Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 91–100 of 275 results

  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Musik dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Karenanya, banyak sekali manfaat mendengarkan musik pada janin dan bagi kesehatan ibu hamil. Alunan irama musik dipercaya dapat mempengaruhi suasana hati yang tidak stabil pada ibu hamil akibat perubahan hormon di masa kehamilan. Selain itu para ahli menganggap […]

    5 Manfaat Mendengarkan Musik pada Janin dan Ibu Hamil

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Manfaat Mendengarkan Musik pada Janin dan Kesehatan Ibu Hamil

    Musik dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Karenanya, banyak sekali manfaat mendengarkan musik pada janin dan bagi kesehatan ibu hamil. Alunan irama musik dipercaya dapat mempengaruhi suasana hati yang tidak stabil pada ibu hamil akibat perubahan hormon di masa kehamilan.

    Selain itu para ahli menganggap bahwa dengan mendengarkan jenis musik tertentu saat hamil dapat menunjang perkembangan otak janin. Sahabat Sehat, apa saja manfaat mendengarkan musik bagi janin dan ibu hamil? Mari simak penjelasan berikut.

    Bisakah Janin Mendengarkan Musik?

    Meski masih didalam kandungan, pendengaran Si Kecil sudah mulai terbentuk seiring mendekati waktu kelahirannya. Janin sudah mulai dapat mendengar saat usia kehamilan mencapai 23 minggu. Memasuki usia kehamilan 29 hingga 33 minggu, janin sudah mampu membuat tangisan atau suara keras lainnya.

    Oleh sebab itu bagi Sahabat Sehat yang tengah mengandung dianjurkan memberi rangsangan seperti mengajak Si Kecil berbicara sambil mengelus perut, atau mendengarkan musik yang menenangkan. Biasanya janin akan memberikan respon dari dalam kandungan dengan membuat gerakan tertentu.

    Manfaat Mendengarkan Musik pada Janin

    Sebuah penelitian mengungkapkan jika ibu hamil mendengarkan musik di masa kehamilannya, bayi menjadi lebih aktif dan peka dengan lingkungan sekitarnya setelah dilahirkan. Selain itu, beberapa manfaat musik bagi janin antara lain adalah:

    1. Meningkatkan kecerdasan dan kemampuan berpikir anak
    2. Daya tahan si kecil meningkat dan lebih sehat
    3. Si kecil jadi memiliki potensi yang tinggi di bidang seni

    Selain memberikan manfaat bagi si kecil dalam kandungan, mendengarkan musik juga akan bermanfaat bagi ibu hamil.

    Manfaat Mendengarkan Musik Bagi Ibu Hamil

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai manfaat yang dapat Sahabat Sehat peroleh dengan mendengarkan musik selama hamil:

    Meredakan cemas dan stress 

    Perubahan hormon yang dialami ibu hamil kerap menimbulkan cemas dan stress. Ibu hamil yang mengalami stress dan depresi selama masa kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, berat bayi lahir rendah, dan gangguan perkembangan kognitif Si Kecil. Mendengarkan musik dengan alunan lembut dan menenangkan adalah salah satu solusi untuk mengatasi stress di masa kehamilan.

    Mengatasi sulit tidur

    Irama lagu yang lembut dapat membantu tubuh dan pikiran ibu hamil lebih rileks. Sebuah studi membuktikan bahwa ibu hamil yang rutin mendengarkan musik selama 4 minggu berturut-turut memiliki kualitas tidur yang jauh lebih baik dibanding dengan mereka yang tidak mendengarkan musik sama sekali.

    Menjaga tekanan darah stabil

    Salah satu komplikasi yang sering terjadi selama hamil adalah preeklampsia atau disebut juga keracunan kehamilan. Kondisi ini diakibatkan oleh tekanan darah ibu hamil yang tinggi sehingga menyebabkan plasenta kekurangan asupan darah dan oksigen. Berdasarkan penelitian, dengan mendengarkan musik yang lembut dapat membantu Sahabat Sehat menjadi lebih rileks dan tekananan darah menjadi stabil. Tentunya perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan makanan yang dikonsumsi.

    Meredakan nyeri saat hamil

    Efek relaksasi dari mendengarkan musik juga mampu membantu meredakan rasa nyeri yang sering muncul di masa kehamilan, seperti nyeri perut, nyeri punggung, hingga sakit kepala. Saat Sahabat Sehat mendengarkan musik yang disukai atau musik beralunan lembut, tubuh akan menghasilkan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami.

    Hal Penting Saat Mendengarkan Musik

    Jika Sahabat Sehat mendengarkan musik selama hamil, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut agar tidak berdampak buruk bagi kondisi ibu dan janin :

     

    • Hindari memutar musik dengan suara keras (> 80 db) yang diputar berulang sebab dapat berdampak pada pendengaran dan otak janin.

     

    • Volume musik yang dianjurkan untuk janin yakni sekitar 50-60 desibel atau sebesar suara normal saat berbicara.
    • Tidak diperkenankan untuk meletakan barang elektronik seperti handphone, perangkat musik atau loudspeaker secara langsung di perut selama masa kehamilan.
    • Musik dengan irama lambat, lembut, dan teratur seperti musik pengantar tidur ataupun musik klasik dianggap paling cocok untuk kesehatan ibu dan janin.

     

     

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa hal mengenai manfaat mendengarkan musik pada janin yang dapat Sahabat Sehat jadikan panduan selama kehamilan. Jika Sahabat Sehat memiliki pertanyaan lain seputar kehamilan, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Baby Centre UK. Will my baby learn anything in the womb? [Internet]. UK : Baby Center UK; [cited 2021 Aug 26]. Available from : https://www.babycentre.co.uk/a1049781/will-my-baby-learn-anything-in-the-womb
    2. Gordon S. Loud and Clear: What Your Baby Can Hear in Utero [Internet]. USA : Very Well Family. 2021 [updated 2021 June 14; cited 2021 Aug 26].
    3. International Forum for Wellbeing in Pregnancy. Listening to music during pregnancy: Myths and Facts – International Forum for Wellbeing in Pregnancy [Internet]. USA : International Forum for Wellbeing in Pregnancy; [cited 2021 Aug 26].
    4. The Asian Parent. 7 manfaat mendengarkan musik saat hamil, nomor 5 paling diharapkan semua orangtua [Internet]. Indonesia : The Asian Parent; [cited 2021 Aug 26].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Bagi yang pertama kali memiliki anak, tentu cukup bingung bagaimana cara agar si kecil tidak rewel dan nangis. Terutama di malam hari. Sebagian besar Sahabat Sehat mungkin pernah mengalami hal ini. Banyak sekali hal yang dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan sensitif […]

    Cara Terbaik Agar Si Kecil Tidak Rewel dan Mudah Ngambek

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Panduan Mengatasi Anak Tantrum Agar Si Kecil Tidak Rewel dan Mudah Marah

    Bagi yang pertama kali memiliki anak, tentu cukup bingung bagaimana cara agar si kecil tidak rewel dan nangis. Terutama di malam hari. Sebagian besar Sahabat Sehat mungkin pernah mengalami hal ini. Banyak sekali hal yang dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan sensitif misalnya Si Kecil merasa, lapar, tidak nyaman, kelelahan atau sedang ada keluhan yang dirasa.

    Saat Si Kecil masih bayi, orang tua akan menganggap bila bayi rewel dan sering menangis merupakan hal yang sangat wajar karena bayi masih belum dapat mengekspresikan perasaan mereka selain dengan cara menangis.

