Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

Sifilis pertama kali dideteksi di Eropa pada akhir abad ke 15 dan pada tahun 1905, Schaudinn dan Hoffman menemukan penyebab penyakit ini yaitu akibat infeksi bakteri Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak seksual.

Sifilis atau disebut juga dengan sebutan “Penyakit raja singa” ditandai dengan munculnya luka pada area kelamin dan dubur, tanpa rasa nyeri sehingga kadang kala tidak disadari oleh penderitanya. Namun pada tahap ini, infeksi sifilis sudah dapat menular ke orang lain.

Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

Metode Skrining yang Digunakan untuk Mendeteksi Sifilis

Jenis Sifilis

Sifilis dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yakni :

Sifilis yang didapat

Yaitu kondisi infeksi sifilis yang didapatkan akibat berhubungan seksual dengan penderita sifilis. Kondisi ini terdiri dari beberapa stadium :

  • Stadium primer

Pada tahapan ini ditandai dengan luka (atau disebut juga “Chancre”) di tempat bakteri masuk. Luka yang muncul mungkin akan terlihat seperti bekas gigitan serangga, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit. Hal ini yang menyebabkan gejala awal ini seringkali tidak disadari. Luka ini hanya bertahan selama 1-2 bulan kemudian selanjutnya akan menghilang tanpa bekas

  • Stadium sekunder

Pada tahapan ini ditandai dengan munculnya ruam pada tubuh yang biasanya muncul pada telapak kaki dan telapak tangan. Selain ruam, biasanya juga disertai gejala lainnya seperti demam, nafsu makan menurun, radang tenggorokan dan muncul kutil kelamin.

  • Sifilis laten

Luka akibat infeksi mungkin akan terlihat sembuh dan tidak menimbulkan bekas, namun ini justru menjadi pertanda sifilis memasuki fase lanjut. Setelah luka menghilang, biasanya terjadi selama dua tahun, penyakit ini akan masuk ke tahap sifilis tersier.

  • Stadium tersier

Pada tahapan ini, kuman penyebab sifilis telah menyebabkan kerusakan organ tubuh lainnya seperti kerusakan otak, saraf dan jantung. Pada stadium ini dapat terjadi kelumpuhan, kebutaan, demensia hingga masalah pendengaran bahkan kematian.

medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

Sifilis kongenital atau genetik

Wanita hamil yang mengidap sifilis sangat berpeluang menularkan ke janin. Berita baiknya, resiko penularan bisa dikurangi jika ibu hamil sudah mendapat pengobatan sifilis sebelum usia kehamilan mencapai usia 4 bulan.

Sifilis yang tidak diobati dengan tepat bisa memicu terjadinya komplikasi berupa bayi lahir dengan sifilis atau bayi terlahir kurang bulan atau prematur. Sifilis pada wanita hamil juga bisa menyebabkan keguguran.

Baca Juga: Mengapa Calon Pengantin Perlu Vaksin HPV? Ini Penjelasannya

Pemeriksaan Sifilis

Berikut ini berbagai pemeriksaan laboratorium darah yang dapat membantu menegakan diagnosa sifilis :

  • Pemeriksaan Treponema

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi yang secara spesifik berkaitan dengan penyebab sifilis. Pemeriksaan Treponema terdiri dari berbagai jenis yaitu :

  1. Test FTA-ABS (Fluorescent treponemal antibody absorption)
  2. Test TP-PA (Treponema pallidum particle agglutination assay)
  3. Test MHA-TP (Microhemagglutination assay)
  4. Test IA (Immunoassays).
  • Pemeriksaan Non-treponema

Pemeriksaan ini tidak spesifik terhadap kuman penyebab sifilis. Antibodi yang dideteksi dapat dihasilkan oleh tubuh ketika terinfeksi bakteri penyebab sifilis dan juga pada kondisi lainnya. Pemeriksaan Non-Treponema yang dilakukan untuk mendeteksi sifilis ada 2 jenis, yaitu :

  1. Test Rapid Plasma Reagin (RPR)
  2. Test Venereal Disease Research Laboratory (VDRL).

Baca Juga: Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

Siapa Saja yang Membutuhkan Skrining Pemeriksaan Sifilis?

Pemeriksaan skrining untuk mendeteksi infeksi sifilis dalam tubuh, perlu dilakukan oleh beberapa kelompok orang berikut :

  • Pekerja seks komersial
  • Penderita HIV/AIDS yang masih aktif berhubungan seksual
  • Seseorang yang mempunyai pasangan seks lebih dari satu dan tanpa menggunakan kondom
  • Seseorang yang melakukan hubungan intim melalui anus (anal seks)

Bagi kelompok orang diatas disarankan untuk melakukan pemeriksaan skrining setiap 3-6 bulan sekali.

Baca Juga: Intip 6 Tips Menghindari Perilaku Seks Berisiko

Nah,  Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara mendeteksi sifilis. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
Ditinjau oleh: dr. Monica C

 

Referensi

  1. Siagian M, Rinawati R. Diagnosis dan Tata Laksana Sifilis Kongenital. Sari Pediatri, 5(2), p.52.
  2. Darmawan H, Purwoko I, Devi M. Sifilis Pada Kehamilan. Sriwijaya Journal of Medicine, 3(1), pp.73-83.
  3. Universitas Udayana. Infeksi Sifilis Pada Kehamilan [Internet]. Indonesia : Universitas Udayana.
  4. Romito K, Thompson E. Syphilis Tests [Internet]. USA : Michigan Medicine.
  5. Medline Plus. Syphilis Tests: MedlinePlus Medical Test [Internet]. USA : Medline Plus.

Chat Asisten Maya
di Prosehat.com