Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Berita Terkini

Showing 1–10 of 234 results

  • Lebih dari 17 juta orang di Indonesia mengalami gangguan tiroid, dan hampir 60% pejuang tiroid hidup tanpa tahu sebenarnya memiliki gangguan tiroid. Padahal gangguan tiroid dapat menyebabkan masalah pada metabolisme tubuh yang dapat membahayakan tubuh dan jiwa pejuang tiroid. Menyadari hal ini, Pita Tosca Indonesia hadir sebagai wadah dan komunitas bagi pejuang tiroid di Indonesia. […]

    Press Release: Kerjasama Pita Tosca Indonesia dan ProSehat

    Lebih dari 17 juta orang di Indonesia mengalami gangguan tiroid, dan hampir 60% pejuang tiroid hidup tanpa tahu sebenarnya memiliki gangguan tiroid. Padahal gangguan tiroid dapat menyebabkan masalah pada metabolisme tubuh yang dapat membahayakan tubuh dan jiwa pejuang tiroid.

    Menyadari hal ini, Pita Tosca Indonesia hadir sebagai wadah dan komunitas bagi pejuang tiroid di Indonesia. Pita Tosca Indonesia memiliki visi misi untuk mengedukasi berbagai pihak mengenai tiroid, memberikan pendampingan, serta mensosialisasikan kesadaran perihal gangguan tiroid.

    Visi dan misi dari Pita Tosca Indonesia ini sejalan dengan ProSehat yang ingin masyarakat semakin mudah mendapatkan edukasi yang lengkap dan terpercaya mengenai gangguan tiroid. Oleh sebab itu, Pita Tosca Indonesia dan ProSehat akhirnya menjalin kerjasama.

    Kerjasama yang disepakati pada tanggal 27 Januari 2021 antara Pita Tosca Indonesia dengan Prosehat, diharapkan akan membantu dan memudahkan masyarakat (khususnya pejuang tiroid dan pendamping) untuk mendapatkan akses informasi kesehatan mengenai gangguan tiroid.

    Dukungan ProSehat bagi Komunitas Tiroid Pita Tosca Indonesia

    Adapun detail kerjasama antara Pita Tosca Indonesia dengan ProSehat meliputi penyediaan konten edukasi, infografis tambahan terkait gangguan tiroid, penyediaan telekonsultasi dokter, dan sosialisasi gangguan tiroid kepada penderita, pendamping, serta masyarakat umum. Selain itu, konten-konten infografis yang telah diterbitkan oleh Pita Tosca Indonesia terkait dengan gangguan tiroid akan ditampilkan juga dalam laman Tiropedia.

    ProSehat juga mendukung Pita Tosca Indonesia dengan menyediakan berbagai artikel edukasi dan infografis edukasi tiroid. Artikel edukasi tersebut ditulis oleh dokter-dokter dan thyroid educator di Pita Tosca Indonesia yang memiliki kompetensi dalam bidang penanganan dan pendampingan gangguan tiroid. Untuk membaca artikel edukasi dan infografis tiroid ini dapat dengan mengunjungi tautan https://tiropedia.pitatosca.org/.

    Berkat kerja sama ini, lebih dari 2.000 pejuang tiroid yang terbantu melalui konten-konten edukasi dan 240 pejuang tiroid telah mengakses layanan telekonsultasi dokter yang memudahkan pejuang tiroid maupun pendamping untuk lebih memahami gangguan tiroid. Layanan telekonsultasi ini tersedia melalui platform chat konsultasi dokter di Tiropedia.

    Kedepannya, diharapkan kerjasama ini akan semakin kuat dan mampu menjadi sarana yang memberikan lebih banyak manfaat bagi pejuang tiroid, pendamping, maupun masyarakat umum.

    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Peningkatan kasus Omicron menjadi perhatian serius. Pemerintahpun membuat persiapan untuk menghadapi gelombang 3 covid di Indonesia. Hal ini senada dengan epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono yang mengungkapkan bahwa peningkatan kasus penularan virus Covid-19 varian Omicron di Indonesia berpotensi memicu gelombang ketiga Covid-19. […]

    Persiapan untuk Menghadapi Gelombang 3 Covid di Indonesia

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Persiapan Pencegahan dalam Menghadapi Gelombang ke 3 Covid Varian Omicron di Indonesia

    Peningkatan kasus Omicron menjadi perhatian serius. Pemerintahpun membuat persiapan untuk menghadapi gelombang 3 covid di Indonesia. Hal ini senada dengan epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono yang mengungkapkan bahwa peningkatan kasus penularan virus Covid-19 varian Omicron di Indonesia berpotensi memicu gelombang ketiga Covid-19.

    Kekhawatiran ini muncul mengingat sifat varian Omicron yang diketahui lebih cepat menyebar dibanding varian Covid-19 yang ada sebelumnya. Miko juga menyebutkan bahwa berdasarkan lonjakan kasus yang terjadi saat ini, kemungkinan gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi pada awal tahun 2022. Tanpa Omicron pun potensi gelombang ketiga Covid-19 akan tetap ada, apalagi dengan munculnya varian Omicron. 

    Prediksi Gelombang 3 Covid-19 di Jakarta

    Menurut Miko, kemungkinan akan ada sekitar 5.000 kasus harian yang ditemukan di Indonesia saat gelombang ketiga Covid-19 terjadi. Dari angka tersebut, DKI Jakarta diprediksi bisa menyumbang sepertiga atau sekitar 1.500 – 2.000 kasus per harinya. 

    Prediksi ini sewaktu-waktu dapat terjadi apabila pemerintah pusat, terutama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak segera mengambil tindakan tegas dalam menekan penularan virus corona ini. Apalagi Pemprov DKI diketahui malah melonggarkan aktivitas masyarakat, seperti mulai memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) hingga 100 % di sekolah-sekolah.

    Dengan adanya potensi gelombang ketiga Covid-19, Miko menyarankan agar pengetatan kegiatan masyarakat kembali diberlakukan. Untuk saat ini, wilayah Depok dan Bogor telah diminta untuk menunda PTM karena status wilayahnya yang turun menjadi PPKM Level 2. Sedangkan wilayah DKI Jakarta sedang dalam tahap pengajuan. 

    Omicron Meluas, Kasus Aktif Bertambah

    Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengungkapkan bahwa kasus penularan Omicron di Jakarta mengalami lonjakan, dari sebelumnya berjumlah 407 sekarang naik menjadi 414 kasus. Peningkatan kasus aktif Covid-19 di Jakarta ini dipengaruhi oleh penularan varian Omicron yang semakin masif. 

    Kasus aktif Covid-19 sendiri di Jakarta hingga 10 Januari 2022 telah menyentuh angka 2.129, mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari angka 1.874 di hari sebelumnya. Jika diakumulasikan, kasus Covid-19 di Jakarta kini berjumlah 867.662 kasus, dengan rincian 851.944 pasien sembuh, 13.589 meninggal dunia, serta 2.129 pasien masih dalam perawatan. 

    Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktaviani, mengaku kesulitan dalam mendeteksi orang yang terpapar Omicron karena gejala yang ditimbulkan relatif ringan. Oleh karena itu, orang yang terpapar varian omicron sering kali tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi dan berpotensi menularkan ke orang lain.

    Persiapan Menghadapi Gelombang ke 3 Covid

    Berkaca pada banyak negara, Menteri Kesehatan Budi Gunadi menyebutkan bahwa kasus Omicron akan lebih cepat berkembang dibanding varian Covid-19 lainnya. Meski demikian, kenaikan transmisi Omicron yang lebih pesat ini tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit. Sehingga strategi kemenkes RI akan mengalami perubahan fokus, jika sebelumnya ke rumah sakit kini berfokus ke rumah, sehingga rumah sakit tidak lagi dipenuhi banyak orang. 

    Budi juga menegaskan, bahwa dalam menghadapi gelombang varian Omicron ini masyarakat tak perlu panik karena pemerintah telah menyiapkan diri dengan baik. Selain itu, meski dapat mengalami peningkatan yang cepat, gelombang Omicron ini juga mengalami penurunan yang cepat. Pertahanan diri yang paling penting adalah:

    • Menjaga protokol kesehatan,
    • Disiplin surveilans, serta
    • Mempercepat vaksinasi bagi yang belum mendapatkan vaksin

    Selain itu, sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam mencegah dan mengendalikan penularan varian Omicron, Kemenkes RI menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/1391/2021 tentang Pencegahan Pengendalian Kasus COVID-19 Varian Omicron (B. 1. 1.529) yang telah ditandatangani oleh Menteri Kesehatan pada 30 Desember 2021. 

    Berikut beberapa poin yang diambil dari SE No. HK.02.01-MENKES-1391-2021 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus COVID-19 Varian Omicron (B.1.1.529), diantaranya:

    Perkuat Sinergisme

    Memperkuat sinergisme antara pemerintahan pusat dengan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, SDM Kesehatan dan para pemangku kepentingan lainnya sekaligus menyamakan persepsi dalam penatalaksanaan pasien konfirmasi Covid-19.

    Meningkatkan Kegiatan 3T

    Mendorong pemerintahan daerah dalam memperkuat kegiatan 3T (Testing, Tracing, Treatment), aktif memantau apabila ditemukan cluster-cluster baru Covid-19 dan segera melaporkannya serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat jika menemukan kasus konfirmasi Omicron di wilayahnya.

    Pastikan untuk melakukan swab secara berkala untuk menekan penyebaran covid-19. Jika Sahabat Sehat tidak sempat ke klinik, manfaatkan layanan swab ke rumah ataupun ke kantor dari Prosehat.

    Cek: Layanan Pemeriksaan Covid-19 Prosehat

    Kesiapan Prasarana Kesehatan

    Meningkatkan kesiapan dalam segi sarana dan prasarana kesehatan, seperti menyiapkan dosis penguat atau vaksin booster untuk masyarakat. 

    Disiplin Protokol Kesehatan

    Selain itu, kewaspadaan individu juga perlu ditingkatkan dalam menghindari potensi penularan Omicron. Disiplin protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi juga sangat penting dalam melindungi diri dan orang sekitar dari penularan Omicron.

    Lihat Juga: Jangan Sepelekan Manfaat Masker selama Pandemi

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai persiapan gelombang 3 covid yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi gelombang 3 Covid-19 varian Omicron. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti pemeriksaan Covid-19, imunisasi, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. 

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Septiani A. Waduh, RI Bakal Hadapi Gelombang Omicron! Catat Ini Pesan Menkes
    2. Sehat Negeriku. Kasus Konfirmasi Terus Meningkat, Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Pencegahan
    3. Media Kompas. Penularan Omicron Makin Meluas
    4. Satuan Tugas Covid-19. Surat Edaran Nomor HK.02.01/Menkes/1391/2021 – Regulasi
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Menurut WHO, ada beberapa masker yang dapat disebut sebagai masker terbaik cegah Corona. Terutama jika masker digunakan dengan benar. Karena sebagus apapun masker yang digunakan, jika dipakai secara sembarangan maka akan berisiko mempermudah infeksi Covid-19. Jumlah kasus Covid-19 varian Omicron di DKI Jakarta telah […]

    4 Jenis Masker Terbaik untuk Cegah Corona Varian Omicron

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Menurut WHO, ada beberapa masker yang dapat disebut sebagai masker terbaik cegah Corona. Terutama jika masker digunakan dengan benar. Karena sebagus apapun masker yang digunakan, jika dipakai secara sembarangan maka akan berisiko mempermudah infeksi Covid-19.

    Jumlah kasus Covid-19 varian Omicron di DKI Jakarta telah menyentuh angka 333 kasus per Sabtu (8/1/2022). Hal ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia. Data tersebut diambil berdasarkan lokasinya, dimana 97 kasus didominasi oleh pelaku perjalanan luar negeri yang berada di Provinsi DKI Jakarta. 

    Dengan demikian, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia menghimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap penularan virus Corona, khususnya varian Omicron. Varian ini dinilai lebih cepat menyebar dibandingkan dengan varian Covid-19 yang sudah ada sebelumnya.

    Transmisi Lokal Omicron RI Jadi 50 Kasus

    Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi juga mengonfirmasi, bahwa hingga kini jumlah penularan atau transmisi lokal Omicron di Indonesia telah mencapai 50 kasus. 

    Total kasus tersebut didominasi oleh import case pelaku perjalanan luar negeri dari Jakarta, Surabaya, Bandung. Selain ketiga wilayah tersebut, sejumlah daerah lain yang berpotensi menjadi sumber penularan varian Omicron adalah Medan dan Bali. 

    Kasus yang paling banyak ditemukan berasal dari Turki dan Arab Saudi. Selain itu, 4,3 persen kasus memiliki komorbid, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Sementara, satu persen kasus lainnya membutuhkan terapi oksigen.

    Lihat Juga: Cara Mengajari Anak Agar Mau Pakai Masker dengan Baik dan Benar

    Meski sebagian besar kasus diimpor pelaku perjalanan luar negeri, tetapi enam diantaranya berasal dari dalam negeri. Artinya, masyarakat harus lebih patuh terhadap protokol kesehatan yang berlaku. Terlebih, saat ini masyarakat sudah mulai lengah dalam menggunakan masker, bahkan tidak menggunakan masker di keramaian. 

    Jenis Masker Terbaik Cegah Corona Menurut WHO

    Tidak seperti sebelumnya, saat ini masyarakat sudah tidak lagi kesulitan dalam menemukan jenis masker untuk digunakan. Namun perlu diingat, bahwa hanya ada beberapa jenis masker yang disarankan. Berikut beberapa jenis masker yang direkomendasikan oleh ahli dalam melindungi diri dan meminimalisir penyebaran Covid-19, termasuk varian Omicron:

    Masker Kain

    Masker Kain dari Katun dengan 3 Memiliki Tingkat Efektifitas yang Baik Cegah Covid-19

    Selama masker kain yang digunakan memiliki ukuran yang pas dan terbuat dari bahan yang mampu menyaring partikel kecil, masker tersebut diyakini dapat memberikan perlindungan. 

    Masker kain yang efektif memberikan perlindungan yaitu masker yang memiliki dua lapisan kapas yang ditenun rapat dengan lapisan ketiga kain non anyaman. Lapisan ketiga tersebut dapat berupa sisipan filter masker atau kain sintetis seperti polipropilen. 

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penggunaan masker kain dinilai mampu melindungi diri dari virus Covid-19 asalkan telah memenuhi standarisasi berikut:

    • Memiliki dua lapisan atau lebih bahan
    • Dapat melindungi hidung dan mulut dengan baik
    • Pas di wajah tanpa ada celah
    • Dilengkapi dengan kawat hidung untuk mencegah udara yang masuk dari bagian atas masker. 

    Masker Bedah

    Masker Bedah atau Masker Medis Banyak Digunakan oleh Para Dokter

    Masker bedah dapat memblokir virus corona melalui karakteristik muatan elektrostatik polipropilen. Masker bedah merupakan masker medis sekali pakai dan longgar yang mampu menutupi area hidung, mulut, dan dagu yang biasanya digunakan untuk: 

    • Melindungi diri dari semprotan, percikan, dan tetesan partikel besar.
    • Mencegah terjadinya transmisi sekresi pernapasan yang berpotensi menular dari pemakainya ke orang lain. 

    Masker bedah yang dijual dipasaran memiliki berbagai variasi desain, namun umumnya masker ini berbentuk persegi panjang dan datar dengan beberapa lipatan horizontal. Bagian masker bedah dilengkapi dengan strip logam yang dapat dibentuk menyesuaikan bentuk hidung pemakainya.

    Masker N95

    Seorang Wanita Menggunakan Masker KN95 yang Menjadi Pilihan Terbaik untuk Cegah Corona Varian Omicron

    Untuk mencegah penularan Covid-19, masyarakat juga dipersilahkan untuk menggunakan masker N95 sekali pakai. Namun, masker N95 yang berlabel khusus “bedah” diprioritaskan untuk petugas kesehatan. 

    Hal ini karena Masker N95 memiliki jaring serat yang lebih rapat daripada masker bedah dan jenis masker lainnya dengan karakteristik muatan elektrostatik, yang memungkinkan masker untuk berfungsi lebih efisien dalam memblokir partikel yang dihirup dan dihembuskan pemakainya.

    Beberapa hal yang perlu diketahui dalam menggunakan masker N95:

    • Dapat menyaring hingga 95% partikel di udara.
    • Tersegel dengan erat ke wajah saat dipasang dengan benar.
    • Anda mungkin akan merasa lebih sulit untuk bernapas jika belum terbiasa
    • Masker N95 adalah masker sekali pakai
    • Masker N95 tidak dapat dicuci
    • Masker N95 harus dibuang saat sudah kotor, rusak, atau sulit bernapas.
    • Harga masker N95 cenderung lebih mahal dibanding masker lainnya

    Sebagai masker yang sangat direkomendasikan oleh WHO dan menjadi salah satu masker terbaik cegah corona, masker KN95 memang harganya lebih mahal. Namun efektifitasnya tidak perlu diragukan lagi.

    Reusable Facepiece Respirator

    Dokter dengan Reusable Facepiece Respirator Lebih Aman dari Risiko Infeksi Covid

    Masker terbaik cegah corona selanjutnya adalah reusable facepiece respirator. Ini adalah jenis masker yang oleh WHO disebut memiliki tingkat keefektifan lebih baik dari N95, terutama untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Namun keefektifannya ini sangat tergantung pada kualitas dan jenis filter yang digunakan pada masker reusable facepece respirator ini.

    Masker reusable facepiece respirator ini dapat menyaring partikel kecil sampai yang berbentuk gas. Maka dari itu, masker ini menjadi rekomendasi bagi mereka yang riskan dan rentan terkena Covid-19. Misalnya para tenaga kesehatan.

    Reusable facepiece respirator bisa digunakan ulang selama filternya masih layak pakai dan masih berfungsi dengan baik. Meski demikian, harga masker ini cukup tinggi.

    Jika di atas adalah masker yang direkomendasikan dan disebut sebagai masker terbaik cegah corona, ternyata ada juga masker yang tidak direkomendasikan. Bahkan tidak dianggap menggunakan masker jika menggunakan masker yang tidak direkomendasikan tersebut ke tempat umum.

    Jenis Masker yang Perlu Dihindari

    Pastikan hanya menggunakan masker yang benar-benar dapat membantu menekan penyebaran infeksi Covid, terutama varian omicron yang lebih menyebar dan menular. Berikut sejumlah jenis masker yang harus dihindari penggunaannya, antara lain:

    Masker Katup

    Masker Katup Bukan Hanya Membahayakan Pengguna Namun Juga Orang Di Sekitarnya

    Masker jenis ini sangat berbahaya dan tidak disarankan dipakai selama pandemi, sebab dapat menulari orang sekitar. Hembusan pemakai dapat keluar tanpa terfilter sepenuhnya saat menggunakan masker katup. Oleh karena itu, penderita Covid-19 dilarang menggunakan masker ini karena bisa membahayakan orang lain.

    Masker Kain Bukan Katun

    Masker dari Bahan Non Katun Kurang Baik dalam Menahan Partikel Virus

    Masker kain dapat dikategorikan aman apabila setidaknya memiliki tiga lapisan yang terbuat dari bahan katun. Ini karena bahan katun memiliki serat yang rapat. Sedangkan, masker kain yang tidak terbuat dari katun umumnya tidak memiliki pori-pori yang rapat layaknya bahan katun, sehingga sangat tidak disarankan karena dapat berbahaya bagi pemakainya. 

    Masker Buff

    Masker Buff Beserta Masker Scuba Dilarang Karena Kurang Efektif Cegah Covid

    Masker buff adalah jenis masker yang paling tidak efektif karena ketidakmampuannya dalam menahan droplet saat pemakainya berbicara. Masker yang banyak dipakai oleh pengendara motor ini berpotensi tinggi  dalam menularkan Covid-19 karena tidak dapat menyaring droplet. Bahkan, masker ini bisa menjadi lebih berbahaya lagi karena dapat memecah droplet menjadi partikel yang lebih kecil. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa rekomendasi masker terbaik cegah corona, terutama varian Omicron. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan yang dapat mendukung kekebalan imun agar tidak mudah terjangkit Covid, segera manfaatkan layanan Prosehat. Pesan multivitamin dan produk lainnya yang Sahabat Sehat butuhkan.

    Pesan Multivitamin untuk Meningkatkan Imun Tubuh Sekarang

    Referensi:

    1. Varadifa H. Kasus Omicron di RI Bertambah 2x Lipat, Ini Jenis Masker yang Disarankan Ahli
    2. Ramadhanty R. Transmisi Lokal Omicron RI Jadi 50 Kasus, Ini Beda Gejala dengan Flu Biasa
    3. CNN Indonesia. Kasus Omicron di Indonesia Bertambah, DKI Paling Banyak
    4. Media Kompas. Kasus Covid-19 Varian Omicron di Jakarta Bertambah Jadi 333, Warga Diminta Waspada
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica C Kemenkes telah bekerja sama dengan 17 platform, salah satunya Prosehat, untuk memberikan layanan telemedicine bagi penderita Omicron. Layanan telemedicine ini meliputi jasa konsultasi dokter dan jasa pengiriman obat secara gratis bagi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah untuk mempercepat proses kesembuhan. Hal ini diputuskan seiring dengan […]

    Menkes: Pasien Omicron Tak Perlu Ke RS, Cukup Telemedicine

    Ditulis oleh : dr. Monica C

    Kemenkes Memberikan Layanan Telemedicine Agar Pasien Omicron Tidak Perlu Perawatan ke Rumah Sakit

    Kemenkes telah bekerja sama dengan 17 platform, salah satunya Prosehat, untuk memberikan layanan telemedicine bagi penderita Omicron. Layanan telemedicine ini meliputi jasa konsultasi dokter dan jasa pengiriman obat secara gratis bagi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah untuk mempercepat proses kesembuhan. Hal ini diputuskan seiring dengan meningkatnya angka Covid-19 disertai terdeteksinya kasus varian Omicron.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan bahwa penderita Covid-19 varian Omicron tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit sebab mayoritas penderita nya memiliki gejala ringan dan tidak bergejala. Sehingga pasien hanya perlu menjalani isolasi mandiri di rumah serta mengkonsumsi  vitamin dan obat-obatan. 

    “Kenaikan transmisi Omicron akan jauh lebih tinggi daripada Delta, tetapi yang dirawat lebih sedikit. Sehingga strategi layanan dari Kemenkes dari yang sebelumnya ke RS sekarang fokusnya ke rumah. Karena akan banyak yang terinfeksi namun tidak perlu ke RS,” tutur Menteri Kesehatan, Budi Gunawan Sadikin pada siaran pers di Jakarta, Senin (10/1/2022).

    Mayoritas Kasus Omicron Bergejala Ringan

    Adapun Menkes Budi Gunadi mengungkapkan bahwa dari total 414 kasus terkonfirmasi varian Omicron, 99 % kasus bergejala ringan dan bahkan banyak yang tanpa gejala. Sementara itu, diketahui hanya 2 kasus varian Omicron yang termasuk dalam kategori sedang dan membutuhkan perawatan oksigen, yakni penderita yang berusia 58 tahun dan 47 tahun.

    Lihat Juga: Gejala Omicron Mirip Flu Biasa

    Keduanya dilaporkan memiliki penyakit penyerta (komorbid) dan kini telah dinyatakan sembuh. Dari 414 orang yang dirawat, 114 orang atau sebanyak 26 % kasus telah sembuh termasuk kedua pasien yang sebelumnya termasuk dalam kategori sedang dan butuh perawatan oksigen.

    Vaksinasi Covid-19 Dipercepat

    Dalam upaya menghadapi gelombang Covid-19 varian Omicron, Pemerintah juga  mempercepat vaksinasi Covid-19 terutama bagi daerah yang cakupan vaksinasi dosis pertamanya belum mencapai 70% yakni Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua.

    Kelima daerah tersebut didorong untuk terus meningkatkan laju vaksinasi agar semakin cepat terbentuknya daya tahan tubuh terhadap Covid-19. Dengan demikian masyarakat bisa terlindungi dari ancaman penularan Covid-19.

    “Kita akan menghadapi gelombang dari Omicron, jangan panik, kita sudah menyiapkan diri dengan baik. Pengalaman menunjukkan walaupun naiknya cepat, tapi gelombang Omicron ini turunnya juga cepat. Yang penting jaga prokes, disiplin melakukan surveilans dan percepat vaksinasi bagi yang belum dapat vaksinasi,” tutur Menkes Budi Gunadi.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai kasus Covid-19 varian Omicron yang meningkat di Indonesia serta himbauan Pemerintah untuk memanfaatkan fasilitas konsultasi dengan dokter secara online agar tetap mendapatkan penanganan di tengah masa pandemi.

    Untuk anda yang membutuhkan produk dan layanan terkait Covid-19, silahkan cek: Produk dan Layanan Terkait Covid dari ProSehat

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti imunisasi, multivitamin, pemeriksaan Covid-19, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:
    Kompas TV. Menkes Budi Gunadi: Pasien Konfirmasi Omicron Tak Butuh Perawatan RS, Cukup Telemedicine

    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D Ditinjau oleh : dr. Monica C Israel telah mengkonfirmasi kasus Flurona pertama. Kasus ini merujuk pada seseorang yang terinfeksi flu dan Covid-19 secara bersamaan. Flurona pertama kali terdeteksi pada seorang wanita hamil yang belum melakukan vaksinasi Covid-19. Saat ini, wanita tersebut mengalami gejala yang ringan dan dirawat di […]

    Bisakah Mencegah Flurona dengan Vaksin Flu? Ini Jawabannya

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Flurona Dapat Dicegah Jika Sudah Vaksin Flu dan Vaksin Covid

    Israel telah mengkonfirmasi kasus Flurona pertama. Kasus ini merujuk pada seseorang yang terinfeksi flu dan Covid-19 secara bersamaan. Flurona pertama kali terdeteksi pada seorang wanita hamil yang belum melakukan vaksinasi Covid-19. Saat ini, wanita tersebut mengalami gejala yang ringan dan dirawat di rumah Sakit Beilinson du Petah Tikva Israel.

    Ketua Satgas COVID-19, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Zubairi Djoerban memaparkan yang perlu diketahui dari Flurona adalah ini bukan varian baru dari COVID-19.2  Sangat sulit bagi tenaga kesehatan dan peneliti untuk menentukan gejala khusus yang dialami bila seseorang terkena Flurona, karena gejalanya hampir sama.

    Sahabat Sehat, apakah yang dimaksud dengan Flurona? Mari simak penjelasan berikut.

    Bagaimana Seseorang Dapat Menderita Flurona?

    Influenza dan COVID-19 dapat ditularkan melalui cipratan air liur penderita nya. Menurut Centers of Disease Control and Prevention, seseorang dapat dengan mudah terpapar kedua jenis virus ini secara bersamaan sebab ketika seseorang terinfeksi influenza dapat menurunkan sistem imun turun yang berimbas pada meningkatnya resiko terinfeksi Covid-19.

    Lihat Juga: Infeksi Covid yang Disertai Infeksi Flu

    Virus Covid-19 memiliki virulensi yang lebih besar bila dibandingkan dengan infeksi virus influenza, dengan infeksi paru-paru dan kerusakan paru-paru dan juga tingkat kematiannya. Para peneliti mengatakan bahwa infeksi influenza dan Covid-19 secara bersamaan dikaitkan dengan peningkatan rawat inap dan juga tingkat kematiannya.

    Dalam salah satu penelitian yang dilakukan pada tahun 2021, diketahui bahwa virus influenza AH1N1 adalah salah satu virus yang paling sering terdeteksi pada penderita Covid-19 di Arab Saudi. Diketahui sebanyak 2 per 3 pasien kritis Covid-19 meninggal akibat infeksi bersamaan antara Covid-19 dan influenza A H1N1. 

    Salah satu penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan menunjukan bahwa dengan masuknya virus influenza di dalam tubuh dapat memudahkan virus Covid-19 menyebar dalam tubuh. Reseptor ACE-2 merupakan salah satu reseptor yang digunakan virus Covid-19 untuk masuk ke dalam tubuh, dan diketahui bahwa jumlahnya meningkat sebagai respon terhadap masuknya virus influenza.

    Gejala yang Ditimbulkan

    Covid-19 memiliki gejala yang mirip dengan flu. Bedanya Covid-19 cenderung menyebabkan keparahan. Namun demikian, tetap saja ada beberapa perbedaan gejala antara Covid dengan flu. Selain itu, Flurona juga memiliki gejala yang perlu diwaspadai. Lihat Juga: Gejala Omicron Mirip Flu Biasa

    Gejala Covid-19

    Sahabat Sehat, berikut adalah gejala Covid-19 yang paling umum :

    • Demam
    • Batuk kering
    • Kelelahan
    • Kehilangan kemampuan indera penciuman dan pengecap rasa

    Gejala Covid-19 yang tidak terlalu umum :

    • Nyeri otot dan persendian
    • Sakit tenggorokan
    • Diare
    • Konjungtivitis atau peradangan pada mata
    • Sakit kepala
    • Ruam pada kulit atau perubahan warna pada jari tangan dan kaki

    Gejala Covid-19 yang serius, yakni :

    • Napas pendek hingga sulit bernapas
    • Nyeri dada
    • Kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak

    Sejumlah ahli mengungkapkan bahwa dengan melakukan vaksinasi Covid-19 dapat menurunkan keparahan penyakit.

    Gejala Flu

    Berikut ini gejala flu, yakni:

    • Demam
    • Nyeri otot
    • Kedinginan dan keringat
    • Sakit kepala
    • Batuk kering
    • Sesak nafas
    • Kelelahan
    • Hidung berair dan tersumbat
    • Sakit tenggorokan
    • Sakit mata.5

    Gejala Flurona

    Gejala Flurona merupakan gejala kombinasi antara Covid-19 dan Flu yang kurang lebih hampir sama. Namun apabila seseorang menderita Flurona, dikhawatirkan gejalanya akan lebih parah yaitu kemungkinan terjadinya peradangan paru (pneumonia), dan infeksi otot jantung (Miokarditis) yang dapat menyebabkan kematian.

    Cara Pencegahan Flurona

    Saat ini banyak sekali pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat, termasuk salah satunya adalah vaksinasi Covid-19 dan vaksin Influenza. Selain itu, Sahabat Sehat dapat melakukan berbagai hal berikut:

    • Menggunakan masker 
    • Menghindari kontak dekat dengan orang sakit
    • Menjaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter atau 6 kaki
    • Menghindari keramaian di ruangan yang berventilasi buruk
    • Menerapkan etika batuk dan bersin
    • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
    • Membersihkan dan mendesinfeksi permukaan atau benda yang mungkin sering dipegang dan terkontaminasi virus penyebab flu atau Covid-19.

    Lantas apakah flurona bisa dicegah dengan vaksin influenza?

    Berdasarkan penelitian sejauh ini, seseorang yang sudah menerima vaksin flu dan vaksin covid akan kecil risikonya mengalami gejala parah saat terpapar kedua jenis virus tersebut. Meski demikian, vaksin tidak boleh berdiri sendiri. Artinya, untuk mencegah Flurona tidak bisa hanya dengan vaksin flu saja, atau hanya dengan vaksin covid saja.

    Oleh sebab itu, pastikan untuk menerima vaksin covid dan juga mengambil vaksinasi flu. Untuk mendapatkan vaksinasi flu terdekat, silahkan gunakan layanan berikut ini: Layanan Vaksin Flu ke Rumah

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai Flurona yang merupakan infeksi bersamaan influenza dan Covid-19. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan produk kesehatan seperti imunisasi, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. 

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. CNBC Indonesia. Kasus Pertama Flurona di Dunia Dari Israel
    2. CNN Indonesia. Kenali Gejala Flu dan Covid-19, Antisipasi Flurona
    3. Strick K. Flurona: what we know so far about the rare new double infection
    4. Miller K. COVID-19 and flu co-infection isn’t common, but doctors say more cases could be coming
    5. Stacey M. Flurona: Yes, you can get COVID-19 and flu at the same time
    6. Walker M. ‘Flurona’: When you’re hit with double whammy infections of flu

     

    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica C Pasien Covid varian Omicron pada umumnya merasa bahwa gejala Omicron mirip dengan flu biasa. Namun sebenarnya ada beberapa perbedaan. Terutama dari sisi keparahan gejala dan dampaknya pada penderita. Oleh sebab itu, penderita perlu mengetahui dirinya hanya terkena flu atau justru telah terinfeksi […]

    Gejala Omicron Mirip Flu Biasa, Tapi Sebenarnya Berbeda!

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Karena Sangat Mirip Maka Harus Bisa Membedakan Gejala Omicron dengan Flu Biasa

    Pasien Covid varian Omicron pada umumnya merasa bahwa gejala Omicron mirip dengan flu biasa. Namun sebenarnya ada beberapa perbedaan. Terutama dari sisi keparahan gejala dan dampaknya pada penderita. Oleh sebab itu, penderita perlu mengetahui dirinya hanya terkena flu atau justru telah terinfeksi Omicron.

    Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 varian Omicron di Indonesia masih didominasi oleh WNI yang baru saja kembali dari perjalanan luar negri. Berdasarkan update kasus konfirmasi Omicron, Kemenkes mencatat ada 92 kasus konfirmasi baru pada 4 Januari 2021. Kini total kasus Omicron menjadi 254 kasus, 239 diantaranya dari pelaku perjalanan Internasional.1

    Seperti yang diketahui bahwa varian Omicron memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan varian Delta. Sejak ditemukan pertama kali pada tanggal 24 November 2021 di Afrika Selatan, kini Omicron telah terdeteksi lebih dari 110 negara dan diperkirakan akan terus meluas.1 Pada tanggal 26 November 2021, Badan kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menggolongkan varian Omicron atau B.1.1.529 sebagai varian of concern.2

    Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Omicron

    Para peneliti di Afrika Selatan dan di seluruh dunia sedang melakukan penelitian lebih dalam lagi untuk memahami banyak aspek Omicron sebagai varian baru saat ini. Beberapa hal yang menjadi pusat perhatian mengenai Omicron antara lain:

    Penularan Omicron

    Belum dapat dipastikan apakah varian Omicron lebih mudah menular (misalnya, lebih mudah menyebar dari orang ke orang) dibandingkan dengan varian lainnya, termasuk varian Delta. Saat ini masih dilakukan di wilayah Afrika Selatan untuk memahami apakah peningkatan COVID-19 di Afrika Selatan memang disebabkan oleh varian Omicron.

    Tingkat keparahan Penyakit

    Belum jelas apakah infeksi Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan dengan infeksi varian lainnya, termasuk delta. Data awal menunjukkan bahwa adanya peningkatan angka rawat inap di Afrika Selatan, tetapi ini mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah keseluruhan pasien yang terinfeksi Covid-19, bukan akibat infeksi spesifik Omicron.

    Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dengan varian lainnya. Infeksi awal dilaporkan terjadi di antara mahasiswa, individu yang lebih muda yang cenderung memiliki gejala yang lebih ringan.

    Gejala Varian Omicron

    Bukti awal menunjukkan bahwa sebagian orang yang sudah divaksin dan terinfeksi varian omicron, maka mengakibatkan gejala yang sangat ringan menyerupai gejala flu biasa. Berikut ini gejala omicron yang dialami pasien:

    • Batuk
    • Kelelahan
    • Hidung tersumbat dan pilek
    • Tidak ada gejala hilang indra perasa atau pembau seperti gejala dari varian Delta
    • Nyeri tenggorokan
    • Nyeri kepala
    • Bersin-bersin.3-5

    Beda Gejala Omicron dengan Flu Biasa

    Banyak penderita Covid varian Omicron mengeluhkan gejala seperti flu. Bahkan banyak yang tidak merasakan gejala apapun. Hal ini menyebabkan seringkali penderita tidak tahu bahwa dirinya bukan sekedar flu, namun sedang terjangkit Covid-19 varian Omicron.

    Berikut ini adalah gejala flu yang umum juga dialami oleh mereka yang terinfeksi Omicron:

    • Demam
    • Nyeri otot
    • Kedinginan dan keringat
    • Sakit kepala
    • Batuk kering
    • Sesak nafas
    • Kelelahan dan kelemahan
    • Hidung berair dan tersumbat
    • Sakit tenggorokan
    • Sakit mata

    Lihat Juga: 6 Cara Mencegah Batuk Pilek

    Para ahli mengungkapkan bahwa flu biasa dan varian virus Corona Omicron berbeda dalam hal tingkat keparahannya. Orang biasanya sembuh dari flu biasa dalam 7-10 hari, dan infeksi umumnya tidak memerlukan perhatian medis. Di satu sisi lainnya, Omicron dapat menyebabkan komplikasi penyakit yang lebih serius.

    Oleh sebab itu, untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19, sangat dianjurkan ketika mengalami gejala-gejala seperti flu di atas untuk segera melakukan pemeriksaan Covid, menjaga jarak dengan orang sekitar, dan senantiasa menggunakan masker.

    Nah Sahabat Sehat itulah mengenai bedanya gejala omicron dengan flu biasa yang walaupun tampak mirip namun dampaknya berbeda. Untuk mencegah terinfeksi Covid-19, tetap terapkan protokol kesehatan dan mengikuti program vaksinasi Covid-19 dari Pemerintah.

    Referensi:

    1. Media Indonesia. Kasus Covid-19 Varian Omicron di Indonesia Didominasi Pelaku Perjalanan Luar Negeri
    2. World Health Organization. Update on Omicron
    3. Edwards E. Omicron symptoms: What we know about illness caused by the new variant
    4. Rahaman S, Wadhera C, Sommerlad J. What are the symptoms of Omicron variant?
    5. Pantony A, Morgan L. As Omicron symptoms appear to be similar to those of a common cold
    6. Sadeghi M. Fact check: Omicron coronavirus variant is not the common cold
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica C Kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk membuka sekolah tatap muka semester genap mulai hari ini, Senin (3/1/2022). Kebijakan ini diambil berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri pada tanggal 21 Desember Nomor 05/KB/2021, Nomor 1347 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/6678/2021, Nomor 443-5847 Tahun […]

    Rekomendasi IDAI Seputar Anak Mulai Sekolah Tatap Muka 2022

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Rekomendasi IDAI Perihal Sekolah Tatap Muka 2022 untuk Menjaga Kesehatan Anak dalam Pelajaran di Sekolah

    Kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk membuka sekolah tatap muka semester genap mulai hari ini, Senin (3/1/2022). Kebijakan ini diambil berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri pada tanggal 21 Desember Nomor 05/KB/2021, Nomor 1347 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/6678/2021, Nomor 443-5847 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

    Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan bahwa pembelajaran tatap muka (PTM) akan dilaksanakan setiap hari dengan jumlah peserta didik mencapai 100% dari kapasitas ruang kelas dan durasi belajar maksimal 6 jam pelajaran per hari. 

    Namun terkait kebijakan tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan rekomendasi sebagai syarat PTM di Indonesia. Rekomendasi ini diterbitkan dengan mempertimbangkan adanya temuan kasus varian baru SARS-CoV-2 B.1.1592 atau Omicron yang hingga kini telah mencapai ratusan kasus.

    Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso menghimbau agar pelaksanaan PTM dilaksanakan saat guru dan petugas sekolah telah 100% rampung menerima vaksin Covid-19. Selain itu, IDAI juga tidak merekomendasikan anak usia di bawah 6 tahun untuk melakukan pembelajaran tatap muka hingga dinyatakan tidak ada kasus baru atau tidak ada peningkatan kasus baru. 

    Namun, sebagai gantinya sekolah dapat memberikan pembelajaran sinkronisasi dan asinkronisasi dengan melakukan metode daring yang melibatkan masing-masing orang tua. Adapun aturan lengkap rekomendasi IDAI dalam pelaksanaan PTM sebagai berikut:

    Vaksinasi

    IDAI merekomendasikan seluruh guru dan petugas sekolah harus sudah menerima vaksinasi Covid-19 tanpa terkecuali, sebelum membuka pembelajaran tatap muka. Selain itu, anak yang diperbolehkan masuk sekolah adalah anak yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 lengkap sebanyak 2 kali dan tanpa komorbid.

    Protokol Kesehatan

    IDAI menekankan pihak sekolah untuk memperketat protokol kesehatan, terutama:

    • Penggunaan masker wajib bagi seluruh civitas sekolah.
    • Ketersediaan fasilitas cuci tangan.
    • Mencuci tangan. 
    • Menjaga jarak.
    • Tidak makan bersamaan.
    • Memastikan sirkulasi udara terjaga.
    • Mengaktifkan skrining setiap hari untuk anak, guru, petugas sekolah dan keluarganya yang memiliki gejala suspek Covid-19. 

    Pembelajaran untuk anak 12 – 18 tahun 

    Pembelajaran tatap muka hanya dapat dilakukan 100% dalam kondisi berikut:

    • Kasus Covid-19 tidak lagi menunjukan peningkatan di daerah tersebut. 
    • Tidak ditemukan kasus transmisi lokal Omicron di daerah tersebut. 

    Selain itu, pembelajaran tatap muka dapat dilakukan dengan metode hybrid (50% luring, 50% daring) dalam kondisi berikut:

    • Masih ditemukan kasus Covid-19, namun angka positivity rate dibawah 8%. 
    • Ditemukan transmisi lokal Omicron yang masih dapat dikendalikan penyebarannya. 
    • Anak, guru, dan petugas sekolah yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 100 persen.

    Pembelajaran untuk anak usia 6 – 11 tahun

    Proses pembelajaran tatap muka dapat dilakukan dengan metode hybrid (50% luring, 50% daring) dalam kondisi berikut:

    • Kasus Covid-19 tidak lagi menunjukan peningkatan di daerah tersebut. 
    • Tidak ditemukan kasus transmisi lokal Omicron di daerah tersebut. 

    Sementara itu, pembelajaran tatap muka dapat dilakukan dengan metode hybrid (50% daring, 50% luring outdoor), dengan kondisi berikut:

    • Masih ditemukan kasus Covid-19, namun angka positivity rate dibawah 8%. 
    • Ditemukan transmisi lokal Omicron yang masih dapat dikendalikan penyebarannya. 
    • Fasilitas outdoor yang direkomendasikan adalah halaman sekolah, pusat olahraga, taman, dan ruang publik terpadu yang ramah anak. 

    Pembelajaran untuk anak di bawah usia 6 tahun

    Menurut IDAI, golongan ini belum dianjurkan melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah sampai dinyatakan tidak ada lagi kasus baru Covid-19 atau tidak ada peningkatan kasus baru. 

    Sebagai gantinya, sekolah dapat memberikan pembelajaran sinkronisasi dan asinkronisasi metode daring dengan melibatkan orang tua di rumah dalam kegiatan outdoor. Sekolah dapat melakukan kegiatan kreatif seperti mengaktifkan kembali permainan daerah di rumah, misalnya:

    • Melakukan pembelajaran secara mandiri di tempat terbuka masing-masing keluarga dengan menggunakan modul yang sesuai dengan yang diarahkan sekolah seperti aktivitas berkebun, eksplorasi alam, dan sejenisnya. 
    • Rekomendasi tempat bermain dapat menyesuaikan dengan rekomendasi IDAI.

    Penyakit Komorbid 

    Anak yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan dapat melakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu. Komorbiditas anak meliputi:

    • Diabetes melitus
    • Penyakit ginjal kronik
    • Penyakit autoimun
    • Penyakit paru kronis
    • Obesitas
    • Hipertensi
    • Dan lainnya.

    Lengkapi Imunisasi Si Kecil

    Masyarakat dihimbau untuk segera melengkapi imunisasi anak usia 6 tahun ke atas. Menurut IDAI, anak dinilai telah mendapatkan perlindungan dari Covid-19 melalui imunisasi jika telah mendapatkan dua dosis lengkap dan proteksi dinyatakan cukup efektif setelah 2 minggu pasca penyuntikan imunisasi terakhir. 

    Pembelajaran Tidak Boleh Ada Paksaan

    IDAI meminta pihak sekolah dan pemerintah untuk memberikan kebebasan kepada orang tua dan keluarga murid untuk memilih metode pembelajaran yang dilakukan, tatap muka atau daring dan tidak boleh ada paksaan.

    Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah bagi anak yang melakukan pembelajaran daring, sekolah dan pemerintah harus menjamin ketersediaan fasilitas dalam proses pembelajaran daring. Dalam mengeluarkan rekomendasi tersebut, IDAI telah mempertimbangkan hal-hal berikut:

    • Sudah ditemukan varian Covid-19 Omicron di Indonesia.
    • Menganalisa data di negara lain, yakni Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Afrika terkait peningkatan kasus Covid-19 pada anak dalam beberapa minggu terakhir. Sebagian besar kasus anak yang sakit adalah anak yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19.
    • Kebijakan pembelajaran tatap muka.
    • Telah diaplikasikan beberapa inovasi metode pembelajaran oleh kementerian Pendidikan dan kebudayaan.
    • Pentingnya proses Pendidikan anak usia sekolah. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia mengenai sekolah tatap muka di tahun 2022. Jika Sahabat Sehat membutuhkan pemeriksaan laboratorium, multivitamin, obat-obatan, maupun produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia terkait Pembelajaran Tatap Muka di Masa Pandemi COVID-19 pemutakhiran 2 Januari 2022 [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia; [cited 2022 Jan 03].
    2. Kompas. Rekomendasi IDAI soal Pelaksanaan Sekolah Tatap Muka 2022 [Internet]. Indonesia : Kompas; [cited 2022 Jan 03].
    3. CNN Indonesia. Rekomendasi IDAI soal Pelaksanaan PTM di Tengah Ancaman Omicron [Internet]. Indonesia : CNN Indonesia; [cited 2022 Jan 03].
    Read More
  • Kementerian Kesehatan Indonesia secara resmi telah mengumumkan adanya kasus transmisi lokal varian Omicron di tanah air. Dari total 68 kasus terkonfirmasi saat ini, mayoritasnya adalah pelaku perjalanan luar negeri atau imported case. Kasus pertama varian Omicron berasal dari WNI yang baru tiba dari Nigeria pada 27 November 2021. Menyusul setelahnya, pasien N yang menjadi kasus […]

    Omicron Meluas, Pemerintah Larang Pesta Malam Tahun Baru

    Kementerian Kesehatan Indonesia secara resmi telah mengumumkan adanya kasus transmisi lokal varian Omicron di tanah air. Dari total 68 kasus terkonfirmasi saat ini, mayoritasnya adalah pelaku perjalanan luar negeri atau imported case.

    Perayaan Tahun Baru di Tempat Publik di Malam Tahun Baru Resmi Dilarang untuk Cegah Omicron

    Kasus pertama varian Omicron berasal dari WNI yang baru tiba dari Nigeria pada 27 November 2021. Menyusul setelahnya, pasien N yang menjadi kasus Omicron pertama di Indonesia, ia tidak melakukan perjalanan luar negeri. N tertular di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, tempat WNI dari Nigeria di karantina. Kedua kasus transmisi lokal ini masih terjadi di lingkungan yang terisolasi. Sementara itu, Kemenkes juga tidak memungkiri adanya kemungkinan transmisi lokal di tempat lain.  

    Transmisi Omicron, Pemerintah Larang Pesta Tahun Baru

    Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, penularan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia bukan lagi transmisi lokal, tapi sudah meluas menjadi transmisi komunitas. Ia menduga sebaran kasus Omicron ini sudah berada di transmisi lingkungan sekitar, namun belum terdeteksi oleh pemerintah karena tes whole genome sequences yang masih minim di Indonesia. Artinya, Omicron telah menyebar di dalam negeri dan sudah tidak terdeteksi lagi sumber penularannya. 

    Temuan kasus Omicron ini perlu disikapi serius oleh pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Ahli Kesehatan Prof Ari Fahrial Syam juga menghimbau kepada masyarakat dan pemerintah untuk mulai melakukan upaya pencegahan sedari sekarang. 

    Salah satu langkah yang diambil pemerintah daerah dalam mencegah meluasnya Omicron di Indonesia adalah dengan mengumumkan larangan pesta atau acara tahun baru serta penutupan tempat-tempat rekreasi pada malam tahun baru. 

    Lanjutnya, ia juga mengatakan bahwa Bupati Bogor, Jawa Barat bersama dengan Polres setempat telah lebih dulu mengeluarkan pengumuman pelarangan tersebut dan akan diperluas waktunya. 

    Upaya Pencegahan Omicron Meluas

    Untuk mencegah meluasnya Omicron, pemerintah memutuskan melarang pesta tahun baru. Khususnya yang menimbulkan kerumunan di area publik. Selain pelarangan pesta malam tahun baru, Pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk melakukan beberapa upaya pencegahan lainnya guna menekan kasus Omicron meluas di tanah air, yakni:

    1. Masyarakat memperketat prokes, gunakan masker dengan baik dan benar sesuai anjuran Kemenkes, karena masker mampu mencegah penularan atau tertular.
    2. Hindari kerumunan, meminimalkan mobilitas di luar rumah, dan menunda berangkat ke luar negeri, terutama ke negara dengan jumlah kasus Omicron tinggi.
    3. Mempercepat pelaksanaan vaksinasi.
    4. Pemerintah pusat memperketat penjagaan pintu masuk Indonesia.
    5. Karantina 10 hari untuk semua yang datang ke Indonesia dengan tetap konsisten tanpa tebang pilih.
    6. Peningkatan sekuensing, terutama untuk kasus positif yang masuk ke Indonesia, lab dengan fasilitas NGS di-support pengadaan reagennya.
    7. Semua stakeholder yang terkait pemeriksaan PCR  harus upgrade agar kemampuan pemeriksaan PCR juga dapat mendeteksi Omicron dengan menggunakan primer yang mencangkup spike gene (S-gen) target failure (SGTF).

    Dengan upaya tersebut, pemerintah menghimbau masyarakat untuk kompak bersinergi dalam berkontribusi guna mengendalikan penyebaran Omicron ini.

    Referensi:

    1. Media, K., 2021. Transmisi Lokal Omicron di Indonesia, Epidemiolog Sebut Berpotensi Picu Gelombang Ketiga saat Nataru. [online] KOMPAS
    2. Indonesia, C., 2021. Ahli Duga Kasus Omicron RI Bukan Lagi Transmisi Lokal tapi Komunitas. [online] nasional.
    3. Media, K., 2021. Satu Kasus Varian Omicron Transmisi Lokal, IDI: Pemeriksaan WGS Harus Dipercepat Halaman all – Kompas
    Read More
  • Ditulis Oleh: dr. Jesica Chintia Dewi Pada hari selasa lalu tanggal 28 Desember 2021, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmidzi mengumumkan satu kasus transmisi lokal varian baru Omicron di Jakarta.  Yang mengejutkan ternyata telah terjadi transmisi lokal omicron. Hal ini didasarkan riwayat perjalanan pasien beberapa bulan terakhir. Ya, pasien tidak […]

    Benarkah Sudah Ada Transmisi Lokal Omicron di Indonesia?

    Ditulis Oleh: dr. Jesica Chintia Dewi

    Cegah Transmisi Lokal Omicron di Indonesia dengan Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

    Cegah Transmisi Lokal Omicron di Indonesia dengan Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

    Pada hari selasa lalu tanggal 28 Desember 2021, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmidzi mengumumkan satu kasus transmisi lokal varian baru Omicron di Jakarta. 

    Yang mengejutkan ternyata telah terjadi transmisi lokal omicron. Hal ini didasarkan riwayat perjalanan pasien beberapa bulan terakhir. Ya, pasien tidak melakukan penerbangan ke luar negeri dalam beberapa bulan terakhir ataupun kontak dengan perjalanan luar negri.

    Riwayat Transmisi Lokal Omicron pada Pasien

    Diketahui pasien beserta istrinya tinggal di Medan dan kemudian secara rutin ke Jakarta sebulan sekali. Pada tanggal 6 Desember 2021 mereka tiba di Jakarta dan tanggal 17 Desember 2021 sempat mengunjungi salah satu mall di area SCBD Jakarta.

    Selanjutnya, pada tanggal 19 Desember 2021 mereka melakukan pemeriksaan antigen di Rumah Sakit Jakarta dengan tujuan sebagai syarat untuk kembali ke Medan. Pemeriksaan tersebut menunjukkan hasil positif COVID-19 pada pasien, sementara istrinya negative.

    Kemudian, pada tanggal 20 Desember 2021, setelah dilakukan pemeriksaan di Laboratorium GSI (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium) didapatkan konfirmasi Omicron pada tanggal 26 Desember 2021.

    Sebagai tindak lanjut, pasien diisolasi di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso (RSPI). Karena kasus ini merupakan kasus transmisi lokal omicron pertama di Indonesia, sehingga pengawasan dilakukan secara ketat oleh tenaga kesehatan.

    Saat ini pasien tidak memiliki gejala apapun namun karena pasien melakukan banyak aktivitas di Jakarta, maka saat ini tengah dilakukan tracing yang kontak erat dengan pasien selama 14 hari sebelum pasien dinyatakan positif.

    Namun, penyebaran varian baru ini ternyata cukup cepat, pasalnya per tanggal 29 Desember 2021, kasus varian Omicron sudah bertambah sebanyak 21 kasus menjadi total 68 kasus baru. Kasus tersebut merupakan imported cases yang berasal dari pelaku perjalanan dari negara Turki dan United Arab Emirates.

    Varian Omicron

    Varian baru COVID-19 yaitu Omicron atau varian B.1.1.529 pertama kali dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) pada tanggal 26 November 2021 berasal dari Afrika Selatan.

    CDC telah berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia untuk mempelajari tentang varian baru Omicron ini, sehingga belum diketahui seberapa tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya dan seberapa baik vaksin dan obat yang tersedia dapat bekerja untuk melawan infeksi virus COVID-19 varian Omicron ini.

    Penyebaran

    Varian Omicron ini kemungkinan akan lebih mudah menyebar dari pada virus SARS-COV-2 asli, namun seberapa mudah menyebar bila dibandingkan dengan varian Delta tentunya belum diketahui secara pasti. CDC menduga bahwa varian omicron ini mudah menyebar dan tetap dapat menginfeksi orang yang sudah divaksinasi walaupun tanpa adanya gejala.

    Tingkat Keparahan

    Diperlukan lebih banyak data untuk mengetahui apakah infeksi varian baru Omicron pada pasien re-infeksi COVID-19 atau infeksi omicron pada pasien yang telah divaksinasi menyebabkan keparahan penyakit atau kematian bila dibandingkan dengan infeksi varian SARS-CoV-2 yang lainnya.

    Vaksinasi Terhadap Varian Omicron

    Sampai saat ini, vaksin masih menjadi harapan untuk melindungi keparahan infeksi COVID-19, kemungkinan rawat inap dan menurunkan resiko kematian akibat infeksi Omicron. Munculnya Omicron baru-baru ini semakin menekankan bahwa pentingnya untuk dilakukan vaksinasi dan booster vaksinasi dengan tujuan menekan penyebaran varian Omicron.

    Gejala Spesifik Varian Omicron

    Beberapa sumber mengatakan bahwa varian omicron hampir tidak ada gejala, dan walaupun disertai dengan gejala, gejalanya akan ringan. Namun, karena varian Omicron merupakan varian baru, maka diperlukan penelitian lebih lanjut.

    Berikut ini gejala yang mungkin timbul :

    • Rasa gatal dan tidak nyaman di tenggorokan
    • Kelelahan yang ekstrim
    • Nyeri otot
    • Keringat pada malam hari
    • Batuk kering yang terus menerus
    • Ruam seperti biang keringat.

    Pencegahan Penyebaran Omicron

    Untuk mencegah penyebarn Omicron sebenarnya sama seperti pencegahan varian SARS-CoV-2 lainnya. Beberapa cara tersebut diantaranya adalah:

    Vaksinasi

    Vaksinasi cukup membantu untuk menekan atau memperlambat penyebaran virus sehingga menurunkan resiko terjadinya mutasi terhadap varian baru. Selain itu, Vaksin COVID-19 telah terbukti efektif untuk mencegah keparahan penyakit, resiko rawat inap sampai kematian.

    Protokol Kesehatan

    Tindakan yang paling membantu untuk mencegah penyebaran dan tertular varian Omicron ini yaitu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dengan tepat dan benar, menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter, usahakan jangan berada di ruangan tertutup terlalu lama, perhatikan sirkulasi udara atau ventilasi selama berada di dalam ruangan, mencuci tangan secara teratur.

    Demikian informasi seputar perkembangan transmisi lokal omicron di Indonesia. Semoga menjadi kesadaran untuk kita bersama agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Indonesia bisa melewati pandemi ini dengan baik.

    Referensi

    1. Sehat Negeriku. 2021. Kasus Transmisi Lokal Omicron Terdeteksi di Jakarta. [online]
    2. Ramadhanty, R., 2021. Kasus Omicron Indonesia Hari Ini Jadi 68, Ini Gejala yang Perlu Kamu Tahu. [online] detikHealth.
    3. Who.int. 2021. Classification of Omicron (B.1.1.529): SARS-CoV-2 Variant of Concern. [online]
    4. Centers for Disease Control and Prevention. 2021. Omicron Variant: What You Need to Know.
    5. Who.int. 2021. Update on Omicron. [online]
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher Ditinjau oleh : dr. Monica C Omicron bukan hanya lebih menular. Terdapat juga perbedaan gejala antara penderita covid varian omicron dengan penderita varian delta. Dengan mengetahui jenis covid yang sedang diderita berdasarkan gejala yang ditimbulkan, kita semua dapat memberikan dan menentukan penanganan yang tepat. Pastikan untuk tetap mematuhi protokol […]

    Beda Gejala Covid Varian Omicron dan Covid Varian Delta

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

    Menggunakan Data Beda Gejala Omicron dan Delta Hanyalah Pemeriksaan Dasar Karena Masih Perlu Pemeriksaan di Laboratorium PCR

    Omicron bukan hanya lebih menular. Terdapat juga perbedaan gejala antara penderita covid varian omicron dengan penderita varian delta. Dengan mengetahui jenis covid yang sedang diderita berdasarkan gejala yang ditimbulkan, kita semua dapat memberikan dan menentukan penanganan yang tepat.

    Pastikan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Dengan demikian, pandemi bisa lebih cepat berakhir. Apapun variannya, selama mematuhi protokol kesehatan, penularan Covid akan dapat ditekan.

    Penyebab Munculnya Varian Omicron

    Berbagai varian baru dari Covid-19 masih bermunculan hingga saat ini. Terdapat sebuah varian terbaru yang dinamakan varian Omicron yang dikatakan perlu diwaspadai oleh WHO. Lalu apakah perbedaan dari varian Omicron dengan varian Delta? Apakah tanda dan gejala dari varian tersebut? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut.

    Virus memerlukan sebuah induk untuk diinfeksi agar dapat bereplikasi, dan selama proses replikasi ini rentan terjadi mutasi. Apabila mutasi terjadi, maka timbul varian-varian yang baru dari sebelumnya. Hal ini yang menyebabkan adanya varian baru dari Covid-19. Banyaknya varian baru juga terjadi karena skala infeksi Covid-19 yang sangat luas hingga seluruh negara. Selain itu karena Covid-19 merupakan sebuah virus RNA, maka kemungkinan bermutasi-nya lebih tinggi dari jenis virus DNA.

    Covid-19 selama ini sudah memiliki berbagai macam varian. Salah satu varian terbaru yaitu varian Omicron pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Varian Omicron yang juga disebut sebagai varian B.1.1.529 dilaporkan pertama kali ke World Health Organization (WHO) dari Afrika Selatan pada 24 November 2021. Hingga saat ini varian Omicron sudah menyebar ke beberapa negara lain sehingga perbatasan penerbangan ditingkatkan oleh beberapa negara.

    Beda Gejala Omicron dan Delta

    Penularan varian Omicron lebih mudah dibandingkan varian covid lainnya. Namun masih belum diketahui perbandingannya dengan varian Delta. Untuk jalur penularannya sama dengan varian Covid-19 yang lain yaitu melalui droplet. Tanda dan gejala dari varian Omicron dinilai lebih ringan dibandingkan varian Delta oleh tenaga kesehatan dari Afrika Selatan. 

    Dari penemuan kasus di Afrika Selatan, didapatkan banyak pasien berusia muda yang datang dengan tanda dan gejala seperti leher gatal, pilek, dan tubuh terasa lemas. Tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai beda gejala omicron dan delta. Apalagi varian omicron ini masih tergolong sangat baru. Namun tetap ditakutkan orang yang rentan seperti lansia atau memiliki penyakit komorbid dapat menunjukan tanda dan gejala yang lebih berat jika terkena varian omicron.

    Beberapa gejala yang dapat dijumpai pada penderita Covid-19 varian Omicron, yakni:

    • Demam
    • Batuk
    • Sesak nafas
    • Lelah
    • Nyeri otot
    • Sakit kepala
    • Hilangnya penciuman
    • Nyeri tenggorokan
    • Pilek atau hidung mampet
    • Mual atau muntah
    • Diare

    Berdasarkan beberapa kasus omicron, penderita umumnya mengalami batuk kering. Sedangkan pada penderita covid varian delta, biasanya tidak disertai batuk kering. Namun kondisi ini bisa berbeda-beda pada setiap orang sehingga tidak bisa menjadi acuan yang baku.

    Pemeriksaan Covid-19 seperti PCR merupakan cara terbaik untuk mendeteksi varian covid yang sedang diderita. Namun untuk menentukan varian Covid-19 apakah yang menginfeksi, diperlukan pemeriksaan yang lebih kompleks. Sangat tidak disarankan untuk menentukan varian covid pada seseorang menggunakan metode melihat beda gejala omicron dan delta saja. Pastikan untuk melakukan pemeriksaan PCR untuk hasil yang lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Tips Mencegah Tertular Varian Omicron

    Efektivitas vaksin terhadap varian Omicron hingga saat ini masih diteliti, namun sangat disarankan untuk menyelesaikan dosis vaksinasi. Vaksin untuk Covid-19 sudah terbukti dapat menurunkan angka penularan dan juga mencegah terjadinya infeksi Covid-19 yang parah.

    Penyebaran Covid-19 masih berjalan hingga saat ini dan mungkin akan timbul varian-varian baru lainnya nanti. Meskipun natal dan tahun baru akan segera tiba, kita tetap harus menjaga protokol kesehatan dan tidak boleh lengah. Tetaplah lakukan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan untuk membantu menghentikan penyebaran Covid-19. 

    Bagi Sahabat Sehat yang belum divaksin atau belum menyelesaikan dosis vaksin, sangat disarankan untuk mendapatkan dosis vaksin yang lengkap karena sudah terbukti dapat menurunkan angka penularan dan juga mencegah terjadinya infeksi Covid-19 yang berat. Apabila Sahabat Sehat merasakan tanda atau gejala dari Covid-19, hubungilah fasilitas kesehatan terdekat.

    Nah Sahabat Sehat, itulah informasi mengenai beda gejala omicron dan delta yang kini tengah menyebar di berbagai negara. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan di rumah atau membutuhkan pemeriksaan Covid-19, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam. Informasi lebih lanjut, silakan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Satuan Tugas Penanganan COVID-19. Varian Omicron Terdeteksi, Presiden: Tetap Waspada dan Perketat Protokol Kesehatan [Internet]. Indonesia : Satuan Tugas Penanganan Covid-19. 2021 [cited 15 December 2021].
    2. Sanjuán R, Domingo P. Mechanisms of viral mutation. Cellular and Molecular Life Sciences. 2016;73(23):4433-4448.
    3. Cov-Lineages [Internet]. Cov-lineages.org. 2021 [cited 29 November 2021].
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Omicron Variant: What You Need to Know [Internet]. USA : Center for Disease Control and Prevention. 2021 [cited 15 December 2021].
    5. World Health Organization. Update on Omicron [Internet]. USA : World Health Organization. 2021 [cited 15 December 2021].
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Symptoms [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [cited 15 December 2021].
    Read More
Chat Dokter 24 Jam