Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Penyakit

Showing 21–30 of 403 results

  • Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernapasan dan paru yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian anak terbesar di dunia bila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya. Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 silam atau dapat […]

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernapasan dan paru yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian anak terbesar di dunia bila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya.

    Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 silam atau dapat dikatakan setiap jam terdapat 2 orang anak yang meninggal dunia akibat penyakit infeksi pernapasan ini.

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Diketahui berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan angka penderita pneumonia pada balita cukup tinggi yaitu 4,5 per 100 balita. Sementara berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) diketahui bahwa angka kematian anak berusia dibawah 5 tahun akibat pneumonia mencapai 15% pada tahun 2017, atau setara dengan 5,5 juta orang anak.

    Apakah Pneumonia Dapat Menginfeksi Bayi Baru Lahir?

    Pneumonia pada bayi baru lahir disebut juga dengan pneumonia neonatal. Kondisi ini mengakibatkan peradangan paru dan saluran pernapasan, sehingga beresiko menyebabkan sesak nafas yang dapat berujung pada syok dan kematian. Pneumonia pada bayi baru lahir dapat terjadi beberapa jam hingga 7 hari setelah bayi dilahirkan.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Berbagai organisme penyebab pneumonia pada bayi yang baru dilahirkan kemungkinan besar didapatkan dari jalan lahir (kemaluan ibu) ketika proses persalinan. Berikut ada beberapa jenis organisme yang menyebabkan pneumonia pada bayi baru lahir, yaitu : Streptococcus grup A dan B, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Klebsiella, dan Proteus. Selain itu Pseudomonas, Citrobacter, Bacillus, Serratia dan virus (Rhinovirus, Adenovirus, Human Metapneumovirus, Enterovirus, Coronavirus dan Herpes simplex virus) serta jamur.

    Risiko pneumonia meningkat pada beberapa kondisi berikut, yaitu:

    • Ibu hamil mengalami ketuban pecah dini
    • Infeksi rahim atau pada area kemaluan di masa kehamilan
    • Bayi baru lahir menjalani perawatan di ruang ICU
    • Ibu mengkonsumsi obat antibiotik selama masa kehamilan
    • Ibu merokok di masa kehamilan
    • Bayi lahir sungsang 
    • Ibu mengalami demam saat persalinan
    • Ibu menderita infeksi saluran kemih berulang.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Apa Gejala Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir?

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai gejala yang dialami bayi jika menderita pneumonia, yaitu: 

    • Sesak nafas dan kesulitan saat bernafas
    • Bayi terdengar seperti sedang merintih dan tidak kuat menangis.
    • Jari-jari serta bibir terlihat kebiruan
    • Wajah pucat
    • Jari dan tubuh teraba dingin 

    Pneumonia pada bayi baru lahir tidak selalu disertai dengan demam, berbeda dengan anak yang lebih besar yang mungkin akan disertai dengan demam. Selain itu, pneumonia pada bayi baru lahir dapat disertai dengan keluhan lain misalnya kulit tampak kemerahan, gula darah turun, perut membuncit dan bayi jarang buang air kecil.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Bagaimana Cara Mencegah Pneumonia?

    Untuk mencegah pneumonia pada bayi yang baru lahir, ibu hamil disarankan untuk kontrol rutin ke dokter selama kehamilan. Selain itu, usahakan untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terkena infeksi serta menjaga kebersihan tubuh terutama kemaluan. Hindari mengkonsumsi obat-obatan selama masa kehamilan tanpa saran dokter.

    Selain itu untuk mencegah pneumonia pada anak, Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi seperti pneumococcus conjugated vaccine (PCV), dan haemophilus influenzae type B (Hib). Imunisasi PCV dapat diberikan pada umur 2,4 dan 6 bulan dengan booster pada umur 12 – 15 bulan. Sementara imunisasi HiB dapat diberikan pada saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan, serta 18 bulan.

    Baca Juga: Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit pneumonia yang dapat menyerang Si Kecil. Salah satu cara untuk mencegah pneumonia adalah dengan mengikuti imunisasi baik PCV (pneumococcus conjugated vaccine) dan HiB (haemophilus influenzae type B).

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia Pada Anak bisa Dicegah dan Diobati.
    3. Ramdhani J. Hitung Napas Anak: Deteksi Awal Sesak Napas pada Anak dengan Pneumonia.
    4. M Cronan. Pneumonia (for Parents).
    5. ADA Health. Pediatric Pneumonia.
    Read More
  • Penyakit peradangan hati atau disebut juga hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Terdapat berbagai jenis virus hepatitis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, D dan E. Kali ini akan dibahas mengenai penyakit Hepatitis A, mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Hepatitis A? Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (Hepatitis Virus A- […]

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Penyakit peradangan hati atau disebut juga hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Terdapat berbagai jenis virus hepatitis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, D dan E. Kali ini akan dibahas mengenai penyakit Hepatitis A, mari simak penjelasan berikut.

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Apa Itu Hepatitis A?

    Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (Hepatitis Virus A- HAV), yang termasuk famili picornaviridae genus hepatovirus yang merupakan RNA virus positif. Menurut data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), Hepatitis A adalah salah satu penyakit yang ditularkan melalui makanan yang tercemar oleh virus hepatitis A. Penyakit hepatitis A merupakan jenis penyakit hepatitis yang paling sering ditemui di dunia. Diketahui setiap tahun sekitar 1,4 juta orang tertular penyakit Hepatitis A di dunia.

    Penyakit Hepatitis tidak hanya menyerang orang dewasa saja, melainkan juga dapat menyerang anak-anak. Jika dibiarkan, penyakit hepatitis dapat mengakibatkan sirosis yaitu suatu kondisi adanya kerusakan hati yang dapat mengakibatkan gagal fungsi hati. Sahabat Sehat perlu mewaspadai gejala hepatitis pada anak serta cara pengobatan dan pencegahan tertular Hepatitis A.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Hepatitis A?

    Penularan Hepatitis A pada anak ditularkan dengan mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A. Virus dapat ditemukan pada tinja penderita hepatitis A dan jumlah virus hepatitis A mencapai puncaknya dalam 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala. Oleh sebab itu, mencuci tangan menjadi salah satu cara mencegah penularan hepatitis A.

    Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat hepatitis A, biasanya terjadi ditempat umum yang banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk makan atau minum. Penyakit hepatitis A dapat ditemukan pada lingkungan yang sanitasinya buruk.

    Baca Juga: Virus Hepatitis A, Mulai dari Penyebab hingga Pengobatan

    Gejala Hepatitis A

    Hepatitis A berkembang dalam tubuh (masa inkubasi) terjadi selama 14-28 hari, sehingga seseorang baru merasakan gejala penyakit ini setelah jangka waktu tersebut. Virus hepatitis A dapat mengakibatkan infeksi yang cukup ringan, bahkan anak berusia dibawah usia 6 tahun cenderung tidak merasakan gejala apapun.

    Berikut ini gejala yang dapat dialami anak yang terinfeksi hepatitis A, yakni:

    • Demam
    • Kehilangan nafsu makan
    • Merasa letih dan lelah
    • Nyeri perut
    • Muntah
    • Warna urin tampak seperti teh
    • Kulit dan mata terlihat kekuningan
    • Tinja berwarna pucat.

