Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 41–50 of 1354 results

  • Menjaga berat badan yang sehat merupakan hal penting bagi semua orang, tidak terkecuali orang dengan diabetes. Salah satu cara untuk mengetahui berat badan yang sehat bagi Anda bisa dengan menggunakan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT).  Berat badan yang sehat memberikan dampak baik terhadap kesehatan, seperti menjaga kestabilan tekanan darah dan kolesterol, serta mengurangi risiko terjadinya […]

    Indeks Massa Tubuh yang Sehat bagi Penderita Diabetes

    Menjaga berat badan yang sehat merupakan hal penting bagi semua orang, tidak terkecuali orang dengan diabetes. Salah satu cara untuk mengetahui berat badan yang sehat bagi Anda bisa dengan menggunakan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). 

    Indeks Massa Tubuh yang Sehat bagi Penderita Diabetes

    Indeks Massa Tubuh yang Sehat bagi Penderita Diabetes

    Berat badan yang sehat memberikan dampak baik terhadap kesehatan, seperti menjaga kestabilan tekanan darah dan kolesterol, serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Tidak hanya itu, memiliki berat badan yang sehat akan memengaruhi persepsi seseorang tentang dirinya. Ia akan merasa dan terlihat sehat.

    Dengan berbagai restriksi jenis makanan, bagaimana cara orang dengan diabetes dapat mengatur indeks massa tubuh yang sehat?

    Mengenal Indeks Massa Tubuh

    Indeks Massa Tubuh adalah alat skrining untuk pengkategorian berat badan berdasarkan tinggi badan dan berat badan. IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, namun Anda bisa mendapatkan gambaran umumnya. Dari IMT, Anda juga bisa mengetahui risiko penyakit metabolik dan penyakit lainnya.

    Berikut cara menghitung Indeks Massa Tubuh:

    Dari hasil perhitungan, Anda dapat mengetahui kategori berat badan Anda. Untuk orang Indonesia, nilai Indeks Massa Tubuh merujuk kepada kriteria Asia Pasifik, yaitu:

    Klasifikasi IMT (kg/m2)
    Berat badan kurang (underweight) < 18,5
    Berat badan normal 18,5 – 22,9
    Berat badan berlebih 23 – 24,9
    Obesitas > 25

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Menaikkan Berat Badan

    Tidak semua orang diabetes memiliki berat badan berlebih. Sebagian penderita diabetes justru memiliki berat badan kurang (underweight). Bila Anda ingin menaikkan berat badan untuk mencapai berat badan atau Indeks Massa Tubuh yang sehat, sangat disarankan untuk Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan Ahli Gizi dan dokter yang memantau diabetes Anda. Ahli Gizi akan menjelaskan program diet yang terbaik untuk menaikkan berat badan sesuai dengan kondisi diabetes yang Anda miliki.

    Beberapa tipsnya antara lain:

    1. Makan dengan porsi kecil tapi lebih sering.
    2. Gunakan produk tinggi lemak, misalnya susu, krim, keju, yogurt, sebagai snack, campuran makan, atau minuman.
    3. Tambahkan lemak tak jenuh (unsaturated fat) ke makanan, seperti minyak zaitun dan minyak bunga matahari.

    Selalu catat apa yang Anda makan dan minum, porsi dan waktunya sebagai bahan evaluasi bersama Ahli Gizi.

    Baca Juga: Berbagai Faktor Penyebab Diabetes yang Paling Banyak Ditemukan

    Menurunkan Berat Badan

    Menurunkan berat badan bisa jadi tantangan besar bagi Anda yang memiliki berat badan lebih. Namun, menurunkan berat badan memberikan banyak manfaat bagi orang dengan diabetes. Kadar gula darah Anda akan lebih mudah dikelola, Anda akan memiliki lebih berenergi, dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi.

    Ada banyak sekali jenis diet untuk menurunkan berat badan. Bicarakan dengan Ahli Gizi untuk rekomendasi diet terbaik bagi Anda dan dengan pertimbangan bahan makanan yang mudah Anda akses dan sukai. Selain diet, olahraga akan sangat membantu penurunan berat badan.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Macam Komplikasi Akibat Diabetes

    Menjaga Berat Badan yang Sehat

    Untuk menjaga berat badan yang sehat, diperlukan komitmen untuk terus memelihara kebiasaan baik yang telah Anda bangun. Secara umum, rekomendasinya adalah sebagai berikut:

    1. Makan dengan benar.
    2. Perhatikan berat badan dan lingkar perut. Lingkar perut yang sehat untuk perempuan adalah < 80 cm dan laki-laki < 90 cm.
    3. Aktif bergerak dan berolahraga.
    4. Kontrol kesehatan rutin dengan dokter.

    Bila Anda telah mencapai berat badan yang sehat atau memiliki Indeks Massa Tubuh normal, saatnya giliran Anda memberikan dukungan kepada mereka yang masih berusaha.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Bahaya Diabetes Pada Pria

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

     

    • What’s Your Healthy Weight When You Have Diabetes 

     

    • About Adult BMI [Internet]. CDC. 2021

     

    • Tips to Gain Weight [Internet]. Diabetes UK. 2022
    Read More
  • Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memaparkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat penyakit meningitis, yaitu kondisi peradangan dan infeksi selaput otak. Jika tidak ditangani dengan tepat 50% kasus meningitis akan berakhir pada kematian. Apa yang menjadi penyebab infeksi otak Meningitis dan bagaimana cara pencegahan penyakit meningitis ? Mari simak penjelasan […]

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memaparkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat penyakit meningitis, yaitu kondisi peradangan dan infeksi selaput otak. Jika tidak ditangani dengan tepat 50% kasus meningitis akan berakhir pada kematian.

    Apa yang menjadi penyebab infeksi otak Meningitis dan bagaimana cara pencegahan penyakit meningitis ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Apa Itu Penyakit Meningitis?

    Meningitis merupakan kondisi peradangan pada selaput lapisan otak atau yang disebut dengan meninges. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan jamur yang menginfeksi cairan otak dan tulang belakang. Selain itu beberapa kondisi medis lainnya dapat menyebabkan meningitis, yaitu cedera kepala, kanker, efek samping obat dan komplikasi infeksi pada area tubuh lainnya.

