Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ imunisasi”

Showing 1–10 of 45 results

  • Selama masa pandemi akibat penyebaran virus corona menyebabkan kita tidak bisa keluar rumah karena pemerintah membuat aturan untuk tetap tinggal di dalam rumah serta menghindari pusat-pusat keramaian, baik itu pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan juga tempat pelayanan kesehatan. Banyak sekali Sobat yang menunda rencana atau kegiatan yang harusnya dilakuan, termasuk beberapa Sobat yang memiliki buah […]

    Pilih Mana? Imunisasi di Rumah atau Faskes Selama Pandemi?

    Selama masa pandemi akibat penyebaran virus corona menyebabkan kita tidak bisa keluar rumah karena pemerintah membuat aturan untuk tetap tinggal di dalam rumah serta menghindari pusat-pusat keramaian, baik itu pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan juga tempat pelayanan kesehatan. Banyak sekali Sobat yang menunda rencana atau kegiatan yang harusnya dilakuan, termasuk beberapa Sobat yang memiliki buah hati untuk mambawanya ke fasilitas kesehatan guna mendapatkan imunisasi yang telah dijadwalkan. Lalu, apakah dalam masa pandemi seperti ini imunisasi masih wajib untuk dilakukan Si Kecil atau lebih baik ditunda saja?

    Sesuai dengan anjuran KEMENKES RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) dan juga Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa pada masa pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, pelayanan imunisasi merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang tetap menjadi prioritas wajib untuk dilaksanakan sesuai jadwal, terutama bagi anak yang rentan tehadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (misalnya vaksin Hepatitis, Polio dan Difteri).

    Berikut ini jadwal imunisasi pada Si Kecil:

    Usia 0 bulan    : Vaksin Hepatitis B ke-0 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-0
    Usia 1 bulan    : Vaksin BCG
    Usia 2 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-1 (DPT + Hepatitis B + Haemophilus influenzae b atau Hib) + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-1
    Usia 3 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-2 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-2
    Usia 4 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-3 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-3 + Vaksin Polio Suntik
    Usia 9 bulan    : Vaksin Campak (MR) ke-1
    Usia 18 bulan  : Vasin Pentavalen ke-4 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-4 + Vaksin Campak (MR) ke-2.1

    Rumah Sakit, Puskesmas, serta Klinik merupakan fasilitas umum yang biasa dikunjungi oleh orang sakit untuk datang berobat, sehingga ini menimbulkan kecemasan saat ingin membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi.1 Pelayanan imunisasi di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Klinik dan Rumah Sakit masih dapat dilakukan dengan menerapkan:

    1. Pilih fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan rumah tinggal.
    2. Menjaga jarak antrian 1-2 meter dengan pasien lainnya.
    3. Menggunakan masker, baik untuk pengantar dan Si Kecil.
    4. Memastikan Si Kecil dalam kondisi sehat saat diimunisasi. Jika Si Kecil mengalami demam, batuk, pilek, diare dan riwayat kontak dengan pasien OTG (Orang tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), maka segera untuk melapor ke petugas kesehatan untuk menunda jadwal imunisasi dan membuat jadwal kembali saat Si Kecil sudah dalam kondisi sehat.
    5. Memastikan Si pengantar juga dalam kondisi sehat dan tanpa riwayat kontak dengan pasien COVID-19.
    6. Datang sesuai jadwal imunisasi yang telah ditentukan oleh petugas kesehatan (petugas kesehatan akan mengatur jadwal kunjungan dengan tujuan agar pasien tidak terlalu ramai).
    7. Pada saat tiba di fasilitas kesehatan, segera cuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau hand sanitizer sebelum masuk ke dalam ruang imunisasi.
    8. Segera pulang ke rumah setelah vaksin selesai.
    9. Sesudah pelayanan imunisasi selesai, segera cuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer dan segera pulang ke rumah.
    10. Segera membersikan diri atau mandi dan cuci rambut serta mengganti semua kain/linen anak dan pengantar (pakaian, bedong, gendongan) dan lain–lain yang dibawa ke fasilitas kesehatan.1-5

    Walaupun ditengah pandemi COVID-19, Sobat harus tetap membawa Si Kecil untuk diimunisasi katena vaksin BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, Hib, Campak (MR) harus tetap dilakukan sesuai jadwal. Namun, apabila terpaksa ditunda maka maksimal mundur 2 minggu dari jadwal yang relah ditetapkan. Namun, apabila Si Kecil sedang tidak sehat atau adanya riwayat kontak dengan pasien COVID-19 (OTG, ODP atau PDP) maka imunisasi dapat ditunda sampai masa karantina selesai.1,2,4,5

    Melakukan imunisasi Si Kecil baik di Puskesmas, Klinik maupun Rumah Sakit masih dapat dikatakan aman apabila Sobat memperhatikan anjuran-anjuran dari KEMENKES RI diatas.

    Apabila Anda khawatir membawa Si Kecil utuk melakukan imunisasi di fasilitas kesehatan namun tidak mau menunda jadwal imunisasinya, disarankan untuk melaksanakan imunisasi di rumah dengan menghubungi petugas kesehatan untuk datang ke rumah. Seperti saat ini sudah kita kenal dengan nama telemedicine atau layanan kesehatan digital, salah satunya termasuk layanan imunisasi, baik bagi anak maupun dewasa. Apabila imunisasi dilakukan di rumah, tentu saja lebih aman dibandingkan imunisasi di tempat layanan kesehatan umum karena meminimalkan kontak dengan orang banyak sehingga Sobat tidak perlu khawatir Si Kecil akan terpapar dengan virus. 4,5

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Jesica Chintia Dewi

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Achmad, dr Y. Petunjuk Tehnis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi COVID 19. Jakarta: KEMENKES RI – GERMAS; 2020.
    2. Imunisasi dalam konteks pandemi COVID-19 [Internet]. Who.int. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/tanya-jawab-imunisasi-dalam-konteks-pandemi-covid-19-16-april-2020.pdf?sfvrsn=66813218_2
    3. PAHO urges countries to maintain vaccination during COVID-19 pandemic – PAHO/WHO | Pan American Health Organization [Internet]. Paho.org. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.paho.org/en/news/24-4-2020-paho-urges-countries-maintain-vaccination-during-covid-19-pandemic
    4. Vaccinations and COVID-19: What parents need to know [Internet]. Unicef.org. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.unicef.org/coronavirus/vaccinations-and-covid-19-what-parents-need-know
    5. Fadhel M. COVID-19 putting routine childhood immunization in danger: UN health agency [Internet]. UN News. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://news.un.org/en/story/2020/04/1062712

     

