Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Anak

Showing 81–90 of 157 results

  • Orang tua menaruh perhatian besar terhadap anak-anak mereka, selain rasa kasih sayang yang dalam.  Mereka akan selalu mengawasi kondisi anak, terutama kesehatannya. Anak masih rentan terhadap penyakit di sekitar karena perkembangannya yang masih belum sempurna. Wabah difteri yang menyebabkan anak meninggal di Indonesia membuat orang tua menjadi khawatir  terhadap anak mereka. Isu ini membuat pemerintah […]

    Bagaimana Aturan Pemberian Vaksin Difteri pada Anak ?

    Orang tua menaruh perhatian besar terhadap anak-anak mereka, selain rasa kasih sayang yang dalam.  Mereka akan selalu mengawasi kondisi anak, terutama kesehatannya. Anak masih rentan terhadap penyakit di sekitar karena perkembangannya yang masih belum sempurna. Wabah difteri yang menyebabkan anak meninggal di Indonesia membuat orang tua menjadi khawatir  terhadap anak mereka.

    Isu ini membuat pemerintah cepat menangani wabah sebelum menyebar ke tempat anak-anak lainnya. Salah satu cara pemerintah dengan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI), yakni imunisasi difteri ulang yang dilakukan oleh tiga provinsi yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Sebelum mengenal regulasi dan juga aturan vaksinnya, yuk kita kenali dulu apa yang dimaksud dengan Difteri ?

    Difteri dan Serangannya

    Penyakit difteri merupakan infeksi yang termasuk ke dalam penyakit menular dan disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphtheriae. Difteri menular melalui cairan yang dikeluarkan oleh penderita saat bersin atau batuk serta kontak langsung dengan penderitanya. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa, terutama pada anak-anak yang belum diimunisasi.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin BCG Pada Anak

    Gejala-gejala Difteri

    Sobat harus waspada bila ada gejala di bawah ini, kemungkinan anak terkena  penyakit difteri:

    • Tenggorokan terasa gatal dan jika dilihat menggunakan senter seperti dilapisi selaput tebal berwarna abu
    • Radang tenggorokan disertai suara yang serak dan sulit berbicara
    • Adanya pembengkakan pada leher dan juga kelenjar
    • Kesulitan menelan bahkan hingga bernafas
    • Demam disertai menggigil
    • Batuk yang keras disertai dahak

    Produk Terkait: Jual Vaksin Difteri Lengkap dari Prosehat

    Kemudian, pada beberapa kasus, difteri diperparah dengan adanya infeksi yang menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung sampai sistem saraf. Tak hanya itu, kulit juga bisa menjadi bagian tubuh yang terserang bakteri ini dan akhirnya meracuni seluruh tubuh. Kondisi  lainnya dapat disertai dengan jantung berdebar dan juga perasaan tidak nyaman, khusus bagi anak-anak akan terus rewel karena rasa sakit pada tenggorokan dan tubuh mereka.

    Aturan Vaksin Difteri

    Agar terlindungi dari penyakit difteri, Sobat bisa langsung datang ke Puskesmas maupun sekolah khusus di 3 provinsi yang sudah disebutkan di atas untuk mendapatkan vaksin difteri. Namun, bila Sobat berada diluar 3 provinsi tersebut, Sobat dapat mendatangi rumah sakit atau puskesmas terdekat. Lalu, bagaimanakah aturan vaksin untuk anak ?

    • Berapa kali dilakukan?
      Anak harus mendapatkan imunisasi difteri minimal enam kali sampai usia 18 tahun. Biasanya vaksin tergabung dalam pemberian vaksinasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus).
    • Imuniasi 1 – 3 tiga kali imunisasi dilakukan ketika bayi, pada saat bayi berusia 2,3, dan 4 bulan.
    • Imunisasi 4 dilakukan satu tahun setelah mendapat imunisasi yang ketiga tepatnya saat bayi berusia 18 bulan. Jika belum maka selesaikan dulu 3 imunisasi awal.
    • Kemudian Sobat bisa melakukan imunisasi 5 tiga tahun setelah mendapat imunisasi keempat saat anak berusia 5 tahun.
    • Sobat bisa melakukan imunisasi 6 lima tahun setelah mendapat imunisasi kelima saat anak berusia 10-12 tahun.
    • Saat anak berusia 18 tahun dapat diberikan tambahan penguat imunisasi dan dapat diulang setiap 10 tahun.

    Catatan tambahan dimana Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau biasa disebut BIAS, vaksin akan diberikan di sekolah pada anak kelas I, II, dan V dan telah menjadi program sekolah. Sobat bisa memberikan pengajuan atau proposal kepada pemerintah dan menjadikan sekolah anak Sobat sebagai salah satu anggota penerima vaksin.

    Pertanyaan selanjutnya yang biasa muncul, apakah imunisasi harus dilakukan enam kali sesuai panduan ? maka jawaban pastinya adalah YA. Mengapa ?

    Kekebalan terhadap bakteri difteri akan turun 2-3 tahun setelah imunisasi ketiga saat bayi. Sehingga 3 vaksin ketika bayi hanya mencegah sementara saja. Imunisasi lengkap dibutuhkan sampai enamh kali pada anak-anak sehingga perbekalan mereka untuk melawan difteri tercukupi. Setelah dewasa, tubuh akan mencoba melawan bakteri  dengan kekebalan nutrisi yang lebih banyak. Sobat juga bisa membekali tubuh dengan olahraga dan makanan yang sehat serta bernutrisi.

    Baca Juga: Serba Serbi Suntik Difteri yang Perlu Kamu Ketahui

    Bagaimana jika Terlambat ?

    Bagiamana jika Sobat sebagai orang tua atau justru diri Sobat sendiri belum pernah mendapatkan vaksin difteri ? bagaimana jika memang sudah terlambat ?

    Bagi Sobat yang sudah dewasa, vaksin difteri memiliki aturannya sendiri termasuk dosis dan juga boosternya. Sobat dapat mendatangi rumah sakit terdekat, tetapi jika sudah berusia lanjut tidak akan bisa diberikan vaksin. Maksimal usia atau rentang usia hanya sampai 64 tahun itu pun melalui serangkaian tes, apakah memang sudah terjangkit difteri atau belum.

    Bagi anak-anak yang terlambat imunisasi DTP dapat dilakukan imunisasi kejaran yang diberikan dan tidak akan mengulang dari awal. Anak yang masih dibawah usia 7 tahun yang belum pernah melakukan imunisasi DTP ataupun tidak lengkap maka masih bisa diberikan  vaksin difteri dengan imunisasi kejaran sesuai anjuran dokter anak.

    Bagaimana dengan anak sudah memasuki usia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP ? terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan dan bisa berfungsi sama yaitu melindungi tubuh dari bakteri penyebab difteri. Kita sebagai orang tua tidak boleh  menyerah dalam  memberikan anak perlindungan agar sehat dan tidak berpotensi terserang penyakit difteri. Jangan lupa untuk memberikan imunisasi difteri pada anak Sobat agar tidak tertular penyakit yang berbahaya ini.

    Baca Juga: Kenali Dulu Apa Itu Ori Difteri

    Untuk yang tidak ingin terlambat mendapatkan layanan vaksinasi, pastikan kamu sudah menginstal aplikasi prosehat yang memberikan informasi seputar vaksinasi dan imunisasi. Prosehat memberikan layanan vaksinasi ke rumah loh jadi tidak perlu khawatir ketika tidak ada waktu untuk ke tempat layanan kesehatan. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Imunisasi rubella menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Berbagai spanduk, baliho, bahkan iklan di TV menampilkan sosialisasi imunisasi rubella atau MR. Namun meskipun pemerintah telah maksimal dalam menyampaikan sosialisasi imunisasi rubella ini, masih banyak masyarakat yang enggan untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Sebenarnya hal ini juga tidak terlepas dari minimnya pengetahuan masyarakat mengenai imunisasi rubella ini. […]

    Mengapa Anak Perlu Imunisasi Rubella?

    Imunisasi rubella menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Berbagai spanduk, baliho, bahkan iklan di TV menampilkan sosialisasi imunisasi rubella atau MR. Namun meskipun pemerintah telah maksimal dalam menyampaikan sosialisasi imunisasi rubella ini, masih banyak masyarakat yang enggan untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.

    Sebenarnya hal ini juga tidak terlepas dari minimnya pengetahuan masyarakat mengenai imunisasi rubella ini. Masih banyak masyarakat terutama ibu-ibu yang tidak mengetahui mengenai penyakit rubella. Belum lagi beberapa doktrin tentang imunisasi yang tidak perlu dilakukan karena masalah kepercayaan sehingga menyebabkan masyarakat semakin enggan dan bingung terhadap imunisasi. Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya imunisasi campak dan rubella atau imunisasi MR.

    Campak dan rubella sebenarnya hampir sama. Beberapa gejalanya memiliki kesamaan satu sama lain, yakni demam  yang disertai dengan ruam. Namun, gejala campak tampak lebih sakit dibandingkan dengan gejala rubella, yakni batuk, fotofobia, dan peradangan pada mata (konjungtivitis). Campak diakibatkan oleh virus morbilivirus, sedangkan rubella disebabkan oleh virus golongan togavirus.

    Campak dan rubella tidak dapat disepelekan begitu saja, meskipun pada dasarnya kedua penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya setelah kekebalan tubuh terbentuk. Namun, yang perlu diwaspadai dari penyakit ini adalah komplikasinya. Komplikasi dari penyakit campak dan rubella dapat menyebabkan radang paru, infeksi telinga, kebutaan, diare berat, hingga ensefalitis, yakni peradangan pada otak yang mengakibatkan kecacatan seumur hidup.

    Campak dan rubella memiliki beberapa tahapan bahayanya seperti berikut ini:

    Tahap ringan

    Gejala awal dari campak biasanya anak akan merasakan haus yang amat sangat. Hal ini diakibatkan karena anak mengalami diare dan muntah yang hebat. Wajah anak akan terlihat lebih cekung, mata menjadi merah, dan urine berwarna keruh.

    Anak juga akan menderita infeksi pada telinganya sehingga akan menjadi lebih rewel. Bahkan beberapa diantaranya akan mengeluarkan cairan sehingga menyebabkan demam tinggi dan sakit kepala.

    Selain itu, campak dan rubella juga menyebabkan infeksi pada selaput mata sehingga mata anak akan mengeluarkan banyak kotoran dan bahkan terdapat kotoran yang menempel pada bulu mata. Tenggorokan anak juga akan ikut diserang oleh virus campak dan rubella ini. Suara akan menjadi serak dan rasa sakit pada tenggorokan sehingga sulit untuk berbicara dan menelan.

    Tahapan akhir dari tahap ringan ini adalah radang paru-paru atau pneumonia. Anak akan mengalami kesulitan bernafas, keringat dingin, demam tinggi, dan batuk kering dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika demam anak sudah terlalu tinggi, maka anak dapat mengalami kejang yang jika tidak segera ditangani akan berakibat pada kerusakan syaraf anak.

    Tahap berat

    Jika anak tidak mendapatkan penanganan langsung pada tahap ringan, maka kemungkinan besar anak mengalami komplikasi yang lebih berat bahkan dapat mengakibatkan kematian. Anak yang tidak mendapatkan penanganan dengan segera akan mengalami kerusakan pada hati atau hepatitis. Mata anak akan menjadi kuning, urine  berwarna gelap, kehilangan nafsu makan, dan rasa sakit pada otot dan sendi (gejala hepatitis).

    Kerusakan mata pada campak akan menyebabkan peradangan pada kornea (keratitis), sedangkan pada rubella sering menyebabkan katarak, peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).

    Bagian yang paling parah dari komplikasi campak dan rubella adalah encephalitis. Encephalitis adalah penyakit radang otak yang dapat mempunyai gejala muntah, kejang, koma, hingga beresiko mengalami kematian.

    Menurut data WHO, Indonesia sendiri telah mengikuti program imunisasi campak sejak tahun 1982. Sejak mengikuti program imunisasi campak, Indonesia berhasil menurunkan jumlah penderita campak di Indonesia, begitu pula dengan jumlah kematian anak yang diakibatkan oleh campak. Namun, hal ini saja belum cukup, WHO berencana untuk menghapus campak dan rubella di seluruh belahan dunia.

    WHO kembali mencanangkan program imunisasi MR ini sebagai bentuk lanjutan dari imunisasi campak sebelumnya demi perlindungan yang lebih baik bagi anak-anak di masa yang akan datang. WHO mengemukakan dalam position paper on rubella vaccines, merekomendasikan kepada semua negara yang belum memasukkan program imunisasi rubella dan telah mengikuti program imunisasi campak sebelumnya untuk memasukkan imunisasi rubella ke dalam program kesehatan negara. Bahkan Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek, telah mencanangkan Indonesia bebas campak dan rubella pada tahun 2020.

    Di negara maju seperti Amerika Serikat, masyarakatnya telah sadar betul dengan pentingnya imunisasi campak dan rubella ini. Mereka juga menangani dengan baik pasien yang telah terkena campak dan rubella. Pasien akan dikarantina dan dirawat secara intensif agar komplikasi yang lebih parah tidak terjadi. Namun, meskipun tingkat kesadaran masyarakatnya tinggi dan imunisasi campak dan rubella telah berhasil dengan baik, campak dan rubella masih dapat masuk akibat impor dari negara lain. Hal ini diakibatkan campak dan rubella sangat mudah ditularkan lewat warga negara yang masuk dari negara lain.

    Sebagai warga negara dan orang tua yang ingin melindungi anak-anak generasi penerus bangsa, hendaklah kita mendukung program pemerintah ini agar berjalan dengan baik dan lancar. Begitu besar dampak yang diakibatkan oleh campak dan rubella terhadap penderitanya sehingga kita tidak bisa menyepelekan pemberian imunisasi MR ini.

    Demikianlah artikel tentang imunisasi MR yang singkat ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan menambah kesadaran kita akan bahaya campak dan rubella. Terima kasih.

    Read More
  • Suntik difteri. Siapa yang masih asing dengan suntik ini? Atau siapa di antara kita yang sudah mengenal suntik ini? Sudahkah anak Anda mendapatkan suntik difteri? Suntik difteri merupakan salah satu suntik penting yang sebaiknya tidak dilewatkan karena manfaatnya yang besar untuk anak ke depannya, dan tentu saja manfaat utamanya adalah untuk meminimalisir anak mengalami penyakit […]

    Serba Serbi Suntik Difteri yang Perlu Diketahui

    Suntik difteri. Siapa yang masih asing dengan suntik ini? Atau siapa di antara kita yang sudah mengenal suntik ini? Sudahkah anak Anda mendapatkan suntik difteri? Suntik difteri merupakan salah satu suntik penting yang sebaiknya tidak dilewatkan karena manfaatnya yang besar untuk anak ke depannya, dan tentu saja manfaat utamanya adalah untuk meminimalisir anak mengalami penyakit difteri. Memangnya apa sih yang dimaksud dengan penyakit difteri ini? Apa saja bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh penyakit difteri?

    Penyakit difteri merupakan penyakit menular dan merupakan salah satu infeksi serius dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Penyakit ini tentu saja akan semakin berbahaya dampaknya ketika menyerang anak kecil, mengingat daya imun anak belum sebagus orang dewasa – alias daya imun anak lebih lemah. Difteri merupakan infeksi bakteri yang akan menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan dan dapat menyerang kulit. Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia di mana hal ini didukung oleh pernyataan World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa Indonesia menyumbang 342 kasus dari 7.097 kasus difteri dunia pada tahun 2016.

    Angka yang cukup mengerikan bukan? Tidak heran jika kasus difteri ini membuat Indonesia berada di peringkat ke-dua dunia setelah India. Angka kematian di Indonesia yang  disebabkan difteri pun bisa dibilang tidak sedikit, yaitu dari 3353 kasus difteri tercatat ada 110 orang yang meninggal dunia. Bahkan parahnya lagi, dari 90 persen orang yang terjangkit penyakit difteri ini tidak memiliki riwayat imunisasi difteri lengkap yang berarti saat kecil sebagian besar masyarakat tidak melakukan imunasi difteri. Lho, memangnya ada suntik difteri? Lalu kapankah waktu yang tepat untuk melakukan suntik difteri ini? Apakah ada dampak yang timbul dari melakukan suntik difteri?

    Program Suntik Difteri Pemerintah

    Mengingat betapa bahayanya penyakit difteri di kemudian hari, maka pemerintah menggalakkan suntik difteri sejak dini – alias sejak kanak-kanak. Melakukan suntik difteri sejak kanak-kanak meminimalisir datangnya penyakit ini ketika kita sudah beranjak dewasa dan menariknya lagi suntik difteri ini dibagi menjadi beberapa tahap untuk memperkuat daya tahan tubuh kita mengingat daya kekebalan tubuh kita bisa menurun seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa dokter bahkan menyatakan jika imunisasi difteri ini berhasil meminimalisir datangnya penyakit ini di kemudian hari sebanyak 95 persen. Angka yang sangat fantastis bukan? Menariknya lagi, program pemerintah ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis sehingga sayang untuk dilewatkan.

    Lalu kapankah sebaiknya kita memberikan suntik difteri ini untuk anak? Apakah ada batas maksimal usia bagi kita yang sudah dewasa untuk mendapatkan suntik difteri ini? Sebagai orang tua, kita sebaiknya memahami betul apa yang dimaksud dengan suntik difteri ini mengingat banyaknya kabar burung yang beredar mengenai suntik difteri. Yup, diberikannya suntik difteri secara gratis oleh pemerintah justru membuat masyarakat ragu manfaat apakah yang akan kita dapatkan dengan melakukan suntik ini – bahkan tidak sedikit orang yang berasumsi jika suntik difteri tidak halal.

    Apakah suntik difteri ini aman untuk dilakukan? Apakah ada dampak yang mungkin muncul di kemudian hari apabila kita tidak melakukan suntik difteri ini sejak dini? Seberapa sering kita perlu melakukan suntik difteri ini untuk mencegah penyakit difteri datang di kemudian hari? Berikut adalah serba-serbi suntik difteri yang sebaiknya kita ketahui, yaitu kaum orang tua untuk kebaikan anak kita:

    1. Tidak seperti vaksin penyakit lainnya, vaksin penyakit difteri tidak berdiri sendiri alias vaksin disteri ini merupakan kombinasi antara vaksin tetanus dengan pertusis. Jenis dari vaksin disteri sendiri bisa kita bedakan menjadi empat jenis, yaitu DPT, DTaP, DT, TdaP, dan Td. Lalu sebenarnya apa perbedaan dari berbagai jenis vaksin disteri ini?

    2. Yup, jawabannya tepat sekali. Perbedaan dari keempat jenis vaksin disteri ini adalah masa pemberiannya, di mana vaksin DTaP dan DT ditujukan untuk anak yang berusia dua hingga 11 bulan. Kemudian dua jenis vaksin disteri sisanya, yaitu jenis vaksin disteri Tdap dan Td ditujukan untuk anak yang berusia lebih besar, yaitu untuk anak yang sudah berusia di atas tujuh tahun. Kedua jenis vaksin ini juga digunakan untuk kita yang sudah beranjak dewasa hingga batas usia 64 tahun.

    3. Namun, sebenarnya apa sih beda vaksin difteri DTaP dan DT ini? Vaksin  difteri ini jarang menyebabkan demam ringan pada anak, kulit yang menjadi kemerahan, nyeri, serta pembengkakan pada area sekitar penyuntikan. Namun, kita tidak perlu khawatir tentang efek samping yang timbul karena biasanya hanya berlangsung selama satu hingga dua hari. Ketika hal ini terjadi, kita bisa memberikan obat pereda nyeri ataupun dengan memberikan kompres untuk meredakan efek samping yang timbul.

    4. Lalu apa yang dimaksud dengan suntik difteri TdaP dan Td? Kedua jenis suntik ini adalah suntik lanjutan alias suntik yang akan diberikan setelah anak melakukan vaksinasi difteri awal. Suntik difteri ini akan diberikan untuk anak pada rentang usia 7 hingga <19 tahun dan sebaiknya diulangi setiap 10 tahun sekali di mana suntik ini berfungsi sebagai booster, alias penguat daya tahan tubuh kita sehingga difteri tidak akan menyerang kita di kemudian hari.

    5. Kapan sebaiknya kita berhenti melakukan suntik difteri? Suntik difteri merupakan suatu jenis suntik yang sangat disarankan untuk dilakukan dan akan semakin baik apabila kita melakukannya dengan rutin. Suntik difteri sendiri bukan saja hanya meminimalisir datangnya penyakit difteri pada kita, tetapi juga penyakit pertusis dan tetanus yang sama-sama membahayakan keselamatan nyawa kita.

    6. Suntik difteri sangatlah disarankan untuk dilakukan bagi anak kita terutama sejak dini, yaitu di bawah 7 tahun hingga nanti mereka berusia 40 tahun. Melakukan suntik difteri secara lengkap terbukti 90 persen menjauhkan kita dari berbagai penyakit mematikan dan pastinya meningkatkan daya tahan tubuh kita dari waktu ke waktu.

    7. Satu hal lagi yang tidak boleh kita lupakan ketika melakukan suntik difteri adalah anak harus dalam kondisi yang benar-benar fit, alias sedang tidak sakit. Ketika kita akan melakukan suntik difteri sebaiknya kita berkonsultasi pada dokter mengenai ada tidaknya alergi yang dimiliki oleh anak untuk meminimalisir dampak dari suntik difteri yang bisa muncul.

    So, bagaimana? Pastinya sudah paham kan mengenai suntik difteri? Melakukan suntik difteri adalah suatu hal yang sangat disarankan mengingat hal ini sangatlah efektif untuk menimalisir datangnya penyakit berbahaya pada tubuh kita di kemudian hari. So, tunggu apalagi untuk melakukan suntik difteri? Yuk segera ke Puskemas terdekat!

     

    Read More
  • Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imunisasi, yang rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? […]

    5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi yang Sering Diajukan

    Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imunisasi, yang rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? Imunisasi adalah sebuah program yang dilakukan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada satu orang dan orang lainnya yang setelah orang tersebut menerima vaksin pastinya akan lebih resisten alias lebih kebal terhadap penyakit tertentu.

    vaksinasi polio, efek samping vaksinasi polio, vaksin bayi

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi?

    Memangnya di mana sih kita bisa mendapatkan imunisasi? Jawabannya tentu saja di pelayanan kesehatan terdekat, seperti di puskesmas, posyandu, atau bahkan di sekolah anak kita. Lalu bagaimana cara vaksin diberikan pada kita? Ternyata vaksin tidak hanya diberikan dengan metode suntik saja lho! Wah, yang benar nih? Yup, vaksin bisa diberikan dengan berbagai metode seperti dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan melalui penyuntikan.Beberapa jenis vaksin ada yang perlu diberikan secara berkala alias tidak cukup hanya diberikan sekali seumur hidup dan vaksin lainnya ada yang cukup hanya diberikan sekali.

    Apakah anak bisa sehat tanpa mendapatkan vaksin? Pertanyaan yang satu ini sering kali muncul di benak kita mengingat banyaknya angka bayi di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin. Pemberian vaksin bukan saja hanya digalakkan di Indonesia saja, tetapi juga menjadi program wajib di beberapa negara maju. Program vaksin yang digalakkan di berbagai negara terbukti sukses meminimalisir timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak, contohnya saja dalam beberapa tahun terakhir kita hampir tidak pernah mendengar kasus tentang polio liar di Indonesia. Polio merupakan suatu penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

    Baca Juga: Mengenal Penyakit Polio dan Vaksin untuk Mencegahnya

    Apakah hanya vaksin polio saja yang bisa diberikan pada anak? Kapankah sebaiknya vaksin mulai diberikan? Berbagai pertanyaan sering kali diajukan mengenai vaksin anak terlebih kapankah saat yang tepat dan jenis vaksin apa sajakah yang bisa diberikan untuk anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, vaksin bisa diberikan pada anak sejak anak berusia beberapa bulan alias sejak bayi. Namun, apakah vaksin hanya cukup perlu dilakukan sekali saja? Pada usia berapakah anak sudah bisa diberikan vaksin? Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar vaksin bayi yang sering ditanyakan dan harus kita ketahui jawabannya sehingga kita tidak ragu lagi untuk melakukan vaksin bayi:

    1. Kapankah saat yang tepat untuk melakukan vaksin bayi?

    Vaksin bayi sudah dapat diberikan sejak anak lahirm lebih tepatnya dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksin hepatitis B (HB) yang sebelumnya juga akan dilakukan suntikan vitamin K1. Vaksin hepatitis juga perlu dilakukan secara rutin yaitu mulai dari bayi lahir, usia 2, 3, 4 bulan. Selain vaksin hepatitis, sebelum bayi dibawa pulang ke rumah kita juga perlu memberikan vaksin polio dari lahir, 2, 3, 4 bulan. Kita bisa memberikan jenis vaksin lainnya apabila anak sudah berada pada usia tertentu.

    1. Apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan untuk bayi?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya, pemberian vaksin sangatlah penting untuk diberikan pada bayi bahkan beberapa jenis vaksin sebaiknya diberikan sebelum bayi dibawa pulang. Terdapat empat jenis vaksin yang seharusnya diberikan sebelum bayi menginjak usia satu tahun, yaitu vaksin polio, DPT, campak, BCG, serta hepatitis B. Vaksin hepatitis B hanya diberikan satu kali sebelum bayi menginjak usia dua bulan dan setelahnya kita perlu melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin BCG dilanjutkan. Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib diberikan berikutnya di mana vaksin ini merupakan vaksin gabungan untuk meminimalisir datangnya penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus. Vaksin DPT ini perlu diberikan sebanyak lima kali ketika anak menginjak usia dua bulan hingga lima tahun.

    1. Apakah efek samping yang biasanya timbul setelah bayi mendapatkan vaksin?

    Faktanya, kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena efek samping yang timbul ketika vaksin diberikan hanyalah sementara dan tidak akan mengancam keselamatan jiwa anak. Beberapa efek samping yang biasanya timbul adalah timbulnya ruam merah serta daerah yang cukup bengkak dan nyeri pada daerah suntikan dan hal ini hanyalah berlangsung beberapa jam atau hingga dua hari. Penanganan efek pasca suntikan bukanlah suatu perkara yang sulit karena yang perlu kita lakukan hanyalah mengompres dingin daerah suntikan dan lama-lama bengkak akan hilang dengan sendirinya dan bayi pun tidak akan merasa nyeri lagi. Bayi juga biasanya akan mengalami demam ringan serta tidak selera makan seperti biasanya dan kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.

    Baca Juga: Apa Beda Vaksin yang Bikin Anak Demam dan Tidak?

    1. Apa jadinya jika kita terlambat memberikan vaksin pada bayi?

    Pertanyaan ini sering kali diajukan terlebih bagi orang tua yang sudah rutin memberikan vaksin pada anaknya. Kabar baiknya, tidak akan ada efek samping ketika kita terlambat memberikan vaksin lanjutan apabila kita sudah memberikan vaksin wajib terlebih dahulu. Kita juga bisa menunda pemberian vaksin pada anak ketika mereka dalam kondisi yang sedang tidak fit, seperti anak sedang flu, batuk, demam, ataupun diare. Meskipun penyakit ini terlihat sepele, sebaiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu terhadap dokter agar tidak timbul efek samping yang dapat membahayakan anak kita

    1. Kenapa sih bayi perlu mendapatkan vaksin?

    Pertanyaan yang satu ini merupakan pertanyaan yang paling mendasar sebelum kita melakukan vaksin pada anak. Tentu saja jawabannya sangat jelas, yaitu untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya pada anak kita sejak dini dan mencegah anak tertular penyakit infeksi dari orang lain. Kita juga tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam ringan setelah diberikan vaksin karena hal ini adalah reaksi alami terhadap imun yang dimasukkan melalui vaksin dan pastinya membuat daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat. Ketika anak tidak mendapatkan imunisasi justru hal ini akan membahayakan kesehatan anak bahkan dapat menyebabkan kecatatan pada anak karena penyakit tertentu bahkan berujung pada kematian.

    Produk Terkait: Imunisasi Bayi dan Anak

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah jelas kan mengenai pentingnya melakukan vaksin pada bayi? Setelah kita paham tentang hal yang satu ini pastinya tidak ada alasan lagi kan untuk menunda memberikan vaksin pada bayi kita. So, tunggu apalagi? Yuk, berikan vaksin pada bayi di fasilitas kesehatan terdekat!

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai vaksin bayi dan produk yang terkait, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Vaksin. Apa sih yang terlintas di benak kalian mengenai vaksin? Apakah kalian melakukan vaksin dari kecil? Sebenarnya apa sih fungsi vaksin untuk tubuh kita? Vaksin merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga anak tetap sehat setiap saat. Kok bisa? Yup, jawabannya tentu saja karena vaksin terbuat dari bakteri penyebab penyakit yang telah […]

    5 Mitos dan Fakta Seputar Vaksin anak

    Vaksin. Apa sih yang terlintas di benak kalian mengenai vaksin? Apakah kalian melakukan vaksin dari kecil? Sebenarnya apa sih fungsi vaksin untuk tubuh kita? Vaksin merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga anak tetap sehat setiap saat. Kok bisa? Yup, jawabannya tentu saja karena vaksin terbuat dari bakteri penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau bahkan mati. Bakteri patogen yang sudah tidak se ”kuat” seharusnya inilah yang justru membuat sistem imun anak menguat dan pastinya menangkal berbagai penyakit yang dapat membahayakan keselamatan jiwa anak. Berarti pemberian vaksin sejak dini sangat penting dong?

    Jawabannya tentu saja iya, pemberian vaksin sejak dini sangatlah penting dan wajib hukumnya. Siapa sih di antara kita yang mau terjangkit penyakit berbahaya? Siapa juga di antara kita yang mau dan tega melihat anak kita tersiksa karena suatu penyakit tertentu? Mengingat pentingnya peran vaksin untuk kehidupan seseorang, maka bukan suatu hal mengherankan pula jika pemerintah menggalakkan program vaksin atau imunisasi yang dilakukan sejak dini. Menariknya lagi, pemerintah melakukan program vaksin ini secara gratis sehingga semua orang bisa mendapatkan vaksin sejak dini.

    Apakah pemberian vaksin ini hanya dilakukan di negeri tercinta kita saja, alias Indonesia? Tentu saja tidak! Pemberian vaksin sejak dini hampir dilakukan di semua negara bahkan dilakukan secara rutin agar anak terhindar dari berbagai penyakit. Apakah kita sebaiknya tetap melakukan vaksin tertentu meskipun penyakit tersebut sudah jarang ditemukan di Indonesia? Tentu saja jawabannya iya karena kita tidak bisa memprediksi dari manakah suatu penyakit berasal. Contohnya saja vaksin polio tetap gencar dilakukan di Indonesia meskipun dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir hampir sudah tidak ditemukan kasus polio lagi. Vaksin cacar juga masih gencar dilakukan mengingat penyakit cacar juga dapat menjadi penyakit yang mengancam keselamatan jiwa seseorang.

    Namun, apakah semua orang sudah melakukan vaksin secara rutin? Sayangnya, tidak semua orang bersedia melakukan vaksin secara rutin meskipun sudah difasilitasi oleh pemerintah – alias diberikan secara gratis. Wah yang benar? Yup, hal ini didukung dengan tingginya angka kasus campak di Papua pada bulan Januari 2018. Bukan hanya itu saja, Indonesia juga ditetapkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri yang meliputi 29 provinsi pada bulan Desember 2017 silam. Angka yang cukup fantastis bukan?

    Lalu, apa yang membuat seseorang tidak melakukan vaksinasi? Bukankah dengan melakukan vaksin kita justru mendapatkan banyak manfaat dan badan kita tetap fit setiap waktu? Yup, sangatlah benar jika vaksin memberi banyak manfaat untuk tubuh kita, tapi sayangnya banyak kabar burung yang beredar di masyarakat dan membuat orang tua ragu untuk melakukan vaksin pada anaknya sejak dini. Memangnya apa saja sih mitos yang masih beredar di masyarakat mengenai vaksin anak? Apakah mitos ini terbukti secara ilmiah? Nah daripada penasaran mengenai apa saja mitos vaksin anak apa saja yang masih beredar di masyarakat, yuk mending kita simak yang satu ini!

    1. Vaksin menyebabkan autisme.

    Siapa pastinya yang tidak seram ketika mendengar hal ini? Kabar baiknya hal ini adalah mitos semata alias tidak benar adanya. Namun, bukankah hal ini dinyatakan oleh tokoh terkenal dan beliau juga merupakan seorang dokter? Yup, benar sekali jika Wakefield adalah seorang dokter; tapi dirinya adalah spesialis bedah. Selain itu dia menyatakan pernyataan jika vaksin dapat menyebabkan autisme dengan jumlah sampel hanya 18 dan hal ini tidak bisa mewakili dengan apa yang terjadi di masyarakat, bahkan tingkat dunia. Bahkan pada tahun 2011, tepatnya bulan Februari majalah resmi kedokteran Inggris yaitu British Medical Journal menyatakan bahwa Wakefield memalsukan data dan hal ini berarti vaksin sama sekali tidak berisiko menimbulkan autisme pada anak.