    Penyebab Meningitis

    Berikut adalah beberapa organisme yang menyebabkan meningitis, yaitu:

    • Meningitis Bakteri
      Disebabkan oleh beberapa jenis bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes.
    • Meningitis Virus
      Meningitis virus adalah infeksi selaput otak yang disebabkan karena infeksi virus, seperti enterovirus, mumps, virus HIV, virus herpes simplex, virus west nile. Biasanya meningitis virus memiliki gejala yang tergolong ringan dan dapat pulih dengan sendirinya dibandingkan dengan meningitis bakteri.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    • Meningitis Jamur
      Meningitis jamur biasanya menyerang seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita penyakit autoimun, kanker dan penyakit kronis tertentu (misalnya, HIV/AIDS). Beberapa jamur yang dapat menyebabkan meningitis antara lain cryptococcus, Blastomyces, histoplasma dan coccidioides yang terdapat pada kotoran hewan seperti burung dan kelelawar.
    • Meningitis Parasit
      Biasanya disebabkan karena parasit Angiostrongylus cantonensis dan Baylisascaris procyonis yang menginfeksi melalui makanan yang tercemar kotoran seperti siput, ikan dan unggas.
    • Meningitis Amoeba
      Meningitis yang disebabkan karena amoeba sangat jarang terjadi.Amoeba yang menyebabkan meningitis adalah Naegleria fowleri yang biasanya disebabkan karena mengkonsumsi air minum dari alam bebas yang tercemar amoeba ini.

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Gejala Meningitis

    Secara umum gejala meningitis pada fase awal sangat mirip dengan gejala influenza. Berikut ini gejala meningitis secara umum, yaitu:

    • Demam 
    • Leher kaku
    • Nyeri kepala berat
    • Nyeri kepala disertai dengan mual dan muntah
    • Sulit berkonsentrasi
    • Kejang
    • Mengantuk dan sulit berjalan 
    • Sensitif terhadap cahaya 
    • Nafsu makan menurun
    • Kemerahan pada kulit 

    Jika mengalami keluhan diatas, sebaiknya Sahabat Sehat segera memeriksakan ke dokter agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Meningitis Untuk Calon Mahasiswa Luar Negeri

    Tips Mencegah Meningitis

    Untuk mencegah meningitis Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai hal berikut: 

    • Mencuci tangan setiap kali selesai beraktivitas atau sebelum makan.
    • Memasak makanan hingga matang 
    • Menggunakan masker bila sedang sakit
    • Hindari kontak dengan pasien yang sedang terinfeksi
    • Jangan berbagi makanan atau minuman yang sedang dimakan atau barang pribadi (pisau cukur, lipstick, sikat gigi)
    • Menerapkan pola hidup sehat, misalnya olahraga teratur dan cukup istirahat minimal 7-9 jam
    • Mengikuti vaksinasi, seperti vaksin meningitis, vaksin PCV (pneumococcal), maupun Vaksin Hib (Haemophilus influenzae B), untuk melindungi dari kuman penyebab meningitis.

    Baca Juga: Selain Haji dan Umroh, Vaksin Meningitis Juga Penting untuk Ke Timur Tengah dan Afrika

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit meningitis yang menginfeksi selaput otak. Jika Sahabat Sehat berminat menerima vaksinasi untuk mencegah meningitis, segera manfaatkan layanan imunisasi ke rumah dari Prosehat. Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Antara News. Setahun mengenang Glenn Fredly, ketahui gejala meningitis pada anak. Indonesia : Antara News.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis. USA :  Centers for Disease Control and Prevention.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. About Bacterial Meningitis Infection. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Viral Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Fungal Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Parasitic Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    7. Centers for Disease Control and Prevention. Amebic Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    8. Centers for Disease Control and Prevention. Non-Infectious Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    9. Mayo Clinic. Meningitis – Symptoms and causes. USA : Mayo Clinic.
    10. Cassoobhoy A. Meningitis (Bacterial, Viral, and Fungal). USA : WebMD.
    Read More
  • Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernapasan dan paru yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian anak terbesar di dunia bila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya. Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 silam atau dapat […]

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernapasan dan paru yang dapat menjangkiti siapapun. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, misalnya bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian anak terbesar di dunia bila dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya.

    Di Indonesia, lebih dari 19.000 orang balita meninggal dunia pada tahun 2018 silam atau dapat dikatakan setiap jam terdapat 2 orang anak yang meninggal dunia akibat penyakit infeksi pernapasan ini.

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Diketahui berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan angka penderita pneumonia pada balita cukup tinggi yaitu 4,5 per 100 balita. Sementara berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) diketahui bahwa angka kematian anak berusia dibawah 5 tahun akibat pneumonia mencapai 15% pada tahun 2017, atau setara dengan 5,5 juta orang anak.

    Apakah Pneumonia Dapat Menginfeksi Bayi Baru Lahir?

    Pneumonia pada bayi baru lahir disebut juga dengan pneumonia neonatal. Kondisi ini mengakibatkan peradangan paru dan saluran pernapasan, sehingga beresiko menyebabkan sesak nafas yang dapat berujung pada syok dan kematian. Pneumonia pada bayi baru lahir dapat terjadi beberapa jam hingga 7 hari setelah bayi dilahirkan.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Penyebab Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir

    Berbagai organisme penyebab pneumonia pada bayi yang baru dilahirkan kemungkinan besar didapatkan dari jalan lahir (kemaluan ibu) ketika proses persalinan. Berikut ada beberapa jenis organisme yang menyebabkan pneumonia pada bayi baru lahir, yaitu : Streptococcus grup A dan B, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Klebsiella, dan Proteus. Selain itu Pseudomonas, Citrobacter, Bacillus, Serratia dan virus (Rhinovirus, Adenovirus, Human Metapneumovirus, Enterovirus, Coronavirus dan Herpes simplex virus) serta jamur.

    Risiko pneumonia meningkat pada beberapa kondisi berikut, yaitu:

    • Ibu hamil mengalami ketuban pecah dini
    • Infeksi rahim atau pada area kemaluan di masa kehamilan
    • Bayi baru lahir menjalani perawatan di ruang ICU
    • Ibu mengkonsumsi obat antibiotik selama masa kehamilan
    • Ibu merokok di masa kehamilan
    • Bayi lahir sungsang 
    • Ibu mengalami demam saat persalinan
    • Ibu menderita infeksi saluran kemih berulang.

    Baca Juga: Kenali Berbagai Jenis Imunisasi Pneumonia

    Apa Gejala Pneumonia Pada Bayi Baru Lahir?

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai gejala yang dialami bayi jika menderita pneumonia, yaitu: 

    • Sesak nafas dan kesulitan saat bernafas
    • Bayi terdengar seperti sedang merintih dan tidak kuat menangis.
    • Jari-jari serta bibir terlihat kebiruan
    • Wajah pucat
    • Jari dan tubuh teraba dingin 

    Pneumonia pada bayi baru lahir tidak selalu disertai dengan demam, berbeda dengan anak yang lebih besar yang mungkin akan disertai dengan demam. Selain itu, pneumonia pada bayi baru lahir dapat disertai dengan keluhan lain misalnya kulit tampak kemerahan, gula darah turun, perut membuncit dan bayi jarang buang air kecil.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Bagaimana Cara Mencegah Pneumonia?

