Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 11–20 of 275 results

  • Banyak yang percaya memandikan bayi setelah imunisasi dapat membuat si kecil jatuh sakit. Mitos ini berkembang pesat di masyarakat. Imunisasi telah menjadi program pemerintah dalam mencegah penyakit di seluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) memiliki program imunisasi masing-masing untuk mengurangi resiko penularan penyakit tertentu dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Sedangkan di Indonesia, […]

    Bolehkah Memandikan Bayi Setelah Imunisasi? Cek Faktanya!

    Banyak yang percaya memandikan bayi setelah imunisasi dapat membuat si kecil jatuh sakit. Mitos ini berkembang pesat di masyarakat.

    Bolehkah Memandikan Bayi Setelah Imunisasi Cek Faktanya!

    Bolehkah Memandikan Bayi Setelah Imunisasi? Cek Faktanya!

    Imunisasi telah menjadi program pemerintah dalam mencegah penyakit di seluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) memiliki program imunisasi masing-masing untuk mengurangi resiko penularan penyakit tertentu dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Sedangkan di Indonesia, kementerian Kesehatan RI menerapkan imunisasi bagi anak sejak usia 0 hingga 18 tahun.

    Imunisasi Pada Anak

    Imunisasi anak adalah pemberian vaksin kepada anak-anak untuk mencegah tertularnya penyakit tertentu. Vaksin adalah zat yang membantu membentuk kekebalan tubuh atau imunitas terhadap infeksi terhadap sejumlah penyakit menular. Vaksin berasal dari kuman yang dilemahkan atau dimatikan. Imunisasi yang diberikan kepada anak di Indonesia mengenal dua konsep, yaitu imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Pelaksanaan jenis imunisasi pada anak tergantung pada usia anak. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Manfaat Imunisasi Bagi Anak

    Imunisasi berguna untuk mencegah penularan dari infeksi penyakit menular yang serius ketika seorang anak sudah diimunisasi maka, tubuh akan lebih mampu menghadapi infeksi kuman yang masuk. Ketika anak mendapatkan imunisasi, anak sudah membantu melindungi kesehatan masyarakat umum secara keseluruhan.

    Sebab saat sudah cukup jumlah orang dalam suatu komunitas yang kebal terhadap suatu infeksi, maka makin sulit penyakit menyebar dan menulari orang lain yang belum diimunisasi. Kondisi ini disebut juga dengan herd immunity atau kekebalan komunitas. Sehingga, secara tidak langsung seorang anak telah berkontribusi terhadap komunitasnya dalam hal kesehatan. 

    Efek Samping Imunisasi

    Ada beberapa efek samping dari imunisasi yang dapat terjadi pada anak yang dialami, seperti:

    1. Pada Bayi dan Bayi baru lahir
    • Bayi akan lebih rewel dan menangis lebih sering dari biasanya
    • Bayi akan tampak kelelahan selama 1-2 hari
    • Diare atau mencret ringan dan sedikit muntah (terutama bila mendapatkan vaksin rotavirus)
    • Kemerahan pada lengan atau bagian tubuh yang disuntikkan imunisasi
    • Bengkak pada area yang disuntik selama 1-2 hari
    • Demam sampai lebih dari 380C
    • Kemerahan pada kulit namun tidak menular terutama setelah dilakukan penyuntikan Imunisasi MMR.2. Pada anak yang lebih besar
    • Anak akan mengeluh sakit kepala
    • Kemerahan, bengkak dan nyeri pada bagian tubuh yang disuntikkan
    • Demam. 

    Baca Juga: Anak Terkena Cacar Air Bolehkah Mandi? Ini Penjelasannya

    Apa Yang Harus Dilakukan Bila Anak Mengalami Efek Samping Imunisasi?

    Banyak hal yang dapat orang tua lakukan saat si kecil mengalami efek samping setelah dilakukan imunisasi, diantaranya:

    • Lakukan pelukan hangat sesering mungkin agar si kecil merasa nyaman.
    • Berikan ASI (Air Susu Ibu) lebih sering
    • Apabila pada bekas suntikan terlihat kemerahan, hangat dan bengkak,orang tua dapat melakukan kompres dengan handuk dingin untuk mengurangi pembengkakan
    • Apabila anak demam, maka orang tua dapat melakukan kompres air hangat, jangan membungkus anak terlalu rapat dengan pakaian tebal atau selimut tebal.
    • Apabila si kecil mengalami demam setelah dilakukan vaksinasi, maka orang tua dapat memberikan obat penurun demam yang dijual bebas.
    • Pada anak yang lebih besar, dapat diberikan air putih lebih banyak dari pada biasanya. 

    Baca Juga: Timbul Bisul Setelah Imunisasi BCG? Begini Penjelasannya

    Bolehkah Anak Mandi Setelah Diimunisasi?

    Saat Si Kecil imunisasi, wajar apabila Si Kecil mengalami demam. Hal ini wajar karena tubuh si kecil tengah bereaksi untuk membentuk antibodi sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan sehingga tubuh kuat dari berbagai infeksi kuman kelak.

    Setelah imunisasi, Si Kecil masih dapat dimandikan, namun ada baiknya menunggu setelah 24 jam pertama karena setelah vaksinasi biasanya Si Kecil mulai merasakan nyeri dan tidak nyaman pada area tubuh yang disuntik.

    Apabila si kecil mengalami demam setelah diimunisasi, maka mama dapat memandikan si kecil dengan air hangat, hindari mandi dengan air dingin karena dapat membuatnya menggigil dan suhu tubuh semakin meningkat.

    Baca Juga: Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT? Begini Cara Mengatasinya

    Sahabat Sehat, itulah berbagai hal mengenai pentingnya imunisasi bagi Si Kecil dan penanganan pasca imunisasi. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Primaya Hospital. Imunisasi Anak : Manfaat dan Jadwal Imunisasi Terbaru – Primaya Hospital.
    2. Soedjatmiko, S., Sitaresmi, M., Hadinegoro, S., et al. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2020. Sari Pediatri, 22(4), p.252.
    3. Seattle Children’s Hospital. Immunization Reactions.
    4. National Centre for Immunisation Research and Surveillance. After vaccination.
    5. Kara A. Questions on Immunization and Vaccination and Short Answers. Journal of Pediatric Infection.J Pediatr Inf 2021;15(1):e49-e51Kara A 
    Read More
  • Merasakan adanya benjolan di leher anak mungkin akan membuat panik. Selain masalah kelenjar getah bening, bisa jadi itu tanda gondongan. Ketika meraba leher anak, seringkali orang tua menemukan benjolan, kemudian menjadi panik seketika. Banyak sekali faktor penyebab terjadinya benjolan yang terjadi pada leher anak. mulai dari hal yang wajar karena faktor daya tahan tubuh (pembengkakan […]

    Ada Benjolan di Leher Anak? Awas, Mungkin Itu Gondongan

    Merasakan adanya benjolan di leher anak mungkin akan membuat panik. Selain masalah kelenjar getah bening, bisa jadi itu tanda gondongan.

    Ada Benjolan di Leher Anak Awas, Mungkin Itu Gondongan

    Ada Benjolan di Leher Anak? Awas, Mungkin Itu Gondongan

    Ketika meraba leher anak, seringkali orang tua menemukan benjolan, kemudian menjadi panik seketika. Banyak sekali faktor penyebab terjadinya benjolan yang terjadi pada leher anak. mulai dari hal yang wajar karena faktor daya tahan tubuh (pembengkakan kelenjar getah bening akibat mekanisme pertahanan akibat infeksi virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh), infeksi virus atau bakteri, kelainan hormon sampai adanya keganasan.

    Sahabat Sehat, apa saja penyebab benjolan di leher anak? Mari kenali lebih lanjut mengenai benjolan pada leher anak.

    Penyebab Benjolan Pada Leher Anak

    Masalah kelenjar getah bening dan tiroid merupakan hal yang sering menjadi penyebab benjolan pada leher secara umum, baik anak maupun dewasa. Berikut adalah berbagai penyebab lain yang dapat mengakibatkan timbulnya benjolan pada leher Si Kecil, yaitu:

    • Infeksi, misalnya akibat radang tenggorokan, infeksi telinga, infeksi kulit, HIV/AIDS, campak dan tuberkulosis
    • Penyakit autoimun, misalnya rheumatoid arthritis dan lupus
    • Efek samping dari obat-obatan, misalnya obat anti kejang 
    • Kanker, misalnya limfoma atau kanker getah bening dan kanker nasofaring
    • Infeksi kelenjar ludah (parotitis)
    • Kekurangan yodium
    • Gangguan hormon tiroid (hipertiroid).

    Namun, penyebab benjolan pada leher yang kerap dialami anak-anak adalah akibat infeksi virus gondongan atau disebut juga Mumps.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Mumps atau Godongan

    Mumps atau gondongan merupakan peradangan pada kelenjar parotis atau kelenjar ludah akibat infeksi virus. Gondongan ditandai dengan adanya pembengkakan pipi dan leher pada pasien yang terinfeksi virus. Gondongan dapat menular dan biasanya paling sering terjadi pada anak-anak.
    Kelenjar parotis atau kelenjar air liur terletak dibawah telinga, yang berfungsi untuk memproduksi air liur. Gondongan terjadi ketika, terjadinya infeksi virus paramyxovirus pada kelenjar parotis.

    Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Penyebab Mumps atau Gondongan

    Seperti yang telah disebutkan, gondongan terjadi akibat infeksi paramyxovirus yang menyebar melalui droplet dari penderitanya, yaitu melalui percikan air liur dan lendir yang keluar dari mulut dan hidung pasien yang sedang mengalami mumps. Ketika seseorang tertular virus ini, virus akan masuk ke kelenjar ludah penderitanya dan berkembang biak sehingga menyebabkan peradangan dan pembengkakan kelenjar parotis.
    Virus ini masuk biasanya 2-5 hari sebelum menimbulkan gejala bagi pasien, kemudian virus akan menetap pada kelenjar air liur dan infeksius selama 7-9 hari dan menetap selama 14 hari pada urin dan cairan semen sejak timbulnya gejala.

    Baca Juga: Sekolah di Negara Maju Juga Perlu Divaksin Loh!

    Gejala Mumps atau Gondongan

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai gejala pada anak yang mengalami gondongan, yaitu:

    • Fase awal, ditandai dengan demam, nyeri kepala, menurunnya nafsu makan, dan merasa tidak enak badan.
    • 24 jam setelah fase awal, muncul keluhan nyeri pada telinga dan wajah, nyeri saat mengunyah, nyeri bertambah seiring dengan meningkatnya produksi air liur (kondisi saliva banyak seperti sedang makan makanan asam).
    • Setelah 24 Jam terlihat pembengkakan pada kelenjar air liur yang berada di bawah telinga ke arah leher. Sebagian anak-anak mengalami pembengkakan pada kedua kelenjar air liur yang juga terletak dibawah lidah dan leher.

    Baca Juga: Ingat! Biaya Vaksinasi Lebih Hemat Daripada Pengobatan

    Komplikasi dari Mumps atau Gondongan

    Apabila tidak diobati dengan sesegera mungkin maka tidak menutup kemungkinan akan timbul beberapa komplikasi yang dialami Si Kecil, yaitu:

    1. Meningitis
    Meningitis adalah peradangan pada selaput pelindung otak dan juga sistem saraf tulang belakang. Gondongan dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya meningitis, yang ditandai dengan keluhan sakit kepala, kaku pada leher, mual dan muntah hebat, gangguan sikap dan perilaku, kejang, sensitif terhadap cahaya

    2. Orchitis
    Gondong juga dapat menyebabkan peradangan pada testis atau yang disebut dengan orchitis, yang ditandai dengan keluhan demam, meriang atau menggigil, nyeri kepala, mual dan muntah, nyeri pada perut, nyeri dan bengkak pada kedua atau salah satu testis.

    3. Pankreatitis
    Komplikasi pankreatitis sangat jarang sekali terjadi, namun bisa saja terjadi bagi sebagian orang. Pankreatitis merupakan peradangan pada organ pankreas yang dapat menyebabkan keluhan nyeri perut secara tiba-tiba, demam, menggigil, mual dan muntah, lemas.

    4. Oophoritis
    Oophoritis merupakan peradangan yang terjadi pada sel indung telur atau ovarium pada wanita, yang ditandai dengan keluhan demam, nyeri pada perut, mual dan muntah, serta nyeri pada kedua atau salah satu pinggul. 

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi MMR Bagi Mahasiswa

    Pencegahan Mumps

    Pencegahan terhadap mumps atau gondongan dapat diatasi dengan cara pemberian vaksinasi yang biasanya dikombinasi dengan vaksinasi campak dan rubella (Vaksinasi MMR). Kebanyakan anak-anak yang telah divaksin MMR, maka akan terlindung terhadap infeksi mumps selama masa kanak-kanak. 

    Vaksinasi MMR diberikan sebanyak dua dosis untuk bayi dan anak-anak, sekali antara usia 12 dan 15 bulan kemudian diulang kembali dengan rentang usia 4 hingga 6 tahun atau pada saat usia sekolah.

    Baca Juga: Usia Berapa Saja Anak Perlu Imunisasi MMR?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai gondongan yang merupakan penyebab tersering benjolan di leher Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kinanti A. Ada Benjolan di Bagian Leher Anak, Pertanda Apa? [Internet]. Indonesia : DetikHealth. 2017.
    2. Universitas Indonesia. 12 Penyebab Benjolan di Leher yang Sering Terjadi, Begini Cara Mengatasinya [Internet]. Indonesia : Info Sehat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2021.
    3. Sacrifian A. Kondisi yang Bisa Sebabkan Benjolan di Leher [Internet]. Indonesia : Hermina Hospital. 2021.
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Mumps [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2015.
    5. Boston Children’s Hospital. Mumps Symptoms & Causes [Internet]. USA : Boston Children’s Hospital. 2021.
    6. Pearl B. Mumps (for Parents) [Internet]. USA : Nemours Kidshealth. 2021.
    Read More
  • Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) merupakan salah satu imunisasi wajib yang harus diberikan kepada anak, yang dapat mencegah infeksi difteri, pertussis (batuk rejan) dan tetanus. Jika riwayat imunisasi tidak lengkap, Si Kecil beresiko menderita penyakit tersebut dikemudian hari.  Sahabat Sehat, apa saja hal yang perlu diperhatikan saat Si Kecil akan diberi vaksin DPT ? […]

    Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) merupakan salah satu imunisasi wajib yang harus diberikan kepada anak, yang dapat mencegah infeksi difteri, pertussis (batuk rejan) dan tetanus. Jika riwayat imunisasi tidak lengkap, Si Kecil beresiko menderita penyakit tersebut dikemudian hari. 

    Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Sahabat Sehat, apa saja hal yang perlu diperhatikan saat Si Kecil akan diberi vaksin DPT ? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Imunisasi DPT?

    Sahabat Sehat, imunisasi DPT dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus. Penyakit Difteri menyerang tenggorokan dan saluran pernapasan dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Penyakit Tetanus merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf akibat infeksi bakteri tetanus pada luka yang terkontaminasi. Sementara penyakit Pertusis merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan yang ditandai dengan batuk berat dan kesulitan bernapas. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Persiapan Sebelum Imunisasi DPT

    Sebelum Si Kecil menerima imunisasi DPT, pastikan istirahat yang cukup dan berikan nutrisi yang seimbang. Apabila Si Kecil sedang demam maka dianjurkan menunda imunisasi. Apabila Si Kecil mengalami infeksi saluran nafas atas ringan tanpa disertai demam, maka umumnya bukan lah suatu penghalang untuk diberikan imunisasi DPT. 

    Bayi yang lahir prematur juga dapat tetap diberikan imunisasi sesuai dengan usia kronologis nya sejak dilahirkan. Apabila Si Kecil sedang menjalani pengobatan tertentu, dianjurkan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter yang menangani. Pemberian imunisasi DPT dilakukan secara berhati-hati pada beberapa kondisi berikut:

    • Suhu tubuh mencapai 40,50C dalam 48 jam terakhir.
    • Tampak lemas dan tidak berespon dalam 48 jam terakhir.
    • Menangis hingga 3 jam atau lebih dan dialami dalam 48 jam terakhir. Dikhawatirkan setelah diberikan imunisasi DPT, Si Kecil menjadi semakin kurang nyaman dan rewel.
    • Kejang baik tanpa disertai demam maupun dengan demam dalam 3 hari terakhir. 

    Baca Juga: Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Jadwal Pemberian Imunisasi DPT

    Imunisasi DPT dasar diberikan sebanyak 3 kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu.

    • Dosis pertama diberikan pada usia 2-4 bulan,
    • Dosis kedua diberikan pada usia 3-5 bulan
    • Dosis ketiga diberikan pada anak usia 4-6 bulan.
    • Dosis keempat diberikan dengan interval 1 tahun sejak imunisasi DPT dosis ketiga diberikan, yaitu 18-24 bulan.
    • Dosis kelima diulang saat usia masuk sekolah yaitu 5-7 tahun.

    Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, tetap lanjutkan imunisasi sesuai jadwal. Bila anak belum pernah diimunisasi dasar pada usia <12 bulan, lakukan imunisasi sesuai imunisasi dasar baik sesuai jumlah maupun intervalnya.

    Baca Juga: Bagaimana Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT atau Sering Disebut KIPI

    Apa Saja Reaksi KIPI Pasca Imunisasi DPT?

    Bagi Sahabat Sehat yang sudah memiliki anak, perlu mewaspadai efek samping pasca pemberian imunisasi atau disebut juga sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (disebut juga KIPI). Beberapa reaksi KIPI yang kerap dialami pasca Si Kecil disuntik imunisasi DPT, yaitu:

    • Demam
    • Anak rewel
    • Kemerahan di tempat suntikan
    • Nyeri dan bengkak di bekas suntikan yang akan hilang dalam 2 hari.
    • Nafsu makan menurun
    • Muntah.

    Jika Si Kecil mengalami gejala diatas, Sahabat Sehat dapat melakukan beberapa tips berikut:

    • Berikan minum dan makanan yang cukup agar Si Kecil tidak rewel.
    • Jika Si Kecil demam, kenakan pakaian tipis dan menyerap keringat. Beri kompres air hangat di dahi. 
    • Berikan kompres air dingin pada bekas suntikan untuk meredakan nyeri dan bengkak di bekas suntikan.

    Perlu diwaspadai apabila gejala tersebut menetap hingga lebih dari 3 hari, atau jika Si Kecil tampak lemas maka konsultasikan ke dokter.

    Baca Juga: Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT? Begini Cara Mengatasinya

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai persiapan sebelum Si Kecil diberikan imunisasi DPT. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Rusmil K. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian II).
    2. Saputra D. Imunisasi DPT, Manfaat, dan Kapan Vaksin DPT Diberikan.
    3. Joseph E. Your Child’s Immunizations: Diphtheria, Tetanus & Pertussis Vaccine (DTaP) (for Parents).
    4. Sari Pediatri. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Sari Pediatri. 2016;2(1):43. 
    5. Soedjatmiko. Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Safety Information for Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccines.
    7. Mayo Clinic. Diphtheria, Tetanus, And Acellular Pertussis Vaccine (Intramuscular Route) Side Effects.
    8. Centers for Disease Control and Prevention. Diphtheria, Tetanus, and Pertussis: Recommendations for Vaccine Use and Other Preventive Measures Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP).
    Read More
  • Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernapasan dan paru yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian anak terbesar di dunia bila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya. Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 silam atau dapat […]

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernapasan dan paru yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian anak terbesar di dunia bila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya.

    Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 silam atau dapat dikatakan setiap jam terdapat 2 orang anak yang meninggal dunia akibat penyakit infeksi pernapasan ini.

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Diketahui berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan angka penderita pneumonia pada balita cukup tinggi yaitu 4,5 per 100 balita. Sementara berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) diketahui bahwa angka kematian anak berusia dibawah 5 tahun akibat pneumonia mencapai 15% pada tahun 2017, atau setara dengan 5,5 juta orang anak.

    Apakah Pneumonia Dapat Menginfeksi Bayi Baru Lahir?

    Pneumonia pada bayi baru lahir disebut juga dengan pneumonia neonatal. Kondisi ini mengakibatkan peradangan paru dan saluran pernapasan, sehingga beresiko menyebabkan sesak nafas yang dapat berujung pada syok dan kematian. Pneumonia pada bayi baru lahir dapat terjadi beberapa jam hingga 7 hari setelah bayi dilahirkan.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Berbagai organisme penyebab pneumonia pada bayi yang baru dilahirkan kemungkinan besar didapatkan dari jalan lahir (kemaluan ibu) ketika proses persalinan. Berikut ada beberapa jenis organisme yang menyebabkan pneumonia pada bayi baru lahir, yaitu : Streptococcus grup A dan B, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Klebsiella, dan Proteus. Selain itu Pseudomonas, Citrobacter, Bacillus, Serratia dan virus (Rhinovirus, Adenovirus, Human Metapneumovirus, Enterovirus, Coronavirus dan Herpes simplex virus) serta jamur.

    Risiko pneumonia meningkat pada beberapa kondisi berikut, yaitu:

    • Ibu hamil mengalami ketuban pecah dini
    • Infeksi rahim atau pada area kemaluan di masa kehamilan
    • Bayi baru lahir menjalani perawatan di ruang ICU
    • Ibu mengkonsumsi obat antibiotik selama masa kehamilan
    • Ibu merokok di masa kehamilan
    • Bayi lahir sungsang 
    • Ibu mengalami demam saat persalinan
    • Ibu menderita infeksi saluran kemih berulang.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Apa Gejala Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir?

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai gejala yang dialami bayi jika menderita pneumonia, yaitu: 

    • Sesak nafas dan kesulitan saat bernafas
    • Bayi terdengar seperti sedang merintih dan tidak kuat menangis.
    • Jari-jari serta bibir terlihat kebiruan
    • Wajah pucat
    • Jari dan tubuh teraba dingin 

    Pneumonia pada bayi baru lahir tidak selalu disertai dengan demam, berbeda dengan anak yang lebih besar yang mungkin akan disertai dengan demam. Selain itu, pneumonia pada bayi baru lahir dapat disertai dengan keluhan lain misalnya kulit tampak kemerahan, gula darah turun, perut membuncit dan bayi jarang buang air kecil.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Bagaimana Cara Mencegah Pneumonia?