    Read More
  • Di tengah pandemi COVID-19 terdapat berbagai himbauan yang berlaku, salah satunya adalah agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian, serta mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin bisa menjadi dilema apakah perlu membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi di rumah sakit atau tidak.1 Imunisasi adalah suatu […]

    Efektivitas Imunisasi Drive Thru

    Di tengah pandemi COVID-19 terdapat berbagai himbauan yang berlaku, salah satunya adalah agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian, serta mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin bisa menjadi dilema apakah perlu membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi di rumah sakit atau tidak.1

    Imunisasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sampai batas optimal, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut, tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Tujuan dari program imunisasi adalah untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio, dan Campak. Dalam mengambil keputusan, kita perlu menimbang risiko dan manfaatnya. Manfaat dari imunisasi sendiri tergolong besar terutama bagi bayi dan anak dibawah 18 bulan serta jadwal imunisasi dasar pada usia tersebut yang cukup padat. Jadwal imunisasi telah disusun oleh para ahli agar vaksin diberikan sebelum Si Kecil dalam usia yang berisiko tinggi terkena penyakit tersebut, maka sebaiknya vaksinasi tetap dilakukan sesuai dengan jadwal yang ada. Apabila banyak bayi dan balita tidak mendapat imunisasi dasar lengkap, akan memungkinkan terjadi wabah penyakit lain yang bisa mengakibatkan anak sakit berat, cacat, atau meninggal.2,3

    Untuk menurunkan risiko paparan terhadap virus pada anak yang akan melakukan imunisasi terdapat beberapa hal yang diterapkan saat ini, seperti mengatur jadwal kedatangan agar anak tidak banyak berkumpul terlalu lama, memisahkan ruang pelayanan untuk anak sakit dan anak sehat di rumah sakit, sampai dilakukannya imunisasi drive thru. Menurut penelitian, pemberian imunisasi secara drive thru di tengah pandemik merupakan salah satu pilihan yang efektif karena dapat menjangkau lebih banyak cakupan dan dapat meminimalisir paparan terhadap kuman penyakit pada anak yang sehat. Namun, dalam pelaksanaan imunisasi drive thru juga harus tetap memegang prinsip pemberian imunisasi yang baik, yaitu sistem pencatatan dan penjadwalan imunisasi yang tepat, pengelolaan distribusi vaksin yang benar yaitu tersimpan pada suhu dan kondisi yang telah ditetapkan tanpa terganggu (2-8oC), cara pemberian dan dosis yang tepat sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan, serta memerhatikan prinsip higienitas yang baik.4–6

    Berikut adalah tips aman untuk Mama dan Si Kecil dalam melaksanakan pemberian imunisasi dasar:

    • Melakukan perjanjian dengan penyedia jasa imunisasi sesuai dengan jadwal imunisasi Si Kecil.
    • Pastikan penyedia jasa yang terpercaya dan memerhatikan prinsip-prinsip pemberian imunisasi secara baik dan benar. Layanan ini juga tersedia di ProSehat.
    • Cukup satu orang saja yang mengantarkan Si Kecil imunisasi, tidak perlu beramai-ramai.
    • Menggunakan masker dan sering mencuci tangan, baik dengan air dan sabun maupun handrub berbahan dasar alkohol.
    • Melakukan physical distancing, yaitu menjaga jarak 1-2 meter dari orang lain, karena apabila seseorang batuk atau bersin terdapat percik renik yang mungkin mengandung virus yang bisa menyebar lalu terjatuh ke permukaan benda dalam radius sekitar 1 meter.
    • Setelah melakukan imunisasi, langsung pulang ke rumah dan usahakan tidak keluar rumah kecuali ada keperluan yang sangat penting. Sampai di rumah, segera mencuci tangan dengan air dan sabun, serta mengganti pakaian anak.
    • Di rumah tetap berikan Si Kecil ASI, makanan yang bergizi, menjauhi orang yang sedang sakit, pastikan juga Mama cuci tangan sebelum menyentuh bayi serta jangan mencium bayi.2,7

    Jika keadaan tidak memungkinkan karena alasan tertentu, imunisasi Si Kecil dapat ditunda 1 bulan. Terdapat juga program imunisasi catch-up bagi mereka yang tertinggal dari jadwal imunisasinya, sebaiknya imunisasi segera diberikan bila situasi memungkinkan. Pemberian vaksin juga diberikan selang 1 bulan karena rentang waktu yang dibutuhkan tubuh untuk merangsang pembentukan antibodi paling optimal dalam jarak 1 bulan.2,3

    Selain itu, bagi Anda yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis oleh: dr Erika Gracia 

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    2. Rekomendasi Imunisasi Anak pada Situasi Pandemi COVID-19 [Internet]. IDAI. Available from: http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/rekomendasi-imunisasi-anak-pada-situasi-pandemi-covid-19
    3. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C. Epidemiology and Prevention of Vaccine-preventable Diseases. Centers for Disease Control and Prevention; 2015. 376 p.
    4. Gupta A, Evans GW, Heragu SS. Simulation and optimization modeling for drive-through mass vaccination – A generalized approach. Simulation Modelling Practice and Theory. 2013 Sep;37:99–106.
    5. Jadwal Imunisasi IDAI 2014 [Internet]. IDAI. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014
    6. Banks LL, Crandall C, Esquibel L. Throughput times for adults and children during two drive-through influenza vaccination clinics. Disaster Med Public Health Prep. 2013 Apr;7(2):175–81.
    7. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    Read More
  • Berbagai perubahan situasi terjadi sejak adanya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian termasuk mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin membuat Mama menjadi bingung apakah anaknya harus tetap imunisasi sesuai dengan jadwalnya? Berikut adalah anjuran mengenai jadwal imunisasi anak […]

    Cara Imunisasi Tetap Aman Selama COVID-19

    Berbagai perubahan situasi terjadi sejak adanya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian termasuk mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin membuat Mama menjadi bingung apakah anaknya harus tetap imunisasi sesuai dengan jadwalnya? Berikut adalah anjuran mengenai jadwal imunisasi anak pada situasi pandemi COVID-19 dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

    Imunisasi dasar bagi bayi hingga anak berusia 18 bulan tergolong penting untuk dilakukan guna melindungi Si Kecil dari berbagai penyakit berbahaya. Walaupun saat ini vaksin untuk COVID-19 masih dalam tahap pengembangan, imunisasi dasar bagi bayi dan balita harus tetap dilakukan. Apabila banyak bayi dan balita yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap akan memungkinkan terjadi wabah penyakit lain yang bisa mengakibatkan banyak anak sakit berat, cacat, atau meninggal.