    Untuk mencegah pneumonia pada bayi yang baru lahir, ibu hamil disarankan untuk kontrol rutin ke dokter selama kehamilan. Selain itu, usahakan untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terkena infeksi serta menjaga kebersihan tubuh terutama kemaluan. Hindari mengkonsumsi obat-obatan selama masa kehamilan tanpa saran dokter.

    Selain itu untuk mencegah pneumonia pada anak, Sahabat Sehat dapat memberikan imunisasi seperti pneumococcus conjugated vaccine (PCV), dan haemophilus influenzae type B (Hib). Imunisasi PCV dapat diberikan pada umur 2,4 dan 6 bulan dengan booster pada umur 12 – 15 bulan. Sementara imunisasi HiB dapat diberikan pada saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan, serta 18 bulan.

    Baca Juga: Imunisasi Anak di Rumah Bagi Warga Jakarta

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit pneumonia yang dapat menyerang Si Kecil. Salah satu cara untuk mencegah pneumonia adalah dengan mengikuti imunisasi baik PCV (pneumococcus conjugated vaccine) dan HiB (haemophilus influenzae type B).

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UNICEF. Kenali 6 Fakta tentang Pneumonia pada Anak.
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia Pada Anak bisa Dicegah dan Diobati.
    3. Ramdhani J. Hitung Napas Anak: Deteksi Awal Sesak Napas pada Anak dengan Pneumonia.
    4. M Cronan. Pneumonia (for Parents).
    5. ADA Health. Pediatric Pneumonia.
    Read More
  • Kementerian Agama tengah menyiapkan berbagai langkah terkait penyelenggaraan ibadah umrah di tengah masa pandemi Covid-19. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief meminta persiapan pelaksanaan umroh seperti vaksinasi Covid-19, pemeriksaan kesehatan, serta membuka akses data vaksinasi jemaah umrah agar dapat dibaca oleh otoritas Saudi. Selain vaksinasi Covid-19, Sahabat Sehat perlu mengikuti […]

    Persiapan Umroh Di Masa Pandemi Dengan Vaksinasi Meningitis

    Kementerian Agama tengah menyiapkan berbagai langkah terkait penyelenggaraan ibadah umrah di tengah masa pandemi Covid-19. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief meminta persiapan pelaksanaan umroh seperti vaksinasi Covid-19, pemeriksaan kesehatan, serta membuka akses data vaksinasi jemaah umrah agar dapat dibaca oleh otoritas Saudi.

    Persiapan Umroh Di Masa Pandemi Dengan Vaksinasi Meningitis

    Persiapan Umroh Di Masa Pandemi Dengan Vaksinasi Meningitis

    Selain vaksinasi Covid-19, Sahabat Sehat perlu mengikuti vaksinasi lain seperti vaksin meningitis sebab negara timur tengah merupakan daerah endemis kasus meningitis. Sahabat Sehat, apakah penting mengikuti vaksinasi meningitis ? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Meningitis?

    Meningitis merupakan kondisi adanya peradangan lapisan otak (meninges) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Meningitis terkadang sulit dikenali karena gejala awalnya mirip dengan gejala flu, seperti demam dan nyeri kepala. bakteri maupun virus yang menginfeksi cairan otak dan cairan tulang belakang (spinal cord) dapat menyebabkan pembengkakan otak.

    Penyebab Meningitis

    Sahabat Sehat, meningitis disebabkan oleh infeksi bakteri (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes), virus (enterovirus, mumps, virus HIV, virus herpes simplex, dan virus west nile), jamur (cryptococcus, blastomyces, histoplasma dan coccidioides), parasit (Angiostrongylus cantonensis, Baylisascaris procyonis ), maupun amoeba (Naegleria fowleri) pada selaput pembungkus otak dan dapat menular.
    Selain itu, penyakit meningitis juga dapat disebabkan bukan akibat infeksi melainkan akibat efek samping suatu penyakit misalnya kanker, lupus (Systemic Lupus Erythematosus), efek samping obat-obatan, cedera kepala dan operasi otak.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Meningitis

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa gejala meningitis yang perlu diwaspadai:

    • Demam tinggi
    • Leher kaku
    • Nyeri kepala berat
    • Mual muntah hebat
    • Sulit berkonsentrasi
    • Kejang
    • Mengantuk dan kesulitan berjalan 
    • Sensitif terhadap cahaya (Photophobia)
    • Nafsu makan menurun
    • Kemerahan pada kulit 

    Baca Juga: Selain Haji dan Umroh, Vaksin Meningitis Juga Penting untuk Ke Timur Tengah dan Afrika

    Bagaimana Cara Mencegah Meningitis?

    Untuk mencegah meningitis, Sahabat Sehat disarankan melakukan berbagai langkah berikut: 

    • Cuci tangan setiap kali selesai beraktivitas dan sebelum serta sesudah makan.
    • Memasak makanan hingga matang 
    • Menggunakan masker bila sedang sakit
    • Hindari kontak dengan pasien yang sedang terinfeksi
    • Hindari berbagi makanan atau minuman, serta barang pribadi (pisau cukur, lipstick, sikat gigi)
    • Pola hidup sehat, yaitu dengan berolahraga teratur dan istirahat yang cukup minimal 7-9 jam sehari
    • Melakukan vaksinasi meningitis, vaksinasi pneumokokus, dan vaksinasi Hib untuk melindungi dari kuman penyebab meningitis.

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Jenis Vaksin Meningitis

    Sebagai salah satu cara mencegah meningitis, Sahabat Sehat dapat mengikuti vaksinasi meningitis. Berikut adalah beberapa jenis vaksin meningitis:

    • Polysaccharide vaccines: vaksin ini diberikan untuk orang berusia di atas dua tahun dan dapat memberikan kekebalan selama tiga tahun setelah vaksinasi, namun tidak dapat memberi imunitas  seumur hidup.
    • Polysaccharide-protein conjugate vaccines: vaksin ini diberikan untuk orang yang berusia di atas satu tahun dan dapat memberikan kekebalan lebih dari lima tahun setelah vaksinasi. Vaksin ini dapat memberi kekebalan seumur hidup.
    • Vaksin kombinasi (HibMenC): vaksin kombinasi ini bertujuan memberikan kekebalan pada meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenza tipe b sekaligus bakteri Neisseria meningitides sero-group C.
    • Meningococcal conjugate vaccine (MCV4) dan Meningococcal polysaccharide vaccine (MPSV4), yang dosis pertamanya diberikan saat anak berusia 11-12 tahun, sedangkan dosis lanjutan selang 5 tahun.
    • Vaksin pneumokokus, yaitu vaksin yang dapat mencegah penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), sekaligus infeksi darah (bakteremia). Vaksin diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan sekali booster atau lanjutan.

    Baca Juga: 5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab meningitis serta cara mencegahnya. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh:  dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Suharjanti I, T Pinzon R. PANDUAN PRAKTIK KLINIS NEUROLOGI. 
    2. Meningitis | CDC.
    3. About Bacterial Meningitis Infection | CDC.
    4. Viral Meningitis | CDC.
    5. Fungal Meningitis | CDC.
    6. Parasitic Meningitis | CDC.
    7. Amebic Meningitis | CDC.
    8. Non-Infectious Meningitis | CDC.
    9. Meningitis – Symptoms and causes.
    10. Cassoobhoy, MD, MPH A. Meningitis (Bacterial, Viral, and Fungal).
    11. Prosehat. Pentingnya Vaksinasi Umroh untuk Ibadah yang Sehat.
    Read More
  • Penyakit peradangan hati atau disebut juga hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Terdapat berbagai jenis virus hepatitis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, D dan E. Kali ini akan dibahas mengenai penyakit Hepatitis A, mari simak penjelasan berikut. Apa Itu Hepatitis A? Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (Hepatitis Virus A- […]

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Penyakit peradangan hati atau disebut juga hepatitis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Terdapat berbagai jenis virus hepatitis, yakni Hepatitis A, Hepatitis B dan Hepatitis C, D dan E. Kali ini akan dibahas mengenai penyakit Hepatitis A, mari simak penjelasan berikut.

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Kenali Tanda dan Cara Penularan Hepatitis A Pada Anak

    Apa Itu Hepatitis A?

    Penyakit Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A (Hepatitis Virus A- HAV), yang termasuk famili picornaviridae genus hepatovirus yang merupakan RNA virus positif. Menurut data Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), Hepatitis A adalah salah satu penyakit yang ditularkan melalui makanan yang tercemar oleh virus hepatitis A. Penyakit hepatitis A merupakan jenis penyakit hepatitis yang paling sering ditemui di dunia. Diketahui setiap tahun sekitar 1,4 juta orang tertular penyakit Hepatitis A di dunia.

    Penyakit Hepatitis tidak hanya menyerang orang dewasa saja, melainkan juga dapat menyerang anak-anak. Jika dibiarkan, penyakit hepatitis dapat mengakibatkan sirosis yaitu suatu kondisi adanya kerusakan hati yang dapat mengakibatkan gagal fungsi hati. Sahabat Sehat perlu mewaspadai gejala hepatitis pada anak serta cara pengobatan dan pencegahan tertular Hepatitis A.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Hepatitis A?

    Penularan Hepatitis A pada anak ditularkan dengan mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A. Virus dapat ditemukan pada tinja penderita hepatitis A dan jumlah virus hepatitis A mencapai puncaknya dalam 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala. Oleh sebab itu, mencuci tangan menjadi salah satu cara mencegah penularan hepatitis A.

    Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat hepatitis A, biasanya terjadi ditempat umum yang banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk makan atau minum. Penyakit hepatitis A dapat ditemukan pada lingkungan yang sanitasinya buruk.

    Baca Juga: Virus Hepatitis A, Mulai dari Penyebab hingga Pengobatan

    Gejala Hepatitis A

    Hepatitis A berkembang dalam tubuh (masa inkubasi) terjadi selama 14-28 hari, sehingga seseorang baru merasakan gejala penyakit ini setelah jangka waktu tersebut. Virus hepatitis A dapat mengakibatkan infeksi yang cukup ringan, bahkan anak berusia dibawah usia 6 tahun cenderung tidak merasakan gejala apapun.

    Berikut ini gejala yang dapat dialami anak yang terinfeksi hepatitis A, yakni:

    • Demam
    • Kehilangan nafsu makan
    • Merasa letih dan lelah
    • Nyeri perut
    • Muntah
    • Warna urin tampak seperti teh
    • Kulit dan mata terlihat kekuningan
    • Tinja berwarna pucat.

    Baca Juga: Ingin Melanjutkan Kuliah di India? Vaksin Hepatitis A Dulu!

    Mengapa Anak Berusia Dibawah 6 Tahun Tidak Bergejala?

    Gejala yang timbul setelah adanya infeksi virus Hepatitis A sebenarnya bukanlah akibat langsung dari virus tersebut, melainkan akibat respon imun tubuh anak untuk mengeluarkan virus Hepatitis dari sel hati. Munculnya gejala penyakit ini merupakan pertanda respon imun seseorang sudah bekerja dengan baik. Pada anak berusia dibawah 6 tahun, respon imun tubuhnya belum sempurna sehingga gejala penularan Hepatitis A pada anak seringkali tak terlihat.

    Baca Juga: Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

    Apa yang Harus Dilakukan Bila Si Kecil Terjangkit Hepatitis A?

    Sahabat Sehat, berikut ini berbagai hal yang dapat dilakukan dirumah apabila Si Kecil menderita hepatitis A:

    1. Biarkan Si Kecil istirahat yang cukup
    2. Beri minum air putih yang cukup agar Si Kecil tidak kekurangan cairan tubuh
    3. Menjaga kebersihan seperti mencuci tangan setelah buang air, sebelum dan sesudah makan, serta sebelum tidur.
    4. Bagi orang tua, jangan lupa mencuci tangan setelah selesai mengganti popok bayi, kontak dengan feses Si Kecil yang sakit, serta jika sedang menyiapkan makanan.

    Baca Juga: Mencegah Bahaya Hepatitis A pada Anak

    Tips Mencegah Hepatitis A Pada Anak

    Untuk melindungi anak dari bahaya Hepatitis A, berikut pencegahan yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

    • Pastikan Si Kecil mendapatkan vaksinasi Hepatitis A sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan
    • Ajarkan Si Kecil untuk mencuci tangan setelah dari kamar kecil, mencuci tangan dengan dengan sabun minimal 20 detik, bilas hingga bersih dan keringkan dengan handuk atau tisu.
    • Ajarkan Si Kecil untuk tidak berbagi penggunaan barang pribadi dengan orang lain seperti handuk, sikat gigi, sendok dan gelas dengan orang lain.
    • Hindari mengkonsumsi makanan setengah matang dan jajan sembarangan 
    • Jaga kebersihan anak lingkungan di sekitarnya.

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penularan hepatitis A pada anak yang dapat dialami Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Sehat Negeriku. Mengenal Hepatitis A.
    2. World Health Organization. Hepatitis A.
    3. Eremius A. Rumah Sakit dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals.
    4. Nity T. Parents, kenali beberapa gejala hepatitis A pada anak berikut ini.
    5. Herdiana M, Arief S, Setyoboedi B. Mengenal Hepatitis A pada Anak.
    Read More
  • Pertengahan tahun identik dengan libur panjang dan pastinya sangat dinantikan oleh anak-anak. Rencana liburan biasanya juga sudah disiapkan oleh orang tua dari jauh-jauh hari. Selain membuat rencana perjalanan, orang tua sebaiknya juga mempersiapkan kesehatan diri dan anak. Kesehatan diri tidak hanya seputar mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan istirahat yang cukup. Ada satu hal lainnya […]

    Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Pertengahan tahun identik dengan libur panjang dan pastinya sangat dinantikan oleh anak-anak. Rencana liburan biasanya juga sudah disiapkan oleh orang tua dari jauh-jauh hari. Selain membuat rencana perjalanan, orang tua sebaiknya juga mempersiapkan kesehatan diri dan anak.

    Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Kesehatan diri tidak hanya seputar mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga, dan istirahat yang cukup. Ada satu hal lainnya yang dapat melengkapi itu, yaitu vaksinasi. Ada ya vaksinasi untuk liburan? Ya, pastinya ada.

    Vaksinasi liburan biasanya ditujukan sebagai perlindungan terhadap penyakit yang sering ditemui di keramaian, bisa penularan antar manusia ataupun melalui makanan dan air. Apa saja contohnya? Yuk simak penjelasannya.

    Masa inkubasi penyakit berbeda-beda

    Ada berbagai macam penyakit yang bisa ditularkan melalui udara dan penularan ini semakin mudah jika seseorang berada di dalam keramaian atau di ruang tertutup. Contoh penyakitnya seperti influenza, cacar air (varisela), campak, dan pneumonia. Penderita yang batuk atau bersin berpotensi menyemprotkan ratusan ribu kuman ke udara.

    Adapun penyakit yang bisa ditularkan melalui makanan. Biasanya kuman masuk ke dalam makanan melalui penderita yang tidak memiliki kebersihan diri yang baik. Contohnya adalah pada penyakit hepatitis A dan demam tifoid. Karena rute penularan penyakit ini adalah fekal-oral, maka penderita yang tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah buang air besar lalu mengolah atau menyajikan makanan, akan meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Pada musim liburan, kegiatan berenang atau bermain di air juga biasanya menjadi pilihan anak-anak dan dewasa. Walau air kolam renang sudah dicampurkan kaporit sebagai pembunuh kuman, namun kepadatan wisatawan dalam satu waktu tetap akan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit. Salah satu penyakit yang bisa ditularkan melalui kolam renang adalah diare.

    Orang yang sudah jelas terinfeksi penyakit-penyakit ini akan menunjukkan gejala secara jelas pula dan mungkin orang lain akan lebih waspada jika berada di sekitarnya. Namun, yang dikhawatirkan adalah jika penderita sedang berada dalam masa inkubasi.

    Masa inkubasi adalah periode antara paparan pertama hingga timbulnya gejala. Pada masa ini, penderita bisa dengan mudah menularkan kuman penyakit kepada orang lain tanpa mengetahui dirinya sedang sakit. Maka ini bisa membahayakan bagi orang lain, terutama mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang kuat seperti anak dan lansia. Masa inkubasi tiap penyakit bisa berbeda-beda. Misalnya penyakit influenza memiliki masa inkubasi 1-4 hari, sedangkan demam tifoid (tipes) selama 7-14 hari.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Siap Liburan, Siap Vaksin

    Vaksinasi adalah salah satu cara yang efektif dalam mencegah penyebaran penyakit. Kegiatan ini sebenarnya sudah rutin dilakukan sejak anak lahir dan terus berlaku hingga dewasa. Maka, sebelum Sahabat Sehat melakukan vaksinasi tambahan, pastikan terlebih dulu apa saja vaksinasi yang telah didapat.

    Beberapa jenis vaksin dasar memerlukan booster pada usia-usia tertentu, sebagian lainnya cukup dengan pemberian vaksin primer. Berikut adalah jenis vaksin yang direkomendasikan untuk melindungi anak dan dewasa saat berlibur:

    1. Anak
      • PCV (pneumonia): vaksin primer usia 2, 4, 6 bulan; vaksin booster antara usia 12-15 bulan.
      • Rotavirus (diare): vaksin primer usia 2, 4, 6 bulan.
      • Campak (MR/ MMR): vaksin primer usia 9 bulan; vaksin booster usia 18 bulan dan 5-7 tahun.
      • Cacar air (varisela): vaksin primer antara usia 12-18 bulan.
      • Influenza: vaksin primer usia 6 bulan; vaksin booster setiap satu tahun sekali.
      • Hepatitis A: vaksin primer 2 kali antara usia 12-24 bulan.
      • Tifoid: vaksin primer usia 24 bulan; vaksin booster setiap tiga tahun sekali.

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak – Anak

    1. Dewasa
      • Influenza: vaksin booster setiap satu tahun sekali.
      • MMR: vaksin booster satu kali jika sudah pernah saat anak-anak.
      • PCV: terutama bagi orang berusia di atas 50 tahun.
      • Hepatitis A: vaksin dua dosis dengan jarak 6-12 bulan.
      • Tifoid: vaksin setiap tiga tahun sekali.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Ayo Sahabat Sehat, jadwalkan vaksinasi Anda dan keluarga agar semua terlindungi selama liburan dan tidak membawa penyakit saat kembali ke rumah. Anda bisa melakukan vaksinasi bersama Prosehat karena vaksinasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat. Jadi, keamanan produk dan pelaksanaannya dijamin berkualitas.

    Layanan ini bisa dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi dan Palmerah Jakarta Barat, atau di rumah untuk kenyamanan Anda. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun. 2020.
    2. PAPDI. Jadwal Imunisasi Dewasa. 2021.
    Read More
  • Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan menjadi kewaspadaan tersendiri jelang Idul Adha 1443 Hijriah. Perlu Sahabat Sehat ketahui, PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) disebabkan oleh virus. Namun ini berbeda dengan penyakit kaki mulut tangan atau hand, foot, and mouth disease (HFMD) yang umumnya menyerang anak-anak. Kebanyakan sering disebut dengan Flu Singapura. Tentunya […]

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Sapi, Menular Ke Manusia?

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan menjadi kewaspadaan tersendiri jelang Idul Adha 1443 Hijriah. Perlu Sahabat Sehat ketahui, PMK atau Foot and Mouth Disease (FMD) disebabkan oleh virus.

    Namun ini berbeda dengan penyakit kaki mulut tangan atau hand, foot, and mouth disease (HFMD) yang umumnya menyerang anak-anak. Kebanyakan sering disebut dengan Flu Singapura. Tentunya Flu Singapura dipicu jenis virus yang berbeda dari PMK.

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Sapi, Menular Ke Manusia?

    Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Sapi, Menular Ke Manusia?

    PMK Menular Ke Manusia?

