Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Penyakit

Showing 1–10 of 279 results

  • Penyakit kanker tulang adalah kanker yang menyerang tulang. Adanya kanker ini membuktikan bahwa penyakit tersebut ternyata tidak hanya menyerang organ-organ tubuh seperti hati, lambung, payudara, dan mata. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kanker tulang dapat menyerang  jenis tulang mana pun di dalam tubuh. Pada umumnya kanker ini dapat mengenai tulang di tungkai, lengan, […]

    Penyakit Kanker Tulang, dari Penyebab hingga Pencegahan

    Penyakit kanker tulang adalah kanker yang menyerang tulang. Adanya kanker ini membuktikan bahwa penyakit tersebut ternyata tidak hanya menyerang organ-organ tubuh seperti hati, lambung, payudara, dan mata. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kanker tulang dapat menyerang  jenis tulang mana pun di dalam tubuh. Pada umumnya kanker ini dapat mengenai tulang di tungkai, lengan, dan panggul.

    prenyakit kanker tulang

    Baca Juga: Kanker dan Tumor Itu Sama? 

    Kanker tulang tergolong salah satu kondisi penyakit yang jarang terjadi dan tidak lebih dari 0,2% dari seluruh penderita kanker. Hal ini berdasarkan data yang dihimpun oleh American Cancer Society pada 2020. Sedangkan kanker tulang pada anak memiliki persentase sekitar 5% dari seluruh kasus penyakit kanker pada anak.

    Apa Saja Penyebabnya?

    Sejauh ini belum diketahui pasti penyebab kanker tulang. Meski begitu, faktor keturunan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tulang. Selain faktor keturunan, faktor-faktor tertentu dapat berkontribusi atau meningkatkan risiko kanker. Faktor-faktor tersebut seperti adalah sebagai berikut:

    Pertumbuhan sel tidak normal

    Sel sehat terus membelah dan menggantikan sel yang lebih tua. Setelah itu, sel-sel tersebut akan mati. Namun, sel-sel yang tidak normal akan tetap hidup dan membentuk massa jarungan yang bisa menjadi tumor pemicu kanker.

    Produk Terkait: Wellness Os Cal 60 Tablet

    Terapi radiasi

    Terapi ini tepat untuk membunuh sel kanker yang berbahaya namun metode pengobatan ini malah bisa memicu pembentukan sel kanker pada tulang. Biasanya, kondisi ini dipucu oleh penggunaan radiasi dosis tinggi.

    Siapa Saja yang Bisa Terkena?

    Seperti sudah disebutkan bahwa kanker tulang dapat menyerang siapa saja. Namun, ternyata terdapat beberapa orang dengan kondisi berikut berpotensi tinggi mengalami kanker tulang, yaitu:

    • Memiliki riwayat keluarga kanker terutama pernah menerima perawatan atau atau terapi radiasi di masa lalu
    • Menderita penyakit paget, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan tulang rusak, dan kemudian tumbuh kembali secara normal
    • Pernah memiliki beberapa tumor di tulang rawan yang merupakan jaringan ikut di tulang

    Seperti Apa Gejalanya?

    Gejala penyakit kanker tulang secara umum dapat berupa:

    • Nyeri dan bengkak pada tulang
    • Tulang mudah patah
    • Berat badan turun tanpa sebab
    • Berkeringat di malam hari
    • Tubuh mudah lelah atau kelelahan
    • Demam
    • Sensasi kebas atau mati rasa apabila kanker terjadi pada tulang belakang dan menekan saraf
    • Sesak napas apabila kanker tulang menyebar ke paru-paru
    • Tulang sakit sering menyebabkan terbangun di malam hari

    Apakah kanker ini mempunyai jenis?

    Kanker tulang mempunyai jenis. Jenis-jenisnya terbagi dua, yaitu primer dan sekunder. Untuk primer adalah sebagai berikut:

    Osteosarkoma

    Osteosarkoma juga dikenal dengan istilah sarcoma osteogenic. Kanker tulang ini adalah jenis yang paling umum diidap masyarakat. Biasanya kanker dimulai dari sel-sel tulang di lengan, kaki, atau panggul. Kanker ini sering terjadi pada orang berusia dari 10 sampai 30 tahun. Menurut berbagai penelitian, pasiennya lebih banyak berjenis kelamin pria daripada wanita.

    Kondrosarkoma

    Terbentuk di dalam sel tulang rawan, kondrosarkoma merupakan bentuk penyakit kanker tulang kedua yang paling umum. Meski demikian, jenis ini jarang terjadi pada orang di bawah usia 20 tahun kemungkinan berkembang hanya meningkat seiring bertambahnya usia.

    Baca Juga: Mengenal Gejala dan Pencegahan Osteoporosis

    Tumor Ewing

    Tumor ini juga dikenal sebagai sarkoma ewing. Umumnya, sel kanker akan dimulai dari tulang. Namun, jenis ini juga dapat terbentuk di jaringan dan otot lain. Para peneliti mengategorikan tumor ewing sebagai bentuk kanker tulang primer ketiga yang paling umum diderita. Tumor ewing paling sering terjadi pada anak-anak hingga remaja, dan jarang terlihat pada orang dewasa di atas usia 30 tahun.

    Sedangkan kanker tulang sekunder adalah kanker di tulang yang biasanya berawal di tempat lain dalam tubuh. Contohnya adalah kanker paru-paru yang menyebar ke tulang. Kanker sekunder ini kemudian disebut juga sebagai kanker metastasis karena berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Beberapa kanker yang biasanya menyebar ke tulang antara lain:

    • Kanker payudara
    • Kanker prostat
    • Kanker paru-paru

    Apakah Kanker Ini Dapat Diobati?

    Dapat. Pengobatannya berupa diagnosis dengan mengklasifikasikan kanker tulang primer secara bertahap. Tahapan ini menjelaskan letak kanker, tindakan yang harus dilakukan, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap bagian tubuh lainnya.

    • Stadium 1, kanker masih berada di satu area tulang atau belum menyebar dan tidak agresif.
    • Stadium 2, stadium ini sama seperti stadium 1 namun kanker lebih agresif mulai membesar
    • Stadium 3, di tahap ini kanker sudah menyebar ke lebih dari satu area, minimal berada di dua lokasi pada satu tulang yang sama
    • Stadium 4, tahap ini merupakan tahap tertinggi, kanker sudah menyebar ke organ lain seperti hati, paru, dan otak

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Stadium-stadium ini dapat ditentukan menggunakan metode berikut, yaitu:

    • Biopsi untuk menganalisis sampel kecil jaringan untuk mendiagnosis kanker
    • Pemindaian tulang untuk memeriksa kondisi tulang
    • Tes darah
    • Diagnosis melalui pencitraan yang mencakup sinar X, pemindaian MRI, dan CT Scan untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang struktur tulang

    Apakah Kanker Ini Bisa Dicegah?

    Sejauh ini seperti dilansir dari National Cancer Institute, tidak ada pencegahan untuk kanker tulang meski begitu Sobat bisa menerapkan pola hidup sehat sebagai pencegahan, yaitu:

    • Kurangi atau tidak merokok sama sekali
    • Kurangi atau tidak mengonsumsi alkohol sama sekali
    • Hindari makanan dan minuman yang mengandung lemak jahat dan berkarsinogen
    • Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin A dan D, dan sering berjemur di pagi hari untuk mendapatkan sinar matahari pagi sebagai cara alami mencegah kanker tulang
    • Berolahraga secara rutin

    Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok? Konsumsilah 6 Makanan Berikut Ini!