    Untuk mencegah pneumonia pada bayi yang baru lahir, ibu hamil disarankan untuk kontrol rutin ke dokter selama kehamilan. Selain itu, usahakan untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terkena infeksi serta menjaga kebersihan tubuh terutama kemaluan. Hindari mengkonsumsi obat-obatan selama masa kehamilan tanpa saran dokter.

    Selain itu untuk mencegah pneumonia pada anak, Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi seperti pneumococcus conjugated vaccine (PCV), dan haemophilus influenzae type B (Hib). Imunisasi PCV dapat diberikan pada umur 2,4 dan 6 bulan dengan booster pada umur 12 – 15 bulan. Sementara imunisasi HiB dapat diberikan pada saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan, serta 18 bulan.

    Baca Juga: Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit pneumonia yang dapat menyerang Si Kecil. Salah satu cara untuk mencegah pneumonia adalah dengan mengikuti imunisasi baik PCV (pneumococcus conjugated vaccine) dan HiB (haemophilus influenzae type B).

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia Pada Anak bisa Dicegah dan Diobati.
    3. Ramdhani J. Hitung Napas Anak: Deteksi Awal Sesak Napas pada Anak dengan Pneumonia.
    4. M Cronan. Pneumonia (for Parents).
    5. ADA Health. Pediatric Pneumonia.
    Read More
  • Penyakit peradangan hati atau disebut juga hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Terdapat berbagai jenis virus hepatitis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, D dan E. Kali ini akan dibahas mengenai penyakit Hepatitis A, mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Hepatitis A? Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (Hepatitis Virus A- […]

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Penyakit peradangan hati atau disebut juga hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Terdapat berbagai jenis virus hepatitis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, D dan E. Kali ini akan dibahas mengenai penyakit Hepatitis A, mari simak penjelasan berikut.

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Apa Itu Hepatitis A?

    Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (Hepatitis Virus A- HAV), yang termasuk famili picornaviridae genus hepatovirus yang merupakan RNA virus positif. Menurut data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), Hepatitis A adalah salah satu penyakit yang ditularkan melalui makanan yang tercemar oleh virus hepatitis A. Penyakit hepatitis A merupakan jenis penyakit hepatitis yang paling sering ditemui di dunia. Diketahui setiap tahun sekitar 1,4 juta orang tertular penyakit Hepatitis A di dunia.

    Penyakit Hepatitis tidak hanya menyerang orang dewasa saja, melainkan juga dapat menyerang anak-anak. Jika dibiarkan, penyakit hepatitis dapat mengakibatkan sirosis yaitu suatu kondisi adanya kerusakan hati yang dapat mengakibatkan gagal fungsi hati. Sahabat Sehat perlu mewaspadai gejala hepatitis pada anak serta cara pengobatan dan pencegahan tertular Hepatitis A.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Hepatitis A?

    Penularan Hepatitis A pada anak ditularkan dengan mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A. Virus dapat ditemukan pada tinja penderita hepatitis A dan jumlah virus hepatitis A mencapai puncaknya dalam 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala. Oleh sebab itu, mencuci tangan menjadi salah satu cara mencegah penularan hepatitis A.

    Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat hepatitis A, biasanya terjadi ditempat umum yang banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk makan atau minum. Penyakit hepatitis A dapat ditemukan pada lingkungan yang sanitasinya buruk.

    Baca Juga: Virus Hepatitis A, Mulai dari Penyebab hingga Pengobatan

    Gejala Hepatitis A

    Hepatitis A berkembang dalam tubuh (masa inkubasi) terjadi selama 14-28 hari, sehingga seseorang baru merasakan gejala penyakit ini setelah jangka waktu tersebut. Virus hepatitis A dapat mengakibatkan infeksi yang cukup ringan, bahkan anak berusia dibawah usia 6 tahun cenderung tidak merasakan gejala apapun.

    Berikut ini gejala yang dapat dialami anak yang terinfeksi hepatitis A, yakni:

    • Demam
    • Kehilangan nafsu makan
    • Merasa letih dan lelah
    • Nyeri perut
    • Muntah
    • Warna urin tampak seperti teh
    • Kulit dan mata terlihat kekuningan
    • Tinja berwarna pucat.

    Baca Juga: Ingin Melanjutkan Kuliah di India? Vaksin Hepatitis A Dulu!

    Mengapa Anak Berusia Dibawah 6 Tahun Tidak Bergejala?

    Gejala yang timbul setelah adanya infeksi virus Hepatitis A sebenarnya bukanlah akibat langsung dari virus tersebut, melainkan akibat respon imun tubuh anak untuk mengeluarkan virus Hepatitis dari sel hati. Munculnya gejala penyakit ini merupakan pertanda respon imun seseorang sudah bekerja dengan baik. Pada anak berusia dibawah 6 tahun, respon imun tubuhnya belum sempurna sehingga gejala penularan Hepatitis A pada anak seringkali tak terlihat.

    Baca Juga: Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

    Apa yang Harus Dilakukan Bila Si Kecil Terjangkit Hepatitis A?

    Sahabat Sehat, berikut ini berbagai hal yang dapat dilakukan dirumah apabila Si Kecil menderita hepatitis A:

    1. Biarkan Si Kecil istirahat yang cukup
    2. Beri minum air putih yang cukup agar Si Kecil tidak kekurangan cairan tubuh
    3. Menjaga kebersihan seperti mencuci tangan setelah buang air, sebelum dan sesudah makan, serta sebelum tidur.
    4. Bagi orang tua, jangan lupa mencuci tangan setelah selesai mengganti popok bayi, kontak dengan feses Si Kecil yang sakit, serta jika sedang menyiapkan makanan.

    Baca Juga: Mencegah Bahaya Hepatitis A pada Anak

    Tips Mencegah Hepatitis A Pada Anak

    Untuk melindungi anak dari bahaya Hepatitis A, berikut pencegahan yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

    • Pastikan Si Kecil mendapatkan vaksinasi Hepatitis A sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan
    • Ajarkan Si Kecil untuk mencuci tangan setelah dari kamar kecil, mencuci tangan dengan dengan sabun minimal 20 detik, bilas hingga bersih dan keringkan dengan handuk atau tisu.
    • Ajarkan Si Kecil untuk tidak berbagi penggunaan barang pribadi dengan orang lain seperti handuk, sikat gigi, sendok dan gelas dengan orang lain.
    • Hindari mengkonsumsi makanan setengah matang dan jajan sembarangan 
    • Jaga kebersihan anak lingkungan di sekitarnya.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penularan hepatitis A pada anak yang dapat dialami Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Sehat Negeriku. Mengenal Hepatitis A.
    2. World Health Organization. Hepatitis A.
    3. Eremius A. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals.
    4. Nity T. Parents, kenali beberapa gejala hepatitis A pada anak berikut ini.
    5. Herdiana M, Arief S, Setyoboedi B. Mengenal Hepatitis A pada Anak.
    Read More
  • Pertengahan tahun identik dengan libur panjang dan pastinya sangat dinantikan oleh anak-anak. Rencana liburan biasanya juga sudah disiapkan oleh orang tua dari jauh-jauh hari. Selain membuat rencana perjalanan, orang tua sebaiknya juga mempersiapkan kesehatan diri dan anak. Kesehatan diri tidak hanya seputar mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan istirahat yang cukup. Ada satu hal lainnya […]

    Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Pertengahan tahun identik dengan libur panjang dan pastinya sangat dinantikan oleh anak-anak. Rencana liburan biasanya juga sudah disiapkan oleh orang tua dari jauh-jauh hari. Selain membuat rencana perjalanan, orang tua sebaiknya juga mempersiapkan kesehatan diri dan anak.

    Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Kesehatan diri tidak hanya seputar mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan istirahat yang cukup. Ada satu hal lainnya yang dapat melengkapi itu, yaitu vaksinasi. Ada ya vaksinasi untuk liburan? Ya, pastinya ada.

    Vaksinasi liburan biasanya ditujukan sebagai perlindungan terhadap penyakit yang sering ditemui di keramaian, bisa penularan antar manusia ataupun melalui makanan dan air. Apa saja contohnya? Yuk simak penjelasannya.

    Masa inkubasi penyakit berbeda-beda

    Ada berbagai macam penyakit yang bisa ditularkan melalui udara dan penularan ini semakin mudah jika seseorang berada di dalam keramaian atau di ruang tertutup. Contoh penyakitnya seperti influenza, cacar air (varisela), campak, dan pneumonia. Penderita yang batuk atau bersin berpotensi menyemprotkan ratusan ribu kuman ke udara.

    Adapun penyakit yang bisa ditularkan melalui makanan. Biasanya kuman masuk ke dalam makanan melalui penderita yang tidak memiliki kebersihan diri yang baik. Contohnya adalah pada penyakit hepatitis A dan demam tifoid. Karena rute penularan penyakit ini adalah fekal-oral, maka penderita yang tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah buang air besar lalu mengolah atau menyajikan makanan, akan meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Pada musim liburan, kegiatan berenang atau bermain di air juga biasanya menjadi pilihan anak-anak dan dewasa. Walau air kolam renang sudah dicampurkan kaporit sebagai pembunuh kuman, namun kepadatan wisatawan dalam satu waktu tetap akan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit. Salah satu penyakit yang bisa ditularkan melalui kolam renang adalah diare.

    Orang yang sudah jelas terinfeksi penyakit-penyakit ini akan menunjukkan gejala secara jelas pula dan mungkin orang lain akan lebih waspada jika berada di sekitarnya. Namun, yang dikhawatirkan adalah jika penderita sedang berada dalam masa inkubasi.

    Masa inkubasi adalah periode antara paparan pertama hingga timbulnya gejala. Pada masa ini, penderita bisa dengan mudah menularkan kuman penyakit kepada orang lain tanpa mengetahui dirinya sedang sakit. Maka ini bisa membahayakan bagi orang lain, terutama mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang kuat seperti anak dan lansia. Masa inkubasi tiap penyakit bisa berbeda-beda. Misalnya penyakit influenza memiliki masa inkubasi 1-4 hari, sedangkan demam tifoid (tipes) selama 7-14 hari.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Siap Liburan, Siap Vaksin

    Vaksinasi adalah salah satu cara yang efektif dalam mencegah penyebaran penyakit. Kegiatan ini sebenarnya sudah rutin dilakukan sejak anak lahir dan terus berlaku hingga dewasa. Maka, sebelum Sahabat Sehat melakukan vaksinasi tambahan, pastikan terlebih dulu apa saja vaksinasi yang telah didapat.

    Beberapa jenis vaksin dasar memerlukan booster pada usia-usia tertentu, sebagian lainnya cukup dengan pemberian vaksin primer. Berikut adalah jenis vaksin yang direkomendasikan untuk melindungi anak dan dewasa saat berlibur:

    1. Anak
      • PCV (pneumonia): vaksin primer usia 2, 4, 6 bulan; vaksin booster antara usia 12-15 bulan.
      • Rotavirus (diare): vaksin primer usia 2, 4, 6 bulan.
      • Campak (MR/ MMR): vaksin primer usia 9 bulan; vaksin booster usia 18 bulan dan 5-7 tahun.
      • Cacar air (varisela): vaksin primer antara usia 12-18 bulan.
      • Influenza: vaksin primer usia 6 bulan; vaksin booster setiap satu tahun sekali.
      • Hepatitis A: vaksin primer 2 kali antara usia 12-24 bulan.
      • Tifoid: vaksin primer usia 24 bulan; vaksin booster setiap tiga tahun sekali.

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak – Anak

    1. Dewasa
      • Influenza: vaksin booster setiap satu tahun sekali.
      • MMR: vaksin booster satu kali jika sudah pernah saat anak-anak.
      • PCV: terutama bagi orang berusia di atas 50 tahun.
      • Hepatitis A: vaksin dua dosis dengan jarak 6-12 bulan.
      • Tifoid: vaksin setiap tiga tahun sekali.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Ayo Sahabat Sehat, jadwalkan vaksinasi Anda dan keluarga agar semua terlindungi selama liburan dan tidak membawa penyakit saat kembali ke rumah. Anda bisa melakukan vaksinasi bersama Prosehat karena vaksinasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat. Jadi, keamanan produk dan pelaksanaannya dijamin berkualitas.

    Layanan ini bisa dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan Anda. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun. 2020.
    2. PAPDI. Jadwal Imunisasi Dewasa. 2021.
    Read More
  • Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Terdapat banyak sekali penyebab keluhan batuk, salah satunya adalah batuk 100 hari atau disebut juga Pertusis.  Pertussis adalah sebuah penyakit yang mengakibatkan batuk yang tiada henti. Pertusis yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan berdampak buruk bagi kondisi Si Kecil. Sahabat […]

    Waspadai Komplikasi Akibat Batuk Rejan (Pertusis) Pada Anak

    Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Terdapat banyak sekali penyebab keluhan batuk, salah satunya adalah batuk 100 hari atau disebut juga Pertusis. 

    Waspadai Komplikasi Akibat Batuk Rejan (Pertusis) Pada Anak

    Waspadai Komplikasi Akibat Batuk Rejan (Pertusis) Pada Anak

    Pertussis adalah sebuah penyakit yang mengakibatkan batuk yang tiada henti. Pertusis yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan berdampak buruk bagi kondisi Si Kecil. Sahabat Sehat, apa saja komplikasi akibat Pertusis pada anak?

    Apa Itu Pertusis ?

    Pertusis atau disebut juga batuk 100 hari merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis. Menurut data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, terdapat 151.000 kasus batuk rejan di seluruh dunia.

    Bagaimana Penularan Pertusis ?

    Proses penularan batuk rejan cukup mudah. Apabila penderita Pertusis batuk atau bersin, cipratan air liur atau droplet berisi bakteri pertusis dapat masuk melalui saluran nafas.

    Komplikasi dapat terjadi apabila Pertusis tidak ditangani dengan baik dan benar. Beberapa komplikasi dari pertusis yang dapat terjadi pada anak-anak adalah sebagai berikut.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Saja Komplikasi Akibat Pertusis ?

    Si Kecil yang didiagnosa menderita Pertusis dan tidak ditangani dengan baik menjadi rentan mengalami komplikasi sebagai berikut :

    • Pneumonia 

    Bakteri penyebab Pertusis dapat menginfeksi saluran nafas pada paru sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan paru. Hal tersebut berdampak pada proses pertukaran oksigen di paru. Kerusakan pada jaringan paru juga dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut sehingga kemampuan pertukaran oksigen pada paru tidak sebaik kondisi sebelumnya.