    Lantas, apakah PMK berbahaya dan menular bagi manusia? Dalam konferensi pers Senin (9/5), Menteri Kesehatan, Budi Sadikin menyatakan penyakit ini tidak berbahaya. “Penyakit mulut dan kuku domainnya ada di hewan, sangat jarang virus mulut dan kuku di hewan yang berkuku dua melompat ke manusia. Jadi, tidak perlu khawatir dari sisi kesehatan manusianya,” tandasnya.

    Namun sempat beredar kabar di tengah masyarakat bahwa ada bagian tertentu yang tidak boleh dikonsumsi, seperti:

    – Jeroan

    – Mulut

    – Bibir

    – Lidah

    – Kaki

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Hal ini dibantah oleh Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Epidemiologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Denny Widaya Lukman. Menurutnya informasi yang menyebut adanya bagian-bagian tertentu dari hewan terkena PMK yang tak boleh dikonsumsi tersebut adalah keliru. Denny menegaskan, bagian yang bisa dikonsumsi hewan ternak yang terkena PMK maupun hewan ternak yang sehat sama saja. Tak ada bagian tertentu yang dilarang dikonsumsi. “PMK tidak menular ke manusia. Jadi produknya ya aman untuk orang,” urainya.

    Surat Edaran Menteri Pertanian tentang pemotongan hewan di daerah wabah atau tertular PMK mengatur agar bagian-bagian sapi potong (kepala, kaki daerah kuku, jeroan, tulang dan buntut) di daerah wabah untuk direbus dalam air mendidih minimal 30 menit. Surat itu, menurut Denny, ditujukan agar virus tidak mencemari lingkungan. Bukan untuk mencegah PMK menular ke manusia. “Kenapa Pemerintah mengimbau merebus? Supaya virusnya tidak mencemari lingkungan yang akan menular ke hewan sehat,” tegasnya.

    Tips Memilih Hewan Kurban

    Di tengah wabah PMK, pastilah Sahabat Sehat memiliki kekhawatiran terkait PMK. Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Nanung Danar Dono memberikan sejumlah tips memilih hewan kurban:

    1. Upayakan membeli hewan kurban di tempat pedagang besar. Mengapa? Pedagang besar tentu akan sangat menjaga kesehatan ternak-ternaknya agar tidak sampai tertular penyakit karena akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar.

    2. Jika memungkinkan, beli hewan kurban pada pedagang yang mau memberikan jaminan atau garansi pada ternak yang diperjualbelikan.  Apabila ternak yang dibeli nantinya menunjukkan gejala sakit, pedagang bersedia untuk mengganti dengan ternak lain yang sehat.

    3. Belilah hewan kurban mendekati Hari Raya Idul Adha. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir risiko hewan kurban tertular penyakit.

    4. Perhatikan kondisi fisik hewan kurban dari segala sisi, misalnya:

    – Minta kepada pedagang menjalankan hewan ternak yang hendak dibeli.

    – Pastikan kaki dan kuku hewan kurban tidak melepuh atau luka berisi cairan.

    – Memberi pakan calon hewan kurban untuk mengetahui nafsu makannya.

    Memiliki bulu yang tidak kusam, mata bersinar.

    5. Dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan.

    Bagi Sahabat Sehat yang akan menyambut hari raya Idul Adha 1443 Hijriah, semoga ulasan di atas dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Konsumsi daging merah seperti daging sapi dan kambing dengan bijak agar menyehatkan bagi tubuh. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi ProSehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. detikhealth.2022. Penyakit PMK pada Sapi Bisa Menular ke Manusia? Menkes Ungkap Faktanya.
    2. Kompas.com.2022. Benarkah Tak Boleh Konsumsi Daging Sapi Terinfeksi PMK? Ini Kata Dosen IPB.
    3. Kontan.co.id.2022. Wabah PMK Merebak, Begini Tips Memilih Hewan Kurban yang Layak dari Pakar UGM.
    4. Kompas.com.2022. Ketahui, Ahli Ungkap Ciri-ciri Hewan Kurban yang Sehat.

    Read More
  • Apakah Sahabat Sehat kerap merasakan kaki terasa pegal secara tiba-tiba terutama pada dini hari, bengkak, kemerahan dan terasa hangat bila dipegang? Bila ya, bisa jadi hal ini merupakan salah satu gejala dari asam urat. Apabila dibiarkan lama, tentu saja akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan komplikasi lainnya. Sahabat Sehat, apa itu asam urat dan penyebabnya? Mari […]

    Kaki Sering Terasa Pegal, Waspada Asam Urat

    Apakah Sahabat Sehat kerap merasakan kaki terasa pegal secara tiba-tiba terutama pada dini hari, bengkak, kemerahan dan terasa hangat bila dipegang? Bila ya, bisa jadi hal ini merupakan salah satu gejala dari asam urat.

    Apabila dibiarkan lama, tentu saja akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan komplikasi lainnya. Sahabat Sehat, apa itu asam urat dan penyebabnya? Mari simak penjelasan berikut.

    Kaki Sering Terasa Pegal, Waspada Asam Urat

    Kaki Sering Terasa Pegal, Waspada Asam Urat

    Apa Itu Asam Urat?

    Penyakit asam urat atau dalam istilah medis disebut dengan gout, merupakan salah satu jenis peradangan pada sendi yang terjadi akibat penumpukan kristal asam urat pada sendi. Kondisi ini dapat terjadi pada sendi, seperti jari-jari kaki, pergelangan kaki, dan lutut. Area sendi yang paling sering diserang adalah pada ibu jari kaki.

    Pada kondisi normal, asam urat larut didalam darah dan dikeluarkan melalui urin. Namun pada kondisi tertentu, asam urat menumpuk di darah dalam jumlah yang berlebihan sehingga mengalami gangguan dalam proses pembuangan asam urat tersebut. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Faktor Risiko Asam Urat

    Radang sendi akibat asam urat dapat diderita semua usia, meski paling sering dialami lansia atau setelah menopause. Berikut adalah beberapa kondisi yang meningkatkan resiko terjadinya radang sendi akibat asam urat, yaitu: 

    • Kegemukan
    • Menderita suatu penyakit, seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, diabetes melitus, dan gangguan fungsi ginjal.
    • Efek samping obat-obatan, misal obat diuretik
    • Mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula.
    • Mengonsumsi makanan yang mengandung purin, seperti daging merah, jeroan dan makanan laut (misalnya tuna, mussels, scallops dan sarden), serta alkohol.

    Baca Juga: Asam Urat? Coba Diet Rendah Purin!

    Gejala Asam Urat

    Sebagian orang dengan asam urat tinggi didalam darah tidak menyebabkan gejala apapun, kondisi seperti ini dinamakan asimptomatik hiperurisemia. Sedangkan pada kondisi akut, keluhan dialami sekitar 3-7 hari. Berikut ini gejala yang dapat Sahabat Sehat rasakan apabila kadar asam urat meningkat:

    • Nyeri pada sendi yang terasa mendadak, terutama dialami pada malam dan dini hari. Lokasi tersering pada jari kaki (ibu jari), pergelangan kaki, siku dan lutut.
    • Bengkak, kemerahan dan teraba hangat pada sendi
    • Sulit digerakkan
    • Demam.

    Baca Juga: 3 Makanan Penyebab Asam Urat yang Perlu Diwaspadai

    Pencegahan Asam Urat

    Berikut ini beberapa hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan untuk mencegah naiknya asam urat di dalam darah:

    1. Hindari makanan tinggi purin, seperti daging merah, makanan laut dan sayuran hijau. Selain itu, jeroan, daging babi, scallops, kerang, kacang-kacangan, jamur juga mengandung tinggi purin.
    2. Hindari makanan dan minuman tinggi gula, seperti minuman bersoda dan jus (karena gulanya lebih cepat diserap dibandingkan dengan mengkonsumsi buah utuh).
    3. Minum air putih yang cukup minimal 6-8 gelas per hari.
    4. Hindari minuman beralkohol sebab dapat menyebabkan tubuh semakin kekurangan cairan (dehidrasi) yang dapat memperberat kinerja ginjal.
    5. Turunkan berat badan untuk menghindari kelebihan berat badan sebab jika berat badan berlebih maka berpotensi meningkatkan kadar asam urat didalam darah.
    6. Konsumsi makanan berserat, seperti buah kering, gandum dan sayur untuk mengurangi kadar asam urat dalam darah.

    Baca Juga: 10 Persiapan Travelling Bagi Anda yang Memiliki Asam Urat

    Nah Sahabat Sehat, itulah penyakit radang sendi akibat kadar asam urat yang meningkat dalam darah. Untuk menjaga daya tahan tubuh, lengkapi asupan nutrisi dengan mengkonsumsi multivitamin.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Khatri M. Gout Pictures — Learn About the Symptoms, Causes, and Treatments. USA : WebMD. 2020.
    2. Watson S. Everything You Need to Know About Gout. USA : Healthline. 2021.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Gout. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2020.
    4. Hamijoyo L. Apakah Nyeri Sendi Saya Akibat Asam Urat? Kenali Gout – Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Indonesia : Reumatologi.or.id. 2011.
    5. Mayo Clinic. Gout – Symptoms and causes. USA : Mayo Clinic. 2021.
    6. Iftikhar N. Natural Ways to Reduce Uric Acid in the Body. USA : Healthline. 2019.
    Read More
  • Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Terdapat banyak sekali penyebab keluhan batuk, salah satunya adalah batuk 100 hari atau disebut juga Pertusis.  Pertussis adalah sebuah penyakit yang mengakibatkan batuk yang tiada henti. Pertusis yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan berdampak buruk bagi kondisi Si Kecil. Sahabat […]

    Waspadai Komplikasi Akibat Batuk Rejan (Pertusis) Pada Anak

    Batuk merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Terdapat banyak sekali penyebab keluhan batuk, salah satunya adalah batuk 100 hari atau disebut juga Pertusis. 

    Waspadai Komplikasi Akibat Batuk Rejan (Pertusis) Pada Anak

    Waspadai Komplikasi Akibat Batuk Rejan (Pertusis) Pada Anak

    Pertussis adalah sebuah penyakit yang mengakibatkan batuk yang tiada henti. Pertusis yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan berdampak buruk bagi kondisi Si Kecil. Sahabat Sehat, apa saja komplikasi akibat Pertusis pada anak?

    Apa Itu Pertusis ?

    Pertusis atau disebut juga batuk 100 hari merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Bordetella pertussis. Menurut data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, terdapat 151.000 kasus batuk rejan di seluruh dunia.

    Bagaimana Penularan Pertusis ?

    Proses penularan batuk rejan cukup mudah. Apabila penderita Pertusis batuk atau bersin, cipratan air liur atau droplet berisi bakteri pertusis dapat masuk melalui saluran nafas.

    Komplikasi dapat terjadi apabila Pertusis tidak ditangani dengan baik dan benar. Beberapa komplikasi dari pertusis yang dapat terjadi pada anak-anak adalah sebagai berikut.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Saja Komplikasi Akibat Pertusis ?

    Si Kecil yang didiagnosa menderita Pertusis dan tidak ditangani dengan baik menjadi rentan mengalami komplikasi sebagai berikut :

    • Pneumonia 

    Bakteri penyebab Pertusis dapat menginfeksi saluran nafas pada paru sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan paru. Hal tersebut berdampak pada proses pertukaran oksigen di paru. Kerusakan pada jaringan paru juga dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut sehingga kemampuan pertukaran oksigen pada paru tidak sebaik kondisi sebelumnya.

    • Gangguan Tumbuh Kembang

    Setelah terinfeksi, sel imun bekerja dengan mengeluarkan respon radang alami yang dapat menimbulkan demam dan penurunan nafsu makan. Ditambah dengan batuk yang terus menerus dapat mengakibatkan Si Kecil menjadi sulit makan

    Baca Juga: Si Kecil Batuk Sulit Sembuh, Waspadai Batuk Rejan

    Apabila hal tersebut berlanjut dalam jangka waktu yang lama, maka pertumbuhan Si Kecil dapat terganggu karena asupan nutrisi sehari-hari menjadi tidak tercukupi. Si Kecil menjadi letih dan lesu, sehingga mengakibatkan tumbuh kembangnya terlambat.

    • Gangguan Pada Jaringan Otak dan Kejang

    Pada kondisi bila kadar oksigen dalam tubuh menurun dapat mengakibatkan kerusakan jaringan paru dan otak tidak cukup mendapatkan oksigen. Kondisi ini dapat mengakibatkan Si Kecil mengalami kejang akibat otak kekurangan oksigen.

    Baca Juga: Mari Kita Mengenal Pertusis pada Anak

    Tips Mencegah Pertusis

    Sahabat Sehat, Pertusis dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan vaksinasi. Dengan mencuci tangan akan menghilangkan cairan droplet bakteri yang mungkin menempel pada tangan. 

    Selain itu Sahabat Sehat dapat memberikan vaksin Pertusis untuk Si Kecil. Vaksin pertusis di Indonesia terdapat dalam kombinasi Difteri, Pertusis, dan Tetanus. Vaksin ini dapat diberikan bagi Si Kecil pada saat berusia 2, 3, dan 4 bulan.

    Batuk memang sering dijumpai, namun jangan menganggap remeh keluhan batuk pada Si Kecil. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi diatas.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Nah Sahabat Sehat, itulah informasi mengenai berbagai komplikasi akibat Pertusis yang dapat dialami Si Kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Whooping Cough (Pertussis).
    2. World Health Organization. Pertussis.
    3. Warfel J, Beren J, Merkel T. Airborne Transmission of Bordetella pertussis.
    4. Nataprawira H, Kompiyang Indriyani S, Olivianto E. Pertussis in Children: Problems in Indonesia.
    5. Health NY. Pertussis or Whooping Cough Fact Sheet.
    6. The Royal Children’s Hospital Melbourne. Clinical Practice Guidelines : Whooping cough (pertussis). 
    Read More
  • Pilek atau disebut juga flu adalah salah satu penyakit yang infeksi saluran pernapasan yang sangat umum dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan dalam setahun, orang dewasa dapat mengalami pilek sekitar dua hingga tiga kali. Virus penyebab pilek sangat mudah menular dari orang ke orang, terlebih di lingkungan kantor dengan sirkulasi udara yang buruk. Sahabat […]

    4 Tips Mencegah Penularan Flu di Kantor

    Pilek atau disebut juga flu adalah salah satu penyakit yang infeksi saluran pernapasan yang sangat umum dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan dalam setahun, orang dewasa dapat mengalami pilek sekitar dua hingga tiga kali.

    4 Tips Mencegah Penularan Flu di Kantor

    4 Tips Mencegah Penularan Flu di Kantor

    Virus penyebab pilek sangat mudah menular dari orang ke orang, terlebih di lingkungan kantor dengan sirkulasi udara yang buruk. Sahabat Sehat, bagaimana cara mencegah penularan pilek terutama di lingkungan perkantoran ? Mari simak penjelasan berikut.

    Bagaimana Flu Dapat Menyebar?

    Pilek atau disebut juga flu disebabkan oleh virus influenza yang sangat menular segera setelah seseorang terinfeksi. Pada tahapan awal, seseorang yang terkena flu belum mengalami gejala seperti batuk atau hidung tersumbat sehingga mereka tidak menyadarinya.Virus influenza menular dalam 24 jam sebelum munculnya gejala, dan akan terus menular hingga hari ketujuh. Flu umumnya sangat menular selama 2 – 3 hari awal infeksi, dan masih dapat ditularkan ke orang lain hingga seminggu setelahnya. 

    Saat seseorang yang mengalami flu pergi bekerja, mereka dapat menularkan virus tersebut ke rekan kerja dan penghuni kantor lainnya melalui droplet saat batuk atau bersin di tempat kerja. Selain itu, perilaku seperti membuang tisu bekas sembarangan juga menjadi faktor resiko penularan pilek di lingkungan kantor. Oleh sebab itu karyawan yang mengalami pilek sebaiknya beristirahat dan mengurangi produktivitas di kantor untuk mencegah penularan ke orang lain.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Tips Mencegah Penularan Flu Di Kantor

    Kebijakan beberapa tempat kerja mungkin berbeda, serta tidak semua karyawan diperkenankan untuk bekerja dari rumah. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Sahabat Sehat lakukan untuk mencegah penularan flu di lingkungan kantor, yakni :

    • Istirahat dan Batasi Aktivitas Ke Luar Rumah

    Jika Sahabat Sehat merasa kurang sehat,, dianjurkan beristirahat untuk mempercepat proses pemulihan dan mengurangi potensi menularkan virus influenza ke orang lain. Selain itu, dengan beristirahat yang cukup dapat mengembalikan daya tahan tubuh. 

    • Siapkan Perlengkapan Kesehatan Dasar

    Tidak hanya sebagai langkah pencegahan penularan pilek dan flu, melengkapi tempat kerja dengan berbagai perlengkapan kesehatan dasar seperti tisu, sabun, hand sanitizer, dan cairan desinfektan diperlukan agar lingkungan kerja tetap higienis. 

    Baca Juga: Seberapa Efektifkah Vaksin Flu untuk Mencegah Penyakit Flu?

    • Segera Ambil Izin atau Cuti 

    Agar Sahabat Sehat dapat mengambil cuti kerja saat pilek atau flu, pastikan untuk memberi arahan pada orang lain agar dapat menggantikan Sahabat Sehat sementara waktu. Namun jika tidak memungkinkan untuk cuti, Sahabat Sehat dianjurkan membicarakan dengan atasan terkait bekerja dari rumah dan konferensi jarak jauh. 

    • Vaksinasi Influenza

    Mendapatkan vaksinasi influenza merupakan cara terbaik untuk mencegah flu. Vaksinasi influenza sangat direkomendasikan bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi, yakni :

    1. Berusia diatas 65 tahun
    2. Wanita hamil
    3. Anak berusia diatas 6 bulan yang memiliki kondisi medis dan berisiko mengalami komplikasi jika menderita flu, yakni :
    • Asma kronis
    • Masalah jantung
    • Kondisi paru-paru
    • Gangguan ginjal
    • Penyakit sistem saraf
    • Gangguan imunitas
    • Diabetes
    • Orang yang memiliki pekerjaan berinteraksi dengan penderita flu, seperti tenaga kesehatan dan pengasuh anak.

    Secara umum pemberian vaksin influenza mulai dapat diberikan saat anak berusia 6 bulan keatas dan pada orang dewasa. Pada anak berusia kurang dari 8 tahun, pemberian vaksin influenza pertama kali diberikan sebanyak 2 dosis dengan jarak minimal 4-6 minggu. Sedangkan bila anak berusia diatas 8 tahun, maka dosis pertama cukup diberikan 1 dosis saja. Pemberian vaksin influenza baik pada anak maupun dewasa dapat dilakukan setahun sekali.

    Baca Juga: Apa Keuntungan Perusahaan Memberikan Benefit Vaksinasi Bagi Karyawan Kantor?

    Menjaga Jarak Dengan Penderita Flu

    Ditempat kerja, Sahabat Sehat dianjurkan menghindari kontak dengan orang yang diketahui atau diduga menderita flu yakni dengan melakukan beberapa langkah berikut :

    • Berdiri setidaknya satu meter dari orang yang sedang flu
    • Hindari kontak kulit, seperti berjabat tangan dengan orang yang terinfeksi
    • Cuci tangan sesegera mungkin setelah kontak kulit dengan penderita flu
    • Hindari berbagi peralatan makan dan minum seperti sedotan dan sendok
    • Gunakan masker saat berinteraksi dengan orang lain

    Baca Juga: Apa Manfaat Imunisasi Influenza dan Efek Sampingnya Bagi Anak

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai tips untuk mencegah penularan pilek di lingkungan perkantoran. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Piedmont Healthcare. Preventing Colds And Flu At The Office.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Common Colds.
    3. Health Engine Blog. Cold and flu prevention at work.
    4. Millers at Work. How to Avoid the Flu in the Office: 6 Essential Etiquette Practices.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com