Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Penyakit

Showing 71–80 of 403 results

  • Seringkali penanganan meningitis terlambat dilakukan. Hal ini terjadi karena orang tua kurang pengetahuan tentang gejala-gejala penyakit. Infeksi kuman ataupun mikroorganisme lainnya, dapat terjadi pada siapa saja. Salah satu diantaranya adalah meningitis, yaitu suatu penyakit ketika terjadinya peradangan pada selaput otak (meninges) yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang. Peradangan otak Si Kecil dapat menyebabkan berbagai komplikasi […]

    5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Seringkali penanganan meningitis terlambat dilakukan. Hal ini terjadi karena orang tua kurang pengetahuan tentang gejala-gejala penyakit. Infeksi kuman ataupun mikroorganisme lainnya, dapat terjadi pada siapa saja. Salah satu diantaranya adalah meningitis, yaitu suatu penyakit ketika terjadinya peradangan pada selaput otak (meninges) yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang.

    5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Peradangan otak Si Kecil dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang berakibat buruk bagi tubuhnya apabila tidak ditangani. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi pada tubuh Si Kecil.

    Setiap tahunnya, terdapat sekitar 1,2 juta kasus meningitis di seluruh dunia. Dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) diperkirakan bahwa 70% penderita meningitis beresiko meninggal apabila tidak mendapatkan pertolongan.

    Penyebab Meningitis

    Paling sering meningitis disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Beberapa contohnya yakni bakteri pneumokokus, meningokokus, M. tuberculosa, dan virus H. influenza.

    Secara alami, otak manusia memiliki mekanisme pertahanan yaitu sawar darah otak untuk mencegah infeksi pada otak. Namun terdapat beberapa bakteri dan virus yang dapat menembus penghalang tersebut sehingga menyebabkan meningitis.5 Beberapa gejala meningitis yang dapat dijumpai pada Si Kecil, yakni :

    • Menangis nada tinggi atau merintih 
    • Leher terasa kaku
    • Rewel
    • Lemas
    • Sering tertidur dan sulit dibangunkan
    • Nafsu makan menurun
    • Mual dan muntah

    Gejala tersebut timbul karena adanya gangguan pada otak Si Kecil. Untuk mendiagnosa meningitis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada Si Kecil. 

    Jika diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, cairan cerebrospinal, CT Scan ataupun MRI otak.3 Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis meningitis, dan mencari penyebab meningitis.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Meningitis

    Berikut ini gejala meningitis yang umum terjadi:

    • Demam tinggi yang terjadi secara mendadak
    • Sakit kepala parah yang tidak seperti biasanya
    • Sensitif terhadap cahaya
    • Tidak ada nafsu makan atau haus.
    • Ruam kulit.

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak – Anak

    Bagaimana Penanganan Meningitis ?

    Pengobatan meningitis bertujuan untuk meredakan peradangan pada selaput meninges. Penanganan berupa pemberian obat-obatan sesuai dengan penyebab meningitisnya. Beberapa dampak yang dapat terjadi bila meningitis tidak ditangani, yaitu  kejang berulang, kerusakan otak, gangguan pendengaran, disabilitas, hingga kematian.

    Tips Mencegah Meningitis

    Sebagian besar bakteri dan virus penyebab meningitis ditularkan melalui cipratan air liur (droplet). Pencegahan yang dapat Sahabat Sehat lakukan untuk mencegah penyakit meningitis, yakni :

    • Menghindari atau menjaga jarak dengan orang yang terlihat kurang sehat
    • Menggunakan masker saat keluar rumah
    • Rutin mencuci tangan 
    • Memberikan vaksinasi untuk Si Kecil.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Apa Saja Vaksinasi Untuk Mencegah Meningitis ? 

    Selain dengan menerapkan pola hidup sehat, untuk mencegah meningitis pada anak dapat diberikan vaksinasi. Sahabat Sehat dapat memberikan vaksinasi seperti vaksin BCG, vaksin influenza, vaksin pneumokokus, dan vaksin meningokokus. Vaksinasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit meningitis yang dapat dialami baik orang dewasa maupun anak. Jika meningitis tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak buruk bagi tubuh. Apabila Si Kecil menunjukkan beberapa gejala meningitis, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Berbagai Jenis Imunisasi untuk Bayi 3 Bulan

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh:  dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Meningitis. USA : World Health Organization;.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis Lab Manual: Epidemiology of Meningitis.
    3. Stanford Children’s Health. Meningitis in Children] USA : Stanford Children’s Health.
    4. Huynh J, Abo Y, du Preez K, Solomons R, Dooley K, Seddon J. Tuberculous Meningitis in Children: Reducing the Burden of Death and Disability. Pathogens. 2021;11(1):38.
    5. Van Sorge N, Doran K. Defense at the border: the blood–brain barrier versus bacterial foreigners. Future Microbiology. 2012;7(3):383-394.
    Read More
  • Pemeriksaan fungsi hati, atau disebut juga Liver Function Test (LFT) merupakan pemeriksaan yang digunakan dalam membantu mendiagnosis penyakit atau kelainan pada organ hati. Tes ini dilakukan dengan mengukur kadar enzim, protein, bilirubin, dan zat lainnya yang terdapat di dalam darah. Kadar enzim, protein, atau bilirubin yang lebih tinggi tinggi atau lebih rendah biasanya dapat menunjukkan […]

    5 Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Tes Fungsi Hati

    Pemeriksaan fungsi hati, atau disebut juga Liver Function Test (LFT) merupakan pemeriksaan yang digunakan dalam membantu mendiagnosis penyakit atau kelainan pada organ hati. Tes ini dilakukan dengan mengukur kadar enzim, protein, bilirubin, dan zat lainnya yang terdapat di dalam darah. Kadar enzim, protein, atau bilirubin yang lebih tinggi tinggi atau lebih rendah biasanya dapat menunjukkan adanya masalah pada hati. 

    5 Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Tes Fungsi Hati

    5 Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Tes Fungsi Hati

    Kapan Waktu Terbaik Melakukan Tes Fungsi Hati ? 

    Sahabat Sehat, tes fungsi hati umumnya direkomendasikan pada situasi berikut:

    • Memeriksa Kerusakan Hati Akibat Infeksi Hati

    Penyakit hati seperti Hepatitis B dan Hepatitis C, perlu melakukan tes fungsi hati sebab virus hepatitis menyerang organ hati dan dapat mempengaruhi kinerja hati.

    • Memantau Efek Samping Obat 

    Bagi Sahabat Sehat yang rutin mengkonsumsi obat, dianjurkan melakukan tes fungsi hati. Hal ini dikarenakan beberapa obat telah diketahui dapat mempengaruhi kinerja organ hati misalnya obat NSAID, Statin, obat antibiotik, obat anti kejang, dan obat TBC (Tuberkulosis).

    • Memiliki Riwayat Penyakit Hati

    Bagi penderita gangguan hati, misalnya infeksi hati (hepatitis), kanker hati, perlemakan hati, pengerasan hati (sirosis hati), dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati secara berkala untuk memantau perkembangan penyakit dan seberapa baik pengobatan bekerja.

    • Memiliki Kondisi Medis Tertentu

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki kondisi medis seperti kadar trigliserida tinggi, diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, penyakit kandung empedu, dan anemia, turut dianjurkan melakukan tes fungsi hati untuk memastikan ada atau tidaknya komplikasi pada organ hati akibat riwayat penyakit tersebut.

    • Sering Konsumsi Alkohol

    Bagi Sahabat Sehat yang rutin konsumsi alkohol, dianjurkan melakukan tes fungsi hati sebab peminum alkohol lebih beresiko mengalami perlemakan hati dibandingkan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Berbagai Jenis Tes Fungsi Hati

    Apabila Sahabat Sehat memiliki salah satu kondisi diatas, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai macam jenis tes fungsi hati :

    • Alanine transaminase (ALT)

    Alanine transaminase (ALT) atau dikenal juga sebagai serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), adalah enzim yang digunakan tubuh untuk metabolisme protein. Apabila fungsi hati terganggu, enzim ALT dapat dilepaskan ke dalam darah dan kadar ALT mengalami peningkatan. Saat hasil tes menunjukan kadar ALT yang sangat tinggi, maka kemungkinan besar telah terjadi kerusakan hati.

    • Aspartate aminotransferase (AST)

    Aspartate aminotransferase (AST) adalah salah satu enzim yang dapat ditemukan di beberapa bagian tubuh, seperti jantung, otak, pankreas, hati, otot. Ketika hati mengalami kerusakan, enzim AST dilepaskan ke dalam aliran darah. Kadar AST yang tinggi dapat menunjukan adanya masalah pada hati atau otot. Kadar AST secara spesifik memang tidak bisa dijadikan penanda kerusakan hati seperti ALT. Oleh sebab itu, tes AST biasanya diukur bersama dengan ALT untuk mengetahui kondisi hati.

    • Alkaline phosphatase (ALP)

    Alkaline phosphatase (ALP) adalah enzim yang ditemukan dalam tulang, saluran empedu, dan hati. Pemeriksaan ALP biasanya dilakukan dalam kombinasi dengan beberapa tes lainnya. Tes ALP dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi hati dan saluran empedu-hati. 

    • Tes albumin

    Albumin merupakan protein utama yang diproduksi oleh hati dan memiliki banyak fungsi penting terhadap tubuh. Tes albumin dapat memperkirakan kinerja hati dalam menghasilkan protein albumin. Apabila kadar albumin dalam darah rendah, kemungkinan menunjukan adanya masalah pada fungsi hati. 

    • Tes bilirubin

    Bilirubin adalah produk sisa dari pemecahan sel darah merah yang biasanya diproses oleh hati, sebelum ikut keluar bersama feses. Apabila fungsi hati terganggu, maka bilirubin tidak dapat terproses dengan benar. Oleh sebab itu, jika hasil pemeriksaan darah menunjukan kadar bilirubin yang tinggi, kemungkinan menjadi tanda adanya gangguan pada fungsi hati. 

    • Gamma-glutamyl transpeptidase (GGT)

    Pemeriksaan ini biasanya dilakukan untuk melengkapi tes fungsi hati. Pasalnya, tingginya kadar GGT dalam tubuh dapat menjadi tanda adanya kerusakan hati yang umumnya disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, alkohol, maupun racun. 

    Baca Juga: Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Tes Fungsi Hati

    Dokter biasanya akan memberikan Sahabat Sehat arahan persiapan sebelum mengambil sampel darah untuk tes fungsi hati, sebagai berikut :

    • Lakukan puasa sekitar 10 – 12 jam sebelum melakukan tes fungsi hati
    • Sahabat Sehat tetap dapat mengkonsumsi air putih sebelum tes
    • Kenakan baju berlengan pendek atau baju yang bagian lengannya mudah digulung agar tidak menyulitkan petugas medis dalam proses pengambilan sampel darah.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Berapa Nilai Normal Tes Fungsi Hati ?

    Perlu diketahui bahwa nilai normal dari tes fungsi hati dapat berbeda-beda karena tergantung dari alat laboratorium yang digunakan. Secara umum, berikut adalah patokan nilai normal hasil tes fungsi hati yaitu :

    • A L T: 7 – 55 unit per liter (U/L)
    • A S T: 8 hingga 48 U/L
    • A L P: 40 hingga 129 U/L
    • Albumin: 3,5 hingga 5,0 gram per desiliter (g/dL)
    • Total protein: 6,3 hingga 7,9 g/dL
    • Bilirubin: 0,1 hingga 1,2 miligram per desiliter (mg/dL)
    • GGT: 8 hingga 61 U/L

    Selain itu, batas nilai normal ini juga dapat bervariasi antara pria, wanita, dan anak-anak. 

    Baca Juga: Sirosis Hati dan Hepatitis, Apa Bedanya?

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai kondisi yang memerlukan pemeriksaan fungsi hati. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Liver Function Tests: Purpose, Procedure, and Results [Internet]. USA : Healthline.
    2. Better Health. Liver – Better Health Channel [Internet]. Australia : Better Health.
    3. Mayo Clinic. Liver problems – Symptoms and causes [Internet]. USA : Mayo Clinic.
    4. Tests M. Liver Function Tests: MedlinePlus Medical Test [Internet]. USA : Medline Plus.
    Read More
  • Sifilis pertama kali dideteksi di Eropa pada akhir abad ke 15 dan pada tahun 1905, Schaudinn dan Hoffman menemukan penyebab penyakit ini yaitu akibat infeksi bakteri Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak seksual. Sifilis atau disebut juga dengan sebutan “Penyakit raja singa” ditandai dengan munculnya luka pada area kelamin dan dubur, tanpa rasa nyeri sehingga […]

    Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

    Sifilis pertama kali dideteksi di Eropa pada akhir abad ke 15 dan pada tahun 1905, Schaudinn dan Hoffman menemukan penyebab penyakit ini yaitu akibat infeksi bakteri Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak seksual.

    Sifilis atau disebut juga dengan sebutan “Penyakit raja singa” ditandai dengan munculnya luka pada area kelamin dan dubur, tanpa rasa nyeri sehingga kadang kala tidak disadari oleh penderitanya. Namun pada tahap ini, infeksi sifilis sudah dapat menular ke orang lain.

    Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

    Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

    Jenis Sifilis

    Sifilis dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yakni :

    Sifilis yang didapat

    Yaitu kondisi infeksi sifilis yang didapatkan akibat berhubungan seksual dengan penderita sifilis. Kondisi ini terdiri dari beberapa stadium :

    • Stadium primer

    Pada tahapan ini ditandai dengan luka (atau disebut juga “Chancre”) di tempat bakteri masuk. Luka yang muncul mungkin akan terlihat seperti bekas gigitan serangga, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit. Hal ini yang menyebabkan gejala awal ini seringkali tidak disadari. Luka ini hanya bertahan selama 1-2 bulan kemudian selanjutnya akan menghilang tanpa bekas

    • Stadium sekunder

    Pada tahapan ini ditandai dengan munculnya ruam pada tubuh yang biasanya muncul pada telapak kaki dan telapak tangan. Selain ruam, biasanya juga disertai gejala lainnya seperti demam, nafsu makan menurun, radang tenggorokan dan muncul kutil kelamin.

