Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 91–100 of 1371 results

  • Moms, bayi dan anak-anak diketahui memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga membuatnya rentan terserang penyakit. Salah satu penyakit yang pernah mewabah di Indonesia dan masih perlu diwaspadai keberadaannya adalah polio. Penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Di negara yang pernah wabah polio […]

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Moms, bayi dan anak-anak diketahui memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga membuatnya rentan terserang penyakit. Salah satu penyakit yang pernah mewabah di Indonesia dan masih perlu diwaspadai keberadaannya adalah polio.

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Ketahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Penyakit ini disebabkan oleh virus polio yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Di negara yang pernah wabah polio seperti Indonesia, vaksin ini diberikan pertama kali saat bayi lahir atau sampai dengan usia 1 bulan dalam bentuk vaksin oral (oral polio vaccine/ OPV) atau tetes.

    Tapi, sudah tahukah Moms, ternyata vaksin polio ada juga dalam bentuk suntik? Yuk cari tahu usia berapa anak boleh diberikan vaksin polio suntik, Moms!

    Pentingnya Imunisasi Polio

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi polio menjadi salah satu bagian dari jadwal rutin imunisasi anak. pasalnya, melengkapi imunisasi anak sangat penting guna meningkatkan kekebalan tubuhnya dalam melawan penyakit. 

    Berdasarkan jadwal imunisasi IDAI 2020, vaksin polio oral direkomendasikan diberikan sebanyak empat kali sedangkan vaksin polio suntik (IPV) sebanyak dua kali. Hal ini juga didukung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni akan ada perubahan pada tahun 2023 untuk mewajibkan semua negara melakukan imunisasi polio suntik atau IPV sebanyak 2 kali. 

    Polio sendiri merupakan penyakit menular yang mematikan lantaran menyerang sistem saraf otak. Kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen hingga kematian pada penderitanya.

    Itulah mengapa setiap anak wajib mendapat suntikan vaksin polio, karena vaksin ini secara efektif melindungi anak dari penyakit polio dan komplikasinya yang mungkin terjadi. Pemerintah pun telah menetapkan vaksin polio sebagai vaksin yang wajib diberikan pada anak. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Usia Berapa Anak Vaksin Polio Suntik?

    Setiap jenis vaksin memiliki jadwal pemberiannya masing-masing. Vaksin polio sendiri memiliki dua bentuk, yakni oral/ tetes (OPV) dan suntik/ injeksi (IPV). Hanya vaksin polio oral yang boleh diberikan saat bayi baru lahir atau sampai dengan bulan pertama.

    Baca Juga: Tujuan Imunisasi Polio yang Perlu Diketahui

    Perbedaan dari kedua jenis vaksin polio ini adalah OPV berisi virus polio yang dilemahkan sedangkan IPV berisi virus polio yang dimatikan.

    Sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2020, anak-anak harus mendapatkan vaksin polio total empat dosis sebagai berikut:

    • Dosis 1: saat lahir sampai dengan 1 bulan
    • Dosis 2: usia 2 bulan
    • Dosis 3: usia 3 bulan
    • Dosis 4: usia 4 bulan

    Untuk dosis booster sendiri diberikan saat anak berusia 18 bulan.

    Vaksin polio suntik (IPV) diberikan minimal 2 kali sebelum anak berusia 1 tahun bersamaan dengan imunisasi DPT.

    Efek Samping Vaksin Polio

    Serupa dengan jenis vaksin lainnya, efek samping yang mungkin terjadi akibat suntikan vaksin polio adalah reaksi alergi, meskipun hal tersebut jarang terjadi. 

    CDC memperkirakan bahwa ada sekitar 1 dari 1 juta dosis vaksin polio yang dapat memicu reaksi alergi. Reaksi tersebut biasanya terjadi dalam beberapa menit atau jam usai mendapat suntikan vaksin. Bahkan beberapa orang juga akan merasakan sakit di tempat dimana suntikan vaksin diberikan. 

    Baca Juga: Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Nah Moms, itulah berbagai informasi mengenai pentingnya vaksin polio pada anak serta usia tepat untuk anak mendapatkan imunisasi polio. Semua orang tua tentunya mendambakan anaknya selalu dalam kondisi sehat. Oleh karena itu, pastikan Si kecil mendapatkan semua vaksin wajib yang telah direkomendasikan agar terhindar dari penularan penyakit dan risiko komplikasinya. 

    Prosehat melayani imunisasi polio oral dan suntik. Jika Si Kecil belum mendapatkan imunisasinya, segera hubungi Prosehat untuk layanan imunisasi di klinik Prosehat di Jakarta dan Bekasi, atau layanan imunisasi di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Moms dan Si Kecil. Ada juga paket imunisasi yang berisikan beberapa jenis vaksin yang Si Kecil butuhkan sesuai usianya. Semua lengkap di Prosehat!

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. CDC. Polio Vaccine.
    2. IDAI. Jadwal Imunisasi IDAI 2020.
    3. CDC. Routine Polio Vaccination.
    4. Kidshealth.org. Your Child’s Immunizations (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    Read More
  • Pernahkah Sahabat Sehat merasa terdesak untuk buang air kecil atau kencing dan kesulitan menahannya? Bagi orang awam, kondisi ini sering disebut dengan “beser”. Meski dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian orang, terutama pada lansia, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada tubuh. Sahabat Sehat, apa saja penyebab sulit […]

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Pernahkah Sahabat Sehat merasa terdesak untuk buang air kecil atau kencing dan kesulitan menahannya? Bagi orang awam, kondisi ini sering disebut dengan “beser”. Meski dianggap sebagai hal yang wajar bagi sebagian orang, terutama pada lansia, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan pada tubuh.

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil dan Cara Mencegahnya

    Sahabat Sehat, apa saja penyebab sulit menahan buang air kecil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Sulit Menahan Buang Air Kecil

    Dalam dunia medis, kondisi ketika seseorang sulit menahan buang air kecil disebut juga dengan istilah “inkontinensia urine”. Kondisi ini terjadi ketika kontrol otot kandung kemih melemah sehingga urin keluar tanpa bisa dikontrol.

    Meski bukan termasuk sebagai kondisi yang dapat mengancam jiwa, tetapi kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Berikut adalah berbagai jenis penyebab seseorang sulit menahan buang air kecil, yakni:

    Inkontinensia Stress

    Inkontinensia stres adalah kondisi sulit menahan buang air kecil akibat kandung kemih dan otot saluran urin (uretra) yang tiba-tiba mengalami tekanan ekstra sehingga urine keluar dengan sendirinya. Kondisi ini kerap dialami pada lansia dan wanita yang telah melahirkan. Biasanya urin akan keluar tanpa disadari ketika mengangkat berat, bersin, batuk, tertawa, dan ketika berolahraga dengan intensitas berat.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Inkontinensia Urgensi

    Inkontinensia urgensi terjadi saat dorongan untuk buang air kecil muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat ditahan akibat kandung kemih yang terlalu aktif. Berikut beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan hal ini, yakni :

    • Perubahan posisi tubuh secara tiba-tiba
    • Aktivitas seksual, terutama saat orgasme
    • Otot kandung kemih yang terlalu aktif akibat kerusakan saraf kandung kemih, otot kandung kemih, dan sistem saraf. 

