Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis B Sebelum Donor Darah

Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela lalu disimpan di bank darah untuk kemudian digunakan oleh pasien yang membutuhkan.

Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis B Sebelum Donor Darah

Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis B Sebelum Donor Darah

Semua orang dapat menjadi pendonor darah jika memenuhi syarat. Sebelum mendonorkan darah, para calon pendonor akan diminta untuk mengisi kuesioner seputar kondisi kesehatannya dan faktor risiko penyakit. Kemudian, pendonor akan diperiksa oleh tenaga kesehatan yang bertugas di bank darah tersebut.

Selain itu, untuk menjaga keamanan produk darah, terdapat regulasi untuk menskrining darah tersebut agar terbebas dari penyakit-penyakit infeksius seperti Hepatitis B yang kasusnya masih banyak ditemukan di Indonesia. Dengan demikian, produk darah yang diterima aman untuk digunakan.

Persyaratan Donor Darah

Untuk dapat mendonorkan darah, Palang Merah Indonesia (PMI) telah menetapkan beberapa persyaratan bagi pendonor. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan pendonor dan mendapatkan kualitas darah yang terbaik. Syarat untuk menjadi pendonor darah ialah:

  • Sehat jasmani dan rohani  
  • Usia 17 sampai dengan 65 tahun
  • Berat badan minimal 45 kg
  • Tekanan darah sistol 100 – 170 mmHg dan diastol 70 – 100 mmHg
  • Kadar hemoglobin 12,5 g% – 17,0 g% 
  • Interval minimal 12 minggu atau 3 bulan sejak donor darah sebelumnya (maksimal 5 kali dalam 2 tahun). 

medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

Ada pula restriksi bagi calon pendonor yang memiliki kondisi-kondisi tertentu. Berikut adalah kondisi dimana seseorang tidak diperbolehkan mendonorkan darah:

  • Mempunyai penyakit jantung dan paru-paru 
  • Menderita kanker 
  • Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi) 
  • Menderita kencing manis (diabetes melitus) 
  • Memiliki kelainan darah 
  • Menderita epilepsi dan sering kejang 
  • Menderita atau pernah menderita Hepatitis B atau C
  • Mengidap sifilis 
  • Ketergantungan narkoba
  • Kecanduan minuman beralkohol 
  • Mengidap atau beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS 
  • Saran dari dokter pemeriksa karena kondisi kesehatan pendonor.

Baca Juga: 10 Ciri Terkena Hepatitis B yang Perlu Kamu Ketahui

Skrining Produk Darah yang Sudah Didonorkan

Setelah pendonor lolos persyaratan dan menyelesaikan proses donor darahnya, darah yang sudah didonorkan akan menjalani skrining terhadap beberapa penyakit yang dapat menular melalui produk darah, yaitu:

  • Hepatitis B 
  • Hepatitis C 
  • HIV-1 and HIV-2 
  • Treponema pallidum (sifilis).

Risiko transmisi Hepatitis B melalui produk darah adalah kurang dari 1 dari 500,000 orang, sementara risiko transmisi Hepatitis C adalah 1 dari 2 juta produk darah yang ditransfusi. Semua produk darah di bank darah hanya akan diberikan kepada pasien bila telah lolos proses skrining ini. Berkat adanya skrining darah ini, risiko transmisi Hepatitis B dan C melalui produk darah sangatlah minimal.

Baca Juga: Fungsi dan Manfaat Vaksin Hepatitis B

Jenis Hepatitis yang Diperbolehkan Donor Darah

Calon pendonor dengan hepatitis B dan hepatitis C tidak diperbolehkan mendonorkan darahnya, terlepas dari memiliki gejala atau tidak bergejala sama sekali. Namun, pada kondisi tertentu, orang dengan tipe Hepatitis lainnya masih dapat mendonorkan darahnya bila memenuhi syarat. Berikut ini adalah tipe-tipe hepatitis beserta kriterianya:

  • Hepatitis A

Hepatitis A menyebar melalui kontaminasi makanan atau air. Hepatitis A adalah infeksi yang umum ditemukan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penderita Hepatitis A dapat mendonorkan darahnya dengan syarat bukan dalam kondisi infeksi akut (sedang terinfeksi). Tanda-tanda hepatitis infeksi akut/ aktif ialah demam, nyeri sendi, nyeri otot, mual muntah, nyeri perut kanan atas, diare. Anda dapat mendonasikan darah apabila telah sembuh dari Hepatitis A.

  • Hepatitis E

Hepatitis E serupa dengan Hepatitis A, terutama cara penyebarannya. Infeksi Hepatitis E sering dijumpai di Asia Tengah. Pengidap Hepatitis E dapat mendonasikan darah apabila telah sembuh dari penyakitnya

  • Hepatitis yang bukan disebabkan oleh infeksi virus

Tidak semua hepatitis disebabkan karena infeksi virus. Bila Anda mengalami hepatitis yang non-viral (bukan disebabkan oleh infeksi virus) dan bebas gejala, Anda boleh mendonorkan darah. Jenis hepatitis non-viral diantaranya:

  • Hepatitis autoimun
  • Hepatitis disebabkan konsumsi alkohol
  • Hepatitis karena perlemakan hati (fatty liver) yang bukan disebabkan oleh konsumsi alkohol
  • Hepatitis karena bakteri enterik seperti E.coli dan Klebsiella pneumonia
  • Hepatitis karena parasit seperti malaria dan leishmania.

Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Sehat Ketahui Tentang Vaksin Hepatitis B

Jenis Hepatitis yang Tidak Diperbolehkan Donor Darah 

Demi keamanan produk darah dan pasien penerima darah, maka ada beberapa tipe hepatitis dan kondisi yang tidak diperbolehkan mendonorkan darahnya, yaitu:

  • Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi hati serius yang paling umum di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Hepatitis B yang menyerang dan membuat peradangan pada hati. Dua miliar orang (atau 1 dari setiap 3 orang) telah terinfeksi dan sekitar 300 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis. Setiap tahun sekitar 1 juta orang meninggal karena hepatitis B meskipun faktanya infeksi ini dapat dicegah dan diobati.

  • Hepatitis C

Hepatitis C adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV). Hepatitis C menyebar melalui kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi. Saat ini, kebanyakan orang terinfeksi virus Hepatitis C dengan berbagi jarum suntik atau peralatan lain yang digunakan untuk menyiapkan dan menyuntikkan narkoba. Bagi sebagian orang, Hepatitis C adalah penyakit jangka pendek, tetapi bagi lebih dari separuh lainnya menjadi infeksi kronis jangka panjang

Walaupun antivirus Hepatitis C telah ditemukan dan diketahui memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, orang yang telah terinfeksi tidak dapat menjadi pendonor darah meskipun sudah sembuh.

  • Hepatitis D

Hepatitis D hanya terjadi pada orang yang terinfeksi hepatitis B karena dianggap sebagai “virus yang tidak lengkap”. Jika seseorang menderita hepatitis D, maka ia juga menderita hepatitis B dan oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjadi pendonor darah. Beberapa kondisi yang belum dapat mendonorkan darahnya ialah:

  • Jika tinggal atau berhubungan seks dengan seseorang yang menderita hepatitis, maka calon pendonor harus menunggu 12 bulan setelah kontak terakhir.
  • Jika menerima transfusi darah atau terkena jarum suntik yang tidak steril (seperti melalui penggunaan jarum bersama atau cedera tertusuk jarum yang tidak disengaja), maka harus menunggu 12 bulan sebelum bisa mendonorkan darah.

Baca Juga: Penyebab Hepatitis B pada Ibu Hamil dan Dampaknya pada Bayi

Sahabat Sehat, kasus Hepatitis B yang masih banyak ditemukan di Indonesia menjadikan langkah skrining produk darah menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk darah dan keamanan pasien penerima darah. Pastikan Sahabat Sehat juga dalam keadaan sehat bila ingin mendonorkan darah.

Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Ditulis oleh: dr. Gloria Teo
Ditinjau oleh: dr. Nurul L

 

Referensi

  1. Palang Merah Indonesia. Syarat menjadi donor darah.
  2. Daniel C, Chugh P. Blood Donation Guidelines for Hepatitis A, B, and C.
  3. Hepatitis B Foundation. What Is Hepatitis B?
  4. National Center for HIV, Viral Hepatitis, STD, and TB Prevention. Hepatitis C.

Chat Dokter 24 Jam