Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 171–180 of 1354 results

  • Sebelum adanya kejadian yang menimpa penyanyi Justin Bieber pada pertengahan Juni, Sahabat Sehat mungkin hampir tidak pernah mendengar penyakit bernama Ramsay Hunt Syndrome. Penyakit yang termasuk langka ini menyerang saraf wajah yang terletak dekat telinga. Hanya sekitar 5 dari 100.000 orang yang terinfeksi virus varisela-zoster yang mengalami Ramsay Hunt Syndrome. Gangguan ini dinamakan setelah nama […]

    Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Sebelum adanya kejadian yang menimpa penyanyi Justin Bieber pada pertengahan Juni, Sahabat Sehat mungkin hampir tidak pernah mendengar penyakit bernama Ramsay Hunt Syndrome.

    Penyakit yang termasuk langka ini menyerang saraf wajah yang terletak dekat telinga. Hanya sekitar 5 dari 100.000 orang yang terinfeksi virus varisela-zoster yang mengalami Ramsay Hunt Syndrome. Gangguan ini dinamakan setelah nama penemunya, yaitu James Ramsay Hunt, pada tahun 1907. Jadi, sebenarnya kondisi ini sudah lama ada di dunia.

    Ramsay Hunt Syndrome Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Penyebab dari penyakit ini sama dengan penyebab cacar air dan juga herpes zoster, yaitu virus varisela-zoster. Virus ini bisa ditularkan melalui cairan tubuh (liur) yang tersentuh atau melalui droplet saat orang yang sakit berbicara, bersin, atau batuk.

    Setelah seseorang terinfeksi cacar air pertama kali, virus ini tidak menghilang dari tubuh, melainkan menetap atau “tidur” di serabut saraf. Jika suatu hari teraktivasi dan “bangun” serta menyerang saraf wajah, maka akan timbul Ramsay Hunt Syndrome.

    Dapatkan: Layanan Vaksinasi Varicella (Cacar Air) dari ProSehat

    Membedakan Ramsay Hunt Syndrome dari Bell’s Palsy

    Orang yang menderita Ramsay Hunt Syndrome akan mengalami kelemahan atau kelumpuhan wajah pada sisi dimana virus varisela-zoster menyerang. Gejala utama lainnya dari kondisi ini adalah munculnya ruam merah di luar, dalam, atau sekitar telinga yang menyebabkan rasa nyeri pada telinga. Kelumpuhan wajah akan berada pada sisi wajah dimana ruam merah muncul.

    Selain itu, gejala lainnya termasuk gangguan pendengaran seperti telinga berdenging, vertigo, hilang indra pengecap, nyeri telinga, mata kering, dan lain-lain.

    Lalu bagaimana membedakannya dengan Bell’s Palsy? Bell’s Palsy memiliki penyebab yang berbeda, bukan virus varisela-zoster. Gejala pada Bell’s Palsy sama-sama kelumpuhan wajah, tapi tidak diikuti dengan ruam kulit seperti Ramsay Hunt Syndrome dan dapat membaik dalam waktu yang relatif lebih cepat. Orang yang terkena Bell’s Palsy juga bisa merasakan adanya demam ringan dan leher kaku.

    Penyebab kelumpuhan wajah pada Bell’s Palsy adalah penurunan suplai darah (iskemia) dan penekanan (kompresi) pada saraf wajah. Namun penyebab pastinya masih belum bisa disimpulkan hingga saat ini.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Penanganan Ramsay Hunt Syndrome

    Virus varisela-zoster umumnya bersifat self-limiting atau sembuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, tujuan utama pengobatan adalah untuk mengurangi kemungkinan komplikasi lanjut seperti Ramsay Hunt Syndrome (kelumpuhan wajah) dan neuralgia post herpetik (nyeri saraf pasca herpes). Beberapa jenis obat yang biasa digunakan adalah antivirus dan steroid.

    Penanganan gejala nyeri dan mata kering akibat kelopak mata tidak bisa menutup penuh juga sangat penting untuk dilakukan. Orang dengan Ramsay Hunt Syndrome boleh diberikan pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen jika tidak ada kontraindikasi, serta tetes mata khusus yang diresepkan oleh dokter agar mata tidak kering yang bisa menyebabkan kerusakan kornea mata.

    Selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumi obat-obatan.

    Baca Juga: Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Mencegah Virus Varisela-Zoster

    Kabar baiknya, virus varisela-zoster ada vaksinnya. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap jika terpapar virus tersebut. Vaksin ini boleh diberikan kepada orang yang belum pernah dan sudah pernah cacar air, termasuk kelompok lanjut usia.

    Justru, pada usia dewasa, mulai usia 50 tahun ke atas sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksin ini mengingat kekebalan tubuhnya sudah menurun sehingga lebih rentan sakit. Vaksin ini hanya memerlukan dua dosis saja untuk mendapatkan efek perlindungan yang lebih efektif.

    Selain vaksinasi, langkah pencegahan lainnya termasuk membiasakan mencuci tangan dengan benar sebelum menyentuh wajah, menggunakan masker jika sakit, dan menghindari orang yang sedang sakit cacar air atau cacar ular.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit Ramsay Hunt Syndrome yang ternyata termasuk dari komplikasi akibat virus varisela-zoster. Walau kondisi ini langka, kita tetap harus waspada dan mengambil langkah pencegahan karena virus penyebabnya umum ditemukan di banyak tempat.

    Bagi Sahabat Sehat yang belum divaksin varisela-zoster, maka segeralah menjadwalkan vaksinasi Anda bersama Prosehat. Layanan vaksinasi di Prosehat bisa dilakukan di Klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat dan Grand Wisata Bekasi, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda. Layanan ini adalah salah satu layanan unggulan dari Prosehat, jadi Sahabat Sehat tidak perlu ragu akan keamanannya.

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak-anak

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Crouch AE, et al. Ramsay Hunt Syndrome [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022.
    2. Kim D. Ramsay Hunt Syndrome [Internet]. NORD. 2011.
    Read More
  • Penyanyi tersohor asal Kanada, Justin Bieber, merilis video yang ia rekam sendiri dan memberitakan bahwa dirinya sedang menderita penyakit langka, yaitu Ramsay Hunt Syndrome. Ia menjelaskan bahwa sebagian wajahnya mengalami paralisis atau kelumpuhan sebagaimana ia tunjukkan dalam videonya saat mengedipkan mata, menggerakkan cuping hidung, dan tersenyum. Apa sebenarnya Ramsay Hunt Syndrome? Apakah sama dengan Bell’s […]

    Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Penyanyi tersohor asal Kanada, Justin Bieber, merilis video yang ia rekam sendiri dan memberitakan bahwa dirinya sedang menderita penyakit langka, yaitu Ramsay Hunt Syndrome. Ia menjelaskan bahwa sebagian wajahnya mengalami paralisis atau kelumpuhan sebagaimana ia tunjukkan dalam videonya saat mengedipkan mata, menggerakkan cuping hidung, dan tersenyum.

    Apa sebenarnya Ramsay Hunt Syndrome? Apakah sama dengan Bell’s Palsy? Simak informasi berikut ini untuk memahami penyakit ini.

    Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Virus Penyebab Ramsay Hunt Syndrome

    Ramsay Hunt Syndrome, disebut juga sebagai herpes zoster otikus, adalah komplikasi dari infeksi virus varisela-zoster yang menyebabkan penyakit cacar air dan cacar ular. Setelah cacar air sembuh, virus menetap di saraf tubuh dan bertahun-tahun kemudian bisa aktif kembali. Seringkali, pada saat virus aktif kembali, ia muncul sebagai cacar ular atau herpes zoster.

    Pada sebagian kecil orang, virus ini dapat menyebabkan komplikasi langka, yaitu Ramsay Hunt Syndrome. Penyakit ini disebut langka karena hanya sekitar 5 dari setiap 100.000 orang yang terinfeksi mengalami ini.

    Dapatkan: Vaksinasi Varicella (Cacar Air) dari ProSehat

    Gejala Ramsay Hunt Syndrome Mirip Bell’s Palsy

    Selain terasa nyeri, Ramsay Hunt Syndrom bisa menyebabkan kelumpuhan wajah pada sisa yang diserang. Kelumpuhan wajah ini sekilas mirip dengan penyakit saraf lainnya, yaitu Bell’s Palsy.

    Ada dua gejala utama Ramsay Hunt Syndrome, yakni ruam merah yang menyakitkan dengan lepuh berisi cairan di luar, dalam, dan sekitar telinga, serta kelemahan atau kelumpuhan wajah pada sisi yang sama dengan telinga yang terkena.

    Gejala lainnya termasuk:

    • Nyeri telinga
    • Hilang pendengaran
    • Telinga berdenging
    • Sulit menutup salah satu mata
    • Vertigo
    • Perubahan indra pengecap
    • Mulut dan mata kering

    Pada Bell’s Palsy, tidak ada ruam merah dan menyebabkan rasa nyeri yang lebih ringan, walau sama-sama menyebabkan kelumpuhan wajah.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Baca Juga: Mengapa Anak Perlu Imunisasi Rubella?

    Siapa Saja Yang Bisa Menderita Ramsay Hunt Syndrome?

    Ramsay Hunt Syndrome bisa terjadi pada siapa saja yang pernah menderita cacar air. Namun seringnya, penyakit ini menyerang orang lanjut usia, terutama yang berusia 60 tahun ke atas, dan jarang ditemukan pada anak-anak.

    Pada orang-orang imunokompromais atau dengan kekebalan tubuh yang rendah, penyakit ini juga lebih mudah menginfeksi. Kelompok yang termasuk memiliki kekebalan tubuh yang rendah antara lain ibu hamil, bayi dan anak-anak, orang dengan HIV/AIDS, dan sebagainya.

    Sahabat Sehat, itulah sekilas tentang Ramsay Hunt Syndrome yang diderita oleh Justin Bieber. Jika tidak banyak kerusakan pada saraf, maka kondisi ini bisa pulih dalam beberapa minggu. Semoga Justin Bieber cepat pulih dari penyakit ini dan Sahabat Sehat pun terlindungi dari infeksi virus varisela-zoster.

    Jika Sahabat Sehat belum pernah cacar air atau belum divaksinasi cacar air, saatnya Sahabat Sehat mendapatkan vaksin ini. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap menghadapi virus ini jika terpapar.

    Baca Juga: Cacar Air dan Pencegahan yang Bisa Kamu Coba

    Sahabat Sehat bisa mendapatkan layanan vaksinasi varisela-zoster dan vaksin lainnya dari Prosehat. Layanan ini bisa dilakukan di klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat dan Grand Wisata Bekasi, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Sahabat Sehat.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Ramsay Hunt Syndrome.
    Read More
  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini menyampaikan kenaikan kasus Covid-19 di tanah air. Hal ini baru diketahui setelah teridentifikasi satu kasus subvarian Omicron BA.4 dan tiga jenis Omicron lainnya yakni BA.5. Laporan ini diambil berdasarkan data kasus Covid-19 tiga pekan terakhir.  Sebelumnya, Juru bicara Satuan Tugas Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa data grafik kasus […]

    Waspada Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Berikut Fakta-Faktanya

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini menyampaikan kenaikan kasus Covid-19 di tanah air. Hal ini baru diketahui setelah teridentifikasi satu kasus subvarian Omicron BA.4 dan tiga jenis Omicron lainnya yakni BA.5. Laporan ini diambil berdasarkan data kasus Covid-19 tiga pekan terakhir. 

    Sebelumnya, Juru bicara Satuan Tugas Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa data grafik kasus positif mingguan naik 31 persen pada 22 Mei 2022, dari 1.814 kasus menjadi 2.385 kasus. Tak hanya itu, kasus aktif juga meningkat sebesar 10 persen dari 2 Juni yakni 2.105 kasus menjadi 3.433 kasus.

    Waspada Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Berikut Fakta-Faktanya

    Waspada Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Berikut Fakta-Faktanya

    Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, kenaikan kasus Covid-19 ini dipicu oleh ditemukannya subvarian Omicron baru. Selain itu, mobilitas yang sangat tinggi pada perayaan hari besar seperti Lebaran juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. 

    Oleh sebab itu, Budi terus mewanti-wanti karena subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini dapat lolos dari imunitas pasca vaksinasi Covid-19. Berikut beberapa fakta terkait subvarian BA.4 dan BA.5 yang sudah terdeteksi di Indonesia.

    Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia

    Sub varian terbaru dari Omicron ini diyakini lebih efektif dalam menginfeksi orang, baik yang telah divaksin, belum divaksin, maupun yang sudah terinfeksi Covid-19 sebelumnya.

    Dari data Kemenkes RI, Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan DOkter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan, SpP(K) pada Minggu (12/5/2022) kemarin, menyebutkan sudah ada delapan kasus varian BA.4 dan BA. 5 di Indonesia. Delapan kasus ini terdiri dari dua kasus BA.4 (Bali dan DKI Jakarta) dan enam kasus BA.5 (Bali dan DKI Jakarta). 

    Menurut data tersebut, lima kasus merupakan kluster lokal dan tiga lainnya merupakan pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). 

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Gejala yang Sering Dilaporkan

    Kasus yang terdeteksi di Bali dan Jakarta dilaporkan dengan gejala yang berbeda-beda. Menurut dr. Erlina Burhan, gejala yang timbul saat terinfeksi Omnicron BA.4 dan BA.5 mirip dengan Omicron BA.1. 

    Berikut gejala yang paling sering dilaporkan:

    • Batuk
    • Fatigue atau kelelahan

    Gejala lainnya yang turut dilaporkan saat terinfeksi Omicron BA.4 dan BA.5, antara lain:

    • Hidung tersumbat atau rinore
    • Demam
    • Mual atau muntah
    • Sesak nafas
    • Diare
    • Anosmia atau ageusia

    ‘Alumni’ Covid-19 Tetap Berisiko Terinfeksi BA.4 dan BA.5

    Selain sejumlah gejala yang disebutkan diatas, dr Erlina Burhan juga menyebutkan bahwa Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki masa inkubasi yang lebih singkat dibandingkan Omicron BA.2, yakni sekitar 1-3 hari langsung muncul gejala. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir karena masa penyembuhannya juga relatif cepat. 

    Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, menyoroti kemungkinan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini menginfeksi orang-orang yang sudah pernah terkena Covid-19 sebelumnya. Menurutnya, potensi tersebut dipicu oleh mutasi L452 yang juga dimiliki oleh varian Corona yang merebak sebelumnya, yakni Delta. 

    Terlebih, kedua subvarian ini juga diyakini berpotensi menginfeksi orang-orang yang sudah menerima dosis lengkap vaksin Covid-19 sebanyak dua dosis. Ini karena saat  L452 bermutasi, subvariant Omicron BA.4 dan BA.5 akan mudah terikat di reseptor ACE2 yang banyak terdapat di seluruh tubuh dan organ manusia, terutama sel paru. Alhasil. Infeksi ini basa memasuki sel dan mudah menginfeksi, serta memicu munculnya gejala. 

    Baca Juga: Langkah-Langkah Pencegahan Risiko Penularan Covid-19 di Tempat Kerja

    Waspada Gelombang Covid-19 Dua Minggu Kedepan

    Berdasarkan prediksi Dicky, adanya kemampuan yang dimiliki BA.4 dan BA.5 yang sebagaimana sub variant Omicron lainnya dapat menyiasati deteksi antibodi dari infeksi maupun vaksinasi, maka pertumbuhan perkembangan kasus BA.4 dan BA.5 ini berkisar antara 12-13 persen. 

    Menurutnya, sub variant Omicron BA.4 dan BA.5 ini berpotensi menyebabkan gelombang baru COvid-19 di Indonesia dalam beberapa pekan hingga bulan kedepan apabila tidak diantisipasi dengan mitigasi yang memadai. Misalnya pencabutan PPKM, vaksinasi buruk, perilaku masyarakat yang tidak taat menggunakan masker, maka kemungkinan besar dalam dua minggu terjadi peningkatan jumlah kasus infeksi atau gelombang baru. 

    Kemenkes Akan Perketat Pakai Masker Jika Kasus Covid Terus Naik

    Kemenkes menyatakan akan memberlakukan kembali pengetatan aturan dalam pemakaian masker dan protokol kesehatan lainnya apabila kasus Covid-19 di tanah air kembali menunjukan tren kenaikan kasus secara signifikan. Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tetap patuh dalam menjalankan protokol kesehatan agar lonjakan kasus akibat Delta dan Omicron tidak kembali terulang. 

    Selain itu, warga yang belum sama sekali menerima vaksin COvid-19 maupun yang belum menerima vaksin primer lengkap diminta untuk segera mengakses vaksinasi dosis lanjutan atau booster untuk mendapatkan imunitas tambahan.

    Sahabat Sehat, segera lengkapi vaksinasi Covid-19 untuk menurunkan risiko terinfeksi maupun komplikasi. Jaga kesehatan dan terus terapkan protokol kesehatan agar terhindar dari virus Corona.

    Jika Sahabat Sehat mengalami gejala mirip Corona, Anda dapat menggunakan layanan Chat Dokter 24 jam dari Prosehat untuk berkonsultasi. Prosehat juga melayani pemeriksaan laboratorium di rumah dan pengiriman obat-obatan sesuai resep dokter.

    Baca Juga: Walau Mirip, Ini Cara Membedakan Flu Biasa dengan Covid

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Ramadhanty, R. Sudah 8 Kasus BA.4 dan BA.5 di Bali-Jakarta, Ini Rincian dan Gejalanya.
    2. Ramadhanty, R. Subvarian BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di DKI-Bali, Dokter Paru Sebut Lebih Menular.
    3. Media, K. Gejala Covid Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang Terdekteksi di Bali.
    4. Sehat Negeriku. Subvarian Baru Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia, Tingkat Kesakitan Rendah.
    5. Indonesia, C. Kemenkes Bakal Perketat Pakai Masker Apabila Covid RI Terus Naik.
    Read More
  • Demensia atau biasa disebut pikun, seringkali dianggap sebagai hal yang normal. Kondisi ini kerap dialami lanjut usia (lansia) akibat proses penuaan. Proses penuaan mengakibatkan penurunan pada sistem tubuh, termasuk otak. Sekitar 55 juta orang lansia di dunia hidup dengan demensia, sementara itu penambahan kasus demensia pada lansia mencapai 10 juta orang per tahun. Berdasarkan penelitian […]

    Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Demensia atau biasa disebut pikun, seringkali dianggap sebagai hal yang normal. Kondisi ini kerap dialami lanjut usia (lansia) akibat proses penuaan. Proses penuaan mengakibatkan penurunan pada sistem tubuh, termasuk otak.

    Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun

    Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Sekitar 55 juta orang lansia di dunia hidup dengan demensia, sementara itu penambahan kasus demensia pada lansia mencapai 10 juta orang per tahun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 menyebutkan bahwa setiap 3 detik ada 1 orang yang terdiagnosa demensia.

    Di Asia tercatat 22 juta orang lansia menderita demensia, sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat tercatat lebih dari 4 juta orang lansia menderita Alzheimer dan dikhawatirkan akan terus bertambah hingga 4 kali lipat pada tahun 2050. Hal ini berkaitan dengan bertambahnya usia harapan hidup pada usia lanjut.

    Sahabat Sehat, mengapa demensia kerap dialami para kaum lansia? Mari simak penjelasan berikut.

    Demensia Bukan Proses Normal Penuaan

    Demensia merupakan salah satu penyakit akibat kerusakan sel saraf dan hubungan antar sel saraf pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, proses dan cara berpikir. Kondisi seperti ini sebagian dialami oleh beberapa orang usia lanjut, namun bukan merupakan hal normal yang berkaitan dengan proses penuaan.

    Demensia akan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan seperti kemampuan bersosialisasi hingga aktivitas sehari-hari penderitanya (gangguan mood seperti lebih sensitif, depresi dan timbul rasa cemas dan khawatir berlebihan).

    Banyak lansia hidup tanpa gejala demensia pada masa tuanya. Proses penuaan yang biasanya terjadi, misalnya kelemahan otot dan tulang, kekakuan pembuluh darah dan gangguan daya ingat. Secara umum pengetahuan dan pengalaman, ingatan, serta kemampuan bahasa akan menetap meskipun terjadi proses penuaan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Penyebab Demensia

    Berdasarkan perubahan yang terjadi pada sistem saraf, demensia dibagi menjadi:

    • Penyakit Alzheimer

    Penyakit alzheimer merupakan jenis demensia yang sering kali terjadi. Penyebab alzheimer belum diketahui pasti, namun hal ini dapat disebabkan karena faktor genetik dari keluarga, serta kelainan protein dalam otak yang dapat mengganggu sel saraf dapat menyebabkan demensia. 

    • Demensia Vaskuler

    Kondisi ini disebabkan karena gangguan pembuluh darah di otak yang mensuplai darah ke otak. Pembuluh darah yang bermasalah dapat menyebabkan stroke sehingga mengganggu kerja otak. 

    • Demensia Lewy Body

    Adanya kelainan sel pada otak dengan ditemukannya sejumlah protein tertentu yang disebut lewy body sehingga menyebabkan demensia.

    • Kondisi medis lainnya

    Beberapa kondisi tertentu dapat menyebabkan demensia, seperti :

    • Kelainan metabolisme atau endokrin
    • Multiple sclerosis
    • Perdarahan otak
    • Tumor otak
    • Efek samping obat (obat penenang dan Pereda nyeri)
    • Kekurangan vitamin dan mineral tertentu (vitamin B1, B6, B12, E dan zat besi didalam tubuh)
    • Keracunan logam berat
    • Keracunan bahan kimia
    • Keracunan Alkohol.

    Baca Juga: Ketahui Beragam Jenis Suplemen Penunjang Kesehatan Lansia

    Gejala Demensia

    Demensia ditandai dengan adanya perubahan kemampuan kognitif, seperti berikut :

    • Tahap awal, ditandai dengan mudah lupa, lupa waktu, dan tersesat di jalan
    • Tahap menengah, ditandai dengan lupa peristiwa yang baru terjadi, tersesat di rumah sendiri, sulit merawat diri dan berkomunikasi, memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitasnya, bertanya berulang kali dan berjalan tanpa tujuan
    • Tahap lanjut, ditandai dengan tidak mengenali waktu dan tempat, sulit mengenali kerabat, sulit berjalan, dan perubahan perilaku 

    Sementara itu, perubahan psikologis yang dapat dialami penderita demensia meliputi munculnya depresi, cemas, gangguan berperilaku, paranoid, dan halusinasi.

    Baca Juga: Mengapa Lansia Rentan Mengalami Osteoartritis?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai demensia yang kerap dialami lansia. Salah satu cara untuk mencegah demensia. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Geriatri. Waspadai dan Kenali Demensia pada Lansia [Internet]. Indonesia : Geriatri. 2021.
    2. World Health Organization. Dementia [Internet]. USA : World Health Organization. 2021.
    3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes: Lansia yang Sehat, Lansia yang Jauh dari Demensia [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016.
    4. Geriatri. Kenali Risiko dan Gejala Demensia Pada Lansia [Internet]. Indonesia : Geriatri. 2021.
    5. Health in Aging. Dementia [Internet]. USA : Health in Aging. 2021.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. What Is Dementia? [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2019.
    7. Mayo Clinic. Dementia [Internet]. USA : Mayo Clinic. 2021.
    Read More
  • Infeksi toksoplasma atau disebut juga Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toksoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan pada air yang terkontaminasi, kotoran kucing, dan daging yang dimasak kurang matang. Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil sebab  dapat mengganggu tumbuh kembang janinnya seperti kerusakan otak, kehilangan penglihatan, hingga kelahiran prematur. Sahabat Sehat, bagaimana […]

    Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Infeksi toksoplasma atau disebut juga Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toksoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan pada air yang terkontaminasi, kotoran kucing, dan daging yang dimasak kurang matang.

    Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil sebab  dapat mengganggu tumbuh kembang janinnya seperti kerusakan otak, kehilangan penglihatan, hingga kelahiran prematur. Sahabat Sehat, bagaimana mengatasi toksoplasmosis pada ibu hamil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya

    Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Bagaimana Cara Penularan Toksoplasma ?

    Apabila Sahabat Sehat terinfeksi sebelum hamil, makan parasit memerlukan beberapa waktu hingga menimbulkan gejala. Sebagian besar kasus toksoplasma berasal dari makanan yang terkontaminasi misalnya:

    • Daging mentah atau setengah matang (daging masih berwarna merah muda atau mengeluarkan darah).
    • Susu yang tidak dipasteurisasi atau makan produk olahannya.
    • Makan makanan yang terkontaminasi tanah atau kotoran kucing.
    • Menyentuh kotoran kucing yang terkontaminasi (misalnya saat mengganti kotak pasir) dan lalu menyentuh makanan.  

    Membelai atau memelihara kucing umumnya tidak menyebabkan terinfeksi toksoplasma. Penyakit ini juga tidak dapat menular melalui kontak orang ke orang. Namun ibu hamil tetap perlu mewaspadai penyakit ini sebab berisiko menularkan infeksi ke janin melalui plasenta. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Gejala Toksoplasma

    Umumnya, toksoplasma tidak menimbulkan gejala apapun dan banyak penderita tidak menyadari bahwa telah terinfeksi toksoplasma. Berikut adalah beberapa gejala yang dapat Sahabat Sehat alami jika terinfeksi toksoplasma :

    • Demam
    • Nyeri otot
    • Kelelahan
    • Nyeri tenggorokan
    • Pembengkakan kelenjar getah bening

    Untuk memastikan apakah Sahabat Sehat terinfeksi toksoplasma atau tidak, maka dianjurkan berkonsultasi dengan dokter agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti tes darah. 

    Baca Juga: Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Tips Mengurangi Risiko Toksoplasma

    Untuk mengurangi risiko terkena toksoplasma, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa hal berikut ini:

    • Cuci tangan sebelum menyiapkan atau memakan makanan.
    • Cuci tangan, pisau, talenan secara menyeluruh setelah menggunakannya untuk menyiapkan daging mentah. 
    • Cuci atau kupas buah dan sayuran secara menyeluruh untuk menghilangkan sisa-sisa tanah atau kotoran yang menempel.
    • Hindari mengkonsumsi daging mentah atau daging yang diawetkan 
    • Hindari mengkonsumsi susu yang belum dipasteurisasi serta produk olahannya. 
    • Masak daging secara menyeluruh (tidak meninggalkan jejak darah atau masih berwarna merah muda).
    • Kenakan sarung tangan saat berkebun dan cuci tangan setelahnya. 
    • Hindari berkebun di area yang mungkin tercemar oleh kotoran kucing. 
    • Hindari minum air yang tidak di masak sebelumnya. 

    Bagaimana Penanganan Toksoplasma?

    Apabila Sahabat Sehat terinfeksi toksoplasma saat hamil, dokter akan beberapa obat tertentu untuk membasmi parasit Toksoplasma gondii. Selain itu, risiko bayi terinfeksi Toksoplasma lebih kecil apabila ibu hamil telah mendapatkan perawatan yang tepat selama hamil. 

    risiko bayi terinfeksi Toksoplasma lebih kecil apabila ibu hamil telah mendapatkan perawatan yang tepat selama hamil.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai infeksi Toksoplasma saat hamil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UOFM Health Toxoplasmosis During Pregnancy [Internet]. USA : Michigan Medicine.
    2. Up To Date. UpToDate [Internet]. USA : Up To Date.
    3. Tommys. Toxoplasmosis Pregnancy [Internet]. USA : Tommys.
    4. Mayo Clinic. Toxoplasmosis – Diagnosis and treatment [Internet]. USA : Mayo Clinic.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Toxoplasmosis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    Read More
  • Tahun ini, Kementerian Kesehatan secara resmi melakukan penambahan jumlah imunisasi rutin wajib di Indonesia. Jika sebelumnya, imunisasi rutin memiliki 11 vaksin, kini bertambah menjadi 14 vaksin.  Imunisasi merupakan salah satu program pemerintah dalam mempermudah masyarakat untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dengan memberi subsidi vaksin. Artinya, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan vaksin […]

    Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak – Anak

    Tahun ini, Kementerian Kesehatan secara resmi melakukan penambahan jumlah imunisasi rutin wajib di Indonesia. Jika sebelumnya, imunisasi rutin memiliki 11 vaksin, kini bertambah menjadi 14 vaksin. 

    Imunisasi merupakan salah satu program pemerintah dalam mempermudah masyarakat untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dengan memberi subsidi vaksin. Artinya, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan vaksin tersebut, termasuk vaksin Human Papilloma Virus (HPV).

    Mengenal Tiga Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak-anak

    Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak-anak

    11 Jenis Vaksin yang sudah Digunakan dalam Program Imunisasi

    Berikut 11 jenis vaksin yang sudah lebih dulu digunakan dalam program imunisasi, antara lain:

    Imunisasi dasar lengkap untuk bayi usia 0 – 11 bulan.

    • 1 Bulan : BCG Polio 1 untuk mencegah penularan tuberculosis dan polio
    • 2 Bulan : DPT-HB-Hib 1 Polio 2, mencegah polio, difteri, batuk rejan, retanus,  hepatitis B, meningitis, & pneumonia
    • 3 Bulan : DPT-HB-Hib 2 Polio 3
    • 4 Bulan : DPT-HB-Hib 3 Polio 4
    • 9 Bulan : Campak, mencegah campak

    Imunisasi lanjutan bayi usia 18-24 bulan

    • Imunisasi DPT-HB-Hib 1 dosis, untuk mencegah penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia, dan meningitis
    • Imunisasi campak rubella 1 dosis
    • Imunisasi lanjutan pada anak sekolah dasar melalui program tahunan Bulan Imunisasi Nasional
    • Imunisasi campak rubella dan DT pada anak kelas 1
    • Imunisasi tetanus difteri td pada anak kelas 2 dan kelas 5

    Adapun penambahan 3 jenis vaksin baru vaksin yang dimasukkan ke dalam imunisasi rutin

    • Vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV)
    • Vaksin Rotavirus
    • Vaksin Human Papilloma Virus (HPV).

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV)

    Imunisasi PCV adalah cara tepat dalam mencegah penyakit pneumonia karena imunisasi ini dapat melindungi Si Kecil dari bakteri Streptococcus pneumoniae.

    Bakteri pneumokokus dapat menyebabkan beberapa penyakit, seperti radang paru-paru (pneumonia), infeksi darah (bakteremia), dan radang selaput otak (meningitis). Setidaknya pada 2015, ada sekitar 14 persen dari 147 anak balita di Indonesia yang meninggal akibat bakteri pneumokokus. 

    Imunisasi PCV lengkap harus diberikan secara berkala pada bayi di usia 2, 4, 6, dan 12 – 15 bulan. Dengan melakukan imunisasi secara lengkap, diharapkan Si Kecil dapat terhindar dari bahaya penyakit pneumonia ini. 

    Vaksin Rotavirus

    Vaksin rotavirus bekerja untuk melindungi Si Kecil dari diare akibat infeksi rotavirus. Vaksin ini bisa menjadi berbahaya karena berisiko tinggi menyebabkan bayi dan anak mengalami dehidrasi.

    Vaksin rotavirus terbagi menjadi dua jenis, yakni :

    • Vaksin rotavirus monovalen 

    diberikan sebanyak dua kali di usia 6-14 minggu dan dosis kedua dalam 4 minggu setelah dosis pertama. 

    • Vaksin rotavirus pentavalent

    diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan saat bayi berusia 2 bulan atau sekitar 6-10 minggu, sedangkan dosis kedua dan ketiga harus diberikan dengan jarak 4-10 minggu setelah vaksin sebelumnya. Batas maksimal dosis ketiga adalah saat bayi mencapai usia 32 minggu. 

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Vaksin Human Papilloma Virus (HPV)

    Vaksin selanjutnya yang masuk ke dalam daftar imunisasi rutin adalah Vaksin Human Papilloma Virus (HPV). Vaksin HPV adalah jenis vaksin yang berguna untuk melindungi tubuh dari infeksi human papillomavirus (HPV)

    Untuk mendapatkan manfaatnya secara optimal, vaksin HPV disarankan untuk diberikan pada anak-anak yang memasuki masa remaja, baik untuk perempuan maupun laki-laki. 

    Pada anak berusia 9-14 tahun, vaksin HPV diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak pemberian 6-12 bulan antar vaksin.

    Sementara pada usia di atas 15 tahun dan orang dewasa, vaksin HPV perlu diberikan sebanyak 3 kali. Dosis kedua diberikan setelah 1-2 bulan dosis pertama, lalu dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis pertama.

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan imunisasi merupakan cara yang paling tepat dan murah untuk mencegah kematian ibu dan anak. Pasalnya, vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang lebih murah dan lebih efektif daripada intervensi ketika seseorang sudah masuk perawatan di rumah sakit.

    Itulah sebabnya Moms, melengkapi vaksinasi anak sangat direkomendasikan karena sudah terbukti mampu menurunkan risiko penularan suatu penyakit. Tak hanya itu, melakukan vaksinasi juga dapat menurunkan risiko sakit berat dan komplikasi serta bisa lebih hemat (cost effective) dibanding mengeluarkan biaya rawat inap atau pengobatan jika terinfeksi.

    Baca Juga: Cegah Diare Anak Akibat Rotavirus dengan Vaksinasi

    Ayo jadwalkan vaksinasi Anda dan keluarga bersama Prosehat. Layanan ini dapat dilakukan di klinik mitra ProSehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Kemenkes – Sehat Negeriku. Kemenkes Tambah 3 Jenis Vaksin Imunisasi Rutin, Salah Satunya HPV.
    2. IDAI. Sekilas Vaksin Pneumokokus.
    3. WHO. Pneumococcus.
    4. IDAI. Sekilas tentang vaksin HPV.
    5. Kidshealth.org. Your Child’s Immunizations: Human Papillomavirus (HPV) Vaccine (for Parents).
    6. NHS. Rotavirus vaccine overview.
    Read More
  • Beberapa bulan belakangan ini kasus Covid-19 sudah mulai melandai. Pemerintah pun mengumumkan bahwa Indonesia akan memasuki fase transisi dari pandemi menjadi endemi Covid-19 dengan berbagai pertimbangan. Walau demikian, bukan berarti virus corona sudah menghilang ya! Melandainya kasus Covid-19 memberi kesempatan bagi Anda dan keluarga untuk berlibur ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Sama juga […]

    Vaksin Flu: Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Beberapa bulan belakangan ini kasus Covid-19 sudah mulai melandai. Pemerintah pun mengumumkan bahwa Indonesia akan memasuki fase transisi dari pandemi menjadi endemi Covid-19 dengan berbagai pertimbangan. Walau demikian, bukan berarti virus corona sudah menghilang ya!

    Vaksin Flu Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Vaksin Flu: Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Melandainya kasus Covid-19 memberi kesempatan bagi Anda dan keluarga untuk berlibur ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Sama juga halnya bagi pelancong dari luar negeri yang berwisata ke Indonesia.

    Anda tetap perlu waspada saat mengunjungi keramaian. Apalagi kalau si Kecil belum divaksinasi Covid-19, atau jika Anda bepergian dengan orang lanjut usia (lansia), atau bersama orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

    Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan melakukan vaksinasi flu (influenza) sebelum bepergian.

    Mengapa Vaksin Flu Penting?

    Vaksin Flu melindungi diri dari infeksi virus influenza. Selain menyebabkan gejala seperti flu (demam, nyeri otot, pilek, batuk, dll), virus ini dapat menyebabkan sakit berat jika daya tahan tubuh Anda tidak bagus saat terinfeksi.

    Contoh komplikasinya seperti paru-paru basah (pneumonia), infeksi telinga, dan memperburuk kondisi gagal jantung, asma, dan diabetes bila Anda memilikinya.

    Yang lebih mengkhawatirkan, virus ini terus bermutasi layaknya sifat virus pada umumnya. Oleh sebab itu, para ahli menyarankan untuk meng-update vaksin flu setiap satu tahun sekali.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Bagaimana Vaksin Flu Melindungi Terhadap Covid-19?

    Sebuah penelitian terhadap 27.000 partisipan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa angka kematian lebih rendah pada mereka yang terinfeksi Covid-19 dan sudah divaksin influenza. Selain itu juga menunjukkan rendahnya kebutuhan perawatan intensif dan penggunaan bantuan alat nafas pada pasien Covid-19 yang telah divaksinasi influenza.

    Maka, vaksin flu adalah perlindungan ekstra yang bisa Anda berikan untuk diri sendiri, anak, dan keluarga terhadap risiko penularan berbagai penyakit menular.

    Baca Juga: Vaksin Influenza Trivalen atau Quadrivalen? Kenali Perbedaannya!

    Pelindung Bagi Balita

    Sekitar satu setengah tahun yang lalu vaksin Covid-19 berhasil diciptakan dan diedarkan untuk digunakan oleh seluruh masyarakat berusia 6 tahun ke atas secara bertahap.

    Tetapi, hingga kini belum ada lampu hijau untuk penggunaan vaksin Covid-19 pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Sedangkan, virus ini ada dimana-mana dan anak-anak sudah memulai interaksi dengan lingkungan seperti sedia kala.

    American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar semua anak sehat berusia 6 bulan ke atas divaksinasi influenza sebagai perlindungan terbaik terhadap flu, terutama dengan COVID-19, virus dan penyakit pernapasan lainnya yang beredar.

    Dosis Vaksin Flu

    Pada anak berusia kurang dari 8 tahun, pemberian vaksin influenza pertama kali diberikan sebanyak 2 dosis dengan jarak minimal 4-6 minggu.

    Sementara jika Si Kecil berusia diatas 8 tahun, maka dosis pertama cukup diberikan 1 dosis saja seperti dewasa, termasuk ibu hamil.

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Influenza untuk Anak dan Efek Sampingnya

    Nah Sahabat Sehat, itulah pentingnya vaksin flu bagi anak dan dewasa. Tidak hanya melindungi terhadap flu, tapi juga berbagai macam penyakit menular lainnya.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica C
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi 

    1. CDC. Influenza Prevention: Information for Travelers.
    2. CDC. Before You Travel.
    3. Conlon A, et al. Impact of the influenza vaccine on COVID-19 infection rates and severity.
    4. The Importance of Flu Vaccines as the COVID Pandemic Continues.
    Read More
  • Membicarakan kebiasaan BAB mungkin akan terasa memalukan, padahal frekuensi BAB dan konsistensi feses dapat menjadi petunjuk mengenai kondisi tubuh kita. Pasalnya, kebiasaan buang air besar (BAB) menunjukan banyak hal terkait kesehatan dan seberapa baik fungsi tubuh.  Setiap orang memiliki intensitas BAB yang berbeda-beda. Meski demikian, sudah seharusnya BAB menjadi kebiasaan rutin setiap harinya. Namun jika […]

    Mengenal Berbagai Penyebab Sering Buang Air Besar

    Membicarakan kebiasaan BAB mungkin akan terasa memalukan, padahal frekuensi BAB dan konsistensi feses dapat menjadi petunjuk mengenai kondisi tubuh kita. Pasalnya, kebiasaan buang air besar (BAB) menunjukan banyak hal terkait kesehatan dan seberapa baik fungsi tubuh. 

    Mengenal Berbagai Penyebab Sering Buang Air Besar

    Mengenal Berbagai Penyebab Sering Buang Air Besar

    Setiap orang memiliki intensitas BAB yang berbeda-beda. Meski demikian, sudah seharusnya BAB menjadi kebiasaan rutin setiap harinya. Namun jika buang air besar ini terjadi terlalu sering bahkan dialami setiap setelah makan, maka kondisi ini perlu Sahabat Sehat waspadai. Intensitas BAB yang terlalu sering juga bisa menjadi tanda adanya ketidakberesan pada sistem pencernaan. 

    Apakah Sering BAB Setelah Makan itu Wajar?

    Ketika Sahabat Sehat makan, lambung dan usus akan merenggang. Setelah merasa cukup kenyang, saraf pada lambung akan mengirim sinyal ke usus halus untuk mempersiapkan disi mencerna makanan dari lambung. Sinyal inilah yang kemudian memandu kontraksi pada otot-otos usus untuk bergerak dan mencerna makanan. Pergerakan pada usus halus dan usus besar ini yang akhirnya akan memicu rasa ingin buang air besar. Ini artinya, BAB setelah makan seperti ini merupakan bagian dari siklus pencernaan yang cukup normal terjadi. 

    Biasanya, mereka yang mengalami kondisi ini akan lebih sering menahannya daripada ke kamar mandi. Kebiasaan menahan buang air besar inilah yang sebenarnya tidak baik bagi kesehatan, karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi lain pada pencernaan. Namun, apabila keinginan untuk BAB ini selalu muncul setelah makan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk memastikan kondisi apa yang sedang Anda alami. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Penyebab Sering Buang Air Besar Setelah Makan

    Apabila rasa ingin buang air besar setelah makan tidak selalu muncul, atau hanya sesekali saja, maka kondisi tersebut masih tergolong normal. Akan tetapi, apabila keinginan BAB sering terjadi maka dapat disebabkan oleh beberapa faktor misalnya :

    • Iritasi Usus

    Usus umumnya bekerja sangat aktif saat terjadi peradangan atau iritasi di lapisan dalam usus. Kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan usus halus dan usus besar mencerna makanan dalam waktu singkat. Makanan yang telah dicerna oleh lambung akan bergerak dengan cepat di dalam rongga usus halus maupun besar. Gangguan pada usus seperti inilah yang kemudian memicu seseorang untuk buang air besar setelah makan. 

    • Radang Usus / Inflammatory Bowel Disease (IBD)

    Penyakit radang usus atau disebut juga IBD terbagi menjadi dua jenis, yakni Penyakit Crohn dan Kolitis Ulserativa. Kedua penyakit ini mengacu pada peradangan usus. IBD akan menyebabkan seseorang sering buang air besar, sakit lambung, sakit perut setelah makan, hingga adanya darah pada feses. 

    Kondisi Kolitis ulserativa biasanya hanya mempengaruhi usus besar, sementara pada kondisi Penyakit Crohn mempengaruhi saluran pencernaan secara keseluruhan. Penyakit radang usus umumnya akan membuat penderita kesulitan untuk menahan rasa ingin buang air besar, sehingga harus segera ke kamar mandi bahkan setelah makan sekalipun. 

    • Intoleransi Laktosa

    Seseorang yang menderita intoleransi laktosa, tidak mampu mencerna gula jenis laktosa yang biasanya terkandung dalam produk susu dan produk olahan susu. Apabila penderita intoleransi laktosa mengkonsumsi susu maupun produk olahan susu, maka saluran cerna tidak dapat menyerap zat laktosa dengan baik sehingga mengakibatkan diare.

    • Penyakit Celiac

    Penyakit Celiac adalah suatu kondisi ketika sistem imun seseorang bereaksi ketika mengkonsumsi gluten, yang banyak ditemukan dalam makanan seperti biji-bijian, seperti gandum, gandum hitam, dan jelai. Penderita Celiac umumnya mengalami diare setelah mengkonsumsi gluten.

    • Kanker Usus Besar

    Kanker usus besar adalah salah satu penyebab seringnya buang air besar setelah makan. Kondisi ini umumnya terjadi ketika sel-sel di usus besar mulai tumbuh secara tidak normal sehingga mempengaruhi fungsi usus besar. Kanker jenis ini bisa disembuhkan dengan peluang hingga 90% apabila sudah diketahui sejak awal pertumbuhannya. 

    Umumnya, penderita kanker usus besar akan merasa kesakitan saat buang air besar. Selain itu, intensitas buang air besar yang sering disertai dengan adanya darah pada tinja juga dapat menjadi tanda kanker usus besar yang perlu diwaspadai.

    • Kolitis Mikroskopis

    Beda halnya dengan kolitis ulserativa, peradangan lapisan dalam usus akibat Kolitis Mikroskopis hanya dapat dilihat dengan jelas melalui mikroskop. Namun sayangnya, penyebab penyakit ini belum dapat dipastikan hingga saat ini. Meski demikian, kondisi ini biasanya akan membuat penderita kesulitan menahan rasa ingin buang air besar. 

    Baca Juga: 5 Mitos vs Fakta Seputar BAB yang Perlu Sahabat Ketahui

    Kapan Harus Ke Dokter?

    Sahabat Sehat tak perlu khawatir apabila rasa ingin buang air besar setelah makan hanya muncul sesekali. Namun, jika kondisi ini terjadi secara berulang dan sering maka sebaiknya segera konsultasikan lebih lanjut ke dokter. Selain itu, ada beberapa kondisi yang sebaiknya diwaspadai yakni :

    • Mengalami diare yang tidak kunjung membaik dalam tiga minggu.
    • Menderita diare dan demam tinggi lebih dari 380Celcius.
    • Saat diare terjadi disertai rasa sakit pada rektum atau perut bagian bawah.
    • Feses yang keluar berwarna kehitaman, abu-abu, atau berdarah. 
    • Diare yang disertai tanda dehidrasi, seperti kelelahan, haus, dan pusing.

    Baca Juga: Tips Jitu Melancarkan BAB Anak

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai penyebab sering buang air besar. Jika Sahabat Sehat merasakan keluhan di atas, segera periksakan ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tapi, ada baiknya bila Sahabat Sehat juga rutin memeriksakan kesehatan umum melalui medical check up. Layanan ini juga tersedia di Prosehat.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Carolina Digestive. Women vs Men When It Comes To Digestion.
    2. ASGE. Quick Anatomy Lesson: Human Digestive System [Internet].
    3. Mayo Clinic. Digestion: How long does it take? 
    Read More
  • Kehamilan membawa banyak perubahan dalam tubuh perempuan. Tahukah Sahabat Sehat bahwa perempuan yang hamil di bawah usia 20 tahun dan pernah hamil 3 kali atau lebih memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks? Diperkirakan, ini terjadi karena peningkatan paparan infeksi HPV melalui aktivitas seksual. Penelitian juga menunjukkan perubahan hormonal selama kehamilan membuat perempuan lebih rentan terhadap […]

    Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Kehamilan membawa banyak perubahan dalam tubuh perempuan. Tahukah Sahabat Sehat bahwa perempuan yang hamil di bawah usia 20 tahun dan pernah hamil 3 kali atau lebih memiliki risiko tinggi terkena kanker serviks?

    Diperkirakan, ini terjadi karena peningkatan paparan infeksi HPV melalui aktivitas seksual. Penelitian juga menunjukkan perubahan hormonal selama kehamilan membuat perempuan lebih rentan terhadap infeksi HPV atau pertumbuhan kanker. Perempuan hamil juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, sehingga memungkinkan infeksi HPV dan pertumbuhan kanker.

    Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Angka kejadian kanker serviks di Indonesia mencapai 15.000 hingga 21.000 kasus setiap tahunnya. Menurut data dari Globocan 2018, sekitar 50 perempuan Indonesia meninggal setiap harinya akibat kanker serviks. Penyebaran kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan melakukan vaksinasi kanker serviks.

    Vaksin HPV

    Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papillomavirus), yang disebabkan oleh tipe 16 dan 18 (sebanyak 70% kasus di dunia). Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui menjadi 90% penyebab kasus kutil kelamin. Cara penularan virus HPV disebabkan melalui kontak atau hubungan seksual.

    Virus HPV dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Pada daerah kelamin, kanker dapat terjadi pada leher rahim, vulva atau bibir vagina, vagina dan penis. Sedangkan pada daerah non-kelamin, virus HPV dapat menyerang bagian mulut dan saluran napas atas.

    Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalent yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim. Sedangkan vaksin tetravalent mengandung 4 tipe virus HPV (tipe 6, 11, 16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim dan juga kutil kelamin.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Bisakah Vaksinasi HPV Diberikan Jika Sudah Berhubungan Seksual?

    Idealnya, vaksinasi HPV diberikan pada usia mulai 9 tahun dan sebelum perempuan aktif secara seksual. Hal ini karena tingkat kekebalan tubuh paling tinggi dan perubahan mukosa atau selaput lendir di leher rahim perempuan lebih rentan terinfeksi HPV.

    Vaksinasi diberikan sebanyak 3 kali dengan jadwal pemberian:

    • Dosis pertama
    • Dosis kedua: 1-2 bulan setelah penyuntikan pertama (tergantung dari jenis vaksin apa yang digunakan, apakah bivalen ataukah kuadrivalen)
    • Dosis ketiga: 6 bulan setelah penyuntikan pertama.

    Apabila pemberian vaksinasi ada yang terlewat, maka vaksinasi dapat terus dilanjutkan tanpa mengulangi dosisnya dari awal.

    Meskipun efektivitas vaksin lebih tinggi pada remaja dan mereka yang belum aktif secara seksual, perempuan yang sudah menikah tetap bisa mendapatkan manfaat perlindungan dari vaksinasi HPV.

    Namun, bagi perempuan yang telah aktif melakukan hubungan seksual maka juga direkomendasikan untuk melakukan Pap smear satu sampai 3 tahun sekali untuk melihat adanya resiko terkena infeksi virus HPV.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Perbedaan Kanker Serviks dan Kanker Rahim

    Vaksin HPV Memberikan Perlindungan Bagi Ibu Hamil dan Janin

    Vaksinasi HPV tidak dapat diberikan ketika ibu sedang hamil. Maka, vaksin ini sangat disarankan bagi calon pengantin agar kelak dapat memberikan sejumlah perlindungan bagi ibu dan janin, seperti:

    • Pada masa kehamilan, kutil kelamin dapat berkembang lebih cepat akibat pengaruh dari hormon kehamilan. Perubahan hormon menyebabkan ketidakseimbangan bakteri di organ kewanitaan sehingga mudah terjadi keputihan dan lembab. Kondisi hamil juga merubah sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan virus mudah menginfeksi, sehingga terbentuklah kutil kelamin lebih cepat.
    • Pada saat melahirkan, kutil kelamin yang berukuran besar dapat terasa sangat nyeri dan dapat menyebabkan perdarahan pada proses melahirkan.
    • Mengurangi resiko bayi lahir prematur. Sejumlah penelitian yang dilakukan di Australia mengatakan bahwa vaksinasi HPV dapat memberikan manfaat dalam mencegah lebih dari 2000 kelahiran prematur di sejak diperkenalkannya vaksinasi HPV pada anak sekolah pada tahun 2007.

    Baca Juga: Cek Fakta: Ini Dia Fungsi Vaksin HPV Pada Pria?

    Nah Sahabat Sehat, itulah pentingnya mencegah infeksi HPV melalui vaksinasi. Tidak hanya bermanfaat untuk Anda dan pasangan, tapi juga dalam melindungi calon bayi. Jika Sahabat Sehat belum vaksinasi HPV, jadwalkan segera vaksinasi Anda dan pasangan bersama Prosehat.

    Layanan vaksinasi adalah layanan unggulan Prosehat dimana Anda dan pasangan dapat melakukan vaksinasi di rumah maupun di klinik Prosehat Grand Wisata Bekasi atau Palmerah Jakarta Barat. Vaksinasi adalah investasi kesehatan dengan manfaat besar.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Perdoski.id. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    2. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    3. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    4. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    5. CDC. HPV Vaccine Information For Young Women.
    6. Miles, K. Human papillomavirus (HPV) during pregnancy.
    7. Emery, G. HPV vaccination during pregnancy shows no ill effects.
    8. Haryadi, R. Vaksin HPV Dapat Mengurangi Risiko Kelahiran Prematur.
    9. Cancer.org. Risk Factors for Cervical Cancer.
    Read More
  • Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, atau KIPI, adalah respon tubuh atau gejala yang terjadi setelah melakukan vaksinasi. KIPI dapat beragam gejalanya, seperti demam. Tapi KIPI tidak harus selalu terjadi pada setiap anak yang diimunisasi. Setiap kali imunisasi memiliki kemungkinan terjadinya KIPI, termasuk setelah imunisasi DPT yang merupakan salah satu imunisasi wajib bagi setiap anak. Dosis primer […]

    Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT? Begini Cara Mengatasinya

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, atau KIPI, adalah respon tubuh atau gejala yang terjadi setelah melakukan vaksinasi. KIPI dapat beragam gejalanya, seperti demam. Tapi KIPI tidak harus selalu terjadi pada setiap anak yang diimunisasi.

    Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT Begini Cara Mengatasinya

    Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT? Begini Cara Mengatasinya

    Setiap kali imunisasi memiliki kemungkinan terjadinya KIPI, termasuk setelah imunisasi DPT yang merupakan salah satu imunisasi wajib bagi setiap anak. Dosis primer vaksin ini diberikan sebanyak tiga kali di bulan kedua, ketiga, dan keempat bayi. Setelah itu kembali diberikan sebagai booster di usia 18 bulan, 5-7 tahun, dan 10-18 tahun (dalam bentuk Tdap).

    Manfaat Imunisasi DPT

    Imunisasi DPT memiliki manfaat dalam melindungi anak dari bahaya penyakit berikut ini:

    • Difteri

    Merupakan penyakit infeksi serius yang menyerang tenggorokan dan saluran pernapasan dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas.

    • Tetanus

    Merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf yang disebabkan karena infeksi bakteri yang timbul pada luka yang kotor.

    • Pertusis

    Merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan yang gejalanya tampak seperti flu namun ditandai dengan batuk berat dan kesulitan bernapas. Gejala berat dan serius akan tampak apabila anak dibawah usia 1 tahun mengalaminya.

    Dapatkan: Layanan Paket Imunisasi Bayi 4 Bulan ke Rumah

    Demam Pasca Imunisasi DPT

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) memang bisa menyebabkan ketidak nyamanan pada anak. Beberapa efek samping yang seringkali terjadi pada imunisasi DPT adalah demam.

    Efek samping demam pasca imunisasi merupakan hal yang normal dan akan hilang dalam 1-2 hari, walaupun dalam beberapa kasus bisa berlangsung lebih lama. Namun kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan.

    Demam merupakan respon sistem imun tubuh saat bereaksi dengan vaksin untuk membentuk pertahanan. Caranya dengan meningkatkan aliran darah sehingga sistem imun dapat segera masuk sirkulasi darah ke seluruh tubuh dan meningkatkan suhu tubuh untuk membunuh virus dari vaksin yang disuntikkan.

    Efek samping lainnya setelah imunisasi DPT antara lain nyeri, bengkak dan kemerahan di lengan yang disuntikkan selama 24-48 jam pertama (pada 51% anak yang diimunisasi DPT), mengantuk ringan (pada 32% anak), rewel (53% anak) dan penurunan nafsu makan (21% anak) dalam 24-48 jam pertama setelah penyuntikan.

    Baca Juga: Bagaimana Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT atau Sering Disebut KIPI

    Cara Mengatasi Demam Pasca Imunisasi DPT

    Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak demam pasca imunisasi DPT:

    • Kompres bekas suntikan dengan air dingin.
    • Berikan minum lebih banyak (ASI, air putih, susu formula atau air buah). Cairan yang masuk ke dalam tubuh dapat menurunkan demam pada anak, sedangkan ASI mampu menurunkan demam karena kandungan senyawa anti peradangan di dalamnya.
    • Pakaikan anak pakaian yang tipis atau nyaman.
    • Berikan obat penurun demam jika suhu melebihi 38 derajat celcius.

    Moms, jadi wajar bagi anak jika mengalami demam setelah imunisasi DPT. Umumnya reaksi ini hanya berlangsung sampai dengan 48 jam setelah imunisasi. Ikuti langkah di atas untuk mengatasi demam dan reaksi KIPI lainnya agar anak tetap merasa nyaman dan Moms tidak khawatir. Namun, jika gejala memberat atau Moms khawatir, bawalah anak ke dokter untuk diperiksakan.

    Baca Juga: Imunisasi yang Diperlukan Anak di Tahun Pertamanya

    Bagi Moms yang ingin imunisasi Si Kecil, ayo jadwalkan bersama Prosehat. Layanan imunisasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat yang dapat dilakukan di rumah dan juga di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi Satu dan Palmerah Jakarta Barat. Moms juga bisa konsultasi dengan dokter Prosehat kapan saja Moms perlu.

    Jika Moms membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     
    Referensi

    1. Pearl Ben-Joseph, MD E. Your Child’s Immunizations: Diphtheria, Tetanus & Pertussis Vaccine (DTaP).
    2.  Pediatri S. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI.
    3. Esthernita Dewanto, Sp.A(K), D., Anak demam pasca imunisasi jangan panik, lakukan empat langkah ini.
    4. Seattle Children’s Hospital. Immunization Reactions.
    5. Tenafly Pediatrics. Immunization Reactions.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com