Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 151–160 of 1354 results

  • Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. apa saja perbedaan tersebut? simak penjelasan berikut. Sejak tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio. Virus Polio […]

    Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Walaupun sama-sama mencegah polio, ternyata ada beda antara imunisasi polio tetes dan suntik. apa saja perbedaan tersebut? simak penjelasan berikut.

    Sejak tahun 2018, kawasan di Asia Tenggara dikejutkan dengan temuan kasus polio di beberapa negara yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Malaysia. Padahal negara tersebut telah lebih dari satu dekade tidak ditemukan kasus polio.

    Pilih yang Mana Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Virus Polio adalah virus yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus yang memperbanyak diri di dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Virus Polio terdiri dari 3 strain yaitu Strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig) dan strain-3 (Leon), termasuk family Picornavirde. Penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motorik atau saraf pada sumsum tulang belakang.

    Virus polio dapat menyerang siapa saja, tetapi paling banyak menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit yang paling banyak ditakuti di negara-negara industri, melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahun. 

    Polio adalah sebutan lain untuk penyakit poliomyelitis, yang berasal dari Bahasa Yunani artinya peradangan tulang belakang. Dulu orang-orang menyebutnya sebagai kelumpuhan pada anak-anak. Salah satu cara memberantas penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi polio.

    Penyebaran Virus Polio

    Virus Polio menyebar melalui kontak dengan penderita polio, sekresi oral (mulut) dan hidung misalnya air liur dan lendir hidung, serta kontak dengan feses yang terkontaminasi dengan virus polio. Setelah itu, virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan terus berlipat ganda sepanjang waktu hingga mencapai ke saluran cerna.

    Dalam kasus polio yang menyebabkan kelumpuhan, virus meninggalkan saluran cerna dan masuk kedalam aliran darah lalu menyerang sel saraf. Sebanyak kurang dari 2% penderita polio dapat mengalami kelumpuhan. 

    Pada kasus yang lebih berat, tenggorokan dan dada dapat ikut serta lumpuh. Bila tidak ada alat bantu pernapasan maka pasien dapat meninggal dunia. Imunisasi Polio pada anak dapat mencegah kejadian ini.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Jenis Vaksin Polio

    Terdapat dua jenis vaksin polio, yaitu melalui injeksi (suntikan) atau tetesan di mulut. Sahabat Sehat, apakah perbedaan kedua jenis vaksin tersebut ?

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 2 jenis vaksin polio :

    • Vaksin Polio Inaktif

    Vaksin ini berasal dari virus polio yang dimatikan. Cara pemberiannya dengan menyuntikan ke paha atau lengan.

    • Vaksin Polio Oral

    Adalah virus polio hidup yang dilemahkan. Ini adalah vaksin yang dilakukan pada anak, diberikan melalui tetesan di mulut.

    Baca Juga: Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV)

    OPV sering disebut sebagai vaksin polio Sabin sesuai dengan penemunya. Yang dapat mencegah infeksi dari 3 jenis virus polio. Vaksin ini merupakan vaksin hidup yang dilemahkan (live-attenuated virus vaccine).

    Vaksin polio ini dapat diberikan tiga dosis untuk memberikan kekebalan seumur hidup.

    Vaksin polio oral dianggap lebih efektif untuk pemberantasan poliomyelitis, karena virus yang dilemahkan akan mengadakan replikasi atau berkembang biak pada saluran pencernaan sehingga mencegah virus lain menempel pada saraf sehingga mencegah kelumpuhan.

    Pemberian vaksin OPV dilakukan sebanyak 3 kali saat :

    • Anak baru lahir
    • Usia 6-12 minggu 

    Pemberian kedua dilakukan 8 minggu setelah pemberian dosis pertama

    • Usia 6-18 bulan.

    Efek samping pemberian vaksin OPV :

    • Sakit kepala
    • Sakit perut
    • Demam
    • Diare
    • Kelelahan
    • Kelumpuhan (jarang terjadi).

    Baca Juga: Efek Samping Vaksin Polio yang Perlu Kamu Ketahui

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

    Vaksin Polio Inaktif (IPV) sebenarnya lebih dulu ditemukan daripada OPV, disebut juga vaksin polio Salk, sesuai dengan nama penemunya Jonas Salk pada tahun 1955. Vaksin IPV berisi virus inaktif yang berisi 3 tipe virus polio.

    Vaksin yang disuntikkan akan meningkatkan daya tahan tubuh. Vaksin IPV mampu mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody yang tinggi.

    Pemberian vaksinasi IPV dilakukan saat anak berusia :

    • 2 bulan
    • 4 bulan
    • 6-18 bulan
    • 4-6 tahun

    Menurut penelitian yang terbit pada Jurnal Morbidity and Mortality Week Report CDC, pemberian vaksin IPV pada 2 tahun pertama dapat menimbulkan efek samping ringan sedang berupa :

    • Demam
    • Ruam di area yang disuntik
    • Pembengkakan di area yang disuntik
    • Rewel

    Baca Juga: Apa Saja Fakta tentang Polio yang Perlu Diketahui?

    Meski jarang terjadi, berikut efek samping yang dapat muncul setelah pemberian IPV :

    • Peradangan dan pendarahan pembuluh darah kecil
    • Penurunan trombosit akibat kekebalan tubuh keliru menyerang trombosit
    • Alergi berat

    Efek samping pasca vaksinasi umumnya akan hilang dengan sendirinya setelah 3-4 hari.

    Dibandingkan dengan vaksin OPV, vaksin IPV mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang cukup baik bagi sebagian besar orang. Vaksin ini tidak mengandung virus yang dilemahkan, maka tidak ada resiko berupa kelumpuhan akibat vaksinasi.

    Berikut ini adalah kondisi anak yang tidak diperkenankan menerima vaksin IPV, yaitu :

    1. Mengalami alergi berat hingga mengancam nyawa
    2. Anak sedang mengalami sakit seperti misalnya influenza atau demam.

    Manfaat Imunisasi Polio

    Imunisasi anak polio bermanfaat untuk menguatkan imunitas anak terhadap virus polio. Vaksin anak dapat menekan resiko tertular virus polio hingga dewasa. Apabila sudah mendapat vaksin polio saat berusia anak-anak, saat dewasa umumnya tidak lagi memerlukan imunisasi.

    Dengan melakukan pemberian imunisasi anak, bukan hanya anak-anak yang divaksin saja yang dapat menerima manfaatnya. Keluarga serta warga di lingkungan tersebut juga dilindungi dari ancaman penyebaran virus polio.

    Baca Juga: Apa dan Bagaimana Penyebab Penyakit Polio Itu?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai perbedaan vaksin polio tetes dan suntik. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Novita D, Alam S, Kelyombar D. Buletin Surveillant dan Imunisasi.
    2. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan. Poliomyelitis Penyakit Virus Polio.
    3. Kurniawan S. Manfaat dan Kapan Imunisasi Polio Diberikan – Primaya Hospital.
    4. Satari H, Ibbibah L, Utoro, S. Eradikasi Polio. Sari Pediatri, 18(3), p.245.
    5. Permatasari D. Vaksin Polio Tetes (OPV): Dosis, Jadwal Pemberian, Efek Samping, dan Bedanya dengan IPV.
    Read More
  • Melansir laman covid.go.id, perkembangan penanganan pandemi Covid-19 per 22 Oktober 2021 secara nasional memiliki angka kesembuhan harian yang terus bertambah hingga mencapai 1.231 pasien sembuh per harinya. Meski demikian, pasien terkonfirmasi positif (RT-PCR/TCM dan rapid antigen) juga mengalami peningkatan sebanyak 760 kasus dengan pasien meninggal yang juga meningkat sebanyak 33 kasus. Hal ini tentunya berkaitan […]

    Tips Mencegah Penularan Covid-19 di Area Perkantoran

    Melansir laman covid.go.id, perkembangan penanganan pandemi Covid-19 per 22 Oktober 2021 secara nasional memiliki angka kesembuhan harian yang terus bertambah hingga mencapai 1.231 pasien sembuh per harinya. Meski demikian, pasien terkonfirmasi positif (RT-PCR/TCM dan rapid antigen) juga mengalami peningkatan sebanyak 760 kasus dengan pasien meninggal yang juga meningkat sebanyak 33 kasus.

    Tips Mencegah Penularan Covid-19 di Area Perkantoran

    Tips Mencegah Penularan Covid-19 di Area Perkantoran

    Hal ini tentunya berkaitan dengan melonggarnya kebijakan PPKM yang ditetapkan pemerintah per 19 Oktober – 1 November 2021, terutama pada sektor perkantoran. Kembali beroperasinya perkantoran secara tidak langsung menimbulkan cluster baru penularan Covid-19. Untuk mengatasinya, seluruh pelaku perkantoran harus menerapkan higienitas dan sanitasi yang baik dalam menekan penyebaran virus agar tidak semakin meluas. 

    Sahabat Sehat, bagaimana cara meminimalisir penularan Covid-19 di sektor perkantoran ? Mari simak penjelasan berikut.

    Tips Cegah Penularan Covid-19 di Kantor Bagi Pekerja

    Meski sejumlah tindakan pencegahan ini dapat dimulai dari diri sendiri, tetapi kesadaran dari orang lain sesama karyawan juga diperlukan, terutama orang yang berada di sekitar kita. Beberapa tips  atau protocol kesehatan yang dapat Sahabat Sehat lakukan, yakni:

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    1. Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terlebih di lokasi keramaian.
    2. Cuci tangan yang benar mulai dari telapak hingga punggung tangan, lalu bersihkan sela-sela jari dan bagian bawah kuku hingga lengan tangan. 
    3. Hindari menyentuh wajah dan mencuci tangan terlebih dahulu dengan menggunakan sabun antiseptik dan air yang mengalir. 
    4. Jauhi keramaian sebab tidak dapat dipastikan apakah orang-orang disekitar terbebas dari Covid-19 atau tidak.
    5. Bawa dan gunakan peralatan sendiri, seperti alat makan (piring, sendok, gelas), alat sholat, alat makeup, hingga handuk. Sejumlah peralatan tersebut rentan menjadi media penularan virus karena sering bersentuhan dengan mulut, hidung, mata yang merupakan jalan masuknya virus Covid-19 ke dalam tubuh.
    6. Kurangi menyentuh benda di tempat umum menggunakan benda lain sebagai perantara, seperti pulpen atau semacamnya. Hal ini dikarenakan virus Covid-19 dapat bertahan hingga 24 jam pada sebuah benda.
    7. Selalu membawa cairan antiseptik atau hand sanitizer untuk memudahkan Sahabat Sehat jika ingin membersihkan tangan atau bagian tubuh dan pakaian.
    8. Ganti masker setelah selesai beraktivitas sebab kuman dan virus yang menempel pada permukaan masker. Perhatikan pula cara menggunakan dan mencopot masker, hindari menyentuh bagian luar masker.
    9. Menghimbau karyawan lain yang sedang sakit untuk istirahat di rumah hingga kondisinya pulih kembali untuk meminimalisir penularan.
    10. Segera lakukan pemeriksaan Covid-19 apabila pekerja atau rekan kerja terpapar Covid-19.

    Baca Juga: Waspadai! 4 Gangguan Kesehatan Saat WFH dan Tips Pencegahannya

    Tips Cegah Penularan Covid-19 Bagi Perusahaan

    Perkantoran merupakan lingkungan tertutup sehingga memiliki sirkulasi udara terbatas. Selain itu, area perkantoran cenderung ramai dengan orang-orang yang memiliki riwayat kontak beragam. Berikut beberapa langkah yang dapat perusahaan lakukan dalam mencegah penularan di lingkungan kantor, di antaranya:

    • Lakukan tes Covid-19 untuk seluruh karyawan sebelum memasuki area perkantoran. Misalnya dengan melakukan pengecekan suhu tubuh di pintu masuk yang ditentukan. Langkah ini lebih efektif dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.
    • Rutin mendesinfeksi fasilitas umum yang sering disentuh oleh banyak orang. Buat jadwal rutin untuk mendesinfeksi area dan fasilitas umum minimal 4 jam sekali.
    • Optimalkan sirkulasi udara dan upayakan agar sinar matahari masuk ke ruang kerja. Ventilasi udara yang baik mampu mencegah virus untuk mengendap di dalam ruangan sehingga akan menurunkan risiko penularan Covid-19.
    • Sediakan ruangan khusus untuk observasi apabila ada karyawan yang menunjukan gejala yang dicurigai terinfeksi Covid-19 untuk mengurangi potensi penularan sedari dini. Segera hubungi tenaga medis jika diperlukan untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. 

    Upaya dalam mencegah penyebaran covid-19 pada area perkantoran tidak dapat berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak, penting untuk kerja sama kedua belah pihak yakni para pekerja dan perusahaan. Terapkan protokol kesehatan untuk meminimalisir penularan Covid-19. 

    Baca Juga: Dampak Covid-19 Pada Dunia Pendidikan dan Kerja di Indonesia

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips mencegah penularan Covid-19 di sektor perkantoran. Jika Sahabat Sehat membutuhkan pemeriksaan Covid-19 maka segera manfaatkan layanan pemeriksaan Covid-19 dari Prosehat dan Klinik Kasih yang turut menyediakan layanan pemeriksaan Covid-19 ke rumah.

    Informasi lebih lanjut hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Kesembuhan COVID-19 Bertambah Mencapai 4.080.351 Orang.
    2. Siloam Hospital. Cara cegah kantor jadi klaster penularan Covid-19.
    3. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. Bagaimana Cara Mencegah Penularan Virus Corona.
    4. Pinandhita V. Klaster Kantor DKI Naik, Ini 4 Cara Cegah Penularan COVID-19 di Tempat Kerja.
    5. Smart City Jakarta. Tips Mencegah Penularan Covid-19 Di Klaster Perkantoran.
    Read More
  • Pemeriksaan fungsi hati, atau disebut juga Liver Function Test (LFT) merupakan pemeriksaan yang digunakan dalam membantu mendiagnosis penyakit atau kelainan pada organ hati. Tes ini dilakukan dengan mengukur kadar enzim, protein, bilirubin, dan zat lainnya yang terdapat di dalam darah. Kadar enzim, protein, atau bilirubin yang lebih tinggi tinggi atau lebih rendah biasanya dapat menunjukkan […]

    5 Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Tes Fungsi Hati

    Pemeriksaan fungsi hati, atau disebut juga Liver Function Test (LFT) merupakan pemeriksaan yang digunakan dalam membantu mendiagnosis penyakit atau kelainan pada organ hati. Tes ini dilakukan dengan mengukur kadar enzim, protein, bilirubin, dan zat lainnya yang terdapat di dalam darah. Kadar enzim, protein, atau bilirubin yang lebih tinggi tinggi atau lebih rendah biasanya dapat menunjukkan adanya masalah pada hati. 

    5 Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Tes Fungsi Hati

    5 Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Tes Fungsi Hati

    Kapan Waktu Terbaik Melakukan Tes Fungsi Hati ? 

    Sahabat Sehat, tes fungsi hati umumnya direkomendasikan pada situasi berikut:

    • Memeriksa Kerusakan Hati Akibat Infeksi Hati

    Penyakit hati seperti Hepatitis B dan Hepatitis C, perlu melakukan tes fungsi hati sebab virus hepatitis menyerang organ hati dan dapat mempengaruhi kinerja hati.

    • Memantau Efek Samping Obat 

    Bagi Sahabat Sehat yang rutin mengkonsumsi obat, dianjurkan melakukan tes fungsi hati. Hal ini dikarenakan beberapa obat telah diketahui dapat mempengaruhi kinerja organ hati misalnya obat NSAID, Statin, obat antibiotik, obat anti kejang, dan obat TBC (Tuberkulosis).

    • Memiliki Riwayat Penyakit Hati

    Bagi penderita gangguan hati, misalnya infeksi hati (hepatitis), kanker hati, perlemakan hati, pengerasan hati (sirosis hati), dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati secara berkala untuk memantau perkembangan penyakit dan seberapa baik pengobatan bekerja.

    • Memiliki Kondisi Medis Tertentu

    Bagi Sahabat Sehat yang memiliki kondisi medis seperti kadar trigliserida tinggi, diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, penyakit kandung empedu, dan anemia, turut dianjurkan melakukan tes fungsi hati untuk memastikan ada atau tidaknya komplikasi pada organ hati akibat riwayat penyakit tersebut.

    • Sering Konsumsi Alkohol

    Bagi Sahabat Sehat yang rutin konsumsi alkohol, dianjurkan melakukan tes fungsi hati sebab peminum alkohol lebih beresiko mengalami perlemakan hati dibandingkan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Berbagai Jenis Tes Fungsi Hati

    Apabila Sahabat Sehat memiliki salah satu kondisi diatas, sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai macam jenis tes fungsi hati :

    • Alanine transaminase (ALT)

    Alanine transaminase (ALT) atau dikenal juga sebagai serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), adalah enzim yang digunakan tubuh untuk metabolisme protein. Apabila fungsi hati terganggu, enzim ALT dapat dilepaskan ke dalam darah dan kadar ALT mengalami peningkatan. Saat hasil tes menunjukan kadar ALT yang sangat tinggi, maka kemungkinan besar telah terjadi kerusakan hati.

    • Aspartate aminotransferase (AST)

    Aspartate aminotransferase (AST) adalah salah satu enzim yang dapat ditemukan di beberapa bagian tubuh, seperti jantung, otak, pankreas, hati, otot. Ketika hati mengalami kerusakan, enzim AST dilepaskan ke dalam aliran darah. Kadar AST yang tinggi dapat menunjukan adanya masalah pada hati atau otot. Kadar AST secara spesifik memang tidak bisa dijadikan penanda kerusakan hati seperti ALT. Oleh sebab itu, tes AST biasanya diukur bersama dengan ALT untuk mengetahui kondisi hati.

    • Alkaline phosphatase (ALP)

    Alkaline phosphatase (ALP) adalah enzim yang ditemukan dalam tulang, saluran empedu, dan hati. Pemeriksaan ALP biasanya dilakukan dalam kombinasi dengan beberapa tes lainnya. Tes ALP dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi hati dan saluran empedu-hati. 

    • Tes albumin

    Albumin merupakan protein utama yang diproduksi oleh hati dan memiliki banyak fungsi penting terhadap tubuh. Tes albumin dapat memperkirakan kinerja hati dalam menghasilkan protein albumin. Apabila kadar albumin dalam darah rendah, kemungkinan menunjukan adanya masalah pada fungsi hati. 

    • Tes bilirubin

    Bilirubin adalah produk sisa dari pemecahan sel darah merah yang biasanya diproses oleh hati, sebelum ikut keluar bersama feses. Apabila fungsi hati terganggu, maka bilirubin tidak dapat terproses dengan benar. Oleh sebab itu, jika hasil pemeriksaan darah menunjukan kadar bilirubin yang tinggi, kemungkinan menjadi tanda adanya gangguan pada fungsi hati. 

    • Gamma-glutamyl transpeptidase (GGT)

    Pemeriksaan ini biasanya dilakukan untuk melengkapi tes fungsi hati. Pasalnya, tingginya kadar GGT dalam tubuh dapat menjadi tanda adanya kerusakan hati yang umumnya disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, alkohol, maupun racun. 

    Baca Juga: Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Tes Fungsi Hati

    Dokter biasanya akan memberikan Sahabat Sehat arahan persiapan sebelum mengambil sampel darah untuk tes fungsi hati, sebagai berikut :

    • Lakukan puasa sekitar 10 – 12 jam sebelum melakukan tes fungsi hati
    • Sahabat Sehat tetap dapat mengkonsumsi air putih sebelum tes
    • Kenakan baju berlengan pendek atau baju yang bagian lengannya mudah digulung agar tidak menyulitkan petugas medis dalam proses pengambilan sampel darah.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Berapa Nilai Normal Tes Fungsi Hati ?

    Perlu diketahui bahwa nilai normal dari tes fungsi hati dapat berbeda-beda karena tergantung dari alat laboratorium yang digunakan. Secara umum, berikut adalah patokan nilai normal hasil tes fungsi hati yaitu :

    • A L T: 7 – 55 unit per liter (U/L)
    • A S T: 8 hingga 48 U/L
    • A L P: 40 hingga 129 U/L
    • Albumin: 3,5 hingga 5,0 gram per desiliter (g/dL)
    • Total protein: 6,3 hingga 7,9 g/dL
    • Bilirubin: 0,1 hingga 1,2 miligram per desiliter (mg/dL)
    • GGT: 8 hingga 61 U/L

    Selain itu, batas nilai normal ini juga dapat bervariasi antara pria, wanita, dan anak-anak. 

    Baca Juga: Sirosis Hati dan Hepatitis, Apa Bedanya?

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai kondisi yang memerlukan pemeriksaan fungsi hati. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. Liver Function Tests: Purpose, Procedure, and Results [Internet]. USA : Healthline.
    2. Better Health. Liver – Better Health Channel [Internet]. Australia : Better Health.
    3. Mayo Clinic. Liver problems – Symptoms and causes [Internet]. USA : Mayo Clinic.
    4. Tests M. Liver Function Tests: MedlinePlus Medical Test [Internet]. USA : Medline Plus.
    Read More
  • Awas, Masalah Gizi pada Remaja Menyebabkan 7 Penyakit Ini Apakah Sahabat Sehat sering merasa mudah lelah dan lesu yang tak berkesudahan? Meski Sahabat Sehat tidak melakukan aktivitas berat, namun tubuh terasa tidak cukup bersemangat. Kalau ya, Sahabat Sehat perlu waspada karena salah satu penyebabnya adalah akibat kurang darah (atau disebut juga anemia). Apa Itu Kurang […]

    Sering Merasa Lemas dan Mengantuk? Waspada Kurang Darah

    Awas, Masalah Gizi pada Remaja Menyebabkan 7 Penyakit Ini Apakah Sahabat Sehat sering merasa mudah lelah dan lesu yang tak berkesudahan? Meski Sahabat Sehat tidak melakukan aktivitas berat, namun tubuh terasa tidak cukup bersemangat. Kalau ya, Sahabat Sehat perlu waspada karena salah satu penyebabnya adalah akibat kurang darah (atau disebut juga anemia).

    Sering Merasa Lemas dan Mengantuk Waspada Kurang Darah

    Sering Merasa Lemas dan Mengantuk? Waspada Kurang Darah

    Apa Itu Kurang Darah ?

    Anemia atau disebut juga kurang darah adalah kondisi ketika tubuh kekurangan kadar sel darah merah (hemoglobin). Hemoglobin yang mengandung zat besi berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru menuju otak dan organ lainnya. Saat oksigen mengalir dengan lancar, maka tubuh juga akan bekerja dengan optimal dalam menghasilkan energi. Oleh sebab itu ketika tubuh kekurangan hemoglobin, tubuh akan mudah lelah.

    Apa Saja Gejala Kurang Darah?

    Selain menyebabkan lelah dan lesu, rendahnya sel darah merah dapat mempengaruhi  transportasi sirkulasi karbondioksida dan oksigen dalam tubuh, sehingga dapat menimbulkan tanda dan gejala sebagai berikut:

    • Nafas terengah-engah, terutama saat berolahraga
    • Kelelahan yang tidak berkesudahan
    • Pengelihatan kabur
    • Sulit berkonsentrasi
    • Jantung berdebar tanpa sebab yang jelas
    • Pusing
    • Sakit kepala
    • Pucat
    • Kedinginan atau kesemutan pada kaki dan tangan
    • Kulit kering 
    • Rambut rontok
    • Sulit tidur

    Selain itu, juga dapat disertai keluhan lain sesuai dengan penyebab kurang darah yakni:

    Anemia aplastik

    dapat disertai keluhan demam, mudah terinfeksi penyakit lain, dan ruam kulit.

    Anemia defisiensi asam folat

    dapat disertai keluhan diare, gelisah, dan lidah tampak licin.

    Anemia hemolitik

    dapat disertai keluhan kulit tampak kuning, urin berwarna gelap, demam, dan sakit perut. 

    Anemia sel sabit

    dapat disertai keluhan pembengkakan pada kaki, tangan, serta kelelahan dan kulit tampak kuning. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Penyebab Anemia?

    Apabila tanda atau gejala di atas sudah dialami dalam waktu yang lama, maka Sahabat Sehat perlu melakukan pemeriksaan darah di fasilitas kesehatan untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam tubuh. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya anemia, antara lain:

    • Kekurangan zat besi
    • Kekurangan vitamin B-12
    • Penyakit kronis, seperti hipertiroidisme, hipotiroidisme, penyakit ginjal akut, lupus, AIDS, diabetes, serta penyakit langka lainnya
    • Kehamilan
    • Lahir prematur
    • Kehilangan terlalu banyak darah, misalnya saat menstruasi, wasir, gastritis, habis operasi atau trauma
    • Efek samping obat-obatan, seperti ibuprofen
    • Memiliki riwayat penyakit bawaan, seperti anemia sel sabit atau thalassemia

    Baca Juga: Apa Saja Risiko Kurang Konsumsi Buah dan Sayur?

    Bagaimana Cara Mengatasi Kurang Darah ?

    Kurang darah atau disebut juga Anemia termasuk masalah kesehatan yang umum terjadi, namun bukan berarti Sahabat Sehat dapat menyepelekannya. Pasalnya, gejala kurang darah terus dibiarkan dalam waktu lama justru dapat memicu munculnya gejala lain yang lebih berat misalnya:

    • Kehilangan konsentrasi
    • Depresi
    • Kuku tampak kebiruan
    • Menurunnya gairah seksual 

    Penanganan nya bertujuan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah sekaligus meningkatkan jumlah oksigen dalam darah. Berikut beberapa cara untuk mengatasi kurang darah, berdasarkan jenisnya:

    Anemia defisiensi bes

     Dapat diatasi dengan mengkonsumsi suplemen zat besi dan memperbaiki pola makan. Selain itu, dokter mungkin akan mengidentifikasi dan memberikan perawatan yang tepat apabila terjadi perdarahan yang berlebihan. 

    Anemia defisiensi vitamin B 12

    Dapat diatasi dengan pemberian suplemen makanan dan asupan gizi yang kaya vitamin B 12.

    Thalassemia

    Dapat diatasi dengan mengkonsumsi suplemen asam folat, pemberian terapi kelasi besi, transfusi darah, hingga transplantasi sumsum tulang belakang mungkin dibutuhkan. 

    Anemia karena penyakit kronis

    Penanganan akan disesuaikan dengan penyakit kronis yang diderita.

    Anemia aplastik

    Penanganan dapat berupa transfusi darah atau hingga transplantasi sumsum tulang. 

    Anemia sel sabit

    Penanganan berupa pemberian obat, transfusi darah, dan lainnya sesuai kondisi pasien.

    Anemia hemolitik

    Penanganannya berupa pemberian obat untuk menekan sistem imun, dan penanganan lainnya sesuai kondisi pasien. 

    Baca Juga: Awas, Masalah Gizi pada Remaja Menyebabkan 7 Penyakit Ini

    Bagaimana Mencegah Kurang Darah ?

    Meski ada beberapa jenis anemia yang tidak dapat dicegah, namun Sahabat Sehat dapat menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi beberapa jenis makanan seperti :

    Makanan Sumber Zat Besi

    Misalnya daging sapi dan daging lainnya, kacang-kacangan, lentil, sereal yang diperkaya zat besi, sayuran berdaun hijau tua dan buah-buahan kering termasuk makanan yang mengandung tinggi zat besi. 

    Asam Folat

    Asam folat merupakan asupan yang juga bagus untuk ibu hamil. Asam folat dapat ditemukan pada buah-buahan dan jus buah, sayuran berdaun hijau tua, kacang polong, kacang merah, kacang tanah, dan produk biji-bijian yang diperkaya asam folat, seperti roti, sereal, pasta dan nasi. 

    Vitamin B-12

    Makanan yang memiliki kadar vitamin B-12 tinggi yaitu daging, produk susu, dan sereal serta produk kedelai yang diperkaya vitamin B-12.

    Vitamin C

    Beberapa makanan yang mengandung vitamin C, misalnya buah dan jus jeruk, paprika, brokoli, tomat, melon, dan stroberi. Selain itu, makanan tersebut juga mampu membantu meningkatkan proses penyerapan zat besi. 

    Baca Juga: Sering Alami Lemas dan Pucat? Waspadai Gejala Kurang Darah

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai gejala kurang darah serta cara mencegahnya. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Anemia – Diagnosis and treatment [Internet]. USA : Mayo Clinic.
    2. WebMD. Anemia [Internet]. USA : WebMD.
    3. Cleveland Clinic. Anemia: Symptoms, Types, Causes, Risks, Treatment & Management [Internet]. USA : Cleveland Clinic.
    4. National Health Service. Iron deficiency anemia [Internet]. UK : National Health Service.
    5. Medical News Today. Anemia: Symptoms, treatments, types, and causes [Internet]. USA : Medical News Today.
    Read More
  • Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih beresiko untuk tertular penyakit ini. Orang tua harus mewaspadai komplikasi akibat campak pada anak karena […]

    Komplikasi Akibat Campak Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih beresiko untuk tertular penyakit ini.

    Orang tua harus mewaspadai komplikasi akibat campak pada anak karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang si kecil. maka dari itu cegah sejak dini.

    Komplikasi Akibat Campak Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Komplikasi Akibat Campak Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Resiko Penyakit Campak

    Berikut ini beberapa orang yang beresiko tertular campak lebih tinggi :

    • Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi lebih beresiko untuk tertular campak dan terjadi komplikasi saat mereka terkena campak, termasuk komplikasi yang paling serius yaitu kematian.
    • Ibu hamil yang tidak divaksinasi juga lebih beresiko untuk tertular campak.

    Campak masih umum terjadi di beberapa negara berkembang terutama di beberapa negara bagian Afrika dan Asia. Sebagian besar (lebih dari 95%) kematian akibat komplikasi campak terjadi di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan infrastruktur kesehatan yang lemah.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Campak ?

    Campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Campak menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi atau kontak langsung dengan sekresi atau cairan hidung dan tenggorokan dari pasien yang terinfeksi.

    Virus tetap aktif dan menular di udara atau permukaan yang terinfeksi hingga mencapai 2 jam. Virus dapat ditularkan oleh penderita sejak 4 hari sebelum munculnya ruam kemerahan pada kulit hingga 4 hari setelah ruam kemerahan mereda.

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Campak – Berikut Penjelasannya

    Apa Gejala Campak Pada Anak ?

    Gejala awal penyakit ini biasanya terjadi 1-2 minggu setelah tertular virus. Gejala yang timbul seperti :

    • Mata merah, bengkak dan sensitif terhadap cahaya
    • Tanda menyerupai pilek (sakit tenggorokan, batuk kering dan pilek)
    • Bercak putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan 
    • Demam tinggi
    • Lemas
    • Tidak nafsu makan
    • Diare
    • Mual dan muntah

    Ruam kemerahan pada kulit yang timbul paling lambat 4 hari setelah gejala pertama muncul serta menetap selama 7 hari, dimulai dari belakang telinga, kemudian menyebar ke kepala dan leher hingga akhirnya menyebar keseluruh tubuh.

    Apa Saja Komplikasi Akibat Campak?

    Sahabat Sehat, komplikasi berat akibat campak dapat terjadi terutama pada anak dengan resiko tinggi yang mengalami hal berikut :

    • Usia muda, terutama anak dibawah usia 1 tahun
    • Malnutrisi atau anak dengan gangguan gizi (marasmus dan kwashiorkor)
    • Pemukiman padat penduduk yang lingkungan dan sanitasi nya sangat buruk
    • Anak dengan gangguan imunitas, contohnya pada anak yang terinfeksi HIV, gangguan gizi dan juga keganasan
    • Anak dengan defisiensi vitamin.

    Baca Juga: Gejala Campak yang Dapat Ibu Kenali dan Cara Mencegahnya

    Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada tubuh akibat terinfeksi campak, yakni :

    • Infeksi dan peradangan paru, misalnya bronkopneumonia, laringotraqueobronquitis (croup).
    • Diare yang dapat diikuti dengan kekurangan cairan tubuh (dehidrasi)
    • Infeksi pada telinga (otitis media)
    • Gangguan pada sistem saraf seperti ensefalitis, dan gangguan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) yang merupakan suatu proses degeneratif atau penuaan akibat infeksi virus campak sehingga penderitanya akan mengalami perubahan tingkah laku, keterbelakangan mental, kejang hingga gangguan motorik.
    • Gangguan pada mata (keratitis)
    • Infeksi pada darah (septikemia).

    Apa Saja Pencegahan Campak ?

    Penyakit campak dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi MR (Measles dan Rubella), yang diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun. Selain itu juga dapat diberikan vaksin gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yang merupakan vaksin gabungan untuk mencegah campak, gondongan dan campak jerman, dapat diberikan sebanyak 2 kali pada anak berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Cegah Komplikasi Sakit Campak Pada Anak dengan Vaksinasi

    Nah Sahabat Sehat itulah mengenai berbagai komplikasi akibat campak yang rentan dialami Si Kecil. Untuk mencegah campak, segera berikan imunisasi campak untuk Si Kecil.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia.
    2. Universitas Andalas. Pendahuluan [Internet]. Indonesia : Universitas Andalas.
    3. World Health Organization. Measles [Internet]. USA : World Health Organization.
    4. RSUD Kota Bogor. Campak atau Measles [Internet]. Indonesia : RSUD Kota Bogor.
    5. Gustian R. Campak pada Anak [Internet]. Indonesia : CDK Journal.
    Read More
  • Sifilis pertama kali dideteksi di Eropa pada akhir abad ke 15 dan pada tahun 1905, Schaudinn dan Hoffman menemukan penyebab penyakit ini yaitu akibat infeksi bakteri Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak seksual. Sifilis atau disebut juga dengan sebutan “Penyakit raja singa” ditandai dengan munculnya luka pada area kelamin dan dubur, tanpa rasa nyeri sehingga […]

    Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

    Sifilis pertama kali dideteksi di Eropa pada akhir abad ke 15 dan pada tahun 1905, Schaudinn dan Hoffman menemukan penyebab penyakit ini yaitu akibat infeksi bakteri Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak seksual.

    Sifilis atau disebut juga dengan sebutan “Penyakit raja singa” ditandai dengan munculnya luka pada area kelamin dan dubur, tanpa rasa nyeri sehingga kadang kala tidak disadari oleh penderitanya. Namun pada tahap ini, infeksi sifilis sudah dapat menular ke orang lain.

    Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

    Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

    Jenis Sifilis

    Sifilis dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yakni :

    Sifilis yang didapat

    Yaitu kondisi infeksi sifilis yang didapatkan akibat berhubungan seksual dengan penderita sifilis. Kondisi ini terdiri dari beberapa stadium :

    • Stadium primer

    Pada tahapan ini ditandai dengan luka (atau disebut juga “Chancre”) di tempat bakteri masuk. Luka yang muncul mungkin akan terlihat seperti bekas gigitan serangga, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit. Hal ini yang menyebabkan gejala awal ini seringkali tidak disadari. Luka ini hanya bertahan selama 1-2 bulan kemudian selanjutnya akan menghilang tanpa bekas

    • Stadium sekunder

    Pada tahapan ini ditandai dengan munculnya ruam pada tubuh yang biasanya muncul pada telapak kaki dan telapak tangan. Selain ruam, biasanya juga disertai gejala lainnya seperti demam, nafsu makan menurun, radang tenggorokan dan muncul kutil kelamin.

    • Sifilis laten

    Luka akibat infeksi mungkin akan terlihat sembuh dan tidak menimbulkan bekas, namun ini justru menjadi pertanda sifilis memasuki fase lanjut. Setelah luka menghilang, biasanya terjadi selama dua tahun, penyakit ini akan masuk ke tahap sifilis tersier.

    • Stadium tersier

    Pada tahapan ini, kuman penyebab sifilis telah menyebabkan kerusakan organ tubuh lainnya seperti kerusakan otak, saraf dan jantung. Pada stadium ini dapat terjadi kelumpuhan, kebutaan, demensia hingga masalah pendengaran bahkan kematian.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Sifilis kongenital atau genetik

    Wanita hamil yang mengidap sifilis sangat berpeluang menularkan ke janin. Berita baiknya, resiko penularan bisa dikurangi jika ibu hamil sudah mendapat pengobatan sifilis sebelum usia kehamilan mencapai usia 4 bulan.

    Sifilis yang tidak diobati dengan tepat bisa memicu terjadinya komplikasi berupa bayi lahir dengan sifilis atau bayi terlahir kurang bulan atau prematur. Sifilis pada wanita hamil juga bisa menyebabkan keguguran.

    Baca Juga: Mengapa Calon Pengantin Perlu Vaksin HPV? Ini Penjelasannya

    Pemeriksaan Sifilis

    Berikut ini berbagai pemeriksaan laboratorium darah yang dapat membantu menegakan diagnosa sifilis :

    • Pemeriksaan Treponema

    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi yang secara spesifik berkaitan dengan penyebab sifilis. Pemeriksaan Treponema terdiri dari berbagai jenis yaitu :

    1. Test FTA-ABS (Fluorescent treponemal antibody absorption)
    2. Test TP-PA (Treponema pallidum particle agglutination assay)
    3. Test MHA-TP (Microhemagglutination assay)
    4. Test IA (Immunoassays).
    • Pemeriksaan Non-treponema

    Pemeriksaan ini tidak spesifik terhadap kuman penyebab sifilis. Antibodi yang dideteksi dapat dihasilkan oleh tubuh ketika terinfeksi bakteri penyebab sifilis dan juga pada kondisi lainnya. Pemeriksaan Non-Treponema yang dilakukan untuk mendeteksi sifilis ada 2 jenis, yaitu :

    1. Test Rapid Plasma Reagin (RPR)
    2. Test Venereal Disease Research Laboratory (VDRL).

    Baca Juga: Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    Siapa Saja yang Membutuhkan Skrining Pemeriksaan Sifilis?

    Pemeriksaan skrining untuk mendeteksi infeksi sifilis dalam tubuh, perlu dilakukan oleh beberapa kelompok orang berikut :

    • Pekerja seks komersial
    • Penderita HIV/AIDS yang masih aktif berhubungan seksual
    • Seseorang yang mempunyai pasangan seks lebih dari satu dan tanpa menggunakan kondom
    • Seseorang yang melakukan hubungan intim melalui anus (anal seks)

    Bagi kelompok orang diatas disarankan untuk melakukan pemeriksaan skrining setiap 3-6 bulan sekali.

    Baca Juga: Intip 6 Tips Menghindari Perilaku Seks Berisiko

    Nah,  Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara mendeteksi sifilis. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Siagian M, Rinawati R. Diagnosis dan Tata Laksana Sifilis Kongenital. Sari Pediatri, 5(2), p.52.
    2. Darmawan H, Purwoko I, Devi M. Sifilis Pada Kehamilan. Sriwijaya Journal of Medicine, 3(1), pp.73-83.
    3. Universitas Udayana. Infeksi Sifilis Pada Kehamilan [Internet]. Indonesia : Universitas Udayana.
    4. Romito K, Thompson E. Syphilis Tests [Internet]. USA : Michigan Medicine.
    5. Medline Plus. Syphilis Tests: MedlinePlus Medical Test [Internet]. USA : Medline Plus.
    Read More
  • Makanan dan minuman yang kotor akibat sanitasi yang buruk dapat menularkan berbagai macam penyakit. Penyakit-penyakit tersebut dapat berupa tifoid, diare hingga hepatitis. Terdapat beberapa jenis dari virus hepatitis, namun salah satu yang sering ditemukan akibat sanitasi yang buruk adalah penyakit hepatitis A. Nah Sahabat Sehat, bagaimana mencegah terinfeksi hepatitis A bagi yang sering makan diluar […]

    Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Makanan dan minuman yang kotor akibat sanitasi yang buruk dapat menularkan berbagai macam penyakit. Penyakit-penyakit tersebut dapat berupa tifoid, diare hingga hepatitis. Terdapat beberapa jenis dari virus hepatitis, namun salah satu yang sering ditemukan akibat sanitasi yang buruk adalah penyakit hepatitis A.

    Nah Sahabat Sehat, bagaimana mencegah terinfeksi hepatitis A bagi yang sering makan diluar ? Mari simak penjelasan berikut.

    Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Penyebab Hepatitis A

    Hepatitis A merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). Data dari World Health Organization mengatakan bahwa pada tahun 2016 terdapat 7.134 orang yang meninggal akibat hepatitis A diseluruh dunia. Penyakit hepatitis A kerap ditemukan pada negara berkembang yang memiliki tingkat sanitasi kurang baik. 

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Hepatitis A

    Gejala yang dapat diakibatkan hepatitis A, yakni demam, mual muntah, diare, nyeri perut, pegal-pegal, hingga warna kulit menjadi kuning. Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis hepatitis A. Hasil tes darah yang menunjukan adanya antibodi terhadap virus hepatitis A, dapat menegakkan diagnosis bahwa seseorang terinfeksi hepatitis A.

    Baca Juga: Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

    Tips Mencegah Penyakit Hepatitis A

    Virus hepatitis A menular dengan cara fecal – oral, yaitu dari feses penderita hepatitis A yang kemudian masuk melalui makanan atau minuman akibat sanitasi yang buruk. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah penyakit hepatitis A:

    • Rajin mencuci tangan

    Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir pada saat sebelum dan sesudah makan, untuk membunuh virus yang mungkin terdapat pada tangan Sahabat Sehat sehingga transmisi melalui makanan dapat dihindari.

    • Bersihkan buah dan sayur terlebih dahulu

    Buah dan sayur yang dibeli mungkin sebelumnya terpapar oleh kotoran yang mengandung hepatitis A. Bersihkan dahulu sebelum mengkonsumsi buah dan sayuran yang mentah.

    • Hindari mengkonsumsi makanan mentah

    Lebih baik lagi untuk menghindari makanan-makanan mentah. Masak terlebih dahulu makanan Sahabat Sehat sehingga kuman dan parasit mati.

    • Vaksinasi hepatitis A

    Vaksin untuk virus hepatitis A sudah tersedia. Sahabat Sehat dapat melakukan vaksinasi untuk mencegah terinfeksi virus hepatitis A. IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Hepatitis A setelah anak berusia 2 tahun dalam 2 dosis. Dosis ke-2 diulang setelah 6 bulan sampai 12 bulan berikutnya, namun bagi Sahabat Sehat yang sudah dewasa juga dapat mendapatkan vaksinasi ini.

    • Batasi kontak dengan penderita hepatitis A

    Harus diingat bahwa penyebaran infeksi hepatitis A dapat terjadi dari kontak erat seperti handuk mandi. Sahabat Sehat perlu membatasi kontak erat dan berbagi atau meminjam pakaian atau alat sanitasi lainnya dengan penderita hepatitis A untuk sementara waktu.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Jika Sahabat Sehat sering makan diluar, maka meningkatkan resiko terinfeksi hepatitis A. Pemberian vaksin hepatitis A sejak dini dapat membantu mencegah terinfeksi penyakit ini. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Iorio N, John S. Hepatitis A [Internet]. Ncbi.nlm.nih.gov. 2021.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis A Q&As for Health Professionals [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021.
    3. World Health Organization. Hepatitis A [Internet]. USA : World Health Organization. 2021.
    4. Medline Plus Medical Encyclopedia. Preventing hepatitis A [Internet]. USA : Medline Plus. 2021.
    5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mengenal Hepatitis A pada Anak [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2021.
    Read More
  • Sebagian besar penderita HIV dan AIDS (ODHA) tidak menyadari bahwa terinfeksi HIV. Oleh karena itu, bagi seseorang yang dicurigai menderita HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining HIV/Aids untuk deteksi awal. Sahabat Sehat, apa saja jenis pemeriksaan HIV ? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu HIV ? Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat menyerang […]

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    Sebagian besar penderita HIV dan AIDS (ODHA) tidak menyadari bahwa terinfeksi HIV. Oleh karena itu, bagi seseorang yang dicurigai menderita HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining HIV/Aids untuk deteksi awal. Sahabat Sehat, apa saja jenis pemeriksaan HIV ? Mari simak penjelasan berikut.

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    Apa Itu HIV ?

    Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi HIV dapat menyebabkan semakin berat nya perkembangan penyakit dalam tubuh yang disebut sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) pada penderitanya. AIDS merupakan stadium akhir pada penderita HIV. Apabila Sahabat Sehat termasuk dalam kelompok orang yang berpotensi tinggi menderita HIV, alangkah baiknya jika mulai melakukan melakukan pemeriksaan HIV sedini mungkin. 

    Apa Saja Jenis Tes Pemeriksaan HIV dan AIDS?

    Pada sebagian besar kasus, diagnosis HIV biasanya ditegakkan berdasarkan dengan gejala yang dialami serta pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi virus HIV. Berikut adalah berbagai jenis pemeriksaan HIV/ AIDS :

    • Pemeriksaan Antibodi

    Pemeriksaan antibodi merupakan metode pemeriksaan HIV/AIDS yang paling umum dilakukan. Pemeriksaan HIV jenis ini tujuannya bukanlah untuk mencari penyakit atau virus penyebabnya, melainkan menemukan protein untuk menangkal penyakit atau yang dikenal sebagai antibodi. Protein tersebut dapat ditemukan di dalam darah, air liur, atau urin. 

    Untuk melakukan pemeriksaan HIV, dokter biasanya akan mengambil darah. Antibodi  dihasilkan dalam tubuh penderita HIV dalam kurun waktu sekitar 3 – 12 minggu hingga dapat terdeteksi dalam pemeriksaan tersebut. 

    • Pemeriksaan Antibodi-Antigen (Ab-Ag)

    Pemeriksaan HIV Antibodi-Antigen merupakan jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi yang ditujukan terhadap HIV-1 atau HIV-2. Selain itu, pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menemukan protein p24 yang merupakan antigen dari virus (bagian dari inti virus).

    Tubuh membutuhkan waktu beberapa minggu hingga terbentuknya antibodi usai infeksi awal. Artinya, pemeriksaan Antibodi-Antigen ini sangat memungkinkan untuk deteksi dini infeksi HIV. 

    Melalui pemeriksaan ini, diagnosis HIV dapat diketahui dalam kurun waktu satu minggu lebih cepat dari pada pemeriksaan antibodi. Apabila pemeriksaan ini menunjukan hasil positif,  dokter akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya pemeriksaan Western blot. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Pemeriksaan Serologi

    Terdapat tiga jenis pemeriksaan serologi yang umum direkomendasikan dalam pemeriksaan HIV dan AIDS, yakni:

    • Tes darah cepat

    Proses kerja pemeriksaan ini menggunakan reagen (bahan kimia aktif) yang telah dievaluasi dan direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Tes darah HIV dan AIDS in dapat mendeteksi antibodi HIV-1 maupun HIV-2. Selain itu, tes ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk dapat mengetahui hasilnya.

    • Tes ELISA

    Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) atau yang dikenal juga sebagai EIA (enzyme immunoassay) yakni merupakan suatu pemeriksaan HIV untuk mendeteksi antibodi HIV-1 dan HIV-2. Tes ini dilakukan dengan menambahkan enzim ke cawan petri tersebut untuk mempercepat proses reaksi kimia. Namun, hasil tes ini baru dapat diketahui dalam kurun waktu 1 – 3 hari. 

    • Tes Western Blot

    Tes ini hanya dapat dilakukan untuk menindaklanjuti tes skrining awal yang menunjukan hasil positif HIV. Umumnya, pemeriksaan ini disarankan apabila tes ELISA yang sebelumnya dijalani menunjukan hasil positif HIV karena terkadang tes ELISA menunjukan hasil positif (false positif). 

    Pemeriksaan Western Blot juga  diperlukan apabila Sahabat Sehat didiagnosa positif HIV dari pemeriksaan sebelumnya. Kondisi yang dimaksud meliputi Lyme, sifilis, atau lupus yang mungkin mempengaruhi hasil pemeriksaan HIV.

    Meski tes Western Blot ini hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk pengujiannya, namun perlu diingat bahwa tes ini hanya dapat dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan sebab tes Western Blot ini tidak akan membantu jika tanpa melakukan tes lain sebelumnya. 

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Pemeriksaan Virologis Dengan PCR

    Pemeriksaan virologis merupakan salah satu jenis pemeriksaan HIV/AIDS yang dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR). Tes ini sangat penting bagi ibu hamil yang terdiagnosa positif HIV. Selain itu, bayi yang baru lahir dari ibu yang positif HIV juga harus melakukan pemeriksaan ini minimal saat ini telah berusia 6 minggu. 

    Tes ini juga sangat direkomendasikan bagi anak umur dibawah 18 tahun yang dicurigai mengidap HIV. Tes ini kemungkinan juga dapat membantu mendeteksi adanya infeksi HIV dalam 4 minggu pertama setelah terpapar virus penyebab HIV. Berikut beberapa tes virologi yang dianjurkan, yaitu:

    • HIV DNA Kualitatif (EID)

    Jenis pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan darah lengkap atau dried blood spot (DBS), yakni pemeriksaan yang berfungsi dalam mendeteksi keberadaan virus HIV, dan bukan pada antibodi penangkalnya. Tes HIV DNA kualitatis ini digunakan untuk mendiagnosis HIV pada bayi. 

    • HIV RNA Kuantitatif

    Tes HIV dan AIDS RNA kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan plasma darah. Periksaan ini bertujuan untuk memeriksa jumlah virus yang di dalam darah (viral load HIV).  Metode pemeriksaan HIV dengan bantuan PCR ini melibatkan enzim dalam menggandakan virus HIV dalam darah. Biasanya, pemeriksaan ini membutuhkan waktu beberapa hari hingga seminggu.

    Viral load dapat dinyatakan “tak terdeteksi” apabila hanya terdapat sangat sedikit dalam 1 ml sampel darah. Kondisi ini dapat menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh Sahabat Sehat gagal melawan infeksi HIV. 

    Baca Juga: HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa jenis pemeriksaan yang dapat Sahabat Sehat lakukan dalam mendeteksi virus HIV. Segera lakukan pemeriksaan bila dicurigai berkaitan dengan penyakit HIV. Mendapatkan penanganan sedini mungkin dapat membuat perkembangan lebih dapat ditangani sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup pengidapnya. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Stanford Health Care. Polymerase chain reaction (PCR) [Internet]. USA : Stanford Health Care.
    2. Kementerian Kesehatan RI. Buku Permenkes ARV [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan RI.
    3. HIV Gov. HIV Testing Overview [Internet]. USA : HIV Gov.
    4. Avert. HIV testing fact sheet [Internet]. USA : Avert.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Testing HIV Basics [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    Read More
  • Tifoid merupakan sebuah penyakit yang pasti sudah pernah Sahabat Sehat dengar. Penyakit tifoid atau sering kali disebut “tipes” disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini paling sering dijumpai pada negara Asia Tenggara, terutama Pakistan, India, dan Bangladesh. Sebanyak 21 juta kasus dengan 200.000 kematian akibat tifoid terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Tingkat penyakit ini […]

    Perlukah Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian?

    Tifoid merupakan sebuah penyakit yang pasti sudah pernah Sahabat Sehat dengar. Penyakit tifoid atau sering kali disebut “tipes” disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini paling sering dijumpai pada negara Asia Tenggara, terutama Pakistan, India, dan Bangladesh. Sebanyak 21 juta kasus dengan 200.000 kematian akibat tifoid terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Tingkat penyakit ini masih tinggi pada negara-negara yang memiliki tingkat sanitasi rendah. 

    Perlukah Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian

    Perlukah Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian

    Penularan bakteri tifoid ini terjadi secara fecal – oral, yaitu kotoran dari seseorang yang terinfeksi dapat menularkan ke orang lain apabila masuk melalui mulut contohnya dari makanan yang tidak bersih. Selain itu, akses air bersih juga penting karena apabila air yang terkontaminasi diminum, infeksi tifoid juga dapat terjadi.

    Apa Gejala Tifoid ?

    Infeksi dari bakteri tifoid yang masuk dari mulut mengikuti jalur saluran cerna tubuh. Tubuh memiliki sistem pertahanan berupa asam lambung dan sistem imun untuk melawan bakteri ini, namun tidak selalu dapat menghindari infeksi.4 Saat sampai di usus, bakteri tifoid menginfeksi usus dan menyebabkan radang sehingga timbul tanda dan gejala yaitu:

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    • Demam 
    • Nyeri perut
    • Diare atau konstipasi
    • Nyeri kepala
    • Lemas
    • Tidak nafsu makan

    Pengobatan untuk penyakit tifoid adalah dengan pemberian antibiotik dan obat lain untuk meringankan tanda dan gejala. Perlu diingat bahwa pemberian antibiotik harus dengan anjuran dan instruksi dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri tifoid terhadap antibiotik yang membuat antibiotik-antibiotik tersebut tidak berguna. Tifoid juga dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan benar.

    Baca Juga: Penyebab Tifus

    Vaksinasi Tifoid

    Vaksin untuk tifoid sudah tersedia bagi anak maupun dewasa. Saat ini terdapat beberapa tipe vaksin tifoid yaitu:

    • Typhoid conjugate vaccine (TCV) untuk usia 6 bulan hingga 45 tahun dalam bentuk injeksi
    • Unconjugated polysaccharide vaccine (Vi-PS) untuk usia diatas 2 tahun dalam bentuk injeksi
    • Oral live attenuated Ty21a vaccine untuk usia diatas 6 tahun dalam bentuk kapsul

     

    Dari semua vaksin tersebut, World Health Organization (WHO) menyarankan untuk mendapatkan vaksin tifoid karena memiliki peningkatan sifat imunologis, rentang usia yang besar dan memberikan efek proteksi yang lebih panjang.5 Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merekomendasikan untuk melakukan vaksinasi tifoid bagi Sahabat Sehat yang ingin bepergian ke daerah seperti Pakistan, India, dan Bangladesh.

    Penyakit tifoid merupakan sebuah penyakit yang sering ditemukan, namun perlu pengobatan untuk mencegah agar tidak menyebabkan infeksi yang berat. Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mencegah terinfeksi oleh bakteri tifoid. Namun perlu diingat bahwa vaksinasi tidak dapat 100% menghindari infeksi tifoid. Sahabat Sehat juga tetap perlu menjaga kebersihan diri dan makanan yang dikonsumsi.

    Baca Juga: Cegah Tipes Dengan Vaksin Tifoid

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pentingnya vaksin tifoid sebelum bepergian. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Sandhya A, Marathe D. Typhoid fever & vaccine development: a partially answered question [Internet]. PubMed Central (PMC). 2021.
    2. National Health Service. Typhoid fever [Internet]. UK : National Health Service. 2021.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Vaccination [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021.
    4. Bhandari J, Thada P, DeVos E. Typhoid Fever [Internet]. Ncbi.nlm.nih.gov. 2021.
    5. World Health Organization. Typhoid [Internet]. USA : World Health Organization. 2021 .
    Read More
  • Musim liburan telah tiba dan pastinya beberapa dari Sahabat Sehat bepergian. Saat berpergian mungkin terdapat penyakit yang sering dijumpai pada daerah tersebut. Sebagai contoh adalah penyakit yang ditularkan dari gigitan nyamuk yaitu malaria atau chikungunya yang jarang dijumpai pada daerah perkotaan namun sering dijumpai pada daerah kepulauan. Sahabat Sehat, ternyata ada penyakit lain yang dapat […]

    Waspada Japanese Encephalitis Saat Berlibur ke Persawahan

    Musim liburan telah tiba dan pastinya beberapa dari Sahabat Sehat bepergian. Saat berpergian mungkin terdapat penyakit yang sering dijumpai pada daerah tersebut. Sebagai contoh adalah penyakit yang ditularkan dari gigitan nyamuk yaitu malaria atau chikungunya yang jarang dijumpai pada daerah perkotaan namun sering dijumpai pada daerah kepulauan.

    Sahabat Sehat, ternyata ada penyakit lain yang dapat pula ditularkan dari gigitan nyamuk yaitu Japanese encephalitis. Penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan radang otak. Sahabat Sehat, apa saja gejala penyakit Japanese encephalitis  dan bagaimana cara mencegahnya? Mari simak penjelasan berikut.

    Waspada Japanese Encephalitis Saat Berlibur ke Persawahan

    Waspada Japanese Encephalitis Saat Berlibur ke Persawahan

    Apa Itu Japanese Encephalitis ?

    Japanese encephalitis merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus golongan flavivirus. Jenis flavivirus ini berkerabat dengan virus dengue (demam berdarah) dan dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk spesies Culex tritaeniorhynchus. Daerah endemis untuk penyakit ini adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kasus pertama dari Japanese encephalitis ditemukan di Jepang pada tahun 1871. Sebesar 75% penderita dari Japanese encephalitis adalah anak-anak dan remaja, karena sebagian besar dewasa telah memiliki imunitas dari infeksi saat masa kecil.

    Sebagian dari penderita Japanese encephalitis hanya mengeluhkan gejala ringan seperti nyeri kepala dan demam atau bahkan tidak menimbulkan gejala apapun. Tetapi terdapat 1 dari 250 infeksi yang menyebabkan sakit kritis. Penyakit ini menyebabkan radang pada otak penderita sehingga terdapat risiko kematian.4 Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat bahwa 20-30% dari pasien Japanese encephalitis meninggal.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Japanese Encephalitis

    Virus Japanese encephalitis melewati lapisan pelindung tersebut sehingga dapat menyebabkan peradangan pada otak. Radang pada otak dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala yaitu seperti:

    • Nyeri kepala
    • Demam
    • Mual dan muntah
    • Leher kaku
    • Disorientasi
    • Koma
    • Kejang
    • Kelumpuhan

    Hampir semua pasien yang menderita radang otak dan memiliki riwayat perjalan ke daerah yang endemis Japanese encephalitis dapat dicurigai menderita penyakit tersebut. World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa penyakit ini. 

    Pemeriksaan yang dilakukan merupakan antibodi terhadap virus Japanese encephalitis yang diambil dari cairan serebrospinal.2,4 Selain itu, pemeriksaan CT-scan dapat dilakukan untuk menemukan tanda dari Japanese encephalitis. Pemeriksaan CT-scan memiliki spesifitas yang tinggi, namun tidak sensitif untuk dapat menyingkirkan diagnosis Japanese encephalitis.

    Baca Juga: Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Cara Mengatasi Japanese Encephalitis

    Sama dengan sebagian besar penyakit virus lainnya, tidak ada obat antiviral untuk virus Japanese encephalitis. Obat-obatan yang diberikan adalah obat suportif yang bertujuan untuk mengurangi tanda dan gejala. Selain itu terdapat obat-obatan yang digunakan untuk menstabilkan pasien saat kejang. Hal terbaik yang dilakukan adalah untuk mencegah terinfeksi virus ini, yaitu dengan melakukan vaksinasi. Vaksin untuk Japanese encephalitis sudah tersedia dan direkomendasikan untuk diberikan karena dapat mencegah terjadinya penyakit ini.

    Penyakit Japanese encephalitis merupakan penyakit yang jarang ditemukan, namun harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Sahabat Sehat dapat mencurigai penyakit tersebut apabila terdapat beberapa tanda dan gejala seperti diatas. Vaksin untuk Japanese encephalitis sangat direkomendasikan karena dapat mencegah terjadinya penyakit tersebut. Apabila Sahabat Sehat ingin mendapatkan vaksin untuk Japanese encephalitis, konsultasikan dahulu dengan tenaga kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai infeksi Japanese Encephalitis yang dapat dialami siapa saja dan dapat mengakibatkan radang otak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Pearce J, Learoyd T, Langendorf B, Logan J. Japanese encephalitis: the vectors, ecology and potential for expansion. Journal of Travel Medicine. 2018;25(Suppl_1):S16-S26.
    2. World Health Organization. Japanese encephalitis [Internet]. USA : World Health Organization. 2021.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Japanese Encephalitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021.
    4. Hsieh J, St. John A. Japanese encephalitis virus and its mechanisms of neuroinvasion. PLOS Pathogens. 2020;16(4):e1008260.
    5. Turtle L, Solomon T. Japanese encephalitis the prospects for new treatments. Nature Reviews Neurology. 2018;14(5):298-313.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com