    Inkontinensia Overflow

    Kondisi ini diakibatkan hilangnya kemampuan mengosongkan kandung kemih secara menyeluruh sehingga terjadi kebocoran urin. Kondisi ini umumnya terjadi pada penderita gangguan prostat, sehingga lebih sering buang air kecil atau air kencing terus menetes keluar dari kemaluan.

    Baca Juga: Awas, Penyebab Miss V Gatal Bisa Jadi Ada Kencing Manis

    Inkontinensia Total

    Kondisi ini terjadi ketika kandung kemih tidak dapat menampung urin dengan baik, sehingga terus menerus mengalami kebocoran urin atau secara berkala mengalami kebocoran urin yang tidak terkendali dalam jumlah besar. Berikut beberapa kemungkinan penyebab inkontinensia total:

    • Kelainan bawaan lahir, misalnya kelainan pada kandung kemih
    • Riwayat cedera pada sumsum tulang belakang atau kandung kemih. 

    Inkontinensia Fungsional

    Kondisi ini mengakibatkan penderitanya tidak dapat menahan buang air kecil karena kesulitan mencari kamar mandi. Meski sadar akan keinginannya untuk buang air kecil, ada beberapa faktor yang dapat membuat penderitanya tidak bisa mencapai kamar mandi untuk buang air kecil sebagaimana mestinya. Inkontinensia jenis ini paling banyak dialami oleh orang tua. Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan inkontinensia fungsional, misalnya :

    • Gangguan mengingat (Dementia)
    • Gangguan penglihatan atau mobilitas yang buruk
    • Ketangkasan yang buruk, seperti kesulitan membuka kancing celana
    • Kecemasan, depresi, atau kemarahan sehingga enggan untuk menolak ke kamar mandi. 

    Baca Juga: 5 Tanda Gejala Diabetes atau Kencing Manis

    Bagaimana Penanganan Sulit Menahan Buang Air Kecil ?

    Sahabat Sehat, penanganan untuk mengatasi sulitnya menahan buang air kecil akan disesuaikan dengan jenis penyebabnya. Berikut adalah beberapa penanganan yang dilakukan yakni :

    1. Melakukan latihan senam kegel untuk memperkuat otot panggul
    2. Pemberian obat untuk memperkuat otot kandung kemih
    3. Penggunaan alat bantu seperti selang kencing (kateter) atau pun pessarium
    4. Stimulasi saraf untuk membantu memperkuat kontrol kandung kemih
    5. Prosedur operasi

    Baca Juga: Sahabat Sehat, Mari Kenali Kencing Nanah atau Gonore

    Bagaimana Mencegah Hal Ini ?

    Langkah utama untuk mencegah sulitnya menahan buang air kecil adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Sahabat Sehat dapat melakukan berbagai hal berikut dirumah, yaitu :

    • Konsumsi makanan berserat untuk mencegah sembelit
    • Berhenti merokok
    • Menurunkan berat badan agar mencapai berat badan ideal
    • Menghindari konsumsi minuman berkafein
    • Menghindari mengangkat beban yang terlalu berat
    • Latihan otot dasar panggul, seperti senam kegel 
    • Buang air kecil yang terjadwal dan hindari menahan buang air kecil
    • Olahraga secara rutin

    Baca Juga: Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab sulitnya menahan buang air kecil. Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Causes of Urinary Incontinence, Treatments, and More.
    2. Levine B, Jasmer M. What Is Urinary Incontinence? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment, and Prevention.
    3. Mayo Clinic. Urinary incontinence – Symptoms and causes.
    4. Cleveland Clinic. Overactive Bladder: Causes, Symptoms, Treatment & Prevention.
    5. Medicinenet. What Are 4 Types of Urinary Incontinence.
    6. Medical News Today. Urinary incontinence: Treatment, causes, types, and symptoms.
    Read More
  • Tahukah, Moms, kalau imunisasi masih dibutuhkan saat anak remaja? Ya, langkah pencegahan yang efektif melindungi diri dari berbagai penyakit menular ini masih berperan penting pada usia remaja. Remaja termasuk kelompok yang rentan terhadap penyakit infeksi karena semakin luas ruang eksplorasi dan pertemanannya. Seiring pertambahan usia, perlindungan dari vaksin yang ia dapat semasa kecil juga akan […]

    Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Tahukah, Moms, kalau imunisasi masih dibutuhkan saat anak remaja? Ya, langkah pencegahan yang efektif melindungi diri dari berbagai penyakit menular ini masih berperan penting pada usia remaja.

    Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Remaja termasuk kelompok yang rentan terhadap penyakit infeksi karena semakin luas ruang eksplorasi dan pertemanannya. Seiring pertambahan usia, perlindungan dari vaksin yang ia dapat semasa kecil juga akan berkurang, sehingga diperlukan imunisasi penguat atau booster agar ia tetap terlindungi. 

    Berikut beberapa jenis vaksin yang penting bagi remaja beserta kisaran biayanya:

    Vaksin Tdap

    Tdap adalah jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah tetanus, difteri dan pertussis (batuk rejan). Vaksin ini merupakan kelanjutan dari vaksin DPT yang diberikan sewaktu bayi. 

    Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan bakteri yang dapat ditemukan di tanah dan masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Penyakit ini dapat menyebabkan kejang otot yang dapat memicu kematian akibat kesulitan bernapas. 

    Difteri adalah penyakit yang mungkin jarang terjadi, tetapi pernah mewabah di Indonesia beberapa tahun silam karena penularannya yang mudah. Ketika seseorang terkena difteri akan muncul selaput tebal di bagian belakang hidung atau tenggorokan yang membuat penderitanya kesulitan bernapas atau menelan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kelumpuhan otot hingga gagal jantung. 

    Pertusis atau batuk rejan, atau yang dikenal juga sebagai batuk seratus hari, termasuk salah satu penyakit yang sangat mudah menular melalui batuk atau bersin. Penderita pertusis biasakan akan mengalami batuk berat yang bisa membuatnya sulit bernafas.

    Vaksin Tdap diberikan pada remaja mulai usia 10 tahun dan pemberiannya perlu diulang setiap 10 tahun. 

    Biaya paket Imunisasi Tetanus, Difteri, Pertussis (Tdap) dari Prosehat berkisar antara Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000, tergantung berapa kali suntik dan lokasi penyuntikan (di klinik Prosehat atau di rumah).

     

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Vaksin Influenza

    Influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan umumnya penderitanya mengalami gejala batuk, demam, menggigil, nyeri otot, dan merasa lemas. Virus Influenza sangat mudah menular melalui bersin, batuk, atau kontak langsung dengan cairan orang yang terinfeksi.

    Walau sering dianggap remeh karena gejalanya mirip dengan batuk pilek biasa, sebenarnya virus influenza dapat berakibat fatal, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru atau jantung, usia sangat muda atau tua, dan wanita hamil. 

    Vaksin influenza dianjurkan untuk diberikan kepada anak mulai dari usia 6 bulan ke atas. Sedangkan untuk anak usia 9 tahun atau lebih, imunisasi influenza direkomendasikan untuk diberikan setiap tahun sekali. 

    Imunisasi Influenza yang tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat berkisar antara harga Rp 500.000 – Rp 550.000.

    Vaksin HPV

    Human papillomavirus (HPV) merupakan jenis virus penyebab kanker serviks yang biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Kanker ini adalah kanker yang banyak menyebabkan kematian pada wanita Indonesia. Siapapun yang pernah melakukan hubungan seksual memiliki risiko untuk terinfeksi oleh HPV. 

    Vaksin HPV direkomendasikan untuk diberikan pada anak mulai usia 10 tahun. Vaksin ini perlu diberikan sebanyak 2 kali jika anak berusia antara 9-14 tahun, dan 3 kali jika berusia 15 tahun ke atas.

    Ada dua jenis vaksin HPV, yaitu HPV bivalent (2 strain) dan HPV quadrivalent (4 strain). Kedua vaksin ini tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat dengan harga berkisar antara Rp. 1.700.000 – Rp. 6.000.000, tergantung jenis paketnya dan berapa kali suntik. 

    Baca Juga: Cegah Tipes Dengan Vaksin Tifoid

    Vaksin Tifoid

    Demam tifoid atau yang lebih dikenal sebagai tipes merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Infeksi bakteri ini menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Penderita tipes biasanya akan mengalami gejala berupa demam, diare, lemas, hingga nyeri kepala. 

    Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, gejala tipes mungkin akan menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti perdarahan dan pecahnya usus hingga memicu kematian. 

    Vaksin tifoid dapat diberikan sejak anak usia 2 tahun. Sedangkan pada remaja, imunisasi ini dapat diulang setiap 3 tahun sekali. 

    Imunisasi tifoid yang tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat berkisar antara harga Rp. 300.000 – Rp. 350.000. 

    Vaksin Hepatitis A

    Hepatitis A adalah penyakit yang menyerang organ hati yang disebabkan oleh virus. Virus tersebut dapat ditemukan pada feses orang yang terinfeksi, kemudian menyebar ke orang lain melalui makanan dan air. 

    Orang yang terinfeksi hepatitis A umumnya akan mengalami gejala berupa kulit dan mata yang berwarna kuning. 

    Vaksin hepatitis A dapat diberikan pada anak sejak usia 2 tahun. Namun pada remaja, vaksin ini dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan jika ia belum mendapatkannya saat anak-anak.

    Kisaran harga imunisasi hepatitis A yang tersedia di Layanan Vaksinasi ke Rumah oleh Prosehat mulai dari Rp. 450.000 – Rp. 1.440.000, tergantung jenis paket dan berapa kali suntik.

    Baca Juga: Mari Lindungi Si Gadis Dari Kanker Serviks

    Moms, itulah jenis-jenis imunisasi yang perlu diberikan kepada anak remaja. Cek kembali apakah ia sudah melengkapi imunisasinya dan jika belum, segera lakukan imunisasi kejar. Moms bisa mendapatkan layanan imunisasi di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kemudahan dan kenyamanan Moms dan anak.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. HealthyChildren.org. Vaccines for Teenagers & Young Adults.
    2. CDC. Teen Vaccines.
    3. IDAI. Imunisasi Pada Remaja.
    4. Primaya Hospital. Daftar Vaksin Penting untuk Usia Remaja.
    5. ProSehat. ProSehat sedia Vaksinasi Dewasa.
    Read More
  • Lansia (lanjut usia) atau dikenal juga dengan istilah medis geriatri merupakan istilah untuk menyebutkan seseorang yang sudah berusia diatas 60 tahun. Pada umur ini, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka kesakitan lansia mencapai 28,62%, pada tahun 2018 sebanyak 25,99%, dan pada tahun 2019 naik lagi mencapai […]

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Lansia (lanjut usia) atau dikenal juga dengan istilah medis geriatri merupakan istilah untuk menyebutkan seseorang yang sudah berusia diatas 60 tahun. Pada umur ini, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi.

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Berbagai Jenis Penyakit yang Kerap Dialami Lansia

    Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka kesakitan lansia mencapai 28,62%, pada tahun 2018 sebanyak 25,99%, dan pada tahun 2019 naik lagi mencapai 26,20%. Namun pada tahun 2020, Indonesia berhasil mencapai titik terendah untuk angka kesakitan lansia yaitu sebanyak 24,35%, angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar 24 dari 100 lansia mengalami sakit dalam sebulan terakhir.

    Pada umumnya, penyakit yang dialami lansia merupakan penyakit yang tidak menular dan bersifat degeneratif. Artinya, penyakit yang disebabkan karena adanya faktor dan proses penuaan. Seperti misalnya penyakit jantung, diabetes melitus, stroke, rematik dan cedera. Penyakit tersebut bersifat kronis, menyebabkan disabilitas atau kecacatan pada lansia dan berbiaya besar.

    Kesadaran lansia terhadap keluhan kesehatan yang diderita sudah cukup baik. Mayoritas lansia mengobati keluhan kesehatan dengan mengobati diri sendiri atau berobat jalan sebanyak 96,12%. Namun masih ada sekitar 4 dari 100 orang lansia yang enggan mengobati keluhan kesehatannya.

    Sahabat Sehat, apa saja penyakit yang kerap diderita lansia ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyakit yang Kerap Diderita Lansia

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit yang sering dialami oleh lansia yaitu :

    Hipertensi

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah penyakit yang paling sering dialami oleh pasien lansia, yaitu sebanyak 54%. Tekanan darah tinggi adalah kondisi saat jantung memompa darah dengan kuat namun pembuluh darah sempit sehingga aliran darah menjadi tertahan sehingga tekanan pada pembuluh darah menjadi tinggi.

    Hipertensi  dapat mengganggu fungsi organ tubuh lainnya seperti stroke dan serangan jantung. Berikut ini hal yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah, antara lain:

    • Menjaga berat badan agar tetap normal
    • Mengendalikan stress
    • Batasi konsumsi alkohol dan juga garam
    • Olahraga secara teratur
    • Periksa tekanan darah secara teratur ke fasilitas kesehatan terdekat.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Kadar Kolesterol Tinggi

    Sebanyak 47% lansia mengalami kadar kolesterol tinggi didalam darah, hal ini dapat menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah arteri yang menyebabkan pembekuan darah sehingga memicu gangguan jantung. Berikut ini gaya hidup yang dapat mengurangi resiko tingginya kolesterol darah:

    • Hindari merokok dan juga mengkonsumsi alkohol
    • Lakukan aktivitas fisik seperti berolahraga secara teratur
    • Kendalikan berat badan 
    • Hindari makanan yang mengandung lemak berlebih.

    Artritis

    Sebanyak 31% lansia mengalami penyakit peradangan pada sendi atau yang disebut dengan artritis, yang menyebabkan nyeri hebat dan kekakuan pada sendi. Artritis biasanya terjadi pada wanita berusia lebih dari 60 tahun keatas.

    Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya artritis:

    • Olahraga secara teratur selama 30 menit, 5 kali dalam seminggu seperti aerobic, dan pemanasan ringan 
    • Mengendalikan berat badan agar meringankan beban sendi kaki dalam menopang berat badan.
    • Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan cedera sendi
    • Hindari merokok.

    Baca Juga: Ketahui 8 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Berfungsi Maksimal

    Penyakit Jantung Koroner

    Sebanyak 29% lansia mengalami penyakit jantung koroner yang menyebabkan jantung kekurangan oksigen untuk memompa darah akibat sumbatan pada pembuluh darah. Sumbatan plak ini berasal dari kolesterol yang menumpuk di dalam pembuluh darah secara bertahun-tahun sehingga menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah.

    Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya :

    • Hindari mengkonsumsi terlalu banyak lemak jenuh, gula dan garam
    • Tidur minimal 7 jam setiap malam
    • Management stress
    • Olahraga kardio secara teratur seperti jalan pagi, berlari, berenang atau bersepeda.

    Diabetes

    Diketahui sekitar 27% lansia menderita diabetes, yang diakibatkan karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin atau tubuh resisten terhadap insulin sehingga menyebabkan gula darah terlampau tinggi didalam darah. Akibatnya kadar gula darah meningkat dan tubuh kekurangan energi untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah naiknya gula darah, antara lain:

    • Makan makanan sehat, hindari makanan yang terlalu banyak mengandung gula, karbohidrat dan kalori.
    • Olahraga minimal 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu.
    • Turunkan berat badan sebanyak 5-7% dari berat badan saat ini apabila sudah termasuk pre-diabetes.

    Baca Juga: Mitos Apa Fakta : Cuci Ginjal Alamiah dengan Menggunakan Seledri dan Buah Alpukat

    Gangguan Ginjal

    18% pasien lansia mengalami gangguan ginjal kronis atau CKD (Chronic Kidney Disease) atau menurunnya fungsi ginjal seiring bertambahnya usia. Pasien dengan CKD memiliki resiko lebih besar juga timbulnya gagal ginjal dan gagal jantung. Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya CKD:

    • Mengenal apa saja faktor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal misalnya seperti tekanan darah tinggi dan diabetes tak terkontrol.
    • Memeriksakan secara rutin fungsi ginjal, dengan tujuan mendeteksi secara dini apabila terjadi gangguan ginjal.

    Gangguan Jantung

    Sekitar 14% lansia diketahui menderita gangguan jantung yang menyebabkan pasokan darah dan juga nutrisi ke organ tubuh tidak terpenuhi dengan baik. Kondisi jantung mungkin akan membesar, memompa darah lebih cepat dibanding dengan yang tubuh butuhkan sehingga akan menimbulkan gejala seperti cepat lelah, nyeri kepala, mual kebingungan dan menurunnya nafsu makan. Satu-satunya cara mencegah terjadinya gangguan jantung adalah dengan memeriksakan kesehatan jantung secara berkala dan mengendalikan tekanan darah tinggi.

    Baca Juga: Berbagai Pilihan Olahraga yang Aman Untuk Lansia

    Depresi

    Sekitar 14% lansia mengalami depresi dengan gejala perasaan sedih, merasa tidak berdaya, kelelahan yang berkepanjangan, sulit untuk menentukan tujuan atau sulit mengambil keputusan, kehilangan nafsu makan, kehilangan gairah untuk melakukan aktivitas.

    Banyak hal yang dapat dihindari agar tidak terjadi depresi saat lansia, antara lain :

    • Management level stress dengan meditasi, berbicara dan berbagi masalah yang sedang dialami dengan kerabat terdekat.
    • Makan makanan sehat dan teratur. Makanan yang masuk ke dalam tubuh dapat berpengaruh pada mood, selain itu, makanan yang sehat dapat meningkatan pelepasan hormon endorphin (hormon bahagia). 
    • Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein, alkohol serta makanan manis.
    • Olahraga yang teratur
    • Berkonsultasi dengan dokter apabila sudah mengalami gejala depresi seperti gejala yang telah disebutkan sebelumnya.

    Penyakit Alzheimer

    Sebanyak 11% lansia mengalami alzheimer atau penyakit demensia tipe lainnya, yang ditandai dengan hilangnya daya ingat dan kemampuan berpikir serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Demensia bukan merupakan penyakit akibat proses penuaan, tetapi disebabkan karena adanya perubahan fungsi otak dari waktu ke waktu. Faktor yang memperbesar terjadinya resiko demensia antara lain keturunan, riwayat keluarga yang mengalami alzheimer, gaya hidup (tidak terlalu banyak aktivitas fisik). 

    Untuk mengurangi resiko demensia, maka dapat dilakukan beberapa hal seperti :

    • Meningkatkan aktivitas fisik seperti berolahraga
    • Tidur cukup, minimal 7 jam per hari
    • Pilih makanan yang sehat (makanan junk food, dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan otak).

    Gangguan Pernapasan

    Sebanyak 11% lansia mengalami gangguan pernapasan berupa PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Penyakit ini merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan gejala batuk terus menerus, nyeri pada dada dan kesulitan bernapas serta nafas pendek. Penyebab PPOK antara lain merokok, perokok pasif, maupun akibat menghirup bahan kimia beracun dan debu yang dapat mengiritasi paru-paru.

    Baca Juga: Apa itu Luka Dekubitus dan Cara Mengatasinya

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai jenis penyakit yang kerap dialami lansia. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri di RS.
    2. Kata Data. Angka Kesakitan Lansia di Indonesia 2015-2019.
    3. Ayu R. Cetak Rekor Terendah, Angka Kesakitan Lansia Jadi 24,35% pada 2020.
    4. Madeline R. Vann M, Pat F. Bass III M. The 15 Most Common Health Concerns for Seniors.
    5. The National Council on Aging. The Top 10 Most Common Chronic Conditions in Older Adults.
    6. Daily Caring. 10 Most Common Chronic Diseases in Older Adults: Tips to Prevent and Manage.
    Read More
  • Seiring bertambahnya usia, Sahabat Sehat mungkin mudah merasa khawatir akan kondisi kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang mungkin Sahabat Sehat alami yaitu demensia. Sahabat Sehat, apakah ada cara untuk mencegah demensia? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Demensia ? Demensia diartikan sebagai hilangnya ingatan, serta ketidakmampuan dalam menjalani pekerjaan dan aktivitas kehidupannya secara mandiri. Kondisi […]

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    Seiring bertambahnya usia, Sahabat Sehat mungkin mudah merasa khawatir akan kondisi kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan yang mungkin Sahabat Sehat alami yaitu demensia. Sahabat Sehat, apakah ada cara untuk mencegah demensia? Mari simak penjelasan berikut.

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    3 Langkah Yang Harus Anda Lakukan Untuk Mencegah Demensia

    Apa Itu Demensia ?

    Demensia diartikan sebagai hilangnya ingatan, serta ketidakmampuan dalam menjalani pekerjaan dan aktivitas kehidupannya secara mandiri. Kondisi ini dapat disebabkan karena berbagai hal misal cedera ataupun proses penuaan. 

    Bagaimana Mencegah Demensia ?

    Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat dianjurkan menerapkan berbagai hal berikut di rumah :

    1. Olahraga teratur

    Rutin melakukan latihan fisik dipercaya dapat menurunkan risiko demensia hingga 50%. Selain itu, olahraga juga dapat memperlambat kerusakan pada mereka yang telah menunjukan adanya masalah kognitif. Lakukan kombinasi olahraga kardio dan latihan kekuatan otot. Bagi pemula, Sahabat Sehat dapat memulainya dengan olahraga jalan santai atau berenang.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    2. Mengikuti aktivitas sosial

    Dengan tetap terlibat dalam aktivitas sosial, Sahabat Sehat dapat melindungi diri dari penyakit demensia di kemudian hari. Lakukan beberapa aktivitas berikut dirumah :

    • Mengikuti aktivitas sukarelawan.
    • Bergabung dengan komunitas lokal atau grup sosial.
    • Mengunjungi pusat komunitas lokal.
    • Mengikuti kelas kelompok (seperti senam, pengajian, atau keterampilan).
    • Menjalin hubungan baik dengan tetangga.
    • Membuat acara mingguan dengan teman-teman.
    • Berekreasi bersama keluarga.
    • Menjaga pola makan

    Baca Juga: Berbagai Pilihan Olahraga yang Aman Untuk Lansia

    Mengatur pola makan menjadi salah satu langkah efektif dalam mengurangi terjadinya peradangan dan dapat melindungi otak Sahabat Sehat. Mengonsumsi makanan manis dan karbohidrat olahan berlebih seperti tepung putih, nasi putih, dan pasta dapat memicu lonjakan besar pada gula darah sehingga akan mempengaruhi kinerja otak. Sebaiknya konsumsi buah, sayur, serta kendalikan berat badan agar tidak berlebih. 

    Konsumsi lemak omega 3. DHA yang terkandung dalam lemak omega 3 terbukti dapat membantu mencegah penyakit demensia dengan mengurangi plak beta-amyloid.

    Sumber makanan yang banyak mengandung omega 3 yakni berbagai jenis ikan air dingin seperti ikan salmon, tuna, mackerel, trout, sarden dan rumput laut. Selain itu, omega 3 juga dapat dipenuhi dari suplemen minyak ikan.

    Baca Juga: Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    3. Melatih mental

    Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat harus terus melatih otak misalnya belajar bahasa asing, berlatih alat musik, atau mempelajari berbagai keterampilan baru untuk melatih otak.

    • Permainan asah otak dan strategi seperti bermain puzzle, tebak gambar, dan lainnya turut dapat melatih mental Sahabat Sehat. 
    • Mengelola stress

    Depresi dan stress kronis yang berlangsung terus-menerus dapat sangat membebani otak dan berujung pada penyusutan di area memori utama. Kondisi ini akan menghambat sel saraf, dan meningkatkan risiko penyakit demensia.

    Latihan pola pernapasan, berdoa, meditasi, refleksi, dan ibadah lainnya secara teratur dapat membuat mental Sahabat Sehat lebih kuat terhadap pemicu stress yang mungkin akan dihadapi.

    Baca Juga: Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips yang dapat dilakukan untuk mencegah demensia. Untuk mencegah demensia, Sahabat Sehat dapat mencukupi asupan gizi dengan mengkonsumsi buah dan sayur serta multivitamin.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Smith M, Segal J, Robinson L. Preventing Alzheimer’s and Dementia—or Slowing its Progress.
    2. Alzheimer’s Society. How to reduce your risk of Alzheimer’s and other dementias.
    3. Better Health Channel. Dementia – reducing your risk.
    4. Alzheimer’s gov. Reducing Your Risk for Dementia.
    5. National Health Service. Dementia guide.
    Read More
  • Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi. Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India. TBC pada anak biasanya […]

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Tuberkulosis atau TBC merupakan infeksi kronis pada paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyebar melalui percikan air liur (droplet) yang mengandung bakteri TBC dari orang yang terinfeksi.

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Anak Indonesia Rentan Terinfeksi TBC, Lindungi Dengan Imunisasi

    Di Indonesia, kasus penyakit TBC masih tergolong tinggi dari tahun ke tahun, dan Indonesia berada di peringkat kedua setelah India.

    TBC pada anak biasanya terjadi akibat anak menghirup bakteri TBC yang berada di udara. Bakteri ini kemudian terjebak didalam paru-paru dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, bahkan otak.

    Anak-anak berpeluang besar tertular TBC dari orang dewasa disekitarnya yang menderita penyakit tersebut, dibanding tertular dari teman sebayanya. Cara yang efektif untuk melindungi anak hingga mereka dewasa adalah dengan melakukan imunisasi BCG.

    Gejala TBC Pada Anak

    Gejala TBC pada anak bisa berbeda-beda dan cenderung lebih sulit dideteksi sehingga kerap terlambat mendapatkan penanganan. Berikut adalah beberapa gejala umumnya:

    • Demam
    • Penurunan berat badan
    • Pertumbuhan yang buruk
    • Batuk
    • Kelenjar getah bening tampak bengkak, beberapa lainnya mungkin mulai mengeluarkan cairan melalui kulit
    • Panas dingin

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Sedangkan pada anak yang lebih besar, berikut adalah beberapa gejala TBC yang paling umum ditemukan :

    • Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu
    • Sakit atau nyeri di dada
    • Batu disertai darah
    • Mudah lelah
    • Kelenjar getah bening bengkak
    • Penurunan berat bdan
    • Nafsu makan menurun
    • Demam
    • Berkeringat di malam hari
    • Panas dingin

    Gejala TBC terkadang terlihat seperti penyakit lainnya, konsultasikan dengan dokter untuk memastikannya.

    Baca Juga: Orangtua Harus Tahu, Begini Cara Kejar Imunisasi Anak

    Gejala Saat TB Menyerang Organ Tubuh Lain

    Infeksi TBC pada anak tidak hanya membahayakan paru-paru, tetapi juga seluruh organ tubuh lainnya. Oleh sebab itu, ada gejala khusus yang akan timbul saat organ tubuh tertentu diserang oleh bakteri tuberkulosis. Berikut beberapa organ tubuh anak yang paling sering di serang oleh infeksi TBC:

    Tuberkulosis kelenjar

    Biasanya terjadi pada kelenjar getah bening di leher, dengan ukuran diameter kurang lebih 1 cm. Benjolan terlihat seperti kelereng yang berderet dengan konsistensi yang kenyal, tetapi tidak nyeri.

    Tuberculosis otak dan selaput otak (meningitis TB)

    Infeksi TBC juga sangat mudah menyebar ke otak. Saat mengenai selaput otak, biasanya akan menjadi rewel, sakit kepala, kejang hingga kaku.

    Tuberkulosis tulang

    Gejala yang ditimbulkan tergantung pada bagian tulang yang terkena infeksi tuberkulosis, misalnya :

    • TB tulang belakang (spondylitis), ditandai dengan penonjolan tulang belakang (gibbus).
    • TB tulang panggul (koksitis), ditandai dengan gangguan berjalan, pincang, atau terjadi peradangan di daerah panggul.
    • TB tulang lutut (gonitis), ditandai dengan pincang dan/ bengkak pada area lutut tanpa ada sebab yang jelas. 
    • TB tulang kaki dan tangan (spina ventosa/ dactylitis), ditandai dengan pembengkakan pada area persendian kaki atau tangan. 

    Skrofuloderma

    Disebut juga sebagai tuberkulosis kulit. Ditandai dengan timbulnya luka atau borok yang disertai dengan fistula atau jembatan kulit antar tepi luka. Anak biasanya mengalami demam.

    Tuberkulosis usus

    Kondisi ini biasanya memiliki gejala berupa gangguan pada sistem pencernaan, seperti diare, kembung, dan nyeri perut. Infeksi TBC pada usus beresiko menyebabkan infeksi dan peradangan pada saluran cerna, yang disebut peritonitis TB.

    Tuberkulosis ginjal

    Infeksi ini akan dicurigai saat ditemukan gejala seperti gangguan buang air kecil, dimana urin yang keluar berwarna terlalu pekat dan menimbulkan nyeri pada pinggang tanpa adanya sebab yang jelas. 