    Berikut adalah jadwal layanan imunisasi dasar yang harus tetap diberikan di Puskesmas, praktik pribadi dokter, atau rumah sakit:

    • Imunisasi dasar
    • Segera setelah lahir : Hepatitis B 0 + OPV 0 (oral poliovirus vaccine)
    • Usia 1 bulan : BCG
    • Usia 2 bulan : Pentavalent 1 (DPT + Hepatitis B + Hib) + OPV
    • Usia 3 bulan : Pentavalent 2 + OPV 2
    • Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + OPV 3 + IPV (inactivated poliovirus vaccine)
    • Usia 9 bulan : MR 1 (vaksin campak)
    • Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + OPV 4 + MR 2

    Sebagai catatan, vaksin Pentavalent + OPV dapat diganti dengan pemberian vaksin Hexavalent, yaitu gabungan antara vaksin Pentavalent dengan IPV.

    • Imunisasi tambahan
    • Usia 2 bulan : PCV 1 (pneumococcal conjugate vaccine)
    • Usia 4 bulan : PCV 2
    • Usia 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
    • Usia 7 bulan : Influenza 2

    Jika keadaan tidak memungkinkan pada wilayah dengan penularan luas COVID-19, imunisasi Si Kecil dapat ditunda 1 bulan. Namun, sebaiknya imunisasi segera diberikan bila situasi memungkinkan. Berikut adalah tips aman untuk Si Kecil dalam melaksanakan pemberian imunisasi dasar:

    • Sebelum berangkat untuk imunisasi ke puskesmas, posyandu, atau rumah sakit sebaiknya Mama membuat janji kedatangan terlebih dulu agar antrian lebih teratur dan tidak terlalu banyak anak yang berkumpul terlalu lama.
    • Pastikan berkunjung ke fasilitas kesehatan yang telah memisahkan area atau waktu kunjungan anak sehat dari pengunjung lain yang sedang sakit. Jangan lupa mencatat imunisasi yang diberikan dan menjadwalkan kunjungan imunisasi berikutnya.
    • Sediakan handrub berbahan dasar alkohol atau tetap sering cuci tangan dengan air dan sabun.1
    • Tetap melaksanakan physical distancing, yaitu menjaga jarak 1-2 meter dari orang lain, ini dilakukan karena apabila seseorang batuk atau bersin, terdapat percik renik yang mungkin mengandung virus dan bisa menyebar, lalu terjatuh ke permukaan dalam radius sekitar 1 meter.
    • Setelah melakukan imunisasi, Mama dan Si Kecil sebaiknya langsung pulang ke rumah dan usahakan tidak keluar rumah kecuali ada keperluan yang sangat penting. Sampai di rumah, segera mencuci tangan dengan air dan sabun, serta mengganti pakaian.
    • Di rumah tetap berikan Si Kecil ASI, makanan yang bergizi, jauhi orang yang sedang sakit, pastikan Mama cuci tangan sebelum menyentuh bayi, jangan mencium bayi.
    • Perhatikan bila ada tanda dan gejala COVID-19 seperti batuk, pilek, demam, atau kesulitan bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas, segera dibawa berobat ke dokter.
    • Manfaatkan aplikasi kesehatan seperti ProSehat yang melayani vaksinasi ke rumah. Cukup install aplikasi ProSehat dari Google PlayStore. Pilih layanan imunisasi anak dan pesan sekarang. Nikmati kemudahan layanan dengan dokter ke rumah Anda.

    Selain itu, bagi Mama yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Anda dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Rekomendasi Imunisasi Anak pada Situasi Pandemi COVID-19 [Internet]. IDAI.

    Available from: http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/rekomendasi-imunisasi-anak-pada-situasi-pandemi-covid-19

    1. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: FAQ COVID-19. IDAI. 20 Maret 2020. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/uncategorized/faq-covid-19-dari-idai
    Read More
  • Moms, berita tentang vaksin MR masih simpang siur kita dengar, mungkin Anda pernah mendengar rumor kalau vaksin MR bisa mengakibatkan autis pada anak, atau masalah lainnya. Lantas, sudahkah Moms memahami apa itu vaksinasi MR? Seberapa penting vaksin MR bagi kita? Jadi, vaksinasi atau imunisasi merupakan suatu cara memasukkan virus/bakteri mati atau yang telah dilemahkan ke […]

    Seberapa Pentingkah Imunisasi MR Dilakukan?

    Moms, berita tentang vaksin MR masih simpang siur kita dengar, mungkin Anda pernah mendengar rumor kalau vaksin MR bisa mengakibatkan autis pada anak, atau masalah lainnya. Lantas, sudahkah Moms memahami apa itu vaksinasi MR? Seberapa penting vaksin MR bagi kita?

    Jadi, vaksinasi atau imunisasi merupakan suatu cara memasukkan virus/bakteri mati atau yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia sehingga sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh dan membentuk antibodi atau pertahanannya. Oleh karena itu, bila suatu saat terinfeksi virus tersebut, tubuh kita mampu melawannya. Vaksinasi MR merupakan kombinasi dari vaksin Campak atau Measles (M) serta vaksin Campak Jerman atau Rubella (R). Fungsi dari pemberian vaksinasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella.

    Sebelum membahas lebih jauh, mari kita bahas mengenai penyakit Campak (Measles) dan Rubella terlebih dahulu.

    CAMPAK

    Campak merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi anak, terutama pada seseorang yang tidak terlindungi vaksinasi sebelumnya, seseorang dengan gizi kurang serta sistem imun rendah (HIV, kanker, pasien dengan gangguan sistem imun).

    Gejala yang dapat timbulkan jika seseorang terkena campak antara lain demam, gejala tampak seperti gejala flu (batuk, pilek, mata merah dan berair), disertai rash atau bercak kemerahan pada seluruh tubuh. Campak dapat memberikan efek penyakit lainnya seperti diare, tuli atau gangguan pendengaran, infeksi pada otak (ensefalitis) dan infeksi pada selaput otak (meningitis), infeksi paru (pneumonia), peradangan pada ovarium dan testis, dan efek yang paling paling fatal ialah kematian.

    RUBELLA

    Sedangkan Rubella atau campak jerman (Measles) sering sekali terjadi pada anak, remaja maupun ibu hamil yang dapat berakibat pada keguguran, bayi lahir cacat seperti tuli maupun kebutaan atau sampai terjadi bayi lahir mati. Gejala awal Rubella yaitu demam, radang tenggorokan, nyeri kepala, iritasi pada mata dan rash atau bercak merah pada seluruh tubuh.

    Apabila kita tidak melakukan vaksinasi MR, maka ada kemungkinan terkena infeksi Campak dan Rubella, mengingat penularan dari orang ke orang sangat cepat. Saat ini, Vaksinasi MR (Measless Rubella) mulai digalakkan kembali, mengingat dampak yang ditimbulkan dari infeksi Campak dan Rubella yang cukup serius bahkan dapat berujung kematian. Sehingga, pemerintah cukup serius untuk menggalakan program imunisasi MR kembali. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization), Indonesia menempati urutan ke 10 dengan kasus Campak terbanyak di Asia, saat ini Indonesia terdapat 4.897 kasus campak. sedangkan untuk kasus Rubella, Indonesia menempati urutan pertama di Asia, dengan total 1.853 kasus.

