Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Penyakit

Showing 31–40 of 403 results

  • Tidak hanya wanita, kebersihan organ intim pria juga perlu dijaga kebersihannya. Pasalnya, kebersihan organ reproduksi sangat mempengaruhi kesehatan dan kehidupan seksual Sahabat Sehat. Penis adalah salah satu organ tubuh yang menjadi kebanggaan utama bagi kaum pria. Namun karena letaknya tersembunyi, banyak pria yang biasanya mengabaikan kesehatan organ reproduksinya tersebut. Berbagai masalah kesehatan dapat Sahabat Sehat […]

    10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    Tidak hanya wanita, kebersihan organ intim pria juga perlu dijaga kebersihannya. Pasalnya, kebersihan organ reproduksi sangat mempengaruhi kesehatan dan kehidupan seksual Sahabat Sehat. Penis adalah salah satu organ tubuh yang menjadi kebanggaan utama bagi kaum pria.

    Namun karena letaknya tersembunyi, banyak pria yang biasanya mengabaikan kesehatan organ reproduksinya tersebut. Berbagai masalah kesehatan dapat Sahabat Sehat alami apabila kurang menjaga kesehatan organ intim. Sahabat Sehat, bagaimana cara menjaga kesehatan kemaluan pria ? Mari simak penjelasan berikut.

    10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    1. Membersihkan Kemaluan Secara Rutin
      Beberapa penelitian merekomendasikan untuk membersihkan area kemaluan setidaknya setiap kali Sahabat Sehat mandi. Saat membersihkan kemaluan, hindari menggunakan sabun yang mengandung pewangi sebab dapat memicu iritasi pada kemaluan.
    2. Ganti Pakaian Dalam
      Sahabat Sehat dianjurkan mengganti pakaian dalam terutama jika terasa lembab. Sebab celana dalam yang tidak diganti dalam waktu lama akan membuat penis dan area di sekitarnya menjadi lembab. Area kemaluan yang lembab menjadi tempat ideal bagi bakteri dan jamur untuk tumbuh dan bekembang biak. Akibatnya, kemaluan berpotensi beraroma kurang sedap dan rentan mengalami infeksi.
    3. Mencukur Bulu Kemaluan
      Mencukur rambut bulu kemaluan diketahui dapat menjaga kebersihan kemaluan. Rambut yang tumbuh di area kemaluan dapat membuat area kemaluan menjadi lembab dan berkeringat. Jika tidak dicukur, bulu kemaluan dapat menjadi area berkembangnya kuman.
    4. Hindari Perilaku Seks Berisiko
      Perilaku seks bebas dan berganti pasangan seksual dapat meningkatkan resiko penyakit menular seksual. Untuk mencegah penyakit menular seksual, sebaiknya hindari berganti pasangan seksual atau pun menggunakan alat kontrasepsi (kondom).
    5. Hindari Merokok
      Impotensi merupakan salah satu penyakit yang dapat diakibatkan karena dampak merokok.  Berdasarkan penelitian di tahun 2014, rokok terbukti menyebabkan gangguan kesehatan pada penis, seperti disfungsi ereksi. Selain itu merokok juga dapat memicu masalah reproduksi hingga menyebabkan kemandulan.

      medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    6. Olahraga Teratur
      Rutin berolahraga menjadi salah satu cara dalam menjaga kesehatan penis. Olahraga juga dapat dijadikan terapi dalam mengatasi disfungsi ereksi. Lakukan olahraga rutin minimal 30 menit sehari atau total minimal 150 menit dalam seminggu.
    7. Konsumsi Makanan Bergizi
      Rajin mengonsumsi makanan bergizi seimbang dinilai mampu mempertahankan kesehatan organ reproduksi. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pria yang gemar mengkonsumsi makanan yang mengandung flavonoid dapat mencegah disfungsi ereksi. Flavonoid termasuk kelompok senyawa fitokimia yang banyak ditemukan pada buah dan sayur. Selain itu mengkonsumsi bayam, alpukat, hingga makanan pedas yang mengandung capsaicin juga dipercaya dapat meningkatkan kadar hormon testosteron.
    8. Menjaga Berat Badan Ideal
      Meski tampak tidak ada hubungannya dengan kesehatan penis, berat badan berlebih (obesitas) meningkatkan resiko berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Ketiga penyakit inil dapat memicu terjadinya gangguan ereksi. Oleh sebab itu, dengan menjaga berat badan tetap ideal maka dapat menjaga kesehatan penis.
    9. Mengendalikan Stres
      Masalah mental kerap dikaitkan dengan disfungsi seksual. Sebuah penelitian pada tahun 2018 dari Indian Journal of Psychiatry mengungkapkan bahwa setidaknya sebanyak 62,5 % responden yang mengalami depresi ringan hingga sedang turut menderita disfungsi seksual.
    10. Hindari Minuman Beralkohol
      Menghindari minuman beralkohol atau kurangi jumlahnya secara bertahap dapat membantu  menjaga kesehatan penis. Mengkonsumsi alkohol berlebih diketahui meningkatkan risiko disfungsi ereksi dan gangguan seksual lainnya.

    Baca Juga: Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Kapan Harus Menemui Dokter?

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai apabila mengalami beberapa keluhan berikut di rumah :

    • Gairah seksual menurun
    • Pendarahan saat buang air kecil atau ejakulasi
    • Muncul kutil, benjolan atau ruam pada penis 
    • Penis melengkung dan terasa nyeri saat hubungan seksual
    • Sensasi terbakar saat buang air kecil
    • Mengalami cedera pada kemaluan

    Baca Juga: 10 Hal yang Menjadi Tanda Gejala Kanker Prostat Pada Pria

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips menjaga kesehatan penis yang dapat diterapkan di rumah. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. 38 Ways to Keep Your Penis Healthy.
    2. Mayo Clinic. Penis health: Identify and prevent problems.
    3. Abha T. A prospective study on sexual dysfunctions in depressed males and the response to treatment.
    Read More
  • Kanker payudara sebagian besar terjadi pada wanita, meski tidak menutup kemungkinan pria juga dapat menderita kanker payudara. Pada tahun 2020, sekitar 2,3 juta wanita terdiagnosis  kanker payudara dengan angka kematian di dunia mencapai 685.000 kasus. Pada akhir 2020, terdapat 7,8 juta orang wanita yang masih bertahan hidup selama 5 tahun setelah didiagnosis kanker payudara. Data […]

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Kanker payudara sebagian besar terjadi pada wanita, meski tidak menutup kemungkinan pria juga dapat menderita kanker payudara. Pada tahun 2020, sekitar 2,3 juta wanita terdiagnosis  kanker payudara dengan angka kematian di dunia mencapai 685.000 kasus. Pada akhir 2020, terdapat 7,8 juta orang wanita yang masih bertahan hidup selama 5 tahun setelah didiagnosis kanker payudara.

