Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Kenali Perbedaan DHF, Chikungunya, Leptospirosis

Sobat pernah mendengar tentang DHF (Dengue High Fever), Chikungunya, Leptospirosis? Mungkin sekilas Anda mengetahui informasi terkait penyakit-penyakit tersebut, tapi sudahkah Anda memahami penyebab dan perbedaan ketiganya? Hal yang patut jadi perhatian ialah gejala dari penyakit tersebut cukup mirip dan sering terjadi pada musim penghujan.

DHF dan Chikungunya adalah infeksi virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Seekor nyamuk pembawa virus ini dapat menginfeksi lebih dari selusin orang-seumur hidup nyamuk tersebut. Nyamuk Aedes aegypti lebih cenderung menyebarkan demam berdarah dan nyamuk tipe Aedes albopictus lebih cenderung menyebarkan virus chikungunya. Tak jarang seseorang dapat terinfeksi dua virus tersebut secara bersamaan. Sedangkan leptospira merupakan infeksi bakteri yang sering ditemukan baik di daerah pedesaan dan perkotaan, dimana faktor lingkungan dan gaya hidup memengaruhi perkembangan penyakit ini. Bakteri leptospira ditularkan ke manusia melalui kontak tidak langsung lewat urin atau jaringan hewan yang terinfeksi.

Baca Juga: Nyamuk Pembunuh No 1 Dunia

Gejala awal dari DHF dan chikungunya sangat mirip yaitu demam tinggi, sakit kepala, nyeri pada bagian mata, nyeri sendi, ruam dan lesu. Gejala kelelahan yang diakibatkan oleh kedua penyakit virus ini dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan hingga bulan. Dalam beberapa kasus bahkan nyeri sendi dapat bertahan sampai beberapa bulan, atau bahkan tahun.

Sedangkan gejala leptospira dapat terlihat setelah masa inkubasi 1 atau 2 minggu, yang terkadang tidak menunjukkan gejala, tapi dapat pula menyebabkan gejala demam tinggi yang mirip dengan DHF dan chikungunya, nyeri kepala, muntah, diare, ruam kulit dan penyakit kuning (pada kulit dan mata dapat terlihat lebih kuning). Sehingga, ketika Sobat menemukan gejala-gejala tersebut, segeralah berobat ke dokter terdekat untuk dilakukan beberapa tes darah sederhana untuk membedakan penyakit.

Beberapa metode dapat digunakan untuk menentukan diagnosis dari gejala-gejala dari DHF, chikungunya serta leptospirosis, yaitu dengan tes darah sederhana. Tes darah ini dilakukan untuk mendeteksi virus DHF atau virus chikungunya selama beberapa hari dalam darah selama beberapa hari setelah infeksi atau antibodi terhadap virus tersebut. Tes ini dilakukan oleh dokter jika ada kecurigaan pasien menderita infeksi DHF atau chikungunya.

Penyakit chikungunya jarang berakibat fatal, tapi DHF dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Pemeriksaan leptospira dapat dilakukan dengan tes darah sederhana dan memeriksa darah Sobat untuk mengetahui apakah Sobat memiliki antibodi terhadap leptospira, yang menandakan bahwa Sobat sedang terinfeksi bakteri tersebut. Jika Sobat telah memiliki infeksi ini sebelumnya, maka hasil ini dapat mengakibatkan hasil positif palsu, sehingga dokter mungkin saja meminta untuk melakukan tes ulang seminggu kemudian untuk memastikan hasilnya benar. Selain itu pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah tes DNA. Cara ini lebih tepat dalam menentukan diagnosis, tapi mahal dan membutuhkan waktu yang lama.

Baca Juga: Kenali Gejala Demam Berdarah Sebelum Jelajah Nusantara

Penyakit DHF dan chikungunya tidak memiliki obat khusus. Jika Sobat merasa menderita kedua penyakit tersebut, maka Sobat dapat mengonsumsi parasetamol untuk meredakan demam dan nyeri dan menghindari obat-obatan jenis aspirin karena dapat menyebabkan perdarahan. Sobat juga tentunya perlu beristirahat, banyak minum cairan, dan mengunjungi dokter terutama jika gejala bertambah buruk.

Leptospirosis dapat diobati dengan menggunakan antibiotik dan dokter mungkin juga akan menyarankan Sobat mengonsumsi obat penurun demam untuk mengurangi gejala demam dan nyeri otot. Leptospira akan berlangsung selama 1 minggu dan terkadang dapat sembuh dengan sendirinya. Bila gejala bertambah parah seperti gejala gagal ginjal, meningitis (infeksi selaput otak), dan masalah paru-paru, maka Sobat sebaiknya segera berobat ke rumah sakit untuk perawatan intensif.

Itulah perbedaan dan terapi dari DHF, Chikungunya dan Leptospirosis. Jika Sobat mulai memiliki gejala yang kita bahas di atas, segeralah konsultasi dengan dokter untuk mengetahui lebih lanjut sakit yang diderita. Untuk informasi kesehatan lainnya, bisa diperoleh melalui www.prosehat.com atau install aplikasi di google play atau app store. Atau jika Anda membutuhkan produk kesehatan, dapat menghubungi (Maya) Asisten Kesehatan ProSehat, Telp/SMS/WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga.

instal aplikasi prosehat

Daftar Pustaka

  1. Differences between dengue and chikungunya – ttsh.com.sg/about-us/newsroom/news/article.aspx?id=4999, diakses pada tanggal 7-1-2019
  2. Dengue virus infection : Clinical manifestations and diagnosis – uptodate.com/contents/dengue-virus-infection-clinical-manifestations-and-diagnosis, diakses pada tanggal 7-1-2019
  3. Dengue vs Leptospirosis, diagnosis and treatment from the first contact – medtube.net/science/wp-content/uploads/2014/03/Dengue-vs.-Leptospirosis-diagnosis-and-treatment-from-the-first-contact.pdf, diakses pada tanggal 7-1-2019
  4. Dengue fever – webmd.com/a-to-z-guides/dengue-fever-reference#1, diakses pada tanggal 7-1-2019
  5. Chikungunya virus – cdc.gov/chikungunya/symptoms/index.html, diakses pada tanggal 7-1-2019