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Pentingnya Imunisasi BCG

    Dengan memberikan vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin), si Kecil dapat terlindungi dari bahaya infeksi bakteri tuberkulosis. Imunisasi BCG sudah dapat diberikan sejak si Kecil lahir hingga berusia 1 bulan. Jika Si Kecil sudah berusia diatas 3 bulan, vaksin BCG masih bisa diberikan. Namun, sebelum melakukan imunisasi BCG dianjurkan untuk pemeriksaan tuberkulin terlebih dahulu.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengapa imunisasi BCG sangat penting bagi anak-anak Indonesia. Tidak hanya melindungi saat kecil, tapi juga kelak ia dewasa. Dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat dan mendapatkan imunisasi lengkap, anak terlindungi dari penyakit-penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. IDAI. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi I.
    2. CDC. Tuberculosis (TB) – TB Treatment for Children.
    3. TB Facts. TB in Children – Getting, diagnosing & treating TB.
    4. University of Rochester Medical Center. Tuberculosis (TB) in Children – Health Encyclopedia.
    5. Kids Health. Tuberculosis (for Parents).
    Read More
  • Mungkin banyak diantara Sahabat Sehat mengalami nyeri, sakit, dan kaku pada punggung, leher, lengan, ataupun kaki. Salah satu penyebabnya adalah akibat saraf terjepit. Saraf di tulang belakang dan bagian tubuh lainnya yang mengalami gangguan saraf terjepit dapat menimbulkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan. Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara penanganannya? Mari simak penjelasan berikut. Apa […]

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya?

    Mungkin banyak diantara Sahabat Sehat mengalami nyeri, sakit, dan kaku pada punggung, leher, lengan, ataupun kaki. Salah satu penyebabnya adalah akibat saraf terjepit. Saraf di tulang belakang dan bagian tubuh lainnya yang mengalami gangguan saraf terjepit dapat menimbulkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan.

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya

    Saraf Terjepit, Bagaimana Penanganannya?

    Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara penanganannya? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Saraf Terjepit?

    Saraf kejepit atau disebut juga pinched nerve adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sensasi tidak nyaman, nyeri, atau mati rasa yang disebabkan oleh saraf yang tertekan oleh bagian sekitarnya sehingga memicu iritasi atau kerusakan pada saraf. Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan keluhan nyeri pada punggung atau leher. 

    Berbagai Faktor Resiko Penyebab Saraf Terjepit

    Saraf terjepit dapat terjadi akibat adanya tekanan pada saraf di tulang belakang. Tekanan ini dapat berupa gerakan berulang yang dilakukan dalam jangka waktu lama. Berikut berbagai faktor risiko  lain yang dapat menyebabkan saraf terjepit:

    • Riwayat kecelakaan atau trauma di area tulang belakang
    • Postur tubuh yang tidak baik 
    • Stres pada tulang dan sendi akibat pekerjaan yang berulang
    • Melakukan berbagai jenis olahraga yang rentan mengalami cedera
    • Berat badan berlebihan

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Gejala Saraf Terjepit ?

    Saraf kejepit umumnya ditandai dengan beberapa gejala seperti berikut :

    • Mati rasa, kebas, atau menurunnya sensasi untuk ‘merasa’ 
    • Muncul sensasi sakit atau nyeri seperti terbakar yang menjalar 
    • Kesemutan
    • Lemahnya otot pada bagian tubuh yang diduga mengalami saraf kejepit.

    Terkadang gejala dapat memburuk saat Sahabat Sehat melakukan gerakan tertentu, seperti memutar kepala atau menegangkan leher. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka dapat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari.

    Baca Juga: Benarkah Fisioterapi Bantu Atasi Saraf Terjepit ?

    Bagaimana Cara Mengatasi Saraf Terjepit?

    Kondisi saraf terjepit pada setiap orang dapat ditangani sesuai dengan tingkat keparahan dari saraf yang bermasalah. Secara umum berikut adalah penanganan yang dilakukan untuk mengatasi saraf terjepit : 

    • Istirahat

    Untuk saraf kejepit yang tergolong ringan, dokter mungkin akan meminta untuk istirahat yang cukup. Sahabat Sehat dianjurkan menghindari aktivitas yang mungkin akan memperburuk keluhannya. 

    • Minum Obat Pereda Nyeri

    Apabila gejala menetap dan rasa sakit memberat, sebaiknya segera konsultasikan dengan  dokter. Obat yang diberikan merupakan jenis obat pereda nyeri serta pereda radang untuk mengurangi keluhan nyeri akibat saraf terjepit.

    • Terapi Fisik

    Saraf terjepit juga dapat diatasi dengan melakukan terapi fisik atau fisioterapi, yakni latihan untuk memperkuat dan meregangkan otot pada bagian tubuh yang bermasalah untuk mengurangi tekanan pada saraf. 

    • Operasi

    Pada kondisi yang lebih berat, dokter mungkin akan merekomendasikan Sahabat Sehat untuk melakukan operasi untuk memperbaiki saraf yang bermasalah. Jenis operasi yang dilakukan pun tidak selalu sama, tergantung pada lokasi terjadinya saraf kejepit. Pada umumnya penanganan saraf terjepit akan disesuaikan kembali dengan kondisi tubuhnya.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai informasi mengenai penanganan saraf terjepit. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Pinched nerve – Symptoms and causes.
    2. WebMD. Pinched Nerve (Compressed Nerve): Symptoms and Treatment.
    3. Medicine Net. Pinched Nerve.
    4. Cleveland Clinic. Pinched Nerves: Causes, Symptoms & Treatment.
    Read More
  • Penyakit tuberkulosis ternyata masih terus menyerang anak-anak Indonesia. Penyakit yang mudah sekali ditularkan melalui udara ini telah menginfeksi sekitar 824.000 orang di Indonesia pada tahun 2021, dimana 42.187 kasus diantaranya adalah anak-anak usia 0-14 tahun. Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengalihkan seluruh perhatian kepada penyakit yang juga tidak kalah mematikan ini. Beberapa akibatnya adalah cakupan imunisasi […]

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penyakit tuberkulosis ternyata masih terus menyerang anak-anak Indonesia. Penyakit yang mudah sekali ditularkan melalui udara ini telah menginfeksi sekitar 824.000 orang di Indonesia pada tahun 2021, dimana 42.187 kasus diantaranya adalah anak-anak usia 0-14 tahun.

    Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengalihkan seluruh perhatian kepada penyakit yang juga tidak kalah mematikan ini. Beberapa akibatnya adalah cakupan imunisasi anak menurun dan kasus penyakit tuberkulosis kembali meningkat dibandingkan tahun 2020.

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penyakit Tuberkulosis Masih Terus Menyerang Anak Indonesia

    Penularan tuberkulosis pada anak-anak terjadi melalui orang dewasa yang terinfeksi. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko anak terinfeksi tuberkulosis antara lain: status gizi, riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis, dan kepadatan hunian.

    Kasus tuberkulosis anak lebih banyak ditemukan pada anak di bawah lima tahun (balita) dengan rasio 22 kasus setiap 100.000 anak. Sedangkan pada anak usia 6-14 tahun, angka kejadiannya sekitar 14 kasus setiap 100.000 anak. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh anak balita belum sebaik anak-anak yang lebih tua dan kemampuannya dalam menjaga kebersihan diri masih lebih banyak bergantung kepada orang dewasa, selain juga masalah sosioekonomi.

    Kuman TBC bisa Menginfeksi selain Paru-paru

    Tahukah Sahabat Sehat kalau kuman tuberkulosis bisa menyerang organ selain paru-paru? Ya, walau mayoritas kasus tuberkulosis menyerang paru-paru, sebagian kecil lainnya menginfeksi organ seperti tulang dan sendi, kelenjar getah bening, selaput otak, saluran pencernaan, dan lain-lain.

    Cara penularannya masih sama dengan tuberkulosis paru, namun gejalanya berbeda. Jika biasanya gejala tuberkulosis paru-paru meliputi gangguan pernapasan seperti batuk berdahak disertai demam, hilang nafsu makan, dan penurunan berat badan, pada tuberkulosis di luar paru akan menunjukkan gangguan sesuai organ yang terinfeksi. Misalnya tuberkulosis saluran cerna dapat menunjukkan gejala sakit perut, diare atau sembelit, darah pada feses, dll.

    Tuberkulosis ekstra paru, atau di luar paru, juga banyak ditemui pada anak-anak. Penyakit tuberkulosis yang menyerang selaput otak, disebut juga meningitis tuberkulosis, paling sering ditemui pada anak di bawah usia 2 tahun dan orang dewasa dengan HIV/AIDS.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Cara tepat Mencegah Tuberkulosis

    Melihat tingginya kasus tuberkulosis di Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan, pemerintah terus menggalakkan program pencegahan dan pengobatan tuberkulosis di seluruh wilayah Indonesia. Tidak hanya itu, Menteri Kesehatan Budi Sadikin pun mengangkat isu ini pada pertemuan tingkat internasional G20. 

    Pencegahan tuberkulosis yang dapat dilakukan Sahabat Sehat dimulai dari menurunkan risiko penularan, yaitu:

    • memperbaiki status gizi anak dengan membiasakan makan makanan bergizi seimbang,
    • menghindari kontak dengan penderita tuberkulosis dan meminta penderita menggunakan masker, terutama pada masa infeksius, dan
    • melakukan imunisasi BCG agar tubuh anak membentuk kekebalan terhadap kuman tuberkulosis.

    Sesuai rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian imunisasi BCG dilakukan saat anak baru lahir hingga berusia 1 bulan. Bagi anak yang belum bisa melakukan imunisasi pada jadwal tersebut, maka ia dapat melakukan imunisasi kejar hingga usia 12 bulan didahului dengan konsultasi dokter.

    Sedangkan, jika anak terinfeksi tuberkulosis maka ia harus melakukan pengobatan hingga tuntas. Pengobatan tuberkulosis pada anak adalah sebuah tantangan tersendiri bagi orang tua karena memerlukan waktu lama. Maka, mencegah tuberkulosis adalah langkah yang terbaik untuk melindungi anak.

    Baca Juga: Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Program TOSS TB untuk skrining tuberkulosis

    Penyakit tuberkulosis bisa dideteksi melalui skrining. Saat ini Kementerian Kesehatan RI sedang menggalakkan program Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB) dalam rangka Hari Tuberkulosis 2022. Bersama dengan program ini, Klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat turut berpartisipasi untuk meningkatkan cakupan deteksi dini bagi masyarakat umum. Bagi Sahabat Sehat yang ingin mengikuti program skrining, Anda dapat menghubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Baca Juga: Terlambat Imunisasi BCG? Ini yang Harus Dilakukan!

    Imunisasi bersama Prosehat

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki anak bayi dan belum diimunisasi BCG, Prosehat melayani imunisasi anak yang dapat dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda.

    Biaya imunisasi BCG di klinik Prosehat sebesar Rp. 450.000 dan Rp. 720.000 untuk pelayanan ke rumah. Pemesanan layanan imunisasi sangat mudah. Sahabat Sehat cukup menghubungi Customer Service ProSehat atau melakukan pemesanan melalui website.

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya

    Layanan imunisasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat. Jadi, ayo segera jadwalkan imunisasi anak Anda bersama Prosehat. Produk imunisasi di Prosehat lengkap dan berkualitas, serta dilakukan oleh dokter profesional yang terlatih.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. TB Indonesia. Dashboard TB.
    2. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun.
    Read More
  • Stroke akan terjadi saat pembuluh darah di otak pecah dan mengalami pendarahan, atau ketika terjadi penyumbatan aliran darah di otak. Pecahnya atau adanya penyumbatan pada pembuluh darah membuat darah dan oksigen tidak mengalir hingga jaringan otak. Tanpa oksigen, sel-sel dan jaringan otak akan rusak dan perlahan akan mati dalam beberapa menit. Sahabat Sehat, apa saja […]

    Tanda dan Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

    Stroke akan terjadi saat pembuluh darah di otak pecah dan mengalami pendarahan, atau ketika terjadi penyumbatan aliran darah di otak. Pecahnya atau adanya penyumbatan pada pembuluh darah membuat darah dan oksigen tidak mengalir hingga jaringan otak. Tanpa oksigen, sel-sel dan jaringan otak akan rusak dan perlahan akan mati dalam beberapa menit.

    Tanda dan Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

    Tanda dan Gejala Stroke yang Perlu Diwaspadai

    Sahabat Sehat, apa saja gejala stroke yang harus diwaspadai ? Mari simak penjelasan berikut. 

    Gejala Stroke

    Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit stroke dipengaruhi oleh seberapa luas area otak yang mengalami perdarahan atau sumbatan. Beberapa tanda-tanda berikut ini patut untuk diwaspadai sebagai gejala umum stroke, antara lain:

    • Kelumpuhan
    • Mati rasa atau kelemahan di wajah, lengan, dan kaku terutama di salah satu sisi tubuh
    • Kesulitan dalam berbicara atau memahami ucapan
    • Bicara cadel
    • Kesulitan melihat pada satu atau kedua mata
    • Kesulitan berjalan
    • Gangguan keseimbangan
    • Pusing
    • Sakit kepala berat secara tiba-tiba

    Stroke merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan medis secepatnya. Jika Sahabat Sehat atau orang lain mengalami beberapa gejala di atas, segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Baca Juga: Kolesterol Penyebab Stroke Dan Serangan Jantung

    Komplikasi Stroke

    Stroke dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan, seperti berikut :

    • Trombosis Vena Dalam

    Sebagian besar penderita stroke dapat mengalami penggumpalan darah di tungkai sehingga  mengalami kelumpuhan. Hal ini terjadi akibat terhentinya pergerakan pada otot tungkai, sehingga membuat aliran pembuluh darah balik kaki menjadi terganggu.

    • Hidrosefalus

    Terjadinya penumpukan cairan otak di dalam rongga jauh di dalam otak. Kondisi ini umumnya dialami oleh penderita stroke akibat pendarahan otak. 

    • Disfagia

    Stroke dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem refleks menelan, sehingga mengakibatkan makanan dan minuman masuk ke dalam saluran pernapasan.

    Kapan Harus Ke Dokter?

    Jika Sahabat Sehat mengalami berbagai gejala diatas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Sangat dianjurkan untuk menghubungi keluarga atau pengasuh agar menemani Sahabat Sehat saat menuju ke fasilitas kesehatan. 

    Baca Juga: 10 Jenis Medical Check Up Rutin yang Perlu Dilakukan Lansia

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai gejala stroke. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Plan N. Stroke care.
    2. Hopkins Medicine. Stroke.
    3. Healthline. Stroke: Symptoms, Causes, Treatment, Types & More.
    4. Web MD. What Do You Know About Strokes? 
    5. American Stroke Association. About Stroke.
    Read More
  • Depresi pada lansia dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan. Sayangnya masih banyak yang mengabaikan kondisi mental para lansia. Kasus depresi ini banyak terjadi dan rentan dialami lansia yang harus tinggal seorang diri karena anak-anaknya harus pergi merantau. Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang seringkali dialami oleh lanjut usia (lansia). Banyak sekali faktor resiko serta […]

    Berikut ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Mengalami Depresi

    Depresi pada lansia dapat menyebabkan penurunan kondisi kesehatan. Sayangnya masih banyak yang mengabaikan kondisi mental para lansia. Kasus depresi ini banyak terjadi dan rentan dialami lansia yang harus tinggal seorang diri karena anak-anaknya harus pergi merantau.

    Berikut ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Mengalami Depresi

    Berikut ini Alasan Mengapa Lansia Rentan Mengalami Depresi

    Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang seringkali dialami oleh lanjut usia (lansia). Banyak sekali faktor resiko serta alasan yang dikaitkan dengan meningkatnya kejadian depresi pada usia lanjut. Kemajuan dalam bidang kesehatan di Indonesia disertai dengan peningkatan sosial ekonomi dan pengetahuan masyarakat berakibat pada peningkatan kesejahteraan rakyat yang akhirnya meningkatkan harapan hidup. Peningkatan ini menyebabkan jumlah penduduk yang tergolong lanjut usia semakin bertambah setiap tahunnya.1,2

    Memahami Penyebab dan Gejala Depresi pada Lansia

    Seiring dengan bertambahnya usia, proses penuaan yang terjadi tidak dapat dihindari dan setiap individu akan mengalami perubahan  baik pada fisik atau tubuhnya dan juga dengan mentalnya. Disamping itu, para lansia juga harus dihadapkan dengan berbagai permasalahan seperti perubahan kedudukan sosial, kehilangan pekerjaan (pensiun), resiko terkena penyakit, serta kehilangan orang yang mereka cintai.

    Kejadian depresi pada lansia seringkali tidak terdeteksi, salah diagnosis ataupun bahkan tidak mendapatkan penanganan. Gejala depresi seringkali dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja. Padahal depresi pada usia lanjut dapat berakibat buruk, dan apabila tidak ditangani dengan baik maka dapat menurunkan kualitas hidup lansia bahkan menyebabkan kematian.

    Oleh sebab itu, sangat penting untuk tahu apa saja yang dapat menyebabkan lansia mengalami depresi, gejala depresi, serta cara menangani depresi pada mereka yang lanjut usia.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Faktor Penyebab Depresi Pada Lansia

    Depresi pada lansia juga disebut sebagai late life depression. Lansia rentan sekali terhadap depresi. Biasanya disebabkan karena beberapa faktor risiko, misalnya:

    Masalah Kesehatan

    Lansia rentan menderita penyakit degeneratif (penyakit yang terjadi akibat proses penuaan), seperti misalnya osteoarthritis, stroke dan penyakit lainnya yang menyebabkan kecacatan atau penurunan daya ingat mengakibatkan kualitas hidup lansia menurun. Hal ini sering kali sebagai pemicu seseorang terjadi depresi.

    Kesepian dan Rasa Terisolasi

    Faktor-faktor seperti tinggal dan hidup sendirian tanpa interaksi sosial, lingkaran sosial yang semakin sempit, perpisahan akibat kematian dan tidak bekerja (masa pensiun) akan memicu terjadinya depresi pada lansia.

    Krisis Identitas

    Masa pensiun akan menyebabkan hilangnya identitas, status, kepercayaan diri, keamanan finansial dan meningkatkan resiko terjadinya depresi. Selain itu keterbatasan fisik pada aktivitas yang biasanya dikerjakan dan dinikmati juga akan mempengaruhi tujuan hidup para lansia.

    Baca Juga: Kenali 3 Vaksinasi yang Penting untuk Lansia

    Ketakutan

    Rasa takut akan penyakit yang sedang dialami dan takut akibat kematian akan menjadikan lansia rentan terjadi rasa cemas atau gelisah. Selain itu, masalah keuangan dan juga kesehatan juga dapat menjadi pemicu terjadinya depresi.

    Kesepian Akibat Kehilangan Orang yang Disayangi

    Kematian teman, anggota keluarga, pasangan adalah penyebab depresi yang paling sering dialami lansia.  Selain menimbulkan rasa kehilangan dan kesendirian, hal ini juga menyebabkan rasa duka yang dapat menyebabkan perasaan tertekan yang berujung pada depresi.

    Satu hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa penyebab depresi pada lansia tentunya berbeda dengan depresi pada usia muda. Pada usia lanjut, depresi berkaitan dengan kondisi penyakit kronis dan disabilitas (membutuhkan bantuan orang lain untuk aktifitas sehari-hari). Depresi pada usia lanjut akan berisiko pada masalah kesehatan seperti gangguan jantung, serangan jantung hingga timbul kematian apabila tidak diatasi dengan cepat.

    Gejala Depresi Pada Lansia

    Sangat penting untuk memahami kondisi kesehatan seorang lansia. Kerap kali para lansia tidak mengatakan apa yang sedang mereka rasakan. Sahabat Sehat, berikut ini adalah berbagai gejala yang dapat diidentikkan dengan kemungkinan mengalami depresi di usia lanjut:

    • Mudah merasa lelah
    • Sulit tidur dan mudah terbangun
    • Mudah tersinggung
    • Bingung
    • Mencari perhatian
    • Berat badan menurun
    • Nyeri pada tubuh
    • Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri
    • Tidak dapat berkonsentrasi.

    Depresi yang dialami para lanjut usia dapat meningkatkan risiko bunuh diri, terutama pada laki-laki lanjut usia. Rata-rata yang berusia 80-84 tahun akan memiliki kecenderungan 2x lipat untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang berada pada usia muda. Oleh karena itu, apabila keluarga yang sudah lanjut usia dan mempunyai gejala seperti diatas, jangan takut untuk berkonsultasi dengan dokter psikiatri.

     

    Tips Mencegah Depresi Pada Lansia

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai tips yang dapat dilakukan untuk mencegah depresi pada lansia. Berikut ini perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan:

    • Meningkatkan aktivitas fisik lansia, misalnya berkebun
    • Mencoba hobi dan kesenangan baru
    • Berkunjung ke rumah keluarga atau kerabat terdekat
    • Makan makanan bergizi dan teratur
    • Jadwalkan waktu tidur dengan teratur.
    • Jangan biarkan lansia untuk tinggal seorang diri.
    • Bergabung dengan grup sosial khusus lansia.

    Baca Juga: Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    Demikianlah beberapa poin penting mengenai depresi pada lansia yang perlu kita ketahui bersama. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Prabhaswari L, Luh Putu Ariastuti N. GAMBARAN KEJADIAN DEPRESI PADA LANJUT USIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PETANG I KABUPATEN BADUNG BALI 2015.
    2. How to spot the signs and detect depression in elderly people.
    3. Fulghum Bruce, PhD D, Casarella, M J. Depression in Older Adults.
    4. J. Legg, Ph.D., CRNP T, Krans B. Geriatric Depression (Depression in Older Adults).
    5. BPAC. Depression in elderly people.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com