    Indonesia masuk 10 besar kasus campak

    Kementerian Kesehatan RI serta WHO atau Badan Kesehatan Dunia telah menyatakan bahwa imunisasi ini sangat aman diberikan, bahkan imunisasi MR telah diberikan pada lebih dari 141 negara di dunia serta izin beredarnya sudah disahkan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), sehingga kita tidak perlu ragu lagi untuk menjalankan program pemerintah dalam mencegah penyebaran virus Campak dan Rubella.

    Menurut program pemerintah, jadwal vaksinasi MR yang diberikan pemerintah ditargetkan khususnya untuk anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Dengan jadwal penyuntikan 9 bulan, 18 bulan serta usia 6 tahun (kelas 1 SD atau sederajat). Ibu hamil sebaiknya tidak melakukan vaksinasi MR, sebaiknya vaksinasi MR dilakukan kurang lebih 4 minggu sebelum merencanakan kehamilan.

    Reaksi yang mungkin timbul setelah melakukan vaksinasi MR tidaklah serius. Gejala yang mungkin muncul seperti demam ringan, nyeri dan kemerahan di tempat penyuntikan. Namun, tidak semua orang dapat melakukan vaksinasi MR, ada beberapa kondisi dimana seseorang tidak dapat melakukannya, antara lain:

    1. Seseorang yang sedang mengalami penyakit yang serius atau memiliki hipersensitif atau alergi terhadap bahan vaksinasi.
    2. Wanita hamil.
    3. Sedang menderita kelainan sistem imun (HIV/AIDS, kanker, leukimia) atau menjalani pengobatan dengan imunosupressan, pengobatan dengan kortikosteroid, menjalani pengobatan kanker dengan kemoterapi.
    4. Baru saja donor atau transfusi darah. Apabila baru saja melakukan donor maupun transfusi darah disarankan untuk menunda vaksinasi dengan jarak minimal 3 bulan setelahnya.
    5. Sedang menderita infeksi paru-paru tuberkulosis (TBC).
    6. Baru saja mendapatkan vaksinasi selain MR, vaksinasi MR harus dijeda minimal 4 minggu setelah vaksinasi lain diberikan.
    7. Sedang kurang sehat misalnya demam atau terjangkit flu, diare atau penyakit lainnya, sebaiknya ditunda dulu vaksinasi MR.
    8. Seseorang yang menderita gangguan fungsi hati.
    9. Seseorang yang menderita gangguan fungsi ginjal.
    10. Seseorang yang sedang menderita gangguan fungsi darah, misalnya mempunyai riwayat kelainan pembekuan darah (darah sulit berhenti ketika mengalami luka).

    Pada umumnya, pencegahan suatu penyakit tidak hanya dengan vaksinasi saja, namun ada beberapa hal yang tidak kalah pentingnya yang harus kita perhatikan juga, seperti:

    1. Selalu menjaga kebersihan tubuh, mandi secara rutin, selalu mencuci tangan sebelum memasukkan makanan ke dalam mulut atau bersalaman dengan seseorang yang sedang sakit.
    2. Lakukan aktivitas fisik setiap hari secara rutin, olah raga minimal 5 kali dalam seminggu, minimal selama 30 menit.
    3. Makan makanan yang bergizi seperti sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang mengandung bahan yang berpengawet.
    4. Istirahat yang cukup, minimal 6-8 jam per hari.
    5. Minum air putih, minimal 8 gelas per hari.

    Setelah membaca ulasan di atas, kini Moms sudah lebih tahu seputar vaksinasi MR bukan? Yuk, turut serta membantu program pemerintah dalam memberantas penyebaran Campak dan Rubella di Indonesia. Jika Anda masih membutuhkan informasi kesehatan lain, bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Bahkan tersedia layanan vaksinasi ke rumah loh. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    Daftar Pustaka

    1. Subuh H, Soepardi J, Yosephine P. Petunjuk Tehnis Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. 1st ed. Jakarta: Direktorat Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan; 2017 [cited 24 August 2018]. Available from: ibi.or.id/media/files/Kampanye%20dan%20Intro%20MR%20Final.pdf
    2. Measles Rubella Immunization Campaign in Java Island on Aug –Sep 2017 [Internet]. South-East Asia Regional Office. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: searo.who.int/indonesia/topics/immunization/MR_CAMPAIGN/en/
    3. Global Measles and Rubella Update 2018 [Internet]. Who.int. 2018 [cited 30 August 2018]. Available from: who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/surveillance_type/active/Global_MR_Update_August_2018.pdf?ua=1
    4. Reaching more children to get MR vaccine [Internet]. South-East Asia Regional Office. 2018 [cited 30 August 2018]. Available from: searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_reaching/en/
    5. Information Sheet Observed Rate of Vaccine Reactions Measles, Mumps and Rubella Vaccines [Internet]. Who.int. 2018 [cited 30 August 2018]. Available from: who.int/vaccine_safety/initiative/tools/MMR_vaccine_rates_information_sheet.pdf
    Read More
  • Ketika buah hati Moms jatuh sakit, tentu kecemasan melanda Anda ya. Tentu tak akan ada satupun ibu yang tidak khawatir. Berbagai cara tentu dilakukan seorang ibu agar si kecil kesayangannya tetap sehat dan bugar. Seperti kita ketahui, vaksin merupakan salah satu hal terpenting untuk kesehatan si buah hati. Pemberian vaksin akan membuat anak terlindung dari […]

    Apa Beda Vaksin yang Bikin Anak Demam dan Tidak?

    Ketika buah hati Moms jatuh sakit, tentu kecemasan melanda Anda ya. Tentu tak akan ada satupun ibu yang tidak khawatir. Berbagai cara tentu dilakukan seorang ibu agar si kecil kesayangannya tetap sehat dan bugar. Seperti kita ketahui, vaksin merupakan salah satu hal terpenting untuk kesehatan si buah hati. Pemberian vaksin akan membuat anak terlindung dari kemungkinan terpaparnya penyakit.