    • Gangguan Tumbuh Kembang

    Setelah terinfeksi, sel imun bekerja dengan mengeluarkan respon radang alami yang dapat menimbulkan demam dan penurunan nafsu makan. Ditambah dengan batuk yang terus menerus dapat mengakibatkan Si Kecil menjadi sulit makan

    Baca Juga: Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Apabila hal tersebut berlanjut dalam jangka waktu yang lama, maka pertumbuhan Si Kecil dapat terganggu karena asupan nutrisi sehari-hari menjadi tidak tercukupi. Si Kecil menjadi letih dan lesu, sehingga mengakibatkan tumbuh kembangnya terlambat.

    • Gangguan Pada Jaringan Otak dan Kejang

    Pada kondisi bila kadar oksigen dalam tubuh menurun dapat mengakibatkan kerusakan jaringan paru dan otak tidak cukup mendapatkan oksigen. Kondisi ini dapat mengakibatkan Si Kecil mengalami kejang akibat otak kekurangan oksigen.

    Baca Juga: Mari Kita Mengenal Pertusis pada Anak

    Tips Mencegah Pertusis

    Sahabat Sehat, Pertusis dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan vaksinasi. Dengan mencuci tangan akan menghilangkan cairan droplet bakteri yang mungkin menempel pada tangan. 

    Selain itu Sahabat Sehat dapat memberikan vaksin Pertusis untuk Si Kecil. Vaksin pertusis di Indonesia terdapat dalam kombinasi Difteri, Pertusis, dan Tetanus. Vaksin ini dapat diberikan bagi Si Kecil pada saat berusia 2, 3, dan 4 bulan.

    Batuk memang sering dijumpai, namun jangan menganggap remeh keluhan batuk pada Si Kecil. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi diatas.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Nah Sahabat Sehat, itulah informasi mengenai berbagai komplikasi akibat Pertusis yang dapat dialami Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Whooping Cough (Pertussis).
    2. World Health Organization. Pertussis.
    3. Warfel J, Beren J, Merkel T. Airborne Transmission of Bordetella pertussis.
    4. Nataprawira H, Kompiyang Indriyani S, Olivianto E. Pertussis in Children: Problems in Indonesia.
    5. Health NY. Pertussis or Whooping Cough Fact Sheet.
    6. The Royal Children’s Hospital Melbourne. Clinical Practice Guidelines : Whooping cough (pertussis). 
    Read More
  • Apabila orangtua berencana untuk melakukan perjalanan bersama dengan anak-anak ke suatu daerah tertentu, tentunya orangtua memerlukan vaksinasi untuk anak minimal 1 bulan sebelum melakukan perjalanan, tergantung dari daerah mana yang akan dituju. Masa pandemi seperti saat ini, wajib sekali agar anak-anak yang berusia 6-11 tahun untuk melakukan vaksinasi Covid-19 agar melindungi tubuh dari Covid-19. Namun […]

    Berbagai Jenis Imunisasi Anak Sebelum Bepergian

    Apabila orangtua berencana untuk melakukan perjalanan bersama dengan anak-anak ke suatu daerah tertentu, tentunya orangtua memerlukan vaksinasi untuk anak minimal 1 bulan sebelum melakukan perjalanan, tergantung dari daerah mana yang akan dituju.

    Masa pandemi seperti saat ini, wajib sekali agar anak-anak yang berusia 6-11 tahun untuk melakukan vaksinasi Covid-19 agar melindungi tubuh dari Covid-19. Namun selain vaksinasi Covid-19, terdapat beberapa imunisasi wajib lainnya yang perlu dilakukan.

    Berbagai Jenis Imunisasi Anak Sebelum Bepergian

    Berbagai Jenis Imunisasi Anak Sebelum Bepergian

    Melakukan imunisasi sebelum pergi liburan ke daerah tertentu merupakan hal yang wajib untuk meminimalkan resiko terjangkit penyakit selama bepergian.

    Sahabat Sehat, apa saja imunisasi yang diperlukan Si Kecil sebelum bepergian ? Mari simak penjelasan berikut.

    Kapan Waktu yang Tepat Melakukan Imunisasi Sebelum Bepergian?

    Sebelum berencana bepergian, buatlah janji dengan fasilitas kesehatan setempat untuk melakukan imunisasi. Beberapa jenis imunisasi membutuhkan waktu untuk bekerja didalam tubuh dan memberikan efek perlindungan.

    Sebagai contoh, imunisasi BCG dapat melindungi Si Kecil dari infeksi TBC (Tuberkulosis) harus dilakukan setidaknya minimal 3 bulan sebelum membawa Si Kecil bepergian.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Saja Imunisasi yang Diperlukan Si Kecil Sebelum Berlibur ?

    Untuk memilih jenis imunisasi yang harus diterima Si Kecil maka Mama dapat berkonsultasi dengan Dokter. Nantinya Dokter akan mengecek riwayat imunisasi apa saja yang sudah pernah dilakukan Si Kecil, serta daerah tujuan berlibur dan menyesuaikan jenis imunisasi yang diperlukan.

    Berikut ini beberapa contoh imunisasi yang biasanya dilakukan sebelum bepergian, antara lain:

    1. Meningitis

    Sebelum berpergian ke negara Arab Saudi atau negara di timur tengah, disarankan untuk melakukan vaksinasi meningitis karena negara-negara timur tengah merupakan daerah endemis meningitis.

    2. Demam Kuning (Yellow Fever)

    Jika Mama hendak melakukan perjalanan ke negara Afrika (Gana, Kenya dan Nigeria) disarankan untuk melakukan vaksinasi Demam Kuning atau Yellow Fever karena merupakan daerah endemis demam kuning.

    Baca Juga: Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    3. Hepatitis A dan B

    Sebelum bepergian Mama dianjurkan memastikan Si Kecil sudah menerima imunisasi Hepatitis dan B. Negara dengan kasus hepatitis yang masih tinggi misalnya Meksiko. Penyakit Hepatitis A dapat ditularkan melalui makanan yang tercemar Hepatitis A sehingga perlu diwaspadai penularannya selama bepergian.

    4. Tifoid dan paratifoid

    Vaksinasi tifoid dilakukan untuk mencegah penyakit tipes saat melakukan perjalanan ke daerah dengan kasus infeksi tifoid tinggi misalnya negara-negara Asia Tengah (India, Pakistan dan Bangladesh).

    5. Influenza

    Apabila hendak berlibur saat musim hujan seperti saat ini, ada baiknya untuk melakukan vaksinasi flu sebelumnya.

    6. Japanese Encephalitis

    Japanese encephalitis merupakan penyakit yang beresiko rendah bagi sebagian besar pelancong atau turis ke negara endemik Japanese encephalitis. Namun, beberapa turis akan memiliki peningkatan resiko infeksi berdasarkan faktor-faktor periode perjalanan yang lebih lama, perjalanan selama musim penularan virus Japanese encephalitis, berpartisipasi dalam banyak kegiatan diluar ruangan dan akomodasi tempat tinggal tanpa AC dan kelambu untuk menghindari nyamuk.

    Untuk menghindari terinfeksi Japanese encephalitis sebelum melakukan perjalanan ke negara China, Jepang atau Korea Utara (khususnya di daera perdesaan), minimal 1 bulan sebelumnya melakukan vaksinasi Japanese Encephalitis.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Tips Menjaga Kesehatan Selama Bepergian

    Ada beberapa hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan saat bepergian untuk menjaga kesehatan, antara lain:

    1. Menggunakan masker
    2. Menjaga jarak dengan orang lain terutama saat berada di tempat umum
    3. Jaga kebersihan makanan dan minuman
    4. Lindungi diri dari gigitan serangga, dengan menggunakan lotion anti nyamuk
    5. Gunakan tabir surya untuk melindungi dari paparan sinar matahari 
    6. Gunakan perlengkapan alat pelindung keselamatan sesuai dengan aktivitas, misalnya menggunakan sabuk pengaman saat berkendara.
    7. Mencatat nomor telepon darurat atau fasilitas kesehatan terdekat dari hotel tempat Sahabat Sehat menginap di negara tujuan

    Baca Juga: Aman dan Nyaman Melakukan Imunisasi Kejar Anak dari Rumah

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai jenis imunisasi  yang diperlukan Si Kecil sebelum bepergian. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

     

    Referensi

    1. Tellado M. Do My Kids Need Vaccines Before Traveling? (for Parents).
    2. Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Vaksin Covid-19 untuk Anak, Aman.
    3. Citizens Information. Travelling abroad and vaccinations.
    4. Chang L. Your Travel Vaccine Checklist.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Holiday Tips.
    6. National Health Service. Travel vaccinations.
    Read More
  • Obesitas atau kelebihan berat badan pada anak merupakan kondisi medis serius yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak dan remaja. Meski terlihat menggemaskan, namun kondisi sangat meresahkan karena obesitas kerap membuat anak-anak mengalami gangguan kesehatan yang wajarnya adalah masalah orang dewasa, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.  Saat ini, kasus obesitas pada anak telah […]

    Obesitas Pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

    Obesitas atau kelebihan berat badan pada anak merupakan kondisi medis serius yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak dan remaja. Meski terlihat menggemaskan, namun kondisi sangat meresahkan karena obesitas kerap membuat anak-anak mengalami gangguan kesehatan yang wajarnya adalah masalah orang dewasa, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. 

    Obesitas Pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

    Obesitas Pada Anak, Begini Cara Mengatasinya

    Saat ini, kasus obesitas pada anak telah meningkat hampir tiga kali lipat sejak 1975. Di Indonesia, setidaknya sebanyak 18-19% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 11% anak pada usia tersebut mengalami obesitas berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018. Selain itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) juga memperkirakan bahwa ada sekitar 60 juta anak di Indonesia yang menderita obesitas pada tahun 2020.

    Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi obesitas pada anak ? Mari simak penjelasan berikut.

    Kenali Obesitas Pada Anak

    Kelebihan berat badan atau obesitas diakibatkan akumulasi lemak abnormal atau berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Obesitas pada anak merupakan predisposisi resistensi insulin dan diabetes tipe 2, hipertensi, hyperlipidemia, penyakit hati dan ginjal, serta disfungsi reproduksi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas onset dewasa dan penyakit kardiovaskular. 

    Selain itu obesitas pada anak juga berpotensi menyebabkan tersumbatnya jalan napas saat tidur, atau dikenal dengan istilah obstructive sleep apnea syndrome (OSAS), yang ditandai dengan tidur ngorok. Masalah lain umum dialami oleh anak dengan obesitas yakni gangguan pada postur tubuh, kelainan kulit, perkembangan tulang, alergi, hingga masalah psikososial. 

    Namun Bunda tak perlu khawatir, karena tidak semua anak yang memiliki berat badan berlebih dapat dikategorikan sebagai obesitas. Untuk menentukan apakah Si kecil obesitas atau tidak, maka dibutuhkan pemeriksaan indeks massa tubuh (body mass index/BMI) yang dapat dihitung berdasarkan berat dan tinggi badan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Tips Mengatasi Obesitas Pada Anak

    Obesitas pada anak dapat ditangani berdasarkan perkembangan anak, usia, dan tingkat keparahannya. Saat melakukan konsultasi, dokter anak akan mengevaluasi status gizi anak, penyebab obesitas, aktivitas anak dan asupan makanan, serta ada atau tidaknya penyakit yang ditimbulkan obesitas. Terapi atau program mengatasi obesitas dapat dimulai saat anak dan orangtuanya siap untuk memulai. 

    Baca Juga: Gizi Seimbang untuk Anak Obesitas

    Mengatur Pola Makan 

    Saat melakukan langkah ini, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter gizi dalam menentukan asupan makan seperti apa yang sesuai dengan berat dan tinggi badan ideal anak. 

    • Ajarkan Si Kecil mengenali rasa kenyang dan rasa lapar. Anak harus mampu membedakan antara rasa lapar di perut dan rasa lapar mulut (hanya ingin), dan tegaskan pada mereka untuk makan hanya bila terasa lapar di perut. 
    • Makan dengan teratur 3 kali sehari dan diselingi dengan cemilan buah segar (bukan jus) 1 – 2 kali sehari. Hindari buah berkalori tinggi seperti mangga atau durian.
    • Minum air putih hanya diperbolehkan di antara waktu makan.
    • Hindari mengonsumsi makan tinggi kalori, seperti kentang goreng, kue kering, roti, es krim, atau jus buah.
    • Tidak bermain atau menonton televisi saat makan. 
    • Hindari mengaitkan makanan sebagai hadiah atau membatasi makanan sebagai hukuman. 
    • Tidak menyajikan makanan fast food (siap saji) atau makanan manis untuk anak.
    • Batasi asupan susu, yakni 500 ml/hari untuk anak diatas 2 tahun, dan ganti susu full cream dengan susu rendah lemak. 
    • Sarapan pagi dengan protein tinggi. Kebiasaan ini mampu membantu penurunan berat badan anak.

    Tingkatkan Aktivitas Fisik 

    Dalam meningkatkan aktivitas fisik anak, Anda dapat memulainya dengan hal-hal sederhana seperti rutin berjalan kaki atau bersepeda mengelilingi komplek rumah. Pada anak usia balita, kurangi menggendong dan penggunaan stroller (kereta dorong) yang sangat bermanfaat. Melibatkan anak obesitas dalam melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari juga dapat dicoba. 

    Selain itu, pada anak usia sekolah (mulai usia 6 tahun) dapat Anda perkenalkan dengan berbagai macam olahraga yang dapat menarik minatnya, seperti basket, sepak bola, berenang, menari, karate, atau bersepeda. Kurangi aktivitas yang dilakukan dengan banyak duduk atau berbaring selama berjam-jam setiap harinya, menonton televisi dan aktivitas dengan gadget. Batasi menonton televisi dan penggunaan gadget pada anak usia 12 tahun ke atas selama 2 jam sehari dan pada anak di bawah 2 tahun seminimal mungkin. 

    Baca Juga: Hubungan Obesitas dengan Penyakit Jantung Koroner

    Memberikan Pengertian Pada Anak 

    Berat badan merupakan topik yang mungkin sangat sensitif untuk dibicarakan, terutama pada anak yang sedang beranjak remaja. Tetapi, jika tidak dibicarakan, kondisi ini dapat membahayakan kesehatan fisik dan psikologi mereka. Oleh sebab itu, sampaikanlah topik ini dengan cara yang tepat dan mudah dipahaminya. 

    Selain itu, selalu dampingi, dukung, dan beri semangat atas usahanya dalam menjalani pola hidup sehat dan rajin berolahraga. Pelan-pelan ajak anak untuk mulai terbuka terhadap masalah pemicu obesitas, seperti kemungkinan stress yang akan dihadapi.

    Memberikan Pujian

    Berikan anak pujian atas niat dan upayanya dalam menurunkan berat badan. Anda dapat memberinya pujian kecil saat ia telah mengisi waktu luangnya untuk terlibat dalam melakukan pekerjaan rumah tangga harian daripada hanya berbaring dan bermain gadget. 

    Agar terus memotivasinya, ajaklah anggota keluarga lainnya untuk ikut mendukung dan menghargai upaya yang dilakukannya serta mendorongnya untuk terus menjalani program penurunan berat badan secara konsisten.

    Baca Juga: 6 Pola Makanan Cegah Obesitas

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips untuk mengatasi obesitas pada anak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Childhood obesity – Symptoms and causes.
    2. Emedicine. Obesity in Children: Background, Etiology and Pathophysiology, Epidemiology.
    3. Badan Penelitian dan Pengembangan KesehatanLaporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
    4. World Health Organization. Obesity.
    5. Direktorat P2PTM. Apa saja Tips Mengatasi Obesitas?
    6. WebMD. What to Say to Your Teen About Weight.
    7. Direktorat P2PTM. Klasifikasi Obesitas setelah pengukuran IMT.
    Read More
  • Gondongan atau disebut juga mumps merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi paramyxovirus yang umumnya menyerang anak dan balita usia 5 hingga 9 tahun. Infeksi paramyxovirus menyerang kelenjar penghasil air liur yang terletak di sekitar telinga. Virus ini dapat ditularkan melalui percikan ludah dan lendir saat penderita gondongan bersin atau batuk. Meski demikian, […]

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Gondongan atau disebut juga mumps merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi paramyxovirus yang umumnya menyerang anak dan balita usia 5 hingga 9 tahun. Infeksi paramyxovirus menyerang kelenjar penghasil air liur yang terletak di sekitar telinga. Virus ini dapat ditularkan melalui percikan ludah dan lendir saat penderita gondongan bersin atau batuk.

    Meski demikian, gondongan pada anak harus ditangani segera sebelum menyebabkan komplikasi seperti seperti infeksi dan peradangan otak (misalnya meningitis, dan encephalitis) serta kehilangan pendengaran. Akan tetapi, saat ini penyakit gondongan sudah mulai berkurang berkat imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella)

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    5 Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Penyebab Gondongan Pada Anak

    Gondongan terjadi akibat kelenjar parotis terinfeksi Paramyxovirus A. Kelenjar parotis ini terletak di bagian depan dan bawah setiap telinga yang berperan dalam memproduksi air liur. Anak dapat tertular melalui percikan air liur atau lendir hidung penderita gondongan. Misalnya saat terkena bersin atau batuk, maupun ketika berbagi gelas dan peralatan makan dengan orang yang terinfeksi. Meski demikian, risiko anak terkena gondongan dapar ditekan hingga 99% dengan mendapatkan dua kali imunisasi MMR. 

    Bagaimana Cara Penularan Gondongan ?

    Berikut beberapa cara penularan gondongan yakni :

    • Menghirup bersin atau cipratan liur ketika penderita gondongan batuk.
    • Menggunakan gelas dan peralatan makan bersama penderita gondongan.
    • Memegang benda, gagang pintu, atau permukaan barang yang telah terpapar virus gondongan, dan  tidak segera mencuci tangannya. 

    Virus penyebab gondongan umumnya menular sejak 2 hari sebelum munculnya gejala hingga 5 hari setelah gejala selesai.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Gondongan Pada Anak

    Gondongan memiliki gejala yang sangat khas, yakni munculnya pembengkakan di sekitar pipi, mulut, hingga leher bagian atas yang biasanya akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan kesakitan saat mengunyah atau menelan. Meski demikian gejala gondongan sudah dapat terlihat sejak sebelum terjadi pembengkakan pada kelenjar parotis, seperti:

    • Sakit kepala dan nyeri otot
    • Mulut kering
    • Kehilangan nafsu makan
    • Demam tinggi lebih dari 380C
    • Pembengkakan pada salah satu atau kedua kelenjar parotis di depan telinga dan menyilang ke sudut rahang.
    • Batuk dan pilek
    • Mudah lelah

    Kemudian dalam beberapa hari, kelenjar parotis akan semakin membengkak dan terasa nyeri hingga membuat pipi terlihat membesar. 

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Komplikasi Akibat Gondongan

    Bahkan pada beberapa kasus terutama apabila gondongan tidak ditangani dengan baik, beresiko mengakibatkan komplikasi seperti :

    • Infeksi pada otak dan selaput otak (Ensefalitis dan Meningitis)
    • Radang testis (Orkitis)
    • Radang ovarium (Ooforitis)
    • Radang pankreas (Pankreatitis)
    • Gangguan pendengaran

    Cara Mengatasi Gondongan Pada Anak

    Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa tips di bawah ini untuk membantu mengatasi gondongan pada Si Kecil, antara lain:

    • Istirahat yang cukup

    Untuk menekan risiko penyebaran virus serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh si Kecil, sebaiknya Si Kecil tetap beristirahat di rumah selama menderita gondongan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merekomendasikan agar anak tetap dirumah dan untuk sementara tidak berkegiatan di sekolah setidaknya selama lima hari setelah munculnya pembengkakan pada kelenjar. Berikan obat penurun demam atau pereda nyeri yang dijual bebas apabila Si Kecil demam dan merasa tidak nyaman. 

    • Berikan air yang cukup

    Gondongan pada anak akan menyebabkan sakit tenggorokan sehingga membuat Si Kecil kesulitan mengunyah dan menelan makanan secara normal, bahkan sebagian besar penderitanya akan kehilangan nafsu makan. Oleh karena itu untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil, sebaiknya usahakan untuk memberi minum air putih yang cukup. 

    Baca Juga: Anak yang Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?

    • Menjaga kebersihan

    Selalu bersihkan dan desinfeksi rumah secara berkala dalam beberapa jam sekali, terutama pada benda atau permukaan yang sering disentuh oleh penderita gondongan. Sering cuci tangan secara teratur, menggunakan masker bagi penderita gondongan. Hindari berbagi minuman dan makanan, ataupun peralatan yang sama dengan penderita gondongan.

    • Kendalikan rasa sakit dengan cara alami

    Apabila gejalanya menjadi sangat tidak nyaman, Sahabat Sehat dapat memberikan obat pereda nyeri yang dijual bebas untuk membantu menurunkan peradangan sehingga membantu Si Kecil tidur lebih nyenyak. Selain itu, cara alami lainnya untuk mengatasi rasa sakit dan meredakan pembengkakan, nyeri otot, hingga sakit kepala dengan menggunakan minyak esensial dan menggunakan kompres es. 

    • Beri makanan bergizi seimbang 

    Sahabat Sehat dianjurkan memberikan makanan bergizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya sehingga dapat menurunkan resiko komplikasi gondongan. Jika Si Kecil sudah mulai kesulitan mengunyah, cobalah menghaluskan atau memasak makanan dengan antioksidan tinggi seperti sayuran dan buah yang dibuat menjadi smoothie dan sup hangat yang disukai  Si Kecil. 

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Imunisasi MR/MMR Mencegah Gondongan

    Penyakit gondongan dapat dicegah dengan cara melakukan imunisasi MR (Measles dan Rubella) ataupun MMR (Measles, Mumps dan Rubella). Imunisasi MR diberikan pada saat Si Kecil berusia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun. 

    Sementara imunisasi gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yakni imunisasi gabungan untuk campak, gondongan dan campak jerman dapat diberikan sebanyak 2 kali pada saat Si Kecil berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi MMR Bagi Mahasiswa

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara mengatasi gondongan pada anak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditinjau oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Mumps.
    2. About Kids Health. AboutKidsHealth.
    3. National Health Service. Mumps – Complications.
    4. Kidshealth.org. 2022. Mumps (for Parents).
    5. Boston Children Hospital. Mumps Symptoms & Causes.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com