Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 221–230 of 1354 results

  • Sahabat Sehat mungkin pernah mengalami pusing berputar. Kondisi ini sering disebut sebagai vertigo. Vertigo dapat dialami siapa saja, baik pria maupun wanita dari berbagai usia.  Vertigo umum dapat mereda dengan sendirinya, namun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terdapat beberapa pilihan tatalaksana untuk keluhan vertigo, salah satunya adalah fisioterapi. Lalu apakah perlu bagi semua penderita vertigo untuk melakukan […]

    Penderita Vertigo Perlukah Melakukan Fisioterapi ?

    Sahabat Sehat mungkin pernah mengalami pusing berputar. Kondisi ini sering disebut sebagai vertigo. Vertigo dapat dialami siapa saja, baik pria maupun wanita dari berbagai usia. 

    Vertigo umum dapat mereda dengan sendirinya, namun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terdapat beberapa pilihan tatalaksana untuk keluhan vertigo, salah satunya adalah fisioterapi. Lalu apakah perlu bagi semua penderita vertigo untuk melakukan fisioterapi? Mari simak penjelasan berikut.

    Penderita Vertigo Perlukah Melakukan Fisioterapi

    Penderita Vertigo Perlukah Melakukan Fisioterapi ?

    Penyebab Vertigo

    Terdapat berbagai hal yang dapat menyebabkan vertigo. Beberapa contohnya adalah adanya infeksi, rasa cemas berlebih, atau bahkan tumor yang mengganggu bagian pengatur keseimbangan tubuh.

    Berdasarkan penyebab-penyebabnya, tentu tidak semua vertigo langsung disarankan untuk menjalani fisioterapi. Penyebab vertigo yang dapat disarankan untuk melakukan fisioterapi adalah endapan pada saluran keseimbangan tubuh atau disebut juga Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

    Dapatkan: Layanan Fisioterapi Lansia Vertigo ke Rumah

    Sebagian besar BPPV yaitu 50-70% terjadi tanpa ada faktor pencetusnya.4 Sisanya dapat terjadi akibat riwayat kepala pernah terbentur, riwayat infeksi telinga, dan kurangnya oksigen. BPPV paling banyak dijumpai pada usia 50-70 tahun, usia muda jarang dijumpai namun dapat terjadi apabila terdapat riwayat trauma kepala.

    Untuk mengetahui apakah Sahabat Sehat mengalami BPPV, Sahabat Sehat harus memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter. Dokter akan menanyakan keluhan saat ini dan riwayat Sahabat Sehat, lalu akan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium atau pencitraan seperti CT-scan atau MRI mungkin diperlukan agar dokter dapat menyingkirkan penyebab vertigo lainnya sehingga diagnosis BPPV dapat tegak.

    Baca Juga: Alami Tekanan Darah Rendah? Siapkan 6 Jenis Makanan Ini di Rumah

    Fisioterapi Bagi Penderita Vertigo

    Penanganan pada penderita vertigo (BPPV) berupa pemberian obat dan fisioterapi. Obat-obatan yang diberikan secara umum dapat meredakan gejala. Pada sebuah penelitian diketahui bahwa dua per tiga dari penderita BPPV yang melakukan fisioterapi, mengalami perbaikan dari  keluhan vertigonya meski tidak diberikan tatalaksana lain.

    Fisioterapi yang dilakukan kepada penderita vertigo disebut Vestibular Rehabilitation. Tujuan dilakukannya fisioterapi ini adalah untuk melatih input yang diterima oleh organ yang mengatur keseimbangan tubuh dan yang penglihatan mata agar dapat diproses dengan baik dalam otak, sehingga persepsi keseimbangan tubuh dapat diperbaiki.

    Dengan membaiknya persepsi keseimbangan tubuh, diharapkan keluhan vertigo akan semakin berkurang dan Sahabat Sehat dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan keseimbangan. Dalam fisioterapi ini, Sahabat Sehat dilatih untuk melakukan gerakan-gerakan stretching dan memutarkan kepala untuk melatih rangsangan keseimbangan tersebut. 

    Fisioterapi dapat dilakukan selama 40-60 menit setiap sesinya, diharapkan Sahabat Sehat dapat melanjutkannya dirumah. Kontrol untuk fisioterapi secara umum dilakukan 1 kali setiap 1-2 minggu.5 Dengan melakukan fisioterapi tersebut, diharapkan keluhan vertigo secara perlahan akan berkurang hingga nantinya menghilang.

    Baca Juga: Benarkah Fisioterapi Bantu Atasi Saraf Terjepit ?

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai informasi mengenai fisioterapi sebagai salah satu penanganan bagi penderita vertigo. Tidak semua pasien vertigo dapat diberikan fisioterapi yang disebut dengan Vestibular Rehabilitation. Harus dicari tahu terlebih dahulu penyebab dari vertigo yang mungkin Sahabat Sehat alami. Sebelum ingin memulai fisioterapi tersebut, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter atau tenaga medis terlebih dahulu.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan ProSehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. National Health Service. Vertigo [Internet]. UK : National Health Service. 2022.
    2. National Health Service. Vertigo causes and treatment [Internet]. UK : National Health Service. 2022.
    3. Stanton M, Freeman A. Vertigo [Internet]. USA : Pubmed.. 2022.
    4. Palmeri R, Kumar A. Benign Paroxysmal Positional Vertigo [Internet]. USA : Pubmed. 2022.
    5. Han B, Song H, Kim J. Vestibular Rehabilitation Therapy: Review of Indications, Mechanisms, and Key Exercises. Journal of Clinical Neurology. 2011;7(4):184.
    6. Northwell Health. Vestibular rehabilitation – Rehabilitation Network [Internet]. USA : Northwell Health. 2022.
    Read More
  • Sahabat Sehat, seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh manusia melemah sehingga membuat tubuh lebih sulit dalam melawan infeksi. Orang lanjut usia (lansia) lebih mungkin terkena penyakit seperti flu, radang paru-paru, dan herpes zoster, dan mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan sakit jangka panjang, rawat inap, dan bahkan kematian. Vaksin sangat penting untuk lansia. Terlebih, jika lansia […]

    Kenali 3 Vaksinasi yang Penting untuk Lansia

    Sahabat Sehat, seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh manusia melemah sehingga membuat tubuh lebih sulit dalam melawan infeksi. Orang lanjut usia (lansia) lebih mungkin terkena penyakit seperti flu, radang paru-paru, dan herpes zoster, dan mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan sakit jangka panjang, rawat inap, dan bahkan kematian.

    Kenali 3 Vaksinasi yang Penting untuk Lansia

     

    Vaksin sangat penting untuk lansia. Terlebih, jika lansia memiliki penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit jantung, mendapatkan vaksinasi akan lebih bermanfaat. Vaksin dapat melindungi lansia dari penyakit serius (dan komplikasi terkait) sehingga ia dapat tetap sehat seiring bertambahnya usia.

    Bagi Sahabat Sehat yang sudah lanjut usia atau sedang merawat lansia di rumah, yuk cari tahu vaksin apa saja yang dibutuhkan di usia lanjut.

    Angka Harapan Hidup terus Meningkat

    Masih banyak orang beranggapan bahwa vaksinasi selesai di masa kecil. Sebagian lainnya merasa vaksinasi tambahan dilakukan hanya jika diperlukan, misalnya vaksin meningitis untuk umroh atau haji dan vaksin darurat seperti vaksin Covid-19.

    Program vaksinasi dewasa memang masih belum banyak terdengar di masyarakat. Padahal, manfaatnya sama besarnya dengan vaksin saat kanak-kanak.

    Angka harapan hidup yang terus meningkat di Indonesia menjadi sebuah tantangan bagi masyarakat untuk melindungi orang tua dari kesakitan. Pada tahun 1990, angka harapan hidup orang Indonesia adalah sekitar 62 tahun. Itu adalah rata-rata lamanya hidup orang Indonesia. Tahun 2019, angka harapan hidup orang Indonesia meningkat menjadi 71 tahun. Hal ini bisa terjadi karena adanya kemajuan ekonomi, lebih mudahnya akses layanan kesehatan, dan sebagainya.