    Baca Juga: Ingin Melanjutkan Kuliah di India? Vaksin Hepatitis A Dulu!

    Mengapa Anak Berusia Dibawah 6 Tahun Tidak Bergejala?

    Gejala yang timbul setelah adanya infeksi virus Hepatitis A sebenarnya bukanlah akibat langsung dari virus tersebut, melainkan akibat respon imun tubuh anak untuk mengeluarkan virus Hepatitis dari sel hati. Munculnya gejala penyakit ini merupakan pertanda respon imun seseorang sudah bekerja dengan baik. Pada anak berusia dibawah 6 tahun, respon imun tubuhnya belum sempurna sehingga gejala penularan Hepatitis A pada anak seringkali tak terlihat.

    Baca Juga: Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

    Apa yang Harus Dilakukan Bila Si Kecil Terjangkit Hepatitis A?

    Sahabat Sehat, berikut ini berbagai hal yang dapat dilakukan dirumah apabila Si Kecil menderita hepatitis A:

    1. Biarkan Si Kecil istirahat yang cukup
    2. Beri minum air putih yang cukup agar Si Kecil tidak kekurangan cairan tubuh
    3. Menjaga kebersihan seperti mencuci tangan setelah buang air, sebelum dan sesudah makan, serta sebelum tidur.
    4. Bagi orang tua, jangan lupa mencuci tangan setelah selesai mengganti popok bayi, kontak dengan feses Si Kecil yang sakit, serta jika sedang menyiapkan makanan.

    Baca Juga: Mencegah Bahaya Hepatitis A pada Anak

    Tips Mencegah Hepatitis A Pada Anak

    Untuk melindungi anak dari bahaya Hepatitis A, berikut pencegahan yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

    • Pastikan Si Kecil mendapatkan vaksinasi Hepatitis A sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan
    • Ajarkan Si Kecil untuk mencuci tangan setelah dari kamar kecil, mencuci tangan dengan dengan sabun minimal 20 detik, bilas hingga bersih dan keringkan dengan handuk atau tisu.
    • Ajarkan Si Kecil untuk tidak berbagi penggunaan barang pribadi dengan orang lain seperti handuk, sikat gigi, sendok dan gelas dengan orang lain.
    • Hindari mengkonsumsi makanan setengah matang dan jajan sembarangan 
    • Jaga kebersihan anak lingkungan di sekitarnya.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penularan hepatitis A pada anak yang dapat dialami Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Sehat Negeriku. Mengenal Hepatitis A.
    2. World Health Organization. Hepatitis A.
    3. Eremius A. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals.
    4. Nity T. Parents, kenali beberapa gejala hepatitis A pada anak berikut ini.
    5. Herdiana M, Arief S, Setyoboedi B. Mengenal Hepatitis A pada Anak.
    Read More
  • Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan menjadi kewaspadaan tersendiri jelang Idul Adha 1443 Hijriah. Perlu Sahabat Sehat ketahui, PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) disebabkan oleh virus. Namun ini berbeda dengan penyakit kaki mulut tangan atau hand, foot, and mouth disease (HFMD) yang umumnya menyerang anak-anak. Kebanyakan sering disebut dengan Flu Singapura. Tentunya […]

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Sapi, Menular Ke Manusia?

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan menjadi kewaspadaan tersendiri jelang Idul Adha 1443 Hijriah. Perlu Sahabat Sehat ketahui, PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) disebabkan oleh virus.

    Namun ini berbeda dengan penyakit kaki mulut tangan atau hand, foot, and mouth disease (HFMD) yang umumnya menyerang anak-anak. Kebanyakan sering disebut dengan Flu Singapura. Tentunya Flu Singapura dipicu jenis virus yang berbeda dari PMK.

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Sapi, Menular Ke Manusia?

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Sapi, Menular Ke Manusia?

    PMK Menular Ke Manusia?

    Lantas, apakah PMK berbahaya dan menular bagi manusia? Dalam konferensi pers Senin (9/5), Menteri Kesehatan, Budi Sadikin menyatakan penyakit ini tidak berbahaya. “Penyakit mulut dan kuku domainnya ada di hewan, sangat jarang virus mulut dan kuku di hewan yang berkuku dua melompat ke manusia. Jadi, tidak perlu khawatir dari sisi kesehatan manusianya,” tandasnya.

    Namun sempat beredar kabar di tengah masyarakat bahwa ada bagian tertentu yang tidak boleh dikonsumsi, seperti:

    – Jeroan

    – Mulut

    – Bibir

    – Lidah

    – Kaki

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Hal ini dibantah oleh Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Epidemiologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Denny Widaya Lukman. Menurutnya informasi yang menyebut adanya bagian-bagian tertentu dari hewan terkena PMK yang tak boleh dikonsumsi tersebut adalah keliru. Denny menegaskan, bagian yang bisa dikonsumsi hewan ternak yang terkena PMK maupun hewan ternak yang sehat sama saja. Tak ada bagian tertentu yang dilarang dikonsumsi. “PMK tidak menular ke manusia. Jadi produknya ya aman untuk orang,” urainya.

    Surat Edaran Menteri Pertanian tentang pemotongan hewan di daerah wabah atau tertular PMK mengatur agar bagian-bagian sapi potong (kepala, kaki daerah kuku, jeroan, tulang dan buntut) di daerah wabah untuk direbus dalam air mendidih minimal 30 menit. Surat itu, menurut Denny, ditujukan agar virus tidak mencemari lingkungan. Bukan untuk mencegah PMK menular ke manusia. “Kenapa Pemerintah mengimbau merebus? Supaya virusnya tidak mencemari lingkungan yang akan menular ke hewan sehat,” tegasnya.

    Tips Memilih Hewan Kurban

    Di tengah wabah PMK, pastilah Sahabat Sehat memiliki kekhawatiran terkait PMK. Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Nanung Danar Dono memberikan sejumlah tips memilih hewan kurban:

    1. Upayakan membeli hewan kurban di tempat pedagang besar. Mengapa? Pedagang besar tentu akan sangat menjaga kesehatan ternak-ternaknya agar tidak sampai tertular penyakit karena akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar.

    2. Jika memungkinkan, beli hewan kurban pada pedagang yang mau memberikan jaminan atau garansi pada ternak yang diperjualbelikan.  Apabila ternak yang dibeli nantinya menunjukkan gejala sakit, pedagang bersedia untuk mengganti dengan ternak lain yang sehat.

    3. Belilah hewan kurban mendekati Hari Raya Idul Adha. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir risiko hewan kurban tertular penyakit.

    4. Perhatikan kondisi fisik hewan kurban dari segala sisi, misalnya:

    – Minta kepada pedagang menjalankan hewan ternak yang hendak dibeli.

    – Pastikan kaki dan kuku hewan kurban tidak melepuh atau luka berisi cairan.

    – Memberi pakan calon hewan kurban untuk mengetahui nafsu makannya.

    Memiliki bulu yang tidak kusam, mata bersinar.

