proses tumbuh kembang atau tahapan perkembangan bayi harus senantiasa menjadi perhatian. Terutama dalam satu tahun pertama si kecil. Memperhatikan tumbuh kembang si kecil akan membantu orang tua dalam memberikan perawatan terbaik. Perlu diketahui bahwa pertumbuhan bayi dengan perkembangan bayi adalah 2 hal […]

    Tahapan Perkembangan Bayi dari Lahir Hingga Usia 1 Tahun

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjatu oleh : dr. Monica C

    Bayi Sudah Bisa Merangkak Saat Memasuki Tahapan Perkembangan Bayi Usia 7 Bulan

    Proses tumbuh kembang atau tahapan perkembangan bayi harus senantiasa menjadi perhatian. Terutama dalam satu tahun pertama si kecil. Memperhatikan tumbuh kembang si kecil akan membantu orang tua dalam memberikan perawatan terbaik.

    Perlu diketahui bahwa pertumbuhan bayi dengan perkembangan bayi adalah 2 hal yang berbeda. Ya, meskipun saling berkaitan, keduanya berbeda. Pertumbuhan (growth) bersifat kuantitatif atau dapat diukur, sementara yang dimaksud perkembangan (development) adalah perubahan kuantitatif dan juga kualitatif yang meliputi bertambahnya kemampuan (skill), struktur dan fungsi tubuh.

    Tahapan Perkembangan Bayi pada Satu Tahun Pertama

    Tumbuh kembang setiap anak tentunya berbeda-beda, hal ini karena adanya beberapa faktor yang berpengaruh pada tumbuh kembang si kecil, antara lain faktor biologis (genetik), psikologis, dan lingkungan.

    Perkembangan si kecil dibagi menjadi beberapa bagian, yakni : 

    • Motorik kasar (berjalan, berlari)
    • Motorik halus (menggambar)
    • Sensorik (melihat atau visual dan mendengar)
    • Bahasa (mengucapkan kata lalu kalimat)
    • Sosial dan emosional (bermain bersama dan bermain bergantian).1

    Parameter pertumbuhan si kecil mencangkup tinggi badan, berat badan dan juga lingkar kepala. Sementara itu ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam aspek perkembangan anak, yaitu perkembangan motorik, bahasa, kognitif serta emosi dan perilaku.

    Secara garis besar, tahapan perkembangan bayi sejak baru lahir hingga 1 tahun pertama kehidupannya adalah sebagai berikut:

    Bayi Baru Lahir – 1 Bulan

    Pada hari ke 2-3 semenjak kelahiran Si Kecil, terbilang normal bila si kecil kehilangan 10% dari berat badannya dibandingkan hari kelahirannya. Si Kecil akan kembali mendapatkan berat badannya kurang lebih dalam waktu 2 minggu. Panjang badan bayi akan bertambah 3-4 cm dari panjang badan saat lahir. Ada beberapa gerakan refleks pada bayi baru lahir, seperti:

    Reflek Rooting

    Jika sudut mulut Si Kecil disentuh, ia akan menoleh dan mengikuti arah sentuhan tersebut. Hal ini berguna agar si kecil dapat menemukan puting payudara.

    Reflek Hisap

    Jika bayi berhasil menemukan benda yang menyentuh mulutnya (kelanjutan dari reflek rooting), ia akan mulai menghisap benda tersebut.

    Refleks Moro

    Reflek ini terjadi ketika si kecil terkejut, maka akan mengangkat kedua lengan nya. Namun pada beberapa anak mungkin akan menangis sebagai response ketika terkejut.

    Refleks Genggam

    Ketika orang tua menaruh jari pada telapak tangan si kecil, ia akan menggenggamnya. Anak juga mungkin akan berusaha memasukkan jari tersebut ke mulutnya.

    Refleks Babinski

    Jika telapak kaki Si Kecil disentuh dengan pola melingkar, jempol kaki akan tertarik ke belakang dan empat jari lainnya akan merenggang. Refleks ini tidak normal jika masih terdapat pada anak usia diatas 2 tahun.

    Pada 1 bulan pertama, perkembangan mata Si Kecil belum normal, belum bisa fokus dan terlihat seperti juling. Terkadang mimik bayi tampak terkejut (jittery). Pada usia ini, si kecil belum dapat berkomunikasi dengan baik, cara komunikasi hanya dilakukan dengan cara menangis.

