Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 101–110 of 647 results

  • Penyakit HIV AIDS sudah tidak asing lagi kita dengar. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh dengan cara menginfeksi sel CD4, setelah sel CD4 terinfeksi, maka CD4 akan dihancurkan oleh virus HIV. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, maka jumlah CD4 di dalam tubuh berkurang, sehingga sistem pertahanan tubuh dan […]

    HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Penyakit HIV AIDS sudah tidak asing lagi kita dengar. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh dengan cara menginfeksi sel CD4, setelah sel CD4 terinfeksi, maka CD4 akan dihancurkan oleh virus HIV. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, maka jumlah CD4 di dalam tubuh berkurang, sehingga sistem pertahanan tubuh dan daya tahan tubuh melemah sehingga mudah terserang berbagai penyakit.

    Infeksi dari virus HIV akan berlanjut ke arah yang lebih serius yaitu AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS merupakan stadium terakhir dari infeksi HIV. Pada stadium ini, tubuh dalam kondisi lemah, sel daya tahan tubuh tidak mampu lagi melawan virus HIV.

    Gambar peningkatan jumlah pasien HIV AIDS di seluruh dunia

    Menurut data statistik WHO (World Health Organization) pada tahun 2017 diseluruh dunia mencatat total penderita HIV sebanyak 36,9 juta jiwa (terdiri dari 18,2 juta wanita dan 16,8 juta pria), yang terdiri dari usia dewasa sebanyak 35,1 juta penderita dan 1,8 juta penderita anak-anak usia dibawah 15 tahun. Pada awal tahun 2017, tercatat 1,8 juta pasien baru yang baru didiagnosis HIV dan sebanyak 940.000 penderita HIV meninggal.

    Gambar jumlah pasien HIV AIDS di Indonesia sampai tahun 2017

    Sedangkan di Indonesia, menurut data statistik UNAIDS Indonesia, jumlah penderita HIV AIDS Indonesia sebanyak 630.000 jiwa pada segala usia dan dengan kasus baru pasien terdiagnosis HIV AIDS sampai tahun 2017 sebanyak 49.000 jiwa, sedangkan angka kematian yang disebabkan HIV AIDS di Indonesia sebanyak 39.000 jiwa.

    Oleh karena HIV AIDS belum ada pengobatannya, maka pemerintah mengupayakan berbagai edukasi dan promosi melalui Departemen Kesehatan Republik Indonesia maupun lembaga-lembaga lainnya seperti penyuluhan, pembagian leaflet/brosur, media massa dan kampanye penggunaan kondom namun belum dapat mengurangi angka HIV AIDS di Indonesia.

    Gejala

    Gejala HIV AIDS dibagi dalam beberapa fase. Fase awal disebut juga fase infeksi akut yang terjadi pada bulan awal infeksi HIV. Pada tahap ini tubuh membentuk sistem daya tahan tubuh (antibodi) untuk melawan virus HIV, pada fase awal ini gejala muncul 1-2 bulan setelah terjadi infeksi. Gejala yang muncul seperti gejala flu yaitu demam ringan, tidak enak badan, lemas, batuk, pilek, menggigil. Gejala yang muncul dapat ringan atau berat sesuai dengan daya tahan tubuh pasien. Gejala yang mungkin timbul antara lain:

    • demam ringan sampai berat
    • nyeri sendi
    • lemas
    • mudah lelah dan nyeri-nyeri otot
    • mual dan muntah
    • nyeri kepala
    • nyeri perut
    • diare
    • ruam merah pada kulit seluruh badan
    • nyeri tenggorokan dan nyeri menelan
    • sariawan
    • bengkak pada kelenjar getah bening pada area leher dan ketiak.

    Setelah berlangsung beberapa bulan, fase awal akan berlanjut ke fase laten. Pada fase ini, gejala dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan dapat berlangsung bertahun-tahun. Pada fase laten, virus HIV merusak lebih banyak lagi antibodi CD4. Gejala yang mungkin timbul bervariasi, ada yang tidak bergejala, gejala ringan sampai berat. Berikut ini gejala yang timbul pada fase laten :

    • berat badan semakin menurun drastis
    • nafsu makan menurun
    • diare berkepanjangan
    • keringat saat malam hari
    • mual dan muntah
    • pembengkakan kelenjar getah bening
    • lemah dan lemas
    • tumbuh jamur pada lidah
    • timbul Herpes zooster (tidak semua pasien mengalami)

    Setelah fase laten, fase selanjutnya adalah AIDS. Pada tahap ini, penderita AIDS mengalami penurunan antibodi yang drastis, karena sel antibodi CD4 mengalami kerusakan parah. Pada fase ini, pasien seringkali mudah terinfeksi oleh penyakit lain. Gejala yang timbul pada fase AIDS antara lain:

    Contoh Infeksi Jamur pada Mulut Penderita AIDS

    • berat badan menurun drastis
    • nafsu makan turun
    • badan lemah
    • mudah terinfeksi penyakit lain (TBC paru, diare terus-menerus, penyakit kulit)
    • bintik putih pada mulut, lidah dan kelamin
    • timbul jamur pada lidah, mulut, vagina dan kulit tubuh (Candidiasis)
    • demam terus-menerus sepanjang hari dan berlangsung lama
    • mudah berdarah (gusi dan hidung) tanpa sebab
    • gangguan saraf (meningitis kriptokokus atau infeksi selaput otak akibat infeksi jamur)
    • terserang Herpes zooster yang menyerng kerusakan saraf, mata dan pencernaan (infeksi virus cryptomegalovirus)
    • gangguan psikis dan emosional (mudah marah, depresi, perubahan mood)
    • kelenjar getah bening membesar (dapat berlanjut menjadi kanker kelenjar getah bening atau limfoma)

    Fakta dan Mitos

    AIDS ditularkan saat cairan tubuh penderita masuk ke dalam tubuh orang lain seperti darah, sperma dan cairan vagina. Banyak mitos yang beranggapan bahwa ludah dapat menularkan virus HIV. Nyatanya, ludah tidak dapat menularkan virus HIV kecuali terdapat luka terbuka pada area mulut misalnya gusi berdarah atau sariawan. Selain itu, mitos lain beranggapan bahwa berjabat tangan, berpelukan dapat menularkan infeksi virus HIV, nyatanya virus HIV hanya dapat ditularkan melalui cairan tubuh penderita saja sehingga berjabat tangan atau sentuhan fisik lainnya tidak dapat menularkan infeksi HIV. Virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, pengunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah dari penderita HIV, penularan dari ibu hamil ke janin, proses melahirkan, serta dari air susu ibu.

    Pengobatan

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa HIV AIDS tidak dapat diobati. Obat-obatan antivirus dapat digunakan untuk pencegahan tertular dengan pasien HIV setelah berhubungan seksual secara tidak sengaja dengan penderita HIV dan bagi penderita HIV, antivirus hanya berfungsi untuk memperlambat perkembangan virus HIV saja. Obat-obatan simptomatik atau obat-obatan sesuai gejala dapat digunakan untuk meringankan gejala yang timbul, misalnya seperti anti demam, anti jamur serta obat-obatan lain sesuai dengan gejala yang timbul.

    Pencegahan

    Gambar Pencegahan HIV

    Sebagai langkah pencegahan agar tidak tertular HIV, berikut ini langkah yang dapat dilakukan :

    1. Jangan melakukan seks bebas.
    2. Hindari berganti-ganti pasangan seks, usahakan setia dengan satu pasangan saja.
    3. Hindari penggunaan jarum suntik bergantian.
    4. Gunakan kondom bila melakukan hubungan seksual berisiko.
    5. Bila pasangan menderita HIV, segera konsultasikan ke dokter atau layanan kesehatan untuk dilakukan tes HIV dan dilakukan profilaksis atau pencegahan penularan virus HIV terhadap pasangannya.
    6. Hindari oral seks dengan pendreita HIV terutama bila terdapat luka terbuka pada area mulut (sariawan atau gusi berdarah) hal ini memungkinkan virus HIV akan masuk melalui luka tersebut.

    Nah, itulah ulasan seputar HIV AIDS yang bisa Sobat pahami. Jika Anda masih membutuhkan ulasan maupun produk kesehatan, silakan akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. AIDSinfo. (2018). HIV/AIDS: The Basics Understanding HIV/AIDS. [online] Available at: aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/19/45/hiv-aids–the-basics [Accessed 18 Nov. 2018].
    2. Aidsinfo.unaids.org. (2018). AIDSinfo | UNAIDS. [online] Available at: aidsinfo.unaids.org/ [Accessed 18 Nov. 2018].
    3. Apps.who.int. (2018). GHO | By category | Number of people (all ages) living with HIV – Estimates by country. [online] Available at: apps.who.int/gho/data/view.main.22100?lang=en [Accessed 18 Nov. 2018].
    4. HIV.gov. (2018). HIV Basics. [online] Available at: hiv.gov/hiv-basics [Accessed 18 Nov. 2018].
    5. World Health Organization. (2018). Data and statistics. [online] Available at: who.int/hiv/data/en/ [Accessed 18 Nov. 2018].

