Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Penyakit

Showing 61–70 of 403 results

  • Sebelum berlibur, tentu bagi Sahabat Sehat yang telah memiliki anak perlu mempersiapkan berbagai hal agar kesehatan Si Kecil tetap terjaga selama berlibur. Salah satu hal penting adalah memberikan imunisasi rotavirus untuk Si Kecil, yang bermanfaat untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus terutama pada anak berusia dibawah 5 tahun. Apa itu Rotavirus dan bagaimana penanganannya ? […]

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Rotavirus Sebelum Berlibur

    Sebelum berlibur, tentu bagi Sahabat Sehat yang telah memiliki anak perlu mempersiapkan berbagai hal agar kesehatan Si Kecil tetap terjaga selama berlibur. Salah satu hal penting adalah memberikan imunisasi rotavirus untuk Si Kecil, yang bermanfaat untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus terutama pada anak berusia dibawah 5 tahun.

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Rotavirus Sebelum Berlibur

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Rotavirus Sebelum Berlibur

    Apa itu Rotavirus dan bagaimana penanganannya ? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Rotavirus ?

    Rotavirus merupakan salah satu jenis virus yang menyebabkan diare maupun radang saluran cerna pada anak. Seringkali menginfeksi anak usia dibawah 5 tahun dan diperkirakan setiap anak berusia 3-5 tahun di dunia pernah terinfeksi Rotavirus. Infeksi Rotavirus dikaitkan dengan kurangnya higienitas, terbatasnya akses kesehatan, riwayat penyakit komorbid (misal malnutrisi) maupun akibat faktor lain.

    Rotavirus terdeteksi pada feses dalam 2 hari sebelum timbul gejala hingga 10 hari setelah gejala mereda. Virus dapat menyebar melalui kontak tangan-mulut, terutama jika kurang menjaga higienitas setelah menggunakan toilet. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Akibat Infeksi Rotavirus

    Si Kecil mulai merasakan keluhan dalam 2 hari setelah terinfeksi Rotavirus, ditandai dengan :

    • Demam
    • Nyeri perut
    • Muntah
    • Diare. 

    Perlu diwaspadai jika anak terlihat lemas, malas makan, demam, pucat, bibir kering, jarang buang air kecil, maka sebaiknya segera diperiksakan ke Dokter terdekat karena dikhawatirkan mengalami kekurangan cairan tubuh (dehidrasi).

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Bagaimana Mencegah Diare Akibat Rotavirus ?

    Untuk mencegah Si Kecil terinfeksi Rotavirus, Sahabat Sehat sebaiknya menjaga kebersihan baik sebelum dan setelah menyajikan makanan serta setelah menggunakan toilet.  Selain itu, berikan imunisasi Rotavirus untuk anak yang merupakan salah satu cara melindungi anak dari infeksi Rotavirus. 

    Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin Rotavirus. Vaksin Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis dengan pemberian dosis pertama pada bayi berusia 6-14 minggu, dosis kedua diberikan setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosis ketiga diberikan maksimal pada bayi berusia 8 bulan.

    Vaksin Rotavirus jenis Rotarix diberikan sebanyak 2 dosis dengan dosis pertama diberikan pada bayi berusia 10 minggu dan dosis kedua diberikan pada saat bayi berusia 14 minggu (maksimal diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan).

    Baca Juga: Imunisasi Rotavirus Mencegah Kematian Bayi Karena Diare

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai infeksi Rotavirus yang seringkali menyebabkan diare pada anak. Sebagai pencegahan infeksi Rotavirus, segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih yang turut menyediakan layanan imunisasi ke rumah. Layanan Prosehat memiliki berbagai keunggulan :

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Baca Juga: Apa Efek Imunisasi PCV dan Rotavirus Bersamaan Pada Anak?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi

     

    Referensi

    1. MayoClinic. Rotavirus.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Rotavirus Vaccination.
    3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian III).
    Read More
  • Meski cacar air bukan penyakit baru, namun penyakit ini dapat membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan lebih rewel dari biasanya. Cacar air merupakan infeksi kulit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Penyakit ini paling sering menyerang anak berusia dibawah 12 tahun, yang dapat menular melalui percikan air liur atau bersin serta kontak langsung dengan […]

    Kenali Tanda dan Gejala Cacar Air pada Anak, Serta Cara Mengatasinya

    Meski cacar air bukan penyakit baru, namun penyakit ini dapat membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan lebih rewel dari biasanya. Cacar air merupakan infeksi kulit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster.

    Kenali Tanda dan Gejala Cacar Air pada Anak, Serta Cara Mengatasinya

    Kenali Tanda dan Gejala Cacar Air pada Anak, Serta Cara Mengatasinya

    Penyakit ini paling sering menyerang anak berusia dibawah 12 tahun, yang dapat menular melalui percikan air liur atau bersin serta kontak langsung dengan dahak, ludah, atau cairan yang berasal dari ruam.

    Sahabat Sehat, bagaimana gejala cacar air pada anak dan cara mengatasinya ? Mari simak penjelasan berikut.

    Gejala Cacar Air Pada Anak

    Cacar air ditandai dengan munculnya ruam kemerahan yang kemudian tampak menjadi luka lepuhan yang terasa gatal. Ruam muncul pada hari ke-10 hingga ke-21 setelah terpapar virus penyebab cacar air. 

    Lepuhan pada kulit dapat ditemui pertama kali pada area batang tubuh dan kulit kepala. Kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti wajah, lengan, dan kaki. Seiring waktu, lepuh akan mengering dengan sendirinya dan menjadi kerak setelah 1-2 hari sebelum akhirnya sembuh. Sebagian besar anak biasanya mengalami demam ringan.

    Meski dapat sembuh dengan sendirinya, namun cacar air perlu diwaspadai bagi penderita gangguan sistem kekebalan tubuh seperti leukemia, dan bagi yang sedang menjalani pengobatan dengan obat penekan sistem kekebalan tubuh.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Cara Mengatasi Cacar Air Pada Anak

    Cacar air dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit atau kondisi lain yang menyertainya. Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai hal berikut dirumah :

    • Menjaga asupan makanan dan cairan tubuh. Jika Si Kecil sudah dapat mengkonsumsi makanan padat, Bunda dianjurkan memberikan sup hangat, makanan yang halus, lembut, atau membuat makanan kesukaan Si Kecil untuk mengembalikan nafsu makan Si kecil.
    • Oleskan losion yang mengandung calamine ke tubuh Si Kecil. Losion ini dapat membantu memberikan sensasi dingin dan meredakan gatal pada kulit.
    • Pakaikan sarung tangan agar Si Kecil tidak menggaruk luka untuk meminimalisir terjadinya infeksi pada luka.
    • Kenakan pakaian yang nyaman untuk mengurangi rasa gatal dan iritasi pada kulit. Pilihlah pakaian yang berbahan katun, lembut, dan longgar.
    • Mandikan Si Kecil dengan air hangat suam-suam kuku dan sabun berbahan lembut untuk mengurangi rasa nyeri maupun gatal di kulit.
    • Istirahat yang cukup agar mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan sistem daya tahan tubuh dalam melawan infeksi. 

    Baca Juga: Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Air ?