    Namun Sahabat Sehat perlu mengetahui bahwa ternyata pola asuh yang kurang tepat turut menjadi penyebab Si Kecil menjadi mudah rewel atau cengeng. Anak yang terlalu dilindungi dan tidak diberikan kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri akan tumbuh menjadi pribadi yang cengeng. Selain itu, anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya dapat mengakibatkan kurang percaya diri dan mudah cengeng.

    Lantas apa solusinya?

    Cara Agar Si Kecil Tidak Rewel Lagi

    Perasaan dan emosi Si Kecil kadang kala sulit ditebak. Penting sekali bagi Sahabat Sehat untuk  mengambil langkah yang tepat dalam mengatasi hal ini. Berikut ini beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah untuk mengatasi Si Kecil yang rewel tersebut:

    Buat Si Kecil Nyaman

    Pada usia anak 2-4 tahun, Si Kecil masih dalam tahap mengenal dan mempelajari emosi yang ada didalam dirinya. Terkadang Si Kecil tidak mengerti cara untuk mengungkapkan perasaannya sehingga mereka akan menangis atau rewel secara tiba-tiba. Berikan rasa hangat dan peluk Si Kecil agar merasa nyaman.

    Jangan Berteriak atau Membentak Si Kecil 

    Jika Si Kecil rewel, sebaiknya diam dan bersabar. Jangan membentak Si Kecil yang sedang marah atau menangis karena akan memperparah keadaan.4 Jika Sahabat Sehat berhasil mengendalikan emosi, nantinya Si Kecil akan meniru cara orang tua mengatasi emosi.

    Minta Si Kecil Menjelaskan Perasaannya

    Setelah Si Kecil tenang, secara perlahan mintalah Si Kecil menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Berikan pengertian bahwa saat meminta sesuatu atau merasakan sesuatu tidak perlu diucapkan dengan emosi atau menangis. Ajarkan Si Kecil untuk mengungkapkan emosinya secara perlahan.

    Mengalihkan Emosi

    Agar Si Kecil tidak merengek terus menerus, alihkan energinya dengan melakukan aktivitas lain misalnya berolahraga, menggambar, atau bernyanyi.

    Berikan Pujian Saat Si Kecil Tidak Menangis

    Setelah Si Kecil berhasil mengendalikan emosinya, berikan pujian atau ucapan terima kasih karena Si Kecil tidak rewel.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips dan cara terbaik agar si kecil tidak rewel lagi, terutama di malah hari. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. 

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. theAsianparent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : theAsianparent; [cited 23 August 2021].
    2. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    3. Herliafifah R. 7 Tips Jitu Mengatasi Anak Cengeng Tanpa Drama [Internet]. Indonesia : Hello Sehat; [cited 23 August 2021].
    4. The Times of India. How to deal with a cranky toddler [Internet]. India : The Times of India. 2019 [updated 2019 Dec 06; cited 23 August 2021].
    5. Trillium School. 8 Ways to Calm Down a Cranky Kid [Internet]. USA : Trillium School; [cited 23 August 2021].
    6. Banks C. Angry Child Outbursts: 10 Essential Rules for Dealing with an Angry Child [Internet]. USA : Empowering Parents; [cited 23 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi Ada cara mengajari anak pakai masker tanpa perlu memarahinya. Cara yang akan membuatnya senang hati pakai masker saat keluar rumah. Si kecil juga akan merasa harus pakai masker ketika berjumpa dengan mereka yang bukan orang tuanya. Penasaran bagaimana caranya? Yuk simak penjelasan berikut ini dan silahkan gunakan untuk mendidik […]

    Cara Mengajari Anak Supaya Mau Pakai Masker dengan Benar

    Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi

    Pendekatan Persuasif adalah Kunci Keberhasilan Cara Mengajari Anak Pakai Masker

    Ada cara mengajari anak pakai masker tanpa perlu memarahinya. Cara yang akan membuatnya senang hati pakai masker saat keluar rumah. Si kecil juga akan merasa harus pakai masker ketika berjumpa dengan mereka yang bukan orang tuanya.

    Penasaran bagaimana caranya? Yuk simak penjelasan berikut ini dan silahkan gunakan untuk mendidik si kecil agar terbiasa menggunakan masker dengan baik dan benar.

    Cara Mengajari Anak Pakai Masker dengan Baik dan Benar

    Seiring meningkatnya kasus Covid-19 pada anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut menghimbau agar anak mulai diajarkan menggunakan masker. Sebelumnya World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa anak yang berusia 12 tahun ke atas diperkenankan menggunakan masker, terutama jika berada di tempat umum dengan tingkat penularan Covid-19 yang tinggi. Sahabat Sehat, bagaimana cara mengajarkan anak menggunakan masker ? Mari simak penjelasan berikut.

    Perhatikan Usia Anak

    Anak berusia 12 tahun keatas diwajibkan menggunakan masker seperti orang dewasa, terutama ketika mereka tidak bisa menjaga jarak dari orang lain. Selain itu, kondisi tubuh anak lebih rentan dan lebih beresiko tertular Covid-19.
    Untuk kelompok anak usia 6-11 tahun, penggunaan masker dipertimbangkan berdasarkan beberapa hal berikut :

    • Intensitas penularan di suatu daerah
    • Kemampuan anak menggunakan masker
    • Ketersediaan masker
    • Pengawasan orang dewasa untuk membantu memakai dan melepas masker dengan aman.

    Sementara untuk kelompok anak yang berusia dibawah 5 tahun, belum dianjurkan menggunakan masker sebab anak belum mampu menggunakan masker dengan benar tanpa dibantu orang lain. Oleh sebab itu, hindarkan si kecil di bawah 5 tahun dari interaksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya.

    Selain itu, orang tua juga wajib melihat dampak menggunakan masker pada perkembangan belajar dan psikososial anak. Konsultasikan juga dengan guru serta tenaga kesehatan jika dirasa ada masalah jika anak menggunakan masker selama kegiatan belajar mengajar.

    Gunakan Cara Mengajar Penggunaan Masker Secara Persuasif

    Sahabat Sehat perlu mengajari pentingnya penggunaan masker. Ajari si kecil dengan pendekatan antara orang tua dengan anak. Agar Si Kecil mau menggunakan masker, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa hal berikut :

    Ajak Si Kecil Saat Memilih Masker

    Ketika Sahabat Sehat membeli masker, ajaklah Si Kecil memilih sendiri motif masker untuk dirinya. Selain itu, ajak Si Kecil membuat dekorasi tambahan pada masker seperti menuliskan inisial nama. Cara seperti ini akan menciptakan rasa kepemilikan anak terhadap masker yang digunakan.

    Memberi Contoh Menggunakan Masker

    Anak-anak umumnya selalu meniru tindakan orang tua. Jadi berikan Si Kecil contoh cara menggunakan masker, serta cara melepaskan masker setelah digunakan. Bukankah ada pepatah, cara paling baik mengajari anak adalah dengan menjadi contoh bagi si kecil. Jadi cara mengajari anak pakai masker bisa dilakukan dengan Sahabat Sehat disiplin menggunakan masker sehingga si kecil akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

    Beri Informasi Manfaat Menggunakan Masker

    Jelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa penggunaan masker dapat melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar dari Covid-19. Apabila Si Kecil kurang mengerti, berikan ilustrasi dari tayangan video agar mudah dipahami. Jika Si Kecil merasa takut, coba dengarkan pendapatnya lebih dahulu.

    Buat Jadwal Rutin Menggunakan Masker

    Langkah selanjutnya adalah dengan mengajak anak berlatih menggunakan masker. Cobalah meminta Si Kecil mengenakan masker selama di rumah dalam kurun waktu tertentu agar terbiasa. Berikan penghargaan, misal memberi cemilan kesukaannya jika Si Kecil berhasil menggunakan masker selama kurun waktu yang telah ditentukan.