    Nah, Itulah mengenai penyakit kanker tulang dari penyebab hingga pencegahannya yang perlu Sobat Sehat ketahui. Perlu diingat kanker tulang bukan hanya menyerang pada orang dewasa lanjut usia saja, tetapi juga bisa menyerang kaum muda karena pola hidup yang tidak sehat. Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kanker tulang dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. What Is Bone Cancer? [Internet]. Cancer.org. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/bone-cancer/about/what-is-bone-cancer.html
    2. Bone Cancer: Types, Causes & Symptoms [Internet]. Healthline. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.healthline.com/health/bone-cancer#causes
    3. Bone Cancer—Patient Version [Internet]. National Cancer Institute. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.cancer.gov/types/bone
    4. (COVID-19) C, Health E, Disease H, Disease L, Management P, Conditions S et al. Bone Tumors: Cancerous and Benign [Internet]. WebMD. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.webmd.com/cancer/bone-tumors#1
    Read More
  • Maraknya pandemi yang terjadi akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19), penting bagi Sahabat yang sudah menjadi orang tua untuk mengenali apa saja yang menandakan anak terinfeksi virus SARS-CoV-2 ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk para orang tua:1 Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19 1. Apakah COVID-19 itu? COVID-19 adalah penyakit yang menyerang […]

    Panduan dan Gejala Covid-19 pada Anak-anak

    Maraknya pandemi yang terjadi akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19), penting bagi Sahabat yang sudah menjadi orang tua untuk mengenali apa saja yang menandakan anak terinfeksi virus SARS-CoV-2 ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk para orang tua:1

    gejala Covid-19 pada anak-anak

    Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    1. Apakah COVID-19 itu?

    COVID-19 adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019.1,2

    2. Apakah COVID-19 berbahaya pada anak?

    Angka kejadian COVID-19 adalah 1% pada kelompok usia 10-19 tahun dan 0.9% pada kelompok usia <10 tahun. Sehingga pada saat ini anak merupakan kelompok dengan angka kejadian COVID-19 paling rendah.

    Dari penelitian lain yang dilakukan pertengahan bulan Januari 2020, kasus jarang sekali ditemukan kasus pada anak usia di bawah 15 tahun, serta bila terjadi infeksi pada anak-anak gejala yang ditimbulkan bersifat lebih ringan.1,

    3. Di mana saja area terjangkit di Indonesia?

    Area terjangkit di Indonesia: seluruh provinsi di Indonesia

    4. Apa itu Suspek?

    Seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid-19, Mulai dari Suspek hingga Kematian

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gejala klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat.

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    • Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19
    • Seseorang dengan gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat di area transmisi lokal di Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.4

    5. Bila salah satu orang tua/pengasuh terdekat menjadi suspek, apakah anak menjadi suspek juga?

    Belum tentu. Lakukan pengawasan mandiri, apabila pada anak timbul gejala, lakukan isolasi mandiri dan lapor petugas kesehatan.1

    6. Bila salah satu orang tua/pengasuh terdekat menjadi PDP, bagaimana mengetahui apakah anak sudah terjangkit?

    Belum tentu. Lakukan pengawasan mandiri, apabila pada anak timbul gejala, lakukan isolasi mandiri dan lapor petugas kesehatan.1

    7. Apa saja tanda dan gejala Covid-19 pada anak?

    Tanda dan gejala Covid-19 sebenarnya menyerupai common cold biasa yang umumnya bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan.

    Baca Juga: Tanda dan Gejala Covid-19: Delirium, Happy Hypoxia, dan Anosmia

    Namun bila sudah menyerang paru-paru akan timbul radang paru yang dikenal juga sebagai pneumonia. Gejala pneumonia adalah demam, batuk, kesulitan bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas.1,5

    8. Bagaimana cara mengetahui kesulitan bernapas pada anak?

    Hitunglah jumlah pernapasan anak dalam waktu satu menit. Napas dikatakan cepat bila pada usia 0-<2 bulan lebih dari 60 kali /menit, pada usia 2 bulan – <12 bulan lebih dari 50 kali/menit, dan usia 1-<5 tahun lebih dari 40 kali/menit.

    Saat menghitung napas anak, jangan lupa perhatikan sesak napas dengan melihat usaha tambahan untuk bernafas seperti cuping hidung yang kembang kempis dan tarikan dinding dada.1

    9. Kapan anak perlu dibawa ke dokter?

    Bila gejala anak cenderung ringan dan masih dapat ditangani sendiri di rumah, sebaiknya tidak segera berkunjung ke fasilitas kesehatan. Berikan obat demam paracetamol 10 mg/kg berat badan, dapat diulang setiap 4-6 jam selama masih demam, maksimal 5 kali dalam 24 jam.

    Produk Terkait: Jual Paracetamol 

    Apabila demam terus-menerus dan memasuki hari ketiga, atau ada tanda bahaya seperti anak lemas cenderung tertidur, sesak nafas, demam lebih dari 39oC atau lebih, kejang, tampak biru, muntah-muntah, buang air kecil berkurang, segera bawa ke fasilitas kesehatan.1,5

    10. Bagaimana cara mencegah tertular COVID-19?

    • Rajin mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor. Bila tidak ada sabun, dapat menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol.
    • Mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, bila batuk atau bersin tutuplah bagian hidung dan mulut dengan tisu atau lipat siku bagian dalam. Segera buang tisu dan cuci tangan dengan air dan sabun.
    • Menjaga jarak lebih dari 1-2 meter dari orang lain, hal ini dilakukan karena adanya percik renik yang mungkin mengandung virus yang dapat menyebar saat seseorang batuk maupun bersin. Hindari membawa anak ke tempat yang ramai dan hindari pula perjalanan keluar kota terutama dalam rangka mengunjungi kakek nenek yang merupakan kelompok risiko tinggi tertular dan sakit berat akibat COVID-19.1,6

    Baca Juga: Long Hauler, Paparan Virus Covid-19 Berkepanjangan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan  seperti tes Covid-19, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. IDAI. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: FAQ COVID-19.20 Maret 2020
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    3. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    4. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    5. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24.0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html

     

    Read More
  • Tuberkulosis atau yang biasa disebut TBC ternyata memiliki berbagai perbedaan. Walaupun ada juga kesamaannya, Sahabat Sehat harus bisa membedakan antara TBC dan Covid-19. Agar Sahabat Sehat dapat segera aware terhadap penyakit yang diderita TBC Tuberculosis merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC merupakan salah satu penyakit yang  sangat mengancam keselamatan jiwa, sama […]

    Mari Kenali Perbedaan TBC dan Covid-19

    Tuberkulosis atau yang biasa disebut TBC ternyata memiliki berbagai perbedaan. Walaupun ada juga kesamaannya, Sahabat Sehat harus bisa membedakan antara TBC dan Covid-19. Agar Sahabat Sehat dapat segera aware terhadap penyakit yang diderita

    perbedaan tbc dan covid-19

    TBC

    Tuberculosis merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC merupakan salah satu penyakit yang  sangat mengancam keselamatan jiwa, sama seperti Covid-19.

    Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin?

    Menurut WHO, setiap detiknya paling tidak ada satu orang yang treinfeksi TBC di dunia. Indonesia sendiri telah menempati urutan atau peringkat kedua sebagai negara dengan kasus penyakit TBC terbanyak setelah India.

    TBC bahkan menjadi infeksi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Namun sayangnya, masih banyak yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu tentang penyakit TBC.

    Kebanyakan, orang biasanya tidak menyadari saat mengalami gejala penyakit TBC dan bingung membedakannya dengan penyakit lain, karena memang tidak mudah untuk mengenalinya. Padahal sebenarnya, gejala penyakit TBC dimulai secara bertahap dan berkembang dalam jangka waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan.

