Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu?

Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya ini serasi dengan perkembangan dunia digital yang memfasilitasi banyak hal. Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini setiap harinya?

Ya, itulah hustle culture. Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture adalah standar di masyarakat yang menganggap bahwa Anda hanya bisa mencapai sebuah kesuksesan apabila benar-benar mendedikasikanqc  hidup untuk pekerjaan. Selain itu, mereka bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan diatas segala-galanya.

Tren baru di Indonesia

Budaya ini sedang menjadi tren di Indonesia bahkan di masyarakat dunia. Budaya ini dikenalkan pertama kali oleh beberapa tokoh besar seperti Jeff Bezos, Elon Musk dan Jack Ma yang melakukan normalisasi bekerja melebihi batas waktu normal untuk mencapai kesuksesan. Bahkan, di Tiongkok sendiri budaya ini dikenal dengan budaya 966 atau bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam dalam 6 hari.

Banyak anak muda yang menjadikan berbagai buku, tokoh terkenal di platform media sosial, dan juga tokoh-tokoh wirausahawan atau entrepreneur sebagai inspirasi dalam mengejar kesuksesan mereka sendiri. Sebagai anak muda yang ambisius bekerja menuju tujuan mereka, tidak mengherankan melihat banyak sekali pekerja menjadi korban dari hustle culture ini. Waktu istirahat, kehidupan pribadi, dan kesehatan fisik dan mental adalah hal-hal yang pada akhirnya luput dari perhatian.

medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

Mengapa Hustle Culture tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental?

Hustle culture tidak baik untuk kesehatan fisik dan juga mental. Pasalnya, orang yang terjebak dalam hustle culture menganggap jalan menuju kesuksesan dan kesejahteraan hanya dengan bekerja, sehingga bekerja melebihi batas jam kerja dan lembur dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar.

Menurut penelitian yang dilakukan tahun 2018 di Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok, pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu memiliki berbagai risiko kesehatan fisik dan psikologis. Beberapa risiko kesehatan fisik antara lain:

  • Penyakit jantung dan pembuluh darah, misalnya penyakit jantung koroner
  • Penyakit serebrovaskular
  • Peningkatan tekanan darah dan detak jantung
  • Resistensi insulin, gangguan irama jantung (aritmia), hiperkoagulasi dan iskemia.

Baca Juga: Tips Atasi Kelelahan akibat Overworking

Sedangkan, bahaya psikologis dari hustle culture membuat pekerja menjadi lebih rentan mengalami burnout, depresi, gangguan kecemasan berlebih, dan muncul perasaan ingin bunuh diri. Burnout sering ditemukan dalam hustle culture. Burn out adalah kondisi dimana seseorang merasa lelah berkepanjangan karena stres kerja yang berat hingga kehilangan motivasi. Berikut ini beberapa gejala burnout:

  • Menunda atau menghindari pekerjaan sama sekali
  • Membuat lebih banyak kesalahan saat melakukan tugas
  • Kehilangan minat pada bagian pekerjaan yang sebelumnya sangat diminati
  • Merasa lebih cemas dan depresi
  • Merasa kurang bisa mendengarkan atau peduli pada orang lain
  • Makan berlebihan, mengonsumsi obat-obatan dan alkohol
  • Melampiaskan frustasi pada orang lain (misalnya, mudah tersinggung, mengacuhkan dan marah)
  • Sulit berkonsentrasi dan menjadi tidak terarah dalam bekerja.

Baca Juga: Waspadai! 4 Gangguan Kesehatan Saat WFH dan Tips Pencegahannya

Apa yang bisa dilakukan untuk memutuskan hustle culture?

Work-life balance

Kehidupan pribadi dan pekerjaan penting untuk diseimbangkan. Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara, antara lain:

  • Membuat jadwal kegiatan
  • Mengomunikasikan perasaan dan kondisi
  • Mengurangi pikiran negatif terkait pekerjaan
  • Melakukan kegiatan relaksasi agar mengurangi stres, seperti yoga dan meditasi
  • Melakukan liburan selama beberapa hari untuk mengurangi stres kerja
  • Melakukan olahraga secara rutin
  • Cukup waktu tidur dan istirahat.

Hard work tidak sama dengan sukses

Kerja keras tidak dapat menjadi indikator satu-satunya kesuksesan seseorang. Ada banyak faktor lain yang turut berkontribusi. Bekerja keras dan melakukan semua hal secara terburu-buru demi mencapai kesuksesan tidak akan membawa seseorang sampai kepada kesuksesan.

Jangan membandingkan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain di media sosial

Salah satu latar belakang terciptanya hustle culture adalah media sosial. Semua orang berlomba-lomba ingin terlihat sukses, mapan, dan kaya dalam tampilannya di media sosial. Sebagian juga memamerkan dengan bangga kondisi bekerja di tengah malam dan terus bekerja di akhir pekan.

Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain dan membuat ekspektasi yang berlebihan hanya karena orang lain melakukan hal tersebut. Ingat, setiap orang mempunyai kecepatannya masing-masing dan jangan takut terlihat lambat dalam mencapai posisi yang diharapkan.

Mengenal batasan diri

Anda harus berani untuk bilang tidak pada pekerjaan. Sama halnya dalam mengenali kapan badan Anda harus beristirahat dan kapan sudah siap untuk diajak kembali bekerja.

Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

Sahabat Sehat, sebesar apapun dorongan dan semangat diri dalam meraih impian, tubuh mempunyai hak untuk diperhatikan kesehatannya. Tidak sekadar kesehatan fisik, namun juga secara psikologis dan sosial. Maka dari itu, memaksakan diri diluar kapasitas tubuh Anda bukanlah hal yang patut dilakukan. Mari hargai dan sayangi diri sendiri.

Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
Ditinjau oleh: dr. Nurul L

 

Referensi

  1. Costa, C. Stop Idolizing Hustle Culture And Do This Instead.
  2. Rachmahyanti, S. Marak di Kalangan Milenial, Yuk Kenali Ciri-Ciri Hustle Culture.
  3. medcom.id. Bahaya Hustle Culture pada Pekerja di Indonesia.
  4. Arfa, A., 2021. The Truth About the Hustle Culture.
  5. CNN Indonesia. Mengenal ‘Hustle Culture’, Gila Kerja yang Berujung Burnout.
  6. Jackson, A. How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It.
  7. Headversity. The Toxicity of Hustle Culture: The Grind Must Stop.

Chat Asisten Maya
di Prosehat.com