    Pada bayi yang baru lahir, sistem imun di dalam tubuhnya belum terbentuk sempurna, bahkan selama beberapa bulan kehidupannya, seorang bayi masih menggunakan imun atau kekebalan tubuh yang didapat dari ibunya. Pastinya kasihan sekali Moms, bayi yang masih begitu mungil dengan segala keterbatasan sistem organ tubuh yang belum matang, harus berperang melawan penyakit. Itulah gunanya dilakukan vaksinasi. Oleh karena itu, vaksinasi sangat penting bagi bayi, jangan melewatkan jadwal vaksinasi buah hati ya Moms. Jadwal imunisasi di Indonesia direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Meskipun vaksin terbukti efektif, tak sedikit para ibu mengeluhkan tentang si kecil yang menjadi demam atau rewel setelah vaksin. Hal ini membuat Moms khawatir dan bingung untuk menanganinya atau mungkin menjadi ragu untuk membawa si kecil untuk imunisasi. Mari kita bahas tentang kejadian demam setelah imunisasi dan apa beda vaksin yang bikin anak demam dan tidak.

    Demam merupakan salah satu bentuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yaitureaksi yang dapat terjadi setelah dilakukannya imunisasi. Tapi tenang saja Moms, tidak semua vaksin memberikan respons demam, hanya beberapa vaksin saja yang sering memberikan respons tubuh berupa demam. Contoh vaksin yang umumnya memberikan respons demam adalah campak dan difteri-pertusis-tetanus (DPT). Sebanyak 42,9% anak yang divaksinasi DPT mengalami demam ringan dan sekitar 2,2% anak mengalami demam berat. Kemudian, tercatat 5-15% kasus demam dijumpai pada anak yang divaksinasi campak. Demam ringan ini biasanya mulai dijumpai pada hari kelima sampai keenam sesudah imunisasi dan demam ini dapat terus berlangsung selama 5 hari. Namun, Momstak perlu khawatir, mengingatsetiap respons imun manusia berbeda-beda, maka tidak semua anak yang diimunisasi campak dan DPT akan mengalami respons tubuh berupa demam. Ada anak yang setelah diimunisasi campak atau DPT akan baik-baik saja, tidak ada demam sama sekali.

    Hal yang sering menjadi pertanyaan banyak orang adalah apa beda antara vaksin yang bikin anak demam dan tidak? Salah satu alasan utama pembedanya adalah komponen vaksin tersebut. Vaksin dapat terbuat dari kuman yang sudah mati, atau kuman yang hanya dilemahkan, ada yang seluruh bagian utuh, atau sebagian, dan ada juga yang berupa toksin (zat racun) dari mikroorganisme tersebut. Reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi sering kali lebih hebat bila imunisasi berisi kuman hidup yang dilemahkan yang terbuat dari seluruh komponen antigen kuman. Hal ini terjadi karena reaksi pertahanan tubuh akan lebih kuat melawan kuman yang utuh dibandingkan hanya sebagian kecil dari komponen kuman. Reaksi tubuh terhadap antigen kuman dari vaksin inilah yang merupakan proses pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

    Salah satu contoh, saat ini terdapat dua jenis vaksin Difteri Pertusis Tetanus (DPT), atau sering dituliskan sebagai DPT dan DPaT. Lantas apa bedanya? Vaksin DPT terbuat dari seluruh komponen antigen kuman Pertusis, sedangkan vaksin DPaT hanya mengandung bagian antigen kuman Pertusis tertentu yang diperlukan untuk kekebalan tubuh. Perbedaan jenis antigen inilah yang menyebabkan DPT lebih sering menimbulkan efek samping seperti demam dan ruam setelah penyuntikan, dibandingkan dengan DPaT. Atas dasar tersebut, beberapa Moms memilih untuk vaksin DPaT dibandingkan dengan DPT. Dari segi efektivitas sendiri, DPaT terbukti juga efektif dalam memberikan perlindungan optimal bagi si kecil dari kuman difteri-pertusis-tetanus. Untuk menjaga keefektifan vaksin, perlu dilakukan pengulangan imunisasi DPT pada jadwal yang telah ditentukan.

    Setelah mengetahui perbedaan vaksin yang membuat anak demam dan tidak, sudahkah Moms tahu bagaimana cara menangani anak yang demam pasca dilakukan vaksinasi? Pastinya setiap ibu akan merasa panik saat menghadapi anak yang demam pasca vaksinasi, tidak tahu apakah hal ini normal, tidak tahu kapan anak yang demam harus dibawa ke rumah sakit dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan saat di rumah.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemberian parasetamol (penurun panas) pada anak, 30 menit sebelum akan dilakukan imunisasi DPT/DT. Hal ini tidak hanya untuk mengurangi demam tetapi juga mengurangi nyeri pasca vaksinasi. Setelah itu, obat penurun panas dapat dilanjutkan setiap 3-4 jam sekali apabila masih terjadi demam dan maksimal sebanyak 6 kali dalam 24 jam. Hal lainnya yang dapat dilakukan ialah memberikan minum atau ASI lebih banyak kepada anak, memakaikan anak pakaian yang tipis dan memberikan kompres hangat agar demam turun. Apabila anak tetap demam, segera bawa anak ke dokter. Moms tidak perlu takut, obat penurun demam tidak memengaruhi potensi vaksin.

    Parasetamol sebagai Pencegahan dan Pengobatan Demam Pasca Vaksinasi

    Nah, bagi Moms yang ingin melakukan vaksin pada si kecil, kini tak perlu repot. Ada layanan vaksin ke rumah loh! Silakan cek lewat www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan vaksinasi maupun kesehatan. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Dasar. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009;8: 557.
    2. Fuleihan, R. Imunologi. Dalam: Endaryanto A, Sumadiono, editor. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi VI. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011:311-4.
    3. Hadinegoro SRS. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri. 2000; 2(1):2-10.
    4. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. 2013.
    5. Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi [Internet]. IDAI. 2018 [cited 31 August 2018]. Available from: idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi.
    6. Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Pedoman Imunisasi di Indonesia.Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014;5:404.
    Read More
  • Moms, mungkin kita masih banyak yang belum begitu mengerti tentang apa yang dimaksud vaksin serta vaksin apa saja yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu yang sangat penting adalah vaksin polio. Kurangnya pengetahuan serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai vaksin menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit polio di Indonesia. Sebelum dibahas mengenai vaksin polio, ada baiknya kita […]

    Apa Penyebab Penyakit Polio?

    Moms, mungkin kita masih banyak yang belum begitu mengerti tentang apa yang dimaksud vaksin serta vaksin apa saja yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu yang sangat penting adalah vaksin polio. Kurangnya pengetahuan serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai vaksin menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit polio di Indonesia. Sebelum dibahas mengenai vaksin polio, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan vaksin, apa itu vaksin polio, kapan waktu yang tepat bagi si anak untuk mendapatkan vaksin polio, serta apa yang dimaksud dengan polio, gejala yang mungkin ditimbulkan apabila sudah terjangkit virus polio serta apa saja yang dapat kita lakukan apabila sudah terjangkit polio.

    Kita mulai dari membahas apa yang dimaksud dengan vaksinasi atau imunisasi, Vaksinasi merupakan suatu cara memasukan virus mati atau virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia yang bertujuan dengan pemberian vaksin ini, sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat mengatasinya secara otomatis apabila suatu saat kita terinfeksi virus tersebut. Vaksinasi polio terdapat 2 jenis yaitu OPV (Oral Polio Vaccine) atau Imunisasi Polio Oral merupakan vaksinasi dari virus hidup yang sudah dilemahkan dan yang kedua adalah IPV (Injection Polio Vaccine) atau polio suntik yang menggunakan virus yang telah dimatikan atau dinonaktifkan dan diberikan dengan cara suntikan di lengan. Jadwal penyuntikan IPV ketika anak berusia 2 bulan, 4 bulan dan 6-18 bulan, sedangkan dosis penambah atau booster diberikan sejak anak berusia 6-8 tahun. Sedangkan OPV diberikan secara tetes di mulut anak sejak saat lahir, usia 2, 4, 6, 18 bulan.

    Sedangkan vaksinasi pada dewasa diberikan hanya kepada seseorang yang status vaksinasinya masih diragukan atau yang tidak pernah melakukan vaksinasi polio sama sekali sebelumnya dan apabila seseorang hendak mengunjungi negara dengan angka insiden polio tinggi. Vaksinasi polio dewasa diberikan dengan jarak waktu antara dosis pertama dan kedua, 4-8 bulan dan dosis ketiga, 6-12 bulan setelah pemberian dosis kedua.

    Reaksi yang mungkin timbul akibat penyuntikan vaksinasi polio sangat ringan berupa kemerahan di tempat suntikan, demam ringan, reaksi ini bersifat sementara, apabila anak demam setelah imunisasi, maka lakukan pengompresan pada dahi, lipat paha serta lipat ketiak anak serta diberikan obat penurun panas. Sedangkan reaksi yang dapat terjadi karena penyuntikan OPV mungkin diare tapi hal ini sangat jarang terjadi.

    Tidak semua anak dapat diimunisasi polio, misalnya anak sedang dalam kondisi demam atau tidak sehat, anak dengan riwayat alergi yang parah atau alergi terhadap obat tertentu, sebaiknya konsultasikan dahulu ke dokter sebelum melakukan vaksinasi.

    Lalu, apakah yang terjadi bila kita menolak dilakukan imunisasi pada si kecil? Tentunya anak kita tidak terhindar dari risiko infeksi virus polio.Polio merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio yang terdapat di tenggorokan dan di dalam saluran pencernaan, polio sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf, pada pasien penderita polio dapat menimbulkan gejala kesulitan bernapas, kelumpuhan atau bahkan sampai terjadi kematian.

    Indonesia bersama dengan regional Asia Tenggara telah mendapatkan sertifikat negara bebas polio dari WHO (World Health Organization) berkat program pemerintah yang serius untuk membasmi kasus polio. saat ini, negara endemis polio sangat berkurang drastis yaitu dari 125 negara menjadi hanya 3 negara yaitu Nigeria, Pakistan dan Afganistan (data WHO tahun 2017).

    Penyakit polio disebabkan oleh virus polio, yang dapat terinfeksi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja atau kotoran yang mengandung virus polio, dari tetesan bersin atau batuk. Dalam tubuh manusia, virus ini menginfeksi tenggorokan sampai usus, bahkan sampai masuk ke aliran darah dan menyerang sistem saraf. Orang-orang yang berisiko terjangkit polio adalah anak-anak, wanita hamil, seseorang dengan imunitas rendah, serta seseorang yang tinggal dengan sanitasi yang buruk, misalnya belum ada toilet bersih di daerah tinggal serta sumber air minum yang buruk.

    Apabila seseorang sudah positif terjangkit virus polio, awalnya tidak disadari karena tidak menimbulkan gejala yang berat. Masing-masing polio mempunyai gejala yang berbeda, yaitu:

    POLIO NON-PARALISIS

    merupakan tipe polio yang tidak pernah mengalami kelumpuhan. Berikut ini gejala Polio Non-Paralisis:

    1. Demam lemah otot atau kaku, biasanya anggota gerak serta leher terasa sakit dan kaku.
    2. Muntah
    3. Demam
    4. Meningitis
    5. Sakit tenggorokan.
    6. Sakit kepala.

    Gejala umum Polio Non paralisis umumnya dapat berlangsunng antara 1-10 hari.

    POLIO PARALISIS

    Polio jenis paralisis merupakan polio yang paling parah, gejalanya hampir sama dengan gejala non paralisis yaitu pusing, sakit kepala, lemah otot, serta saluran pernapasan terganggu sampai kematian. Kelumpuhan pada polio jenis ini dapat terjadi hanya beberapa jam setelah infeksi virus polio. Polio paralisis dapat dibagi sesuai dengan bagian tubuh yang terjangkit misalnya batang otak, saraf tulang belakang ataupun campuran keduanya. Hal yang paling ditakuti dari polio tipe paralisis adalah kelumpuhan dari sistem pernapasan sehingga pernapasan menjadi terhambat atau bahkan tidak berfungsi sama sekali, hal ini diperlukan penanganan medis secara serius.

    Sindrom Pasca Polio

    Sindrom pasca polio biasanya terjadi pada pasien yang pernah mengalami riwayat polio, 30-40 tahun yang lalu. Gejala yang terjadi dapat ringan sampai berat. Berikut gejala yang mungkin timbul pada sindrom pasca polio:

    1. Mudah lelah
    2. Tidak kuat menahan suhu dingin
    3. Gangguan tidur
    4. Gangguan mood atau suasana hati, dapat jatuh ke dalam kondisi depresi.
    5. Kelainan bentuk anggota gerak, lemah pada anggota gerak dan nyeri.
    6. Gangguan daya ingat
    7. Kesulitan bernapas atau menelan.

    Apabila seseorang mengalami gejala di atas, untuk memastikan apakah benar terjangkit polio atau tidak, tentunya diperlukan berbagai tes untuk menegakkan diagnosis pasti. Mulai dari pemeriksaan fisik oleh dokter, pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah, tinja serta cairan serebrospinal.

    Sayangnya, belum ada pengobatan yang pasti untuk vaksin polio ini, hanya obat-obatan untuk menghilangkan gejala serta fisioterapi untuk mengurangi kekakuan anggota gerak. Oleh karena itu, pemerintah sangat menggalakkan untuk mengikuti program vaksinasi polio.

