Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Penyakit

Showing 41–50 of 403 results

  • Seiring bertambahnya usia, Sahabat Sehat mungkin mudah merasa khawatir akan kondisi kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang mungkin Sahabat Sehat alami yaitu demensia. Sahabat Sehat, apakah ada cara untuk mencegah demensia? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Demensia ? Demensia diartikan sebagai hilangnya ingatan, serta ketidakmampuan dalam menjalani pekerjaan dan aktivitas kehidupannya secara mandiri. Kondisi […]

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    Seiring bertambahnya usia, Sahabat Sehat mungkin mudah merasa khawatir akan kondisi kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang mungkin Sahabat Sehat alami yaitu demensia. Sahabat Sehat, apakah ada cara untuk mencegah demensia? Mari simak penjelasan berikut.

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    Apa Itu Demensia ?

    Demensia diartikan sebagai hilangnya ingatan, serta ketidakmampuan dalam menjalani pekerjaan dan aktivitas kehidupannya secara mandiri. Kondisi ini dapat disebabkan karena berbagai hal misal cedera ataupun proses penuaan. 

    Bagaimana Mencegah Demensia ?

    Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat dianjurkan menerapkan berbagai hal berikut di rumah :

    1. Olahraga teratur

    Rutin melakukan latihan fisik dipercaya dapat menurunkan risiko demensia hingga 50%. Selain itu, olahraga juga dapat memperlambat kerusakan pada mereka yang telah menunjukan adanya masalah kognitif. Lakukan kombinasi olahraga kardio dan latihan kekuatan otot. Bagi pemula, Sahabat Sehat dapat memulainya dengan olahraga jalan santai atau berenang.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    2. Mengikuti aktivitas sosial

    Dengan tetap terlibat dalam aktivitas sosial, Sahabat Sehat dapat melindungi diri dari penyakit demensia di kemudian hari. Lakukan beberapa aktivitas berikut dirumah :

    • Mengikuti aktivitas sukarelawan.
    • Bergabung dengan komunitas lokal atau grup sosial.
    • Mengunjungi pusat komunitas lokal.
    • Mengikuti kelas kelompok (seperti senam, pengajian, atau keterampilan).
    • Menjalin hubungan baik dengan tetangga.
    • Membuat acara mingguan dengan teman-teman.
    • Berekreasi bersama keluarga.
    • Menjaga pola makan

    Baca Juga: Berbagai Pilihan Olahraga yang Aman Untuk Lansia

    Mengatur pola makan menjadi salah satu langkah efektif dalam mengurangi terjadinya peradangan dan dapat melindungi otak Sahabat Sehat. Mengonsumsi makanan manis dan karbohidrat olahan berlebih seperti tepung putih, nasi putih, dan pasta dapat memicu lonjakan besar pada gula darah sehingga akan mempengaruhi kinerja otak. Sebaiknya konsumsi buah, sayur, serta kendalikan berat badan agar tidak berlebih. 

    Konsumsi lemak omega 3. DHA yang terkandung dalam lemak omega 3 terbukti dapat membantu mencegah penyakit demensia dengan mengurangi plak beta-amyloid.

    Sumber makanan yang banyak mengandung omega 3 yakni berbagai jenis ikan air dingin seperti ikan salmon, tuna, mackerel, trout, sarden dan rumput laut. Selain itu, omega 3 juga dapat dipenuhi dari suplemen minyak ikan.

    Baca Juga: Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    3. Melatih mental

    Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat harus terus melatih otak misalnya belajar bahasa asing, berlatih alat musik, atau mempelajari berbagai keterampilan baru untuk melatih otak.

    • Permainan asah otak dan strategi seperti bermain puzzle, tebak gambar, dan lainnya turut dapat melatih mental Sahabat Sehat. 
    • Mengelola stress

    Depresi dan stress kronis yang berlangsung terus-menerus dapat sangat membebani otak dan berujung pada penyusutan di area memori utama. Kondisi ini akan menghambat sel saraf, dan meningkatkan risiko penyakit demensia.

    Latihan pola pernapasan, berdoa, meditasi, refleksi, dan ibadah lainnya secara teratur dapat membuat mental Sahabat Sehat lebih kuat terhadap pemicu stress yang mungkin akan dihadapi.

    Baca Juga: Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat dapat mencukupi asupan gizi dengan mengkonsumsi buah dan sayur serta multivitamin.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Smith M, Segal J, Robinson L. Preventing Alzheimer’s and Dementia—or Slowing its Progress.
    2. Alzheimer’s Society. How to reduce your risk of Alzheimer’s and other dementias.
    3. Better Health Channel. Dementia – reducing your risk.
    4. Alzheimer’s gov. Reducing Your Risk for Dementia.
    5. National Health Service. Dementia guide.
    Read More
  • Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi. Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India. TBC pada anak biasanya […]

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi.

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India.

    TBC pada anak biasanya terjadi akibat anak menghirup bakteri TBC yang berada di udara. Bakteri ini kemudian terjebak didalam paru-paru dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, bahkan otak.

    Anak-anak berpeluang besar tertular TBC dari orang dewasa disekitarnya yang menderita penyakit tersebut, dibanding tertular dari teman sebayanya. Cara yang efektif untuk melindungi anak hingga mereka dewasa adalah dengan melakukan imunisasi BCG.

    Gejala TBC Pada Anak

    Gejala TBC pada anak bisa berbeda-beda dan cenderung lebih sulit dideteksi sehingga kerap terlambat mendapatkan penanganan. Berikut adalah beberapa gejala umumnya:

    • Demam
    • Penurunan berat badan
    • Pertumbuhan yang buruk
    • Batuk
    • Kelenjar getah bening tampak bengkak, beberapa lainnya mungkin mulai mengeluarkan cairan melalui kulit
    • Panas dingin

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Sedangkan pada anak yang lebih besar, berikut adalah beberapa gejala TBC yang paling umum ditemukan :

    • Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu
    • Sakit atau nyeri di dada
    • Batu disertai darah
    • Mudah lelah
    • Kelenjar getah bening bengkak
    • Penurunan berat bdan
    • Nafsu makan menurun
    • Demam
    • Berkeringat di malam hari
    • Panas dingin

    Gejala TBC terkadang terlihat seperti penyakit lainnya, konsultasikan dengan dokter untuk memastikannya.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Gejala Saat TB Menyerang Organ Tubuh Lain

    Infeksi TBC pada anak tidak hanya membahayakan paru-paru, tetapi juga seluruh organ tubuh lainnya. Oleh sebab itu, ada gejala khusus yang akan timbul saat organ tubuh tertentu diserang oleh bakteri tuberkulosis. Berikut beberapa organ tubuh anak yang paling sering di serang oleh infeksi TBC:

    Tuberkulosis kelenjar

    Biasanya terjadi pada kelenjar getah bening di leher, dengan ukuran diameter kurang lebih 1 cm. Benjolan terlihat seperti kelereng yang berderet dengan konsistensi yang kenyal, tetapi tidak nyeri.

    Tuberculosis otak dan selaput otak (meningitis TB)

    Infeksi TBC juga sangat mudah menyebar ke otak. Saat mengenai selaput otak, biasanya akan menjadi rewel, sakit kepala, kejang hingga kaku.

    Tuberkulosis tulang

    Gejala yang ditimbulkan tergantung pada bagian tulang yang terkena infeksi tuberkulosis, misalnya :

    • TB tulang belakang (spondylitis), ditandai dengan penonjolan tulang belakang (gibbus).
    • TB tulang panggul (koksitis), ditandai dengan gangguan berjalan, pincang, atau terjadi peradangan di daerah panggul.
    • TB tulang lutut (gonitis), ditandai dengan pincang dan/ bengkak pada area lutut tanpa ada sebab yang jelas. 
    • TB tulang kaki dan tangan (spina ventosa/ dactylitis), ditandai dengan pembengkakan pada area persendian kaki atau tangan. 

    Skrofuloderma

    Disebut juga sebagai tuberkulosis kulit. Ditandai dengan timbulnya luka atau borok yang disertai dengan fistula atau jembatan kulit antar tepi luka. Anak biasanya mengalami demam.

    Tuberkulosis usus

    Kondisi ini biasanya memiliki gejala berupa gangguan pada sistem pencernaan, seperti diare, kembung, dan nyeri perut. Infeksi TBC pada usus beresiko menyebabkan infeksi dan peradangan pada saluran cerna, yang disebut peritonitis TB.

    Tuberkulosis ginjal

    Infeksi ini akan dicurigai saat ditemukan gejala seperti gangguan buang air kecil, dimana urin yang keluar berwarna terlalu pekat dan menimbulkan nyeri pada pinggang tanpa adanya sebab yang jelas. 

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Pentingnya Imunisasi BCG

    Dengan memberikan vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin), si Kecil dapat terlindungi dari bahaya infeksi bakteri tuberkulosis. Imunisasi BCG sudah dapat diberikan sejak si Kecil lahir hingga berusia 1 bulan. Jika Si Kecil sudah berusia diatas 3 bulan, vaksin BCG masih bisa diberikan. Namun, sebelum melakukan imunisasi BCG dianjurkan untuk pemeriksaan tuberkulin terlebih dahulu.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengapa imunisasi BCG sangat penting bagi anak-anak Indonesia. Tidak hanya melindungi saat kecil, tapi juga kelak ia dewasa. Dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat dan mendapatkan imunisasi lengkap, anak terlindungi dari penyakit-penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. IDAI. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi I.
    2. CDC. Tuberculosis (TB) – TB Treatment for Children.
    3. TB Facts. TB in Children – Getting, diagnosing & treating TB.
    4. University of Rochester Medical Center. Tuberculosis (TB) in Children – Health Encyclopedia.
    5. Kids Health. Tuberculosis (for Parents).
    Read More
  • Mungkin banyak diantara Sahabat Sehat mengalami nyeri, sakit, dan kaku pada punggung, leher, lengan, ataupun kaki. Salah satu penyebabnya adalah akibat saraf terjepit. Saraf di tulang belakang dan bagian tubuh lainnya yang mengalami gangguan saraf terjepit dapat menimbulkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan. Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara penanganannya? Mari simak penjelasan berikut. Apa […]

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya?

    Mungkin banyak diantara Sahabat Sehat mengalami nyeri, sakit, dan kaku pada punggung, leher, lengan, ataupun kaki. Salah satu penyebabnya adalah akibat saraf terjepit. Saraf di tulang belakang dan bagian tubuh lainnya yang mengalami gangguan saraf terjepit dapat menimbulkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan.

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya?

    Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara penanganannya? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Saraf Terjepit?

    Saraf kejepit atau disebut juga pinched nerve adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sensasi tidak nyaman, nyeri, atau mati rasa yang disebabkan oleh saraf yang tertekan oleh bagian sekitarnya sehingga memicu iritasi atau kerusakan pada saraf. Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan keluhan nyeri pada punggung atau leher. 

    Berbagai Faktor Resiko Penyebab Saraf Terjepit

    Saraf terjepit dapat terjadi akibat adanya tekanan pada saraf di tulang belakang. Tekanan ini dapat berupa gerakan berulang yang dilakukan dalam jangka waktu lama. Berikut berbagai faktor risiko  lain yang dapat menyebabkan saraf terjepit:

    • Riwayat kecelakaan atau trauma di area tulang belakang
    • Postur tubuh yang tidak baik 
    • Stres pada tulang dan sendi akibat pekerjaan yang berulang
    • Melakukan berbagai jenis olahraga yang rentan mengalami cedera
    • Berat badan berlebihan

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Gejala Saraf Terjepit ?

    Saraf kejepit umumnya ditandai dengan beberapa gejala seperti berikut :

    • Mati rasa, kebas, atau menurunnya sensasi untuk ‘merasa’ 
    • Muncul sensasi sakit atau nyeri seperti terbakar yang menjalar 
    • Kesemutan
    • Lemahnya otot pada bagian tubuh yang diduga mengalami saraf kejepit.

    Terkadang gejala dapat memburuk saat Sahabat Sehat melakukan gerakan tertentu, seperti memutar kepala atau menegangkan leher. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka dapat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari.

    Baca Juga: Benarkah Fisioterapi Bantu Atasi Saraf Terjepit ?

    Bagaimana Cara Mengatasi Saraf Terjepit?

    Kondisi saraf terjepit pada setiap orang dapat ditangani sesuai dengan tingkat keparahan dari saraf yang bermasalah. Secara umum berikut adalah penanganan yang dilakukan untuk mengatasi saraf terjepit : 

    • Istirahat

    Untuk saraf kejepit yang tergolong ringan, dokter mungkin akan meminta untuk istirahat yang cukup. Sahabat Sehat dianjurkan menghindari aktivitas yang mungkin akan memperburuk keluhannya. 

    • Minum Obat Pereda Nyeri

    Apabila gejala menetap dan rasa sakit memberat, sebaiknya segera konsultasikan dengan  dokter. Obat yang diberikan merupakan jenis obat pereda nyeri serta pereda radang untuk mengurangi keluhan nyeri akibat saraf terjepit.

    • Terapi Fisik

    Saraf terjepit juga dapat diatasi dengan melakukan terapi fisik atau fisioterapi, yakni latihan untuk memperkuat dan meregangkan otot pada bagian tubuh yang bermasalah untuk mengurangi tekanan pada saraf. 

    • Operasi

    Pada kondisi yang lebih berat, dokter mungkin akan merekomendasikan Sahabat Sehat untuk melakukan operasi untuk memperbaiki saraf yang bermasalah. Jenis operasi yang dilakukan pun tidak selalu sama, tergantung pada lokasi terjadinya saraf kejepit. Pada umumnya penanganan saraf terjepit akan disesuaikan kembali dengan kondisi tubuhnya.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai informasi mengenai penanganan saraf terjepit. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Pinched nerve – Symptoms and causes.
    2. WebMD. Pinched Nerve (Compressed Nerve): Symptoms and Treatment.
    3. Medicine Net. Pinched Nerve.
    4. Cleveland Clinic. Pinched Nerves: Causes, Symptoms & Treatment.
    Read More
  • Penyakit tuberkulosis ternyata masih terus menyerang anak-anak Indonesia. Penyakit yang mudah sekali ditularkan melalui udara ini telah menginfeksi sekitar 824.000 orang di Indonesia pada tahun 2021, dimana 42.187 kasus diantaranya adalah anak-anak usia 0-14 tahun. Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengalihkan seluruh perhatian kepada penyakit yang juga tidak kalah mematikan ini. Beberapa akibatnya adalah cakupan imunisasi […]

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penyakit tuberkulosis ternyata masih terus menyerang anak-anak Indonesia. Penyakit yang mudah sekali ditularkan melalui udara ini telah menginfeksi sekitar 824.000 orang di Indonesia pada tahun 2021, dimana 42.187 kasus diantaranya adalah anak-anak usia 0-14 tahun.

    Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengalihkan seluruh perhatian kepada penyakit yang juga tidak kalah mematikan ini. Beberapa akibatnya adalah cakupan imunisasi anak menurun dan kasus penyakit tuberkulosis kembali meningkat dibandingkan tahun 2020.

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penularan tuberkulosis pada anak-anak terjadi melalui orang dewasa yang terinfeksi. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko anak terinfeksi tuberkulosis antara lain: status gizi, riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis, dan kepadatan hunian.

    Kasus tuberkulosis anak lebih banyak ditemukan pada anak di bawah lima tahun (balita) dengan rasio 22 kasus setiap 100.000 anak. Sedangkan pada anak usia 6-14 tahun, angka kejadiannya sekitar 14 kasus setiap 100.000 anak. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh anak balita belum sebaik anak-anak yang lebih tua dan kemampuannya dalam menjaga kebersihan diri masih lebih banyak bergantung kepada orang dewasa, selain juga masalah sosioekonomi.

    Kuman TBC bisa Menginfeksi selain Paru-paru

    Tahukah Sahabat Sehat kalau kuman tuberkulosis bisa menyerang organ selain paru-paru? Ya, walau mayoritas kasus tuberkulosis menyerang paru-paru, sebagian kecil lainnya menginfeksi organ seperti tulang dan sendi, kelenjar getah bening, selaput otak, saluran pencernaan, dan lain-lain.

    Cara penularannya masih sama dengan tuberkulosis paru, namun gejalanya berbeda. Jika biasanya gejala tuberkulosis paru-paru meliputi gangguan pernapasan seperti batuk berdahak disertai demam, hilang nafsu makan, dan penurunan berat badan, pada tuberkulosis di luar paru akan menunjukkan gangguan sesuai organ yang terinfeksi. Misalnya tuberkulosis saluran cerna dapat menunjukkan gejala sakit perut, diare atau sembelit, darah pada feses, dll.

    Tuberkulosis ekstra paru, atau di luar paru, juga banyak ditemui pada anak-anak. Penyakit tuberkulosis yang menyerang selaput otak, disebut juga meningitis tuberkulosis, paling sering ditemui pada anak di bawah usia 2 tahun dan orang dewasa dengan HIV/AIDS.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Cara tepat Mencegah Tuberkulosis

    Melihat tingginya kasus tuberkulosis di Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan, pemerintah terus menggalakkan program pencegahan dan pengobatan tuberkulosis di seluruh wilayah Indonesia. Tidak hanya itu, Menteri Kesehatan Budi Sadikin pun mengangkat isu ini pada pertemuan tingkat internasional G20. 

    Pencegahan tuberkulosis yang dapat dilakukan Sahabat Sehat dimulai dari menurunkan risiko penularan, yaitu:

    • memperbaiki status gizi anak dengan membiasakan makan makanan bergizi seimbang,
    • menghindari kontak dengan penderita tuberkulosis dan meminta penderita menggunakan masker, terutama pada masa infeksius, dan
    • melakukan imunisasi BCG agar tubuh anak membentuk kekebalan terhadap kuman tuberkulosis.

    Sesuai rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian imunisasi BCG dilakukan saat anak baru lahir hingga berusia 1 bulan. Bagi anak yang belum bisa melakukan imunisasi pada jadwal tersebut, maka ia dapat melakukan imunisasi kejar hingga usia 12 bulan didahului dengan konsultasi dokter.

    Sedangkan, jika anak terinfeksi tuberkulosis maka ia harus melakukan pengobatan hingga tuntas. Pengobatan tuberkulosis pada anak adalah sebuah tantangan tersendiri bagi orang tua karena memerlukan waktu lama. Maka, mencegah tuberkulosis adalah langkah yang terbaik untuk melindungi anak.

    Baca Juga: Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Program TOSS TB untuk skrining tuberkulosis

    Penyakit tuberkulosis bisa dideteksi melalui skrining. Saat ini Kementerian Kesehatan RI sedang menggalakkan program Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB) dalam rangka Hari Tuberkulosis 2022. Bersama dengan program ini, Klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat turut berpartisipasi untuk meningkatkan cakupan deteksi dini bagi masyarakat umum. Bagi Sahabat Sehat yang ingin mengikuti program skrining, Anda dapat menghubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Baca Juga: Terlambat Imunisasi BCG? Ini yang Harus Dilakukan!

    Imunisasi bersama Prosehat

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak bayi dan belum diimunisasi BCG, Prosehat melayani imunisasi anak yang dapat dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda.

    Biaya imunisasi BCG di klinik Prosehat sebesar Rp. 450.000 dan Rp. 720.000 untuk pelayanan ke rumah. Pemesanan layanan imunisasi sangat mudah. Sahabat Sehat cukup menghubungi Customer Service ProSehat atau melakukan pemesanan melalui website.

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya

    Layanan imunisasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat. Jadi, ayo segera jadwalkan imunisasi anak Anda bersama Prosehat. Produk imunisasi di Prosehat lengkap dan berkualitas, serta dilakukan oleh dokter profesional yang terlatih.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. TB Indonesia. Dashboard TB.
    2. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun.
    Read More
  • Stroke akan terjadi saat pembuluh darah di otak pecah dan mengalami pendarahan, atau ketika terjadi penyumbatan aliran darah di otak. Pecahnya atau adanya penyumbatan pada pembuluh darah membuat darah dan oksigen tidak mengalir hingga jaringan otak. Tanpa oksigen, sel-sel dan jaringan otak akan rusak dan perlahan akan mati dalam beberapa menit. Sahabat Sehat, apa saja […]

    Tanda dan Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

    Stroke akan terjadi saat pembuluh darah di otak pecah dan mengalami pendarahan, atau ketika terjadi penyumbatan aliran darah di otak. Pecahnya atau adanya penyumbatan pada pembuluh darah membuat darah dan oksigen tidak mengalir hingga jaringan otak. Tanpa oksigen, sel-sel dan jaringan otak akan rusak dan perlahan akan mati dalam beberapa menit.

    Tanda dan Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

    Tanda dan Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

    Sahabat Sehat, apa saja gejala stroke yang harus diwaspadai ? Mari simak penjelasan berikut. 

