Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 91–100 of 157 results

  • Mencegah bahaya hepatitis pada anak bisa dengan berbagai cara. Namun, sebelum kita membahas pencegahannya, yuk kita simak dulu apa itu hepatitis dan juga penyebabnya! Hepatitis merupakan salah satu penyakit yang masih banyak di Indonesia. Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Hepatitis […]

    Mencegah Bahaya Hepatitis A pada Anak

    Mencegah bahaya hepatitis pada anak bisa dengan berbagai cara. Namun, sebelum kita membahas pencegahannya, yuk kita simak dulu apa itu hepatitis dan juga penyebabnya!

    Hepatitis merupakan salah satu penyakit yang masih banyak di Indonesia. Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E.

    Hepatitis A adalah virus yang sering menyerang anak-anak. Hepatitis A merupakan virus hepatitis yang ditularkan secara fekal-oral, yaitu apabila seseorang yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap virus hepatitis A dapat mengonsumsi virus tersebut melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja orang yang terinfeksi.

    Virus hepatitis A dapat bertahan dalam suasana yang asam, pada suhu tinggi (60oC selama 60 menit), serta pada suhu beku. Jumlah kasus hepatitis A berhubungan dengan tingkat sanitasi/kebershan suatu daerah, kebersihan  pribadi, dan kebersihan makanan atau air Anak yang rentan terhadap hepatitis A adalah anak-anak yang belum divaksinasi atau belum pernah terinfeksi hepatitis A, yang tinggal di daerah-daerah dengan sanitasi rendah, sulit air bersih, atau tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi hepatitis A.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Seputar HIV Aids

    Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi hepatitis di Indonesia sebesar 1,2% (meningkat dua kali lipat dibanding riset tahun 2007), dengan hepatitis A sebanyak 19,3% dari seluruh kasus hepatitis. Di negara berkembang seperti Indonesia, 90% kasus hepatitis A terjadi sebelum anak berusia sepuluh tahun, kemudian umumnya anak tersebut akan memiliki kekebalan hingga usia dewasa.

    Pencegahan SecaraUmum

    Pencegahan hepatitis A secara umum berhubungan dengan peningkatan kebersihan, sesuai dengan cara penularan hepatitis A secara fekal-oral.

    • Cuci Tangan

    Sisa kotoran yang dapat menjadi perantara penularan hepatitis A tidak perlu dalam jumlah yang dapat terlihat. Sisa kotoran dapat tidak terlihat dan banyak terdapat di kamar mandi, apalagi di kamar mandi umum. Biasakan anak Sobat untuk mencuci tangan setelah buang air kecil, buang air besar, setelah keluar toilet, dan sebelum makan. Selain itu, Sobat juga perlu mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan. Kebiasaan ini penting, tidak hanya untuk mencegah bahaya hepatitis A tetapi juga untuk mencegah bahaya penyakit-penyakit lain yang penularannya secara fekal-oral.

    Baca Juga: Hepatitis B – Faktor Resiko, Gejala, Penanganan dan Pengobatan

    • Cermat Memilih Jajanan Anak

    Kontaminasi makanan dan minuman oleh hepatitis A dapat terjadi dalam berbagai tahap pemrosesan makanan, dari proses pertaniannya, distribusi, sebelum dan sesudah proses masak. Pemilihan jajanan anak menjadi penting karena kotoran yang terinfeksi tidak hanya dapat menempel pada tangan anak, namun pada tangan-tangan yang menyiapkan makanan anak Sobat, termasuk jajanan. Perhatikan apakah lingkungan sekitar tempat  penjualan jajanan bersih, apakah dekat dengan selokan, tempat pembuangan sampah, dan lain-lain, karena tentunya hal tersebut meningkatkan kemungkinan tangan penjaja makanan terkontaminasi kuman.

    Virus hepatitis juga dapat ditularkan lewat air yang terkontaminasi, dimana air dipakai baik sebagai bahan makanannya sendiri atau untuk mencuci alat masak dan makan. Tempat jajanan yang memiliki sumber air mengalir, lebih kecil kemungkinan kontaminasinya dibandingkan tempat jajanan yang sumber airnya tidak mengalir (misalnya ditampung dalam ember).

    Baca Juga: Resep Kue Kering yang Sehat

    Virus hepatitis mati bila dimasak dengan suhu di atas 85oC selama satu menit atau lebih. Sehingga jajanan yang dimasak dengan matang, lebih kecil kemungkinan kontaminasinya daripada jajanan-jajanan seperti es.

    Pilihlah jajanan yang masih panas, ditaruh di etalase tertutup. Semakin lama makanan tersebut dibiarkan di etalase setelah dimasak, semakin besar kemungkinannya terkontaminasi.

    • Olah Makanan dengan Benar

    Sesuai yang telah disebutkan, kontaminasi makanan oleh hepatitis A dapat terjadi dalam berbagai tahap pemrosesan, termasuk sebelum bahan makanan tersebut sampai di tempat Sobat membelinya. Cuci baik-baik bahan makanan yang Anda beli dengan air mengalir yang bersih untuk mengurangi kemungkinan menempelnya kuman pada bahan tersebut. Kemudian, masak bahan makanan hingga matang dengan suhu di atas 85oC selama satu menit atau lebih untuk mematikan virus hepatitis.

    • Pencegahan Spesifik

    Saat ini di Indonesia telah tersedia vaksin hepatitis A berupa suntikan. Di dunia terdapat dua jenis vaksin hepatitis A, yaitu vaksin berupa virus inaktif dan vaksin berupa virus hidup yang dilemahkan. Dosis vaksin 360U diberikan sebanyak tiga kali dengan interval empat minggu antara suntikan pertama dan kedua, kemudian jarak enam bulan antara suntikan kedua dan ketiga.

    Apabila menggunakan dosis vaksin 720U, imunisasi diberikan dua kali dengan jarak pemberian vaksin enam bulan antara suntikan pertama dan kedua. Apabila diberikan sesuai dosis, hampir 100% penerima vaksin hepatitis A membentuk kekebalan tubuh yang cukup untuk melawan infeksi virus hepatitis A dalam waktu satu  bulan. Bila dosis-dosis berikutnya diberikan sesuai jadwal, vaksin hepatitis A dapat memberikan perlindungan terhadap virus hepatitis A kepada 95% orang selama sepuluh tahun.

    Berdasarkan  pengalaman global, vaksin hepatitis A sangat aman diberikan untuk anak (usia 1-15 tahun) dan dewasa. Efek samping yang mungkin muncul dari pemberian vaksin adalah reaksi lokal berupa nyeri pada tempat suntikan dan sakit kepala.

    Produk Terkait: 

    Vaksin hepatitis A belum termasuk program wajib pemerintah. Namun, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis A, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis A, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia 2013. DepKes; 2014.
    2. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Situasi dan Analisis Hepatitis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014.
    3. Jules L. Dienstag. Acute Viral Hepatitis. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 19 ed. New York: McGraw Hill; 2015. hlm. 2004–22.
    4. Mengenal Hepatitis A pada Anak [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mengenal-hepatitis-a-pada-anak
    5. Hepatitis A [Internet]. [dikutip 2 Juli 2018]. Tersedia pada: http://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-a
    6. WHO position paper on hepatitis A vaccines. Geneva: World Health Organization; 2012 Jul hlm. 261–76. (Weekly epidemiological record). Report No.: 28–29.

     

    Read More
  •   Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dan family Paramyxoviridae. Virus ini dapat bertahan selama dua jam di udara maupun permukaan. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Data yang […]

    SEPUTAR CAMPAK PADA ANAK YANG HARUS DIKETAHUI ORANGTUA

     

    Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dan family Paramyxoviridae. Virus ini dapat bertahan selama dua jam di udara maupun permukaan. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Data yang dilansir dari Kemenkes menunjukkan setiap tahun dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek campak, 12–39% di antaranya terkonfirmasi laboratorium. Selama kurun waktu lima tahun (2010-2015), diperkirakan terdapat 23.164 kasus campak.

    Penderita akan mendapati gejala berupa demam tinggi, mata merah, hidung beringus, nyeri, lemas, hilang nafsu makan, dan diare. Lalu, dua hingga empat hari kemudian muncul ruam diseluruh tubuhnya dan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Campak menular lewat droplet saat penderita bersin atau batuk. Pada dasarnya campak dapat menginfeksi semua orang terlebih pada balita yang belum mendapat vaksinasi campak. Komplikasi campak antara lain diare, infeksi telinga, bronkitis, infeksi paru (pneumonia), infeksi otak (ensefalitis), dan kebutaan.

    Kesembuhan campak bergantung dari daya tahan tubuh penderita. Pengobatan campak umumnya bersifat mengurangi gejala. Hal yang dapat anda lakukan adalah memberikan penurun panas, mencukupi kebutuhan cairan, dan memberikan vitamin A. Untuk menjaga kebersihan anak yang terkena campak masih boleh dimandikan dengan air hangat.

    Campak dapat dicegah dengan vaksinasi. Lakukan pencegahan campak dengan vaksinasi campak atau MR yang merupakan vaksin gabungan campak dan campak jerman. Dosis pertama imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan lalu booster usia 12-15 bulan, dan dosis selanjutnya usia 4-6 tahun.

    Hampir 95% anak yang diimunisasi campak tidak akan terkena campak. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan bahwa dengan bertambahnya usia daya tahan tubuh dapat menurun. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melengkapi status imunisasi dengan melakukan imunisasi ulangan. Apabila status imunisasi tidak lengkap dikhawatirkan akan berpeluang terinfeksi campak.

    Nah, sekarang ada cara praktis untuk melakukan imunisasi. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Cdc.gov. (2017). Measles | Vaccination | CDC. [online] Available at: https://www.cdc.gov/measles/vaccination.html [Accessed 25 Jan. 2018].
    2. Lestari, C. TanyaDok.com | Campak | Page 8 of 8. [online] TanyaDok.com. Available at: https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/campak/8 [Accessed 25 Jan. 2018]
    3. Suci H. TanyaDok.com | Dari A-Z tentang Sakit Campak [Internet]. TanyaDok.com. [cited 5 February 2018]. Available from: https://www.tanyadok.com/anak/dari-a-z-tentang-sakit-campak
    4. STATUS CAMPAK DAN RUBELLA SAAT INI DI INDONESIA [Internet]. Searo.who.int. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_measles_status.pdf?ua=1
    Read More
  • Tahukah Sobat bahwa tiga perempat dari keganasan yang terjadi pada anak adalah leukemia? Tentu leukemia pada anak ini menjadi perhatian, dong bagi kita para orang tua. Begitu mendengar kata “leukemia” pasti langsung teringat dengan kata-kata kanker darah, tidak bisa sembuh, kemoterapi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keganasan tersebut. Ingin tahu seputar leukemia?Yuk, mari kita […]

    Kupas Tuntas Leukemia pada Anak, Seberapa Berbahayakah?

    Tahukah Sobat bahwa tiga perempat dari keganasan yang terjadi pada anak adalah leukemia? Tentu leukemia pada anak ini menjadi perhatian, dong bagi kita para orang tua. Begitu mendengar kata “leukemia” pasti langsung teringat dengan kata-kata kanker darah, tidak bisa sembuh, kemoterapi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keganasan tersebut. Ingin tahu seputar leukemia?Yuk, mari kita kupas tuntas semuanya.

    Leukemia adalah keganasan yang terjadi pada sel darah putih. Kanker ini berkembang di sum-sum tulang belakang anak. Sum-sum tulang belakang merupakan tempat terjadinya pembentukan sel darah, baik sel darah merah, sel darah putih ataupun trombosit. Kanker yang menyerang menyebabkan gangguan pada pembentukan sel darah yang mengakibatkan menurunnya jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

    Setiap tahun, lebih dari 300.000 anak didiagnosa kanker di dunia dan 80.000 anak meninggal karena kanker. Sedangkan di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 angka kejadian kanker anak usia 0-14 tahun sekitar 16.291 kasus dan terus meningkat setiap tahunnya dengan jenis kanker terbanyak adalah leukemia dan kanker mata (retinoblastoma).

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan HPV

    Leukemia terdiri dari 2 jenis, yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Selain itu, pembagian leukemia dapat berdasarkan jenis sel darah putih yang diserangnya, yaitu leukemia limfoblastik dan leukemia myeloblastik. Leukemia akut dapat dibagi menjadi 3, yaitu Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), Leukemia Myelogenous Akut (LMA), dan Leukemia akut campuran. Sedangkan leukemia kronis terbagi menjadi Leukemia Myelogenous kronik (LMK) dan Leukemia Limfositik Kronik (LLK). Pada anak, leukemia yang sering terjadi adalah Leukemia Limfoblastik Akut (LLA). Sekitar 3 dari 4 anak dengan leukemia tergolong jenis leukemia ini.

    Apakah semua anak dapat terkena leukemia? Tidak, hanya beberapa anak yang memiliki faktor risiko leukemia yang dapat meningkatkan risikonya terkena keganasan ini. Faktor risiko leukemia antara lain adalah:

    1. Genetik

    Kelainan genetik baik berupa yang langsung diturunkan oleh orang tua ataupun tidak sering ditemui pada leukemia. Anak yang memiliki saudara kandung terkena leukemia berisiko 2 hingga 4 kali lebih tinggi terkena keganasan ini. Risiko semakin meningkat pada anak kembar. Bila kembarannya terkena leukemia, maka anak lainnya berisiko 1 hingga 5 kali lebih tinggi untuk terkena leukemia. Risiko semakin meningkat bila leukemia terjadi pada usia di bawah 1 tahun.

    2. Faktor lingkungan

    Paparan radiasi tingkat tinggi pada anak atau ibu hamil pada trimester pertama menjadi risiko anak terkena leukemia. Kemudian, bila anak atau dewasa sedang dalam pengobatan kanker lain menggunakan beberapa obat seperti siklofosfamid, klorambusil, etoposid dan teniposid, maka risiko terkena leukemia di kemudian hari akan lebih tinggi.

    Beberapa faktor risiko masih kontroversi dan memerlukan penelitian lebih lanjut, sehubungan dengan keterkaitannya dengan kejadian leukemia pada anak. Faktor tersebut antara lain adalah paparan terhadap gelombang elektormagnetik besar, usia ibu saat melahirkan, riwayat orang tua merokok, infeksi pada saat lahir, janin yang terpapar hormon seperti Dietilstilbetrol (DES) atau pil KB, riwayat ayah terpapar bahan kimia, dan kontaminasi kimia pada sumber air.

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan Hepatitis B

    Lalu, gejala apakah yang dapat terlihat pada anak yang terkena leukemia. Berikut adalah gejalanya:

    1. Pucat (anemia)

    Pada anak dengan leukemia, terjadi gangguan pembentukan sel darah merah yang menyebabkan produksinya menurun. Akibatnya, anak akan mengalami anemia karena konsentrasi Hb pada darah menurun. Anak yang anemia akan terlihat pucat pada kulitnya dan sering terlihat pada kulit wajah, terutama di bawah kelopak mata. Selain itu, anak dengan anemi akan terlihat lesu dan mudah lelah serta sakit kepala.

    2. Mudah terkena infeksi

    Akibat terjadinya gangguan pada pembentukan sel darah putih, anak dengan leukemia akan mudah terinfeksi. Hal ini karena menurunnya daya tahan tubuh anak sehingga infeksi yang seharusnya bisa sembuh dalam sekejap, memerlukan waktu yang cukup lama bagi anak dengan leukemia.

    Produk Terkait: Produk Mencegah Infeksi

    3. Perdarahan

    Gampang berdarah merupakan salah satu tanda dari leukemia. Perdarahan terjadi karena terganggunya trombosit yang berperan dalam penggumpalan darah yang jumlahnya semakin menurun (<150.000/µl). Perdarahan sering terjadi pada hidung (mimisan) atau gusi serta lebam-lebam pada kulit.

    4. Nyeri tulang atau sendi

    Anak dengan leukemia sering mengalami pembengakakan pada daerah sendi. Selain itu, rasa sakit pada tulang dan sendi sering dirasakan karena sel kanker yang mulai menjalar ke organ tulang dan sendi.

    Baca Juga: 5 Mitos Nyeri Sendi

    Produk Terkait: Borobudur Sendi Cream

    5. Demam

    Demam yang dirasakan anak dengan leukemia biasanya berbeda dengan biasanya. Demam dapat terjadi hilang timbul dan terasa tidak sembuh-sembuh. Demam yang dirasakan dapat disebabkan karena sel radang yang menyebar dan infeksi karena sistem kekebalan menurun.

    6. Bercak kehitaman pada kulit

    Anak dengan leukemia sering menunjukkan bercak kehitaman pada kulit yang disebut dengan kloroma. Hal ini dapat terjadi bila sel kanker secara perlahan menyebar dan akhirnya mengenai kulit anak.

    Baca Juga:
    Bahaya Polio Bagi Anak
    Tips Cegah Anak Terinfeksi Difteri

    Gejala lain yang dapat terlihat pada anak dengan leukemia antara lain adalah pembesaran perut yang disebabkan karena pembesaran limpa dan hati. Hal ini yang membuat anak menjadi tidak nafsu makan sehingga berat badan mereka menjadi menurun. Selain itu, pembengkakan pada kelenjar getah bening, batuk atau kesulitan bernapas, pembengkakan wajah dan lengan menjadi gejala lain yang dapat menyertai leukemia.

    Angka kesembuhan pada anak dengan leukemia tergantung pada berbagai faktor antara lain usia saat didiagnosis kanker, pemeriksaan sel darah putih, jenis kelamin, jenis leukemianya, ras, penyebaran kanker, dan respon terhadap pengobatan. Semakin muda usia terkena leukemia, maka angka kesembuhan semakin tinggi. Anak perempuan memiliki angka kesembuhan tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Anak leukemia yang menunjukkan respon baik terhadap kemoterapi pada 1 hingga 2 minggu memiliki angka kesembuhan lebih tinggi. Tingkat kelangsungan hidup anak dengan leukemia tipe LLA lebih tinggi sekitar 70-80%. Namun, perlu diingat bahwa leukemia ini dapat kambuh kembali.

    Baca Juga:
    8 Penyakit yang Sering Menyerang Anak
    6 Cara Atasi Demam Setelah Imunisasi

    Wah, Sobat pasti sudah kenyang, ya, membaca artikel yang mengupas tentang leukemia pada anak. Jadi, bila anak Sobat atau keluarga ada yang menunjukkan tanda-tanda leukemia, langsung konsultasikan lebih lanjut kepada dokter anak Sobat untuk segera mendapatkan penanganan terbaik. Salam sehat!

    Referensi:
    Santoso BB. Mengenal leukemia pada anak. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    American Cancer Childhood Organization. Global Occurrence of Childhood Cancer.[Internet]. Retrieved from: acco.org
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan Kanker pada Anak. [Internet]. Retrieved from: depkes.go.id
    Chilhood Leukemia [Internet]. American Cancer Society. 2018 [cited 19 July 2018]. Available from: cancer.org

    Read More
  • Tahukan Bunda, bayi yang baru lahir sistem kekebalan tubuhnya masih rentan terhadap penyakit. Maka dari itu bayi yang baru lahir harus mendapatkan beberapa jenis vaksinasi salah satunya Hepatitis B. Baca Juga: 10 Bahaya Hepatitis B pada Bayi Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang diakibatkan oleh virus hepatitis B yang dapat berkembang menjadi kronis. […]

    8 Alasan Mengapa Bayi Baru Lahir Harus Suntik Hepatitis B

    Tahukan Bunda, bayi yang baru lahir sistem kekebalan tubuhnya masih rentan terhadap penyakit. Maka dari itu bayi yang baru lahir harus mendapatkan beberapa jenis vaksinasi salah satunya Hepatitis B.

    Baca Juga: 10 Bahaya Hepatitis B pada Bayi

    Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang diakibatkan oleh virus hepatitis B yang dapat berkembang menjadi kronis. Apabila Hepatitis B tidak ditangani dengan tepat, berpotensi menjadi sirosis hati hingga kanker hati. Bila dua kondisi ini terjadi, dapat meningkatkan risiko kematian. Lalu, mengapa bayi baru lahir harus suntik hepatitis B? Berikut 8 alasannya:

    1. Hepatitis B Dapat Ditularkan Saat Persalinan

    Penularan hepatitis B dapat ditularkan secara vertikal dari Ibu ke janin, baik pada saat masih di dalam kandungan atau setelah proses persalinan. Ibu yang terinfeksi hepatitis B, 90% dapat menginfeksi bayinya. Sehingga Ibu hamil memerlukan pemeriksaan status infeksi virus hepatitis B (HbsAG). Pemeriksaan dilakukan sebanyak dua kali, saat pemeriksaan kehamilan pertama dan diulang kembali sebelum persalinan. Vaksinasi Hepatitis B merupakan salah satu cara untuk memutus rantai penularan tersebut.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi Hepatitis B untuk Anak ke Rumah

    2. Hepatitis B pada Anak Tidak Bergejala

    Hepatitis B pada anak-anak seringkali tidak menimbulkan gejala apapun hanya gejala biasa seperti rasa mual dan lesu. Pertumbuhan Anak terlihat sehat dan normal tanpa hambatan. Namun di kemudian hari, penyakit ini dapat berkembang dan meningkatkan risiko komplikasi yang lebih parah.

    3. Semakin Muda Usia Semakin Rentan Menjadi Hepatitis B Kronis

    Pada orang dewasa, sebanyak 90% yang terkena hepatitis B dapat mengalami kesembuhan. Akan tetapi 5% sisanya dapat berkembang menjadi kronis. 15-25% Orang dewasa yang terinfeksi Hepatitis B sejak usia anak-anak, dapat berubah menjadi kronis hingga berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi Hepatitis B untuk Dewasa ke Rumah

    Pada anak-anak yang terinfeksi usia dibawah 1 tahun, sebesar 80-90% dapat berkembang menjadi kronis. Sedangkan usia kurang dari 6 tahun hanya 30-50% yang berkembang menjadi kronis.

    4. Vaksinasi Hepatitis B Pengobatan yang Tepat dan Cepat

    Meskipun Hepatitis B belum ada obat untuk menyembuhkannya, vaksinasi hepatitis B telah terbukti efektif sebagai pencegahan agar terlindungi dari infeksi hepatitis B. Selain itu proses vaksinasi Hepatitis B sangat cepat jadi tidak menghabiskan waktu seharian.

    5. Vaksinasi Hepatitis B menjadi Program Rutin Pemerintah

    Dengan tingginya penderita Hepatitis B pada Anak-anak, maka pemerintah memasukkan vaksinasi hepatitis B menjadi program vaksinasi rutin secara nasional dengan anjuran WHO.

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap untuk Bayi

    Hal ini dilihat dari tingginya angka penderita hepatitis B dengan usia kurang dari 1 tahun mencapai 80-90%. Maka demikian bayi yang baru lahir menjadi usia yang pas untuk diberikan perlindungan sejak dini.

    6. Penundaan vaksinasi dapat Meningkatkan Risiko Penularan

    Bila Vaksinasi Hepatitis B pada bayi ditunda maka bayi berisiko tertular Hepatitis B. Penularan dapat terjadi dari Ibu, anggota keluarga lainnya ataupun tenaga medis yang tidak mengetahui jika mereka terinfeksi Hepatitis B.

    Penundaan pemberian vaksinasi pada bayi dilihat dari kondisi tertentu sesuai petunjuk dokter. Sehingga vaksinasi Hepatitis B harus diulang saat usia bayi menginjak 1 bulan dan 6 bulan.

    7. Vaksinasi Hepatitis B Sangat Aman untuk Si Kecil

    Satu hal yang dikhawatirkan para Bunda pada si Kecil yaitu efek samping yang timbul pasca vaksinasi. Bunda tidak perlu khawatir, karena pemberian vaksinasi Hepatitis B sangat aman untuk si Kecil.

    Sebagian Anak akan merasakan reaksi normal seperti ada rasa nyeri atau bengkak sekitar lokasi suntik dan demam ringan yang biasa terjadi 1-2 hari setelah vaksinasi diberikan. Jadi jangan panik dulu ya Bunda.

    8. Ibu Hamil juga perlu mendapatkan Vaksinasi Hepatitis B

    Tidak hanya Si kecil yang mendapatkan vaksinasi Hepatitis B. Para Ibu hamil juga bisa mendapatkan vaksinasi hepatitis B. Vaksinasi Hepatitis B menggunakan vaksin inaktif yang tidak mengandung kuman hidup yang aman diberikan untuk ibu hamil. Akan tetapi pemberian vaksinasi Hepatitis B harus di dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter.

    Baca Juga: 10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    Vaksinasi Hepatitis B bisa Bunda dapatkan di Prosehat. Kenapa di Prosehat? Karena Prosehat adalah aplikasi kesehatan yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Sumber:

    1. Widodo, Ariani Dewi. “Vaksinasi Hepatitis B pada Bayi Baru Lahir, Penting!”. tanyadok.com
    2. Trisbiantara, Irene. “Tanya Jawab: Hepatitis B”. tanyadok.com
    3. IDAI. “Kenali Hepatitis B”. idai.or.id
    4. Hepatitis B Foundation. “Recommendations for Screening, Monitoring, and Referral of Pediatric Chronic Hepatitis B”. hepb.org
    5. Ananta, Yovita. “Vaksin Hepatitis B untuk Anak”. rspondokindah.co.id
    6. ProSehat. “10 Jenis Vaksinasi Wajib Bagi Calon Ibu Hamil”. prosehat.com

    Read More
  • Mengajarkan Si Kecil Puasa – Puasa salah satu hal yang wajib dijalankan setiap umat muslim yang telah melewati masa kedewasaan. Puasa dapat diajarkan pada anak sejak dini sebelum memasuki usia akil baliq. Bagaimanakah mempersiapkan anak untuk berpuasa? Sebelum melanjutkannya, yuk kita ketahui terlebih dahulu manfaat dari berpuasa. Puasa merupakan kegiatan untuk  menahan lapar dan haus […]

    6 Tips Mengajarkan Si Kecil Puasa Pertama

    Mengajarkan Si Kecil Puasa – Puasa salah satu hal yang wajib dijalankan setiap umat muslim yang telah melewati masa kedewasaan. Puasa dapat diajarkan pada anak sejak dini sebelum memasuki usia akil baliq. Bagaimanakah mempersiapkan anak untuk berpuasa? Sebelum melanjutkannya, yuk kita ketahui terlebih dahulu manfaat dari berpuasa.

    Puasa merupakan kegiatan untuk  menahan lapar dan haus (tidak memasukkan sesuatu kedalam mulut) selama sehari sejak waktu imsak hingga adzan Magrib. Waktu berpuasa di Indonesia berlangsung 10 hingga 12 jam bergantung pada daerah tempat tinggal. Beberapa penelitian telah dilakukan bahwa puasa adalah salah satu cara memelihara tubuh kita agar tetap sehat. Saat kita berpuasa, metabolisme tubuh cenderung melambat, tetapi hasilnya akan lebih efisien.

    Puasa terbukti menurunkan tingkat stress secara oksidatif (ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan tubuh untuk menetralkan atau mendetoksifikasi efek berbahaya melalui netralisasi antioksidan), meningkatkan sistem imun, mencegah penuaan dini dan sarana untuk anak-anak dalam mengendalikan diri serta meningkatkan kedisiplinan.

    Ada beberapa cara untuk mengajarkan si kecil puasa untuk pertama kalinya. Perhatikan kesiapan anak untuk menjalankan puasa dari pada menuntut si kecil dapat berpuasa sebulan penuh. Berikut tips yang bisa digunakan saat mengajarkan si kecil puasa:

    1. Ceritakan Makna Puasa  dan Pengalaman Kepada Si Kecil

    Sebelum si kecil memulai puasa pertamanya, berceritalah kepadanya tentang makna puasa terlebih dahulu. Si Kecil hendaknya mendengarkan secara singkat mengenai apa itu puasa, kenapa wajib dilakukan hingga apa saja yang membatalkan puasa.

    Sampaikan pesan dengan cerita yang menarik dan dapat dipadukan dengan pengalaman Bunda atau Ayah saat masih kecil, seperti bangun sahur, sholat tarawih bersama teman-teman dan nikmatnya berbuka puasa.

    Baca Juga: 7 Makanan Memicu Kolesterol

    1. Ajak Si Kecil Mencoba Berpuasa

    Setelah menjelaskan apa itu puasa, maka ajaklah si kecil mencoba berpuasa. Di puasa pertamanya, berikan pilihan kepadanya apakah ingin berpuasa penuh atau setengah hari?atau kalau perlu, mulailah percobaan puasa setengah hari. Mari kita berikan contoh, Si kecil makan saat jam 6 pagi dan coba untuk menahan haus dan lapar hingga jam 9 atau 12 siang. Setelah ia berhasil, maka Bunda dapat meningkatkan secara perlahan hingga waktu adzan magrib berkumandang.

    Baca Juga: 7 Tips Balita Tetap Tenang Saat Terbang

    1. Ciptakan Suasa Berpuasa yang Menyenangkan

    Agar si kecil merasa puasa hal yang menyenangkan, maka ciptakanlah suasana berpuasa yang menyenangkan seperti bercerita tentang para nabi, menyiapkan makanan sahur dan berbuka sesuai kesukaan mereka. Lakukanlah puasa dengan rasa gembira dan penuh syukur agar si kecil dapat menikmati sahur dan berbuka yang menyenangkan.

    Baca Juga: 10 Tips Usir Strees Pada Anak Saat Road Trip

    1. Beri Apresiasi Saat Si Kecil Berhasil Berpuasa

    Setelah si kecil berhasil menyelesaikan puasanya maka beri mereka apresiasi atas kesabaran dan usaha mereka. Berilah apresiasi dengan cara yang positif, seperti menggunakan kata-kata penyemangat. Jangan pernah menjajikan hadiah kepada si kecil. Ia akan bersemangat puasa kalau ada hadiah untuknya. Bukannya melakukan puasa karena hatinya. Jadi jangan dibiasakan ya Bunda.

    Baca Juga: Jangan Lewatkan Tahap Tumbuh Kembang Anak

    1. Alihkan Perhatian Si Kecil Saat Rewel

    Rewel menjadi kendala bagi orang tua saat mengenalkan dan melatih si kecil berpuasa. Rewel yang ia rasakan mungkin karena rasa haus dan lapar. Atasi hal ini dengan mengajak si kecil bermain dengan mainannya atau tidur siang agar ia lupa dengan rasa haus dan laparnya.

    Baca Juga: Tips Atasi Dehidrasi Pada Anak Saat Liburan

    1. Siapkan Makanan yang Tepat untuk Si Kecil

    Agar Si kecil lebih semangat menjalankan puasa, maka siapkanlah makanan-makanan yang tepat untuk si kecil. Bahan makanan yang wajib untuk menu si kecil yaitu makanan yang mengandung daging dan sayuran serta  buah-buahan untuk menyegarkan selama berpuasa seharian penuh. Tentu makanan sehat menjadi prioritas untuk si kecil.

    Selain itu siapkan juga cemilan untuk si kecil seperti  kue, susu kemasan dan madu. Semua produk tersebut bisa Bunda dapatkan di ProSehat. ProSehat aplikasi kesehatan indonesia yang dapat memenuhi kesehatan Bunda dan keluarga. Selain produk kesehatan, dapatkan layanan vaksinasi si kecil dengan menghubungi Maya Asisten Kesehatan ProSehat melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800. Jangan lupa juga untuk install aplikasi prosehat atau akses website www.prosehat.com

    Referensi:

    • IDAI. “Mempersiapkan Anak Berpuasa”. Diakses pada 4 Mei 2018Bottom of Form
    • Mandal, Ananya. “What is Oxidative Stress?”. Diakses pada 4 Mei 2018
    • Krisdianto,Dwi. “Melatih Anak Berpuasa? Inilah 6 Tips untuk Ayah Ibu”. Diakses pada 4 Mei 2018

     

    Read More
  • Vaksinasi merupakan upaya perlindungan optimal untuk mencegah penularan infeksi penyakit. Pada beberapa kasus vaksinasi menjadi hal utama yang harus dilakukan. Misalnya, imunisasi anak, vaksinasi wajib sebelum bepergian untuk persyaratan visa, yaitu vaksinasi meningitis. Untuk Anda yang belum mengetahui meningitis, Meningitis adalah terjadinya pembengkakan pada selaput (meninges) yang mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang. Bengkak yang […]

    Vaksinasi Antre? Yuk, Vaksinasi di Rumah Saja

    Vaksinasi merupakan upaya perlindungan optimal untuk mencegah penularan infeksi penyakit. Pada beberapa kasus vaksinasi menjadi hal utama yang harus dilakukan. Misalnya, imunisasi anak, vaksinasi wajib sebelum bepergian untuk persyaratan visa, yaitu vaksinasi meningitis.

    Untuk Anda yang belum mengetahui meningitis, Meningitis adalah terjadinya pembengkakan pada selaput (meninges) yang mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang. Bengkak yang ditimbulkan dari meningitis akan memicu beberapa gejala seperti sakit kepala, demam dan leher terasa kaku. Meningitis dapat meniru gejala-gejala influenza, namun akan berkembang lebih dari beberapa jam ataupun beberapa hari. Bila tidak ditangani dengan tepat, meningitis dapat berakibat fatal dengan meningkatnya risiko kerusakan otak secara permanen hingga kematian.

    Cukup membuat ngeri bukan? Maka dari itu penting untuk melakukan vaksinasi sebagai upaya pencegahan. Sayangnya, untuk mendapatkan vaksinasi seringkali Anda perlu mengantre panjang di rumah sakit. Oleh sebab itu, mau tidak mau Anda bisa menghabiskan waktu seharian untuk melakukan vaksinasi. Tapi sekarang Anda bisa melakukan vaksinasi ke rumah yang bisa Anda dapatkan di Pro Sehat.

    Apa saja sih keuntungan yang bisa kita dapatkan jika vaksinasi ke rumah? Yuk kita intip.

    1. Bebas Pilih Jadwal & Tempat Vaksinasi Tanpa Antre
      Mau vaksinasi tapi waktunya nggak tepat, tapi Anda tidak perlu khawatir. Karena jadwal vaksinasi bisa Anda pilih sendiri. Mau vaksinasi di hari kerja? Atau di weekend? Bisa semua kok, selain itu tempat vaksinasi bisa dilakukan di rumah jadi lebih nyaman dan nggak perlu ketemu macet.
    2. Vaksinasi Dijamin Asli
      Takut dapat vaksinasi yang palsu? Jangan khawatir, karena di sini Anda akan mendapatkan vaksinasi yang dijamin asli. Untuk melihat vaksin asli atau tidak dengan cara, kemasan vaksinasi masih tersegel rapi, terdapat label keterangan seputar vaksin, label ampul yang telah diberikan akan dilepas dan ditempelkan pada buku kesehatan yang Anda gunakan
    3. Ditangani langsung oleh dokter profesional
      Selain itu Anda akan ditangani oleh dokter yang telah memiliki izin resmi dalam melakukan vaksinasi. Selain itu Anda dapat  berkonsultasi dengan dokter secara langsung jadi aman dan nyaman.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!.

    Sumber :

    1. Mayo Clinic. “Meningitis”. mayoclinic.org
    2. Suseno, Agassi. “Beribadah Haji atau Melancong ke Arab Saudi? Vaksin Dulu, Yuk!”. tanyadok.com
    Read More
  • Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia […]

    Imunisasi Polio Tetes VS Suntik, Yuk Disimak Penjelasannya

    Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia bayi 18 bulan. Vaksin yang diberikan dapat berupa Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV).

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus polio yang sudah tidak aktif dan diberikan dalam bentuk suntikan di bahu atau paha dalam. Pada vaksin ini terdapat sedikit komponen neomisin, streptomisin dan polimiksin B, sehingga bagi mereka yang memiliki alergi terhadap antibiotik tersebut tidak disarankan mendapatkan vaksin IPV karena ditakutkan akan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ringan yang dapat terjadi setelah penyuntikan adalah kemerahan, bengkak di tempat suntikan yang akan hilang dalam 2-3 hari. Reaksi berat biasanya jarang terjadi, yaitu berupa reaksi alergi yang dapat menyebabkan syok anafilaksis.

    Efektivitas perlindungan vaksin polio IPV sampai dengan 99%-100% bila diberikan dalam 3 dosis.3 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlindungan lapisan usus terhadap virus polio sedikit lebih rendah daripada perlindungan yang didapat dari vaksin polio OPV, namun, perlindungan lapisan kerongkongan terhadap virus polio sama saja dengan vaksinasi polio OPV.

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus Polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini diberikan secara oral berupa tetesan ke dalam mulut bayi. Pemberian vaksin polio tetes masih mungkin sekalipun sangat jarang sekali, menimbulkan reaksi berat berupa Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP) dan Vaccine-derived Polioviruses (VDPVs), yang dapat menyebabkan wabah polio.

    Baca Juga:

    Orang tua pasti memilih jenis vaksin yang paling aman untuk diberikan kepada anaknya. Vaksin polio tetes masih diberikan di banyak negara di berbagai belahan dunia karena praktis dan kemudahan pemberian vaksin. Rekomendasi dari IDAI 2017 bagi anak Indonesia adalah memberikan vaksin polio tetes sebanyak 3 dosis dan pada dosis ketiga, diberikan vaksin polio suntik (IPV) bersamaan dengan vaksin polio tetes (OPV). Dosis penguat vaksinasi polio dapat diberikan berupa vaksin polio tetes (OPV) atau vaksin polio suntik (IPV).

    Baca Juga: 5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi

    Kini orangtua tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: cdc.gov
    2. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    3. Polio Vaccine Effectiveness and Duration of Protection | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: cdc.gov
    4. WHO | Inactivated polio vaccine (IPV) [Internet]. Who.int. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: who.int
    5. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id
    Read More
  • Cuaca yang tidak menentu seperti saat ini membuat kita jadi khawatir, hujan deras hingga panas ekstrim membuat tubuh kita harus ekstra menghadapi perubahannya. Untuk yang memiliki daya tahan tubuh yang baik, pasti dapat menyesuaikan. Namun bagaimana dengan orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah? Tak jarang beberapa penyakit seperti demam, influenza, diare hingga demam […]

    5 Tips Sehat Hadapi Cuaca Ekstrim

    Cuaca yang tidak menentu seperti saat ini membuat kita jadi khawatir, hujan deras hingga panas ekstrim membuat tubuh kita harus ekstra menghadapi perubahannya. Untuk yang memiliki daya tahan tubuh yang baik, pasti dapat menyesuaikan. Namun bagaimana dengan orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah? Tak jarang beberapa penyakit seperti demam, influenza, diare hingga demam berdarah menjadi beberapa salah satu penyakit di cuaca ekstrim seperti itu.

    Lalu bagaimanakah cara agar tubuh kita tetap terjaga saat menghadapi cuaca ekstrim? Yuk kita cek 5 tips sehat hadapi cuaca ekstrim berikut ini:

    • Istirahat cukup

    Daya tahan tubuh menjadi menurun mungkin karena kurangnya istirahat akibat dari padatnya aktifivas kita. Tubuh hampir sama loh seperti ponsel yang Anda gunakan, saat daya baterai ponsel Anda habis maka butuh di-charge agar tetap maksimal. Begitu juga dengan tubuh kita yang memiliki limit yang harus diisi juga.

    • Menjalankan pola makan sehat

    Cuaca yang dingin seperti ini, nikmatnya sambil mengonsumsi mie instan. Tapi makanan instant atau cepat saji tidak baik untuk kesehatan Anda. Cobalah Anda mengganti makanan instant tersebut dengan buah atau sayur segar yang mengandung banyak vitamin dan mineral untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

    • Olahraga yang teratur

    Rasanya malas berolahraga ditambah lagi cuaca di luar sedang hujan-hujannya? Jangan malas ya, olahraga dapat melancarkan metabolisme dan dapat menjaga berat badan kita. Cobalah lakukan olahraga yang ringan seperti yoga.

    • Jaga kebersihan Anda dan lingkungan

    Mandi dan mencuci tangan dapat mengurangi kuman-kuman jahat yang menempel di kulit kita. Selain itu jangan lupa menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar agar Anda tetap sehat.

    • Perlindungan tambahan untuk tubuh Anda

    Jika sudah Anda lakukan semua, maka ada satu perlindungan tambahan yang dapat melindungi Anda secara optimal yaitu dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi sangat berguna untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Untuk hadapi cuaca ekstrim dingin, vaksinasi flu sangat direkomendasikan karena udara dingin dan kering sebabkan virus influenza lebih dapat bertahan lama.

    Jadi sudah siap hadapi cuaca ekstrim? Jaga kesehatan Anda dan jangan lupa vaksinasi! Bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Sumber:

    1. Maslim, Yunita. “Tips Hidup Sehat dengan Murah”. tanyadok.com
    2. Suci, Hygiena Kumala. “Ayo Vaksinasi!!!”. tanyadok.com
    3. Flu Virus Fortified In Colder Weather [Internet]. National Institutes of Health (NIH). 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: nih.gov
    4. The Reason for the Season: why flu strikes in winter – Science in the News [Internet]. Science in the News. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: sitn.hms.harvard.edu
    Read More
  • Rubela merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Rubela. Pada anak-anak gejala yang sering terjadi adalah timbulnya ruam merah di muka yang menyebar ke leher, dada,  tangan dan kaki. Namun, sebagian besar lainnya tidak merasakan gejala yang khas saat terkena rubela. Penyakit ini menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan penderita melalui batuk, atau saat bersin. Gejala […]

    RUBELA PADA ANAK

    Rubela merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Rubela. Pada anak-anak gejala yang sering terjadi adalah timbulnya ruam merah di muka yang menyebar ke leher, dada,  tangan dan kaki. Namun, sebagian besar lainnya tidak merasakan gejala yang khas saat terkena rubela. Penyakit ini menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan penderita melalui batuk, atau saat bersin.

    Gejala penyakit rubela pada anak yang dapat ditimbulkan biasanya timbul 1-5 hari sebelum munculnya ruam pada tubuh, gejala tersebut antara lain:

    1. Nyeri pada mata terutama saat mata bergerak
    2. Radang pada selaput konjungtiva mata (konjungtivitis)
    3. Batuk, sakit kepala, dan disertai dengan nyeri pada sendi tubuh
    4. Demam, menggigildan mual
    5. Pembengkakan kelenjar getah bening terutama di belakang telinga dan belakang kepala.

    Agar anak dapat terhindar dari Rubela, maka pencegahannya adalah dengan diberikannya vaksin Rubela. Vaksin rubela tersedia dalam sediaan tunggal atau kombinasi dengan vaksin campak (measles). Menurut rekomendasi IDAI vaksin MR dapat diberikan pada usia 15 bulan dan dilakukan dosis penguatan (booster) pada usia 5 tahun.

    Vaksin MR aman diberikan pada anak dan tidak akan menyebabkan autisme. Reaksi ringan yang mungkin terjadi adalah rasa nyeri, kemerahan, dan bengkak di tempat penyuntikan. Reaksi lebih berat dapat terjadi bila seseorang alergi terhadap komponen yang ada di vaksin MR. Reaksi tersebut dapat menimbulkan syok anafilaksis.

    Jadi, jangan takut untuk memberikan vaksin yang dapat mencegah anak Anda dari penyakit rubela. Bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Rubella. 2013. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Lembar fakta poliomieitis, rubela, dan campak. 2016.[Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    3. Ezike E. Pediatric Rubella. 2017. [Internet]. Retrieved from: emedicine.medscape.com
    Read More
  • Imunisasi diberikan untuk mencegah agar tidak tertular oleh penyakit. Imunisasi, terkadang mengandung beberapa bahan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap orang yang disuntik. Kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi kita sebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu adalah benar. Baca Juga: Cara […]

    Reaksi KIPI Berat, Kapan Perlu Bawa Anak ke Dokter?

    Imunisasi diberikan untuk mencegah agar tidak tertular oleh penyakit. Imunisasi, terkadang mengandung beberapa bahan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap orang yang disuntik. Kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi kita sebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu adalah benar.

    Baca Juga: Cara Mengatasi KIPI Pasca Vaksinasi Covid-19

    Gejala KIPI dapat terjadi ringan dan berat. Gejala ringan seperti reaksi yang terjadi pada tempat suntikan berupa bisul, bengkak, merah pada tempat suntikan. Reaksi berat  dapat melibatkan sistem organ yang lebih luas lagi seperti sistem saraf pusat yang menyebabkan kejang, radang pada selaput otak (meningitis), dan kelumpuhan. Reaksi lain yang lebih berbahaya adalah syok anafilaksis yang dapat terjadi sesaat setelah dilakukan penyuntikan. Petugas kesehatan yang terlatih harus segera melakukan tindakan penyelamatan di tempat, sehingga kegawatan dapat diatasi.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT?

    Lalu, apakah semua KIPI harus segera dilaporkan ke dokter? Tidak. Reaksi pasca-imunisasi yang ringan, misalnya nyeri dan bengkak kemerahan pada area bekas suntikan atau demam, umumnya akan hilang dengan sendirinya dalam 2-3 hari. Namun, beberapa tanda dan gejala KIPI yang harus dilaporkan segera atau anak diperiksakan kembali ke dokter adalah:

    1. Reaksi ringan yang terjadi terus menerus seperti bengkak yang tidak hilang,
    2. Tangan atau lengan atau tungkai yang sakit/sulit digerakkan setelah dilakukan penyuntikan,
    3. Anak demam tinggi dan tidak mereda,
    4. Anak menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti,
    5. Anak alami kejang,
    6. Adanya gejala-gejala lainnya.

    Tapi, orang tua jangan takut untuk tetap melakukan vaksinasi karena reaksi ini sangat sangat jarang terjadi dan perlindungan vaksinasi sangat diperlukan untuk mencegah dari penyakit yang berbahaya.

    Baca Juga: Kenali dan Cara Mengatasi Reaksi Imunisasi Si Kecil

    Untuk imunisasi anak ini Sahabat bisa mendapatkannya di Prosehat yang menyediakan layanan imunisasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    REFERENSI:

    1. Hadinegoro SR. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri.2000;2(1):2-10.
    2. Soedjatmiko. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. 2013. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja