Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Balita

Showing 11–20 of 87 results

  • Apabila orangtua berencana untuk melakukan perjalanan bersama dengan anak-anak ke suatu daerah tertentu, tentunya orangtua memerlukan vaksinasi untuk anak minimal 1 bulan sebelum melakukan perjalanan, tergantung dari daerah mana yang akan dituju. Masa pandemi seperti saat ini, wajib sekali agar anak-anak yang berusia 6-11 tahun untuk melakukan vaksinasi Covid-19 agar melindungi tubuh dari Covid-19. Namun […]

    Berbagai Jenis Imunisasi Anak Sebelum Bepergian

    Apabila orangtua berencana untuk melakukan perjalanan bersama dengan anak-anak ke suatu daerah tertentu, tentunya orangtua memerlukan vaksinasi untuk anak minimal 1 bulan sebelum melakukan perjalanan, tergantung dari daerah mana yang akan dituju.

    Masa pandemi seperti saat ini, wajib sekali agar anak-anak yang berusia 6-11 tahun untuk melakukan vaksinasi Covid-19 agar melindungi tubuh dari Covid-19. Namun selain vaksinasi Covid-19, terdapat beberapa imunisasi wajib lainnya yang perlu dilakukan.

    Berbagai Jenis Imunisasi Anak Sebelum Bepergian

    Berbagai Jenis Imunisasi Anak Sebelum Bepergian

    Melakukan imunisasi sebelum pergi liburan ke daerah tertentu merupakan hal yang wajib untuk meminimalkan resiko terjangkit penyakit selama bepergian.

    Sahabat Sehat, apa saja imunisasi yang diperlukan Si Kecil sebelum bepergian ? Mari simak penjelasan berikut.

    Kapan Waktu yang Tepat Melakukan Imunisasi Sebelum Bepergian?

    Sebelum berencana bepergian, buatlah janji dengan fasilitas kesehatan setempat untuk melakukan imunisasi. Beberapa jenis imunisasi membutuhkan waktu untuk bekerja didalam tubuh dan memberikan efek perlindungan.

    Sebagai contoh, imunisasi BCG dapat melindungi Si Kecil dari infeksi TBC (Tuberkulosis) harus dilakukan setidaknya minimal 3 bulan sebelum membawa Si Kecil bepergian.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Saja Imunisasi yang Diperlukan Si Kecil Sebelum Berlibur ?

    Untuk memilih jenis imunisasi yang harus diterima Si Kecil maka Mama dapat berkonsultasi dengan Dokter. Nantinya Dokter akan mengecek riwayat imunisasi apa saja yang sudah pernah dilakukan Si Kecil, serta daerah tujuan berlibur dan menyesuaikan jenis imunisasi yang diperlukan.

    Berikut ini beberapa contoh imunisasi yang biasanya dilakukan sebelum bepergian, antara lain:

    1. Meningitis

    Sebelum berpergian ke negara Arab Saudi atau negara di timur tengah, disarankan untuk melakukan vaksinasi meningitis karena negara-negara timur tengah merupakan daerah endemis meningitis.

    2. Demam Kuning (Yellow Fever)

    Jika Mama hendak melakukan perjalanan ke negara Afrika (Gana, Kenya dan Nigeria) disarankan untuk melakukan vaksinasi Demam Kuning atau Yellow Fever karena merupakan daerah endemis demam kuning.

    Baca Juga: Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    3. Hepatitis A dan B

    Sebelum bepergian Mama dianjurkan memastikan Si Kecil sudah menerima imunisasi Hepatitis dan B. Negara dengan kasus hepatitis yang masih tinggi misalnya Meksiko. Penyakit Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan yang tercemar Hepatitis A sehingga perlu diwaspadai penularannya selama bepergian.

    4. Tifoid dan paratifoid

    Vaksinasi tifoid dilakukan untuk mencegah penyakit tipes saat melakukan perjalanan ke daerah dengan kasus infeksi tifoid tinggi misalnya negara-negara Asia Tengah (India, Pakistan dan Bangladesh).

    5. Influenza

    Apabila hendak berlibur saat musim hujan seperti saat ini, ada baiknya untuk melakukan vaksinasi flu sebelumnya.

    6. Japanese Encephalitis

    Japanese encephalitis merupakan penyakit yang beresiko rendah bagi sebagian besar pelancong atau turis ke negara endemik Japanese encephalitis. Namun, beberapa turis akan memiliki peningkatan resiko infeksi berdasarkan faktor-faktor periode perjalanan yang lebih lama, perjalanan selama musim penularan virus Japanese encephalitis, berpartisipasi dalam banyak kegiatan diluar ruangan dan akomodasi tempat tinggal tanpa AC dan kelambu untuk menghindari nyamuk.

    Untuk menghindari terinfeksi Japanese encephalitis sebelum melakukan perjalanan ke negara China, Jepang atau Korea Utara (khususnya di daera perdesaan), minimal 1 bulan sebelumnya melakukan vaksinasi Japanese Encephalitis.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Tips Menjaga Kesehatan Selama Bepergian

    Ada beberapa hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan saat bepergian untuk menjaga kesehatan, antara lain:

    1. Menggunakan masker
    2. Menjaga jarak dengan orang lain terutama saat berada di tempat umum
    3. Jaga kebersihan makanan dan minuman
    4. Lindungi diri dari gigitan serangga, dengan menggunakan lotion anti nyamuk
    5. Gunakan tabir surya untuk melindungi dari paparan sinar matahari 
    6. Gunakan perlengkapan alat pelindung keselamatan sesuai dengan aktivitas, misalnya menggunakan sabuk pengaman saat berkendara.
    7. Mencatat nomor telepon darurat atau fasilitas kesehatan terdekat dari hotel tempat Sahabat Sehat menginap di negara tujuan

    Baca Juga: Aman dan Nyaman Melakukan Imunisasi Kejar Anak dari Rumah

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai jenis imunisasi  yang diperlukan Si Kecil sebelum bepergian. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

     

    Referensi

    1. Tellado M. Do My Kids Need Vaccines Before Traveling? (for Parents).
    2. Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Vaksin Covid-19 untuk Anak, Aman.
    3. Citizens Information. Travelling abroad and vaccinations.
    4. Chang L. Your Travel Vaccine Checklist.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Holiday Tips.
    6. National Health Service. Travel vaccinations.
    Read More
  • Gondongan atau disebut juga mumps merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi paramyxovirus yang umumnya menyerang anak dan balita usia 5 hingga 9 tahun. Infeksi paramyxovirus menyerang kelenjar penghasil air liur yang terletak di sekitar telinga. Virus ini dapat ditularkan melalui percikan ludah dan lendir saat penderita gondongan bersin atau batuk. Meski demikian, […]

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Gondongan atau disebut juga mumps merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi paramyxovirus yang umumnya menyerang anak dan balita usia 5 hingga 9 tahun. Infeksi paramyxovirus menyerang kelenjar penghasil air liur yang terletak di sekitar telinga. Virus ini dapat ditularkan melalui percikan ludah dan lendir saat penderita gondongan bersin atau batuk.

    Meski demikian, gondongan pada anak harus ditangani segera sebelum menyebabkan komplikasi seperti seperti infeksi dan peradangan otak (misalnya meningitis, dan encephalitis) serta kehilangan pendengaran. Akan tetapi, saat ini penyakit gondongan sudah mulai berkurang berkat imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella)

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Penyebab Gondongan Pada Anak

    Gondongan terjadi akibat kelenjar parotis terinfeksi Paramyxovirus A. Kelenjar parotis ini terletak di bagian depan dan bawah setiap telinga yang berperan dalam memproduksi air liur. Anak dapat tertular melalui percikan air liur atau lendir hidung penderita gondongan. Misalnya saat terkena bersin atau batuk, maupun ketika berbagi gelas dan peralatan makan dengan orang yang terinfeksi. Meski demikian, risiko anak terkena gondongan dapar ditekan hingga 99% dengan mendapatkan dua kali imunisasi MMR. 

    Bagaimana Cara Penularan Gondongan ?

    Berikut beberapa cara penularan gondongan yakni :

    • Menghirup bersin atau cipratan liur ketika penderita gondongan batuk.
    • Menggunakan gelas dan peralatan makan bersama penderita gondongan.
    • Memegang benda, gagang pintu, atau permukaan barang yang telah terpapar virus gondongan, dan  tidak segera mencuci tangannya. 

    Virus penyebab gondongan umumnya menular sejak 2 hari sebelum munculnya gejala hingga 5 hari setelah gejala selesai.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Gondongan Pada Anak

    Gondongan memiliki gejala yang sangat khas, yakni munculnya pembengkakan di sekitar pipi, mulut, hingga leher bagian atas yang biasanya akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan kesakitan saat mengunyah atau menelan. Meski demikian gejala gondongan sudah dapat terlihat sejak sebelum terjadi pembengkakan pada kelenjar parotis, seperti:

    • Sakit kepala dan nyeri otot
    • Mulut kering
    • Kehilangan nafsu makan
    • Demam tinggi lebih dari 380C
    • Pembengkakan pada salah satu atau kedua kelenjar parotis di depan telinga dan menyilang ke sudut rahang.
    • Batuk dan pilek
    • Mudah lelah

    Kemudian dalam beberapa hari, kelenjar parotis akan semakin membengkak dan terasa nyeri hingga membuat pipi terlihat membesar. 

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Komplikasi Akibat Gondongan

    Bahkan pada beberapa kasus terutama apabila gondongan tidak ditangani dengan baik, beresiko mengakibatkan komplikasi seperti :

    • Infeksi pada otak dan selaput otak (Ensefalitis dan Meningitis)
    • Radang testis (Orkitis)
    • Radang ovarium (Ooforitis)
    • Radang pankreas (Pankreatitis)
    • Gangguan pendengaran

    Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa tips di bawah ini untuk membantu mengatasi gondongan pada Si Kecil, antara lain:

    • Istirahat yang cukup

    Untuk menekan risiko penyebaran virus serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh si Kecil, sebaiknya Si Kecil tetap beristirahat di rumah selama menderita gondongan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merekomendasikan agar anak tetap dirumah dan untuk sementara tidak berkegiatan di sekolah setidaknya selama lima hari setelah munculnya pembengkakan pada kelenjar. Berikan obat penurun demam atau pereda nyeri yang dijual bebas apabila Si Kecil demam dan merasa tidak nyaman. 

    • Berikan air yang cukup

    Gondongan pada anak akan menyebabkan sakit tenggorokan sehingga membuat Si Kecil kesulitan mengunyah dan menelan makanan secara normal, bahkan sebagian besar penderitanya akan kehilangan nafsu makan. Oleh karena itu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil, sebaiknya usahakan untuk memberi minum air putih yang cukup. 

    Baca Juga: Anak yang Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?

    • Menjaga kebersihan

    Selalu bersihkan dan desinfeksi rumah secara berkala dalam beberapa jam sekali, terutama pada benda atau permukaan yang sering disentuh oleh penderita gondongan. Sering cuci tangan secara teratur, menggunakan masker bagi penderita gondongan. Hindari berbagi minuman dan makanan, ataupun peralatan yang sama dengan penderita gondongan.

    • Kendalikan rasa sakit dengan cara alami

    Apabila gejalanya menjadi sangat tidak nyaman, Sahabat Sehat dapat memberikan obat pereda nyeri yang dijual bebas untuk membantu menurunkan peradangan sehingga membantu Si Kecil tidur lebih nyenyak. Selain itu, cara alami lainnya untuk mengatasi rasa sakit dan meredakan pembengkakan, nyeri otot, hingga sakit kepala dengan menggunakan minyak esensial dan menggunakan kompres es. 

    • Beri makanan bergizi seimbang 

    Sahabat Sehat dianjurkan memberikan makanan bergizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya sehingga dapat menurunkan resiko komplikasi gondongan. Jika Si Kecil sudah mulai kesulitan mengunyah, cobalah menghaluskan atau memasak makanan dengan antioksidan tinggi seperti sayuran dan buah yang dibuat menjadi smoothie dan sup hangat yang disukai  Si Kecil. 

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Imunisasi MR/MMR Mencegah Gondongan

    Penyakit gondongan dapat dicegah dengan cara melakukan imunisasi MR (Measles dan Rubella) ataupun MMR (Measles, Mumps dan Rubella). Imunisasi MR diberikan pada saat Si Kecil berusia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun. 

    Sementara imunisasi gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yakni imunisasi gabungan untuk campak, gondongan dan campak jerman dapat diberikan sebanyak 2 kali pada saat Si Kecil berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi MMR Bagi Mahasiswa

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara mengatasi gondongan pada anak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditinjau oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Mumps.
    2. About Kids Health. AboutKidsHealth.
    3. National Health Service. Mumps – Complications.
    4. Kidshealth.org. 2022. Mumps (for Parents).
    5. Boston Children Hospital. Mumps Symptoms & Causes.
    Read More
  • Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi. Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India. TBC pada anak biasanya […]

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi.

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India.

    TBC pada anak biasanya terjadi akibat anak menghirup bakteri TBC yang berada di udara. Bakteri ini kemudian terjebak didalam paru-paru dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, bahkan otak.

    Anak-anak berpeluang besar tertular TBC dari orang dewasa disekitarnya yang menderita penyakit tersebut, dibanding tertular dari teman sebayanya. Cara yang efektif untuk melindungi anak hingga mereka dewasa adalah dengan melakukan imunisasi BCG.

    Gejala TBC Pada Anak

    Gejala TBC pada anak bisa berbeda-beda dan cenderung lebih sulit dideteksi sehingga kerap terlambat mendapatkan penanganan. Berikut adalah beberapa gejala umumnya:

    • Demam
    • Penurunan berat badan
    • Pertumbuhan yang buruk
    • Batuk
    • Kelenjar getah bening tampak bengkak, beberapa lainnya mungkin mulai mengeluarkan cairan melalui kulit
    • Panas dingin

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Sedangkan pada anak yang lebih besar, berikut adalah beberapa gejala TBC yang paling umum ditemukan :

    • Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu
    • Sakit atau nyeri di dada
    • Batu disertai darah
    • Mudah lelah
    • Kelenjar getah bening bengkak
    • Penurunan berat bdan
    • Nafsu makan menurun
    • Demam
    • Berkeringat di malam hari
    • Panas dingin

    Gejala TBC terkadang terlihat seperti penyakit lainnya, konsultasikan dengan dokter untuk memastikannya.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Gejala Saat TB Menyerang Organ Tubuh Lain

    Infeksi TBC pada anak tidak hanya membahayakan paru-paru, tetapi juga seluruh organ tubuh lainnya. Oleh sebab itu, ada gejala khusus yang akan timbul saat organ tubuh tertentu diserang oleh bakteri tuberkulosis. Berikut beberapa organ tubuh anak yang paling sering di serang oleh infeksi TBC:

    Tuberkulosis kelenjar

    Biasanya terjadi pada kelenjar getah bening di leher, dengan ukuran diameter kurang lebih 1 cm. Benjolan terlihat seperti kelereng yang berderet dengan konsistensi yang kenyal, tetapi tidak nyeri.

    Tuberculosis otak dan selaput otak (meningitis TB)

    Infeksi TBC juga sangat mudah menyebar ke otak. Saat mengenai selaput otak, biasanya akan menjadi rewel, sakit kepala, kejang hingga kaku.

    Tuberkulosis tulang

    Gejala yang ditimbulkan tergantung pada bagian tulang yang terkena infeksi tuberkulosis, misalnya :

    • TB tulang belakang (spondylitis), ditandai dengan penonjolan tulang belakang (gibbus).
    • TB tulang panggul (koksitis), ditandai dengan gangguan berjalan, pincang, atau terjadi peradangan di daerah panggul.
    • TB tulang lutut (gonitis), ditandai dengan pincang dan/ bengkak pada area lutut tanpa ada sebab yang jelas. 
    • TB tulang kaki dan tangan (spina ventosa/ dactylitis), ditandai dengan pembengkakan pada area persendian kaki atau tangan. 

    Skrofuloderma

    Disebut juga sebagai tuberkulosis kulit. Ditandai dengan timbulnya luka atau borok yang disertai dengan fistula atau jembatan kulit antar tepi luka. Anak biasanya mengalami demam.

    Tuberkulosis usus

    Kondisi ini biasanya memiliki gejala berupa gangguan pada sistem pencernaan, seperti diare, kembung, dan nyeri perut. Infeksi TBC pada usus beresiko menyebabkan infeksi dan peradangan pada saluran cerna, yang disebut peritonitis TB.

    Tuberkulosis ginjal

    Infeksi ini akan dicurigai saat ditemukan gejala seperti gangguan buang air kecil, dimana urin yang keluar berwarna terlalu pekat dan menimbulkan nyeri pada pinggang tanpa adanya sebab yang jelas. 

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Pentingnya Imunisasi BCG

    Dengan memberikan vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin), si Kecil dapat terlindungi dari bahaya infeksi bakteri tuberkulosis. Imunisasi BCG sudah dapat diberikan sejak si Kecil lahir hingga berusia 1 bulan. Jika Si Kecil sudah berusia diatas 3 bulan, vaksin BCG masih bisa diberikan. Namun, sebelum melakukan imunisasi BCG dianjurkan untuk pemeriksaan tuberkulin terlebih dahulu.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengapa imunisasi BCG sangat penting bagi anak-anak Indonesia. Tidak hanya melindungi saat kecil, tapi juga kelak ia dewasa. Dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat dan mendapatkan imunisasi lengkap, anak terlindungi dari penyakit-penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. IDAI. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi I.
    2. CDC. Tuberculosis (TB) – TB Treatment for Children.
    3. TB Facts. TB in Children – Getting, diagnosing & treating TB.
    4. University of Rochester Medical Center. Tuberculosis (TB) in Children – Health Encyclopedia.
    5. Kids Health. Tuberculosis (for Parents).
    Read More
  • Penyakit tuberkulosis ternyata masih terus menyerang anak-anak Indonesia. Penyakit yang mudah sekali ditularkan melalui udara ini telah menginfeksi sekitar 824.000 orang di Indonesia pada tahun 2021, dimana 42.187 kasus diantaranya adalah anak-anak usia 0-14 tahun. Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengalihkan seluruh perhatian kepada penyakit yang juga tidak kalah mematikan ini. Beberapa akibatnya adalah cakupan imunisasi […]

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penyakit tuberkulosis ternyata masih terus menyerang anak-anak Indonesia. Penyakit yang mudah sekali ditularkan melalui udara ini telah menginfeksi sekitar 824.000 orang di Indonesia pada tahun 2021, dimana 42.187 kasus diantaranya adalah anak-anak usia 0-14 tahun.

    Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengalihkan seluruh perhatian kepada penyakit yang juga tidak kalah mematikan ini. Beberapa akibatnya adalah cakupan imunisasi anak menurun dan kasus penyakit tuberkulosis kembali meningkat dibandingkan tahun 2020.

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penularan tuberkulosis pada anak-anak terjadi melalui orang dewasa yang terinfeksi. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko anak terinfeksi tuberkulosis antara lain: status gizi, riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis, dan kepadatan hunian.

    Kasus tuberkulosis anak lebih banyak ditemukan pada anak di bawah lima tahun (balita) dengan rasio 22 kasus setiap 100.000 anak. Sedangkan pada anak usia 6-14 tahun, angka kejadiannya sekitar 14 kasus setiap 100.000 anak. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh anak balita belum sebaik anak-anak yang lebih tua dan kemampuannya dalam menjaga kebersihan diri masih lebih banyak bergantung kepada orang dewasa, selain juga masalah sosioekonomi.

    Kuman TBC bisa Menginfeksi selain Paru-paru

    Tahukah Sahabat Sehat kalau kuman tuberkulosis bisa menyerang organ selain paru-paru? Ya, walau mayoritas kasus tuberkulosis menyerang paru-paru, sebagian kecil lainnya menginfeksi organ seperti tulang dan sendi, kelenjar getah bening, selaput otak, saluran pencernaan, dan lain-lain.

    Cara penularannya masih sama dengan tuberkulosis paru, namun gejalanya berbeda. Jika biasanya gejala tuberkulosis paru-paru meliputi gangguan pernapasan seperti batuk berdahak disertai demam, hilang nafsu makan, dan penurunan berat badan, pada tuberkulosis di luar paru akan menunjukkan gangguan sesuai organ yang terinfeksi. Misalnya tuberkulosis saluran cerna dapat menunjukkan gejala sakit perut, diare atau sembelit, darah pada feses, dll.

    Tuberkulosis ekstra paru, atau di luar paru, juga banyak ditemui pada anak-anak. Penyakit tuberkulosis yang menyerang selaput otak, disebut juga meningitis tuberkulosis, paling sering ditemui pada anak di bawah usia 2 tahun dan orang dewasa dengan HIV/AIDS.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Cara tepat Mencegah Tuberkulosis

    Melihat tingginya kasus tuberkulosis di Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan, pemerintah terus menggalakkan program pencegahan dan pengobatan tuberkulosis di seluruh wilayah Indonesia. Tidak hanya itu, Menteri Kesehatan Budi Sadikin pun mengangkat isu ini pada pertemuan tingkat internasional G20. 

    Pencegahan tuberkulosis yang dapat dilakukan Sahabat Sehat dimulai dari menurunkan risiko penularan, yaitu:

    • memperbaiki status gizi anak dengan membiasakan makan makanan bergizi seimbang,
    • menghindari kontak dengan penderita tuberkulosis dan meminta penderita menggunakan masker, terutama pada masa infeksius, dan
    • melakukan imunisasi BCG agar tubuh anak membentuk kekebalan terhadap kuman tuberkulosis.

    Sesuai rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian imunisasi BCG dilakukan saat anak baru lahir hingga berusia 1 bulan. Bagi anak yang belum bisa melakukan imunisasi pada jadwal tersebut, maka ia dapat melakukan imunisasi kejar hingga usia 12 bulan didahului dengan konsultasi dokter.

    Sedangkan, jika anak terinfeksi tuberkulosis maka ia harus melakukan pengobatan hingga tuntas. Pengobatan tuberkulosis pada anak adalah sebuah tantangan tersendiri bagi orang tua karena memerlukan waktu lama. Maka, mencegah tuberkulosis adalah langkah yang terbaik untuk melindungi anak.

    Baca Juga: Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Program TOSS TB untuk skrining tuberkulosis

    Penyakit tuberkulosis bisa dideteksi melalui skrining. Saat ini Kementerian Kesehatan RI sedang menggalakkan program Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB) dalam rangka Hari Tuberkulosis 2022. Bersama dengan program ini, Klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat turut berpartisipasi untuk meningkatkan cakupan deteksi dini bagi masyarakat umum. Bagi Sahabat Sehat yang ingin mengikuti program skrining, Anda dapat menghubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Baca Juga: Terlambat Imunisasi BCG? Ini yang Harus Dilakukan!

    Imunisasi bersama Prosehat

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak bayi dan belum diimunisasi BCG, Prosehat melayani imunisasi anak yang dapat dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda.

    Biaya imunisasi BCG di klinik Prosehat sebesar Rp. 450.000 dan Rp. 720.000 untuk pelayanan ke rumah. Pemesanan layanan imunisasi sangat mudah. Sahabat Sehat cukup menghubungi Customer Service ProSehat atau melakukan pemesanan melalui website.

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya

    Layanan imunisasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat. Jadi, ayo segera jadwalkan imunisasi anak Anda bersama Prosehat. Produk imunisasi di Prosehat lengkap dan berkualitas, serta dilakukan oleh dokter profesional yang terlatih.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. TB Indonesia. Dashboard TB.
    2. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun.
    Read More
  • Moms, apakah waktu Anda terbatas untuk membawa Si Kecil imunisasi di fasilitas layanan kesehatan? Apakah Si Kecil trauma dibawa ke rumah sakit? Jika ya, Moms tak perlu lagi khawatir karena kini sudah tersedia layanan imunisasi ke rumah di Bekasi dari Klinik Prosehat Grand Wisata Bekasi Satu.  Manfaat Imunisasi Imunisasi adalah proses pemberian vaksin untuk membantu […]

    Warga Bekasi, Sekarang Imunisasi Anak Bisa di Rumah!

    Moms, apakah waktu Anda terbatas untuk membawa Si Kecil imunisasi di fasilitas layanan kesehatan? Apakah Si Kecil trauma dibawa ke rumah sakit? Jika ya, Moms tak perlu lagi khawatir karena kini sudah tersedia layanan imunisasi ke rumah di Bekasi dari Klinik Prosehat Grand Wisata Bekasi Satu. 

    Warga Bekasi, Sekarang Imunisasi Anak Bisa di Rumah!

    Warga Bekasi, Sekarang Imunisasi Anak Bisa di Rumah!

    Manfaat Imunisasi

    Imunisasi adalah proses pemberian vaksin untuk membantu membentuk kekebalan tubuh terhadap satu atau lebih penyakit berbahaya. 

    Beberapa penyakit di Indonesia telah berhasil ditekan dengan vaksinasi sehingga pemerintah mewajibkan sejumlah imunisasi untuk anak terhadap penyakit seperti – Hepatitis B, Polio, BCG, Campak Rubella, DPT-HB-HiB dan banyak lagi. 

    Vaksinasi dilakukan dengan tujuan utama sebagai berikut:

    1. Melindungi diri dari penyakit berbahaya
    2. Mencegah terjadinya wabah penyakit
    3. Mengurangi beban perawatan jika terjadi infeksi.

    Baca Juga: 5 Tips Mencegah Tipes Menjelang Ujian Sekolah

    Kemudahan Imunisasi di Rumah

    Imunisasi kini dapat dengan mudah dilakukan di rumah untuk semua kelompok umur. Dengan adanya kemudahan dan kenyamanan ini diharapkan semakin banyak lagi anak-anak yang dapat melengkapi imunisasinya dan terlindungi dari penyakit.

    Berikut adalah tiga manfaat utama dari layanan imunisasi di rumah.

    • Nyaman dan hemat waktu

    Manfaat paling nyata dari layanan imunisasi di rumah adalah Moms dan Si Kecil bisa mendapatkan kenyamanan rumah sendiri saat melakukan layanan kesehatan.

    Moms juga tidak harus pergi ke rumah sakit atau klinik dan menunggu giliran dalam antrian panjang. Jadi, tidak hanya Moms menghemat biaya perjalanan tetapi juga waktu dan energi yang berharga.

    • Anak rileks dalam suasana rumah yang familiar

    Umumnya, imunisasi dapat menimbulkan stres pada anak-anak sehingga orang tua menunda jadwal imunisasi. Dengan berada di dalam suasana yang anak sudah familiar, ia akan merasa lebih rileks dan memudahkan orang tua atau pendamping saat menghiburnya setelah imunisasi.

    • Jadwal yang fleksibel

    Tersedianya layanan imunisasi ke rumah juga memungkinkan orang tua untuk memilih dan menyesuaikan tanggal dan waktu untuk vaksinasi sesuai kesibukan Anda. Jadi, bagi orang tua yang bekerja atau padat jadwal, Anda hanya perlu meluangkan sedikit waktu ekstra sebelum atau setelah kerja untuk imunisasi anak.

    Bagaimana, Moms? Nyaman dan mudah ya imunisasi anak di rumah! Tidak hanya itu, ternyata lengkap sekali manfaat dari imunisasi di rumah. Ayo Moms, manfaatkan layanan imunisasi di rumah dari Prosehat. 

    Baca Juga: Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Biaya Layanan Imunisasi di Rumah

    ProSehat adalah penyedia layanan kesehatan unggulan yang dapat diandalkan keluarga Indonesia untuk layanan kesehatan yang terpercaya. Bagi Moms yang tinggal di Bekasi, kini Prosehat hadir semakin dekat dengan Anda melalui klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi Satu. 

    Berikut kisaran harga layanan imunisasi anak di rumah oleh Prosehat:

    Layanan Imunisasi di Rumah
    Imunisasi Hepatitis B Rp 480.000
    Imunisasi Flu 4 Strain Anak (usia 6 bulan ke atas) Rp 550.000
    Imunisasi Combo 5 (DPT – Hib – Hepatitis B) Rp 550.000
    Imunisasi Campak Rp 570.000
    Imunisasi Rotavirus Rp 700.000
    Imunisasi BCG Rp 720.000
    Imunisasi Hepatitis A (untuk Anak) Rp 770.000
    Imunisasi Polio (Suntik) Rp 800.000
    Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) Rp 900.000
    Paket Imunisasi Flu 4 Strain Anak (2 kali suntik) Rp 990.000
    Paket Imunisasi Balita 3 tahun (Hepatitis A + Flu 4 Strain) Rp 1.050.000
    Paket Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) + Flu 4 Strain Rp 1.100.000
    Paket Imunisasi Combo 5 (DPT, Hib, Polio) Rp 1.200.000
    Imunisasi Pneumonia (PCV-13) Anak Rp 1.200.000
    Paket Imunisasi Bayi 9 Bulan – MR + Flu 4 Strain Rp 1.200.000
    Paket Imunisasi Combo 6 (DPTa, Hep B, IPV, Hib) Rp 1.250.000
    Paket Imunisasi Hepatitis B (untuk Anak) (3 kali suntik) Rp 1.360.000
    Paket Imunisasi Pneumonia (PCV-13) + Flu 4 Strain Rp 1.400.000
    Paket Imunisasi Hepatitis A (untuk Anak) (2 kali suntik) Rp 1.440.000
    Paket Imunisasi Pneumonia (PCV-13) + Rotavirus Rp 1.600.000
    Paket Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) + Pneumonia (PCV-13) Rp 1.750.000
    Paket Imunisasi Rotavirus ke Rumah (3 kali suntik) Rp 2.000.000

    Semua layanan imunisasi dari Prosehat dilakukan oleh dokter profesional dan berpengalaman, serta menggunakan vaksin dengan kualitas terbaik dan terjaga.

    Baca Juga: Usia Berapa Saja Anak Perlu Imunisasi MMR?

    Apabila Moms membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. ProSehat. ProSehat sedia BEKASI Klinik Kasih Grand Wisata.
    2. Health @ Homes. Benefits of Availing Vaccination Services at Home.
    3. Kemenkes – Sehat Negeriku. Imunisasi Kejar, Lengkapi Imunisasi Dasar Anak yang Tertunda.
    Read More
  • Bulan Imunisasi Anak Nasional tahun 2022 sudah dimulai. Kegiatan ini diawali di 7 Kabupaten/ Kota di Kepulauan Riau dengan sekitar 24 ribu sasaran. Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi rutin anak yang sempat menurun selama pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 1,7 juta anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap selama pandemi. […]

    Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Bulan Imunisasi Anak Nasional tahun 2022 sudah dimulai. Kegiatan ini diawali di 7 Kabupaten/ Kota di Kepulauan Riau dengan sekitar 24 ribu sasaran. Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi rutin anak yang sempat menurun selama pandemi Covid-19.

    Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 1,7 juta anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap selama pandemi. Terbanyak di Jawa Barat, lalu Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat dan DKI Jakarta.

    Pemberian imunisasi efektif melindungi anak-anak dari penyakit menular berbahaya sehingga anak lebih sehat dan produktif. Manfaat dari imunisasi juga diketahui jauh lebih besar dibandingkan dampak yang ditimbulkan di masa depan.

    Pelaksanaan BIAN bertahap

    Pelaksanaan BIAN dilakukan selama satu bulan secara bertahap di seluruh provinsi Indonesia. Tahap pertama dilaksanakan mulai Mei 2022 di seluruh provinsi di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tahap kedua dilaksanakan mulai Agustus 2022 di seluruh provinsi di Jawa dan Bali.

    Terlaksananya Bulan Imunisasi Anak Nasional meliputi kegiatan imunisasi tambahan Campak Rubela dan imunisasi kejar (OPV, IPV dan DPT-HB-Hib) dengan baik dan dapat mencapai target yang diharapkan. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Imunisasi Anak di Rumah, Mudah, dan Nyaman

    Bagi Moms yang tinggal di Jakarta dan anak-anaknya belum melengkapi imunisasi dasar akibat pandemi atau ingin imunisasi karena sudah waktunya, Prosehat melayani program imunisasi agar Si Kecil terlindungi dari berbagai bahaya penyakit menular. Dalam program imunisasi rutin maupun imunisasi kejar Prosehat, Moms dapat berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu terkait jenis imunisasi yang akan diberikan dan jadwalnya.

    Selain imunisasi dasar, Prosehat juga melayani imunisasi rekomendasi sesuai jadwal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2020. Antara lain imunisasi influenza, hepatitis A, tifoid, yellow fever, varicella, Japanese encephalitis, dan sebagainya.

    Tidak hanya itu, layanan imunisasi dapat dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi Satu dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Moms dan Si Kecil.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Berikut beberapa daftar imunisasi yang tersedia di layanan vaksinasi di rumah.

    Layanan Vaksinasi di Rumah Prosehat
    Imunisasi Flu 4 Strain Anak (usia 6 bulan ke atas) Rp 550.000
    Imunisasi Campak  Rp 570.000
    Imunisasi Rotavirus Rp 700.000
    Imunisasi BCG  Rp 720.000
    Imunisasi Polio (Suntik)  Rp 800.000
    Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR)  Rp 900.000
    Imunisasi Varicella (Cacar Air)  Rp 1.100.000
    Imunisasi Pneumonia (PCV-13) Anak  Rp 1.200.000

    Program layanan vaksinasi ke rumah menjadi cara imunisasi yang aman dan efektif untuk anak. Dengan vaksinasi di rumah maka Moms dapat meminimalisir paparan virus dan penyakit di luar rumah. Selain itu, proses vaksinasi menjadi lebih nyaman bagi anak dan jadwal imunisasi yang fleksibel bisa menyesuaikan dengan kesibukan Moms.

    Baca Juga: 5 Manfaat Vaksin HiB (Haemophilus Influenza Tipe B) pada Anak!

    Layanan vaksinasi ke rumah dari Prosehat mempunyai berbagai keunggulan. Prosehat memberikan layanan panggil dokter imunisasi ke rumah dengan harga hemat dan terjangkau. Terdapat berbagai macam pilihan imunisasi dari satuan hingga paket lengkap dengan berbagai promo menarik. 

    Mengapa vaksinasi dengan ProSehat?

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter profesional berizin resmi
    • Mudah tanya jawab tentang vaksinasi dengan asisten Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Moms membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. ProSehat. Paket Layanan Imunisasi Anak, Bayi & Balita Bersama Prosehat.
    2. Kemenkes – Sehat Negeriku. Kemenkes Canangkan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di Kepulauan Riau.
    3. Okezone. Gubernur Anies Ajak Warga Jakarta Lengkapi Imunisasi Anak.
    Read More
  • Umumnya bayi akan buang air kecil atau pipis dan berganti popok sekitar enam kali dalam sehari. Namun pada kondisi tertentu, bayi Anda mungkin akan lebih jarang pipis. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab bayi jarang pipis? Frekuensi Normal Bayi Buang Air Kecil Bayi yang baru lahir cenderung lebih sering pipis dibanding anak yang sudah lebih […]

    Kenali Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil

    Umumnya bayi akan buang air kecil atau pipis dan berganti popok sekitar enam kali dalam sehari. Namun pada kondisi tertentu, bayi Anda mungkin akan lebih jarang pipis. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab bayi jarang pipis?

    Kenali Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil

    Kenali Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil

    Frekuensi Normal Bayi Buang Air Kecil

    Bayi yang baru lahir cenderung lebih sering pipis dibanding anak yang sudah lebih besar. Idealnya, bayi akan pipis setiap satu jam atau setiap tiga jam sekali. Dengan kata lain, ia bisa buang air kecil sebanyak 4 hingga 8 kali dalam sehari. Hal ini karena kandung kemih bayi hanya dapat menampung sekitar 30-40 ml urin, sehingga bila bayi minum atau menyusu dengan baik, ia akan buang air kecil lebih sering. Akan tetapi, jika cuaca sedang panas, frekuensi pipis bayi biasanya akan berkurang hingga setengahnya. Sebab, pada kondisi panas bayi biasanya akan lebih banyak berkeringat daripada pipis. Keringat adalah cara lain tubuh mengeluarkan sisa cairan. 

    Kondisi seperti ini adalah hal yang normal, jadi Anda tak perlu cemas dan khawatir. Cukup pastikan asupan ASI atau susu formula si kecil tercukupi. Namun, apabila bayi tidak pipis atau popoknya tidak basah sama sekali selama seharian penuh, Anda perlu memperhatikan lebih lanjut hal-hal di bawah ini. 

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil 

    Jarang pipis pada bayi bukanlah kondisi yang dapat disepelekan. Sebab, frekuensi buang air kecil pada bayi berkaitan erat dengan kesehatan sistem perkemihannya. Pipis atau urin yang dikeluarkan bayi merupakan zat sisa yang harus dikeluarkan secara rutin. 

    Baca Juga: Solusi Terbaik Mengatasi Anak Susah Tidur di Malam Hari

    Bayi dianggap jarang pipis apabila frekuensi berkemihnya kurang dari 3 kali dalam sehari, tidak pipis sama sekali selama 6 jam, atau jika jumlah urin berkurang dari 1 ml/kg BB/jam. Jika urinnya kurang dari jumlah tersebut, cek untuk kemungkinan terjadinya kondisi berikut:

    Dehidrasi atau kekurangan cairan

    Dehidrasi adalah salah satu penyebab utama bayi jarang buang air kecil, khususnya pada bayi usia dibawah 6 bulan. Dehidrasi sangat rentan terjadi ketika bayi sedang demam, muntah-muntah, diare, atau muntaber. Dehidrasi umumnya ditandai dengan berkurangnya frekuensi dan jumlah pipis bayi, yang dapat Anda ketahui dengan berkurangnya jumlah penggantian popok. Selain itu, dehidrasi juga dapat menimbulkan beberapa gejala lainnya, seperti:

    • Saat menangis hanya mengeluarkan sedikit air mata atau tidak sama sekali
    • Lebih rewel dari biasanya
    • Fontanel (bagian lunak pada ubun-ubun bayi) terlihat cekung atau lebih rata dari biasanya
    • Kulit menjadi kering atau keriput, terutama pada lengan, perut, dan kaki
    • Bayi terlihat lemas dan lesu
    • Sering mengantuk
    • Detak jantung terlalu cepat atau justru melambat
    • Mata terlihat lelah dan cekung.

    Apabila bayi Anda mengalami tanda-tanda diatas, upaya awal yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan frekuensi pemberian asupan cairan. Jika biasanya bayi menyusu setiap 3 jam sekali, maka pada kondisi ini lakukanlah setiap 30 menit sekali. 

    Pada bayi usia diatas 6 bulan, Anda boleh memberikannya oralit, terutama jika Si Kecil mengalami diare. Namun, jika kondisi bayi tidak kunjung membaik dan justru semakin malas untuk minum, segeralah bawa si Kecil ke dokter. 

    Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Gangguan pada Saluran Kemih

    Urin yang dihasilkan oleh ginjal akan melewati saluran kemih. Namun, jika ada gangguan pada saluran ini, seperti infeksi, sumbatan, penyempitan, ataupun kelainan bentuk, frekuensi buang air kecil dan jumlah urin si Kecil dapat terganggu. 

    Apabila jarang pipis pada bayi disebabkan oleh gangguan pada saluran kemihnya, keluhannya mungkin akan disertai dengan gejala berikut ini:

    • Demam
    • Anyang-anyangan, sering pipis tapi hanya sedikit dengan sensasi tidak nyaman
    • Malas makan dan lebih rewel dari biasanya
    • Urin menjadi kental, berwarna gelap dan berbau tidak sedap.

    Kondisi ini jangan dianggap remeh, dan perlu segera diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

    Gangguan Ginjal

    Ginjal adalah organ penting yang berfungsi untuk menyaring dan membuang zat sisa melalui urin. Jika fungsi ginjal terganggu, produksi urin bisa menurun, sehingga membuat bayi lebih jarang pipis. 

    Gangguan ginjal dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya faktor genetik, cidera, infeksi, hingga penyakit tertentu. Oleh sebab itu, apabila Si Kecil sama sekali tidak buang air kecil atau jarang pipis padahal asupan cairannya cukup dan tubuhnya tampak membengkak disertai kulit yang pucat, segera periksakan ke dokter. 

    Kapan Harus Ke Dokter?

    Meskipun jarang buang air kecil adalah hal yang wajar bagi bayi sampai dengan batas tertentu, Anda tetap harus tetap waspada dan mencari tahu penyebabnya. Segera bawa Si Kecil berobat ke dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai. Pasalnya, jarang pipis yang disebabkan oleh dehidrasi merupakan kondisi yang cukup berbahaya. Bahkan menurut World Health Organization (WHO), dehidrasi adalah salah satu penyebab kematian anak di bawah usia 5 tahun.

    Baca Juga: Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

    Sahabat Sehat, selalu waspada terhadap kondisi kesehatan Si Kecil, termasuk bila ia jarang buang air kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. NIDDK. Kidney Disease in Children.
    2. Verywell Family. Answers to Common Questions About Baby Pee.
    3. Virtual pediatric hospital. Virtual Pediatric Hospital: CQQA: Dehydration.
    4. Healthy Children. Baby’s First Days: Bowel Movements & Urination.
    5. CDC. Urine Output.
    Read More
  • Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa. Pemberian imunisasi pada anak pada program imunisasi nasional maupun yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan swasta diketahui menurun semenjak Covid-19. Kondisi ini amat mengkhawatirkan mengingat penurunan cakupan imunisasi pada beberapa penyakit dapat mengakibatkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa (KLB). […]

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa.

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Pemberian imunisasi pada anak pada program imunisasi nasional maupun yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan swasta diketahui menurun semenjak Covid-19. Kondisi ini amat mengkhawatirkan mengingat penurunan cakupan imunisasi pada beberapa penyakit dapat mengakibatkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa (KLB).

    Penurunan cakupan imunisasi ini diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga para orang tua takut untuk memberikan imunisasi untuk anak-anaknya. Para orangtua rata-rata khawatir anaknya tertular Covid-19 saat membawa anak ke fasilitas kesehatan.Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Anak Indonesia, Prof. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K) mengatakan para orang tua dianjurkan segera melengkapi imunisasi anaknya meski sedang pandemi Covid-19 sehingga Si Kecil menerima imunisasi dasar lengkap.

    Menurut UNICEF, sejak Maret 2020, terjadi penurunan angka imunisasi anak di seluruh Indonesia. Pada Mei 2020 misalnya, vaksinasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT3) serta campak dan Rubella turun sebanyak 35% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ikatan Dokter Anak Indonesia Menegaskan bahwa program imunisasi dasar anak, sangatlah penting untuk kesehatan anak dan menurunkan resiko terkena penyakit menular pada masa mendatang.

    Badan Kesehatan Dunia atau yang disebut WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa pemberian imunisasi anak diwajibkan guna melindungi Si Kecil dari sejumlah penyakit infeksi. Lewat imunisasi, Si Kecil mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu yang membahayakan kesehatan dan bahkan mengancam jiwa.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Mengapa Tidak Boleh Menunda Imunisasi Anak?

    IDAI meminta orangtua agar tidak menunda imunisasi anak demi kepentingan bersama. Ketika menunda imunisasi, resiko terjadinya wabah suatu penyakit menular akan bertambah. Sebab, imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk mencegah munculnya wabah.

    Kementerian Kesehatan dan IDAI telah menyusun jadwal imunisasi anak sesuai dengan usianya. Pemberian imunisasi sebaiknya mengikuti jadwal seharusnya untuk memastikan efektivitas vaksin tersebut. Pandemi Covid-19 dapat memicu terjadinya pandemi penyakit lain akibat turunnya angka imunisasi anak. Bila terjadi lebih dari satu pandemi dalam waktu yang bersamaan, tidak dapat dibayangkan dampak yang terasa oleh masyarakat.

    Baca Juga: Terlambat Imunisasi BCG? Ini yang Harus Dilakukan!

    Pentingnya Imunisasi Dasar

    Setiap manusia yang lahir, pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan tubuh alami sejak Si Kecil berada didalam kandungan untuk melindunginya dari serangan penyakit. Namun, sistem kekebalan tubuh Si Kecil masih belum sempurna dan optimal seperti sistem imun orang dewasa sehingga mereka gampang sakit. Jadi, pentingnya imunisasi adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil sejak baru dilahirkan.

    Imunisasi adalah cara memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil sehingga kebal akan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit dan lainnya. Melalui imunisasi dasar, berarti orang tua membantu melindungi Si Kecil dari berbagai resiko penyakit dimasa yang akan datang. Imunisasi akan membantu daya tahan tubuh Si Kecil agar memproduksi antibodi khusus untuk melawan jenis penyakit tertentu.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Jenis Imunisasi yang Dapat Dilakukan Pada Anak

    Berikut ini imunisasi wajib yang diberikan pada usia anak-anak menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.42 Tahun 2013 dan No.12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, disebutkan bahwa ada 5 jenis imunisasi wajib yang harus diperoleh Si Kecil yaitu:

    Imunisasi Hepatitis B

    Imunisasi hepatitis B diberikan sebanyak 4 kali. Pemberian pertama segera setelah bayi lahir dan paling lambat 12 jam setelah bayi dilahirkan, kemudian dilanjutkan pada usia 2,3,dan 4 bulan.

    Imunisasi Polio

    Imunisasi polio diberikan dalam bentuk tetes mulut, namun ada juga yang berbentuk suntikan. Imunisasi polio diberikan sebanyak 4 kali, yaitu pada saat bayi baru lahir atau paling lambat usia 1 bulan, kemudian usia 2, 3 dan 4 bulan. Sedangkan vaksin suntik diberikan sebanyak 1 kali yaitu pada usia 4 bulan.

    Imunisasi BCG

    Imunisasi BCG atau imunisasi yang dilakukan untuk mencegah penyakit TBC, dilakukan  sebanyak 1 kali dan diberikan pada saat bayi berusia 2 atau 3 bulan. Imunisasi ini diberikan melalui suntikan pada kulit Si Kecil.

    Imunisasi Campak

    Imunisasi campak pada anak diberikan sebanyak 3 kali, yaitu saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan 6 tahun. Namun, apabila Si Kecil sudah melakukan pemberian imunisasi MR/MMR pada usia 15 bulan, maka imunisasi campak pada usia 18 bulan tidak diperlukan lagi.

    Imunisasi DPT-HB-Hib

    Imunisasi ini dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis. Imunisasi ini diberikan pada usia 2,3,4, dan 18 bulan.

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap untuk Bayi

    Apabila Si Kecil Tidak di Imunisasi

    Berikut ini resiko bila si kecil tidak diimunisasi:

    Sistem kekebalan tubuh tidak kuat dalam menghadapi penyakit

    Anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti hepatitis, TBC, batuk rejan dan difteri.  

    Resiko komplikasi akibat penyakit menular

    Anak yang tidak diimunisasi memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang menyebabkan kecacatan pada bayi bahkan kematian. Hal ini disebabkan tubuh Si Kecil tidak mendapatkan kekuatan dari sistem pertahanan khusus yang dapat mendeteksi jenis penyakit berbahaya tertentu. Sehingga, kuman akan lebih mudah berkembang biak dan menginfeksi.

    Membahayakan anak atau orang lain disekitarnya

    Kasus-kasus penyakit menular di kalangan kelompok rentan dapat berkembang menjadi wabah di masyarakat. Untuk alasan inilah pemerintah masih memberikan imunisasi polio kepada anak untuk mencegah penyakit ini kembali mewabah.

    Penurunan kualitas hidup

    Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki resiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas atau cacat menetap. Contohnya, campak dapat menyebabkan komplikasi kebutaan. Atau polio dapat menyebabkan kelumpuhan dan cacat permanen.

    Resiko penurunan harapan hidup

    Vaksinasi yang tidak lengkap akan menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap akan mudah tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya menurun.

    Tips Mencegah Penularan Covid-19 Saat Imunisasi Anak

    Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari penyebaran virus corona saat membawa si kecil vaksinasi ke fasilitas kesehatan:

    1. Buat janji temu dengan Dokter atau Fasilitas Kesehatan penyedia jasa imunisasi
    2. Seleksi tempat imunisasi yang memenuhi standar protokol kesehatan
    3. Terapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak aman dengan orang lain, mencuci tangan atau membawa hand sanitizer.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pentingnya memberikan imunisasi untuk Si Kecil meski dalam masa pandemi Covid-19. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan. Orang Tua Wajib Lengkapi Imunisasi Dasar Anak Meski Pandemi COVID-19.
    2. UNICEF. Imunisasi Rutin pada Anak Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia: Persepsi Orang tua dan Pengasuh.
    3. Dahlan. Bolehkah Menunda Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19?
    4. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun.
    5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya.
    6. UNICEF. 7 konsekuensi dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi rutin.
    7. Centers of Disease Control and Prevention. Not Vaccine Risk.
    Read More
  • Tuberkulosis pada anak perlu mendapat perhatian karena kesulitan dalam mendiagnosis dan peningkatan risiko efek samping obat TB pada anak. Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait salah satu penyakit menular paling mematikan. Tanggal tersebut ditetapkan bertepatan dengan ditemukannya bakteri penyebab TB oleh Dr. Robert […]

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022: Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Tuberkulosis pada anak perlu mendapat perhatian karena kesulitan dalam mendiagnosis dan peningkatan risiko efek samping obat TB pada anak.

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022 Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022: Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait salah satu penyakit menular paling mematikan. Tanggal tersebut ditetapkan bertepatan dengan ditemukannya bakteri penyebab TB oleh Dr. Robert pada tahun 1882. 

    Indonesia berada pada peringkat ketiga dari delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TB tertinggi di seluruh dunia dengan persentase 8% setelah India 27% dan China 9%. Pada tahun 2021, diperkirakan ada 824.000 kasus TB dengan total kematian sebanyak 13.110 orang. 

    Meski mematikan dan mudah menular, TB sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Berdasarkan data WHO, upaya pemberantasan TB secara global telah menyelamatkan sekitar 66 juta jiwa sejak tahun 2020. Akan tetapi, mengonsumsi obat-obatan TB diketahui juga dapat menimbulkan berbagai efek samping terhadap penderita, terutama pada anak-anak penderita TB. Apa saja yang perlu diwaspadai? Simak penjelasannya di bawah ini.

    Apa itu Tuberkulosis?

    Tuberkulosis (TB) adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Selain menyerang paru-paru, bakteri ini juga dapat menyerang organ vital lain seperti ginjal, tulang belakang, hingga otak. 

    Umumnya, bakteri penyebab TB menyebar melalui udara saat penderita batuk, berbicara, atau tertawa. Bakteri yang terhirup oleh individu yang sehat akan meningkatkan risiko terinfeksi TB. Gejala TB pada anak berupa gejala umum (sistemik) dan sesuai organ terkait. Gejala umumnya meliputi:

    • Berat badan turun, tidak naik selama 2 bulan terakhir, atau gagal tumbuh (failure to thrive)
    • Demam lama (> 2 minggu) atau berulang
    • Batuk lama (> 2 minggu) dan memburuk
    • Lesu dan anak kurang aktif bermain

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Selain paru-paru, TB dapat menginfeksi organ tubuh lain, atau disebut juga sebagai tuberkulosis ekstra paru. Dengan demikian, gejala yang timbul juga bervariasi sesuai dengan organ yang terlibat seperti kelenjar getah bening, sistem saraf pusat (otak), tulang, mata, kulit, dan sebagainya.

    Orang dengan HIV/AIDS, kanker dan penyakit kronis lebih rentan terinfeksi TB. Namun, penularan TB dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, serta menerapkan protokol kesehatan. Khusus bagi anak, jangan lupa untuk vaksinasi TB anak (BCG) di usia 1 bulan. Bila telat, vaksinasi dapat dikejar sampai dengan usia 12 bulan. 

    Pengobatan Infeksi TB untuk Anak

    Penyakit TB pada anak dapat diobati dengan mengonsumsi beberapa obat anti-TB (OAT) selama enam bulan atau lebih, tergantung pada respon pengobatan. Pengobatan dibagi menjadi dua fase, yaitu fase intensif selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4 bulan.

    Pengobatan TB harus dilakukan dengan benar karena anak dapat kembali sakit bila terapi tidak diselesaikan. Selain itu, apabila obat tidak diminum dengan benar, bakteri yang masih hidup dapat menjadi resisten atau kebal terhadap obat tersebut. TB yang resisten terhadap obat akan lebih sulit disembuhkan dan lebih mahal biaya pengobatannya bila suatu hari anak kembali sakit. Durasi pengobatan juga akan berlangsung lebih lama sampai 18-24 bulan. 

    Baca Juga: Cegah Tuberkulosis pada Anak dengan Daya Tahan Tubuh Anak yang Kuat

    Efek Samping Obat Anti TB pada Anak

    Serupa dengan obat-obatan pada umumnya, pengobatan TB juga memiliki risiko menimbulkan berbagai efek samping, baik ringan maupun berat. Namun, efek samping obat TB pada anak lebih jarang terjadi dibandingkan dewasa.

    Efek samping yang ditimbulkan pun dapat bervariasi antar individu walau menjalani pengobatan yang sama. Berikut beberapa efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan obat tuberkulosis:

    • Mual atau muntah dan gangguan nafsu makan
    • Gangguan saraf seperti kram, kesemutan, dsb.
    • Gangguan pengelihatan
    • Peradangan hati
    • Kerusakan ginjal
    • Reaksi alergi
    • Gangguan fungsi pendengaran.

    Baca Juga: Bahaya TB pada Anak yang Perlu Sahabat Ketahui

    Penanganan Efek Samping dari Obat Anti TB

    Apabila Si Kecil mulai menunjukkan efek samping OAT, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Umumnya, dokter akan menyesuaikan dosis obat, mengganti obat, dan/atau menambahkan obat penangkal setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. 

    Tapi ingat, jangan langsung menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Sebab, hal itu justru akan membuat Anda lebih berisiko mengalami TB resisten obat (TB-MDR). Kondisi tersebut akan membuat bakteri kebal terhadap obat TB sehingga lebih menyulitkan pengobatan.

    Baca Juga: 7 Gejala TB Paru pada Si Kecil

    Sahabat Sehat, infeksi tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan. Bila anak Anda terinfeksi, berikan dukungan penuh selama proses pengobatan agar ia mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Waspadai juga gejala-gejala dari efek samping obat TB pada anak seperti di atas dan konsultasikan dengan dokter.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi 

    1. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) Tahun 2021.
    2. Humanities, A. Hari Tuberkulosis Sedunia 2021.
    3. WHO. World TB Day.
    4. Rxlist. Side Effects Drug Center.
    5. Mayo Clinic. Tuberculosis – Symptoms and causes.
    6. TB Alert. Side effects – TB Alert.
    7. TB Indonesia. Dashboard TB.
    Read More
  • Ketahui tips liburan ke luar negeri di masa transisi covid-19, Libur panjang seperti libur di akhir tahun ajaran sekolah memang paling ditunggu-tunggu. Libur panjang seperti libur di akhir tahun ajaran sekolah memang paling ditunggu-tunggu. Apalagi setelah angka kasus Covid-19 di Indonesia akhirnya mereda. Bagi orang tua yang akan bepergian ke luar negeri bersama Si Kecil, […]

    Persiapan Mengajak Si Kecil Berlibur ke Luar Negeri di Masa Transisi Covid-19

    Ketahui tips liburan ke luar negeri di masa transisi covid-19, Libur panjang seperti libur di akhir tahun ajaran sekolah memang paling ditunggu-tunggu.

    Persiapan Mengajak Si Kecil Berlibur ke Luar Negeri di Masa Transisi Covid-19

    Persiapan Mengajak Si Kecil Berlibur ke Luar Negeri di Masa Transisi Covid-19

    Libur panjang seperti libur di akhir tahun ajaran sekolah memang paling ditunggu-tunggu. Apalagi setelah angka kasus Covid-19 di Indonesia akhirnya mereda. Bagi orang tua yang akan bepergian ke luar negeri bersama Si Kecil, ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum pergi di masa transisi endemi Covid-19, terutama bagi balita yang belum bisa divaksinasi Covid-19. Yuk simak ulasannya!

    Vaksinasi adalah Kunci

    Saat naik pesawat, ruangan dalam pesawat terlihat tertutup dan kurang ventilasi. Namun, faktanya, setiap maskapai penerbangan pastinya memiliki sistem ventilasi yang baik dan dilengkapi dengan filter berkualitas tinggi.

    Dari beberapa pengamatan menyebutkan bahwa belum ada bukti kuat bahwa naik pesawat dapat meningkatkan risiko penularan virus Corona. Sehingga, saat mengajak Si Kecil naik pesawat, orang tua tidak perlu khawatir selama protokol kesehatan dijalankan dengan benar.

    Namun demikian, bagi anak balita yang belum bisa mendapatkan vaksinasi Covid-19, orang tua harus memastikan bahwa ia telah melengkapi imunisasi dasarnya. Akan lebih baik, bila imunisasi rekomendasi juga dilengkapi karena anak akan memiliki perlindungan ekstra saat berkunjung ke tempat baru.

    Bagi anak usia 6-17 tahun, vaksinasi Covid-19 sudah tersedia. Maka segera lengkapi kedua dosisnya.

    Lakukan imunisasi beberapa bulan sebelum keberangkatan karena vaksin memerlukan waktu sebelum bisa memberikan perlindungan efektif.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Tips Mengajak Si Kecil Naik Pesawat

    1. Barang harus dalam kondisi bersih

    Bersihkan barang-barang yang sering dipegang anak, serta bersihkan tempat duduk atau meja yang hendak digunakannya.

    2. Barang menyesuaikan kebutuhan anak

    Siapkan barang-barang yang biasanya digunakan anak Anda, mulai dari yang utama seperti popok dan susu, hingga snack/ makanan dan mainan untuk menemaninya selama perjalanan.

    Siapkan barang-barang tersebut dan cuci terlebih dahulu sebelum dibawa berpergian dan masukkan ke dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi dengan kuman.

    3. Makanan dalam wadah yang tertutup rapat

    Perhatikan wadah atau kemasan makanan si kecil, usahakan ditaruh di wadah yang tertutup rapat untuk menghindari kontaminasi kuman.

    Baca Juga: Aman dan Nyaman Melakukan Imunisasi Kejar Anak dari Rumah

    4. Menggunakan masker

    Dalam rekomendasi WHO, anak balita tidak diwajibkan menggunakan masker. Sedangkan, anak 6-17 tahun diwajibkan menggunakan masker. Namun, bila orang tua dapat mensupervisi penggunaan masker pada anak balita, ia boleh menggunakannya dalam waktu yang tidak terlampau lama.

    Pilih masker sesuai dengan ukuran anak agar tidak terlalu ketat hingga membuatnya sulit bernapas, ataupun terlalu longgar sehingga memberi celah untuk kuman masuk.

    5. Jaga jarak aman minimal 1 meter antara anak dengan orang lain

    Ingatkan selalu pada anak untuk menjaga jarak fisik dan sosial ketika berpergian. Sebaiknya juga menjauhi orang yang sakit saat berada di luar rumah.

    6. Membawa hand-sanitizer

    Cuci tangan dengan benar menggunakan air mengalir. Bila tempat cuci tangan tidak ada, cuci bersih tangan menggunakan hand sanitizer terutama setelah menyentuh fasilitas umum.

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi COVID-19?

    7. Tidak menyentuh mata, hidung dan mulut

    Seringkali Si Kecill tidak sadar ketika menyentuh wajah sebelum ia mencuci tangan. Maka dari itu, orang tua perlu memperhatikan dan mengingatkan kebiasaan Si Kecil.

    8. Utamakan aktivitas di tempat terbuka

    Pilihlah tempat terbuka saat berpergian dan pilihlah tempat yang tidak terlalu banyak pengunjung.4,5 Bila Anda mengajak anak ke dalam ruangan, pastikan bahwa ruangan memiliki ventilasi yang baik dan tidak ramai orang.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Sahabat Sehat, itulah beberapa hal yang perlu Sahabat Sehat perhatikan sebelum bepergian ke luar negeri. Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan bahwa Si Kecil dalam keadaan optimal untuk bepergian jauh dan bila Anda perlu melengkapi imunisasinya agar ia dapat berlibur dalam perlindungan maksimal.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Karp, D. Is It Safe to Fly During COVID?
    2. Media, K. 4 Tips Liburan Bersama Bayi Saat Pandemi, Tidak Wajib Pakai Masker.
    3. Have Baby Will Travel. Travel After COVID-19 with Babies & Toddlers.
    4. Kirkilas. Is it safe for families to travel now?
    5. Unicef. Travelling with your family during COVID-19.
    6. WHO. CoronaVirus disease (Covid-19): Children and Masks.
    Read More

Showing 11–20 of 87 results

Chat Asisten Maya
di Prosehat.com