    5. Dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan.

    Bagi Sahabat Sehat yang akan menyambut hari raya Idul Adha 1443 Hijriah, semoga ulasan di atas dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Konsumsi daging merah seperti daging sapi dan kambing dengan bijak agar menyehatkan bagi tubuh. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi ProSehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. detikhealth.2022. Penyakit PMK pada Sapi Bisa Menular ke Manusia? Menkes Ungkap Faktanya.
    2. Kompas.com.2022. Benarkah Tak Boleh Konsumsi Daging Sapi Terinfeksi PMK? Ini Kata Dosen IPB.
    3. Kontan.co.id.2022. Wabah PMK Merebak, Begini Tips Memilih Hewan Kurban yang Layak dari Pakar UGM.
    4. Kompas.com.2022. Ketahui, Ahli Ungkap Ciri-ciri Hewan Kurban yang Sehat.

    Read More
  • Penyakit hepatitis B merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B pada hati yang dapat menyebabkan penyakit jangka pendek maupun jangka panjang. Sahabat Sehat dapat tertular hepatitis B melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh, contohnya melalui jarum suntik bekas penderita hepatitis B, maupun kontak seksual dengan penderita hepatitis B. Selain itu, hepatitis […]

    Begini Penanganan Hepatitis B Pada Ibu Hamil

    Penyakit hepatitis B merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B pada hati yang dapat menyebabkan penyakit jangka pendek maupun jangka panjang. Sahabat Sehat dapat tertular hepatitis B melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh, contohnya melalui jarum suntik bekas penderita hepatitis B, maupun kontak seksual dengan penderita hepatitis B. Selain itu, hepatitis B juga dapat ditularkan ibu hamil kepada anaknya saat melahirkan.

    Begini Penanganan Hepatitis B Pada Ibu Hamil

    Begini Penanganan Hepatitis B Pada Ibu Hamil

    Sahabat Sehat, bagaimana penanganan hepatitis B pada ibu hamil? Mari simak penjelasan berikut.

    Jumlah Penderita Hepatitis B

    Menurut data dari World Health Organization (WHO), terdapat 296 juta orang hidup dengan hepatitis B dan diperkirakan 1,5 juta kasus hepatitis B pada tahun 2019. Hepatitis B dapat menjadi penyakit jangka panjang, yang bila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada hati. Salah satu contoh komplikasi yang dapat terjadi adalah kanker hati.

    Penanganan Hepatitis B Pada Ibu Hamil

    Saat ini terdapat beberapa pilihan pengobatan bagi penderita hepatitis B. Obat dapat diberikan dalam bentuk suntikan ataupun obat yang diminum. Pengobatan ditujukan pada hepatitis B jangka panjang untuk menekan virus Hepatitis B agar menjadi inaktif. Dengan kondisi virus yang inaktif, maka efek kerusakan yang disebabkan oleh virus dapat ditekan dan juga penularan hepatitis B dapat diturunkan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Bagi ibu hamil yang menderita hepatitis B, disarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar virus hepatitis B dalam tubuh. Apabila hasil menunjukkan kadar virus hepatitis B cukup tinggi, maka dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan obat antivirus yang dapat menekan virus hepatitis B. 

    Pengobatan diberikan pada saat trimester ketiga kehamilan. Dengan kadar virus yang rendah, maka risiko penularan dari ibu saat melahirkan bayinya dapat diturunkan. Sebelum memulai pengobatan hepatitis B, pastikan untuk berkonsultasi lebih dulu dengan dokter.

    Untuk metode persalinan dapat dilakukan secara normal maupun operasi caesar. Masih terdapat perdebatan mengenai metode persalinan ibu yang menderita hepatitis B. Data dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode operasi caesar dapat menurunkan risiko penularan hepatitis B dari ibu ke bayinya dibandingkan dengan persalinan normal. Mengenai cara melahirkan bayi untuk menurunkan risiko penularan hepatitis B masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

    Baca Juga: Penyebab Infeksi Hepatitis B pada Bayi

    Pola Hidup Sehat Bagi Penderita Hepatitis B

    Gaya hidup bagi penderita hepatitis B juga perlu dijaga. Makan makanan yang bergizi dan minum air putih yang cukup dapat menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Makanan yang berlemak dan minuman alkohol dapat memicu terjadinya perlemakan hati yang dapat memperberat kerja hati. Jika hal ini terjadi pada penderita hepatitis B, maka perburukan pada hati dapat terjadi lebih cepat. 

    Maka penderita hepatitis B dianjurkan beristirahat yang cukup, menghindari makanan berlemak maupun minuman beralkohol. Konsumsi buah dan sayur serta kontrol berkala ke dokter agar dipantau kondisi kesehatannya.

    Baca Juga: 10 Bahaya Hepatitis B pada Bayi!

    Mencegah Dengan Vaksin Hepatitis B

    Hepatitis B dapat dicegah dengan pemberian vaksin hepatitis B. Vaksin diberikan dalam 3 dosis, dosis kedua diberikan 1 bulan sejak dosis pertama dan dosis ketiga diberikan 6 bulan sejak dosis pertama. 

    Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Sehat Ketahui Tentang Vaksin Hepatitis B

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penanganan hepatitis B pada ibu hamil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Referensi

    1. WHO. Hepatitis B.
    2. CDC. Hepatitis B.
    3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Hepatitis B.
    4. Hepatitis B Foundation. I am currently pregnant, and I have chronic hepatitis B. What should I do to protect my baby?
    5. WHO. Prevention of mother-to-child transmission of hepatitis B virus: Guidelines on antiviral prophylaxis in pregnancy.
    6. Ayoub W, Cohen E. Hepatitis B Management in the Pregnant Patient: An Update.
    7. Borgia G. Hepatitis B in pregnancy.
    Read More
  • Diabetes Melitus atau yang disebut dengan kencing manis, diartikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi faktor penyebab yang ditandai dengan tingginya kadar gula didalam darah dan juga disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan karena adanya insufisiensi gangguan insulin.  Insufisiensi fungsi insulin disebabkan karena gangguan pada sel beta pancreas […]

    Kenali Berbagai Macam Komplikasi Akibat Diabetes

    Diabetes Melitus atau yang disebut dengan kencing manis, diartikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi faktor penyebab yang ditandai dengan tingginya kadar gula didalam darah dan juga disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan karena adanya insufisiensi gangguan insulin. 

    Insufisiensi fungsi insulin disebabkan karena gangguan pada sel beta pancreas (beta Langerhans) sehingga sel-sel tubuh tidak sensitif terhadap insulin, akibatnya gula darah tidak dapat masuk kedalam sel dan menumpuk didalam darah.

    Kenali Berbagai Macam Komplikasi Akibat Diabetes

    Kenali Berbagai Macam Komplikasi Akibat Diabetes

    Diabetes melitus bukan hanya menjadi penyebab kematian di dunia, melainkan penyakit ini juga menyebabkan berbagai komplikasi serius yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup para penderitanya seperti kebutaan, penyakit jantung dan juga gagal ginjal. Sahabat Sehat, apa saja komplikasi yang beresiko dialami penderita diabetes? Mari simak penjelasan berikut.

    Angka Penderita Diabetes di Dunia

    Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya 463 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 atau setara dengan 9,3% dari total penduduk di usia yang sama. Berdasarkan jenis kelamin, IDF memperkirakan prevalensi diabetes pada tahun 2019 adalah 9% pada perempuan dan 9,65% pada laki-laki.

    Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan penambahan usia penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada usia 65-79 tahun. Dan angka ini diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai 578 juta pada 2030 dan 700 juta pada tahun 2045.

    Asia Tenggara dimana Indonesia berada, menempati urutan ke-3 dengan prevalensi sebesar 11,3%. Indonesia termasuk peringkat ke-7 dari 10 negara di Dunia dengan peringkat diabetes terbanyak. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk daftar tersebut.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Kenali Berbagai Jenis Diabetes

    Sahabat Sehat, terdapat berbagai jenis diabetes berdasarkan penyebabnya. Berikut adalah berbagai jenis diabetes :

    1. Diabetes Mellitus Tipe 1

    Merupakan kenaikan kadar gula darah yang disebabkan karena kerusakan sel beta pankreas sehingga tidak dapat memproduksi insulin sama sekali. Pasien dengan diabetes tipe 1 membutuhkan terapi insulin dari luar secara terus menerus.

    2. Diabetes Mellitus Tipe 2

    Diabetes tipe 2 disebabkan karena kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi atau produksi insulin yang rendah oleh kelenjar pankreas.

    3. Diabetes Gestasional

    Diabetes tipe ini ditandai dengan kenaikan gula darah selama masa kehamilan. Gangguan ini biasanya terjadi pada minggu ke-24 masa kehamilan dan kadar gula darah akan kembali normal setelah melahirkan.

    Baca Juga: Rekomendasi Obat Alami Terbaik untuk Penderita Diabetes

    Bagaimana Cara Mendiagnosis Diabetes ?

    Seseorang didiagnosa menderita diabetes melitus apabila memiliki gejala klinis disertai dengan hasil pemeriksaan, sebagai berikut :

    • Pemeriksaan gula darah puasa lebih besar atau sama dengan 126 mg/dl, dengan kondisi berpuasa selama 8 jam.
    • Pemeriksaan gula darah lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl setelah 2 jam Tes Toleransi Beban Glukosa (dengan pemberian gula sebanyak 75 mg)
    • Pemeriksaan gula darah sewaktu memberikan hasil lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl.
    • Pemeriksaan tes HbA1c lebih dari atau sama dengan 6,5%.

    Baca Juga: 8 Tips Aman Berpuasa untuk Penderita Diabetes

    Gejala Diabetes Melitus

    Berikut ini gejala yang dialami pasien dengan diabetes melitus :

    • Sering haus
    • Sering buang air kecil
    • Mudah merasa lapar
    • Berat badan menurun drastis tanpa sebab yang jelas
    • Mudah lelah
    • Pandangan atau penglihatan kabur
    • Luka yang sulit sembuh
    • Mudah terjadi infeksi baik pada pernapasan, infeksi gigi maupun pada kemaluan
    • Mulut kering
    • Mati rasa atau kesemutan pada jari-jari kaki.

    Baca Juga: Kenali Dampak Diabetes Saat Hamil Bagi Kondisi Janin

    Komplikasi Diabetes Melitus

    Diabetes Melitus sering kali dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang, terutama apabila gula darah yang tinggi tidak ditangani dengan baik. Tingginya kadar gula darah dari waktu ke waktu akan berdampak buruk pada organ tubuh. Berikut ini beberapa komplikasi jangka panjang yang dapat dialami:

    • Gangguan Mata (Retinopati Diabetik)

    Pada pasien dengan diabetes melitus, gula darah yang terlalu tinggi didalam darah tidak baik bagi pembuluh darah terutama pembuluh darah mata (retina). Apabila terjadi kerusakan maka akan terjadi retinopati diabetik dan berpotensi menyebabkan kebutaan. Selain itu, gangguan lainnya yang dapat terjadi adalah katarak dan glaukoma.

    Untuk itu, para penderita diabetes melitus disarankan untuk mengelola gula darah agar terkontrol dan melakukan pemeriksaan mata secara rutin.

    • Kerusakan atau Gangguan pada Ginjal (Nefropati Diabetik)

    Gula darah yang tinggi juga akan merusak ginjal, gangguan ini disebut dengan nefropati diabetik. Kondisi kerusakan pada ginjal akan menyebabkan gagal ginjal dan berujung kematian apabila tidak ditangani dengan baik.

    Karena adanya gagal ginjal, ginjal tidak dapat bekerja dengan baik untuk membuang zat yang tidak dibutuhkan dari dalam tubuh sehingga pada kondisi ini pasien akan disarankan untuk melakukan tindakan cuci darah.

    Baca Juga: 7 Cara Atasi Gatal Karena Diabetes dengan Cepat dan Mudah

    • Kerusakan Saraf (Neuropati Diabetik)

    Tingginya gula darah akan menyebabkan kerusakan saraf terutama pada saraf tepi pada kaki. Apabila kondisi ini berlangsung terus menerus maka akan menyebabkan kerusakan saraf yang lebih parah (disebut dengan neuropati diabetik). Akibat tingginya gula darah, aliran darah menuju saraf akan terhambat.

    Gejala awal yang dialami pasien biasanya berupa kesemutan, mati rasa dan nyeri pada tungkai. Kerusakan saraf dan pembuluh darah juga dapat terjadi pada organ vital pria sehingga dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan impotensi. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk tetap menjaga gula darah.

    • Masalah Kaki dan Kulit

    Selain terjadinya neuropati diabetik yang menyebabkan kaki mati rasa, gangguan pembuluh darah pada tungkai dapat menyebabkan luka sulit sembuh karena terbatasnya aliran darah pada kaki. 

    Sehingga terjadi penurunan kemampuan tubuh menyembuhkan diri dari luka. Karena luka tidak kunjung sembuh, kaki akan mudah terjadi infeksi (baik jamur atau infeksi bakteri). 

    Apabila hal ini berlangsung terus menerus maka akan mudah terjadi infeksi yang lebih serius seperti gangren (kematian jaringan) dan ulkus diabetikum. Apabila kerusakan terlalu parah, tidak menutup kemungkinan Dokter akan menyarankan tindakan amputasi.

    Baca Juga: Kenali Gejala Awal Diabetes Pada Anak

    • Gangguan Kardiovaskular

    Diabetes menyebabkan kerusakan multiorgan termasuk pembuluh darah dan jantung. Komplikasi yang tersering seperti stroke, serangan jantung dan penyempitan pembuluh darah arteri atau yang disebut dengan aterosklerosis.

    • Gangguan lainnya

    Gangguan lainnya yang dapat diderita penderita diabetes melitus apabila kadar gula darah tidak terkontrol, antara lain : gangguan pendengaran, gangguan kognitif seperti demensia alzheimer, depresi, gangguan pada gigi dan mulut, infeksi pada saluran pernapasan (misalnya tuberkulosis), infeksi jamur dan melemahnya sistem daya tahan tubuh yang menyebabkan pasien diabetes melitus rentan terhadap berbagai penyakit.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Bahaya Diabetes Pada Pria

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai komplikasi akibat penyakit diabetes yang rentan diderita pasien diabetes. Untuk memantau dan mendeteksi dini penyakit diabetes, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan dan gula darah.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penyakit Diabetes Melitus.
    2. Pangribowo S. Infodatin, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan.
    3. World Health Organization. Diabetes.
    4. Mayo Clinic. Diabetes – Symptoms and causes.
    5. Cleveland Clinic. Diabetes: Types, Risk Factors, Symptoms, Tests, Treatments & Prevention.
    6. Diabetes Org. Diabetes Complications.
    Read More
  • Obesitas atau kelebihan berat badan pada anak merupakan kondisi medis serius yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak dan remaja. Meski terlihat menggemaskan, namun kondisi sangat meresahkan karena obesitas kerap membuat anak-anak mengalami gangguan kesehatan yang wajarnya adalah masalah orang dewasa, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.  Saat ini, kasus obesitas pada anak telah […]

    Obesitas Pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

    Obesitas atau kelebihan berat badan pada anak merupakan kondisi medis serius yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak dan remaja. Meski terlihat menggemaskan, namun kondisi sangat meresahkan karena obesitas kerap membuat anak-anak mengalami gangguan kesehatan yang wajarnya adalah masalah orang dewasa, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. 

    Obesitas Pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

    Obesitas Pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

    Saat ini, kasus obesitas pada anak telah meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1975. Di Indonesia, setidaknya sebanyak 18-19% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 11% anak pada usia tersebut mengalami obesitas berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018. Selain itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) juga memperkirakan bahwa ada sekitar 60 juta anak di Indonesia yang menderita obesitas pada tahun 2020.

    Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi obesitas pada anak ? Mari simak penjelasan berikut.

    Kenali Obesitas Pada Anak

    Kelebihan berat badan atau obesitas diakibatkan akumulasi lemak abnormal atau berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Obesitas pada anak merupakan predisposisi resistensi insulin dan diabetes tipe 2, hipertensi, hyperlipidemia, penyakit hati dan ginjal, serta disfungsi reproduksi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas onset dewasa dan penyakit kardiovaskular. 

    Selain itu obesitas pada anak juga berpotensi menyebabkan tersumbatnya jalan napas saat tidur, atau dikenal dengan istilah obstructive sleep apnea syndrome (OSAS), yang ditandai dengan tidur ngorok. Masalah lain umum dialami oleh anak dengan obesitas yakni gangguan pada postur tubuh, kelainan kulit, perkembangan tulang, alergi, hingga masalah psikososial. 

    Namun Bunda tak perlu khawatir, karena tidak semua anak yang memiliki berat badan berlebih dapat dikategorikan sebagai obesitas. Untuk menentukan apakah Si kecil obesitas atau tidak, maka dibutuhkan pemeriksaan indeks massa tubuh (body mass index/BMI) yang dapat dihitung berdasarkan berat dan tinggi badan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Tips Mengatasi Obesitas Pada Anak

    Obesitas pada anak dapat ditangani berdasarkan perkembangan anak, usia, dan tingkat keparahannya. Saat melakukan konsultasi, dokter anak akan mengevaluasi status gizi anak, penyebab obesitas, aktivitas anak dan asupan makanan, serta ada atau tidaknya penyakit yang ditimbulkan obesitas. Terapi atau program mengatasi obesitas dapat dimulai saat anak dan orangtuanya siap untuk memulai. 

    Baca Juga: Gizi Seimbang untuk Anak Obesitas

    Mengatur Pola Makan 

    Saat melakukan langkah ini, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter gizi dalam menentukan asupan makan seperti apa yang sesuai dengan berat dan tinggi badan ideal anak. 

    • Ajarkan Si Kecil mengenali rasa kenyang dan rasa lapar. Anak harus mampu membedakan antara rasa lapar di perut dan rasa lapar mulut (hanya ingin), dan tegaskan pada mereka untuk makan hanya bila terasa lapar di perut. 
    • Makan dengan teratur 3 kali sehari dan diselingi dengan cemilan buah segar (bukan jus) 1 – 2 kali sehari. Hindari buah berkalori tinggi seperti mangga atau durian.
    • Minum air putih hanya diperbolehkan di antara waktu makan.
    • Hindari mengonsumsi makan tinggi kalori, seperti kentang goreng, kue kering, roti, es krim, atau jus buah.
    • Tidak bermain atau menonton televisi saat makan. 
    • Hindari mengaitkan makanan sebagai hadiah atau membatasi makanan sebagai hukuman. 
    • Tidak menyajikan makanan fast food (siap saji) atau makanan manis untuk anak.
    • Batasi asupan susu, yakni 500 ml/hari untuk anak diatas 2 tahun, dan ganti susu full cream dengan susu rendah lemak. 
    • Sarapan pagi dengan protein tinggi. Kebiasaan ini mampu membantu penurunan berat badan anak.

    Tingkatkan Aktivitas Fisik 

    Dalam meningkatkan aktivitas fisik anak, Anda dapat memulainya dengan hal-hal sederhana seperti rutin berjalan kaki atau bersepeda mengelilingi komplek rumah. Pada anak usia balita, kurangi menggendong dan penggunaan stroller (kereta dorong) yang sangat bermanfaat. Melibatkan anak obesitas dalam melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari juga dapat dicoba. 

    Selain itu, pada anak usia sekolah (mulai usia 6 tahun) dapat Anda perkenalkan dengan berbagai macam olahraga yang dapat menarik minatnya, seperti basket, sepak bola, berenang, menari, karate, atau bersepeda. Kurangi aktivitas yang dilakukan dengan banyak duduk atau berbaring selama berjam-jam setiap harinya, menonton televisi dan aktivitas dengan gadget. Batasi menonton televisi dan penggunaan gadget pada anak usia 12 tahun ke atas selama 2 jam sehari dan pada anak di bawah 2 tahun seminimal mungkin. 

    Baca Juga: Hubungan Obesitas dengan Penyakit Jantung Koroner

    Memberikan Pengertian Pada Anak 

    Berat badan merupakan topik yang mungkin sangat sensitif untuk dibicarakan, terutama pada anak yang sedang beranjak remaja. Tetapi, jika tidak dibicarakan, kondisi ini dapat membahayakan kesehatan fisik dan psikologi mereka. Oleh sebab itu, sampaikanlah topik ini dengan cara yang tepat dan mudah dipahaminya. 

    Selain itu, selalu dampingi, dukung, dan beri semangat atas usahanya dalam menjalani pola hidup sehat dan rajin berolahraga. Pelan-pelan ajak anak untuk mulai terbuka terhadap masalah pemicu obesitas, seperti kemungkinan stress yang akan dihadapi.

    Memberikan Pujian

    Berikan anak pujian atas niat dan upayanya dalam menurunkan berat badan. Anda dapat memberinya pujian kecil saat ia telah mengisi waktu luangnya untuk terlibat dalam melakukan pekerjaan rumah tangga harian daripada hanya berbaring dan bermain gadget. 

    Agar terus memotivasinya, ajaklah anggota keluarga lainnya untuk ikut mendukung dan menghargai upaya yang dilakukannya serta mendorongnya untuk terus menjalani program penurunan berat badan secara konsisten.

    Baca Juga: 6 Pola Makanan Cegah Obesitas

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips untuk mengatasi obesitas pada anak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Childhood obesity – Symptoms and causes.
    2. Emedicine. Obesity in Children: Background, Etiology and Pathophysiology, Epidemiology.
    3. Badan Penelitian dan Pengembangan KesehatanLaporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
    4. World Health Organization. Obesity.
    5. Direktorat P2PTM. Apa saja Tips Mengatasi Obesitas?
    6. WebMD. What to Say to Your Teen About Weight.
    7. Direktorat P2PTM. Klasifikasi Obesitas setelah pengukuran IMT.
    Read More
  • Hipertensi atau yang dikenal dengan tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit atau dalam keadaan cukup istirahat atau dengan kondisi tenang. Diperkirakan sebanyak 1.28 milyar orang dengan rentang usia 30-79 tahun di seluruh […]

    Apa Saja Dampak Hipertensi Bagi Tubuh?

    Hipertensi atau yang dikenal dengan tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit atau dalam keadaan cukup istirahat atau dengan kondisi tenang.

    Apa Saja Dampak Hipertensi Bagi Tubuh

    Apa Saja Dampak Hipertensi Bagi Tubuh?

    Diperkirakan sebanyak 1.28 milyar orang dengan rentang usia 30-79 tahun di seluruh dunia menderita hipertensi, dua pertiganya berasal dari negara dengan penghasilan menengah kebawah. Sebanyak 46% pasien hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki darah tinggi, dan kurang dari 42% pasien sudah didiagnosis hipertensi dan mendapat pengobatan hipertensi.

    Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian pada usia muda dan terus meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan dengan rentang tahun 2010 sampai 2030 akan terjadi peningkatan pasien hipertensi sebesar 30%. Sahabat Sehat, bagaimana dampak hipertensi bagi tubuh ? Mari simak penjelasan berikut.

    Komplikasi Hipertensi

    Sahabat Sehat, apabila tekanan darah tinggi tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada organ tubuh seperti :

    • Kerusakan pada pembuluh darah arteri

    Pembuluh darah arteri yang sehat lentur, kuat dan elastis sehingga dapat mengalirkan darah yang membawa oksigen dengan baik ke seluruh tubuh terutama bagi organ vital didalam tubuh. Hipertensi menyebabkan tekanan yang terlalu tinggi pada pembuluh darah, sehingga dapat menyebabkan sumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    • Gangguan pada jantung

    Pada jantung, hipertensi dapat memicu timbulnya berbagai kondisi berikut :

    1. Penyakit Jantung Koroner

    Pembuluh darah arteri yang membawa oksigen dan nutrisi bagi otot jantung rusak akibat tekanan darah yang terlalu tinggi. Akibatnya, terjadi sejumlah gangguan pada jantung seperti angina (nyeri dada), gangguan irama jantung (aritmia) dan terjadi gagal jantung.

    2. Perbesaran Jantung

    Akibat tekanan darah yang terlalu tinggi, menyebabkan jantung perlu berusaha lebih tinggi untuk memompa darah sehingga menyebabkan otot jantung membesar. Kondisi ini akan mengakibatkan gagal jantung, serangan jantung dan kematian jantung mendadak.

    3. Gagal Jantung

    Gagal jantung diakibatkan karena tekanan darah tinggi yang berlangsung lama mengakibatkan otot jantung tidak lagi berfungsi dengan baik sehingga aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh akan berkurang.

    Baca Juga: Hipertensi? Stop Konsumsi 7 Asupan Berikut!

    • Kerusakan pada otak

    Otak merupakan salah satu organ yang sangat sensitif terhadap aliran darah dan suplai oksigen. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan berbagai gangguan pada otak seperti stroke, demensia sampai gangguan fungsi kognitif.

    • Kerusakan ginjal

    Ginjal berfungsi menyaring cairan dan darah untuk membuang zat yang sudah tidak dibutuhkan melalui urin. Ketika tekanan tinggi di dalam darah dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Gangguan pada pembuluh darah ginjal dapat menyebabkan gangguan berupa glomerulosclerosis sampai terjadinya gagal ginjal.

    • Gangguan pada mata

    Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah mata (retina), sehingga dapat menyebabkan gangguan pada mata seperti retinopati, choroidopathy, sampai kerusakan saraf mata (optic neuropathy) sampai terjadinya perdarahan pada mata sampai hilangnya penglihatan.

    • Gangguan fungsi seksual

    Impotensi atau gangguan ereksi umumnya dapat menyerang siapapun, baik usia tua maupun muda. Impotensi atau gangguan fungsi ereksi dapat disebabkan karena berbagai faktor seperti stress, masturbasi yang berlebihan, kebiasaan menonton film porno, kelelahan, kegemukan, kurangnya aktivitas fisik atau olahraga, gangguan hormon, penyakit tertentu (misalnya, hipertensi, diabetes melitus dan gangguan metabolik lainnya) maupun akibat efek samping dari obat-obatan tertentu (misalnya, obat-obatan hipertensi).

    Penderita hipertensi beresiko menderita disfungsi ereksi karena tekanan darah tinggi dapat merusak lapisan pembuluh darah sehingga menyebabkan pembuluh darah arteri mengeras dan menyempit (arteriosklerosis), sehingga aliran darah menuju organ vital menjadi terganggu yang artinya semakin sedikit darah yang mengalir ke penis.

    Selain dari faktor gangguan pembuluh darah akibat hipertensi, obat-obatan hipertensi juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual. Seperti misalnya obat jenis diuretik, dan beta bloker.

    Baca Juga: Cara Penderita Hipertensi Menghadapi Covid-19

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai dampak hipertensi bagi tubuh. Untuk mendeteksi hipertensi sejak dini, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan RI. Hipertensi , Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah – Direktorat P2PTM.
    2. World Health Organization. Hypertension.
    3. Mayo Clinic. High blood pressure (hypertension) – Symptoms and causes.
    4. Mayo Clinic. How high blood pressure can affect your body.
    5. LeBrun N. 10 Complications of High Blood Pressure.
    6. Nazario, MD B. High Blood Pressure and Erectile Dysfunction.
    7. Mayo Clinic. High blood pressure and sex: Overcome the challenges.
    Read More
  • Gondongan atau disebut juga mumps merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi paramyxovirus yang umumnya menyerang anak dan balita usia 5 hingga 9 tahun. Infeksi paramyxovirus menyerang kelenjar penghasil air liur yang terletak di sekitar telinga. Virus ini dapat ditularkan melalui percikan ludah dan lendir saat penderita gondongan bersin atau batuk. Meski demikian, […]

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Gondongan atau disebut juga mumps merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi paramyxovirus yang umumnya menyerang anak dan balita usia 5 hingga 9 tahun. Infeksi paramyxovirus menyerang kelenjar penghasil air liur yang terletak di sekitar telinga. Virus ini dapat ditularkan melalui percikan ludah dan lendir saat penderita gondongan bersin atau batuk.

    Meski demikian, gondongan pada anak harus ditangani segera sebelum menyebabkan komplikasi seperti seperti infeksi dan peradangan otak (misalnya meningitis, dan encephalitis) serta kehilangan pendengaran. Akan tetapi, saat ini penyakit gondongan sudah mulai berkurang berkat imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella)

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Penyebab Gondongan Pada Anak

    Gondongan terjadi akibat kelenjar parotis terinfeksi Paramyxovirus A. Kelenjar parotis ini terletak di bagian depan dan bawah setiap telinga yang berperan dalam memproduksi air liur. Anak dapat tertular melalui percikan air liur atau lendir hidung penderita gondongan. Misalnya saat terkena bersin atau batuk, maupun ketika berbagi gelas dan peralatan makan dengan orang yang terinfeksi. Meski demikian, risiko anak terkena gondongan dapar ditekan hingga 99% dengan mendapatkan dua kali imunisasi MMR. 

    Bagaimana Cara Penularan Gondongan ?

    Berikut beberapa cara penularan gondongan yakni :

    • Menghirup bersin atau cipratan liur ketika penderita gondongan batuk.
    • Menggunakan gelas dan peralatan makan bersama penderita gondongan.
    • Memegang benda, gagang pintu, atau permukaan barang yang telah terpapar virus gondongan, dan  tidak segera mencuci tangannya. 

    Virus penyebab gondongan umumnya menular sejak 2 hari sebelum munculnya gejala hingga 5 hari setelah gejala selesai.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Gondongan Pada Anak

    Gondongan memiliki gejala yang sangat khas, yakni munculnya pembengkakan di sekitar pipi, mulut, hingga leher bagian atas yang biasanya akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan kesakitan saat mengunyah atau menelan. Meski demikian gejala gondongan sudah dapat terlihat sejak sebelum terjadi pembengkakan pada kelenjar parotis, seperti:

    • Sakit kepala dan nyeri otot
    • Mulut kering
    • Kehilangan nafsu makan
    • Demam tinggi lebih dari 380C
    • Pembengkakan pada salah satu atau kedua kelenjar parotis di depan telinga dan menyilang ke sudut rahang.
    • Batuk dan pilek
    • Mudah lelah

    Kemudian dalam beberapa hari, kelenjar parotis akan semakin membengkak dan terasa nyeri hingga membuat pipi terlihat membesar. 

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Komplikasi Akibat Gondongan

    Bahkan pada beberapa kasus terutama apabila gondongan tidak ditangani dengan baik, beresiko mengakibatkan komplikasi seperti :

    • Infeksi pada otak dan selaput otak (Ensefalitis dan Meningitis)
    • Radang testis (Orkitis)
    • Radang ovarium (Ooforitis)
    • Radang pankreas (Pankreatitis)
    • Gangguan pendengaran

    Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa tips di bawah ini untuk membantu mengatasi gondongan pada Si Kecil, antara lain:

    • Istirahat yang cukup

    Untuk menekan risiko penyebaran virus serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh si Kecil, sebaiknya Si Kecil tetap beristirahat di rumah selama menderita gondongan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merekomendasikan agar anak tetap dirumah dan untuk sementara tidak berkegiatan di sekolah setidaknya selama lima hari setelah munculnya pembengkakan pada kelenjar. Berikan obat penurun demam atau pereda nyeri yang dijual bebas apabila Si Kecil demam dan merasa tidak nyaman. 

    • Berikan air yang cukup

    Gondongan pada anak akan menyebabkan sakit tenggorokan sehingga membuat Si Kecil kesulitan mengunyah dan menelan makanan secara normal, bahkan sebagian besar penderitanya akan kehilangan nafsu makan. Oleh karena itu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil, sebaiknya usahakan untuk memberi minum air putih yang cukup. 

    Baca Juga: Anak yang Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?

    • Menjaga kebersihan

    Selalu bersihkan dan desinfeksi rumah secara berkala dalam beberapa jam sekali, terutama pada benda atau permukaan yang sering disentuh oleh penderita gondongan. Sering cuci tangan secara teratur, menggunakan masker bagi penderita gondongan. Hindari berbagi minuman dan makanan, ataupun peralatan yang sama dengan penderita gondongan.

    • Kendalikan rasa sakit dengan cara alami

    Apabila gejalanya menjadi sangat tidak nyaman, Sahabat Sehat dapat memberikan obat pereda nyeri yang dijual bebas untuk membantu menurunkan peradangan sehingga membantu Si Kecil tidur lebih nyenyak. Selain itu, cara alami lainnya untuk mengatasi rasa sakit dan meredakan pembengkakan, nyeri otot, hingga sakit kepala dengan menggunakan minyak esensial dan menggunakan kompres es. 

    • Beri makanan bergizi seimbang 

    Sahabat Sehat dianjurkan memberikan makanan bergizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya sehingga dapat menurunkan resiko komplikasi gondongan. Jika Si Kecil sudah mulai kesulitan mengunyah, cobalah menghaluskan atau memasak makanan dengan antioksidan tinggi seperti sayuran dan buah yang dibuat menjadi smoothie dan sup hangat yang disukai  Si Kecil. 

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Imunisasi MR/MMR Mencegah Gondongan

    Penyakit gondongan dapat dicegah dengan cara melakukan imunisasi MR (Measles dan Rubella) ataupun MMR (Measles, Mumps dan Rubella). Imunisasi MR diberikan pada saat Si Kecil berusia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun. 

    Sementara imunisasi gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yakni imunisasi gabungan untuk campak, gondongan dan campak jerman dapat diberikan sebanyak 2 kali pada saat Si Kecil berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi MMR Bagi Mahasiswa

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara mengatasi gondongan pada anak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditinjau oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Mumps.
    2. About Kids Health. AboutKidsHealth.
    3. National Health Service. Mumps – Complications.
    4. Kidshealth.org. 2022. Mumps (for Parents).
    5. Boston Children Hospital. Mumps Symptoms & Causes.
    Read More
  • Angka kasus penyakit kanker di Indonesia kini berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara, dan peringkat ke-23 di Asia. Angka penderita kanker payudara pada perempuan mencapai 42, 1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian mencapai 17 kasus per 100.000 jiwa. Tak heran jika pemerintah saat ini sangat menekankan masyarakat, terutama wanita untuk melakukan upaya deteksi […]

    7 Langkah Pencegahan Kanker Payudara yang Perlu Wanita Ketahui

    Angka kasus penyakit kanker di Indonesia kini berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara, dan peringkat ke-23 di Asia. Angka penderita kanker payudara pada perempuan mencapai 42, 1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian mencapai 17 kasus per 100.000 jiwa.

    7 Langkah Pencegahan Kanker Payudara yang Perlu Wanita Ketahui

    7 Langkah Pencegahan Kanker Payudara yang Perlu Wanita Ketahui

    Tak heran jika pemerintah saat ini sangat menekankan masyarakat, terutama wanita untuk melakukan upaya deteksi dini kanker payudara sebagai langkah pencegahan dan agar dapat segera ditangani. Sahabat Sehat, bagaimana langkah mencegah kanker payudara? Mari simak penjelasan berikut.

    Tips Mencegah Kanker Payudara

    Kanker payudara bukan penyakit yang dapat dicegah secara instan dan dengan upaya sederhana. Terdapat berbagai upaya yang perlu diketahui agar terhindar dari penyakit ganas ini. Untuk mencegah kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa tips berikut:

    1. Kenali Faktor Risiko Kanker Payudara

    Terdapat berbagai resiko yang meningkatkan peluang terjadinya kanker payudara, sebagai berikut :

    • Faktor genetik. 

    Resiko menderita kanker payudara meningkat jika Sahabat Sehat memiliki riwayat dalam keluarga yang juga menderita kanker payudara. Walaupun demikian, ada pula penderita kanker payudara yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara. 

    • Faktor usia. 

    Semakin wanita bertambah usia maka dinilai akan semakin berisiko mengalami kanker payudara. Umumnya, penyakit ini muncul pada wanita yang mulai memasuki usia 50 tahun keatas. Wanita yang mulai menstruasi pertama kali pada usia dibawah 12 tahun dan yang mengalami menopause diatas usia 55 tahun juga berpotensi mengidap kanker payudara.

    • Faktor kehamilan. 

    Wanita dewasa yang belum pernah hamil dan wanita yang hamil untuk pertama kalinya pada usia diatas 30 tahun, serta wanita yang tidak menyusui bayinya memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kanker payudara. 

    • Faktor lainnya.

    Berbagai faktor lain misal pernah menderita kanker payudara sebelumnya, wanita yang memiliki jaringan payudara yang padat, riwayat kanker ovarium, serta riwayat terpapar radiasi di daerah dada pada usia kanak-kanak atau remaja meningkatkan risiko kanker payudara. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    2. Pola Makan Bergizi Seimbang

    Beberapa pakar kesehatan menilai bahwa sejumlah makanan dapat memicu terjadinya kanker payudara, seperti tinggi gula, lemak maupun makanan berpengawet. Sahabat Sehat dianjurkan rutin mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti buah-buahan, aneka sayuran, dan biji-bijian. Pilihlah makanan yang mengandung serat, protein, serta rendah lemak jenuh.

    3. Hindari Minuman Beralkohol

    Semakin banyak alkohol yang dikonsumsi, maka semakin besar risiko menderita kanker payudara. Alkohol diketahui dapat memicu kanker payudara sebab dapat memproduksi banyak hormon estrogen.

    4. Olahraga Secara Rutin

    Olahraga mampu menjaga berat badan tetap ideal. Sedangkan memiliki berat badan berlebih atau obesitas justru akan meningkatkan risiko menderita kanker payudara. Berolahraga rutin minimal 30 menit setiap harinya. Pilihlah olahraga yang Sahabat Sehat sukai, seperti senam aerobic, bersepeda, berenang, atau jogging. Berolahraga turut mengurangi risiko kekambuhan kanker, mengurangi stress atau depresi, serta mampu memperbaiki suasana hati.

    Baca Juga: Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    5. Hentikan Kebiasaan Merokok

    Meski Sahabat Sehat tidak merokok, menghindari paparan asap rokok juga perlu dilakukan. Pasalnya risiko kanker payudara akan tetap tinggi pada “perokok pasif” sekalipun, terutama pada wanita pascamenopause.  Merokok dapat meningkatkan komplikasi bagi penderita kanker payudara. 

    6. Menyusui Pasca Melahirkan

    Bagi wanita yang baru melahirkan, menyusui tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan bayi. Namun, menyusui selama satu tahun penuh atau lebih juga dapat mencegah Sahabat Sehat dari kanker payudara.

    7. Batasi Dosis dan Durasi Terapi Hormon

    Melakukan terapi hormonal kombinasi selama tiga tahun lebih dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Oleh sebab itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan terapi hormon. 

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Mengenali Perubahan Payudara

    Langkah awal mengenali perubahan pada payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan secara mandiri atau yang dikenal dengan istilah SADARI, yaitu dengan meraba payudara sendiri untuk mendeteksi adanya kanker payudara sejak dini.

    Selain itu lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter. Jika diperlukan Sahabat Sehat dapat melakukan pemeriksaan menggunakan mamografi atau USG payudara untuk melihat kondisi kelenjar payudara. 

    Baca Juga: Yuk, Mulai Waspadai Beberapa Faktor Penyebab Kanker pada Wanita!

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai langkah mencegah kanker payudara. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat

    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Referensi:

    1. National Cancer Institute. Obesity and Cancer Fact Sheet.
    2. World Health Organization. Breast cancer.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. What Are the Risk Factors for Breast Cancer?
    4. Mayo Clinic. Breast cancer: How to reduce your risk.
    5. Cancer Research UK. Breast cancer risk.
    6. WebMD. Breast Cancer and the Breast Self-Exam.
    Read More
  • Seorang ibu yang baru saja melahirkan tentunya berharap dapat menyusui bayinya. Namun sayangnya, ada beberapa kondisi yang membuat seorang ibu ragu menyusui Si Kecil. Salah satu penyebabnya adalah akibat kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat dialami oleh wanita maupun pria. Berdasarkan data kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 31 Januari […]

    Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?

    Seorang ibu yang baru saja melahirkan tentunya berharap dapat menyusui bayinya. Namun sayangnya, ada beberapa kondisi yang membuat seorang ibu ragu menyusui Si Kecil. Salah satu penyebabnya adalah akibat kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat dialami oleh wanita maupun pria.

    Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya

    Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?

    Berdasarkan data kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 31 Januari 2019, tercatat angka kasus penderita kanker payudara wanita mencapai 42,1 per 100.000 penduduk dengan angka kematian rata-rata 17 per 100.000 penduduk. Sahabat Sehat, apakah penderita kanker payudara tetap dapat menyusui bayinya? Mari simak penjelasan berikut:

    Dampak Obat Kanker Pada Tubuh Ibu Menyusui

    Saat seseorang menderita kanker payudara, sel dalam jaringan payudara tumbuh secara abnormal. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, sel kanker akan semakin menyebar ke bagian tubuh lainnya. Terdapat beberapa jenis obat kanker payudara yang dapat mempengaruhi kualitas ASI, seperti tamoxifen, palbociclib, dan ribociclib (bahan kimia dalam kandungan obat tersebut akan bertahan selama tiga minggu di dalam tubuh), serta everolimus (akan bertahan selama dua minggu di dalam tubuh).

    Bagi ibu yang tengah menjalani pengobatan kanker payudara sebaiknya tidak menyusui bayinya sementara waktu. Selain itu, pengobatan seperti terapi radiasi dapat mempengaruhi produktivitas dan kualitas ASI. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Konsultasi Dengan Dokter

    Kanker payudara pada dasarnya bukanlah penyakit menular. Saat bayi kontak langsung dengan sang Ibu, misalnya melalui ASI maka bayi umumnya tidak akan tertular. Meski demikian, kondisi fisik seseorang pasca operasi pengangkatan sel kanker dapat berbeda-beda. Maka dari itu, alangkah baiknya jika Sahabat Sehat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mulai menyusui Si kecil. 

    Baca Juga: Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Alternatif Lain Pengganti ASI

    Sahabat Sehat tidak perlu sedih dan khawatir apabila tidak bisa menyusui Si kecil, sebab kebutuhan nutrisinya masih dapat dicukupi sementara dengan bantuan susu formula khusus bayi. Walaupun susu formula tidak mengandung antibodi untuk menambah kekebalan tubuh bayi dan beberapa jenis hormon dan enzim, namun bukan berarti susu tersebut tidak memiliki manfaat. 

    Jangan merasa bahwa ikatan ibu dengan anaknya hanya dapat terjalin melalui ASI dan proses menyusui. Menurut beberapa dokter anak, kualitas ikatan antara Ibu dengan bayinya dipengaruhi waktu dan aktivitas yang dilakukan bersama. Sahabat Sehat dapat memberikan susu formula sambil mengajak Si kecil berbicara, bersenandung, menatap kedua matanya, dan tersenyum. 

    Untuk mempercepat proses pemulihan kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan mengkonsumsi buah dan sayur serta beristirahat yang cukup. Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penderita kanker payudara yang sebaiknya tidak menyusui sementara waktu selama menjalani pengobatan kanker payudara. Untuk mendeteksi kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

    Baca Juga: Hubungan Antara Menyusui dan Kanker Payudara

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh
    : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Bisakan Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?.
    2. Cordeiro B. Breastfeeding lowers your breast cancer risk.
    3. Medela. Breast Cancer and Breastfeeding: Facts to Know.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com