Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Apa Bedanya Gagal Ginjal Akut dan Kronis?

Ginjal merupakan organ penting bagi tubuh kita yang berada pada rongga perut, bentuknya seperti sepasang kacang merah, letaknya dipunggung bawah dibawah tulang rusuk. Ginjal mempunyai fungsi yang sangat penting bagi tubuh, antara lain :

  • Ginjal menyaring darah dan membuang “sampah” tubuh (makanan, obat-obatan dan bahan kimia lainnya).
  • Menghasilkan hormon serta enzim yang dapat mengendalikan tekanan darah (renin)
  • Penyeimbang elektrolit dalam tubuh (Natrium, Kalium, Potasium)
  • Penyeimbang kadar air didalam tubuh, bila berlebih ginjal akan membuang cairan dalam bentuk urin.
  • Memproduksi hormon eritropoetin yang menghasilkan sel darah merah.
  • Menjaga tulang tetap kuat (menghasilkan senyawa aktif Vitamin D).

Setiap hari ginjal menyaring 120-150  liter darah dan menghasilkan 1-2 liter urin. Ginjal mempunyai penyaring yang disebut nefron. Nefron terdiri dari glomerolus dan tubulus. Glomerolus menyaring cairan dan limbah untuk dikeluarkan serta mencegah keluarnya sel darah dan molekul besar keluar dari ginjal misalnya protein. Selanjutnya melewati tubulus, didalam tubulus mineral yang masih dianggap penting akan diserap kembali kedalam tubuh.

Baca Juga: Asam Urat? Coba Diet Rendah Purin

Mengingat fungsi ginjal yang sangat penting, bila terjadi kerusakan atau masalah pada ginjal akan berefek pada seluruh tubuh dan tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi organ kerja lainnya. Gagal ginjal dibagi menjadi dua, yaitu akut dan kronis, yang membedakan adalah waktu terjadinya, kemungkinan ginjal untuk normal kembali serta pengobatannya.

Produk Terkait: Cek Ginjal

Perbedaan Gagal Ginjal Akut dan Kronis

Gagal Ginjal Akut

Merupakan kondisi fungsi ginjal mengalami perubahan dalam waktu singkat yaitu beberapa jam sampai beberapa minggu, gangguan ini bersifat reversible atau dapat kembali normal apabila ditanggani dengan cepat dan baik. Gagal ginjal akut biasanya disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke ginjal misalnya pada kondisi kekurangan cairan (dehidrasi) pada diare atau pada pasien luka bakar, kekurangan volume darah misalnya pada pasien perdarahan, pasien dalam keadaan penyakit infeksi pada ginjal, obat-obatan misalnya penggunaan obat antinyeri yang berlebihan, dan penumpukan zat kimia yang berlebih di dalam tubuh (misalnya, logam berbahaya atau alkohol). Selain itu, gagal ginjal akut dapat disebabkan karena tersumbatnya urin yang akan keluar misalnya karena batu ginjal, batu di kandung kemih, dan pembesaran prostat pada pria.

Faktor Risiko terjadinya gagal ginjal akut:

  • Pasien dengan penyakit diabetes, darah tinggi, penyakit hati dan obesitas sehingga menyebabkan komplikasi ke ginjal.
  • Berusia 65 tahun atau lebih.
  • Menjalani perawatan di ruang ICU (pemberian elektrolit yang tidak sesuai, efek samping obat atau antibiotik yang sedang digunakan atau efek samping dari infeksi yang sedang diderita).

Gejala gagal ginjal akut:

  1. Produksi urine berkurang. Pasien mengeluh nyeri saat buang air kecil (bila penyebabnya batu saluran kemih).
  2. Mual dan muntah
  3. Bau nafas tidak sedap (bau amonia)
  4. Tekanan darah meningkat.
  5. Penumpukan cairan dalam tubuh (kaki bengkak, perut buncit karena terisi air)
  6. Pasien akan mengeluh nyeri pada pinggang belakang.
  7. Tremor dan kejang (karena terjadi ketidakseimbangan elektrolit)
  8. Penurunan kesadaran

Pemeriksaan:

  • Test darah (kandungan kreatinin dan ureum dalam darah)
  • Tes urine dan pengukuran jumlah volume urine yang keluar.
  • USG abdomen atau CT Scan untuk melihat penyebab terjadinya gagal ginjal akut (apabila dicurigai adanya batu saluran kemih)

Baca Juga: Perlu Makan Apa supaya Tekanan Darah Jadi Normal?

Pengobatan:

  1. Menghentikan obat-obatan yang menyebabkan gagal ginjal akut.
  2. Obati infeksi yang menjadi penyebab utama gagal ginjal.
  3. Beri asupan cairan secukupnya untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperparah gagal ginjal akut.

Gagal Ginjal Kronis

Adalah gangguan fungsi ginjal yang menetap selama lebih dari 3 bulan atau menahun. Berdasarkan data dari Renal Registry KEMENKES RI tahun 2013, jumlah penyakit gagal ginjal kronis di indonesia sebanyak 0,2% dari total penduduk indonesia. 8000 penderita disebabkan karena komplikasi diabetes dan 4000 pasien dari komplikasi hipertensi (darah tinggi).

Faktor Risiko gagal ginjal kronis:

  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Obesitas
  • Sumbatan pada saluran kencing (batu ginjal, batu kandung kemih)
  • Infeksi pada ginjal (Glomerulonefritis)
  • Penyakit ginjal lain (nefritis lupus, ginjal polikistik, nefropati urat akibat penyakit asam urat)

Gejala gagal ginjal kronis:

  1. Mual dan muntah sampai kehilangan napsu makan
  2. Kulit gatal akibat peningkatan urea dan kreatinin
  3. Rasa ingin buang air kecil lebih sering namun volume urin yang dikeluarkan semakin sedikit
  4. Terdapat darah didalam urin.
  5. Nyeri dada dan sesak napas (akibat penumpukan air di dalam paru-paru)
  6. Penumpukan air di dalam tubuh (tungkai kaki dan perut)
  7. Penurunan berat badan.
  8. Tekanan darah meningkat dan sulit untuk dikendalikan

Pemeriksaan:

  • Test darah (mengetahui kadar “sampah” dalam darah dari jumlah peningkatan ureum dan kreatinin darah)
  • Test urine (test volume urin yang dapat keluar, serta jumlah protein dan darah yang keluar dari urin)
  • USG abdomen ginjal, CT Scan serta MRI untuk melihat struktur, ukuran ginjal serta penyebab lain yang menyebabkan gagal ginjal misalnya batu atau pembesaran prostat.
  • Biopsi Ginjal (dengan mengambil sedikit jaringan ginjal, untuk mengetahui penyebab kerusakan ginjal).

Penentuan stadium dari gagal ginjal kronis diukur dari Laju Filtrasi Glomerolus (dari hasil laboratorium darah). Stadium ini yang menentukan pengobatan yang dapat diambil, komplikasi serta angka harapan hidup pasien.

Stadium Gagal Ginjal Kronis

Pengobatan:

Pada dasarnya pengobatan gagal ginjal kronis sesuai dengan stadium yang didertita oleh pasien. Pada dasarnya, penyakit gagal ginjal kronis tidak dapat diobati. Namun, perawatan ditujukan untuk mengurangi gejala serta menghambat pasien menuju komplikasi yang lebih serius. Terapi yang diberikan pada pasien :

  1. Pemberian obat sesuai dengan penyebab gagal ginjal. Misalnya, gagal ginjal akibat hipertensi maka dokter akan memberikan obat-obat anti hipertensi (mislanya, ACE inhibitor dan ARB). Bila gagal ginjal disebabkan karena nefropati diabetikum atau karena diabetes maka akan diberikan obat-obatan penurun gula darah.
  2. Suplement penambah darah dan zat besi untuk mengatasi anemia pada pasien.
  3. Obat-obatan Diuretik, yang bertujuan untuk mengurangi gejala bengkak pada tungkai, penumpukan cairan di perut atau paru-paru.
  4. Obat kortikosteroid, berfungsi untuk meredakan peradangan pada pasien gagal ginjal yang disebabkan oleh infeksi pada ginjal (glomerulonefritis).

Baca Juga: Hipertensi? Stop 7 Makanan Berikut

Pada pasien dengan tingkat Gagal Ginjal Kronis stadium akhir, kemungkinan diperlukan terapi tambahan seperti :

  1. Dialisis atau cuci darah

Bertujuan untuk mengurangi “sampah” didalam tubuh yang berlebih, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah ureum dan kreatinin dalam darah. Dialisis biasanya dilakukan dengna mesin cuci darah, sedangkan CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis) adalah cuci darah yang dilakukan didalam rongga perut pasien dengan menggunakan cairan dialisis yang berfungsi menyerap “sampah” didalam tubuh penderita.

  1. Transplantasi Ginjal

Apabila pasien merasa lelah dengan tindakan cuci darah yang perlu dilakukan seumur hidup, maka pasien dapat melakukan cangkok ginjal dengan ginjal pendonor yang lebih sehat. Namun, diperlukan pemeriksaan kecocokan ginjal pendonor dengna penerima serta pasien penerima donor ginjal harus mengkonsumsi obat imunosupresan untuk menghoindari risiko alergi atau penolakan organ.

Pada intinya, kita harus menyayangi ginjal kita dengan melakukan beberapa hal yang dapat menjaga kesehatan ginjal, antara lain:

  1. tidak menular yaitu obesitas, diabetes dan hipertensi yang menjadi salah satu penyebab terjadinya gagal ginjal. Kita dapat menjaga berat badan dengan cara olahraga teratur, mengurangi makanan berlemak.
  2. Minum air putih minimal 8 gelas per hari atau 2 liter.
  3. Jangan merokok.
  4. Hindari penggunaan obat anti nyeri secara berlebihan dan tanpa resep dokter.
  5. Menjaga berat badan tubuh, dengan menjaga berat badan maka akan mencegah kita dari penyakirt Periksa tekanan darah, gula darah dan berat badan secara teratur.

Nah, jika Sahabat membutuhkan produk kesehatan maupun informasi kesehatan penting lainnya silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Ditulis Oleh: dr. Jesica Chintia Dewi

 

Daftar Pustaka

  1. org. (n.d.). Acute kidney injury. [online] Available at: http://www.kidneyfund.org/kidney-disease/kidney-problems/acute-kidney-injury.html [Accessed 22 Feb. 2019].
  2. Lidya, A. and Nugroho, P. (n.d.). [online] Available at: https://www.persi.or.id/images/2018/data/aida_lydia.pdf [Accessed 22 Feb. 2019].
  3. Luyckx, V., Tonelli, M. and Stanifer, J. (2017). The global burden of kidney disease and the sustainable development goals. [online] Bulletin of the World Health Organization. Available at: https://www.who.int/bulletin/volumes/96/6/17-206441/en/ [Accessed 22 Feb. 2019].
  4. Situasi Penyakit Ginjal Kronis. (2017). INFODATIN Pusat data dan Informasi kementrian Kesehatan RI.
  5. Sudoyo, A., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simandibrata, M. and Setiati, S. (n.d.). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Jakarta: PAPDI, pp.1035-1049.

 

Chat Asisten ProSehat aja