    Peningkatan angka harapan hidup ini membuat vaksinasi menjadi sarana penting untuk melindungi kelompok usia rentan ini. Penyakit menular seperti influenza dan pneumonia adalah salah satu pembunuh utama lansia di dunia.

    Dapatkan: Layanan Vaksinasi Flu ke Rumah dari ProSehat

    Vaksinasi yang Penting untuk Lansia

    Sesuai pedoman jadwal imunisasi dewasa yang direkomendasikan oleh Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) tahun 2021, jenis vaksinasi yang dibutuhkan oleh lansia adalah sebagai berikut:

    Influenza

    Influenza adalah penyakit yang sangat serius bagi lansia (orang berusia 65 tahun ke atas). Selain itu, penyakit ini juga membahayakan orang dengan kondisi medis tertentu sehingga meningkatkan risiko menjadi sakit berat dan komplikasi.

    Strain virus influenza berubah setiap tahun dan vaksin berubah setiap tahun untuk menyesuaikan dengan strain baru. Itulah mengapa penting untuk mendapatkan vaksin influenza setiap satu tahun sekali.

    Penyakit influenza seringkali diremehkan karena dianggap seperti batuk dan pilek biasa. Walau memang sama-sama menimbulkan gejala pilek, namun influenza menyebabkan demam, badan meriang, dan sesak nafas atau nafas terasa berat. Maka, vaksinasi influenza sangat direkomendasikan bagi semua orang, terutama lansia yang imunitasnya semakin turun seiring bertambahnya usia.

    Pneumokokus (PCV-13/ PPSV-23)

    Penyakit pneumokokus adalah infeksi bakteri. Penyakit ini sangat serius pada orang tua dan dapat menyebabkan radang paru-paru (pneumonia), infeksi darah (sepsis), dan radang selaput otak (meningitis).

    Ada dua macam vaksin pneumokokus, yaitu vaksin PCV-13 dan vaksin PPSV-23. Vaksin PCV-13 melindungi dari 13 macam bakteri penyebab pneumonia, sedangkan PPSV-23 melindungi dari 23 macam bakteri.

    Jika lansia belum pernah divaksinasi pneumokokus saat kecil, ia bisa mendapatkan vaksinasi PCV-13 terlebih dahulu dan dilanjutkan PPSV-23 satu tahun kemudian, atau sebaliknya. Vaksin PCV-13 dapat diberikan mulai usia 50 tahun ke atas, sedangkan vaksin PPSV-23 diberikan mulai usia 60 tahun ke atas. Pemberian kedua jenis vaksin ini tidak boleh dalam waktu yang bersamaan.

    Baca Juga: 10 Jenis Medical Check Up Rutin yang Perlu Dilakukan Lansia

    Herpes zoster

    Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan ketika virus cacar air (varisela) aktif kembali. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri saraf yang parah dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

    Vaksin herpes zoster direkomendasikan untuk orang berusia 50 tahun ke atas karena kelompok usia tersebut berisiko lebih tinggi terkena herpes zoster. Seiring bertambahnya usia, kekebalan tubuh terhadap virus varisela-zoster menurun. Hal ini meningkatkan kemungkinan virus varisela-zoster menjadi aktif kembali.

    Sahabat Sehat, itulah rekomendasi vaksinasi untuk lansia. Pencegahan adalah cara yang paling efektif untuk melindungi kesehatan lansia, dan vaksinasi terhadap penyakit menular yang paling umum adalah pendekatan yang paling disarankan.

    Ayo segera lindungi lansia dari penyakit menular yang membahayakannya. Jadwalkan vaksinasi lansia bersama ProSehat, baik di klinik Prosehat maupun di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Sahabat Sehat.

    Layanan di klinik Prosehat bisa dilakukan di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat dengan kisaran harga promo sebagai berikut (harga dapat berubah sewaktu-waktu):

    Vaksin Influenza 4 strain di klinik Rp. 299.000
    Vaksin Influenza 4 strain di rumah Rp. 550.000
    Vaksin PCV-13 di klinik Rp. 960.000
    Vaksin PCV-13 di rumah Rp. 1.200.000
    Vaksin PPSV-23 di klinik Rp. 990.000
    Vaksin PPSV-23 di rumah Rp. 1.250.000

    Baca Juga: Pentingnya Memberi Vaksin Flu untuk Orang Tua atau Lansia

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan ProSehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Adults Age 65 and Older. HHS.
    2. Jadwal Imunisasi Dewasa 2021. PAPDI. 
    3. Immunisations for adults and seniors. Australia Government Department of Health.
    4. Ciabattini A, et al. Vaccination in the elderly: The challenge of immune changes with aging. 
    Read More
  • Tanggal 29 Mei 2022 yang jatuh pada hari Minggu diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Setiap tahunnya pada tanggal 29 Mei, HLUN dirayakan untuk mengapresiasi peran penting para lanjut usia Indonesia dalam kiprahnya mempertahankan kemerdekaan, mengisi pembangunan dan memajukan bangsa.  Peringatan HLUN pada tahun 2022 kali ini memiliki suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, […]

    10 Jenis Medical Check Up Rutin yang Perlu Dilakukan Lansia

    Tanggal 29 Mei 2022 yang jatuh pada hari Minggu diperingati sebagai Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Setiap tahunnya pada tanggal 29 Mei, HLUN dirayakan untuk mengapresiasi peran penting para lanjut usia Indonesia dalam kiprahnya mempertahankan kemerdekaan, mengisi pembangunan dan memajukan bangsa. 

    Peringatan HLUN pada tahun 2022 kali ini memiliki suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana banyak kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat, terutama kelompok lanjut usia.

    10 Jenis Medical Check Up Rutin yang Perlu Dilakukan Lansia

    10 Jenis Medical Check Up Rutin yang Perlu Dilakukan Lansia

    Pasalnya, banyak lansia yang belum memahami pentingnya Medical Check Up (MCU), atau pemeriksaan kesehatan, hingga ragu untuk memeriksakan diri dan melakukan vaksinasi karena kurangnya sosialisasi. Padahal saat memasuki usia lanjut, seseorang akan lebih rentan terserang penyakit, termasuk penyakit yang berbahaya. 

    Dengan adanya peringatan HLUN, diharapkan masyarakat dan lansia lebih peduli akan kesehatan di masa senja dengan rutin melakukan MCU serta melengkapi vaksinasi untuk mencegah penyakit menular. 

    Berbagai Jenis Medical Check Up Lansia

    Di usia lanjut, seseorang rawan mengalami gangguan kesehatan, mulai dari penyakit ringan hingga serius. Kondisi seperti ini dapat terjadi karena adanya penurunan fungsi organ-organ tubuh akibat proses penuaan. 

    Agar dapat mendeteksi dini penyakit dan menanganinya sedari awal, medical check up rutin akan memberikan banyak manfaat bagi lansia. Berikut beberapa jenis medical check up lansia yang umum disarankan, diantaranya:

    Tes tekanan darah

    Setidaknya ada satu dari tiga lansia yang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi). Penyakit ini dikenal sebagai “silent killer” karena gejalanya kerap tak terdeteksi. Padahal, kondisi ini dapat memicu risiko serangan jantung yang bisa berujung pada kematian. Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah tinggi jika hasil pemeriksaan mulai dari 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

    Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan minimal setahun sekali jika lansia tidak memiliki riwayat hipertensi. Bagi lansia yang memiliki riwayat hipertensi, pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan lebih sering tergantung dari beratnya penyakit. 

    Dapatkan: Layanan Medical Check Up dari ProSehat

    Tes kadar kolesterol

    Serupa dengan tekanan darah, tingginya kadar kolesterol dalam darah juga dapat memicu terjadinya serangan jantung dan stroke (penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak). 