    Pilih Masker yang Nyaman

    Anak yang tidak memiliki riwayat sakit apapun dapat menggunakan masker kain atau masker non-medis. Namun bagi anak yang memiliki riwayat penyakit tertentu, dianjurkan menggunakan masker medis. Sahabat Sehat perlu memastikan masker berukuran pas dan dapat menutupi area hidung, mulut dan dagu anak.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips mengajarkan Si Kecil menggunakan masker. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat.

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    • World Health Organization. Coronavirus disease (COVID-19): Children and masks [Internet]. USA : World Health Organization. 2020 [updated 2020 Aug 21; cited 2021 Aug 26].
    • Ikatan Dokter Anak Indonesia. FAQ Pemakaian Masker [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2020 [updated 2020 Mar 27; cited 2021 Aug 26].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Banyak tanda anak alergi susu sapi yang dia minum. Namun sayang, banyak orang tua tidak sadar anaknya memiliki alergi pada susu sapi. Akibatnya, si kecil tetap dipaksa minum hingga akhirnya kesehatan anak menjadi bermasalah. Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak, mungkin […]

    5 Tanda Anak Alergi Susu Sapi dan Cara untuk Mengobatinya

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Menangis Saat Hendak Diberi Susu Kemungkinan Menjadi Tanda Anak Alergi Susu Sapi

    Banyak tanda anak alergi susu sapi yang dia minum. Namun sayang, banyak orang tua tidak sadar anaknya memiliki alergi pada susu sapi. Akibatnya, si kecil tetap dipaksa minum hingga akhirnya kesehatan anak menjadi bermasalah.

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak, mungkin sudah tidak asing dengan kondisi “alergi susu sapi” yang kerap dialami anak-anak. Alergi susu sapi merupakan suatu reaksi imunologis terhadap protein susu sapi. Biasanya alergi terhadap protein susu sapi diketahui pada tahun pertama awal kehidupan Si Kecil.

    Waspda, Inilah Tanda Anak Alergi Susu Sapi

    Sebelum Sahabat Sehat mengetahui cara mengatasi alergi susu sapi, berikut adalah berbagai gejala yang mungkin dialami Si Kecil jika mengalami alergi setelah minum susu sapi:

    Gejala Kulit

    Jika Si Kecil mengalami alergi susu sapi, muncul bintik atau ruam kemerahan yang terasa gatal pada kulit dan dapat ditemukan pada area lipatan kulit seperti lipatan siku dan lutut. Selain itu timbul Urtikaria atau dikenal dengan istilah biduran atau kaligata. Si Kecil juga mungkin akan mengalami Angioedema, yaitu kondisi pembekakan pada mata, bibir dan area wajah.

    Masalah Saluran Pernapasan

    Alergi susu sapi dapat menyebabkan masalah pada saluran pernapasan si kecil. Si Kecil terlihat lebih sering bersin, batuk, hidung tersumbat dan pilek. Gejala tersebut umumnya timbul tanpa disertai dengan demam.

    Gangguan Saluran Pencernaan

    Si Kecil dapat mengalami diare, dan muntah setiap kali diberikan susu sapi. Umumnya keluhan akan mereda apabila pemberian susu sapi dihentikan. Jika hal ini terjadi, hentikan pemberian susu sapi.

    Menjadi Lebih Rewel dan Gampang Nangis

    Setelah meminum susu, anak biasanya menjadi lebih tenang dan tertidur lelap. Namun berbeda pada anak dengan reaksi alergi pada susu sapi. Mereka biasanya akan lebih bawel dan menjadi gampang menangis setelah minum susu. Hal ini biasa terjadi karena ada reaksi tubuh yang tidak nyaman setelah minum susu. Misalnya badannya menjadi gatal, ataupun terasa sakit pada area tertentu di tubuhnya.

    Mata Berair

    Kondisi alergi juga bisa ditandai dengan mata berair beberapa menit setelah konsumsi susu sapi. Walaupun tanda ini tampak tidak terlalu menggangu si kecil, namun jika dibiarkan maka reaksi alergi bisa bertambah serius. Oleh sebab itu, konsumsi susu sapi harus dihentikan sampai didapatkan informasi lebih jelas penyebab mata berair setelah konsumsi susu sapi.

    Catatan: Reaksi alergi biasanya muncul 20 sampai 30 menit setelah konsumsi susu sapi. Namun pada beberapa kasus, reaksi alergi pada anak bisa saja terjadi pada jam ke 2 setelah konsumsi susu sapi.

    Pemeriksaan Lanjutan pada Alergi Susu Sapi

    Jika Sahabat Sehat menemukan Si Kecil mengalami keluhan di atas, Sahabat Sehat dianjurkan memeriksakan ke Dokter. Untuk memastikan reaksi yang dialami Si Kecil memang tanda anak alergi susu sapi. Dokter akan menyarankan berbagai pemeriksaan berikut :

    Pemeriksaan Kadar IgE

    Pemeriksaan kadar IgE dalam darah merupakan pemeriksaan yang paling spesifik dalam menentukan senyawa yang menimbulkan alergi. Namun pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan pada anak yang menderita eksim (ruam kemerahan dan gatal) berat atau pada anak yang menderita alergi dan telah mengkonsumsi obat pereda alergi.

    Pemeriksaan Total IgE

    Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan kadar total IgE, namun pemeriksaan ini tidak spesifik menunjukkan zat penyebab alergi. Kadar total IgE dalam tubuh dapat meningkat pada penderita eksim, infeksi parasit dan kondisi medis lainnya.

    Pemeriksaan Total Eosinofil

    Eosinofil merupakan salah satu jenis sel darah putih yang bertugas untuk melawan infeksi parasit dan cacing. Namun kadar eosinofil juga dapat meningkat pada penderita alergi seperti rhinitis alergi, asma dan eksim.

    Tes Paparan Alergen Secara Oral

    Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling akhir dilakukan apabila dari pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya tidak menunjukkan hasil. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memberikan susu sapi untuk Si Kecil dan dipantau apakah terjadi reaksi alergi setelah meminumnya. Apabila timbul reaksi alergi, maka dapat dipastikan Si kecil mempunyai alergi terhadap protein susu sapi.

    Tips Mengatasi Alergi Anak pada Susu Sapi

    Untuk mengatasi alergi susu sapi, umumnya Dokter akan memberikan terapi sesuai dengan keluhan yang dialami Si Kecil. Berikut adalah beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

    • Jika kulit Si Kecil tampak kemerahan dan gatal, berikan losion Calamine atau bedak anti gatal. 
    • Hindari pemberian susu sapi serta bahan makanan yang terbuat dari susu sapi 
    • Jaga kebersihan kulit Si Kecil
    • Jaga kebersihan botol susu yang digunakan
    • Pertimbangkan pemberian susu formula atau susu soya dan ASI agar asupan nutrisi Si Kecil tetap baik.

    Itulah beberapa tanda anak alergi susu sapi yang perlu diketahui oleh Sahabat Sehat sebagai orang tua. Jika Sahabat Sehat memerlukan produk susu dan multivitamin, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat.  Selain itu konsultasikan dengan Dokter mengenai perubahan susu sapi dengan susu jenis lain untuk menghindari reaksi alergi. Informasi lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Anak Indonesia. Diagnosis dan Tatalaksana Alergi Susu Sapi. 2015. Jakarta : UKK Alergi Imunologi, UKK Gastrohepatologi dan UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik
    2. Eigenmann P, Markovic M, Hourihane J, Lack G, Lau S, et al. Testing children for allergies: why, how, who and when. Pediatric Allergy and Immunology. 2013: 24;195– 209. 
    3. Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Allergy Testing 2019 [Internet]. Australia : Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy; [cited 2021 Aug 25].
    4. Dorevitch pathology. Laboratory Allergy Testing [Internet]. Australia : Dorevitch pathology; [cited 2021 Aug 25].
    5. The Doctors Laboratory. Allergy Testing in Primary Care : A quick reference guide to allergy and specific IgE testing [Internet]. USA :  The Doctors Laboratory; [cited 2021 Aug 25].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Tahu cara mengobati luka jatuh pada anak merupakan hal wajib bagi para orang tua. Selain itu, penting menyiapkan perlengkapan P3K. Dengan demikian jika sewaktu-waktu terjadi luka saat si kecil bermain, Sahabat Sehat bisa membantu mengobatinya. Ya, si kecil memang senang mengeksplorasi […]

    Jangan Panik! Begini Cara Mengobati Luka Jatuh Pada Anak

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Menenangkan Si Kecil Merupakan Langkah Pertama Cara Mengobati Luka Jatuh Pada Anak yang Paling Baik

    Tahu cara mengobati luka jatuh pada anak merupakan hal wajib bagi para orang tua. Selain itu, penting menyiapkan perlengkapan P3K. Dengan demikian jika sewaktu-waktu terjadi luka saat si kecil bermain, Sahabat Sehat bisa membantu mengobatinya.

    Ya, si kecil memang senang mengeksplorasi berbagai hal sebagai proses tumbuh kembangnya. Tak heran jika kemudian anak mungkin mengalami luka saat bermain. Luka paling sering terjadi pada anak adalah luka akibat terjatuh saat berlari-lari kesana-kemari. Walaupun luka akibat terjatuh merupakan hal yang wajar, Sahabat Sehat tetap perlu mengawasi Si Kecil saat bermain agar janngan sampai terluka saat bermain, dan tahu cara mengobati si kecil jika sampai dia luka akibat terjatuh.

    Panduan Cara Mengobati Luka Jatuh Pada Anak

    Pertolongan pertama wajib dilakukan jika melihat si kecil terjatuh yang menyebabkan badannya terluka. Sahabat Sehat, berikut ini merupakan beberapa pertolongan pertama yang dapat dilakukan ketika Si Kecil terjatuh :

    Usahakan Tetap Tenang

    Ketenangan orang tua dapat mengurangi rasa takut dan khawatir pada anak saat mengalami cedera. Selain itu, jika Sahabat Sehat tenang maka Sahabat Sehat menjadi tahu tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengobati si kecil. Rasa panik justru dapat membuat situasi menjadi lebih sulit bagi Sahabat Sehat maupun bagi si kecil.

    Hentikan Pendarahan

    Sahabat Sehat perlu mulai mengecek kondisi luka. Jika darah masih terus keluar, tekan luka secara perlahan dengan kain atau kasa steril untuk menghentikan perdarahan. Tekan luka selama kurang lebih 10 menit hingga darah berhenti.

    Bersihkan Luka

    Bersihkan luka dengan cairan antiseptik untuk membersihkan darah dan kotoran pada luka untuk mencegah infeksi pada luka. Sangat penting untuk segera membersihkan luka. Jika saat itu tidak tersedia cairan antiseptik, bisa dengan terlebih dahulu menggunakan air bersih. Setelah antiseptik tersedia, silahkan gunakan antiseptik agar area luka menjadi lebih steril.

    Kompres Luka

    Berikan kompres air dingin atau es selama 15-20 menit pada area yang mengalami bengkak atau memar. Jika memar membesar selama pengompresan, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Berikan Plester

    Gunakan plester luka untuk menjaga area luka tetap steril. Selain itu, dengan menggunakan plester luka maka rasa perih dari luka akan jauh berkurang.

    Biarkan Si Kecil Beristirahat yang Cukup

    Setelah selesai mengurus luka si kecil, mintalah dia untuk beristirahat terlebih dahulu. Jangan gunakan perintah kepada si kecil untuk beristirahat karena dapat menyebabkan psikologisnya merasa dia sedang dihukum karena terjatuh. Sahabat Sehat bisa menggunakan kata-kata seperti “Yuk istirahat dulu biar cepat sembuh”.

    Bawa ke Dokter Jika Memerlukan Penanganan Serius

    Apabila Si Kecil terjatuh dan mengalami benturan dan luka pada area kepala, leher, tulang belakang dan tulang ekor, serta mengalami keluhan berikut maka sebaiknya segera diperiksakan ke dokter terdekat:

    • Tidak sadarkan diri setelah terjatuh
    • Sulit dan sakit saat bernapas
    • Tidak bernafas
    • Kejang
    • Tampak mengantuk dan lemah
    • Muntah hebat
    • Terlihat kesakitan
    • Tidak dapat berjalan seperti biasanya
    • Luka terbuka pada area cedera tampak bernanah, bengkak, dan nyeri

    Selain tahu cara mengobati luka jatuh pada anak, sebagai orang tua juga perlu tahu bagaimana agar si Kecil tidak mudah jatuh ataupun terluka saat bermain. Tentunya tanpa harus mengekangnya agar tidak bermain dan mengeksplorasi dunia.

    Agar Si Kecil Tidak Mudah Jatuh atau Terluka

    Meski Si Kecil sedang aktif bermain dan mengeksplorasi segala hal, lakukan berbagai langkah berikut untuk mencegah Si Kecil terjatuh dan cedera :

    • Awasi saat Si Kecil sedang bermain
    • Jangan meninggalkan Si Kecil ditempat tinggi, seperti kursi atau tempat tidur sendirian
    • Batasi tempat tidur dengan papan khusus untuk mencegah Si Kecil terjatuh
    • Ketika bermain usahakan agar Si Kecil menggunakan alat pelindung diri, misalnya helm saat bersepeda
    • Pilih alat bermain yang berbahan aman bagi Si Kecil
    • Hindari mainan yang berbahan dasar pasir, kayu, kaca, dan mainan yang memiliki tepi tajam

    Selain itu, sebagai orang tua kita wajib memberikan makanan bergizi pada anak. Terutama makanan yang mengandung vitamin C. Vitamin C membantu agar darah cepat membeku dan tidak terus mengalir saat terluka.

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa hal penting mengenai cara mengobati luka jatuh pada anak serta cara mencegahnya. Jika Sahabat Sehat membutuhkan alat P3K di rumah, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat.

    Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi 

    1. Health Partners. What to do if your child falls & when to go to the ER [Internet]. USA : Health Partners; [cited 23 Aug 2021].
    2. Cronan K. First Aid: Falls (for Parents) [Internet]. USA : Nemours Kidshealth.org. 2018 [updated 2018 June; cited 23 Aug 2021].
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Fall Prevention | Child Safety and Injury Prevention [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2019 [updated 06 Feb 2021; cited 23 Aug 2021].
    4. University of Rochester. Treating Minor Injuries in Children – Health Encyclopedia [Internet]. USA : University of Rochester Medical Center; [cited 23 Aug 2021].
    5. Pope J. Child Safety: Preventing Falls [Internet]. USA : CS Mott Children’s Hospital University of Michigan Health. 2020 [updated 27 May 2021; cited 23 Aug 2021].
    6. The Royal Children’s Hospital Melbourne. Health Information : Safety: Preventing falls [Internet]. Australia : The Royal Children’s Hospital Melbourne. 2018 [updated July 2018; cited 23 Aug 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Pemberian vaksin influenza untuk anak mencegahnya mudah kena pilek dan demam. Oleh sebab itu, anak perlu divaksin influenza sejak dini. Sayangnya banyak orang tua yang menganggap remeh gejala flu seperti pilek, demam, dan radang tenggorokan. Faktanya, sangat banyak anak yang cenderung sering sakit tidak masuk sekolah karena terkena […]

    Manfaat Vaksin Influenza untuk Anak dan Efek Sampingnya

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Pentingnya Vaksin Influenza untuk Anak Demi Mencegah Gejala Flu Seperti Pilek dan Demam

    Pemberian vaksin influenza untuk anak mencegahnya mudah kena pilek dan demam. Oleh sebab itu, anak perlu divaksin influenza sejak dini. Sayangnya banyak orang tua yang menganggap remeh gejala flu seperti pilek, demam, dan radang tenggorokan.

    Faktanya, sangat banyak anak yang cenderung sering sakit tidak masuk sekolah karena terkena flu. Banyak juga anak yang sudah cukup makan namun perkembangan tubuhnya masih kurang optimal. Hal ini terjadi karena tubuhnya sering jatuh sakit, terutama akibat demam terkena virus influenza.

    Gejala dan Komplikasi Akibat Influenza

    Infeksi virus influenza pada tubuh ditandai dengan demam, batuk, nyeri tenggorokan, hidung berair ataupun tersumbat, badan terasa nyeri, sakit kepala hingga tubuh terasa lemas. Rata-rata infeksi influenza pada anak berusia dibawah 5 tahun memerlukan penanganan medis sebab virus influenza dapat menyebabkan anak sakit hingga dirawat.

    Tercatat selama periode tahun 2019 hingga 2020 di Amerika Serikat, sebanyak 68,2% dari total 100.000 populasi anak telah menjalani perawatan akibat infeksi influenza. Beberapa komplikasi yang dapat dialami akibat infeksi virus influenza, yaitu :

    • Infeksi dan peradangan paru, misal pneumonia
    • Kekurangan cairan tubuh
    • Gangguan jangka panjang seperti asma
    • Gangguan sinus dan infeksi telinga
    • Gangguan pada otak, misalnya ensefalopati

    Selain itu, anak yang sering jatuh sakit akibat terkena flu akan tertinggal banyak pelajaran di sekolah karena tidak masuk kelas, ataupun menjadi sulit memahami materi pelajaran.

    Pentingnya Vaksin Influenza Bagi Si Kecil

    Sahabat Sehat, vaksin influenza termasuk hal yang penting terutama selama pandemi Covid-19 untuk mengurangi resiko kesakitan dan perawatan di rumah sakit akibat gangguan pernafasan. Pemberian vaksin flu selama pandemi diperlukan supaya tidak terjadi twindemic, yaitu situasi yang terjadi ketika flu dan Covid-19 menyerang secara bersamaan. Selain itu pemberian vaksin influenza pada anak terutama yang berusia kurang dari 5 tahun, dapat menurunkan resiko komplikasi akibat influenza.

    Dengan pemberian vaksin influenza, manfaat yang dapat diterima si kecil antara lain:

    1. Tidak mudah jatuh sakit, terutama flu (pilek, demam, radang, dan gejala flu lainnya)
    2. Anak lebih rajin ke sekolah karena badannya jadi lebih penuh energi
    3. Anak lebih sehat sehingga lebih mudah memahami pelajaran ke sekolah
    4. Jauh dari risiko komplikasi akibat influenza
    5. Terhindar dari twindemic di masa Covid

    Jadwal Pemberian Vaksin Influenza untuk Anak

    Vaksin influenza dapat diberikan dengan dosis tergantung usia anak. Secara umum pemberian vaksin influenza mulai dapat diberikan saat anak berusia 6 bulan keatas. Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian vaksin influenza sebagai berikut :

    • Pada anak berusia 6-35 bulan, vaksin influenza diberikan sebanyak 0,25 mL.
    • Pada anak berusia diatas 3 tahun, vaksin influenza diberikan sebanyak 0,5 mL.
    • Pada anak usia kurang dari 8 tahun, diberikan vaksin influenza pertama sebanyak 2 dosis
    • Pada anak berusia diatas 8 tahun, maka dosis pertama cukup diberikan 1 dosis saja
    • Pemberian vaksin influenza dapat dilakukan setahun sekali.

    Efek Samping Vaksin Influenza pada Si Kecil

    Efek samping pasca pemberian vaksin influenza rata-rata bersifat ringan, seperti nyeri di bekas suntikan, nyeri otot, maupun demam. Jika keluhan berlanjut hingga lebih dari 3 hari, segera konsultasikan dengan dokter terdekat.

    Sahabat Sehat, selain dengan memberikan vaksin influenza sebaiknya jaga kebersihan rumah dan beri asupan bergizi seimbang untuk mencegah Si Kecil menderita influenza. Bagi Sahabat Sehat yang berminat pada vaksin influenza, segera manfaatkan layanan imunisasi ke rumah dari Prosehat. Layanan Prosehat mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    1. Produk dijamin asli
    2. Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    3. Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    4. Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    5. Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    6. Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Demikianlah informasi mengenai manfaat vaksin influenza untuk anak serta efek sampingnya. Pastikan untuk segera memberikan vaksin ini. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    • Centers for Disease Control and Prevention. Vaccine for Flu Influenza [internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention; 2019 [updated 2019 Aug 2; cited 2021 May 25].
    • Centers for Disease Control and Prevention. Flu & Young Children [internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention; 2021 [updated 2021 May 6; cited 2021 May 25].
    • Ikatan Dokter Anak Indonesia. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian III) [internet]; 2015 [updated 2015 May 30; cited 2021 May 25].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Biasanya kulit kemerahan pada bayi disebabkan oleh ruam. Tetapi mungkin ada sebab lain. Misalnya kulit terlalu sensitif ataupun alergi. Untuk itu, sangat penting untuk mencari apa yang menyebabkan kulit si kecil ini mengalami kemerahan. Dengan demikian, Sahabat Sehat bisa menentukan apa […]

    Penyebab Kulit Kemerahan pada Bayi dan Cara Mengatasinya

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Gejala Kulit Kemerahan pada Bayi Membuat Si Kecil Merasa Gatal dan Kurang Nyaman

    Biasanya kulit kemerahan pada bayi disebabkan oleh ruam. Tetapi mungkin ada sebab lain. Misalnya kulit terlalu sensitif ataupun alergi. Untuk itu, sangat penting untuk mencari apa yang menyebabkan kulit si kecil ini mengalami kemerahan. Dengan demikian, Sahabat Sehat bisa menentukan apa penanganan terbaik untuk kesehatan si kecil.

    Kemerahan pada kulit kerap kali dialami Si Kecil. Banyak faktor yang menyebabkan kulit Si Kecil tampak kemerahan, sebab kulit Si Kecil berbeda dengan kulit orang dewasa. Lapisan kulit Si Kecil 30% lebih tipis daripada orang dewasa, dan 2 kali lipat lebih mudah kehilangan kelembaban dibandingkan orang dewasa sehingga kulit Si Kecil rentan mengalami iritasi.

    Sahabat Sehat, apa saja penyebab kulit Si Kecil tampak kemerahan ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Kulit Kemerahan pada Bayi

    Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan munculnya gejala kemerahan di kulit si kecil. Biasanya kulit kemerahan pada bayi disebabkan oleh:

    Udara Panas

    Kemerahan pada kulit akibat udara panas, yang disebut heat rash merupakan keluhan yang kerap dialami Si Kecil. Kulit tampak kemerahan yang berbentuk seperti pulau dan sering ditemukan pada area lipatan kulit, seperti ketiak, leher, siku dan paha.

    Untuk mengatasinya silahkan lakukan pengompresan dengan kain lembab selama 20 menit. Lakukan setiap jam hingga gejala kulit kemerahan menghilang.

    Eksema

    Eksema atau peradangan kulit dapat disebabkan karena berbagai hal seperti udara panas, udara terlalu dingin akibat AC, berkeringat, atau alergi terhadap zat klorin pada kolam renang. Kulit terasa gatal, kering, kemerahan dan tampak pecah-pecah. 

    Eksema kerap dialami Si Kecil yang memiliki kulit sensitif dan mudah alergi. Kulit yang kemerahan muncul pada bagian tubuh tertentu, seperti belakang lutut, lipatan kulit, lipatan leher dan wajah (sekitar mata, mulut dan telinga).

    Gigitan Serangga

    Gigitan serangga seperti lebah, nyamuk dan semut dapat menjadi penyebab kulit Si Kecil kemerahan dan terasa tidak nyaman. Jika Si Kecil tersengat lebah, beresiko mengalami reaksi alergi (reaksi anafilaktik) sehingga memerlukan penanganan lanjutan.

    Oleh sebab itu, pastikan si kecil ditaruh di tempat yang memang terlindung dari gigitan serangga. Misalnya di dalam kelambu. Atau gunakan lotion anti serangga untuk menghindari gigitan serangga. Selain itu, penting juga untuk memastikan tempat tidur si kecil bersih dan bebas dari kutu yang sering bersarang di kasur.

    Impetigo

    Impetigo merupakan kondisi akibat infeksi oleh bakteri kulit, sehingga tampak benjolan berisi air yang dapat pecah dengan sendirinya dan menimbulkan kerak tebal berwarna kekuningan atau kecoklatan. Area kulit yang mengalami impetigo biasanya terasa gatal dan dapat menyebar ke area kulit lainnya.

    Area kulit yang rentan mengalami impetigo adalah wajah (sekitar mulut dan hidung), tangan, serta bagian tengah tubuh. Impetigo dapat menyebar melalui sentuhan langsung di area kulit yang terkena, sehingga dianjurkan agar Si Kecil tidak menggaruk area kulit yang bermasalah.2,4

    Dermatitis Kontak

    Dermatitis kontak merupakan kondisi timbulnya ruam kemerahan akibat kontak dengan bahan kimia atau zat iritan tertentu, seperti sabun dan detergen. Kulit terlihat kemerahan, bengkak dan terasa gatal.

    Maka untuk mencegah terjadinya gejala dematitis kontak, si kecil harus selalu dijauhkan dari bahan-bahan kimia berbahaya. Selain itu, pastikan sabun yang dia gunakan aman bagi kulitnya. Terkhusus apabila si kecil memiliki tipe kulit sensitifl

    Ruam Popok (Diaper Rash)

    Ruam popok pada kulit Si Kecil dapat disebabkan karena kondisi kulit yang basah dan lembab akibat terlalu lama terkena urin dan feses. Untuk mencegahnya, Sahabat Sehat dianjurkan mengganti popok Si Kecil setiap beberapa jam sekali serta jika popok terlihat basah.

    Jika memang diperlukan, coba gunakan popok bayi anti ruam yang ukurannya sesuai dengan badan si kecil. Dengan demikian, risiko terkena ruam akibat popok kekecilan bisa dihindari.

    Tips Mengatasi Kulit Kemerahan Si Kecil

    Untuk penanganan awal kulit Si Kecil yang kemerahan, sebaiknya lakukan beberapa tips mudah berikut di rumah :

    • Kenakan pakaian yang dapat menyerap keringat dan tidak terlalu tebal
    • Gunakan pendingin ruangan, seperti AC maupun kipas
    • Buka jendela untuk memperbaiki sirkulasi udara didalam kamar
    • Berikan krim pelembab kulit khusus anak-anak
    • Hindari menggaruk kulit yang kemerahan agar tidak timbul luka.
    • Segera cuci tangan dan kaki setelah Si Kecil bermain di luar ruangan
    • Gunakan krim anti serangga jika Si Kecil bermain di luar rumah, misalnya seperti taman
    • Beri kompres dingin pada area kulit yang terasa gatal dan bengkak 
    • Mengenali faktor pencetus keluhannya, misal apakah kulit kemerahan dialami setelah menggunakan suatu produk kulit ? atau setelah Si Kecil bermain di luar rumah ?
    • Gunakan sabun mandi dan sabun cuci pakaian yang aman untuk kulit Si Kecil

    Apabila kulit kemerahan dialami hingga lebih dari 3 hari, atau bila kemerahan tampak meluas maka sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai penyebab kulit kemerahan pada bayi serta tips untuk mengatasinya. Jika Sahabat Sehat memerlukan produk kulit untuk anak dan bayi, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat. 

    Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Everymum.Why Is Baby’s Skin More Sensitive Than Adults? [Internet]. UK : Everymum; [cited 22 August 2021].
    2. Healthy Children. 12 Common Summertime Skin Rashes in Children [Internet]. USA : Healthy Children. 2017 [updated 30 June 2017; cited 22 August 2021].
    3. Seattle Children’s Hospital. Rash or Redness – Localized [Internet]. USA : Seattle Children’s Hospital. 2021 [updated 30 May 2021; cited 22 August 2021].
    4. National Health Services Inform. Skin rashes in children [Internet]. UK : National Health Services Inform. 2021 [updated 06 July 2021; cited 22 August 2021].
    5. Nemours Kidshealth. Rashes [Internet]. USA : Nemours Kidshealth; [cited 22 August 2021].
    Read More
  • Pemberian vaksin HPV untuk anak memiliki banyak sekali manfaat. Terutama sebagai pencegahan dini kanker serviks pada anak perempuan. Selain mencegah kanker serviks, masih banyak manfaat lain yang bisa didapatkan dari vaksin yang identik dengan pencegahan penyakit seksual menular ini. Saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa vaksinasi HPV (Human Papillomavirus) belum diperlukan pada anak-anak. […]

    5 Manfaat Vaksin HPV untuk Anak di Tingkat Sekolah Dasar

    Vaksinasi HPV untuk Anak Perempuan adalah Hal yang Sangat Penting

    Pemberian vaksin HPV untuk anak memiliki banyak sekali manfaat. Terutama sebagai pencegahan dini kanker serviks pada anak perempuan. Selain mencegah kanker serviks, masih banyak manfaat lain yang bisa didapatkan dari vaksin yang identik dengan pencegahan penyakit seksual menular ini.

    Saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa vaksinasi HPV (Human Papillomavirus) belum diperlukan pada anak-anak. Alasan yang biasa dikemukakan adalah bahwa pada usia tersebut anak belum aktif melakukan hubungan seksual. Sahabat Sehat, apakah betul vaksin HPV belum diperlukan untuk anak ? Mari simak penjelasan berikut.

    Infeksi HPV Pada Tubuh

    Virus Human Papiloma dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Tercatat rata-rata orang yang aktif berhubungan seksual pernah terinfeksi HPV dalam hidupnya meski tidak menyadari bahwa sedang terinfeksi HPV. 

    Ada sekitar 40 tipe HPV yang dapat menginfeksi organ intim pria dan wanita, kebanyakan tipe HPV tidak menimbulkan gejala dan dapat hilang dengan sendirinya. Beberapa tipe HPV lainnya dapat menimbulkan kanker serviks, kanker anus, kanker rongga mulut serta kutil kelamin.

    Namun penularan virus Human Papiloma tidak selalu melalui hubungan seksual. Risiko penularan virus ini bisa terjadi melalui luka di kulit, maupun tertular melalui interaksi dengan penderita.

    Dianjurkan Ikatan Dokter Anak Indonesia

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, vaksin HPV sebaiknya diberikan sebelum seseorang aktif berhubungan seksual. Akan terlambat jika vaksin HPV diberikan saat seseorang sudah melakukan hubungan seksual, karena bisa telah terpapar virus HPV. Oleh sebab itu, vaksin HPV turut dianjurkan untuk diberikan pada anak.

