Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Archive for Category: Kesehatan Balita

Showing 21–22 of 22 results

  • Moms yang memiliki buah hati menginjak usia 6 bulan pasti tak sabar untuk “bereksperimen” memberi MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) ya? Makanan padat pertama si kecil haruslah bertekstur lunak dan sedikit cair, seperti bubur susu atau pure buah/sayur. Mana yang lebih dulu diberikan? Nah, berikut 6 tips pemberian MPASI pada bayi usia 6 bulan […]

    6 Tips Pemberian MPASI pada Bayi 6 Bulan

    Moms yang memiliki buah hati menginjak usia 6 bulan pasti tak sabar untuk “bereksperimen” memberi MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) ya?

    Makanan padat pertama si kecil haruslah bertekstur lunak dan sedikit cair, seperti bubur susu atau pure buah/sayur. Mana yang lebih dulu diberikan? Nah, berikut 6 tips pemberian MPASI pada bayi usia 6 bulan yang perlu Moms ketahui:

    1. Perhatikan Tanda Bayi Siap MPASI

    Mungkin tak sedikit Moms yang mendengar petuah dari orang tua atau ibu mertua mengatakan kalau bayi sudah mulai bisa diberi makan pada usia 4 bulan. Benarkah? Hal ini tidaklah tepat, sebab bayi disarankan diberi MPASI saat berusia 6 bulan. Mengapa? Biasanya saat itu otot leher bayi sudah cukup kuat sehingga ia bisa menahan kepalanya untuk tidak lagi goyah. Ia juga sudah dapat duduk sendiri (walaupun dengan bersandar) dan menegakkan kepala. Dengan begitu, proses menelan bayi bisa dibilang sudah lebih baik. Selain itu, fungsi pencernaan bayi pada usia 6 bulan juga sudah lebih baik.

    Tanda lain bahwa bayi siap MPASI antara lain:
    – Mulai tertarik dengan makanan yang Moms makan. Terlihat dari ekspresi wajah atau gerakan tangan yang seolah-olah ingin mengambil makanan untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.
    – Ia akan antusias membuka mulutnya tiap kali disodorkan makanan.
    – Ia tidak lagi memakai lidah untuk mendorong makanan keluar dari mulut.

    2. Mulailah dengan Bubur Susu

    Meskipun tak ada urutan baku, American Academy of Pediatrics merekomendasikan serealia – seperti beras atau gandum – sebagai makanan yang diberikan pertama kali untuk si kecil yang sudah siap MPASI. Selanjutnya, barulah bayi diperkenalkan dengan variasi MPASI lain seperti bubur (pure) sayur, buah, dan daging atau ikan.

    Dibandingkan sayur atau buah, bubur susu/bubur beras (tepung beras + ASIP/susu formula) sangat cocok diberikan sebagai makanan pertama si kecil.

    Ya, untuk mengenalkan makanan padat pertama pada bayi sebaiknya dimulai dari makanan yang teksturnya encer dan lembek, dengan rasa yang tidak jauh berbeda dengan ASI atau susu formula, seperti bubur susu. Tujuannya adalah agar bayi tidak kaget dengan makanan pertamanya.

    Tak hanya itu, bubur beras sangat rendah alergen, alias tidak memicu reaksi alergi. Bubur beras juga diperkaya zat besi, tinggi kalori, sangat mudah dicerna, paling mudah diubah konsistensinya (kepadatannya). Cara membuatnya juga sederhana dan mudah dibuat sendiri di rumah.

    Satu hal yang perlu Moms perhatikan, saat membuat bubur susu, jangan memanaskan ASIP atau susu formula di atas kompor bersamaan dengan memasak bubur beras. Lakukan hal itu setelah bubur beras selesai dimasak. Tuang bubur beras ke dalam mangkuk, aduk-aduk sebentar lalu masukkan ASIP/susu formula.

    Cara mengecek kecukupan tekstur adalah makanan tidak tumpah jika sendok dimiringkan.

    Selain bubur beras, bayi juga bisa dikenalkan dengan jenis serealia lain yang memiliki rasa tidak jauh berbeda, seperti bubur susu gandum atau havermut (oatmeal).

    3. Menu Sama Selama 3 Hari

    Perlu diingat, MPASI diberikan secara bertahap dan sedikit demi sedikit. Mulailah dengan memberikan 1 – 2 sendok pada saat pertama, dan jumlahnya bisa bertambah seiring perkembangan bayi. Tetapi sebelumnya, coba dulu dengan memberikan menu yang sama selama 2-3 hari berturut-turut. Setelah itu, baru bayi Moms perkenalkan lagi dengan variasi menu MPASI yang lain.

    Menunggu selama 2-3 hari juga memungkinkan Moms untuk mengamati apakah si kecil memiliki reaksi alergi atau tidak, seperti diare, muntah, atau ruam (meskipun kebanyakan gejala muncul dalam waktu empat jam setelah makan). Jika iya, maka hentikan makanan penyebab alerginya dan menggantinya dengan asupan lain.

    Selain itu, Moms jadi bisa mengetahui apakah si kecil suka atau tidak dengan menu MPASI yang diberikan.

    Jika ia kurang suka dengan menu tersebut, jangan langsung menghapusnya dari menu MPASI si kecil. Perlu diketahui, bayi mungkin perlu mencoba makanan 10 kali sebelum menerimanya. Jadi, setelah dua minggu atau satu bulan, coba berikan kembali menu yang sama, atau padukan dengan sesuatu yang dia suka. Siapa tahu saat itu, bayi Moms akan lebih bisa menerima dan akhirnya menyukainya.

    4. Berikan Menu MPASI yang Bervariasi

    Setelah bayi belajar untuk menerima satu jenis makanan, secara bertahap kenalkan ia dengan berbagai jenis makanan lain satu per satu, seperti sayuran, buah, ikan dan daging dengan cara dihaluskan sehingga teksturnya lumat dan kental.

    Berikan bubur susu yang mengandung protein hewani (daging merah/hati ayam) untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang sudah menurun kadarnya di dalam ASI, agar menunjang pertumbuhan fisik si kecil. Variasikan dengan tepung beras merah, kacang hijau, atau labu kuning.

    Meskipun banyak yang merekomendasikan memulai sayuran dulu sebelum buah-buahan, tidak ada bukti bahwa bayi akan mengembangkan ketidaksukaan untuk sayuran jika buah diberikan terlebih dahulu. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada urutan baku.

    5. Pastikan MPASI yang Diberikan Bersih dan Aman

    Dalam memberikan MPASI pada si kecil, Moms harus menjamin kebersihan dan keamanan makanan.

    Berikut ini beberapa hal yang perlu Moms perhatikan:
    – Cucilah dahulu tangan sebelum membuat bubur atau menu MPASI. Begitu pula saat akan memberi makan si kecil.
    – Masaklah makanan dengan benar, hindari mencampur makanan mentah dengan makanan yang sudah matang.
    – Gunakan selalu air bersih saat memasak.
    – Cucilah dahulu bahan MPASI seperti beras, sayur, buah, daging, sebelum dikonsumsi.
    – Gunakan alat-alat makan yang aman untuk si kecil, seperti sendok kecil berbahan plastik yang aman dan berujung tumpul sehingga tidak melukai gusi bayi.

    6. Berikan Makanan Kaya Nutrisi

    Makanan yang kaya akan energi dan nutrisi (terutama zat besi, protein, asam amino esensial, zink, vitamin A, kalsium, vitamin C, vitamin D, dan asam folat) harus diberikan pada masa pertumbuhan si kecil yang sedang pesat.

    Berikut beberapa contoh bahan makanan yang bisa dijadikan sebagai variasi bubur atau menu MPASI si kecil:
    – Makanan pokok yang mengandung karbohidrat, contoh: beras, kentang, gandum dan olahannya (roti, sereal, biskuit).
    – Makanan sumber protein hewani, contoh: daging ayam, hati sapi, hati ayam, ikan, susu.
    – Kacang-kacangan, contoh: kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, atau makanan olahannya seperti tahu dan tempe.
    – Sayuran hijau dan merah, contoh: wortel, labu, bayam, daun ubi.
    – Buah orange dan merah, contoh: apel, tomat, jeruk, alpukat dan stroberi.

    Demikianlah 6 tips pemberian MPASI pada bayi usia 6 bulan. Frekuensi pemberian MPASI bisa dilakukan sebanyak 2 kali dengan 1 kali makanan selingan.

    Setelah bayi berusia 7 – 8 bulan, mulai berikan ia bubur saring. Pilih bahan makanan sumber karbohidrat, seperti beras, kentang, makaroni, atau roti. Tingkatkan porsi dan frekuensi makan menjadi 3 kali sehari.

    Semoga informasi ini bermanfaat untuk para Moms. Nah, untuk informasi kesehatan lain, kini tak perlu repot. Anda dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat sekarang juga! Moms juga bisa mendapatkan layanan dokter ke rumah untuk melakukan vaksin loh, penasaran? Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. HealthyChildren.org. (2018). Starting Solid Foods. [online] Available at: healthychildren.org/English/ages-stages/baby/feeding-nutrition/Pages/Switching-To-Solid-Foods.aspx [Accessed 4 Sep. 2018].

    2. For Baby NZ. (2018). Six signs baby is ready for solid food. [online] Available at: forbaby.co.nz/ForBaby-Chat/Six-signs-baby-is-ready-for-solid-food [Accessed 4 Sep. 2018].

    3. Chop.edu. (2018). Feeding Guide for the First Year | Children’s Hospital of Philadelphia. [online] Available at: chop.edu/conditions-diseases/feeding-guide-first-year [Accessed 4 Sep. 2018].

    4. Chop.edu. (2018). Feeding Guide for the First Year | Children’s Hospital of Philadelphia. [online] Available at: chop.edu/conditions-diseases/feeding-guide-first-year [Accessed 4 Sep. 2018].

    5. Parents.com. (2018). About Your Privacy on this Site. [online] Available at: parents.com/baby/feeding/solid-foods/starting/ [Accessed 4 Sep. 2018].

    6. Puri Gayatri, R. (2018). Mommy 101; 101 Perawatan Bayi. Jakarta, Indonesia: Penerbit Erlangga, p.95.

    Read More
  • Moms suka pusing kalau si kecil susah makan? Ya, anak balita dikenal suka pilih-pilih makanan. Tapi, penting untuk  diingat bahwa anak-anak tidak terlahir dengan keinginan untuk hanya menyukai pizza, ayam goreng, atau kentang goreng saja. Kondisi ini terjadi seiring waktu karena anak-anak terpapar lebih banyak pilihan makanan yang tidak sehat. Tapi, kita bisa kok ‘memprogram’ […]

    5 Trik Membuat Makanan Sehat untuk Balita

    Moms suka pusing kalau si kecil susah makan? Ya, anak balita dikenal suka pilih-pilih makanan. Tapi, penting untuk  diingat bahwa anak-anak tidak terlahir dengan keinginan untuk hanya menyukai pizza, ayam goreng, atau kentang goreng saja. Kondisi ini terjadi seiring waktu karena anak-anak terpapar lebih banyak pilihan makanan yang tidak sehat.

    Tapi, kita bisa kok ‘memprogram’ ulang hasrat makanan si kecil. Caranya, perkenalkan ia dengan pilihan makanan yang lebih sehat. Semakin cepat Moms memperkenalkan makanan sehat dan bergizi, semakin mudah mereka terbiasa dengan pola makan sehat. Dan, kebiasaan ini bisa bertahan seumur hidup loh!  Tapi, bagaimana caranya agar si kecil mau mengonsumsi makanan sehat? Tak perlu pusing, simak trik membuat makanan sehat untuk balita berikut ini:

    Sembunyikan Sayur dalam Makanan Favoritnya

    Banyak anak-anak tak menyukai sayur. Namun, jangan menyerah, Moms harus pintar-pintar berkreasi. Olahlah sayur ke dalam bentuk makanan yang disukai si kecil. Anak-anak suka dengan makanan berwarna cerah, berbentuk lucu dan rasa yang menarik.

    Misalnya, si kecil suka nasi goreng, Anda bisa membuat nasi goreng hijau untuknya. Tenang, warna hijau ini bukan dari pewarna makanan, kok, melainkan sayur bayam. Jadi, Moms buat dahulu saus bayam, berasal dari daun bayam yang dihaluskan bersama bumbu-bumbu masak lainnya. Nanti, dicampurkan ke dalam nasi putih dalam proses pengolahannya. Lengkapi dengan telur dadar/ayam goreng, irisan tomat atau mentimun dengan tampilan menarik. Nah, berikan nasi goreng hijau itu pada si kecil. Ia tidak akan sadar, deh, kalau sebenarnya ia makan sayur bayam.

    Bayam kaya akan nutrisi, tinggi serat dan kandungan air. Hal ini bermanfaat bagi kesehatan pencernaan anak. Bayam juga mudah dimasukkan ke dalam olahan makanan lain, seperti perkedel, omelet, dan sebagainya.

    Jangan lupa, buat tampilan makanan semenarik mungkin. Sajikan di atas piring berwarna cerah dengan tata letak yang rapi, lucu dan kreatif. Hal itu akan meningkatkan selera makan anak dan membuatnya tertarik untuk mencoba makanan yang Moms sajikan.

    Buat Camilan Tiruan 

    Si kecil suka makanan di restoran siap saji? Wah, kalau ia selalu minta junk-food alias makanan ‘sampah’, tentu tak baik bagi kesehatannya. Tapi, mungkin Moms bisa mengakalinya sedemikian rupa dengan membuat sendiri sandwich atau burger sehat di rumah. Keuntungannya, Moms bisa memilih bahan-bahan segar pilihan (bukan makanan beku seperti yang biasa ditemukan dalam restoran cepat saji).

    Contoh, buatlah burger dari roti gandum berisi daging sapi tanpa lemak/tuna/ayam, dilengkapi dengan selada, mentimun, tomat, dan sebagainya. Sebagai penarik, bungkus hamburger sehat yang Moms buat ke dalam kemasan yang cantik. Sehingga timbul kesan bahwa hamburger tersebut berasal dari restoran, padahal tidak.

    Gantilah pengganti camilan yang biasanya disukai si kecil dengan ‘tiruan’ yang lebih sehat, misalnya:

    – Anak Moms suka kentang goreng dari restoran cepat saji? Alih-alih menggorengnya, buatlah ‘kentang panggang’ dengan cara memanggang kentang dalam oven, lalu ditaburi sedikit garam.

    – Es krim, ganti dengan yoghurt atau smoothie buah segar.

    – Ayam goreng tepung, ganti dengan ayam bakar.

    Batasi Gula dan Karbohidrat Olahan

    Seperti kita tahu, umumnya anak-anak menyukai makanan yang manis. Namun, jika mengonsumsi karbohidrat olahan dilakukan secara berlebihan, tak baik bagi kesehatan. Karbohidrat olahan banyak ditemukan dalam nasi, gula putih, cokelat, permen, adonan pizza, kue kering, pasta, sirup jagung, dan sebagainya. Karbohidrat olahan yang dikonsumsi secara berlebihan bisa menyebabkan lonjakan berbahaya dalam gula darah dan memengaruhi suasana hati (mood).

    Di sisi lain, karbohidrat kompleks tinggi nutrisi dan serat. Contohnya adalah roti gandum atau multigrain, sereal berserat tinggi, beras merah, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran non-tepung.

    Sebenarnya, anak mendapatkan gula yang dibutuhkan oleh tubuh dari makanan alami seperti dalam buah atau sayuran. Tambahan gula putih yang banyak hanya membuat tubuh menerima kalori kosong tetapi berkontribusi terhadap perubahan perilaku anak seperti hiperaktif, gangguan mood, dan meningkatkan risiko obesitas diabetes tipe 2.

    The American Heart Association merekomendasikan bahwa asupan gula untuk anak-anak terbatas pada 3 sendok teh (12 gram) sehari. Minuman soda 12 ons mengandung hingga 10 sendok teh atau 40 gr gula tambahan. Sejumlah besar gula tambahan juga tersembunyi di makanan seperti roti, sup kalengan, makanan beku, dan makanan cepat saji. Fakta menyebutkan bahwa sekitar 75 persen makanan kemasan mengandung tambahan gula.

    Tapi, rasanya tak mungkin melarang anak-anak untuk tidak makan yang manis-manis. Untuk itu, Moms bisa berkreasi dengan memilih makanan/minuman pengganti yang lebih sehat, contoh:

    – Ganti minuman manis seperti sirup, minuman bersoda dengan jus buah atau banana smoothie yang lezat.

    – Ganti es loli (es lilin) yang biasanya terbuat dari gula dan sirup, dengan es loli yang terbuat dari 100 persen jus buah buatan sendiri. Bisa juga dengan cara membekukan potongan-potongan kecil berbagai buah seperti nanas, stroberi, mangga yang dimasukkan ke dalam cetakan es krim dan biarkan hingga beku. Coba, deh, berikan pada si kecil. Ia pasti menyukainya.

    Ciptakan Kebiasaan Makan yang Sehat

    Orangtua adalah teladan bagi anak-anak. Kebiasaan yang baik diciptakan dari rumah, begitu pula dengan pola makan sehat. Berikut beberapa hal yang bisa diterapkan pada anak di rumah dalam hal mengembangkan kebiasaan makan sehat:

    Jadilah Teladan

    Anak-anak adalah peniru ulung, Moms. Ia akan bertindak dengan memerhatikan perilaku orang yang menjadi panutannya. Moms dan Dads adalah role model atau panutan, sehingga harus memberikan contoh yang baik. Jadi, jangan minta anak Anda makan sayuran saat Anda sendiri makan kentang goreng. Berilah contoh padanya bagaimana Anda menikmati makan sayur. Jelaskan padanya dengan bahasa sederhana betapa sayur sangat bermanfaat bagi tubuh.

     Memasak Lebih Sering

    Makanan dari restoran ataupun makanan cepat saji banyak menambahkan gula dan lemak yang tidak sehat bagi tubuh. Jika Moms sering memasak sendiri di rumah, akan mengurangi frekuensi membeli makanan dari luar. Terlihat sepele, tetapi besar dampaknya bagi kesehatan anak-anak.

    Dalam membuat makanan, tentu rasa menjadi hal yang penting. Makanan lezat akan meningkatkan nafsu makan anak. Namun, kurangilah bahan-bahan bumbu dapur yang terbuat dari bahan berbahaya dan tak baik bagi kesehatan si kecil, contohnya penyedap rasa (MSG).Selain itu, usahakan selalu membuat menu yang bervariasi setiap hari agar anak tidak bosan dan mau melahap makanan yang Anda sajikan.

    Libatkan Anak

    Memperkenalkan makanan sehat pada anak dimulai sedini mungkin. Libatkan si kecil dalam  belanja bahan makanan. Moms bisa sekaligus mengajari anak tentang berbagai jenis bahan makanan yang menyehatkan dan bagaimana cara membaca label makanan.

    Selain terlibat dalam belanja makanan, Moms juga bisa mengajak si kecil bersama-sama menyiapkan makanan. Biarkan ia memilih sendiri alat makan seperti piring, sendok, mangkuk kesukaannya. Batasi porsi makanannya, lebih baik dalam porsi kecil tetapi habis daripada porsi banyak namun bersisa.

    Selalu sediakan kudapan atau camilan sehat di rumah. Simpan banyak buah, sayuran, dan minuman sehat (air, susu, jus buah murni) sehingga anak-anak menghindari camilan yang tidak sehat seperti soda, keripik, dan kue manis.

    Itulah beberapa trik membuat makanan sehat untuk balita. Untuk informasi kesehatan lain dan layanan vaksin ke rumah, kini tak perlu repot. Anda bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat sekarang juga! Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Healthy Food for Kids: Easy Tips to Help Your Children and Teens Eat Healthier [Internet]. Helpguide.org. 2018 [cited 28 August 2018]. Available from: helpguide.org/articles/healthy-eating/healthy-food-for-kids.htm
    2. Healthy burgers that kids will go crazy for [Internet]. Kidspot.com.au. 2018 [cited 28 August 2018]. Available from: kidspot.com.au/kitchen/galleries/quick-dinner-ideas/healthy-burgers-that-kids-will-go-crazy-for
    3. 10 Ways to Get Kids to Eat Healthy Food [Internet]. WebMD. 2018 [cited 28 August 2018]. Available from: fit.webmd.com/jr/food/article/parents-food-smart-kids
    4. Food 1, Kids 1, Food N, Recipes R, Burgers B, Chocolates H et al. 10 Healthy Foods for Kids [Internet]. NDTV Food. 2018 [cited 28 August 2018]. Available from: food.ndtv.com/lists/10-healthy-recipes-for-kids-771418
    5. 90 resep es loli buah enak dan sederhana [Internet]. Cookpad. 2018 [cited 28 August 2018]. Available from: cookpad.com/id/cari/es%20loli%20buah

    Read More

Showing 21–22 of 22 results

WhatsApp Asisten Maya saja