    Gejala Stroke

    Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit stroke dipengaruhi oleh seberapa luas area otak yang mengalami perdarahan atau sumbatan. Beberapa tanda-tanda berikut ini patut untuk diwaspadai sebagai gejala umum stroke, antara lain:

    • Kelumpuhan
    • Mati rasa atau kelemahan di wajah, lengan, dan kaku terutama di salah satu sisi tubuh
    • Kesulitan dalam berbicara atau memahami ucapan
    • Bicara cadel
    • Kesulitan melihat pada satu atau kedua mata
    • Kesulitan berjalan
    • Gangguan keseimbangan
    • Pusing
    • Sakit kepala berat secara tiba-tiba

    Stroke merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan medis secepatnya. Jika Sahabat Sehat atau orang lain mengalami beberapa gejala di atas, segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Baca Juga: Kolesterol Penyebab Stroke Dan Serangan Jantung

    Komplikasi Stroke

    Stroke dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan, seperti berikut :

    • Trombosis Vena Dalam

    Sebagian besar penderita stroke dapat mengalami penggumpalan darah di tungkai sehingga  mengalami kelumpuhan. Hal ini terjadi akibat terhentinya pergerakan pada otot tungkai, sehingga membuat aliran pembuluh darah balik kaki menjadi terganggu.

    • Hidrosefalus

    Terjadinya penumpukan cairan otak di dalam rongga jauh di dalam otak. Kondisi ini umumnya dialami oleh penderita stroke akibat pendarahan otak. 

    • Disfagia

    Stroke dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem refleks menelan, sehingga mengakibatkan makanan dan minuman masuk ke dalam saluran pernapasan.

    Kapan Harus Ke Dokter?

    Jika Sahabat Sehat mengalami berbagai gejala diatas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Sangat dianjurkan untuk menghubungi keluarga atau pengasuh agar menemani Sahabat Sehat saat menuju ke fasilitas kesehatan. 

    Baca Juga: 10 Jenis Medical Check Up Rutin yang Perlu Dilakukan Lansia

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai gejala stroke. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Plan N. Stroke care.
    2. Hopkins Medicine. Stroke.
    3. Healthline. Stroke: Symptoms, Causes, Treatment, Types & More.
    4. Web MD. What Do You Know About Strokes? 
    5. American Stroke Association. About Stroke.
    Read More
  • Depresi pada lansia dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan. Sayangnya masih banyak yang mengabaikan kondisi mental para lansia. Kasus depresi ini banyak terjadi dan rentan dialami lansia yang harus tinggal seorang diri karena anak-anaknya harus pergi merantau. Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang seringkali dialami oleh lanjut usia (lansia). Banyak sekali faktor resiko serta […]

    Berikut ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Mengalami Depresi

    Depresi pada lansia dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan. Sayangnya masih banyak yang mengabaikan kondisi mental para lansia. Kasus depresi ini banyak terjadi dan rentan dialami lansia yang harus tinggal seorang diri karena anak-anaknya harus pergi merantau.

    Berikut ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Mengalami Depresi

    Berikut ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Mengalami Depresi

    Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang seringkali dialami oleh lanjut usia (lansia). Banyak sekali faktor resiko serta alasan yang dikaitkan dengan meningkatnya kejadian depresi pada usia lanjut. Kemajuan dalam bidang kesehatan di Indonesia disertai dengan peningkatan sosial ekonomi dan pengetahuan masyarakat berakibat pada peningkatan kesejahteraan rakyat yang akhirnya meningkatkan harapan hidup. Peningkatan ini menyebabkan jumlah penduduk yang tergolong lanjut usia semakin bertambah setiap tahunnya.1,2

    Memahami Penyebab dan Gejala Depresi pada Lansia

    Seiring dengan bertambahnya usia, proses penuaan yang terjadi tidak dapat dihindari dan setiap individu akan mengalami perubahan  baik pada fisik atau tubuhnya dan juga dengan mentalnya. Disamping itu, para lansia juga harus dihadapkan dengan berbagai permasalahan seperti perubahan kedudukan sosial, kehilangan pekerjaan (pensiun), resiko terkena penyakit, serta kehilangan orang yang mereka cintai.

    Kejadian depresi pada lansia seringkali tidak terdeteksi, salah diagnosis ataupun bahkan tidak mendapatkan penanganan. Gejala depresi seringkali dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja. Padahal depresi pada usia lanjut dapat berakibat buruk, dan apabila tidak ditangani dengan baik maka dapat menurunkan kualitas hidup lansia bahkan menyebabkan kematian.

    Oleh sebab itu, sangat penting untuk tahu apa saja yang dapat menyebabkan lansia mengalami depresi, gejala depresi, serta cara menangani depresi pada mereka yang lanjut usia.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Faktor Penyebab Depresi Pada Lansia

    Depresi pada lansia juga disebut sebagai late life depression. Lansia rentan sekali terhadap depresi. Biasanya disebabkan karena beberapa faktor risiko, misalnya:

    Masalah Kesehatan

    Lansia rentan menderita penyakit degeneratif (penyakit yang terjadi akibat proses penuaan), seperti misalnya osteoarthritis, stroke dan penyakit lainnya yang menyebabkan kecacatan atau penurunan daya ingat mengakibatkan kualitas hidup lansia menurun. Hal ini sering kali sebagai pemicu seseorang terjadi depresi.

    Kesepian dan Rasa Terisolasi

    Faktor-faktor seperti tinggal dan hidup sendirian tanpa interaksi sosial, lingkaran sosial yang semakin sempit, perpisahan akibat kematian dan tidak bekerja (masa pensiun) akan memicu terjadinya depresi pada lansia.

    Krisis Identitas

    Masa pensiun akan menyebabkan hilangnya identitas, status, kepercayaan diri, keamanan finansial dan meningkatkan resiko terjadinya depresi. Selain itu keterbatasan fisik pada aktivitas yang biasanya dikerjakan dan dinikmati juga akan mempengaruhi tujuan hidup para lansia.

    Baca Juga: Kenali 3 Vaksinasi yang Penting untuk Lansia

    Ketakutan

    Rasa takut akan penyakit yang sedang dialami dan takut akibat kematian akan menjadikan lansia rentan terjadi rasa cemas atau gelisah. Selain itu, masalah keuangan dan juga kesehatan juga dapat menjadi pemicu terjadinya depresi.

    Kesepian Akibat Kehilangan Orang yang Disayangi

    Kematian teman, anggota keluarga, pasangan adalah penyebab depresi yang paling sering dialami lansia.  Selain menimbulkan rasa kehilangan dan kesendirian, hal ini juga menyebabkan rasa duka yang dapat menyebabkan perasaan tertekan yang berujung pada depresi.

    Satu hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa penyebab depresi pada lansia tentunya berbeda dengan depresi pada usia muda. Pada usia lanjut, depresi berkaitan dengan kondisi penyakit kronis dan disabilitas (membutuhkan bantuan orang lain untuk aktifitas sehari-hari). Depresi pada usia lanjut akan berisiko pada masalah kesehatan seperti gangguan jantung, serangan jantung hingga timbul kematian apabila tidak diatasi dengan cepat.

    Gejala Depresi Pada Lansia

    Sangat penting untuk memahami kondisi kesehatan seorang lansia. Kerap kali para lansia tidak mengatakan apa yang sedang mereka rasakan. Sahabat Sehat, berikut ini adalah berbagai gejala yang dapat diidentikkan dengan kemungkinan mengalami depresi di usia lanjut:

    • Mudah merasa lelah
    • Sulit tidur dan mudah terbangun
    • Mudah tersinggung
    • Bingung
    • Mencari perhatian
    • Berat badan menurun
    • Nyeri pada tubuh
    • Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri
    • Tidak dapat berkonsentrasi.