     

    Read More
  • Kejadian kanker serviks di Indonesia bukan lagi hal yang asing di telinga kita. Tak sedikit pula public figure yang terkena penyakit ini.Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan kanker kedua yangsering terjadi pada wanita setelah kanker payudara. Kejadian kanker serviks dinyatakan dapat meningkat hingga 80% pada tahun 2020 apabila tidak dilakukan program pencegahan yang intens. […]

    Infeksi HPV – Penyebab Utama Kutil Hingga Kanker

    Kejadian kanker serviks di Indonesia bukan lagi hal yang asing di telinga kita. Tak sedikit pula public figure yang terkena penyakit ini.Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan kanker kedua yangsering terjadi pada wanita setelah kanker payudara. Kejadian kanker serviks dinyatakan dapat meningkat hingga 80% pada tahun 2020 apabila tidak dilakukan program pencegahan yang intens. Wanita usia 50 tahun ke atas dinyatakan memiliki risiko terbanyak terhadap terjadinya kanker serviks. Human pappilomavirus, atau lebih dikenal dengan HPV, menjadi penyebab utama dari terjadinya kanker pada leher rahim.

    Diketahui sebelumnya bahwa HPV memiliki banyak sekali jenisnya yang berperan terhadap infeksi pada jaringan kulit dan mukosa manusia, seperti pada leher rahim, vagina, anus, penis, orofaring, dan kulit, yang dikenal pada awalnya sebagai infeksi HPV. HPV tipe 16 dan 18 yang sangat terkait erat terhadap terjadinya kanker leher rahim dan vagina.Sekitar 50% kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe 16. Sedangkan, infeksi HPV tipe 1 & 2 biasanya gejalanya akan terdapat pada kulit yang ditandai seperti kutil dengan permukaan yang kasar, biasanya dinamakan sebagai veruka.Infeksi HPV tersering lainnya, selain yang telah disebutkan diatas adalah mengenai rongga mulut dan kulit, yang ditandai dengan munculnya tonjolan-tonjolan yang tidak rata dan lunak, biasanya disebut sebagai kondiloma akuminata. Jadi, jangan sampai salah pengertian, Sobat! Infeksi HPV ini bisa menimbulkan gejala yang bermacam-macam tergantung tipe HPV yang menginfeksi.

    Sebelum menjadi sebuah kanker, biasanya HPV didahului dengan menginfeksi jaringan-jaringan kulit dan mukosa, dimana jaringan mukosa yang paling banyak terkena adalah bagian organ reproduksi wanita, terutama serviks dan vagina, tapi tidak memungkiri bahwa infeksi HPV juga dapat terjadi pada pria walaupun angka kejadiannya sangat rendah, dan apabila terjadi pada pria biasanya infeksi HPV dapat berkembang menjadi sel kanker pada daerah penis. Penularan dari infeksi HPV ini sendiri terutama terjadi melalui hubungan seksual dan dapat dimulai sejak usia 20 tahun.

    Pada orang-orang yang seringkali bergonta-ganti pasangan, maupun yang melakukan hubungan seksual sejak usia muda, serta melakukan seks oral membuat risiko terjadinya infeksi HPV ini meningkat. Bahaya dari infeksi HPV ini adalah pada umumnya infeksi HPV tidak memberikan gejala apapun, sehingga biasanya tidak terdeteksi dan tidak tertangani, dan akibat dari infeksi yang menetap ini adalah dapat menyebabkan perubahan sel pada jaringan yang terkena hingga menjadi suatu sel yang bersifat ganas, biasanya kita kenal dengan kanker. Lamanya waktu yang diperkirakan pada perubahan sel ini adalah selama 7 tahun. Infeksi HPVdiperkirakan terjadi sebanyak 25% pada wanita usia 20-26 tahun dan sekitar 60-80% berkembang menjadi kanker serviks dan vagina.

    Sejak tahun 2006, sudah tersedia 2 jenis vaksin HPV yang berisikan partikel dari virus HPV tipe 16 dan 18, dan telah dinyatakan terbukti dalam mencegah terjadinya keganasan dari leher rahim dan vagina. Perlindungan yang diberikan melalui vaksin ini dapat efektif selama 8-10 tahun. Vaksin HPV  dapat diberikan sejak usia 9 tahun, tapi lebih direkomendasikan untuk usia 12 tahun ke atas. Vaksin HPV ini lebih efektif bagi wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya, tapiapabila sudah melakukan hubungan seksual, vaksin tetap boleh diberikan hanya efektivitas vaksin menjadi lebih berkurang. Vaksin HPV diberikan sebanyak 3 dosis, dimana dosis pertama dapat diberikan sejak usia 9 tahun, dosis kedua diikuti 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis terakhir dapat diberikan 6 bulan setelah dosis pertama. Sampai saat ini, tidak ditemukan adanya efek samping yang bermakna dari pemberian vaksin HPV tersebut.

    Selain dari vaksin HPV, pencegahan lainnya yang dapat dilakukan yaitu dengan pemeriksaan secara berkala, dan apabila didapati adanya suatu lesi pada daerah sekitar vagina dan serviks, segera dilakukan pemeriksaan spesifik terhadap lesi tersebut. Deteksi dini terhadap kanker serviks dan vagina juga dapat dilakukan pada fasilitas kesehatan primer, yaitu puskesmas. Perlu diperhatikan juga Sobat, bahwa vaksin HPV hanya digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi HPV, terutama HPV tipe 16 & 18, tapi tidak dapat digunakan untuk mengobati apabila sudah terinfeksi. Maka, apabila muncul lesi baru maupun tonjolan seperti kutil pada rongga mulut, serta organ reproduksi seperti penis, vagina, leher rahim, maupun organ reproduksi sekitarnya, segera periksa ke dokter agar tidak terlambat ditangani.
    Nah, itulah ulasan seputar infeksi HPV, jika Anda masih membutuhkan informasi maupun produk kesehatan lain, silakan akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Lippiatt J, Powell N, Tristram A. Non-cervical human papillomavirus-related disease. The Obstetrician & Gynaecologist. 2013;15:221-6.
    2. Valentino K, Poronsky CB. Human papillomavirus infection and vaccination. Journal of Pediatric Nursing. 2016;31(2):155-66.
    3. Petry KU. HPV and cervical cancer. Scandinavian Journal of Clinical and Laboratory Investigation. 2014;74(244):59-62.
    4. Department of Health and Human Services: Vaccine Information Statement. Human Papillomavirus Vaccine. Centers for Disease Control and Prevention. 2011.
    5. Johnson HC, Lafferty E, Eggo RM, Louie K, Soldan K, Waller J, Edmunds WJ. Effect of HPV vaccination and cervical cancer screening in England by ethnicity : a modelling study. Lancet Public Health.2018;3:44-51.
    6. Tsu V, Jeronimo J. Saving the World’s Women from Cervical Cancer. The New England Journal of Medicine. 2016;374(26):2509-11.

     

     

    Read More
  • Seiring berjalannya waktu, banyak isu yang berkembang terkait kaum gay, salah satunya adalah tentang benar tidaknya bahwa kaum gay sangat rentan tertular HIV. Human Immunodeficiency Virus(HIV) seperti namanya berarti suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Keadaaan ini menyebabkan seseorang yang terinfeksi HIV akan sangat mudah terinfeksi kuman atau virus lain tanpa adanya perlawanan […]

    Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    Seiring berjalannya waktu, banyak isu yang berkembang terkait kaum gay, salah satunya adalah tentang benar tidaknya bahwa kaum gay sangat rentan tertular HIV. Human Immunodeficiency Virus(HIV) seperti namanya berarti suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Keadaaan ini menyebabkan seseorang yang terinfeksi HIV akan sangat mudah terinfeksi kuman atau virus lain tanpa adanya perlawanan dari sistem kekebalan tubuh, sehingga sering kali infeksi yang terjadi pada penderita HIV berada dalam kondisi yang sangat berat dan mengancam jiwa karena sulit disembuhkan.