    Gejala TBC

    Biasanya pasien sering mengalami satu atau dua gejala ringan yang membuat tidak bisa mengenali gejala penyakit apa tersebut.

    Mengidentifikasi gejala penyakit TBC sendiri bisa membantu seseorang mencegah komplikasi seperti infeksi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) pada organ tubuh lainnya. Berikut gejala penyakit TBC:

    – Batuk terus-menerus

    Batuk sendiri merupakan gejala umum dari penyakit TBC. Apabila Sahabat Sehat batuk yang terus menerus dan menyakitkan selama lebih dari dua minggu, sebaiknya segera periksa ke dokter.

    – Batuk darah

    Selain batuk yang tidak juga kunjung sembuh, penderita TBC biasanya juga mengalami batuk darah. Oleh karena itu waspadalah ketika ada noda darah ketika batuk.

    – Penurunan berat badan

    Penderita TBC juga biasanya mengalami penurunan berat badan. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya bakteri TB yang berkembang di dalam tubuh penderita penyakit TBC.

    – Demam

    Biasanya setiap penderita infeksi TBC disertai dengan demam.

    – Lemah

    Sahabat Sehat harus tahu, biasanya penyakit TBC bisa membuat tubuh menjadi cepat merasa lemah.

    – Rasa sakit di paru-paru

    TBC sendiri merupakan penyakit yang menginfeksi paru-paru. Jika Sahabat Sehat merasakan nyeri tajam di paru-paru dan merasa kesakitan ketika menghembuskan udara, maka bisa dipastikan memiliki infeksi paru-paru yang parah.

    – Infeksi yang tidak kunjung sembuh

    Selain membuat infeksi paru-paru, TBC juga dapat menginfeksi setiap bagian tubuh seperti perut, hati, bahkan otak. Jika Sahabat Sehat memiliki infeksi di daerah tersebut lebih dari 3 minggu, sebaiknya periksakanlah hal tersebut ke dokter.

    Baca Juga: Pelayanan TBC Selama Masa Pandemi Covid-19

    – Menggigil di malam hari

    Jika Sahabat Sehat menggigil di malam hari padahal udara sedang tidak dingin atau bisa dibilang normal, hal ini bisa juga menjadi tanda TBC. Sebab, infeksi dari bakteri TBC ini biasanya akan menyebabkan menggigil di malam hari.

    – Kelelahan

    Gejala yang lain adalah Sahabat Sehat akan mudah sekali lelah karena daya tahan tubuh mulai melemah saat menderita penyakit TBC.

    – Urine kemerahan

    Sahabat Sehat bisa mengamati urine yang berubah warna (kemerahan) atau urine keruh. hal ini juga merupakan gejala yang muncul pada tahap selanjutnya.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona jenis SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

    Virus ini dapat menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Baca Juga: Kiat Penderita Asma Menghadapi Covid-19

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    – Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Persamaan TBC dan Covid-19

    Persamaan TBC dan Covid-19 adalah dapat menular melalui droplet atau percikan ludah dan saluran pernapasan. Penularannya pun bisa berasal dari orang-orang yang memang tidak memiliki gejala (asimptomatik).

    Namun, Covid-19 juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui kontak pada permukaan, seperti pada mata, hidung, dan mulut, jika sebelumnya virus terdapat di permukaan tubuh.

    Terkait pengendalian infeksi penyakitnya, TBC dan Covid-19 dapat dikendalikan lewat tindakan administratif termasuk triase pasien berdasarkan gejala pernapasan serta menyarankan pasien atau penderita untuk menggunakan masker.

    Baca Juga: Tepat dan Efektifkah  Masker Berlapis untuk Menangkal Covid-19?

    Selain menggunakan masker, tindakan lingkungan atau penerapan perilaku hidup bersih dan sehat bisa mempercepat pemulihan masing-masing penyakit tersebut. Seperti memberikan ventilasi dengan aliran udara yang baik.

    Nah, kini Sahabat Sehat sudah mengetahui perbedaan dan persamaan dari penyakit TBC dan Covid-19. Sahabat Sehat bisa memeriksakan apabila sudah mulai ada gejala yang sudah disebutkan di atas.

    Namun, di masa pandemi Covid-19 seperti ini, guna mengecek kepastian, Sahabat Sehat bisa langsung melakukan tes swab atau sebagainya guna mengecek kesehatan pada Sahabat Sehat masing-masing.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Untuk TBC Sahabat bisa mencegahnya dengan vaksinasi BCG di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Ansori, A., 2021. Wajib Tahu Beda Penularan TBC dengan COVID-19. [online] liputan6.com. Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/4331285/wajib-tahu-beda-penularan-tbc-dengan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    2. merdeka.com. 2021. Pahami Perbedaan TBC dengan Covid-19 di Tengah Pandemi | merdeka.com. [online] Available at: <https://www.merdeka.com/sehat/pahami-perbedaan-tbc-dengan-covid-19-di-tengah-pandemi.html> [Accessed 5 April 2021].
    3. liputan6.com. 2021. 10 Gejala Penyakit TBC dan Cara Pengobatannya, Kenali Sejak Dini Sebelum Terlambat. [online] Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/3874937/10-gejala-penyakit-tbc-dan-cara-pengobatannya-kenali-sejak-dini-sebelum-terlambat> [Accessed 5 April 2021].
    4. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    Read More
  • Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia […]

    Yang Perlu Sahabat Ketahui Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

    perbedaan pneumonia dan covid-19

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia karena kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang hampir serupa. Bahkan, pneumonia sama seperti Covid-19 bisa bersifat dan menyebabkan kematian.

    Namun bukan berarti kedua penyakit tersebut tidak memiliki perbedaan. Berikut perbedaan antara Pneumonia dan Covid-19.

    Pneumonia

    Penyakit peradangan jaringan paru-paru mengakibatkan kantung udara di ujung pernapasan di paru-paru terisi oleh cairan. Pneumonia berisiko pada orang yang biasanya memiliki sistem kekebalan atau imunitasnya rendah. Bisa menyerang usia berapa pun, mulai dari bayi, orang tua, perokok, peminum berat dan lainnya.

    Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), pneumonia atau radang paru-paru menjadi penyebab kematian pada balita dan juga anak tersebesar di Indonesia.

    Sedangkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat pneumonia menyumbang  14 sampai 16% dari total kematian anak yang ada di Indonesia.

    Pneumonia dapat memiliki derajat berat maupun ringan. Hal tersebut dipengaruhi oleh jenis kuman penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatan penderita dari penyakit pneumonia itu sendiri.

    Dalam kasus pneumonia ringan, biasanya penderita hanya memerlukan waktu beberapa hari atau satu minggu untuk bisa kembali sehat.

    Namun, jika dalam kasus yang parah, pneumonia bisa memerlukan waktu sampai dengan enam bulan, agar penderita pulih atau sehat kembali. Bahkan bisa juga menyebabkan kematian.

    Pada seseorang dengan kesehatan yang buruk atau dengan sistem kekebalan yang lemah, Pneumonia yang tidak diobati dapat menyebabkan kadar oksigen turun sehingga jaringan tubuh akan berpengaruh.

    Penyakit pneumonia ini juga bisa menular lewat percikan cairan pernapasan saat penderita batuk, bersin, ataupun bernapas.

    Gejala Pneumonia

    Gejala dari pneumonia biasanya mirip dengan influenza sehingga penderita bisa merasakan gejala yang umum terjadi, seperti:

    – Demam atau suhu tinggi

    – Menggigil

    – Batuk

    – Kehilangan nafsu makan

    – Merasa sakit di sisi dada

    – Jantung berdebar

    – Tidak selera makan

    – Batuk berdarah

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Badan terasa nyeri

    – Nyeri sendi dan otot

    – Linglung atau merasa bingung, terutama biasanya terjadi pada orang lansia

    Penyakit pneumonia bisa diketahui lewat pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Dokter pada umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian merekomendasikan rontgen dada, tes dahak, atau juga melakukan tes darah.