    Banyak mitos yang mengatakan banyak efek samping pemberian vaksin HPV. Misalnya jika diberikan pada anak-anak dapat menimbulkan kemandulan dan menopause dini. Berdasarkan studi, hal tersebut justru tidak benar. Vaksin HPV berdasarkan berbagai studi sangat aman dan efektif serta memberikan banyak manfaat pada anak.

    Ada setidaknya 5 manfaat besar pemberian vaksin HPV sejak usia sekolah dasar. Manfaat tersebut antara lain:

    1. Mencegah kanker serviks sejak dini pada anak perempuan
    2. Mencegah risiko terkena kanker rahim
    3. Mengurangi risiko anak terkena kutil
    4. Jika terjangkit Human Papiloma, anak akan lebih cepat sembuh
    5. Ketika dewasa, anak akan lebih tahan terhadap risiko-risiko penyakit kelamin

    Memang ada risiko efek samping pada penyuntikan vaksin HPV untuk anak. Namun efek samping yang dihasilkan umumnya bersifat ringan seperti pusing sementara, mual, sakit kepala, nyeri, kemerahan, dan bengkak di area suntikan. Efek samping akan hilang dalam beberapa jam.

    Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa dampak positif dari vaksin HPV masih jauh lebih tinggi dibandingkan kemungkinan risiko yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu, tidak perlu ada yang dikhawatirkan mengenai efek samping vaksin ini.

    Waktu Ideal Pemberian Vaksin HPV untuk Anak

    Secara umum di dunia, vaksin HPV direkomendasikan bagi anak perempuan dan laki-laki mulai dari usia 11 atau 12 tahun. Pada dasarnya diberikan sebelum melakukan kontak seksual dan resiko terpapar HPV rendah.

    Di Indonesia, pemberian vaksin HPV diberikan mulai pada usia 10-13 tahun sebanyak 2 dosis. Pada anak berusia 16-18 tahun atau remaja akhir, diberikan vaksin HPV sebanyak 3 dosis.

    Jenis Vaksin HPV untuk Anak di Indonesia

    Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen yang mengandung 2 tipe virus HPV (tipe 16 dan 18) untuk mencegah kanker leher rahim, serta vaksin tetravalen yang mengandung 4 tipe virus HPV (6,11,16, dan 18) untuk mencegah kanker leher rahim serta kutil kelamin.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pentingnya vaksin HPV untuk anak dilihat dari sisi manfaatnya bagi kesehatan si kecil. Bagi Sahabat Sehat yang berminat melakukan vaksinasi HPV bagi diri sendiri atau bagi anaknya, segera manfaatkan layanan vaksinasi kerumah dari Prosehat. Layanan Prosehat mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Referensi :

    1. Centers for Disease Control and Prevention. HPV Vaccine Information For Young Women [internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention; 2016 [cited 24 May 2021].
    2. Mayo Clinic. HPV vaccine: Who needs it, how it works [internet]. USA : Mayo Clinic; 2020 [cited 24 May 2021].
    3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Sekilas tentang Vaksin HPV [internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2017 [cited 24 May 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Sahabat Sehat, menggunakan popok bayi anti ruam menjadi keharusan. Terutama jika si kecil memiliki tipe kulit yang sangat sensitif. Namun apakah Sahabat Sehat sudah tahu bagaimana cara memilih popok agar si kecil tidak lagi mengalami ruam-ruam di kulitnya? Popok merupakan salah satu barang […]

    5 Cara Memilih Popok Bayi Anti Ruam untuk Kulit Sensitif

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Popok Bayi Anti Ruam Harus Dipasang dengan Benar pada Bayi Berkulit Sensitif

    Sahabat Sehat, menggunakan popok bayi anti ruam menjadi keharusan. Terutama jika si kecil memiliki tipe kulit yang sangat sensitif. Namun apakah Sahabat Sehat sudah tahu bagaimana cara memilih popok agar si kecil tidak lagi mengalami ruam-ruam di kulitnya?

    Popok merupakan salah satu barang penting yang harus Sahabat Sehat persiapkan sebelum si buah hati lahir. Tentunya Sahabat Sehat harus mempertimbangkan berbagai hal dalam memilih popok mulai dari bahan popok, daya serap, hingga harga. Selain itu, Sahabat Sehat juga harus mempertimbangkan penggunaan popok kain atau popok sekali pakai. 

    Popok Bayi Baru Lahir vs Popok Biasa

    Secara umum, popok didesain sesuai dengan berat dan usia Si Kecil. Kini tersedia popok khusus untuk bayi baru lahir yang umumnya memiliki lubang kecil dibagian tengah depan untuk memberikan ruang bagi tali pusar agar tidak timbul iritasi dan ruam pada kulit si kecil. 

    Popok untuk bayi baru lahir dapat Sahabat Sehat gunakan selama beberapa minggu pertama sejak Si Kecil lahir. Jika Sahabat Sehat memilih menggunakan popok biasa untuk Si Kecil, sebaiknya lipat area atas popok agar tidak menekan tali pusar. 

    Berapa Kali Mengganti Popok Bayi Dalam Sehari?

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), popok bayi sebaiknya diganti sesering mungkin untuk menghindari ruam pada kulit bayi dan iritasi. Hal ini sangat penting dilakukan terutama pada bayi baru lahir.

    Ganti popok setiap Si kecil selesai buang air kecil atau buang air besar. Sahabat Sehat juga dianjurkan mengecek popok Si Kecil setiap 2-3 jam sekali untuk menentukan perlu atau tidak mengganti popok. Seringkali ruam pada kulit si kecil terjadi bukan karena masalah jenis popok yang digunakan, namun karena orang tua telat untuk mengganti popok si kecil.

    Pertimbangan Memilih Popok Bayi Anti Ruam

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih popok untuk Si Kecil :

    Pilih Popok Sesuai Kebutuhan dan Budget

    Dari segi harga, popok kain memang terbilang lebih murah dan dapat digunakan berulang kali dibanding popok sekali pakai. Namun, popok kain kurang dalam menyerap urin dan feses sehingga Si Kecil rentan mengalami ruam popok. 

    Sementara popok bayi anti ruam sekali pakai pada umumnya menggunakan material plastic tipis tahan air atau polietilen yang mengandung kristal hydrogen kecil dan dapat menyerap urin serta feses Si Kecil.

    Gunakan Popok Anti Ruam dengan Ukuran yang Tepat

    Jika Sahabat Sehat memilih popok anti ruam sekali pakai, sebaiknya beli popok secukupnya saja sebab pertumbuhan Si Kecil akan berlangsung dengan cepat sehingga ukuran popok juga dapat berubah. Mengapa?

    Banyak kejadian muncul ruam pada kulit si kecil karena orang tua memaksakan menggunakan popok yang ukurannya sebenarnya sudah kekecilan. Hal ini membuat pergerakan si kecil menjadi terganggu hingga akhirnya muncullah ruam akibat kulit yang merasa tidak nyaman.

    Pastikan Persediaan Popok Aman

    Pastikan persediaan popok Si Kecil selalu cukup, pasalnya bayi baru lahir setidaknya membutuhkan 12 popok per hari. Semakin besar Si Kecil, maka popok yang dibutuhkan pun semakin sedikit. Namun perlu diingat bahwa tidak setiap saat si kecil butuh popok. Pada beberapa kesempatan biarkan dia tanpa popok. Karena kulitnya juga butuh udara.

    Cek Kandungan dan Teknologi Pada Popok

    Produk memiliki kandungan yang aman untuk Si Kecil yang memiliki kulit sensitif sehingga menurunkan resiko iritasi kulit. Selain kandungannya, pastikan teknologi pada popok, khususnya kualitas penyerapan serta kemampuan melepaskan kelembaban.