    • Sifilis laten

    Luka akibat infeksi mungkin akan terlihat sembuh dan tidak menimbulkan bekas, namun ini justru menjadi pertanda sifilis memasuki fase lanjut. Setelah luka menghilang, biasanya terjadi selama dua tahun, penyakit ini akan masuk ke tahap sifilis tersier.

    • Stadium tersier

    Pada tahapan ini, kuman penyebab sifilis telah menyebabkan kerusakan organ tubuh lainnya seperti kerusakan otak, saraf dan jantung. Pada stadium ini dapat terjadi kelumpuhan, kebutaan, demensia hingga masalah pendengaran bahkan kematian.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Sifilis kongenital atau genetik

    Wanita hamil yang mengidap sifilis sangat berpeluang menularkan ke janin. Berita baiknya, resiko penularan bisa dikurangi jika ibu hamil sudah mendapat pengobatan sifilis sebelum usia kehamilan mencapai usia 4 bulan.

    Sifilis yang tidak diobati dengan tepat bisa memicu terjadinya komplikasi berupa bayi lahir dengan sifilis atau bayi terlahir kurang bulan atau prematur. Sifilis pada wanita hamil juga bisa menyebabkan keguguran.

    Baca Juga: Mengapa Calon Pengantin Perlu Vaksin HPV? Ini Penjelasannya

    Pemeriksaan Sifilis

    Berikut ini berbagai pemeriksaan laboratorium darah yang dapat membantu menegakan diagnosa sifilis :

    • Pemeriksaan Treponema

    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi yang secara spesifik berkaitan dengan penyebab sifilis. Pemeriksaan Treponema terdiri dari berbagai jenis yaitu :

    1. Test FTA-ABS (Fluorescent treponemal antibody absorption)
    2. Test TP-PA (Treponema pallidum particle agglutination assay)
    3. Test MHA-TP (Microhemagglutination assay)
    4. Test IA (Immunoassays).
    • Pemeriksaan Non-treponema

    Pemeriksaan ini tidak spesifik terhadap kuman penyebab sifilis. Antibodi yang dideteksi dapat dihasilkan oleh tubuh ketika terinfeksi bakteri penyebab sifilis dan juga pada kondisi lainnya. Pemeriksaan Non-Treponema yang dilakukan untuk mendeteksi sifilis ada 2 jenis, yaitu :

    1. Test Rapid Plasma Reagin (RPR)
    2. Test Venereal Disease Research Laboratory (VDRL).

    Baca Juga: Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    Siapa Saja yang Membutuhkan Skrining Pemeriksaan Sifilis?

    Pemeriksaan skrining untuk mendeteksi infeksi sifilis dalam tubuh, perlu dilakukan oleh beberapa kelompok orang berikut :

    • Pekerja seks komersial
    • Penderita HIV/AIDS yang masih aktif berhubungan seksual
    • Seseorang yang mempunyai pasangan seks lebih dari satu dan tanpa menggunakan kondom
    • Seseorang yang melakukan hubungan intim melalui anus (anal seks)

    Bagi kelompok orang diatas disarankan untuk melakukan pemeriksaan skrining setiap 3-6 bulan sekali.

    Baca Juga: Intip 6 Tips Menghindari Perilaku Seks Berisiko

    Nah,  Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara mendeteksi sifilis. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Siagian M, Rinawati R. Diagnosis dan Tata Laksana Sifilis Kongenital. Sari Pediatri, 5(2), p.52.
    2. Darmawan H, Purwoko I, Devi M. Sifilis Pada Kehamilan. Sriwijaya Journal of Medicine, 3(1), pp.73-83.
    3. Universitas Udayana. Infeksi Sifilis Pada Kehamilan [Internet]. Indonesia : Universitas Udayana.
    4. Romito K, Thompson E. Syphilis Tests [Internet]. USA : Michigan Medicine.
    5. Medline Plus. Syphilis Tests: MedlinePlus Medical Test [Internet]. USA : Medline Plus.
    Read More
  • Makanan dan minuman yang kotor akibat sanitasi yang buruk dapat menularkan berbagai macam penyakit. Penyakit-penyakit tersebut dapat berupa tifoid, diare hingga hepatitis. Terdapat beberapa jenis dari virus hepatitis, namun salah satu yang sering ditemukan akibat sanitasi yang buruk adalah penyakit hepatitis A. Nah Sahabat Sehat, bagaimana mencegah terinfeksi hepatitis A bagi yang sering makan diluar […]

    Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Makanan dan minuman yang kotor akibat sanitasi yang buruk dapat menularkan berbagai macam penyakit. Penyakit-penyakit tersebut dapat berupa tifoid, diare hingga hepatitis. Terdapat beberapa jenis dari virus hepatitis, namun salah satu yang sering ditemukan akibat sanitasi yang buruk adalah penyakit hepatitis A.

    Nah Sahabat Sehat, bagaimana mencegah terinfeksi hepatitis A bagi yang sering makan diluar ? Mari simak penjelasan berikut.

    Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Penyebab Hepatitis A

    Hepatitis A merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). Data dari World Health Organization mengatakan bahwa pada tahun 2016 terdapat 7.134 orang yang meninggal akibat hepatitis A diseluruh dunia. Penyakit hepatitis A kerap ditemukan pada negara berkembang yang memiliki tingkat sanitasi kurang baik. 

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Hepatitis A

    Gejala yang dapat diakibatkan hepatitis A, yakni demam, mual muntah, diare, nyeri perut, pegal-pegal, hingga warna kulit menjadi kuning. Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis hepatitis A. Hasil tes darah yang menunjukan adanya antibodi terhadap virus hepatitis A, dapat menegakkan diagnosis bahwa seseorang terinfeksi hepatitis A.

    Baca Juga: Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

    Tips Mencegah Penyakit Hepatitis A

    Virus hepatitis A menular dengan cara fecal – oral, yaitu dari feses penderita hepatitis A yang kemudian masuk melalui makanan atau minuman akibat sanitasi yang buruk. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah penyakit hepatitis A:

    • Rajin mencuci tangan

    Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir pada saat sebelum dan sesudah makan, untuk membunuh virus yang mungkin terdapat pada tangan Sahabat Sehat sehingga transmisi melalui makanan dapat dihindari.

    • Bersihkan buah dan sayur terlebih dahulu

    Buah dan sayur yang dibeli mungkin sebelumnya terpapar oleh kotoran yang mengandung hepatitis A. Bersihkan dahulu sebelum mengkonsumsi buah dan sayuran yang mentah.

    • Hindari mengkonsumsi makanan mentah

    Lebih baik lagi untuk menghindari makanan-makanan mentah. Masak terlebih dahulu makanan Sahabat Sehat sehingga kuman dan parasit mati.

    • Vaksinasi hepatitis A

    Vaksin untuk virus hepatitis A sudah tersedia. Sahabat Sehat dapat melakukan vaksinasi untuk mencegah terinfeksi virus hepatitis A. IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Hepatitis A setelah anak berusia 2 tahun dalam 2 dosis. Dosis ke-2 diulang setelah 6 bulan sampai 12 bulan berikutnya, namun bagi Sahabat Sehat yang sudah dewasa juga dapat mendapatkan vaksinasi ini.

    • Batasi kontak dengan penderita hepatitis A

    Harus diingat bahwa penyebaran infeksi hepatitis A dapat terjadi dari kontak erat seperti handuk mandi. Sahabat Sehat perlu membatasi kontak erat dan berbagi atau meminjam pakaian atau alat sanitasi lainnya dengan penderita hepatitis A untuk sementara waktu.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Jika Sahabat Sehat sering makan diluar, maka meningkatkan resiko terinfeksi hepatitis A. Pemberian vaksin hepatitis A sejak dini dapat membantu mencegah terinfeksi penyakit ini. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Iorio N, John S. Hepatitis A [Internet]. Ncbi.nlm.nih.gov. 2021.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis A Q&As for Health Professionals [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021.
    3. World Health Organization. Hepatitis A [Internet]. USA : World Health Organization. 2021.
    4. Medline Plus Medical Encyclopedia. Preventing hepatitis A [Internet]. USA : Medline Plus. 2021.
    5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mengenal Hepatitis A pada Anak [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2021.
    Read More
  • Sebagian besar penderita HIV dan AIDS (ODHA) tidak menyadari bahwa terinfeksi HIV. Oleh karena itu, bagi seseorang yang dicurigai menderita HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining HIV/Aids untuk deteksi awal. Sahabat Sehat, apa saja jenis pemeriksaan HIV ? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu HIV ? Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat menyerang […]

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    Sebagian besar penderita HIV dan AIDS (ODHA) tidak menyadari bahwa terinfeksi HIV. Oleh karena itu, bagi seseorang yang dicurigai menderita HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining HIV/Aids untuk deteksi awal. Sahabat Sehat, apa saja jenis pemeriksaan HIV ? Mari simak penjelasan berikut.

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    Apa Itu HIV ?

    Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi HIV dapat menyebabkan semakin berat nya perkembangan penyakit dalam tubuh yang disebut sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) pada penderitanya. AIDS merupakan stadium akhir pada penderita HIV. Apabila Sahabat Sehat termasuk dalam kelompok orang yang berpotensi tinggi menderita HIV, alangkah baiknya jika mulai melakukan melakukan pemeriksaan HIV sedini mungkin. 

    Apa Saja Jenis Tes Pemeriksaan HIV dan AIDS?

    Pada sebagian besar kasus, diagnosis HIV biasanya ditegakkan berdasarkan dengan gejala yang dialami serta pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi virus HIV. Berikut adalah berbagai jenis pemeriksaan HIV/ AIDS :

    • Pemeriksaan Antibodi

    Pemeriksaan antibodi merupakan metode pemeriksaan HIV/AIDS yang paling umum dilakukan. Pemeriksaan HIV jenis ini tujuannya bukanlah untuk mencari penyakit atau virus penyebabnya, melainkan menemukan protein untuk menangkal penyakit atau yang dikenal sebagai antibodi. Protein tersebut dapat ditemukan di dalam darah, air liur, atau urin. 

    Untuk melakukan pemeriksaan HIV, dokter biasanya akan mengambil darah. Antibodi  dihasilkan dalam tubuh penderita HIV dalam kurun waktu sekitar 3 – 12 minggu hingga dapat terdeteksi dalam pemeriksaan tersebut. 

    • Pemeriksaan Antibodi-Antigen (Ab-Ag)

    Pemeriksaan HIV Antibodi-Antigen merupakan jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi yang ditujukan terhadap HIV-1 atau HIV-2. Selain itu, pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menemukan protein p24 yang merupakan antigen dari virus (bagian dari inti virus).

    Tubuh membutuhkan waktu beberapa minggu hingga terbentuknya antibodi usai infeksi awal. Artinya, pemeriksaan Antibodi-Antigen ini sangat memungkinkan untuk deteksi dini infeksi HIV. 

    Melalui pemeriksaan ini, diagnosis HIV dapat diketahui dalam kurun waktu satu minggu lebih cepat dari pada pemeriksaan antibodi. Apabila pemeriksaan ini menunjukan hasil positif,  dokter akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya pemeriksaan Western blot. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Pemeriksaan Serologi

    Terdapat tiga jenis pemeriksaan serologi yang umum direkomendasikan dalam pemeriksaan HIV dan AIDS, yakni:

    • Tes darah cepat

    Proses kerja pemeriksaan ini menggunakan reagen (bahan kimia aktif) yang telah dievaluasi dan direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Tes darah HIV dan AIDS in dapat mendeteksi antibodi HIV-1 maupun HIV-2. Selain itu, tes ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk dapat mengetahui hasilnya.

    • Tes ELISA

    Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) atau yang dikenal juga sebagai EIA (enzyme immunoassay) yakni merupakan suatu pemeriksaan HIV untuk mendeteksi antibodi HIV-1 dan HIV-2. Tes ini dilakukan dengan menambahkan enzim ke cawan petri tersebut untuk mempercepat proses reaksi kimia. Namun, hasil tes ini baru dapat diketahui dalam kurun waktu 1 – 3 hari. 

    • Tes Western Blot

    Tes ini hanya dapat dilakukan untuk menindaklanjuti tes skrining awal yang menunjukan hasil positif HIV. Umumnya, pemeriksaan ini disarankan apabila tes ELISA yang sebelumnya dijalani menunjukan hasil positif HIV karena terkadang tes ELISA menunjukan hasil positif (false positif). 

    Pemeriksaan Western Blot juga  diperlukan apabila Sahabat Sehat didiagnosa positif HIV dari pemeriksaan sebelumnya. Kondisi yang dimaksud meliputi Lyme, sifilis, atau lupus yang mungkin mempengaruhi hasil pemeriksaan HIV.

    Meski tes Western Blot ini hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk pengujiannya, namun perlu diingat bahwa tes ini hanya dapat dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan sebab tes Western Blot ini tidak akan membantu jika tanpa melakukan tes lain sebelumnya. 

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Pemeriksaan Virologis Dengan PCR

    Pemeriksaan virologis merupakan salah satu jenis pemeriksaan HIV/AIDS yang dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR). Tes ini sangat penting bagi ibu hamil yang terdiagnosa positif HIV. Selain itu, bayi yang baru lahir dari ibu yang positif HIV juga harus melakukan pemeriksaan ini minimal saat ini telah berusia 6 minggu. 

    Tes ini juga sangat direkomendasikan bagi anak umur dibawah 18 tahun yang dicurigai mengidap HIV. Tes ini kemungkinan juga dapat membantu mendeteksi adanya infeksi HIV dalam 4 minggu pertama setelah terpapar virus penyebab HIV. Berikut beberapa tes virologi yang dianjurkan, yaitu:

    • HIV DNA Kualitatif (EID)

    Jenis pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan darah lengkap atau dried blood spot (DBS), yakni pemeriksaan yang berfungsi dalam mendeteksi keberadaan virus HIV, dan bukan pada antibodi penangkalnya. Tes HIV DNA kualitatis ini digunakan untuk mendiagnosis HIV pada bayi. 

    • HIV RNA Kuantitatif

    Tes HIV dan AIDS RNA kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan plasma darah. Periksaan ini bertujuan untuk memeriksa jumlah virus yang di dalam darah (viral load HIV).  Metode pemeriksaan HIV dengan bantuan PCR ini melibatkan enzim dalam menggandakan virus HIV dalam darah. Biasanya, pemeriksaan ini membutuhkan waktu beberapa hari hingga seminggu.

    Viral load dapat dinyatakan “tak terdeteksi” apabila hanya terdapat sangat sedikit dalam 1 ml sampel darah. Kondisi ini dapat menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh Sahabat Sehat gagal melawan infeksi HIV. 

    Baca Juga: HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa jenis pemeriksaan yang dapat Sahabat Sehat lakukan dalam mendeteksi virus HIV. Segera lakukan pemeriksaan bila dicurigai berkaitan dengan penyakit HIV. Mendapatkan penanganan sedini mungkin dapat membuat perkembangan lebih dapat ditangani sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup pengidapnya. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Stanford Health Care. Polymerase chain reaction (PCR) [Internet]. USA : Stanford Health Care.
    2. Kementerian Kesehatan RI. Buku Permenkes ARV [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan RI.
    3. HIV Gov. HIV Testing Overview [Internet]. USA : HIV Gov.
    4. Avert. HIV testing fact sheet [Internet]. USA : Avert.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Testing HIV Basics [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    Read More
  • Tingginya kadar ureum dalam darah merupakan tanda bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik. Dalam keadaan normal, ginjal berfungsi sebagai penyaring dan pembuangan zat yang tidak diperlukan tubuh. Apabila ureum menumpuk di darah, maka akan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan. Sahabat Sehat, mengapa kadar ureum meningkat dalam tubuh ? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Ureum […]

    9 Penyebab Kadar Ureum Meningkat dan Cara Menurunkannya

    Tingginya kadar ureum dalam darah merupakan tanda bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik. Dalam keadaan normal, ginjal berfungsi sebagai penyaring dan pembuangan zat yang tidak diperlukan tubuh. Apabila ureum menumpuk di darah, maka akan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan.

    Sahabat Sehat, mengapa kadar ureum meningkat dalam tubuh ? Mari simak penjelasan berikut.

    9 Penyebab Kadar Ureum Meningkat dan Cara Menurunkannya

    9 Penyebab Kadar Ureum Meningkat dan Cara Menurunkannya

    Apa Itu Ureum ?

    Ureum adalah zat sisa hasil dari pemecahan asam amino dan protein di dalam hati. Kadar ureum dapat diukur melalui tes nitrogen urea darah atau blood urea nitrogen (BUN). BUN digunakan untuk menentukan apakah ginjal bekerja dengan baik atau tidak. Nilai normal ureum dapat dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Selain itu, perlu diingat bahwa setiap laboratorium juga memiliki rentang nilai normal yang berbeda. Secara umum, nilai kadar normal ureum berada dalam kisaran berikut:

    • Anak usia 1 – 17 tahun: 7 – 20 mg/dL
    • Wanita dewasa: 6 – 21 mg/dL
    • Pria dewasa: 8 – 24 mg/dL

    Ureum harus dikeluarkan melalui ginjal dan dibawa oleh urine. Kondisi ketika tubuh memiliki kadar ureum dalam darah yang terlalu tinggi (> 50 mg/dL) disebut uremia. Uremia ditandai dengan keluhan mudah lelah, mual, muntah, pusing kram kaki, hingga mengancam jiwa.

    Selain itu, uremia adalah gejala utama penyakit gagal ginjal dan merupakan tanda stadium akhir dari penyakit kronis. Pemeriksaan kadar ureum biasanya akan termasuk dalam tes fungsi ginjal yang meliputi pemeriksaan basal urea nitrogen (BUN) dan kadar kreatinin. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Penyebab Kadar Ureum Tinggi ?

    Sahabat Sehat, berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kadar ureum tinggi yaitu :

    • Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi protein
    • Sumbatan pada saluran kemih
    • Kurangnya cairan dalam tubuh (dehidrasi) 
    • Penyakit gagal ginjal 
    • Gangguan ginjal akibat penyakit diabetes (nefropati diabetikum)
    • Luka bakar berat
    • Pendarahan di saluran cerna
    • Efek samping obat
    • Kehamilan

    Baca Juga: Apa Bedanya Gagal Ginjal Akut dan Kronis?

    Tips Menurunkan Kadar Ureum yang Tinggi

    Apabila kadar ureum dalam tubuh tinggi maka beresiko tinggi bagi tubuh. Oleh karena itu, Sahabat Sehat perlu menurunkan kadar ureum yang tinggi dengan beberapa cara berikut :

    • Penuhi Asupan Cairan Tubuh

    Selain menyebabkan dehidrasi, kekurangan asupan cairan dalam tubuh juga dapat menyebabkan kadar ureum dalam darah meningkat. Sebab air berfungsi sebagai pembawa zat-zat sisa dari darah menuju ginjal untuk disaring yang kemudian akan diangkut keluar bersama urin. Apabila tubuh kekurangan asupan cairan, maka proses penyaringan zat sisa pada ginjal akan terhambat.

    Selain itu, kadar ureum yang tinggi juga bisa dipicu akibat gangguan ginjal. Oleh karena itu, jumlah air yang masuk kedalam tubuh perlu dihitung dengan cermat agar tidak memperparah kondisi ini. Jika Sahabat Sehat menderita gangguan ginjal, konsultasikan dengan dokter terkait jumlah cairan yang perlu dikonsumsi setiap harinya. 

    • Batasi Asupan Protein

    Mengkonsumsi makanan berprotein tinggi memang terbukti baik untuk tubuh. Namun, mengkonsumsi protein berlebihan ternyata kurang baik bagi tubuh karena dapat mengganggu pemecahan protein sehingga dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah. Idealnya, seseorang membutuhkan sekitar 50 – 60 gram protein per harinya. Jumlah ini setara dengan 200 gram dada ayam tanpa tulang. Namun ada baiknya untuk beralih dari daging-dagingan ke sayuran. 

    • Konsumsi Makanan Kaya Serat

    Terkenal akan manfaatnya dalam mencegah sembelit, ternyata mengkonsumsi makanan kaya serat juga mampu menurunkan kadar ureum dalam darah. Oleh sebab itu, bagi penderita gagal ginjal kronis sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan berserat. Ada berbagai macam sumber makanan berserat, diantaranya buah-buahan,  gandum utuh, sayuran, dan kacang-kacangan. 

    Baca Juga: Hipertensi? Stop 7 Makanan Berikut

    Nah Sahabat Sehat, tingginya kadar ureum dalam darah tidak selalu menandakan adanya suatu penyakit namun juga dapat diakibatkan pola makan yang dikonsumsi. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah ada indikasi terhadap suatu penyakit atau tidak. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Blood Urea Nitrogen (BUN) Test: Uses, Preparation, and More.
    2. Healthline. Uremia: Causes, Symptoms, and Treatments.
    3. Mayo Clinic. Blood urea nitrogen (BUN) test.
    4. Healthline. Home Remedies to Naturally Lower Your Creatinine Levels.
    5. Self Decode Labs. Hidden Causes of High or Low Blood Urea Nitrogen (BUN).
    Read More
  • Anda mungkin sudah cukup sering mendengar tentang penyakit kanker serviks. Ya, penyakit kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Tahukah Anda bahwa harapan hidup dan keberhasilan pengobatan kanker serviks bergantung dari stadium penyakit saat didiagnosis pertama kali? Semakin awal ditemukan lesi kankernya, maka semakin baik pula prognosis dan tingkat keberhasilan pengobatan. Maka, […]

    Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    Anda mungkin sudah cukup sering mendengar tentang penyakit kanker serviks. Ya, penyakit kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Tahukah Anda bahwa harapan hidup dan keberhasilan pengobatan kanker serviks bergantung dari stadium penyakit saat didiagnosis pertama kali?

    Semakin awal ditemukan lesi kankernya, maka semakin baik pula prognosis dan tingkat keberhasilan pengobatan. Maka, pemeriksaan deteksi dini kanker serviks menjadi penting bagi wanita dan sangat disarankan untuk dilakukan rutin. Mari simak penjelasan di bawah ini.

    Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    Usia Harapan Hidup Pasien dengan Kanker Serviks

    Berdasarkan data dari National Cancer Institute, Amerika Serikat, orang dengan kanker serviks yang terlokalisir (belum menyebar ke area sekitar atau organ

    jauh) memiliki harapan hidup 5 tahun ke depan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 92%.

    Bila saat didiagnosa kanker sudah mencapai area sekitar, maka harapan hidupnya selama 5 tahun ke depan menurun drastis menjadi 58%. Sedangkan, sel kanker yang sudah menyebar ke organ yang jauh saat didiagnosa pertama kali (misalnya paru-paru), maka harapan hidup 5 tahun kedepan menurun lebih drastis hingga 18%.

    Oleh karena itu, deteksi dini kanker serviks sangatlah penting, khususnya pada wanita dengan faktor risiko.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Faktor Risiko Kanker Serviks

    Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi human papillomavirus (HPV). Tetapi tidak semua wanita dengan infeksi HPV akan mengidap kanker serviks. Beberapa infeksi HPV hilang tanpa pengobatan. Dari berbagai jenis HPV, hanya beberapa di antaranya yang menyebabkan pertumbuhan sel serviks berlebihan menjadi kanker, yaitu tipe 16 dan 18.

    Infeksi HPV menyebar terutama melalui kontak seksual. Wanita yang menjadi aktif secara seksual pada usia muda dan memiliki banyak pasangan seksual memiliki risiko tinggi terinfeksi HPV.

    Faktor risiko lainnya meliputi merokok, mempunyai banyak anak, sosial ekonomi rendah, pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau positif), penyakit menular seksual, dan gangguan imunitas.

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Macam-macam Pemeriksaan Kanker Serviks

    Secara umum, deteksi dini bertujuan untuk menemukan kelainan sebelum adanya perburukan atau perkembangan lanjut dengan cara pemeriksaan secara berkala, biasanya sebelum ada gejala. Deteksi dini dapat dilakukan di puskesmas, klinik swasta, dan rumah sakit, oleh dokter atau bidan terlatih

    Ada beberapa macam pemeriksaan deteksi dini kanker serviks, yaitu:

    Tes Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)

    Tes IVA merupakan pemeriksaan sederhana dan murah yang sering dilakukan di Puskesmas dan klinik. Tes ini menggunakan cairan asam asetat yang sudah diencerkan (3-5%). Bagian leher rahim/ serviks akan dioleskan asam asetat, lalu dilihat apakah ada perubahan warna. Bila area yang dioleskan berubah menjadi warna putih dan berbatas tegas (acetowhite), maka hasil mengindikasikan bahwa leher rahim mungkin memiliki lesi prakanker.

    Tes IVA dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat menstruasi dan saat asuhan nifas atau pasca keguguran. Pemeriksaan IVA juga boleh dilakukan pada perempuan yang dicurigai atau diketahui mengidap infeksi menular seksual.

    Pap Smear

    Pemeriksaan Pap smear biasanya dilakukan rutin pada wanita usia 21 tahun hingga 65 tahun untuk mendeteksi kanker serviks. Pemeriksaan ini menggunakan sikat kecil untuk mengumpulkan sampel dari permukaan serviks dan area di sekitarnya. Sampel akan dilihat di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah mereka abnormal.

    Sebagian dokter menyarankan agar pemeriksaan Pap smear dilakukan setiap tahun. Tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa, bila hasil pap smear normal, maka seorang wanita dapat mengulang pemeriksaan tersebut setiap 2-3 tahun.

    Tes Inspeksi Visual Lugol Iodine (VILI)

    Di daerah dengan sumber daya terbatas, skrining kanker serviks dengan Pap smear dapat diganti dengan metode visual seperti VILI. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas tertinggi (100%) untuk mendeteksi kelainan sel, dan spesifisitas yang baik (93,3%).

    Pada pemeriksaannya, serviks akan diolesi dengan iodine lugol (VILI). Bila tampak perubahan warna pada serviks menjadi coklat atau kuning coklat, maka artinya VILI negatif atau normal. Sedangkan, bila berwarna kuning sawi, maka dianggap VILI positif.

    Test DNA HPV (genotyping / hybrid capture) 

    Tes DNA HPV dapat dilakukan bila hasil tes Pap smear positif atau dicurigai abnormal. Tes DNA HPV adalah uji laboratorium yang digunakan untuk memeriksa DNA/ RNA untuk jenis infeksi HPV tertentu. Sel dari serviks akan dikumpulkan dan DNA/ RNA dari sel diperiksa untuk mengetahui apakah ada infeksi yang disebabkan oleh jenis human papillomavirus yang terkait dengan kanker serviks. 

    Untuk menyaring kanker serviks, tes DNA HPV dapat dilakukan dengan atau tanpa tes Pap smear pada wanita berusia 25 tahun ke atas.

    Biopsi

    Biopsi adalah mengambil sebagian kecil jaringan serviks untuk diperiksakan. Prosedur ini dilakukan bila ditemukan hasil abnormal atau mencurigakan dari hasil tes skrining lainnya, misalnya IVA. Sampel jaringan akan dikirim ke bagian patologi anatomi untuk diperiksa dan dinilai lebih jauh.

    Baca Juga: 10 Makanan Si Pencegah Kanker Serviks

    Sahabat Sehat, periksakan diri Anda untuk deteksi dini kanker serviks. Berikan proteksi terbaik bagi diri Anda sebagai langkah pencegahan, salah satunya dengan vaksinasi HPV. Bagaimanapun juga, pencegahan tetap lebih baik dari mengobati.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Gloria Teo
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. The Global Cancer Observatory. Indonesia.
    2. NHS. What happens at your appointment : Cervical screening.
    3. American Cancer Society. Cervical cancer: detection-diagnosis-staging-survival.
    4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PANDUAN PENATALAKSANAAN KANKER SERVIKS.
    5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PROGRAM NASIONAL GERAKAN PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI KANKER : KANKER LEHER RAHIM DAN KANKER PAYUDARA.
    6. National Cancer Institute. Cervical cancer screening (PDQ)- patient version.
    7. Ghosh P et al. Visual inspection of cervix with Lugol’s iodine for early detection of premalignant & malignant lesions of cervix.
    8. NCCN. Guidelines for Patients: Cervical Cancer [internet].
    Read More
  • Dari sekian banyak jenis kanker, kanker serviks adalah jenis kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia. Kanker merupakan sebuah penyakit dimana sel tubuh bertumbuh secara tidak terkontrol dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pada tahun 2018, diestimasikan 570.000 wanita terdiagnosis kanker serviks dan sekitar 311.000 wanita meninggal karena kanker tersebut. Lalu apa yang menyebabkan kanker […]

    Kenali Apa Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya

    Dari sekian banyak jenis kanker, kanker serviks adalah jenis kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia. Kanker merupakan sebuah penyakit dimana sel tubuh bertumbuh secara tidak terkontrol dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

    Pada tahun 2018, diestimasikan 570.000 wanita terdiagnosis kanker serviks dan sekitar 311.000 wanita meninggal karena kanker tersebut. Lalu apa yang menyebabkan kanker serviks? Faktor resiko apa yang dapat meningkatkan seorang wanita mendapat kanker serviks?

    Kenali Apa Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya

    Kenali Apa Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya

    Penyebab Kanker Serviks

    Terdapat beberapa penyebab kanker serviks, diantaranya adalah genetik dan infeksi dari virus bernama human papillomavirus (HPV). World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa hampir 99% kanker serviks disebabkan oleh HPV. Selain menyebabkan kanker serviks, virus ini juga dapat menyerang sel kulit atau sel rongga mulut sehingga menyebabkan pembentukan kutil pada daerah tersebut.

    Dapatkan: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Gejala HPV dan Cara Penularannya

    Gejala dari HPV bervariasi dan bergantung dari tipe virusnya. Bahkan beberapa wanita dapat tidak mengalami gejala apapun, namun pernah terinfeksi HPV. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah pembentukan kutil pada kelamin. Tetapi komplikasi dari penyakit ini cukup menyeramkan, yaitu terjadinya kanker serviks.

    Penularan HPV terjadi saat ada kontak kulit dengan kulit, atau pada saat berhubungan seksual. Hal inilah yang menjadikan HPV sebagai penyakit infeksi menular seksual (IMS). 

    Virus tersebut juga dapat menginfeksi pasangan saat berhubungan seksual, sehingga faktor risiko kanker serviks adalah aktif secara seksual dan memiliki beberapa pasangan seksual. Selain itu, merokok dan riwayat kanker serviks pada keluarga juga merupakan faktor risiko.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Mencegah Kanker Serviks

    HPV memiliki beberapa tipe, namun tipe yang paling sering menyebabkan kanker serviks adalah tipe 16 dan 18.  HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab kanker serviks terbanyak, yaitu hingga 70%. Sedangkan tipe yang paling sering menyebabkan kutil kelamin adalah tipe 6 dan 11. Masih banyak lagi tipe HPV lainnya dan tipe-tipe tersebut juga memiliki potensi untuk menyebabkan kanker serviks walau kemungkinannya tidak sebesar tipe 16 dan 18.

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Saat ini sudah terdapat vaksin untuk HPV dalam bentuk vaksin bivalen dan tetravalen. Untuk vaksin bivalen mencakup HPV tipe 16 dan 18 sedangkan vaksin tetravalen mencakup HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.

    Vaksin HPV mulai dapat diberikan pada perempuan berusia 10 tahun ke atas. Jadwal pemberian vaksin HPV adalah 0, 1 atau 2 bulan, dan 6 bulan dengan total 3 kali suntikan.

    Vaksin HPV sudah terbukti dapat mencegah infeksi HPV sehingga menurunkan resiko menderita kanker serviks bagi wanita. Selain itu, menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seksual juga dapat menurunkan resiko penularan HPV, meskipun tidak 100%.

    Sahabat Sehat, HPV merupakan penyebab terbesar kanker serviks yang harus diperhatikan setiap wanita. Penularan dapat terjadi melalui kontak seksual sehingga aktivitas seksual menjadi faktor resiko terjadinya kanker serviks selain juga kebiasaan merokok dan faktor genetik. Ayo cegah kanker serviks dengan melakukan vaksinasi HPV dan menggunakan kondom saat beraktivitas seksual yang berisiko.

    Baca Juga: 10 Makanan Si Pencegah Kanker Serviks

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. National Cancer Institute. What Is Cancer?
    2. WHO. Cervical cancer.
    3. CDC. Genital HPV Infection – Fact Sheet.
    4. Kashyap N, Krishnan N, Kaur S, Ghai S. Risk Factors of Cervical Cancer: A Case-Control Study.
    5. Luria L, Cardoza-Favarato G. Human Papillomavirus.
    6. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    Read More
  • Mungkin Anda sudah familiar mengenai vaksin human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks pada wanita. Tapi apa Anda tahu seberapa penting vaksin hpv untuk pria? Ya, ternyata virus ini juga bisa menginfeksi pria karena HPV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit kutil pada kelamin, kanker anus, kanker penis, dan sebagainya. Simak artikel berikut ini untuk […]

    Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    Mungkin Anda sudah familiar mengenai vaksin human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks pada wanita. Tapi apa Anda tahu seberapa penting vaksin hpv untuk pria?

    Ya, ternyata virus ini juga bisa menginfeksi pria karena HPV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit kutil pada kelamin, kanker anus, kanker penis, dan sebagainya. Simak artikel berikut ini untuk penjelasannya.

    Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria

    Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    HPV tidak selalu Bergejala

    Baik pria maupun wanita dapat terinfeksi oleh HPV. Virus ini menular melalui kontak seksual, atau kontak kulit dengan kulit. Pada usia 15 – 59 tahun, terdapat sekitar 40% orang akan terinfeksi oleh HPV.

    HPV memiliki berbagai jenis varian dan tidak semua jenis infeksi HPV menimbulkan gejala. Jadi, ada kemungkinan Anda atau pasangan Anda menularkan HPV meskipun saat tidak menunjukkan gejala apapun.

    agi wanita, skrining terhadap HPV dapat dilakukan apabila memiliki riwayat kanker serviks pada keluarga, atau sudah aktif secara seksual namun belum pernah mendapatkan vaksinasi HPV. Sedangkan tidak disarankan untuk dilakukan pada pria kecuali memiliki gejala yang khas.

    Dapatkan: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Tipe-tipe HPV

    Terdapat beberapa tipe HPV yang sudah diteliti dan terbukti dapat menimbulkan kanker pada daerah kemaluan. 

    Pada pria, HPV tipe 16 dan 18 dapat menyebabkan kanker penis, kanker anus, dan kanker mulut atau tenggorokan. Sedangkan terdapat HPV tipe 6 dan 11 yang sering menyebabkan kutil pada kelamin.

    Sedangkan pada wanita, HPV tipe 16 dan 18 dapat menyebabkan kanker serviks. Selain dari 4 tipe yang paling sering dijumpai ini, terdapat beberapa tipe lain seperti 31, 33, 45, 52, dan 58 yang juga dapat menyebabkan kanker namun lebih jarang dijumpai.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Pentingnya Vaksin HPV untuk Pria

    Pemberian vaksin HPV untuk pria bermanfaat karena dapat mencegah terjadinya infeksi HPV. Dari infeksi yang dicegah, maka komplikasi yang disebutkan diatas juga dapat dihindari. Yang tidak kalah penting, pemberian vaksin pada pria juga dapat memproteksi pasangannya secara tidak langsung dari infeksi HPV.

    Dengan melakukan vaksinasi HPV, diharapkan terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok pada komunitas. Herd immunity memberikan manfaat yang baik karena dapat menurunkan angka infeksi HPV pada komunitas.

    Baca Juga: Cek Fakta: Ini Dia Fungsi Vaksin HPV Pada Pria?

    Jenis dan Jadwal Pemberian Vaksin HPV

    Saat ini di Indonesia sudah terdapat 2 tipe vaksin HPV, yaitu vaksin HPV bivalen dan tetravalen. Untuk vaksin bivalen mencakup HPV tipe 16 dan 18, sedangkan vaksin tetravalen mencakup HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Selain dewasa, vaksin HPV juga boleh dan aman diberikan pada remaja berusia 10 tahun keatas. 

    Pemberian vaksin dibagi menjadi 3 dosis yaitu 0, 1 atau 2, dan 6 bulan.6 Dosis 0 artinya dosis pertama, sedangkan dosis kedua diberikan 1 atau 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.

    Efek Samping Vaksinasi

    Sama seperti vaksinasi pada umumnya, vaksinasi HPV pun dapat menimbulkan efek samping. Efek samping yang dapat terjadi setelah Anda vaksinasi berupa nyeri dan kemerahan pada lokasi vaksin, atau demam. Namun demikian, keuntungan yang didapatkan dari vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan kerugiannya.

    Baca Juga: 8 Tes Kesehatan yang Wajib Dilakukan Pria Sebelum Menikah

    Sahabat Sehat, pemberian vaksin HPV memang sudah lama dilakukan untuk wanita, namun ternyata tidak kalah pentingnya untuk melindungi pria. Vaksinasi ini sudah terbukti dapat mencegah infeksi HPV pada pria dan pasangannya sehingga terhindar dari terjadinya komplikasi infeksi HPV berupa kanker. Pastikan Anda berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. CDC. STD Facts – Human papillomavirus (HPV).
    2. WHO. Cervical Cancer.
    3. CDC. STD Facts – HPV and Men.
    4. Canadian Cancer Society. Human papillomavirus.
    5. National Cancer Institute. Human papillomavirus (HPV) Vaccine.
    6. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    Read More
  • Pemerintah baru saja mengumumkan bahwa akan menjadikan vaksin human papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi anak SD. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia. Human papillomavirus merupakan virus penyebab kanker serviks (leher rahim) dan beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker tenggorokan, amandel, dan anus. Selain itu juga bisa menyebabkan penyakit kulit […]

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Pemerintah baru saja mengumumkan bahwa akan menjadikan vaksin human papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi anak SD. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia.

    Human papillomavirus merupakan virus penyebab kanker serviks (leher rahim) dan beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker tenggorokan, amandel, dan anus. Selain itu juga bisa menyebabkan penyakit kulit dan kelamin. Tapi apakah aman bagi anak-anak untuk menerima vaksin HPV? Mari simak penjelasannya.

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Kanker serviks penyebab kematian kedua terbanyak di Indonesia

    Angka kejadian kanker serviks di Indonesia mencapai 15.000 hingga 21.000 kasus setiap tahunnya. Angka ini menjadikan jumlah kasus kanker serviks sebagai penyebab kematian nomor dua terbanyak bagi perempuan di Indonesia.

    Dapatkan: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Penyebaran kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan melakukan vaksinasi kanker serviks (HPV).

    Pentingnya Vaksinasi HPV

    Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa vaksinasi HPV pada anak-anak tidak diperlukan. Alasannya karena anak-anak belum berhubungan seksual di usia tersebut.

    Tapi sebenarnya efek perlindungan dari vaksin ini lebih bagus bila orang tersebut belum melakukan hubungan seksual. Justru, akan terlambat jika vaksin HPV diberikan setelah seseorang melakukan hubungan seksual karena ada risiko ia sudah terinfeksi.

    HPV tidak hanya menimbulkan penyakit pada wanita namun juga dapat menyerang pria karena virus ini bisa menyebabkan kanker penis.

    Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papillomavirus), yang disebabkan oleh tipe 16 dan 18 (sebanyak 70% kasus di dunia). Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui menjadi 90% penyebab kasus kutil kelamin.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Vaksinasi HPV

    Pada anak-anak, vaksinasi HPV dianjurkan diberikan pada usia 9-14 tahun, vaksinasi sebaiknya dilakukan 2 kali dengan jarak 6-12 bulan.

    Sedangkan, bagi anak usia 15 tahun ke atas, HPV diberikan sebanyak 3 kali dengan jadwal pemberian vaksinasi pada bulan 0, 1 atau 2 bulan setelah penyuntikan pertama (tergantung dari jenis vaksin apa yang digunakan, apakah bivalen ataukah tetravalent) dan terakhir adalah 6 bulan setelah penyuntikan pertama. Apabila pemberian vaksinasi ada yang terlewat, maka vaksinasi dapat terus dilanjutkan tanpa mengulangi dosisnya dari awal.

    Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalent yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim. Sedangkan vaksin tetravalent mengandung 4 tipe virus HPV (tipe 6, 11, 16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim dan juga kutil kelamin.

    Baca Juga: 7 Hal Yang Harus Bunda Ketahui Tentang Vaksinasi HPV Anak

    Efek Samping Vaksinasi HPV

    Efek samping yang mungkin timbul setelah dilakukan vaksinasi paling umum adalah reaksi lokal di tempat penyuntikan seperti nyeri, kemerahan, memar atau bengkak.

    Selain itu, gejala lainnya antara lain demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, ruam, urtikaria, pusing dan rasa lelah.

    Kontraindikasi Pemberian Vaksinasi HPV

    Vaksinasi HPV umumnya tidak dapat diberikan atau perlu dilakukan penundaan pemberian apabila adanya kondisi sebagai berikut:

    • Memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap vaksin HPV
    • Memiliki reaksi alergi atau hipersensitif terhadap lateks atau ragi.
    • Sedang hamil
    • Mengalami penyakit berat, kronis atau keganasan.

    Baca Juga: Mengapa Vaksinasi HPV Juga Diperlukan Untuk Si Gadis?

    Sahabat Sehat, jadi vaksin HPV aman untuk diberikan ke anak-anak selama ia tidak memiliki kontraindikasi yang disebutkan di atas. Efek perlindungannya juga lebih bagus bila diberikan di usia dini sesuai rekomendasi ahli. Segera vaksinasi anak Anda agar ia terlindungi. Bila Anda khawatir untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan, vaksinasi juga bisa dilakukan dengan layanan ke rumah (home care).

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L



    Referensi 

    1. Wijaya, d. Pentingnya Vaksin HPV Pada Anak dan Dewasa.
    2. Armstrong M, Whelan C. HPV Vaccine for Kids: What You Need to Know.
    3. Perdoski. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    4. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    5. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    6. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com