    Selain vaksinasi, berikut ini langkah untuk mencegah penyakit polio:

    1. Selalu biasakan cuci tangan sebelum makan.
    2. Tutup makanan agar tidak dihinggapi lalat.
    3. Gunakan air minum dari air bersih yang sudah dimasak.
    4. Virus polio menyebar dari sanitasi yang buruk, sehingga usahakan di lingkungan tempat tinggal sudah dibangun sarana MCK yang memadai, sehingga warganya tidak buang air besar di sungai.
    5. Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan masker atau sapu tangan apabila sedang batuk, pilek dan bersin.
    6. Makan makanan yang sehat.
    7. Istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh meningkat sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit.

    Nah, setelah membaca ulasan di atas, Moms tentunya sudah lebih mengetahui seputar penyebab polio dan lainnya bukan? Untuk informasi kesehatan lainnya, Moms bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Bahkan ada layanan vaksin polio ke rumah loh! Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Poliomyelitis [Internet]. World Health Organization. 2018 [cited 7 September 2018]. Available from: who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
    2. Ochmann S, Rosser M. Polio [Internet]. Our World in Data. 2017 [cited 7 September 2018]. Available from: ourworldindata.org/polio
    3. Semi Annual Status Report Polio July to December 2017 [Internet]. 3rd ed. Switzerland: Polio Global Eradication Initiative; 2018 [cited 5 September 2018]. Available from: polioeradication.org/wp-content/uploads/2018/05/who-polio-donor-report-july-december-2017-20180504.pdf
    4. Mehndiratta M, Mehndiratta P, Pande R. Poliomyelitis. The Neurohospitalist [Internet]. 2014 [cited 5 September 2018];4(4):223-229. Available from: Poliomyelitis Historical Facts, Epidemiology, and Current Challenges in Eradication.

     

    Read More
  • Penyakit polio adalah salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan seringkali mereka yang mengalami penyakit ini terlihat dari bentuk kakinya yang beda daripada orang normal – yaitu cenderung berbentuk O. Polio sendiri merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular antara satu orang ke orang lainnya, contohnya saja bisa […]

    Tujuan Imunisasi Polio yang Perlu Diketahui

    Penyakit polio adalah salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan seringkali mereka yang mengalami penyakit ini terlihat dari bentuk kakinya yang beda daripada orang normal – yaitu cenderung berbentuk O. Polio sendiri merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular antara satu orang ke orang lainnya, contohnya saja bisa melalui makanan, minuman, air liur, bahkan tinja. Lalu apa yang akan terjadi ketika virus polio menyerang seseorang?

    Ketika seseorang terserang polio, virus ini akan masuk melalui mulut dan menyerang usus yang tentunya akan menyebabkan infeksi. Polio yang terlambat ditangani akan menyebar ke bagian tubuh lainnya dan tentu saja akan menyerang pada bagian sistem syaraf pusat. Bagian syaraf yang terserang virus polio inilah yang akan menyebabkan bentuk kaki mereka berbeda bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Pastinya tidak ada yang mau hal ini terjadi pada diri mereka bukan? Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah polio?

    Imunisasi Polio

    Vaksinasi atau lebih sering dikenal dengan imunisasi polio adalah jawaban yang tepat untuk mencegah risiko anak mengalami polio sejak dini atau di kemudian hari. Vaksin polio sendiri terbuat dari virus polio yang sudah dilemahkan dan justru hal ini lah yang membuat tubuh kita menjadi kebal terhadap virus polio. Di Indonesia, vaksin polio yang sering diberikan adalah jenis vaksin OPV atau biasa dikenal dengan vaksin oral yang diberikan dengan cara diteteskan pada mulut. Vaksin polio perlu dilakukan beberapa kali dan vaksin pertama kali diberikan setelah anak lahir.

    Vaksinasi ini perlu diulangi ketika anak menginjak usia 2, 3, 4 dan dosis penguat usia18 bulan. Apakah vaksinasi ini perlu diulang ketika dewasa? Vaksinasi polio perlu diulangi terlebih ketika kita tidak mendapatkan vaksinasi ini ketika kecil. Tujuan dilakukannya vaksinasi polio ini adalah mencegah risiko mengalami penyakit ini terlebih ketika kita sedang bepergian ke tempat yang rawan akan kasus polio. Pekerja laboratorium ataupun petugas kesehatan yang sering berinteraksi langsung dengan orang yang mengalami penyakit polio tentu saja harus mendapatkan vaksinasi polio sebelumnya untuk menimilisir polio dapat menyerang mereka sewaktu-waktu.

    Pemberian Vaksinasi Polio

    Mempersiapkan kondisi anak sebelum vaksinasi polio dilakukan merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah beberapa reaksi yang mungkin timbul setelah vaksinasi dilakukan. Manfaat vaksinasi polio yang mencegah datangnya penyakit polio di kemudian hari adalah alasan utama masyarakat melakukan vaksinasi yang satu ini dan sebaiknya orang tua tidak menunda memberikan vaksinasi ini pada anak. Penunandaan pemberian vaksinasi merupakan pengecualian bagi anak yang sakit sedang atau parah karena jika dipaksakan maka dikhawatirkan akan timbul reaksi tertentu setelah vaksinasi dilakukan. Oleh sebab itulah sebaiknya kita menunggu hingga anak benar-benar sembuh.

    Pengecualian berikutnya juga berlaku untuk anak yang mengalami alergi terhadap polio suntik. Alergi ini disebabkan oleh berbagai kandungan yang terdapat pada vaksin polio, seperti polymyxin B, streptomycin, serta neomycin. Beberapa contoh reaksi yang dapat terjadi dari vaksinasi polio antara lain adalah anak mengalami demam beberapa jam setelah vaksinasi, kulit anak yang memerah bahkan bisa bengkak pada daerah sekitar suntikan, ataupun terjadi pengerasan kulit pada daerah sekitar suntikan. Kabar baiknya, kita bisa mengurangi efek samping ini dengan mengompres menggunakan air dingin atau dengan memberikan parasetamol. Reaksi ini biasanya berlangsung hanya selama 1 hingga 2 hari.

    Nah bagaimana? Pastinya sudah tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksinasi polio pada anak? So, tunggu apalagi untuk memberi jaminan kesehatan pada anak sejak dini?

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Sebuah survei yang dilakukan terhadap 7000 karyawan dari berbagai perusahaan mendapatkan bahwa dalam 4 bulan, terdapat 2877 orang yang tidak masuk kerja karena sakit. Dari orang-orang tersebut, hingga 52% diantaranya tidak masuk kerja karena menderita flu. Apa yang sebenarnya menjadi penyebab flu di lingkungan kerja dan bagaimana penanganannya? Influenza (disebut juga flu) adalah penyakit menular […]

    Kenali Penyebab Flu di Lingkungan Kerja dan Penanganannya

    Sebuah survei yang dilakukan terhadap 7000 karyawan dari berbagai perusahaan mendapatkan bahwa dalam 4 bulan, terdapat 2877 orang yang tidak masuk kerja karena sakit. Dari orang-orang tersebut, hingga 52% diantaranya tidak masuk kerja karena menderita flu. Apa yang sebenarnya menjadi penyebab flu di lingkungan kerja dan bagaimana penanganannya?

