Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Kenali Penyebab Penyakit Hepatitis

Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri.

Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan hepatitis, sehingga kita bisa memahami betapa pentingnya pencegahan hepatitis melalui pemberian vaksin.

Apa saja virus yang paling umum menyebabkan hepatitis? Perlu diketahui, ada 5 virus yang paling sering menginfeksi organ hati kita dan menyebabkan hepatitis, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Pada umumnya kelima virus ini dapat memberikan gejala yang kurang lebih mirip antara satu dengan lainnya.

Gejala yang muncul sangat bervariasi, mulai dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala namun berakibat fatal di kemudian hari. Pembeda kelima virus ini adalah masing-masing virus mempunyai kecenderungan berbeda dalam memberikan gejala akut ringan sampai berat ataupun kronis tidak bergejala.

Penyebab penyakit kuning atau hepatitis yang disebabkan oleh kelima virus ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian besar:

Kelompok pertama adalah virus yang ditularkan secara fekal-oral, yaitu hepatitis A dan E. Istilah penularan secara fekal-oral ini artinya penyakit ini ditularkan melalui makanan/minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses/kotoran manusia, lalu masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut. Tentu kondisi ini sangat berhubungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk.

Kelompok yang kedua adalah virus yang ditularkan melalui darah, yaitu hepatitis B, C, dan D. Virus yang paling umum dikenal adalah virus hepatitis A, B dan C. Data menunjukkan sebanyak 44% kasus hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis A, 49% oleh virus hepatitis B, dan 7% oleh virus hepatitis C.

Lalu bagaimana dengan virus hepatitis D dan E? Selain lebih tidak umum dikenal, kedua virus ini ternyata memiliki keunikannya masing-masing. Virus hepatitis D tidak dapat menginfeksi manusia secara independen, dimana virus ini membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi tubuh manusia. Sedangkan virus hepatitis E ini sangat mirip dengan virus hepatitis A.

  • Hepatitis A dan E

Virus hepatitis A ini sangat infeksius, dan biasanya ditularkan melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi feses, sehingga penyakit ini sangat berhubungan erat dengan kebersihan. Selain melalui makanan/minuman yang terkontaminasi, penularan melalui darah juga dapat terjadi meski cukup jarang terjadi karena virus ini berada di dalam peredaran darah dalam waktu yang cukup singkat, tidak seperti virus hepatitis B dan C. Rute penularan lain yang juga mungkin terjadi adalah melalui hubungan seksual oral-anal, dan penggunaan jarum suntik bersama dan berulang meskipun jarang.

Virus hepatitis A dapat menyerang segala usia, tapi paling sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Bila seseorang terinfeksi virus ini, maka membutuhkan waktu 2-3 minggu sampai akhirnya memberikan gejala. Masa 2 minggu sebelum gejala muncul  merupakan masa yang sangat infeksius, dimana virus sudah keluar lewat feses dan dapat dengan mudah menularkan, terutama pada lingkungan tempat tinggal yang padat dan sanitasi yang buruk. Gejala awal yang ditimbulkan berupa demam, nyeri kepala dan nyeri otot, hilangnya nafsu makan, mual-mual hingga muntah, lemas, dan nyeri pada perut terutama pada bagian kanan atas perut.

Setelah itu biasanya diikuti dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning dan urin berwarna gelap seperti teh. Tapi, satu hal yang perlu diingat bahwa tidak semua orang yang terinfeksi hepatitis A akan memberikan gejala. 90% dari anak-anak dan 25% dari orang dewasa yang terinfeksi hepatitis A tidak memberikan gejala, sehingga tanpa disadari sudah menyebarkan virus hepatitis A melalui feses mereka. Namun jangan khawatir, setiap orang yang terkena hepatitis A dapat sembuh dengan sempurna karena virus ini tidak akan berlanjut menjadi kronis. Derajat gejala yang ditimbulkan juga biasanya bertaraf ringan sampai sedang.

Hepatitis E sangat mirip dengan hepatitis A, dari metode penularannya yang juga sama yaitu melalui makanan/minuman yang terkontaminasi feses (fekal-oral), hingga gejala yang ditimbulkan. Hepatitis E pun dapat sembuh sempurna seperti hepatitis A. Karena kemiripan inilah maka cukup sulit untuk kita membedakan hepatitis A dan E. Bahkan, beberapa kasus pun mendapati hepatitis E menginfeksi bersamaan dengan hepatitis A.

Pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis E tidak tersedia secara luas, tidak seperti pemeriksaan hepatitis A. Penelitian yang dilakukan di India mendapati bahwa memang sebenarnya jumlah kasus hepatitis A lebih banyak terjadi (sebanyak 68%) dari pada hepatitis E (sebanyak 31%). Namun penelitian juga menunjukkan bahwa hepatitis E ternyata memberi gejala yang lebih berat jika terinfeksi saat sedang hamil, sehingga perlu menjadi perhatian bagi ibu-ibu yang sedang hamil untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih supaya tidak sampai tertular.

Pencegahan hepatitis A dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi hepatitis A, dan vaksin ini juga sudah tersedia di Indonesia. Pemberian vaksin ini akan memberikan kekebalan 94-100% terhadap hepatitis A. Di Amerika sendiri, setelah pemberian vaksin hepatitis A dirutinkan pada anak-anak, angka kejadian hepatitis A ternyata berkurang cukup signifikan.

  • Hepatitis B dan D

Hepatitis B berbeda dengan hepatitis A. Hepatitis B adalah penyebab tersering penyakit hati kronis dan kanker hati di seluruh dunia. Hepatitis B ini hanya ditularkan melalui cairan tubuh, dan yang terutama adalah melalui darah. Beberapa hal yang dapat menularkan virus hepatitis B adalah penggunaan jarum suntik bersama dan berulang, kontak darah yang terinfeksi hepatitis B dengan luka atau selaput lendir, transfusi darah yang mengandung virus hepatitis B, jarum tato, hubungan seksual, dan penularan dari ibu yang sudah terinfeksi hepatitis B kepada bayinya.

Gejala yang dapat muncul pada hepatitis B cukup bervariasi, dapat berupa gejala akut seperti pada hepatitis A, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah, nyeri perut, hingga perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, namun seringkali tidak bergejala, atau bahkan hanya memberikan gejala yang sangat minimal dan tidak spesifik. Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B dapat berlanjut menjadi kronis yang tidak bergejala, dan sekitar 15-40% pada akhirnya menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati yang fatal di kemudian hari.

Biasanya 90% bayi yang tertular hepatitis B dari ibunya atau tertular hepatitis B pada saat berusia anak-anak akan mengalami infeksi yang kronis dan tidak bergejala, atau yang lazimnya disebut sebagai carrier, dan ternyata inilah penyumbang tertinggi angka penyakit hepatitis B di seluruh dunia. Metode penularan lain juga berisiko berlanjut menjadi infeksi yang kronis tapi dengan kemungkinan lebih kecil sebesar 5-10%.

Lalu, bagaimana dengan hepatitis D? Hepatitis D adalah virus yang sangat unik, dimana ia membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi manusia. Cara penularannya juga sama seperti hepatitis B, yaitu melalui darah. Berdasarkan data, hepatitis D merupakan infeksi virus hepatitis yang paling jarang dibandingkan keempat lainnya.

Hepatitis D bisa langsung terjadi bersamaan terjadi dengan hepatitis B atau disebut sebagai ko-infeksi, atau pada orang yang sudah mengalami hepatitis B kronis terlebih dahulu, lalu tertular hepatitis D di kemudian hari, dan hal ini disebut sebagai super-infeksi. Persyaratannya harus ada virus hepatitis B bersamanya karena virus hepatitis D adalah virus yang ‘tidak utuh’.

Nah, gejala yang ditimbulkan biasanya bervariasi. Biasanya ko-infeksi hepatitis B dan D menghasilkan gejala akut yang ringan atau kadang tidak bergejala, kurang lebih mirip dengan infeksi hepatitis B pada umumnya. Namun, pada kondisi super-infeksi, gejala yang muncul biasanya cukup berat, bahkan bisa dikatakan gejalanya paling berat dibandingkan dengan gejala akut keempat virus hepatitis lainnya.

Baik ko-infeksi maupun super-infeksi, keduanya mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala. Ini artinya, orang tersebut membawa 2 virus sekaligus di dalam tubuhnya. Kondisi infeksi kronis hepatitis B dan D secara bersamaan ini mempercepat terjadinya kerusakan hati fatal di kemudian hari. Sebagai perbandingan, infeksi hepatitis B saja dapat menyebabkan kerusakan hati fatal sekitar 15-40%, tapi meningkat menjadi 70-80% pada infeksi hepatitis B dan D secara bersamaan.

Mengingat baik hepatitis B dan D ini dapat berakibat fatal, ditambah pengobatannya yang tidak mudah, maka lebih baik bagi kita untuk mencegah agar tidak sampai tertular. Pencegahan terbaik saat ini selain menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus ini adalah dengan vaksinasi hepatitis B. Hepatitis D tidak akan terjadi tanpa hepatitis B, sehingga vaksinasi hepatitis B secara tidak langsung juga akan melindungi kita terhadap hepatitis D. Vaksin hepatitis B ini tersedia secara luas di Indonesia dan bahkan termasuk dalam program imunisasi dasar dan wajib bagi anak-anak Indonesia.