    Produk Terkait: Jual Vaksinasi Pneumonia Dewasa

    Apabila memang bisa mengancam jiwa, penyakit ini seharusnya bisa segera ditangani atau diobati. Penderita juga perlu minum banyak air putih dan banyak istirahat selama atau dalam proses pemulihan.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona yang bernama SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya, di mana pun. Virus ini juga bisa menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, seperti yang sama-sama diketahui, banyak penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Nah, Sahabat Sehat sudah mengetahui kan perbedaan dari Pneumonia dan juga Covid-19. Namun, guna memastikan dan mengecek kebenaran, sebaiknya apabila sudah bergejala, Sahabat Sehat bisa melakukan tes swab. Sehingga nantinya tidak hanya menerka-nerka jenis penyakit apa yang ada di tubuh Sahabat Sehat.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Tetaplah berperilaku hidup sehat, senantiasa patuh dan taat dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan juga mencuci tangan dengan sabun.

    Baca Juga: Berikut 5 Alat Pemantau Kesehatan yang Sahabat Wajib Punya di Masa Pandemi!

    Pneumonia sendiri bisa dicegah dengan vaksinasi. Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah.

    Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media, K., 2021. Kenali Apa Itu Pneumonia, Gejala, dan Penyebabnya Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://health.kompas.com/read/2020/11/12/170100868/kenali-apa-itu-pneumonia-gejala-dan-penyebabnya?page=all#page2.> [Accessed 5 April 2021].
    2. [online] Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/16/151500565/apa-bedanya-pneumonia-dengan-covid-19-yang-disebabkan-virus-corona?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    3. suara.com. 2021. Punya Gejala Mirip, Ini Cara Membedakan Pneumonia dan Covid-19. [online] Available at: <https://www.suara.com/health/2020/11/07/094431/punya-gejala-mirip-ini-cara-membedakan-pneumonia-dan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    4. Widiyarti, Y., 2021. Kenali Beda Pneumonia dan Covid-19. [online] Tempo. Available at: <https://gaya.tempo.co/read/1405686/kenali-beda-pneumonia-dan-covid-19/full&view=ok> [Accessed 5 April 2021].
    5. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021]
    Read More
  • Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun rupanya turut mempengaruhi pelayanan kesehatan bagi penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) secara global, termasuk Indonesia. Demikian yang diungkapkan oleh Jose Luis Castro, Presiden dan CEO sebuah organisasi kesehatan di New York, Amerika Serikat. Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin? Dalam tulisan yang dimuat di The […]

    Pelayanan TBC Selama Masa Pandemi Covid-19

    Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun rupanya turut mempengaruhi pelayanan kesehatan bagi penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) secara global, termasuk Indonesia. Demikian yang diungkapkan oleh Jose Luis Castro, Presiden dan CEO sebuah organisasi kesehatan di New York, Amerika Serikat.

    pelayanan TBC di masa pandemi Covid-19

    Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin?

    Dalam tulisan yang dimuat di The Jakarta Post berjudul “Covid-19 Causes Major Setbacks for RI as TB High Burden Country”, terdapat beberapa pandangan mengenai pelayanan TBC di Indonesia selama masa pandemi Covid 19. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak setelah Cina dan India.

    Besarnya jumlah penderita tersebut tentunya harus diiringi dengan tingkat pelayanan kesehatan yang baik. Secara global, sebelum terjadinya pandemi Covid-19 telah terjadi peningkatan pelayanan kasus TBC yang ditandai dengan angka penurunan penderita TBC mencapai 9% pada periode 2015-2019.

    Namun tercatat sekitar 3 juta orang penderita TBC secara global tidak terdiagnosa atau tidak dilaporkan ke badan kesehatan yang berwenang untuk penanganan TBC, demikian menurut laporan World Health Organization (WHO).

    WHO juga menyebutkan bahwa pada tahun 2019 sekitar 465.000 orang terdiagnosa TBC yang resisten terhadap obat, dan kurang dari 40% penderita dapat mengakses pengobatan TBC. Hal itu turut didukung karena keterbatasan akses pengobatan untuk mencegah penyakit tersebut.

    Bagaimana Pelayanan TBC Selama Pandemi Covid 19 ?

    Pandemi Covid-19 kenyataannya turut mempengaruhi pelayanan TBC yang sebelumnya merupakan salah satu layanan kesehatan yang diprioritaskan. Hal ini ditandai dengan alokasi pelayanan yang lebih difokuskan pada penanganan Covid 19.

    WHO menyatakan bahwa telah terjadi penurunan laporan secara signifikan dalam pelaporan kasus TBC mencapai 25-30% yang terjadi pada negara-negara dengan jumlah penderita TBC terbesar, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia pada periode Januari hingga Juni 2020, angka jumlah kematian akibat TBC diperkirakan mencapai 400.000 jiwa pada 2020.

    Baca Juga: Cegah Tuberkulosis pada Anak dengan Daya Tahan Tubuh Kuat

    Apabila pelayanan kesehatan masih difokuskan untuk penanganan Covid-19, diprediksikan bahwa jumlah penderita TBC akan meningkat hingga mencapai 6,3 juta kasus pada 2020 hingga 2025. Sehingga pemerintah baik secara global dan di Indonesia memerlukan strategi khusus penanganan TBC selama masa pandemi Covid 19, yaitu dengan melakukan pelacakan, pengujian, dan pengisolasian pada setiap kasus TBC.

    TBC dapat dicegah melalui pemberian vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin) sebagai salah satu bentuk pencegahan yang tepat, dengan efektivitas mencapai 70-80% terutama pada anak-anak.

    Pemberian vaksin BCG merupakan suatu keharusan sebagai cara pencegahan sekaligus peningkatan pelayanan kesehatan di negara dengan angka penderita TBC terbanyak. Vaksinasi harus tetap dilaksanakan meskipun masih dalam kondisi pandemi Covid 19 agar dapat menekan angka kesakitan TBC selama masa pandemi Covid 19.

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya!

    Mengingat vaksinasi BCG sangat penting sebagai salah satu cara pencegahan penyakit TBC, Sahabat dapat melakukan vaksinasi di Prosehat yang memiliki layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Post T. COVID-19 causes major setbacks for RI as TB high burden country [Internet]. The Jakarta Post. 2021 [cited 30 March 2021]. Available from: https://www.thejakartapost.com/index.php/academia/2021/03/26/covid-19-causes-major-setbacks-for-ri-as-tb-high-burden-country.html
    Read More
  • Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda. Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab […]

    3 Jenis Eat Disorder Yang Paling Berbahaya Beserta Gejalanya

    Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda.

    jenis eat disorder

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Gangguan makan akan memperparah kondisi tubuh dan menyebakan konsekuensi kesehatan yang lebih serius, hingga berujung kematian. Beberapa gejala yang paling umum ditimbulkan dari gangguan makan, yaitu:

    • Pembatasan konsumsi makanan secara berlebihan
    • Makan berlebihan dengan durasi yang cepat, bahkan ketika sedang tidak lapar
    • Sengaja memuntahkan makan
    • Melakukan olahraga secara berlebihan

    Gejala Eat Disorder Berdasakan Jenisnya

    Gejala yang dialami penderita eat disorder dapat bermacam-macam, tergantung dari jenis gangguannya. Gejala pada gangguan makan yang berlebihan biasanya berupa:

    1. Anoreksia Nervosa

    Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang paling terkenal. Penderita anoreksia nervosa memiliki ganguan pada pola makan yang dipicu oleh keinginan seseoang untuk memiliki bentuk tubuh yang jauh dibawah normal atau sangat kurus. Mereka juga tidak pernah merasa puas dengan kondisi bentuk tubuh yang dimilikinya.

