Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 51–60 of 275 results

  • Japanese encephalitis merupakan salah satu virus yang menyebabkan peradangan otak (ensefalitis). Virus Japanese encephalitis merupakan flavivirus, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk culex yang terinfeksi. Cara pencegahan yang sudah terbukti ampuh dan mampu meminimalisir penyebaran infeksi virus ini adalah lewat vaksin japanese encephalitis. Beberapa negara dengan angka insidensi Japanese encephalitis cukup tinggi diantaranya Tiongkok, Taiwan, […]

    Perlukah Si Kecil Vaksin Japanese Encephalitis, Kapan Dibutuhkannya?

    Japanese encephalitis merupakan salah satu virus yang menyebabkan peradangan otak (ensefalitis). Virus Japanese encephalitis merupakan flavivirus, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk culex yang terinfeksi.

    Cara pencegahan yang sudah terbukti ampuh dan mampu meminimalisir penyebaran infeksi virus ini adalah lewat vaksin japanese encephalitis. Beberapa negara dengan angka insidensi Japanese encephalitis cukup tinggi diantaranya Tiongkok, Taiwan, Jepang, Korea Utara, Cambodia, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Timor leste dan Papua New Guinea. Virus ini juga ditemukan di seluruh dunia, namun terbanyak di Asia, Pasifik bagian barat dan Australia bagian utara.

    Perlukah Si Kecil Vaksin Japanese Encephalitis, Kapan Dibutuhkannya

    Perlukah Si Kecil Vaksin Japanese Encephalitis, Kapan Dibutuhkannya?

    Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan sebanyak kurang lebih 67.900 kasus Japanese encephalitis setiap tahun terjadi di 24 negara endemis, dan 75% kasus terjadi pada anak-anak usia 0-14 tahun.

    Di Indonesia, kasus Japanese encephalitis pertama yang dikonfirmasi berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu pada tahun 1996. Kasus Japanese encephalitis terjadi sepanjang tahun, terutama pada musim hujan.

    Penularan virus ini terutama terjadi di daerah pertanian dan pedesaan. Namun, pada beberapa wilayah di Asia, kondisi ini dapat terjadi di dekat kota besar.

    Gejala Japanese Encephalitis

    Biasanya Japanese encephalitis tidak bergejala atau bergejala tetapi tidak spesifik. Tanda dan gejala penyakit radang otak biasanya muncul dalam 4-14 hari setelah gigitan nyamuk, seperti:

    • Nyeri kepala
    • Demam tinggi mendadak
    • Perubahan status mental/ gangguan kesadaran
    • Gangguan pencernaan
    • Perubahan cara berbicara dan berjalan

    Sedangkan pada anak, gejala dapat berupa :

    • Demam
    • Anak tampak rewel
    • Muntah
    • Diare 
    • Kejang.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Mengapa Japanese Encephalitis Berbahaya?

    Japanese encephalitis dapat menyebabkan kematian. Didapatkan 67.900 kasus anak setiap tahunnya, dengan angka kematian sebanyak 20-30%. Angka kematian ini terbilang cukup tinggi, terutama pada anak berusia di bawah 10 tahun.

    Pada anak yang bertahan hidup, biasanya akan mengalami gejala sisa atau komplikasi, antara lain:

    • Gangguan sistem motorik (motorik halus, kelumpuhan, gerakan-gerakan abnormal)
    • Gangguan perilaku (agresif, emosi tak terkontrol, gangguan perhatian, dan depresi)
    • Gangguan intelektual (retardasi)
    • Gangguan fungsi saraf lain (gangguan daya ingat, epilepsi, dan kebutaan).

    Baca Juga: Waspada Japanese Encephalitis Saat Berlibur ke Persawahan

    Pentingnya Imunisasi Japanese Encephalitis

    Hingga saat ini, masih belum ditemukan obat untuk mengatasi Japanese encephalitis. Namun, dengan vaksinasi, penyakit ini dapat dicegah. Vaksin ini pun sudah luas tersedia di berbagai negara guna mencegah dan menurunkan beban akibat dari penyakit ini.

    Pada tahun 2017, Indonesia melaksanakan pengenalan imunisasi Japanese encephalitis dengan sasaran anak berusia 9 bulan sampai 15 tahun dan dilakukan di seluruh provinsi Bali pada tahun 2017. Setelah pelaksanaan program imunisasi Japanese encephalitis di Bali, imunisasi ini dimasukkan ke dalam imunisasi rekomendasi bagi anak usia 9 bulan.

    Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) merekomendasikan pemberian dosis tunggal vaksin Japanese encephalitis di area endemis seperti Indonesia. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Rekomendasi Vaksin Japanese Encephalitis

    Vaksinasi ini direkomendasikan bagi:

    • Orang yang berencana tinggal dan menetap di negara tinggi kasus Japanese encephalitis
    • Orang yang berencana mengunjungi negara dimana Japanese encephalitis terjadi untuk waktu yang lama (misalnya satu bulan atau lebih)
    • Orang yang sering bepergian ke daerah yang banyak terjadi kasus Japanese encephalitis
    • Mengunjungi daerah pedesaan dan memiliki risiko tinggi gigitan nyamuk.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Sahabat Sehat, vaksinasi Japanese encephalitis adalah salah satu vaksinasi yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingat Indonesia adalah salah satu negara endemis Japanese encephalitis. Selain itu, bila Anda berencana untuk melakukan perjalanan ke luar negeri bersama Si Kecil, baik untuk berlibur atau kunjungan lainnya, disarankan agar Anda dan Si Kecil mendapatkan vaksin Japanese encephalitis sebelum keberangkatan sebagai bentuk perlindungan tubuh.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Kurniawan, R., 2018. Vaksin Japanese Encephalitis: Manfaat dan Komplikasi. Cermin Dunia Kedokteran.
    2. VAXCORP INDONESIA. 2020. Daftar Negara Endemis Japanese Encephalitis – VAXCORP INDONESIA.
    3. Prasetyo, Sp.A(K), P., 2018. IDAI | Japanese Encephalitis.
    4. Kemkes.go.id. 2017. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
    5. Yoanita SpA, d., 2020. Seputar Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) pada Anak – Primaya Hospital.
    6. HealthyChildren.org. 2021. Japanese Encephalitis Vaccine: What You Need to Know (VIS).
    Read More
  • Sebelum berlibur, tentu bagi Sahabat Sehat yang telah memiliki anak perlu mempersiapkan berbagai hal agar kesehatan Si Kecil tetap terjaga selama berlibur. Salah satu hal penting adalah memberikan imunisasi rotavirus untuk Si Kecil, yang bermanfaat untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus terutama pada anak berusia dibawah 5 tahun. Apa itu Rotavirus dan bagaimana penanganannya ? […]

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Rotavirus Sebelum Berlibur

    Sebelum berlibur, tentu bagi Sahabat Sehat yang telah memiliki anak perlu mempersiapkan berbagai hal agar kesehatan Si Kecil tetap terjaga selama berlibur. Salah satu hal penting adalah memberikan imunisasi rotavirus untuk Si Kecil, yang bermanfaat untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus terutama pada anak berusia dibawah 5 tahun.

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Rotavirus Sebelum Berlibur

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Rotavirus Sebelum Berlibur

    Apa itu Rotavirus dan bagaimana penanganannya ? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Rotavirus ?

    Rotavirus merupakan salah satu jenis virus yang menyebabkan diare maupun radang saluran cerna pada anak. Seringkali menginfeksi anak usia dibawah 5 tahun dan diperkirakan setiap anak berusia 3-5 tahun di dunia pernah terinfeksi Rotavirus. Infeksi Rotavirus dikaitkan dengan kurangnya higienitas, terbatasnya akses kesehatan, riwayat penyakit komorbid (misal malnutrisi) maupun akibat faktor lain.

    Rotavirus terdeteksi pada feses dalam 2 hari sebelum timbul gejala hingga 10 hari setelah gejala mereda. Virus dapat menyebar melalui kontak tangan-mulut, terutama jika kurang menjaga higienitas setelah menggunakan toilet. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Akibat Infeksi Rotavirus

    Si Kecil mulai merasakan keluhan dalam 2 hari setelah terinfeksi Rotavirus, ditandai dengan :

    • Demam
    • Nyeri perut
    • Muntah
    • Diare. 

    Perlu diwaspadai jika anak terlihat lemas, malas makan, demam, pucat, bibir kering, jarang buang air kecil, maka sebaiknya segera diperiksakan ke Dokter terdekat karena dikhawatirkan mengalami kekurangan cairan tubuh (dehidrasi).

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Bagaimana Mencegah Diare Akibat Rotavirus ?

    Untuk mencegah Si Kecil terinfeksi Rotavirus, Sahabat Sehat sebaiknya menjaga kebersihan baik sebelum dan setelah menyajikan makanan serta setelah menggunakan toilet.  Selain itu, berikan imunisasi Rotavirus untuk anak yang merupakan salah satu cara melindungi anak dari infeksi Rotavirus. 

    Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin Rotavirus. Vaksin Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis dengan pemberian dosis pertama pada bayi berusia 6-14 minggu, dosis kedua diberikan setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosis ketiga diberikan maksimal pada bayi berusia 8 bulan.

    Vaksin Rotavirus jenis Rotarix diberikan sebanyak 2 dosis dengan dosis pertama diberikan pada bayi berusia 10 minggu dan dosis kedua diberikan pada saat bayi berusia 14 minggu (maksimal diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan).

    Baca Juga: Imunisasi Rotavirus Mencegah Kematian Bayi Karena Diare

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai infeksi Rotavirus yang seringkali menyebabkan diare pada anak. Sebagai pencegahan infeksi Rotavirus, segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih yang turut menyediakan layanan imunisasi ke rumah. Layanan Prosehat memiliki berbagai keunggulan :

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Baca Juga: Apa Efek Imunisasi PCV dan Rotavirus Bersamaan Pada Anak?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi

     

    Referensi

    1. MayoClinic. Rotavirus.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Rotavirus Vaccination.
    3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian III).
    Read More
  • Meski cacar air bukan penyakit baru, namun penyakit ini dapat membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan lebih rewel dari biasanya. Cacar air merupakan infeksi kulit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Penyakit ini paling sering menyerang anak berusia dibawah 12 tahun, yang dapat menular melalui percikan air liur atau bersin serta kontak langsung dengan […]

    Kenali Tanda dan Gejala Cacar Air pada Anak, Serta Cara Mengatasinya

    Meski cacar air bukan penyakit baru, namun penyakit ini dapat membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan lebih rewel dari biasanya. Cacar air merupakan infeksi kulit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster.

    Kenali Tanda dan Gejala Cacar Air pada Anak, Serta Cara Mengatasinya

    Kenali Tanda dan Gejala Cacar Air pada Anak, Serta Cara Mengatasinya

    Penyakit ini paling sering menyerang anak berusia dibawah 12 tahun, yang dapat menular melalui percikan air liur atau bersin serta kontak langsung dengan dahak, ludah, atau cairan yang berasal dari ruam.

    Sahabat Sehat, bagaimana gejala cacar air pada anak dan cara mengatasinya ? Mari simak penjelasan berikut.

    Gejala Cacar Air Pada Anak

    Cacar air ditandai dengan munculnya ruam kemerahan yang kemudian tampak menjadi luka lepuhan yang terasa gatal. Ruam muncul pada hari ke-10 hingga ke-21 setelah terpapar virus penyebab cacar air. 

    Lepuhan pada kulit dapat ditemui pertama kali pada area batang tubuh dan kulit kepala. Kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti wajah, lengan, dan kaki. Seiring waktu, lepuh akan mengering dengan sendirinya dan menjadi kerak setelah 1-2 hari sebelum akhirnya sembuh. Sebagian besar anak biasanya mengalami demam ringan.

    Meski dapat sembuh dengan sendirinya, namun cacar air perlu diwaspadai bagi penderita gangguan sistem kekebalan tubuh seperti leukemia, dan bagi yang sedang menjalani pengobatan dengan obat penekan sistem kekebalan tubuh.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Cara Mengatasi Cacar Air Pada Anak

    Cacar air dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit atau kondisi lain yang menyertainya. Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai hal berikut dirumah :

    • Menjaga asupan makanan dan cairan tubuh. Jika Si Kecil sudah dapat mengkonsumsi makanan padat, Bunda dianjurkan memberikan sup hangat, makanan yang halus, lembut, atau membuat makanan kesukaan Si Kecil untuk mengembalikan nafsu makan Si kecil.
    • Oleskan losion yang mengandung calamine ke tubuh Si Kecil. Losion ini dapat membantu memberikan sensasi dingin dan meredakan gatal pada kulit.
    • Pakaikan sarung tangan agar Si Kecil tidak menggaruk luka untuk meminimalisir terjadinya infeksi pada luka.
    • Kenakan pakaian yang nyaman untuk mengurangi rasa gatal dan iritasi pada kulit. Pilihlah pakaian yang berbahan katun, lembut, dan longgar.
    • Mandikan Si Kecil dengan air hangat suam-suam kuku dan sabun berbahan lembut untuk mengurangi rasa nyeri maupun gatal di kulit.
    • Istirahat yang cukup agar mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan sistem daya tahan tubuh dalam melawan infeksi. 

    Baca Juga: Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Air ?

    Cacar air merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Oleh sebab itu, saat Si Kecil mulai menunjukan gejala cacar air sebaiknya segera batasi aktivitasnya di luar rumah hingga lepuh cacar air tampak mengering serta tidak ada lagi lepuhan baru yang muncul.

    Selain itu, untuk mencegah penularan cacar air sebaiknya berikan imunisasi Varicella untuk memberi perlindungan tubuh terhadap cacar air. Pemberian imunisasi cacar air (setelah dosis kedua) efektif menurunkan risiko Si kecil terinfeksi cacar air hingga 94%.

    Baca Juga: Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai gejala dan cara mengatasi cacar air yang kerap dialami Si Kecil. Untuk memberi perlindungan terhadap cacar air, Sahabat Sehat dianjurkan memberikan imunisasi Varicella untuk Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Chickenpox in Babies: Symptoms, Treatment, Complications, Prevent [Internet]. USA : Healthline.
    2. BabyCentre UK. Chickenpox [Internet]. UK : BabyCentre.
    3. Medline. Chickenpox: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. USA : Medline.
    4. National Health Service. Chickenpox [Internet]. UK : National Health Service.
    5. Healthy Children. Varicella (Chickenpox) [Internet]. USA : Healthy Children.
    Read More
  • Cacar air pada anak adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Meski bukan penyakit yang berbahaya, penyakit ini sangat mudah menular pada anak kecil, terutama anak-anak usia dibawah 12 tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan anak tidak nyaman dan rewel karena rasa gatal dan demam yang menyerangnya.  Virus penyebab cacar air pada […]

    Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Cacar air pada anak adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Meski bukan penyakit yang berbahaya, penyakit ini sangat mudah menular pada anak kecil, terutama anak-anak usia dibawah 12 tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan anak tidak nyaman dan rewel karena rasa gatal dan demam yang menyerangnya. 

    Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Cacar Air pada Anak, Lakukan 5 Hal Ini Untuk Pengobatan

    Virus penyebab cacar air pada anak sangat mudah menular melalui percikan dahak atau ludah, serta kontak langsung dengan penderita. Cacar air memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah untuk dikenali, yakni berupa ruam merah gatal berisi cairan atau seperti lepuhan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan anak mengalami nyeri otot dan demam.

    Sahabat Sehat, apa yang dapat kita lakukan jika Si Kecil menderita cacar air? Mari simak penjelasan berikut.

    Tips Penanganan Cacar Air Pada Anak

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mencegah cacar air yang dialami Si Kecil menjadi lebih parah yakni :

    • Jangan Menggaruk Ruam

    Munculnya ruam atau lepuhan di permukaan kulit merupakan gejala paling khas dari cacar air. Untuk mencegah gejalanya semakin berat, pastikan Si Kecil untuk tidak menggaruk ruam tersebut. Menggaruk ruam atau lepuhan cacar air hanya akan menyebabkan infeksi kulit dan membuat luka jadi berbekas setelah sembuh. 

    Gunting kuku Si Kecil, oleskan lotion yang mengandung calamine, kenakan pakaian yang nyaman dan longgar, gunakan krim pelembab, gel pendingin, atau obat antihistamin yang dikenal dengan chlorpheniramine yang dapat membantu mengurangi rasa gatal dan menenangkan kulit. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    • Berikan Obat Pereda Nyeri dan Demam

    Selain menyebabkan ruam di permukaan kulit, umumnya cacar air pada anak juga akan menimbulkan gejala lainnya seperti rasa nyeri diseluruh tubuh hingga demam tinggi. Sebagai penanganan awal, Sahabat Sehat dapat memberikan obat pereda nyeri dan demam yang dijual bebas. Apabila demam berlanjut hingga lebih dari 3 hari, konsultasikan dengan dokter.

    • Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

    Gejala ruam atau lepuhan tidak hanya muncul pada permukaan kulit, kondisi ini juga dapat muncul di dalam kulit dan tenggorokan sehingga akan menimbulkan rasa panas dan tidak nyaman saat menelan makanan. Akibatnya, Si Kecil dapat kehilangan nafsu makan dan membuatnya menolak makan dan minum. 

    Meski demikian, pastikan Si Kecil tetap mendapatkan asupan makanan sehat dan kaya nutrisi, serta cukupi kebutuhan cairannya dengan memberinya lebih banyak air putih agar terhindar dari dehidrasi dan mempercepat penyembuhan. 

    Baca Juga: Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    • Mencegah Penularan Di Rumah

    Cacar air mudah menular, maka pastikan Si Kecil agar beristirahat di rumah. Selain itu, batasi pula ruang geraknya di dalam rumah selain agar cepat pulih dan mencegah penularan terhadap orang lain. 

    Biarkan Si Kecil tetap di rumah dan batasi bertemu orang lain hingga semua lepuhan cacar air di permukaan kulitnya mengering membentuk koreng dan tidak ada lagi lepuhan baru yang muncul. 

    • Memeriksakan Ke Dokter

    Meski dapat sembuh tanpa pengobatan atau pertolongan medis. Namun pada beberapa kasus, Sahabat Sehat harus memeriksakan Si Kecil ke dokter. Berikut beberapa kasus cacar air yang memiliki risiko komplikasi sehingga perlu menghubungi dokter saat gejala pertama cacar air muncul, yakni:

    • Cacar air diderita ibu hamil
    • Bayi yang baru lahir
    • Anak-anak usia diatas 12 tahun
    • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah
    • Penderita gangguan paru kronis 
    • Penderita penyakit yang sedang menjalani terapi steroid

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak-anak

    Mencegah Cacar Air Dengan Vaksinasi

    Selain itu, untuk mencegah penularan cacar air sebaiknya berikan imunisasi Varicella untuk memberi perlindungan tubuh terhadap cacar air. Pemberian imunisasi cacar air (setelah dosis kedua) efektif menurunkan risiko Si kecil terinfeksi cacar air hingga 94%. Vaksin cacar air dapat mulai diberikan saat Si Kecil berusia 12 bulan keatas. Diberikan dalam 2 dosis terpisah dengan jarak pemberian 6 minggu hingga 3 bulan.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai informasi perihal cacar air serta hal-hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan jika Si Kecil menderita cacar air. Waspadai apabila Si Kecil mengalami hal berikut :

    • Demam yang berlangsung lebih dari 3 hari 
    • Nanah yang mengalir dari lepuhan cacar air
    • Kesulitan bernapas, berjalan, atau bangun
    • Muntah
    • Kekakuan di leher
    • Sakit perut yang parah

    Baca Juga: Cacar Air dan Pencegahan yang Bisa Kamu Coba

    Jika Si Kecil mengalami keluhan diatas, segera konsultasikan lebih lanjut dengan dokter. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kidshealth.org. Chickenpox (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    2. American Academy of Dermatology Association. How to care for children with chickenpox.
    3. Healthy Children. Varicella.
    4. Healthline. 7 Home Remedies for Chickenpox.
    Read More
  • Begitu besar  manfaat imunisasi Hib bagi bayi terutama bagi kesehatannya. Imunisasi merupakan salah satu cara agar Si Kecil kebal terhadap suatu penyakit. Pemberian imunisasi sangat penting dan bermanfaat karena dapat mencegah infeksi oleh berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dihindari. Hingga saat ini tercatat ada lebih dari 20 jenis penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi. Salah satu […]

    Manfaat Imunisasi Hib Bagi Bayi dan Kapan Harus Diberikan

    Begitu besar  manfaat imunisasi Hib bagi bayi terutama bagi kesehatannya. Imunisasi merupakan salah satu cara agar Si Kecil kebal terhadap suatu penyakit. Pemberian imunisasi sangat penting dan bermanfaat karena dapat mencegah infeksi oleh berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dihindari. Hingga saat ini tercatat ada lebih dari 20 jenis penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi. Salah satu dari imunisasi yang dapat diberikan untuk Si Kecil adalah imunisasi Haemophilus influenzae Type B (HiB). 

    Manfaat Imunisasi Hib Bagi Bayi dan Kapan Harus Diberikan

    Manfaat Imunisasi Hib Bagi Bayi dan Kapan Harus Diberikan

    Nah Moms, apa saja penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi Haemophilus influenzae Type B (HiB)? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Bakteri HiB ?

    Haemophilus influenzae Type B (HiB) merupakan jenis bakteri yang dapat menyebabkan berbagai macam infeksi pada tubuh. Infeksi bakteri ini dapat terjadi pada telinga, paru-paru, sendi, kulit, hingga ke cairan otak dan selaput otak (meninges).

    Dampak infeksi Haemophilus influenzae Type B (HiB) bergantung pada organ yang terlibat, contohnya infeksi pada paru dapat menyebabkan pneumonia. Sementara infeksi pada selaput otak dapat menyebabkan peradangan selaput otak atau disebut Meningitis. Kondisi ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan Si Kecil.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Bakteri HiB ?

    Bakteri Haemophilus influenzae Type B (HiB) dengan mudah menular ke Si Kecil maupun Moms melalui droplet dari orang yang terinfeksi. Cipratan air liur dari seorang penderita yang batuk atau bersin lalu masuk ke saluran pernafasan Si Kecil atau Moms maka dapat menularkan infeksi HiB. 

    Baca Juga: Vaksinasi Hib Bantu Cegah Pneumonia Pada Anak

    Bagaimana Cara Mencegah Penularan Bakteri HiB ?

    Penting bagi Si Kecil dan Moms untuk selalu menjaga kebersihan dengan rajin mencuci tangan dan menggunakan masker saat berinteraksi dengan orang lain. Melakukan imunisasi turut membantu mencegah Si Kecil terinfeksi bakteri HiB. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi Haemophilus influenzae Type B (HiB), yaitu :

    • Infeksi telinga
    • Infeksi sendi
    • Pneumonia
    • Radang selaput otak (Meningitis)
    • Radang selaput jantung (Perikarditis)

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Kapan Jadwal Imunisasi HiB ?

    Imunisasi HiB dapat diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dan diulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi. Apabila Si Kecil datang pada usia 1 – 5 tahun, vaksin HiB hanya diberikan 1 kali saja. Bagi Si Kecil yang sudah berusia 5 tahun atau lebih maka tidak perlu mendapatkan vaksinasi tersebut, kecuali memiliki kondisi lain seperti gangguan sistem imun maka pemberian imunisasi dapat dipertimbangkan.

    Imunisasi HiB sampai saat ini sudah berjalan lama dan efektif sehingga menurunkan resiko berbagai penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri HiB.  Mama dapat melihat buku atau kartu imunisasi si Kecil untuk memastikan jadwal imunisasi tidak terlewat. 

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak – Anak

    Nah Moms, itulah informasi mengenai imunisasi Haemophilus influenzae Type B (HiB) yang dapat mencegah berbagai penyakit. Jika Momst membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centres for Disease Control and Prevention. Immunisation Basics.
    2. World Health Organization. Vaccines and immunisation.
    3. Centres for Disease Control and Prevention. Haemophilus influenzae: Types of Infection and Causes.
    4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian III).
    5. Nemours Kids Health. Your Child’s Immunizations: Hib Vaccine (for Parents).
    6. Brundage H, Mukka S. Haemophilus Influenza Type B Vaccine.
    Read More
  • Diare bisa menjadi berbahaya bagi anak. Terutama saat sudah ada tanda anak mengalami dehirasi, Orangtua harus tau jika anak mengalami dehidrasi. Diare merupakan gangguan pencernaan yang umum dialami oleh siapapun, termasuk anak-anak. Gejalanya berupa buang air besar dengan frekuensi yang lebih sering dan konsistensi feses yang lebih encer dari biasanya. Selama diare, tubuh akan lebih cepat kehilangan […]

    Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Diare bisa menjadi berbahaya bagi anak. Terutama saat sudah ada tanda anak mengalami dehirasi, Orangtua harus tau jika anak mengalami dehidrasi. Diare merupakan gangguan pencernaan yang umum dialami oleh siapapun, termasuk anak-anak. Gejalanya berupa buang air besar dengan frekuensi yang lebih sering dan konsistensi feses yang lebih encer dari biasanya. Selama diare, tubuh akan lebih cepat kehilangan cairan dan elektrolit sekaligus hilangnya kemampuan usus dalam menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya. 

    Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Meski umumnya hanya terjadi sebentar, tetapi terkadang diare bisa menjadi lebih parah apabila dibiarkan tanpa perawatan yang tepat. Terlebih jika diare disertai dengan gejala muntah-muntah yang berlangsung cukup lama. Tentunya kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan, atau disebut juga dehidrasi.

    Nah Sahabat Sehat, apa saja tanda dehidrasi yang dapat dialami Si Kecil akibat diare? Mari simak penjelasan berikut.

    Baca Juga: 8 Asupan yang Tepat untuk Mengatasi Diare Si Kecil

    Tanda Dehidrasi Pada Anak

    Anak sangat rentan mengalami dehidrasi saat diare akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Berikut beberapa tanda dan gejala umum dehidrasi pada anak yang perlu diwaspadai:

    • Bibir kering 
    • Merasa haus
    • Urin berwarna kuning pekat
    • Sedikit atau tidak buang air kecil selama delapan jam atau lebih
    • Kulit teraba dingin dan kering
    • Mata tampak cekung
    • Pada bayi, ubun-ubun teraba cekung
    • Pusing
    • Nafas dan denyut jantung cepat

    Jika Si Kecil menunjukan gejala diatas, segera beri air yang cukup dan konsultasikan kondisi Si Kecil dengan dokter. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Kenali Tahapan Dehidrasi yang Dapat Dialami Si Kecil Saat Diare

    Minum yang cukup adalah satu-satunya cara dalam mengatasi dehidrasi. Hal ini dikarenakan tubuh didominasi oleh air sehingga penanganan diare akan berfokus pada pencegahan terjadinya dehidrasi. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu mengetahui tahapan dehidrasi yang dapat dialami Si Kecil saat diare : 

    • Tanpa Dehidrasi

    Pada kondisi diare tanpa dehidrasi, Si Kecil akan tampak seperti biasanya dan frekuensi buang air kecil tidak berkurang. Sahabat Sehat dapat tetap memberikan minum ataupun ASI.

    Untuk mengatasi masalah diarenya, Sahabat Sehat dapat memberikan Si Kecil larutan rehidrasi oral atau oralit sebanyak 5 – 10 mililiter setiap diare terjadi. 

    • Dehidrasi Ringan – Sedang 

    Pada diare dehidrasi ringan, Si Kecil mungkin telah mengalami penurunan berat badan sekitar 5 – 6%. Sementara pada diare dehidrasi sedang, Si Kecil akan kehilangan berat badannya hingga 7 – 10%. Pada tahap ini, Si Kecil tampak kehausan dan frekuensi buang air kecilnya juga menjadi berkurang. Selain itu wajahnya juga akan mengalami beberapa perubahan, seperti bibir kering, mata menjadi cekung, serta elastisitas kulit yang menurun. Sahabat Sehat dapat memberikan larutan oralit, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

    • Dehidrasi Berat

    Pada kondisi dehidrasi berat, Si Kecil mungkin telah kehilangan berat badan hingga lebih dari 10%. Meski awalnya Si Kecil mengalami gejala dehidrasi sedang namun pada tahapan dehidrasi berat Si Kecil  mulai tampak lemas, tidak sepenuhnya sadar, napas cepat dan dalam, frekuensi denyut nadi meningkat, serta elastisitas kulit yang sangat menurun. Pada kondisi ini, Si Kecil perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. 

    Baca Juga: Cegah Diare Anak Akibat Rotavirus dengan Vaksinasi

    Panduan Pemberian Rehidrasi Oral Pada Anak

    Umumnya dokter akan merekomendasikan pemberian rehidrasi oral sebagai solusi dalam mengganti cairan tubuh Si Kecil yang hilang. Bahkan jika Si Kecil muntah sekalipun, Sahabat Sehat tetap harus memberikan larutan oralit. Umumnya, bayi dapat dianggap terhidrasi saat tubuh kembali memproduksi urin secara normal, setidaknya urin tidak lagi berwarna gelap dan mengganti 6 popok basah dalam sehari. 

    Jumlah cairan rehidrasi yang diberikan harus disesuaikan pada tahapan dehidrasi. Berikut panduan untuk jumlah normal pemberian cairan untuk rehidrasi oral dalam kurun waktu 4 sampai 6 jam pertama perawatan untuk anak yang mengalami dehidrasi ringan:

    • Berat badan hingga 5 kg : 200 – 400 ml
    • Berat badan 5 – 10 kg : 400 – 600 ml
    • Berat badan 10 -15 kg : 600 – 800 ml
    • Berat badan 15 – 20 kg : 800 – 1000 ml
    • Berat badan 20 – 25 kg : 1000 – 1500 ml
    • Berat badan 25 – 30 : 1500 – 2000 ml

    Bila Si Kecil mengalami diare akut, lembaga Food and Drug Administration (FDA) merekomendasikan untuk menghindari produk susu selama 24 hingga 48 jam karena sulit dicerna. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menganjurkan agar Si Kecil tetap diberi makan sesuai jadwal seperti biasanya. Jika Si Kecil masih diberi ASI, maka Sahabat Sehat tetap dapat memberikan ASI sebab asupan nutrisi Si Kecil tetap harus terpenuhi. 

    Baca Juga: Imunisasi Rotavirus Mencegah Kematian Bayi Karena Diare

    Tips Mencegah Dehidrasi Diare Pada Anak

    Berikut beberapa tips mencegah dehidrasi pada anak yang sedang menderita diare, yaitu :

    • Berikan Larutan Oralit

    Sahabat Sehat dapat memberikan larutan oralit mengikuti panduan rehidrasi oral seperti sudah dijelaskan diatas.

    • Berikan Tablet Zinc

    Sahabat Sehat dapat memberikan Si Kecil tablet zinc selama 10 hari berturut-turut yang bermanfaat dalam memperbaiki lapisan usus yang rusak selama anak diare.

    • Penuhi Asupan Gizi

    Lanjutkan pemberian ASI dan jadwal makan seperti biasa. Penuhi kebutuhan ASI Si Kecil serta berikan makanan sesuai jadwal makan seperti biasanya.

    Baca Juga: Hati-Hati Diare Rotavirus Menyerang Anak Anda !

    Mencegah Diare Dengan Vaksin Rotavirus

    Berdasarkan data, diare pada anak paling sering diakibatkan oleh infeksi virus jenis Rotavirus. Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi Rotavirus untuk anak sebagai salah satu cara mencegah anak mengalami diare. Diperkirakan 9 dari 10 orang anak yang telah mendapatkan vaksin, terlindungi dari penyakit Rotavirus.

    Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin Rotavirus. Vaksin Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis dengan pemberian dosis pertama pada bayi berusia 6-14 minggu, dosis kedua diberikan setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosis ketiga diberikan maksimal pada bayi berusia 8 bulan.

    Vaksin Rotavirus jenis Rotarix diberikan sebanyak 2 dosis dengan dosis pertama diberikan pada bayi berusia 10 minggu dan dosis kedua diberikan pada saat bayi berusia 14 minggu (maksimal diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan).

    Produk Terkait : Imunisasi Rotavirus ke rumah 1 kali suntik

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai tanda dehidrasi yang dapat dialami Si Kecil saat diare. Apabila muncul tanda-tanda dehidrasi, konsultasikan dengan dokter serta lakukan berbagai tips di atas.

    Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Caring for Kids. Dehydration and diarhea in children: Prevention and treatment.
    2. Vega R, Avva U. Pediatric Dehydration.
    3. Cleveland Clinic. Dehydration in Children: Signs, Treatments.
    4. Mayo Clinic. Dehydration – Symptoms and causes.
    Read More
  • Seringkali orang tua terlambat menyadari adanya gejala paru-paru basah pada anak. Paru-paru basah atau dalam istilah medis disebut juga pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi pada saluran pernapasan akut yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus maupun jamur. Anak-anak terutama bayi baru lahir dapat kesulitan bernafas karena terjadi gangguan pada […]

    Kenali Penyebab dan Gejala Paru-Paru Basah pada Anak

    Seringkali orang tua terlambat menyadari adanya gejala paru-paru basah pada anak. Paru-paru basah atau dalam istilah medis disebut juga pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi pada saluran pernapasan akut yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus maupun jamur. Anak-anak terutama bayi baru lahir dapat kesulitan bernafas karena terjadi gangguan pada paru-parunya.

    Kenali Penyebab dan Gejala Paru-Paru Basah pada Anak

    Kenali Penyebab dan Gejala Paru-Paru Basah pada Anak

    Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi penyebab kematian anak terbesar di dunia, apabila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya. Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 atau dapat dikatakan setiap jam terdapat 2 orang anak yang meninggal dunia akibat penyakit ini.

    Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, jumlah angka penderita  pneumonia pada balita cukup tinggi yaitu mencapai 4,5 per 100 orang balita. Sementara berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), jumlah angka kematian balita berusia dibawah 5 tahun akibat pneumonia mencapai 15% pada tahun 2017 atau setara dengan 5,5 juta anak.

    Apa Penyebab Paru-Paru Basah Pada Anak ? 

    Pneumonia umumnya dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kurang bersih serta polusi udara. Berikut adalah berbagai hal penyebab tersering pneumonia atau paru-paru basah pada anak :

    • Infeksi Bakteri

    Bakteri penyebab paru-paru basah yang paling umum, yakni Streptococcus pneumoniae. Selain itu, ada beberapa bakteri lainnya seperti : Legionella pneumophila, Mycoplasma pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae

    • Infeksi Jamur

    Paru-paru basah yang disebabkan oleh jamur biasanya terjadi pada anak yang memiliki masalah kesehatan kronis atau sistem daya tahan tubuh yang sangat lemah. Contoh jamur yang dapat menyebabkan infeksi paru-paru basah, yaitu Pneumocystis jirovecii, Cryptococcus dan Histoplasmosis.

    • Infeksi Virus

    Infeksi virus dapat menyebabkan penyakit flu, maupun peradangan paru (bronkitis dan bronkiolitis), yang merupakan penyebab umum paru-paru basah pada balita. Infeksi virus biasanya lebih ringan dan dapat sembuh sendiri dalam 1-3 minggu apabila gejalanya sangat ringan. Namun apabila daya tahan tubuh anak rendah, tidak menutup kemungkinan infeksi akan bertambah parah.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Paru-Paru Basah Pada Anak

    Berikut adalah berbagai gejala jika seorang anak menderita infeksi paru-paru basah, yakni :

    • Batuk berdahak
    • Pernafasan cepat
    • Demam yang dapat menyebabkan keringat dingin dan menggigil
    • Menurunnya nafsu makan 
    • Tampak lemas
    • Kesulitan bernapas
    • Dada nyeri terutama saat batuk
    • Mengi
    • Wajah pucat
    • Kuku dan bibir tampak kebiruan akibat menurunnya kadar oksigen didalam darah.
    • Keluhan penyerta lainnya, seperti nyeri perut, mual dan muntah terutama setelah batuk.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Kapan Harus Memeriksakan Ke Dokter ?

    Sahabat Sehat, apabila Si Kecil mengalami berbagai gejala berikut maka sebaiknya segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat :

    • Si Kecil tampak semakin kesulitan saat bernafas
    • Sela-sela tulang iga dada tampak cekung saat bernafas.
    • Kuku dan bibir tampak biru keabu-abuan
    • Jika anak usia 6 bulan keatas mengalami demam dengan suhu hingga mencapai 390C
    • Jika anak yang berusia kurang dari 6 bulan mengalami demam dengan suhu mencapai 380C
    • Anak masih demam hingga lebih dari 3 hari, meski sudah mendapatkan pengobatan.

    Baca Juga: Pneumonia : Pembunuh Balita Utama di Dunia

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai penyebab dan gejala jika Si Kecil menderita paru-paru basah. Untuk mencegah paru-paru basah pada anak, Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi pneumonia.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia Pada Anak Bisa Dicegah dan Diobati.
    3. Ramdhani Jasin, Sp. A D, Kaswandani, Sp. A(K) D. IDAI | Hitung Napas Anak: Deteksi Awal Sesak Napas pada Anak dengan Pneumonia. Idai.or.id.
    4. World Health Organization. Pneumonia. USA : World Health Organization.
    5. Nationwide Children. Pneumonia. USA : Nationwide Children.
    Read More
  • Seringkali penanganan meningitis terlambat dilakukan. Hal ini terjadi karena orang tua kurang pengetahuan tentang gejala-gejala penyakit. Infeksi kuman ataupun mikroorganisme lainnya, dapat terjadi pada siapa saja. Salah satu diantaranya adalah meningitis, yaitu suatu penyakit ketika terjadinya peradangan pada selaput otak (meninges) yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang. Peradangan otak Si Kecil dapat menyebabkan berbagai komplikasi […]

    5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Seringkali penanganan meningitis terlambat dilakukan. Hal ini terjadi karena orang tua kurang pengetahuan tentang gejala-gejala penyakit. Infeksi kuman ataupun mikroorganisme lainnya, dapat terjadi pada siapa saja. Salah satu diantaranya adalah meningitis, yaitu suatu penyakit ketika terjadinya peradangan pada selaput otak (meninges) yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang.

    5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Peradangan otak Si Kecil dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang berakibat buruk bagi tubuhnya apabila tidak ditangani. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi pada tubuh Si Kecil.

    Setiap tahunnya, terdapat sekitar 1,2 juta kasus meningitis di seluruh dunia. Dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) diperkirakan bahwa 70% penderita meningitis beresiko meninggal apabila tidak mendapatkan pertolongan.

    Penyebab Meningitis

    Paling sering meningitis disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Beberapa contohnya yakni bakteri pneumokokus, meningokokus, M. tuberculosa, dan virus H. influenza.

    Secara alami, otak manusia memiliki mekanisme pertahanan yaitu sawar darah otak untuk mencegah infeksi pada otak. Namun terdapat beberapa bakteri dan virus yang dapat menembus penghalang tersebut sehingga menyebabkan meningitis.5 Beberapa gejala meningitis yang dapat dijumpai pada Si Kecil, yakni :

    • Menangis nada tinggi atau merintih 
    • Leher terasa kaku
    • Rewel
    • Lemas
    • Sering tertidur dan sulit dibangunkan
    • Nafsu makan menurun
    • Mual dan muntah

    Gejala tersebut timbul karena adanya gangguan pada otak Si Kecil. Untuk mendiagnosa meningitis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada Si Kecil. 

    Jika diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, cairan cerebrospinal, CT Scan ataupun MRI otak.3 Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosis meningitis, dan mencari penyebab meningitis.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Meningitis

    Berikut ini gejala meningitis yang umum terjadi:

    • Demam tinggi yang terjadi secara mendadak
    • Sakit kepala parah yang tidak seperti biasanya
    • Sensitif terhadap cahaya
    • Tidak ada nafsu makan atau haus.
    • Ruam kulit.

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak – Anak

    Bagaimana Penanganan Meningitis ?

    Pengobatan meningitis bertujuan untuk meredakan peradangan pada selaput meninges. Penanganan berupa pemberian obat-obatan sesuai dengan penyebab meningitisnya. Beberapa dampak yang dapat terjadi bila meningitis tidak ditangani, yaitu  kejang berulang, kerusakan otak, gangguan pendengaran, disabilitas, hingga kematian.

    Tips Mencegah Meningitis

    Sebagian besar bakteri dan virus penyebab meningitis ditularkan melalui cipratan air liur (droplet). Pencegahan yang dapat Sahabat Sehat lakukan untuk mencegah penyakit meningitis, yakni :

    • Menghindari atau menjaga jarak dengan orang yang terlihat kurang sehat
    • Menggunakan masker saat keluar rumah
    • Rutin mencuci tangan 
    • Memberikan vaksinasi untuk Si Kecil.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Apa Saja Vaksinasi Untuk Mencegah Meningitis ? 

    Selain dengan menerapkan pola hidup sehat, untuk mencegah meningitis pada anak dapat diberikan vaksinasi. Sahabat Sehat dapat memberikan vaksinasi seperti vaksin BCG, vaksin influenza, vaksin pneumokokus, dan vaksin meningokokus. Vaksinasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit meningitis yang dapat dialami baik orang dewasa maupun anak. Jika meningitis tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak buruk bagi tubuh. Apabila Si Kecil menunjukkan beberapa gejala meningitis, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Berbagai Jenis Imunisasi untuk Bayi 3 Bulan

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh:  dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Meningitis. USA : World Health Organization;.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis Lab Manual: Epidemiology of Meningitis.
    3. Stanford Children’s Health. Meningitis in Children] USA : Stanford Children’s Health.
    4. Huynh J, Abo Y, du Preez K, Solomons R, Dooley K, Seddon J. Tuberculous Meningitis in Children: Reducing the Burden of Death and Disability. Pathogens. 2021;11(1):38.
    5. Van Sorge N, Doran K. Defense at the border: the blood–brain barrier versus bacterial foreigners. Future Microbiology. 2012;7(3):383-394.
    Read More
  • Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. apa saja perbedaan tersebut? simak penjelasan berikut. Sejak tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio. Virus Polio […]

    Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. apa saja perbedaan tersebut? simak penjelasan berikut.

    Sejak tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio.

    Pilih yang Mana Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Virus Polio adalah virus yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus yang memperbanyak diri di dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Virus Polio terdiri dari 3 strain yaitu Strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig) dan strain-3 (Leon), termasuk family Picornavirde. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motorik atau saraf pada sumsum tulang belakang.

    Virus polio dapat menyerang siapa saja, tetapi paling banyak menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit yang paling banyak ditakuti di negara-negara industri, melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahun. 

    Polio adalah sebutan lain untuk penyakit poliomyelitis, yang berasal dari Bahasa Yunani artinya peradangan tulang belakang. Dulu orang-orang menyebutnya sebagai kelumpuhan pada anak-anak. Salah satu cara memberantas penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi polio.

    Penyebaran Virus Polio

    Virus Polio menyebar melalui kontak dengan penderita polio, sekresi oral (mulut) dan hidung misalnya air liur dan lendir hidung, serta kontak dengan feses yang terkontaminasi dengan virus polio. Setelah itu, virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan terus berlipat ganda sepanjang waktu hingga mencapai ke saluran cerna.

    Dalam kasus polio yang menyebabkan kelumpuhan, virus meninggalkan saluran cerna dan masuk kedalam aliran darah lalu menyerang sel saraf. Sebanyak kurang dari 2% penderita polio dapat mengalami kelumpuhan. 

    Pada kasus yang lebih berat, tenggorokan dan dada dapat ikut serta lumpuh. Bila tidak ada alat bantu pernapasan maka pasien dapat meninggal dunia. Imunisasi Polio pada anak dapat mencegah kejadian ini.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Jenis Vaksin Polio

    Terdapat dua jenis vaksin polio, yaitu melalui injeksi (suntikan) atau tetesan di mulut. Sahabat Sehat, apakah perbedaan kedua jenis vaksin tersebut ?

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 2 jenis vaksin polio :

    • Vaksin Polio Inaktif

    Vaksin ini berasal dari virus polio yang dimatikan. Cara pemberiannya dengan menyuntikan ke paha atau lengan.

    • Vaksin Polio Oral

    Adalah virus polio hidup yang dilemahkan. Ini adalah vaksin yang dilakukan pada anak, diberikan melalui tetesan di mulut.

    Baca Juga: Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV)

    OPV sering disebut sebagai vaksin polio Sabin sesuai dengan penemunya. Yang dapat mencegah infeksi dari 3 jenis virus polio. Vaksin ini merupakan vaksin hidup yang dilemahkan (live-attenuated virus vaccine).

    Vaksin polio ini dapat diberikan tiga dosis untuk memberikan kekebalan seumur hidup.

    Vaksin polio oral dianggap lebih efektif untuk pemberantasan poliomyelitis, karena virus yang dilemahkan akan mengadakan replikasi atau berkembang biak pada saluran pencernaan sehingga mencegah virus lain menempel pada saraf sehingga mencegah kelumpuhan.

    Pemberian vaksin OPV dilakukan sebanyak 3 kali saat :

    • Anak baru lahir
    • Usia 6-12 minggu 

    Pemberian kedua dilakukan 8 minggu setelah pemberian dosis pertama

    • Usia 6-18 bulan.

    Efek samping pemberian vaksin OPV :

    • Sakit kepala
    • Sakit perut
    • Demam
    • Diare
    • Kelelahan
    • Kelumpuhan (jarang terjadi).

    Baca Juga: Efek Samping Vaksin Polio yang Perlu Kamu Ketahui

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

    Vaksin Polio Inaktif (IPV) sebenarnya lebih dulu ditemukan daripada OPV, disebut juga vaksin polio Salk, sesuai dengan nama penemunya Jonas Salk pada tahun 1955. Vaksin IPV berisi virus inaktif yang berisi 3 tipe virus polio.

    Vaksin yang disuntikkan akan meningkatkan daya tahan tubuh. Vaksin IPV mampu mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody yang tinggi.

    Pemberian vaksinasi IPV dilakukan saat anak berusia :

    • 2 bulan
    • 4 bulan
    • 6-18 bulan
    • 4-6 tahun

    Menurut penelitian yang terbit pada Jurnal Morbidity and Mortality Week Report CDC, pemberian vaksin IPV pada 2 tahun pertama dapat menimbulkan efek samping ringan sedang berupa :

    • Demam
    • Ruam di area yang disuntik
    • Pembengkakan di area yang disuntik
    • Rewel

    Baca Juga: Apa Saja Fakta tentang Polio yang Perlu Diketahui?

    Meski jarang terjadi, berikut efek samping yang dapat muncul setelah pemberian IPV :

    • Peradangan dan pendarahan pembuluh darah kecil
    • Penurunan trombosit akibat kekebalan tubuh keliru menyerang trombosit
    • Alergi berat

    Efek samping pasca vaksinasi umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah 3-4 hari.

    Dibandingkan dengan vaksin OPV, vaksin IPV mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang cukup baik bagi sebagian besar orang. Vaksin ini tidak mengandung virus yang dilemahkan, maka tidak ada resiko berupa kelumpuhan akibat vaksinasi.

    Berikut ini adalah kondisi anak yang tidak diperkenankan menerima vaksin IPV, yaitu :

    1. Mengalami alergi berat hingga mengancam nyawa
    2. Anak sedang mengalami sakit seperti misalnya influenza atau demam.

    Manfaat Imunisasi Polio

    Imunisasi anak polio bermanfaat untuk menguatkan imunitas anak terhadap virus polio. Vaksin anak dapat menekan resiko tertular virus polio hingga dewasa. Apabila sudah mendapat vaksin polio saat berusia anak-anak, saat dewasa umumnya tidak lagi memerlukan imunisasi.

    Dengan melakukan pemberian imunisasi anak, bukan hanya anak-anak yang divaksin saja yang dapat menerima manfaatnya. Keluarga serta warga di lingkungan tersebut juga dilindungi dari ancaman penyebaran virus polio.

    Baca Juga: Apa dan Bagaimana Penyebab Penyakit Polio Itu?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai perbedaan vaksin polio tetes dan suntik. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Novita D, Alam S, Kelyombar D. Buletin Surveillant dan Imunisasi.
    2. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan. Poliomyelitis Penyakit Virus Polio.
    3. Kurniawan S. Manfaat dan Kapan Imunisasi Polio Diberikan – Primaya Hospital.
    4. Satari H, Ibbibah L, Utoro, S. Eradikasi Polio. Sari Pediatri, 18(3), p.245.
    5. Permatasari D. Vaksin Polio Tetes (OPV): Dosis, Jadwal Pemberian, Efek Samping, dan Bedanya dengan IPV.
    Read More
  • Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih beresiko untuk tertular penyakit ini. Orang tua harus mewaspadai komplikasi akibat campak pada anak karena […]

    Komplikasi Akibat Campak Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih beresiko untuk tertular penyakit ini.

    Orang tua harus mewaspadai komplikasi akibat campak pada anak karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang si kecil. maka dari itu cegah sejak dini.

    Komplikasi Akibat Campak Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Komplikasi Akibat Campak Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Resiko Penyakit Campak

    Berikut ini beberapa orang yang beresiko tertular campak lebih tinggi :

    • Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi lebih beresiko untuk tertular campak dan terjadi komplikasi saat mereka terkena campak, termasuk komplikasi yang paling serius yaitu kematian.
    • Ibu hamil yang tidak divaksinasi juga lebih beresiko untuk tertular campak.

    Campak masih umum terjadi di beberapa negara berkembang terutama di beberapa negara bagian Afrika dan Asia. Sebagian besar (lebih dari 95%) kematian akibat komplikasi campak terjadi di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan infrastruktur kesehatan yang lemah.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Campak ?

    Campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Campak menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi atau kontak langsung dengan sekresi atau cairan hidung dan tenggorokan dari pasien yang terinfeksi.

    Virus tetap aktif dan menular di udara atau permukaan yang terinfeksi hingga mencapai 2 jam. Virus dapat ditularkan oleh penderita sejak 4 hari sebelum munculnya ruam kemerahan pada kulit hingga 4 hari setelah ruam kemerahan mereda.

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Campak – Berikut Penjelasannya

    Apa Gejala Campak Pada Anak ?

    Gejala awal penyakit ini biasanya terjadi 1-2 minggu setelah tertular virus. Gejala yang timbul seperti :

    • Mata merah, bengkak dan sensitif terhadap cahaya
    • Tanda menyerupai pilek (sakit tenggorokan, batuk kering dan pilek)
    • Bercak putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan 
    • Demam tinggi
    • Lemas
    • Tidak nafsu makan
    • Diare
    • Mual dan muntah

    Ruam kemerahan pada kulit yang timbul paling lambat 4 hari setelah gejala pertama muncul serta menetap selama 7 hari, dimulai dari belakang telinga, kemudian menyebar ke kepala dan leher hingga akhirnya menyebar keseluruh tubuh.

    Apa Saja Komplikasi Akibat Campak?

    Sahabat Sehat, komplikasi berat akibat campak dapat terjadi terutama pada anak dengan resiko tinggi yang mengalami hal berikut :

    • Usia muda, terutama anak dibawah usia 1 tahun
    • Malnutrisi atau anak dengan gangguan gizi (marasmus dan kwashiorkor)
    • Pemukiman padat penduduk yang lingkungan dan sanitasi nya sangat buruk
    • Anak dengan gangguan imunitas, contohnya pada anak yang terinfeksi HIV, gangguan gizi dan juga keganasan
    • Anak dengan defisiensi vitamin.

    Baca Juga: Gejala Campak yang Dapat Ibu Kenali dan Cara Mencegahnya

    Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada tubuh akibat terinfeksi campak, yakni :

    • Infeksi dan peradangan paru, misalnya bronkopneumonia, laringotraqueobronquitis (croup).
    • Diare yang dapat diikuti dengan kekurangan cairan tubuh (dehidrasi)
    • Infeksi pada telinga (otitis media)
    • Gangguan pada sistem saraf seperti ensefalitis, dan gangguan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) yang merupakan suatu proses degeneratif atau penuaan akibat infeksi virus campak sehingga penderitanya akan mengalami perubahan tingkah laku, keterbelakangan mental, kejang hingga gangguan motorik.
    • Gangguan pada mata (keratitis)
    • Infeksi pada darah (septikemia).

    Apa Saja Pencegahan Campak ?

    Penyakit campak dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi MR (Measles dan Rubella), yang diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun. Selain itu juga dapat diberikan vaksin gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yang merupakan vaksin gabungan untuk mencegah campak, gondongan dan campak jerman, dapat diberikan sebanyak 2 kali pada anak berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Cegah Komplikasi Sakit Campak Pada Anak dengan Vaksinasi

    Nah Sahabat Sehat itulah mengenai berbagai komplikasi akibat campak yang rentan dialami Si Kecil. Untuk mencegah campak, segera berikan imunisasi campak untuk Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia.
    2. Universitas Andalas. Pendahuluan [Internet]. Indonesia : Universitas Andalas.
    3. World Health Organization. Measles [Internet]. USA : World Health Organization.
    4. RSUD Kota Bogor. Campak atau Measles [Internet]. Indonesia : RSUD Kota Bogor.
    5. Gustian R. Campak pada Anak [Internet]. Indonesia : CDK Journal.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com