    Lansia sehat tanpa risiko penyakit jantung tidak perlu memeriksakan kadar kolesterolnya terlalu sering, cukup lima tahun sekali. Namun bagi lansia dengan kadar kolesterol > 200 mg/dL, disarankan pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan dan selanjutnya disesuaikan dengan hasil pengobatan dan saran dokter.

    Jenis pemeriksaan yang disarankan adalah kadar kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida.

    Tes mata

    Perubahan penglihatan terjadi seiring bertambahnya usia. Saat lansia mencapai usia 60-an dan lebih, ia perlu menyadari tanda-tanda peringatan masalah kesehatan mata akibat usia yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

    Penyakit mata yang umum mengenai lansia diantaranya katarak dan glaukoma. Oleh sebab itu, pemeriksaan mata perlu rutin dilakukan, terutama jika lansia memiliki riwayat diabetes dan darah tinggi yang dapat memengaruhi pembuluh darah di mata dan tekanan bola mata. Tes mata umumnya meliputi:

    • Tes ketajaman mata
    • Pemeriksaan retina
    • Slit-lamp

    Tes periodontal

    Lansia rentan mengalami masalah gigi dan mulut. Problema di area ini dapat menyebabkan nafsu makan berkurang sehingga ia kekurangan nutrisi dan cairan. Masalah gigi dan mulut yang umum ditemui pada lansia antara lain gigi bolong, gusi bengkak, infeksi mulut, dan sebagainya.

    Melihat adanya risiko bahaya kesehatan pada gigi dan mulut, lansia dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan periodontal secara berkala untuk memantau kondisi gigi dan mulut, yaitu setiap enam bulan sekali jika tanpa masalah.

    Tes pendengaran

    Penurunan fungsi hingga kehilangan kemampuan mendengar merupakan hal yang umum terjadi pada lansia. Ini bisa terjadi karena adanya infeksi atau kondisi medis lainnya. untuk mencegah bertambah parahnya masalah pendengaran yang terjadi, lansia dianjurkan untuk melakukan tes pendengaran setiap 2-3 tahun sekali. 

    Baca Juga: 5 Masalah Kesehatan yang Menyebabkan Lansia Susah Makan

    Tes kepadatan tulang

    Diketahui, ada sekitar 75 juta orang yang menderita osteoporosis. Osteoporosis adalah penyakit pengeroposan tulang. Penyakit ini umum dialami oleh lansia, terutama wanita. Oleh sebab itu, tes kepadatan tulang masuk ke dalam jenis MCU yang harus dilakukan secara berkala oleh lansia. Lansia yang menderita osteoporosis akan rentan mengalami jatuh dan patah tulang.

    Tes vitamin D

    Vitamin D memiliki peran penting bagi tubuh, mulai dari membantu penyerapan kalsium, hingga mencegah penyakit diabetes, jantung, hingga kanker. Namun, seiring bertambahnya usia, vitamin D dalam tubuh juga akan semakin menurun. 

    Untuk itu, tes kadar vitamin D pada lansia sangat perlu dilakukan untuk memantau kadar vitamin tersebut dalam tubuh. apabila dokter menemui kadar vitamin dalam tubuh lansia berkurang, dokter akan segera melakukan upaya penanganan seperti memberikan suplemen vitamin D dan sebagainya. 

    Tes diabetes

    Tes diabetes merupakan salah satu tes yang juga sangat penting bagi lansia. Ini karena diabetes termasuk salah satu penyakit yang paling sering menyerang lansia. Penyakit ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi atau berlebih. Tes diabetes dilakukan guna memantau kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh.

    Mammogram

    Mammogram adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara pada wanita, termasuk lansia. Wanita usia 45-54 tahun dianjurkan untuk melakukan mammogram  atau pemeriksaan payudara setiap 1-2 tahun sekali. Hal ini dilakukan untuk mencegah sekaligus mendeteksi kanker payudara, terutama jika memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit ini. 

    Pap smear

    Wanita yang berusia diatas 65 tahun perlu melakukan pap smear untuk mendeteksi kanker serviks. Di Indonesia, pap smear dilakukan secara gratis di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) maupun rumah sakit.

    Baca Juga: 8 Alasan Pentingnya Melakukan ‘Medical Check Up’

    Sahabat Sehat, itulah beberapa jenis medical check up yang disarankan bagi lansia. Sebagaimana pepatah menyebutkan, “Lebih baik mencegah daripada mengobati”. Maka, ayo jalani pemeriksaan kesehatan rutin agar dapat mencegah maupun mengobati dini penyakit.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan ProSehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Cancer.org. 2022. Cancer Screening Guidelines | Detecting Cancer Early.
    2. Healthline. 2022. The Health Tests That Seniors Need.
    3. American Academy of Ophthalmology. 2022. Get an Eye Disease Screening at 40
    4. Osteoporosis.foundation. 2022. Facts & Statistics | International Osteoporosis Foundation.
    5. Kemensos.go.id. 2022. Hari Lanjut Usia Nasional Tahun 2022 | Kementerian Sosial Republik Indonesia.
    Read More
  • Pneumonia atau disebut juga paru-paru basah, merupakan kondisi peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi kuman maupun mikroorganisme lainnya. Kondisi ini dapat mengakibatkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru. Pada pasien yang mengalami pneumonia, alveoli dipenuhi oleh cairan, lendir atau nanah akibat infeksi sehingga menyebabkan pasien tersebut sulit untuk bernapas. Faktor […]

    Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Pneumonia atau disebut juga paru-paru basah, merupakan kondisi peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi kuman maupun mikroorganisme lainnya. Kondisi ini dapat mengakibatkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru. Pada pasien yang mengalami pneumonia, alveoli dipenuhi oleh cairan, lendir atau nanah akibat infeksi sehingga menyebabkan pasien tersebut sulit untuk bernapas.

    Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Faktor Resiko Pneumonia

    Pneumonia dapat menimpa siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Berikut adalah beberapa orang yang beresiko menderita pneumonia:

    • Perokok aktif
    • Memiliki riwayat stroke
    • Bayi berusia 0-2 tahun dan lansia berusia diatas 65 tahun
    • Penggunaan obat-obatan tertentu yang menyebabkan masalah pada sistem imun, seperti penggunaan steroid dan antibiotik dalam jangka panjang
    • Memiliki riwayat asma, gagal jantung, diabetes, HIV/AIDS, cystic fibrosis dan penyakit kronis lainnya
    • Sedang menjalani pengobatan anti kanker kemoterapi sehingga menekan sistem kekebalan tubuh.

    Pneumonia juga dapat disebabkan oleh infeksi virus SARS-COV-2 atau yang dikenal dengan Covid-19. 

    Dapatkan: Imunisasi Pneumonia dari ProSehat

    Gejala Pneumonia

    Gejala pneumonia bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga berat. Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa gejala yang dapat dialami apabila menderita pneumonia :

    • Batuk berdahak
    • Demam
    • Keringat dingin hingga menggigil
    • Sesak nafas hingga kesulitan bernafas
    • Nyeri dada yang semakin memberat bila bernafas dan batuk
    • Kelelahan dan lemas
    • Tidak nafsu makan
    • Mual dan muntah
    • Nyeri kepala berat

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Penyebab Pneumonia

    Selain mengenali gejala pneumonia, Sahabat Sehat perlu mengetahui sumber penyebab pneumonia agar dapat dihindari. Berikut ini adalah berbagai penyebab pneumonia :

    • Infeksi Bakteri

    Infeksi bakteri pada saluran nafas dan paru-paru merupakan penyebab tersering pneumonia. Salah satu bakteri penyebab tersering pneumonia, yaitu Streptococcus pneumoniae. Bakteri lainnya antara lain Mycoplasma pneumoniae, Haemophilus influenzae, Legionella pneumophila.

    • Infeksi Virus

    Selain infeksi bakteri, infeksi virus turut dapat mengakibatkan pneumonia. Virus penyebab pneumonia, antara lain Influenza (Flu), respiratory syncytial virus (RSV), rhinoviruses (Common cold), Human Parainfluenza Virus, Human metapneumovirus infection (HMPV), Chickenpox (Varicella zoster virus), Adenovirus, dan SARS-CoV-2.

    • Infeksi Jamur

    Jamur penyebab pneumonia biasanya berasal dari tanah atau kotoran burung yang terhirup. Infeksi jamur pada tubuh biasanya dialami pada seseorang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Contoh jamur penyebab pneumonia, antara lain Pneumocystis jirovecii, Cryptococcus species, Histoplasmosis species.

    Imunisasi Pneumonia

    Pneumonia dapat dicegah dengan pemberian imunisasi pneumonia. Berikut ini beberapa jenis vaksin pneumonia :

    Pneumococcal Conjugate Vaccine 13 (PCV 13)

    Melindungi tubuh dari 13 jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin ini diberikan untuk bayi, anak-anak dan juga dewasa yang memiliki resiko terkena infeksi pneumonia.

    Pneumococcal Polysaccharide Vaccine 23 (PPSV 23)

    Vaksin tipe ini melindungi tubuh dari 23 jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin PPSV 23 diberikan untuk lansia, dewasa dan anak berusia lebih dari 2 tahun. Selain itu, vaksin ini dapat diberikan untuk Sahabat Sehat yang memiliki kebiasaan merokok.

    Setiap orang yang memiliki resiko tinggi menderita pneumonia, dianjurkan untuk mengikuti imunisasi pneumonia. Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai penyebab pneumonia dan jenis imunisasi pneumonia. 

    Baca Juga: Pneumonia : Pembunuh Balita Utama di Dunia

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan ProSehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Adiputra D. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals.
    3. Normandin B, Castiello L. Everything You Need to Know About Pneumonia.
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Pneumococcal Vaccination: What Everyone Should Know.
    5. Garcia D. Vaksinasi Pneumonia dan Jenisnya.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Prevent pneumonia.
    Read More
  • Kanker serviks merupakan jenis kanker pada wanita yang menyebabkan kematian kedua terbanyak setelah kanker payudara. Sayangnya, gejala kanker serviks tidak muncul pada awal-awal infeksi, melainkan gejala baru dirasakan setelah memasuki stadium lanjut dimana harapan hidup penderita sudah menurun jauh. Banyak sekali komplikasi yang ditimbulkan dari kanker serviks, mulai terhadap organ kewanitaan sampai organ lainnya. Sebelum mengetahui […]

    Waspadai Berbagai Risiko Komplikasi Akibat Kanker Serviks

    Kanker serviks merupakan jenis kanker pada wanita yang menyebabkan kematian kedua terbanyak setelah kanker payudara. Sayangnya, gejala kanker serviks tidak muncul pada awal-awal infeksi, melainkan gejala baru dirasakan setelah memasuki stadium lanjut dimana harapan hidup penderita sudah menurun jauh.

    Waspadai Berbagai Risiko Komplikasi Akibat Kanker Serviks

    Waspadai Berbagai Risiko Komplikasi Akibat Kanker Serviks

    Banyak sekali komplikasi yang ditimbulkan dari kanker serviks, mulai terhadap organ kewanitaan sampai organ lainnya. Sebelum mengetahui komplikasi yang timbul akibat kanker serviks, ada baiknya kita memahami dulu apa itu kanker serviks dan gejala yang dialaminya.

    Kanker Serviks

    Kanker serviks adalah kanker atau keganasan yang tumbuh pada sel-sel rahim. Kanker ini berkembang secara perlahan-lahan dan menunjukkan gejalanya apabila sudah memasuki stadium lanjut.

    Serviks merupakan organ kewanitaan di sepertiga bawah rahim (uterus), berbentuk silindris dan menonjol serta berhubungan dengan vagina.

    Hampir 95% kanker serviks pada wanita disebabkan oleh human papillomavirus. Ada dua golongan HPV, yaitu HPV resiko tinggi atau HPV onkogenik (yang menjadi penyebab kanker), seperti HPV tipe 16, 18, dan 31, 33, 45, 52, 58. Sedangkan HPV yang resiko rendah atau non-onkogenik yaitu tipe 6, 11, 32 dan sebagainya.

    Cegah Kanker Serviks Sejak Dini, Cek: Harga Vaksin HPV di ProSehat

    Gejala Kanker Serviks

    Pada stadium awal, sebagian besar pasien tidak mengalami gejala apapun sampai akhirnya berkembang ke tahap stadium lanjut yang baru menimbulkan gejala. Gejala yang mungkin timbul berupa :

    • Perdarahan vagina
    • Keputihan
    • Nyeri panggul
    • Nyeri saat berhubungan intim.

    Kanker serviks kemungkinan akan bermetastasis atau menyebar ke organ tubuh lainnya seperti panggul, kelenjar getah bening, dan paru-paru pada stadium lanjut. Gejala kanker serviks pada stadium lanjut dapat berupa:

    • Nyeri pada kaki
    • Berat badan berkurang secara drastis
    • Kelelahan
    • Nyeri pada punggung bawah
    • Keluarnya urin dan tinja dari vagina
    • Keluarnya darah bercampur dengan urin
    • Kesulitan untuk buang air kecil
    • Tulang rapuh hingga mudah patah (apabila penyebaran kanker mencapai tulang).

    Baca Juga: Ayo Imunisasi Demi Kesehatan Si Kecil

    Komplikasi

    Wajib untuk Diwaspadai, Inilah Beberapa risiko komplikasi akibat kanker serviks yang bisa terjadi adalah seperti berikut: 

    Menopause dini

    Menopause dini biasanya disebabkan akibat komplikasi dari pengobatan radioterapi yang dapat merusak ovarium, sehingga banyak wanita mengalami menopause dini.

    Penyempitan vagina

    Radioterapi seringkali dapat menyebabkan vagina menjadi lebih sempit. Hal ini dapat menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual.

    Limfedema

    Yaitu pembengkakan tungkai akibat penyumbatan pada pembuluh darah getah bening oleh sel kanker.

    Dampak emosional

    Bagi penderita kanker serviks, banyak sekali yang mengalami dampak emosional seperti rasa sedih yang berlebihan akibat didiagnosis kanker serviks yang berujung pada depresi.

    Komplikasi lainnya:

    • Nyeri hebat akibat kanker yang menyebar ke tulang, otot dan saraf.
    • Kejang jika sel kanker bermetastasis ke otak.
    • Penumpukan urin di ginjal (hidronefrosis) yang dapat memicu gagal ginjal.
    • Perdarahan akibat kanker menyebar ke vagina dan kandung kemih dan rektum.

    Vaksin HPV Melindungi dari Kanker Serviks

    Kabar baiknya, kanker serviks dapat dicegah dengan vaksinasi HPV. Vaksin ini dapat diberikan pada wanita mulai dari usia 9 tahun dan memang lebih efektif jika wanita tersebut belum pernah melakukan hubungan seksual.

    Pada wanita yang sudah pernah berhubungan seksual juga tetap bisa mendapatkan vaksinasi HPV. Dokter akan menyarankan untuk pemeriksaan Pap smear terlebih dahulu sebagai salah satu cara memastikan tidak adanya perubahan sel di leher rahim yang dicurigai sebagai sel kanker.

    Untuk mendapatkan perlindungan yang efektif, Anda memerlukan 3 dosis vaksin HPV dengan interval waktu 2 bulan dan 4 bulan.

    Baca Juga: Mengapa Vaksinasi HPV Juga Diperlukan Untuk Si Gadis?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Segera jadwalkan vaksinasi HPV bersama ProSehat.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Kanker.kemkes.go.id. 2021. PPKServiks.
    2. Kata Data. 2021. Ini Jenis Kanker yang Paling Banyak Diderita Penduduk Indonesia.
    3. Direktorat P2PTM. 2016. Kenali Gejala Kanker Serviks Sejak Dini – Direktorat P2PTM.
    4. Cancer.org. 2020. Cervical Cancer Symptoms | Signs of Cervical Cancer.
    5. Medanta.org. 2021. 6 Signs and Symptoms of Cervical Cancer in Women.
    6. Markman, MD, M., 2021. What are the Symptoms and Signs of Cervical Cancer?.
    7. HSE.ie. 2022. Cervical cancer – complications.
    Read More
  • Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Campak merupakan infeksi menular saluran napas yang disebabkan oleh virus. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih beresiko tertular penyakit ini. […]

    Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Campak atau yang disebut dengan measles merupakan salah satu penyakit sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak yang ditandai dengan ruam kemerahan namun tidak berisi cairan seperti ruam kemerahan yang terjadi pada cacar air. Campak merupakan infeksi menular saluran napas yang disebabkan oleh virus. Si kecil yang belum mendapatkan imunisasi campak lebih beresiko tertular penyakit ini.

    Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Resiko Penyakit Campak

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa kelompok anak yang beresiko tinggi tertular campak yaitu:

    1. Anak yang belum divaksin campak.
    2. Ibu hamil yang tidak divaksinasi.

    Campak masih kerap terjadi di beberapa negara berkembang terutama pada beberapa negara bagian Afrika dan Asia. Sebagian besar (lebih dari 95%) kematian akibat komplikasi campak terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan infrastruktur kesehatan yang lemah.

    Dapatkan:  Layanan Vaksinasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) di ProSehat

    Bagaimana Penularan Campak ?

    Campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Campak menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi atau kontak langsung dengan sekresi atau cairan hidung dan tenggorokan dari pasien yang terinfeksi.

    Virus tetap aktif dan dapat ditemukan di udara atau permukaan benda hingga mencapai 2 jam. Virus dapat ditularkan oleh penderita campak sejak 4 hari sebelum munculnya ruam kemerahan pada kulit hingga 4 hari setelah ruam kemerahan mereda.

    Bagaimana Cara Mencegah Campak ?

    Penyakit campak dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi MR (Measles dan Rubella), yang diberikan pada saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD atau usia 6 tahun.

    Selain itu juga dapat diberikan vaksin gabungan MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) yakni vaksin gabungan untuk campak, gondongan dan campak jerman. Vaksin MMR dapat diberikan sebanyak 2 kali pada anak berusia 12 bulan dan 5 tahun.

    Baca Juga: Seberapa Pentingkah Imunisasi MR Dilakukan?

    Apa Perbedaan Vaksinasi MR dan MMR ?

    Saat berusia kurang dari 1 tahun, terdapat berbagai jenis imunisasi dasar yang harus diberikan, salah satunya adalah vaksin measles (campak) dan rubella (campak jerman) atau vaksin MR.

    Perbedaan dari kedua vaksin tersebut hanyalah cakupan penyakit yang dicegah. Vaksin MR hanya bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit campak dan rubella, sedangkan vaksin MMR dapat mengatasi kedua masalah kesehatan tersebut ditambah dengan mencegah penyakit gondongan.

    Komplikasi Gondongan, Campak, dan Rubella

    Pemberian vaksinasi MMR maupun vaksin MR sangat diperlukan karena dapat mencegah Si Kecil menderita campak, gondongan dan cacar jerman (rubella) serta komplikasi nya. Berikut adalah beberapa komplikasinya: 

    Campak

    Campak dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi telinga, radang paru dan radang otak

    Gondongan

    Gondongan dapat menyebabkan komplikasi seperti radang selaput otak, gangguan pendengaran permanen dan radang buah zakar yang dapat menimbulkan kemandulan bagi pria.

    Rubella

    Komplikasi penyakit rubella cukup serius karena dapat menyebabkan cacat lahir pada janin atau disebut dengan sindrom rubella kongenital.

    Baca Juga: Bahayakah Jika Anak Tidak Menerima Vaksinasi Campak?

    Nah Sahabat Sehat, itulah perbedaan imunisasi MR dan MMR. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR).
    2. Universitas Andalas. Pendahuluan.
    3. World Health Organization. Measles.
    4. RSUD Kota Bogor. Campak atau Measles.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. MMR or MMRV Vaccine: Discussing Options with Parents.
    Read More
  • Ginjal merupakan salah satu organ vital yang berperan penting dalam menyaring limbah atau zat beracun dalam tubuh. Organ ini juga menghasilkan hormon yang mengatur tekanan darah, mengontrol produksi sel darah merah, dan berbagai fungsi lainnya. Maka, menjaga kesehatan ginjal harus dilakukan agar tubuh tetap dalam kondisi optimal. Simak tips apa saja yang perlu dilakukan untuk […]

    Ketahui 8 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Berfungsi Maksimal

    Ginjal merupakan salah satu organ vital yang berperan penting dalam menyaring limbah atau zat beracun dalam tubuh. Organ ini juga menghasilkan hormon yang mengatur tekanan darah, mengontrol produksi sel darah merah, dan berbagai fungsi lainnya. Maka, menjaga kesehatan ginjal harus dilakukan agar tubuh tetap dalam kondisi optimal. Simak tips apa saja yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan ginjal. 

    Ketahui 8 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Berfungsi Maksimal

    Ketahui 8 Tips Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Berfungsi Maksimal

    Pola Makan Sehat

    Menjalani pola makan sehat memberikan manfaat baik bagi tubuh, termasuk ginjal. Makanan sehat adalah makanan yang mengandung gizi seimbang. Salah satunya dengan mengonsumsi sayur dan buah-buahan. 

    Beberapa jenis sayur dan buah yang baik untuk kesehatan ginjal diantaranya:

    • Sayuran rendah kalium, seperti lobak, terong, jagung, timun, wortel, jamur shiitake, dan kol.
    • Buah rendah kalium, seperti apel, beri-berian, anggur, jeruk Bali, semangka, dan nanas. 

    Usahakan juga untuk mengurangi konsumsi makanan yang tinggi purin, seperti jeroan. Sebab, makanan yang mengandung purin dapat meningkatkan kadar asam urat yang dapat mengganggu fungsi ginjal. 

    Dapatkan: Paket Medical Check Up dari ProSehat

    Batasi Asupan Garam

    Mengonsumsi garam dan sodium secara berlebihan dapat memberatkan kerja ginjal. Salah satu penyakit yang dapat timbul adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi.

    Sebagai alternatif, Anda dapat menggunakan rempah-rempah seperti bawang untuk menggantikan sodium. Kandungan quercetin pada bawang juga dapat menjaga kesehatan ginjal dengan membantu mengoptimalkan fungsi ginjal saat menyaring darah. 

    Tidak Mengonsumsi Protein Berlebihan

    Protein dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan dan memelihara struktur tubuh, sebagai salah satu sumber energi, dan pembentuk zat-zat penting seperti enzim. Namun, mengonsumsi terlalu banyak protein juga tidak baik untuk ginjal. ini karena setiap bagian tubuh membutuhkan jumlah protein yang berbeda-beda, maka semakin banyak protein yang harus disaring oleh ginjal, semakin berat ginjal harus bekerja. Oleh sebab itu, konsumsilah protein dalam jumlah yang cukup. 

    Baca Juga: Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

    Penuhi Kebutuhan Cairan

    Minum air putih terbukti mampu menjaga kesehatan ginjal karena melancarkan proses penyaringan darah saat membuang limbah beracun. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, ginjal yang sehat mampu menyaring sekitar 150 liter darah setiap hari. 

    Pada proses penyaringan ini, ginjal membuang limbah dalam darah seperti natrium, fosfor dan kalium. Air dalam tubuh berfungsi untuk menjaga pembuluh darah terbuka, sehingga darah dapat melewati ginjal dengan lancar. 

    Tak hanya itu, minum air putih yang cukup juga dapat menjaga keseimbangan air dan mineral dalam tubuh. Keseimbangan ini yang akan membuat otot, saraf, dan jaringan tubuh berfungsi normal. 

    Rutin Olahraga

    Melakukan olahraga secara teratur dapat membantu tubuh dalam mengendalikan tekanan darah, kadar kolesterol, dan glukosa. Ketiga komponen ini adalah hal yang harus dikendalikan untuk mencegah penyakit ginjal.

    Ada beberapa jenis aktivitas fisik yang bisa dilakukan, seperti jalan santai, menari, atau bersepeda.

    Jangan Sembarangan Minum Obat atau Vitamin

    Mengonsumsi obat dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat merusak ginjal Anda. Ini karena ginjal berfungsi untuk memproses pembuangan sisa-sisa obat dari tubuh.

    Oleh sebab itu, jangan pernah sembarangan dalam mengonsumsi obat. 

    Baca Juga: Mitos Apa Fakta : Cuci Ginjal Alamiah dengan Menggunakan Seledri dan Buah Alpukat

    Batasi Konsumsi Alkohol

    Alkohol memiliki dampak yang cukup besar bagi kesehatan tubuh. Berbagai kerusakan pun dapat terjadi jika Anda tidak membatasi asupan alkohol yang masuk kedalam tubuh, salah satunya penurunan fungsi ginjal. 

    Alkohol memiliki efek diuretik yang menyebabkan peningkatan jumlah urin dan cairan tubuh, termasuk mengendalikan ion natrium, klorida, dan kalium. Apabila hal ini terjadi, maka tubuh akan mengalami ketidakseimbangan cairan elektrolit yang membuat tubuh dehidrasi. 

    Berhenti Merokok

    Kandungan dalam rokok terbukti dapat merusak tubuh. Oleh sebab itu, bagi para perokok sebaiknya segera hentikan kebiasaan buruk tersebut karena zat dalam rokok yang masuk kedalam tubuh dapat menghambat aliran darah dan merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di ginjal. 

    Lakukan Medical Check Up Berkala

    Selain menjalani pola hidup sehat, Sahabat Sehat juga perlu melakukan medical check up berkala. Yang disarankan adalah setiap satu tahun sekali meskipun tanpa adanya keluhan. Jika Anda memiliki penyakit ginjal atau keluhan terkait ginjal, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lebih sering sebagai cara pemantauan.

    Baca Juga: Apa Bedanya Gagal Ginjal Akut dan Kronis?

    Sahabat Sehat, menjaga kesehatan ginjal sangat penting untuk dilakukan. Mulailah dengan melakukan perubahan pola hidup menjadi lebih baik secara konsisten seperti tips di atas dan lakukan medical check up secara berkala. Dengan ginjal yang sehat, kesehatan tubuh pun terpelihara.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. Work, Y. and Health, N., 2022. Your Kidneys & How They Work | NIDDK.
    2. National Kidney Foundation. 2022. Top 5 Ways to Stop A-Salting Your Kidneys.
    3. Healthdirect.gov.au. 2022. Chronic kidney disease.
    4. National Institute on Drug Abuse. 2022. Commonly Used Drugs Charts | National Institute on Drug Abuse.
    5. kidney.org. 2022. icelandic glacial hydraation.
    Read More
  • Apakah Sahabat Sehat pernah mengalami perdarahan dari vagina setelah berhubungan intim? Perdarahan seperti ini dapat menjadi sebuah kekhawatiran bagi wanita. Sebelum berpikir terlalu jauh, Sahabat perlu pahami bahwa ada banyak penyebab perdarahan vagina setelah berhubungan intim. Yuk, kenali penyebab serta bagaimana cara mengatasinya. Vaginal Dryness Sebagian besar dari kondisi vagina kering atau vaginal dryness disebabkan […]

    Perdarahan Setelah Hubungan Intim, Waspadai Gejala Kanker Serviks

    Apakah Sahabat Sehat pernah mengalami perdarahan dari vagina setelah berhubungan intim? Perdarahan seperti ini dapat menjadi sebuah kekhawatiran bagi wanita. Sebelum berpikir terlalu jauh, Sahabat perlu pahami bahwa ada banyak penyebab perdarahan vagina setelah berhubungan intim.

    Perdarahan Setelah Hubungan Intim, Waspadai Gejala Kanker Serviks

    Perdarahan Setelah Hubungan Intim, Waspadai Gejala Kanker Serviks

    Yuk, kenali penyebab serta bagaimana cara mengatasinya.

    Vaginal Dryness

    Sebagian besar dari kondisi vagina kering atau vaginal dryness disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon.

    Gangguan kadar estrogen akan menyebabkan pengeluaran cairan/ lendir vagina berkurang sehingga menyebabkan vagina kering. Sehingga, gesekan berulang saat berhubungan intim akan menyebabkan iritasi pada vagina yang menyebabkan rasa nyeri serta timbulnya perdarahan.

    Dapatkan: Layanan Vaksinasi HPV dari ProSehat

    Ketidakseimbangan hormon dapat terjadi pada:

    • Ibu menyusui
    • Wanita setelah melahirkan
    • Mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung hormon, obat flu dan anti alergi
    • Sedang menjalani terapi dan pengobatan kanker 
    • Sindrom Sjögren
    • Menopause.

    Peradangan Serviks

    Peradangan serviks (leher rahim), atau servisitis, biasanya terjadi tanpa adanya gejala. Sering kali, kondisi ini didahului oleh infeksi menular seksual yang tidak diobati dengan baik, contohnya klamidia, gonorrhea, sifilis, infeksi bakteri dan parasit.

    Polip Serviks

    Polip di area serviks biasanya berukuran 1-2 sentimeter dan timbul pada perbatasan antara leher rahim dan vagina. Gesekan dengan polip ini yang biasanya akan menyebabkan perdarahan saat berhubungan intim.

    Perdarahan Normal Uterus

    Kondisi pre-menstruasi juga dapat menyebabkan terjadinya perdarahan dari vagina. Sebelum khawatir, pastikan apakah perdarahan setelah berhubungan intim disebabkan karena memasuki jadwal menstruasi atau tidak.

    Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Vaksin HPV Sebelum Menikah Itu Penting

    Kanker Serviks

    Kemungkinan paling buruk dari terjadinya perdarahan setelah berhubungan intim adalah kanker serviks. Sebanyak 11% wanita yang didiagnosis kanker serviks memiliki gejala perdarahan setelah berhubungan intim. Hal ini merupakan salah satu gejala tersering yang dialami oleh seorang wanita dengan kanker serviks.

    Kanker serviks adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada area leher rahim yang disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Tipe HPV yang paling sering menyebabkan kanker serviks adalah HPV tipe 16 dan 18. Virus ini sangat mudah berpindah dan menyebar. Di Indonesia, kanker serviks adalah penyebab kematian terbanyak kedua yang disebabkan oleh kanker setelah kanker payudara.

    Seseorang akan berpotensi terkena kanker serviks apabila memiliki:

    • Riwayat berhubungan seksual sejak usia dini
    • Partner seksual lebih dari satu
    • Riwayat infeksi menular seksual (gonorrhea, klamidia, sifilis)
    • Sistem imun yang lemah (misalnya HIV/AIDS)
    • Riwayat melahirkan lebih dari 5 anak atau melahirkan dibawah usia 17 tahun
    • Riwayat mengonsumsi pil KB selama lebih dari 5 tahun.

    Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Sayangnya, gejala kanker serviks biasanya muncul saat sudah memasuki stadium lanjut dimana sel kanker sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Sehingga, hal terbaik dan termudah yang dapat Sahabat Sehat lakukan adalah dengan rutin deteksi dini dan melakukan vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks.

    Beberapa gejala kanker serviks yang biasa dikeluhkan berupa:

    1. Perdarahan vagina diluar masa menstruasi, biasanya setelah berhubungan intim atau setelah menopause
    2. Menstruasi lebih banyak dan lebih lama dari biasanya
    3. Keluarnya cairan dari vagina berbau tidak sedap (berbau busuk) yang biasanya bercampur darah
    4. Rasa nyeri setiap kali berhubungan intim
    5. Nyeri panggul
    6. Urin bercampur darah
    7. Sulit buang air kecil
    8. Penurunan berat badan secara drastis
    9. Perut membengkak
    10. Nafsu makan berkurang.

    Baca Juga: Apa Bedanya HPV Bivalen dan Tetravalen?

    Sahabat Sehat, jika Anda memiliki gejala seperti di atas atau khawatir akan kanker serviks, segera berkonsultasi dengan dokter. Lakukan juga vaksinasi HPV agar Anda terlindungi dari kanker serviks dan berbagai penyakit lainnya yang disebabkan oleh virus yang sama.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Dapatkan harga terbaik vaksinasi HPV di ProSehat.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Marhol A. Vaginal Bleeding During and After Sex: Causes and Risk Factors. Flo.health – #1 mobile product for women’s health. 2021.
    2. Do You Bleed After Sex? When to See a Doctor. Cleveland Clinic. 2021.
    3. Rainford, MD M, Cornforth T. Why Am I Bleeding During or After Sex?. Verywell Health. 2021.
    4. Machalinski A, Pathak, MD N. What Causes Bleeding After Sex?. WebMD. 2020.
    5. Kay, M.D C, York Morri S. Bleeding After Sex: Causes, Risk Factors, and More. Healthline. 2020.
    6. Cervical cancer | Causes, Symptoms & Treatments. Cancer.org.au. 2021.
    7. Ciri-ciri, Penyebab, dan Pencegahan Kanker Serviks. Dikes.badungkab.go.id. 2016.
    Read More
  • Imunisasi BCG atau Bacillus Calmette-Guerin adalah salah satu jenis imunisasi wajib bagi bayi yang diberikan saat ia baru lahir atau sebelum berusia 1 bulan. Imunisasi ini diberikan agar bayi memiliki kekebalan tubuh terhadap kuman penyebab tuberkulosis yang masih banyak ditemui di Indonesia. Seperti bayi pada umumnya, si Kecil pasti menangis dan rewel selama beberapa saat […]

    Begini Tips Mengatasi Si Kecil Rewel Setelah Imunisasi BCG

    Imunisasi BCG atau Bacillus Calmette-Guerin adalah salah satu jenis imunisasi wajib bagi bayi yang diberikan saat ia baru lahir atau sebelum berusia 1 bulan. Imunisasi ini diberikan agar bayi memiliki kekebalan tubuh terhadap kuman penyebab tuberkulosis yang masih banyak ditemui di Indonesia.

    Begini Tips Mengatasi Si Kecil Rewel Setelah Imunisasi BCG

    Begini Tips Mengatasi Anak Rewel Setelah Imunisasi BCG

    Seperti bayi pada umumnya, si Kecil pasti menangis dan rewel selama beberapa saat setelah disuntik. Tapi Moms tak perlu khawatir, karena rewel dan menangis pasca imunisasi sangat wajar sebab ia merasa sakit dan tidak nyaman.

    Berbeda dengan imunisasi lainnya yang menyuntikkan vaksin ke dalam otot, penyuntikan imunisasi BCG disuntikkan ke bagian bawah kulit sehingga terasa sedikit lebih sakit dari biasanya. Ini karena bagian bawah kulit memiliki banyak saraf. Setelah penyuntikan, akan tampak pembengkakan kecil di lokasi bekas penyuntikannya.

    Dapatkan: Layanan Imunisasi BCG dari ProSehat

    Lalu bagaimana cara mengatasi anak rewel setelah imunisasi? Simak ulasannya di bawah ini.

    Mengapa Si Kecil Rewel Setelah Imunisasi BCG?

    Umumnya, bayi yang baru diberi imunisasi BCG akan menjadi lebih rewel dari biasanya. Hal ini bisa saja terjadi sebagai efek samping dari suntikan. Nah, sebelum memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya, Mama juga perlu tahu apa saja yang menjadi penyebab anak menjadi rewel atau sering menangis. Berikut beberapa kondisi umum yang menjadi penyebabnya, diantaranya:

    • Demam

    Salah satu efek samping yang paling umum setelah imunisasi adalah demam. Peningkatan suhu tubuh ini diakibatkan oleh masuknya vaksin ke dalam tubuh anak. Biasanya ia akan demam beberapa jam setelah diimunisasi. Demam bisa menjadi penanda bahwa tubuhnya beraksi terhadap vaksin dan sedang membentuk kekebalan tubuh.

    • Panik

    Panik merupakan faktor psikologi penyebab ketidaknyamanan. Selain panik karena rasa sakit saat disuntik, kepanikan dan kekhawatiran orang tua juga bisa menjadi penambah kepanikan anak. Sebab ikatan ibu dan anak sangat kuat.

    • Bekas luka suntikan

    Selain rasa sakit, bekas suntikan imunisasi juga dapat menimbulkan sensasi pegal dan nyeri di lokasi penyuntikan, terutama pada imunisasi BCG. Meski demikian, luka dan rasa nyeri pasca imunisasi BCG ini dapat hilang dengan sendirinya dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari. 

    Baca Juga: Suntik BCG Berbekas di Kulit Bayi, Amankah?

    Tips Mengatasi Anak Rewel Setelah Imunisasi

    Meski dapat pulih dengan sendirinya, namun anak yang rewel dan menangis dapat membuat Moms khawatir dan tidak tega melihatnya. Untuk mengatasinya, Moms dapat melakukan beberapa tips dibawah ini

    • Pantau kondisi anak

    Ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer. Apabila suhu tubuhnya lebih dari 37,5 derajat Celcius, berikan kompres air hangat di dahi dan pada bekas luka suntikannya. Pastikan pula si Kecil memakai pakaian yang nyaman, longar, dan mudah menyerap keringat. Sehingga ia dapat beristirahat dengan lebih nyaman dan tenang. Berikan obat penurun demam bila suhu tubuh mencapai 38 derajat Celcius atau lebih.

    • Ciptakan suasana yang tenang

    Suasana yang tenang dapat memberikan ketenangan pula bagi anak. Moms bisa menggendong si Kecil untuk bantu menenangkannya, mengatur suhu ruangan agar sejuk, pakaikan pakaian yang nyaman untuknya, dan temani ia hingga tertidur. Tidak hanya Moms akan membuatnya nyaman dan tenang, anak pun akan merasa aman sehingga bonding ibu dan anak juga tercipta. 

    • Beri minum yang cukup

    Beri susu (ASI atau formula) yang cukup. Usahakan Moms menyusui si Kecil sebelum dan setelah melakukan imunisasi. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips mengatasi anak rewel setelah  imunisasi BCG. Bagi Sahabat Sehat yang membutuhkan produk imunisasi, pemeriksaan Covid-19, maupun produk multivitamin, segera manfaatkan layanan vaksinasi Prosehat. Layanan Prosehat mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. The Chart. The ‘5 S’s’: Easing baby pain after vaccine shots. USA : The Chart.
    2. KidsHealth. How Can I Comfort My Baby During Shots? (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    3. Healthline. Dissociative Identity Disorder: Symptoms and Treatment.
    Read More
  • Kembali pulih seperti sedia kala adalah harapan setiap orang yang sakit. Pada penyakit-penyakit tertentu, seperti stroke, pemulihan memerlukan terapi khusus untuk mengembalikan fungsi tubuh. Bagi sebagian orang yang mengalami stroke dapat lebih cepat kembali pulih seperti sedia kala. Namun, pada beberapa kasus tertentu, gejala stroke justru bertahan lebih lama. Oleh karena itu, menjalani terapi pasca […]

    Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    Kembali pulih seperti sedia kala adalah harapan setiap orang yang sakit. Pada penyakit-penyakit tertentu, seperti stroke, pemulihan memerlukan terapi khusus untuk mengembalikan fungsi tubuh. Bagi sebagian orang yang mengalami stroke dapat lebih cepat kembali pulih seperti sedia kala. Namun, pada beberapa kasus tertentu, gejala stroke justru bertahan lebih lama. Oleh karena itu, menjalani terapi pasca stroke sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita stroke.

    Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    Inilah Berbagai Jenis Terapi Pasca Stroke Agar Cepat Pulih

    Terapi pasca stroke merupakan salah satu dari berbagai perawatan yang harus dilakukan oleh penderita stroke agar cepat pulih. Latihan yang dilakukan selama terapi memiliki peran penting dalam memulihkan dan menjaga kondisi kesehatan fisik serta mental penderitanya. Selain itu, terapi pasca stroke juga bertujuan untuk mengembalikan kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari, serta memelihara fungsi otak yang masih dapat dipertahankan.

    Seperti apa terapinya? Mari simak penjelasannya.

    Pentingnya Menjalani Terapi Pasca Stroke

    Stroke terjadi saat pembuluh darah di otak pecah atau aliran darah yang menuju ke otak terhambat akibat adanya sumbatan. Setelah terkena stroke, penderita umumnya akan mengalami penurunan fungsi otak yang ditandai dengan gangguan mengingat, bergerak, dan berbicara. Hal ini tentunya akan menghambat penderita dalam menjalani rutinitasnya.

    Penderita stroke biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur untuk jangka waktu yang lama pasca perawatan di rumah sakit. Hal ini menyebabkan munculnya gangguan kesehatan baru, seperti infeksi saluran kencing, cedera karena jatuh, pembentukan gumpalan darah, hingga pneumonia.  Menjalani terapi pasca stroke dapat mencegah dan memperbaiki kondisi tersebut.

    Tingkat keparahan stroke berbeda-beda pada setiap orang. Oleh sebab itu, kemungkinan masing-masing penderita stroke untuk kembali pulih seperti semula juga dapat berbeda-beda. Namun, dengan menjalani terapi, kondisi penderita stroke bisa jauh lebih baik dibanding penderita yang tidak menjalani terapi pasca stroke sama sekali. 

    Dapatkan: Layanan Fisioterapi ke Rumah dari ProSehat

    Jenis terapi pasca stroke yang umum dilakukan

    Terapi pasca stroke dapat dilakukan dalam 24-48 jam setelah kondisi penderita stabil dan akan didampingi oleh terapis khusus. Terapi dapat meliputi terapi fisik, wicara, okupasi, dan sebagainya. Dokter akan merekomendasikan terapi yang diperlukan dan aman bagi penderita. Berikut beberapa jenis terapi pasca stroke yang dapat dilakukan oleh penderita:

    • Terapi meningkatkan kemampuan fisik

    Terapi ini dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan fisik yang melemah setelah mengalami serangan stroke. Untuk melatih kemampuan fisik atau kemampuan motorik pasien, terapis akan fokus pada kekuatan otot dan koordinasi tubuh yang tentunya telah disesuaikan dengan kondisi pasien.

    Misalnya, apabila penderita stroke mengalami kesulitan mengunyah makanan, maka latihan fisik akan fokus untuk melatih kemampuan mengunyah makanan. Namun, jika stroke menyebabkan sebagian tubuh mengalami kelumpuhan, latihan fisik akan fokus untuk meningkatkan kembali kemampuan dan variasi gerakan pada bagian tersebut. 

    Pada kondisi tertentu, pasien mungkin akan diminta untuk menggunakan alat bantu terlebih dahulu, seperti tongkat, kursi roda, atau walker. Selain itu, ankle brace atau penjepit pergelangan kaki juga dapat digunakan untuk membantu pergelangan kaki agar tetap stabil dan kuat untuk menopang massa tubuh saat sedang latihan berjalan kaki. 

    • Terapi fisik dengan bantuan teknologi

    Saat ini terapi fisik juga dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Terapi jenis ini memiliki banyak variasi, salah satunya dilakukan dengan menstimulasi otot yang lemah menggunakan kekuatan listrik. 

    Terapi ini bertujuan untuk membuat otot tersebut berkontraksi sehingga dapat membantu mengembalikan kekuatan otot. Selain itu, ada pula terapi yang menggunakan perangkat robotik yang dapat membantu bagian tubuh yang lumpuh untuk melakukan gerakan repetitif atau berulang. 

    • Terapi kognitif dan emosi

    Stroke tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, namun juga dapat memengaruhi seseorang dalam berbicara, memahami ucapan orang lain, dan sebagainya. Itulah mengapa stroke bisa melemahkan mental penderitanya.

    Hal ini dapat dipicu oleh rasa sedih, putus asa, dan beberapa faktor lainnya karena perubahan yang terjadi pada tubuhnya. oleh karena itu, selain menjalani terapi fisik, penderita stroke juga membutuhkan terapi kognitif dan emosi untuk membantu meningkatkan kualitas hidupnya. 

    Terapi ini bisa membantu meningkatkan kembali kemampuan kognitifnya, seperti mengingat, memproses informasi, mengambil keputusan serta kemampuan bersosialisasi yang menurun akibat stroke. Selain itu, menjalani terapi bicara juga dapat mengembalikan kemampuan bicara pasien yang melemah, serta meningkatkan kemampuannya dalam mendengar dan menulis saat menjalani terapi ini. 

    Tergantung keparahan pasiennya, dokter bisa juga merekomendasikan penggunaan antidepresan atau obat-obatan sejenis lainnya bila dinilai diperlukan. 

    • Terapi alternatif

    Pada kasus tertentu, penderita stroke mungkin merasa lebih nyaman untuk menjalani terapi alternatif, seperti akupuntur, pijat, mengonsumsi obat-obatan herbal, ataupun terapi oksigen. Meski demikian, terapi ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

    Untuk itu, sebelum melakukan terapi alternatif, pastikan bahwa dokter Anda mengetahui rencana terapi yang akan Anda lakukan. Selain itu, alangkah baiknya jika mengutamakan terapi yang direkomendasikan oleh dokter Anda. 

    Baca Juga: 4 Jenis Vitamin yang Bermanfaat untuk Kesehatan Jantung

    Faktor memengaruhi keberhasilan terapi pasca stroke

    Terapi pasca stroke akan memberikan dampak baik bagi pasien bila dilakukan dengan benar dan konsisten, serta dimulai sedini mungkin dengan arahan dari dokter. Selain tiga hal tersebut, hal lain yang memengaruhi keberhasilan terapi pasca stroke antara lain:

    • tingkat keparahan dari kerusakan pada otak
    • usia
    • intensitas dan frekuensi dari terapi yang dijalani
    • kondisi kesehatan lainnya
    • kondisi rumah dan lingkungan tempat tinggal pasien, dan
    • keluarga atau pendamping pasien yang memberikan dukungan serta kerjasama dalam membantu pasien menjalani terapi.

    Baca Juga:  Kolesterol Penyebab Stroke Dan Serangan Jantung

    Sahabat Sehat, dari penjelasan di atas bisa dipahami bahwa peran terapi pasca stroke sangat penting bagi penderita. Melalui terapi, diharapkan kualitas hidup bisa menjadi lebih baik. Tidak lupa, dukungan dari orang-orang terdekat juga memegang peranan penting dalam pemulihan. Pilihlah terapis profesional dan rutin berkonsultasi dengan dokter untuk hasil yang optimal.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. Cleveland Clinic. 2022. Stroke Rehabilitation & Stroke Recovery.
    2. Uofmhealth.org. 2022. Emergency Stroke Therapy | Michigan Medicine
    3. Cdc.gov. 2022. Recovering From Stroke | cdc.gov.
    4. Ninds.nih.gov. 2022. Post-Stroke Rehabilitation Fact Sheet | National Institute of Neurological Disorders and Stroke.
    5. Healthline. 2022. Stroke Recovery: Rehabilitation, Recovery, and Complications.
    6. WebMD. 2022. Stroke: Overview & Symptoms.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com