Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 61–70 of 1354 results

  • Secara normal, tubuh membutuhkan asupan glukosa dan oksigen untuk metabolisme tubuh, khususnya pada organ vital seperti otak. Meski demikian, asupan glukosa ke tubuh juga perlu memperhitungkan jumlah kebutuhan kalori per harinya. Mengkonsumsi gula yang berlebihan akan menyebabkan masalah kesehatan serius seperti penyakit kencing manis atau yang dikenal dengan istilah Diabetes Mellitus (DM). Sahabat Sehat, mari […]

    Kenali Berbagai Bahaya Diabetes Pada Pria

    Secara normal, tubuh membutuhkan asupan glukosa dan oksigen untuk metabolisme tubuh, khususnya pada organ vital seperti otak. Meski demikian, asupan glukosa ke tubuh juga perlu memperhitungkan jumlah kebutuhan kalori per harinya.

    Kenali Berbagai Bahaya Diabetes Pada Pria

    Kenali Berbagai Bahaya Diabetes Pada Pria

    Mengkonsumsi gula yang berlebihan akan menyebabkan masalah kesehatan serius seperti penyakit kencing manis atau yang dikenal dengan istilah Diabetes Mellitus (DM).

    Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut mengenai berbagai dampak diabetes pada pria.

    Apa Itu Diabetes?

    Diabetes mellitus merupakan penyakit yang diakibatkan oleh meningkatnya kadar glukosa dalam darah karena kekurangan jumlah hormon insulin atau karena tidak bekerjanya hormon insulin dengan baik. Insulin sendiri sebenarnya berguna untuk membantu tubuh Anda dalam mengolah glukosa yang diperoleh dari makanan. Namun, kadar glukosa yang tinggi dalam waktu yang lama justru akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes.

    Pada dasarnya, diabetes terbagi menjadi tiga jenis, yaitu diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional. Diantara semua jenis diabetes, penyakit diabetes tipe 2 adalah kasus yang paling sering terjadi pada pria daripada wanita. Apabila penyakit ini tidak segera ditangani, akan berisiko menyebabkan komplikasi lain seperti kardiovaskular, kerusakan saraf, kerusakan ginjal, depresi, diabetes, hingga berpotensi memengaruhi kesuburan. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Dampak Buruk Diabetes Pada Pria

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai dampak buruk diabetes yang dapat dialami pria :

    • Disfungsi ereksi atau impotensi

    Perlu diketahui, bahwa sekitar 35 – 75% pria dengan diabetes akan mengalami impotensi. Ini karena kadar gula darah yang tinggi membuat penderita diabetes berpotensi mengidap impotensi dini 10 hingga 15 tahun lebih cepat. Terjadinya impotensi merupakan gejala kencing manis pada pria yang mekanismenya cukup sulit untuk di telaah. 

    Kondisi ini berkaitan dengan rusaknya pembuluh darah, saraf, serta fungsi otot yang memiliki peran dalam proses ereksi akibat kadar gula darah yang tinggi. Kerusakan organ tubuh tersebut akan menyulitkan penis untuk ereksi, meski memiliki libido atau gairah dalam berhubungan seksual. 

    Baca Juga: 7 Cara Atasi Gatal Karena Diabetes dengan Cepat dan Mudah

    • Penurunan gairah seksual

    Penurunan libido atau gairah seksual biasanya akan terjadi pada pria yang telah berusia lanjut. Namun, pada pria dengan diabetes, mereka cenderung akan lebih cepat mengalami penurunan libido dibanding mereka yang  tidak, terutama diabetes tipe 2. 

    Kondisi ini akan semakin parah apabila diabetes yang dialami juga disertai dengan tubuh yang kelebihan berat badan. Penurunan libido sangat berkaitan dengan menurunnya kadar hormon tertosteron di tubuh. 

    Selain akan mempengaruhi gairah seksual, penurunan produksi hormon ini juga dapat memicu gangguan kesehatan lainnya. Seperti, ereksi yang dialami menjadi lemah, suasana hati tidak menentu, serta tubuh menjadi lemas. 

    Baca Juga: Kenali Gejala Awal Diabetes Pada Anak

    • Ejakulasi retrograde

    Ejakulasi retrograde (retrograde ejaculation) adalah kondisi ketika air mani yang dikeluarkan malah masuk ke dalam kandung kemih akibat diabetes yang dialami oleh pria. Kondisi ini biasanya akan menyebabkan air mani yang keluar saat ejakulasi lebih sedikit. Hal ini karena ejakulasi retrograde yang terjadi akibat diabetes akan merusak saraf pada kandung kemih. Selain akan mempengaruhi performa seksual, air mani yang masuk ke kandung kemih juga akan menyebabkan ketidaksuburan atau infertilitas. 

    • Infeksi saluran kemih

    Infeksi saluran kemih dapat terjadi saat saluran yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal mengalami infeksi atau peradangan. Pada pria yang menderita diabetes, kadar gula berlebih yang terkandung dalam air seni akan membuat bakteri penyebab infeksi berkembang lebih cepat. 

    • Infeksi jamur pada penis

    Kondisi ini sangat mungkin terjadi pada pria yang menderita diabetes. Pasalnya, infeksi jamur pada penis dipicu oleh banyaknya gula dalam darah yang masuk ke urine. Kandungan gula pada urine tersebut yang kemudian menjadi makanan bagi jamur untuk tumbuh subur. 

    Baca Juga: Kenali Dampak Diabetes Saat Hamil Bagi Kondisi Janin

    Infeksi jamur pada penis pria dengan diabetes biasanya memiliki ciri kemerahan, gatal pada kepala penis,  bengkak, timbul bau tidak sedap, terasa nyeri dan tidak nyaman saat berhubungan seksual, hingga muncul gumpalan berwarna putih pada kulit penis.

    • Gangguan sistem saraf

    Selain akan mempengaruhi sistem reproduksi, diabetes juga akan membahayakan sistem saraf otonom (ANS) pada pria, yakni sistem yang mengendalikan penyempitan atau pelebaran pembuluh darah sehingga akan menimbulkan masalah seksual, termasuk impotensi. 

    Komplikasi Diabetes pada Pria Jika Tidak Segera Ditangani

    Apabila tidak segera ditangani, diabetes pada pria dapat berdampak buruk terhadap fungsi seksual. Bahkan, sebuah penelitian menemukan bahwa diabetes tidak hanya akan menyebabkan penurunan libido dan disfungsi ereksi, tetapi juga dapat memicu penyakit Peyronie atau penis bengkok. Penelitian tersebut melibatkan pasien diabetes dengan disfungsi ereksi. Terbukti, setidaknya sekitar 1 dari 5 pasien diabetes juga menderita penyakit Peyronie. 

    Baca Juga: Rekomendasi Obat Alami Terbaik untuk Penderita Diabetes

    Penanganan Diabetes 

    Secara umum diabetes dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan baik yang diminum maupun obat suntik (insulin). Selain itu, Sahabat Sehat perlu menjalani pola hidup sehat seperti rutin olahraga, dan mengonsumsi makanan untuk penderita diabetes guna mempercepat proses penyembuhan. 