  • HEPATITIS C

Yang terakhir adalah hepatitis C. Nah hepatitis C ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan secara global, di mana hepatitis merupakan penyebab infeksi kronis yang ditularkan melalui darah yang paling sering salah satunya di negara maju seperti Amerika Serikat. WHO menyatakan sekitar 3% populasi dunia terinfeksi hepatitis C. Di negeri kita penyebab kerusakan hati kronis yang fatal paling banyak tidak hanya disebabkan oleh hepatitis B, tapi juga hepatitis C, loh!

Hal yang paling menyulitkan adalah belum adanya vaksin yang ditemukan untuk mencegah penyakit hepatitis C hingga saat ini. Pengobatannya pun terbilang cukup sulit, sama halnya dengan hepatitis B. Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah yang mengandung virus hepatitis C, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersamaan dan berulang, transplantasi organ,dan penularan dari ibu yang sudah terkena hepatitis C kepada bayinya. Tidak seperti hepatitis B, penularan hepatitis C dari ibu kepada bayinya dapat terjadi tapi kemungkinannya lebih kecil, yaitu sekitar 4%.

Hepatitis C ini sangat jarang memberikan gejala akut dibandingkan dengan semua jenis virus hepatitis lainnya, sehingga banyak sekali yang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi hepatitis C.Gejala infeksi akut seringkali memberikan gejala yang tidak khas dan ringan. Tidak heran kebanyakan infeksi hepatitis C baru diketahui/disadari saat sudah terjadi kerusakan hati berat ataupun sirosis hati.

Sekitar 50-85% pasien yang terinfeksi hepatitis C akan berkembang menjadi infeksi kronis, loh! Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan hepatitis B. Melihat kondisi ini, ditambah dengan pengobatan yang tidak mudah serta belum ditemukannya vaksin hepatitis C, maka metode pencegahan terbaik adalah menghindari agar tidak tertular hepatitis C.

Pentingnya Vaksinasi

Nah, setelah membaca 5 penyebab penyakit kuning atau hepatitis ini lebih dalam, tentu kita sudah paling tidak dapat menyadari bahwa hepatitis bukanlah sekedar penyakit biasa. Oleh karena itu,   kita perlu untuk menjaga diri agar tidak sampai tertular hepatitis A, B, C, D, ataupun E, mulai dari berusaha menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus hepatitis, dan mencegahnya dengan vaksinasi.

Penurunan jumlah insiden kasus hepatitis A dan B di Amerika Serikat setelah ditemukannya vaksin hepatitis A dan B

Inilah mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting dilakukan. Jika diperhatikan, gambar di atas adalah salah satu bukti bahwa jumlah insiden kasus hepatitis menurun drastis setelah ditemukannya dan diberlakukannya vaksinasi hepatitis A dan B secara luas. Baik vaksin hepatitis A maupun B keduanya tersedia di Indonesia, dan vaksinasi hepatitis B pun termasuk dalam imunisasi dasar dan wajib pada anak-anak.

Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

instal aplikasi prosehat

DAFTAR PUSTAKA

  1. Chamberlain NR. The big picture: medical microbiology. USA: The McGraw-Hill Companies; 2009. p. 99-208.
  2. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-78.
  3. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-93.
  4. Godara H, Hirbe A, Nassif M, Otepka H, Rosenstock A. The washington manual of medical therapeutics. USA: Washington University School of Medicine; 2014. p. 667-83.
  5. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-9.
  6. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 319;357;375.
  7. Kasper, Fauci, Hauser, Longo, Jameson, Loscalzo. Harrison’s manual of medicine. 19th ed. USA: The McGraw-Hill Companies: 2016. p. 809-15.
  8. Shenoy S, Baliga S, Joon A, & Rao P. Prevalence of hepatitis A virus (HAV) and hepatitis E virus (HEV) in the patients presenting with acute viral hepatitis. Indian Journal of Medical Microbiology. 2015;33(5); 102.
  9. Depkes.go.id. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sebagian Besar Kematian Akibat Hepatitis Virus Berhubungan dengan Hepatitis B dan C Kronis. 26 April 2016. Available at: depkes.go.id
  10. Yeung CY. Vertical transmission of hepatitis C virus: current knowledge and perspectives. World Journal of Hepatology. 2014;6(9);643.

Produk Terkait

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked