Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
Ditinjau oleh : dr. Monica C

Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik Meliputi Efek Samping Hingga Dosis Pemberian

Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. Bahkan efek sampingnya juga berbeda. Oleh sebab itu, sangat penting memahami perbedaan antara imunisasi polio tetes dengan suntik. Pastikan memilihkan imunisasi yang cocok untuk si kecil.

Imunisasi polio tetes disebut juga imunisasi OPV. Sementara imunisasi polio suntik biasa disebut dengan imunisasi IPV. Walaupun sama-sama untuk mengatasi polio, namun banyak perbedaan antara keduanya.

Mengapa Harus Imunisasi Polio?

Tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio.

Virus Polio adalah virus yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus yang memperbanyak diri di dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Virus Polio terdiri dari 3 strain yaitu Strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig) dan strain-3 (Leon), termasuk family Picornavirde. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motorik atau saraf pada sumsum tulang belakang.

Virus polio dapat menyerang siapa saja, tetapi paling banyak menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit yang paling banyak ditakuti di negara-negara industri karena menyebabkan kelumpuhan pada ratusan ribu anak setiap tahun. 

Polio adalah sebutan lain untuk penyakit poliomyelitis, yang berasal dari Bahasa Yunani artinya peradangan tulang belakang. Dulu orang-orang menyebutnya sebagai kelumpuhan pada anak-anak. Salah satu cara memberantas penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi polio.

Penyebaran Virus Polio

Virus Polio menyebar melalui kontak dengan penderita polio, sekresi oral (mulut) dan hidung misalnya air liur dan lendir hidung, serta kontak dengan feses yang terkontaminasi dengan virus polio. Setelah itu, virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan terus berlipat ganda sepanjang waktu hingga mencapai ke saluran cerna.

Dalam kasus polio yang menyebabkan kelumpuhan, virus meninggalkan saluran cerna dan masuk kedalam aliran darah lalu menyerang sel saraf. Sebanyak kurang dari 2% penderita polio dapat mengalami kelumpuhan. 

Pada kasus yang lebih berat, tenggorokan dan dada dapat ikut serta lumpuh. Bila tidak ada alat bantu pernapasan maka pasien dapat meninggal dunia. Imunisasi Polio pada anak dapat mencegah kejadian ini.

Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

Terdapat dua jenis cara pemberian vaksin polio, yaitu melalui injeksi (suntikan) atau tetesan di mulut. Perbedaan antara kedua vaksin untuk imunisasi ini bukan hanya beda di cara pemberiannya. Banyak hal yang menjadi beda imunisasi polio tetes dan suntik. Pembeda tersebut antara lain:

Jenis Virus yang Digunakan

Vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik sama-sama menggunakan virus polio. Namun kondisi virus polio yang digunakan berbeda. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 2 jenis vaksin polio:

Vaksin Polio Inaktif

Vaksin ini berasal dari virus polio yang dimatikan. Cara pemberiannya dengan menyuntikan ke paha atau lengan. Dengan kata lain, vaksin polio suntik berisi vaksin dari virus polio yang telah dimatikan.

Vaksin Polio Oral

Adalah virus polio hidup yang dilemahkan. Ini adalah vaksin yang dilakukan pada anak, diberikan melalui tetesan di mulut. Dengan kata lain, vaksin polio tets berisi vaksin dari virus polio hidup yang telah dilemahkan.

Waktu Pemberian

Vaksin polio tetes (OPV) biasa juga disebut vaksin polio Sabin sesuai dengan penemunya. Vaksin ini dapat mencegah infeksi dari 3 jenis polio. Vaksin polio tetes diberikan sebanyak tiga dosis untuk memberikan kekebalan seumur hidup.

Pemberian vaksin polio tetes dilakukan pada saat anak berusia:

  • Baru lahir
  • Usia 6-12 minggu (8 minggu setelah dosis pertama)
  • Usia 6-18 bulan

Vaksin Polio Suntuk (IPV) sebenarnya lebih dulu ditemukan daripada OPV, disebut juga vaksin polio Salk, sesuai dengan nama penemunya Jonas Salk pada tahun 1955. Vaksin IPV berisi virus inaktif yang berisi 3 tipe virus polio.

Vaksin yang disuntikkan akan meningkatkan daya tahan tubuh. Vaksin IPV mampu mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody yang tinggi. Berbeda dengan vaksin polio tetes yang diberikan sebanyak 3 kali, vaksin polio suntik diberikan sebanyak 4 kali.

Pemberian suntik vaksinasi IPV dilakukan saat anak berusia :

  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6-18 bulan
  • 4-6 tahun

Efektivitas

Vaksin polio tetes dan suntik sama-sama memberikan kekebalan dari infeksi polio. Namun vaksin polio oral dianggap lebih efektif untuk pemberantasan poliomyelitis, karena virus yang dilemahkan akan mengadakan replikasi atau berkembang biak pada saluran pencernaan sehingga mencegah virus lain menempel pada saraf sehingga mencegah kelumpuhan.

Tetapi vaksin IPV (vaksin polio suntik) juga memiliki kelebihan. Dibandingkan dengan vaksin OPV, vaksin IPV mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang cukup baik bagi sebagian besar orang. Selain itu, vaksin polio suntik tidak mengandung virus yang dilemahkan, maka tidak ada resiko berupa kelumpuhan akibat vaksinasi.

Efek Samping

Beda imunisasi polio tetes dan suntik juga berupa KIPI atau efek samping yang ditimbulkan. Adapun efek samping dari vaksin OPV (vaksin polio tetes) meliputi:

  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Demam
  • Diare
  • Kelelahan
  • Kelumpuhan (jarang terjadi)

Sementara itu, vaksin polio suntuk juga memberikan efek samping. Menurut penelitian yang terbit pada Jurnal Morbidity and Mortality Week Report CDC, pemberian vaksin IPV pada 2 tahun pertama dapat menimbulkan efek samping ringan sedang berupa:

  • Demam
  • Ruam di area yang disuntik
  • Pembengkakan di area yang disuntik
  • Rewel
  • Peradangan dan pendarahan pembuluh darah kecil (jarang terjadi)
  • Penurunan trombosit (jarang terjadi)
  • Alergi berat (jarang terjadi)

Biasanya efek samping pasca vaksinasi polio suntik akan hilang dengan sendirinya setelah 3-4 hari. Karena memiliki efek samping yang lebih banyak, biasanya diperlukan skrining terlebih dahulu sebelum diperkenankan untuk menerima vaksin polio suntik. Kondisi yang membuat anak tidak diperkenankan imunisasi polio suntuk antara lain:

  • Memiliki dan mengalami alergi berat yang dapat mengancam nyawa
  • Anak sedang mengalami sakit seperti influenza yang disertai demam

Walaupun ada efek samping, namun efek samping vaksin polio tetes dan suntik sebenarnya bersifat ringan. Dibandingkan dengan efek sampingnya, manfaat imunisasi polio jauh lebih besar. Dengan melakukan pemberian imunisasi anak, bukan hanya anak-anak yang divaksin saja yang dapat menerima manfaatnya. Keluarga serta warga di lingkungan tersebut juga dilindungi dari ancaman penyebaran virus polio.

Lihat Juga: Polio Menular atau Tidak

Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai beda imunisasi polio tetes dan suntik. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan imunisasi polio, dapatkan layanan imunisasi polio ke rumah yang disediakan oleh Prosehat. Cek layanan: Layanan Imunisasi Polio ke Rumah

Referensi:

  1. Novita D, Alam S, Kelyombar D. Buletin Surveillant dan Imunisasi.
  2. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan. Poliomyelitis Penyakit Virus
  3. Kurniawan S. Manfaat dan Kapan Imunisasi Polio Diberikan
  4. Satari H, Ibbibah L, Utoro, S. Eradikasi Polio. Sari Pediatri
  5. Permatasari D. Vaksin Polio Tetes (OPV): Dosis, Jadwal Pemberian, Efek Samping, dan Bedanya dengan IPV

Chat Dokter 24 Jam