    Usia 1-3 Bulan

    Berat badan si kecil akan meningkat sebanyak 680-910 gram, panjang badannya akan bertambah sebanyak 2,5 cm setiap bulan dan lingkar kepala juga bertambah 1,25 cm setiap bulan. Berikut adalah perkembangan Si Kecil pada usia ini, yakni:

    Gerak Kepala

    Otot leher si kecil sudah mulai kuat, Si Kecil mulai dapat menggerak-gerakkan kepalanya. Matanya sudah dapat mengikuti cahaya dan suara.

    Gerak Anggota Tubuh

    Si Kecil sudah mulai dapat memasukan jari ke mulut. Orang tua sudah harus memperhatikan apa yang mungkin dimasukkan si kecil ke dalam mulutnya. Selain itu nampak pergerakan kaki dan tangan sudah mulai aktif.

    Cara Berkomunikasi

    Pada usia ini Si Kecil masih berkomunikasi dengan cara menangis, namun Si Kecil sudah dapat membedakan suara yang sering didengarnya. Beberapa anak akan hanya lebih tenang jika mendengar suara dari orang tuanya (terutama suara ibunya).

    Konsultasikan kepada dokter anak jika dirasa ada keterlambatan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Pastikan tahapan perkembangan bayi tetap dalam garis besar tahapan perkembangan yang seharusnya.

    Usia 4-6 Bulan

    Pada usia ini, berat badan Si Kecil meningkat hampir 2x berat lahirnya. Panjang badan akan bertambah sebanyak 1,25 – 2,5 cm per bulan dan lingkar kepala akan bertambah sebanyak 1,25 cm per bulannya. Refleks yang didapat saat lahir sudah mulai menghilang.

    Berikut ini beberapa perkembangan yang dialami Si Kecil saat usia ini :

    • Mampu menjaga keseimbangan kepala dengan baik
    • Dapat memiringkan badan ke kanan dan kiri
    • Mulai dapat duduk sendiri
    • Melihat dengan jelas dari jarak jauh
    • Tertawa, mengoceh dan menirukan bunyi
    • Menjulurkan tangan untuk meminta digendong

    Beberapa bayi mungkin mengalami keterlambatan pertumbuhan ataupun perkembangan. Silahkan lakukan pemeriksaan dan konsultasi pada dokter anak untuk memastikan kondisi tumbuh kembang si kecil dengan lebih akurat.

    Usia 7-9 Bulan

    Pada tahap ini, si kecil umumnya bertambah berat badan sebanyak 450 gram setiap bulannya. Sedangkan panjang badan akan bertambah sebanyak 1,25 cm setiap bulannya dan lingkar kepala bertambah sebanyak 0,6 cm per bulan. Berikut ini perkembangan Si Kecil pada usia ini :

    • Si kecil sudah dapat duduk mantap tanpa dibantu.
    • Si kecil sudah mulai dapat merangkak
    • Mulai untuk belajar berdiri dan merambat
    • Si kecil sudah dapat menggunakan jempol dan telunjukny
    • Semakin sering mencoba memasukan benda apapun yang dipegang kedalam mulut
    • Si kecil sudah dapat membedakan orang tua, orang terdekat dan orang asing

    Tumbuh kembang bayi pada usia 7-9 bisa berbeda-beda. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan agar tumbuh kembang pada tahap ini bisa tercapai. Konsultasikan pada dokter anak jika dirasa anak memiliki masalah pada tahap tumbuh kembangnya.

    Usia 10-12 Bulan

    Pada usia ini si kecil bertambah berat badan sebanyak 3 kali berat badan lahir, sedangkan panjang badan dan juga lingkar kepala akan bertambah sebanyak 0,6 cm per bulan. 

    Berikut ini perkembangan si kecil pada usia ini :

    • Mulai lancar merambat
    • Mulai dapat berdiri beberapa saat tanpa berpegangan
    • Dapat berjalan jika di tuntun
    • Memasukan makanannya sendiri kedalam mulutnya tanpa disuapi
    • Mulai tumbuh gigi, sebanyak 4-6 gigi
    • Dapat mengikuti perintah dan paham arti kata “tidak”
    • Aktif bermain
    • Memperlihatkan emosi dan karakternya

    Nah Sahabat Sehat, itulah tahapan perkembangan bayi pada masa dan tahun awal tumbuh kembangnya. Untuk membantu tumbuh kembang si kecil, pastikan untuk senantiasa memberikan ASI, memberi imunisasi, serta terus memberikan rangsangan yang dapat membantu tumbuh kembangnya (misal mengajak berkomunikasi).