    Kondisi ini umumnya terjadi pada masa remaja dan kemungkinan lebih banyak mempengarui wanita dibanding pria. Penderita anoreksia biasanya akan menganggap dirinya memiliki berat badan berlebih dari berat badan normal, padahal sebenarnya mereka sangat kurus.

    Baca Juga: Apa Itu Anoreksia Nervosa? Yuk, Sahabat Kenali Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganannya

    Mereka akan terus-menerus  memantau berat badan mereka, menghindari konsumsi jenis makanan tertentu, dan memperketat asupan kalori.

    Angka penderita anoreksia pada umumnya dikalangan wanita yang berusia 11 hingga 5 tahun berkisar dari 0 sampai 2,2% dan sekitar 0,3% diderita oleh pria. Kasus anoreksia nervosa berkisar antara 109 sampai 270/100.000 orang pertahun dengan angka kematian yang bervariasi berdasarkan populasi yang dipertimbangkan.

    Gejala umum yang dialami oleh penderita anoreksia nervosa, di antaranya:

    • Pola makan yang minim
    • Tubuh menjadi sangat kurus dibandingkan dengan orang normal dengan usia dan tinggi yang sama.
    • Sangat ketakutan dengan kenaikan berat badan
    • Enggan untuk mempertahankan berat badan ideal yang sehat karena merasa harga diri nya bergantung pada berat badan dan bentuk tubuh yang dimiliki.
    • Citra tubuh yang telah terdistorsi

    Gejala lain seperti obsesif-kompulsif juga sering muncul. Misalnya pada penderita anoreksia yang disibukan dengan pola pikir tentang makanan secara terus-menerus, dan beberapa diantaranya kemungkinan mengumpulkan resep atau menimbun makanan secara obsesif.

    Penderita anoreksia dengan gejala seperti yang disebutkan diatas apabila dibiarkan terus-menerus dapat memicu kerusakan pada tubuh seiring berjalannya waktu, seperti:

    • Otot melemah
    • Kemandulan
    • Rapuhnya rambut dan kuku
    • Tumbuh lapisan rambut diseluruh tubuh
    • Suhu tubuh rendah sehingga sering merasa kedinginan
    • Siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami haid
    • Darah rendah
    • Anemia
    • Tulang menjadi keropos
    • Tidak berfungsinya beberapa organ
    • Gagal ginjal
    • Kerusakan otak
    • kematian

    Penderita anoreksia akan berada pada kondisi kelaparan yang berkepanjangan. Hal ini tentunya memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan yang kompleks dan sangat berbahaya bagi tubuh.

    2. Bulimia Nervosa

    Bulimia nervosa merupakan bentuk gangguan mental yang mempengaruhi pola makan sehingga penderitanya akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan kebanyakan dari mereka kesulitan dalam mengontrol porsi makannya, yang kemudian akan dimuntahkan kembali dengan sengaja.

    Mereka akan menggunakan berbagai cara memuntahkan makanan tersebut, bahkan dengan menggunakan obat-obatan seperti obat pencahar dan sejenisnya.

    Bulimia nervosa dapat menyerang perempuan 9 kali lebih sering dibanding laki-laki. Sekitar satu sampai tiga persen wanita akan mengalami bulimia dalam hidupnya. Kasus terbaru terjadi pada sekitar 12 per 100.000 penduduk per tahun dengan rasio kematian standar pada bulimia adalah 1% hingga 3%.

    Penderita bulimia juga melakukan olahraga ketat untuk membakar kalori dalam makanan yang telah dikonsumsinya.

    Mereka sangat terobsesi pada berat badan yang stabil pada jumlah angka tertentu. Namun, berlainan dengan perilaku tersebut mereka akan merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena telah mengonsumsi banyak makanan.

    Baca Juga: Inilah 10 tips Langsing Alami, Mudah Kok!

    Sebab, mereka tidak ingin berat badannya bertambah sehingga ia akan memuntahkan makanan yang telah dimakan tersebut.

    Karena perilaku tersebut, penderita bulimia nervosa akan mengalami gejala yang tampak mirip dengan subtipe pesta atau pembersihan anoreksia nervosa.

    Namun, penderita bulia pada umumnya hanya akan mempertahankan berat badan idealnya yang cenderung normal, bukan untuk mendapatkan berat badan dengan angka paling kecil.

    Gejala umum pada bulimia nervosa, di antaranya:

    • Memiliki porsi makan berlebih yang berulang dan tidak dapat terkontrol
    • Memiliki kebiasaan untuk mengeluarkan atau memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan untuk mencegah naiknya berat badan
    • Bentuk tubuh dan berat badan sangat berpengaruh pada harga diri
    • Ketakutan yang ekstrim pada pertambahan berat badan, meski berat badan yang dimiliki sudah normal

    Dengan gejala seperti yang telah disebutkan, penderita bulimia nervosa akan memiliki efek samping yang akan dirasakan oleh tubuh, seperti:

    • Perdangan dan sakit tenggorokan
    • Bengkak pada kelenjar ludah
    • Lapisan email gigi terkikis
    • Kerusakan pada gigi
    • Refluks asam
    • Iritasi pada usus
    • Dehidrasi akut
    • Gangguan hormonal

    Pada kasus yang lebih parah, penderita bulimia juga dapat memicu ketidakseimbangan pada kadar elektrolit, seperti natrium, kalsium, dan kalium. Bahkan dapat menyebabkan serangan jantung hingga stroke.

    3. Binge Eating Disorder

    Binge eating disorder (BED) atau gangguan makan berlebih merupakan gangguan pada pola makan, yaitu si penderita akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan tidak terkontrol.

    Berbeda dengan dua jenis gangguan makan sebelumnya, penderita binge eating justru tidak mempedulikan ukuran badan dan berat badannya. Malah, kebanyakan dari mereka juga menderita kelebihan berat badan yang ekstrim atau obesitas.

    Berdasarkan survei, BED sangat mempengaruhi sekitar 1-2% di beberapa fase dalam kehidupan mereka. BED juga cenderung lebih sering terjadi pada wanita dari pada pria.

    Penderita BED akan memiliki durasi makan dalam waktu yang sangat cepat denga porsi yang besar, mereka tidak akan berhenti jika belum merasa sangat kenyang.

    Mereka juga akan mengonsumsi makanan dalam porsi yang besar meskipun sedang tidak merasa lapar dan akan merasa depresi setelah melakukan hal tersebut. Pada umumnya penderita binge eating ini dipicu oleh rasa stress akibat penderitaan yang mereka alami.

    Baca Juga: 4 Jenis Makanan Agar Rasa Kenyang Lebih Lama

    Penderita binge eating tidak akan membatasi jumlah kalori yang masuk dan juga tidak memiliki perilaku seperti memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan ataupun olahraga berlebihan, untuk menyeimbangkan berat badan yang diinginkan.