    Depresi yang dialami para lanjut usia dapat meningkatkan risiko bunuh diri, terutama pada laki-laki lanjut usia. Rata-rata yang berusia 80-84 tahun akan memiliki kecenderungan 2x lipat untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang berada pada usia muda. Oleh karena itu, apabila keluarga yang sudah lanjut usia dan mempunyai gejala seperti diatas, jangan takut untuk berkonsultasi dengan dokter psikiatri.

     

    Tips Mencegah Depresi Pada Lansia

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai tips yang dapat dilakukan untuk mencegah depresi pada lansia. Berikut ini perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan:

    • Meningkatkan aktivitas fisik lansia, misalnya berkebun
    • Mencoba hobi dan kesenangan baru
    • Berkunjung ke rumah keluarga atau kerabat terdekat
    • Makan makanan bergizi dan teratur
    • Jadwalkan waktu tidur dengan teratur.
    • Jangan biarkan lansia untuk tinggal seorang diri.
    • Bergabung dengan grup sosial khusus lansia.

    Baca Juga: Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    Demikianlah beberapa poin penting mengenai depresi pada lansia yang perlu kita ketahui bersama. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Prabhaswari L, Luh Putu Ariastuti N. GAMBARAN KEJADIAN DEPRESI PADA LANJUT USIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PETANG I KABUPATEN BADUNG BALI 2015.
    2. How to spot the signs and detect depression in elderly people.
    3. Fulghum Bruce, PhD D, Casarella, M J. Depression in Older Adults.
    4. J. Legg, Ph.D., CRNP T, Krans B. Geriatric Depression (Depression in Older Adults).
    5. BPAC. Depression in elderly people.
    Read More
  • Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela lalu disimpan di bank darah untuk kemudian digunakan oleh pasien yang membutuhkan. Semua orang dapat menjadi pendonor darah jika memenuhi syarat. Sebelum mendonorkan darah, para calon pendonor akan diminta untuk mengisi kuesioner seputar kondisi kesehatannya dan faktor risiko penyakit. Kemudian, pendonor akan diperiksa oleh tenaga […]

    Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis B Sebelum Donor Darah

    Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela lalu disimpan di bank darah untuk kemudian digunakan oleh pasien yang membutuhkan.

    Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis B Sebelum Donor Darah

    Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis B Sebelum Donor Darah

    Semua orang dapat menjadi pendonor darah jika memenuhi syarat. Sebelum mendonorkan darah, para calon pendonor akan diminta untuk mengisi kuesioner seputar kondisi kesehatannya dan faktor risiko penyakit. Kemudian, pendonor akan diperiksa oleh tenaga kesehatan yang bertugas di bank darah tersebut.

    Selain itu, untuk menjaga keamanan produk darah, terdapat regulasi untuk menskrining darah tersebut agar terbebas dari penyakit-penyakit infeksius seperti Hepatitis B yang kasusnya masih banyak ditemukan di Indonesia. Dengan demikian, produk darah yang diterima aman untuk digunakan.

    Persyaratan Donor Darah

    Untuk dapat mendonorkan darah, Palang Merah Indonesia (PMI) telah menetapkan beberapa persyaratan bagi pendonor. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan pendonor dan mendapatkan kualitas darah yang terbaik. Syarat untuk menjadi pendonor darah ialah:

    • Sehat jasmani dan rohani  
    • Usia 17 sampai dengan 65 tahun
    • Berat badan minimal 45 kg
    • Tekanan darah sistol 100 – 170 mmHg dan diastol 70 – 100 mmHg
    • Kadar hemoglobin 12,5 g% – 17,0 g% 
    • Interval minimal 12 minggu atau 3 bulan sejak donor darah sebelumnya (maksimal 5 kali dalam 2 tahun). 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Ada pula restriksi bagi calon pendonor yang memiliki kondisi-kondisi tertentu. Berikut adalah kondisi dimana seseorang tidak diperbolehkan mendonorkan darah:

    • Mempunyai penyakit jantung dan paru-paru 
    • Menderita kanker 
    • Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi) 
    • Menderita kencing manis (diabetes melitus) 
    • Memiliki kelainan darah 
    • Menderita epilepsi dan sering kejang 
    • Menderita atau pernah menderita Hepatitis B atau C
    • Mengidap sifilis 
    • Ketergantungan narkoba
    • Kecanduan minuman beralkohol 
    • Mengidap atau beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS 
    • Saran dari dokter pemeriksa karena kondisi kesehatan pendonor.

    Baca Juga: 10 Ciri Terkena Hepatitis B yang Perlu Kamu Ketahui

    Skrining Produk Darah yang Sudah Didonorkan

    Setelah pendonor lolos persyaratan dan menyelesaikan proses donor darahnya, darah yang sudah didonorkan akan menjalani skrining terhadap beberapa penyakit yang dapat menular melalui produk darah, yaitu:

    • Hepatitis B 
    • Hepatitis C 
    • HIV-1 and HIV-2 
    • Treponema pallidum (sifilis).

    Risiko transmisi Hepatitis B melalui produk darah adalah kurang dari 1 dari 500,000 orang, sementara risiko transmisi Hepatitis C adalah 1 dari 2 juta produk darah yang ditransfusi. Semua produk darah di bank darah hanya akan diberikan kepada pasien bila telah lolos proses skrining ini. Berkat adanya skrining darah ini, risiko transmisi Hepatitis B dan C melalui produk darah sangatlah minimal.

    Baca Juga: Fungsi dan Manfaat Vaksin Hepatitis B

    Jenis Hepatitis yang Diperbolehkan Donor Darah

    Calon pendonor dengan hepatitis B dan hepatitis C tidak diperbolehkan mendonorkan darahnya, terlepas dari memiliki gejala atau tidak bergejala sama sekali. Namun, pada kondisi tertentu, orang dengan tipe Hepatitis lainnya masih dapat mendonorkan darahnya bila memenuhi syarat. Berikut ini adalah tipe-tipe hepatitis beserta kriterianya:

    • Hepatitis A

    Hepatitis A menyebar melalui kontaminasi makanan atau air. Hepatitis A adalah infeksi yang umum ditemukan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penderita Hepatitis A dapat mendonorkan darahnya dengan syarat bukan dalam kondisi infeksi akut (sedang terinfeksi). Tanda-tanda hepatitis infeksi akut/ aktif ialah demam, nyeri sendi, nyeri otot, mual muntah, nyeri perut kanan atas, diare. Anda dapat mendonasikan darah apabila telah sembuh dari Hepatitis A.

    • Hepatitis E

    Hepatitis E serupa dengan Hepatitis A, terutama cara penyebarannya. Infeksi Hepatitis E sering dijumpai di Asia Tengah. Pengidap Hepatitis E dapat mendonasikan darah apabila telah sembuh dari penyakitnya

    • Hepatitis yang bukan disebabkan oleh infeksi virus

    Tidak semua hepatitis disebabkan karena infeksi virus. Bila Anda mengalami hepatitis yang non-viral (bukan disebabkan oleh infeksi virus) dan bebas gejala, Anda boleh mendonorkan darah. Jenis hepatitis non-viral diantaranya:

    • Hepatitis autoimun
    • Hepatitis disebabkan konsumsi alkohol
    • Hepatitis karena perlemakan hati (fatty liver) yang bukan disebabkan oleh konsumsi alkohol
    • Hepatitis karena bakteri enterik seperti E.coli dan Klebsiella pneumonia
    • Hepatitis karena parasit seperti malaria dan leishmania.

    Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Sehat Ketahui Tentang Vaksin Hepatitis B

    Jenis Hepatitis yang Tidak Diperbolehkan Donor Darah 

    Demi keamanan produk darah dan pasien penerima darah, maka ada beberapa tipe hepatitis dan kondisi yang tidak diperbolehkan mendonorkan darahnya, yaitu:

    • Hepatitis B

    Hepatitis B adalah infeksi hati serius yang paling umum di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Hepatitis B yang menyerang dan membuat peradangan pada hati. Dua miliar orang (atau 1 dari setiap 3 orang) telah terinfeksi dan sekitar 300 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis. Setiap tahun sekitar 1 juta orang meninggal karena hepatitis B meskipun faktanya infeksi ini dapat dicegah dan diobati.

    • Hepatitis C

    Hepatitis C adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV). Hepatitis C menyebar melalui kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi. Saat ini, kebanyakan orang terinfeksi virus Hepatitis C dengan berbagi jarum suntik atau peralatan lain yang digunakan untuk menyiapkan dan menyuntikkan narkoba. Bagi sebagian orang, Hepatitis C adalah penyakit jangka pendek, tetapi bagi lebih dari separuh lainnya menjadi infeksi kronis jangka panjang

    Walaupun antivirus Hepatitis C telah ditemukan dan diketahui memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, orang yang telah terinfeksi tidak dapat menjadi pendonor darah meskipun sudah sembuh.

    • Hepatitis D

    Hepatitis D hanya terjadi pada orang yang terinfeksi hepatitis B karena dianggap sebagai “virus yang tidak lengkap”. Jika seseorang menderita hepatitis D, maka ia juga menderita hepatitis B dan oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjadi pendonor darah. Beberapa kondisi yang belum dapat mendonorkan darahnya ialah:

    • Jika tinggal atau berhubungan seks dengan seseorang yang menderita hepatitis, maka calon pendonor harus menunggu 12 bulan setelah kontak terakhir.
    • Jika menerima transfusi darah atau terkena jarum suntik yang tidak steril (seperti melalui penggunaan jarum bersama atau cedera tertusuk jarum yang tidak disengaja), maka harus menunggu 12 bulan sebelum bisa mendonorkan darah.

    Baca Juga: Penyebab Hepatitis B pada Ibu Hamil dan Dampaknya pada Bayi

    Sahabat Sehat, kasus Hepatitis B yang masih banyak ditemukan di Indonesia menjadikan langkah skrining produk darah menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk darah dan keamanan pasien penerima darah. Pastikan Sahabat Sehat juga dalam keadaan sehat bila ingin mendonorkan darah.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Gloria Teo
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Palang Merah Indonesia. Syarat menjadi donor darah.
    2. Daniel C, Chugh P. Blood Donation Guidelines for Hepatitis A, B, and C.
    3. Hepatitis B Foundation. What Is Hepatitis B?
    4. National Center for HIV, Viral Hepatitis, STD, and TB Prevention. Hepatitis C.
    Read More
  • Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu? Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya […]

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu?

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya ini serasi dengan perkembangan dunia digital yang memfasilitasi banyak hal. Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini setiap harinya?

    Ya, itulah hustle culture. Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture adalah standar di masyarakat yang menganggap bahwa Anda hanya bisa mencapai sebuah kesuksesan apabila benar-benar mendedikasikanqc  hidup untuk pekerjaan. Selain itu, mereka bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan diatas segala-galanya.

    Tren baru di Indonesia

    Budaya ini sedang menjadi tren di Indonesia bahkan di masyarakat dunia. Budaya ini dikenalkan pertama kali oleh beberapa tokoh besar seperti Jeff Bezos, Elon Musk dan Jack Ma yang melakukan normalisasi bekerja melebihi batas waktu normal untuk mencapai kesuksesan. Bahkan, di Tiongkok sendiri budaya ini dikenal dengan budaya 966 atau bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam dalam 6 hari.

    Banyak anak muda yang menjadikan berbagai buku, tokoh terkenal di platform media sosial, dan juga tokoh-tokoh wirausahawan atau entrepreneur sebagai inspirasi dalam mengejar kesuksesan mereka sendiri. Sebagai anak muda yang ambisius bekerja menuju tujuan mereka, tidak mengherankan melihat banyak sekali pekerja menjadi korban dari hustle culture ini. Waktu istirahat, kehidupan pribadi, dan kesehatan fisik dan mental adalah hal-hal yang pada akhirnya luput dari perhatian.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Mengapa Hustle Culture tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental?

    Hustle culture tidak baik untuk kesehatan fisik dan juga mental. Pasalnya, orang yang terjebak dalam hustle culture menganggap jalan menuju kesuksesan dan kesejahteraan hanya dengan bekerja, sehingga bekerja melebihi batas jam kerja dan lembur dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar.

    Menurut penelitian yang dilakukan tahun 2018 di Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok, pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu memiliki berbagai risiko kesehatan fisik dan psikologis. Beberapa risiko kesehatan fisik antara lain:

    • Penyakit jantung dan pembuluh darah, misalnya penyakit jantung koroner
    • Penyakit serebrovaskular
    • Peningkatan tekanan darah dan detak jantung
    • Resistensi insulin, gangguan irama jantung (aritmia), hiperkoagulasi dan iskemia.

    Baca Juga: Tips Atasi Kelelahan akibat Overworking

    Sedangkan, bahaya psikologis dari hustle culture membuat pekerja menjadi lebih rentan mengalami burnout, depresi, gangguan kecemasan berlebih, dan muncul perasaan ingin bunuh diri. Burnout sering ditemukan dalam hustle culture. Burn out adalah kondisi dimana seseorang merasa lelah berkepanjangan karena stres kerja yang berat hingga kehilangan motivasi. Berikut ini beberapa gejala burnout:

    • Menunda atau menghindari pekerjaan sama sekali
    • Membuat lebih banyak kesalahan saat melakukan tugas
    • Kehilangan minat pada bagian pekerjaan yang sebelumnya sangat diminati
    • Merasa lebih cemas dan depresi
    • Merasa kurang bisa mendengarkan atau peduli pada orang lain
    • Makan berlebihan, mengonsumsi obat-obatan dan alkohol
    • Melampiaskan frustasi pada orang lain (misalnya, mudah tersinggung, mengacuhkan dan marah)
    • Sulit berkonsentrasi dan menjadi tidak terarah dalam bekerja.

    Baca Juga: Waspadai! 4 Gangguan Kesehatan Saat WFH dan Tips Pencegahannya

    Apa yang bisa dilakukan untuk memutuskan hustle culture?

    Work-life balance

    Kehidupan pribadi dan pekerjaan penting untuk diseimbangkan. Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara, antara lain:

    • Membuat jadwal kegiatan
    • Mengomunikasikan perasaan dan kondisi
    • Mengurangi pikiran negatif terkait pekerjaan
    • Melakukan kegiatan relaksasi agar mengurangi stres, seperti yoga dan meditasi
    • Melakukan liburan selama beberapa hari untuk mengurangi stres kerja
    • Melakukan olahraga secara rutin
    • Cukup waktu tidur dan istirahat.

    Hard work tidak sama dengan sukses

    Kerja keras tidak dapat menjadi indikator satu-satunya kesuksesan seseorang. Ada banyak faktor lain yang turut berkontribusi. Bekerja keras dan melakukan semua hal secara terburu-buru demi mencapai kesuksesan tidak akan membawa seseorang sampai kepada kesuksesan.

    Jangan membandingkan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain di media sosial

    Salah satu latar belakang terciptanya hustle culture adalah media sosial. Semua orang berlomba-lomba ingin terlihat sukses, mapan, dan kaya dalam tampilannya di media sosial. Sebagian juga memamerkan dengan bangga kondisi bekerja di tengah malam dan terus bekerja di akhir pekan.

    Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain dan membuat ekspektasi yang berlebihan hanya karena orang lain melakukan hal tersebut. Ingat, setiap orang mempunyai kecepatannya masing-masing dan jangan takut terlihat lambat dalam mencapai posisi yang diharapkan.

    Mengenal batasan diri

    Anda harus berani untuk bilang tidak pada pekerjaan. Sama halnya dalam mengenali kapan badan Anda harus beristirahat dan kapan sudah siap untuk diajak kembali bekerja.

    Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

    Sahabat Sehat, sebesar apapun dorongan dan semangat diri dalam meraih impian, tubuh mempunyai hak untuk diperhatikan kesehatannya. Tidak sekadar kesehatan fisik, namun juga secara psikologis dan sosial. Maka dari itu, memaksakan diri diluar kapasitas tubuh Anda bukanlah hal yang patut dilakukan. Mari hargai dan sayangi diri sendiri.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Costa, C. Stop Idolizing Hustle Culture And Do This Instead.
    2. Rachmahyanti, S. Marak di Kalangan Milenial, Yuk Kenali Ciri-Ciri Hustle Culture.
    3. medcom.id. Bahaya Hustle Culture pada Pekerja di Indonesia.
    4. Arfa, A., 2021. The Truth About the Hustle Culture.
    5. CNN Indonesia. Mengenal ‘Hustle Culture’, Gila Kerja yang Berujung Burnout.
    6. Jackson, A. How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It.
    7. Headversity. The Toxicity of Hustle Culture: The Grind Must Stop.
    Read More
  • Tuberkulosis pada anak perlu mendapat perhatian karena kesulitan dalam mendiagnosis dan peningkatan risiko efek samping obat TB pada anak. Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait salah satu penyakit menular paling mematikan. Tanggal tersebut ditetapkan bertepatan dengan ditemukannya bakteri penyebab TB oleh Dr. Robert […]

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022: Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Tuberkulosis pada anak perlu mendapat perhatian karena kesulitan dalam mendiagnosis dan peningkatan risiko efek samping obat TB pada anak.

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022 Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022: Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait salah satu penyakit menular paling mematikan. Tanggal tersebut ditetapkan bertepatan dengan ditemukannya bakteri penyebab TB oleh Dr. Robert pada tahun 1882. 

    Indonesia berada pada peringkat ketiga dari delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TB tertinggi di seluruh dunia dengan persentase 8% setelah India 27% dan China 9%. Pada tahun 2021, diperkirakan ada 824.000 kasus TB dengan total kematian sebanyak 13.110 orang. 

    Meski mematikan dan mudah menular, TB sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Berdasarkan data WHO, upaya pemberantasan TB secara global telah menyelamatkan sekitar 66 juta jiwa sejak tahun 2020. Akan tetapi, mengonsumsi obat-obatan TB diketahui juga dapat menimbulkan berbagai efek samping terhadap penderita, terutama pada anak-anak penderita TB. Apa saja yang perlu diwaspadai? Simak penjelasannya di bawah ini.

    Apa itu Tuberkulosis?

    Tuberkulosis (TB) adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Selain menyerang paru-paru, bakteri ini juga dapat menyerang organ vital lain seperti ginjal, tulang belakang, hingga otak. 

    Umumnya, bakteri penyebab TB menyebar melalui udara saat penderita batuk, berbicara, atau tertawa. Bakteri yang terhirup oleh individu yang sehat akan meningkatkan risiko terinfeksi TB. Gejala TB pada anak berupa gejala umum (sistemik) dan sesuai organ terkait. Gejala umumnya meliputi:

    • Berat badan turun, tidak naik selama 2 bulan terakhir, atau gagal tumbuh (failure to thrive)
    • Demam lama (> 2 minggu) atau berulang
    • Batuk lama (> 2 minggu) dan memburuk
    • Lesu dan anak kurang aktif bermain

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Selain paru-paru, TB dapat menginfeksi organ tubuh lain, atau disebut juga sebagai tuberkulosis ekstra paru. Dengan demikian, gejala yang timbul juga bervariasi sesuai dengan organ yang terlibat seperti kelenjar getah bening, sistem saraf pusat (otak), tulang, mata, kulit, dan sebagainya.

    Orang dengan HIV/AIDS, kanker dan penyakit kronis lebih rentan terinfeksi TB. Namun, penularan TB dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, serta menerapkan protokol kesehatan. Khusus bagi anak, jangan lupa untuk vaksinasi TB anak (BCG) di usia 1 bulan. Bila telat, vaksinasi dapat dikejar sampai dengan usia 12 bulan. 

    Pengobatan Infeksi TB untuk Anak

    Penyakit TB pada anak dapat diobati dengan mengonsumsi beberapa obat anti-TB (OAT) selama enam bulan atau lebih, tergantung pada respon pengobatan. Pengobatan dibagi menjadi dua fase, yaitu fase intensif selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4 bulan.

    Pengobatan TB harus dilakukan dengan benar karena anak dapat kembali sakit bila terapi tidak diselesaikan. Selain itu, apabila obat tidak diminum dengan benar, bakteri yang masih hidup dapat menjadi resisten atau kebal terhadap obat tersebut. TB yang resisten terhadap obat akan lebih sulit disembuhkan dan lebih mahal biaya pengobatannya bila suatu hari anak kembali sakit. Durasi pengobatan juga akan berlangsung lebih lama sampai 18-24 bulan. 

    Baca Juga: Cegah Tuberkulosis pada Anak dengan Daya Tahan Tubuh Anak yang Kuat

    Efek Samping Obat Anti TB pada Anak

    Serupa dengan obat-obatan pada umumnya, pengobatan TB juga memiliki risiko menimbulkan berbagai efek samping, baik ringan maupun berat. Namun, efek samping obat TB pada anak lebih jarang terjadi dibandingkan dewasa.

    Efek samping yang ditimbulkan pun dapat bervariasi antar individu walau menjalani pengobatan yang sama. Berikut beberapa efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan obat tuberkulosis:

    • Mual atau muntah dan gangguan nafsu makan
    • Gangguan saraf seperti kram, kesemutan, dsb.
    • Gangguan pengelihatan
    • Peradangan hati
    • Kerusakan ginjal
    • Reaksi alergi
    • Gangguan fungsi pendengaran.

    Baca Juga: Bahaya TB pada Anak yang Perlu Sahabat Ketahui

    Penanganan Efek Samping dari Obat Anti TB

    Apabila Si Kecil mulai menunjukkan efek samping OAT, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Umumnya, dokter akan menyesuaikan dosis obat, mengganti obat, dan/atau menambahkan obat penangkal setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. 

    Tapi ingat, jangan langsung menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Sebab, hal itu justru akan membuat Anda lebih berisiko mengalami TB resisten obat (TB-MDR). Kondisi tersebut akan membuat bakteri kebal terhadap obat TB sehingga lebih menyulitkan pengobatan.

    Baca Juga: 7 Gejala TB Paru pada Si Kecil

    Sahabat Sehat, infeksi tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan. Bila anak Anda terinfeksi, berikan dukungan penuh selama proses pengobatan agar ia mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Waspadai juga gejala-gejala dari efek samping obat TB pada anak seperti di atas dan konsultasikan dengan dokter.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi 

    1. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) Tahun 2021.
    2. Humanities, A. Hari Tuberkulosis Sedunia 2021.
    3. WHO. World TB Day.
    4. Rxlist. Side Effects Drug Center.
    5. Mayo Clinic. Tuberculosis – Symptoms and causes.
    6. TB Alert. Side effects – TB Alert.
    7. TB Indonesia. Dashboard TB.
    Read More
  • Meningitis merupakan kondisi adanya peradangan lapisan otak (meninges) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Meningitis terkadang sulit dikenali karena gejala awalnya mirip dengan gejala flu, seperti demam dan nyeri kepala. bakteri maupun virus yang menginfeksi cairan otak dan cairan tulang belakang (spinal cord) dapat menyebabkan pembengkakan otak. Sahabat Sehat, apa penyebab dan cara mencegah […]

    Penyebab Meningitis, Gejala dan Berbagai Cara Mencegahnya

    Meningitis merupakan kondisi adanya peradangan lapisan otak (meninges) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur.

    Penyebab Meningitis, Gejala dan Berbagai Cara Mencegahnya

    Penyebab Meningitis, Gejala dan Berbagai Cara Mencegahnya

    Meningitis terkadang sulit dikenali karena gejala awalnya mirip dengan gejala flu, seperti demam dan nyeri kepala. bakteri maupun virus yang menginfeksi cairan otak dan cairan tulang belakang (spinal cord) dapat menyebabkan pembengkakan otak. Sahabat Sehat, apa penyebab dan cara mencegah meningitis? Mari simak penjelasan berikut

    Meningitis Bakteri

    Merupakan meningitis yang disebabkan karena infeksi bakteri pada selaput pembungkus otak dan dapat menular. Bakteri yang biasanya menyebabkan meningitis antara lain :

    • Streptococcus pneumoniae

    Merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis bakterialis. Biasanya bakteri ini turut menginfeksi anggota tubuh lain di luar otak, misalnya mengakibatkan  penyakit pneumonia, sinusitis dan endocarditis.

    • Haemophilus influenzae

    Merupakan jenis bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis pada anak. Selain meningitis, bakteri Haemophilus influenzae dapat menyebabkan infeksi pada darah, tenggorokan, sendi dan juga kulit.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    • Staphylococcus aureus

    Bakteri ini paling sering menginfeksi kulit dan saluran pernapasan. Biasanya terjadi pada cedera otak atau komplikasi dari tindakan pembedahan otak.

    • Neisseria meningitidis

    Bakteri penyebab meningitis ini menyebar melalui air liur dan saluran pernapasan dari pasien yang menderita meningitis.

    • Listeria monocytogenes

    Bakteri ini biasanya ditemukan pada makanan yang kualitasnya sudah tidak baik. Biasanya terdapat pada melon, keju dan sayuran mentah. Untuk itu, Sahabat Sehat dianjurkan mencuci sayur dan buah hingga bersih sebelum dikonsumsi untuk menghindari infeksi bakteri ini.

    Baca Juga: 5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Meningitis Virus

    Meningitis virus adalah peradangan lapisan otak yang disebabkan karena infeksi virus. Biasanya disebabkan oleh enterovirus, mumps, virus HIV, virus herpes simplex, dan virus west nile. Biasanya meningitis virus memiliki gejala yang tergolong ringan dan dapat pulih dengan sendirinya dibandingkan dengan meningitis bakteri.

    Meningitis Jamur

    Meningitis jamur biasanya menyerang seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita penyakit autoimun, kanker dan penyakit kronis (HIV/AIDS). Beberapa jenis jamur yang menyebabkan meningitis antara lain cryptococcus, blastomyces, histoplasma dan coccidioides yang terdapat pada kotoran hewan seperti burung dan kelelawar.

    Meningitis Parasit

    Meningitis parasit biasanya disebabkan karena parasit Angiostronglyus cantonensis dan Baylisascaris procyonis yang kerap ditemukan pada siput, ikan dan unggas.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Meningitis Untuk Calon Mahasiswa Luar Negeri

    Meningitis Amoeba

    Meningitis yang disebabkan karena infeksi amoeba, cukup jarang terjadi. Jenis amoeba yang menyebabkan meningitis adalah Naegleria fowleri yang biasanya disebabkan karena mengkonsumsi air mentah yang tercemar amoeba.

    Non-infeksi Meningitis

    Meningitis non-infeksi biasanya bukan disebabkan karena terinfeksi kuman, melainkan akibat efek samping suatu penyakit misalnya kanker, lupus (Systemic Lupus Erythematosus), efek samping obat-obatan, cedera kepala dan operasi otak.

    Gejala Meningitis

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa gejala meningitis yang perlu diwaspadai :

    • Demam tinggi
    • Leher kaku
    • Nyeri kepala berat
    • Mual muntah hebat
    • Sulit berkonsentrasi
    • Kejang
    • Mengantuk dan kesulitan berjalan 
    • Sensitif terhadap cahaya (Photophobia)
    • Nafsu makan menurun
    • Kemerahan pada kulit 

    Baca Juga: Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Tips Mencegah Meningitis

    Untuk mencegah meningitis, Sahabat Sehat disarankan melakukan berbagai langkah berikut : 

    • Cuci tangan setiap kali selesai beraktivitas dan sebelum serta sesudah makan.
    • Memasak makanan hingga matang 
    • Menggunakan masker bila sedang sakit
    • Hindari kontak dengan pasien yang sedang terinfeksi
    • Hindari berbagi makanan atau minuman, serta barang pribadi (pisau cukur, lipstick, sikat gigi)
    • Pola hidup sehat, yaitu dengan berolahraga teratur dan istirahat yang cukup minimal 7-9 jam sehari
    • Melakukan vaksinasi meningitis, vaksinasi pneumokokus, dan vaksinasi Hib untuk melindungi dari kuman penyebab meningitis.

    Baca Juga: Tanda dan Gejala Meningitis Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab meningitis serta cara mencegahnya. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cythia D

     

    Referensi

    1. Suharjanti I, T Pinzon R. PANDUAN PRAKTIK KLINIS NEUROLOGI.
    2. CDC. Meningitis.
    3. CDC. Non-Infectious Meningitis.
    4. Mayo Clinic. Meningitis – Symptoms and causes.
    5. Cassoobhoy. Meningitis (Bacterial, Viral, and Fungal).
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com