    Cacar air merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Oleh sebab itu, saat Si Kecil mulai menunjukan gejala cacar air sebaiknya segera batasi aktivitasnya di luar rumah hingga lepuh cacar air tampak mengering serta tidak ada lagi lepuhan baru yang muncul.

    Selain itu, untuk mencegah penularan cacar air sebaiknya berikan imunisasi Varicella untuk memberi perlindungan tubuh terhadap cacar air. Pemberian imunisasi cacar air (setelah dosis kedua) efektif menurunkan risiko Si kecil terinfeksi cacar air hingga 94%.

    Baca Juga: Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai gejala dan cara mengatasi cacar air yang kerap dialami Si Kecil. Untuk memberi perlindungan terhadap cacar air, Sahabat Sehat dianjurkan memberikan imunisasi Varicella untuk Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Chickenpox in Babies: Symptoms, Treatment, Complications, Prevent [Internet]. USA : Healthline.
    2. BabyCentre UK. Chickenpox [Internet]. UK : BabyCentre.
    3. Medline. Chickenpox: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. USA : Medline.
    4. National Health Service. Chickenpox [Internet]. UK : National Health Service.
    5. Healthy Children. Varicella (Chickenpox) [Internet]. USA : Healthy Children.
    Read More
  • Cacar air atau disebut juga varicella atau chickenpox, dapat menyerang siapa saja baik anak, dewasa dan wanita hamil. Ibu hamil yang menderita cacar air di masa kehamilan beresiko membahayakan dirinya dan janin dalam kandungan. Sahabat Sehat, mengapa cacar air berbahaya selama hamil? Mari simak penjelasan berikut. Cacar Air Cacar air atau varicella merupakan penyakit yang […]

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya? Ini Penjelasannya

    Cacar air atau disebut juga varicella atau chickenpox, dapat menyerang siapa saja baik anak, dewasa dan wanita hamil. Ibu hamil yang menderita cacar air di masa kehamilan beresiko membahayakan dirinya dan janin dalam kandungan. Sahabat Sehat, mengapa cacar air berbahaya selama hamil? Mari simak penjelasan berikut.

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya Ini Penjelasannya

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya Ini Penjelasannya

    Cacar Air

    Cacar air atau varicella merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster virus. Virus ini menyebar dari penderita cacar air ke orang lain melalui kontak dengan pasien yang terinfeksi. Virus menyebar melalui udara yang terkontaminasi dari droplet bersin atau batuk orang yang terinfeksi. Cacar air sangat menular mulai dari 1-2 hari sebelum timbul kemerahan sampai dengan lentingan kecil kemerahan pada tubuh mengering, yang dialami kurang lebih selama 14-16 hari.

    Apa Gejala Cacar Air ?

    Cacar air menimbulkan bintik kemerahan berisi lentingan cairan pada anggota tubuh yang dapat pecah. Beberapa orang terjadi lentingan hanya di beberapa bagian tubuh, namun ada juga di seluruh area tubuh terutama di area wajah, telinga, kulit kepala, lengan, dada, perut dan kaki. Selain itu, Sahabat Sehat dapat mengalami demam dan tidak enak badan disertai dengan batuk dan bersin.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Dampak Cacar Air Pada Masa Kehamilan ?

    Kebanyakan ibu hamil yang terkena cacar air dapat sembuh tanpa efek apapun. Namun, sebagian lagi mengalami komplikasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu hamil berisiko terjadi komplikasi cacar air pada saat kehamilan seperti merokok, riwayat penyakit paru-paru, mengkonsumsi obat-obatan kortikosteroid dan mengandung lebih dari 20 minggu.

    Salah satu komplikasi cacar air pada ibu ketika hamil yang paling ditakutkan adalah terjadinya pneumonia. Infeksi pneumonia cukup mengkhawatirkan dan serius. Gejala pneumonia meliputi batuk, nyeri dada ketika bernapas dan batuk, demam, lelah dan napas pendek. Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai resiko yang dapat dialami janin jika ibu hamil menderita cacar air: 

    Jika cacar air terjadi pada usia kehamilan 20 minggu pertama, meningkatkan resiko gejala sindrom kongenital atau cacat bawaan pada janin seperti :

    • Bekas luka (scar) pada kulit 
    • Kelainan atau cacat pada anggota gerak tubuh janin (tangan dan kaki) dan mata (kebutaan)
    • Gangguan pencernaan
    • Berat badan lahir rendah 
    • Ukuran kepala kecil
    • Gangguan pada otak hingga timbul kejang sampai keterbelakangan mental.
    • Jika cacar air terjadi diantara 2 minggu sebelum melahirkan sampai 2 minggu setelah melahirkan, biasanya bayi tidak ikut terinfeksi. Namun apabila bayi ikut tertular, biasanya gejala yang dialami cukup ringan. Apabila virus kembali aktif dapat menyebabkan herpes zoster (cacar api) pada tahun pertama kehidupan Si Kecil.
    • Apabila cacar air terjadi 5 hari sebelum melahirkan sampai 2 hari setelah melahirkan, biasanya bayi berisiko terinfeksi. Penanganan yang optimal dapat meringankan gejala.
    • Apabila melahirkan secara prematur yaitu sebelum usia kehamilan 37 minggu maka resiko terjadinya komplikasi akan semakin meningkat.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Penanganan Cacar Air Saat Masa Kehamilan

    Apabila ibu hamil lupa apakah masa kecilnya sudah pernah mengalami cacar air atau belum, sebaiknya diperiksakan ke dokter agar diketahui kadar antibodi dalam darah terhadap virus varicella zoster. 

    Apabila ibu hamil tidak sengaja kontak dengan penderita cacar air, maka segera lakukan konsultasi ke Dokter agar diberi penanganan lanjutan seperti imunoglobulin atau antibodi untuk memberikan kekebalan terhadap virus varicella. Immunoglobulin umumnya dapat diberikan maksimal 10 hari setelah riwayat kontak dengan pasien yang terkena cacar air.

    Namun, apabila ibu hamil sudah mengalami gejala yang mengarah pada cacar air, maka dokter akan memberikan beberapa obat-obatan termasuk anti virus untuk meringankan gejala dan keparahan komplikasi.

    Baca Juga: Faktor Penyebab Bayi Lahir Prematur dan Cara Mencegahnya

    Kapan Harus Segera Menemui Dokter ?

