Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 11–20 of 678 results

  • Setiap manusia pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan sejak masih dalam kandungan untuk melindungi diri dari penyakit. Meskipun begitu, sistem imun bayi belum bekerja seoptimal dan sekuat sistem imun orang dewasa sehingga mereka akan lebih gampang sakit. Di sinilah peran imunisasi untuk menjaga kesehatan bayi segera sejak baru lahir. Apakah imunisasi anak mom sudah lengkap? […]

    Kejar Vaksinasi #KamiSehat

    Setiap manusia pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan sejak masih dalam kandungan untuk melindungi diri dari penyakit. Meskipun begitu, sistem imun bayi belum bekerja seoptimal dan sekuat sistem imun orang dewasa sehingga mereka akan lebih gampang sakit. Di sinilah peran imunisasi untuk menjaga kesehatan bayi segera sejak baru lahir.

    Apakah imunisasi anak mom sudah lengkap? Ingat, imunisasi harus terus didapat si kecil semenjak baru lahir untuk mencegah risiko penularan penyakit berbahaya di kemudian hari. Sayang, masih banyak anak Indonesia yang tidak mendapat imunisasi lengkap karena orangtuanya takut akan mitos yang keliru di luar sana.

    Imunisasi  berarti memberikan vaksin (bakteri / virus hidup dilemahkan / mati, komponen) atau toksoid yang berfungsi untuk melindungi seseorang atau sekelompok masyarakat terhadap penyakit tertentu, atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu di dunia, seperti imunisasi cacar. Imunisasi merupakan intervensi yang paling  efektif dalam pencegahan berbagai penyakit infeksi.

    Agar terlindungi dari penyakit tersebut, seseorang harus mempunyai kekebalan tubuh dengan cara membentuk zat anti penyakit (antibodi) dengan kadar tertentu yang disebut kadar protektif (kadar zat anti penyakit yang dapat melindungi). Sehingga, agar mencapai kadar perlindungan tersebut, imunisasi harus diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan.

    Jadwal imunisasi terbagi atas jadwal imunisasi dasar dan jadwal imunisasi ulangan. Ada yang cukup satu kali imunisasi, ada yang memerlukan beberapa kali imunisasi dan bahkan pada umur tertentu diperlukan ulangan imunisasi. Jadwal imunisasi tersebut dibuat berdasarkan rekomendasi WHO dan organisasi profesi yang berkecimpung dalam imunisasi setelah melalui uji klinis.

    Oleh karena itu, jika ada imunisasi yang belum diberikan sesuai jadwal yang seharusnya, atau imunisasi tertunda, imunisasi harus secepatnya diberikan atau dikejar. Masalah yang paling umum dijumpai dalam praktek sehari-hari adalah imunisasi yang tidak sesuai dengan jadwal, terlambat, tidak lengkap atau belum imunisasi.

    Pemberian imunisasi yang tidak sesuai jadwal atau belum lengkap tersebut bukan merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Imunisasi yang telah diberikan sudah menghasilkan respon imunologis walaupun masih di bawah ambang kadar proteksi atau belum mencapai perlindungan untuk kurun waktu yang panjang (life long immunity) sehingga dokter tetap perlu melanjutkan dan melengkapi imunisasi (catch up immunization)  agar tercapai kadar perlindungan yang optimal.

    Hepatitis B

    Imunisasi hepatitis B idealnya diberikan sedini mungkin (<12 jam) setelah lahir, lalu dianjurkan pada jarak 4 minggu dari imunisasi pertama. Jarak imunisasi ke-3 dengan ke-2 minimal 2 bulan dan terbaik setelah 5 bulan. Apabila anak belum pernah mendapat imunisasi hepatitis B pada masa bayi, ia bisa mendapat serial imunisasi kapan saja saat berkunjung. Hal ini dapat dilakukan tanpa harus memeriksa kadar anti hepatitis B.

    Imunisasi BCG

    Imunisasi lain adalah imunisasi BCG. Indonesia saat ini merupakan negara ke-3 tertinggi di dunia untuk penyakit TBC, setelah India dan Tiongkok. Imunisasi BCG terbaik diberikan pada usia 2-3 bulan karena pada bayi usia <2 bulan sistem imun anak belum matang. Pemberian imunisasi penyokong (booster) tidak dianjurkan

    Imunisasi DPT

    Imunisasi DPT juga termasuk komitmen global dalam rangka eliminasi tetanus. Imunisasi DPT diberikan 3 kali sebagai imunisasi dasar, dilanjutkan dengan imunisasi ulangan 1 kali (interval 1 tahun setelah DPT 3). Pada usia 5 tahun, diberikan ulangan lagi (sebelum masuk sekolah) dan pada usia 12 tahun berupa imunisasi Td. Pada wanita, imunisasi TT perlu diberikan 1 kali sebelum menikah dan 1 kali pada ibu hamil, yang bertujuan untuk mencegah tetanus neonatorum (tetanus pada bayi baru lahir).

    Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, berapapun interval keterlambatannya, jangan mengulang dari awal, tetapi lanjutkan imunisasi sesuai jadwal. Bila anak belum pernah diimunisasi dasar pada usia <12 bulan, lakukan imunisasi sesuai imunisasi dasar baik jumlah maupun intervalnya. Bila pemberian DPT ke-4 sebelum ulang tahun ke-4, pemberian ke-5 paling cepat diberikan 6 bulan sesudahnya. Bila pemberian ke-4 setelah umur 4 tahun, pemberian ke-5 tidak diperlukan lagi.

    Imunisasi Polio

    Vaksin polio oral (OPV) diberikan saat lahir, usia 2, 4, 6, 18 bulan (atau usia 2, 3, 4 bulan sesuai program pemerintah), sedangkan untuk vaksin polio suntik (IPV) diberikan pada usia 2, 4, 6-18 bulan dan 6-8 tahun. Apabila imunisasi polio terlambat diberikan, jangan mengulang pemberiannya dari awal, tetapi lanjutkan dan lengkapi sesuai jadwal,  tidak peduli berapapun interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya.

    Imunisasi Campak

    Imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan dan dosis ulangan (second opportunity pada crash program campak) pada usia 6-59 bulan serta saat SD kelas 1-6. Terkadang, terdapat program PIN (Pekan Imunisasi Nasional) campak yang bertujuan sebagai penguatan (strengthening). Program ini bertujuan untuk mencakup sekitar 5 persen individu yang diperkirakan tidak memberikan respon imunitas yang baik saat diimunisasi dahulu. Bagi anak yang terlambat/belum mendapat imunisasi campak: bila saat itu anak berusia 9-12 bulan, berikan kapanpun saat bertemu. Bila anak berusia >1 tahun, berikan MMR.

    Imunisasi MMR

    Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan dengan minimal interval 6 bulan antara imunisasi campak dengan MMR.  MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau sesudah penyuntikan imunisasi lain. Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada usia 12-18 bulan dan diulang pada usia 6 tahun, imunisasi campak (monovalen) tambahan pada usia 6 tahun tidak perlu lagi diberikan. Bila imunisasi ulangan (booster) belum diberikan setelah berusia 6 tahun, berikan vaksin campak/MMR kapan saja saat bertemu. Pada prinsipnya, berikan imunisasi campak 2 kali atau MMR 2 kali.

    Imunisasi Haemophilus Influenza Tipe B (Hib)

    Imunisasi HiB dapat berupa vaksin PRP-T (konjugasi) diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dan diulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi. Apabila anak datang pada usia 1-5 tahun, HiB hanya diberikan 1 kali. Anak di atas usia 5 tahun tidak perlu diberikan karena penyakit ini hanya menyerang anak dibawah usia 5 tahun. Saat ini, imunisasi HiB telah telah masuk program pemerintah, yaitu vaksin Pentabio produksi Bio Farma, vaksin HiB diberikan bersama DPT, Hepatitis B.

    Imunisasi pneumokokus

    Imunisasi yang penting lainnya yaitu imunisasi Pneumokokus untuk mencegah infeksi kuman pneumokokus salah satu penyebab penting dari radang telinga, pneumonia, meningitis dan beredarnya bakteri dalam darah. Sayangnya, imunisasi ini belum masuk program pemerintah.Imunisasi pneumokokus diberikan tergantung usia pasien.

    Imunisasi rotavirus

    Angka kejadian kematian diare masih tinggi di Indonesia dan untuk mencegah diare karena rotavirus, digunakan vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus yang beredar di Indonesia saat ini ada 2 macam. Pertama Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis: pemberian pertama pada usia 6-14 minggu dan pemberian ke-2 setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosisi ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. Kedua, Rotarix diberikan 2 dosis: dosis pertama diberikan pada usia 10 minggu dan dosis kedua pada usia 14 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Apabila bayi belum diimunisasi pada usia lebih dari 6-8 bulan, maka tidak perlu diberikan karena belum ada studi keamanannya.

    Imunisasi influenza

    Vaksin influenza diberikan dengan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35 bulan cukup 0,25 mL. Anak usia >3 tahun, diberikan 0,5 mL. Pada anak berusia <8 tahun, untuk pemberian pertama kali diperlukan 2 dosis dengan interval minimal 4-6 minggu,sedangkan bila anak berusia >8 tahun, maka dosis pertama cukup 1 dosis saja.

    Imunisasi varisela

    Vaksin varisela (cacar air) diberikan pada usia >1 tahun, sebanyak 1 kali. Untuk anak berusia >13 tahun atau pada dewasa, diberikan 2 kali dengan interval 4-8 minggu. Apabila terlambat, berikan kapanpun saat pasien datang, karena imunisasi ini bisa diberikan sampai dewasa.