    Gejala umumnya yang dialami oleh penderita gangguan makan berlebih ini meliputi:

    • mengonsumsi makanan dalam porsi besar dengan waktu yang cepat hingga kekenyangan, meskupun tidak sedang lapar
    • tidak dapat mengontrol selama episode pesta makan
    • merasa tertekan, jijik, dan sangat bersalah atas perilaku makannya yang berlebihan
    • tidak melakukan perilaku membersihkan, seperti membatasi kalori, memuntahkan makanan, olahraga berlebih atau menggunakan obat pencar untuk mengurangi berat badan

    Penderita gangguan makan berlebihan seeperti itu akan sering mengalami kelebihan berat badan atau obesitas sehingga dapat meningkatkan risiko adanya komplikasi medis yang berkaitan dengan kelebihan berat badan, sperti stoke, penyakit jantung, maupun diabetes tipe 2.

    Gangguan makan seperti yang telah dijelaskan di atas, pada dasarnya dipicu oleh adanya kelainan pada kesehatan mental yang tidak wajar. Apabila sahabat sehat merasa mengalami salah satu gangguan makan tersebut, segeralah untuk berkonsultasi ke psikiater, karena kondisi gangguan makan tersebut akan sangat sulit apabila tanpa bantuan dokter.

    Namun sayangnya, orang yang memiliki gejala gangguan makan sering kali menganggap remeh dan merasa tidak memerlukan bantuan. Jika sahabat merasa sangat khawatir deng perilaku yang janggal tersebut sahabat dapat membujuk mereka agar mau berkonsultasi dengan psikiater.

    Baca Juga: Inilah Gejala Kesehatan Mental yang Sering Sahabat Anggap Remeh!

    Apabila penderita gangguan makan ini merasa enggan untuk berpergian keluar rumah, sahabat cukup arahkan si penderita untuk langsung berkonsultasi secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.  Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. 2021. Learn about 6 common types of eating disorders and their symptoms.. [online] Available at: <https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders#anorexia> [Accessed 23 March 2021].
    2. wikipedia.org. 2021. Eating disorder – Wikipedia. [online] Available at: <https://en.wikipedia.org/wiki/Eating_disorder#Anorexia> [Accessed 23 March 2021].
    3. or.id. 2021. APAKAH ANDA MENGALAMI EATING DISORDER? | Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia. [online] Available at: <https://apki.or.id/apakah-anda-mengalami-eating-disorder/> [Accessed 23 March 2021].
    4. National Eating Disorders Association. 2021. Warning Signs and Symptoms. [online] Available at: <https://www.nationaleatingdisorders.org/warning-signs-and-symptoms> [Accessed 23 March 2021].
    Read More
  • Dalam mengatur fungsi tubuh dan metabolisme, tubuh memiliki sistem yang disebut hormon. Salah satu hormon yang berperan dalam metabolisme tubuh, serta mengatur kerja sel dan organ tubuh dihasilkan oleh kelenjar tiroid.¹-5 Fungsi dari hormon tiroid bagi tubuh yaitu: Metabolisme tubuh, termasuk mengatur pembakaran kalori dalam tubuh yang nantinya akan diubah menjadi Mengatur kecepatan pencernaan makanan. […]

    Apa sih Perbedaan Hipertiroid dan Hipotiroid?

    Dalam mengatur fungsi tubuh dan metabolisme, tubuh memiliki sistem yang disebut hormon. Salah satu hormon yang berperan dalam metabolisme tubuh, serta mengatur kerja sel dan organ tubuh dihasilkan oleh kelenjar tiroid.¹-5 Fungsi dari hormon tiroid bagi tubuh yaitu:

    1. Metabolisme tubuh, termasuk mengatur pembakaran kalori dalam tubuh yang nantinya akan diubah menjadi
    2. Mengatur kecepatan pencernaan makanan.
    3. Mengatur suhu tubuh.
    4. Membantu perbaikan sel tubuh.
    5. Mengatur tumbuh kembang anak.
    6. Mengatur pertumbuhan sel otak dan kemampuan berpikir pada anak.¹-5

    perbedaan hipertiroid dan hipotiroid

    Baca Juga: Gangguan Tiroid, dari Penyebab Hingga Pencegahan

    Kelenjar tiroid memproduksi 3 hormon yaitu hormon tiroksin (T4), hormon triiodothyronine (T3) dan kalsitonin. Kadar hormon di dalam tubuh diatur agar tetap seimbang, sebab apabila kadar hormon berlebihan atau kurang tentunya akan berdampak pada tubuh serta menyebabkan gejala klinis. 15

    Gangguan keseimbangan yang terjadi pada kelenjar tiroid dapat dibagi menjadi dua, yaitu hipertiroid dan hipotiroid.

    Hipertiroid

    Hipertiroid adalah kondisi ketika kadar hormon tiroid di dalam darah meningkat, kondisi ini tentunya mempengaruhi metabolisme tubuh serta menimbulkan gejala klinis seperti:

    • Leher terlihat membesar atau bengkak karena disebabkan pembesaran kelenjar tiroid.
    • Gelisah, cemas dan
    • Perubahan mood yang cepat, mudah marah atau mudah tersinggung.
    • Sulit
    • Merasa mudah lelah walau tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.
    • Mudah terasa kegerahan atau terlalu sensitif terhadap suhu ruangan yang panas.
    • Nyeri otot
    • Gangguan pencernaan, seperti diare.
    • Sering buang air kecil dibandingkan biasanya.
    • Mudah merasa haus.
    • Gatal-gatal pada kulit.
    • Penurunan hasrat seksual.
    • Mudah berkeringat, telapak tangan mudah basah.
    • Rambut rontok.
    • Berat badan menurun drastis.
    • Gangguan menstruasi pada wanita.

    Penyebab hipertiroid dapat bervariasi seperti penyakit graves, autoimun, peradangan pada kelenjar tiroid (tiroiditis), kanker tiroid, tumor testis atau tumor ovarium, konsumsi obat atau makanan yang mengandung tinggi yodium. 1

    Hipotiroid

    Hipotiroid adalah kondisi ketika kadar hormon tiroid dalam darah menurun. Kondisi hipotiroid dapat disebabkan oleh kelainan sistem imun (autoimun), efek samping pengobatan sehingga menghambat produksi hormon tiroid (misalnya menjalani pengobatan dengan obat-obatan anti depresi, dan riwayat operasi pada kelenjar tiroid), kurang mengonsumsi makanan beryodium (garam dapur) atau menderita kanker tiroid. 2

    Baca Juga: Infografik Gangguan Tiroid

    Berbeda dengan gejala hipertiroid, gejala hipotiroid bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Gejala-gejala hipotiroid dapat ringan dan berkembang dengan lambat sampai hitungan tahun. Berikut ini gejala hipotiroid yang mungkin dialami:

    • Mudah lelah.
    • Sensitif terhadap dingin atau tidak kuat pada suhu ruangan yang dingin.
    • Berat badan meningkat tanpa sebab yang jelas.
    • Depresi (perubahan mood menjadi mudah sedih)
    • Konstipasi (sulit buang air besar).
    • Nyeri otot dan mudah kram.
    • Kulit terasa kering dan kuku rapuh atau mudah patah
    • Menstruasi tidak lancar atau perdarahan banyak saat menstruasi.
    • Suara serak dan berat.
    • Mudah lupa.
    • Rambut rontok. 2

    Bagaimana Mendiagnosis Hipertiroid dan Hipotiroid?

    Untuk mendiagnosis hipertiroid dan hipotiroid, dapat dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter, serta menjalani pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah untuk memeriksa kadar T3, T4 dan TSH (Thyroid Stimulating Hormone).