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Data dari Global Cancer Observatory 2018 dan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni mencapai 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Disusul dengan kanker serviks (kanker leher rahim) yang merupakan jenis kanker kedua yang paling sering terjadi di Indonesia yaitu mencapai 32.469 kasus atau 9.3% dari total kasus.

    Data dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa angka kasus kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk, dengan rata-rata angka kematian akibat kanker mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Penyebab Kanker Payudara?

    Sekitar 15% kasus kanker payudara terjadi pada jaringan kelenjar yang menghasilkan susu (lobulus) sementara 85% kasus kanker payudara terjadi di saluran air susu (ductus) yang mengalirkan air susu ke puting payudara. Disamping itu, kanker juga dapat terjadi pada jaringan lemak atau jaringan ikat di payudara.

    Hingga kini belum diketahui penyebab pasti kanker payudara. Namun terdapat dugaan bahwa faktor genetik, gaya hidup, lingkungan dan perubahan hormon mempunyai kaitan erat terbentuknya kanker payudara. Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa faktor resiko penyebab kanker payudara:

    • Usia
      Seiring bertambahnya usia, angka kejadian kanker payudara juga semakin meningkat yaitu mencapai 0,06% setiap tahunnya. Setelah usia 70 tahun, angka kejadian kanker payudara mencapai 3,84%.

    Baca Juga: Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    • Genetik
      Kelainan dan mutasi dari gen BRCA1 dan BRCA2 diketahui berkaitan dengan kejadian kanker payudara, kanker ovarium atau keduanya. Mutasi dari gen TP53 juga memiliki kaitan dengan terjadinya resiko kanker payudara. Kemungkinan terjadinya kanker payudara akan meningkat apabila, dalam satu keluarga kandung terdapat riwayat kanker payudara.
    • Riwayat kanker payudara sebelumnya
      Wanita yang pernah didiagnosa kanker payudara sebelumnya beresiko menderita kanker payudara kembali di kemudian hari.
    • Perubahan Hormon
      Kadar hormon estrogen yang tinggi, misalnya pada wanita yang mengalami mens pertama kali terlalu cepat dan pada awal masa menopause, memiliki kadar estrogen yang cukup tinggi sehingga resiko kanker payudara juga meningkat. Bagi ibu menyusui terutama yang memberikan ASI lebih dari 1 tahun, diketahui mengurangi resiko terjadinya kanker payudara karena kadar hormon estrogen yang rendah. Begitu juga wanita hamil, diketahui memiliki kadar estrogen yang cukup rendah.
    • Berat Badan
      Wanita dengan berat badan berlebih atau obesitas beresiko menderita kanker payudara karena berkaitan dengan kadar hormon estrogen yang tinggi.

    Baca Juga: Mitos/Fakta: Pakai Bra Saat Tidur Sebabkan Kanker Payudara?

    • Konsumsi Alkohol
      National Cancer Institute mengungkapkan bahwa wanita yang mengkonsumsi alkohol akan lebih beresiko menderita kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi alkohol.
    • Terpapar Sinar Radiasi
      Adanya paparan sinar radiasi dari pengobatan kanker pada tubuh wanita meningkatkan resiko terjadinya kanker pada payudara akibat efek samping dari sinar radiasi dan kemoterapi.
    • Pengobatan Hormonal
      Beberapa penelitian menyebutkan bahwa wanita yang menerima pengobatan hormon, misal menggunakan pil KB, suntik KB, maupun terapi pengganti hormon, beresiko menderita kanker payudara.

    Baca Juga: Hubungan Antara Menyusui dan Kanker Payudara

    Bagaimana Cara Mencegah Kanker Payudara?

    Untuk mencegah terjadinya kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai tips berikut di rumah:

    • Hindari minuman beralkohol
    • Menjaga berat badan agar tetap ideal. 
    • Olahraga teratur antara 75 – 150 menit per minggu untuk menjaga kesehatan tubuh. 
    • Hindari penggunaan terapi hormon setelah menopause. 
    • Menyusui.
    • Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti buah dan sayur.
    • Menghindari menu makanan daging yang sudah diproses, seperti sosis, ham, bacon yang meningkatkan resiko terjadinya kanker.

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai faktor penyebab dan cara mencegah kanker payudara. Untuk mendeteksi dini kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan payudara secara berkala.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Breast cancer.
    2. Widiowati H. Kasus Kanker Payudara Paling Banyak Terjadi di Indonesia.
    3. Ranchod R. Breast cancer: Symptoms, causes, and treatment.
    4. Breast Cancer Now. Breast cancer causes.Mayo Clinic. Breast cancer: How to reduce your risk.
    5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Enam Langkah SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara.
    Read More
  • Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di negara berkembang, bahkan di seluruh dunia. Sangat penting bagi wanita untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini sebab tingkat kesembuhan kanker payudara semakin tinggi jika ditangani lebih dini. Salah satu upaya mendeteksi kanker payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan mamografi. Sahabat Sehat, kapan waktu yang tepat […]

    Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di negara berkembang, bahkan di seluruh dunia. Sangat penting bagi wanita untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini sebab tingkat kesembuhan kanker payudara semakin tinggi jika ditangani lebih dini.

    Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    Salah satu upaya mendeteksi kanker payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan mamografi. Sahabat Sehat, kapan waktu yang tepat untuk menjalani pemeriksaan mamografi ? Mari simak penjelasan berikut.

    Mengapa Perlu Melakukan Mammografi?

    Pemeriksaan mamografi merupakan jenis pemeriksaan yang menggunakan sinar-x tingkat rendah untuk melihat bagian dalam payudara. Pemeriksaan mamografi disebut berperan dalam mendeteksi dini dan mendiagnosa kelainan pada payudara, seperti kanker payudara, kista payudara, tumor jinak payudara, maupun penumpukan kalsium (kalsifikasi) pada jaringan payudara. 

    Jenis Pemeriksaan Mammografi

    Sahabat Sehat, terdapat 2 jenis pemeriksaan mamografi berdasarkan tujuan pemeriksaannya yakni:

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    • Mammografi Screening 

    Pemeriksaan mamografi dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada payudara, meskipun jika Sahabat Sehat tidak memiliki keluhan apapun. Dengan melakukan pemeriksaan mammografi, Sahabat Sehat dapat mendeteksi benjolan atau area abnormal pada jaringan payudara. Selain itu skrining payudara dengan pemeriksaan mamografi juga dapat memantau perubahan pada payudara dari waktu ke waktu dan dapat mendeteksi kanker payudara pada tahap awal.

    • Mamografi Diagnostik

    Pemeriksaan mamografi dilakukan untuk mendiagnosis adanya masalah pada payudara, seperti benjolan payudara. Selain itu pemeriksaan mamografi diagnostik juga dapat membantu menemukan area abnormal selama pemeriksaan biopsi. 

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Kapan Waktu yang Tepat Untuk Melakukan Mamografi ?