    Imunisasi Hepatitis A dan Typhoid

    Imunisasi hepatitis A dan tifoid diberikan pada usia lebih dari 2 tahun. Imunisasi hepatitis A diberikan sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan. Imunisasi tifoid diberikan pada usia lebih dari 2 tahun, dengan ulangan setiap 3 tahun. Vaksin tifoid merupakan vaksin polisakarida sehingga di atas usia 2 tahun.

    Imunisasi HPV

    Imunisasi HPV, pencegahan kanker mulut rahim yang diberikan pertama kali pada usia remaja awal, sebagai persiapan menuju masa dewasa dan kehamilan. Vaksin HPV diberikan sejak anak berusia 10 tahun, dapat diberikan hingga anak berusia 26 tahun. Vaksin ini bertujuan untuk mencegah kanker leher rahim. Kejadian kanker serviks di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan kanker payudara. Terdapat dua jenis vaksin HPV.

    Pertama, vaksin HPV bivalen (tipe 16 dan 18), yang diberikan pada 0, 1, dan 6 bulan. Kedua, vaksin HPV kuadrivalen (tipe 6, 11, 16, dan 18) diberikan pada 0, 2, dan 6 bulan, Pada masa remaja pertengahan, imunisasi diberikan pada remaja yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebelumnya, misalnya imunisasi hepatitis B, polio, MMR, varisela, hepatitis A, pnumokokus polisakarida, serta vaksin untuk remaja tertentu yang berisiko tinggi. Demikian juga, pada masa remaja akhir, semua jenis vaksin sudah harus dilengkapi pemberiannya. Imunisasi juga penting diberikan pada lansia untuk mengurangi terjadinya penyakit, khususnya influenza dan bakteri pneumokokus.

    Imunisasi sesuai Kelompok Umur

     

    jenis vaksin sesuai kelompok umur

    Kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan vaksinasi MMR bila anak tertinggal jadwal vaksinasinya?

    Pemberian vaksin MMR dapat langsung diberikan bila si kecil sehat 

    Apakah anak juga harus diberikan vaksin polio suntik?

    Sediaan vaksin polio ada yang oral (melalui tetes ke mulut) dan suntik. Sebenarnya pemilihan pemberian vaksin polio oral atau suntik tidak ada masalah, tetapi beberapa studi menganjurkan pemberian polio suntik satu kali pada anak.

    Imunisasi apa saja yg wajib dan disubsidi pemerintah utk anak balita?

    Imunisasi yang wajib dan disubsidi pemerintah antara lain Hepatitis B, BCG, DPT, polio, Hib, dan campak.

    Bila pemberian vaksinasi tidak sesuai anjuran tabel jadwal vaksinasi anak, apa yang harus dilakukan?

    Bila tidak sesuai dengan tabel, maka sebaiknya di catch up / kejar / segera dikerjakan untuk melengkapi imunisasi yg belum dikerjakan. Imunisasi PCV boleh segera dilanjutkan. Tidak ada efek samping.

    Mengapa pada anak usia 9 bulan vaksin yang dianjurkan diberikan terlebih dulu adalah MR bukan campak?

    Pada vaksin MR terkandung campak juga yaitu M untuk measles dan Rubella.Dengan vaksin MR sudah mencakup keduanya, jadi tidak perlu diberikan campak lagi. MR menimbulkan resiko demam yg lebih sedikit dibandingkan vaksin campak. Sedangkan bila diberikan vaksin campak saja, maka si kecil juga mesti diberikan vaksin MR.

    Apa anak yang diimunisasi DPT combo menggunakan infanrix hexa pada saat DPT 3 tetap mendapatkan imunisasi IPV yg terpisah?

    Pada vaksin infanrix Hexa terdapat DTaP-IPV-Hep B/Hib. Jadi, sudah terdapat kandungan IPVnya.

    Anak saya terlambat mendapatkan vaksinasi polio tetes, sehingga vaksinasi selanjutnya menggunakan infanrix hexa. Apakah anak saya tetap harus diberikan polio tetes?

    Tidak perlu lagi, dilanjutkan saja pemberian infanrix hexa.

    Imunisasi DT anak saya kurang 1 kali dosis, apakah tetap harus diberikan meskipun jeda dengan vaksinasi terakhir sudah 1 tahun?

    Sebaiknya dikerjakan ya agar lengkap. Pengulangan pemberian vaksin bertujuan untuk meningkatkan efek / efektivitas dari vaksin itu sendiri.

    Bila anak umur 9 bln sudah vaksin campak, apakah  masih perlu vaksinasi MR atau langsung diberikan vaksinasi MMR saja?

    Bila sudah campak, langsung MMR saja di usia 15 bulan.

    Bagaimana dosis dan waktu pemberian vaksin pneumokokus pada anak usia 4 tahun?

    Vaksinasi PCV > 2 tahun, diberikan 1 kali saja

    Bagaimana bila anak hanya mendapatkan imunisasi dasar saja?

    Idealnya, si Kecil sebaiknya melengkapi seluruh vaksinasi yang direkomendasikan oleh IDAI karena tingkat angka kesakitan dan kematiannya cukup tinggi yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Namun, saat ini pemerintah belum menyediakan vaksinasi keseluruhan, sehingga dapat dikerjakan di fasilitas kesehatan lain.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Anestesi atau pembiusan berasal dari bahasa Yunani yaitu an– yang artinya tidak atau tanpa, dan aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan/operasi dan tindakan lain yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh. Prosedur anestesi atau bius ini dilakukan terutama untuk […]

    Anestesi pada Anak

    Anestesi atau pembiusan berasal dari bahasa Yunani yaitu an– yang artinya tidak atau tanpa, dan aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan/operasi dan tindakan lain yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh. Prosedur anestesi atau bius ini dilakukan terutama untuk keperluan tindakan pembedahan.

    Anastesi atau bius, umumnya dibagi menjadi 3, yaitu:

    1. Anestesi atau bius lokal (topikal)

    Anestesi ini dilakukan pada prosedur tindakan medis berupa pembedahan minor pada bagian tubuh yang kecil dan pasien masih dalam keadaan sadar penuh, misalnya operasi gigi.

    2. Anestesi atau bius regional

    Anestesi ini dilakukan untuk pembedahan pada bagian tubuh yang lebih besar. Pada kondisi ini pasien mati rasa hanya sebagian tubuh saja, dan pasien masih dalam keadaan sadar penuh. Contoh anestesi regional adalah pada pembedahan operasi sesar yaitu dengan penyuntikan pada area sumsum tulang belakang yang bertujuan memblokade saraf spinal.

    3. Anestesi atau bius umum (total)

    Anestesi atau bius ini dilakukan pada tindakan medis atau pembedahan yang lebih besar. Anestesi dilakukan dengan cara inhalasi (sungkup gas) dan penyuntikan melalui pembuluh darah. Pada anestesi tersebut, pasien dalam keadaan tertidur atau tidak sadar, sehingga tidak ada nyeri yang ditimbulkan selama operasi berlangsung.

    Dari ketiga tindakan anestesi atau bius di atas, yang sering dilakukan pada anak adalah anestesi atau bius total, untuk menghindari efek psikologis pada anak seperti rasa cemas, nyeri, maupun trauma akan tindakan medis yang dilakukan, serta untuk memberikan rasa nyaman. Tindakan premedikasi sebelum melakukan tindakan bius terhadap anak sangatlah penting untuk menentukan keberhasilan tindakan bius tersebut.

    Psikologis anak sangat besar pengaruhnya, sehingga diperlukan pertimbangan khusus saat melakukan tindakan pembiusan pada anak:

    1. Usia

    Pada usia bayi di bawah 6 bulan, anak masih dapat dipisahkan dengan orang tuanya karena bayi masih belum mengerti dengan lingkungan sekitarnya sehingga prosedur anestesi dapat lebih mudah untuk dilakukan. Sedangkan pada usia bayi 6-12 bulan, bayi sudah mengenal orang tua dan lingkungan sekitar sehingga ketika bayi dipisahkan dengan kedua orang tuanya lalu dipindahkan ke tempat asing (misalnya kamar operasi), maka bayi akan rewel karena mulai timbul perasaan cemas. Sedangkan pada anak usia 1 – 6 tahun, maka anak sudah mulai dapat mengamati prosedur medis apa saja yang akan dilakukan terhadap dirinya, timbul rasa khawatir dan takut karena harus dipisahkan dengan orang tuanya selama prosedur medis dilakukan, serta takut melihat ruangan atau lingkungan asing yang belum pernah mereka datangi, sehingga anak pada usia ini akan berontak dan sulit untuk dibujuk.

    Sedangkan pada usia 6-18 tahun, pola pikir anak sudah mulai berkembang sehingga apabila tenaga medis dapat melakukan pendekatan yang baik, maka walaupun anak dalam kondisi cemas dan khawatir, anak sudah mulai bisa kooperatif sehingga prosedur pembiusan dapat lebih mudah untuk dilakukan. Pada usia ini, kunci keberhasilan ada ditangan petugas medis, baik itu perawat maupun dokter anestesi, apabila tenaga medis dapat membangun rasa percaya si anak dan menimbulkan rasa keberanian dalam diri si anak, maka prosedur pembiusan dan pembedahan dapat berlangsung dengan baik.

    2. Riwayat penyakit yang diderita anak

    Apabila anak yang akan menjalani prosedur pembiusan telah dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama, maka pendekatan psikologis yang dilakukan tenaga medis harus lebih sabar dan hati-hati, karena anak cenderung rewel dan lelah akan prosedur-prosedur medis yang telah ia jalani.

    Mengingat tindakan medis yang dapat akan dilakukan dapat berisiko memberikan efek trauma pada usia dewasa, maka pemberian premedikasi (obat yang diberikan sebelum tindakan pembiusan) dapat diberikan pada anak. Tujuan pemberian premedikasi yaitu :

    1. Menghilangkan atau mengurangi rasa takut, cemas dan gelisah pada anak ketika anak masuk ke kamar operasi.
    2. Mencegah perubahan emosi anak seperti marah, rewel atau berontak saat akan dilakukan tindakan operasi.
    3. Mempermudah induksi anestesi.
    4. Mengurangi sekret atau lendir pada saluran napas sebelum dioperasi akibat anak menangis.