    Pilih Popok yang Elastis

    Popok berbahan elastis dan tidak ketat, sehingga tidak mengganggu pergerakan Si Kecil. Seringkali ruam-ruam terjadi karena kulit si kecil harus sering bergesekan dan akhirnya timbul ruam-ruam.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai pertimbangan dalam memilih popok yang tepat untuk Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan popok dan produk bayi, segera manfaatkan layanan pesan-antar Prosehat.

    Penting: Jika ruam masih muncul padahal sudah menggunakan popok anti ruam dan sudah menggunakan menggunakan popok dengan cara yang benar, maka si kecil perlu untuk diperiksakan ke dokter. Ada kemungkinan ruam-ruam ini adalah tanda adanya eksim pada si kecil. Jika hal ini terjadi, silahkan konsultasikan kepada dokter untuk diberikn langkah penanganan terbaik.

    Itulah beberapa informasi seputar popok bayi anti ruam bagi si kecil yang memiliki kulit sensitif. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Popok Bayi: Apa yang Anda Perlu Ketahui [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014 [updated 2014 July 23; cited 2021 Aug 20].
    2. Timmons J. Cloth Diapers vs. Disposable: Which Is Better? [Internet]. USA : Healthline. 2015 [updated 2015 Sep 10; cited 2021 Aug 20].
    3. What to Expect. Diaper Buying Guide [Internet]. USA : What to Expect. 2018 [updated 2018 June 28; cited 2021 Aug 20].
    4. Baby Centre. 10 tips for newborn nappy changing [Internet]. UK : Baby Centre; [cited 2021 Aug 20].
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Mengajarkan pendidikan seksual sejak dini merupakan hal yang baik pada anak. Walaupun tampak tabu, namun sebenarnya sangat bermanfaat. Selain membuat Si Kecil mengetahui bahayanya pergaulan dan seks bebas, Si Kecil juga akan lebih terhindar dari risiko kejahatan seksual yang kerap mengintai anak-anak. Namun […]

    Cara Mengenalkan Pendidikan Seksual Sejak Dini Pada Anak

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Panduan Cara Mengenalkan Pendidikan Seksual Sejak Dini Kepada Anak Sesuai Tahapan Usia

    Mengajarkan pendidikan seksual sejak dini merupakan hal yang baik pada anak. Walaupun tampak tabu, namun sebenarnya sangat bermanfaat. Selain membuat Si Kecil mengetahui bahayanya pergaulan dan seks bebas, Si Kecil juga akan lebih terhindar dari risiko kejahatan seksual yang kerap mengintai anak-anak.

    Namun masih banyak orang tua yang bingung dalam mengenalkan pendidikan seksual pada Si Kecil. Pemahaman tentang seksual harus dijelaskan dalam bahasa yang mudah dimengerti Si Kecil. Sahabat Sehat, bagaimana cara mengenalkan pendidikan seks untuk Si Kecil? Mari simak penjelasan berikut.

    Pentingnya Pendidikan Seksual Sejak Dini

    Walaupun tidak diajari, nyatanya anak akan paham sendirinya mengenai seks. Baik itu dari lingkungannya, maupun dari hasil dia mencari tahu sendiri. Apalagi di era teknologi seperti sekarang, anak lebih mudah mendapatkan akses informsi. Termasuk tentang apa itu seks.

    Namun informasi yang didapat secara sendiri (otodidak) tentunya berbahaya karena tentunya informasi yang didapatkan oleh Si Kecil adalah informasi yang benar. Selain itu, informasi tentang seks di internet amat sangat jarang menanamkan pemikiran mengenai tanggung jawab, kesehatan, serta risiko kekerasan seksual.

    Maka dari itu, pendidikan seksual sejak dini pada anak sangat diperlukan karena Sahabat Sehat dapat mengajarkan apa itu seks sesuai dengan nilai-nilai yang baik dan benar. Sahabat Sehat dapat menanamkan pemikiran tentang seks yang bertanggung jawab, mengajarkan Si Kecil menjaga kesehatan organ intim, serta mengenalkan cara dalam menghadapi kekerasan seksual.

    Tahapan Pendidikan Seksual Sesuai Umur Si Kecil

    Mengajarkan tentang apa itu seks kepada Si Kecil tidak bisa dilakukan secara gamblang. Diperlukan pengenalan yang bertahap dan menyesuaikan umur Si kecil. Tujuannya tentu agar Si Kecil lebih mudah memahami apa yang Sahabat Sehat ajar dan tanamkan pada Si Kecil.

    Berikut adalah tahapan pendidikan seksual untuk Si Kecil berdasarkan tahapan usianya:

    Bayi dan Balita (Usia 0 – 2 Tahun)

    • Berikan penjelasan mengenai nama bagian tubuh sesuai fungsinya, termasuk pada bagian kemaluan. 
    • Jika Si Kecil membuka pakaian, beri pengertian batasan bagian tubuh mana yang boleh diperlihatkan kepada orang lain. 
    • Beri gambaran perbedaan antara tubuh laki-laki dan perempuan. Misalnya menggunakan ungkapan lebah dan bunga. 

    Balita (Usia 2 – 5 Tahun)

    • Perkenalkan nama bagian tubuh dengan benar beserta fungsinya
    • Jelaskan perbedaan dan persamaan anggota tubuh antara laki-laki dan perempuan. 
    • Berikan Si Kecil privasi ketika pergi ke toilet atau sedang berganti baju
    • Jelaskan bagian tubuh mana saja yang tak boleh disentuh orang lain (dada, perut, alat kelamin, dan bokong)
    • Ajarkan berteriak atau memberi tahu orang tua jika ada yang menyentuh bagian sensitifnya, seperti dada dan kemaluan

    Anak Usia Menengah (Usia 5 – 8 Tahun)

    • Beri pemahaman yang jelas mengenai nama dan fungsi organ reproduksi Si Kecil.
    • Ajarkan berani menolak orang yang ingin menyentuh area intimnya, misal “Berhenti, saya tidak suka kamu menyentuh saya.”
    • Beritahu Si Kecil bahwa bentuk tubuh akan berubah seiring bertambahnya usia dan merupakan hal yang wajar. 
    • Beri penjelasan mengenai fungsi alat reproduksi secara sederhana (penis dan sperma, serta vagina dan sel telur)

    Masa Pubertas (Usia 9 – 12 Tahun)

    • Beri penjelasan mengenai perubahan fisik, emosional, hingga sosial yang akan dialami saat masa pubertas
    • Bagi yang memiliki anak perempuan, informasikan perihal menstruasi dan cara merawat kemaluan di masa menstruasi
    • Bagi yang memiliki anak laki-laki, informasikan perihal ejakulasi dan mimpi basah
    • Tanamkan nilai moral dan agama mengenai cinta, serta waktu yang tepat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis
    • Beri pengenalan mengenai bahaya seks bebas, kehamilan, dan bahaya melakukan aborsi

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pengenalan pendidikan seksual sejak dini kepada Si Kecil sesuai tahapan usianya. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan konsultasi Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Mayo Clinic. Need help fielding questions about sex from your school-age child? [Internet]. USA : Mayo Clinic. 2020 [updated 2020 Oct 23; cited 2021 Aug 11].
    2. Kendang S. Panduan Mengenalkan Pendidikan Seks bagi Anak dari Usia ke Usia [Internet]. Indonesia : Orami. 2020 [updated 2020 April 22; cited 2021 Aug 11].
    3. TheAsianparent. Mengenalkan Pendidikan Seks bagi Anak dari Usia ke Usia [Internet]. Indonesia : TheAsianParent; [cited 2021 Aug 11].
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com