    Sebuah penelitian merekomendasikan wanita untuk melakukan mamografi skrining tahunan secara rutin saat mulai memasuki usia 45 tahun. Namun, deteksi dini juga diperlukan dalam mengurangi penyakit dan angka kematian akibat kanker payudara.  Berikut ini beberapa kondisi yang direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan skrining kanker payudara pada wanita yang berisiko menderita, diantaranya:

    • Wanita harus melakukan skrining mamografi rutin mulai usia 45 tahun.
    • Wanita berusia 45-54 tahun harus menjalani skrining mamografi setiap tahun.
    • Wanita berusia 55 tahun keatas dapat beralih menjalani skrining dua tahun sekali atau tetap pada pilihan untuk melanjutkan skrining setiap tahun.
    • Wanita dengan risiko kanker payudara harus melakukan mamografi skrining tahunan rutin yang dapat dimulai pada usia 45 tahun. 

    Wanita memiliki risiko yang lebih tinggi menderita kanker payudara jika memiliki ibu atau saudara perempuan yang mengidap kanker payudara. 

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai usia yang tepat untuk menjalani pemeriksaan mammografi. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Canadian Cancer Society. Mammography.
    2. Herndon J. What is a Mammogram?.
    3. Medline Plus. Mammogram: MedlinePlus Medical Encyclopedia.
    4. Pruthi S. Breast implants: Do they interfere with mammograms?.
    5. Mayo Clinic. Mammogram – Mayo Clinic.
    6. Freedman R. Mammograms and Older Women: Is It Ever Safe to Stop?.
    Read More
  • Demam kuning atau Yellow Fever, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh karena infeksi virus yang ditularkan melalui perantara nyamuk. Gejala penyakit ini ditandai dengan demam tinggi serta mata dan kulit yang tampak kuning akibat penurunan fungsi hati. Demam kuning cukup berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat dan sungguh-sungguh karena dapat menyebabkan gagal ginjal hingga […]

    Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Demam kuning atau Yellow Fever, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh karena infeksi virus yang ditularkan melalui perantara nyamuk.

    Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Gejala penyakit ini ditandai dengan demam tinggi serta mata dan kulit yang tampak kuning akibat penurunan fungsi hati. Demam kuning cukup berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat dan sungguh-sungguh karena dapat menyebabkan gagal ginjal hingga terjadi koma hingga kematian. Sahabat Sehat, apa itu demam kuning dan bagaimana cara mencegahnya? Mari simak penjelasan berikut:

    Dimana Daerah Endemis Demam Kuning?

    Penyakit demam kuning ini disebabkan karena gigitan nyamuk Aedes aegypti dan biasanya ditemukan di wilayah Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Demam kuning dapat menyerang penduduk yang tinggal di daerah endemik, serta para turis yang sedang mengunjungi daerah tersebut.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Apa Saja Gejala Demam Kuning?

    Setelah kontak dengan nyamuk yang terinfeksi, virus akan berkembang didalam tubuh selama 3 hingga 6 hari. Selanjutnya akan memasuki fase akut, yang ditandai dengan demam, nyeri otot yang biasanya terjadi pada punggung, sakit kepala, menggigil, kehilangan nafsu makan dan mual dan muntah.

    Sebagian besar pasien akan pulih dalam 3 hingga 4 hari. Namun, sebanyak 15% dari pasien akan mengalami fase kedua.

    Fase kedua, atau disebut juga dengan “Fase Beracun” yang dialami selama 24 jam ditandai dengan kulit tampak berwarna kuning akibat gangguan pada hati, gagal ginjal, meningitis dan berakhir dengan kematian. Pada fase ini turut disertai demam tinggi. Setengah dari pasien yang masuk pada fase beracun dapat sembuh dalam kurun waktu 10-14 hari. 

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Bagaimana Mencegah Demam Kuning?

    Sahabat Sehat, untuk mencegah penyakit demam kuning dapat dilakukan dengan 2 cara yakni dengan mengendalikan jumlah nyamuk serta mengikuti vaksinasi untuk mencegah demam kuning. 

    1. Pengendalian vektor nyamuk, dapat dilakukan dengan:

    • Pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras, menutup dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas.
    • Pengendalian nyamuk secara biologi dengan menggunakan agen biologi
    • Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida kimia

    2. Pemberian vaksinasi demam kuning (yellow fever)

    Vaksinasi demam kuning harus dilakukan oleh pelaku perjalanan yang akan berpergian atau tinggal di negara atau wilayah endemis dan atau terjangkit KLB (Kejadian Luar Biasa) demam kuning. Vaksinasi dilakukan selambat-lambatnya 10 hari sebelum keberangkatan.

    Perjalanan haji merupakan perjalanan yang dilakukan oleh umat muslim seluruh dunia ke Arab Saudi yaitu ke Mekkah-Madinah untuk melakukan ibadah haji. Pada tahun 1987 dan 2000 terjadi kejadian luar biasa meningitis meningokokus yang menimpa para jemaah haji di Arab Saudi. Untuk itu, diperlukan sekali pencegahan berupa vaksinasi meningitis dan demam kuning yang bertujuan untuk melindungi turis atau Jemaah haji yang akan berangkat ke daerah endemis.

    Baca Juga: Mari Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi

    Vaksin Demam Kuning

    Vaksinasi adalah cara paling utama untuk mencegah terjadinya demam kuning dan beberapa negara bahkan mewajibkan para turis untuk melakukan vaksinasi sebelum keberangkatan. Oleh karena itu, jika memiliki rencana ke luar negri, wajib untuk berkonsultasi mengenai vaksinasi apa saja yang wajib dilakukan. Satu dosis paling tidak akan melindungi selama 10 tahun.

    Pemberian vaksinasi dilakukan sebanyak 1 dosis (sebanyak 0,5 ml), setelah 7 hingga 10 hari akan terbentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Pemberian vaksinasi ulangan dilakukan pada orang dengan pertimbangan teknis medis tertentu seperti wanita yang hamil saat pertama kali divaksinasi, penerima transplantasi stem cell saat melakukan vaksinasi, pelaku perjalanan atau turis, penderita HIV, dan bagi mereka yang vaksinasi demam kuning terakhirnya sudah 10 tahun lalu.

    Baca Juga: Mata Kuning Sebagai Gejala Hepatitis A, Kenali Lebih Jauh Penyakit Ini

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai tips mencegah demam kuning sebelum bepergian. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. Demam Kuning Yellow Fever.
    2. Soebrata A. Mengenal Penyakit Yellow Fever.
    3. Lewaherilla N, Maitimu F, Niani C. MODEL PENYEBARAN PENYAKIT MENINGITIS PADA MUSIM HAJI DI MADINAH DAN MEKKAH. BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan. 2017;11(1):55-62. 
    4. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. Demam Kuning.
    Read More
  • Pneumonia atau disebut juga paru-paru basah, adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi tersebut menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) disalah satu atau kedua paru. Pada pasien yang mengalami pneumonia, alveoli dipenuhi oleh cairan, lendir atau nanah akibat infeksi sehingga menyebabkan pasien tersebut sulit untuk bernapas. Faktor Risiko dan Penyebab Pneumonia Pneumonia bisa menimpa […]

    Benarkah Perokok Berisiko Menderita Pneumonia?

    Pneumonia atau disebut juga paru-paru basah, adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi tersebut menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) disalah satu atau kedua paru. Pada pasien yang mengalami pneumonia, alveoli dipenuhi oleh cairan, lendir atau nanah akibat infeksi sehingga menyebabkan pasien tersebut sulit untuk bernapas.

    Benarkah Perokok Berisiko Menderita Pneumonia

    Benarkah Perokok Berisiko Menderita Pneumonia

    Faktor Risiko dan Penyebab Pneumonia

    Pneumonia bisa menimpa siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Meskipun begitu, penyakit paru-paru basah ini sangat rentan menyerang anak-anak dan juga lansia, terutama yang sedang mengidap penyakit paru-paru kronis. Berikut adalah kelompok orang yang termasuk dalam kategori beresiko menderita pneumonia:

    • Perokok aktif
    • Memiliki riwayat stroke
    • Bayi berusia 0-2 tahun dan lansia diatas 65 tahun
    • Penggunaan obat-obatan tertentu yang menyebabkan masalah pada sistem imun, seperti penggunaan steroid, mengkonsumsi antibiotik dalam jangka panjang
    • Memiliki riwayat asma, gagal jantung, diabetes, HIV/AIDS, cystic fibrosis dan penyakit kronis lainnya
    • Sedang menjalani pengobatan anti kanker kemoterapi. Pengobatan kemoterapi dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi virus, bakteri dan jamur.
    • Pneumonia juga bisa disebabkan oleh infeksi virus SARS-COV-2 atau yang dikenal dengan corona virus, penyebab infeksi Covid-19.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apakah Perokok Beresiko Menderita Pneumonia?

    Merokok dapat menyebabkan Community Acquired Pneumonia (CAP) dan Invasive Pneumococcal Disease. Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, perokok pasif lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kombinasi asap rokok dari asap yang keluar dari perokok aktif dan juga asap yang dihembuskan dari perokok aktif. Asap yang terpapar pada perokok pasif mengandung lebih dari 7000 kandungan bahan kimia.

    Berikut ini perubahan pada tubuh yang dapat terjadi akibat merokok:

    • Perubahan Struktur Organ Pernafasan
      Sifat kimia asap rokok menyebabkan stress oksidatif pada manusia dan perubahan sel paru-paru sebagai respon peradangan yang disebabkan oleh bahan kimia pada rokok. Terjadi perubahan struktural pada saluran pernapasan seperti peradangan dan penurunan fungsi saluran nafas.
    • Penurunan Respon Imun Non Spesifik
      Rokok merupakan salah satu polutan berupa gas yang mengandung bahan kimia antara lain nikotin, karbon monoksida, tar dan lainnya. Asap rokok dapat mempengaruhi respon imun non spesifik, salah satunya adalah makrofag alveolar yang berperan penting dalam respon peradangan pada saluran pernapasan dan paru.
    • Perubahan Fungsi Sistem Kekebalan Seluler dan Humoral
      Merokok berkaitan dengan perubahan sistem kekebalan seluler dan humoral. Perubahan ini meliputi penurunan kadar immunoglobulin, penurunan respon antibodi terhadap antigen tertentu seperti penurunan jumlah limfosit CD4+, peningkatan jumlah limfosit CD8+, penurunan aktivitas fagosit dan pelepasan sitokin proinflamasi.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Mencegah Pneumonia Dengan Imunisasi Pneumonia

    Pneumonia dapat dicegah dengan pemberian imunisasi pneumonia. Berikut ini beberapa jenis vaksin pneumonia:

    1. Pneumococcal Conjugate Vaccine 13 (PCV 13)
    Melindungi tubuh dari 13 jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin ini diberikan untuk bayi, anak-anak dan juga dewasa yang memiliki resiko terkena infeksi pneumonia.

    2. Pneumococcal Polysaccharide Vaccine 23 (PPSV 23)
    Vaksin tipe ini melindungi tubuh dari 23 jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin PPSV 23 diberikan untuk lansia, dewasa dan anak berusia lebih dari 2 tahun. Selain itu, vaksin ini dapat diberikan untuk Sahabat Sehat yang memiliki kebiasaan merokok.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh
    : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Adiputra D. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas.
    3. Arcavi L, Benowitz N. Cigarette Smoking and Infection. Archives of Internal Medicine, 164(20), p.2206.
    4. Lung. Preventing Pneumonia.
    5. Tobacco In Australia. 3.9 Increased susceptibility to infection in smokers – Tobacco in Australia.
    Read More
  • Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai baik pada anak maupun dewasa. Batuk dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, salah satunya akibat Covid-19. Sebagian besar batuk dapat hilang dengan sendirinya, namun Mama perlu waspada apabila batuk Si Kecil sulit sembuh karena dikhawatirkan mengalami batuk rejan. Sahabat Sehat, apa itu penyakit batuk rejan dan […]

    Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai baik pada anak maupun dewasa. Batuk dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, salah satunya akibat Covid-19.

    Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Sebagian besar batuk dapat hilang dengan sendirinya, namun Mama perlu waspada apabila batuk Si Kecil sulit sembuh karena dikhawatirkan mengalami batuk rejan. Sahabat Sehat, apa itu penyakit batuk rejan dan mengapa harus diwaspadai? 

    Apa Itu Batuk Rejan?

    Batuk rejan atau nama lainnya adalah pertusis merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis.2,3  Pada tahun 2018, terdapat 151.000 kasus batuk rejan di seluruh dunia yang dicatat oleh World Health Organization (WHO).

    Batuk rejan sangat mudah untuk menular, dan berbahaya bagi si Kecil karena dapat mengakibatkan sakit berat hingga kematian. Penyakit ini menular melalui cipratan air liur atau droplet dari penderita batuk rejan.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Batuk Rejan

    Tanda dan gejala dari batuk rejan pertama kali timbul setelah 5-10 hari terpapar bakteri pertusis. Beberapa tanda dan gejala dari batuk rejan adalah sebagai berikut:

    • Batuk
    • Demam ringan – sedang
    • Hidung mampet
    • Kelelahan
    • Sulit bernapas

    Sesuai dengan nama penyakit ini, batuk merupakan ciri khas dari penyakit batuk rejan. Batuk dapat dideskripsikan sangat keras dan tidak berhenti, bahkan bisa menyebabkan sulit bernapas hingga muntah. Keluhan batuk ini terjadi karena bakteri pertusis menginfeksi dinding saluran nafas.

    Bakteri tersebut kemudian mengeluarkan racun yang membuat penderita batuk.5 Hal ini dapat menyebabkan sulit bernafas dan komplikasi lainnya. Batuk rejan juga sangat menular hingga 3 minggu sejak mengeluhkan batuk pertama. Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan pemeriksaan secara langsung serta pemeriksaan lanjutan seperti tes laboratorium, dan lainnya.

    Baca Juga: 5 Cara Mencegah Flu dan Batuk yang Terbukti Secara Medis

    Tips Mencegah Batuk Rejan

    Mencegah lebih baik dari pada mengobati, oleh sebab itu Sahabat Sehat dianjurkan menerapkan berbagai hal berikut di rumah untuk mencegah batuk rejan:

    • Pastikan Si Kecil menggunakan masker dan menjaga jarak dari penderita yang sedang batuk.
    • Mencuci tangan dengan rutin untuk membunuh bakteri yang mungkin ada di tangan.
    • Memberikan imunisasi DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus) yang dapat mencegah pertusis. Imunisasi DPT dapat diberikan saat Si Kecil berusia 2, 3, dan 4 bulan.
    • Menerapkan pola hidup sehat, seperti mengkonsumsi buah dan sayur untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai batuk sulit sembuh yang diakibatkan oleh batuk rejan. Apabila si Kecil menderita beberapa tanda dan gejala batuk rejan yang disebutkan diatas, kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Anak Batuk Pilek, Apakah Tetap Boleh Divaksin COVID-19?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Coronavirus.
    2. Center of Disease Control and Prevention. Whooping Cough (Pertussis).
    3. World Health Organization. Pertussis.
    4. Topics H. Whooping Cough Symptoms.
    5. Lauria A, Zabbo C. Pertussis.
    6. Melbourne T. Clinical Practice Guidelines : Whooping cough (pertussis).
    Read More
  • Operasi tumor payudara bisa menyisakan bekas luka yang kecil hingga besar, tergantung dari ukuran tumornya. Jika tidak dirawat dengan benar, luka pasca operasi tumor akan lebih lama sembuhnya bahkan hingga terjadi infeksi tambahan. Kebersihan area luka adalah kunci dari pemulihan luka. Tapi, Sahabat Sehat tidak boleh sembarang membersihkan. Ada hal-hal yang Anda perlu perhatikan. Mari […]

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Operasi tumor payudara bisa menyisakan bekas luka yang kecil hingga besar, tergantung dari ukuran tumornya. Jika tidak dirawat dengan benar, luka pasca operasi tumor akan lebih lama sembuhnya bahkan hingga terjadi infeksi tambahan.

    Kebersihan area luka adalah kunci dari pemulihan luka. Tapi, Sahabat Sehat tidak boleh sembarang membersihkan. Ada hal-hal yang Anda perlu perhatikan. Mari simak cara perawatan luka di bawah ini untuk mengetahui langkahnya.

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Ciri-Ciri Benjolan Tumor Payudara Jinak

    Tumor adalah pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal (abnormal). Terdapat dua jenis dari tumor payudara yaitu kanker dan non-kanker (jinak).

    Tidak semua jenis benjolan pada payudara merupakan tumor ganas, sebagian besar tumor pada payudara termasuk jinak dan tidak membahayakan penderitanya, misalnya fibroadenoma mammae atau yang disebut FAM.

    Tumor payudara yang bersifat ganas dan jinak dapat dibedakan berdasarkan dengan ciri-ciri fisiknya, seperti :

    • Batasan bentuk tumor jinak jelas dan tegas

    Benjolan pada tumor payudara jinak memiliki batas yang jelas dan tegas dengan tepi rata, tidak seperti tumor ganas yang tidak beraturan bentuknya dengan batasan tepi yang tidak jelas.

    • Teraba kenyal dan lunak pada tumor payudara jinak

    Benjolan payudara yang bersifat jinak memiliki konsistensi yang kenyal dan lunak. Berbeda sekali dengan tumor payudara ganas pada kanker payudara misalnya. Pada kanker payudara, benjolan akan teraba keras dan padat.

    • Mudah digerakkan

    Benjolan akibat tumor payudara jinak akan mudah untuk digerakkan (mobile), sedangkan pada tumor ganas, benjolan menyatu dengan jaringan sekitarnya dan terikat sehingga sulit apabila digerakkan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Operasi Tumor Payudara Jinak

    Prinsip utama dalam terapi tumor payudara adalah pembedahan atau operasi (eksisi lokal). Prosedur pembedahan akan dilakukan apabila tumor payudara jinak semakin membesar dan menimbulkan nyeri.

    Merawat Luka Pasca Operasi

    Setelah operasi, berikut cara perawatan luka yang harus dilakukan:

    • Jangan melepas kasa pada area yang dioperasi

    Sebaiknya kasa diganti oleh dokter atau perawat luka terlatih.

    • Jaga luka operasi tetap kering.

    Salah satu perawatan bekas sayatan operasi yang terpenting adalah menjaga luka sayatan agar tetap kering. Hindari luka operasi dari air selama kurang lebih 24-48 jam pertama. Oleh karena itu, disarankan agar pasien tidak mandi atau hanya menyeka badan dengan waslap lembap.

    Selain itu, pasien tidak disarankan untuk berenang atau berendam hingga jahitan dinyatakan kering dan boleh dilepas. Apabila kasa penutup jahitan basah atau terlepas, maka pasien harus menggantinya dengan kassa yang kering atau ke dokter untuk mengganti kasa penutup.

    • Ganti perban secara berkala

    Kasa perban yang digunakan bertujuan untuk melindungi luka bekas sayatan operasi dari cidera luar agar tidak mudah tergesek dan memberikan waktu agar luka sembuh lebih cepat. Perban perlu diganti secara berkala, dokter akan memberikan arahan apakah perban perlu diganti oleh dokter atau dapat dilakukan secara mandiri di rumah.

    Berikut arahan untuk mengganti perban:

    1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memegang luka operasi.
    2. Basahi perekat dengan air bersih sebelum dibuka agar tidak sakit ketika perekat kasa ditarik.
    3. Setelah perban dibuka, pasien dapat membersihkan luka bekas sayatan dengan cairan steril atau cairan infus, usap dengan lembut dan jangan ditekan.
    4. Hindari penggunaan cairan antiseptik, alkohol atau povidone iodine karena berpotensi merusak kulit sekitarnya sehingga luka akan lebih sulit sembuh.
    5. Jangan mengoleskan salep sembarangan tanpa anjuran dokter.
    6. Jaga agar kassa dan luka sayatan tetap kering.
    • Hindari penggunaan bra terlalu kencang.

    Baca Juga: Mengapa Perlu Melakukan Pemeriksaan Pap Smear?

    Yang Harus Diperhatikan

    Berikut ini hal yang perlu diperhatikan dan segera ke dokter, apabila:

    1. Demam tinggi dalam 24 jam pasca operasi
    2. Apabila pada area operasi ditemukan bengkak, nyeri, kemerahan pada area luka operasi
    3. Nyeri yang sangat berat walaupun sudah dibantu dengan obat-obatan.

    Sahabat Sehat, itulah cara perawatan luka pasca operasi tumor payudara agar bekas luka tidak kotor atau terkontaminasi kuman sehingga bisa cepat pulih. Jika Sahabat Sehat memerlukan perawatan luka di rumah, Prosehat siap membantu Anda.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Perbedaan Kanker Serviks dan Kanker Rahim

    Bila Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Breast Tumors – National Breast Cancer Foundation.
    2. Cancer.org. What Is Breast Cancer?
    3. Columbia Surgery. Non-Cancerous Breast Disease.
    4. Suyatno. Peran Pembedahan Pada Tumor Jinak Payudara.
    5. Farrar, M.D. J, Kubiak, M.D. B, McCord, M.D. C. Breast Reconstruction Surgery Post-Op.
    Read More
  • Oral seks adalah rangsangan pada alat kelamin dengan menggunakan mulut dan ludah. Oral seks merupakan salah satu cara infeksi menular seksual (IMS) yang paling sering ditularkan. Seks oral meliputi seks oral pada penis (fellatio), seks oral pada vulva (cunnilingus) dan seks oral pada anal (rimming). Seseorang beresiko tertular penyakit menular seksual jika memiliki lebih dari satu […]

    Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Oral seks adalah rangsangan pada alat kelamin dengan menggunakan mulut dan ludah. Oral seks merupakan salah satu cara infeksi menular seksual (IMS) yang paling sering ditularkan.

    Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Seks oral meliputi seks oral pada penis (fellatio), seks oral pada vulva (cunnilingus) dan seks oral pada anal (rimming). Seseorang beresiko tertular penyakit menular seksual jika memiliki lebih dari satu pasangan seksual sehingga semakin banyak pasangan yang dimiliki maka semakin besar resiko untuk terinfeksi penyakit menular seksual.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine pada tahun 2007 menunjukkan resiko yang lebih besar untuk kanker orofaringeal pada orang yang melakukan seks oral dengan setidaknya enam pasangan yang berbeda. Selain resiko kanker, infeksi menular seksual juga dapat disebabkan akibat oral seks.

    Infeksi menular seksual dapat menyebar sebagai akibat dari kontak fisik yang dekat dengan orang lain. Infeksi biasanya menyebar melalui seks vagina, anal dan juga oral. Menurut CDC (Center of Disease Control and Prevention), berikut ini penyakit infeksi yang dapat disebabkan akibat oral seks :

    HIV

    Seks oral merupakan aktivitas yang relatif beresiko rendah untuk penularan HIV, terutama jika dibandingkan dengan aktivitas seksual melalui alat kelamin. Meskipun penularan HIV jarang terjadi melalui seks oral, namun resiko penularan masih tetap ada. Resiko HIV meningkat apabila :

    • Apabila memiliki luka di area mulutnya
    • Jika ejakulasi dilakukan didalam mulut
    • Jika seseorang yang menerima seks oral memiliki infeksi menular seksual lainnya.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Herpes Simpleks

    Meskipun herpes genital dan herpes oral disebabkan oleh jenis virus herpes simpleks yang berbeda (HSV-2 dan HSV-1), namun kedua virus ini mampu menginfeksi lokasi tersebut. Oleh karena itu, herpes dapat menular akibat seks oral. Resiko tertular infeksi herpes selama seks oral sangat signifikan dan dapat terjadi walaupun pasangan tidak mengalami gejala apapun.

    Human Papillomavirus (HPV)

    Seks oral sangat memungkinkan terjadinya transmisi virus HPV. Faktanya, diyakini bahwa HPV yang didapat saat melakukan seks oral merupakan faktor resiko utama terjadinya kanker mulut dan tenggorokan. Infeksi HPV mudah menyebar karena bisa menular hanya karena kontak kulit, bukan melalui cairan tubuh.

    Baca Juga: Agar Tidak Tertular, Ini 8 Cara Mencegah Penyakit Kelamin

    Gonore (Kencing Nanah)

    Tingkat penularan Gonore sangat tinggi pada pria yang berhubungan dengan sesama jenis dan biseksual. Beberapa penelitian melaporkan bahwa sekitar 6,5% pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis mengalami infeksi gonore pada tenggorokan. Gonorrhea merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.

    CDC memperkirakan ada sekitar 1,14 juta kasus baru setiap tahunnya. Gonorrhea dapat ditularkan melalui seks oral. Gonorrhea dapat mempengaruhi tenggorokan, alat kelamin, saluran kemih dan rektum.

    Chlamydia

    Penyakit Chlamydia disebabkan oleh infeksi bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini tak hanya ditularkan melalui hubungan seks oral, namun juga dapat ditularkan melalui hubungan seks anal dan melalui vagina. Penyakit ini dapat menyerang tenggorokan, alat kelamin, saluran kemih dan rectum.

    Baca Juga: Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    Sifilis

    Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penyakit sifilis dapat menyerang mulut, bibir, alat kelamin, anus, dan rektum. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyerang area tubuh lainnya termasuk pembuluh darah dan saraf.

    Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual ?

    Penyakit menular seksual dapat dicegah dengan menggunakan alat pelindung seperti kondom, setiap kali melakukan hubungan seks oral dan menghindari berganti pasangan seksual. Penis dapat dilindungi dengan kondom lateks dan jika alergi terhadap latex maka dapat menggunakan kondom plastik (poliuretan). Sementara bagi wanita, dapat menggunakan dental dam pada area kemaluannya.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. National Health Service. What infections can I catch through oral sex?
    2. Goodwin M, Zambon V. Oral sex STD risk charts: Safety and prevention.
    3. Downs M, Katz M. Oral Sex: Safety, Risks, Relationships, STD Transmission.
    4. Boskey E, Brahmbhatt J. Did You Know That Oral Sex Isn’t Safer Sex?
    5. White C, Scaccia A. The Facts on Oral STDs.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. STD Risk and Oral Sex.
    Read More
  • Pernahkah Sahabat Sehat merasa terdesak untuk buang air kecil atau kencing dan kesulitan menahannya? Bagi orang awam, kondisi ini sering disebut dengan “beser”. Meski dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian orang, terutama pada lansia, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada tubuh. Sahabat Sehat, apa saja penyebab sulit […]

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Pernahkah Sahabat Sehat merasa terdesak untuk buang air kecil atau kencing dan kesulitan menahannya? Bagi orang awam, kondisi ini sering disebut dengan “beser”. Meski dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian orang, terutama pada lansia, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada tubuh.

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Sahabat Sehat, apa saja penyebab sulit menahan buang air kecil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil

    Dalam dunia medis, kondisi ketika seseorang sulit menahan buang air kecil disebut juga dengan istilah “inkontinensia urine”. Kondisi ini terjadi ketika kontrol otot kandung kemih melemah sehingga urin keluar tanpa bisa dikontrol.

    Meski bukan termasuk sebagai kondisi yang dapat mengancam jiwa, tetapi kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Berikut adalah berbagai jenis penyebab seseorang sulit menahan buang air kecil, yakni:

    Inkontinensia Stress

    Inkontinensia stres adalah kondisi sulit menahan buang air kecil akibat kandung kemih dan otot saluran urin (uretra) yang tiba-tiba mengalami tekanan ekstra sehingga urine keluar dengan sendirinya. Kondisi ini kerap dialami pada lansia dan wanita yang telah melahirkan. Biasanya urin akan keluar tanpa disadari ketika mengangkat berat, bersin, batuk, tertawa, dan ketika berolahraga dengan intensitas berat.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Inkontinensia Urgensi

    Inkontinensia urgensi terjadi saat dorongan untuk buang air kecil muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat ditahan akibat kandung kemih yang terlalu aktif. Berikut beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan hal ini, yakni :

    • Perubahan posisi tubuh secara tiba-tiba
    • Aktivitas seksual, terutama saat orgasme
    • Otot kandung kemih yang terlalu aktif akibat kerusakan saraf kandung kemih, otot kandung kemih, dan sistem saraf. 

    Inkontinensia Overflow

    Kondisi ini diakibatkan hilangnya kemampuan mengosongkan kandung kemih secara menyeluruh sehingga terjadi kebocoran urin. Kondisi ini umumnya terjadi pada penderita gangguan prostat, sehingga lebih sering buang air kecil atau air kencing terus menetes keluar dari kemaluan.

    Baca Juga: Awas, Penyebab Miss V Gatal Bisa Jadi Ada Kencing Manis

    Inkontinensia Total

    Kondisi ini terjadi ketika kandung kemih tidak dapat menampung urin dengan baik, sehingga terus menerus mengalami kebocoran urin atau secara berkala mengalami kebocoran urin yang tidak terkendali dalam jumlah besar. Berikut beberapa kemungkinan penyebab inkontinensia total:

    • Kelainan bawaan lahir, misalnya kelainan pada kandung kemih
    • Riwayat cedera pada sumsum tulang belakang atau kandung kemih. 

    Inkontinensia Fungsional

    Kondisi ini mengakibatkan penderitanya tidak dapat menahan buang air kecil karena kesulitan mencari kamar mandi. Meski sadar akan keinginannya untuk buang air kecil, ada beberapa faktor yang dapat membuat penderitanya tidak bisa mencapai kamar mandi untuk buang air kecil sebagaimana mestinya. Inkontinensia jenis ini paling banyak dialami oleh orang tua. Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan inkontinensia fungsional, misalnya :

    • Gangguan mengingat (Dementia)
    • Gangguan penglihatan atau mobilitas yang buruk
    • Ketangkasan yang buruk, seperti kesulitan membuka kancing celana
    • Kecemasan, depresi, atau kemarahan sehingga enggan untuk menolak ke kamar mandi. 

    Baca Juga: 5 Tanda Gejala Diabetes atau Kencing Manis

    Bagaimana Penanganan Sulit Menahan Buang Air Kecil ?

    Sahabat Sehat, penanganan untuk mengatasi sulitnya menahan buang air kecil akan disesuaikan dengan jenis penyebabnya. Berikut adalah beberapa penanganan yang dilakukan yakni :

    1. Melakukan latihan senam kegel untuk memperkuat otot panggul
    2. Pemberian obat untuk memperkuat otot kandung kemih
    3. Penggunaan alat bantu seperti selang kencing (kateter) atau pun pessarium
    4. Stimulasi saraf untuk membantu memperkuat kontrol kandung kemih
    5. Prosedur operasi

    Baca Juga: Sahabat Sehat, Mari Kenali Kencing Nanah atau Gonore

    Bagaimana Mencegah Hal Ini ?

    Langkah utama untuk mencegah sulitnya menahan buang air kecil adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Sahabat Sehat dapat melakukan berbagai hal berikut dirumah, yaitu :

    • Konsumsi makanan berserat untuk mencegah sembelit
    • Berhenti merokok
    • Menurunkan berat badan agar mencapai berat badan ideal
    • Menghindari konsumsi minuman berkafein
    • Menghindari mengangkat beban yang terlalu berat
    • Latihan otot dasar panggul, seperti senam kegel 
    • Buang air kecil yang terjadwal dan hindari menahan buang air kecil
    • Olahraga secara rutin

    Baca Juga: Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab sulitnya menahan buang air kecil. Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Causes of Urinary Incontinence, Treatments, and More.
    2. Levine B, Jasmer M. What Is Urinary Incontinence? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment, and Prevention.
    3. Mayo Clinic. Urinary incontinence – Symptoms and causes.
    4. Cleveland Clinic. Overactive Bladder: Causes, Symptoms, Treatment & Prevention.
    5. Medicinenet. What Are 4 Types of Urinary Incontinence.
    6. Medical News Today. Urinary incontinence: Treatment, causes, types, and symptoms.
    Read More
  • Lansia (lanjut usia) atau dikenal juga dengan istilah medis geriatri merupakan istilah untuk menyebutkan seseorang yang sudah berusia diatas 60 tahun. Pada umur ini, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka kesakitan lansia mencapai 28,62%, pada tahun 2018 sebanyak 25,99%, dan pada tahun 2019 naik lagi mencapai […]

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Lansia (lanjut usia) atau dikenal juga dengan istilah medis geriatri merupakan istilah untuk menyebutkan seseorang yang sudah berusia diatas 60 tahun. Pada umur ini, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi.

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka kesakitan lansia mencapai 28,62%, pada tahun 2018 sebanyak 25,99%, dan pada tahun 2019 naik lagi mencapai 26,20%. Namun pada tahun 2020, Indonesia berhasil mencapai titik terendah untuk angka kesakitan lansia yaitu sebanyak 24,35%, angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar 24 dari 100 lansia mengalami sakit dalam sebulan terakhir.

    Pada umumnya, penyakit yang dialami lansia merupakan penyakit yang tidak menular dan bersifat degeneratif. Artinya, penyakit yang disebabkan karena adanya faktor dan proses penuaan. Seperti misalnya penyakit jantung, diabetes melitus, stroke, rematik dan cedera. Penyakit tersebut bersifat kronis, menyebabkan disabilitas atau kecacatan pada lansia dan berbiaya besar.

    Kesadaran lansia terhadap keluhan kesehatan yang diderita sudah cukup baik. Mayoritas lansia mengobati keluhan kesehatan dengan mengobati diri sendiri atau berobat jalan sebanyak 96,12%. Namun masih ada sekitar 4 dari 100 orang lansia yang enggan mengobati keluhan kesehatannya.

    Sahabat Sehat, apa saja penyakit yang kerap diderita lansia ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyakit yang Kerap Diderita Lansia

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit yang sering dialami oleh lansia yaitu :

    Hipertensi

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang paling sering dialami oleh pasien lansia, yaitu sebanyak 54%. Tekanan darah tinggi adalah kondisi saat jantung memompa darah dengan kuat namun pembuluh darah sempit sehingga aliran darah menjadi tertahan sehingga tekanan pada pembuluh darah menjadi tinggi.

    Hipertensi  dapat mengganggu fungsi organ tubuh lainnya seperti stroke dan serangan jantung. Berikut ini hal yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah, antara lain:

    • Menjaga berat badan agar tetap normal
    • Mengendalikan stress
    • Batasi konsumsi alkohol dan juga garam
    • Olahraga secara teratur
    • Periksa tekanan darah secara teratur ke fasilitas kesehatan terdekat.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Kadar Kolesterol Tinggi

    Sebanyak 47% lansia mengalami kadar kolesterol tinggi didalam darah, hal ini dapat menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah arteri yang menyebabkan pembekuan darah sehingga memicu gangguan jantung. Berikut ini gaya hidup yang dapat mengurangi resiko tingginya kolesterol darah:

    • Hindari merokok dan juga mengkonsumsi alkohol
    • Lakukan aktivitas fisik seperti berolahraga secara teratur
    • Kendalikan berat badan 
    • Hindari makanan yang mengandung lemak berlebih.

    Artritis

    Sebanyak 31% lansia mengalami penyakit peradangan pada sendi atau yang disebut dengan artritis, yang menyebabkan nyeri hebat dan kekakuan pada sendi. Artritis biasanya terjadi pada wanita berusia lebih dari 60 tahun keatas.

    Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya artritis:

    • Olahraga secara teratur selama 30 menit, 5 kali dalam seminggu seperti aerobic, dan pemanasan ringan 
    • Mengendalikan berat badan agar meringankan beban sendi kaki dalam menopang berat badan.
    • Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan cedera sendi
    • Hindari merokok.

    Baca Juga: Ketahui 8 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Berfungsi Maksimal

    Penyakit Jantung Koroner

    Sebanyak 29% lansia mengalami penyakit jantung koroner yang menyebabkan jantung kekurangan oksigen untuk memompa darah akibat sumbatan pada pembuluh darah. Sumbatan plak ini berasal dari kolesterol yang menumpuk di dalam pembuluh darah secara bertahun-tahun sehingga menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah.

    Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya :

    • Hindari mengkonsumsi terlalu banyak lemak jenuh, gula dan garam
    • Tidur minimal 7 jam setiap malam
    • Management stress
    • Olahraga kardio secara teratur seperti jalan pagi, berlari, berenang atau bersepeda.

    Diabetes

    Diketahui sekitar 27% lansia menderita diabetes, yang diakibatkan karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin atau tubuh resisten terhadap insulin sehingga menyebabkan gula darah terlampau tinggi didalam darah. Akibatnya kadar gula darah meningkat dan tubuh kekurangan energi untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah naiknya gula darah, antara lain:

    • Makan makanan sehat, hindari makanan yang terlalu banyak mengandung gula, karbohidrat dan kalori.
    • Olahraga minimal 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu.
    • Turunkan berat badan sebanyak 5-7% dari berat badan saat ini apabila sudah termasuk pre-diabetes.

    Baca Juga: Mitos Apa Fakta : Cuci Ginjal Alamiah dengan Menggunakan Seledri dan Buah Alpukat

    Gangguan Ginjal

    18% pasien lansia mengalami gangguan ginjal kronis atau CKD (Chronic Kidney Disease) atau menurunnya fungsi ginjal seiring bertambahnya usia. Pasien dengan CKD memiliki resiko lebih besar juga timbulnya gagal ginjal dan gagal jantung. Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya CKD:

    • Mengenal apa saja faktor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal misalnya seperti tekanan darah tinggi dan diabetes tak terkontrol.
    • Memeriksakan secara rutin fungsi ginjal, dengan tujuan mendeteksi secara dini apabila terjadi gangguan ginjal.

    Gangguan Jantung

    Sekitar 14% lansia diketahui menderita gangguan jantung yang menyebabkan pasokan darah dan juga nutrisi ke organ tubuh tidak terpenuhi dengan baik. Kondisi jantung mungkin akan membesar, memompa darah lebih cepat dibanding dengan yang tubuh butuhkan sehingga akan menimbulkan gejala seperti cepat lelah, nyeri kepala, mual kebingungan dan menurunnya nafsu makan. Satu-satunya cara mencegah terjadinya gangguan jantung adalah dengan memeriksakan kesehatan jantung secara berkala dan mengendalikan tekanan darah tinggi.

    Baca Juga: Berbagai Pilihan Olahraga yang Aman Untuk Lansia

    Depresi

    Sekitar 14% lansia mengalami depresi dengan gejala perasaan sedih, merasa tidak berdaya, kelelahan yang berkepanjangan, sulit untuk menentukan tujuan atau sulit mengambil keputusan, kehilangan nafsu makan, kehilangan gairah untuk melakukan aktivitas.

    Banyak hal yang dapat dihindari agar tidak terjadi depresi saat lansia, antara lain :

    • Management level stress dengan meditasi, berbicara dan berbagi masalah yang sedang dialami dengan kerabat terdekat.
    • Makan makanan sehat dan teratur. Makanan yang masuk ke dalam tubuh dapat berpengaruh pada mood, selain itu, makanan yang sehat dapat meningkatan pelepasan hormon endorphin (hormon bahagia). 
    • Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein, alkohol serta makanan manis.
    • Olahraga yang teratur
    • Berkonsultasi dengan dokter apabila sudah mengalami gejala depresi seperti gejala yang telah disebutkan sebelumnya.

    Penyakit Alzheimer

    Sebanyak 11% lansia mengalami alzheimer atau penyakit demensia tipe lainnya, yang ditandai dengan hilangnya daya ingat dan kemampuan berpikir serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Demensia bukan merupakan penyakit akibat proses penuaan, tetapi disebabkan karena adanya perubahan fungsi otak dari waktu ke waktu. Faktor yang memperbesar terjadinya resiko demensia antara lain keturunan, riwayat keluarga yang mengalami alzheimer, gaya hidup (tidak terlalu banyak aktivitas fisik). 

    Untuk mengurangi resiko demensia, maka dapat dilakukan beberapa hal seperti :

    • Meningkatkan aktivitas fisik seperti berolahraga
    • Tidur cukup, minimal 7 jam per hari
    • Pilih makanan yang sehat (makanan junk food, dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan otak).

    Gangguan Pernapasan

    Sebanyak 11% lansia mengalami gangguan pernapasan berupa PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Penyakit ini merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan gejala batuk terus menerus, nyeri pada dada dan kesulitan bernapas serta nafas pendek. Penyebab PPOK antara lain merokok, perokok pasif, maupun akibat menghirup bahan kimia beracun dan debu yang dapat mengiritasi paru-paru.

    Baca Juga: Apa itu Luka Dekubitus dan Cara Mengatasinya

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai jenis penyakit yang kerap dialami lansia. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri di RS.
    2. Kata Data. Angka Kesakitan Lansia di Indonesia 2015-2019.
    3. Ayu R. Cetak Rekor Terendah, Angka Kesakitan Lansia Jadi 24,35% pada 2020.
    4. Madeline R. Vann M, Pat F. Bass III M. The 15 Most Common Health Concerns for Seniors.
    5. The National Council on Aging. The Top 10 Most Common Chronic Conditions in Older Adults.
    6. Daily Caring. 10 Most Common Chronic Diseases in Older Adults: Tips to Prevent and Manage.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com