    Premedikasi ini umumnya tidak dibutuhkan pada pasien bayi usia 1-6 bulan mengingat  anak di usia tersebut belum memahami lingkungan asing di sekitarnya, sehingga lebih kooperatif dibandingkan usia anak.

    Pada anak, pemberian anestesi harus berjalan halus sehingga dokter anestesi harus bersikap bersahabat dengan pasien dan mengurangi rasa cemas pada anak untuk memaksimalkan rasa nyaman anak saat dianestesi.

    Persiapan yang dilakukan sebelum prosedur anestesi:

    1. Evaluasi dan persiapan anestesi

    Evaluasi dan persiapan pada pasien meliputi pemeriksaan laboratorium darah sesuai indikasi, untuk menilai apakah pasien aman untuk dilakukan tindakan anestesi dan pembedahan. Pemeriksaan dokter anestesi sebelum pembedahan dilakukan untuk menilai kondisi klinis anak dan meningkatkan kepercayaan anak terhadap dokter anestesi.

    2. Puasa

    Puasa yang dianjurkan pada anak yaitu stop susu 4 jam dan pemberian air gula 2 jam sebelum prosedur anestesi dilakukan pada umur <6 bulan. Stop susu 6 jam dan pemberian air gula 3 jam sebelum prosedur anestesi dilakukan untuk usia 6-36 bulan. Stop susu 8 jam dan pemberian air gula 3 jam sebelum anestesi pada usia >36 bulan. Pada anak yang hampir dewasa, puasa dilakukan 6-8 jam seperti orang dewasa.

    3. Infus

    Sebelum tindakan anestesi dan pembedahan, maka anak akan dipasang infus. Pemasangan infus bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien karena pasien harus puasa. Cairan infus dapat dipasang minimal 3 jam sebelum tindakan operasi dilakukan, selain untuk mengoreksi cairan pada pasien, pemasangan infus dilakukan untuk mempermudah akses masuknya obat bius.

    4. Memastikan keberadaan orang tua pasien

    Pada usia anak, antara rentang 6 bulan sampai 4 tahun, keberadaan orang tua sangat diperlukan karena anak akan cemas dan takut pada prosedur medis yang akan dilakukan sehingga keberadaan orang tua sangat diperlukan bagi anak. Pada saat anak mulai sedasi atau tertidur akibat efek anestesi maka keberadaan orang tua tidak diperlukan lagi.

    Anestesi pada anak jelas berbeda dengan prosedur anestesi orang dewasa. Pada anak, diharapkan tenaga medis lebih bersabar dalam menghadapi anak yang cemas dan rewel karena tindakan medis pada usia anak akan berpengaruh sampai mereka dewasa seperti fobia terhadap peralatan medis dan rumah sakit.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Ellen Whipple Guthrie, G. (2018). General Anesthesia in Pediatric Patients. [online] Stage.uspharmacist.com. Available at: stage.uspharmacist.com/article/general-anesthesia-in-pediatric-patients [Accessed 8 Dec. 2018].
    2. HealthyChildren.org. (2018). Anesthesia Safety for Infants and Toddlers: Parent FAQs. [online] Available at: healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx [Accessed 8 Dec. 2018].
    3. HealthyChildren.org. (2018). Anesthesia Safety for Infants and Toddlers: Parent FAQs. [online] Available at: healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx [Accessed 8 Dec. 2018].
    4. Kidshealth.org. (2018). Anesthesia Basics. [online] Available at: kidshealth.org/en/parents/anesthesia-basics.html [Accessed 8 Dec. 2018].
    5. Mary Ellen McCann, S. (2018). General anesthetics in pediatric anesthesia: Influences on the developing brain. [online] PubMed Central (PMC). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4172352/ [Accessed 8 Dec. 2018].
    Read More
  • Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti […]

    Persiapan yang Diperlukan Sebelum Pembiusan atau Anestesi

    Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan (operasi) dan atau tindakan lainnya yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh.

    Umumnya, anestesi pada pembedahan besar dilakukan oleh ahli anestesi yaitu Dokter Spesialis Anestesi. Peran seorang Dokter Anestesi sangatlah penting mulai dari sebelum pembedahan yaitu memastikan bahwa kondisi pasien saat itu memungkinkan untuk dilakukan tindakan pembiusan dan tindakan operasi. Sedangkan pada saat tindakan operasi, seorang Dokter Anestesi berperan agar pasien nyaman saat tindakan operasi, dengan cara memastikan dan memantau pasien dalam keadaan mati rasa, pasien dalam keadaan tidak sadar atau tertidur saat pembedahan dan memantau rasa sakit saat pembedahan berlangsung (dengan memantau monitor tanda-tanda vital pasien). Sedangkan peran setelah prosedur anestesi, seorang Dokter Anestesi memastikan pasien sadar kembali setelah dilakukan pembiusan, meminimalkan efek samping dari pembiusan dan memantau tanda-tanda vital pasien setelah tindakan pembiusan serta mengatasi rasa sakit yang mungkin timbul akibat pembedahan.

    Peran Dokter anestesi sangatlah penting dalam kesuksesan suatu operasi. Namun untuk tindakan-tindakan pembedahan ringan yang hanya memerlukan anestesi lokal, tidak selalu dikerjakan oleh Dokter Spesialis Anestesi.

    Anestesi bekerja dengan cara mem-block sinyal pada jaringan saraf dari rasa sakit akibat tindakan medis yang diberikan (misalnya, pada kasus pembedahan). Jenis anestesi yang umum digunakan:

    1. Anestesi lokal
    2. Anestesi regional
    3. Anestesi umum atau general

    Anestesi lokal

    Anestesi lokal digunakan pada tindakan medis yang sifatnya minor (operasi kecil). Pada tindakan yang dilakukan dengan anestesi lokal, pasien akan tetap sadar dan terbangun. Misalnya anestesi pada tindakan pencabutan gigi (penyuntikan, penyemprotan atau pengolesan anestesi lokal hanya di bagian gusi pada gigi yang mau dicabut), atau tindakan medis kulit wajah pada perawatan wajah menggunakan anestesi krim yang dioles pada bagian wajah yang akan ditindak.

    Anestesi regional

    Pada anestesi regional, bagian tubuh yang mati rasa relatif lebih luas dibandingkan anestesi lokal, namun pasien masih dalam keadaan sadar. Contoh penggunaan anestesi regional  yang paling sering adalah pada operasi sesar. Saat tindakan operasi sesar, pasien akan merasakan mati rasa di bagian pinggang, perut sampai ujung kaki tanpa kehilangan kesadaran. Anestesi diberikan dengan cara penyuntikan di bagian tulang belakang.

    Anestesi umum atau general

    Anestesi umum dilakukan untuk tindakan operasi yang lebih besar. Pada kondisi ini, pasien dalam keadaan tertidur atau tidak sadar. Contoh operasi besar yang dilakukan dengan bius total misalnya operasi otak, operasi jantung, operasi pembedahan perut. Anestesi umum atau bius total dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara inhalasi (menghirup gas yang berisi obat anestesi) atau suntikan melalui intravena atau pembuluh darah.

    Sebelum melakukan tindakan anestesi, ada beberapa prosedur atau persiapan yang harus dilakukan yaitu :

    1. Menentukan apakah pasien layak dilakukan prosedur anestesi. Misalnya:

    • Pasien mempunyai riwayat alergi terhadap suatu obat tertentu.
    • Pasien memiliki alergi atau infeksi di area yang akan diinjeksikan (misalnya pada pasien dengan anestesi epidural, pasien memiliki luka pada tulang belakang).
    • Pasien menderita nyeri punggung kronik atau disebut dengan LBP (Low Back Pain).
    • Riwayat pengobatan yang diberikan pasien misalnya, pasien sedang mengonsumsi obat-obatan pengencer darah seperti aspirin, penggunaan obat nyeri yang berlangsung lama.
    • Riwayat penyakit pasien atau kondisi pasien saat ini yang tidak memungkinkan untuk dapat dilakukan anestesi, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung tidak terkontrol, diabetes tidak terkontrol, usia pasien yang terlalu tua.

    2. Tes Darah

    Sebelum melakukan tindakan pembedahan dan anestesi, pasien diminta untuk melakukan tindakan tes laboratorium darah untuk menilai jumlah Hemoglobin (Hb) atau jumlah sel darah merah untuk mempersiapkan apakah pasien memerlukan transfusi darah selama operasi berlangsung, serta menilai apakah jumlah leukosit (penanda infeksi) terlalu tinggi misalnya pada pasien sepsis (jumlah bakteri pada pembuluh darah terlalu tinggi) maka anestesi total tidak dapat dilakukan.

    3. Elektrokardiogram (EKG)

    Pemeriksaan EKG atau rekam jantung untuk menilai apakah pasien mempunyai kelainan listrik jantung. Pada pasien yang menderita kelainan listrik pada jantung maka akan dipertimbangkan apakah dapat dilakukan atau tidak prosedur anestesi tersebut.

    4. Puasa sebelum tindakan anestesi umum dan tindakan pembedahan

    Pada umumnya puasa dilakukan sebelum tindakan anestesi umum atau bius total dan pembedahan bertujuan untuk mengosongkan lambung. Pengosongan lambung bertujuan untuk me-minimalisasi masuknya makanan dari lambung ke paru-paru pada saat dilakukan prosedur anestesi. Masuknya sisa makanan ke dalam sistem pernapasan akan mengganggu jalan napas. Untuk itu, dokter sering kali menyarankan untuk melakukan puasa minimal 8 jam. Namun, pada kasus-kasus tertentu, misalnya operasi darurat yang memerlukan tindakan segera, tidak diperlukan persiapan puasa yang panjang.

    EFEK SAMPING YANG MUNGKIN TIMBUL SETELAH ANESTESI

    Pada umumnya, anestesi jarang memberikan efek samping pada pasien, terutama apabila pasien hanya melakukan anestesi lokal saja atau kondisi pasien dalam keadaan baik. Efek samping yang timbul dapat bervariasi antara satu pasien dengan yang lain. Faktor yang ikut berpengaruh adalah usia pasien, riwayat penyakit pasien, respons tubuh seseorang terhadap obat-obatan yang diberikan selama pembiusan, riwayat konsumsi obat-obatan pengencer darah, riwayat kebiasaan atau gaya hidup pasien seperti kebiasaan mengkonsumsi alkohol, rokok atau obat-obatan terlarang.  Pada pasien sehat, timbulnya efek samping setelah anestesi harus tetap diantisipasi. Efek sampiang yang sering timbul antara lain menggigil, nyeri pada tenggorokan (pada anestesi total dengan alat bantu napas), infeksi pada saluran napas (pneumonia), nyeri kepala, bingung atau kehilangan ingatan sementara (biasa terjadi pasien dengan usia tua), mual dan muntah.

    instal aplikasi prosehat Referensi:

    1. (2018). Prepare yourself mentally and physically before surgery. [online] Available at: health24.com/Medical-schemes/Hospitals/Prepare-yourself-mentally-and-physically-before-surgery-20150421 [Accessed 7 Dec. 2018].
    2. Newman, T. and Deborah Weatherspoon, C. (2018). General anesthesia: Side effects, risks, and stages. [online] Medical News Today. Available at: medicalnewstoday.com/articles/265592.php [Accessed 7 Dec. 2018].
    3. uk. (2018). General anaesthesia. [online] Available at: nhs.uk/conditions/general-anaesthesia/ [Accessed 7 Dec. 2018].
    4. (2018). What Is General Anesthesia?. [online] Available at: webmd.com/a-to-z-guides/what-is-general-anesthesia#1 [Accessed 7 Dec. 2018].
    5. Zambouri, A. (2018). Preoperative evaluation and preparation for anesthesia and surgery. [online] PubMed Central (PMC). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2464262/ [Accessed 7 Dec. 2018].
    Read More
  • Mendengar kata ‘bius’ mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Pembiusan sendiri atau di dalam dunia medis disebut dengan istilah anestesi berasal dari bahasa Yunani yaitu “anaesthesia” yang berarti tidak dapat merasakan. Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa anestesi adalah suatu kondisi dimana terjadi kehilangan sensasi atau kesadaran sementara akibat pengaruh obat-obatan anestesi dengan tujuan menghilangkan […]

    Anestesi Umum/Bius Total, Bagaimana Proses dan Persiapannya?

    Mendengar kata ‘bius’ mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Pembiusan sendiri atau di dalam dunia medis disebut dengan istilah anestesi berasal dari bahasa Yunani yaitu “anaesthesia” yang berarti tidak dapat merasakan. Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa anestesi adalah suatu kondisi dimana terjadi kehilangan sensasi atau kesadaran sementara akibat pengaruh obat-obatan anestesi dengan tujuan menghilangkan nyeri pembedahan. Anestesi memiliki hubungan yang erat dengan dunia kedokteran terutama dalam proses operasi.

    Secara umum, anestesi dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu anestesi lokal, anestesi regional, dan anestesi umum. Dokter anestesi akan melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien dan akan menentukan tindakan anestesi yang sesuai dengan kondisi pasien dan prosedur operasi yang akan dilakukan.

    Anestesi umum atau yang sering disebut sebagai bius total merupakan kondisi yang dibuat untuk menimbulkan analgesia (hilangnya rasa nyeri), amnesia (hilangnya memori selama proses operasi), karena tentunya pasien tidak ingin mengingat tindakan yang dilakukan pada saat operasi agar pasien merasa lebih nyaman, dan menghilangkan kesadaran pasien. Anestesi umum sering dipilih ada kasus operasi besar seperti operasi otak, operasi tulang belakang, pembedahan pada jantung, cangkok ginjal atau pada tindakan operasi di mana lokasi pembedahan sulit dijangkau dengan anestesi lokal maupun regional, misal pada pengangkatan tumor payudara, pengangkatan tiroid, pengangkatan amandel, dan lain-lain.

    Jenis Obat untuk Anestesi Umum

    Terdapat empat jenis obat yang umum digunakan pada anestesi umum. Pertama, obat-obat yang bersifat sedatif, yang berfungsi menidurkan dan mempertahankan pasien dalam kondisi tidur. Kedua, obat-obatan anti-nyeri yang berfungsi menjaga pasien agar tidak merasakan nyeri saat pembedahan, karena rangsang nyeri dapat membangunkan pasien dan membuat kondisi pasien menjadi tidak stabil. Ketiga, obat-obatan amnestic dan anxiolitik yang memiliki fungsi untuk menghilangkan ingatan pasien selama proses pembedahan karena proses pembedahan bukan merupakan hal yang menyenangkan untuk pasien dan memberi pasien kondisi yang lebih tenang selama proses pembiusan. Keempat, obat pelemas otot yang berfungsi untuk melemaskan otot pasien, sehingga pada saat operasi, dokter bedah dapat leluasa melakukan manuver pembedahan.

    Sebelum dilakukan tindakan anestesi umum, ada beberapa persiapan yang harus dijalani pasien. Enam sampai delapan jam sebelum tindakan operasi, pasien diminta untuk berpuasa. Tujuan puasa adalah untuk mengosongkan lambung. Lambung yang terisi makanan pada pasien yang menjalani anestesi berisiko menimbulkan aspirasi (masuknya isi lambung ke jalan napas) sehingga fungsi pernapasan akan terganggu.

    Pasien yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti alergi, asma, wajib menginformasikan kondisi tersebut pada dokter anestesi. Informasi tersebut bermanfaat dalam pemilihan obat-obat yang akan digunakan selama proses operasi dan pembiusan untuk menghindari reaksi alergi yang membahayakan pasien.

    Saat akan memasuki ruang operasi, biasanya pasien diberikan obat penenang. Obat penenang ini bermanfaat untuk mengurangi rasa tegang pasien selama proses persiapan. Setelah tim dan peralatan untuk operasi lengkap, pasien akan dilakukan pembiusan dengan obat anestesi, melalui jalan infus maupun dengan inhalasi melalui masker. Setelah pasien tidak sadar, napas pasien akan dibantu beberapa alat bantu napas yang akan dipasang di jalan napas agar napas tetap terkontrol dan stabil. Setelah itu proses pembedahan akan dimulai. Selama proses pembedahan, pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim anestesi dan akan dikondisikan agar semua sistem di tubuh pasien dalam keadaan stabil.

    Setelah proses pembedahan selesai, obat-obat anestesi akan dihentikan, dan pasien akan dibangunkan. Alat bantu napas umumnya dilepas setelah pasien mulai bangun. Setelah bangun dan stabil, pasien akan dibawa ke ruang pemantauan pasca pembedahan untuk tindakan pengawasan. Pasien dipindahkan ke ruang rawat inap setelah kondisi benar-benar stabil.

    Sebelum operasi selesai,  pasien akan diberikan obat anti-nyeri untuk mengurangi nyeri pasca pembedahan. Apabila dalam perawatan pasca bedah pasien masih merasa nyeri yang mengganggu, pasien dapat menginformasikan tim medis agar diberikan tambahan obat anti-nyeri.

    Risiko Tindakan Anestesi Umum

    Setiap tindakan kedokteran, pasti memiliki risiko dan efek samping. Tidak semua efek samping ini timbul, dan tidak semua efek samping yang timbul membahayakan.

    Pada anestesi umum, salah satu risiko yang ditakutkan adalah kegagalan dalam mengontrol jalan napas pasien. Namun, dokter dan tim anestesi biasanya sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut serta mempersiapkan seluruh peralatan yang diperlukan jika risiko tersebut terjadi. Efek samping lain yang umum dirasakan pasien adalah rasa tidak nyaman pada mulut dan tenggorokan akibat pemasangan alat bantu napas selama tindakan operasi. Risiko kematian akibat tindakan anestesi saat ini sangan jarang terjadi. Di Amerika, pada awal tahun 2000, kematian akibat anestesi adalah 1 dari 100.000 tindakan.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Adler, A. (2018). General Anesthesia: General Considerations, Preoperative Period, Intraoperative Period. [online] Emedicine.medscape.com. Available at: emedicine.medscape.com/article/1271543-overview [Accessed 7 Dec. 2018].
    2. Li, G., Warner, M., Lang, B., Huang, L. and Sun, L. (2009). Epidemiology of Anesthesia-related Mortality in the United States, 1999–2005. Anesthesiology, 110(4), pp.759-765.
    3. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
    4. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
    Read More
  • “Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?” Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada […]

    Anestesi pada Operasi Sesar

    “Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?”

    Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada persalinan normal, dan juga dapat dilakukan apabila pasien dan keluarga yang meminta.

    Tentunya pada setiap proses operasi sesar akan melibatkan tindakan anestesi atau pembiusan. Anestesi regional, baik spinal maupun epidural lebih direkomendasikan daripada anestesi umum. Hal ini didasari adanya perubahan fisik pada ibu hamil, di mana obat-obatan yang digunakan pada anestesi umum dapat berisiko mengganggu pernapasan janin setelah lahir. Selain itu, terdapat perubahan pada pengosongan lambung ibu menjadi lebih lambat, sehingga anestesi umum berisiko memicu aspirasi, yaitu masuknya cairan lambung ke paru-paru, sehingga  dapat menyebabkan infeksi paru.

    Anestesi regional adalah pembiusan untuk menghilangkan sensasi dari sebagian area di tubuh, misal menghilangkan sensasi dari pusar ke bawah, atau menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan yang berkaitan. Anestesi regional ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu blok sentral dan blok perifer. Blok sentral ialah pengeblokan pada saraf pusat yaitu saraf tulang belakang, proses ini dapat berupa blok spinal atau epidural. Blok Perifer merupakan tindakan pengeblokan saraf tepi, misalnya pada pengeblokan saraf brakialis untuk menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan pada salah satu sisi yang berkaitan. Anestesi regional yang umum digunakan pada proses sesar adalah spinal.

    Setiap tindakan pembiusan dan pembedahan pasti diperlukan persiapan agar operasi berjalan lancar dan aman. Pada 8 jam sebelum tindakan pembiusan, pasien akan dipuasakan terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk mengosongkan lambung, sehingga mencegah aspirasi, terutama apabila pasien membutuhkan anestesi umum karena anestesi regional gagal dilakukan. Tim anestesi akan melakukan pemeriksaan dan evaluasi. Pasien sebaiknya mengutarakan riwayat penyakit yang dideritanya, riwayat alergi, dan riwayat kebiasaan apabila ada konsumsi zat-zat seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan lainnya untuk mencegah terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan saat pembiusan. Selama persiapan, pasien boleh berbaring dengan posisi miring ke kiri, hal ini bertujuan agar melancarkan aliran darah balik ke jantung, serta membantu mengurangi risiko tekanan darah turun setelah proses pembiusan.

    Sebelum tindakan operasi sesar dimulai, pasien akan dipindahkan ke ruang operasi. Sesaat sebelum pembiusan dimulai, pasien akan diberi obat untuk mengurangi asam lambung dan anti mual. Lalu, setelah itu akan dilakukan pembiusan. Pada anestesi spinal, pasien akan diminta duduk atau tidur miring, kemudian dokter anestesi akan meminta pasien untuk menundukkan kepalanya agar dokter dapat lebih mudah melakukan perabaan tulang belakang. Setelah itu dokter akan membersihkan area tulang belakang yang akan disuntik dengan antiseptik, lalu dokter akan menusukkan jarum suntik khusus kemudian memasukkan obat anestesi ke cairan serebrospinal  (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang), kemudian pasien diminta untuk tidur telentang. Setelah itu, pasien akan merasakan kesemutan pada daerah pinggang ke bawah, kaki akan terasa berat dan tidak bisa digerakkan, juga daerah yang dibius tidak akan merasakan nyeri lagi. Setelah proses tindakan pembiusan selesai, dokter kebidanan akan melakukan tindakan operasi, selama tindakan operasi pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim medis. Apabila pasien merasa sesak, atau mual, atau ada keluhan lainnya, harus segera dilaporkan ke tim medis.

    Selama proses operasi, pasien akan merasakan kalau ada yang ditarik, atau perut terasa digoyang-goyangkan namun tidak terasa nyeri. Selama operasi, pasien akan tetap sadar, karena setelah bayi lahir, bayi yang sudah dibersihkan akan diberikan kepada ibunya dan tentunya ini adalah momen kebahagiaan para ibu.

    Setelah operasi selesai, umumnya pasien masih belum dapat merasakan sensasi pada area yang dibius. Satu setengah jam setelah proses pembiusan, pasien mulai merasakan sensasi kembali secara perlahan, kaki pun perlahan-lahan mulai bisa digerakkan. Saat obat anestesi berangsur-angsur habis, dokter akan memberikan obat anti nyeri untuk mengurangi nyeri pasca operasi. Apabila pasien masih merasakan nyeri, jangan ragu untuk mengutarakannya kepada tim medis karena dokter anestesi akan memberikan obat anti nyeri tambahan.

    Terdapat beberapa hal penting yang harus dipatuhi pasien setelah prosedur pembiusan pada operasi caesar. Pertama, jangan mengangkat kepala selama 8-12 jam setelah pembiusan, karena hal ini dapat menimbulkan nyeri kepala yang hebat dan sangat mengganggu, tetapi untuk gerakan seperti miring ke kiri maupun kanan masih diperbolehkan asalkan tidak mengangkat kepala.

    Efek Samping Bius (Anestesi)

    Setiap tindakan pembiusan memiliki risiko dan efek samping. Pada anestesi spinal, efek samping yang sering terjadi adalah mual, karena pembiusan spinal memiliki risiko penurunan tekanan darah yang cukup besar. Oleh karena itu, tim anestesi baik dokter dan perawat anestesi akan melakukan pemantauan ketat selama proses pembiusan dan pembedahan untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.

    Selain mual, efek samping yang dapat terjadi adalah nyeri kepala, tetapi dapat diatasi dengan tidak mengangkat kepala, kencing juga menjadi terganggu karena proses spinal, namun jangan khawatir karena pasien akan dipasang kateter urin. Efek samping yang jarang terjadi adalah reaksi alergi, kejang, dan kerusakan pada saraf.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
    2. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
    3. Suryati T. (ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2010) PERSENTASE OPERASI CAESARIA DI INDONESIA MELEBIHI STANDARD MAKSIMAL, APAKAH SESUAI INDIKASI MEDIS? [Internet]. Ejournal.litbang.depkes.go.id. 2012 [cited 8 December 2018]. Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/3031
    4. Gymrek R. Local and Regional Anesthesia: Overview, Indications, Contraindications [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 8 December 2018]. Available from: emedicine.medscape.com/article/1831870-overview

     

    Read More
  • Sebelum membahas jauh mengenai anestesi pada lahiran normal, kita harus ingat bahwa mengandung dan memiliki anak merupakan impian hampir seluruh wanita di dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang memiliki ketakutan jika hamil, yaitu ketakutan saat melahirkan nanti, sebagian takut merasa nyeri yang hebat saat melahirkan apalagi dengan apa yang beredar di masyarakat bahwa nyeri […]

    Anestesi pada Lahiran Normal, Mungkinkah?

    Sebelum membahas jauh mengenai anestesi pada lahiran normal, kita harus ingat bahwa mengandung dan memiliki anak merupakan impian hampir seluruh wanita di dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang memiliki ketakutan jika hamil, yaitu ketakutan saat melahirkan nanti, sebagian takut merasa nyeri yang hebat saat melahirkan apalagi dengan apa yang beredar di masyarakat bahwa nyeri melahirkan adalah nyeri yang paling hebat atau melahirkan adalah proses mempertaruhkan nyawa, yang sebenarnya ada benarnya. Terobosan dunia kedokteran mengenai sectio caesarea yang aman telah berkembang sejak awal abad ke-19 dan membawa angin segar bagi masalah persalinan. Namun, masalah baru muncul dimana banyak keyakinan di masyarakat bahwa persalinan normallah yang menjadikan seseorang wanita yang sesungguhnya ditambah beredarnya isu-isu bahwa adanya komplikasi perkembangan atau pertumbuhan pada anak yang dilahirkan secara sectio caesarea, sehingga menyebabkan banyak wanita masih mendambakan persalinan normal, sangat ingin melahirkan normal tapi takut terhadap rasa nyerinya demikian  permasalahan yang menuntun pada pertanyaan, apakah ada cara mengurangi rasa sakit yang timbul? Apakah anestesi dapat dilakukan pada lahiran normal? Setiap wanita merasakan nyeri saat melahirkan dengan tingkat yang berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi rasa nyeri tersebut, termasuk ukuran dan posisi janin, kekuatan kontraksi dan ambang atau batasan nyeri yang mampu ditoleransi masing-masing orang. Namun, ada pula yang tidak memerlukan pereda nyeri atau anestesi saat melahirkan, beberapa hanya dengan relaksasi dan latihan pernafasan, hipnotis dan masase atau pemijatan.

    Anestesi berasal dari istilah anaesthesia atau loss of sensation yang berarti hilang rasa atau sensasi. Rasa atau sensasi yang dimaksud adalah semua sensasi yang mungkin dirasakan namun yang paling utama adalah sensasi nyeri. Anestesi secara cakupannya dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu anestesi lokal, anestesi regional, anestesi umum, sedasi dan kombinasi. Dari semua jenis anestesi tersebut yang sering digunakan dan dianggap aman ialah anestesi regional dengan epidural, blok spinal atau kombinasi keduanya, sedangkan dengan sedasi, efek yang dirasakan sangatlah sedikit bahkan tidak mampu membendung nyeri saat lahiran normal. Anestesi epidural telah ramai dipergunakan, di Britania misalnya diperkirakan setidaknya ada 100.000 kelahiran normal yang menggunakan anestesi epidural setiap tahunnya. Diperkirakan pula sekitar 60% atau 2,4 juta lahiran normal di seluruh dunia menggunakan anestesi ini atau kombinasi dengan blok spinal.

    Anestesi epidural dilakukan dengan cara memasang kateter (selang halus) melalui pembedahan kecil dengan bantuan anestesi lokal terlebih dahulu ke dalam rongga lumbar epidural (rongga tulang belakang di pinggang bagian bawah) kemudian obat-obatan anestesi lokal  atau opioid dimasukkan ke dalam. Sedangkan blok spinal dilakukan dengan cara penyuntikan obat-obatan tersebut pada lokasi yang sama. Pada anestesi epidural, hal ini akan menghilangkan rasa nyeri dari pinggang ke bawah tanpa memengaruhi fungsi motorik (gerak) sedangkan efeknya baru mulai dirasakan pada 10 hingga 20 menit kemudian. Pada anestesi blok spinal, rasa nyeri yang hilang mulai dari dada ke bawah dan efeknya lebih cepat (langsung). Namun, pada praktiknya anestesi epidural lebih sering digunakan, hal ini disebabkan anestesi epidural dapat digunakan selama apapun karena dosis obat dapat ditambah atau dikurangi secara leluasa sedangkan anestesi dengan blok spinal hanya dapat digunakan dengan durasi 1 hingga 2 jam. Sebagai sesama anestesi regional, umumnya kedua jenis anestesi ini memiliki komplikasi atau risiko yang sama pula, pada ibu misalnya, komplikasinya adalah sebagai berikut:

    • Efeknya dapat menyebabkan gangguan saat mengejan maupun kencing,
    • Jika efeknya dirasa hingga ke dada, hal ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan,
    • Jika jarum yang digunakan mencederai selaput pembungkus saraf tulang belakang, hal ini akan menyebabkan nyeri kepala hingga beberapa hari, namun dapat ditangani dengan obat-obatan.
    • Tekanan darah dapat turun mendadak, jika ini terjadi maka akan diberikan tambahan cairan dan obat-obatan yang dapat menaikkannya.
    • Anda juga dapat merasa pusing serta rasa mual saat atau setelah tindakan anestesi,
    • Jika jarum epidural menyentuh saraf tulang belakang, dapat menyebabkan sensasi tersengat listrik pada salah satu sisi kaki bahkan dapat menyebabkan cedera saraf,
    • Walaupun jarang, kemungkinan infeksi, bekuan darah atau abses epidural sangat mungkin terjadi
    • Pada blok spinal, efek dapat tiba-tiba berkurang, berbeda pada epidural yang dosisnya dapat ditambah untuk mengantisipasi kemungkinan itu terjadi.

    Sedangkan pada janin, komplikasinya adalah sebagai berikut:

    • Bayi Anda mungkin akan tertidur dan akan sangat menyulitkan pada inisiasi menyusui dini.
    • Penurunan mendadak dari tekanan darah ibu dapat mengakibatkan denyut jantung bayi dan laju pernafasannya melambat.

    Komplikasi-komplikasi atau risiko di atas dapat diperkecil dengan penilaian awal dari dokter untuk mengantisipasi hingga memberikan tatalaksana pencegahan sebelum proses lahiran normal. Penggunaan anestesi saat proses lahiran  normal bukanlah suatu kesalahan, justru Anda harus menyadari batas-batasan yang Anda punya, oleh  sebab itu, ketika Anda merasa tidak kuat jangan segan-segan mengemukakannya pada dokter untuk kemudian mendiskusikan alternatif-alternatif yang ada. Betapapun majunya atau menguntungkannya suatu tindakan kedokteran, tetap tidak terlepas dari kemungkinan adanya komplikasi atau efek samping yang mungkin terjadi, terutama jika prosedur yang seharusnya dilakukan ternyata tanpa sengaja dilakukan secara keliru. Oleh sebab itu, penting untuk Anda berkonsultasi atau ditangani oleh orang yang tepat. Jadi, selamat mencoba dan mempertimbangkan apakah dalam proses lahiran normal,  Anda ingin menggunakan anestesi atau tidak, sebaiknya keputusan diambil bersama pasangan karena dukungan dari pasangan sangat membantu, terutama setelah berkonsultasi dengan dokter.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Anaesthesia Explained [Internet]. Oxford: Oxford University Hospital; 2016 [cited 9 December 2018]. Available from: ouh.nhs.uk
    2. Fyneface-Ogan S, Mato C, Anya S. Epidural anesthesia: Views and outcomes of women in labor in a Nigerian hospital. Annals of African Medicine. 2009;8(4):250.
    3. Anaesthesia for Labor and Delivery [Internet]. Intermountain Healthcarel [cited 9 December 2018]. Available from: intermountainhealthcare.org
    4. Moore M. Regional Anesthesia and Analgesia for Labor and Delivery. Survey of Anesthesiology. 2003;47(5):273.
    5. Using Epidural Anesthesia During Labor: Benefits and Risks [Internet]. American Pregnancy Association. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: americanpregnancy.org/labor-and-birth/epidural/
    Read More
  • Kata anestesi mungkin masih asing di telinga sebagian orang, kebanyakan dari kita lebih sering menggunakan kata bius untuk mendefinisikan penghilangan rasa nyeri. Kerap kali ketika dokter atau perawat ingin melakukan suatu tindakan yang berpotensi memberikan rasa nyeri misalnya; menjahit luka robek atau mencabut kuku, pertanyaan pertama yang kita lontarkan pastilah, “dibius kan, Dok?” Namun, sebenarnya […]

    Mengenal Anestesi dan Jenis-Jenisnya

    Kata anestesi mungkin masih asing di telinga sebagian orang, kebanyakan dari kita lebih sering menggunakan kata bius untuk mendefinisikan penghilangan rasa nyeri. Kerap kali ketika dokter atau perawat ingin melakukan suatu tindakan yang berpotensi memberikan rasa nyeri misalnya; menjahit luka robek atau mencabut kuku, pertanyaan pertama yang kita lontarkan pastilah, “dibius kan, Dok?” Namun, sebenarnya kata yang lebih tepat adalah anestesi, mengapa anestesi? Apa itu anestesi?

    Anestesi berasal dari kata anaesthesia yang dalam bahasa inggris berarti loss of sensation of atau hilang rasa, tentunya rasa atau sensasi yang dimaksud tidak hanya sensasi nyeri tapi juga rabaan dan sensasi lainnya.

    Anestesi bertujuan mencegah kita merasakan sensasi nyeri pada saat operasi atau tindakan diagnostik (tindakan mencari tahu penyakit). Secara umum cara kerjanya adalah dengan memblok jalur sinyal nyeri yang berjalan sepanjang jaringan saraf hingga ke otak. Tidak semua anestesi membuat kita tak sadar, anestesi dapat diberikan dengan berbagai cara pada berbagai area di tubuh.

    Anestesi saat ini sangat membantu proses operasi dan telah memberikan keuntungan yang sangat bagus. Anestesi pada masa sekarang juga dapat diberikan secara spesifik tergantung kebutuhan maupun jenis operasi yang akan dilakukan. Dalam melakukan tindakan anestesi, dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain riwayat operasi sebelumnya, kondisi kesehatan, reaksi alergi pada obat-obat tertentu dan risiko dari tindakan anestesi yang akan dilakukan.

    Sampai saat ini ada beberapa jenis anestesi yang dibagi berdasarkan cakupan kerjanya, masing-masing dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan. Adapun jenis-jenisnya adalah sebagai berikut:

     

    Anestesi lokal, jenis anestesi ini akan memberikan sensasi mati rasa pada area tertentu di tubuh yang cakupannya kecil, dapat diberikan secara suntikan, semprotan atau olesan yang diberikan pada jaringan dekat lokasi operasi, jenis dan dosisnya bergantung pada jenis tindakan dan perkiraan durasi dari tindakan yang akan kita lakukan. Operasi-operasi yang dilakukan pun biasanya berupa operasi-operasi kecil seperti pencabutan kuku kaki, penjahitan luka robek yang tidak terlalu panjang atau pemotongan sesuatu dari kulit yang ukurannya tidak terlalu besar, seperti lipoma (akumulasi lemak) atau kutil. Pasien  akan tetap sadar namun bebas dari rasa sakit.

     

    Anestesi regional, tindakan anestesi regional dilakukan untuk jenis operasi yang lebih dalam dan lebih besar, biasanya daerah yang dianestesi meliputi bagian tubuh yang lebih besar, misalnya paha, lengan, bahu atau bahkan setengah tubuh seperti pada operasi sectio caesarea (operasi melahirkan) atau pada operasi kandung kemih. Caranya dengan menggunakan obat-obatan anestesi lokal yang disuntikkan pada pangkal serabut saraf dari bagian tubuh yang akan dioperasi. Hal yang sering dilakukan juga anestesi spinal dan epidural yaitu dengan menyuntikkan obat bius pada saluran tulang belakang sehingga menyebabkan mati rasa pada tubuh bagian bawah. Pada anestesi regional, pasien juga akan tetap sadar namun bebas dari rasa sakit.

     

    Anestesi umum, anestesi ini akan membuat Anda dalam kondisi tidur dan kehilangan kesadaran, namun kondisi tak sadar ini berbeda dengan kondisi tak sadar akibat sakit, kecelakaan atau dalam kondisi tidur normal. Pada beberapa jenis operasi, anestesi umum sangatlah penting. Kita akan tertidur dan tidak akan merasakan apa-apa saat prosedur sedang berlangsung. Sebelum operasi dimulai, dokter akan menyuntikkan obat anestesi melalui pembuluh darah atau dengan memberikan gas anestesi (obat anestesi dalam bentuk gas). Kemudian obat atau gas tadi akan dibawa ke otak melalui aliran darah yang akan menyebabkan kita kehilangan kesadaran. Ketika kadar obat berkurang di dalam darah maka kesadaran kita pun akan kembali secara bertahap, dan seiring kembalinya kesadaran, sensasi akan mulai kembali dirasakan.

     

    Sedasi, adalah penggunaan obat-obatan anestesi atau sejenisnya dalam jumlah yang kecil sehingga dapat menurunkan level kesadaran pasien namun pasien masih dapat berkomunikasi secara verbal dan merasakan sentuhan-sentuhan halus. Dengan kata lain, tindakan ini menyebabkan pasien relaks secara fisik maupun mental. Umumnya sedasi digunakan pada prosedur diagnostik seperti endoskopi (meneropong saluran cerna). Kita sangat mungkin mengingat jalannya prosedur.

     

    Kombinasi, ada kalanya lebih dari 1 tindakan anestesi dilakukan secara berdampingan atau berurutan. Misalnya anestesi regional diberikan setelah anestesi umum untuk mengurangi nyeri pascaoperasi, atau sedasi diberikan bersamaan dengan anestesi regional, di mana anestesi regional bermanfaat untuk menghilangkan rasa nyeri, sedangkan sedasi akan membuat pasien relaks dalam menjalani prosedur operasi.

    Lalu, kondisi-kondisi apa yang dapat menyulitkan saat Anda dalam menjalani prosedur anestesi? Pertama, jika Anda adalah seorang perokok.  Kebiasaan merokok akan mengganggu fungsi kardiovaskular dan mengurangi kandungan oksigen dalam darah, sehingga akan meningkatkan risiko tindakan anestesi. Kedua, kondisi gigi yang tidak bagus. Pada tindakan anestesi umum, dokter akan memasang alat bantu napas melalui rongga mulut. Kondisi gigi yang rapuh atau goyang berisiko memicu tanggalnya gigi pada proses tersebut. Ketiga, jika Anda memiliki penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi atau masalah lainnya. Anda perlu memberitahu dokter anestesi Anda mengenai penyakit-penyakit tersebut serta pengobatan yang Anda jalani. Tujuannya adalah agar dokter dapat mempertimbangkan alternatif prosedur anestesi yang paling aman untuk Anda.

    Prosedur anestesi, apapun jenisnya sangat bergantung pada jenis tindakan yang akan dilakukan dan kondisi tiap individu pasien. Efek samping dan risiko yang akan dihadapi Pasien tetap menjadi pertimbangan utama suatu prosedur anestesi dilakukan atau tidak.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Types of Anaesthesia [Internet]. Australian and New Zealand College of Anaesthetists; 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: anzca.edu.au
    2. Anaesthesia Explained [Internet]. Dublin: College of Anaesthetists of Ireland, [cited 9 December 2018]. Available from: anaesthesia.ie
    3. Anaesthesia Explained [Internet]. Oxford: Oxford University Hospital; 2016 [cited 9 December 2018]. Available from: ouh.nhs.uk
    4. Anesthesia & Types of Anesthesia – Before and After Surgery – HealthCommunities.com [Internet]. Healthcommunities.com. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: healthcommunities.com/before-after-surgery/overview-types-anesthesia.shtml
    5. New Jersey Health System [Internet]. RWJBarnabas Health. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: rwjbh.org/treatment-care/surgery/anesthesiology/types-of-anesthesia/
    Read More
  • Pertanyaan yang sering terlontar ketika kita berhadapan dengan obat-obatan maupun tindakan medis lain yaitu: “Ada efek sampingnya tidak?” Yup, inilah yang acap kali menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi banyak orang, tak terkecuali dengan tindakan operasi yang memerlukan proses anestesi (bius). Mungkin Anda bertanya-tanya apakah anestesi (bius) memiliki efek samping jangka panjang pada tubuh. Simak ulasan […]

    Apakah Ada Efek Samping Jangka Panjang Bius Total?

    Pertanyaan yang sering terlontar ketika kita berhadapan dengan obat-obatan maupun tindakan medis lain yaitu: “Ada efek sampingnya tidak?”
    Yup, inilah yang acap kali menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi banyak orang, tak terkecuali dengan tindakan operasi yang memerlukan proses anestesi (bius). Mungkin Anda bertanya-tanya apakah anestesi (bius) memiliki efek samping jangka panjang pada tubuh. Simak ulasan di bawah ini:

    • Kapan anestesi umum digunakan? Apakah aman?

    Anestesi umum sangat aman. Bahkan jika pasien memiliki masalah kesehatan yang cukup signifikan, umumnya pasien dapat mentolelir obat-obatan anestesi umum tanpa masalah serius. Tetapi dengan obat atau prosedur medis apapun, Anda akan mengalami beberapa efek samping.1

    • Apa efek samping jangka pendek yang mungkin terjadi?

    Sebagian besar efek samping anestesi umum terjadi segera setelah operasi dan tidak berlangsung lama. Setelah operasi selesai dan obat-obatan anestesi dihentikan, pasien akan perlahan-lahan terbangun di ruang operasi atau ruang pemulihan. Pasien mungkin akan merasa grogi dan sedikit bingung.

    Pasien mungkin juga merasakan salah satu dari efek samping berikut:

    • Mual dan muntah. Efek samping ini biasanya terjadi segera setelah prosedur, namun beberapa orang mungkin terus merasa sakit selama 1-2 hari. Obat anti mual dapat membantu jika pasien tidak tahan.
    • Mulut kering. Pasien mungkin merasa kering pada mulut ketika bangun. Selama pasien tidak terlalu mual, meminum air sedikit dapat membantu mengatasi mulut yang kering.
    • Sakit tenggorokan atau suara serak. Alat bantu napas yang dipasang untuk membantu napas selama operasi dapat membuat tenggorokan sakit setelah dilepas.
    • Menggigil. Hal ini umum terjadi karena suhu tubuh pasien turun selama di kamar operasi. Dokter dan perawat akan memastikan suhu tubuh pasien tidak turun terlalu banyak selama operasi, namun pasien mungkin dapat menggigil saat terbangun setelah operasi dan merasa dingin. Menggigil juga dapat berlangsung selama beberapa menit hingga jam.
    • Kebingungan dan pikiran kabur. Ketika pertama kali bangun dari anestesi, pasien mungkin merasa bingung, mengantuk, dan berkabut. Hal ini biasanya berlangsung hanya beberapa jam, namun bagi sebagian orang terutama orang dewasa yang lebih tua, kebingungan ini dapat berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu.
    • Nyeri otot. Obat-obatan yang digunakan untuk mengendurkan otot-otot selama operasi dapat menyebabkan rasa sakit sesudahnya.
    • Gatal. Jika obat-obatan yang digunakan selama operasi ialah jenis narkotik (opioid), maka efek samping ini umum terjadi.
    • Masalah kandung kemih. Pasien mungkin mengalami kesulitan buang air kecil dalam waktu singkat setelah anestesi umum.
    • Pusing. Pasien mungkin merasa pusing saat pertama kali berdiri. Minum banyak cairan akan membantu pasien merasa lebih baik.1-4

     

    • Apakah efek samping jangka panjang yang mungkin terjadi setelah anestesi?

    Kebanyakan orang tidak akan mengalami efek samping jangka panjang. Namun, orang dewasa yang lebih tua mungkin mengalami efek samping yang bertahan lebih dari beberapa hari. Efek samping yang mungkin terjadi:

    • Delirium pasca operasi. Beberapa orang mungkin menjadi bingung, kehilangan arah, atau mengalami kesulitan mengingat hal-hal setelah operasi. Disorientasi ini bisa datang dan pergi, tetapi biasanya hilang sekitar satu minggu.
    • Disfungsi kognitif pasca operasi. Beberapa orang mungkin mengalami masalah memori yang sedang berlangsung atau jenis gangguan kognitif lainnya setelah operasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang berusia lebih dari 60 tahun, umumnya bisa terkena disfungsi. Pasien juga lebih mungkin terkena disfungsi jika memiliki riwayat stroke, penyakit jantung, penyakit paru-paru, penyakit Alzheimer, dan penyakit Parkinson.1,5

    Nah, apakah ulasan di atas sudah cukup menjawab rasa penasaran Anda? Jika belum, bisa ditanyakan lebih lanjut kepada dokter anestesi Anda. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Side Effects of General Anesthesia : What to Expect – healthline.com/health/side-effects-of-general-anesthesia#longterm-side-effects , diakses pada tanggal 14-12-2018
    2. Going Under : Potensial Side Effects of General Anesthesia – medshadow.org/features/anesthesia-side-effects/ , diakses pada tanggal 14-12-2018
    3. Neurotoxicity of General Anesthetics : Cause for Concern – ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2784653/ , diakses pada tanggal 14-12-2018
    4. What to know abaout general anesthesia – medicalnewstoday.com/articles/265592.php , diakses pada tanggal 14-12-2018
    5. Effects of Anesthesia – asahq.org/whensecondscount/anesthesia-101/effects-of-anesthesia/ , diakses pada tanggal 14-12-2018
    Read More
  • Apakah Anda pernah dibius saat operasi? Berapa lama Anda tidak sadarkan diri saat itu? Lantas, apakah semua orang punya waktu yang sama untuk sadar setelah dibius? Mari kita bahas satu per satu pertanyaan tersebut. Berapa waktu pemulihan normal untuk anestesi umum? Kebanyakan orang bangun di ruang pemulihan segera setelah operasi namun tetap merasa lelah dan […]

    Berapa Lama Bangun (Sadar) Setelah Dibius?

    Apakah Anda pernah dibius saat operasi? Berapa lama Anda tidak sadarkan diri saat itu? Lantas, apakah semua orang punya waktu yang sama untuk sadar setelah dibius? Mari kita bahas satu per satu pertanyaan tersebut.

    • Berapa waktu pemulihan normal untuk anestesi umum?

    Kebanyakan orang bangun di ruang pemulihan segera setelah operasi namun tetap merasa lelah dan mengantuk selama beberapa jam setelahnya. Tubuh Anda memerlukan waktu kurang lebih 1 minggu untuk sepenuhnya menghilangkan obat-obatan anestesi dari tubuh, namun kebanyakan orang sudah tidak merasakan efek setelah 24 jam usai operasi. Dengan alasan tersebut, pasien yang baru saja mengalami operasi tidak direkomendasikan mengendarai mobil selama 24 jam setelah operasi. Bagi mereka yang memiliki masalah medis yang signifikan, operasi yang kompleks atau lama, atau usia lanjut dapat membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sadar setelah operasi.

    • Apakah saya dapat terbangun saat sedang dioperasi?

    Tidak. Meskipun hal ini kadang menjadi masalah nyata dan telah banyak menarik banyak perhatian orang, namun hal ini jarang sekali terjadi. Pemberian obat anestesi tidak akan selesai selama operasi berlangsung, dan para dokter juga memiliki pemantauan tambahan yang tersedia untuk memastikan apakah pasien masih terbius penuh atau tidak. Jika Anda memiliki masalah kesehatan mengenai anestesi (bius), diskusikan hal tersebut dahulu dengan dokter anestesi sebelum operasi dilakukan.

    • Bagaimana cara dokter membuat saya tertidur saat operasi?

    Dokter anestesi akan menggunakan kombinasi dari obat-obatan untuk membuat pasien tertidur. Obat-obat bius ini akan bertahan dalam jangka waktu pendek (sekitar 20 menit). Saat pasien sudah mulai tertidur, dokter anestesi akan memasang alat bantu napas untuk mengontrol kadar oksigen di dalam tubuh. Sepanjang prosedur operasi, anestesi (bius) yang selanjutnya digunakan dapat berupa gas atau obat intra vena kontinus. Ketika operasi berakhir, pemberian anestesi (bius) akan dihentikan dan pasien dibangunkan dari tidur. Keuntungan dari penggunaan sistem yang kompleks ini adalah dokter anestesi akan dapat dengan mudah memperpanjang maupun memperpendek lama pemberian anestesi sesuai dengan lama waktu operasi.

    • Apakah saya akan mengingat tentang operasi setelah sadar?

    Jawabannya adalah tidak. Pasien mungkin akan mengingat saat sebelum tertidur dan saat bangun di ruang pemulihan setelah selesai operasi. Namun sebagian besar pasien tidak akan sepenuhnya menyadari lingkungan mereka sampai benar–benar pulih.

    • Berapa lama hingga saya benar–benar pulih dari anestesi?

    Setelah operasi selesai, dokter anestesi akan menghentikan pemberian obat anestesi (bius) dan pasien akan secara bertahap bangun. Biasanya pasien akan berada di ruangan pemulihan sebelum nantinya dipindahkan ke ruang perawatan. Tergantung pada keadaan pasien, biasanya pasien harus tinggal beberapa jam bahkan hari di rumah sakit setelah operasi. Anestesi umum dapat mempengaruhi ingatan, konsentrasi, dan refleks selama 1-2 hari, jadi penting bagi orang dewasa yang bertanggung jawab untuk menemani pasien setidaknya 24 jam setelah operasi, hingga nantinya pasien diizinkan untuk pulang ke rumah. Pasien juga disarankan untuk tidak mengemudi, minum alkohol, dan menandatangani dokumen hukum apapun selama 24 hingga 48 jam setelah operasi.

    • Apakah ada larangan setelah pulih dari anestesi umum?

    Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda tahu dan pahami ketika baru saja pulih dari anestesi umum:

    • Jangan bekerja terlalu banyak dan terlalu cepat.
    • Tetap beristirahat yang cukup meskipun sudah pulang ke rumah.
    • Minumlah obat sesuai dengan anjuran yang telah diberikan.
    • Konsumsi makanan dan minuman secukupnya, jangan terlalu banyak dan jangan juga terlalu sedikit.
    • Ikuti program rehabilitasi dengan rutin.
    • Jangan mengemudi mobil sebelum pasien benar-benar telah siap.

    Jika Anda masih memiliki pertanyaan soal anestesi (bius), konsultasikan dengan dokter anestesi Anda. Jangan takut bertanya, karena ini demi kesehatan Anda. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Frequently Asked Questions Anesthesiologists – gasdocs.com/faq.php, diakses pada tanggal 14-12-2018
    2. Care After Anesthesia – allinahealth.org/health-conditions-and-treatments/health-library/patient-education/what-you-need-to-know-about-surgery/after-surgery/care-after-anesthesia/, diakses pada tanggal 14-12-2018
    3. Day surgery and anaesthesia – betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/day-surgery-and-anaesthesia, diakses pada tanggal 14-12-2018
    4. Preparing For Surgery Recovery – asahq.org/whensecondscount/preparing-for-surgery/recovery/, diakses pada tanggal 14-12-2018
    5. Mistakes After Surgery That Slow Your Recovery – webmd.com/healthy-aging/features/rehab-mistakes#1

     

    Read More
  • Setiap kali anak akan mengikuti operasi yang membutuhkan anestesi atau dibius, orang tua pastinya memiliki berbagai pertanyaan tentang risiko yang mungkin terjadi, terutama ketika anak itu adalah bayi atau balita. Oleh karena itu, yuk kita bahas berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang keamanan anestesi (bius). Apakah anestesi atau dibius itu aman untuk anak saya? Anestesi […]

    Amankah Bayi dan Anak Dibius?

    Setiap kali anak akan mengikuti operasi yang membutuhkan anestesi atau dibius, orang tua pastinya memiliki berbagai pertanyaan tentang risiko yang mungkin terjadi, terutama ketika anak itu adalah bayi atau balita. Oleh karena itu, yuk kita bahas berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang keamanan anestesi (bius).

    • Apakah anestesi atau dibius itu aman untuk anak saya?

    Anestesi atau pembiusan pada anak relatif aman. Dokter anestesi akan memastikan anak, bahkan bayi berusia beberapa jam sekalipun, dapat menjalani operasi yang diperlukan untuk menyelamatkan hidupnya. Seperti semua tindakan medis lainnya, anestesi atau pembiusan pada anak juga memiliki risiko, seperti juga pada dewasa. Teknik anestesi pada anak sedikit berbeda dibandingkan dengan pada dewasa.1,2

    • Ketika bayi atau anak–anak dibius, apakah hal tersebut mempengaruhi perkembangan otak anak?

    Para ilmuwan terus menyelidiki efek anestesi pada perkembangan otak hewan selama lebih dari 20 tahun. Pada hewan yang dibius dalam jangka waktu panjang atau berulang mungkin mengalami masalah dengan belajar dan perilaku kemudian hari, namun jika pemberian bius hanya satu kali yang diberikan secara hati–hati, belum pernah ditemukan masalah pada anak. Selama beberapa tahun terakhir, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk lebih memahami risiko dan aspek keamanan dari anestesi (bius) umum pada anak.1,3

    • Apa yang dapat keluarga lakukan ketika anak membutuhkan operasi?

    Orang tua tentu harus mendiskusikan semua risiko dan manfaat dari operasi atau prosedur yang akan dilakukan pada anak dengan dokter spesialis anak. Tanyakan tentang waktu, jika tidak ada risiko terkait dengan menjalani operasi (misalnya keadaan mengancam jiwa atau keadaan darurat), maka dapat dipertimbangkan dengan dokter anak untuk menunda operasi hingga anak berusia lebih dari 3 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa efek samping anestesi (bius) pada otak menurun seiring bertambahnya usia.

    Orang tua tentunya harus juga berkonsultasi dengan dokter anestesi. Dokter anestesi akan menggunakan obat yang paling tidak berbahaya bagi anak, untuk menghindari masalah dan untuk menyesuaikan jumlah obat anestesi (bius) yang diberikan kepada anak berdasarkan usia, berat badan, jenis kelamin, dan juga obat lain yang sedang dikonsumsi oleh anak.1,4

    • Bagaimana cara dokter anestesi menjaga agar anak saya tetap aman saat dibius?

    Dokter anestesi akan secara hati–hati memberikan obat bius untuk membantu anak tertidur dan tetap aman dan nyaman. Saat dibius, anak akan memiliki reaksi berbeda terhadap anestesi dibandingkan dewasa. Dokter anestesi akan memantau denyut jantung, tekanan darah, pernapasan serta kadar oksigen, serta menyesuaikan obat sesuai kebutuhan anak. Dokter akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga tanda–tanda vital anak stabil dan bebas dari rasa sakit.

    • Apa saja teknik bius yang dapat dilakukan pada anak?

    Terdapat beberapa prosedur yang dapat digunakan, yaitu:

    • Anestesi umum, yaitu anak akan dibuat “tertidur”, merupakan pilihan yang paling sering digunakan saat operasi.
    • Anestesi regional, yaitu jenis bius yang digunakan untuk membuat satu area besar dari tubuh mati rasa.
    • Anestesi lokal, yaitu teknik anestesi hanya satu bagian kecil dari tubuh yang dibuat mati rasa.
    • Apakah obat yang digunakan untuk anestesi (bius) lebih aman daripada obat lainnya?

    Semua obat yang digunakan untuk anestesi atau bius telah terbukti memengaruhi perkembangan otak normal pada hewan jika diberikan berulang kali atau dalam jangka waktu yang lama. Jenis anestesi dengan obat tertentu seperti opioid, clonidine dan dexmedetomidine mungkin tidak menimbulkan efek pada otak yang sama terhadap hewan, namun obat ini terkadang tidak sesuai untuk semua pasien atau beberapa prosedur. Saat ini para peneliti terus mengembangkan pilihan obat baru yang bebas dari efek samping.

    Jika Anda memiliki pertanyaan lagi tentang anestesi atau bius, silakan berkonsultasi dengan dokter anestesi sebelum hari tindakan. Semoga membantu.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Anesthesia Safety for Infants nad Toddlers : Parent FAQs – healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx, diakses pada tanggal 7-12-2018
    2. A Practice of Anesthesia for Infants and Children, 5th – journals.lww.com/anesthesia-analgesia/FullText/2013/11000/A_Practice_of_Anesthesia_for_Infants_and_Children,.42.aspx, diakses pada tanggal 7-12-2018
    3. Anesthesia Safe for Infants, Toddlers, Study Says – webmd.com/parenting/baby/news/20160607/anesthesia-safe-for-infants-toddlers-study-says, diaskes pada tanggal 7-12-2018
    4. Is Anesthesia Safe for Your Child – health.clevelandclinic.org/is-anesthesia-safe-for-children/, diakses pada tanggal 7-12-2018
    5. Anesthesia – What to expect – kidshealth.org/en/parents/anesthesia.html, diakses pada tanggal 7-12-2018
    Read More
WhatsApp Asisten Maya saja