    Berikut ini gejala yang mengharuskan ibu hamil yang terkena cacar air untuk segera ke Dokter :

    • Kesulitan bernapas dan sesak pada dada
    • Nyeri kepala, muntah dan tidak enak badan
    • Perdarahan vagina
    • Lentingan kemerahan nyeri dan berdarah

    Baca Juga: Asupan Persiapan Kehamilan

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai resiko yang dapat dialami janin jika ibu hamil terinfeksi cacar air. Untuk mencegah berbagai komplikasi tersebut, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan vaksinasi Varicella sebelum program hamil maupun sebelum menikah untuk mencegah cacar air. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Stanford Children’s Health. Chickenpox (Varicella) and Pregnancy [Internet]. UK : Stanford Children’s Health.
    2. Marple K. Chicken pox during pregnancy [Internet]. USA : BabyCenter.
    3. RCOG. Chickenpox and pregnancy [Internet]. UK : RCOG.
    4. March of Dimes. Chickenpox during pregnancy [Internet]. USA : March of Dimes. 2021.
    5. Danielsson K. Will Exposure to Chickenpox During Pregnancy Cause a Miscarriage? [Internet]. USA : Verywell Family. 2021.
    Read More
  • Tetanus adalah salah satu jenis penyakit menular, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium Tetani. Bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka atau bahkan melalui goresan kecil. Bakteri Clostridium Tetani menghasilkan racun yang disebut tetanospasmin, sesaat setelah masuk ke darah melalui kulit yang dapat menyerang sistem saraf. Jika tidak ditangani dengan baik, […]

    Alasan Pentingnya Vaksin TT Bagi Ibu Hamil

    Tetanus adalah salah satu jenis penyakit menular, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium Tetani. Bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka atau bahkan melalui goresan kecil. Bakteri Clostridium Tetani menghasilkan racun yang disebut tetanospasmin, sesaat setelah masuk ke darah melalui kulit yang dapat menyerang sistem saraf. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengakibatkan kematian. 

    Alasan Pentingnya Vaksin TT Bagi Ibu Hamil

    Alasan Pentingnya Vaksin TT Bagi Ibu Hamil

    Alasan Ibu Hamil Perlu Mendapatkan Vaksin TT

    Indonesia merupakan negara terakhir di kawasan Asia yang berhasil eliminasi tetanus pada ibu dan bayi baru lahir (maternal neonatal tetanus = MNT). Padahal kasus tetanus pada maternal dan neonatal adalah penyebab kematian yang paling banyak ditemukan akibat persalinan dan penanganan tali pusat yang tidak steril. Pada ibu hamil, infeksi tetanus dapat terjadi akibat luka selama proses persalinan maupun alat yang digunakan selama proses persalinan yang tidak steril. 

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Tetanus

    Tetanus biasanya ditandai dengan kaku otot dan terasa nyeri. Tetanus neonatorum (TN) adalah tetanus yang terjadi pada bayi pada usia hari ke 3 dan 28 setelah kelahirannya, sedangkan Tetanus Maternal (TM) adalah tetanus yang menyerang ibu hamil dan 6 pekan setelah melahirkan. Bila ibu hamil terinfeksi tetanus, bayi beresiko lahir prematur hingga menyebabkan kematian pada ibu maupun bayi. Hal inilah yang menjadi alasan pentingnya ibu hamil untuk mendapatkan Vaksin TT. 

    Baca Juga: 

    Apa Itu Vaksin TT?

    Toksoid Tetanus (TT) adalah vaksin yang dapat mencegah infeksi terinfeksi tetanus. Vaksin TT dapat mencegah ibu hamil dan bayinya terinfeksi tetanus. Dengan mendapatkan vaksin TT, tubuh ibu hamil akan membentuk antibodi dalam melawan bakteri tetanus.

    Antibodi alami nantinya akan diteruskan ke tubuh janin dalam kandungan sehingga janin turut terlindungi dari tetanus selama beberapa bulan pertama hidupnya. Selanjutnya bayi akan menerima vaksin tetanus pada usia enam hingga delapan minggu, sebagai bagian dari vaksin DPT (Difteri-Pertusis-Tetanus).  

    Baca Juga: Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Kapan Waktu Tepat Untuk Mendapatkan Vaksin TT?

    Jika ini adalah kehamilan pertama dan Sahabat Sehat telah memiliki jadwal vaksin yang teratur sebelumnya, maka Sahabat Sehat membutuhkan dua vaksin TT dengan rentang waktu minimal empat minggu antara setiap dosis. 

    Namun bila Sahabat Sehat tidak memiliki riwayat vaksinasi yang lengkap sebelumnya, maka dianjurkan untuk menerima vaksin TT dosis pertama sedini mungkin dan diikuti dengan dosis kedua pada empat minggu berikutnya. Dosis ketiga dapat Sahabat Sehat terima setelah enam bulan dosis yang kedua. Dalam kondisi ini sebaiknya Sahabat Sehat mendapatkan vaksin tetanus ini sebanyak 3 dosis sebelum persalinan. 

    Jika Sahabat Sehat kembali hamil lagi dalam waktu dua tahun setelah persalinan anak pertama, pemberian vaksin TT akan bergantung pada riwayat vaksinasi sebelumnya. Jika pada kehamilan sebelumnya Anda telah mendapatkan 2 dosis vaksin tetanus, maka dokter hanya akan menyarankan pemberian vaksin booster. 

    Baca Juga: Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Efek Samping Vaksin Tetanus

    Berikut adalah berbagai efek samping yang dapat Sahabat Sehat alami setelah divaksin tetanus:

    • Kemerahan dan bengkak di lokasi suntikan
    • Nyeri
    • Demam
    • Sakit kepala. 

    Sahabat Sehat tak perlu khawatir sebab efek samping ini dapat hilang dengan sendirinya. Untuk meredakan keluhan, dianjurkan istirahat yang cukup dan memberi kompres air hangat pada bekas lokasi suntikan.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Tetanus Setelah Luka Akibat Benda Tajam

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai vaksin TT yang penting bagi ibu hamil untuk mencegah infeksi tetanus pada ibu dan janin. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Nabar A. Why do I need the TT injection (TT vaccine) in pregnancy and when will I get it? [Internet]. USA : Baby Center.
    2. Anjum S. Tetanus Toxoid (TT) Injection during Pregnancy [Internet]. USA : First Cry Parenting. 2018.
    3. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Pusat Data dan Informasi – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Internet]. 2012.
    4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PBB Deklarasikan Indonesia Eliminasi Tetanus pada Ibu dan Bayi [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016.
    5. World Health Organization. Maternal Immunization Against Tetanus [Internet]. USA : World Health Organization.
    6. Mayo Clinic. Vaccines during pregnancy: Are they safe? [Internet]. USA : Mayo Clinic. 2020.
    Read More
  • Jika gejala kanker prostat pada pria terdeteksi sejak dini, potensi untuk sembuh akan lebih tinggi. Kanker prostat adalah jenis kanker yang menyerang pria dan berlokasi di dalam kelenjar prostat. Sedangkan, prostat merupakan kelenjar kecil berbentuk kenari yang berfungsi memproduksi cairan mani untuk memberi nutrisi dan mengangkut sperma.  Kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker yang paling […]

    10 Hal yang Menjadi Tanda Gejala Kanker Prostat Pada Pria

    Jika gejala kanker prostat pada pria terdeteksi sejak dini, potensi untuk sembuh akan lebih tinggi. Kanker prostat adalah jenis kanker yang menyerang pria dan berlokasi di dalam kelenjar prostat. Sedangkan, prostat merupakan kelenjar kecil berbentuk kenari yang berfungsi memproduksi cairan mani untuk memberi nutrisi dan mengangkut sperma. 

    10 Hal yang Menjadi Tanda Gejala Kanker Prostat Pada Pria

    10 Hal yang Menjadi Tanda Gejala Kanker Prostat Pada Pria

    Kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum terjadi. Dalam beberapa kasus, kanker prostat dapat tumbuh lambat dan terbatas pada kelenjar prostat, di mana mereka mungkin tidak akan menyebabkan kerusakan yang serius dan hanya membutuhkan pengobatan sederhana atau bahkan tanpa pengobatan sekalipun. Namun, pada sejumlah kasus lainnya kanker jenis ini dapat bersifat agresif dan dapat menyebar dengan cepat. 

    Kanker prostat yang terdeteksi lebih awal biasanya akan memiliki peluang lebih besar dalam keberhasilan pengobatan. Karena itu, penting bagi setiap pria untuk mengenali tanda atau gejala dari penyakit ini. Lantas, apa saja gejala seperti apa yang menjadi tanda kemungkinan kanker prostat?

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Gejala Kanker Prostat 

    Pada dasarnya, kanker prostat tidak memiliki gejala yang spesifik, terutama pada stadium awal. Menurut Cancer Research UK, hampir semua kanker prostat muncul di bagian luar kelenjar prostat. Pada kondisi ini, biasanya sel kanker tidak terlalu besar dan dekat untuk menekan saluran kencing atau uretra yang berada di sekitarnya. Berikut adalah beberapa gejala yang dapat dialami penderita kanker prostat:

    • Sulit ereksi

    Sulit ereksi atau disfungsi ereksi merupakan salah satu gejala kanker prostat yang banyak terjadi. Gangguan reproduksi ini juga dikenal sebagai impotensi. Pada kondisi ini, Anda mungkin tidak bisa mencapai atau mempertahankan ereksi penis dalam waktu lama. 

    • Urin atau air mani mengeluarkan darah

    Adanya darah dalam urin atau air mani setelah proses ejakulasi juga menjadi tanda adanya kanker prostat. Meski darah yang dikeluarkan hanya bercak atau berwarna merah muda, namun gejala ini seringkali diabaikan. Selain dipengaruhi kanker prostat, adanya infeksi pada saluran kemih juga dapat menjadi pemicu munculnya darah di urin atau air mani.

    • Sulit menahan buang air 

    Saat mengalami kanker prostat, tungkai dan kaki Anda mungkin akan melemah atau mengalami mati rasa. Namun, biasanya penderita kanker prostat akan kesulitan dalam mengontrol buang air kecil atau buang air besar karena kanker menekan sumsum tulang belakang. 

    • Sulit berkemih

    Meski penderita akan sering merasa kebelet, namun saat akan berkemih justru urin yang keluar hanya sedikit. Bahkan, banyak penderita kanker prostat yang harus menunggu beberapa saat untuk berkemih agar urine dapat keluar dengan maksimal. 

    • Nyeri saat berkemih

    Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kanker prostat yang menekan saluran kemih. Namun, rasa nyeri saat berkemih juga dapat menjadi tanda adanya gejala infeksi prostat yang dikenal sebagai prostatitis. Selain itu, rasanya nyeri saat buang air kecil juga dapat menjadi gejala lain seperti hyperplasia prostat (bukan kanker ganas).

    • Nyeri area punggung dan pinggul

    Sel kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lain disebut dengan metastasis. Kanker prostat yang bermetastasis umumnya akan menyerang tulang. Akibatnya, pinggul, punggung (tulang belakang), dada (tulang rusuk), atau bagian lain disekitar tumor akan terasa ngilu dan nyeri.

    • Pancaran urin lemah

    Kelenjar prostat terletak dibawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, sehingga kondisi buang air kecil akan terganggu saat kanker muncul. Sel kanker yang tumbuh di kelenjar prostat dan menekan kandung kemih dapat membuat pancaran urine menjadi tidak lancar atau bahkan hanya sekedar menetes.

    • Sering buang air kecil (terutama malam hari)

    Rasa ingin buang air kecil atau sensasi seperti anyang-anyangan yang sering terjadi malam hari bisa menjadi pertanda kanker prostat. Saat kondisi ini terus terjadi dalam jangka Panjang, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dibidang ini. 

    • Masalah pencernaan

    Lokasi kelenjar prostat yang terletak di depan rectum atau anus dan di bawah kandung kemih. Saat kanker muncul, maka area tersebut tertekan sehingga menyebabkan sulit buang air besar. 

    • Penurunan berat badan

    Setidaknya sebanyak 40 persen pengidap kanker prostat stadium awal akan mengalami penurunan berat badan. Ini karena sel-sel kanker yang terus tumbuh dan berkembang membuat penyerapan nutrisi dan metabolisme tubuh terganggu. 

    Baca  Juga: Pengobatan Kanker Prostat

    Pencegahan Kanker Prostat

    Perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat akan membantu dalam mengurangi risiko terjadinya kanker prostat, seperti:

    • Rutin konsumsi sayur dan buah-buahan setiap hari
    • Rutin olahraga
    • Mempertahankan berat badan ideal
    • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol
    • Mengelola stres dengan baik

    Penyebab kanker prostat memang belum diketahui secara pasti. Namun, faktor usia dan keturunan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat. Agar dapat terdeteksi sedini mungkin, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

    Baca Juga: 10 Hal Penting tentang Kanker Prostat Pria Perlu Tahu

    Jika Sahabat Sehat memerlukan pemeriksaan MCU (Medical Check Up), segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih. Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

     Referensi

    1. Cancer Research UK. Symptoms of prostate cancer.
    2. Cancer.org. Prostate Cancer Signs and Symptoms.
    3. Hopkins Medicine. Prostate Cancer Symptoms.
    4. National Health Service. Prostate cancer – Symptoms.
    5. Prostate Cancer UK. What are the symptoms of prostate cancer?
    Read More
  • Salah satu keluhan yang dialami penderita diabetes adalah rasa gatal pada kulit. Rasa gatal karena diabetes memang sangat mengganggu. Untuk mendiagnosa diabetes tentu memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti pemeriksaan gula darah. Rasa gatal yang dialami penderita diabetes dapat terasa mengganggu dan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi gatal yang dialami penderita diabetes ? […]

    7 Cara Atasi Gatal Karena Diabetes dengan Cepat dan Mudah

    Salah satu keluhan yang dialami penderita diabetes adalah rasa gatal pada kulit. Rasa gatal karena diabetes memang sangat mengganggu. Untuk mendiagnosa diabetes tentu memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti pemeriksaan gula darah. Rasa gatal yang dialami penderita diabetes dapat terasa mengganggu dan berdampak pada aktivitas sehari-hari.

    7 Cara Atasi Gatal Karena Diabetes dengan Cepat dan Mudah

    7 Cara Atasi Gatal Karena Diabetes dengan Cepat dan Mudah

    Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi gatal yang dialami penderita diabetes ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Kulit Gatal Pada Penderita Diabetes

    Terdapat berbagai penyebab kulit terasa gatal yang dialami penderita diabetes, berikut diantaranya : 

    • Infeksi jamur

    Jamur candida albicans adalah penyebab tersering infeksi jamur pada kulit penderita diabetes. Infeksi jamur ditandai dengan kulit tampak kemerahan dan terasa gatal, yang dapat ditemukan pada area lipatan tubuh, misalnya di bawah lipatan payudara, ketiak, dan lipat paha. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    • Kulit kering

    Kulit penderita diabetes kerap kali terasa kering akibat kadar gula darah yang tinggi. Selain itu, gula darah yang tinggi meningkatkan resiko infeksi pada kulit dan gangguan sirkulasi sehingga menyebabkan kulit kering dan terasa gatal.

    • Gangguan aliran peredaran darah

    Aliran darah yang buruk dapat menyebabkan gatal dan kerap dialami pada area paha bawah (depan betis). Selain itu, kondisi seperti necrobiosis lipoidica diabeticorum (NLD), yang diakibatkan perubahan pada pembuluh darah dapat menyebabkan gatal pada kulit. 

    Baca Juga: Pentingnya Olahraga Bagi Penderita Diabetes Tipe 2

    Cara Mengatasi Gatal Pada Penderita Diabetes

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai cara mengatasi dan mencegah kulit gatal yang kerap dialami penderita diabetes :

    • Mengontrol kadar gula darah

    Jika kadar gula darah berada dalam batas normal maka dapat mencegah komplikasi, serta menjaga agar kulit tetap kering. Cara mengontrol gula darah yaitu dengan mengkonsumsi obat antidiabetes secara teratur, konsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga berat badan tetap normal, kurangi garam, dan olahraga rutin. 

    • Selalu waspada

    Diabetes sering mengakibatkan gangguan saraf tepi, yang disebut neuropati sehingga penderita diabetes kerap merasakan kesemutan maupun timbulnya luka pada kulit. Penderita diabetes dianjurkan memeriksa kulit dan pastikan apakah ada luka baru atau luka lama yang tidak kunjung sembuh.

    • Segera obati luka pada kulit

    Sahabat Sehat dianjurkan agar segera mengobati luka kecil yang tidak kunjung sembuh untuk mencegah infeksi pada kulit.

    • Menjaga kebersihan kulit

    Dengan menjaga kebersihan kulit, Sahabat Sehat dapat mencegah infeksi pada kulit. Saat berjalan di luar rumah, gunakan alas kaki yang ukurannya sesuai dengan kaki. Pilih alas kaki yang rata, dan sol sepatu yang menyerap goncangan atau tekanan (shock-absorbing sole) untuk mengurangi tekanan pada telapak kaki, dan mencegah timbulnya luka diabetes yang umumnya terjadi di telapak kaki. 

    • Jaga kulit agar tidak terlalu kering dan basah

    Jaga kondisi kulit, agar tidak terlalu lembab ataupun terlalu kering terutama area lipatan seperti lipat ketiak, antara jari-jari kaki, dan lipat paha. Keringkan tubuh setelah mandi dan ganti pakaian jika terasa berkeringat. Lembab kan kulit bila kulit dirasa terlalu kering. Pelembap yang dianjurkan ialah pelembap yang tidak mengandung pewangi. 

    • Pilih produk kulit yang tepat

    Saat mandi sebaiknya gunakan produk kulit yang lembut. Hindari deodorant atau sabun yang mengandung pewangi karena dapat mengiritasi kulit sensitif dan menimbulkan rasa gatal.

    • Jaga kelembaban kulit

    Waktu terbaik untuk mengaplikasikan pelembab kulit ialah segera setelah mandi, saat kulit masih lembab. Hindari menggosok kulit dengan handuk dan keringkan area lipatan tubuh dengan seksama, seperti lipatan ketiak, lipatan paha, dibawah payudara, dan antara jari-jari kaki. 

    Baca Juga: 5 Tanda Gejala Diabetes atau Kencing Manis

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips mengatasi rasa gatal pada penderita diabetes. Untuk memantau kondisi penderita diabetes dan mendeteksi dini penyakit diabetes, segera lakukan pemeriksaan gula darah.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Gloria Teo
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. American Diabetes Association. Diabetes Complications – skin complication.
    2. American Academy of Dermatology Association. Diabetes: 12 warning signs that appear on your skin.
    3. Jaliman D. Diabetes Skin Care Tips.
    Read More
  • Cacar air pada anak adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Meski bukan penyakit yang berbahaya, penyakit ini sangat mudah menular pada anak kecil, terutama anak-anak usia dibawah 12 tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan anak tidak nyaman dan rewel karena rasa gatal dan demam yang menyerangnya.  Virus penyebab cacar air pada […]

    Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Cacar air pada anak adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Meski bukan penyakit yang berbahaya, penyakit ini sangat mudah menular pada anak kecil, terutama anak-anak usia dibawah 12 tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan anak tidak nyaman dan rewel karena rasa gatal dan demam yang menyerangnya. 

    Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Virus penyebab cacar air pada anak sangat mudah menular melalui percikan dahak atau ludah, serta kontak langsung dengan penderita. Cacar air memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah untuk dikenali, yakni berupa ruam merah gatal berisi cairan atau seperti lepuhan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan anak mengalami nyeri otot dan demam.

    Sahabat Sehat, apa yang dapat kita lakukan jika Si Kecil menderita cacar air? Mari simak penjelasan berikut.

    Tips Penanganan Cacar Air Pada Anak

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mencegah cacar air yang dialami Si Kecil menjadi lebih parah yakni :

    • Jangan Menggaruk Ruam

    Munculnya ruam atau lepuhan di permukaan kulit merupakan gejala paling khas dari cacar air. Untuk mencegah gejalanya semakin berat, pastikan Si Kecil untuk tidak menggaruk ruam tersebut. Menggaruk ruam atau lepuhan cacar air hanya akan menyebabkan infeksi kulit dan membuat luka jadi berbekas setelah sembuh. 

    Gunting kuku Si Kecil, oleskan lotion yang mengandung calamine, kenakan pakaian yang nyaman dan longgar, gunakan krim pelembab, gel pendingin, atau obat antihistamin yang dikenal dengan chlorpheniramine yang dapat membantu mengurangi rasa gatal dan menenangkan kulit. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    • Berikan Obat Pereda Nyeri dan Demam

    Selain menyebabkan ruam di permukaan kulit, umumnya cacar air pada anak juga akan menimbulkan gejala lainnya seperti rasa nyeri diseluruh tubuh hingga demam tinggi. Sebagai penanganan awal, Sahabat Sehat dapat memberikan obat pereda nyeri dan demam yang dijual bebas. Apabila demam berlanjut hingga lebih dari 3 hari, konsultasikan dengan dokter.

    • Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

    Gejala ruam atau lepuhan tidak hanya muncul pada permukaan kulit, kondisi ini juga dapat muncul di dalam kulit dan tenggorokan sehingga akan menimbulkan rasa panas dan tidak nyaman saat menelan makanan. Akibatnya, Si Kecil dapat kehilangan nafsu makan dan membuatnya menolak makan dan minum. 

    Meski demikian, pastikan Si Kecil tetap mendapatkan asupan makanan sehat dan kaya nutrisi, serta cukupi kebutuhan cairannya dengan memberinya lebih banyak air putih agar terhindar dari dehidrasi dan mempercepat penyembuhan. 

    Baca Juga: Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    • Mencegah Penularan Di Rumah

    Cacar air mudah menular, maka pastikan Si Kecil agar beristirahat di rumah. Selain itu, batasi pula ruang geraknya di dalam rumah selain agar cepat pulih dan mencegah penularan terhadap orang lain. 

    Biarkan Si Kecil tetap di rumah dan batasi bertemu orang lain hingga semua lepuhan cacar air di permukaan kulitnya mengering membentuk koreng dan tidak ada lagi lepuhan baru yang muncul. 

    • Memeriksakan Ke Dokter

    Meski dapat sembuh tanpa pengobatan atau pertolongan medis. Namun pada beberapa kasus, Sahabat Sehat harus memeriksakan Si Kecil ke dokter. Berikut beberapa kasus cacar air yang memiliki risiko komplikasi sehingga perlu menghubungi dokter saat gejala pertama cacar air muncul, yakni:

    • Cacar air diderita ibu hamil
    • Bayi yang baru lahir
    • Anak-anak usia diatas 12 tahun
    • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah
    • Penderita gangguan paru kronis 
    • Penderita penyakit yang sedang menjalani terapi steroid

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak-anak

    Mencegah Cacar Air Dengan Vaksinasi

    Selain itu, untuk mencegah penularan cacar air sebaiknya berikan imunisasi Varicella untuk memberi perlindungan tubuh terhadap cacar air. Pemberian imunisasi cacar air (setelah dosis kedua) efektif menurunkan risiko Si kecil terinfeksi cacar air hingga 94%. Vaksin cacar air dapat mulai diberikan saat Si Kecil berusia 12 bulan keatas. Diberikan dalam 2 dosis terpisah dengan jarak pemberian 6 minggu hingga 3 bulan.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai informasi perihal cacar air serta hal-hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan jika Si Kecil menderita cacar air. Waspadai apabila Si Kecil mengalami hal berikut :

    • Demam yang berlangsung lebih dari 3 hari 
    • Nanah yang mengalir dari lepuhan cacar air
    • Kesulitan bernapas, berjalan, atau bangun
    • Muntah
    • Kekakuan di leher
    • Sakit perut yang parah

    Baca Juga: Cacar Air dan Pencegahan yang Bisa Kamu Coba

    Jika Si Kecil mengalami keluhan diatas, segera konsultasikan lebih lanjut dengan dokter. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kidshealth.org. Chickenpox (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    2. American Academy of Dermatology Association. How to care for children with chickenpox.
    3. Healthy Children. Varicella.
    4. Healthline. 7 Home Remedies for Chickenpox.
    Read More
  • Pemberian vaksin tetanus setelah luka terkena benda tajam sebenarnya sangat penting. Tetanus merupakan kondisi tubuh menjadi kaku dan tegang akibat infeksi kuman. Kaku dan tegang diseluruh tubuh ini terasa menyakitkan dan dapat menyebabkan kematian. Gejala tetanus akan muncul dalam 4-21 hari setelah terinfeksi. Kuman penyebab tetanus yaitu Clostridium tetani, dapat ditemukan di tanah, debu serta […]

    Pentingnya Vaksin Tetanus Setelah Luka Akibat Benda Tajam

    Pemberian vaksin tetanus setelah luka terkena benda tajam sebenarnya sangat penting. Tetanus merupakan kondisi tubuh menjadi kaku dan tegang akibat infeksi kuman. Kaku dan tegang diseluruh tubuh ini terasa menyakitkan dan dapat menyebabkan kematian. Gejala tetanus akan muncul dalam 4-21 hari setelah terinfeksi.

    Pentingnya Vaksin Tetanus Setelah Luka Akibat Benda Tajam

    Pentingnya Vaksin Tetanus Setelah Luka Akibat Benda Tajam

    Kuman penyebab tetanus yaitu Clostridium tetani, dapat ditemukan di tanah, debu serta kotoran hewan yang apabila masuk ke dalam kulit maka akan mengeluarkan racun dan menyerang saraf.

    Infeksi Tetanus di Dalam Tubuh

    Kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui permukaan kulit yang rusak, misalnya melalui luka akibat benda tajam yang terkontaminasi bakteri Clostridium tetani. Bakteri tetanus berpeluang masuk kedalam tubuh melalui beberapa cara berikut, yaitu :

    • Luka yang terkontaminasi kotoran atau air liur
    • Luka yang disebabkan oleh benda yang menusuk kulit (luka tusuk) seperti paku, jarum.
    • Luka bakar
    • Luka remuk (Crush Injuries)
    • Prosedur operasi
    • Gigitan serangga
    • Infeksi gigi
    • Patah tulang
    • Luka dan infeksi kronis.

    Penyakit tetanus juga dapat menyerang bayi saat proses persalinan. Pemotongan tali pusar bayi yang menggunakan alat tidak steril berpotensi tinggi menyebabkan infeksi tetanus pada bayi. Faktor risiko lain yang dapat menjadi penyebab tetanus pada bayi baru lahir dari ibu yang tidak mendapat vaksin TT (Tetanus Toxoid).

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Saja Gejala Tetanus ?

    Tetanus merupakan penyakit yang berbahaya dan gejalanya dapat muncul dalam 4-21 hari setelah terkena kuman tetanus. Berikut adalah berbagai gejala yang dapat muncul akibat infeksi tetanus, antara lain :

    • Demam
    • Sakit kepala berat
    • Berkeringat berlebihan
    • Otot kaku terutama pada rahang (trismus), leher, lengan, kaki dan perut
    • Kesulitan menelan
    • Berdebar
    • Tekanan darah tinggi
    • Kaku pada otot wajah.

    Baca Juga: Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT? Begini Cara Mengatasinya

    Mengapa Perlu Vaksinasi Tetanus Setelah Tertusuk Paku?

    Apabila Sahabat Sehat tertusuk benda yang telah terkontaminasi bakteri, salah satunya adalah paku (terutama yang sudah berkarat). Itulah sebabnya apabila Sahabat Sehat menginjak benda tajam (seperti paku), maka dianjurkan segera untuk melakukan vaksinasi tetanus. Siapapun yang mengalami luka akibat benda tajam yang kotor dan belum pernah melakukan vaksinasi tetanus selama 5 tahun terakhir, perlu diberikan suntik vaksinasi tetanus.

    Suntik tetanus dapat berupa Tetanus Toxoid (TT) yang sering dikenal dengan vaksin tetanus atau Tetanus Immunoglobulin (TIG) yang dikenal sebagai antibodi tetanus. Apabila seseorang terkena luka tusuk yang tidak terlalu parah, serta sudah pernah menerima vaksin tetanus lebih dari 3 dosis, maka hanya perlu diberikan vaksin TT saja.

    Namun, jika luka bekas tusukan merupakan luka kotor, cukup besar, dengan riwayat vaksin TT kurang dari 3 dosis, maka perlu diberikan TT dengan tambahan antibodi tetanus (TIG) untuk melawan bakteri tetanus.

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Apa Saja Efek Samping Vaksinasi Tetanus ?

    Secara umum vaksinasi tetanus memberikan efek samping yang cukup ringan, seperti berikut :

    • Nyeri, kemerahan dan bengkak di area penyuntikan
    • Demam
    • Nyeri kepala
    • Kelelahan
    • Mual, muntah dan diare
    • Hilangnya nafsu makan

    Meski jarang terjadi namun Sahabat Sehat perlu mewaspadai reaksi alergi (anaphylaxis) yang mungkin terjadi, ditandai dengan gejala berikut :

    • Kulit kemerahan, gatal dan bengkak
    • Kesulitan bernapas atau gangguan pernapasan lainnya
    • Bengkak pada mulut dan tenggorokan
    • Mual, muntah, diare dan kram perut
    • Nyeri kepala, tekanan darah rendah dan jantung berdebar-debar

    Apabila timbul reaksi alergi seperti yang disebutkan diatas, maka segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk diberikan pertolongan sesegera mungkin.

    Baca Juga: Fakta Seputar Tetanus Pada Anak

    Nah Sahabat Sehat, itulah pentingnya pemberian vaksin tetanus setelah luka akibat benda tajam. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Tetanus Causes and Transmission.
    2. World Health Organization. Tetanus.
    3. Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya. Kegunaan Vaksin Tetanus Dan Kapan Harus Mendapatkannya.
    4. BPOM. VAKSIN TETANUS (Tetanus Toksoid).
    5. Bhargava H. Tetanus Questions and Answers.
    Read More
  • Diare bisa menjadi berbahaya bagi anak. Terutama saat sudah ada tanda anak mengalami dehirasi, Orangtua harus tau jika anak mengalami dehidrasi. Diare merupakan gangguan pencernaan yang umum dialami oleh siapapun, termasuk anak-anak. Gejalanya berupa buang air besar dengan frekuensi yang lebih sering dan konsistensi feses yang lebih encer dari biasanya. Selama diare, tubuh akan lebih cepat kehilangan […]

    Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Diare bisa menjadi berbahaya bagi anak. Terutama saat sudah ada tanda anak mengalami dehirasi, Orangtua harus tau jika anak mengalami dehidrasi. Diare merupakan gangguan pencernaan yang umum dialami oleh siapapun, termasuk anak-anak. Gejalanya berupa buang air besar dengan frekuensi yang lebih sering dan konsistensi feses yang lebih encer dari biasanya. Selama diare, tubuh akan lebih cepat kehilangan cairan dan elektrolit sekaligus hilangnya kemampuan usus dalam menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya. 

    Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Meski umumnya hanya terjadi sebentar, tetapi terkadang diare bisa menjadi lebih parah apabila dibiarkan tanpa perawatan yang tepat. Terlebih jika diare disertai dengan gejala muntah-muntah yang berlangsung cukup lama. Tentunya kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan, atau disebut juga dehidrasi.

    Nah Sahabat Sehat, apa saja tanda dehidrasi yang dapat dialami Si Kecil akibat diare? Mari simak penjelasan berikut.

    Baca Juga: 8 Asupan yang Tepat untuk Mengatasi Diare Si Kecil

    Tanda Dehidrasi Pada Anak

    Anak sangat rentan mengalami dehidrasi saat diare akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Berikut beberapa tanda dan gejala umum dehidrasi pada anak yang perlu diwaspadai:

    • Bibir kering 
    • Merasa haus
    • Urin berwarna kuning pekat
    • Sedikit atau tidak buang air kecil selama delapan jam atau lebih
    • Kulit teraba dingin dan kering
    • Mata tampak cekung
    • Pada bayi, ubun-ubun teraba cekung
    • Pusing
    • Nafas dan denyut jantung cepat

    Jika Si Kecil menunjukan gejala diatas, segera beri air yang cukup dan konsultasikan kondisi Si Kecil dengan dokter. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Kenali Tahapan Dehidrasi yang Dapat Dialami Si Kecil Saat Diare

    Minum yang cukup adalah satu-satunya cara dalam mengatasi dehidrasi. Hal ini dikarenakan tubuh didominasi oleh air sehingga penanganan diare akan berfokus pada pencegahan terjadinya dehidrasi. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu mengetahui tahapan dehidrasi yang dapat dialami Si Kecil saat diare : 

    • Tanpa Dehidrasi

    Pada kondisi diare tanpa dehidrasi, Si Kecil akan tampak seperti biasanya dan frekuensi buang air kecil tidak berkurang. Sahabat Sehat dapat tetap memberikan minum ataupun ASI.

    Untuk mengatasi masalah diarenya, Sahabat Sehat dapat memberikan Si Kecil larutan rehidrasi oral atau oralit sebanyak 5 – 10 mililiter setiap diare terjadi. 

    • Dehidrasi Ringan – Sedang 

    Pada diare dehidrasi ringan, Si Kecil mungkin telah mengalami penurunan berat badan sekitar 5 – 6%. Sementara pada diare dehidrasi sedang, Si Kecil akan kehilangan berat badannya hingga 7 – 10%. Pada tahap ini, Si Kecil tampak kehausan dan frekuensi buang air kecilnya juga menjadi berkurang. Selain itu wajahnya juga akan mengalami beberapa perubahan, seperti bibir kering, mata menjadi cekung, serta elastisitas kulit yang menurun. Sahabat Sehat dapat memberikan larutan oralit, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

    • Dehidrasi Berat

    Pada kondisi dehidrasi berat, Si Kecil mungkin telah kehilangan berat badan hingga lebih dari 10%. Meski awalnya Si Kecil mengalami gejala dehidrasi sedang namun pada tahapan dehidrasi berat Si Kecil  mulai tampak lemas, tidak sepenuhnya sadar, napas cepat dan dalam, frekuensi denyut nadi meningkat, serta elastisitas kulit yang sangat menurun. Pada kondisi ini, Si Kecil perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. 

    Baca Juga: Cegah Diare Anak Akibat Rotavirus dengan Vaksinasi

    Panduan Pemberian Rehidrasi Oral Pada Anak

    Umumnya dokter akan merekomendasikan pemberian rehidrasi oral sebagai solusi dalam mengganti cairan tubuh Si Kecil yang hilang. Bahkan jika Si Kecil muntah sekalipun, Sahabat Sehat tetap harus memberikan larutan oralit. Umumnya, bayi dapat dianggap terhidrasi saat tubuh kembali memproduksi urin secara normal, setidaknya urin tidak lagi berwarna gelap dan mengganti 6 popok basah dalam sehari. 

    Jumlah cairan rehidrasi yang diberikan harus disesuaikan pada tahapan dehidrasi. Berikut panduan untuk jumlah normal pemberian cairan untuk rehidrasi oral dalam kurun waktu 4 sampai 6 jam pertama perawatan untuk anak yang mengalami dehidrasi ringan:

    • Berat badan hingga 5 kg : 200 – 400 ml
    • Berat badan 5 – 10 kg : 400 – 600 ml
    • Berat badan 10 -15 kg : 600 – 800 ml
    • Berat badan 15 – 20 kg : 800 – 1000 ml
    • Berat badan 20 – 25 kg : 1000 – 1500 ml
    • Berat badan 25 – 30 : 1500 – 2000 ml

    Bila Si Kecil mengalami diare akut, lembaga Food and Drug Administration (FDA) merekomendasikan untuk menghindari produk susu selama 24 hingga 48 jam karena sulit dicerna. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menganjurkan agar Si Kecil tetap diberi makan sesuai jadwal seperti biasanya. Jika Si Kecil masih diberi ASI, maka Sahabat Sehat tetap dapat memberikan ASI sebab asupan nutrisi Si Kecil tetap harus terpenuhi. 

    Baca Juga: Imunisasi Rotavirus Mencegah Kematian Bayi Karena Diare

    Tips Mencegah Dehidrasi Diare Pada Anak

    Berikut beberapa tips mencegah dehidrasi pada anak yang sedang menderita diare, yaitu :

    • Berikan Larutan Oralit

    Sahabat Sehat dapat memberikan larutan oralit mengikuti panduan rehidrasi oral seperti sudah dijelaskan diatas.

    • Berikan Tablet Zinc

    Sahabat Sehat dapat memberikan Si Kecil tablet zinc selama 10 hari berturut-turut yang bermanfaat dalam memperbaiki lapisan usus yang rusak selama anak diare.

    • Penuhi Asupan Gizi

    Lanjutkan pemberian ASI dan jadwal makan seperti biasa. Penuhi kebutuhan ASI Si Kecil serta berikan makanan sesuai jadwal makan seperti biasanya.

    Baca Juga: Hati-Hati Diare Rotavirus Menyerang Anak Anda !

    Mencegah Diare Dengan Vaksin Rotavirus

    Berdasarkan data, diare pada anak paling sering diakibatkan oleh infeksi virus jenis Rotavirus. Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi Rotavirus untuk anak sebagai salah satu cara mencegah anak mengalami diare. Diperkirakan 9 dari 10 orang anak yang telah mendapatkan vaksin, terlindungi dari penyakit Rotavirus.

    Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin Rotavirus. Vaksin Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis dengan pemberian dosis pertama pada bayi berusia 6-14 minggu, dosis kedua diberikan setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosis ketiga diberikan maksimal pada bayi berusia 8 bulan.

    Vaksin Rotavirus jenis Rotarix diberikan sebanyak 2 dosis dengan dosis pertama diberikan pada bayi berusia 10 minggu dan dosis kedua diberikan pada saat bayi berusia 14 minggu (maksimal diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan).

    Produk Terkait : Imunisasi Rotavirus ke rumah 1 kali suntik

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai tanda dehidrasi yang dapat dialami Si Kecil saat diare. Apabila muncul tanda-tanda dehidrasi, konsultasikan dengan dokter serta lakukan berbagai tips di atas.

    Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Caring for Kids. Dehydration and diarhea in children: Prevention and treatment.
    2. Vega R, Avva U. Pediatric Dehydration.
    3. Cleveland Clinic. Dehydration in Children: Signs, Treatments.
    4. Mayo Clinic. Dehydration – Symptoms and causes.
    Read More
  • Seringkali orang tua terlambat menyadari adanya gejala paru-paru basah pada anak. Paru-paru basah atau dalam istilah medis disebut juga pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi pada saluran pernapasan akut yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus maupun jamur. Anak-anak terutama bayi baru lahir dapat kesulitan bernafas karena terjadi gangguan pada […]

    Kenali Penyebab dan Gejala Paru-Paru Basah pada Anak

    Seringkali orang tua terlambat menyadari adanya gejala paru-paru basah pada anak. Paru-paru basah atau dalam istilah medis disebut juga pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi pada saluran pernapasan akut yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus maupun jamur. Anak-anak terutama bayi baru lahir dapat kesulitan bernafas karena terjadi gangguan pada paru-parunya.

    Kenali Penyebab dan Gejala Paru-Paru Basah pada Anak

    Kenali Penyebab dan Gejala Paru-Paru Basah pada Anak

    Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi penyebab kematian anak terbesar di dunia, apabila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya. Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 atau dapat dikatakan setiap jam terdapat 2 orang anak yang meninggal dunia akibat penyakit ini.

    Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, jumlah angka penderita  pneumonia pada balita cukup tinggi yaitu mencapai 4,5 per 100 orang balita. Sementara berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), jumlah angka kematian balita berusia dibawah 5 tahun akibat pneumonia mencapai 15% pada tahun 2017 atau setara dengan 5,5 juta anak.

    Apa Penyebab Paru-Paru Basah Pada Anak ? 

    Pneumonia umumnya dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kurang bersih serta polusi udara. Berikut adalah berbagai hal penyebab tersering pneumonia atau paru-paru basah pada anak :

    • Infeksi Bakteri

    Bakteri penyebab paru-paru basah yang paling umum, yakni Streptococcus pneumoniae. Selain itu, ada beberapa bakteri lainnya seperti : Legionella pneumophila, Mycoplasma pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae

    • Infeksi Jamur

    Paru-paru basah yang disebabkan oleh jamur biasanya terjadi pada anak yang memiliki masalah kesehatan kronis atau sistem daya tahan tubuh yang sangat lemah. Contoh jamur yang dapat menyebabkan infeksi paru-paru basah, yaitu Pneumocystis jirovecii, Cryptococcus dan Histoplasmosis.

    • Infeksi Virus

    Infeksi virus dapat menyebabkan penyakit flu, maupun peradangan paru (bronkitis dan bronkiolitis), yang merupakan penyebab umum paru-paru basah pada balita. Infeksi virus biasanya lebih ringan dan dapat sembuh sendiri dalam 1-3 minggu apabila gejalanya sangat ringan. Namun apabila daya tahan tubuh anak rendah, tidak menutup kemungkinan infeksi akan bertambah parah.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Paru-Paru Basah Pada Anak

    Berikut adalah berbagai gejala jika seorang anak menderita infeksi paru-paru basah, yakni :

    • Batuk berdahak
    • Pernafasan cepat
    • Demam yang dapat menyebabkan keringat dingin dan menggigil
    • Menurunnya nafsu makan 
    • Tampak lemas
    • Kesulitan bernapas
    • Dada nyeri terutama saat batuk
    • Mengi
    • Wajah pucat
    • Kuku dan bibir tampak kebiruan akibat menurunnya kadar oksigen didalam darah.
    • Keluhan penyerta lainnya, seperti nyeri perut, mual dan muntah terutama setelah batuk.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Kapan Harus Memeriksakan Ke Dokter ?

    Sahabat Sehat, apabila Si Kecil mengalami berbagai gejala berikut maka sebaiknya segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat :

    • Si Kecil tampak semakin kesulitan saat bernafas
    • Sela-sela tulang iga dada tampak cekung saat bernafas.
    • Kuku dan bibir tampak biru keabu-abuan
    • Jika anak usia 6 bulan keatas mengalami demam dengan suhu hingga mencapai 390C
    • Jika anak yang berusia kurang dari 6 bulan mengalami demam dengan suhu mencapai 380C
    • Anak masih demam hingga lebih dari 3 hari, meski sudah mendapatkan pengobatan.

    Baca Juga: Pneumonia : Pembunuh Balita Utama di Dunia

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai penyebab dan gejala jika Si Kecil menderita paru-paru basah. Untuk mencegah paru-paru basah pada anak, Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi pneumonia.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia Pada Anak Bisa Dicegah dan Diobati.
    3. Ramdhani Jasin, Sp. A D, Kaswandani, Sp. A(K) D. IDAI | Hitung Napas Anak: Deteksi Awal Sesak Napas pada Anak dengan Pneumonia. Idai.or.id.
    4. World Health Organization. Pneumonia. USA : World Health Organization.
    5. Nationwide Children. Pneumonia. USA : Nationwide Children.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com