    Dapatkan layanan konsultasi dan imunisasi anak, cek: Layanan Imunisasi Anak dari Prosehat

    Referensi

    1. Rumah Sakit JIH. Kenali Tahapan Perkembangan Anak Usia 0-12 Bulan
    2. Shalders L. Physical & Emotional Development of your Infant: 0-12 months
    3. Heffron C. Baby Milestones: 0 to 12 Months
    4. Pregnancy Birth & Baby. Your baby’s growth and development – 1 month old
    5. Agoomd. Developmental milestones 0 to 12 months
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Perjalanan mudik ke kampung halaman bisa membuat si kecil kelelahan. Anak jadi rentan mengalami berbagai penyakit. Misalnya demam. Anak akan lebih mudah mengalami demam dibanding orang dewasa. Sebab, anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna, sehingga sangat mudah bagi virus penyebab penyakit untuk menginfeksinya.  […]

    Solusi Jika Anak Demam Setelah Perjalanan Jauh atau Mudik

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Mengkompres Anak Demam Setelah Perjalanan Jauh Jadi Solusi yang Efektif

    Perjalanan mudik ke kampung halaman bisa membuat si kecil kelelahan. Anak jadi rentan mengalami berbagai penyakit. Misalnya demam. Anak akan lebih mudah mengalami demam dibanding orang dewasa. Sebab, anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna, sehingga sangat mudah bagi virus penyebab penyakit untuk menginfeksinya. 

    Selain itu ada berbagai faktor lain yang juga dapat menyebabkan anak demam setelah perjalanan jauh, seperti rutinitas harian yang berubah, kurang tidur, makan yang tidak teratur, serta asupan nutrisi yang seadanya selama mudik. Oleh sebab itu, sangat penting sebagai orang tua memahami bagaimana cara agar si kecil tidak jatuh sakit selama perjalanan mudik, dan sepulang dari perjalanan mudik.

    Tips Jika Anak Demam Setelah Perjalanan Jauh

    Demam muncul sebagai respon tubuh saat sistem kekebalan tubuh sedang berusaha melawan virus penyebab penyakit, seperti virus flu, pilek, maupun virus lainnya. Ditambah, paparan kuman yang mengintainya selama diperjalanan akan semakin meningkatkan risiko anak demam. Dikatakan demam apabila suhu tubuh Si Kecil mencapai atau melebihi 38 derajat Celcius.

    Berikut beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan ketika anak demam setelah pulang mudik:

    Perbanyak Minum Air Putih

    Demam dapat memicu dehidrasi, oleh sebab itu penting untuk selalu memastikan asupan cairan Si Kecil selama demam. Periksakan Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat apabila Si Kecil menolak minum dan menunjukan beberapa gejala berikut, misalnya:

    • Bibir dan mulut kering
    • Tidak keluar air mata saat menangis
    • Mata cekung
    • Terlihat sangat lemas

    Jika Si Kecil masih bayi, Sahabat Sehat dianjurkan memberikan ASI lebih sering. Namun apabila Si Kecil sudah berusia lebih besar, berikan minum air putih atau jus buah untuk mencegah  dehidrasi dan menurunkan demam. 

    Gunakan Plester Demam Penurun Panas

    Kompres dingin dapat membantu meredakan gejala demam setelah perjalanan jauh. Kompres dapat  diletakan di area pembuluh darah yang paling dekat dengan permukaan kulit, seperti di dahi, pangkal paha, atau pergelangan tangan Si Kecil.

    Plester demam ini terdiri dari hydrogel dengan kandungan air yang berfungsi menyerap panas tubuh sehingga mampu menurunkan dan mengatasi suhu panas pada tubuh anak yang demam. Namun, penggunaan kompres dingin manual ini mungkin akan sedikit merepotkan jika dilakukan di perjalanan. Walaupun demikian, plester ini efektif untuk membantu penyembuhan anak demam setelah perjalanan jauh.

    Dapatkan Sekarang: Plester Kompres Demam untuk Anak

    Berikan Obat Penurun Demam

    Untuk mengatasi demam, Sahabat Sehat dapat memberikan obat penurun demam yang dijual bebas sebagai penanganan awal. Konsumsi obat sesuai dosis yang tertera di kemasannya. Namun, jika Si Kecil tampak lemas, demam tak kunjung mereda meski sudah konsumsi obat maka sebaiknya periksakan Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Jangan paksakan untuk menunda pemeriksaan si kecil. Jika memang menemukan klinik dokter di tengah perjalanan, bawalah si kecil ke klinik tersebut.

    Dapatkan Sekarang: Obat Penurun Demam

    Pilih Pakaian yang Tepat

    Saatanak demam setelah perjalanan jauh atau saat perjalanan mudik, hindari memakaikannya pakaian tebal atau bertumbuk yang membuat suhu tubuhnya semakin panas. Sebaiknya pilihlah jenis pakaian yang tipis, nyaman, dan mampu menyerap keringat dengan baik. Hal ini akan membantu Si Kecil merasa lebih nyaman dan membuat tubuh tidak semakin panas selama di perjalanan.

    Si kecil mungkin akan lebih cerewet, misalnya karena mendapatkan tempat yang sempit dan gerah. Oleh sebab itu, berilah dia pakaian yang nyaman dan ruangan yang lebih lega sehingga lebih nyaman.

    Buat Si Kecil Nyaman

    Mengatur suhu ruangan atau kendaraan lebih sejuk dapat membantu anak untuk merasa lebih nyaman. Sahabat Sehat dapat menggunakan penyejuk ruangan atau sesekali membuka jendela kendaraan agar sirkulasi udara lebih lancar dan terasa lebih sejuk. 

    Apabila setelah melakukan beberapa tips di atas, gejala anak demam setelah perjalanan jauh tidak kunjung membaik maka segeralah memeriksakan Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat. Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips mengatasi demam Si Kecil setelah mudik.

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti multivitamin, susu dan imunisasi untuk Si Kecil, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Bucher B. What to do when your child has a fever
    2. Children’s Hospital. Fever 
    3. Stanford Childrens. Fever in Children
    4. University Hospitals. How To Treat Fevers in Children
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D Ditinjau oleh : dr. Monica C Tes covid bukan hanya untuk orang dewasa. Tes covid pada anak juga perlu dilakukan. Terutama jika anak menunjukkan gejala covid. Melakukan tes juga menjadi hal yang perlu dilakukan jika orang tuanya terkonfirmasi positif. Ya, virus COVID-19 tidak hanya menyerang dewasa, tetapi juga […]

    Prosedur dan Tips Persiapan Sebelum Tes Covid pada Anak

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Pengambilan Sampel Usap Tes Covid pada Anak

    Pengambilan Sampel Usap Tes Covid

    Tes covid bukan hanya untuk orang dewasa. Tes covid pada anak juga perlu dilakukan. Terutama jika anak menunjukkan gejala covid. Melakukan tes juga menjadi hal yang perlu dilakukan jika orang tuanya terkonfirmasi positif.

    Ya, virus COVID-19 tidak hanya menyerang dewasa, tetapi juga menyerang anak-anak. Terlebih lagi, dengan ditemukan varian baru yaitu omicron, kemungkinan anak terkena covid menjadi lebih besar. Data Satgas penanganan COVID-19 mengungkapkan secara kumulatif hingga 16 juli 2021 ada 777 anak di Indonesia yang meninggal dunia akibat terpapar COVID-19. Persentase angka kematian tertinggi (CFR) berada pada rentang kelompok usia 0-2 tahun, diikuti kelompok usia 16-18 tahun dan usia 3-6 tahun.

    Gejala COVID-19 Pada Anak

    Ketika gejala covid muncul pada anak, orang tua dapat segera memberikan pengecekan swab antigen ataupun swab PCR untuk mengetahui apakah benar anak terinfeksi covid. Semakin cepat kondisi diketahui, dan semakin cepat ditangani, risiko keparahan akibat covid dapat ditekan dan dihindari.

    Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan rawannya penularan virus COVID-19 pada kelompok usia anak-anak. Pada minggu pertama, gejala COVID-19 pada anak rata-rata hanya berlangsung selama enam hari. untuk gejalanya, umumnya anak-anak akan merasakan nyeri kepala, kelelahan, sakit tenggorokan dan gangguan penciuman (anosmia). Gejala yang muncul tergantung dari lamanya durasi anak-anak terinfeksi virus.

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai gejala Covid-19 yang dapat dialami Si Kecil :

    • Demam 
    • Pilek
    • Nyeri tenggorokan
    • Batuk
    • Sesak nafas
    • Nyeri pada seluruh badan
    • Hidung tersumbat
    • Gangguan indra penciuman dan pengecap

    Bayi berusia dibawah 1 tahun lebih beresiko tinggi terinfeksi Covid-19 dibandingkan anak yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena sistem kekebalan tubuh bayi yang belum kuat dibandingkan anak yang berusia lebih besar. Jika Si Kecil mengalami gejala seperti diatas, segera periksakan Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat. Lakukan tes PCR untuk memastikan apakah si kecil mengalami Covid-19.

    Jenis Tes Covid pada Anak

    Dari sekian banyak jenis tes covid, Sahabat Sehat dapat memilih salah satu jenis tes yang dianggap cocok untuk si kecil. Adapun beberapa jenis tes covid pada anak yang bisa dipilih antara lain:

    Tes Molekuler (PCR)

    Jenis tes molekuler yang paling umum digunakan untuk mendeteksi Covid-19 adalah PCR (Polymerase Chain reaction) yang memiliki tingkat keakuratan yang sangat tinggi. Test PCR juga sudah disahkan dan disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat dan dianggap sebagai standar untuk mendiagnosa Covid-19. Tes PCR dilakukan dengan menggunakan usap hidung dan tenggorokan.

    Jika anak dirasa kurang nyaman jika hidung dan tenggorokannya dicolok, Sahabat Sehat dapat memilih melakukan tes PCR kumur.

    Dapatkan: Layanan Tes PCR Kumur (PCR Saliva)

    Tes Antigen

    Jenis tes diagnostic Covid-19 lainnya yaitu tes antigen. Tes ini dilakukan menggunakan metode usap hidung atau tenggorokan. Bila hasil test negative, namun gejala menunjukkan kecurigaan Covid-19 maka perlu dilakukan konfirmasi tes PCR.

    Jika ingin melakukan tes antigen sebagai syarat mendapatkan izin bepergian, atau syarat untuk sekolah tatap muka, pastikan untuk melakukan tes antigen di klinik yang terintegrasi dengan NAR. Dengan demikian, data hasil swab akan terbaca di aplikasi PeduliLindungi.

    Tes Antibodi

    Tes antibodi atau tes darah (serologi) dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap sampel darah anak untuk menemukan protein khusus yang disebut antibodi. Tubuh akan membuat protein tersebut untuk melawan virus, seperti SARS-CoV-2. Tes ini dapat menunjukan riwayat terinfeksi Covid-19 di masa lalu, meskipun tanpa gejala.

    Jika si kecil sulit untuk diswab, tes antibodi bisa menjadi salah satu pilihan alternatif dalam melakukan tes covid pada anak.

    Tips Sebelum Melakukan Swab Pada Anak

    Pengalaman melakukan swab bisa jadi hal yang kurang menyenangkan untuk si kecil. Bisa jadi dia kemudian menjadi trauma dan tidak ingin lagi melakukan swab. Oleh sebab itu, sebelum melakukan swab, orang tua perlu memberikan pengertian, memperlihatkan bahwa tidak terjadi apa-apa pada orang tuanya setelah tes swab.

    Pada pemeriksaan PCR dan swab antigen, proses pengambilan sampel dilakukan sama seperti pada orang dewasa, yaitu dengan mengusap tenggorokan atau hidung dengan menggunakan alat tertentu. Berikut ini prosedur yang dilakukan:

    • Anak diminta meniup napas melalui hidung untuk memastikan tidak ada sumbatan
    • Mendongakkan kepala, lalu petugas akan melakukan alat swab seperti cotton bud dengan gagang panjang lalu diusapkan dan diputar hingga ke belakang hidung selama beberapa detik
    • Setelah dilakukan swab pada hidung, anak diminta untuk membuka mulut lebar kemudian dimasukkan alat swab hingga mencapai belakang tenggorokan tanpa menyentuh lidah.
    • Alat swab dimasukkan kedalam tabung yang berisi cairan berisi reagen, lalu setelah itu dilakukan pemeriksaan PCR maupun antigen di laboratorium.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai persiapan dan langkah melakukan tes covid pada anak. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti pemeriksaan Covid-19 ke rumah, multivitamin, dan imunisasi untuk Si Kecil, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. American Academy of Pediatrics. COVID-19 Testing Guidance
    2. Government of Netherlands. Testing children for coronavirus
    3. Halim. Gejala COVID-19 pada Anak
    4. Healthy Children. COVID-19 Testing and Kids: What you Should Know
    5. Mayo Clinic. How COVID-19 (coronavirus) affects babies and children
    6. National Health Service. Coronavirus (COVID-19) symptoms in children
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D Ditinjau oleh : dr. Monica C Marasmus merupakan kondisi malnutrisi pada anak. Kerap dialami oleh balita yang kurang mendapatkan ASI. Penyakit ini sangat berbahaya. Terutama karena dapat menyebabkan kematian pada si kecil. Selain itu, masalah malnutrisi marasmus dapat berdampak pada kesehatan secara fisik dan pada perkembangan mental Si Kecil. […]

    Marasmus : Malnutrisi yang Sangat Berbahaya Bagi Si Kecil

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Selain Kerap Terjadi pada Anak di Benua Afrika, Marasmus Juga Kerap Terjadi di Beberapa Wilayah di Indonesia

    Selain Kerap Terjadi pada Anak di Benua Afrika, Marasmus Juga Kerap Terjadi di Beberapa Wilayah di Indonesia

    Marasmus merupakan kondisi malnutrisi pada anak. Kerap dialami oleh balita yang kurang mendapatkan ASI. Penyakit ini sangat berbahaya. Terutama karena dapat menyebabkan kematian pada si kecil. Selain itu, masalah malnutrisi marasmus dapat berdampak pada kesehatan secara fisik dan pada perkembangan mental Si Kecil.

    Maka dari itu, penyakit ini tidak dapat dianggap remeh. Terlebih lagi masalah marasmus ini masih menjadi salah satu masalah serius di dunia terutama pada negara berkembang yang kerap ditemukan anak-anak dengan kondisi gizi buruk seperti di Indonesia.

    Berdasarkan Pantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, bayi berusia dibawah lima tahun (Balita) yang mengalami gangguan gizi pada tahun 2017 mencapai 17,8%. Angka ini sama dengan tahun sebelumnya, yang terdiri dari balita yang mengalami gizi buruk mencapai 31,8% dan gizi kurang mencapai 14%.

    Mengenal Apa Itu Marasmus

    Marasmus adalah salah satu jenis malnutrisi yang diakibatkan karena kekurangan asupan energi atau kalori dari semua jenis makronutrien, seperti karbohidrat, lemak dan protein. Kekurangan gizi ini berlangsung kronis, artinya sudah berlangsung selama tahun-tahun pertama kehidupan Si Kecil yang disertai dengan gangguan pertumbuhan tubuh si kecil dan berkurangnya lemak bawah kulit dan otot.

    Marasmus seringkali diderita balita berusia 0-2 tahun yang tidak mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) dengan cukup. Penyebabnya karena masukan makanan yang sangat kurang, infeksi, pembawaan lahir, prematur, penyakit pada neonatus serta kesehatan lingkungan.

    Gejala

    Penderita marasmus akan menunjuukan beberapa gejala dan ciri fisik layaknya penderita gizi buruk pada umumnya. Beberapa gejala marasmus pada anak antara lain:

    • Tampak sangat kurus
    • Berat badan rendah (60 persen dibawah yang seharusnya)
    • Kehilangan sebagian besar lemak dan ototnya
    • Nampak seperti tulang yang dilapisi kulit saja
    • Wajah tampak seperti orang tua
    • Tulang iga gambang atau menonjol
    • Perut cekung
    • Otot paha kendur
    • Anak lebih cengeng dan rewel
    • Walaupun sudah makan, masih suka merasa lapar
    • Kulit kering dan rambut rapuh
    • Tidak berenergi dan tampak lesu
    • Mengalami diare kronis

    Jika anak mengalami ciri-ciri gejala marasmus, pastikan untuk segera membawa ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan menentukaan tindakan medis yang perlu dilakukan.

    Penyebab

    Marasmus adalah bentuk kondisi dari gizi buruk. Terdapat berbagai jenis gizi buruk yang terjadi pada anak-anak di Indonesia. Namun, yang kita akan bahas kali ini adalah Marasmus. Penyebab gizi buruk dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.

    Penyebab Langsung Gizi Buruk

    Penyebab langsung gizi buruk meliputi kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, maupun adanya infeksi yang menyerang tubuh Si Kecil.

    Penyebab Tidak Langsung

    Penyebab tidak langsung gizi buruk yaitu akibat pengaruh status ekonomi, pola asuh yang kurang memadai dan pendidikan keluarga yang rendah.

    Penanganan  dan Perawatan

    Perawatan awal marasmus sering mencangkup susu bubuk skim yang dicampur dengan air matang. Campuran tersebut juga dapat dicampur dengan minyak nabati (wijen, kasein dan gula). Kasein merupakan protein susu, sementara minyak meningkatkan kandungan energi dan kepadatan campuran susu skim tersebut. Begitu Si Kecil mulai membaik dari gizi buruknya, Sahabat Sehat perlu memberikan gizi yang seimbang untuk mencukupi kebutuhan gizinya.

    Jika Si Kecil mengalami diare akibat marasmus dan terjadi dehidrasi, maka prioritas utama yaitu mengembalikan cairan tubuh Si Kecil dengan memberikan susu atau cairan yang cukup. Pada anak yang menderita marasmus, rentan menderita infeksi pencernaan, infeksi kulit hingga infeksi pernapasan. Sahabat Sehat dianjurkan berkonsultasi dengan dokter agar diberikan penanganan yang tepat.

    Pencegahan

    Cara terbaik untuk mencegah marasmus adalah dengan memiliki asupan kalori dan protein yang cukup, sebaiknya dari makanan yang sehat dan seimbang. Penuhi asupan makanan Si Kecil dengan makanan yang kaya akan protein seperti susu skim, telur, ikan dan kacang-kacangan yang ideal untuk kebutuhan energi dan pertumbuhan si kecil. Selain protein, sayur dan buah juga sangat penting untuk memenuhi asupan nutrisi dan mineral lain untuk mencegah kekurangan vitamin.

    Selain itu, pastikan dalam awal tumbuh kembang anak diberikan ASI dalam jumlah yang cukup sehingga tumbuh kembangnya dapat optimal karena mendapatkan asupan yang dibutuhkan.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai marasmus yang merupakan salah satu jenis gangguan gizi buruk. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah, atau memerlukan multivitamin untuk Si Kecil, segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Oetoro S. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals [Internet]. Indonesia : Siloam Hospitals; [cited 2021 Dec 05].
    2. Kata Data Kemenkes RI. 17,8% Balita Indonesia Kekurangan Gizi [Internet]. Indonesia : Kata Data Kemenkes RI; [cited 2021 Dec 05].
    3. Universitas Muhammadiyah Semarang. Tinjauan Pustaka [Internet]. Indonesia : Universitas Muhammadiyah Semarang; [cited 2021 Dec 05].
    4. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Kesehatan Anak Balita di Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. 2015
    5. Mehta F. Marasmus: Causes, symptoms, and treatment [Internet]. USA : Medical News Today; [cited 2021 Dec 05]. 
    6. Roland J, Butler. Marasmus: Symptoms, Treatment, and More [Internet]. USA : Healthline; [cited 2021 Dec 05].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Ditinjau oleh : dr. Monica C Rasa nyeri membuat sulit untuk menelan makanan. Gejala ini biasa disebut difagia. Penyebabnya banyak. Mulai dari radang hingga difteri. Masalah ini tidak boleh diabaikan, apalagi jika si kecil yang mengalami gejala ini. Kondisi nyeri saat menelan pada anak-anak tentu dapat menyebabkan anak menjadi […]

    Jangan Remehkan Nyeri Saat Menelan, Bisa Jadi Itu Difteri

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Ketika Anak Merasa Nyeri Saat Menelan Maka Bisa Jadi Itu Gejala Difteri

    Ketika Anak Merasa Nyeri Saat Menelan Maka Bisa Jadi Itu Gejala Difteri

    Rasa nyeri membuat sulit untuk menelan makanan. Gejala ini biasa disebut difagia. Penyebabnya banyak. Mulai dari radang hingga difteri. Masalah ini tidak boleh diabaikan, apalagi jika si kecil yang mengalami gejala ini.

    Kondisi nyeri saat menelan pada anak-anak tentu dapat menyebabkan anak menjadi rewel dan nafsu makannya menurun. Hal tersebut tentu kurang baik untuk tumbuh kembangnya. Salah satu penyebab nyeri menelan adalah akibat infeksi difteri, yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positif anaerob.

    Risiko Kasus Difteri di Indonesia

    Difteri ditularkan melalui cairan pernapasan pasien yang terkena difteri. Pada daerah endemis difteri, 3%-5% orang sehat bisa menjadi pembawa kuman atau yang disebut karier. Kuman difteri hidup dalam debu atau udara luar sampai dengan 6 bulan. Pada tahun 2014, jumlah kasus difteri sebanyak 296 kasus dengan kasus meninggal 16 orang. Dari 22 provinsi yang melaporkan adanya kasus difteri, provinsi tertinggi ada di jawa timur yaitu 295 kasus yang berkontribusi sebanyak 74%.

    Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) mencatat bahwa ada 7097 kasus difteri dilaporkan diseluruh dunia pada tahun 2016. Diantara jumlah kasus tersebut, Indonesia menyumbang sebanyak 342 kasus.

    Sejak tahun 2011, Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat sebanyak 3353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai 2016 sehingga dengan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3353 orang yang menderita difteri diketahui 110 diantaranya meninggal dunia, hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi lengkap.

    Penularan Penyakit Difteri

    Penularan difteri terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

    • Percikan ludah (dari bersin dan batuk)
    • Menyentuh borok atau luka penderita difteri

    Penularan umumnya terjadi di daerah dengan lingkungan pada penduduk dan kebersihan lingkungannya tidak terjaga dengan baik.

    Gejala Difteri Pada Anak

    Kesulitan menelan belum tentu karena difteri. Gejala sulit menelan ataupun rasa nyeri saat menelan bisa disebabkan oleh beberapa sebab. Misalnya radang tenggorokan, ada radang amandel, adanya abses (penumpukan nanah) di rongga tenggorokan, dan ada tumor pada rongga mulut/tenggorokan.

    Oleh sebab itu, sangat penting untuk memeriksakan ke dokter untuk mencari tahu apa penyebab si kecil merasa nyeri saat menelan makanan. Atau setidaknya cari tahu apakah si kecil benar-benar mengalami difteri dengan melihat gejala lain yang muncul selain nyeri saat menelan.

    Gejala difteri umumnya akan muncul sekitar 2-5 hari setelah si kecil terinfeksi kuman penyebab difteri.  Sebagian anak mungkin tidak menunjukkan gejala apapun termasuk demam. Namun, sebagian lagi akan mengalami gejala yang sangat ringan seperti gejala flu. Berikut adalah berbagai gejala difteri yang dapat dialami Si Kecil, yaitu:

    • Selaput warna putih keabu-abuan pada tenggorokan dan amandel
    • Demam (kerap diiringi pilek)
    • Sulit bernapas dan suara serak
    • Nyeri pada tenggorokan (dan terutama saat makan)
    • Detak jantung meningkat
    • Mengi (suara seperti siul saat menarik atau menghembuskan napas)
    • Pembesaran kelenjar getah bening di leher
    • Pembengkakakn pada langit-langit mulut
    • Berkeringat dingin

    Butuh Layanan Dokter Anak? Manfaatkan: Layanan Dokter Anak ke Rumah

    Segera bawa anak ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jangan biarkan menunda penanganan karena difteri dapat menjadi komplikasi difteri yang tentunya akan berbahaya untuk anak.

    Komplikasi Difteri Pada Anak

    Komplikasi yang dapat dialami akibat racun dari kuman difteri dapat sangat berbahaya. Difteri dapat mengganggu kerja beberapa organ pada tubuh, termasuk pada:

    • Otot dan juga katup jantung
    • Gangguan irama jantung
    • Tertutupnya saluran pernapasan oleh selaput (pseudomembran)

    Baca Juga: Tips Cegah Anak Terinfeksi Difteri

    Untuk mencegah komplikasi dan bahaya dari difteri pada anak, kasus difteri harus ditangani segera yakni dengan pemberian obat-obatan. Dokter biasanya akan memberikan antibiotik seperti penisilin untuk membantu mengatasi kuman difteri dalam tubuh.

    Pencegahan Difteri

    Pencegahan difteri dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksin difteri. Pada anak, biasanya vaksinasi difteri diberikan dalam bentuk kombinasi DPT-HB-Hib. Vaksinasi ini dapat melindungi si kecil dari berbagai penyakit menular seperti difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, meningitis dan pneumonia yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe B.

    Pemberian vaksinasi dasar ini wajib diberikan bagi anak-anak sebanyak 3 kali yaitu pada usia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan pada usia 18 bulan. Pemberian vaksinasi difteri lanjutan diberikan dalam bentuk vaksinasi Td yaitu kombinasi vaksinasi tetanus dan difteri yang diberikan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS yaitu pada usia 5 tahun dan bagi yang berusia diatas 12 tahun diberikan vaksinasi Td/Tdap yang dapat diberikan selama 10 tahun sekali.

    Butuh imunisasi difteri untuk anak ataupun vaksin difteri untuk dewasa?
    Dapatkan layanan vaksinasi difteri: Pesan Layanan Vaksin Difteri Sekarang

    Referensi

    1. Hartoyo E. Difteri Pada Anak. Sari Pediatri. 2018;19(5):300.
    2. Dinas Kesehatan Kulon Progo. DIFTERI [Internet]. Indonesia : Dinas Kesehatan Kulon Progo. 2021 [cited 15 December 2021].
    3. Latupeirissa D. RS Pondok Indah [Internet]. Indonesia : RS Pondok Indah Group. 2021 [cited 15 December 2021].
    4. Pearl B. Diphtheria (for Parents) [Internet]. Indonesia : Kids Health.org. 2021 [cited 15 December 2021].
    5. Zingman B, Watson L, Fraser M. Diphtheria in Children [Internet]. USA : University of Rochester Medical Center. 2021 [cited 15 December 2021].
    Read More
Chat Dokter 24 Jam