Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: vaksinasi

Showing 1–10 of 164 results

  • Si Kecil Nyeri Menelan? Waspada Penyakit ini Lho Moms

    Moms, apakah Si Kecil kerap mengeluh nyeri saat menelan? Salah satu penyakit yang kerap dialami anak-anak adalah batuk, pilek dan nyeri menelan. Kondisi ini tentu dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan nafsu makan menurun.

    Si Kecil Nyeri Menelan? Waspada Difteri

    Si Kecil Nyeri Menelan? Waspada Difteri


    Salah satu penyebab nyeri menelan adalah akibat infeksi difteri, yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positif anaerob. Moms, apa itu penyakit difteri? Mari simak penjelasan berikut.

    Kasus Difteri

    Difteri ditularkan melalui cairan pernapasan pasien yang terkena difteri. Pada daerah endemis difteri, 3%-5% orang sehat bisa menjadi pembawa kuman atau yang disebut karier. Kuman difteri hidup dalam debu atau udara luar sampai dengan 6 bulan. Pada tahun 2014, jumlah kasus difteri sebanyak 296 kasus dengan kasus meninggal 16 orang. Dari 22 provinsi yang melaporkan adanya kasus difteri, provinsi tertinggi ada di Jawa Timur yaitu 295 kasus yang berkontribusi sebanyak 74%.

    Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) mencatat bahwa ada 7097 kasus difteri dilaporkan diseluruh dunia pada tahun 2016. Diantara jumlah kasus tersebut, Indonesia menyumbang sebanyak 342 kasus. Sejak tahun 2011, Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat sebanyak 3353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai 2016 sehingga dengan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3353 orang yang menderita difteri diketahui 110 diantaranya meninggal dunia, hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi lengkap.

    Baca Juga: Tips Cegah Anak Terinfeksi Difteri

    Penularan Penyakit Difteri


    Penularan difteri terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

    • Terhirup percikan ludah penderita melalui udara saat penderita bersin atau batuk (ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum).
    • Sentuhan langsung pada luka atau borok penderita difteri. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan padat penduduk serta kebersihan lingkungannya tidak terjaga dengan baik.

    Gejala Difteri Pada Anak

    Gejala difteri umumnya akan muncul sekitar 2-5 hari setelah si kecil terinfeksi kuman penyebab.  Sebagian anak mungkin tidak menunjukkan gejala apapun termasuk demam. Namun, sebagian lagi akan mengalami gejala yang sangat ringan seperti gejala flu. Berikut adalah berbagai gejala difteri yang dapat dialami Si Kecil, yaitu:

    • Terbentuknya selaput atau lapisan berwarna putih keabu-abuan pada tenggorokan dan amandel.
    • Demam
    • Nyeri tenggorokan
    • Pilek
    • Sulit bernapas
    • Suara serak
    • Detak jantung meningkat
    • Mengi
    • Pembesaran kelenjar getah bening di area leher
    • Pembengkakan pada langit-langit mulut
    • Keringat dingin.

    Komplikasi Difteri Pada Anak

    Komplikasi yang dapat dialami akibat racun dari kuman difteri dapat sangat berbahaya, termasuk pada otot dan juga katup jantung, gangguan irama jantung hingga tertutupnya saluran pernapasan oleh selaput (pseudomembran) di area tenggorokan yang dapat menutup jalan napas. Untuk mencegah komplikasi, kasus difteri harus ditangani segera yakni dengan pemberian obat-obatan.

    Pencegahan Difteri

    Pencegahan difteri dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksin difteri. Pada anak, biasanya vaksinasi difteri diberikan dalam bentuk kombinasi DPT-HB-Hib. Vaksinasi ini dapat melindungi si kecil dari berbagai penyakit menular seperti difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, meningitis dan pneumonia yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe B.

    Baca Juga: Apakah Orang Dewasa Butuh Vaksinasi Difteri?

    Pemberian vaksinasi dasar ini wajib diberikan bagi anak-anak sebanyak 3 kali yaitu pada usia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan pada usia 18 bulan. Pemberian vaksinasi difteri lanjutan diberikan dalam bentuk vaksinasi Td yaitu kombinasi vaksinasi tetanus dan difteri yang diberikan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS yaitu pada usia 5 tahun dan bagi yang berusia diatas 12 tahun diberikan vaksinasi Td/Tdap yang dapat diberikan selama 10 tahun sekali.

    Nah, Moms itulah ulasan mengenai difteri yang kerap menyebabkan sakit menelan pada Si Kecil. Jika Anda memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan multivitamin, imunisasi untuk Si Kecil, maupun produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 0811-

    1816-800.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

    Referensi

    1. Hartoyo E. Difteri Pada Anak. Sari Pediatri. 2018
    2. Dinas Kesehatan Kulon Progo. DIFTERI. 2021 
    3. Kids Health.org. Diphtheria (for Parents). 2021 
    4. University of Rochester Medical Center. Diphtheria in Children. 2021 

     

    Read More
  • Suntik Vaksin Apa Saja Sebelum Umroh?

    Bagi Sahabat Sehat yang berencana menjalankan ibadah umroh, pasti sudah melakukan beragam persiapan sejak jauh hari. Namun jangan sampai Anda melewatkan persiapan kesehatan seperti vaksinasi. Mungkin Sahabat Sehat bertanya, “Harus suntik vaksin apa sih sebelum umroh? Kenapa harus suntik vaksin sebelum umroh?”

    Suntik Vaksin Apa Saja Sebelum Umroh?

    Suntik Vaksin Apa Saja Sebelum Umroh?

     

    Meskipun Sahabat Sehat merasa memiliki tubuh yang fit, perjalanan umroh akan mempertemukan Anda dengan jutaan orang dari berbagai penjuru dunia. Sehingga, menjadikan tubuh lebih rentan terinfeksi penyakit. Selain itu, faktor lain seperti perubahan suhu, kelelahan serta imunitas yang rendah juga meningkatkan risiko.

    Untuk itu, vaksinasi dibutuhkan agar Sahabat Sehat lebih kebal terhadap penyebab penyakit tertentu. Lalu vaksinasi apa sajakah yang dibutuhkan sebelum menjalankan ibadah umroh? Simak penjelasannya di bawah ini.

    1. Vaksinasi Meningitis

    Penyakit meningitis adalah salah satu jenis penyakit berbahaya dan mengancam nyawa jika terinfeksi.  Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit, salah satunya adalah Neisseria Meningitidis. Cara penularannya melalui percikan ludah dari penderita ataupun pembawa. Dengan melakukan vaksinasi sebelum perjalanan umroh, maka Sahabat Sehat akan memiliki cukup waktu untuk tubuh membentuk kekebalan terhadap penyebab meningitis. 

    Baca Juga: Selain Haji dan Umroh, Vaksin Meningitis Juga Penting untuk Ke Timur Tengah dan Afrika

    2. Vaksinasi Pneumokokus

    Penyakit pneumonia disebabkan bakteri Strepococcus pneumoniae yang ditularkan melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau mengeluarkan percikan ludah. Vaksin pneumokokus memiliki efektifitas sebesar 80% dan membutuhkan 10-14 hari untuk menimbulkan kekebalan dan dapat bertahan selama 5 tahun. Selain untuk anak dan dewasa, vaksin ini sangat disarankan untuk orang yang berusia lebih dari 65 tahun (lansia).

    3. Vaksinasi Yellow Fever

    Yellow fever adalah suatu penyakit infeksi virus endemis di daerah tropik Afrika dan juga Amerika Selatan. Orang-orang yang datang dari daerah ini memiliki risiko terinfeksi yellow fever dan dapat pula menjadi pembawa virus atau carrier. Yellow fever disebabkan oleh Flavivirus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegepti dan Haemogogus sp. Vaksin ini dapat diberikan pada setiap orang yang berumur lebih dari 9 bulan yang tinggal atau melakukan perjalanan ke daerah endemis. Satu kali vaksin akan memberikan perlindungan selama 10 tahun. 

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    4. Vaksinasi Influenza

    Siapa yang tak pernah terserang influenza? Penyakit infeksi saluran napas ini disebabkan oleh virus influenza dan menginfeksi jutaan orang setiap tahunnya. Walau sering dianggap remeh, penyakit menular ini dapat mengakibatkan komplikasi yang serius, terlebih bagi orang yang mengalami penurunan kekebalan tubuh. Vaksinasi influenza sangat bermanfaat dalam mencegah infeksi dan komplikasi. Vaksin ini disarankan untuk diulang setiap satu tahun sekali,

    Jadi, itulah beberapa vaksinasi yang dapat Anda lakukan sebelum berangkat ke Arab Saudi untuk beribadah.

    Kini Anda dapat melakukan vaksinasi tanpa antri dengan layanan praktis, bahkan tersedia layanan vaksin ke rumah. Silakan hubungi wa Asisten Kesehatan Maya dengan nomor 0811-1816-800 untuk informasi lebih lanjut.

    Ditulis oleh: Redaksi ProSehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Referensi

    1. Haurissa, Andreas Erick. “Raga Optimal Saat Umrah”. tanyadok.com
    2. Kumala, Vinka. “Naik Haji atau Melancong ke Arab Saudi? Vaksin Dulu, Yuk!” tanyadok.com
    3. Suci, Hygiena Kumala. “Ayo Vaksinasi !!!”. tanyadok.com
    4. Primadila. “Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai Saat Beribadah Haji”. tanyadok.com
    Read More
  • 10 Persiapan Penting Sebelum Vaksin Booster

    Seperti kita ketahui, sejak 29 Juli 2022, Pemerintah sudah mulai melaksanakan vaksin booster kedua untuk para nakes (tenaga kesehatan). Alasan tersebut didasari pada angka kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia yang masih mengalami peningkatan, dan para nakes dianggap sebagai kelompok yang memiliki resiko tinggi terpapar Covid-19.

    Persiapan Sebelum Vaksin Booster

    Persiapan Sebelum Vaksin Booster

     

    Mengutip dari kemkes.go.id, vaksin booster yang saat ini diberikan berdasarkan pertimbangan para peneliti dalam dan luar negeri serta sudah dikonfirmasi oleh Badan POM dan ITAGI, meliputi:

    1. Untuk sasaran dengan vaksin primer Sinovac: diberikan separuh dosis Astra Zeneca (0,25 ml), separuh dosis Pfizer (0,15 ml), dosis penuh Moderna (0,5 ml), dosis penuh Sinopharm (0,5 ml), dosis penuh Sinovac (0,5 ml), atau dosis penuh Zifivax (0,5 ml).
    2. Untuk sasaran dengan vaksin primer Astra Zeneca: diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml), dosis penuh Astra Zeneca (0,5 ml), atau separuh dosis Pfizer (0,15 ml).
    3. Untuk sasaran dengan vaksin primer Pfizer: diberikan dosis penuh Pfizer (0,3 ml), separuh dosis Moderna (0,25 ml), atau dosis penuh Astra Zeneca (0,5 ml).
    4. Untuk sasaran dengan vaksin primer Moderna: diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml).
    5. Untuk sasaran dengan vaksin primer Janssen (J&J): diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml)
    6. Untuk sasaran dengan vaksin primer Sinopharm: diberikan dosis penuh Sinopharm (0,5 ml) atau dosis penuh Zifivax (0,5 ml).

    Setelah nakes menerima vaksin booster kedua, bagaimana dengan masyarakat awam? Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito, masyarakat diminta menunggu informasi resmi dari Pemerintah terkait booster kedua untuk masyarakat umum. “Pada prinsipnya, pemberian vaksin booster kedua atau dosis keempat akan diberikan berdasarkan prioritas terlebih dahulu, yaitu tenaga kesehatan, lansia dan penderita komorbid,” terangnya.

    Baca Juga: Perbandingan Efek Samping dari 5 Vaksin Booster Covid-19

    Namun, tak sedikit pula masyarakat kita yang bahkan belum menerima vaksin booster pertama. Hal yang sering ditanyakan adalah terkait efek samping vaksin booster, sebagian kecil mengaku takut dan khawatir akan dampaknya.

    Bagaimana dengan Sahabat Sehat? Sudahkah menerima vaksin booster? Bagaimana dengan orang tua dan kerabat Anda? Yuk, simak persiapan sebelum vaksin booster berikut ini.

    1. Siapkan Jadwal
    Alokasikan waktu untuk vaksin, bukan hanya untuk menerima suntikan, tapi juga untuk pemulihan. Sebaiknya Anda mengosongkan jadwal setelah vaksin dan tidak melakukan kegiatan berat setidaknya 1-2  hari setelah vaksin. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu observasi efek samping 24-48 jam pertama sejak vaksinasi dan waktu pemulihan.

    2. Lengkapi Persyaratan dan Alat Tulis
    Beberapa fasilitas kesehatan atau penyedia vaksin booster mungkin akan memberikan beberapa syarat tambahan seperti harus melakukan pendaftaran secara online, membawa fotokopi KTP, dll. Sebaiknya Sahabat Sehat juga membawa alat tulis pribadi yang mungkin akan diperlukan untuk mengisi sejumlah data tertentu saat di lokasi.

    3. Makan dan Minum yang Cukup
    Sebelum berangkat ke tempat vaksin, pastikan Sahabat Sehat sudah makan dan minum air yang cukup. Kedua hal ini penting karena bisa mencegah Anda merasa lemas saat menerima vaksin booster atau setelahnya.

    4. Rileks
    Stres sangat berpengaruh pada kerja imun. Terlebih, stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan produksi kortisol dan stres oksidatif pada tubuh, sekaligus menurunkan tingkat limfosit (sel darah putih) yang berfungsi mencegah infeksi. Tenangkan pikiran setidaknya satu hari sebelum vaksinasi, misalnya dengan berolahraga ringan, meditasi, menghindari berita hoax, dan sebagainya.

    Baca Juga: Apakah Ibu Hamil Aman untuk Vaksin Booster?

    5. Jangan Konsumsi Minuman Beralkohol
    Mengonsumsi minuman beralkohol bisa melemahkan respon vaksin sehingga mengurangi perlindungan. Hindari minuman beralkohol 48 jam sebelum vaksinasi hingga 72 jam setelah vaksinasi.

    6. Hindari Olahraga Berat Sebelum Vaksin
    Olahraga memang baik untuk kesehatan. Namun, sebelum vaksin, sebaiknya Anda hanya melakukan olahraga ringan saja. Olahraga ringan akan membantu tubuh Anda tetap bugar dan rileks sebelum disuntik.

    7. Tidur Cukup
    Tidur yang cukup dan berkualitas akan membantu tubuh Anda tetap fit pada hari menerima vaksin. Idealnya tidurlah 6 sampai 8 jam pada malam sebelum vaksinasi.

    8. Gunakan Pakaian yang Nyaman
    Pilihlah pakaian berbahan nyaman dan menyerap keringat agar mempermudah aktivitas Sahabat Sehat saat vaksin booster. Gunakan pakaian yang memudahkan penyuntikan di bagian lengan.

    9. Siapkan Obat Pereda Nyeri
    Sahabat Sehat boleh menyiapkan obat pereda nyeri atau penurun demam sebagai langkah antisipasi. Tapi obat ini cukup diminum jika Sahabat Sehat merasakan efek samping seperti demam atau nyeri. Tidak disarankan untuk meminum obat ini sebelum vaksinasi karena dapat menurunkan efektivitas vaksin.

    10. Konsultasi Ke Dokter
    Untuk Sahabat Sehat yang memiliki orang tua dengan riwayat penyakit kronis, seperti penyakit autoimun, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dll, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menerima vaksin booster.

    Nah, Sahabat Sehat itulah berbagai tips persiapan sebelum menerima vaksin booster yang dapat Anda terapkan. Bagi Anda yang membutuhkan produk kesehatan seperti suplemen, obat pereda nyeri, atau layanan vaksinasi rutin, silakan hubungi WhatsApp Asisten Kesehatan Maya dengan nomor 0811-1816-800 untuk informasi lebih lanjut.

    Ditulis oleh: Redaksi ProSehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

    Referensi
    1. Kemkes. FAQ Jenis vaksin booster apa yang akan diberikan. 2022
    2. Kompas. 7 Hal yang Harus Anda Siapkan Sebelum Vaksin Booster. 2022
    3. Detik. 5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Vaksin Booster COVID-19. 2022

     

     

    Read More
  • Penyakit influenza atau flu merupakan penyebab tersering seseorang alpa dari pekerjaannya. Tetapi, sayangnya masih banyak orang yang menganggap remeh penyakit ini karena sering disamakan dengan pilek biasa atau disebut juga selesma atau common cold. Faktanya, seseorang yang terinfeksi influenza lebih berisiko mengalami sakit berat dibanding jika ia menderita selesma. Oleh sebab itu, vaksin flu diciptakan […]

    Mengapa Vaksin Flu Penting untuk Guru?

    Penyakit influenza atau flu merupakan penyebab tersering seseorang alpa dari pekerjaannya. Tetapi, sayangnya masih banyak orang yang menganggap remeh penyakit ini karena sering disamakan dengan pilek biasa atau disebut juga selesma atau common cold.

    Faktanya, seseorang yang terinfeksi influenza lebih berisiko mengalami sakit berat dibanding jika ia menderita selesma. Oleh sebab itu, vaksin flu diciptakan dan rutin diberikan setiap satu tahun sekali sebagai perlindungan.

    Mengapa Vaksin Flu Penting untuk Guru

    Mengapa Vaksin Flu Penting untuk Guru?

    Vaksinasi bukan saja untuk anak-anak, orang dewasa pun memerlukannya. Salah satu jenis pekerjaan yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin flu adalah guru karena ia rutin berinteraksi dengan banyak siswa. Dengan vaksinasi, risiko penularan penyakit menjadi menurun dan anak-anak sebagai kelompok rentan juga terlindungi.

    Influenza versus selesma

    Sahabat Sehat, jangan samakan penyakit influenza dengan selesma. Dari segi gejala, keduanya memang memiliki kemiripan, tapi intensitasnya cukup berbeda. Berikut perbandingannya:

    Gejala

    Selesma/ Common cold

    Influenza

    Munculnya gejala

    Tiba-tiba

    Bertahap

    Demam

    Jarang Ada
    Linu Sedikit

    Ada

    Meriang

    Tidak biasa Sering

    Lemah/ lelah

    Kadang Ada
    Bersin Ada

    Jarang

    Batuk/ dada tidak nyaman

    Ringan-sedang Ada

    Hidung tersumbat

    Ada

    Jarang

    Nyeri tenggorokan

    Ada

    Jarang

    Sakit kepala Jarang

    Ada

     

    Flu adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza dan menginfeksi saluran pernafasan, seperti hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Virus ini dapat menyebabkan sakit ringan hingga berat, dan pada kasus tertentu menyebabkan kematian karena komplikasi yang disebabkan.

    Virus flu menyebar melalui droplet (cipratan air liur) saat orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara. Cipratan ini bisa mendarat di mulut atau hidung orang di dekatnya. Selain itu, virus flu juga bisa ditemukan pada permukaan barang yang bila tersentuh dan kemudian ia menyentuh mulut, hidung, atau mungkin matanya sendiri, ia berisiko tertular.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Sekolah menjadi tempat penyebaran flu

    Virus flu banyak ditemukan di tempat-tempat umum dan ramai seperti sekolah, kantor, dan ruang publik. Influenza dapat memicu wabah di sekolah sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar.

    Walau kebanyakan orang yang terkena flu akan sembuh dalam beberapa hari hingga kurang dari dua minggu, sebagian lainnya akan mengalami komplikasi seperti paru-paru basah (pneumonia), beberapa di antaranya dapat mengancam jiwa dan mengakibatkan kematian.

    Influenza adalah penyebab rawat inap terbanyak pada anak-anak dan dewasa daripada penyakit lain yang dapat dicegah oleh vaksin. Satu-satunya cara terbaik untuk melindungi dari flu dan potensi komplikasinya adalah agar guru dan anak-anak sama-sama melakukan vaksinasi influenza rutin setiap tahunnya dan menerapkan protokol kesehatan dengan benar.

    Baca Juga: Apa Saja Vaksin Yang Penting Sebelum Mulai Sekolah?

    Vaksinasi di Prosehat

    Sahabat Sehat, melihat mudahnya cara penularan flu, sudah semestinya kita melindungi diri dengan vaksinasi influenza. Jika semakin banyak yang divaksinasi dalam satu sekolah, akan semakin baik perlindungan terhadap penularan virus flu antar staff dan siswa.

    Baca Juga: Vaksin Flu: Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Bagi Sahabat Sehat yang ingin melakukan vaksinasi, Anda bisa memesan layanan ini melalui Chat Asisten Kesehatan Maya atau melalui website Prosehat. Layanan ini bisa dilakukan di Klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda dan keluarga. Layanan vaksinasi Prosehat juga tersedia di berbagai kota di Indonesia.

    Ayo segera jadwalkan vaksinasi sebelum kembali ke sekolah! Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. CDC. Cold Versus Flu. 2021.
    2. Minnesota Department of Health. Influenza (Flu) in Schools. 2019.
    3. PAPDI. Jadwal Imunisasi Dewasa. 2021.
    Read More
  • Berenang merupakan salah satu kegiatan yang banyak digemari anak-anak hingga dewasa. Tak heran wahana air menjadi favorit mengisi akhir pekan atau liburan keluarga. Apalagi jika cuaca sedang panas, sepertinya jernih dan sejuknya air kolam renang menggoda siapapun untuk menceburkan diri. Namun meski sebagian besar kolam renang umum telah dibersihkan dengan kaporit untuk membunuh kuman-kuman yang […]

    8 Penyakit yang Bisa Ditularkan Saat Berenang di Kolam Renang

    Berenang merupakan salah satu kegiatan yang banyak digemari anak-anak hingga dewasa. Tak heran wahana air menjadi favorit mengisi akhir pekan atau liburan keluarga. Apalagi jika cuaca sedang panas, sepertinya jernih dan sejuknya air kolam renang menggoda siapapun untuk menceburkan diri. Namun meski sebagian besar kolam renang umum telah dibersihkan dengan kaporit untuk membunuh kuman-kuman yang tersebar di air kolam, bukan berarti terjamin aman sepenuhnya.

    8 Penyakit yang Bisa Ditularkan Saat Berenang di Kolam Renang

    8 Penyakit yang Bisa Ditularkan Saat Berenang di Kolam Renang

    Sahabat Sehat perlu tahu ada sejumlah penyakit yang bisa ditularkan dari kolam renang loh, apa saja?

    Diare

    Diare dapat disebabkan oleh berbagai bakteri yang bisa ditemukan di air kolam renang umum. Beberapa kuman yang menyebabkan diare antara lain Rotavirus, Shigella, Cryptosporidium, Norovirus, E. coli, dan Giardia intestinalis. Bakteri ini ditemukan dalam kotoran manusia, sehingga bisa menyebar saat anak tak sengaja menelan air kolam yang terkontaminasi.

    Tak dapat dipungkiri jika kotoran manusia mengandung jutaan kuman, sehingga residu feses tersebut dapat mencemari air kolam renang. Terlebih lagi jika ada pengunjung yang memang sedang diare saat berenang.

    Sebagian besar infeksi diare di kolam renang umumnya disebabkan oleh cryptosporidium. Kaporit memang dapat membunuh bakteri hanya dalam beberapa detik saja, namun cryptosporidium bisa hidup di air kolam renang hingga berhari-hari. Hal ini karena bakteri ini lebih tahan banting terhadap efek kaporit daripada kuman lainnya.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Muntaber

    Muntaber (gastroenteritis) disebabkan oleh kelompok kuman yang sama dengan diare. Cara penularannya pun sama dengan diare, yaitu dengan menelan air kolam yang terkontaminasi.

    Muntaber bisa menyebabkan usus meradang, yang kemudian menimbulkan serangkaian gejala masalah pencernaan. Bedanya dengan diare yakni pada muntaber disertai gejala sakit perut atau perut kram, mual, muntah, dan demam. Gejala ini terjadi secara bertahap sejak satu hingga dua hari setelah berenang. Untuk gejalanya sendiri bisa berlangsung hingga lima hingga sepuluh hari.

    Baca Juga: 

    Infeksi Telinga

    Kemasukan air saat berenang sering terjadi pada siapa pun, termasuk anak-anak. Ketika telinga kemasukan air saat berenang dapat berpotensi menyebabkan infeksi telinga yang disebut dengan swimmer’s ear atau otitis eksterna.

    Swimmer’s ear adalah risiko penyakit di kolam renang yang terjadi akibat kelembapan dari sisa air dan bakteri Pseudomonas aeruginosa yang terperangkap dalam telinga sehabis berenang. Hingga akhirnya kuman berkembang biak dan meluas dalam telinga.

    Ketika anak mengalami swimmer’s ear, telinganya bisa bengkak dan kemerahan, serta terasa panas juga nyeri, bahkan bisa keluar nanah. Pada kasus ekstrim, infeksi ini bisa mengakibatkan demam dan rasa nyeri yang menyebar pada wajah, kepala, dan leher, hingga penurunan pendengaran.

    Hepatitis A

    Penyakit selanjutnya yang bisa ditularkan melalui kolam renang umum adalah hepatitis A. Dari banyak tipe hepatitis, hanya ada satu yang berpotensi mencemari air kolam renang, yaitu hepatitis A. Kondisi ini merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A.

    Hepatitis A dapat menular pada anak melalui makanan, minuman, atau air yang terkontaminasi. Anak bisa tertular hepatitis A dari menelan air kolam renang yang terkontaminasi oleh feses pengunjung yang sakit hepatitis A saat ia berenang di kolam renang umum.

    Infeksi hepatitis A bisa menimbulkan gejala demam, lemas, mual muntah, warna kencing menjadi gelap, warna feses menjadi pucat, dan mata tampak kuning. Pada sebagian orang lainnya hepatitis A tidak menunjukkan gejala sehingga ia tidak akan tahu bahwa dirinya berpotensi menularkan virus tersebut kepada orang lain.

    Baca Juga: Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Leptospirosis

    Penyakit kuning terjadi akibat infeksi bakteri Leptospira. Biasanya penyakit ini ditularkan lewat urin tikus dan hewan lainnya yang tidak sengaja masuk ke dalam kolam renang. Bakteri penyakit tersebut harus diwaspadai dan biasanya terjadi pada air yang menggenang, bersih, dan tawar. Maka, jika Anda akan berenang, pilihlah kolam renang yang tidak hanya airnya bersih tapi juga lingkungannya bersih.

    Orang yang terinfeksi penyakit tersebut akan merasakan demam, kulit menjadi kuning, menggigil, ruam pada kulit hingga pendarahan.

    Infeksi Cacing

    Infeksi cacing bisa terjadi jika anak tak sengaja menelan air kolam renang umum. Cacing akan masuk ke dalam tubuh dan penderita nantinya akan merasakan gatal pada bagian kulit, muntah, dan demam. Penyakit tersebut tidak boleh diabaikan dan harus cepat ditangani. Sebab, jika tak diobati akan membahayakan kesehatan karena dikhawatirkan cacing akan cepat berkembang biak di dalam tubuh.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan DHF, Chikungunya, Leptospirosis

    Ruam Kulit

    Kolam renang air hangat merupakan sarana yang bagus untuk melepas stres. Namun pada air kolam yang dipanasi terus-menerus atau pada sumber air panas alami, ruam pada kulit mungkin terjadi. Kuman bisa lebih aktif ketika terpapar air dengan suhu panas. Pada kolam yang kurang bersih, hal ini bisa lebih berbahaya dan menimbulkan masalah pada kulit. Oleh karena itu, disarankan untuk tidak berendam atau berenang terlalu lama pada kolam air panas.

    Masalah Pernapasan

    Bagi seseorang yang memiliki masalah pernapasan dan alergi, penggunaan klorin untuk air kolam renang bisa mencetuskan alergi dan asma. Jika ini terjadi, hentikan kegiatan berenang dan segera bilas. Konsultasikan ke dokter untuk perawatan lebih lanjut.

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa penyakit yang bisa menular di kolam renang. Pastikan Anda memilih kolam renang yang airnya jernih dan lingkungannya bersih agar mengurangi risiko terinfeksi penyakit. Selain itu, selalu ingatkan anak agar tidak menelan air kolam renang.

    Baca Juga: Penyakit Menular Melalui Makanan, Waspada Kulineran Selama Liburan

    Sahabat Sehat juga bisa mencegah beberapa penyakit di atas seperti Hepatitis A dan diare dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi diare (Rotavirus) biasanya dilakukan pada anak mulai usia 2 bulan hingga 5 tahun. Sedangkan vaksin Hepatitis A diberikan pada usia 12 bulan dan bisa diperbarui saat dewasa.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokterlayanan vaksinasiimunisasi anaklayanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratoriummultivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. merdeka.com. 2021. Sejumlah Penyakit yang Mengintai dari dalam Kolam Renang
    2. Kompas.com. 2016. Penularan Penyakit dari Kolam Renang yang Kotor
    3. popmama. 2022. 7 Penyakit yang Bisa Menular pada Anak di Kolam Renang Umum
    Read More
  • Setelah beberapa minggu libur panjang, mungkin rasanya berat untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Orang tua kembali dengan pekerjaannya, sedangkan anak-anak memulai tahun ajaran baru. Tapi, harus tetap semangat ya, Sahabat Sehat! Dengan terus meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia dan tetap adanya risiko penularan jenis penyakit lainnya yang tidak kalah serius, ada baiknya jika anak-anak sudah […]

    Apa Saja Vaksin Yang Penting Sebelum Mulai Sekolah?

    Setelah beberapa minggu libur panjang, mungkin rasanya berat untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Orang tua kembali dengan pekerjaannya, sedangkan anak-anak memulai tahun ajaran baru. Tapi, harus tetap semangat ya, Sahabat Sehat!

    Apa Saja Vaksin Yang Penting Sebelum Mulai Sekolah

    Apa Saja Vaksin Sebelum Mulai Sekolah Yang Penting?

    Dengan terus meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia dan tetap adanya risiko penularan jenis penyakit lainnya yang tidak kalah serius, ada baiknya jika anak-anak sudah melengkapi vaksin sebelum mulai sekolah, sesuai dengan kebutuhan usianya. Maka, ketika ia kembali bertemu rutin dengan banyak orang di sekolah, tubuhnya sudah memiliki kekebalan yang optimal.

    Apa saja vaksin yang disarankan? Mari simak ulasannya.

    Keutamaan vaksinasi

    Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin berisikan virus atau bakteri yang dilemahkan dalam rangka menimbulkan atau meningkatkan kekebalan tubuh seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Sehingga, ketika ia suatu hari terpapar dengan kuman tersebut, tubuhnya sudah mengenali dan siap melawan serta melindungi.

    Kegiatan vaksinasi dinilai sangat besar manfaat dan efektivitasnya sehingga ditetapkan sebagai salah satu program kesehatan nasional. Sayangnya, belum semua jenis vaksin digratiskan oleh pemerintah sehingga orang tua harus aktif mencari layanan vaksinasi secara mandiri.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Vaksin untuk anak TK dan SD

    Anak-anak adalah kelompok yang rentan terserang penyakit karena kekebalan tubuhnya belum sepenuhnya terbentuk. Maka, peran vaksinasi menjadi besar baginya dalam mencegah penularan dan menurunkan risiko terjadinya sakit berat serta komplikasi.

    Vaksinasi bagi anak TK hingga SD, yaitu kisaran usia 4-12 tahun, umumnya adalah vaksinasi booster atau vaksinasi penguat. Karena, vaksinasi primer (dasar/ utama) sudah dilakukan saat usia 0-24 bulan. Berikut jenis vaksinasi yang disarankan:

    • Usia 4 tahun: vaksin influenza setiap 1 tahun sekali.
    • Usia 6-7 tahun: vaksin DTP (difteri, tetanus, pertusis) 1 kali, influenza setiap 1 tahun sekali, MR/ MMR 1 kali, dan tifoid setiap 3 tahun sekali.
    • Usia 9-12 tahun: vaksin HPV primer 2 kali, Td/Tdap (tetanus difter/ tetanus, difteri, pertusis) 1 kali, influenza setiap 1 tahun sekali, 

     

    Baca Juga: 10 Tips Persiapan Hari Pertama Sekolah Anak

    Vaksin untuk anak SMP dan SMA

    Pada usia remaja, jenis vaksin sebelum mulai sekolah yang diperlukan tidak lagi sebanyak saat usia dini. Namun, jika anak belum melengkapi vaksinasi sesuai jadwalnya, ia memiliki kesempatan untuk melakukan catch up immunization atau imunisasi kejar.

    Untuk usia 13-18 tahun, jenis vaksinasi yang direkomendasikan adalah:

    • Td/Tdap jika belum dilengkapi saat SD, 1 kali.
    • Influenza setiap 1 tahun sekali.
    • Tifoid setiap 3 tahun sekali.
    • HPV 2-3 kali jika belum dilakukan saat SD.

    Baca Juga: Apa Saja Dampak Negatif Pada Anak yang Tidak di Imunisasi?

    Influenza vs Common Cold

    Jika dilihat dari rekomendasi vaksinasi di atas, bisa dilihat bahwa vaksin influenza rutin dilakukan setiap satu tahun sekali. Hal ini dilakukan karena virus flu mudah bermutasi sehingga selalu dilakukan pemutakhiran vaksin. Penyakit influenza sering diremehkan karena dianggap hanya penyakit pilek. Tapi, sebenarnya penyakit ini berbeda dari penyakit pilek biasa yang disebut selesma atau common cold. Pada selesma, gejala pilek dan sakit tenggorokan lebih menonjol.

    Dari segi gejala, virus influenza umumnya menyebabkan demam, meriang, sakit kepala, dan rasa yang tidak nyaman di dada seperti sesak nafas atau nafas terasa berat. Jika penderita memiliki penyakit komorbid seperti penyakit jantung dan asma, infeksi virus influenza bisa menyebabkan penyakit tersebut kambuh atau memberat. Komplikasi lainnya termasuk pneumonia atau paru-paru basah.

    Jadi, walau angka kesembuhannya tinggi, jangan anggap remeh penyakit ini ya, Sahabat Sehat. Berikan perlindungan yang terbaik bagi tubuh.

    Baca Juga: 5 Cara Melindungi Anak Dari Bullying Teman di Sekolahnya

    Vaksinasi di Prosehat

    Layanan vaksinasi adalah salah satu layanan unggulan dari Prosehat. Turut mendukung program vaksinasi, Prosehat berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang terpenuhi kebutuhan vaksinasinya dan tercipta herd immunity.

    Bagi Sahabat Sehat yang ingin melakukan vaksin sebelum mulai sekolah, Anda bisa memesan layanan ini melalui Chat Asisten Kesehatan Maya atau melalui website Prosehat. Layanan ini bisa dilakukan di Klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda dan anak-anak. Layanan vaksinasi Prosehat juga tersedia di berbagai kota di Indonesia.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokterlayanan vaksinasiimunisasi anaklayanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratoriummultivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. CDC. Cold Versus Flu. 2021.
    2. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun. 2020.
    Read More
  • Demam merupakan salah satu keluhan yang kerap dijumpai Si Kecil. Moms mungkin bingung apa penyebab demam Si Kecil? Demam umumnya menunjukan bahwa terjadi proses peradangan pada tubuh, yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus.  Salah satu penyebab demam pada Si Kecil yakni demam tifoid dan demam berdarah. Moms, bagaimana cara membedakan kedua penyakit tersebut […]

    Cara Membedakan Demam Tifoid dan Demam Berdarah Pada Si Kecil

    Demam merupakan salah satu keluhan yang kerap dijumpai Si Kecil. Moms mungkin bingung apa penyebab demam Si Kecil? Demam umumnya menunjukan bahwa terjadi proses peradangan pada tubuh, yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus. 

    Salah satu penyebab demam pada Si Kecil yakni demam tifoid dan demam berdarah. Moms, bagaimana cara membedakan kedua penyakit tersebut jika gejala awalnya sama-sama ditandai dengan demam? Mari simak penjelasan berikut.

    Cara Membedakan Demam Tifoid dan Demam Berdarah Pada Si Kecil

    Cara Membedakan Demam Tifoid dan Demam Berdarah Pada Si Kecil

    Apa Gejala Demam Tifoid ?

    Demam tifoid merupakan sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penularan bakteri terjadi secara fecal – oral, artinya ditularkan melalui kotoran penderita nya yang mencemari makanan maupun minuman. 

    Apabila Mama mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak bersih maka beresiko menderita demam tifoid. Bakteri masuk ke saluran cerna lalu menginfeksi melalui saluran cerna dan menimbulkan gejala seperti:

    • Demam, terutama pada malam hari
    • Nyeri perut
    • Diare atau konstipasi
    • Nyeri kepala
    • Lemas
    • Tidak nafsu makan.

    Untuk memastikannya, Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan laboratorium dengan pengambilan darah untuk mengetahui apakah keluhan Si Kecil disebabkan oleh demam tifoid atau akibat hal lain.

    Si Kecil yang menderita demam tifoid memerlukan penanganan yang cepat dan tepat agar tidak menimbulkan komplikasi. Penanganan pada demam tifoid berupa pemberian antibiotik dan obat-obatan lain untuk mengurangi keluhannya. Kebersihan juga harus dijaga agar dapat mencegah infeksi bakteri tifoid. Pastikan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Vaksin Tifoid Dapat Mencegah Tipes

    Sahabat Sehat dapat mencegah tipes, salah satunya dengan menerima vaksin tifoid. Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin untuk mencegah tipes, yaitu:

    • Vaksin tifoid capsular Vi polisakarida

    Diberikan melalui suntikan, mulai dapat diberikan pada usia diatas 2 tahun dan dapat diulang setiap 3 tahun.

    • Vaksin tifoid oral Ty21a 

    Vaksin diberikan per oral, mulai dapat diberikan pada usia diatas 6 tahun dan dikemas dalam 3 dosis dengan interval pemberian selang sehari (hari 1,3, dan 5). Dapat diulang pemberiannya setiap 3-5 tahun sekali.

    Baca Juga: Apa Beda Vaksin yang Bikin Anak Demam dan Tidak?

    Demam berdarah

    Berbeda dengan demam tifoid, demam berdarah disebabkan oleh infeksi virus dengue (DENV). Virus tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk betina spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk tersebut ditemukan banyak hidup di iklim tropis, sehingga menyebabkan Indonesia menjadi negara kedua terbanyak kasus demam berdarahnya.

    Kenaikan kasus demam berdarah kerap terjadi seiring dengan musim hujan. Beberapa gejala khas demam berdarah, yakni:

    • Demam
    • Nyeri kepala hebat
    • Nyeri otot
    • Nyeri pada belakang mata
    • Kemerahan pada kulit

    Demam pada demam berdarah dapat berlangsung sekitar 2-7 hari, setelah itu demam akan menurun dengan sendirinya. Namun pada beberapa kasus demam berdarah dapat berlanjut menjadi demam berdarah berat, yang ditandai dengan:

    • Nyeri perut
    • Mual muntah
    • Nafas cepat
    • Perdarahan dari gusi atau hidung
    • Muntah darah ataupun BAB berdarah.

    Penanganan untuk demam berdarah bersifat suportif yakni bertujuan untuk mengurangi gejala serta menjaga keseimbangan cairan tubuh agar tidak kekurangan cairan (dehidrasi).

    Baca Juga: Wajib Tahu! Kenali Fase Demam Berdarah dan Penanganannya

    Nah Sahabat Sehat, itulah cara membedakan demam tifoid dan demam berdarah pada Si Kecil. Apabila Si Kecil memiliki gejala seperti diatas, sebaiknya periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. NHS UK. Typhoid fever.
    2. Bhandari J, Thada P, DeVos E. Typhoid Fever.
    3. World Health Organization. Typhoid.
    4. World Health Organization. Dengue and severe dengue.
    5. Haryanto B. Indonesia Dengue Fever: Status, Vulnerability, and Challenges.
    6. Centre for Disease Control and Prevention. Dengue.
    Read More
  • Melihat kondisi saat ini, pandemi Covid-19 sudah semakin mereda di berbagai negara. Mungkin beberapa dari Sahabat Sehat sudah memiliki rencana untuk melanjutkan studi kuliah di luar Indonesia. Tentu terdapat banyak pilihan negara, salah satunya adalah negara Perancis. Sebelum Sahabat Sehat pergi untuk kuliah di Perancis, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Salah satunya adalah untuk […]

    Ini List Lengkap Vaksinasi Sebelum Kuliah di Perancis

    Melihat kondisi saat ini, pandemi Covid-19 sudah semakin mereda di berbagai negara. Mungkin beberapa dari Sahabat Sehat sudah memiliki rencana untuk melanjutkan studi kuliah di luar Indonesia. Tentu terdapat banyak pilihan negara, salah satunya adalah negara Perancis.

    Ini List Lengkap Vaksinasi Sebelum Kuliah di Perancis

    Ini List Lengkap Vaksinasi Sebelum Kuliah di Perancis

    Sebelum Sahabat Sehat pergi untuk kuliah di Perancis, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Salah satunya adalah untuk melengkapi vaksin, karena di Perancis terdapat beberapa persyaratan vaksinasi yang perlu dipenuhi. Apa saja vaksin yang diperlukan untuk kuliah di Perancis? Mari kita bahas dalam artikel berikut.

    Vaksinasi efektif melindungi dari infeksi

    Vaksinasi merupakan sebuah metode yang dinilai efektif untuk memberikan perlindungan bagi Sahabat Sehat dari penyakit menular sebelum terpapar penyakit tersebut. Terdapat berbagai macam jenis vaksin, seperti protein atau bagian dari kuman yang diambil atau dibuat (rekombinasi) atau bahkan kuman tersebut yang sudah dilemahkan. 

    Dengan diberikan vaksin, maka sistem imun tubuh dapat membentuk antibodi terhadap kuman tersebut, sehingga siap untuk menghadapi infeksi apabila terjadi nantinya.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Pendatang dari Indonesia wajib vaksinasi

    Di Perancis, terdapat vaksin yang diwajibkan dan juga vaksin yang direkomendasikan. Vaksin yang wajib didapatkan sebelum Sahabat Sehat kuliah di Perancis adalah difteri, tetanus, dan poliomyelitis. 

    Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang diwajibkan untuk melengkapi vaksinnya sebelum datang untuk studi di Perancis. Hal tersebut diwajibkan untuk membantu mencegah terjadinya kasus difteri, tetanus, dan poliomyelitis di Perancis.

    Baca Juga: Vaksin, Menjadi Syarat Mutlak Sebelum Kuliah di Luar Negeri

    Dengan masih berlangsungnya pandemi Covid-19, maka Sahabat Sehat juga perlu mendapatkan vaksin Covid-19 secara lengkap sebelum berkuliah di Perancis. Vaksin Covid-19 yang saat ini diakui oleh Perancis adalah Jansen, Pfizer, Moderna, dan Astrazeneca. Selain vaksin tersebut, diperlukan dosis vaksin mRNA tambahan agar diberikan izin untuk masuk ke Perancis.

    Terdapat juga beberapa vaksin yang direkomendasikan oleh Perdana Menteri Perancis. Diantaranya adalah vaksin untuk penyakit:

      • BCG
      • Pertussis
      • Measles, mumps, dan rubella (MMR)
      • Varicella
      • Hepatitis B
      • Herpes zoster
      • Haemophilus Influenzae Type B (HiB)
      • Pneumokokus
      • Meningokokus
      • Human Papillomavirus (HPV)

    Beberapa vaksin yang disebutkan diatas mungkin pernah Sahabat Sehat dapatkan pada usia masih kecil. Maka, Sahabat Sehat hanya perlu melengkapi jenis yang belum pernah diterima atau jenis yang memerlukan booster.

    Sebelum mendapatkan vaksin, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan karena beberapa vaksin memerlukan pemeriksaan titer antibodi terlebih dahulu, seperti vaksin hepatitis. Selain itu, kondisi Sahabat Sehat juga harus dinilai baik atau sedang fit.

    Baca Juga: Persiapkan Diri dengan Booster Vaksin Sebelum Kuliah di UK

    Manfaat vaksin lebih besar dibanding efek samping

    Pemberian vaksin jauh lebih bermanfaat dibandingkan efek sampingnya. Setelah Sahabat Sehat mendapatkan vaksin, maka tubuh akan kebal terhadap penyakit vaksin tersebut. Infeksi dapat dicegah sehingga komplikasi-komplikasi berat dan merugikan yang mungkin terjadi dapat dihindari. Vaksin dapat disebut sebagai investasi untuk kesehatan yang paling berharga.

    Efek samping vaksin secara umum berupa nyeri, kemerahan, atau pegal pada daerah penyuntikan vaksin. Efek samping yang lebih jarang terjadi dapat berupa demam, atau reaksi alergi, namun hal tersebut dapat diatasi dengan pertolongan tim medis.

    Nah Sahabat Sehat, Perdana Menteri Perancis mewajibkan dan juga merekomendasikan beberapa vaksin bagi Sahabat Sehat yang ingin melanjutkan kuliah di Perancis. Vaksin memberikan proteksi baik bagi Sahabat Sehat maupun orang disekitar Anda. Dengan manfaatnya yang lebih besar dibandingkan efek sampingnya, Sahabat Sehat tidak perlu ragu untuk mendapatkan vaksin.

    Ayo vaksinasi bersama Prosehat. Anda bisa mendapatkannya di klinik Prosehat Bekasi atau Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda. Prosehat juga memiliki paket vaksinasi bagi calon pelajar/ mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Perancis. Pastikan juga Anda meluangkan cukup waktu untuk melengkapi vaksinasi, jangan tunggu sampai dekat keberangkatan, ya!

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi MMR Bagi Mahasiswa

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya dengan nomor 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. WHO. Vaccines and immunization.
    2. Public Service France. Faut-il faire vacciner son enfant pour l’inscrire à l’école, en crèche ou garderie?
    3. World Education Blog. Now this: vaccine requirements to go to university.
    4. Ministère de l’Intérieur. Covid 19 : International travel.
    5. CDC. Traveler’s Health: France.
    Read More
  • Dengan meredanya pandemi Covid-19 saat ini, beberapa dari Sahabat Sehat mungkin berpikir untuk melanjutkan kuliahnya di luar Indonesia. Salah satu negara terpopuler untuk melanjutkan studi adalah negara Jerman. Sebelum pergi ke Jerman, tentu ada beberapa hal yang Sahabat Sehat perlu siapkan, salah satunya melengkapi vaksinasi. Namun pernahkah Sahabat Sehat mendengar sebuah penyakit yang bernama campak […]

    Kuliah di Jerman Perlu Vaksin Campak Jerman?

    Dengan meredanya pandemi Covid-19 saat ini, beberapa dari Sahabat Sehat mungkin berpikir untuk melanjutkan kuliahnya di luar Indonesia. Salah satu negara terpopuler untuk melanjutkan studi adalah negara Jerman.

    Kuliah di Jerman Perlu Vaksin Campak Jerman

    Kuliah di Jerman Perlu Vaksin Campak Jerman?

    Sebelum pergi ke Jerman, tentu ada beberapa hal yang Sahabat Sehat perlu siapkan, salah satunya melengkapi vaksinasi. Namun pernahkah Sahabat Sehat mendengar sebuah penyakit yang bernama campak Jerman? Apakah itu campak Jerman dan perlukah Sahabat Sehat mendapatkan vaksin terhadap penyakit tersebut sebelum pergi untuk studi di Jerman?

    Campak Jerman menginfeksi anak dan dewasa

    Penyakit yang dinamakan campak Jerman atau sebutan lainnya Rubella disebabkan oleh sebuah virus RNA dengan genus Rubivirus. Virus ini sering dijumpai menginfeksi anak kecil dan dewasa yang belum menerima vaksin Rubella.

    Dengan ditemukannya vaksin Rubella pada tahun 1969, angka kejadian Rubella sudah menurun drastis. Meskipun demikian, infeksi Rubella masih terjadi di beberapa negara, sehingga pemberian vaksin Rubella masih dianjurkan termasuk oleh negara Jerman.

    Rubella dapat ditularkan melalui droplet yang diproduksi saat batuk atau bersin oleh seseorang yang terinfeksi. Apabila droplet tersebut kontak dengan mukosa mata, hidung, atau mulut orang yang kekebalan tubuhnya rendah, maka infeksi Rubella dapat terjadi. Infeksi tersebut lebih rentan terjadi pada anak-anak dimana sistem imun mereka belum sempurna dan juga dewasa yang belum divaksinasi atau mengalami kondisi imun yang terganggu.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Campak Jerman

    Ketika seseorang terinfeksi Rubella maka akan timbul beberapa tanda dan gejala yang berupa:

    • Demam sedang
    • Batuk pilek
    • Mata merah
    • Nyeri kepala
    • Pembesaran kelenjar getah bening
    • Ruam merah yang timbul pertama dari bagian kepala kemudian meluas ke seluruh tubuh.

    Gejala tersebut dapat timbul 2-3 minggu setelah seseorang terinfeksi dan umumnya sembuh dalam 1 minggu.

    Namun Rubella dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila terjadi pada seorang ibu yang sedang hamil baik pada ibu maupun janinnya. Komplikasi dapat berupa pneumonia pada ibu, cacat pada janin seperti kebutaan, gagal jantung, bahkan angka meninggal yang tinggi.

    Baca Juga: Vaksin, Menjadi Syarat Mutlak Sebelum Kuliah di Luar Negeri

    Vaksin MMR mencegah cacar Jerman

    Terdapat beberapa cara untuk mencegah infeksi campak Jerman. Mencuci tangan dan menjaga kebersihan merupakan salah satu hal dikarenakan penularan terjadi akibat droplet.

    Selain itu vaksinasi juga dapat mencegah infeksi dari penyakit tersebut. Negara Jerman tidak mewajibkan seluruh warga negaranya untuk mendapatkan vaksin, namun tenaga kesehatan Jerman tetap merekomendasikan untuk mendapatkan vaksin terhadap campak Jerman.

    Terdapat beberapa vaksin yang direkomendasikan, salah satunya adalah vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR). Vaksin untuk Rubella sudah termasuk dalam vaksin MMR dan dapat diberikan pada anak kecil maupun dewasa. Vaksin MMR sudah dapat diberikan pada anak usia 9 bulan.

    Bagi Sahabat Sehat yang ingin melanjutkan kuliah di Jerman memerlukan 2 dosis vaksin MMR dengan jarak 28 hari antara vaksin pertama dan vaksin kedua. Efek samping dari vaksin tersebut dapat berupa merah pada lokasi penyuntikan, nyeri atau pegal.

    Vaksin merupakan sebuah hal yang sangat menguntungkan bagi Sahabat Sehat karena dapat membantu mencegah suatu penyakit. Dengan mencegah infeksi, maka komplikasi dari campak Jerman juga dapat dihindari dan menjalani pendidikan pun nyaman.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi MMR Bagi Mahasiswa

    Ayo lengkapi vaksinasimu bersama Prosehat. Layanan vaksinasi Prosehat dapat dilakukan di klinik Prosehat di Bekasi Satu atau Palmerah Jakarta Selatan, ataupun di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Sahabat Sehat.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Leonor M, Mendez M. Rubella.
    2. WHO. Rubella.
    3. CDC. Rubella (German Measles, Three-Day Measles).
    4. NHS UK. Rubella (German measles).
    5. Handbook Germany. German Vaccination Schedule.
    6. CDC. Measles, Mumps, and Rubella (MMR) Vaccination: What Everyone Should Know.
    Read More
  • Demam adalah sebuah hal yang dapat dialami oleh Sahabat Sehat saat sedang sakit atau terinfeksi kuman. Hal ini terjadi karena adanya respon radang di dalam tubuh. Seiring dengan sembuhnya penyakit, maka demam juga akan semakin menurun. Namun pernahkah Sahabat Sehat mendengar istilah demam kuning? Terlebih lagi, demam kuning merupakan sebuah penyakit yang ditularkan melalui gigitan […]

    Benarkah Gigitan Nyamuk Bisa Sebabkan Demam Kuning?

    Demam adalah sebuah hal yang dapat dialami oleh Sahabat Sehat saat sedang sakit atau terinfeksi kuman. Hal ini terjadi karena adanya respon radang di dalam tubuh. Seiring dengan sembuhnya penyakit, maka demam juga akan semakin menurun.

    Benarkah Gigitan Nyamuk Bisa Sebabkan Demam Kuning

    Benarkah Gigitan Nyamuk Bisa Sebabkan Demam Kuning?

    Namun pernahkah Sahabat Sehat mendengar istilah demam kuning? Terlebih lagi, demam kuning merupakan sebuah penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Apakah itu demam kuning dan apa hubungan penyakit tersebut dengan gigitan nyamuk? Mari kita bahas hal tersebut di dalam artikel berikut

    Nyamuk Penyebab Demam Kuning

    Demam kuning merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus RNA dengan genus Flavivirus. Virus tersebut dapat ditransmisikan melalui gigitan nyamuk dengan spesies Aedes aegypti dan Haemagogus species. Penyakit ini sering ditemukan pada benua Afrika dan Amerika Selatan. 

    Terdapat 3 tipe dari demam kuning yang dibagi berdasarkan daerah infeksi yaitu tipe jungle, tipe intermediate, dan tipe perkotaan. Infeksi demam kuning terjadi apabila seseorang digigit oleh nyamuk yang sebelumnya terinfeksi dengan virus tersebut. Seekor nyamuk dapat terinfeksi virus demam kuning apabila menggigit monyet atau orang yang memiliki virus tersebut.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Tanda dan Gejala Demam Kuning

    Seperti namanya, penyakit ini dapat menyebabkan seseorang menjadi kuning pada kulit dan matanya namun tidak selalu terjadi. Secara umum, beberapa orang mungkin tidak mengalami tanda dan gejala, atau mengalaminya dalam tingkat yang ringan.

    Tanda dan gejala yang sering dijumpai akibat demam kuning adalah demam, nyeri kepala, nyeri punggung, nyeri otot, mual muntah, dan merasa lelah. Secara umum, tanda dan gejala dapat mereda setelah 3-4 hari.

    Tetapi dapat dijumpai tanda dan gejala yang berat berupa perdarahan, kulit dan mata menjadi kuning, demam tinggi, syok, hingga kegagalan organ. Virus ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati, sehingga kuning pada kulit dan mata dapat terjadi.

    Hingga saat ini tidak ada obat secara spesifik yang dapat membunuh virus demam kuning. Tatalaksana yang diberikan merupakan tatalaksana simptomatis untuk mengurangi tanda dan gejala, juga suportif seperti pemberian infus agar Sahabat Sehat tidak dehidrasi.

    Apabila dijumpai demam kuning yang berat, maka perawatan kemungkinan dilakukan di Intensive Care Unit (ICU). 

    Baca Juga: Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Cegah Demam Kuning dengan Vaksin

    Dengan tidak adanya obat spesifik untuk menyembuhkan penyakit ini, maka prevensi merupakan hal yang sangat penting. Saat bepergian ke daerah endemis demam kuning, Sahabat Sehat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi yellow fever. Vaksin ini diberikan cukup satu kali untuk perlindungan selama 10 tahun.

    Selain itu, gunakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang untuk menghindari gigitan nyamuk ini. Sahabat Sehat juga bisa menggunakan lotion anti-nyamuk yang mengandung bahan seperti minyak lemon eucalyptus juga dapat membantu. 

    Baca Juga: 6 Jenis Vaksin Travel yang Penting Sebelum Pergi Liburan

    Jadi, jika Sahabat Sehat akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, berlibur, maupun melakukan perjalanan bisnis ke daerah Amerika Selatan dan Afrika, Anda sangat disarankan untuk melakukan vaksinasi yellow fever terlebih dahulu agar terlindungi selama di sana. Ayo vaksinasi bersama Prosehat. Layanan vaksinasi Prosehat aman, nyaman, dan mudah. 

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Balli S, Sharan S. Physiology, Fever.
    2. Simon L, Hashmi M, Torp K. Yellow Fever.
    3. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI.
    4. CDC. Yellow Fever.
    5. WHO. Yellow fever.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com