Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Balita

Showing 1–10 of 44 results

  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Frekuensi BAB pada bayi harus diperhatikan. Terutama pada bayi yang baru lahir. Karena frekuensi BAB menunjukkan kesehatan si kecil. Jika intensitas BAB pada bayi terlalu banyak atau terlalu sedikit mungkin saja ada masalah pada kesehatan si kecil. Terutama sistem pencernaannya. Dengan mengetahui kondisi kesehatan […]

    Frekuensi BAB yang Normal dan Sehat Pada Bayi Baru Lahir

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Orang Tua Harus Mengetahui Frekuensi BAB Normal Bayi Baru Lahir Agar Dapat Memantau Kondisi Kesehatannya

    Frekuensi BAB pada bayi harus diperhatikan. Terutama pada bayi yang baru lahir. Karena frekuensi BAB menunjukkan kesehatan si kecil. Jika intensitas BAB pada bayi terlalu banyak atau terlalu sedikit mungkin saja ada masalah pada kesehatan si kecil. Terutama sistem pencernaannya.

    Dengan mengetahui kondisi kesehatan si kecil sejak baru lahir, orang tua dapat menentukan tindakan dini jika ditemukan ada masalah pada kesehatannya. Semakin cepat penanganan akan sangat membantu tumbuh kembangnya.

    Frekuensi BAB Normal Bayi Baru Lahir

    Sahabat Sehat, table frekuensi bab normal bayi baru lahir di bawah ini dapat dijadikan acuan frekuensi buang air besar ideal pada anak dalam kurun waktu 24 jam selama enam bulan pertama kehidupannya.

    Jangka Waktu Jumlah minimal BAB Warna tinja
    Hari ke-1 1 Hitam
    Hari ke-2 0 – 1 Hitam
    Hari ke-3 1 Hijau transisi
    Hari ke-4 4 Kuning atau hijau
    Hari ke-5 3 – 4 kuning
    Hari ke-6 3 – 5 Kuning
    6 minggu + Sekitar 3 – 5 kali per hari atau bahkan lebih kuning

    Setiap anak tentunya memiliki frekuensi buang air besar yang berbeda-beda hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah usia. Pada bayi yang baru lahir, mereka biasanya memiliki frekuensi yang BAB kurang lebih 10 kali dalam sehari karena refleks gastrolika di dalam tubuh bayi.

    Bayi Usia 1 Hingga 3 Hari

    Kotoran bayi akan terus mengalami perubahan dari hari ke hari. Bayi yang baru lahir umumnya mengeluarkan feses yang lengket dan berwarna gelap selama beberapa hari, yang disebut mekonium. Feses ini mengandung empedu dan berbagai zat lainnya yang ditelan bayi saat didalam kandungan.

    Lihat Juga: Cara Melancarkan BAB pada Bayi

    Selama 24 jam pertama kehidupannya, bayi setidaknya harus mengeluarkan kotoran satu kali karena kadar air susu ibu yang pertama dikeluarkan (kolostrum) mengandung gula yang berfungsi sebagai pencahar alami dan dapat mendorong feses. Pada hari ketiga, kotoran yang keluar akan lebih ringan, cair, dan mudah dibersihkan. Selanjutnya kotoran bayi akan berubah tampak hijau kekuningan di hari keempat. 

    Selama 12 Minggu Pertama Kehidupan

    Frekuensi BAB bayi yang mengkonsumsi ASI selama 12 minggu pertama kehidupannya mencapai sekitar satu 1 hingga 8 kali dalam sehari, dengan rata-rata empat kali buang air besar per harinya. Kondisi ini juga bergantung pada sistem pencernaan Si Kecil, serta frekuensi Si Kecil menyusu.

    Bahkan beberapa bayi yang minum ASI juga sering kali tidak BAB selama 7 hingga 10 hari dan masih dianggap normal jika tidak disertai dengan gejala lain. Sedangkan pada bayi yang mengkonsumsi susu formula, frekuensi rata-rata BAB dapat mencapai 2 kali sehari ataupun lebih sering. 

    Usia 4 Bulan, Sebelum Diberi Makanan Padat

    Seiring bertambahnya usia, frekuensi BAB bayi umumnya menjadi lebih jarang. Di usia 4 bulan, sebagian besar bayi umumnya akan BAB sekitar 2 kali sehari. Namun, di usia ini frekuensi BAB tiga hari sekali juga masih dapat dikatakan normal jika feses yang dikeluarkan tetap lunak, berat badan bertambah, serta tidak disertai dengan keluhan sakit perut atau kembung. 

    Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

    Meski bayi yang baru lahir sering BAB merupakan hal yang wajar, namun Sahabat Sehat tetap perlu mewaspadai dan memantau kondisi kesehatan Si Kecil agar selalu sehat dan tumbuh dengan baik. Segeralah periksakan Si Kecil apabila mengalami keluhan seperti berikut ini :

    • Feses tampak kehitaman, cerah, pucat, atau kemerahan.
    • Frekuensi BAB lebih sering dari biasanya, hingga lebih dari 3 – 4 kali per hari dan tampak cair maupun berlendir.
    • Anak tampak lemas
    • Tidak berselera makan atau minum
    • Tidak aktif seperti biasanya
    • Bibir kering 
    • Menangis tanpa mengeluarkan air mata. 

    Selain itu, Sahabat Sehat juga perlu waspada jika frekuensi BAB bayi yang sebelumnya sering menjadi lebih jarang, terlebih jika feses tampak keras, kering, dan Si Kecil kesulitan mengeluarkan feses, maka sebaiknya periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Salah satu penyebab masalah BAB pada bayi adalah infeksi rotavirus yang dapat menyebabkan diare. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memberikan imunisasi Rotavirus pada bayi. Untuk Sahabat Sehat yang ingin memberikan layanan imunisasi Rotavirus untuk si kecil, dapatkan layanan: Imunisasi Rotavirus ke Rumah

    Itulah detail frekuensi bab normal bayi baru lahir yang penting untuk diketahui setiap orang tua. Jika terdapat gejala yang tidak seharusnya pada kondisi kesehatan si kecil, jangan ragu dan segera lakukan pemeriksaan medis ke dokter. Dengan demikian, kesehatan dan tumbuh kembangnya akan terus terjaga.

    Referensi:

    1. Medical News Today. How often should a newborn poop? Frequency and issues
    2. Healthline. How Often Should a Newborn Poop?
    3. Parents. How Often Should a Newborn Poop?
    4. Healthline. Newborn Poop: What’s Normal
    5. First Cry Parenting. How Often Should Your Newborn Baby Poop?
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica C Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. Bahkan efek sampingnya juga berbeda. Oleh sebab itu, sangat penting memahami perbedaan antara imunisasi polio tetes dengan suntik. Pastikan memilihkan imunisasi yang cocok untuk si kecil. Imunisasi polio tetes […]

    Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik Meliputi Efek Samping Hingga Dosis Pemberian

    Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. Bahkan efek sampingnya juga berbeda. Oleh sebab itu, sangat penting memahami perbedaan antara imunisasi polio tetes dengan suntik. Pastikan memilihkan imunisasi yang cocok untuk si kecil.

    Imunisasi polio tetes disebut juga imunisasi OPV. Sementara imunisasi polio suntik biasa disebut dengan imunisasi IPV. Walaupun sama-sama untuk mengatasi polio, namun banyak perbedaan antara keduanya.

    Mengapa Harus Imunisasi Polio?

    Tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio.

    Virus Polio adalah virus yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus yang memperbanyak diri di dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Virus Polio terdiri dari 3 strain yaitu Strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig) dan strain-3 (Leon), termasuk family Picornavirde. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motorik atau saraf pada sumsum tulang belakang.

    Virus polio dapat menyerang siapa saja, tetapi paling banyak menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit yang paling banyak ditakuti di negara-negara industri karena menyebabkan kelumpuhan pada ratusan ribu anak setiap tahun. 

    Polio adalah sebutan lain untuk penyakit poliomyelitis, yang berasal dari Bahasa Yunani artinya peradangan tulang belakang. Dulu orang-orang menyebutnya sebagai kelumpuhan pada anak-anak. Salah satu cara memberantas penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi polio.

    Penyebaran Virus Polio

    Virus Polio menyebar melalui kontak dengan penderita polio, sekresi oral (mulut) dan hidung misalnya air liur dan lendir hidung, serta kontak dengan feses yang terkontaminasi dengan virus polio. Setelah itu, virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan terus berlipat ganda sepanjang waktu hingga mencapai ke saluran cerna.

    Dalam kasus polio yang menyebabkan kelumpuhan, virus meninggalkan saluran cerna dan masuk kedalam aliran darah lalu menyerang sel saraf. Sebanyak kurang dari 2% penderita polio dapat mengalami kelumpuhan. 

    Pada kasus yang lebih berat, tenggorokan dan dada dapat ikut serta lumpuh. Bila tidak ada alat bantu pernapasan maka pasien dapat meninggal dunia. Imunisasi Polio pada anak dapat mencegah kejadian ini.

    Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Terdapat dua jenis cara pemberian vaksin polio, yaitu melalui injeksi (suntikan) atau tetesan di mulut. Perbedaan antara kedua vaksin untuk imunisasi ini bukan hanya beda di cara pemberiannya. Banyak hal yang menjadi beda imunisasi polio tetes dan suntik. Pembeda tersebut antara lain:

    Jenis Virus yang Digunakan

    Vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik sama-sama menggunakan virus polio. Namun kondisi virus polio yang digunakan berbeda. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 2 jenis vaksin polio:

    Vaksin Polio Inaktif

    Vaksin ini berasal dari virus polio yang dimatikan. Cara pemberiannya dengan menyuntikan ke paha atau lengan. Dengan kata lain, vaksin polio suntik berisi vaksin dari virus polio yang telah dimatikan.

    Vaksin Polio Oral

    Adalah virus polio hidup yang dilemahkan. Ini adalah vaksin yang dilakukan pada anak, diberikan melalui tetesan di mulut. Dengan kata lain, vaksin polio tets berisi vaksin dari virus polio hidup yang telah dilemahkan.

    Waktu Pemberian

    Vaksin polio tetes (OPV) biasa juga disebut vaksin polio Sabin sesuai dengan penemunya. Vaksin ini dapat mencegah infeksi dari 3 jenis polio. Vaksin polio tetes diberikan sebanyak tiga dosis untuk memberikan kekebalan seumur hidup.

    Pemberian vaksin polio tetes dilakukan pada saat anak berusia:

    • Baru lahir
    • Usia 6-12 minggu (8 minggu setelah dosis pertama)
    • Usia 6-18 bulan

    Vaksin Polio Suntuk (IPV) sebenarnya lebih dulu ditemukan daripada OPV, disebut juga vaksin polio Salk, sesuai dengan nama penemunya Jonas Salk pada tahun 1955. Vaksin IPV berisi virus inaktif yang berisi 3 tipe virus polio.

    Vaksin yang disuntikkan akan meningkatkan daya tahan tubuh. Vaksin IPV mampu mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody yang tinggi. Berbeda dengan vaksin polio tetes yang diberikan sebanyak 3 kali, vaksin polio suntik diberikan sebanyak 4 kali.

    Pemberian suntik vaksinasi IPV dilakukan saat anak berusia :

    • 2 bulan
    • 4 bulan
    • 6-18 bulan
    • 4-6 tahun

    Efektivitas

    Vaksin polio tetes dan suntik sama-sama memberikan kekebalan dari infeksi polio. Namun vaksin polio oral dianggap lebih efektif untuk pemberantasan poliomyelitis, karena virus yang dilemahkan akan mengadakan replikasi atau berkembang biak pada saluran pencernaan sehingga mencegah virus lain menempel pada saraf sehingga mencegah kelumpuhan.

    Tetapi vaksin IPV (vaksin polio suntik) juga memiliki kelebihan. Dibandingkan dengan vaksin OPV, vaksin IPV mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang cukup baik bagi sebagian besar orang. Selain itu, vaksin polio suntik tidak mengandung virus yang dilemahkan, maka tidak ada resiko berupa kelumpuhan akibat vaksinasi.

    Efek Samping

    Beda imunisasi polio tetes dan suntik juga berupa KIPI atau efek samping yang ditimbulkan. Adapun efek samping dari vaksin OPV (vaksin polio tetes) meliputi:

    • Sakit kepala
    • Sakit perut
    • Demam
    • Diare
    • Kelelahan
    • Kelumpuhan (jarang terjadi)

    Sementara itu, vaksin polio suntuk juga memberikan efek samping. Menurut penelitian yang terbit pada Jurnal Morbidity and Mortality Week Report CDC, pemberian vaksin IPV pada 2 tahun pertama dapat menimbulkan efek samping ringan sedang berupa:

    • Demam
    • Ruam di area yang disuntik
    • Pembengkakan di area yang disuntik
    • Rewel
    • Peradangan dan pendarahan pembuluh darah kecil (jarang terjadi)
    • Penurunan trombosit (jarang terjadi)
    • Alergi berat (jarang terjadi)

    Biasanya efek samping pasca vaksinasi polio suntik akan hilang dengan sendirinya setelah 3-4 hari. Karena memiliki efek samping yang lebih banyak, biasanya diperlukan skrining terlebih dahulu sebelum diperkenankan untuk menerima vaksin polio suntik. Kondisi yang membuat anak tidak diperkenankan imunisasi polio suntuk antara lain:

    • Memiliki dan mengalami alergi berat yang dapat mengancam nyawa
    • Anak sedang mengalami sakit seperti influenza yang disertai demam

    Walaupun ada efek samping, namun efek samping vaksin polio tetes dan suntik sebenarnya bersifat ringan. Dibandingkan dengan efek sampingnya, manfaat imunisasi polio jauh lebih besar. Dengan melakukan pemberian imunisasi anak, bukan hanya anak-anak yang divaksin saja yang dapat menerima manfaatnya. Keluarga serta warga di lingkungan tersebut juga dilindungi dari ancaman penyebaran virus polio.

    Lihat Juga: Polio Menular atau Tidak

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai beda imunisasi polio tetes dan suntik. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan imunisasi polio, dapatkan layanan imunisasi polio ke rumah yang disediakan oleh Prosehat. Cek layanan: Layanan Imunisasi Polio ke Rumah

    Referensi:

    1. Novita D, Alam S, Kelyombar D. Buletin Surveillant dan Imunisasi.
    2. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan. Poliomyelitis Penyakit Virus
    3. Kurniawan S. Manfaat dan Kapan Imunisasi Polio Diberikan
    4. Satari H, Ibbibah L, Utoro, S. Eradikasi Polio. Sari Pediatri
    5. Permatasari D. Vaksin Polio Tetes (OPV): Dosis, Jadwal Pemberian, Efek Samping, dan Bedanya dengan IPV
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Ditinjau oleh : dr. Monica C Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa. Penurunan cakupan imunisasi ini diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga para orang tua takut untuk memberikan imunisasi untuk anak-anaknya. Para orangtua rata-rata khawatir anaknya tertular Covid-19 saat membawa […]

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Pentingnya Imunisasi Bagi Si Kecil Meski di Masa Pandemi

    Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa. Penurunan cakupan imunisasi ini diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga para orang tua takut untuk memberikan imunisasi untuk anak-anaknya. Para orangtua rata-rata khawatir anaknya tertular Covid-19 saat membawa anak ke fasilitas kesehatan.

    Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Anak Indonesia, Prof. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K) mengatakan para orang tua dianjurkan segera melengkapi imunisasi anaknya meski sedang pandemi Covid-19 sehingga Si Kecil menerima imunisasi dasar lengkap.

    Menurut UNICEF, sejak Maret 2020, terjadi penurunan angka imunisasi anak di seluruh Indonesia. Pada Mei 2020 misalnya, vaksinasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT3) serta campak dan Rubella turun sebanyak 35% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ikatan Dokter Anak Indonesia Menegaskan bahwa program imunisasi dasar anak, sangatlah penting untuk kesehatan anak dan menurunkan resiko terkena penyakit menular pada masa mendatang.

    Badan Kesehatan Dunia atau yang disebut WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa pemberian imunisasi anak diwajibkan guna melindungi Si Kecil dari sejumlah penyakit infeksi. Lewat imunisasi, Si Kecil mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu yang membahayakan kesehatan dan bahkan mengancam jiwa.

    Mengapa Tidak Boleh Menunda Imunisasi Anak?

    IDAI meminta orangtua agar tidak menunda imunisasi anak demi kepentingan bersama. Ketika menunda imunisasi, resiko terjadinya wabah suatu penyakit menular akan bertambah. Sebab, imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk mencegah munculnya wabah.

    Kementerian Kesehatan dan IDAI telah menyusun jadwal imunisasi anak sesuai dengan usianya. Pemberian imunisasi sebaiknya mengikuti jadwal seharusnya untuk memastikan efektivitas vaksin tersebut. Pandemi Covid-19 dapat memicu terjadinya pandemi penyakit lain akibat turunnya angka imunisasi anak. Bila terjadi lebih dari satu pandemi dalam waktu yang bersamaan, tidak dapat dibayangkan dampak yang terasa oleh masyarakat.

    Pentingnya Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Setiap manusia yang lahir, pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan tubuh alami sejak Si Kecil berada didalam kandungan untuk melindunginya dari serangan penyakit. Namun, sistem kekebalan tubuh Si Kecil masih belum sempurna dan optimal seperti sistem imun orang dewasa sehingga mereka gampang sakit. Jadi, pentingnya imunisasi adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil sejak baru dilahirkan.

    Imunisasi anak saat masa pandemi adalah cara memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil sehingga kebal akan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit dan lainnya di masa pandemi ini. Melalui imunisasi dasar, berarti orang tua membantu melindungi Si Kecil dari berbagai resiko penyakit dimasa yang akan datang. Imunisasi akan membantu daya tahan tubuh Si Kecil agar memproduksi antibodi khusus untuk melawan jenis penyakit tertentu.

    Pandemi covid bukan berarti penyakit lain menghilang dan hanya ada covid saja. Oleh sebab itu, ada ataupun tidaknya covid tetap saja anak wajib untuk diberikan imunisasi.

    Jenis Imunisasi yang Penting Bagi Anak

    Berikut ini imunisasi wajib yang diberikan pada usia anak-anak menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.42 Tahun 2013 dan No.12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, disebutkan bahwa ada 5 jenis imunisasi wajib yang harus diperoleh Si Kecil yaitu:

    Imunisasi Hepatitis B

    Imunisasi hepatitis B diberikan sebanyak 4 kali. Pemberian pertama segera setelah bayi lahir dan paling lambat 12 jam setelah bayi dilahirkan, kemudian dilanjutkan pada usia 2,3,dan 4 bulan.

    Imunisasi Polio

    Imunisasi polio diberikan dalam bentuk tetes mulut, namun ada juga yang berbentuk suntikan. Imunisasi polio diberikan sebanyak 4 kali, yaitu pada saat bayi baru lahir atau paling lambat usia 1 bulan, kemudian usia 2, 3 dan 4 bulan. Sedangkan vaksin suntik diberikan sebanyak 1 kali yaitu pada usia 4 bulan.

    Imunisasi BCG

    Imunisasi BCG atau imunisasi yang dilakukan untuk mencegah penyakit TBC, dilakukan  sebanyak 1 kali dan diberikan pada saat bayi berusia 2 atau 3 bulan. Imunisasi ini diberikan melalui suntikan pada kulit Si Kecil.

    Imunisasi Campak

    Imunisasi campak pada anak diberikan sebanyak 3 kali, yaitu saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan 6 tahun. Namun, apabila Si Kecil sudah melakukan pemberian imunisasi MR/MMR pada usia 15 bulan, maka imunisasi campak pada usia 18 bulan tidak diperlukan lagi.

    Imunisasi DPT-HB-Hib

    Imunisasi ini dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis. Imunisasi ini diberikan pada usia 2,3,4, dan 18 bulan.

    Menunda apalagi tidak memberikan imunisasi anak saat masa pandemi dapat berisiko mengganggu kesehatannya. Apalagi jika tinggal di daerah yang notabene menjadi daerah endemik suatu penyakit.

    Apabila Si Kecil Tidak di Imunisasi

    Banyak risiko kesehatan yang dapat terjadi pada si kecil jika tidak diberi imunisasi. Risiko kesehatan ini bahkan dapat mempengaruhi kesehatannya saat dewasa nanti. Berikut ini resiko bila si kecil tidak diimunisasi:

    Sistem kekebalan tubuh tidak kuat dalam menghadapi penyakit

    Anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti hepatitis, TBC, batuk rejan dan difteri.

    Resiko komplikasi akibat penyakit menular

    Anak yang tidak diimunisasi memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang menyebabkan kecacatan pada bayi bahkan kematian. Hal ini disebabkan tubuh Si Kecil tidak mendapatkan kekuatan dari sistem pertahanan khusus yang dapat mendeteksi jenis penyakit berbahaya tertentu. Sehingga, kuman akan lebih mudah berkembang biak dan menginfeksi.

    Membahayakan anak atau orang lain disekitarnya

    Kasus-kasus penyakit menular di kalangan kelompok rentan dapat berkembang menjadi wabah di masyarakat. Untuk alasan inilah pemerintah masih memberikan imunisasi polio kepada anak untuk mencegah penyakit ini kembali mewabah.

    Penurunan kualitas hidup

    Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki resiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas atau cacat menetap. Contohnya, campak dapat menyebabkan komplikasi kebutaan. Atau polio dapat menyebabkan kelumpuhan dan cacat permanen.

    Resiko penurunan harapan hidup

    Vaksinasi yang tidak lengkap akan menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap akan mudah tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya menurun.

    Sayangnya masih banyak orang tua yang takut jika pergi ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi. Alasannya tentu saja karena di masa pandemi ini fasilitas kesehatan berisiko menjadi sarana penularan Covid-19. Terutama jika di fasilitas kesehatan tersebut terjadi kerumunan.

    Tips Cegah Penularan Covid-19 Saat Imunisasi Anak

    Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari penyebaran virus corona saat membawa si kecil ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi anak saat masa pandemi:

    1. Buat janji temu dengan Dokter atau Fasilitas Kesehatan penyedia jasa imunisasi
    2. Seleksi tempat imunisasi yang memenuhi standar protokol kesehatan
    3. Terapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker
    4. Menjaga jarak aman dengan orang lain selama di tempat imunisasi
    5. Mencuci tangan atau membawa hand sanitizer
    6. Hindari menyentuh area wajah (mulut, hidung, mata) selama di tempat umum

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pentingnya memberikan imunisasi anak saat masa pandemi Covid-19. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti imunisasi, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Kementerian Kesehatan. Orang Tua Wajib Lengkapi Imunisasi Dasar Anak Meski Pandemi COVID-19
    2. UNICEF. Imunisasi Rutin pada Anak Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia
    3. Dahlan. Bolehkah Menunda Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19
    4. Primaya Hospital. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun IDAI – Primaya Hospital
    5. Soedjatmiko, S., Sitaresmi, M., Hadinegoro, S, et al. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun
    6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya
    7. UNICEF. 7 konsekuensi dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi rutin
    8. Centers of Disease Control and Prevention. Not Vaccine Risk
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjatu oleh : dr. Monica C Proses tumbuh kembang atau tahapan perkembangan bayi harus senantiasa menjadi perhatian. Terutama dalam satu tahun pertama si kecil. Memperhatikan tumbuh kembang si kecil akan membantu orang tua dalam memberikan perawatan terbaik. Perlu diketahui bahwa pertumbuhan bayi dengan perkembangan bayi adalah 2 hal […]

    Tahapan Perkembangan Bayi dari Lahir Hingga Usia 1 Tahun

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjatu oleh : dr. Monica C

    Bayi Sudah Bisa Merangkak Saat Memasuki Tahapan Perkembangan Bayi Usia 7 Bulan

    Proses tumbuh kembang atau tahapan perkembangan bayi harus senantiasa menjadi perhatian. Terutama dalam satu tahun pertama si kecil. Memperhatikan tumbuh kembang si kecil akan membantu orang tua dalam memberikan perawatan terbaik.

    Perlu diketahui bahwa pertumbuhan bayi dengan perkembangan bayi adalah 2 hal yang berbeda. Ya, meskipun saling berkaitan, keduanya berbeda. Pertumbuhan (growth) bersifat kuantitatif atau dapat diukur, sementara yang dimaksud perkembangan (development) adalah perubahan kuantitatif dan juga kualitatif yang meliputi bertambahnya kemampuan (skill), struktur dan fungsi tubuh.

    Tahapan Perkembangan Bayi pada Satu Tahun Pertama

    Tumbuh kembang setiap anak tentunya berbeda-beda, hal ini karena adanya beberapa faktor yang berpengaruh pada tumbuh kembang si kecil, antara lain faktor biologis (genetik), psikologis, dan lingkungan.

    Perkembangan si kecil dibagi menjadi beberapa bagian, yakni : 

    • Motorik kasar (berjalan, berlari)
    • Motorik halus (menggambar)
    • Sensorik (melihat atau visual dan mendengar)
    • Bahasa (mengucapkan kata lalu kalimat)
    • Sosial dan emosional (bermain bersama dan bermain bergantian).1

    Parameter pertumbuhan si kecil mencangkup tinggi badan, berat badan dan juga lingkar kepala. Sementara itu ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam aspek perkembangan anak, yaitu perkembangan motorik, bahasa, kognitif serta emosi dan perilaku.

    Secara garis besar, tahapan perkembangan bayi sejak baru lahir hingga 1 tahun pertama kehidupannya adalah sebagai berikut:

    Bayi Baru Lahir – 1 Bulan

    Pada hari ke 2-3 semenjak kelahiran Si Kecil, terbilang normal bila si kecil kehilangan 10% dari berat badannya dibandingkan hari kelahirannya. Si Kecil akan kembali mendapatkan berat badannya kurang lebih dalam waktu 2 minggu. Panjang badan bayi akan bertambah 3-4 cm dari panjang badan saat lahir. Ada beberapa gerakan refleks pada bayi baru lahir, seperti:

    Reflek Rooting

    Jika sudut mulut Si Kecil disentuh, ia akan menoleh dan mengikuti arah sentuhan tersebut. Hal ini berguna agar si kecil dapat menemukan puting payudara.

    Reflek Hisap

    Jika bayi berhasil menemukan benda yang menyentuh mulutnya (kelanjutan dari reflek rooting), ia akan mulai menghisap benda tersebut.

    Refleks Moro

    Reflek ini terjadi ketika si kecil terkejut, maka akan mengangkat kedua lengan nya. Namun pada beberapa anak mungkin akan menangis sebagai response ketika terkejut.

    Refleks Genggam

    Ketika orang tua menaruh jari pada telapak tangan si kecil, ia akan menggenggamnya. Anak juga mungkin akan berusaha memasukkan jari tersebut ke mulutnya.

    Refleks Babinski

    Jika telapak kaki Si Kecil disentuh dengan pola melingkar, jempol kaki akan tertarik ke belakang dan empat jari lainnya akan merenggang. Refleks ini tidak normal jika masih terdapat pada anak usia diatas 2 tahun.

    Pada 1 bulan pertama, perkembangan mata Si Kecil belum normal, belum bisa fokus dan terlihat seperti juling. Terkadang mimik bayi tampak terkejut (jittery). Pada usia ini, si kecil belum dapat berkomunikasi dengan baik, cara komunikasi hanya dilakukan dengan cara menangis.

    Usia 1-3 Bulan

    Berat badan si kecil akan meningkat sebanyak 680-910 gram, panjang badannya akan bertambah sebanyak 2,5 cm setiap bulan dan lingkar kepala juga bertambah 1,25 cm setiap bulan. Berikut adalah perkembangan Si Kecil pada usia ini, yakni:

    Gerak Kepala

    Otot leher si kecil sudah mulai kuat, Si Kecil mulai dapat menggerak-gerakkan kepalanya. Matanya sudah dapat mengikuti cahaya dan suara.

    Gerak Anggota Tubuh

    Si Kecil sudah mulai dapat memasukan jari ke mulut. Orang tua sudah harus memperhatikan apa yang mungkin dimasukkan si kecil ke dalam mulutnya. Selain itu nampak pergerakan kaki dan tangan sudah mulai aktif.

    Cara Berkomunikasi

    Pada usia ini Si Kecil masih berkomunikasi dengan cara menangis, namun Si Kecil sudah dapat membedakan suara yang sering didengarnya. Beberapa anak akan hanya lebih tenang jika mendengar suara dari orang tuanya (terutama suara ibunya).

    Konsultasikan kepada dokter anak jika dirasa ada keterlambatan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Pastikan tahapan perkembangan bayi tetap dalam garis besar tahapan perkembangan yang seharusnya.

    Usia 4-6 Bulan

    Pada usia ini, berat badan Si Kecil meningkat hampir 2x berat lahirnya. Panjang badan akan bertambah sebanyak 1,25 – 2,5 cm per bulan dan lingkar kepala akan bertambah sebanyak 1,25 cm per bulannya. Refleks yang didapat saat lahir sudah mulai menghilang.

    Berikut ini beberapa perkembangan yang dialami Si Kecil saat usia ini :

    • Mampu menjaga keseimbangan kepala dengan baik
    • Dapat memiringkan badan ke kanan dan kiri
    • Mulai dapat duduk sendiri
    • Melihat dengan jelas dari jarak jauh
    • Tertawa, mengoceh dan menirukan bunyi
    • Menjulurkan tangan untuk meminta digendong

    Beberapa bayi mungkin mengalami keterlambatan pertumbuhan ataupun perkembangan. Silahkan lakukan pemeriksaan dan konsultasi pada dokter anak untuk memastikan kondisi tumbuh kembang si kecil dengan lebih akurat.

    Usia 7-9 Bulan

    Pada tahap ini, si kecil umumnya bertambah berat badan sebanyak 450 gram setiap bulannya. Sedangkan panjang badan akan bertambah sebanyak 1,25 cm setiap bulannya dan lingkar kepala bertambah sebanyak 0,6 cm per bulan. Berikut ini perkembangan Si Kecil pada usia ini :

    • Si kecil sudah dapat duduk mantap tanpa dibantu.
    • Si kecil sudah mulai dapat merangkak
    • Mulai untuk belajar berdiri dan merambat
    • Si kecil sudah dapat menggunakan jempol dan telunjukny
    • Semakin sering mencoba memasukan benda apapun yang dipegang kedalam mulut
    • Si kecil sudah dapat membedakan orang tua, orang terdekat dan orang asing

    Tumbuh kembang bayi pada usia 7-9 bisa berbeda-beda. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan agar tumbuh kembang pada tahap ini bisa tercapai. Konsultasikan pada dokter anak jika dirasa anak memiliki masalah pada tahap tumbuh kembangnya.

    Usia 10-12 Bulan

    Pada usia ini si kecil bertambah berat badan sebanyak 3 kali berat badan lahir, sedangkan panjang badan dan juga lingkar kepala akan bertambah sebanyak 0,6 cm per bulan. 

    Berikut ini perkembangan si kecil pada usia ini :

    • Mulai lancar merambat
    • Mulai dapat berdiri beberapa saat tanpa berpegangan
    • Dapat berjalan jika di tuntun
    • Memasukan makanannya sendiri kedalam mulutnya tanpa disuapi
    • Mulai tumbuh gigi, sebanyak 4-6 gigi
    • Dapat mengikuti perintah dan paham arti kata “tidak”
    • Aktif bermain
    • Memperlihatkan emosi dan karakternya

    Nah Sahabat Sehat, itulah tahapan perkembangan bayi pada masa dan tahun awal tumbuh kembangnya. Untuk membantu tumbuh kembang si kecil, pastikan untuk senantiasa memberikan ASI, memberi imunisasi, serta terus memberikan rangsangan yang dapat membantu tumbuh kembangnya (misal mengajak berkomunikasi).

    Dapatkan layanan konsultasi dan imunisasi anak, cek: Layanan Imunisasi Anak dari Prosehat

    Referensi

    1. Rumah Sakit JIH. Kenali Tahapan Perkembangan Anak Usia 0-12 Bulan
    2. Shalders L. Physical & Emotional Development of your Infant: 0-12 months
    3. Heffron C. Baby Milestones: 0 to 12 Months
    4. Pregnancy Birth & Baby. Your baby’s growth and development – 1 month old
    5. Agoomd. Developmental milestones 0 to 12 months
    Read More
  • Ditulis oleh: Redaksi Prosehat Ditinjau oleh: dr. Monica C Gangguan pencernaan pada bayi dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Tetapi pada usia balita, masalah gangguan pencernaan rentan terjadi. Bahkan pada kasus tertentu, penyakit yang disebabkan oleh gangguan pencernaan pada bayi dapat menjadi penyebab terbesar kematian anak di Indonesia. Meski seringkali terjadi, namun tanda adanya masalah pencernaan pada bayi […]

    5 Jenis Gangguan Pencernaan pada Bayi Beserta Gejalanya

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

    Pemeriksaan Gangguan Pencernaan pada Bayi yang Mengeluhkan Sakit Perut Terus Menerus

    Gangguan pencernaan pada bayi dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Tetapi pada usia balita, masalah gangguan pencernaan rentan terjadi. Bahkan pada kasus tertentu, penyakit yang disebabkan oleh gangguan pencernaan pada bayi dapat menjadi penyebab terbesar kematian anak di Indonesia.

    Meski seringkali terjadi, namun tanda adanya masalah pencernaan pada bayi sulit sekali diketahui. Sebab, bayi yang belum bisa berbicara atau kesulitan berbicara tentunya tidak dapat memberi tahu dengan jelas apa yang sedang dirasakannya. Mereka hanya bisa rewel, menangis atau bahkan terlihat lemah.

    5 Jenis Gangguan Pencernaan pada Bayi

    Sangat penting bagi orang tua mengetahui apa saja gangguan pencernaan yang sedang dialami si kecil berdasarkan gejala yang muncul. Dengan tahu masalah yang sedang dialami si kecil, orang tua dapat memberikan perawatan yang tepat.

    Bayi biasanya mengalami gangguan pencernaan berupa:

    Diare

    Umumnya saat Si Kecil masih mengkonsumsi ASI, susu formula, atau makanan semi padat (MPASI), bayi cenderung mengeluarkan feses yang lunak. Namun kondisi usus bayi yang masih begitu lemah terkadang membuat makanan yang dikonsumsi tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus sehingga mengganggu gerakan usus dan menyebabkan diare. Selain itu, infeksi rotavirus juga dapat menyebabkan diare pada bayi. Beberapa hal yang memicu terjadinya diare pada bayi, yaitu :

    • Kurang menjaga kebersihan tubuh
    • Alergi makanan
    • Keracunan makanan
    • Efek samping obat-obatan tertentu
    • Riwayat kondisi kesehatan tertentu, seperti celiac, irritable bowel syndrome.

    Sedangkan beberapa tanda dan gejala yang perlu diwaspadai ketika Si Kecil mengalami diare, yaitu:

    • Buang air kecil lebih jarang
    • Bayi jadi rewel dan nangis terus menerus, tetapi tidak mengeluarkan air mata ketika menangis
    • Mulut bayi menjadi kering
    • Bayi sering mengantuk dan lesu
    • Kulit bayi tidak lagi Kenyal atau elastis seperti biasanya

    Lihat Juga: Makanan untuk Ibu Menyusui saat Bayi Diare

    Muntah

    Pada dasarnya, muntah atau gumoh pada bayi dapat diartikan sebagai tanda adanya masalah kesehatan dan bisa juga tidak. Masalah pencernaan yang paling sering dialami bayi adalah refluks gastroesofagus sehingga mengakibatkan isi lambung kembali ke kerongkongan dan dapat keluar melalui mulut. 

    Kondisi ini dapat dikatakan normal apabila bayi masih mau minum susu dan berat badannya tetap naik dengan stabil hingga bayi berusia 1 tahun. Namun sebaliknya, jika Si Kecil mulai menunjukan penurunan berat badan dan menolak minum susu segeralah lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa hal yang mungkin menjadi pemicu muntah pada bayi, yaitu:

    • Bayi terlalu lama berbaring
    • Makanan yang dikonsumsi hampir seluruhnya cair
    • Bayi yang lahir prematur

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai apabila Si Kecil muntah disertai keluhan berikut, yaitu :

    • Pertumbuhan bayi yang buruk, seperti sulit menambah berat badan
    • Adanya gangguan pada pernapasan
    • Muntah dengan paksa yang terjadi secara konsisten
    • Cairan muntah berwarna hijau atau kuning
    • Muntah darah atau isi muntah terlihat seperti bubuk kopi
    • Adanya darah dalam tinja
    • Iritasi setelah makan

    Jika muncul keluhan diatas, Sahabat Sehat perlu segera memeriksakan Si Kecil ke dokter.

    Lihat Juga: Beda Muntah dan Gumoh pada Bayi

    Sembelit

    Sembelit pada bayi paling sering terjadi akibat kurangnya asupan serat dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari, kurang cairan, dan masa transisi ASI ke MPASI. Pada kasus tertentu, sembelit pada bayi juga dapat disebabkan oleh adanya kondisi medis yang mempengaruhi kinerja usus atau akibat penggunaan obat-obatan tertentu. 

    Berbeda dengan orang dewasa, tanda sembelit pada bayi sangat sulit dikenali karena mereka belum dapat mengkomunikasikan apa yang sedang mereka rasakan. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu mengenali beberapa gejala sembelit yang umumnya terjadi pada bayi, yaitu:

    • Kesakitan saat buang air
    • Ada darah pada tinja bayi
    • Rewel
    • Tinja bayi terlihat sangat kering dan padat.

    Biasanya bayi baru lahir yang diberikan ASI akan memiliki frekuensi buang air besar sekitar 3 kali sehari hingga memasuki usia 6 bulan. Setelah mulai dikenalkan makanan padat, bayi akan lebih sering buang air besar. Namun seiring pertumbuhannya, frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang. Sedangkan pada bayi yang diberi asupan susu formula, frekuensi buang air besar sekitar 1 hingga 4 kali sehari. 

    Jika Si Kecil sudah mengkonsumsi makanan padat, frekuensi buang air besar menjadi lebih jarang yakni hanya 1 atau 2 kali sehari. Apabila bayi mengalami buang air besar yang lebih jarang dari frekuensi normal, kemungkinan hal tersebut menjadi pertanda gejala sembelit.

    Lihat Juga: Buah untuk Mengatasi Sembeli pada Ibu Hamil

    Intoleransi Makanan

    Pada bayi yang terlahir secara prematur, mereka cenderung memiliki berat badan yang lebih rendah atau memiliki cacat bawaan pada ususnya, sehingga mereka akan mengalami intoleransi terhadap makanan tertentu. Usus akan menganggap sejumlah kandungan yang ada di makanan sebagai ancaman sehingga akan menimbulkan berbagai reaksi, seperti muntah atau diare setelah mengkonsumsi makanan tersebut. 

    Oleh karenanya, orang tua perlu benar-benar memperhatikan segala asupan yang dimakan oleh si Kecil. Selain itu, Sahabat Sehat juga perlu melakukan konsultasi guna mendapatkan pengobatan lebih lanjut dari dokter. 

    Lihat Juga: Tips Saat Memberi Makan Bayi

    Perut Kembung

    Tak hanya pada orang dewasa, perut kembung juga merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami Si Kecil. Bayi yang menderita perut kembung biasanya akan mengalami sejumlah gejala gangguan pencernaan lain seperti diare, muntah, sakit perut, kolik, hingga sembelit atau konstipasi. Berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan perut kembung pada bayi, di antaranya:

    • Bayi yang sedang diare
    • Bayi yang terus menangis sehingga ada banyak udara yang tertelan
    • Bayi yang meminum susu dari botol yang memiliki lubang dot terlalu besar

    Kembung pada perut bayi diakibatkan karena banyaknya angin yang terperangkap di dalam perut Si Kecil, sehingga bayi menjadi rewel karena menahan rasa tidak nyaman pada perutnya. Untuk mengatasi hal ini, Sahabat Sehat dapat melakukan beberapa hal berikut yakni:

    • Menyendawakan bayi untuk mengurangi kembung di perutnya
    • Istirahat yang cukup
    • Berikan minum yang cukup agar tidak dehidrasi
    • Beri makanan yang memiliki serat tinggi

    Lihat Juga: Makanan Penyebab Perut Kembung

    Cara Mengatasi Gangguan Pencernaan Pada Bayi

    Gangguan pencernaan pada bayi cukup umum terjadi. Namun masalah gangguan pencernaan ini harus segera diatasi. Beberapa hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan untuk mengatasi hal ini antara lain yaitu:

    Perhatikan posisi menyusui atau makan yang benar. Biasakan menyusui atau memberi anak makan dalam keadaan tegak dan pertahankan posisi tersebut sekitar 20 menit setelah selesai menyusui atau menyuapinya makan. Ini bertujuan untuk mencegah air susu dan makanan kembali naik ke kerongkongan. Pastikan pula untuk tidak memberi susu atau makanan terlalu cepat.

    Berikan makanan yang berserat. Makanan tinggi serat sangat bagus untuk mengatasi sembelit pada bayi. Terutama asupan serat yang terdapat di buah-buahan atau jus buah, seperti papaya, apel atau pir. Selain itu, roti gandung juga dapat dijadikan asupan serat selingan selain buah-buahan.

    Hindari konsumsi makanan tertentu. Saat menderita diare, hindari memberi makan bayi yang dapat membuat gejala diarenya semakin memburuk, seperti makanan berminyak, makanan pedas dan asam, produk olahan susu, makanan tinggi serat, serta makanan makanan manis. Hal ini berlaku juga bagi Sahabat Sehat yang masih menyusui Si Kecil, karena makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi kualitas ASI yang diminum Si Kecil.

    Nah Sahabat Sehat, itulah informasi mengenai berbagai penyebab gangguan pencernaan yang kerap dialami Si Kecil. Untuk mencegah infeksi rotavirus penyebab diare, Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi rotavirus untuk Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat memerlukan imunisasi, multivitamin, maupun produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Queensland Government. Diarrhoea in Young Children [Internet]. Australia : Queensland Government; [cited 2021 Nov 22].
    2. Children’s Hospital of Philadelphia. Breastfeeding a Baby With Food Allergies [Internet]. USA : Children’s Hospital of Philadelphia; [cited 2021 Nov 22].
    3. Medline Plus. Constipation in infants and children: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. USA : Medline Plus; [cited 2021 Nov 22].
    4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Gangguan Pencernaan pada Bayi (I) [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia; [cited 2021 Nov 22]. 
    5. National Health Service. Colic [Internet]. UK : National Health Service; [cited 2021 Nov 22]. 
    6. The Bump. Baby Tummy Troubles: How to Spot and Soothe Them [Internet]. USA : The Bump; [cited 2021 Nov 22].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Ditinjau oleh : dr. Monica C Sama-sama menimbulkan ruam. Namun ada perbedaan signifikan antara campak dengan cacar air. Penyebab dan cara mengobatinya juga berbeda. Memahami perbedaan campak dan cacar air sangat penting bagi orang tua. Dengan mengetahui mana penyakit yang sedang diderita si kecil, orang tua dapat memberikan penanganan […]

    Berbeda! Ini 5 Perbedaan Campak dan Cacar Air pada Anak

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Memahami Perbedaan Campak dan Cacar Air Membantu Orang Tua Memberikan Perawatan yang Tepat pada Anak

    Memahami Perbedaan Campak dan Cacar Air Membantu Orang Tua Memberikan Perawatan yang Tepat pada Anak

    Sama-sama menimbulkan ruam. Namun ada perbedaan signifikan antara campak dengan cacar air. Penyebab dan cara mengobatinya juga berbeda. Memahami perbedaan campak dan cacar air sangat penting bagi orang tua. Dengan mengetahui mana penyakit yang sedang diderita si kecil, orang tua dapat memberikan penanganan yang tepat.

    Tanpa perlu berlama-lama, yuk simak penjelasan singkat perbedaan campak dengan cacar air berikut ini:

    Penyebab Cacar Air dan Campak

    Cacar air dapat mengakibatkan Si Kecil merasa tidak nyaman dan rewel. Cacar air merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster.

    Campak biasa disebut juga measles. Penyakit campak biasanya disebabkan oleh infeksi virus rubeola. Campak juga dapat membuat si kecil merasa tidak nyaman dan rewel.

    Penularan Campak dan Cacar Air

    Cara penularan campak dengan cacar air memiliki persamaan dan perbedaan. Cacar air dapat menyerang semua kelompok usia termasuk bayi yang baru lahir. Hampir 90% kasus cacar air diderita anak berusia dibawah 10 tahun, dan terbanyak pada rentang usia 5-9 tahun.

    Penularan cacar air melalui kontak langsung dari lesi kulit atau ruam kemerahan yang berisi cairan, maupun melalui cairan dari saluran napas (bersin, lendir hidung) yang terjadi 24 sampai 48 jam sebelum timbulnya ruam sampai timbulnya keropeng, pada umumnya 5-7 hari setelah timbulnya ruam.

    Campak merupakan penyakit yang biasa menyebar melalui udara dengan tetesan hasil pernafasan yang dihasilkan dari batuk atau bersin. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih berisiko untuk tertular penyakit ini

    Perbedaan Gejala Campak dan Cacar Air

    Biasanya gejala cacar air yang timbul pada anak bersifat sangat ringan. Berikut ini gejala yang mungkin timbul apabila Si Kecil menderita cacar air, yakni :

    • Tidak enak badan selama 1-2
    • Timbul ruam kemerahan pada kulit
    • Ruam kemerahan berisi cairan
    • Ruam terasa gatal
    • Ruam di badan dan wajah, bahkan dalam mulut
    • Demam
    • Menurunnya nafsu makan
    • Nyeri pada sendi
    • Batuk dan pilek seperti flu
    • Ruam kemerahan berisi cairan

    Terdapat beberapa gejala yang sama antara campak dengan cacar air. Namun terdapat juga beberapa gejala yang berbeda. Gejala yang timbul saat si kecil terkena campak antara lain:

    • Mata merah, bengkak dan sensitif terhadap cahaya
    • Tanda menyerupai pilek (sakit tenggorokan, batuk kering dan pilek)
    • Bercak putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan
    • Demam tinggi
    • Lemas
    • Tidak nafsu makan
    • Diare dan muntah-muntah
    • Mengalami ruam kemerahan selama sekitar 7 hari
    • Ruam awalnya muncul dari belakang telinga
    • Ruam menyebar ke kepala dan leher, lalu ke seluruh tubuh
    • Ruam kemerahan tidak berisi cairan layaknya cacar air

    Cara Pencegahan Campak dan Cacar Air

    Cacar air dapat dicegah dengan cara pemberian vaksinasi cacar air. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, pemberian vaksin cacar air pada anak sebaiknya diberikan pada saat anak berusia 1 tahun keatas sebanyak 1 kali. Namun apabila vaksinasi varicella diberikan saat anak berusia diatas 13 tahun, maka pemberiannya dilakukan sebanyak 2 kali dengan jarak 4-8 minggu.

    Penyakit campak dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi MR (Measles dan Rubella), yang diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun. Maupun diberikan vaksin gabungan MMR (Mumps, Measles, dan Rubella)  yang merupakan vaksin gabungan untuk mencegah campak, gondongan dan campak jerman yang diberikan sebanyak 2 kali pada anak berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Namun saat ini juga sudah ada vaksin MMRV yang bermanfaat sebagai vaksin untuk Mumps, Measles (campak), Rubella, dan Cacar Air.

    Dapatkan: Layanan Vaksinasi untuk Anak

    Komplikasi Akibat Cacar Air dan Campak

    Cacar air dan campak juga bisa menyebabkan komplikasi pada tubuh penderitanya. Ada persamaan komplikasi namun ada juga perbedaan komplikasi antara cacar air dengan campak.

    Pada anak, cacar air bisanya tidak berbahaya, kecuali daya tahan tubuhnya sangat rendah. Cacar air menjadi berbahaya jika anak memiliki kelainan daya tahan tubuh atau sedang menjalani kemoterapi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika anak mengalami cacar air antara lain radang paru-paru (pneumonia) dan radang otak (encephalitis).

    Campak juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Penyakit campak dapat menyebabkan komplikasi yang cukup serius seperti diare, radang paru pneumonia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai perbedaan campak dan cacar air yang kerap dialami Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan imunisasi untuk Si Kecil, maupun produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.

    Referensi:

    1. Theresia T, Hadinegoro S. Terapi Asiklovir pada Anak dengan Varisela Tanpa Penyulit. Sari Pediatri, 11(6), p.440.
    2. Hopkins Medicine. Chickenpox in Children [Internet]. USA : Hopkins Medicine; [cited 202 Dec 15]
    3. Healthy Children. Varicella (Chickenpox) [Internet]. USA : Healthy Children; [cited 2021 Dec 15]
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Chickenpox for HCPs [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention; [cited 2021 Dec 15]
    5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia
    6. RSUD Kota Bogor. Campak atau Measles [Internet]. Indonesia : RSUD Kota Bogor; [cited 2021 Dec 15]
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher Ditinjau oleh : dr. Monica C Kandungan makanan ibu menyusui akan ikut terkandung dalam ASI. Salah memilih jenis makanan dapat berisiko menyebabkan si kecil diare. Oleh sebab itu, ibu menyusui harus menjaga pola makan dan mengatur makanan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Apalagi saat bayi diare, jangan […]

    Makanan untuk Ibu Menyusui saat Bayi Diare atau Mencret

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Rekomendasi Makanan untuk Ibu Menyusui saat Bayi Diare dan Makanan yang Dipantang untuk Dikonsumsi

    Rekomendasi Makanan untuk Ibu Menyusui saat Bayi Diare dan Makanan yang Dipantang untuk Dikonsumsi

    Kandungan makanan ibu menyusui akan ikut terkandung dalam ASI. Salah memilih jenis makanan dapat berisiko menyebabkan si kecil diare. Oleh sebab itu, ibu menyusui harus menjaga pola makan dan mengatur makanan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Apalagi saat bayi diare, jangan sampai memberikan ASI yang berkualitas kurang baik yang dapat menyebabkan masalah diare semakin serius.

    Penyebab dari diare tentu sangat beragam. Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus ataupun reaksi alergi dan intoleransi terhadap suatu zat. Nah, ternyata ketika si kecil diare, pola makanan ibu menyusui dapat mempengaruhi kondisi diare si kecil. Mengkonsumsi makanan yang tepat dapat membantu si kecil untuk lekas pulih. Namun jika ibu menyusui mengkonsumsi sembarang makanan, diare bisa semakin parah.

    Makanan untuk Ibu Menyusui saat Bayi Diare

    Pada Saat Si Kecil diare, ibu menyusui dianjurkan mengkonsumsi makanan yang dapat membuat kandungan ASI lebih sehat dan baik bagi si kecil. Beberapa rekomendasi makanan untuk ibu menyusui agar kualitas ASI nya baik bagi si kecil yang sedang mencret karena diare antara lain:

    Ikan

    Ikan-ikanan, khususnya salmon merupakan sumber Omega-3 yang penting bagi tumbuh- kembang Si Kecil. Konsumsi ikan dapat membantu ibu menyusui untuk menghasilkan ASI yang baik untuk si kecil dan dapat membantu agar si kecil cepat sembuh dari diare. Namun hindari ikan-ikanan laut karena berpotensi mengandung merkuri.

    Buah dan Sayur

    Konsumsi buah dan sayur mengandung banyak mikronutrien penting, seperti zat besi, magnesium, serta multivitamin yang diperlukan Si Kecil. Saat diare, penyerapan nutrisi Si Kecil terganggu. Untuk mencukupi kebutuhan gizi Si Kecil, ibu menyusui dianjurkan memberikan ASI yang cukup. Beberapa jenis buah dan sayur yang direkomendasikan untuk dikonsumsi ibu menyusui misalnya pisang dan buah delima.

    Air Putih

    Selain Si Kecil, Mama pun perlu memperhatikan asupan cairan sehari-harinya. Pastikan untuk mencukupi asupan cairan Mama agar tidak dehidrasi. Berikan air putih yang cukup, dan menghindari minuman yang manis yang mengandung banyak gula tanpa nutrisi lainnya.

    Nasi

    Ibu menyusui juga dianjurkan mengkonsumsi nasi ketika bayi mencret atau diare. Kandungan karbohidrat pada nasi dapat membantu membuat ASI mengandung karbohidrat yang baik untuk bayi. Karbohidrat dapat membuat bayi kuat dan tidak lemas. Selain itu, ASI dari ibu yang mengkonsumsi nasi akan membantu mengeraskan tinja bayi dan lebih menyerap air sehingga diare si kecil bisa lebih cepat sembuh.

    Lihat Juga: Pentingnya Cegah Diare Anak dengan Imunisasi

    Agar kualitas ASI semakin terjaga, pastikan juga untuk cukup beristirahat dan mengkonsumsi vitamin agar produksi ASI meningkat. Jika ada keluhan terhadap kualitas ASI, segera hubungi dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

    Pantangan untuk Ibu Menyusui saat Bayi Diare

    Jika sembarangan mengkonsumsi makanan, kandungan makanan tersebut akan masuk ke ASI. Jika ASI dikonsumsi si kecil, maka diare atau mencret si kecil bisa semakin parah. Oleh sebab itu, ibu menyusui wajib tahu makanan apa saja yang sebaiknya tidak dikonsumsi di masa-masa menyusui. Adapun makanan yang pantang dikonsumsi ibu menyusui saat bayi diare adalah:

    Makanan Pedas

    Apakah Mama menyukai makanan-makanan yang pedas? Bagi Mama yang pecinta makanan pedas harus menghindari dahulu makanan tersebut sementara bila Si Kecil sedang diare. Kandungan makanan pedas yaitu capsaicin dapat memicu diare dan dapat terkandung dalam ASI Mama.

    Produk Susu

    Susu merupakan sumber nutrisi yang baik bagi Mama dan juga Si Kecil. Namun pada saat diare, susu dapat menyebabkan diare menjadi semakin parah. Kandungan susu yaitu laktosa dapat menjadi penyebab diare pada Si Kecil yang menderita intoleransi laktosa. Selain itu, alergi terhadap susu juga dapat menyebabkan diare berlebih.

    Makanan Mentah

    Selama Si Kecil sedang diare, makanan mentah perlu Mama hindari karena rentan mengandung bakteri dan mikroorganisme yang dapat menimbulkan infeksi pencernaan. Oleh sebab itu, makanan seperti sushi maupun stik yang tidak diolah dengan matang harus dihindari untuk memastika kualitas ASI tetap terjaga.

    Kopi

    Kandungan kafein dalam kopi diketahui dapat terserap ke dalam ASI. Bagi Mama yang sering minum kopi perlu dihindari terlebih dahulu saat Si Kecil yang menyusui sedang diare. Kandunga kafein pada kopi dapat menstimulasi usus untuk bergerak lebih cepat sehingga dapat menyebabkan diare. 

    Tips Agar Bayi Tidak Rentan Terkena Diare

    Salah satu penyebab diare pada Si Kecil adalah infeksi Rotavirus, yang merupakan salah satu jenis virus penyebab diare maupun radang saluran cerna pada anak. Seringkali Rotavirus menginfeksi anak usia dibawah 5 tahun dan diperkirakan setiap anak berusia 3-5 tahun di dunia pernah terinfeksi Rotavirus. 

    Untuk mencegah diare dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi, dan bersihkan payudara secara berkala, terutama sebelum menyusui si kecil. Jika Si Kecil sudah diberikan makanan pendamping ASI, maka jaga kebersihan makanan dan minuman yang diberikan untuk Si Kecil.

    Pencegahan juga dapat bisa dengan memberikan imunisasi Rotavirus. Diperkirakan 9 dari 10 orang anak yang telah mendapatkan vaksin, terlindungi dari penyakit Rotavirus yang menyebabkan diare.

    Untuk mendapatkan imunisasi rotavirus bisa memanfaatkan layanan imunisasi ke rumah berikut ini: Layanan Imunisasi Rotavirus ke Rumah

    Nah Sahabat Sehat, itulah informasi mengenai berbagai jenis makanan yang dianjurkan bagi ibu menyusui saat Si Kecil diare. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan lain serta imunisasi, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Ballard O, Morrow A. Human Milk Composition. Paediatric Clinics of North America. 2013;60(1):49-74.
    2. World Health Organization. Breastfeeding [Internet]. USA : World Health Organization. 2021 [cited 10 December 2021].
    3. WebMD. Foods to Eat or Avoid When Breastfeeding [Internet]. USA : WebMD. 2021 [cited 10 December 2021].
    4. Jeong G, Park S, Lee Y, Ko S, Shin S. Maternal food restrictions during breastfeeding. Korean Journal of Pediatrics. 2017;60(3):70.
    5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Bagaimana Menangani Diare pada Anak [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2021 [cited 10 December 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D Ditinjau oleh : dr. Monica C Dalam memilih sabun bayi harus memperhatikan tipe kulit si kecil. Beda jenis kulit, beda juga jenis sabun yang sebaiknya digunakan. Pemilihan sabun mandi bagi si kecil termasuk salah satu hal utama yang perlu mama perhatikan. Pemilihan sabun yang tepat sangat penting mengingat kondisi […]

    Tips Memilih Sabun Bayi yang Sesuai Jenis Kulit Si Kecil

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Tips Memilih Sabun Bayi Dapat Membuat Pengalaman Mandinya Lebih Menyenangkan

    Dalam memilih sabun bayi harus memperhatikan tipe kulit si kecil. Beda jenis kulit, beda juga jenis sabun yang sebaiknya digunakan. Pemilihan sabun mandi bagi si kecil termasuk salah satu hal utama yang perlu mama perhatikan.

    Pemilihan sabun yang tepat sangat penting mengingat kondisi kulit bayi tidak sama dengan kondisi kulit dewasa. Kulit bayi cenderung lebih sensitif dan membutuhkan perawatan kulit yang tepat.

    Kondisi Kulit Si Kecil yang Sehat

    Sahabat Sehat, kulit bayi baru lahir masih sensitif dan tidak seperti kulit orang dewasa. Kulit bayi yang sehat memiliki ciri-ciri seperti berikut ini :

    • Kulit bayi berwarna merah tua atau keunguan dan kulit pada telapak tangan dan kaki agak kebiruan serta tidak pucat.
    • Bayi baru lahir diselimuti oleh lapisan lemak yang disebut dengan vernix, yang berfungsi sebagai pelindung janin dari cairan ketuban saat Si Kecil berada di dalam kandungan. Saat mandi, lapisan vernix dapat dicuci atau dibersihkan.
    • Pada bayi baru lahir masih terdapat lanugo atau rambut halus yang menutupi area kulit kepala, dahi, pipi, bahu dan punggung. Rambut halus ini akan hilang dengan sendirinya beberapa minggu setelah Si Kecil lahir.

    Kulit pada bayi baru lahir akan berbeda-beda antara satu dengan lainnya tergantung dari usia kehamilannya. Bayi prematur memiliki kulit lebih tipis dan transparan, sedangkan pada bayi cukup bulan maka kulit akan lebih tebal.

    Pada hari kedua atau ketiga setelah si kecil lahir, kulit akan tampak lebih cerah dan mungkin akan menjadi kering dan bersisik. Kulit akan menjadi lebih merah saat bayi menangis. Sedangkan saat bayi kedinginan, maka kulit akan berubah warna menjadi kebiruan atau timbul bintik-bintik.

    Ciri Jika Si Kecil Memilih Kulit Sensitif

    Bayi secara alami memiliki kulit yang lebih sensitif dibandingkan dengan kulit anak-anak dan bahkan orang dewasa. Memahami apakah si kecil memiliki kulit normal atau sensitif adalah kesulitan tersendiri bagi orang tua. Terjadinya ruam dan kering secara tiba-tiba belum tentu bahwa kulit si kecil merupakan tipe yang sensitif. Tanda Si Kecil memiliki kulit sensitif, yakni:

    • Reaksi kulit kemerahan setelah dimandikan dengan sabun atau produk lainnya
    • Kulit tampak kering setelah bayi dimandikan dengan sabun atau produk kulit lainnya
    • Perubahan kulit kemerahan setelah menggunakan pakaian atau bahan kain tertentu
    • Perubahan kulit jadi bersisik ataupun kering setelah menggunakan pakaian atau bahan kain tertentu
    • Si Kecil dapat sensitif terhadap kandungan deterjen yang ada di dalam komposisi sabun pencuci pakaian.

    Tips Merawat Kulit Bayi

    Perawatan kulit bayi sangat penting. Apalagi saat masih kecil, kulitnya tergolong sangat sensitif. Sahabat Sehat, untuk menjaga kesehatan kulit Si Kecil dianjurkan melakukan beberapa tips mudah berikut di rumah:

    • Hindari menggunakan air yang terlalu panas atau terlalu dingin
    • Jangan terlalu lama memandikan bayi, cukup 10 menit (kulit dapat kering jika terlalu lama kena air)
    • Pilih sabun cuci pakaian yang berlabel hypoallergenic ataupun sabun khusus pakaian bayi
    • Gunakan pakaian yang berbahan katun untuk mencegah biang keringat
    • Memandikan bayi dengan menggunakan sabun yang lembut khusus bayi

    Tips Memilih Sabun Bayi yang Sesuai Jenis Kulitnya

    Si kecil disarankan menggunakan sabun khusus untuk bayi. Apalagi jika si kecil memiliki tipe kulit yang sensitif. Oleh sebab itu, pastikan memilih sabun yang sesuai dengan jenis kulit si kecil.

    Beberapa tips yang perlu diperhatikan saat memilih sabun bayi antara lain:

    • Pilihlah sabun mandi yang memang dibuat khusus bayi
    • Hindari menggunakan sabun berbahan deterjen dan pewangi
    • Pilihlah sabun atau produk kulit lainnya yang berlabel hypoallergenic terutama jika bayi memiliki kulit yang hipersensitif, kulit kering atau eksim.
    • Biasakan untuk membaca label kemasan produk yang digunakan bagi bayi sebelum membelinya
    • Cari tahu apakah bahan yang digunakan pada produk tersebut berbahaya atau berpotensi menyebabkan alergi pada bayi.
    • Gunakan sabun berbahan dasar alami seperti dengan kandungan chamomile atau aloe vera.
    • Gunakan sabun dengan kandungan vitamin yang dapat menjaga kelembaban kulit bayi (vitamin E, D dan A)
    • Hindari sabun dengan kandungan yang kurang baik untuk kulit sensitif si kecil

    Bahan Kandungan Sabun yang Perlu Dihindari

    Sahabat Sehat, berikut ini adalah beberapa kandungan dalam produk perawatan kulit bayi yang perlu dihindari karena berpotensi menimbulkan iritasi pada kulit bayi:

    Triclosan dan Triclocarban

    Zat ini dianggap berbahay untuk si kecil. Penggunaan bahan ini dalam sabun ini dikhawatirkan dapat mengganggu pernapasan dan fungsi hati Si Kecil.

    DEA (Diethanolamine), MEA (Monoethanolamine), TEA (Triethanolamine)

    Zat ini seringkali dikaitkan dengan gangguan ginjal dan hati serta resiko kanker. Sayangnya masih ada beberapa sabun yang masih menggunakan zat ini, terutama sabun yang dibuat tanpa label BPOM.

    Phthalates dan Paraben

    yang dapat berdampak pada sistem hormon (endokrin) pada tubuh.

    Pengharum (Fragrance)

    Pada si kecil dengan kulit sensitif, penngharum ata fragrance beresiko menimbulkan ruam kemerahan dan reaksi alergi pada si kecil. Oleh sebab itu, jika memang merasa si kecil memiliki kulit sensitif, hindari sabun mandi bayi dengan pengharum atau fragrance.

    Sodium Lauryl Sulfate dan Sodium Laureth Sulfate

    Zat ini sebaiknya dihindari untuk digunakan pada si kecil. Sabun dengan kandungan Sodium Lauryl Sulfat ataupun Sodium Laureth Sulfate berisiko dapat mengiritasi mata dan kulit si kecil.

    Retinyl Palmitate

    Zat retinyl palmitate yang terdiri dari campuran palmitic acid dan juga retinol terbukti berbahaya bagi si kecil. Sayangnya, pada beberapa sabun yang tidak memiliki izin BPOM, zat ini masih terkandung. Oleh sebab itu, pastikan memilih sabun bayi dengan label BPOM sehingga keamanannya lebih terjamin.

    DMDM Hydantoin

    Kandungan berbahaya selanjutnya adalah DMDM Hydantoin. Alasan zat ini berbahaya bagi si kecil adalah karena zat ini merupakan zat yang dapat menyebabkan gangguan tidur, nyeri dada, gangguan napas

    Polyethylene Glycol dan Propylene Glycol

    Masih ada beberapa sabun yang menggunakan Polythylene Glycol dan Propylene Glycol. Jika sabun dengan kandungan ini digunakan pada si kecil, risikonya adalah dapat menghilangkan minyak sebagai pelindung kulit dan rambut Si Kecil.

    Selain bahan-bahan di atas, bahan lainnya yang juga harus dihindari sebagai kandungan sabun untuk si kecil antara lain: Cocamidopropyl betaine, Quaternium-15, Potassium sorbate, Tocopheryl acetate, Sodium benzoate, Sodium lactate, Phenoxyethanol, Petrochemicals.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips memilih sabun bayi dan dalam berbagai produk kulit untuk Si Kecil. Namun jika si kecil memiliki kulit yang terlalu sensitif, sebaiknya konsultasikan pada dokter sehingga dokter dapat membantu memilihkan produk yang sesuai dan dapat membantu mengatasi masalah kulit sensitif tersebut.

    Referensi

    1. Trisna A. 5 produk sabun mandi terbaik bagi kulit bayi pilihan theAsianparent Indonesia | theAsianparent Indonesia [Internet]. theAsianparent: Situs Parenting Terbaik di Indonesia. 2021 [cited 16 November 2021]
    2. Skin findings in newborns: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. Medlineplus.gov. 2021 [cited 16 November 2021]
    3. Armstrong, MD M, Fletcher J. Is Your Baby’s Skin Extra Sensitive? How to Know [Internet]. Healthline. 2020 [cited 16 November 2021]
    4. Larson J. 7 Signs Your Newborn Has Sensitive Skin [Internet]. Health Grades. 2020 [cited 16 November 2021]
    5. Best Skin Care for Your Baby [Internet]. WebMD. 2021 [cited 16 November 2021].
    6. Rivera R. How Do I Choose the Best Baby Soap? (with pictures) [Internet]. 2021 [cited 16 November 2021]. 
    7. Curtis T. Factors to Consider When Choosing Baby Soap [Internet]. Knowledge Center. 2019 [cited 16 November 2021]
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Banyak tanda anak alergi susu sapi yang dia minum. Namun sayang, banyak orang tua tidak sadar anaknya memiliki alergi pada susu sapi. Akibatnya, si kecil tetap dipaksa minum hingga akhirnya kesehatan anak menjadi bermasalah. Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak, mungkin […]

    5 Tanda Anak Alergi Susu Sapi dan Cara untuk Mengobatinya

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Menangis Saat Hendak Diberi Susu Kemungkinan Menjadi Tanda Anak Alergi Susu Sapi

    Banyak tanda anak alergi susu sapi yang dia minum. Namun sayang, banyak orang tua tidak sadar anaknya memiliki alergi pada susu sapi. Akibatnya, si kecil tetap dipaksa minum hingga akhirnya kesehatan anak menjadi bermasalah.

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak, mungkin sudah tidak asing dengan kondisi “alergi susu sapi” yang kerap dialami anak-anak. Alergi susu sapi merupakan suatu reaksi imunologis terhadap protein susu sapi. Biasanya alergi terhadap protein susu sapi diketahui pada tahun pertama awal kehidupan Si Kecil.

    Waspda, Inilah Tanda Anak Alergi Susu Sapi

    Sebelum Sahabat Sehat mengetahui cara mengatasi alergi susu sapi, berikut adalah berbagai gejala yang mungkin dialami Si Kecil jika mengalami alergi setelah minum susu sapi:

    Gejala Kulit

    Jika Si Kecil mengalami alergi susu sapi, muncul bintik atau ruam kemerahan yang terasa gatal pada kulit dan dapat ditemukan pada area lipatan kulit seperti lipatan siku dan lutut. Selain itu timbul Urtikaria atau dikenal dengan istilah biduran atau kaligata. Si Kecil juga mungkin akan mengalami Angioedema, yaitu kondisi pembekakan pada mata, bibir dan area wajah.

    Masalah Saluran Pernapasan

    Alergi susu sapi dapat menyebabkan masalah pada saluran pernapasan si kecil. Si Kecil terlihat lebih sering bersin, batuk, hidung tersumbat dan pilek. Gejala tersebut umumnya timbul tanpa disertai dengan demam.

    Gangguan Saluran Pencernaan

    Si Kecil dapat mengalami diare, dan muntah setiap kali diberikan susu sapi. Umumnya keluhan akan mereda apabila pemberian susu sapi dihentikan. Jika hal ini terjadi, hentikan pemberian susu sapi.

    Menjadi Lebih Rewel dan Gampang Nangis

    Setelah meminum susu, anak biasanya menjadi lebih tenang dan tertidur lelap. Namun berbeda pada anak dengan reaksi alergi pada susu sapi. Mereka biasanya akan lebih bawel dan menjadi gampang menangis setelah minum susu. Hal ini biasa terjadi karena ada reaksi tubuh yang tidak nyaman setelah minum susu. Misalnya badannya menjadi gatal, ataupun terasa sakit pada area tertentu di tubuhnya.

    Mata Berair

    Kondisi alergi juga bisa ditandai dengan mata berair beberapa menit setelah konsumsi susu sapi. Walaupun tanda ini tampak tidak terlalu menggangu si kecil, namun jika dibiarkan maka reaksi alergi bisa bertambah serius. Oleh sebab itu, konsumsi susu sapi harus dihentikan sampai didapatkan informasi lebih jelas penyebab mata berair setelah konsumsi susu sapi.

    Catatan: Reaksi alergi biasanya muncul 20 sampai 30 menit setelah konsumsi susu sapi. Namun pada beberapa kasus, reaksi alergi pada anak bisa saja terjadi pada jam ke 2 setelah konsumsi susu sapi.

    Pemeriksaan Lanjutan pada Alergi Susu Sapi

    Jika Sahabat Sehat menemukan Si Kecil mengalami keluhan di atas, Sahabat Sehat dianjurkan memeriksakan ke Dokter. Untuk memastikan reaksi yang dialami Si Kecil memang tanda anak alergi susu sapi. Dokter akan menyarankan berbagai pemeriksaan berikut :

    Pemeriksaan Kadar IgE

    Pemeriksaan kadar IgE dalam darah merupakan pemeriksaan yang paling spesifik dalam menentukan senyawa yang menimbulkan alergi. Namun pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan pada anak yang menderita eksim (ruam kemerahan dan gatal) berat atau pada anak yang menderita alergi dan telah mengkonsumsi obat pereda alergi.

    Pemeriksaan Total IgE

    Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan kadar total IgE, namun pemeriksaan ini tidak spesifik menunjukkan zat penyebab alergi. Kadar total IgE dalam tubuh dapat meningkat pada penderita eksim, infeksi parasit dan kondisi medis lainnya.

    Pemeriksaan Total Eosinofil

    Eosinofil merupakan salah satu jenis sel darah putih yang bertugas untuk melawan infeksi parasit dan cacing. Namun kadar eosinofil juga dapat meningkat pada penderita alergi seperti rhinitis alergi, asma dan eksim.

    Tes Paparan Alergen Secara Oral

    Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling akhir dilakukan apabila dari pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya tidak menunjukkan hasil. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memberikan susu sapi untuk Si Kecil dan dipantau apakah terjadi reaksi alergi setelah meminumnya. Apabila timbul reaksi alergi, maka dapat dipastikan Si kecil mempunyai alergi terhadap protein susu sapi.

    Tips Mengatasi Alergi Anak pada Susu Sapi

    Untuk mengatasi alergi susu sapi, umumnya Dokter akan memberikan terapi sesuai dengan keluhan yang dialami Si Kecil. Berikut adalah beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

    • Jika kulit Si Kecil tampak kemerahan dan gatal, berikan losion Calamine atau bedak anti gatal. 
    • Hindari pemberian susu sapi serta bahan makanan yang terbuat dari susu sapi 
    • Jaga kebersihan kulit Si Kecil
    • Jaga kebersihan botol susu yang digunakan
    • Pertimbangkan pemberian susu formula atau susu soya dan ASI agar asupan nutrisi Si Kecil tetap baik.

    Itulah beberapa tanda anak alergi susu sapi yang perlu diketahui oleh Sahabat Sehat sebagai orang tua. Jika Sahabat Sehat memerlukan produk susu dan multivitamin, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat.  Selain itu konsultasikan dengan Dokter mengenai perubahan susu sapi dengan susu jenis lain untuk menghindari reaksi alergi. Informasi lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Anak Indonesia. Diagnosis dan Tatalaksana Alergi Susu Sapi. 2015. Jakarta : UKK Alergi Imunologi, UKK Gastrohepatologi dan UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik
    2. Eigenmann P, Markovic M, Hourihane J, Lack G, Lau S, et al. Testing children for allergies: why, how, who and when. Pediatric Allergy and Immunology. 2013: 24;195– 209. 
    3. Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Allergy Testing 2019 [Internet]. Australia : Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy; [cited 2021 Aug 25].
    4. Dorevitch pathology. Laboratory Allergy Testing [Internet]. Australia : Dorevitch pathology; [cited 2021 Aug 25].
    5. The Doctors Laboratory. Allergy Testing in Primary Care : A quick reference guide to allergy and specific IgE testing [Internet]. USA :  The Doctors Laboratory; [cited 2021 Aug 25].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Penting untuk lebih teliti dalam memilih kantong ASI perah. Karena kantong ASI dapat mempengaruhi rasa, kualitas, dan daya tahan ASI. Cukup banyak keluhan dari ibu menyusui yang mengeluhkan bahwa ASI yang disimpannya bocor, berubah rasa, atau tidak lagi layak untuk dikonsumsi si kecil. Ya, selain faktor tempat dan […]

    6 Cara Memilih Kantong ASI Perah Anti Bakteri dan Awet

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Tips Memilih Kantong ASI Berkualitas

    Penting untuk lebih teliti dalam memilih kantong ASI perah. Karena kantong ASI dapat mempengaruhi rasa, kualitas, dan daya tahan ASI. Cukup banyak keluhan dari ibu menyusui yang mengeluhkan bahwa ASI yang disimpannya bocor, berubah rasa, atau tidak lagi layak untuk dikonsumsi si kecil. Ya, selain faktor tempat dan cara menyimpan, kantong ASI yang digunakan juga akan mempengaruhi kualitas ASI yang disimpan.

    Oleh sebab itu, untuk menyimpan ASI sebaiknya menggunakan kantong ASI yang memang memiliki standar tertentu. Dengan demikian kualitas ASI tidak akan berkurang dan penyimpanannya menjadi jauh lebih aman.

    Tips Memilih Kantong ASI Perah

    Banyak kantong ASI yang bisa Sahabat Sehat dapatkan di toko-toko perlengkapan bayi, klinik, maupun toko online. Sebelum membeli kantong ASI untuk menyimpan ASI perah, sebaiknya Sahabat Sehat mempertimbangkan beberapa hal berikut:

    Pilih kapasitas kantong ASI sesuai dengan kebutuhan Si Kecil.

    Jika Si Kecil masih berusia 1 bulan, atau baru lahir maka Sahabat Sehat dapat memilih kantong dengan kapasitas penyimpanan 30-50 ml agar ASI dapat diberikan dalam sekali waktu. 

    Dapat ditutup rapat

    Sebaiknya Sahabat Sehat memastikan terlebih dahulu bahwa kantong ASI perah yang akan digunakan dapat ditutup dengan rapat dan mudah digunakan, sehingga meminimalisir tumpah atau bocor.

    Tebal

    Pilih kantong ASI perah yang berbahan tebal, untuk mencegah kebocoran. Pada beberapa kasus jika ASI perah disimpan di lemari pendingin dapat mengakibatkan kebocoran.

    Kantong BPA-free

    Pilihlah kantong ASI perah yang berlabel BPA (Bisphenol-A) free, artinya tidak mengandung BPA. Kandungan BPA seringkali ditemukan pada wadah plastik. Jika kantong ASI mengandung BPA maka dikhawatirkan tercampur ke dalam ASI pada saat Sahabat Sehat menghangatkan ASI perah, sehingga beresiko ditelan oleh bayi.

    Memiliki label keterangan

    Beberapa jenis kantong ASI perah memiliki label keterangan untuk menuliskan tanggal serta jam memerah ASI. Hal ini bertujuan untuk memperkirakan lama penyimpanan dan masa kadaluarsa ASI perah.

    Higienis

    Sebelum menggunakan kantong ASI perah, Sahabat Sehat harus memeriksa terlebih dahulu sterilitas kantong yang digunakan agar terjamin kebersihannya sebelum memasukan ASI perah ke dalam kantong. Pastikan menggunakan kantong ASI perah sekali pakai, untuk menjaga higienitas ASI.

    Lihat Juga: Penyebab ASI Sedikit Saat Dipompa

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai tips dalam memilih kantong ASI perah. Jika Sahabat Sehat memerlukan kantong ASI maupun wadah penyimpanan ASI perah, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://ww.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Dr.Brown’s. 5 Tips Memilih Kantong ASI Terbaik 2019 [Internet]. Indonesia : Dr.Brown’s; [cited 2021 Aug 03].
    2. Barnes A. Breast Milk Storage Bags: How To Choose And To Use [Internet]. USA : Medium. 2019 [updated 2019 Oct 11; cited 2021 Aug 03]
    Read More

Showing 1–10 of 44 results

Chat Dokter 24 Jam