    Rendahnya kadar hormon Tiroid (T3 dan T4) dalam darah dan tingginya hormon TSH dapat menunjukkan bahwa seseorang menderita hipotiroid. Sebaliknya, apabila hormon Tiroid (T3 dan T4) meningkat sedangkan hormon TSH menurun maka dapat disimpulkan bahwa seseorang mengalami hipertiroid. 35

    Penanganan

     Penanganan pada kondisi Hipertiroid dan Hipotiroid bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan kadar hormon didalam darah dan juga mengobati penyebab utamanya. Pada kondisi hipertiroid, terapi dilakukan mulai dari penggunaan obat-obatan, terapi iodium aktif yang berfungsi untuk menyusutkan kelenjar tiroid, dan dapat dilakukan juga prosedur operasi. 35

    Produk Terkait: Cek Lab Kimia Farma

    Sedangkan penanganan pada kondisi hipotiroid, bertujuan untuk mengembalikan kadar hormon serta meringankan gejala. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian hormon tiroid sintetis (Levothyroxine).35

    Baca Juga: Apakah Sahabat Berisiko Tinggi Mengalami Gangguan Tiroid?

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai dan tiroid dan penananganannya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    ID-NONT-00020

    Daftar Pustaka

    1. 2019. Hyperthyroid. [online] Availableat: <https://www.nhs.uk/conditions/overactive-thyroid-hyperthyroidism/> [Accessed 25 February 2021].
    1. 2019. Hypothyroid. [online] Availableat: <https://www.nhs.uk/conditions/underactive-thyroid-hypothyroidism/> [Accessed 25 February 2021].
    1. Jason Baker., 2020. Hypothyroidism vs Hyperthyroidism, what’s the difference.Healthline, [online] Available at:<https://www.healthline.com/health/hypothyroidism/hypothyroidism-vs-hyperthyroidism> [Accessed 25 February 2021].
    1. Cleveland Clinic. 2020. Thyroid Disease. [online] Available at: <https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8541-thyroid-disease> [Accessed 25 February 2021].
    1. MandyArmitage, MD.  Hypothyroidism vs Hyperthyroidism, how do they differ. [online]. Available at:<https://www.goodrx.com/blog/hypothyroidism-vs-hyperthyroidism-whats-the-difference/> [Accessed 25 February 2021].
    Read More
  • Jantung merupakan salah satu organ penting dalam tubuh untuk mengalirkan darah dan oksigen ke seluruh bagian tubuh yang perlu didukung dengan kondisi jantung yang baik. Baca Juga: Penyakit Jantung pada Remaja, Penyebab Hingga Pencegahan Apabila kondisi jantung lemah, tidak dapat menyuplai darah dan oksigen yang cukup ke seluruh tubuh. Hal ini ditandai dengan munculnya keluhan […]

    Mengenal Gagal Jantung Kongestif dan Pencegahannya

    Jantung merupakan salah satu organ penting dalam tubuh untuk mengalirkan darah dan oksigen ke seluruh bagian tubuh yang perlu didukung dengan kondisi jantung yang baik.

    gagal jantung kongestif

    Baca Juga: Penyakit Jantung pada Remaja, Penyebab Hingga Pencegahan

    Apabila kondisi jantung lemah, tidak dapat menyuplai darah dan oksigen yang cukup ke seluruh tubuh. Hal ini ditandai dengan munculnya keluhan mudah lelah, sesak napas, hingga dapat menyebabkan kematian.

    Kondisi ini disebut gagal jantung kongestif, yaitu kondisi ketika bilik jantung masih berfungsi dengan baik namun dinding otot jantung tidak kuat menahan aliran darah.

    Penyebab Gagal Jantung Kongestif

    Gagal jantung kongestif dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

    Penyakit Jantung Koroner

    Penyakit jantung koroner disebabkan karena tersumbatnya pembuluh darah arteri yang memasok darah dan oksigen ke jantung sehingga mengakibatkan penurunan aliran darah ke  otot jantung.

    Serangan Jantung

    Hal ini terjadi ketika pembuluh darah utama jantung tersumbat, sehingga menghentikan aliran darah ke otot jantung. Serangan jantung merusak otot jantung, menimbulkan bekas luka pada jantung sehingga fungsi jantung menurun.

    Kardiomiopati

    Kardiomiopati atau kerusakan otot jantung, dapat disebabkan karena gangguan pada pembuluh darah arteri, infeksi dalam tubuh atau akibat penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.

    Kondisi Lain

    Tekanan darah tinggi, gangguan katup jantung, penyakit tiroid, penyakit ginjal, diabetes, atau cacat jantung bawaan dapat menyebabkan gagal jantung kongestif.

    Selain kondisi-kondisi di atas, kondisi berikut juga dapat menyebabkan gagal jantung kongestif, yaitu:

    • Kegemukan
    • Merokok
    • Kurang darah (anemia)
    • Gangguan tiroid, termasuk hipertiroidisme dan hipotiroidisme
    • Penyakit autoimun (misalnya lupus)
    • Radang otot jantung (miokarditis)
    • Gangguan irama jantung (aritmia, fibrilasi atrium)
    • Kondisi ketika zat besi menumpuk di dalam di jaringan (hemochromatosis)

    Gejala Gagal Jantung Kongestif

    Berikut adalah beberapa gejala yang dapat dialami pada pasien gagal jantung kongestif:

    Sesak Napas

    Cairan yang menumpuk di paru-paru dapat menyebabkan sesak nafas, dan batuk ketika seseorang sedang beristirahat dan berbaring.

    Bengkak

    Gagal jantung kongestif dapat menimbulkan keluhan bengkak pada pergelangan kaki, tungkai, dan perut, bahkan peningkatan berat badan

    Kelelahan dan Pusing

    Penurunan jumlah darah yang mencapai organ tubuh dapat menyebabkan kelelahan, dan bila penurunan aliran darah ke otak maka dapat menyebabkan pusing.

    Baca Juga: Cek Gejala Ini untuk Terhindar dari Penyakit Jantung Koroner

    Detak Jantung Tidak Teratur

    Jantung memompa darah lebih cepat, dan pelepasan hormon stres meningkat yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak teratur.

    Bagaimana Cara Mendeteksi Gagal Jantung Kongestif ?

    Selain dengan pemeriksaan fisik, berikut beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendeteksi gagal jantung kongestif :

    Tes Darah dan Urine

    Tes darah dan tes urine berguna untuk memeriksa jumlah darah, fungsi hati, fungsi kelenjar tiroid, dan fungsi ginjal.

    Produk Terkait: Cek Lab

    Rontgen Dada

    Rontgen dada dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi jantung dan paru. Pada kondisi gagal ginjal kongestif, akan ditemukan pembesaran jantung dan paru-paru akibat penumpukan cairan.

    Elektrokardiogram (EKG)

    Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dapat merekam aktivitas listrik dan ritme jantung, serta dapat memperkirakan kerusakan jantung akibat serangan jantung.

    Ekokardiogram

    Pemindaian ekokardiogram dilakukan untuk memeriksa kemampuan pompa jantung.

    Selain dengan pemeriksaan diatas, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan berikut:

    Tes Stres Treadmill

    Tes stres treadmill dapat dilakukan untuk mengetahui respon jantung, dilakukan dengan cara pasien berjalan atau berlari di treadmill dalam kurun waktu tertentu.

    Tes Darah Peptida Natriuretik (BNP) tipe-B

    Pelepasan BNP ke dalam darah terjadi jika jantung bekerja terlalu keras dalam jangka waktu yang lama, misalnya pada kondisi gagal jantung. Umumnya kadar BNP akan berkurang setelah mendapatkan pengobatan.

    Angiogram

    Pemeriksaan angiogram dilakukan dengan menyuntikkan pewarna ke dalam pembuluh darah utama jantung untuk membantu mendeteksi penyakit jantung koroner atau penyempitan pembuluh darah arteri, yang dapat menyebabkan gagal jantung.