    1. Vaksin mengandung lemak babi

    Hal yang satu ini merupakan perdebatan besar dan menyebabkan banyak orang tua menolak untuk melakukan vaksin pada anaknya karena vaksin tidak halal karena adanya kandungan lemak babi. Namun, apakah hal ini benar? Tentu saja ini hanya mitos! Faktanya hanya sebagian kecil vaksin yang pernah berinteraksi langsung dengan tripsin pada proses pengembangannya, di mana vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksi meningitis dan polio. Setelah proses pengembangan selesai tentu saja induk vaksin bibit dicuci dan dibersihkan total sehingga bisa dipastikan tidak ada tripsin babi yang tersisa.

    1. Vaksin hanya dilakukan di negara miskin

    Pernyataan yang satu ini sangatlah berbeda dengan fakta di lapangan. Yup, sebanyak 194 negara di dunia saat ini masih melakukan vaksin sejak dini bahkan menggalakkan program ini mengingat banyaknya manfaat yang bisa kita dapatkan di masa mendatang. Seperti yang kita tahu, vaksin dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh kita dan pastinya membuat kita kebal terhadap berbagai penyakit yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.

    1. Vaksin memiliki efek jangka panjang pada anak

    Hal ini hanyalah mitos belaka, karena pada kenyataannya vaksin akan menimbulkan efek samping lokal seperti ruam merah ataupun rasa nyeri pada daerah sekitar suntikan. Demam juga merupakan hal biasa yang timbul setelah dilakukannya vaksin pada anak, tapi hal ini jauhlah dari kata yang dapat membahayakan keselamatan anak. Justru anak akan mengalami sakit yang lebih parah ketika orang tua enggan melakukan vaksin sejak dini.

    1. Vaksin hanya perlu dilakukan seumur hidup

    Banyak orang yang masih beranggapan jika vaksin hanya perlu dilakukan seumur hidup dan ternyata hal ini adalah pernyataan yang salah. Kok bisa? Vaksin perlu dilakukan secara rutin karena fungsi vaksin sebagai booster seperti kita perlu melakukan vaksin DPT secara rutin. Booster yang dimaksud di sini adalah untuk memperkuat antibodi anak kita dari waktu ke waktu karena antibodi seseorang dapat turun dari waktu ke waktu dan dengan rutin melakukan vaksin membuat anak akan terlindungi secara maksimal dari berbagai penyakit membahayakan.

    Nah, itu tadi adalah beberapa mitos seputar vaksin anak yang perlu diketahui.  Pastinya sekarang sudah tidak beranggapan jika vaksin tidak halal ataupun justru dapat membuat anak menjadi lemah bukan? Pastinya sudah tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksin pada anak kita sejak dini dan rutin? So, tunggu apalagi untuk melakukan vaksin? Yuk vaksin bersama ProSehat. Ingat Sehat Ingat Prosehat.

    Read More
  • Manfaat ASI bagi bayi sudah tidak bisa dipungkiri lagi. ASI merupakan makanan pertama bagi bayi untuk mendukung tumbuh kembang seoptimal mungkin. ASI mengandung berbagai komponen nutrisi, mulai dari makronutrien seperti karbohidrat, protein, lemak, dan komponen mikronutrien mulai dari vitamin dan mineral. Jumlah produksi ASI bervariasi sekitar 40-1200 ml, dan menurun 100-200 ml pada ibu dengan […]

    5 Penyebab ASI Tidak Keluar yang Perlu Bunda Ketahui

    Manfaat ASI bagi bayi sudah tidak bisa dipungkiri lagi. ASI merupakan makanan pertama bagi bayi untuk mendukung tumbuh kembang seoptimal mungkin. ASI mengandung berbagai komponen nutrisi, mulai dari makronutrien seperti karbohidrat, protein, lemak, dan komponen mikronutrien mulai dari vitamin dan mineral. Jumlah produksi ASI bervariasi sekitar 40-1200 ml, dan menurun 100-200 ml pada ibu dengan status gizi buruk.1

    Banyak ibu yang baru melahirkan khawatir terhadap jumlah produksi ASI untuk bayinya. Berbagai cara sudah dilakukan untuk dapat meningkatkan produksi ASI, mulai dari makanan bergizi, daun katuk, dan berbagai macam makanan lainnya. Cara ini bahkan seringkali tidak berhasil dan makin membuat ibu menjadi stress. Hati-hati Bunda, stress dapat menjadi salah satu faktor ASI tidak keluar. Nah, sebelum kita bahas mengenai penyebab ASI tidak keluar, yuk, kita simak terlebih dulu mengenai struktur payudara dan bagaimana ASI diproduksi.

    Struktur payudara itu kompleks, terdiri dari lemak, saluran susu (duktus laktiferus), kantong susu (lobus), pembuluh darah dan kelenjar getah bening, dan puting susu (areola).2 Produksi ASI dipengaruhi langsung oleh hormone prolaktin dan oksitoksin. Pada saat hamil, produksi ASI mulai dipersiapkan hingga nanti bayi lahir.

    Ketika bayi menyusui, rangsangan dari puting susu diteruskan ke otak sehingga otak mengeluarkan hormone prolaktin dan oksitoksin. Prolaktin berfungsi untuk mengeluarkan ASI. Saat bayi menyedot puting ibu, hormone prolactin di darah meningkat dan menstimulasi produksi ASI yang ada di kantong ASI. Hormon ini mencapai puncaknya 30 menit setelah penghisapan oleh bayi.3

    Hormon oksitoksin bertugas membuat otot di sekitar area hitam putting berkontraksi sehingga dapat mengeluarkan ASI. Hormon ini mulai bekerja ketika Bunda hendak menyusui anaknya. Refleks hormon ini dipengaruhi oleh emosi dan perasaan ibu, sehingga pada kondisi tertentu dapat terhambat.3

    Banyak Bunda yang panik dan stress bila ASI tidak keluar. Sebenarnya apa sih yang membuat ASI menjadi tidak keluar? Yuk, mari kita lihat penjelasannya.

    1. Emosi ibu yang tidak stabil

    Pada saat ibu melihat bayinya, memegang, memeluk, mencium, hormone oksitoksin bekerja dan melepaskan reflex oksitoksin yang berperan dalam pengeluaran ASI. Maka tidak heran bila Bunda mengalami perasaan terluka atau sedih, ASI akan tiba-tiba berhenti. Bila Bunda didukung oleh suami dan keluarganya kembali dan merasa nyaman, maka ASI akan kembali mengalir.

    2. Menunda pemberian ASI

    Ketika bayi Bunda lahir, segera berikan ASI, jangan menundanya. Hanya ASI yang dapat memenuhi kebutuhan bayi baru lahir. Kemudian, bila Bunda jarang memberikan ASI karena beberapa kondisi, maka tidak ada yang merangsang hormon prolaktin yang berperan dalam pengeluaran ASI. Hal ini dapat menyebabkan ASI berkurang.

    3. Posisi bayi dan ibu yang tidak pas

    Pada saat bayi menyusui, pastikan mulutnya menempel penuh ke puting payudara dan bagian hitam di sekitarnya. Bunda dapat mengecek posisi bayi apakah sudah benar atau belum. Posisi yang tidak pas akan membuat produksi ASI menjadi turun.

    4. Hindari alkohol dan nikotin

    Kebiasaan minum alkohol yang banyak dan merokok dapat meurunkan produksi ASI. Kita pasti tahu bahwa rokok mengandung berbagai macam zat yang berbahaya bagi tubuh sehingga konsumsi rokok saat menyusui akan mempengaruhi ASI.

    5. Konsumsi obat-obatan tertentu

    Obat yang mengandung pseudoefedrin dapat menurunkan produksi ASI. Selain itu, beberapa kontrasepsi dapat menyebabkan penurunan produksi ASI. Konsultasikan segera ke dokter terdekat jika Sobat harus mengonsumsi obat-obat tertentu ketika sedang menyusui bayi.

    Nah, sudah jelas bukan, apa yang menyebabkan produksi ASI berkurang hinga tiba-tiba berhenti. Yuk, mulai sekarang Bunda menyusui harus peduli terhadap kesehatan payudara dan hati-hati dalam mengonsumsi saat anda menyusui.

    Referensi:

    1. Hendarto A, Pringgadini K. Nilai Nutrisi ASI. 2013. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id/artikel/klinik/asi/nilai-nutrisi-air-susu-ibu
    2. Mayo Clinic. Female Breast Anatomy. [Internet] Retreieved from: mayoclinic.org/healthy-lifestyle/womens-health/multimedia/breast-cancer-early-stage/sls-20076628?s=3
    3. WHO. The Physiological Basis of Breastfeeding in Infant and young child feeding: Model chapter for the textbooks for medical students and allied professional. 2009. Geneva: WHO Publishing.
    Read More
  • Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih […]

    5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi Yang Perlu Kamu Ketahui

    Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? Imunisasi adalah sebuah program yang dilakukan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada satu orang dan orang lainnya yang setelah orang tersebut menerima vaksin pastinya akan lebih resisten alias lebih kebal terhadap penyakit tertentu.

    Memangnya di mana sih kita bisa mendapatkan imunisasi? Jawabannya tentu saja di pelayanan kesehatan terdekat, seperti di Puskesmas, Posyandu, atau bahkan di sekolah anak kita. Lalu bagaimana cara vaksin diberikan pada kita? Ternyata vaksin tidak hanya diberikan dengan metode suntik saja lho! Wah, yang benar nih? Yup, vaksin bisa diberikan dengan berbagai metode seperti dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan melalui penyuntikan.Beberapa jenis vaksin ada yang perlu diberikan secara berkala alias tidak cukup hanya diberikan sekali seumur hidup dan vaksin lainnya ada yang cukup hanya diberikan sekali.

    Apakah anak bisa sehat tanpa mendapatkan vaksin? Pertanyaan yang satu ini sering kali muncul di benak kita mengingat banyaknya angka bayi di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin. Pemberian vaksin bukan saja hanya digalakkan di Indonesia saja, tetapi juga menjadi program wajib di beberapa negara maju. Program vaksin yang digalakkan di berbagai negara terbukti sukses meminimalisir timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak, contohnya saja dalam beberapa tahun terakhir kita hampir tidak pernah mendengar kasus tentang polio liar di Indonesia. Polio merupakan suatu penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

    Apakah hanya vaksin polio saja yang bisa diberikan pada anak? Kapankah sebaiknya vaksin mulai diberikan? Berbagai pertanyaan sering kali diajukan mengenai vaksin anak terlebih kapankah saat yang tepat dan jenis vaksin apa sajakah yang bisa diberikan untuk anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, vaksin bisa diberikan pada anak sejak anak berusia beberapa bulan alias sejak bayi. Namun, apakah vaksin hanya cukup perlu dilakukan sekali saja? Pada usia berapakah anak sudah bisa diberikan vaksin?

    Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar vaksin bayi yang sering ditanyakan dan harus kita ketahui jawabannya sehingga kita tidak ragu lagi untuk melakukan vaksin bayi:

    1. Kapankah saat yang tepat untuk melakukan vaksin bayi?

    Vaksin bayi sudah dapat diberikan sejak anak lahirm lebih tepatnya dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksin hepatitis B (HB) di mana sebelumnya juga akan dilakukan suntikan vitamin K1. Vaksin hepatitis juga perlu dilakukan secara rutin yaitu mulai dari bayi lahir, usia 2, 3, 4 bulan. Selain vaksin hepatitis, sebelum bayi dibawa pulang ke rumah kita juga perlu memberikan vaksin polio dari lahir, 2, 3, 4 bulan. Kita bisa memberikan jenis vaksin lainnya apabila anak sudah berada pada usia tertentu.

    2. Apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan untuk bayi?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya, pemberian vaksin sangatlah penting untuk diberikan pada bayi bahkan beberapa jenis vaksin sebaiknya diberikan sebelum bayi dibawa pulang. Terdapat empat jenis vaksin yang seharusnya diberikan sebelum bayi menginjak usia satu tahun, yaitu vaksin polio, DPT, campak, BCG, serta hepatitis B. Vaksin hepatitis B hanya diberikan satu kali sebelum bayi menginjak usia dua bulan dan setelahnya kita perlu melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin BCG dilanjutkan. Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib diberikan berikutnya di mana vaksin ini merupakan vaksin gabungan untuk meminimalisir datangnya penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus. Vaksin DPT ini perlu diberikan sebanyak lima kali ketika anak menginjak usia dua bulan hingga lima tahun.

    3. Apakah efek samping yang biasanya timbul setelah bayi mendapatkan vaksin?

    Faktanya, kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena efek samping yang timbul ketika vaksin diberikan hanyalah sementara dan tidak akan mengancam keselamatan jiwa anak. Beberapa efek samping yang biasanya timbul adalah timbulnya ruam merah serta daerah yang cukup bengkak dan nyeri pada daerah suntikan dan hal ini hanyalah berlangsung beberapa jam atau hingga dua hari. Penanganan efek paska suntikan bukanlah suatu perkara yang sulit karena yang perlu kita lakukan hanyalah mengompres dingin daerah suntikan dan lama-lama bengkak akan hilang dengan sendirinya dan bayi pun tidak akan merasa nyeri lagi. Bayi juga biasanya akan mengalami demam ringan serta tidak selera makan seperti biasanya dan kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.

    4. Apa jadinya jika kita terlambat memberikan vaksin pada bayi?

    Pertanyaan ini sering kali diajukan terlebih bagi orang tua yang sudah rutin memberikan vaksin pada anaknya. Kabar baiknya, tidak akan ada efek samping ketika kita terlambat memberikan vaksin lanjutan apabila kita sudah memberikan vaksin wajib terlebih dahulu. Kita juga bisa menunda pemberian vaksin pada anak ketika mereka dalam kondisi yang sedang tidak fit, seperti anak sedang flu, batuk, demam, ataupun diare. Meskipun penyakit ini terlihat sepele, sebaiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu terhadap dokter agar tidak timbul efek samping yang dapat membahayakan anak kita

    5. Kenapa sih bayi perlu mendapatkan vaksin?

    Pertanyaan yang satu ini merupakan pertanyaan yang paling mendasar sebelum kita melakukan vaksin pada anak. Tentu saja jawabannya sangat jelas, yaitu untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya pada anak kita sejak dini dan mencegah anak tertular penyakit infeksi dari orang lain. Kita juga tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam ringan setelah diberikan vaksin karena hal ini adalah reaksi alami terhadap imun yang dimasukkan melalui vaksin dan pastinya membuat daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat. Ketika anak tidak mendapatkan imunisasi justru hal ini akan membahayakan kesehatan anak bahkan dapat menyebabkan kecatatan pada anak karena penyakit tertentu bahkan berujung pada kematian.

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah jelas kan mengenai pentingnya melakukan vaksin pada bayi? Setelah kita paham tentang hal yang satu ini pastinya tidak ada alasan lagi kan untuk menunda memberikan vaksin pada bayi kita. So, tunggu apalagi? Yuk, berikan vaksin pada bayi di fasilitas kesehatan terdekat!

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • ASI merupakan komponen penting bagi Moms yang menyusui. Payudara sebagai organ yang berperan dalam pembentukan ASI juga penting untuk dirawat agar produksi ASI tidak terhambat. Moms  seringkali mengalami beberapa masalah seputar payudara pada saat menyusui seperti saluran ASI tersumbat, puting payudara nyeri atau lecet, peradangan pada payudara (mastitis), dan pembengkakan payudara (breast engorgement). Baca Juga: […]

    Pijat Payudara pada Bunda Menyusui, Efektifkah?

    ASI merupakan komponen penting bagi Moms yang menyusui. Payudara sebagai organ yang berperan dalam pembentukan ASI juga penting untuk dirawat agar produksi ASI tidak terhambat. Moms  seringkali mengalami beberapa masalah seputar payudara pada saat menyusui seperti saluran ASI tersumbat, puting payudara nyeri atau lecet, peradangan pada payudara (mastitis), dan pembengkakan payudara (breast engorgement).

    Baca Juga: 6 Makanan untuk Ibu Menyusui Agar ASI Lancar

    Pembengkakan payudara dapat terjadi karena tidak aktifnya hisapan bayi, puting susu terbenam atau terlalu panjang, posisi menyusui yang tidak benar, hingga pengosongan payudara yang tidak sempurna, sehingga menyebabkan penyempitan saluran susu (duktus laktiferus). Bendungan ASI ini menyebabkan payudara menjadi keras pada perabaan, rasa panas, sehingga bayi menjadi sulit menyusu. Kemudian payudara yang membengkak akan terasa lebih asin karena kadar sodiumnya lebih tinggi akibat peradangan dan pembengkakan, sehingga sering menyebabkan si Kecil tidak mau menyusui.

    Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi payudara yang membengkak, antara lain kompres es, memakai bra khusus untuk mengurangi bengkak, pemberian obat anti nyeri, serta pemijatan pada payudara. Nah Moms, cara yang terakhir cukup efektif dalam mengurangi pembengkakan payudara akibat bendungan ASI. Bagaimana caranya? Yuk, kita simak lebih lanjut.

    Baca Juga: 6 Mitos dan Fakta Seputar Imunisasi

    Pemijatan payudara akibat bendungan ASI merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pembengkakan pada payudara, sehingga produksi ASI tidak terhambat. Sotomi Oketani merupakan orang Jepang pertama yang mempopulerkan pijat Oketani yang dapat memberikan rasa nyaman pada ibu menyusui. Pijat Oketani membuat areola dan puting payudara menjadi lebih elastis dan payudara menjadi lebih lembut serta lancarnya aliran susu karena penekanan pada alveoli (kantung penampung susu).

    Baca Juga: Imunisasi Polio Suntik VS Tetes

    Karakteristik Pijat Oketani antara lain menimbulkan rasa nyaman dan tidak menimbulkan nyeri, Moms dapat merasa pulih dan lega, mencegah luka pada puting payudara dan mastitis, memperbaiki kelainan bentuk puting payudara, meningkatkan proses laktasi, dan tentunya meningkatkan kualitas ASI. Penasaran bukan bagaimana caranya, Moms? Mari kita lihat gambarnya di bawah ini.

    Langkah A1 :

    Mendorong area C dan menariknya ke atas (arah A1) dan B2 dengan menggunakan ketiga jari tangan kanan dan jari kelingking tangan kiri ke arah bahu.

    Langkah A2:

    Mendorong ke arah C 1-2 dan menariknya ke atas dari bagian tengah A (1-2) dengan menggunakan jari kedua tangan ke arah ketiak kiri.

    Langkah A3:

    Mendorong C (2) dan menariknya ke atas A(3) dan B (1) dengan menggunakan jari dan ibu jari tangan kanan dan jari ketiga tangan kiri menempatkan ibu jari di atas sendi kedua dari jempol kanan. Kemudian mendorong dan menarik sejajar dengan payudara yang berlawanan. Mendorong dan menarik nomor (1), (2) dan (3) digunakan untuk memisahkan bagian keras dari payudara dari fasia dari otot dada utama. .

    Langkah A4:

    Menekan seluruh payudara menuju pusar, menempatkan ibu jari kanan pada C (1), tengah, ketiga,dan jari kelingking di sisi B dan ibu jari kiri pada C (1), tengah, ketiga dan kelingking di sisi A.

    Baca Juga: Tips Memerah ASI dan Menyimpannya dengan Baik

    Langkah A5:

    Menarik payudara menuju arah praktisi dengan tangan kanan sementara dengan lembut memutar itu dari pinggiran atas untuk memegang margin yang lebih rendah payudara seperti langkah 4.

    Langkah A6:

    Menarik payudara ke arah praktisi dengan tangan kiri sambil memutarnya dengan lembut dari pinggiran atas ke pegangan margin bawah payudara seperti teknik no 5. Ini adalah prosedur yang berlawanan dengan langkah no 5.

     Langkah A7:

    Merobohkan payudara menuju arah  praktisi dengan tangan kiri sementara lembut memutar itu dari

    pinggiran atas untuk memegang margin yang lebih rendah payudara seperti manipulasi 5. Ini adalah prosedur berlawanan dengan operasi (5) . Prosedur manual (5)dan (6) adalah teknik untuk mengisolasi bagian dasar keras dari C- payudara (2) ke C (1) dari fascia pectoralis utama .

    Baca Juga: 9 Tips ASI Lancar Setelah Melahirkan

    Pijat Oketani dapat dilakukan mulai hari pertama setelah melahirkan. Pijat ini dilakukan selama 30 menit pada kedua payudara (15 menit per payudara). Keunggulan Pijat Oketani lainnya adalah dapat merangsang hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan dalam kelancaran ASI.Wah, banyak sekali ya manfaatnya pijat ini. Jadi, sudah ingin mencoba, Moms?

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai ASI dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Kusumastuti, Qomar UL, Pratiwi. Efektivitas pijat oketani terhadap pencegahan bendungan ASI pada ibu post partum. The 7th University Research Colloqium 2018. STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta.
    2. Thomas P, Chhugani M, Rahman J. Varun N. Effectiveness of breast massage on mild breast engorgement, breast milk pH and suckling speed of neonate among the postnatal mothers. International Journal of Current Research.2017; 9(10): 58821-58826.
    3. Machmudah. Sukses menyusui dengan pijat Oketani. Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Semarang. 2017.

     

    Read More
  • Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus hepatitis B merupakan jenis yang paling sering menyebabkan peradangan hati yang bersifat kronis (lama) dan sangat berbahaya. Di dunia terdapat 240 juta orang yang menderita hepatitis B kronis dan 75%-nya berada di Asia, termasuk Indonesia. Akibat dari bahaya hepatitis B ditambah […]

    10 Bahaya Hepatitis B pada Bayi!

    Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus hepatitis B merupakan jenis yang paling sering menyebabkan peradangan hati yang bersifat kronis (lama) dan sangat berbahaya. Di dunia terdapat 240 juta orang yang menderita hepatitis B kronis dan 75%-nya berada di Asia, termasuk Indonesia.

    Akibat dari bahaya hepatitis B ditambah belum adanya pengobatan yang dapat seutuhnya menyembuhkan penyakit tersebut, sampai pada tahun 2015, setiap tahun masih terdapat kematian sebanyak 600.000 orang penderita hepatitis B. Pada bayi, faktor risiko paling besar untuk mendapat infeksi hepatitis B adalah paparan terhadap ibu yang menderita hepatitis B selama proses kehamilan dan persalinan. Sebanyak 90% bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, baik secara normal atau operasi sesar, juga akan mendapat infeksi hepatitis B kronis jika tidak diberikan penanganan yang tepat saat lahir.

    Hepatitis B disebut sebagai jenis hepatitis yang sangat berbahaya karena dari 100% bayi yang baru tertular infeksi, hanya 5% yang akan pulih dan berhasil membentuk kekebalan tubuh terhadap virus hepatitis B, sedangkan 1 – 5% akan dengan cepat berkembang menjadi infeksi yang parah sampai menyebabkan kematian dini, dan sisanya (90 – 94%) akan berlanjut menjadi infeksi kronis yang merupakan cikal bakal terbentuknya jaringan parut hati (sirosis) atau bahkan kanker hati.

    Berikut ini akan kita kupas 10 bahaya hepatitis B pada bayi serta gejala yang mungkin muncul, sehingga bisa membantu orang tua untuk lebih waspada, terutama jika sang ibu selama kehamilannya menderita hepatitis B.

    1. Kematian sel hati

    Virus hepatitis B secara spesifik menyerang sel hati. Virus akan masuk kedalam sel dan merusak struktur serta metabolisme sel, menyebabkan kematian sel. Infeksi yang baru terjadi seringkali tidak menimbulkan gejala, tapi kematian sel hati dapat dideteksi dengan meningkatnya kadar enzim hati.

    2. Terbentuk jaringan parut (sirosis hati)

    Saat jaringan hati rusak, ia akan membuat sel baru untuk menggantikan kerusakan, dan pada prosesnya dapat terbentuk jaringan parut. Keberadaan jaringan parut ini mengganggu fungsi hati. Pada sirosis hati yang luas, gejala seperti mudah lelah, mudah luka dan berdarah, mual, atau warna kulit menjadi kuning dapat muncul.

    3. Penyumbatan saluran empedu (kolestasis)

    Sel hati juga memproduksi bilirubin (zat yang memberi warna kuning pada urin dan  feses). Pada kondisi kerusakan hati, bilirubin tidak bisa keluar dari hati menuju ke usus, sehingga akan terserap kembali ke darah dan mengakibatkan perubahan warna kulit menjadi kuning.

    4. Penurunan fungsi otak akibat zat berbahaya (ensefalopati hepatikum)

    Fungsi hati yang terganggu untuk membuang zat berbahaya dalam tubuh mengakibatkan zat tersebut tetap beredar dalam darah dan mencapai otak. Hal tersebut bisa menimbulkan gangguan kesadaran, mudah lupa, bicara terpatah – patah, tangan gemetar, yang merupakan gejala dari ensefalopati hepatikum.

    5. Penyakit sendi

    Gejala pada hepatitis B tidak hanya disebabkan aktivitas virus, tapi juga respon imun dari tubuh manusia. Dalam perjalanan penyakitnya, bagian tubuh yang terikat dengan bagian dari virus akan beredar dalam darah dan dapat mengendap di sendi sehingga mengakibatkan nyeri sendi (atralgia).

    6. Peradangan ginjal

    Peradangan ginjal diakibatkan mekanisme imun yang sama seperti pada nyeri sendi. Jika terjadi, maka fungsi ginjal juga akan terganggu.

    7. Sindrom Guillain-Barré

    Sindrom ini juga didasari oleh mekanisme imun, yang ditandai dengan kelumpuhan otot yang berawal dari anggota gerak bawah dan menjalar ke bagian atas tubuh. Kelumpuhan yang sudah mencapai otot dada sangat berbahaya karena dapat mengganggu pernapasan.

    8. Gangguan pembekuan darah (koagulopati)

    Koagulopati terjadi karena terganggunya fungsi hati dalam membentuk faktor pembekuan darah.

    9. Kanker hati

    Kanker hati adalah kanker ke – 6 terbanyak di dunia dan 55% dari kasus kanker hati disebabkan oleh virus hepatitis B.

    10. Kematian

    Hepatitis B memiliki angka kematian tertinggi di antara jenis hepatitis lainnya. Jika bayi lahir dari ibu dengan hepatitis B dan tidak mendapat penanganan tepat, bahaya hepatitis B yang paling ditakuti ini dapat terjadi.

    Berita baiknya, 10 bahaya hepatitis B tersebut dapat dicegah! Bagi ibu hamil yang sedang menderita hepatitis B tidak perlu hilang harapan, karena saat ini di Indonesia telah diterapkan program vaksinasi khusus untuk bayi yang lahir dari ibu yang positif menderita hepatitis B. Program tersebut berupa pemberian Imunoglobulin Hepatitis B (HBIG) dan vaksin hepatitis B sebanyak satu kali sebelum bayi berusia 12 jam.

    Pada bayi yang lahir dari ibu tanpa hepatitis B, hanya diberikan vaksin hepatitis B saja, tanpa HBIG. HBIG memiliki cara kerja yang berbeda dengan vaksin hepatitis B. Sesuai dengan namanya, HBIG merupakan imunoglobulin, yaitu antibodi spesifik yang sudah siap memberikan proteksi bagi tubuh bayi terhadap virus hepatitis B, tapi fungsi proteksi ini hanya sementara (3 – 6 bulan). Oleh karena itu, diperlukan juga pemberian vaksin hepatitis B yang merupakan virus yang sudah dilemahkan, sehingga memicu tubuh bayi membentuk antibodinya sendiri terhadap virus hepatitis B.

    Pada bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, tidak ada pengecualian untuk pemberian vaksin hepatitis B, termasuk bayi prematur dengan berat badan lahir < 2.000 gram. Namun, pada bayi yang lahir dari ibu tanpa hepatitis B, jika lahir dengan berat badan lahir < 2.000 gram, maka pemberian vaksin hepatitis B ditunda sampai bayi berusia 1 bulan.

    Setelah vaksin pada hari pertama kelahiran, setiap bayi tetap harus melengkapi jadwal imunisasi hepatitis B sebanyak tiga kali, yaitu saat usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Jadwal ini berlaku secara nasional di Indonesia, sehingga bisa didapatkan di seluruh fasilitas kesehatan, termasuk untuk bayi yang lahir dari ibu tanpa hepatitis B. Pemberian HBIG dan empat dosis vaksin hepatitis B memiliki efektivitas sebesar 85 – 95% dalam mencegah penularan dari ibu ke bayi.

    Vaksin hepatitis B ini telah terbukti aman, tetapi sama seperti vaksin lainnya, efek samping seperti nyeri di bagian tubuh yang disuntik atau demam mungkin terjadi setelah vaksinasi. Namun, hal tersebut merupakan efek samping ringan yang akan hilang setelah 1 – 2 hari, sehingga vaksinasi tetap memberikan keuntungan yang lebih besar, yaitu terlindunginya bayi dari bahaya hepatitis B, khususnya kematian dini.

    Nah, jika Anda ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis B, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Borgia G, Carleo M, Gaeta G, Gentile I. Hepatitis B in pregnancy. World Journal of Gastroenterology. 2012;18(34):4677-4683.
    2. Hepatitis B Vaccine Safety Vaccines | Vaccine Safety | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2015 [cited 5 July 2018]. Available from: https://www.cdc.gov/vaccinesafety/vaccines/hepatitis-b-vaccine.html
    3. Michielsen P, Ho E. Viral hepatitis B and hepatocellular carcinoma. ActaGastroenterol Belg. 2011;74(1):4-8.
    4. Nelson N, Jamieson D, Murphy T. Prevention of Perinatal Hepatitis B Virus Transmission. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society. 2014;3(1):S7-S12.
    5. Nelson. Textbook of Pediatrics. Edisi ke-20. Philadelphia: Elsevier, 2016.
    6. Purwono P, Juniastuti, Amin M, Bramanthi R, Nursidah, Resi E et al. Hepatitis B Virus Infection in Indonesia 15 Years After Adoption of a Universal Infant Vaccination Program: Possible Impacts of Low Birth Dose Coverage and a Vaccine-Escape Mutant. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 2016;95(3):674-679.
    7. Yano Y, Utsumi T, Lusida M, Hayashi Y. Hepatitis B virus infection in Indonesia. World Journal of Gastroenterology. 2015;21(38):10714-10720.

     

    Read More
  • Apa yang menjadi moment berharga Si kecil? Kedipan pertama, senyuman pertama hingga langkah pertama menjadi moment yang tak terlupakan untuk Moms. Dr. dr. Saptawi Bardosono, MSC dari Indonesian Nutrition Association mengatakan tumbuh kembang Si Kecil dikatakan berkembang jika banyak melakukan aktivitas fisik dan kognitif. Proses tumbuh kembang tersebut dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik […]

    Jangan Lewatkan Moment Tumbuh Kembang Si Kecil

    Apa yang menjadi moment berharga Si kecil? Kedipan pertama, senyuman pertama hingga langkah pertama menjadi moment yang tak terlupakan untuk Moms. Dr. dr. Saptawi Bardosono, MSC dari Indonesian Nutrition Association mengatakan tumbuh kembang Si Kecil dikatakan berkembang jika banyak melakukan aktivitas fisik dan kognitif.

    Proses tumbuh kembang tersebut dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik secara genetik maupun lingkungan. Perkembangan setiap anak berbeda-beda dan memiliki ciri khasnya tersendiri. Jadi, jangan sampai Moms melewatkan tumbuh kembang Si Kecil, abadikan dan bagikan moment aktifnya di ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat.

    ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat, foto aktivitas seru Moms bersama Si Kecil dan ceritakan betapa berharganya kesehatan Si Kecil. Berikut Syarat & Ketentuan ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat.

    Syarat & Ketentuan ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat

    1. Bagikan foto bersama Si Kecil dan tunjukkan keseruan dari aktivitas yang dilakukan bersama anak usia 1-5 tahun
    2. Berikan caption, betapa berharganya kesehatan anak. Contoh : Shelly, anak yang aktif dan periang, dia sangat suka sekali mencoba hal baru. Tapi kalau lagi sakit, dia suka sedih dan nggak mau ngelakuin apa-apa. Penting banget menjaga mood anak tetap bagus serta menjaga nutrisi nya tercukupi.
    3. Pastikan bahwa account Moms tidak di private
    4. Berikan hashtag #AkuAnakSehat #IngatSehatIngatProsehat dan ajak/mention 3 moms lain untuk ikutan
    5. Follow Instagram Account @prosehatdan #repost Pic ini di IG mom
    6. Durasi Photo Competition : 20 Juli – 10 Agustus 2018

    3 Foto paling seru akan mendapatkan hadiah menarik :

    Juara 1 : voucher Vaksinasi ke Rumah senilai Rp. 1 Juta + Tas Okiedog

    Juara 2 : voucher Vaksinasi ke Rumah senilai Rp. 500 ribu + Tas Okiedog

    Juara 3 : voucher Vaksinasi ke Rumah senilai Rp. 300 ribu + Tas Okiedog

    Jadi tunggu apalagi Moms? Ikutan sekarang dan menangkan hadiah menarik dari ProSehat. Jangan sampai kelewatan ya Moms!. Ingat Sehat Ingat ProSehat..

    Referensi:

    ProSehat. “Jangan Lewatkan Tahap Tumbuh Kembang Anak”. https://www.prosehat.com/artikel/anaksehat/jangan-lewatkan-tahap-tumbuh-kembang-anak. Diakses pada 25 Juli 2018

     

    Read More
Chat Asisten ProSehat aja