    Berbicara mengenai kerentanan kaum gay terkena HIV, pada tahun 2008 CDC (centers for disease control and prevention) mengeluarkan sebuah penelitian bahwa pada tahun 2006 terdapat 53.000 kasus HIV baru di Amerika Serikat pada kelompok usia diatas 13 tahun, jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 40.000 kasus baru. Perlu Sobat ketahui bahwa dari kasus-kasus baru ini didapati bahwa 53% diantaranya disebabkan kontak seksual antara pria dengan pria, sedangkan 4% disebabkan kontak seksual pria dengan pria, juga pemakaian obat-obatan. Selain itu, dari seluruh kasus-kasus baru itu 73% diantaranya adalah pria dan dari seluruh pria ini yang mengaku melakukan kontak seksual antara pria dengan pria adalah 72%. Berdasarkan data statistik diatas sebenarnya kita dapat menyimpulkan bahwa kaum gay memang lebih rentan terkena HIV.

    Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan kaum gay lebih rentan terkena HIV? Menurut National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD and TB Prevention,ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi.

    1. Masih tingginya persentase kaum gay yang terinfeksi HIV sehingga angka penularan antara mereka juga tinggi.
    2. Banyak kaum gay yang tidak peduli bahwa mereka terkena HIV atau tidak, hal ini dibuktikan dengan hanya 56% dari kaum gay dan biseksual pada tahun 2008 meningkat menjadi 66% pada tahun 2011 yang mengetahui bahwa mereka terkena HIV, tentunya dari data diatas dapat disimpulkan bahwa masih banyak yang belum mengetahuinya.
    3. Kebiasaan berhubungan seksual secara anal seks yang memiliki risiko tertinggi dalam penularan HIV.
    4. Kaum gay cenderung memiliki pasangan seksual yang banyak dan bergonta-ganti.
    5. Stigma jelek yang berkembang pada masyarakat dan homofobia yang menyebabkan mereka malu atau cenderung menutup diri sehingga keinginan dan kesempatan mereka untuk datang ke pusat layanan kesehatan rendah.

    Oleh karena itu,kita harus sadar bahwa kaum gay maupun HIV ada disekitar kita. Nah, hal yang kita lakukan bukanlah menjauhi orangnya tetapi penyakitnya. Berhubungan seksual dengan lawan jenis setelah menikah dan tidak bergonta-ganti pasangan adalah cara terbaik untuk mencegah dan mengurangi penularan HIV.

    Jangan lupa Sobat, bagi Anda yang masih membutuhkan ulasan maupun produk kesehatan, silakan akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD and TB Prevention. HIV Among Gay and Bisexual Men. CDC ( Centers of Disease Control and Prevention); 2015 p. 1-2.
    2. Darnell B, Guzman A, Krivo-kaufman A. Gay Men and HIV : An Urgent Priority. New York: GMHC (Gay Men’s Health Crisis); 2010.
    3. Dewi G, Indrawati E. Pengalaman Menjadi Gay (Studi Fenomenologi pada Pria Homoseksualitas Menuju Coming Out). Jurnal Empati. 2017;7(3):116-126.
    4. Boellstroff T. Gay dan Lesbian Indonesia Serta Gagasan Nasionalisme. Antropologi Indonesia. 2006;30(1):1-6.
    5. UCD LGBT Society [Internet]. Ucd.ie. 2018 [cited 18 November 2018]. Available from: ucd.ie/lgbt/lgbt-gay.html

     

    Read More
  • Konon katanya hubungan intim atau hubungan seksual menjadi salah satu faktor keharmonisan rumah tangga. Mungkin Sobat pun termasuk salah satu yang setuju dengan pernyataan tersebut. Setiap pasangan tentu memiliki cara tersendiri untuk melakukan dan menyenangkan pasangannya dalam hal seksual. Oral dan anal seks bisa menjadi variasi seksual yang dijadikan alternatif bagi sejumlah pasangan. Nah, berikut […]

    3 Fakta Oral Seks yang Perlu Anda Ketahui

    Konon katanya hubungan intim atau hubungan seksual menjadi salah satu faktor keharmonisan rumah tangga. Mungkin Sobat pun termasuk salah satu yang setuju dengan pernyataan tersebut. Setiap pasangan tentu memiliki cara tersendiri untuk melakukan dan menyenangkan pasangannya dalam hal seksual. Oral dan anal seks bisa menjadi variasi seksual yang dijadikan alternatif bagi sejumlah pasangan.

    Nah, berikut ini ada 3 fakta menarik seputar oral seks yang perlu Sobat ketahui:

    1. Berkaitan dengan Kanker Tenggorokan

    Waduh! Cukup mengerikan ya Sobatjika sudah mendengar kata “kanker’. Ya, kanker tenggorokan memang berkaitan dengan aktivitas oral seks. Namun bukan karena oral seks secara langsung, tapi karena virus Human Papilovirus (HPV) yang dapat ditularkan dari orang ke orang saat berhubungan seksual. Para peneliti telah menemukan bahwa beberapa jenis kanker orofaring (bagian tengah tenggorokan) dan amandel dapat disebabkan oleh jenis HPV tertentu. Pada awal tahun 2000-an, para ilmuwan dapat menggunakan tes DNA tingkat lanjut untuk menemukan HPV 16 pada banyak kasus kanker baru.

    Sebuah penelitian dari New England Journal of Medicine pada tahun 2007 menunjukkan risiko lebih besar untuk kanker orofaring pada orang yang pernah melakukan oral seks dengan setidaknya enam pasangan yang berbeda.

    2. Meningkatkan Relasi Keintiman dengan Pasangan

    Dalam beberapa hubungan dewasa, oral seks dapat meningkatkan hubungan dan menambah kedekatan pada partner, tapi tidak berlaku pada semua pasangan. Jika Anda termasuk individu yang memikirkan faktor higienitas, tentu tidak serta merta mau melakukan oral seks. Selain itu, ada pula sejumlah pasangan yang bingung bagaimana cara melakukannya dan takut pada reaksi dari pasangannya tersebut.

    3. Berisiko Terkena HIV

    prosehat hiv aids

    Penyakit akibat hubungan seksual, termasuk HIV, herpes, sifilis, gonorea, HPV dan hepatitis dapat ditularkan melalui oral seksdenganpasangan yang tertular HIV. Risikonya bergantung pada banyak hal, seperti berapa banyak pasangan seksual yang dimiliki, jenis kelamin, dan tipe oral seks yang dilakukan. Menggunakan pelindung seperti kondom dapat mengurangi risiko. Namun, banyak orang tidak tahu risikonya, dan tetap melakukannya tanpa perlindungan.

    Risiko terkena HIV pada anal seks dan oral seks cukup tinggi, terutama jika salah satu partner adalah HIV positif. Anal seks merupakan hubungan seksual yang melibatkan atau memasukkan penis ke dalam anus, sedangkan oral seks adalah hubungan seksual yang melibatkan penis dan mulut. Sobat dapat menurunkan risiko mendapatkan dan menularkan HIV dengan menggunakan kondom dengan cara yang benar setiap kali berhubungan seks, memilih aktivitas seksual berisiko rendah, minum obat setiap hari untuk mencegah HIV yang disebut pra-paparan profilaksis (PrPP) dan minum obat untuk mengobati HIV jika Anda memiliki HIV yang disebut antiretroviral (ART).

    Memberikan oral seks pada seorang pria telah terbukti dapat menularkan HIVbilasalahsatupasangantertular HIV, meskipun sebagian tetap percaya bahwa risikonya rendah. Risiko meningkat jika orang yang memberikan seks oral memiliki luka atau goresan di mulutnya, bahkan jika luka tersebut kecil yang diakibatkan oleh menggosok gigi sebelum berhubungan seksual. Bilaingin melakukan seks oral yang lebih aman, hindari air mani pada mulut, baik dengan cara menggunakan kondom maupun menghentikan oral seks sebelum ejakulasi.

    Memberikan oral seks pada wanita juga memiliki risiko relatif rendah. Kemungkinan infeksi lebih tinggi jika ada darah menstruasi, jika wanita tersebut memiliki penyakit akibat hubungan seksual lainnya selain HIV, atau jika orang yang melakukan seks oral memiliki luka di mulutnya.

    Oleh karena itu, Sobat perlu mengetahui, apa itu seks yang aman?Artinya adalah berhubungan seks hanya dengan satu pasangan ketika tidak ada satupun dari Anda yang memiliki penyakit akibat hubungan seksual. Namun, ahli kesehatan berpendapat bahwa semua jenis hubungan seksual dapat memiliki risiko. Sebagai contoh, berciuman dianggap merupakan tindakan yang aman, tapi ternyata dapat menularkan herpes jika salah satu pasangan memilikinya.

    Nah, berikut ini sejumlah tips yang berkaitan dengan berhubungan seks yang aman:

    • Diskusikan dahulu riwayat seksual dan penggunaan narkoba bersama dengan pasangan.
    • Untuk oral seks, bantu lindungi mulut dengan meminta pasangan menggunakan kondom.
    • Hindari minuman alkohol atau menggunakan narkoba karena dapat meningkatkan masalah seks berisiko tinggi.
    • Lakukan tes pap smear reguler dan tes periodik untuk penyakit akibat hubungan seksual.
    • Periksa tubuh Anda dan pasangan, apakah terdapat tanda–tanda penyakit akibat hubungan seksual seperti nyeri, lepuh, ruam atau keluarnya cairan. Jika Anda tidak yakin, berkonsultasilah dengan dokter.

    Itulah sederet informasi yang berkaitan dengan oral dan anal seks yang bisa Anda pahami. Bila Sobat masih membutuhkan ulasan maupun produk kesehatan lain, silakan akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. 4 Things You Didn’t Know Abut Oral Sex – webmd.com/sex-relationships/features/4-things-you-didnt-know-about-oral-sex#1, diakses padatanggal 19-11-2018
    2. Anal sex and HIV Risk – cdc.gov/hiv/risk/analsex.html, diakses pada tanggal 19-11-2018
    3. Problems with oral and anal sex – netdoctor.co.uk/ask-the-expert/sex-faqs/a1514/problems-with-oral-and-anal-sex/, diakses pada tanggal 19-11-2018
    4. How risky is oral sex – hivinsite.ucsf.edu/hiv?page=basics-00-08, diaskes pada tanggal 19-11-2018
    5. Safer Sex Guideline – hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/gynecological_health/safer_sex_guidelines_85,P00585, diakses pada tanggal 19-11-2018

     

    Read More
  • Pembicaraan tentang seks pada era masa kini memang tak setabu sekian tahun yang lalu. Tak sedikit anak muda yang membahas tema seputar seks bersama teman-teman sebayanya, termasuk masalah oral dan anal seks. Oral seks dan anal seks sebenarnya bukanlah hal yang baru, perilaku seksual seperti ini sebenarnya muncul bersamaan dengan homoseksualitas yang telah ada sejak […]

    Apa Bahaya Oral & Anal Seks dari Sisi Medis?

    Pembicaraan tentang seks pada era masa kini memang tak setabu sekian tahun yang lalu. Tak sedikit anak muda yang membahas tema seputar seks bersama teman-teman sebayanya, termasuk masalah oral dan anal seks. Oral seks dan anal seks sebenarnya bukanlah hal yang baru, perilaku seksual seperti ini sebenarnya muncul bersamaan dengan homoseksualitas yang telah ada sejak zaman dahulu. Namun, sudahkah Sobat mengetahui bahaya oral dan anal seks?

    Sebelum melangkah lebih jauh tentang bahayanya, Sobat sekalian harus mengetahui apa yang dimaksud dengan oral seks dan anal seks. Oral seks adalah suatu perilaku dimana seseorang menggunakan mulut, lidah atau bibirnya untuk menstimulasi atau merangsang organ genital (kemaluan) seseorang. Sedangkan anal seks adalah ketika alat kemaluan pria dimasukkan kedalam anus partner seksualnya dengan tujuan mencapai kepuasan seksual. Seperti perilaku seksual lainnya, beberapa orang mungkin merasakan kepuasan, sebagian lagi tidak. Beberapa orang mungkin merasa penasaran dengan itu, sebagian lagi tahu bahwa mereka tidak nyaman. Namun, apapun itu,Sobat perlu mengetahui apa bahayanya.

    Sekarang kita akan membahas satu persatu tentang bahaya yang mungkin terjadi dari kedua perilaku ini, yang pertama oral seks, sebenarnya belum ada data akurat yang dapat mendeskripsikan berapa persentase orang-orang yang melakukan perilaku ini ditengah masyarakat, tapi persentasenya diperkirakan cukup tinggi terutama kalangan dewasa muda.Lalu apa sebenarnya bahaya oral seks? bahayanya karena banyak penyakit menular seksual yang dapat ditularkan melalui oral seks. Penularan dapat melalui kontak kulit dengan kulit atau rambut dengan rambut, serta melalui cairan tubuh. Adapun penyakit menular seksual yang paling sering terjadi ialah penyakit herpes, gonore (raja singa) dan sipilis. Sedangkan penyakit lain seperti chlamydia, HIV, hepatitis A, hepatitis B dan hepatitis C lebih jarang kejadiannya. Sedangkan anal seks yang selama ini selalu dikaitkan dengan kaum homoseksual ternyata juga dialami oleh kaum wanita. Lantas apa bahaya dari anal seks? bahaya terbesar dari anal seks yaitu HIV, dimana penularannya lebih cepat dibanding berhubungan melalui vagina.

    Sebuah penilitian yang dilakukan oleh The AIDS Scientific Community menunjukkan bahwa wanita yang berhubungan seks melalui anus 5,1 kali lebih mungkin tertular HIV dibanding yang berhubungan seks melalui vagina. Mereka juga menemukan bahwa 46% wanita yang berhubungan seks dengan pria terinfeksi HIV secara anal, positif terinfeksi HIV. Pada dasarnya mukosa (dinding permukaan) saluran cerna bawah (usus besar hingga anus) memiliki lapisan pelindung yang mampu mencegah kuman atau bahan beracun. Namun, cairan semen (mani) manusia mengandung zat kimia(enzim kolagenase dan spermin ) yang mampu merusak dinding mukosa anus, ditambah lagi anus dan saluran cerna bawah tak mampu menghasilkan lendir pelumas seperti yang mampu dihasilkan vagina. Hal ini menyebabkah dinding mukosa cerna bagian bawah dan anus akan lebih mudah luka atau lecet sehingga virus maupun kuman akan lebih mudah masuk. Oleh sebab itu Sobat, pada dasarnya oral seks dan anal seks sangatlah berisiko sehingga ada baiknya berhubungan seks dilakukan secara normal dan dengan pasangan yang sah agar kemungkinan-kemungkinan buruk tadi tidak terjadi.

    Selain topik masalah seksual, Anda juga bisa menambah ilmu dengan mengikuti artikel kesehatan lain dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Jika membutuhkan produk kesehatan, Sobat juga bisa  menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Oral : Looking After Your Sexual Health [Internet]. 1st ed. London: The Family Planning Association; 2018 [cited 21 November 2018]. Available from: fpa.org.uk
    2. Naftalin R. Anal sex and AIDS. Nature. 1992;360(6399):10-10.
    3. Karim S, Ramjee G. Anal sex and HIV transmission in women. American Journal of Public Health. 1998;88(8):1265-1266.
    4. STD Risk and Oral Sex | STD | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 21 November 2018]. Available from: cdc.gov/std/healthcomm/stdfact-stdriskandoralsex.htm
    5. What is anal sex, and how do you do it? – Sex, Etc. [Internet]. Sexetc.org. 2018 [cited 21 November 2018]. Available from: sexetc.org/info-center/post/what-is-anal-sex-and-how-do-you-do-it-are-there-any-risks/
    Read More
  • Sobat, apakah kalian sudah yakin bahwa makanan yang kalian konsumsi selama ini sudah memenuhi standar kesehatan? Yakin sudah sehat? Siapa tahu 6 zat gizi ini terlewatkan. Ayo intip 6 zat gizi yang sering dilupakan berikut: 1. SELENIUM Mungkin Sobat jarang sekali mendengar tentang selenium dan bahkan tidak mengetahui bahwa selenium berfungsi penting bagi tubuh. Tahukah […]

    Yakin Sudah Sehat? 6 Zat Gizi Ini Mungkin Terlewatkan!

    Sobat, apakah kalian sudah yakin bahwa makanan yang kalian konsumsi selama ini sudah memenuhi standar kesehatan? Yakin sudah sehat? Siapa tahu 6 zat gizi ini terlewatkan. Ayo intip 6 zat gizi yang sering dilupakan berikut:

    1. SELENIUM

    Mungkin Sobat jarang sekali mendengar tentang selenium dan bahkan tidak mengetahui bahwa selenium berfungsi penting bagi tubuh. Tahukah kalian kalau selenium merupakan elemen gizi yang diperlukan oleh tubuh untuk mengurungi risiko berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan juga imun. Banyaknya radikal bebas dalam tubuh dapat berakibat pada kerusakan sel lemak, protein dan DNA. Selenium dapat mencegah terjadinya oksidasi dari lemak jahat sehingga dapat mencegah terjadinya aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan pembuluh darah). Selain itu, selenium juga berfungsi untuk menghancurkan patogen, baik virus maupun bakteri. Makanan yang banyak mengandung selenium yaitu makanan laut, sereal, daging olahan.

    Makanan laut sebagai sumber selenium

    2. KALSIUM

    Seperti kita ketahui, kalsium bermanfaat untuk pertumbuhan tulang. Tahukah Sobat bahwa pada wanita yang sudah menopause, risiko terjadinya osteoporosis dan patah tulang meningkat? Gejolak penurunan hormon yang terjadi pada wanita yang menopause mengakibatkan peningkatan risiko terkena osteoporosis dan patah tulang. Oleh karena itu, sumber kalsium dari makanan sangat diperlukan untuk membantu proses pembentukan tulang. Kandungan kalsium tertinggi dapat diperoleh dari susu, keju, yoghurt, sumber lainnya ialah gandum, sereal, telur dan ikan.

    3. MAGNESIUM

    Magnesium berfungsi untuk pembentukan energi, tulang, jantung, dan kontraksi otot. Kekurangan magnesium dapat berdampak pada kecemasan, lemas, agitasi, kaku otot, kram otot, konstipasi, migrain, gangguan irama jantung dan osteoporosis. Bila Sobat ingin menghindari kelainan-kelainan tersebut, ayo mulai sekarang perbanyak konsumsi gandum, alpukat, kacang, dark chocolate, tahu dan biji-bijian.

    Sereal termasuk sumber magnesium

    4. KALIUM

    Tahukah Sobat kalau tidak hanya kalsium tetapi juga ada kalium yang sering terlewatkan padahal memiliki peranan yang penting bagi tubuh khususnya pada pertumbuhan tulang sehingga dapat mencegah terjadinya osteoporosis? Tak hanya untuk pertumbuhan tulang, kalium juga bermanfaat dalam mencegah terjadinya risiko kanker dan penyakit jantung koroner. Banyaknya konsumsi kalium dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Kentang, saos tomat, ubi, jagung, pisang dan tuna merupakan sumber makanan yang kaya kalium.

    5. VITAMIN E

    Sumber vitamin E yakni tepung maizena, kelapa, blackberry, kacang almond, hazelnut, mangga, cranberries, blackcurrant, kiwi dan alpukat. Vitamin E berfungsi untuk mencegah pembentukan radikal bebas yang bisa berdampak pada kerusakan sel, organ ataupun DNA. Vitamin E juga turut dalam mencegah terjadinya penyakit jantung dengan cara mencegah biosintesis kolesterol, selain itu sebagai zat anti kanker sebab dapat mencegah pertumbuhan sel kanker serta meningkatkan imunitas tubuh. Vitamin E juga turut berperan dalam mencegah terjadinya penyakit alzheimer dan bermanfaat dalam menjaga kesehatan kulit.

    6. VITAMIN D

    The Sunshine Vitamin, itulah julukan vitamin D, 50% dari penduduk di seluruh dunia kekurangan vitamin D karena perubahan gaya hidup dimana aktivitas di luar ruangan berkurang dan juga polusi udara. Kekurangan vitamin D berperan dalam berkurangnya penyerapan kalsium. Rendahnya  kadar vitamin D dalam tubuh juga kerap dikaitkan dengan obesitas, depresi, patah tulang dan penyakit autoimun. Yuk, Sobat biasakan konsumsi makanan yang mengandung tinggi vitamin D seperti sayur-sayuran hijau, susu, ikan, jamur dan buah-buahan dari sekarang dan jangan takut memaparkan tubuh Anda dengan sinar matahari pagi.

    Nah, sekarang Sobat sudah mengetahui 6 zat gizi yang sering terlewatkan. Jika Anda membutuhkan suplemen kesehatan maupun artikel kesehatan lain, bisa diakses dari www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Tinggi U. Selenium: Its Role as Antioxidant in Human Health. Environ Health Prev Med. 2008 Mar; 13(2): 102–108.
    2. Shenkin A. Micronutrients in Health and Disease. Postgrad Med J. 2006 Sep; 82(971): 559–567.
    3. Grober U, Schmidt J, Kisters K. Magnesium in Prevention and Therapy. Nutrients. 2015 Sep; 7(9): 8199–8226.
    4. Beto JA. The Role of Calcium in Human Aging. Clin Nutr Res. 2015; 4(1): 1–8.
    5. Weaver CM. Potassium and Health. Advances in Nutrition. 2013; 4(3): 368S–377S.
    6. Nair R, Maseeh A. Vitamin D: The “Sunshine” Vitamin. J Pharmacol Pharmacother. 2012 Apr-Jun; 3(2): 118–126.
    Read More
  • Mendengar kata ‘diabetes’ merupakan salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Seperti diketahui, selain dengan minum obat dan berbagai bentuk penanganan medis lainnya, gaya hidup dan pola diet penderita diabetes juga menjadi hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan terapi. Salah satunya adalah susu rendah kalori, apakah cocok dan aman diberikan […]

    Susu Rendah Kalori Pengganti Makanan, Cocokkah untuk Penderita Diabetes?

    Mendengar kata ‘diabetes’ merupakan salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Seperti diketahui, selain dengan minum obat dan berbagai bentuk penanganan medis lainnya, gaya hidup dan pola diet penderita diabetes juga menjadi hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan terapi. Salah satunya adalah susu rendah kalori, apakah cocok dan aman diberikan sebagai makanan pengganti bagi penderita diabetes? Simak ulasan di bawah ini:

    Diabetes melitus atau penyakit gula adalah kondisi dimana kadar gula darah tinggi karena tubuh tidak dapat menghasilkan atau menggunakan hormon insulin dengan efektif. Insulin adalah hormon yang berguna dalam mengatur kadar gula darah, memastikan agar gula darah didistribusikan ke dalam sel sebagai sumber energi. Di saat fungsi ini terganggu, maka kadar gula darah akan meningkat dan terjadilah penyakit gulaini. Terdapat dua tipe diabetes, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan 2. Apapun tipe diabetes yang dialami, tidak semua makanan dan minuman baik untuk dikonsumsi. Porsi makan para diabetesi yang dianjurkan pun tidak sama dengan orang-orang pada umumnya, yaitu:

    • Energi dari karbohidrat 45-65%,
    • Protein 15-20%,
    • Lemak 20-25%,
    • Vitamin, mineral, dan serat dalam jumlah yang cukup.

    American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan perencanaan makan untuk dapat mencapai kadar gula yang normal dan terkontrol dengan baik tapi tetap mendapatkan nutrisi yang maksimal, yaitu:

    • Perhitungkan karbohidrat yang Anda konsumsi setiap saat makan,
    • Pertimbangkan dan kontrol porsi makanan Anda tidak berlebihan,
    • Pilih jenis makanan dengan indeks glikemik rendah yang baik untuk gula darah Anda.

    Lalu, bagaimana dengan susu, terutama susu rendah kalori, apakah cocok untuk untuk penderita diabetes?American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa setiap pasien diabetes memiliki risiko osteoporosis dan patah tulang yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang sehat, sehingga konsumsi susu sebagai sumber kalsium dan vitamin D cukup penting agar dapat mencegah terjadinya osteoporosis dini. Selain itu, susu mengandung indeks glikemik yang rendah sehingga cocok bagi penderita diabetes. Bahkan beberapa penelitian menemukan bahwa konsumsi susu dapat menurunkan risiko hipertensi dan sindrom metabolik lainnya, bahkan menurunkan risiko diabetes kemudian hari bagi mereka yang belum terkena diabetes.

    Prinsipnya sebenarnya sama, pada kondisi diabetes maka tidak semua susubaik untuk Anda. Pastinya perlu diperhatikan kandungan gula, karbohidrat, dan lemak jenuh pada masing-masing produk susu. Setelah itu, sesuaikan dengan total asupan harian agar tidak berlebihan. Oleh karena itu, hindarilah produk susu yang diberikan pemanis tambahan, serta susu yang tinggi akan kandungan lemak jenuh. Jadi untuk para diabetesi, beberapa pilihan susu yang rendah kalori dan baik untuk pasien diabetes adalah sebagai berikut:

    1. Susu tanpa lemak
    2. Susu rendah lemak
    3. Susu kedelai terfortifikasi

    Para diabetesi perlu tahu bahwa sebagian besar susu yang mengandung pemanis rendah kalori akan mengandung sejumlah kalori dan karbohidrat dari bahan komposisi yang lain. Itu sebabnya, meskipun diberi keterangan ‘bebas gula’ atau ‘rendah gula’ tapi tidak selalu benar adanya. Penting untuk para diabetesi mencermati label kandungan nutrisi yang tertera pada masing-masing kemasan susu rendah kalori apapun yang ingin dikonsumsi. Rasa dari susu juga perlu diperhatikan. Pilihlah susu tanpa rasa karena susu dengan rasa tertentu seperti cokelat dan vanila, biasanya mengandung kadar gula atau pemanis buatan yang lebih tinggi.

    Nah,bila Sobat membutuhkan produk susu rendah kalori, aneka makanan-minuman kesehatan serta informasi seputar kesehatan lainnya, bisa dipesan melalui www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Susu rendah kalori pengganti makanan diabetesi. Diupadate 16 November 2016. Diakses 2 Oktober 2018. Available at: prosehat.com/artikel/artikelkesehatan/susu-rendah-kalori-pengganti-makanan-diabetesi
    2. What are the best milk options for people with diabetes? Diupdate 18 April 2016. Diakses 2 Oktober 2018. Available at: healthline.com/health/diabetes/best-milk-for-diabetics
    3. What is the best milk for people with diabetes? Diupdate 28 Agustus 2018. Diakses 2 Oktober 2018. Available at: medicalnewstoday.com/articles/311107.php
    4. Daily Nutrition. Milk products and type 2 diabetes. Diakses 2 Oktober 2018. Available at: dairynutrition.ca/scientific-evidence/roles-on-certain-health-conditions/milk-products-and-type-2-diabetes
    5. Spero D. Is milk bad for you? Diabetes and milk. Diupdate 20 Juni 2017. Diakses 2 Oktober 2018. Available at: diabetesselfmanagement.com/blog/is-milk-bad-for-you-diabetes-and-milk/
    Read More
  • Bagi para penderita kanker, asupan makanan yang baik dan bergizi merupakan suatu hal yang paling penting dan perlu diperhatikan. Pasalnya, sebagian besar para penderita kanker mengalami gangguan makan, baik disebabkan karena gejala psikologi akibat dari penyakit yang sedang diderita oleh pasien kanker dimana penderita kanker merasa harapan hidup sudah tidak ada. Selain itu, efek samping […]

    Pengaruh Diet & Pola Makan Penderita Kanker

    Bagi para penderita kanker, asupan makanan yang baik dan bergizi merupakan suatu hal yang paling penting dan perlu diperhatikan. Pasalnya, sebagian besar para penderita kanker mengalami gangguan makan, baik disebabkan karena gejala psikologi akibat dari penyakit yang sedang diderita oleh pasien kanker dimana penderita kanker merasa harapan hidup sudah tidak ada. Selain itu, efek samping obat-obatan yang sedang mereka minum maupun efek samping dari kemoterapi dan radiasi yang sedang mereka jalani juga menyebabkan nafsu makan menurun. Akibat gangguan makan yang mereka alami selama menderita kanker, hal ini justru akan memperparah kondisi tubuh penderita kanker dan akan jatuh ke dalam situasi kekurangan gizi (malnutrisi).

    Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai hubungan antara diet dan pola makan pada pasien penderita kanker, ada baiknya kita mengenal apakah penyakit kanker itu, apa penyebab dan apakah gejalanya.

    Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan pertumbuhan sel dalam tubuh tidak normal. Kanker disebut juga tumor ganas atau neoplasia yang menyebar dan menyerang bagian tubuh lainnya. Gejala dari kanker umumnya beragam sesuai dengan lokasi organ yang terserang kanker. Kanker dapat menyerang bagian tubuh manapun, seperti kanker otak, kanker hati, kanker paru-paru, kanker ovarium, kanker mulut rahim, kanker usus, kanker tulang, kanker kulit dan masih banyak lainnya. Berikut ini jenis kanker terbanyak di Indonesia:

    Jenis Kanker Terbanyak di Indonesia

    Menurut data Kemenkes RI pada tahun 2014, kanker menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia setelah penyakit kardiovaskular. Insiden penyakit kanker meningkat 12,7 juta kasus dengan angka kematian 7,6 juta orang pada tahun 2008 dan meningkat pada tahun 2012 dengan 14,1 juta kasus kanker dan angka kematian 8,2 juta orang.

    Gejala yang ditimbulkan kanker umumnya beragam, tergantung dari organ mana yang terserang kanker. Namun secara umum, berikut ini gejala dari kanker:

    • Nyeri
    • Mudah lelah
    • Sesak nafas atau sulit bernafas
    • Mual
    • Diare
    • Berat badan menurun secara drastis

    Sebuah penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa timbulnya jenis kanker dapat juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang meliputi keadaan geografis dan rasial, berkaitan dengan gaya hidup, serta pola makan yang berbeda. Penelitian menunjukkan orang Jepang yang tinggal di Amerika lebih banyak mengalami kanker kolon. Asupan zat gizi diketahui merupakan faktor penting yang dapat menunjang terjadinya kanker. Masyarakat yang vegetarian mempunyai risiko kanker lebih rendah dibandingkan dengan non vegetarian. Sampai saat ini penyebab kanker masih belum diketahui secara pasti, diduga penyebab kanker berasal dari keturunan atau genetik, kebiasaan yang buruk seperti merokok, minum alkohol, seks bebas tanpa alat pelindung. Paparan radiasi dan infeksi virus maupun bakteri juga diduga dapat menyebabkan kanker.

    Lalu apa kaitannya asupan gizi dengan penyakit kanker? Asupan gizi yang tidak baik bagi tubuh dapat dianggap mencetuskan kanker. Sebaliknya, setelah terjadi kanker, maka akan memengaruhi asupan makanan yang dapat memengaruhi status gizi pasien kanker.

    Gangguan zat gizi yang dilami penderita kanker dapat disebabkan asupan makanan yang kurang maupun gangguan penyerapan nutrien gizi di usus akibat kanker yang dialami.

    Salah satu zat gizi yang berkaitan dengan penyakit kanker yaitu asupan lemak, konsumsi lemak dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan kanker, sebab lemak mempunyai sifat Cancer Promoting. Misalnya konsumsi lemak berlebih, akan memicu peningkatan hormon esterogen yang merangsang tumbuhnya kanker payudara.

    Selain itu, konsumsi lemak berlebih akan merangsang keluarnya cairan empedu berlebih, selanjutnya mikroorganisme di usus akan diubah menjadi zat karsinogenik. Lemak yang biasa dikonsumsi biasanya adalah lemak jahat atau PUFA (Asam lemak poliunsaturated) yang mengalami proses hidrogenasi akan membentuk asam lemak trans, yang akan merangsang timbulnya kanker.

    Seseorang yang divonis kanker akan mengalami ketakutan, kecemasan dan stres yang merangsang hormon katekolamin, yaitu hormon yang dapat menurunkan nafsu makan (anoreksia). Penurunan nafsu makan akan diikuti dengan penurunan berat badan yang drastis, yang akan berakibat kakesia (ketidakseimbangan antara asupan gizi dengan zat gizi yang dibutuhkan tubuh), kakesia yang berlangsung lama akan menyebabkan kekurangan gizi (malnutrisi). Sebanyak 20-50% penderita kanker akan mengalami masalah gizi malnutrisi. Selain karena efek samping dari kondisi psikologis pasien kanker, malnutrisi juga dapat disebabkan karena efek samping pengobatan kanker, yang menyebabkan efek samping mual, muntah, gangguan menelan, diare atau gangguan penyerapan makanan pada usus.

    Dalam hal ini, dukungan keluarga sangat dibutuhkan, dengan cara memberikan motivasi pada penderita kanker agar mengonsumsi makanan untuk mendukung daya tahan tubuhnya. Keluarga sebaiknya mengawasi makanan agar pasien kanker tidak semakin parah. Asupan gizi sangat berperan penting sejak penderita kanker didiagnosis, pelaksanaan pengobatan sampai penyembuhan.

    Pada penderita kanker, kebutuhan gizi akan meningkat akibat proses keganasannya. Selain itu, pengobatan penyakit kanker, radioterapi dan kemoterapi akan lebih berguna apabila status gizi pasien dalam keadaan baik. Penatalaksanaan makanan dengan memaksimalkan asupan makanan sangat berguna untuk mengurangi gejala akan efek samping pengobatan sehingga pengobatan dapat dilakukan secara maksimal sampai tahap terakhir.

    Berikut ini anjuran asupan makanan yang baik bagi penderita kanker :

    1. Konsumsi makanan yang mengandung cukup karbohidrat seperti nasi, gandum, kentang dan umbi-umbian. Karbohidrat sangat baik bagi kanker sebagai sumber energi utama yang dibutuhkan selama proses pengobatan, agar tidak terjadi efek samping pengobatan seperti lemas dan rentan terhadap infeksi bakteri, virus maupun jamur.
    2. Konsumsi sayur dan buah. Makanan yang mengandung sayur dan buah, kaya akan kandungan vitamin A, vitamin C, asam folat, serta mineral dan antioksidan yang bermanfaat mencegah sembelit atau konstipasi. Selain itu, antioksidan berfungsi untuk melarutkan sisa metabolisme obat kemoterapi dalam tubuh, sel kanker yang rusak atau sel kanker yang mati dalam tubuh akibat pengobatan.
    3. Konsumsi makanan yang mengandung protein tinggi seperti daging, telur, tahu, tempe dan susu. Protein berfungsi sebagai zat pembangun bagi pertumbuhan dan perbaikan sel tubuh yang rusak akibat kanker maupun akibat pengobatan kanker. Selain itu, protein berfungsi sebagai sumber energi tambahan apabila sumber energi dari lemak dan karbohidrat kurang di dalam tubuh.

    Nah, Sobat itulah ulasan seputar diet dan pola makan pada penderita kanker. Informasi kesehatan maupun produk kesehatan lain, dapat diakses dari www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Kusumawardani N. PENANGANAN NUTRISI PADA PENDERITA KANKER [Internet]. Ejournal.litbang.depkes.go.id. 2018 [cited 26 September 2018]. Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/940
    2. [Internet]. Iccc.id. 2018 [cited 26 September 2018]. Available from: iccc.id/uploads/201801/TERAPI_NUTRISI_PADA_PASIEN_KANKER.pdf
    3. Danty Putri S, Adiningsih S. Peranan Dukungan Pendamping dan Kebiasanaan Makan Pasien Kanker Selama Menjalani Terapi. Universitas Airlangga [Internet]. 2018 [cited 25 September 2018];:1-9. Available from: webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Z1C2VXkeomoJ : e-journal.unair.ac.id/MGI/article/download/3376/2417+&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id
    4. Coa K, Epstein J, Ettinger D, Jatoi A, McManus K, Platek M et al. The Impact of Cancer Treatment on the Diets and Food Preferences of Patients Receiving Outpatient Treatment. Nutrition and Cancer. 2015;67(2):339-353.
    5. Nutrition and Physical Activity During and After Cancer Treatment: Answers to Common Questions [Internet]. Cancer.org. 2018 [cited 26 September 2018]. Available from: cancer.org/treatment/survivorship-during-and-after-treatment/staying-active/nutrition/nutrition-and-physical-activity-during-and-after-cancer-treatment.html
    Read More
  • Apakah Sobat pernah mengonsumsi minuman soda nol kalori? Jika belum, mungkin Anda sering melihatnya di deretan kulkas atau etalase minuman yang dijajakan di supermarket. Yup, embel-embel “nol kalori” tampaknya mendukung program diet. Namun, benarkah “zero calori” ini aman dikonsumsi? Sebanyak 1 dari 5 orang di Amerika memiliki kebiasaan mengonsumsi soda setiap hari, tapi dalam beberapa […]

    Minuman Soda Nol Kalori, Tetap Bikin Gemuk Loh!

    Apakah Sobat pernah mengonsumsi minuman soda nol kalori? Jika belum, mungkin Anda sering melihatnya di deretan kulkas atau etalase minuman yang dijajakan di supermarket. Yup, embel-embel “nol kalori” tampaknya mendukung program diet. Namun, benarkah “zero calori” ini aman dikonsumsi?

    Sebanyak 1 dari 5 orang di Amerika memiliki kebiasaan mengonsumsi soda setiap hari, tapi dalam beberapa tahun terakhir banyak penelitian yang menyatakan bahwa mengonsumsi soda terlalu berisiko bagi kesehatan, karena soda mengandung banyak kandungan gula yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi tubuh seperti  peningkatan berat badan sampai obesitas, diabetes, gangguan jantung, serta masalah kesehatan lainnya. Soda juga bisa menyebabkan gangguan pada saraf seperti demensia dan stroke pada seseorang yang sering mengonsumsi soda. Oleh karena itu, diciptakanlah soda dengan nol kalori, tapi apakah memang benar soda nol kalori memang lebih baik dan tidak berdampak bagi kesehatan?

    Walaupun tidak mengandung kalori, tapi diet soda tetap manis karena mengandung pemanis buatan seperti aspartam, xilitol, poliol, manitol, sorbitol dan laktitol. Apabila dikonsumsi dalam jumlah tepat, dan tidak berlebih, diet soda terbukti dapat membantu mengurangi asupan kalori yang masuk, tapi apabila dikonsumsi hampir setiap hari tentunya tidak baik bagi kesehatan.

    Seorang peneliti bernama Matthew Pase, PhD dan rekan-rekannya dari Universitas di Boston mengumpulkan data kesehatan selama 10 tahun, informasi dari 3000 orang dewasa di Amerika, hampir 45 yang mengalami stroke, dan dari 1500 orang dewasa di Amerika, sekitar 60 orang terkena demensia. Para peneliti mulai mengumpulkan data, aktivitas fisik, usia dan menghubungkannya dengan kebiasaan minum soda diet dan soda yang mengandung gula. Diperoleh kesimpulan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi soda nol kalori cenderung mengonsumsi kalori lebih banyak dari makanan lainnya. Hal ini disebabkan pemanis buatan yang terkandung dalam soda nol kalori dapat mengubah bakteri normal di usus, yang dapat menstimulasi rasa lapar sehingga mendorong seseorang untuk mengonsumsi makanan lebih banyak (overeating).

    Pada tahun 2012, Ludwig meneliti 224 pasien kelebihan berat badan, dibagi menjadi dua kelompok. Grup satu mengonsumsi soda yang mengandung gula dan yang lainnya mengonsumsi soda nol kalori. Setelah satu tahun, kelompok yang mengonsumsi soda nol kalori menunjukkan peningkatan berat badan dibandingkan dengan yang mengonsumsi soda yang mengandung gula. Kemudian, penelitian dilanjutkan sampai 2 tahun kemudian, dan hasilnya menunjukkan kesimpulan yang sama.

    Berikut ini beberapa penelitian yang menunjukkan efek negatif dari mengonsumsi gula nol kalori:

    • Pada tahun 2014, sebuah studi menunjukkan orang yang obesitas dan mengonsumsi soda nol kalori, makan 90-200 kalori lebih banyak dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi soda dengan kandungan gula biasa.
    • Pada tahun 2014, sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh British Journal of Nutrition, menyatakan bahwa sekelompok orang yang mengonsumsi soda nol kalori berisiko untuk menderita Diabetes tipe II sebanyak 13% lebih banyak dibandingkan dengan kelompok orang yang mengonsumsi soda dengan kandungan gula biasa.
    • Pada tahun 2015, BMJ mempublikasikan bahwa kelompok orang yang mengonsumsi gula nol kalori hampir setiap hari, meningkatkan risiko diabetes sebanyak 8%.
    • Pada tahun 2012, sebuah studi menyatakan bahwa sekelompok orang yang mengonsumsi soda nol kalori pada usia 69 tahun akan mempunyai kemungkinan sebanyak 43% menderita penyakit jantung, stroke atau kelainan pembuluh darah.
    • Peneliti dari Israel meneliti dari 381 orang dewasa tanpa adanya riwayat diabetes, kemudian mengonsumsi soda nol kalori, akan mempunyai faktor risiko diabetes tipe 2 lebih besar, termasuk peningkatan berat badan, peningkatan lemak perut dan tingginya gula dalam darah

    Menurut Christopher Gardner, PhD seorang Direktur Nutrition Studies at the Stanford Prevention Research Center, hubungan antara mengonsumsi soda nol kalori dengan peningkatan berat badan dapat disebabkan karena pemanis buatan yang terkandung dalam soda nol kalori dapat menyebabkan tubuh mengonsumsi kalori lebih banyak dibandingkan biasanya. Salah satu penyebabnya karena faktor psikologis, ketika memilih makanan rendah kalori atau nol kalori, maka otak akan memberikan penghargaan pada diri dan menghadiahkan diri sendiri dengan mengonsumsi minuman atau makanan berkalori lainnya (sehingga mengonsumsi makanan lebih banyak dari yang tidak mengonsumsi makanan rendah kalori atau nol kalori). Oleh karena itu, asupan kalori pada seseorang yang mengonsumsi soda nol kalori akan lebih banyak dibandingkan dengan yang mengonsumsi soda dengan kandungan gula.

    Menurut Gardner, soda nol kalori atau makanan dengan kalori rendah, sangat baik bagi kesehatan, dan dapat membantu mengurangi berat badan selama mengonsumsinya dalam jumlah tepat dan tanpa disertai asupan kalori berlebih dari makanan lainnya.

    Dibandingkan mengonsumsi minuman bersoda nol kalori, untuk membantu mengurangi berat badan, sebaiknya Sobat mengonsumsi minuman atau makanan yang lebih sehat seperti:

    1. Air Putih

    Mengonsumsi air putih minimal 8 gelas per hari sangat baik bagi kesehatan, selain karena nol kalori, membiasakan minum air putih dengan cukup membantu dalam mengalihkan rasa lapar, sehingga menghindari kita makan di luar jadwal makan utama.

    Menurut penelitian, meminum air putih dapat memberikan efek rasa kenyang, kebanyakan dari kita merasa bingung apakah yang kita rasakan haus ataukah lapar. Dengan mengonsumsi air putih secara cukup, meminimalkan kita untuk mengonsumsi makanan ringan.

    1. Jus buah-buahan

    Dibandingkan mengonsumsi soda, lebih baik mengonsumsi jus buah buahan, selain buah mengandung vitamin, antioksidan, air dan serat yang baik bagi tubuh. Serat yang terkandung dalam buah-buahan akan memberikan efek kenyang yang lebih lama.

    1. Teh hijau

    Teh hijau (green tea) dapat membantu mengurangi berat badan karena teh hijau membantu pembakaran kalori lebih cepat.

    Kini, Sobat tentunya sudah lebih paham mengenai minuman soda nol kalori dan dampaknya bagi kesehatan tubuh. Jika Anda membutuhkan aneka produk makanan sehat maupun informasi kesehatan lain, coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Gallagher J. Are diet drinks a no-go? [Internet]. BBC News. 2018 [cited 2 October 2018]. Available from: bbc.com/news/health-34924036
    2. MacMillen M. Is Drinking Diet Soda a Health Risk? [Internet]. WebMD. 2018 [cited 2 October 2018]. Available from: webmd.com/diet/news/20170505/diet-soda-health-risks
    3. Low-Calorie Sweeteners [Internet]. The Nutrition Source. 2018 [cited 2 October 2018]. Available from: hsph.harvard.edu/nutritionsource/healthy-drinks/artificial-sweeteners/
    4. Miller P, Perez V. Low-calorie sweeteners and body weight and composition: a meta-analysis of randomized controlled trials and prospective cohort studies. The American Journal of Clinical Nutrition [Internet]. 2014 [cited 2 October 2018];100(3):765-777. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4135487/
    5. Do diet drinks really make you fatter? [Internet]. nhs.uk. 2018 [cited 2 October 2018]. Available from: nhs.uk/news/food-and-diet/do-diet-drinks-really-make-you-fatter/
    Read More
  • Bagi para penyandang diabetes melitus, semua makanan dan minuman yang manis dipukul rata tidak diperbolehkan. Artinya, semua yang bebas gula aman untuk dikonsumsi, begitulah kira-kira. Tapi tentu saja para penyandang diabetes tetap ingin bisa mengonsumsi sesuatu yang manistapi tetap relatif aman untuknya, maka hadirlah berbagai macam inovasi gula rendah kalori khusus untuk diabetes dan lain-lain, […]

    Madu atau Gula, Amankah untuk Penderita Diabetes?

    Bagi para penyandang diabetes melitus, semua makanan dan minuman yang manis dipukul rata tidak diperbolehkan. Artinya, semua yang bebas gula aman untuk dikonsumsi, begitulah kira-kira. Tapi tentu saja para penyandang diabetes tetap ingin bisa mengonsumsi sesuatu yang manistapi tetap relatif aman untuknya, maka hadirlah berbagai macam inovasi gula rendah kalori khusus untuk diabetes dan lain-lain, lalu salah satunya adalah madu.

    Nah, madu atau gula yang cocok untuk penderita diabetes? Yuk,Sobat mari pahami dengan baik dan temukan alasannya.

    Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan pada era modern saat ini, dengan jumlah penyandang diabetes lebih dari 285 juta jiwa pada tahun 2010, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga kira-kira 438 juta penyandang diabetes tahun 2030.Diabetes melitus adalah kadar gula di dalam darah tinggi yang disebabkan karena kegagalan fungsi hormon insulin akibat gaya hidup dan pola makan yang tidak baik seperti konsumsi gula atau makanan/minuman manis yang berlebihan. Kemudian muncul ide madu untuk pengganti gula sebagai pemanis. Tapi tahukah Sobat, ternyata madu baik dikonsumsi untuk para penyandang diabetes, bahkan penelitian terbaru saat ini menyatakan bahwa madu memiliki efek antidiabetes.

    Kalori dan Indeks Glikemik

    Apa bedanya madu dan gula biasa? Jika dibandingkan, satu sendok gula pasir mengandung 46 kalori, sedangkan satu sendok madu mengandung 64 kalori. Wah, madu ternyata mengandung lebih tinggi kalori. Namun jangan sedih dulu, satu sendok gula jika dibandingkan dengan satu sendok madu menghasilkan tingkat kemanisan yang berbeda. Madu tentu lebih manis dan lebih pekat. Kurang lebih untuk mendapatkan rasa manis yang setara dengan satu sendok gula, hanya dibutuhkan setengah atau sepertiga sendok madu, sehingga mengurangi jumlah kalori dan baik untuk penyandang diabetes.

    Indeks glikemik menggambarkan kemampuan suatu zat dalam meningkatkan kadar gula darah dan kadar insulin. Semakin tinggi indeks glikemik suatu zat, maka semakin cepat dan besar kenaikan gula darah yang disebabkan zat tersebut. Kabar baiknya, madu memiliki indeks glikemik yang rendah dibandingkan dengan gula, artinya madu diserap masuk ke dalamperedaran darah secara perlahan sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang hebat dan tentu sangat baik untuk penyandang diabetes.

    Kandungan dan Manfaat

    Gula mengandung 100% karbohidrat, yang tersusun dari 50% glukosa dan 50% fruktosa. Fruktosa adalah jenis gula yang hanya dapat dipecah oleh organ hati. Konsumsi gula yang berlebihan terbukti dapat menyebabkan beberapa kondisi yang tidak diinginkan seperti peningkatan berat badan yang dapat berujung menjadi obesitas, perlemakan hati, dan peningkatan trigliserida.

    Madu juga terdiri dari gula, tapi hanya 30% glukosa dan 40% fruktosa. Tapi tidak hanya itu, madu mengandung berbagai elemen lain yang baik untuk kesehatan, seperti protein, berbagai vitamin yaitu vitamin B2 atau riboflavin, vitamin B5 atau pantothenic acid, vitamin B3 atau niasin, vitamin B9 atau asam folat, vitamin B6, vitamin C, dan mineral baik seperti fosfor, potasium atau kalium, zat besi, magnesium, kalsium, dan zinc. Tidak hanya itu, di dalam madu juga terkandung berbagai jenis antioksidan seperti pinobanksin, chrysin, dan pinocembrin. Penelitian terbaru bahkan menyatakan bahwa konsumsi madu ternyata dapat menurunkan gula darah dan berperan sebagai antidiabetes.

    Kesimpulannya, madu aman dikonsumsi penderita diabetes. Jika Sobat membutuhkan produk madu, gula rendah kalori atau artikel kesehatan menarik lainnya, yuk akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Madu vs. Gula pasir: mana yang baik untuk diabetes? Diupdate 24 November 2015. Diakses 17 Oktober 2018. Available at: prosehat.com/artikel/artikelkesehatan/madu-vs-gula-pasir-mana-yang-baik-untuk-diabetes
    2. Bobiş O, Dezmirean DS, Moise AR. Honey and Diabetes: The Importance of Natural Simple Sugars in Diet for Preventing and Treating Different Type of Diabetes. Oxidative Medicine and Cellular Longevity. 2018;2018:4757893.
    3. Honey vs. Granulated sugar: which sweetener’s better for diabetes? Diupdate 31 Oktober 2017. Diakses 17 Oktober 2018. Available at: healthline.com/health/diabetes/sweeteners-honey-vs-granulated-sugar#1
    4. Can people with type 2 diabetes eat honey? Diupdate 28 Mei 2017. Diakses 17 Oktober 2018. Available at: medicalnewstoday.com/articles/317662.php
    5. Erejuwa OO, Sulaiman SA, Wahab MSA. Honey – A Novel Antidiabetic Agent. International Journal of Biological Sciences. 2012;8(6):913-934.
    Read More
WhatsApp Asisten Maya saja