Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 81–90 of 275 results

  • Di awal kehidupannya, bayi sangat rentan terhadap berbagai penyakit menular karena daya tahan tubuhnya yang masih belum sempurna. Kegemasan keluarga dan kerabat saat melihat bayi biasanya mendorong mereka untuk menyentuh bayi (mencium pipi, menggendong, menyentuh wajah, memegang tangan, dll) membuat risiko penularan semakin tinggi. Untungnya, sebagian penyakit menular bisa dicegah dengan vaksin, terutama untuk penyakit […]

    Anak yang Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?

    Di awal kehidupannya, bayi sangat rentan terhadap berbagai penyakit menular karena daya tahan tubuhnya yang masih belum sempurna. Kegemasan keluarga dan kerabat saat melihat bayi biasanya mendorong mereka untuk menyentuh bayi (mencium pipi, menggendong, menyentuh wajah, memegang tangan, dll) membuat risiko penularan semakin tinggi.

    Untungnya, sebagian penyakit menular bisa dicegah dengan vaksin, terutama untuk penyakit yang memiliki dampak sakit berat hingga kematian. Salah satunya adalah vaksin measles, mumps and rubella (MR/ MMR) yang melindungi bayi dari campak, gondongan dan rubella (campak Jerman).

    Anak yang Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR

    Anak yang Sudah Pernah Kena Campak, Masih Perlu Divaksin MR?

    Memang seperti apa bahayanya campak, gondongan, dan rubella? Bagaimana jika anak sudah pernah terinfeksi campak sebelum waktunya vaksinasi? Yuk simak ulasannya.

    Measles (Campak)

    Measles atau campak adalah infeksi virus menular yang menyerang sistem pernapasan. Virus tersebut menyebar melalui percikan air liur atau lendir yang keluar dari mulut penderita campak. Itulah mengapa tidak disarankan juga untuk meniup makanan atau minuman anak yang masih panas saat menyuapinya.

    Penyakit campak juga mudah menular melalui kontak atau sentuhan langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta menular lewat kebiasaan saling berbagi barang pribadi, seperti pinjam meminjam peralatan makan atau minum yang sama atau berbagi makanan dan minuman. 

    Gejala campak yang perlu diwaspadai:

    • Batuk
    • Muncul ruam merah di kulit
    • Hidung mengeluarkan ingus
    • Demam
    • Bintik putih di mulut (bintik koplik)

    Kondisi campak yang berat dapat menyebabkan pneumonia pada anak (radang paru), kerusakan otak, dan infeksi telinga. Komplikasi fatal lainnya yang juga mungkin muncul adalah ensefalitis (radang otak) yang dapat membuat anak kejang.

    Dapatkan:  Layanan Vaksinasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) di ProSehat

    Mumps (Gondongan)

    Mumps atau parotitis, di Indonesia disebut juga sebagai gondongan, adalah infeksi virus menular yang menyerang kelenjar ludah. Penyakit menular ini dapat menyerang siapa saja, namun paling sering terjadi pada anak berusia 2 – 12 tahun. 

    Virus penyebab gondongan dapat menular melalui percikan air liur yang keluar bersama hembusan nafas saat orang yang terinfeksi bersin atau batuk. Penyakit ini juga mudah menular saat anak bersentuhan langsung atau menggunakan barang penderita gondongan.

    Gejala gondongan yang paling mudah dideteksi adalah pembengkakan kelenjar ludah yang membuat area pipi dan sekitar leher terlihat bengkak, bulat, dan membesar. 

    Berikut gejala gondongan lainnya yang perlu diwaspadai:

    • Demam
    • Sakit kepala
    • Nyeri otot
    • Pembengkakan kelenjar ludah
    • Rasa nyeri dan sakit saat mengunyah dan menelan
    • Nyeri pada wajah atau kedua sisi pipi
    • Sakit tenggorokan

    Virus penyebab gondongan terkadang juga dapat menyebabkan peradangan pada ovarium, testis, pancreas, dan selaput otak. Selain itu, tuli dan meningitis adalah risiko komplikasi lainnya yang mungkin terjadi akibat gondongan.

    Baca Juga: Bahayakah Jika Anak Tidak Menerima Vaksinasi Campak?

    Rubella (Campak Jerman)

    Rubella atau campak Jerman adalah infeksi yang menyebabkan munculnya bintik-bintik merah pada kulit penderitanya. Selain itu, virus rubella juga dapat menyebabkan kelenjar getah bening di belakang telinga membengkak.

    Umumnya gejala rubella muncul sekitar 2-3 minggu setelah tubuh terpapar virus. Gejala sebagai berikut:

    • Demam
    • Sakit kepala
    • Hidung tersumbat atau pilek
    • Mata merah meradang
    • Ruam merah muda halus pada wajah yang cepat menyebar ke batang tubuh, lengan dan kaki, dan akan menghilang dalam urutan yang sama. 
    • Nyeri sendi. 

    Penyakit ini umumnya jarang menyebabkan komplikasi serius. Namun pada beberapa kasus, campak Jerman juga bisa jadi sangat berbahaya apabila terjadi pada wanita hamil karena meningkatkan risiko kecacatan pada janin atau bahkan bayi lahir mati. 

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Vaksin MMR Wajib untuk Anak Kecil dan Balita

    Sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MR pertama kali diberikan pada bayi di usia 9 bulan sebagai dosis primer.

    Setelah suntikan pertama, anak akan menerima dosis booster pada usia 18 minggu, bisa menggunakan jenis vaksin yang sama (MR) atau MMR yang memiliki tambahan daya tahan tubuh terhadap mumps atau gondongan.

    Saat anak berusia 5-7 tahun, ia bisa mendapatkan dosis booster kembali untuk memperbarui dan menambah kekebalan tubuhnya.

    Apa Perlu Vaksin MR/ MMR jika sudah Pernah Campak?

    Vaksinasi MR/ MMR setelah terkena campak/ gondongan/ rubella aman untuk dilakukan. Justru, dengan tetap mendapatkan vaksin MMR, anak menjadi terlindungi terhadap penyakit tersebut di kemudian hari, atau memiliki gejala yang lebih ringan.

    Baca Juga: Seberapa Pentingkah Imunisasi MR Dilakukan?

    Sahabat Sehat, ayo kita lindungi Si Kecil dari penyakit-penyakit menular dengan vaksin yang sudah tersedia luas. Berikan ia daya tahan tubuh yang maksimal agar ia terlindungi semasa tumbuh kembangnya. Jika jadwal vaksinasinya terlewat, si Kecil masih bisa kejar imunisasi. Konsultasikan dengan dokter dari ProSehat untuk jadwal vaksinasi.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan ProSehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. cdc.gov. 2022. vaccine mmr.
    2. Idai.or.id. 2022. IDAI | Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR). [
    3. Mayo Clinic. 2022. Rubella – Symptoms and causes.
    4. cdc.gov. 2022. mmr vaccine.
    5. Immunize.org. 2022. indonesian mmr.
    6. nhs.uk. 2022. MMR (measles, mumps and rubella) vaccine.
    Read More
  • Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Campak merupakan infeksi menular saluran napas yang disebabkan oleh virus. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih berisiko tertular penyakit ini. […]

    Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Campak merupakan infeksi menular saluran napas yang disebabkan oleh virus. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih berisiko tertular penyakit ini.

    Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Risiko Penyakit Campak

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa kelompok anak yang berisiko tinggi tertular campak yaitu:

    1. Anak yang belum divaksin campak.
    2. Ibu hamil yang tidak divaksinasi.

    Campak masih kerap terjadi di beberapa negara berkembang terutama pada beberapa negara bagian Afrika dan Asia. Sebagian besar (lebih dari 95%) kematian akibat komplikasi campak terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan infrastruktur kesehatan yang lemah.

    Dapatkan:  Layanan Vaksinasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) di ProSehat

    Bagaimana Penularan Campak?

    Campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Campak menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi atau kontak langsung dengan sekresi atau cairan hidung dan tenggorokan dari pasien yang terinfeksi.

    Virus tetap aktif dan dapat ditemukan di udara atau permukaan benda hingga mencapai 2 jam. Virus dapat ditularkan oleh penderita campak sejak 4 hari sebelum munculnya ruam kemerahan pada kulit hingga 4 hari setelah ruam kemerahan mereda.

    Bagaimana Cara Mencegah Campak?

    Penyakit campak dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi MR (Measles dan Rubella), yang diberikan pada saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun.

    Selain itu juga dapat diberikan vaksin gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yakni vaksin gabungan untuk campak, gondongan dan campak jerman. Vaksin MMR dapat diberikan sebanyak 2 kali pada anak berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Seberapa Pentingkah Imunisasi MR Dilakukan?

    Apa Perbedaan Vaksinasi MR dan MMR?

    Saat berusia kurang dari 1 tahun, terdapat berbagai jenis imunisasi dasar yang harus diberikan, salah satunya adalah vaksin measles (campak) dan rubella (campak jerman) atau vaksin MR.

    Perbedaan dari kedua vaksin tersebut hanyalah cakupan penyakit yang dicegah. Vaksin MR hanya bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit campak dan rubella, sedangkan vaksin MMR dapat mengatasi kedua masalah kesehatan tersebut ditambah dengan mencegah penyakit gondongan.

    Komplikasi Gondongan, Campak, dan Rubella

    Pemberian vaksinasi MMR maupun vaksin MR sangat diperlukan karena dapat mencegah Si Kecil menderita campak, gondongan dan cacar jerman (rubella) serta komplikasi nya. Berikut adalah beberapa komplikasinya: 

    Campak

    Campak dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi telinga, radang paru dan radang otak

    Gondongan

    Gondongan dapat menyebabkan komplikasi seperti radang selaput otak, gangguan pendengaran permanen dan radang buah zakar yang dapat menimbulkan kemandulan bagi pria.

    Rubella

    Komplikasi penyakit rubella cukup serius karena dapat menyebabkan cacat lahir pada janin atau disebut dengan sindrom rubella kongenital.

    Baca Juga: Bahayakah Jika Anak Tidak Menerima Vaksinasi Campak?

    Nah Sahabat Sehat, itulah perbedaan imunisasi MR dan MMR. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat. 

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR).
    2. Universitas Andalas. Pendahuluan.
    3. World Health Organization. Measles.
    4. RSUD Kota Bogor. Campak atau Measles.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. MMR or MMRV Vaccine: Discussing Options with Parents.
    Read More
  • Imunisasi BCG atau Bacillus Calmette-Guerin adalah salah satu jenis imunisasi wajib bagi bayi yang diberikan saat ia baru lahir atau sebelum berusia 1 bulan. Imunisasi ini diberikan agar bayi memiliki kekebalan tubuh terhadap kuman penyebab tuberkulosis yang masih banyak ditemui di Indonesia. Seperti bayi pada umumnya, si Kecil pasti menangis dan rewel selama beberapa saat […]

    Begini Tips Mengatasi Si Kecil Rewel Setelah Imunisasi BCG

    Imunisasi BCG atau Bacillus Calmette-Guerin adalah salah satu jenis imunisasi wajib bagi bayi yang diberikan saat ia baru lahir atau sebelum berusia 1 bulan. Imunisasi ini diberikan agar bayi memiliki kekebalan tubuh terhadap kuman penyebab tuberkulosis yang masih banyak ditemui di Indonesia.

    Begini Tips Mengatasi Si Kecil Rewel Setelah Imunisasi BCG

    Begini Tips Mengatasi Anak Rewel Setelah Imunisasi BCG

    Seperti bayi pada umumnya, si Kecil pasti menangis dan rewel selama beberapa saat setelah disuntik. Tapi Moms tak perlu khawatir, karena rewel dan menangis pasca imunisasi sangat wajar sebab ia merasa sakit dan tidak nyaman.

    Berbeda dengan imunisasi lainnya yang menyuntikkan vaksin ke dalam otot, penyuntikan imunisasi BCG disuntikkan ke bagian bawah kulit sehingga terasa sedikit lebih sakit dari biasanya. Ini karena bagian bawah kulit memiliki banyak saraf. Setelah penyuntikan, akan tampak pembengkakan kecil di lokasi bekas penyuntikannya.

    Dapatkan: Layanan Imunisasi BCG dari ProSehat

    Lalu bagaimana cara mengatasi anak rewel setelah imunisasi? Simak ulasannya di bawah ini.

    Mengapa Si Kecil Rewel Setelah Imunisasi BCG?

    Umumnya, bayi yang baru diberi imunisasi BCG akan menjadi lebih rewel dari biasanya. Hal ini bisa saja terjadi sebagai efek samping dari suntikan. Nah, sebelum memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya, Mama juga perlu tahu apa saja yang menjadi penyebab anak menjadi rewel atau sering menangis. Berikut beberapa kondisi umum yang menjadi penyebabnya, diantaranya:

    • Demam

    Salah satu efek samping yang paling umum setelah imunisasi adalah demam. Peningkatan suhu tubuh ini diakibatkan oleh masuknya vaksin ke dalam tubuh anak. Biasanya ia akan demam beberapa jam setelah diimunisasi. Demam bisa menjadi penanda bahwa tubuhnya beraksi terhadap vaksin dan sedang membentuk kekebalan tubuh.

    • Panik

    Panik merupakan faktor psikologi penyebab ketidaknyamanan. Selain panik karena rasa sakit saat disuntik, kepanikan dan kekhawatiran orang tua juga bisa menjadi penambah kepanikan anak. Sebab ikatan ibu dan anak sangat kuat.

    • Bekas luka suntikan

    Selain rasa sakit, bekas suntikan imunisasi juga dapat menimbulkan sensasi pegal dan nyeri di lokasi penyuntikan, terutama pada imunisasi BCG. Meski demikian, luka dan rasa nyeri pasca imunisasi BCG ini dapat hilang dengan sendirinya dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari. 

    Baca Juga: Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Tips Mengatasi Anak Rewel Setelah Imunisasi

    Meski dapat pulih dengan sendirinya, namun anak yang rewel dan menangis dapat membuat Moms khawatir dan tidak tega melihatnya. Untuk mengatasinya, Moms dapat melakukan beberapa tips dibawah ini

    • Pantau kondisi anak

    Ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer. Apabila suhu tubuhnya lebih dari 37,5 derajat Celcius, berikan kompres air hangat di dahi dan pada bekas luka suntikannya. Pastikan pula si Kecil memakai pakaian yang nyaman, longar, dan mudah menyerap keringat. Sehingga ia dapat beristirahat dengan lebih nyaman dan tenang. Berikan obat penurun demam bila suhu tubuh mencapai 38 derajat Celcius atau lebih.

    • Ciptakan suasana yang tenang

    Suasana yang tenang dapat memberikan ketenangan pula bagi anak. Moms bisa menggendong si Kecil untuk bantu menenangkannya, mengatur suhu ruangan agar sejuk, pakaikan pakaian yang nyaman untuknya, dan temani ia hingga tertidur. Tidak hanya Moms akan membuatnya nyaman dan tenang, anak pun akan merasa aman sehingga bonding ibu dan anak juga tercipta. 

    • Beri minum yang cukup

    Beri susu (ASI atau formula) yang cukup. Usahakan Moms menyusui si Kecil sebelum dan setelah melakukan imunisasi. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips mengatasi anak rewel setelah  imunisasi BCG. Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan produk imunisasi, pemeriksaan Covid-19, maupun produk multivitamin, segera manfaatkan layanan vaksinasi Prosehat. Layanan Prosehat mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. The Chart. The ‘5 S’s’: Easing baby pain after vaccine shots. USA : The Chart.
    2. KidsHealth. How Can I Comfort My Baby During Shots? (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    3. Healthline. Dissociative Identity Disorder: Symptoms and Treatment.
    Read More
  • Sahabat Sehat, salah satu imunisasi wajib untuk Si Kecil adalah imunisasi Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Pemberian imunisasi BCG dinilai paling efektif ketika bayi baru lahir atau paling lambat sebelum berusia 3 bulan, yang bertujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). Imunisasi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi sel penghasil antibodi sehingga melindungi tubuh dari infeksi bakteri […]

    Terlambat Imunisasi BCG? Ini yang Harus Dilakukan!

    Sahabat Sehat, salah satu imunisasi wajib untuk Si Kecil adalah imunisasi Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Pemberian imunisasi BCG dinilai paling efektif ketika bayi baru lahir atau paling lambat sebelum berusia 3 bulan, yang bertujuan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). Imunisasi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi sel penghasil antibodi sehingga melindungi tubuh dari infeksi bakteri TBC.

    Terlambat Imunisasi BCG Ini yang Harus Dilakukan!

    Terlambat Imunisasi BCG Ini yang Harus Dilakukan!

    Pentingnya Imunisasi BCG untuk Si Kecil

    Bakteri tuberkulosis dapat menyerang paru-paru, tulang, ginjal, hingga selaput otak (meningen). Imunisasi BCG penting diberikan untuk Si Kecil sebab bakteri tuberkulosis mudah menular melalui cipratan air liur (droplet), yang tersebar saat penderita TBC bersin atau batuk. Semua anak berusia 6 tahun atau lebih yang akan diberi imunisasi BCG harus melakukan pemeriksaan Tuberkulin lebih dulu untuk mengetahui hipersensitivitasnya terhadap tuberkuloprotein. 

    Dapatkan: Paket Imunisasi Bayi 2 Bulan ke Rumah dari ProSehat

    Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Imunisasi BCG

    Lokasi penyuntikan imunisasi BCG adalah pada bagian lengan atas. Meski termasuk dalam jenis imunisasi wajib, ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan pemberian imunisasi  BCG ditunda yaitu: 

    • Demam
    • Infeksi kulit
    • Gangguan pada kekebalan tubuh
    • Sedang mengalami efek samping dari obat-obatan, misalnya obat penekan sistem imun
    • Memiliki riwayat alergi atau reaksi anafilaktik terhadap komposisi imunisasi BCG
    • Riwayat menderita tuberkulosis atau tinggal serumah dengan penderita tuberkulosis yang tidak menjalani pengobatan. 

    Imunisasi BCG merupakan langkah penting dalam mencegah dan melindungi kesehatan Si Kecil dari penyakit tuberkulosis. 

    Bagaimana Jika Si kecil Terlambat Diberikan Imunisasi BCG? 

    Sahabat Sehat tidak perlu khawatir apabila Si Kecil telat mendapatkan imunisasi BCG sebab, Si Kecil tetap dapat menerima imunisasi dengan beberapa ketentuan.

    Jika Si Kecil berusia diatas 3 bulan, harus melakukan tes tuberkulin (Tes Mantoux) terlebih dahulu sebelum mendapatkan vaksin BCG. Jika muncul benjolan merah pada area penyuntikan, hal ini menunjukan bahwa kulit bereaksi terhadap antigen yang artinya Si Kecil sudah pernah terpapar kuman tuberkulosis sebelumnya.

    Tetapi jika hasil tes menunjukan negatif, maka Si Kecil dapat diberikan imunisasi BCG.

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya

    Tips Agar Si Kecil Tidak Terlambat Diberi Imunisasi

    Rutinitas sehari-hari sering kali membuat orang tua sibuk hingga terkadang lupa jadwal imunisasi Si Kecil. Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dapat dilakukan agar Sahabat Sehat tidak melewatkan jadwal imunisasi Si Kecil :

    • Catat jadwal imunisasi

    Dengan mencatat jadwal imunisasi, Sahabat Sehat lebih mudah mengetahui imunisasi apa saja yang sudah Si Kecil dapatkan. Catat jadwal tersebut di kalender ponsel maupun di buku agenda harian 

    • Baca buku kesehatan ibu dan anak

    Pasti Sahabat Sehat memiliki buku kesehatan yang biasa didapatkan dari rumah sakit. Jika iya, jangan malas membaca buku tersebut sebab didalamnya berisi informasi penting mengenai imunisasi (jadwal imunisasi, cara pemberian, hingga penanganan efek samping pasca imunisasi), serta tips membuat makanan pendamping ASI. 

    • Koordinasi dengan fasilitas kesehatan yang dikunjungi

    Beberapa fasilitas kesehatan memberi kemudahan, seperti mengingatkan jadwal kunjungan imunisasi selanjutnya. Maka buatlah janji untuk kunjungan berikutnya agar nama Si kecil masuk ke dalam daftar kunjungan, dengan begitu pihak klinik atau fasilitas kesehatan akan mengirimkan  pesan singkat untuk mengingatkan Sahabat Sehat satu atau dua hari sebelum jadwal imunisasi. 

    Baca Juga: Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pemberian imunisasi BCG. Meski Si kecil telat di imunisasi, sebaiknya tetap lengkapi jadwal imunisasi yang ada. Lebih baik terlambat daripada tidak mendapatkan imunisasi sama sekali. 

    Di masa pandemi, tidak jarang para orang tua menunda imunisasi sebab enggan membawa Si Kecil ke posyandu maupun rumah sakit. Jika Sahabat Sehat memerlukan imunisasi untuk Si Kecil, segera manfaatkan layanan imunisasi ke rumah dari Prosehat. Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica Cynthia Dewi

     

    Referensi

    1. BPOM. VAKSIN BCG [Internet]. Indonesia : BPOM. 2021.
    2. Idai.or.id. 2021. IDAI | Jadwal Imunisasi IDAI 2020.
    3. nhs.uk. 2021. BCG vaccine for tuberculosis (TB) overview.
    4. En.wikipedia.org. 2021. BCG vaccine – Wikipedia.
    5. GOV.UK. 2021. TB, BCG and your baby.
    6. nhs.uk. 2021. BCG vaccine for tuberculosis (TB) overview.
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica C Sahabat Sehat, baru-baru ini beberapa sekolah telah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Namun berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) per 20 September 2021 dari 46.500 sekolah, terdapat 2,8 % atau sekitar 1.296 sekolah yang melaporkan terjadinya klaster Covid-19.  Klaster Covid-19 Pada Tiap Tingkat Sekolah […]

    Baru Mulai Sekolah Tatap Muka, Ribuan Siswa Terinfeksi Covid

    Ditulis oleh : dr. Monica C

    Protokol Mencuci Tangan saat Sekolah Tatap Muka untuk Mencegah Terjadinya Klaster Covid

    Protokol Mencuci Tangan saat Sekolah Tatap Muka untuk Mencegah Terjadinya Klaster Covid

    Sahabat Sehat, baru-baru ini beberapa sekolah telah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Namun berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) per 20 September 2021 dari 46.500 sekolah, terdapat 2,8 % atau sekitar 1.296 sekolah yang melaporkan terjadinya klaster Covid-19. 

    Klaster Covid-19 Pada Tiap Tingkat Sekolah

    Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbud Ristek, Jumeri mengungkapkan bahwa klaster Covid-19 paling banyak terjadi pada tingkat sekolah dasar, yaitu mencapai 2,78 % dengan total guru dan tenaga kependidikan mencapai 3.174 orang terinfeksi Covid-19 dari total 581 klaster sekolah dasar. Sementara peserta didik yang positif Covid-19 mencapai 6.908 orang.

    Selanjutnya klaster Covid-19 di tingkat sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berjumlah 251 sekolah atau 1,91%. Adapun jumlah guru dan siswa PAUD yang terkonfirmasi Covid-19 masing-masing sebanyak 956 pendidik dan 2.006 peserta didik.

    Disusul klaster Covid-19 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mencapai 244 sekolah atau 3,42 %. Jumlah guru dan siswa SMP yang terinfeksi Covid-19 selama PTM terbatas masing-masing mencapai 1.482 orang guru dan 2.201 orang siswa.

    Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) ditemukan klaster penularan Covid-19 mencapai 109 sekolah atau 4,55 % dengan rincian 797 orang guru dan 1.934 orang siswa yang telah terkonfirmasi menderita Covid-19.

    Akankah Pembelajaran Tatap Muka Dihentikan?

    Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan menghentikan PTM terbatas meski ditemukan 1.000 lebih sekolah yang menjadi klaster penularan Covid-19.

    Namun Nadiem memastikan bahwa Kemendikbud Ristek akan tetap memonitor kasus penyebaran dan penularan Covid-19 di sekolah yang telah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Bagi sekolah yang menggelar PTM terbatas harus segera menutup kegiatan pembelajaran apabila ditemukan kasus Covid-19 di lingkungannya.

    Tips Si Kecil Tetap Sehat di Masa Pandemi Covid-19

    Agar Si Kecil tetap sehat di masa pandemi Covid-19, khususnya jika jika harus melakukan sekolah tatap muka, Sahabat Sehat sebaiknya memperhatikan berbagai hal berikut:

    Asupan Makanan

    Beri makanan bergizi seimbang, seperti buah, sayur, susu, maupun multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hindari memberikan makanan yang dapat menurunkan daya tahan tubuhnya seperti gorengan, dan makanan tinggi lemak.

    Atur Waktu Istirahat

    Pastikan anak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Tujuannya agar daya tahan tubuh meningkat dan Si Kecil terhindar karena kebal dari infeksi berbagai penyakit.

    Penggunaan Masker

    Mulai ajarkan Si Kecil menggunakan masker agar terbiasa saat memulai pembelajaran tatap muka. Pastikan dia memahami bagaimana menggunakan masker yang baik dan benar. Namun pastikan juga agar si kecil merasa nyaman selama menggunakan masker. Oleh sebab itu, pilihlah masker yang sesuai dengan ukuran si kecil.

    Imunisasi

    Si kecil tetap perlu diberikan imunisasi sesuai jadwal untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menghindari infeksi berbagai penyakit. Selain vaksin Covid-19, imunisasi seperti imunisasi flu sangat diperlukan saat sekolah tatap muka di masa pandemi.

    Terapkan Protokol Kesehatan dengan Ketat

    Terapkan protokol kesehatan sepulangnya Si Kecil dari sekolah, misalnya mengganti pakaian serta membersihkan tas dan peralatan lainnya yang digunakan selama di sekolah.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai angka kasus Covid-19 yang meningkat di klaster sekolah seiring dengan dimulainya pembelajaran tatap muka. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil, Sahabat Sehat dapat memberikan multivitamin maupun pelayanan imunisasi ke rumah dari Prosehat.

    Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik https://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Putra N. HEADLINE: 1.303 Sekolah Jadi Klaster Covid-19 Selama PTM Terbatas, Penanganannya? [Internet]. Indonesia : Liputan 6. 2021 [updated 2021 Sep 24; cited 2021 Sep 24].
    2. Sagita N. 1.296 Sekolah Catat Klaster Baru COVID-19, Siswa SD Paling Banyak Tertular [Internet]. Indonesia : Detik Health. 2021 [updated 2021 Sep 22; cited 2021 Sep 24].
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Saat ini anak kecil sudah boleh untuk naik kereta ataupun masuk dalam mall. Namun tentunya dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Ya, meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlaku dari 21 September hingga 4 Oktober, namun terdapat beberapa perubahan aturan dan beberapa kelonggaran. […]

    5 Syarat Agar Anak Kecil Boleh Naik Kereta dan Masuk Mall

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Syarat Anak Boleh Masuk Mall ataupun Naik Kereta Api

    Saat ini anak kecil sudah boleh untuk naik kereta ataupun masuk dalam mall. Namun tentunya dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Ya, meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlaku dari 21 September hingga 4 Oktober, namun terdapat beberapa perubahan aturan dan beberapa kelonggaran. Dengan demikian, tidak semua anak kecil boleh naik kereta ataupun masuk mall.

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan bahwa ada sejumlah perubahan dalam ketentuan perpanjangan PPKM 21 September hingga 4 Oktober ini. Kebijakan tersebut berkaitan dengan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No.43 tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, level 3, level 2 Coronavirus Disease 2019 di wilayah jawa-Bali.

    Syarat Agar Anak-Anak Boleh Naik Kereta dan Masuk Mall

    Jika pada aturan PPKM sebelum 21 September anak-anak tidak boleh naik kereta dan masuk mall, namun kini aturan tersebut sudah agak dilonggarkan. Anak kecil boleh masuk mall dan naik kereta asalkan memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:

    Berusia di Atas 12 Tahun

    Hanya mereka yang berusia di atas 12 tahun boleh menggunakan transportasi umum seperti kereta api. Begitu juga untuk masuk mall, hanya anak-anak berusia 12 tahun ke atas yang boleh masuk ke pusat perbelanjaan modern seperti mall.

    Untuk anak-anak berusia di bawah 12 tahun masih boleh masuk ke dalam pusat perbelanjaan namun dengan syarat harus didampingi oleh orang tua dan wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan ini bersifat uji coba dan bisa berubah sewaktu-waktu berdasarkan evaluasi dari pemerintah.

    Harus Sudah Vaksin Covid-19

    Berusia 12 tahun atau lebih saja tidak cukup. Masyarakat umum, terutama anak-anak wajib sudah divaksin minimal dosis pertama agar boleh naik kereta maupun masuk ke dalam mall. Hal yang menarik adalah bahwa jika belum divaksin karena memiliki riwayat penyakit (komorbid) atau karena baru saja sembuh dari Covid maka masih boleh masuk mall dengan syarat menunjukkan surat keterangan dari rumah sakit.

    Tambahan: Jika hendak naik kereta untuk perjalanan jauh, anak kecil wajib menyertakan juga hasil PCR/Swab Antigen dengan hasil negatif.

    Wajib Menggunakan Aplikasi Peduli Lindungi

    Setelah mendapatkan vaksin, pengunjung mall juga perlu mengunduh aplikasi Peduli Lindungi. Melalui aplikasi Peduli Lindungi, Sahabat Sehat akan mendapatkan sertifikat vaksin yang dapat digunakan saat memasuki kawasan mall. 

    Nantinya Sahabat Sehat akan diminta untuk melakukan scan QR code yang telah disediakan pengelola mall di area pintu masuk. Jika telah memenuhi semua persyaratan maka pengunjung diperbolehkan masuk mall. Jangan lupa untuk check-out kembali menggunakan aplikasi Peduli Lindungi saat meninggalkan mall.

    Mematuhi Protokol Kesehatan

    Agar diperbolehkan menggunakan transportasi kereta api, anak-anakpun harus tetap mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker dengan baik dan benar, serta menghindari kerumunan. Selain itu juga wajib duduk pada tempat yang sudah disediakan dengan memperhatikan jarak antar penumpang.

    Begitu juga untuk masuk mall. Wajib mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan yang mungkin terjadi di dalam mall.

    Mengikuti Aturan Pihak Mall dan KAI

    Kapasitas pengunjung mall saat ini masih dibatasi maksimal 50% dengan jam operasional mall yang buka hingga pukul 21.00 waktu setempat. Makan ditempat untuk restoran yang berada di dalam bangunan mall masih diperbolehkan dengan durasi 60 menit dengan kapasitas maksimum 50%. Walaupun anak-anak, persyaratan ini wajib dipatuhi.

    Sementara itu, PT KAI memiliki aturan bahwa penumpang harus menunjukkan NIK. Untuk anak-anak yang tidak memiliki NIK akan dimintai menunjukkan sertifikat vasin beserta dengan kartu vaksin. Selama di dalam kereta, anak-anak wajib mengikuti arahan dari petugas.

    Syarat Menonton Bioskop di Dalam Maall

    Kabar terbaru, bioskop pada wilayah PPKM level 2 dan 3 juga telah mendapat izin untuk kembali beroperasi dengan kapasitas pengunjung maksimum 50% dan menggunakan aplikasi Peduli Lindungi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

    Anak-anak boleh ikut menonton bioskop di dalam mall dengan syarat tetap menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan secara ketat selama di dalam mall. Namun sebaiknya anak-anak tetap mendapat pengawasan orang tua selama di dalam bioskop.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai informasi terkini perihal aturan PPKM periode 21 September hingga 4 Oktober 2021. Sejalan dengan pembaharuan kebijakan tersebut, Pemerintah terus menghimbau kepada masyarakat agar sekali lagi tidak terhanyut dengan euforia aturan baru PPKM terbaru.

    Jika Sahabat Sehat memerlukan pemeriksaan Covid-19 baik ke rumah maupun di Klinik Kasih, segera manfaatkan layanan Prosehat. Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Fatimah S. Jangan Lupa, Ini Syarat Masuk mall Terbaru di Masa PPKM [Internet]. Indonesia :  Detik Finance. 2021 [updated 2021 Sep 14; cited 2021 Sep 22].
    2. Anwar M. PPKM Diperpanjang, Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk mall [Internet]. Indonesia : Kompas. 2021 [updated 2021 Sep 20; cited 2021 Sep 22].
    3. Muhammad A. Simak Aturan Masuk mall dan Pusat Perbelanjaan Terbaru di Masa PPKM Level 3 [Internet]. 2021 [updated 2021 Sep 21; cited 2021 Sep 22]. Indonesia : SINDOnews.com.
    4. CNN Indonesia. Syarat Anak-anak Boleh ke mall di Era Pelonggaran PPKM [Internet]. Indonesia : CNN Indonesia. 2021 [updated 2021 Sep 21; cited 2021 Sep 22].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Cara mengatasi anak yang rewel dengan langsung memenuhi permintaannya hanya membuat dia jadi semakin manja. Juga semakin mudah tantrum. Oleh sebab itu, sebagai orang tua bukan hanya mendiamkan si kecil yang rewel, namun juga membuat si kecil menjadi pribadi yang tidak […]

    7 Cara Ampuh Mengatasi Anak yang Rewel dan Mudah Tantrum

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Cara Mengatasi Anak yang Rewel dengan Pendekatan Persuasif

    Cara mengatasi anak yang rewel dengan langsung memenuhi permintaannya hanya membuat dia jadi semakin manja. Juga semakin mudah tantrum. Oleh sebab itu, sebagai orang tua bukan hanya mendiamkan si kecil yang rewel, namun juga membuat si kecil menjadi pribadi yang tidak lagi rewel, lebih bertanggung jawab, dan jauh lebih mandiri.

    Bagaimana langkah yang benar dalam mengatasi perilaku si kecil yang mudah rewel? Apa yang harus dilakukan jika si kecil terus merengek, rewel, dan tantrum?

    Cara Mengatasi Anak yang Rewel

    Saat Si Kecil masih bayi, orang tua akan menganggap bila bayi rewel dan sering menangis merupakan hal yang sangat wajar karena bayi masih belum dapat mengekspresikan perasaan mereka selain dengan cara menangis.

    Namun Sahabat Sehat perlu mengetahui bahwa ternyata pola asuh yang kurang tepat turut menjadi penyebab Si Kecil menjadi mudah rewel atau cengeng. Anak yang terlalu dilindungi dan tidak diberikan kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri akan tumbuh menjadi pribadi yang cengeng. Selain itu, anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya dapat mengakibatkan kurang percaya diri dan mudah cengeng. Perasaan dan emosi Si Kecil kadang kala sulit ditebak.

    Penting sekali bagi Sahabat Sehat untuk  mengambil langkah yang tepat agar si kecil tidak lagi mudah rewel. Berikut ini beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah untuk mengatasi Si Kecil yang rewel:

    Buat Si Kecil Nyaman

    Pada usia anak 2-4 tahun, Si Kecil masih dalam tahap mengenal dan mempelajari emosi yang ada didalam dirinya. Terkadang Si Kecil tidak mengerti cara untuk mengungkapkan perasaannya sehingga mereka akan menangis atau rewel secara tiba-tiba. Berikan rasa hangat dan peluk Si Kecil agar merasa nyaman.

    Jangan Berteriak atau Membentak Si Kecil 

    Jika Si Kecil rewel, sebaiknya diam dan bersabar. Jangan membentak Si Kecil yang sedang marah atau menangis karena akan memperparah keadaan.4 Jika Sahabat Sehat berhasil mengendalikan emosi, nantinya Si Kecil akan meniru cara orang tua mengatasi emosi.

    Minta Si Kecil Menjelaskan Perasaannya

    Setelah Si Kecil tenang, secara perlahan mintalah Si Kecil menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Berikan pengertian bahwa saat meminta sesuatu atau merasakan sesuatu tidak perlu diucapkan dengan emosi atau menangis. Ajarkan Si Kecil untuk mengungkapkan emosinya secara perlahan.

    Mengalihkan Emosi

    Agar Si Kecil tidak merengek terus menerus, alihkan energinya dengan melakukan aktivitas lain misalnya berolahraga, menggambar, atau bernyanyi. Jika memungkinkan, gendong si kecil, dan goda dia dengan mengayun-ayunkan si kecil.

    Berikan Pujian Saat Si Kecil Tidak Menangis

    Setelah Si Kecil berhasil mengendalikan emosinya, berikan pujian atau ucapan terima kasih karena Si Kecil tidak rewel. Dengan adanya pujian ini, si kecil akan terbiasa untuk lebih mandiri karena dia merasa perilaku mandirinya akan lebih dihargai oleh orang tuanya.

    Ajak Si Kecil untuk Lebih Disiplin

    Biasanya malas menjadi kepribadian anak yang mudah rewel dan menangis. Hasilnya, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak disiplin. Oleh sebab itu, si kecil perlu diajarkan untuk hidup lebih disiplin. Misalnya sehabis bangun harus merapikan tempat tidurnya sendiri. Sebelum tidur harus menggosok gigi, dan harus berdoa sebelum serta setelah makan. Latihan-latihan kedisiplinan ringan ini akan membantu si kecil tidak lagi mudah rewel dan tantrum.

    Hindari Terlalu Memanjakan Si Kecil

    Sahabat Sehat tentu ingin agar si kecil menghentikan tangis ataupun tantrum yang sedang dia lakukan. Namun tentunya bukan dengan langsung mengalah dan memberikan apa mau si kecil. Ajarkan pada si kecil mengapa permintaannya tidak bisa dipenuhi saat ini, dan berikan syarat agar permintaannya bisa dipenuhi. Misal dia ingin memiliki sebuah boneka berukuran besar, Sahabat Sehat bisa menjanjikan memberi boneka tersebut dengan syarat si kecil rajin menggosok gigi sebelum tidur selama sebulan penuh.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips dan cara mengatasi anak yang rewel dan mudah tantrum. Pastikan agar si kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan semakin mandiri. Dengan demikian, akan menjadi bekalnya di masa dewasa nanti.

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. theAsianparent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : theAsianparent; [cited 23 August 2021].
    2. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    3. Herliafifah R. 7 Tips Jitu Mengatasi Anak Cengeng Tanpa Drama [Internet]. Indonesia : Hello Sehat; [cited 23 August 2021].
    4. The Times of India. How to deal with a cranky toddler [Internet]. India : The Times of India. 2019 [updated 2019 Dec 06; cited 23 August 2021].
    5. Trillium School. 8 Ways to Calm Down a Cranky Kid [Internet]. USA : Trillium School; [cited 23 August 2021].
    6. Banks C. Angry Child Outbursts: 10 Essential Rules for Dealing with an Angry Child [Internet]. USA : Empowering Parents; [cited 23 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Sebenarnya faktor risiko penyebab bayi kuning setelah lahir bisa terdeteksi sejak dini. Juga dapat dicegah dengan beberapa prosedur. Misalnya dengan memperhatikan kesehatan ibu hamil sehingga tidak sampai harus melahirkan dalam kondisi prematur. Atau dengan melakukan perencanaan kehamilan dengan matang ketika ibu memiliki rhesus negatif, sementara rhesus darah sang […]

    Penyebab Bayi Kuning Setelah Lahir dan Cara Mencegahnya

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Penumpukan Bilirubin pada Darah yang Menjadi Penyebab Bayi Kuning Setelah Lahir

    Sebenarnya faktor risiko penyebab bayi kuning setelah lahir bisa terdeteksi sejak dini. Juga dapat dicegah dengan beberapa prosedur. Misalnya dengan memperhatikan kesehatan ibu hamil sehingga tidak sampai harus melahirkan dalam kondisi prematur. Atau dengan melakukan perencanaan kehamilan dengan matang ketika ibu memiliki rhesus negatif, sementara rhesus darah sang suami adalah positif.

    Sahabat Sehat mungkin tidak asing dengan istilah “bayi kuning” yang kerap dialami bayi baru lahir. Neonatal jaundice atau yang biasa dikenal sebagai penyakit kuning pada bayi merupakan kondisi adanya perubahan warna kulit dan mata bayi yang terlihat kuning. Sahabat Sehat, apa penyebab kondisi ini dan bagaimana cara mencegahnya ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Bayi Kuning Setelah Lahir

    Neonatal jaundice terjadi akibat darah bayi mengandung zat bilirubin dalam jumlah yang berlebihan. Penyakit kuning pada bayi merupakan kondisi umum dialami terutama pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 38 minggu (bayi prematur), dan pada beberapa bayi yang diberikan susu formula.

    Penyakit biasanya terjadi karena hati bayi belum cukup matang untuk menyingkirkan bilirubin dalam aliran darah. Bayi beresiko tinggi menderita penyakit kuning, jika mengalami berbagai kondisi berikut :

    • Bayi lahir prematur, yaitu sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu
    • Bayi kurang minum asi maupun susu formula
    • Perdarahan pada saat proses bersalin
    • Gangguan hati
    • Infeksi dalam tubuh
    • Penyebab lain, seperti gangguan enzim dan abnormalitas sel darah merah
    • Rhesus darah ibu adalah negatif, sementara sang ayah adalah positif

    Gejala Bayi Kuning

    Sahabat Sehat dapat mendeteksi penyakit kuning dari kulit dan mata Si Kecil, yang mulai tampak pada hari ke 2-4 sejak dilahirkan. Warna kekuningan dapat mulai terlihat pada area wajah (biasanya kulit dan bagian putih mata bayi) dan kemudian meluas ke seluruh tubuh. Kadar bilirubin meningkat mulai pada hari ke 3-7 sejak dilahirkan.

    Urine bayi yang mengalami gejala bayi kuning biasanya berwarna kuning pekat. Untuk tinjanya akan berwarna lebih pucat. Selain itu, telapak tangan bayi dan telapak kakinya yang seharusnya putih kemerahan justru tampak berwarna kekuningan.

    Bayi yang mengalami bayi kuning setelah dilahirkan perlu mendapat pertolongan segera. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan bayi mengalami komplikasi serius seperti:

    • Kerusakan otak akibat penumpukan bilirubin (kernikterus)
    • Cerebral Palsy
    • dan Gangguan Pendengaran

    Tips Mencegah dan Mengatasi Penyakit Bayi Kuning

    Untuk mencegah bayi menderita penyakit kuning, Sahabat Sehat dianjurkan memberikan susu yang cukup sebanyak 8 hingga 12 kali per hari selama beberapa hari pertama kehidupannya agar tubuh tidak kekurangan cairan sehingga bilirubin dapat dikeluarkan dari tubuh. 

    Jangan lupa menjemur Si Kecil di bawah sinar matahari pagi karena dapat membantu menurunkan kadar bilirubin. Pantau kondisi Si Kecil secara berkala, dan konsultasikan dengan dokter jika kulit dan mata Si Kecil terlihat kuning. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab bayi kuning serta cara mengatasinya. Untuk mendeteksi penyakit kuning pada bayi, Sahabat Sehat dapat melakukan pemeriksaan darah yang meliputi pemeriksaan bilirubin, golongan darah, serta pemeriksaan darah lainnya. 

    Jika Sahabat Sehat berminat melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi ada tidaknya faktor risiko penyebab bayi kuning setelah lahir maka segera manfaatkan layanan Paket Pemeriksaan Bayi Kuning In Clinic yang dapat dilakukan di Prosehat. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Moores D. Understanding Newborn Jaundice [Internet]. USA : Healthline. 2017 [updated 2017 July 25; cited 2021 Sep 04].
    2. National Health Service. Newborn Jaundice [Internet]. UK : National Health Service. 2018 [updated 2018 Sep 04; cited 2021 Sep 04]. 
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Pada umumnya cara mengatasi muntaber pada anak adalah dengan memberikannya larutan oralit. Namun oralit saja sebenarnya belum cukup. Ada beberapa langkah lanjutan agar si kecil terhindar dari dehidrasi akibat muntaber dan bisa benar-benar sembuh. Selain memberikan si kecil larutan oralit, Sahabat […]

    Langkah Awal Cara Mengatasi Muntaber pada Anak di Rumah

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Penanganan Awal Cara Mengatasi Muntaber pada Anak

    Pada umumnya cara mengatasi muntaber pada anak adalah dengan memberikannya larutan oralit. Namun oralit saja sebenarnya belum cukup. Ada beberapa langkah lanjutan agar si kecil terhindar dari dehidrasi akibat muntaber dan bisa benar-benar sembuh.

    Selain memberikan si kecil larutan oralit, Sahabat Sehat juga perlu mengetahui apa penyebab si kecil mengalami muntaber. Dengan demikian, Sahabat Sehat dapat melakukan pencegahan agar masalah ini tidak kembali dialami si kecil.

    Penyebab Muntaber Pada Anak

    Muntaber atau dalam istilah medis disebut juga sebagai Gastroenteritis adalah suatu gangguan pencernaan berupa meradangnya selaput lendir saluran cerna yang ditandai dengan perubahan konsistensi feses menjadi lunak atau berair dan disertai lendir dengan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari, serta muntah.1

    Anak-anak, terutama pada usia dibawah 5 tahun rentan menderita muntaber daripada orang dewasa. Anak yang mengalami muntaber beresiko mengalami dehidrasi atau kehilangan cairan pada tubuh. Sahabat Sehat, bagaimana penyebab dan penanganan muntaber yang dialami Si Kecil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Berikut adalah berbagai penyebab muntaber yang perlu Sahabat Sehat ketahui :

    Infeksi Virus dan Bakteri

    Kebanyakan kasus muntaber diakibatkan karena infeksi pada saluran cerna baik infeksi virus (misalnya rotavirus dan norovirus) dan infeksi bakteri (misalnya E.coli dan Salmonella) serta infeksi parasit (misalnya Giardia dan Entamoeba).

    Keracunan Makanan

    Keracunan makanan turut dapat menyebabkan muntaber pada anak. Makanan yang sudah basi, atau makanan dengan kualitas yang buruk dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme yang menyebabkan muntaber.

    Traveler’s Diare

    Kondisi ini disebabkan karena makanan dan minuman tercemar kuman, biasanya terjadi pada seseorang yang baru saja bepergian ke tempat atau negara lain.

    Gejala  Keparahan Muntaber Pada Anak

    Muntaber ditandai dengan si kecil yang terus menerus muntah disertai dengan buang air besar. Kondisi ini memiliki tingkat keparahan. Beda tingkat keparahan tentunya akan beda juga pertolongan yang perlu dilakukan.

    Sahabat Sehat, berikut adalah skala untuk menentukan derajat keparahan bila Si Kecil muntah :

    • Gejala ringan : frekuensi muntah 1-2 kali dalam satu hari.
    • Gejala sedang : frekuensi muntah sebanyak 3-7 kali dalam sehari.
    • Gejala berat : muntah setiap saat, lebih dari 8 kali sehari.

    Selanjutnya, berikut adalah skala untuk menentukan derajat keparahan bila Si Kecil mengalami diare:

    • Gejala ringan : frekuensi buang air besar cair sebanyak 3-5 kali dalam sehari.
    • Gejala sedang : frekuensi buang air besar cair sebanyak 6-10 kali perhari dalam sehari
    • Gejala berat : frekuensi buang air besar lebih dari 10 kali perhari.

    Gejala yang dialami anak saat muntaber selain muntah dan diare yaitu sakit atau kram pada perut, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, demam, sakit kepala dan nyeri pada anggota gerak. Gejala ini dapat muncul setelah 1-3 hari sejak terinfeksi dan berlanjut selama 1-2 hari atau bahkan lebih.

    Jika gejala memiliki tingkat keparahan berat, pastikan untuk segera mencari pertolongan medis untuk si kecil. Dokter akan segera menentukan cara mengatasi muntaber pada anak dan tindakan medis apa yang diperlukan.

    Cara Mengatasi Muntaber pada Anak

    Jika Si Kecil mengalami muntaber dalam skala gejala ringan atau sedang, sebaiknya lakukan beberapa hal berikut di rumah untuk mempercepat proses pemulihan :

    Perbanyak istirahat

    Istirahat sangat diperlukan agar Si Kecil cepat pulih. Anak membutuhkan waktu istirahat lebih lama dibandingkan dengan orang dewasa yaitu 10-12 jam. Batasi aktivitas anak seperti bermain, serta ciptakan suasana yang nyaman agar anak bisa beristirahat.

    Berikan minum yang cukup

    Muntah dan diare beresiko menyebabkan dehidrasi atau hilangnya cairan dalam tubuh. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya berikan asupan cairan yang cukup. Jika Si Kecil masih mendapatkan ASI eksklusif maka ASI dapat dilanjutkan pemberiannya. Pada anak yang lebih besar dapat diberikan air putih dan oralit untuk menggantikan cairan tubuh dan elektrolit yang keluar.

    Beri makanan sehat

    Saat anak mengalami diare dan muntah, tubuhnya kemungkinan lemas karena banyaknya cairan yang keluar. Untuk itu berikan makanan dalam porsi sedikit namun sering serta makanan yang mudah dicerna seperti bubur, atau nasi tim dan makanan berkuah seperti sup.

    Hindari pemberian obat diare

    Pemberian obat anti diare tidak dianjurkan pada anak. Apabila gejala tidak membaik dalam waktu 2 hari, maka segera periksakan anak ke Dokter.

    Waspadai Dehidrasi Anak saat Muntaber

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai apabila Si Kecil mengalami gejala berikut, sebab dikhawatirkan kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) yaitu tidak buang air kecil selama lebih dari 8 jam, warna urin kuning atau coklat gelap dan pekat, mulut dan lidah kering, anak menangis namun tidak keluar air mata, rewel, detak jantung meningkat, kulit pucat dan anggota gerak (tangan dan kaki) teraba dingin.

    Agar si kecil tidak sampai mengalami dehidrasi, pastikan cairan tubuhnya tetap tercukupi dengan memberinya larutan oralit dan hanya memberikannya minum air putih. Jika anak tidak ada perbaikan kondisi, atau bahkan mengalami perparahan seperti muntah darah, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai cara mengatasi muntaber pada anak. Jika Sahabat Sehat memerlukan pertolongan awal, segera manfaatkan layanan Panggil Dokter Homecare. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Asih R. Lakukan Beberapa Cara Ketika Anak Alami Muntaber [Internet]. Sariasih.com. 2021 [cited 31 August 2021].
    2. Vomiting With Diarrhea [Internet]. Seattle Children’s Hospital. 2020 [cited 31 August 2021].
    3. Mathis, MD C, Burrows, MD, PhD H, Laule, MD S. Vomiting and Diarrhea | CS Mott Children’s Hospital | Michigan Medicine [Internet]. Mottchildren.org. 2018 [cited 31 August 2021].
    4. Diarrhoea and vomiting in children [Internet]. Healthdirect.gov.au. 2019 [cited 31 August 2021].
    5. Vomiting and Diarrhea in Children [Internet]. Aafp.org. 2001 [cited 31 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Banyak sekali penyebab anak rewel dan cengeng. Selain karena lapar atau tidak bisa jauh dari orang tua, ada beberapa faktor lainnya. Dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab si kecil mudah cengeng dan rewel, orang tua akan lebih mudah mencari solusi terbaik […]

    Penyebab Anak Rewel yang Jarang Diketahui Para Orang Tua

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Orang Tua yang Bingung Mencari Penyebab Anak Rewel Sehingga Si Kecil Terus Menangis

    Banyak sekali penyebab anak rewel dan cengeng. Selain karena lapar atau tidak bisa jauh dari orang tua, ada beberapa faktor lainnya. Dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab si kecil mudah cengeng dan rewel, orang tua akan lebih mudah mencari solusi terbaik agar si kecil jadi lebih kalem, tidak mudah ngambek dan tidak mudah menangis.

    Penasaran bagaimana caranya? Mari simak jawabannya melalui penjelasan berikut ini:

    Faktor Utama Penyebab Anak Rewel

    Biasanya pola asuh yang kurang tepat juga dapat berdampak pada anak yang mudah rewel atau cengeng. Misalnya anak yang terlalu dilindungi dan dikekang, dan kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya, dapat mengakibatkan Si Kecil tumbuh menjadi anak yang ragu dengan kemampuannya, pesimis, cengeng dan pemurung.

    Sahabat Sehat, berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab utama Si Kecil rewel sehingga Sahabat Sehat tahu bagaimana cara mengatasinya:

    Khawatir Saat Ditinggal Orang Tua

    Rata-rata Si Kecil memiliki ikatan yang erat dengan orang tua yang mengasuh sehari-hari. Kadang kala jika Sahabat Sehat harus bepergian dan meninggalkan Si Kecil sementara, dapat mengakibatkan Si Kecil menjadi rewel dan menangis.

    Merasa Lapar

    Kondisi lapar merupakan penyebab tersering Si Kecil rewel. Pada bayi yang lapar, tangisannya akan berirama dan semakin lama semakin nyaring. Untuk mengantisipasinya, berikan makanan atau susu sesuai jadwal.

    Adaptasi Lingkungan Baru

    Jika Sahabat Sehat membawa Si Kecil bepergian ke lingkungan yang baru, Si Kecil bisa saja rewel dan menangis karena belum beradaptasi dengan tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

    Sedang Sakit

    Si Kecil yang rewel dapat menjadi pertanda bahwa ia sedang sakit, misal sedang demam, perut kembung, sulit BAB, atau sedang menahan rasa nyeri (contohnya saat sedang tumbuh gigi). Sahabat Sehat perlu lebih bersabar dan memberi penanganan medis sesuai kondisi anak.

    Merasa Takut

    Jika Si Kecil berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, atau baru saja dimarahi orang tua maka Si Kecil dapat menjadi rewel dan menangis. Dalam menghadapi Si Kecil yang tengah rewel, tidak dianjurkan memarahi sebab dapat memperburuk keadaan. Sahabat Sehat sebaiknya biarkan Si Kecil menangis dan baru menasehati jika tangisan sudah mereda.

    Mengantuk

    Anak-anak tidak dapat mengutarakan apa yang mereka rasakan, termasuk saat mereka merasa ngantuk maka Si Kecil mengkomunikasikannya dalam bentuk tangisan. Pada minggu-minggu awal setelah lahir, bayi akan membutuhkan rata-rata 16-18 jam tidur setiap harinya. Jika Si Kecil kurang tidur atau terganggu saat tidur, maka dapat terlihat rewel dan menangis.

    Tidak Nyaman

    Pada kondisi yang tidak nyaman seperti popok basah, suhu udara yang terlalu panas atau terlalu dingin, maupun suara yang berisik dapat menyebabkan Si Kecil menjadi rewel dan menangis.

    Meluapkan Emosi

    Pada anak yang berusia lebih besar, perasaan marah, sedih atau kecewa juga dapat diekspresikan dengan menangis. Sahabat Sehat sebaiknya mengkomunikasikannya dengan baik tanpa memarahi anak.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai penyebab anak rewel yang perlu diketahui oleh semua orang tua. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    2. The Asian Parent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : The Asian Parent; [cited 23 August 2021].
    3. The Asian Parent. 5 Situasi Penyebab Balita Rewel dan Cara Mengatasinya [Internet]. Indonesia : The Asian Parent; [cited 1 September 2021].
    4. K. Kaneshiro, Zieve D. Fussy or irritable child [Internet]. USA : Medlineplus; [cited 1 September 2021].
    5. American Psychological Association. What Makes Children Angry [Internet]. USA : American Psychological Association. 2017 [updated 2017 June; cited 1 September 2021]
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com