Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 101–110 of 157 results

  • Tuberkulosis (TBC) pada anak disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lain seperti tulang, mata, ginjal, selaput otak, kelenjar getah bening, jantung, hati, kulit, dan usus. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima prevalensi TBC paru terbanyak. Setiap tahun didapatkan 250.000 kasus baru dan 100.000 kematian karena TBC. Di negara […]

    TUBERKULOSIS (TBC) PADA ANAK

    Tuberkulosis (TBC) pada anak disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lain seperti tulang, mata, ginjal, selaput otak, kelenjar getah bening, jantung, hati, kulit, dan usus. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima prevalensi TBC paru terbanyak. Setiap tahun didapatkan 250.000 kasus baru dan 100.000 kematian karena TBC. Di negara berkembang, TBC pada anak <15 tahun adalah 15% dari seluruh kasus TBC, sedangkan di negara maju 5%-7%.1,2

    Tuberkulosis paru menular melalui percikan dahak orang dewasa sewaktu bersin, berbicara, atau bernyanyi, lalu terhirup dan masuk ke dalam paru-paru anak. Faktor risiko terjadinya TBC paru pada anak antara lain riwayat kontak dengan penderita TBC paru dewasa, daerah endemis, kemiskinan, lingkungan tidak sehat, dan tempat penampungan umum yang terdapat orang dewasa dengan TBC aktif.

    Gejala TBC pada anak terkadang sulit didiagnosis menyebabkan penanganan TBC dengan anak terabaikan. Gejala TBC pada anak antara lain adalah:

    1. Demam lama > 2 minggu atau demam berulang (umumnya demam tidak terlalu tinggi)
    2. Batuk yang menetap atau memburuk > 3 minggu
    3. Nafsu makan turun, berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut
    4. Teraba benjolan di leher (umumnya lebih dari satu)
    5. Anak tampak lesu dan tidak kelihatan seaktif biasanya
    6. Kontak erat dengan penderita TBC paru aktif1

    Apabila anak anda diduga menderita TBC paru, maka segera lakukan pemeriksaan penunjang yaitu tes mantoux. Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan cairan tuberkulin di bawah kulit dan hasilnya dapat dilihat dalam 48-72 jam dengan timbulnya benjolan kurang lebih 10 mm, berati tes positif, anak pernah terpapar dengan kuman tersebut. Selanjutnya, pemeriksaan rontgen dada dilakukan untuk melihat adanya gambaran infeksi paru.3

    Pencegahan dari penyakit ini adalah dengan diberikannya vaksinasi BCG. Vaksin ini diberikan sekali pada saat bayi baru lahir. Pemberian vaksin ini dilakukan secara intrakutan di otot lengan atas. Vaksin BCG merupakan vaksin yang berisi bakteri yang dilemahkan, sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan orang dengan penurunan sistem imun. Selain itu, skrining terhadap orang-orang di sekitar anak yang kemungkinan mengidap TBC juga sebaiknya dilakukan agar anak dapat terhindar dari penularannya.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Indawati W. Amankan buah hati anda dari tuberkulosis.2013. [internet]. Retrieved from: .idai.or.id
    2. Kartasasmita CB. Epidemiologi Tuberkulosis.Sari Pediatri 2009;11(2):124-9.
    3. Esposito S, Tagliabue C, Bosis S. Tuberculosis in children. Mediterranean Journal of Hematology and Infectious Diseases. 2013;5.
    Read More
  • Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk […]

    POSISI ANAK SAAT IMUNISASI

    Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk menahan anak. Lalu, bagaimanakah posisi yang tepat bagi anak saat dilakukannya imunisasi?

    Rasa sakit pada saat dilakukannya imunisasi memberikan dampak fisik dan psikologis pada anak. Oleh karena itu, beberapa metode memposisikan anak saat penyuntikan imunisasi seringkali dilakukan. Namun, belum ada posisi yang pas yang ditemukan untuk bayi atau anak yang akan diimunisasi. Pada bayi usia 2 bulan posisi bayi telentang mengurangi rasa nyeri bila dibandingkan dengan posisi bayi ditegakkan. Posisi ini ditambah sambil menyusui diharapkan dapat menjadi salah satu kombinasi yang dapat dilakukan oleh orang tua saat anak mereka diimunisasi.

    Posisi lain  yang dapat dilakukan orang tua adalah posisi memeluk anak dari samping. Posisikan bayi dalam kondisi duduk menyamping di paha Anda, satu tangan menahan kaki anak dan tangan yang lainnya menahan kedua lengan anak. Keuntungan dari posisi ini adalah bagian lengan dan kaki dapat ditahan bila anak bergerak, anak juga akan merasa nyaman karena kontak langsung dengan orang tuanya. Selain posisi ini, posisi memeluk dari depan dengan cara mendudukkan anak di atas paha Anda sambil memeluknya dari depan juga dapat dilakukan.

    Pada bayi yang baru lahir, posisi bayi dengan kaki dilipat dapat dilakukan saat imunisasi. Penelitian mengemukakan bahwa bayi yang baru lahir dengan posisi kaki dilipat pada saat imunisasi bila dibandingkan dengan bayi baru lahir dengan posisi terlentang akan lebih tenang dan mengurangi nyeri saat dilakukan imunisasi. Jadi, pastikan posisi anak Anda nyaman sehingga vaksinasi dapat dengan aman diberikan.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Yin HC, Cheng SW, Yang CY, Chiu YW, Weng YH. Comparative survey of holding position for reducing vaccination pain in young infant. Pain Research and Management. 2017.
    2. World Health Organization. Immunization in practices. [Internet]. Retrieved from: http://www.who.int/immunization/documents/IIP2014Mod5_5june.pdf (04.02.2018).
    3. Kucukoglu S, Kurt S, Aytekin A. The effect of facilitated tucking position in reducing vaccination-induced pain in newborns. Italian Journal of Pediatric. 2015;41:51.
    Read More
  • Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mencegah anak agar tidak tertular oleh penyakit tertentu. Orang tua juga harus mempersiapkan anak agar sebelum dilakukan imunisasi. Persiapan imunisasi berupa persiapan fisik dan mental anak. Anak sebaiknya dalam keadaan tidak sakit, sehingga tujuan imunisasi dapat tercapai secara maksimal. Pada anak yang sedang sakit dan lemah atau yang sedang […]

    PERSIAPAN IMUNISASI ANAK DAN KONDISI YANG MEMBUAT ANAK TIDAK DAPAT DIIMUNISASI

    Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mencegah anak agar tidak tertular oleh penyakit tertentu. Orang tua juga harus mempersiapkan anak agar sebelum dilakukan imunisasi. Persiapan imunisasi berupa persiapan fisik dan mental anak. Anak sebaiknya dalam keadaan tidak sakit, sehingga tujuan imunisasi dapat tercapai secara maksimal.

    Pada anak yang sedang sakit dan lemah atau yang sedang demam lebih dari 380C pemberian vaksinasi sebaiknya ditunda terlebih dahulu dan diberikan di kemudian hari. Anak dengan batuk, pilek, atau diare boleh diberikan vaksin asalkan tidak demam. Namun, anak yang sedang mengalami mual muntah, sebaiknya ditunda pemberian vaksin dalam bentuk tetes (polio).

    Vaksin sebaiknya tidak diberikan kepada anak dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (leukimia, HIV) atau sedang dalam pengobatan sediaan kortikosteroid atau obat penekan kekebalan tubuh lainnya dan memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin (misalkan alergi berat terhadap telur untuk penerima vaksin influenza atau riwayat alergi berat pada dosis vaksin sebelumnya).

    Tidak ada persiapan khusus bagi anak yang akan divaksinasi. Anak tidak perlu puasa, tidak perlu melakukan hal khusus sebelumnya. Ibu hanya perlu menyiapkan kondisi anak agar lebih tenang saat divaksinasi. Jangan lupa untuk menceritakan semua riwayat penyakit dan alergi yang pernah diderita oleh anak Anda dan membawa kartu imunisasi sebagai tanda anak Anda telah divaksinasi.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    2. Hadinegoro SR, Soedjatmiko. Rekomendasi satgas imunisasi. Sari Pediatri. 2006; 8(1):84-92.
    3. Canadian Pediatric Society. A guide to contraindications to childhood vaccination. Canadian Journal Infectious Disease. 2000;11(1).

     

    Read More
  •   Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya. Lokasi […]

    Inilah 3 Lokasi Penyuntikan Imunisasi Pada Tubuh Anak

     

    Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya.

    Lokasi Penyuntikan Pada Tubuh Anak

    • Suntikan intramuskular (dalam otot): vaksin biasanya disuntikkan pada otot bahu (M.deltoids) pada anak usia 3 tahun dan lebih dari 3 tahun atau otot paha luar (M.quadriceps anterolateral) pada anak usia kurang dari 3 tahun.
    • Suntikan intradermal: vaksin BCG dan terkadang vaksin rabies dan tifoid diberikan secara intradermal yaitu suntikan diberikan pada lapisan bawah kulit di lengan kanan atas.
    • Suntikan subkutan: vaksin disuntikan pada bagian paha atas atau bahu kemudian jarum ditusukkan dengan kemiringan kira-kira 45 derajat.

    Tidak ada vaksin yang disuntikkan langsung ke dalam darah melalui pembuluh darah. Rata-rata penyuntikan vaksin dilakukan secara intramuskular, melalui otot. Hal inilah yang menyebabkan banyak anak-anak yang taku disuntik. Padalah, rasa nyeri pada lokasi penyuntikan hanya sementara saja, dan nyeri akan hilang pada 2-3 hari pasca penyuntikan. Anda tidak perlu khawatir mengenai lokasi penyuntikan vaksin pada anak karena semua metodenya aman dan sesuai dengan prosedur yang ada.

    Itulah tadi mengenai lokasi penyuntikan imunisasi pada tubuh anak. Selain di fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, dan posyandu, Sobat Sehat juga bisa memanfaatkan layananan vaksinasi ke rumah dari Prosehat. Layanan ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Satgas Imunisasi IDAI. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI. 2000;2(1): 43-47.
    Read More
  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More
  • Virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat banyak orang tua bertanya-tanya apakah masih perlu anak untuk diimunisasi? Untuk hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap menyarankan imunisasi supaya kekebalan tubuh anak tidak terganggu. Di bawah ini adalah jadwal imunisasi anak 2020 yang masih berpatokan pada rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017. Jadwal […]

    Jadwal Imunisasi Anak dan Bayi Terbaru dan Lengkap 2020

    Virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat banyak orang tua bertanya-tanya apakah masih perlu anak untuk diimunisasi? Untuk hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap menyarankan imunisasi supaya kekebalan tubuh anak tidak terganggu. Di bawah ini adalah jadwal imunisasi anak 2020 yang masih berpatokan pada rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017. Jadwal imunisasinya sebagai berikut, dan ditandai dengan kolom berwarna yang bermakna:

    Makna Warna Pada Kolom Jadwal Imunisasi Anak

    1. Kolom hijau menandakan jadwal pemberian imunisasi optimal sesuai usia.
    2. Kolom kuning menandakan masa untuk melengkapi imunisasi yang belum lengkap (catch up immunization).
    3. Kolom biru menandakan imunisasi penguat atau booster
    4. Kolom warna merah muda menandakan imunisasi yang direkomendasikan untuk daerah endemik.

    Berikut adalah beberapa keterangan dari imunisasi rekomendasi IDAI 2020:

    1. Vaksin hepatitis B (HB) terbaik diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Apabila diberikan vaksin HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian di usia 2, 3, dan 4 bulan.
    2. Vaksin polio diberikan secara oral pertama kali setelah bayi lahir atau sebelum bayi dibawa pulang dari tempat bersalin. Vaksin polio selanjutnya saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan bisa berupa vaksin oral maupun suntik. Namun, disarankan setidaknya mendapatkan 1 kali polio suntik.
    3. Vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) pertama diberikan paling cepat usia 6 minggu. Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin polio, HB, dan Hib di usia 2,3,dan 4 bulan. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun vaksin yang diberikan adalah Td/Tdap.
    4. Vaksin BCG diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Apabila bayi berusia lebih dari 3 bulan dianjurkan untuk melakukan uji tuberkulin dahulu sebelum vaksinasi BCG.
    5. Vaksin pneumonia (PCV) diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis booster. Pada anak usia di bawah 1 tahun diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Selanjutnya booster  diberikan setelah usai 1 tahun.
    6. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan saat usia 6-14 minggu dan dosis kedua diberikan minimal 4 minggu berikutnya. Maksimal pemberian dosis kedua pada usia 24 minggu. Untuk, vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan pada usia 6-14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian di usia 32 minggu.
    7. Vaksin influenza diberikan setelah usia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun.
    8. Vaksin MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.
    9. Vaksin HPV diberikan untuk remaja usia 10-13 tahun sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan.
    10. Vaksin Japanese encephalitis (JE) diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis.
    11. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah.

    Setelah mengetahui jadwal imunisasi terbaru IDAI, segeralah bawa anak Sobat ke fasilitas-fasilitas kesehatan terdekat supaya anak Sobat benar-benar kebal terhadap penyakit. Selain itu, Sobat juga bisa memanfaatkan layanan vaksinasi ke rumah dari Prosehat yang mempunyai banyak kelebihan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Sobat  jika memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Budi Santoso B. Sekilas Vaksin Pneumokokus [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus
    2. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
    3. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2017 [cited 8 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
    4. Gunardi H, Kartasasmita C, Hadinegoro S, Satari H, Soedjatmiko S, Oswari H et al. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017. Sari Pediatri. 2017;18(5):417.
    Read More
  • Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada […]

    BAHAYA POLIO PADA ANAK

    Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada bagian kaki yang hampir sama dengan penyakit GBS. Hanya saja, pada GBS kelumpuhan kaki terjadi simetris (kedua kaki) dan terjadi selama 10 hari tanpa disertai dengan demam, sakit kepala, mual dan muntah.

    Poliovirus ditularkan melalui feses yang mengkontaminasi ke makanan dan cepat menyebar pada area dengan kebersihan yang buruk dan sering terjadi pada negara-negara tropis dengan iklim panas. Pada umumnya, tidak ada gejala yang dapat dirasakan karena penyakit ini tetapi gejala yang sering terjadi antara lain adalah:

    1. Gejala gangguan pencernaan: mual, muntah, diare
    2. Gejala seperti terserang flu dan batuk: demam, sakit kepala, batuk
    3. Kekakuan otot leher, punggung, dan kaki yang dapat terjadi pada 1% penderita polio2

    Penyakit ini paling ditakutkan karena akan menyebabkan kecacatan sehingga anak tidak mampu untuk berjalan apabila kelumpuhan tidak segera ditangani. Penyembuhannya akan berlangsung kurang dari 12 bulan, tetapi bila kelumpuhan terjadi lebih dari waktu tersebut, umumnya akan menyebabkan kelumpuhan seumur hidup. Akibatnya, penderita tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Polio tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin polio terdapat dua buah yaitu Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV). IPV diberikan melalui suntikan di paha atau lengan atas, sedangkan OPV diberikan melalui tetesan mulut. Polio diberikan 4 dosis ditambah satu dosis penguat, pada waktu lahir-1 bulan, bulan ke 2, 3, dan 4 dan penguat diberikan pada usia 18 bulan.

    Ibu lebih baik memilih vaksin polio suntik pada anak karena lebih aman. Lalu, kenapa harus menunda lagi? Ayo, segera datang ke pelayanan kesehatan setempat untuk mendapatkan vaksin polio untuk anak Anda sehinga anak terhindar dari penyakit polio yang sangat berbahaya. Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Heymann D, Aylward B. Polimyelitis. Orphanet Encyclopedia. 2014 .[Internet]. Retrieved from: https://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-Poliomyelitis.pdf (02.02.2018).
    2. Mehndiratta MM, Mehndiratta P, Pande R. Polimyelitis: hystorical facts, epidemiology and current challenge in eradication. The Neurohospitalist. 2014;4(4):223-229.
    3. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/ipv.pdf (02.02.2018).
    Read More
  • Ingin menghilangkan penat dan stress karena pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran Anda? Mungkin saatnya Anda luangkan waktu untuk liburan sekaligus ibadah. Ya, umroh bisa menjadi salah satu cara untuk Anda mengusir penat dan lebih mendekatkan diri dengan yang kuasa. Namun biasanya melakukan perjalanan umroh dengan kelompok tour, padahal Anda menginginkan ketenangan selama perjalanan. Untuk […]

    7 Persiapan Umroh Untuk Backpacker

    Ingin menghilangkan penat dan stress karena pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran Anda? Mungkin saatnya Anda luangkan waktu untuk liburan sekaligus ibadah. Ya, umroh bisa menjadi salah satu cara untuk Anda mengusir penat dan lebih mendekatkan diri dengan yang kuasa. Namun biasanya melakukan perjalanan umroh dengan kelompok tour, padahal Anda menginginkan ketenangan selama perjalanan.

    Untuk mendapatkan ketenangan selama perjalanan, maka bisa loh pilih perjalanan umroh dengan cara backpacker. Apa saja persiapan umroh untuk Backpacker? Yuk cek persiapan berikut ini:

    1. Pakaian Selama Umroh

    Pakaian selama Anda umroh tidak boleh sampai dilewatkan. Untuk  melakukan umroh, jangan lupa membawa kain putih (ihram) untuk menutupi aurat. Bawalah pakaian secukupnya dan disesuaikan dengan kondisi di lokasi tujuan.

    2. Paspor Indonesia

    Pastikan Anda menyiapkan pasport sebelum melakukan perjalanan. Persiapkan paspor sejak jauh-jauh hari melalui jalur resmi. Apabila Anda telah memiliki paspor, pastikan masa berlaku pasport Anda tidak kurang dari 7 bulan.

    3. Visa Umroh

    Untuk mendapatkan visa umroh tidak semudah yang Anda kira loh. Butuh beberapa tahap yang harus Anda persiapkan. Jika Anda tidak memiliki waktu yang banyak, maka Anda bisa bekerja sama dengan agen wisata umroh yang memiliki izin sebagai penyedia perjalanan umroh atau biro travel lainnya.

    4. Surat Mahram

    Untuh para wanita, saat mengurus visa pada travel atau tour umrah akan ditanyakan mengenai mahrom (suami/pendamping) selama di tanah suci. Jika Anda tidak memiliki suami atau mahrom maka Anda membutuhkan surat mahram yang bisa Anda dapatkan pada travel atau penyedia visa tersebut.

    5. Tiket Pesawat

    Untuk mendapatkan harga yang murah maka sebaiknya Anda pesan tiket 6-12 bulan sebelum keberangkatan atau booking tiket saat low season di bulan Februari hingga April.

    6. Penginapan dan Transportasi

    Selama Anda menunaikan ibadah umroh, pastikan sudah menyiapkan penginapan serta transportasi di Arab Saudi. Karena Arab Saudi memiliki peraturan Land Arrangement, merupakan layanan akomodasi dan transportasi bagi Anda jamaah yang memilih backpacker selama di tanah suci mulai dari penjemputan hingga pemulangan kembali.

    7. Vaksinasi Meningitis

    Bagian ini sangat penting loh sebelum Anda siap pergi umroh supaya Anda terlindungi dari bahaya penyakit meningitis meningokokus yang dapat mengancam kesehatan dan bahkan bisa menyebabkan kematian karena infeksi yang menyebar ke otak. Layanan vaksinasi meningitis ini dapat dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan atau fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan RI. Anda akan mendapatkan sertifikat vaksinasi internasional atau yang umum dikenal sebagai kartu kuning. Sertifikas ini adalah menjadi salah satu dokumen yang diwajibkan oleh kedutaan besar Arab untuk mendapatkan visa.

    Apa itu meningitis meningokokus? Meningitis sendiri sebuah sindrom klinis yang ditandai dengan adanya peradangan dari selaput yang menutupi otak dan tulang belakang. Penyakit ini disebabkan dari infeksi bakteri meningokokus. Vaksinasi ini menjadi hal wajib di Arab Saudi karena pada tahun 1987 dan 2000 terjadilah kejadian luar biasa penyakit meningitis akibat bakteri meningokokus. Pastikan vaksinasi meningitis dilakukan paling lambat 2 minggu sebelum keberangkatan agar Anda lebih terlindungi. Vaksin ini dapat bertahan ada tubuh Anda selama 3 tahun.

    Pastikan Anda sudah terlindungi dari meningitis meningokokus sebelum Anda melakukan perjalanan untuk umroh melalui vaksinasi meningitis meningokokus. Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi :

    1. Backpacker Umrah. “ 10 Tips Persiapan Umroh Backpacker”. backpackerumrah.com
    2. TanyaDok.com. “Meningitis”. tanyadok.com
    3. Haurissa, Andreas Erick. “Raga Optimal Saat Umrah”. tanyadok.com
    Read More
  • Hepatitis B adalah peradangan pada hati utamanya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B. Penyakit ini cukup menakutkan karena berpotensi menjadi infeksi kronik dimana dapat bertahan dalam tubuh paling tidak 6 bulan. Risiko kronik tertinggi bisa didapat saat bayi. Hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya. Penularan pada bayi didapat dari ibu yang membawa […]

    HEPATITIS B PADA ANAK, ANCAMAN YANG TAK TAMPAK

    Hepatitis B adalah peradangan pada hati utamanya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B. Penyakit ini cukup menakutkan karena berpotensi menjadi infeksi kronik dimana dapat bertahan dalam tubuh paling tidak 6 bulan. Risiko kronik tertinggi bisa didapat saat bayi. Hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya. Penularan pada bayi didapat dari ibu yang membawa virus hepatitis B.

    Dilansir dari IDAI 70% anak yang terinfeksi hepatitis B akut tidak memunculkan gejala, kadang hanya timbul mual atau lemas. Meski tanpa gejala, virus tetap berkembang di dalam sel hati. Peradangan akan terus berlangsung dan bisa menimbulkan komplikasi. Untuk mengetahui secara pasti adanya infeksi hepatitis harus ditunjang dengan pemeriksaan darah. Pemeriksaan yang dapat menunjukkan anak menderita hepatitis B adalah HBsAg, bila nilai HBsAg positif tandanya anak membawa virus hepatitis.

    Pada anak yang lebih besar mungkin dapat timbul gejala hepatitis B akut berupa lemas, tidak nafsu makan, demam, mual/muntah, dan kuning (kulit dan mata). Hepatitis B menular melalui darah. Di Indonesia, kebanyakan anak mendapatkan penularan hepatitis B dari ibunya. Bayi yang terkena hepatitis B dapat membawa terus virus hepatitis B sehingga menjadi kronis. Dikhawatirkan, pada saat dewasa nanti akan berpotensi mengalami kanker hati atau sirosis hati. Pengobatan hepatitis B umumnya bersifat mengurangi gejala, belum spesifik untuk menyembuhkan. Oleh sebab itu penting sekali dilakukan pencegahan hepatitis B dengan cara vaksinasi secara lengkap.

    hepatitis b

    Mengapa anak anda harus mendapat vaksinasi Hepatitis B?

    • Sebagai perlindungan optimal dari hepatitis B kepada anak anda dan orang lain disekitarnya.
    • Mencegah anak anda terkena penyakit liver atau kanker hati yang berkembang akibat hepatitis B.

    Vaksin hepatitis B (HB) monovalen pertama diberikan terbaik dalam 12 jam setelah anak lahir. Kemudian, pemberian vaksinasi dapat dikombinasikan dengan vaksin lainnya misalnya vaksin Hepatitis B dan vaksin DPT maka vaksinasi diberikan pada usia 2,3, dan 4 bulan. Kebanyakan orang yang mendapat vaksin hepatitis B tidak punya  masalah efek samping. Masalah kecil yang timbul setelah pemberian vaksin hepatitis B adalah nyeri dan demam ringan. Efek samping tersebut biasanya mulai nampak setelah penyuntikan dan berlangsung sekitar 1 hingga 2 hari.

    Jika ingin melindungi keluarga dari bahaya hepatitis B, segera lakukan vaksinasi. Kini, tak perlu bingung untuk mendapatkan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Kenali Hepatitis B [Internet]. IDAI. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: idai.or.id
    2. Hepatitis Virus pada Anak (Bagian 1) [Internet]. IDAI. 2016 [cited 5 February 2018]. Available from: idai.or.id
    3. Hepatitis B Fact Sheet for Parents | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: cdc.gov

     

    Read More
  • Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah kondisi sakit yang diderita yang diduga terjadi setelah menerima imunisasi. KIPI dapat terjadi orang dewasa. KIPI ditetapkan oleh para ahli yang bergerak di bidang vaksin dan pelaporannya harus dilakukan berjenjang. Kemudian, apabila ada suatu kondisi diduga akibat imunisasi, maka harus dilacak dan ditelti dengan benar apakah kejadian sakit tersebut […]

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Pada Orang Dewasa

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah kondisi sakit yang diderita yang diduga terjadi setelah menerima imunisasi. KIPI dapat terjadi orang dewasa. KIPI ditetapkan oleh para ahli yang bergerak di bidang vaksin dan pelaporannya harus dilakukan berjenjang. Kemudian, apabila ada suatu kondisi diduga akibat imunisasi, maka harus dilacak dan ditelti dengan benar apakah kejadian sakit tersebut benar akibat imunisasi atau memang sudah ada risikonya pada penerima imunisasi.

    Penyebab KIPI dapat berasal dari reaksi terkait produk vaksin, reaksi terkait dengan kualitas produk vaksin, reaksi terkait kesalahan imunisasi (vaksin yang tidak tepat penanganannya), reaksi kecemasan yang timbul terkait dengan imunisasi, dan gejala yang timbul kebetulan terjadi setelah diimunisasi.

    KIPI ringan yang dapat terjadi pada orang dewasa secara lokal adalah rasa sakit, bengkak, dan kemerahan pada lokasi penyuntikan yang akan menghilang dengan sendirinya pada 1-3 hari pasca imunisasi. Reaksi KIPI berat yang melibatkan sistemik antara lain demam, pegal, sakit kepala, dan penurunan nafsu makan. Penanganan demam akibat KIPI biasanya adalah pemberian obat anti demam untuk meredakannya.

    KIPI yang jarang terjadi pada orang dewasa, tetapi pernah terjadi dan dapat menimbulkan kegawatan bila tidak ditangani dengan cepat adalah kejang, pembengkakan kelenjar getah bening, reaksi alergi dan anafilaktik. Pada reaksi anafilaktik dapat terjadi dengan sangat cepat dan ditandai dengan pusing, penurunan tekanan darah tiba-tiba dan terkadang pingsan, nadi yang tidak teraba, mata dan bibir yang bengkak harus ditangani di tempat dengan segera karena akan menimbulkan kegawatan. KIPI berat dapat langsung ditangani oleh tenaga medis yang sudah terlatih, sehingga kegawatannya pun dapat diatasi dengan baik.

    Kejadian atau reaksi pasca imunisasi/vaksinasi sebaiknya jangan ditakuti karena manfaat perlindungan yang Anda dapatkan melalui vaksinasi jauh lebih besar. Selain itu, reaksi berat yang terjadi akibat vaksin sangat jarang terjadi. Yang umum dirasakan oaring pasca vaksinasi adalah reaksi lokal ringan, misalnya nyeri ataupun bengkak pada area bekas suntikan. Jangan lupa untuk memberitahu dokter Anda bila ada reaksi terebut terjadi.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. World Health Organization. Causallity Assesment of an Adverse Events Following Immunization (AEFI). 2013.[Internet]. Retrieved from: who.int
    2. UKDH. Vaccine safety and management of adverse events following immunization. [Internet]. Retrieved from: vaccine-safety-training.org
    3. FKUII. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. [Internet]. Retrieved from: fk.uii.ac.id
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja