Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

Sobat pasti pernah terkena gejala influenza, atau yang lebih umum disebut flu. Influenza memang merupakan penyakit yang sangat umum diderita, terutama pada kondisi cuaca dingin. Namun tahukah Anda bahwa gejala awal hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis A seringkali menyerupai influenza? Apa sih bedanya? Jangan-jangan sakit yang selama ini kita pikir influenza ternyata adalah hepatitis! Nah, agar tidak bingung, ayo simak penjelasannya di bawah ini:

Hepatitis merupakah peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi virus, obat-obatan dan toksin. Virus hepatitis terdiri dari lima macam virus, yaitu virus hepatitis A, B, C, D dan E. Cara penularan kelima virus ini pun berbeda-beda. Hepatitis A dan E biasanya menular melalui kontak oral, yaitu melalui makanan dan lingkungan yang tidak bersih. Sedangkan hepatitis B, C dan D menular melalui kontak cairan tubuh seperti darah, maupun transmisi vertikal dari ibu ke bayi baru lahir saat persalinan.

Virus hepatitis akan menginfeksi sel-sel hati, dan selanjutnya menyebabkan peradangan di sel-sel hati. Peradangan yang terjadi akan memicu terjadinya reaksi sel-sel di pembuluh darah, sehingga menimbulkan tanda dan gejala yang dirasakan pasien. Gejala hepatitis bisa bervariasi bagi setiap orang, bisa bersifat ringan tetapi juga berat bagi sebagian orang. Terkadang, bisa tidak ada gejala sama sekali, atau Anda juga akan sulit mengetahu penyakit yang tepat karena penyakit ini juga menimbulkan beberapa gejala yang sama dengan flu, yang disebut flu-like syndrome.

Gejala awal dari hepatitis A adalah demam, lemas, nyeri otot, mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan nyeri ulu hati. Pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi gejala penyakit kuning yang menyebabkan perubahan warna kulit dan mata menjadi kuning, buang air kecil berwarna kecokelatan, kemerahan atau kuning gelap menyerupai teh, dan buang air besar berwarna pucat seperti tanah liat. Selain itu dapat juga terjadi berbagai komplikasi pada sistem saraf pusat, sistem pencernaan, dan pembekuan darah.

Pada hari-hari awal, atau perjalanan penyakit dini, gejala dari hepatitis A memang sangat menyerupai gejala influenza pada umumnya. Akan tetapi secara klinis, perbedaan yang cukup mencolok adalah sakit kuning, gangguan pada Buang Air Keci (BAK) dan Buang Air Besar (BAB) yang tidak akan dijumpai pada influenza. Selain itu, untuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain pemeriksaan darah lengkap, urin lengkap, pemeriksaan antigen dan antibodi virus hepatitis, serta tes fungsi hati. Sedangkan pemeriksaan radiologi yang dapat membantu adalah USG perut dan CT Scan perut untuk menilai struktur hati.

Tatalaksana dari kedua penyakit ini sangatlah berbeda. Influenza merupakan penyakit yang umumnya dapat sembuh sendiri, atau dengan bantuan beberapa macam obat untuk meringankan gejala yang dirasakan. Namun untuk hepatitis, sangat bergantung pada tipe dan penyebab dari hepatitis tersebut. Hepatitis B dan C tergolong hepatitis yang cukup berat, yang dapat berlanjut menjadi hepatitis yang kronis, sehingga terjadi perubahan struktur hati dan penurunan drastis fungsi hati. Pada hepatitis B dan C memerlukan tatalaksana yang lebih agresif, antara lain dengan pemberian antivirus, interferon serta berbagai obat-obatan lain untuk mengatasi komplikasi yang terjadi.

Namun untuk hepatitis A yang menyerupai gejala influenza, tatalaksananya sebagian besar adalah suportif. Terapi suportif artinya terapi yang diberikan untuk mengatasi gejala yang dirasakan pasien, karena pada umumnya hepatitis A merupakan penyakit yang self-limiting, atau dapat sembuh sendiri. Selain itu, berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa infeksi hepatitis A tergolong infeksi yang ringan dan jarang berlanjut menjadi hepatitis kronik atau hepatitis fulminan, yaitu hepatitis yang berat. Akan tetapi hal tersebut mungkin saja terjadi apabila infeksi hepatitis A terjadi bersamaan dengan infeksi hepatitis B atau C, pada penderita dengan usia tua di atas 50 tahun, ataupun kondisi daya tahan tubuh yang menurun.

Walaupun demikian Sobat jangan khawatir! Saat ini terdapat berbagai macam cara untuk mencegah terjadinya hepatitis, salah satunya adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi adalah pemberian vaksin ke tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit. Vaksin hepatitis mengandung antigen hepatitis, yaitu bagian virus hepatitis yang sudah dilemahkan dengan teknologi DNA rekombinan. Pemberian vaksin ini akan memicu munculnya kekebalan aktif, yaitu pembentukan antibodi dalam tubuh untuk melawan virus hepatitis.

Saat ini vaksinasi yang tersedia di Indonesia adalah vaksin hepatitis A dan vaksin hepatitis B. Vaksinasi tersebut tersedia dalam bentuk tunggal ataupun kombinasi dengan vaksin lain. Vaksinasi hepatitis A dapat diberikan sejak usia 2 tahun. Pemberiannya adalah sebanyak dua kali dengan jarak 6 – 12 bulan antar suntikan. Sedangkan untuk vaksin hepatitis B diberikan sebanyak tiga kali, pada bulan ke-0, 1 dan 6, yang bisa diberikan sejak lahir. Nah siapapun sebenarnya bisa mendapatkan suntikan vaksin hepatitis, namun vaksin hepatitis A terutama harus diberikan pada berbagai kelompok yang berisiko, antara lain:

  • Wisatawan yang bepergian ke daerah endemis hepatitis.
  • Hubungan seksual berisiko tanpa pengaman dengan partner lebih dari satu.
  • Pengguna obat-obatan terlarang.
  • Penderita penyakit hati kronik, seperti hepatitis B dan hepatitis C.
  • Pekerja medis dengan kontak langsung sumber penularan hepatitis.

Selain vaksinasi, penting juga untuk menjaga kondisi kesehatan Anda. Pola makan yang teratur serta konsumsi buah dan sayur untuk menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, olahraga teratur dan tidur yang cukup juga penting agar tubuh tetap fit dan tidak mudah sakit. Jangan lupa mencuci tangan sebelum makan, sebelum mempersiapkan makanan, dan setelah buang air.

Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis A, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

instal aplikasi prosehat

DAFTAR PUSTAKA
1. Kasper DL, Fauci AS, Hauser S, Longo D, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine 19/E (Vol.1 & Vol.2). McGraw Hill Professional; 2015. 3983 p.
2. El-Serag HB. Epidemiology of Viral Hepatitis and Hepatocellular Carcinoma. Gastroenterology. 2012 May 1;142(6):1264–73.e1.
3. Franco E, Bagnato B, Marino MG, Meleleo C, Serino L, Zaratti L. Hepatitis B: Epidemiology and prevention in developing countries. World J Hepatol. 2012 Mar 27;4(3):74–80.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis A VIS [Internet]. CDC; 2016. Available from: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/hep-a.html
5. Kao J-H. Diagnosis of hepatitis B virus infection through serological and virological markers. Expert Rev Gastroenterol Hepatol. 2008 Aug 1;2(4):553–62.
6. Ghany Marc G., Strader Doris B., Thomas David L., Seeff Leonard B. Diagnosis, management, and treatment of hepatitis C: An update. Hepatology. 2009 Mar 27;1335–74.
7. IDAI. JADWAL IMUNISASI 2017 [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2017. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
8. Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis B VIS [Internet]. CDC; 2016. Available from: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/hep-b.html

Chat Asisten ProSehat aja