    Baca Juga: Kiat Pengidap Diabetes Menghadapi Covid-19

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai dampak diabetes yang dapat dialami seorang pria. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. 13 Diabetes Symptoms in Men: Erectile Dysfunction and More.
    2. Medical News Today. Diabetes in men: Signs and symptoms.
    3. Diabetes Org. Diabetes and sexual problems – in men.
    4. Web MD. Erectile Dysfunction & Diabetes.
    5. Web MD. Diabetes and Men: Sexual Issues.
    6. Diabetes org. Retrograde ejaculation.
    Read More
  • Salah satu permasalahan yang kerap dialami pria adalah ejakulasi dini. Masalah ini tentu dapat berdampak pada keharmonisan hubungan dengan pasangan. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya ejakulasi dini. Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi ejakulasi dini ? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Ejakulasi Dini ? Sebelum masuk dalam pengertian apakah yang dimaksud dengan ejakulasi […]

    3 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini yang Aman Pada Pria

    Salah satu permasalahan yang kerap dialami pria adalah ejakulasi dini. Masalah ini tentu dapat berdampak pada keharmonisan hubungan dengan pasangan. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya ejakulasi dini.

    Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi ejakulasi dini ? Mari simak penjelasan berikut.

    3 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini yang Aman Pada Pria

    3 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini yang Aman Pada Pria

    Apa Itu Ejakulasi Dini ?

    Sebelum masuk dalam pengertian apakah yang dimaksud dengan ejakulasi dini, Sahabat Sehat mengetahui pengertian dari ejakulasi. Ejakulasi merupakan istilah dalam pelepasan sperma dan cairan semen melalui penis oleh seorang pria yang terjadi akibat proses rangsangan seksual. Dalam berhubungan intim tidak ada patokan durasi karena semuanya tergantung dari masing-masing pasangan. Namun berdasarkan penelitian, berhubungan intim biasanya berlangsung sekitar lima setengah menit sebelum akhirnya pria mencapai ejakulasi.

    Ejakulasi dini merupakan salah satu gejala yang ditandai dengan ketidakmampuan seorang pria dalam mengontrol ejakulasinya. Saat seorang pria mengalami gangguan ini, maka pria akan mengeluarkan sperma terlalu cepat pada saat berhubungan seksual. Kondisi ini mengakibatkan tidak tercapainya klimaks atau kepuasan seksual pada pasangan atau pada pria itu sendiri

    Seseorang dianggap mengalami ejakulasi dini apabila 75%-100% hubungan seksual yang dilakukan, sperma keluar dalam waktu kurang dari 1 menit yang dihitung dari penetrasi dan keluhan ini menetap setidaknya 6 bulan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Perbedaan Ejakulasi Dini dengan Disfungsi Ereksi

    Ejakulasi dini dan disfungsi ereksi termasuk bagian disfungsi seksual namun keduanya sangat berbeda. Ejakulasi dini adalah kondisi dimana sperma keluar dalam waktu kurang dari 1 menit, sementara disfungsi ereksi atau impotensi adalah ketidakmampuan seseorang pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi.

    Seberapa Banyak Pria Mengalami Ejakulasi Dini ?

    Sebanyak 30%-40% pria memiliki pengalaman ejakulasi dini dalam hidupnya. Namun, apabila hanya terjadi sesekali saja maka tentunya bukan menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Menurut American Urological Association, ejakulasi dini merupakan salah satu gangguan disfungsi seksual yang kerap kali terjadi pada 1 diantara 5 pria dalam rentang usia 18 hingga 59 tahun.

    Baca Juga: Apakah Ejakulasi Dini Salah Satu Tanda Diabetes?

    Penyebab Ejakulasi Dini

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai penyebab terjadinya ejakulasi dini pada pria yaitu: 

    • Gangguan Fisik

    Adanya gangguan hormon seperti hormon oksitosin, hormon LH (Luteinizing Hormone), hormon prolaktin dan juga hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormone), menurunnya kadar serotonin atau dopamine yang mempengaruhi dorongan seksual, gangguan hormon tiroid, gangguan prostat, serta gangguan refleks dapat menjadi penyebab ejakulasi dini.

    • Gangguan Psikologis

    Gangguan atau masalah psikologis meliputi:

    • Gangguan cemas 
    • Stress
    • Adanya permasalahan dalam hubungan dengan pasangan
    • Depresi
    • Kurangnya rasa percaya diri dengan bentuk badannya sendiri
    • Rasa cemas karena belum punya pengalaman seksual sebelumnya.

    Baca Juga: 10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    Gejala Ejakulasi Dini

    Ejakulasi dini dapat dibedakan menjadi ejakulasi dini primer dan ejakulasi dini sekunder. Ejakulasi dini primer terjadi hampir sepanjang waktu dimulai dari hubungan seksual pertama. Sementara ejakulasi dini sekunder terjadi setelah memiliki pengalaman seksual sebelumnya. Dengan kata lain, sebelumnya tidak ada gejala ejakulasi dini.

    Komplikasi Akibat Ejakulasi Dini

    Ejakulasi dini akan mempersulit untuk memulai sebuah keluarga karena sperma mungkin tidak mencapai sel telur untuk dibuahi. Lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi atau Andrologi untuk mencari cara bagaimana solusi untuk tetap dapat memiliki anak apabila mengalami ejakulasi dini.

    Baca Juga: 10 Hal yang Menjadi Tanda Gejala Kanker Prostat Pada Pria

    Bagaimana Mengatasi Ejakulasi Dini?

    Berikut ini cara untuk mengatasi ejakulasi dini yang dapat Sahabat Sehat lakukan, yaitu :

    1. Terapi Psikologis

    Konsultasikanlah dan carilah akar masalah apa yang berasal dari masalah kejiwaan seperti gangguan cemas dan depresi. Konsultasikan dengan psikiater lebih lanjut. Pada kasus tertentu Sahabat Sehat dan pasangan dapat bersama-sama untuk melakukan terapi konseling.

    2. Terapi Perilaku

    Terapi perilaku menggunakan latihan yang bertujuan untuk membantu membangun toleransi untuk menunda ejakulasi. Tujuannya adalah untuk membantu tubuh untuk menghindari ejakulasi dini. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan :

    • Melakukan latihan masturbasi

    Sebelum mesturbasi cobalah untuk rileks. Setelah merasa rileks, mulailah untuk bermasturbasi sambil memperhatikan apakah ada stimulasi yang dirasakan ketika hendak masturbasi. Ketika muncul perasaan tersebut, tahan beberapa saat dan ulangi kembali sebanyak 2-3 kali setiap melakukan masturbasi.

    • Melakukan senam kegel

    Senam kegel merupakan salah satu cara ampuh yang paling sering digunakan untuk mengatasi ejakulasi dini. Latihan fisik ini dapat memperkuat otot dasar panggul dan membantu agar lebih kuat mengontrol rangsangan. Otot dasar panggul adalah otot yang digunakan ketika tubuh menahan urine saat berkemih.

    • Melakukan teknik pause-squeeze

    Caranya adalah dengan menghentikan penetrasi sejenak sebelum anda ejakulasi dan meminta pasangan anda untuk meremas batang penis hingga keinginan ejakulasi menurun. Hal ini dapat diulangi berulang kali sampai Anda dapat menahan ejakulasi tanpa bantuan.

    • Mencabut penis sebelum klimaks

    Jika sudah mendekati klimaks ketika berhubungan intim dengan pasangan, segera cabut penis dari vagina pasangan, lalu ambil jeda untuk rileks sebentar sebelum melanjutkan penetrasi kembali.

    • Menggunakan kondom saat berhubungan seks

    Kondom akan menurunkan sensitivitas penis sehingga dapat membantu pria untuk menunda ejakulasi.

    3. Terapi Medis 

    Apabila sudah dilakukan beberapa tips di atas namun belum juga dapat membantu masalah ejakulasi dini maka diperlukan penanganan lebih lanjut ke Dokter. Dokter mungkin akan menyarankan untuk memberikan penanganan medis dengan obat-obatan.

    Baca Juga: Pengaruh Rokok Terhadap Kejantanan Seksual Seorang Pria

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Asnafi. Kenali Ejakulasi Dini dan Cara Mengatasinya!
    2. Mayo Clinic. Premature ejaculation – Symptoms and causes.
    3. Cleveland Clinic. Premature Ejaculation: Causes & Treatment.
    4. Murrell, M.D D, Roland J. Premature Ejaculation: Symptoms, Causes, Treatment.
    5. Nazario B. What Is Premature Ejaculation?
    6. Urology Care Foundation. Premature Ejaculation: Causes & Treatment.
    Read More
  • Angka kasus penyakit kanker di Indonesia kini berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara, dan peringkat ke-23 di Asia. Angka penderita kanker payudara pada perempuan mencapai 42, 1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian mencapai 17 kasus per 100.000 jiwa. Tak heran jika pemerintah saat ini sangat menekankan masyarakat, terutama wanita untuk melakukan upaya deteksi […]

    7 Langkah Pencegahan Kanker Payudara yang Perlu Wanita Ketahui

    Angka kasus penyakit kanker di Indonesia kini berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara, dan peringkat ke-23 di Asia. Angka penderita kanker payudara pada perempuan mencapai 42, 1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian mencapai 17 kasus per 100.000 jiwa.

    7 Langkah Pencegahan Kanker Payudara yang Perlu Wanita Ketahui

    7 Langkah Pencegahan Kanker Payudara yang Perlu Wanita Ketahui

    Tak heran jika pemerintah saat ini sangat menekankan masyarakat, terutama wanita untuk melakukan upaya deteksi dini kanker payudara sebagai langkah pencegahan dan agar dapat segera ditangani. Sahabat Sehat, bagaimana langkah mencegah kanker payudara? Mari simak penjelasan berikut.

    Tips Mencegah Kanker Payudara

    Kanker payudara bukan penyakit yang dapat dicegah secara instan dan dengan upaya sederhana. Terdapat berbagai upaya yang perlu diketahui agar terhindar dari penyakit ganas ini. Untuk mencegah kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa tips berikut:

    1. Kenali Faktor Risiko Kanker Payudara

    Terdapat berbagai resiko yang meningkatkan peluang terjadinya kanker payudara, sebagai berikut :

    • Faktor genetik. 

    Resiko menderita kanker payudara meningkat jika Sahabat Sehat memiliki riwayat dalam keluarga yang juga menderita kanker payudara. Walaupun demikian, ada pula penderita kanker payudara yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara. 

    • Faktor usia. 

    Semakin wanita bertambah usia maka dinilai akan semakin berisiko mengalami kanker payudara. Umumnya, penyakit ini muncul pada wanita yang mulai memasuki usia 50 tahun keatas. Wanita yang mulai menstruasi pertama kali pada usia dibawah 12 tahun dan yang mengalami menopause diatas usia 55 tahun juga berpotensi mengidap kanker payudara.

    • Faktor kehamilan. 

    Wanita dewasa yang belum pernah hamil dan wanita yang hamil untuk pertama kalinya pada usia diatas 30 tahun, serta wanita yang tidak menyusui bayinya memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kanker payudara. 

    • Faktor lainnya.

    Berbagai faktor lain misal pernah menderita kanker payudara sebelumnya, wanita yang memiliki jaringan payudara yang padat, riwayat kanker ovarium, serta riwayat terpapar radiasi di daerah dada pada usia kanak-kanak atau remaja meningkatkan risiko kanker payudara. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    2. Pola Makan Bergizi Seimbang

    Beberapa pakar kesehatan menilai bahwa sejumlah makanan dapat memicu terjadinya kanker payudara, seperti tinggi gula, lemak maupun makanan berpengawet. Sahabat Sehat dianjurkan rutin mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti buah-buahan, aneka sayuran, dan biji-bijian. Pilihlah makanan yang mengandung serat, protein, serta rendah lemak jenuh.

    3. Hindari Minuman Beralkohol

    Semakin banyak alkohol yang dikonsumsi, maka semakin besar risiko menderita kanker payudara. Alkohol diketahui dapat memicu kanker payudara sebab dapat memproduksi banyak hormon estrogen.

    4. Olahraga Secara Rutin

    Olahraga mampu menjaga berat badan tetap ideal. Sedangkan memiliki berat badan berlebih atau obesitas justru akan meningkatkan risiko menderita kanker payudara. Berolahraga rutin minimal 30 menit setiap harinya. Pilihlah olahraga yang Sahabat Sehat sukai, seperti senam aerobic, bersepeda, berenang, atau jogging. Berolahraga turut mengurangi risiko kekambuhan kanker, mengurangi stress atau depresi, serta mampu memperbaiki suasana hati.

    Baca Juga: Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    5. Hentikan Kebiasaan Merokok

    Meski Sahabat Sehat tidak merokok, menghindari paparan asap rokok juga perlu dilakukan. Pasalnya risiko kanker payudara akan tetap tinggi pada “perokok pasif” sekalipun, terutama pada wanita pascamenopause.  Merokok dapat meningkatkan komplikasi bagi penderita kanker payudara. 

    6. Menyusui Pasca Melahirkan

    Bagi wanita yang baru melahirkan, menyusui tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan bayi. Namun, menyusui selama satu tahun penuh atau lebih juga dapat mencegah Sahabat Sehat dari kanker payudara.

    7. Batasi Dosis dan Durasi Terapi Hormon

    Melakukan terapi hormonal kombinasi selama tiga tahun lebih dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Oleh sebab itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan terapi hormon. 

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Mengenali Perubahan Payudara

    Langkah awal mengenali perubahan pada payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan secara mandiri atau yang dikenal dengan istilah SADARI, yaitu dengan meraba payudara sendiri untuk mendeteksi adanya kanker payudara sejak dini.

    Selain itu lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter. Jika diperlukan Sahabat Sehat dapat melakukan pemeriksaan menggunakan mamografi atau USG payudara untuk melihat kondisi kelenjar payudara. 

    Baca Juga: Yuk, Mulai Waspadai Beberapa Faktor Penyebab Kanker pada Wanita!

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai langkah mencegah kanker payudara. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat

    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Referensi:

    1. National Cancer Institute. Obesity and Cancer Fact Sheet.
    2. World Health Organization. Breast cancer.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. What Are the Risk Factors for Breast Cancer?
    4. Mayo Clinic. Breast cancer: How to reduce your risk.
    5. Cancer Research UK. Breast cancer risk.
    6. WebMD. Breast Cancer and the Breast Self-Exam.
    Read More
  • Seorang ibu yang baru saja melahirkan tentunya berharap dapat menyusui bayinya. Namun sayangnya, ada beberapa kondisi yang membuat seorang ibu ragu menyusui Si Kecil. Salah satu penyebabnya adalah akibat kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat dialami oleh wanita maupun pria. Berdasarkan data kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 31 Januari […]

    Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?

    Seorang ibu yang baru saja melahirkan tentunya berharap dapat menyusui bayinya. Namun sayangnya, ada beberapa kondisi yang membuat seorang ibu ragu menyusui Si Kecil. Salah satu penyebabnya adalah akibat kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat dialami oleh wanita maupun pria.

    Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya

    Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?

    Berdasarkan data kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 31 Januari 2019, tercatat angka kasus penderita kanker payudara wanita mencapai 42,1 per 100.000 penduduk dengan angka kematian rata-rata 17 per 100.000 penduduk. Sahabat Sehat, apakah penderita kanker payudara tetap dapat menyusui bayinya? Mari simak penjelasan berikut:

    Dampak Obat Kanker Pada Tubuh Ibu Menyusui

    Saat seseorang menderita kanker payudara, sel dalam jaringan payudara tumbuh secara abnormal. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, sel kanker akan semakin menyebar ke bagian tubuh lainnya. Terdapat beberapa jenis obat kanker payudara yang dapat mempengaruhi kualitas ASI, seperti tamoxifen, palbociclib, dan ribociclib (bahan kimia dalam kandungan obat tersebut akan bertahan selama tiga minggu di dalam tubuh), serta everolimus (akan bertahan selama dua minggu di dalam tubuh).

    Bagi ibu yang tengah menjalani pengobatan kanker payudara sebaiknya tidak menyusui bayinya sementara waktu. Selain itu, pengobatan seperti terapi radiasi dapat mempengaruhi produktivitas dan kualitas ASI. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Konsultasi Dengan Dokter

    Kanker payudara pada dasarnya bukanlah penyakit menular. Saat bayi kontak langsung dengan sang Ibu, misalnya melalui ASI maka bayi umumnya tidak akan tertular. Meski demikian, kondisi fisik seseorang pasca operasi pengangkatan sel kanker dapat berbeda-beda. Maka dari itu, alangkah baiknya jika Sahabat Sehat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mulai menyusui Si kecil. 

    Baca Juga: Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Alternatif Lain Pengganti ASI

    Sahabat Sehat tidak perlu sedih dan khawatir apabila tidak bisa menyusui Si kecil, sebab kebutuhan nutrisinya masih dapat dicukupi sementara dengan bantuan susu formula khusus bayi. Walaupun susu formula tidak mengandung antibodi untuk menambah kekebalan tubuh bayi dan beberapa jenis hormon dan enzim, namun bukan berarti susu tersebut tidak memiliki manfaat. 

    Jangan merasa bahwa ikatan ibu dengan anaknya hanya dapat terjalin melalui ASI dan proses menyusui. Menurut beberapa dokter anak, kualitas ikatan antara Ibu dengan bayinya dipengaruhi waktu dan aktivitas yang dilakukan bersama. Sahabat Sehat dapat memberikan susu formula sambil mengajak Si kecil berbicara, bersenandung, menatap kedua matanya, dan tersenyum. 

    Untuk mempercepat proses pemulihan kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan mengkonsumsi buah dan sayur serta beristirahat yang cukup. Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penderita kanker payudara yang sebaiknya tidak menyusui sementara waktu selama menjalani pengobatan kanker payudara. Untuk mendeteksi kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

    Baca Juga: Hubungan Antara Menyusui dan Kanker Payudara

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh
    : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Bisakan Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?.
    2. Cordeiro B. Breastfeeding lowers your breast cancer risk.
    3. Medela. Breast Cancer and Breastfeeding: Facts to Know.
    Read More
  • Tidak hanya wanita, kebersihan organ intim pria juga perlu dijaga kebersihannya. Pasalnya, kebersihan organ reproduksi sangat mempengaruhi kesehatan dan kehidupan seksual Sahabat Sehat. Penis adalah salah satu organ tubuh yang menjadi kebanggaan utama bagi kaum pria. Namun karena letaknya tersembunyi, banyak pria yang biasanya mengabaikan kesehatan organ reproduksinya tersebut. Berbagai masalah kesehatan dapat Sahabat Sehat […]

    10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    Tidak hanya wanita, kebersihan organ intim pria juga perlu dijaga kebersihannya. Pasalnya, kebersihan organ reproduksi sangat mempengaruhi kesehatan dan kehidupan seksual Sahabat Sehat. Penis adalah salah satu organ tubuh yang menjadi kebanggaan utama bagi kaum pria.

    Namun karena letaknya tersembunyi, banyak pria yang biasanya mengabaikan kesehatan organ reproduksinya tersebut. Berbagai masalah kesehatan dapat Sahabat Sehat alami apabila kurang menjaga kesehatan organ intim. Sahabat Sehat, bagaimana cara menjaga kesehatan kemaluan pria ? Mari simak penjelasan berikut.

    10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    10 Tips Menjaga Kesehatan Penis agar Terhindar dari Penyakit Kelamin

    1. Membersihkan Kemaluan Secara Rutin
      Beberapa penelitian merekomendasikan untuk membersihkan area kemaluan setidaknya setiap kali Sahabat Sehat mandi. Saat membersihkan kemaluan, hindari menggunakan sabun yang mengandung pewangi sebab dapat memicu iritasi pada kemaluan.
    2. Ganti Pakaian Dalam
      Sahabat Sehat dianjurkan mengganti pakaian dalam terutama jika terasa lembab. Sebab celana dalam yang tidak diganti dalam waktu lama akan membuat penis dan area di sekitarnya menjadi lembab. Area kemaluan yang lembab menjadi tempat ideal bagi bakteri dan jamur untuk tumbuh dan bekembang biak. Akibatnya, kemaluan berpotensi beraroma kurang sedap dan rentan mengalami infeksi.
    3. Mencukur Bulu Kemaluan
      Mencukur rambut bulu kemaluan diketahui dapat menjaga kebersihan kemaluan. Rambut yang tumbuh di area kemaluan dapat membuat area kemaluan menjadi lembab dan berkeringat. Jika tidak dicukur, bulu kemaluan dapat menjadi area berkembangnya kuman.
    4. Hindari Perilaku Seks Berisiko
      Perilaku seks bebas dan berganti pasangan seksual dapat meningkatkan resiko penyakit menular seksual. Untuk mencegah penyakit menular seksual, sebaiknya hindari berganti pasangan seksual atau pun menggunakan alat kontrasepsi (kondom).
    5. Hindari Merokok
      Impotensi merupakan salah satu penyakit yang dapat diakibatkan karena dampak merokok.  Berdasarkan penelitian di tahun 2014, rokok terbukti menyebabkan gangguan kesehatan pada penis, seperti disfungsi ereksi. Selain itu merokok juga dapat memicu masalah reproduksi hingga menyebabkan kemandulan.

      medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    6. Olahraga Teratur
      Rutin berolahraga menjadi salah satu cara dalam menjaga kesehatan penis. Olahraga juga dapat dijadikan terapi dalam mengatasi disfungsi ereksi. Lakukan olahraga rutin minimal 30 menit sehari atau total minimal 150 menit dalam seminggu.
    7. Konsumsi Makanan Bergizi
      Rajin mengonsumsi makanan bergizi seimbang dinilai mampu mempertahankan kesehatan organ reproduksi. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pria yang gemar mengkonsumsi makanan yang mengandung flavonoid dapat mencegah disfungsi ereksi. Flavonoid termasuk kelompok senyawa fitokimia yang banyak ditemukan pada buah dan sayur. Selain itu mengkonsumsi bayam, alpukat, hingga makanan pedas yang mengandung capsaicin juga dipercaya dapat meningkatkan kadar hormon testosteron.
    8. Menjaga Berat Badan Ideal
      Meski tampak tidak ada hubungannya dengan kesehatan penis, berat badan berlebih (obesitas) meningkatkan resiko berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Ketiga penyakit inil dapat memicu terjadinya gangguan ereksi. Oleh sebab itu, dengan menjaga berat badan tetap ideal maka dapat menjaga kesehatan penis.
    9. Mengendalikan Stres
      Masalah mental kerap dikaitkan dengan disfungsi seksual. Sebuah penelitian pada tahun 2018 dari Indian Journal of Psychiatry mengungkapkan bahwa setidaknya sebanyak 62,5 % responden yang mengalami depresi ringan hingga sedang turut menderita disfungsi seksual.
    10. Hindari Minuman Beralkohol
      Menghindari minuman beralkohol atau kurangi jumlahnya secara bertahap dapat membantu  menjaga kesehatan penis. Mengkonsumsi alkohol berlebih diketahui meningkatkan risiko disfungsi ereksi dan gangguan seksual lainnya.

    Baca Juga: Berbagai Penyakit Menular Seksual Akibat Seks Oral

    Kapan Harus Menemui Dokter?

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai apabila mengalami beberapa keluhan berikut di rumah :

    • Gairah seksual menurun
    • Pendarahan saat buang air kecil atau ejakulasi
    • Muncul kutil, benjolan atau ruam pada penis 
    • Penis melengkung dan terasa nyeri saat hubungan seksual
    • Sensasi terbakar saat buang air kecil
    • Mengalami cedera pada kemaluan

    Baca Juga: 10 Hal yang Menjadi Tanda Gejala Kanker Prostat Pada Pria

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips menjaga kesehatan penis yang dapat diterapkan di rumah. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Healthline. 38 Ways to Keep Your Penis Healthy.
    2. Mayo Clinic. Penis health: Identify and prevent problems.
    3. Abha T. A prospective study on sexual dysfunctions in depressed males and the response to treatment.
    Read More
  • Kanker payudara sebagian besar terjadi pada wanita, meski tidak menutup kemungkinan pria juga dapat menderita kanker payudara. Pada tahun 2020, sekitar 2,3 juta wanita terdiagnosis  kanker payudara dengan angka kematian di dunia mencapai 685.000 kasus. Pada akhir 2020, terdapat 7,8 juta orang wanita yang masih bertahan hidup selama 5 tahun setelah didiagnosis kanker payudara. Data […]

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Kanker payudara sebagian besar terjadi pada wanita, meski tidak menutup kemungkinan pria juga dapat menderita kanker payudara. Pada tahun 2020, sekitar 2,3 juta wanita terdiagnosis  kanker payudara dengan angka kematian di dunia mencapai 685.000 kasus. Pada akhir 2020, terdapat 7,8 juta orang wanita yang masih bertahan hidup selama 5 tahun setelah didiagnosis kanker payudara.

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Data dari Global Cancer Observatory 2018 dan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni mencapai 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Disusul dengan kanker serviks (kanker leher rahim) yang merupakan jenis kanker kedua yang paling sering terjadi di Indonesia yaitu mencapai 32.469 kasus atau 9.3% dari total kasus.

    Data dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa angka kasus kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk, dengan rata-rata angka kematian akibat kanker mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Penyebab Kanker Payudara?

    Sekitar 15% kasus kanker payudara terjadi pada jaringan kelenjar yang menghasilkan susu (lobulus) sementara 85% kasus kanker payudara terjadi di saluran air susu (ductus) yang mengalirkan air susu ke puting payudara. Disamping itu, kanker juga dapat terjadi pada jaringan lemak atau jaringan ikat di payudara.

    Hingga kini belum diketahui penyebab pasti kanker payudara. Namun terdapat dugaan bahwa faktor genetik, gaya hidup, lingkungan dan perubahan hormon mempunyai kaitan erat terbentuknya kanker payudara. Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa faktor resiko penyebab kanker payudara:

    • Usia
      Seiring bertambahnya usia, angka kejadian kanker payudara juga semakin meningkat yaitu mencapai 0,06% setiap tahunnya. Setelah usia 70 tahun, angka kejadian kanker payudara mencapai 3,84%.

    Baca Juga: Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    • Genetik
      Kelainan dan mutasi dari gen BRCA1 dan BRCA2 diketahui berkaitan dengan kejadian kanker payudara, kanker ovarium atau keduanya. Mutasi dari gen TP53 juga memiliki kaitan dengan terjadinya resiko kanker payudara. Kemungkinan terjadinya kanker payudara akan meningkat apabila, dalam satu keluarga kandung terdapat riwayat kanker payudara.
    • Riwayat kanker payudara sebelumnya
      Wanita yang pernah didiagnosa kanker payudara sebelumnya beresiko menderita kanker payudara kembali di kemudian hari.
    • Perubahan Hormon
      Kadar hormon estrogen yang tinggi, misalnya pada wanita yang mengalami mens pertama kali terlalu cepat dan pada awal masa menopause, memiliki kadar estrogen yang cukup tinggi sehingga resiko kanker payudara juga meningkat. Bagi ibu menyusui terutama yang memberikan ASI lebih dari 1 tahun, diketahui mengurangi resiko terjadinya kanker payudara karena kadar hormon estrogen yang rendah. Begitu juga wanita hamil, diketahui memiliki kadar estrogen yang cukup rendah.
    • Berat Badan
      Wanita dengan berat badan berlebih atau obesitas beresiko menderita kanker payudara karena berkaitan dengan kadar hormon estrogen yang tinggi.

    Baca Juga: Mitos/Fakta: Pakai Bra Saat Tidur Sebabkan Kanker Payudara?

    • Konsumsi Alkohol
      National Cancer Institute mengungkapkan bahwa wanita yang mengkonsumsi alkohol akan lebih beresiko menderita kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi alkohol.
    • Terpapar Sinar Radiasi
      Adanya paparan sinar radiasi dari pengobatan kanker pada tubuh wanita meningkatkan resiko terjadinya kanker pada payudara akibat efek samping dari sinar radiasi dan kemoterapi.
    • Pengobatan Hormonal
      Beberapa penelitian menyebutkan bahwa wanita yang menerima pengobatan hormon, misal menggunakan pil KB, suntik KB, maupun terapi pengganti hormon, beresiko menderita kanker payudara.

    Baca Juga: Hubungan Antara Menyusui dan Kanker Payudara

    Bagaimana Cara Mencegah Kanker Payudara?

    Untuk mencegah terjadinya kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai tips berikut di rumah:

    • Hindari minuman beralkohol
    • Menjaga berat badan agar tetap ideal. 
    • Olahraga teratur antara 75 – 150 menit per minggu untuk menjaga kesehatan tubuh. 
    • Hindari penggunaan terapi hormon setelah menopause. 
    • Menyusui.
    • Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti buah dan sayur.
    • Menghindari menu makanan daging yang sudah diproses, seperti sosis, ham, bacon yang meningkatkan resiko terjadinya kanker.

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai faktor penyebab dan cara mencegah kanker payudara. Untuk mendeteksi dini kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan payudara secara berkala.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Breast cancer.
    2. Widiowati H. Kasus Kanker Payudara Paling Banyak Terjadi di Indonesia.
    3. Ranchod R. Breast cancer: Symptoms, causes, and treatment.
    4. Breast Cancer Now. Breast cancer causes.Mayo Clinic. Breast cancer: How to reduce your risk.
    5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Enam Langkah SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara.
    Read More
  • Demam kuning atau Yellow Fever, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh karena infeksi virus yang ditularkan melalui perantara nyamuk. Gejala penyakit ini ditandai dengan demam tinggi serta mata dan kulit yang tampak kuning akibat penurunan fungsi hati. Demam kuning cukup berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat dan sungguh-sungguh karena dapat menyebabkan gagal ginjal hingga […]

    Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Demam kuning atau Yellow Fever, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh karena infeksi virus yang ditularkan melalui perantara nyamuk.

    Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Mencegah Demam Kuning Sebelum Bepergian

    Gejala penyakit ini ditandai dengan demam tinggi serta mata dan kulit yang tampak kuning akibat penurunan fungsi hati. Demam kuning cukup berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat dan sungguh-sungguh karena dapat menyebabkan gagal ginjal hingga terjadi koma hingga kematian. Sahabat Sehat, apa itu demam kuning dan bagaimana cara mencegahnya? Mari simak penjelasan berikut:

    Dimana Daerah Endemis Demam Kuning?

    Penyakit demam kuning ini disebabkan karena gigitan nyamuk Aedes aegypti dan biasanya ditemukan di wilayah Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Demam kuning dapat menyerang penduduk yang tinggal di daerah endemik, serta para turis yang sedang mengunjungi daerah tersebut.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Apa Saja Gejala Demam Kuning?

    Setelah kontak dengan nyamuk yang terinfeksi, virus akan berkembang didalam tubuh selama 3 hingga 6 hari. Selanjutnya akan memasuki fase akut, yang ditandai dengan demam, nyeri otot yang biasanya terjadi pada punggung, sakit kepala, menggigil, kehilangan nafsu makan dan mual dan muntah.

    Sebagian besar pasien akan pulih dalam 3 hingga 4 hari. Namun, sebanyak 15% dari pasien akan mengalami fase kedua.

    Fase kedua, atau disebut juga dengan “Fase Beracun” yang dialami selama 24 jam ditandai dengan kulit tampak berwarna kuning akibat gangguan pada hati, gagal ginjal, meningitis dan berakhir dengan kematian. Pada fase ini turut disertai demam tinggi. Setengah dari pasien yang masuk pada fase beracun dapat sembuh dalam kurun waktu 10-14 hari. 

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Bagaimana Mencegah Demam Kuning?

    Sahabat Sehat, untuk mencegah penyakit demam kuning dapat dilakukan dengan 2 cara yakni dengan mengendalikan jumlah nyamuk serta mengikuti vaksinasi untuk mencegah demam kuning. 

    1. Pengendalian vektor nyamuk, dapat dilakukan dengan:

    • Pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras, menutup dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas.
    • Pengendalian nyamuk secara biologi dengan menggunakan agen biologi
    • Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida kimia

    2. Pemberian vaksinasi demam kuning (yellow fever)

    Vaksinasi demam kuning harus dilakukan oleh pelaku perjalanan yang akan berpergian atau tinggal di negara atau wilayah endemis dan atau terjangkit KLB (Kejadian Luar Biasa) demam kuning. Vaksinasi dilakukan selambat-lambatnya 10 hari sebelum keberangkatan.

    Perjalanan haji merupakan perjalanan yang dilakukan oleh umat muslim seluruh dunia ke Arab Saudi yaitu ke Mekkah-Madinah untuk melakukan ibadah haji. Pada tahun 1987 dan 2000 terjadi kejadian luar biasa meningitis meningokokus yang menimpa para jemaah haji di Arab Saudi. Untuk itu, diperlukan sekali pencegahan berupa vaksinasi meningitis dan demam kuning yang bertujuan untuk melindungi turis atau Jemaah haji yang akan berangkat ke daerah endemis.

    Baca Juga: Mari Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi

    Vaksin Demam Kuning

    Vaksinasi adalah cara paling utama untuk mencegah terjadinya demam kuning dan beberapa negara bahkan mewajibkan para turis untuk melakukan vaksinasi sebelum keberangkatan. Oleh karena itu, jika memiliki rencana ke luar negri, wajib untuk berkonsultasi mengenai vaksinasi apa saja yang wajib dilakukan. Satu dosis paling tidak akan melindungi selama 10 tahun.

    Pemberian vaksinasi dilakukan sebanyak 1 dosis (sebanyak 0,5 ml), setelah 7 hingga 10 hari akan terbentuk antibodi atau kekebalan tubuh. Pemberian vaksinasi ulangan dilakukan pada orang dengan pertimbangan teknis medis tertentu seperti wanita yang hamil saat pertama kali divaksinasi, penerima transplantasi stem cell saat melakukan vaksinasi, pelaku perjalanan atau turis, penderita HIV, dan bagi mereka yang vaksinasi demam kuning terakhirnya sudah 10 tahun lalu.

    Baca Juga: Mata Kuning Sebagai Gejala Hepatitis A, Kenali Lebih Jauh Penyakit Ini

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai tips mencegah demam kuning sebelum bepergian. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. Demam Kuning Yellow Fever.
    2. Soebrata A. Mengenal Penyakit Yellow Fever.
    3. Lewaherilla N, Maitimu F, Niani C. MODEL PENYEBARAN PENYAKIT MENINGITIS PADA MUSIM HAJI DI MADINAH DAN MEKKAH. BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan. 2017;11(1):55-62. 
    4. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. Demam Kuning.
    Read More
  • Melahirkan bayi yang sehat dan segera pulih setelah melahirkan tentu menjadi harapan semua ibu hamil. Namun sayangnya ada beberapa kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin, salah satunya adalah preeklampsia. Setidaknya, ada sekitar 10 hingga 15 % kasus preeklampsia beresiko menyebabkan kematian pada ibu hamil. Oleh sebab itu, penting bagi ibu hamil untuk […]

    Preeklampsia Saat Hamil, Bumil Waspadai Gejalanya!

    Melahirkan bayi yang sehat dan segera pulih setelah melahirkan tentu menjadi harapan semua ibu hamil. Namun sayangnya ada beberapa kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin, salah satunya adalah preeklampsia. Setidaknya, ada sekitar 10 hingga 15 % kasus preeklampsia beresiko menyebabkan kematian pada ibu hamil.

    Oleh sebab itu, penting bagi ibu hamil untuk mengenali gejala preeklampsia sejak dini untuk mencegah risiko komplikasi yang lebih parah. Sahabat Sehat, apa saja gejala preeklampsia ? Mari simak penjelasan berikut.

    Preeklampsia Saat Hamil, Bumil Waspadai Gejalanya!

    Preeklampsia Saat Hamil, Bumil Waspadai Gejalanya!

    Apa Itu Preeklampsia?

    Preeklampsia adalah gangguan pada pembuluh darah yang terjadi pada usia kehamilan 20 minggu keatas dan biasanya terjadi hingga 4-6 minggu pasca persalinan. Penyebab preeklampsia secara umum, yaitu adanya gangguan aliran darah ke rahim, gangguan sistem kekebalan tubuh, faktor genetik, kerusakan pembuluh darah, gangguan kekebalan tubuh, maupun diet.

    Faktor Risiko Preeklampsia

    Sahabat Sehat, resiko preeklampsia meningkat apabila memiliki beberapa faktor risiko berikut:

    • Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya.
    • Risiko preeklampsia semakin tinggi terjadi pada wanita yang baru pertama kali hamil.
    • Ibu hamil memiliki berat badan berlebih.
    • Ibu yang mengandung janin kembar. 
    • Jarak antar kehamilan yang kurang dari dua tahun atau lebih dari 10 tahun 
    • Riwayat penyakit tertentu. misalnya migrain, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, diabetes tipe 1 atau 2, gangguan pembekuan darah, hingga gangguan sistem kekebalan tubuh.
    • Ibu hamil dengan usia di bawah 20 tahun atau berusia lebih dari 40 tahun
    • Riwayat keluarga ada yang pernah mengalami preeklampsia, diabetes, obesitas, atau kehamilan kembar. 

    Dengan mengenali gejala preeklampsia dan rutin melakukan pemeriksaan selama masa kehamilan dapat membantu Sahabat Sehat dan janin terhindar dari preeklampsia.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Gejala Preeklampsia

    Selain pembengkakan dan peningkatan cairan dalam tubuh (edema), tekanan darah yang meningkat, serta terdeteksinya protein dalam urin, berikut adalah gejala preeklampsia yang perlu Sahabat Sehat ketahui:

    • Berat badan bertambah akibat cairan tubuh yang meningkat 
    • Sakit kepala
    • Gangguan fungsi hati
    • Sakit perut
    • Mual atau muntah
    • Kadar trombosit dalam darah menurun (trombositopenia)
    • Sesak napas akibat paru-paru yang dipenuhi cairan
    • Buang air kecil lebih sedikit atau tidak sama sekali
    • Penglihatan berubah seperti kedipan lampu, floaters, atau penglihatan kabur

    Tidak semua ibu hamil yang menderita preeklampsia memiliki gejala, maka sangat dianjurkan agar Sahabat Sehat rutin melakukan pemeriksaan kesehatan selama hamil.

    Baca Juga: Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Bagaimana Cara Mencegah Preeklampsia?

    Untuk mencegah preeklampsia, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai pemeriksaan tersebut di rumah:

    1. Mengatur pola diet yang tepat
      Batasi asupan garam selama hamil untuk menurunkan resiko hipertensi selama masa kehamilan. Perbanyak konsumsi buah, sayur, serta susu selama masa kehamilan untuk mencukupi kebutuhan gizi ibu dan janin.
    2. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
      Antenatal care atau disebut juga sebagai pemeriksaan kesehatan selama hamil, perlu dilakukan secara rutin agar dapat mendeteksi tanda preeklampsia sedini mungkin sehingga dapat segera diberikan penanganan guna mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah.
    3. Terapkan pola hidup sehat
      Selama hamil, Sahabat Sehat dianjurkan beristirahat yang cukup agar stamina tetap baik. Lakukan berbagai olahraga khusus ibu hamil, seperti yoga, senam ibu hamil, dan ikuti kelas olahraga khusus ibu hamil agar menjaga tubuh ibu tetap aktif.

    Baca Juga: Kenali Dampak Diabetes Saat Hamil Bagi Kondisi Janin

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai preeklampsia yang merupakan salah satu penyakit yang kerap dialami ibu hamil. Untuk mendeteksi dini preeklampsia, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. WebMD. Preeclampsia.
    2. Mayo Clinic. Preeclampsia.
    3. Lim K. Preeclampsia: Practice Essentials, Overview, Pathophysiology.
    4. National Health Service. Pre-eclampsia.
    5. American Pregnancy Association. Preeclampsia.
    Read More
  • Pneumonia atau disebut juga paru-paru basah, adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi tersebut menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) disalah satu atau kedua paru. Pada pasien yang mengalami pneumonia, alveoli dipenuhi oleh cairan, lendir atau nanah akibat infeksi sehingga menyebabkan pasien tersebut sulit untuk bernapas. Faktor Risiko dan Penyebab Pneumonia Pneumonia bisa menimpa […]

    Benarkah Perokok Berisiko Menderita Pneumonia?

    Pneumonia atau disebut juga paru-paru basah, adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi tersebut menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) disalah satu atau kedua paru. Pada pasien yang mengalami pneumonia, alveoli dipenuhi oleh cairan, lendir atau nanah akibat infeksi sehingga menyebabkan pasien tersebut sulit untuk bernapas.

    Benarkah Perokok Berisiko Menderita Pneumonia

    Benarkah Perokok Berisiko Menderita Pneumonia

    Faktor Risiko dan Penyebab Pneumonia

    Pneumonia bisa menimpa siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Meskipun begitu, penyakit paru-paru basah ini sangat rentan menyerang anak-anak dan juga lansia, terutama yang sedang mengidap penyakit paru-paru kronis. Berikut adalah kelompok orang yang termasuk dalam kategori beresiko menderita pneumonia:

    • Perokok aktif
    • Memiliki riwayat stroke
    • Bayi berusia 0-2 tahun dan lansia diatas 65 tahun
    • Penggunaan obat-obatan tertentu yang menyebabkan masalah pada sistem imun, seperti penggunaan steroid, mengkonsumsi antibiotik dalam jangka panjang
    • Memiliki riwayat asma, gagal jantung, diabetes, HIV/AIDS, cystic fibrosis dan penyakit kronis lainnya
    • Sedang menjalani pengobatan anti kanker kemoterapi. Pengobatan kemoterapi dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi virus, bakteri dan jamur.
    • Pneumonia juga bisa disebabkan oleh infeksi virus SARS-COV-2 atau yang dikenal dengan corona virus, penyebab infeksi Covid-19.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apakah Perokok Beresiko Menderita Pneumonia?

    Merokok dapat menyebabkan Community Acquired Pneumonia (CAP) dan Invasive Pneumococcal Disease. Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, perokok pasif lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kombinasi asap rokok dari asap yang keluar dari perokok aktif dan juga asap yang dihembuskan dari perokok aktif. Asap yang terpapar pada perokok pasif mengandung lebih dari 7000 kandungan bahan kimia.

    Berikut ini perubahan pada tubuh yang dapat terjadi akibat merokok:

    • Perubahan Struktur Organ Pernafasan
      Sifat kimia asap rokok menyebabkan stress oksidatif pada manusia dan perubahan sel paru-paru sebagai respon peradangan yang disebabkan oleh bahan kimia pada rokok. Terjadi perubahan struktural pada saluran pernapasan seperti peradangan dan penurunan fungsi saluran nafas.
    • Penurunan Respon Imun Non Spesifik
      Rokok merupakan salah satu polutan berupa gas yang mengandung bahan kimia antara lain nikotin, karbon monoksida, tar dan lainnya. Asap rokok dapat mempengaruhi respon imun non spesifik, salah satunya adalah makrofag alveolar yang berperan penting dalam respon peradangan pada saluran pernapasan dan paru.
    • Perubahan Fungsi Sistem Kekebalan Seluler dan Humoral
      Merokok berkaitan dengan perubahan sistem kekebalan seluler dan humoral. Perubahan ini meliputi penurunan kadar immunoglobulin, penurunan respon antibodi terhadap antigen tertentu seperti penurunan jumlah limfosit CD4+, peningkatan jumlah limfosit CD8+, penurunan aktivitas fagosit dan pelepasan sitokin proinflamasi.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Mencegah Pneumonia Dengan Imunisasi Pneumonia

    Pneumonia dapat dicegah dengan pemberian imunisasi pneumonia. Berikut ini beberapa jenis vaksin pneumonia:

    1. Pneumococcal Conjugate Vaccine 13 (PCV 13)
    Melindungi tubuh dari 13 jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin ini diberikan untuk bayi, anak-anak dan juga dewasa yang memiliki resiko terkena infeksi pneumonia.

    2. Pneumococcal Polysaccharide Vaccine 23 (PPSV 23)
    Vaksin tipe ini melindungi tubuh dari 23 jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin PPSV 23 diberikan untuk lansia, dewasa dan anak berusia lebih dari 2 tahun. Selain itu, vaksin ini dapat diberikan untuk Sahabat Sehat yang memiliki kebiasaan merokok.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh
    : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Adiputra D. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas.
    3. Arcavi L, Benowitz N. Cigarette Smoking and Infection. Archives of Internal Medicine, 164(20), p.2206.
    4. Lung. Preventing Pneumonia.
    5. Tobacco In Australia. 3.9 Increased susceptibility to infection in smokers – Tobacco in Australia.
    Read More
  • Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai baik pada anak maupun dewasa. Batuk dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, salah satunya akibat Covid-19. Sebagian besar batuk dapat hilang dengan sendirinya, namun Mama perlu waspada apabila batuk Si Kecil sulit sembuh karena dikhawatirkan mengalami batuk rejan. Sahabat Sehat, apa itu penyakit batuk rejan dan […]

    Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai baik pada anak maupun dewasa. Batuk dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit, salah satunya akibat Covid-19.

    Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Sebagian besar batuk dapat hilang dengan sendirinya, namun Mama perlu waspada apabila batuk Si Kecil sulit sembuh karena dikhawatirkan mengalami batuk rejan. Sahabat Sehat, apa itu penyakit batuk rejan dan mengapa harus diwaspadai? 

    Apa Itu Batuk Rejan?

    Batuk rejan atau nama lainnya adalah pertusis merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis.2,3  Pada tahun 2018, terdapat 151.000 kasus batuk rejan di seluruh dunia yang dicatat oleh World Health Organization (WHO).

    Batuk rejan sangat mudah untuk menular, dan berbahaya bagi si Kecil karena dapat mengakibatkan sakit berat hingga kematian. Penyakit ini menular melalui cipratan air liur atau droplet dari penderita batuk rejan.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Gejala Batuk Rejan

    Tanda dan gejala dari batuk rejan pertama kali timbul setelah 5-10 hari terpapar bakteri pertusis. Beberapa tanda dan gejala dari batuk rejan adalah sebagai berikut:

    • Batuk
    • Demam ringan – sedang
    • Hidung mampet
    • Kelelahan
    • Sulit bernapas

    Sesuai dengan nama penyakit ini, batuk merupakan ciri khas dari penyakit batuk rejan. Batuk dapat dideskripsikan sangat keras dan tidak berhenti, bahkan bisa menyebabkan sulit bernapas hingga muntah. Keluhan batuk ini terjadi karena bakteri pertusis menginfeksi dinding saluran nafas.

    Bakteri tersebut kemudian mengeluarkan racun yang membuat penderita batuk.5 Hal ini dapat menyebabkan sulit bernafas dan komplikasi lainnya. Batuk rejan juga sangat menular hingga 3 minggu sejak mengeluhkan batuk pertama. Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan melakukan pemeriksaan secara langsung serta pemeriksaan lanjutan seperti tes laboratorium, dan lainnya.

    Baca Juga: 5 Cara Mencegah Flu dan Batuk yang Terbukti Secara Medis

    Tips Mencegah Batuk Rejan

    Mencegah lebih baik dari pada mengobati, oleh sebab itu Sahabat Sehat dianjurkan menerapkan berbagai hal berikut di rumah untuk mencegah batuk rejan:

    • Pastikan Si Kecil menggunakan masker dan menjaga jarak dari penderita yang sedang batuk.
    • Mencuci tangan dengan rutin untuk membunuh bakteri yang mungkin ada di tangan.
    • Memberikan imunisasi DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus) yang dapat mencegah pertusis. Imunisasi DPT dapat diberikan saat Si Kecil berusia 2, 3, dan 4 bulan.
    • Menerapkan pola hidup sehat, seperti mengkonsumsi buah dan sayur untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai batuk sulit sembuh yang diakibatkan oleh batuk rejan. Apabila si Kecil menderita beberapa tanda dan gejala batuk rejan yang disebutkan diatas, kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Anak Batuk Pilek, Apakah Tetap Boleh Divaksin COVID-19?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Coronavirus.
    2. Center of Disease Control and Prevention. Whooping Cough (Pertussis).
    3. World Health Organization. Pertussis.
    4. Topics H. Whooping Cough Symptoms.
    5. Lauria A, Zabbo C. Pertussis.
    6. Melbourne T. Clinical Practice Guidelines : Whooping cough (pertussis).
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com