    Penanganan Gagal Jantung Kongestif

    Penanganan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan obat obatan dan pada beberapa kasus dapat menjalani prosedur operasi (misalnya pada kondisi : gangguan katup jantung).

    Bagaimana Cara Mencegah Gagal Jantung Kongestif ?

    Pencegahan lebih baik daripada mengobati, karena itu sebelum Sahabat menderita gagal jantung kongestif sebaiknya lakukan beberapa langkah pencegahan berikut:

    • Hentikan kebiasaan merokok
    • Terapkan pola makan yang sehat dan seimbang
    • Berolahraga secara teratur minimal 30 menit sehari atau total minimal 150 menit dalam seminggu
    • Beristirahat yang cukup

    Baca Juga: 5 Olahraga Terbaik untuk Kesehatan Jantung

    Demikian mengenai penyakit gagal jantung kongestif yang dapat Sahabat cegah dan atasi dengan pemberian obat maupun menjalani prosedur operasi.

    Apabila Sahabat perlu info lebih lanjut mengenai penanganan jantung dan produk-produk kesehatan yang berkaitan, silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Is It Congestive Heart Failure? [Internet]. Healthline. 2021 [cited 25 March 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health/congestive-heart-failure
    2. Congestive heart failure: Causes, symptoms, and treatments [Internet]. Medicalnewstoday.com. 2021 [cited 25 March 2021]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/156849#types
    3. Ba, Social Distancing Q. Congestive Heart Failure and Heart Disease [Internet]. WebMD. 2021 [cited 25 March 2021]. Available from: https://www.webmd.com/heart-disease/guide-heart-failure
    Read More
  • TBC atau tuberkulosis merupakan salah satu jenis penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Di Indonesia, TBC merupakan penyakit dengan kasus penyebaran yang tinggi. Baca Juga: Bahaya TB pada Anak yang Perlu Sahabat Ketahui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Wiendra Waworuntu mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara dengan kasus TBC terbesar […]

    Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin Covid 19?

    TBC atau tuberkulosis merupakan salah satu jenis penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Di Indonesia, TBC merupakan penyakit dengan kasus penyebaran yang tinggi.

    penderita TBC menghadapi Covid-19

    Baca Juga: Bahaya TB pada Anak yang Perlu Sahabat Ketahui

    Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Wiendra Waworuntu mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara dengan kasus TBC terbesar ketiga di dunia setelah India dan Cina.

    Kemudian berdasarkan data Kementerian Kesehatan terbaru seperti yang diungkapkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr. Siti Nadia Tarmizi pada Selasa, 23 Maret 2021, estimasi jumlah kasus TBC di Indonesia pada 2020 mencapai 845.000. Namun sepanjang 2020 tersebut hanya ditemukan sekitar 349.000-350.00 kasus.

    Angka kematian akibat TBC terbilang cukup tinggi, diperkirakan 13 orang per jam meninggal karena TBC. Di masa pandemi Covid-19 para penderita TBC harus lebih waspada karena baik TBC maupun Covid-19 adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui cipratan air liur (droplet), dan rentan menyerang anak, lansia serta penderita gangguan kronis paru.

    Gejala TBC hampir mirip dengan Covid-19, yaitu batuk, demam, hingga lemas. Meski demikian terdapat beberapa perbedaan, yaitu pada kondisi TBC tidak mengalami nyeri kepala maupun gangguan penciuman dan pengecap.

    Kedua penyakit tersebut sama-sama menyerang saluran pernapasan, sehingga penderita TBC menjadi lebih rentan terserang Covid-19. Bagaimana cara penderita TBC menjaga kesehatan di masa pandemi Covid 19? Mari kita simak penjelasan berikut :

    Cara Penderita TBC Menghadapi Pandemi Covid-19

    Minum Obat Secara Teratur

    Para penderita TBC disarankan untuk minum obat sesuai jadwal agar tetap menjaga daya tahan tubuh hingga dinyatakan sembuh.

    Menerapkan Protokol Kesehatan

    Di masa pandemi, para penderita TBC disarankan untuk tetap kontrol ke dokter agar diketahui perkembangan kondisinya.

    Terapkan protokol kesehatan pada saat beraktivitas di luar rumah maupun ketika kontrol ke dokter, meliputi mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, mengenakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi serta interaksi.

    Baca Juga: Cara Penderita Hipertensi Menghadapi Covid-19

    Menerapkan Etika Batuk yang Tepat

    Agar tidak menularkan penyakit dan mencegah tertular penyakit maka penderita TBC perlu menerapkan etika batuk yang tepat ketika batuk maupun bersin, yaitu:

    • Mengenakan masker
    • Tutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam.
    • Tutup mulut dan hidung menggunakan tisu sekali pakai, dan buang di tempat sampah.
    • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama kurang lebih 20 detik.

    Gunakan Layanan Konsultasi Kesehatan Online

    Penderita TBC dapat menggunakan layanan konsultasi kesehatan online untuk tetap menjaga kesehatan selama masa pandemi sehingga memudahkan dalam mendapatkan penanganan secara medis.

    Apakah Penderita TBC Boleh Divaksinasi Covid-19?

    Pada awalnya, para penderita TBC tidak diperkenankan mendapatkan vaksinasi Covid-19 karena TBC merupakan salah satu penyakit komorbid yang kronis. Jika diberikan vaksin, dikhawatirkan berpotensi menimbulkan efek samping.

    Namun berdasarkan peraturan terbaru mengenai pemberian vaksin, penderita TBC diperbolehkan diberikan vaksin Covid-19 dengan catatan kondisi penyakit telah terkendali, membawa surat keterangan layak vaksinasi dari dokter, dan sudah menjalani pengobatan TBC lebih dari 2 minggu.

    Pemberian vaksin Covid-19 bagi penderita TBC diharapkan dapat memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap infeksi Covid-19.

    Baca Juga: Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19?

    Bagi Sahabat Sehat yang menderita TBC namun khawatir keluar rumah, mari manfaatkan layanan berobat dan konsultasi online dari Prosehat sehingga Sahabat tetap merasa aman dan nyaman. Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. COVID-19 W. Waspada Tuberculosis di Tengah Pandemi, Ini Perbedaan dengan COVID-19 – Berita Terkini | Covid19.go.id [Internet]. covid19.go.id. 2021 [cited 24 March 2021]. Available from: https://covid19.go.id/p/berita/waspada-tuberculosis-di-tengah-pandemi-ini-perbedaan-dengan-covid-19
    2. Pasien TBC Harus Lebih Waspadai Corona [Internet]. Sehat Negeriku. 2021 [cited 24 March 2021]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20200324/0633499/pasien-tbc-harus-lebih-waspadai-corona/
    3. Yustiawan A. Penderita TBC Diminta Harus Lebih Mewaspadai Virus Corona Covid-19 [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 24 March 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/bola/read/4212442/penderita-tbc-diminta-harus-lebih-mewaspadai-virus-corona-covid-19
    4. COVID-19 W. Etika Batuk yang Baik – Masyarakat Umum | Covid19.go.id [Internet]. covid19.go.id. 2021 [cited 24 March 2021]. Available from: https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/etika-batuk-yang-baik
    5. Alam S. Syarat Baru Vaksinasi, Ini yang Boleh dan Tak Boleh Disuntik Vaksin Corona [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 24 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5374231/syarat-baru-vaksinasi-ini-yang-boleh-dan-tak-boleh-disuntik-vaksin-corona
    6. Cara Sama Tanggulangi TBC dan COVID-19l [Internet]. Sehat Negeriku. 2021 [cited 24 March 2021]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/berita-utama/20210323/1937312/cara-sama-tanggulangi-tbc-dan-covid-19l/
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja