Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Mari Kita Mengenal Pertusis pada Anak

Pernahkan Anda mendengar kata pertusis? Pertusis adalah batuk rejan atau batuk 100 hari yang disebabkan oleh infeksi tenggorokan akibat bakteri Bordetella pertussis. Menurut data WHO di tahun 2008 terjadi 16 juta kasus pertusis di seluruh dunia. Sebanyak 95% kasus ditemukan di negara berkembang dan telah merenggut  nyawa 195000 anak.

Baca Juga: Batuk Kronis pada Lansia, dari Gejala hingga Pencegahan

Batuk jenis pertusis ini tak seperti batuk biasa, batuk ini bertahan lama seakan tak kunjung sembuh. Jika pada batuk biasa umumnya dapat sembuh dalam beberapa hari, lain halnya dengan pertusis yang berlangsung lama dan dapat mengancam nyawa terutama pada bayi di bawah usia 6 bulan.

Seperti halnya flu dan batuk, pertusis merupakan penyakit yang sangat menular. Penularan terjadi melalui droplet (percikan ludah) yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.  Kuman yang menyebar juga bisa menempel di permukaan, misalnya pada mainan anak. Kuman akan menyerang selaput lendir dalam saluran pernapasan sehingga saluran pernafasan akan meradang dan bengkak. Hal ini juga mengakibatkan peningkatan produksi lendir. Adanya pembengkakan dan banyaknya lendir membuat saluran nafas menjadi sempit. Pada bayi dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang berakibat kematian.

Seperti apa gejala yang ditimbulkan dari pertusis?

Gejala timbul sekitar 1 hingga 3 minggu setelah terpapar bakteri. Gejala awal yang timbul seperti flu biasa, pilek, batuk, radang tenggorokan, demam, dan produksi lendir berlebih. Pada masa ini  pertusis sangat menular. Pada malam hari batuk kian memburuk dengan frekuensi sering. Ketika batuk wajah akan memerah dan mata berair. Batuk yang berat terkadang menyebabkan penderita kesulitan mengambil nafas sehingga muncul suara melengking “whooping”. Namun, pada bayi yang usianya kurang dari 6 bulan tidak timbul suara melengking.

Baca Juga: Langganan Batuk dan Pilek, Ini 9 Cara Tepat Mencegahnya

Risiko terinfeksi pertusis tinggi pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi dan pada orang yang tinggal serumah dengan penderita pertusis. Komplikasi dari pertusis pada anak bisa berupa infeksi paru-paru, perdarahan pada mata, hernia, dan kejang. Bila anak Anda mengalami batuk yang tidak membaik dalam beberapa hari sebaiknya Anda mengunjungi dokter.  

Selagi bisa mencegah, lakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan dan melakukan vaksinasi. Vaksinasi diberikan bersamaan vaksin difteri dan tetanus (DTP) saat anak usia 2,3,4 bulan dan booster di usia 18 bulan dan 5 tahun.

Produk Terkait: Layanan Vaksinasi DTP ke Rumah

Jika Sobat ingin vaksinasi, Sobat juga bisa melakukannya di Prosehat yang mempunyai layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak kenggulan, yaitu:

  • Produk dijamin asli
  • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
  • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
  • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
  • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
  • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi:

  1. TanyaDok.com | Pertussis / Batuk Rejan: Batuk 100 Hari Yang Mematikan [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2 February 2018]. Available from: tanyadok.com
  2. Pertussis [Internet]. Who.int. 2011 [cited 2 February 2018]. Available from: who.int

Chat Asisten ProSehat aja