    Influenza (disebut juga flu) adalah penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang hidung, tenggorokan, dan kadang dapat menyerang paru-paru. Flu merupakan penyakit yang lazim diderita, tapi walaupun biasanya sembuh sendiri, dapat pula menyebabkan sakit berat hingga kematian. Penelitian oleh WHO (World Health Organization) memperkirakan terdapat antara 250.000 hingga 500.000 kematian yang dikaitkan dengan flu setiap tahunnya dan penelitian terbaru pada tahun 2018 bahkan memperkirakan angka yang lebih tinggi yaitu hingga 645.000 kematian setiap tahunnya. WHO juga menempatkan wilayah Asia Tenggara, daerah sub-Sahara, dan Pasifik Barat sebagai wilayah yang menjadi penyumbang kematian terkait flu terbanyak. Walaupun kematian kebanyakan terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, namun tentunya hal ini menjadikan flu sebagai hal yang tidak dapat dianggap remeh.

    Saat seseorang terkena flu, gejala yang dialami berupa hidung tersumbat, bersin-bersin, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, dan rasa tidak enak badan. Selain itu, flu juga dapat disertai dengan demam, nyeri otot, dan lemas.

    Flu dapat menular melalui percikan saat seseorang yang telah terkena flu batuk, bersin, atau berbicara. Percikan ini dapat mendarat dalam mulut atau hidung orang sekitarnya. Flu juga dapat menular secara tidak langsung bila seseorang menyentuh permukaan seperti meja dan gagang pintu yang terkena virus influenza, dan kemudian orang tersebut menyentuh mulut, hidung, atau mengusap matanya.

    Pada lingkungan kerja, keadaan yang ramai dan saling berdekatan antar karyawan tentunya menjadi faktor yang menjadi penyebab flu di lingkungan kerja lebih mudah terjadi. Kegiatan sehari-hari dalam lingkungan kerja seperti berbicara dan berjabat tangan dengan orang yang terkena flu dapat menyebabkan penularan. Selain itu, dalam lingkungan kerja juga terdapat banyak benda-benda yang dipakai bersama seperti telepon dan komputer yang bisa terkontaminasi dengan virus influenza. Virus influenza dapat bertahan hidup hingga satu hari di permukaan benda-benda tersebut.

    Pada kebanyakan kasus flu, biasanya tidak diperlukan obat karena dapat sembuh sendiri dengan istirahat dan minum yang cukup. Namun demikian, obat-obatan dapat digunakan untuk mengurangi gejala flu yang tentunya sangat mengganggu. Obat-obatan untuk flu umumnya dapat dibeli secara bebas. Terdapat 4 golongan obat yang lazim digunakan untuk mengobati flu yaitu: dekongestan, antihistamin, obat batuk, dan penurun panas.

    Dekongestan adalah golongan obat yang digunakan untuk meredakan gejala hidung tersumbat. Terdapat dua jenis dekongestan yaitu yang digunakan langsung pada hidung (spray/hirup) dan yang diminum. Perlu diingat bahwa penggunaan dekongestan harus dibatasi selama 3-5 hari karena penggunaan jangka panjang justru dapat mengakibatkan hidung tersumbat yang lebih buruk.

    Antihistamin adalah golongan obat yang digunakan untuk meredakan gejala bersin-bersin, pilek, dan mata berair. Namun demikian, kebanyakan antihistamin dapat menyebabkan rasa kantuk, pandangan kabur, dan mulut kering. Efek samping ini menyebabkan penggunaan antihistamin harus diperhatikan karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja dan dapat membahayakan bila pekerjaan berkaitan dengan pengoperasian mesin atau mengemudi.

    Obat batuk digunakan untuk mengurangi batuk dan harus disesuaikan dengan tipe batuk yang diderita. Untuk penderita batuk kering dapat mengonsumsi pereda batuk. Untuk penderita batuk berdahak dapat mengonsumsi ekspektoran yang dapat membantu mendorong dahak keluar dan mukolitik yang dapat membantu mengencerkan dahak agar lebih mudah dikeluarkan.

    Penurun panas dapat membantu menurunkan demam, meredakan sakit kepala, dan mengurangi nyeri otot. Terdapat banyak obat penurun panas namun yang paling sering digunakan adalah paracetamol, ibuprofen, dan aspirin.

    Perlu diperhatikan bahwa antibiotik tidak terdapat dalam daftar obat-obatan untuk flu. Mengapa? Flu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik tidak akan mempercepat penyembuhan flu, namun dapat berpotensi menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Bila hal ini terjadi, maka infeksi bakteri di masa yang akan datang dapat menjadi lebih sulit disembuhkan.

    Walaupun terdapat banyak obat diminum, tentunya pepatah “lebih baik mencegah daripada mengobati” tetap berlaku untuk flu karena penyebab flu terutama di lingkungan kerja telah dibahas sebelumnya, tentunya ada langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah menyebarnya flu.

    Pertama, untuk pekerja yang terkena flu, ada baiknya bila mengambil cuti sakit dan beristirahat di rumah. Virus influenza dapat dengan mudah menyebar dalam ruangan tertutup seperti kantor. Selain dapat mempercepat penyembuhan dari sakit, hal ini juga mencegah flu menyebar ke pekerja lainnya.

    Terapkan etika batuk yang baik dan benar. Gunakan masker jika memungkinkan untuk menghindari adanya virus yang keluar saat batuk. Bila tidak dapat menggunakan masker, tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk dan bersin, lalu segera buang pada tempat sampah. Bila tidak ada tisu, Anda juga dapat menutup mulut dan hidung dengan menggunakan lengan. Menggunakan telapak tangan untuk menutup batuk tidak disarankan karena tangan dapat dengan mudah menyebarkan virus ke permukaan-permukaan lain yang disentuh kemudian.

    Cuci tangan Anda secara teratur, terutama sebelum makan, jangan lupa gunakan sabun atau larutan antiseptik. Pastikan seluruh tangan telah terkena sabun selama 15-20 detik untuk memastikan keefektifan kerja dari sabun atau antiseptik. Anda tidak pernah tahu apabila benda-benda yang anda sentuh di tempat kerja telah terkontaminasi oleh virus.

    Flu adalah penyakit yang sering terjadi di lingkungan kerja, karena itu penting bagi kita untuk mengetahui penyebab flu di lingkungan kerja dan bagaimana menanganinya. Dengan langkah-langkah sederhana, penyebaran flu dapat dihindari sehingga produktivitas juga dapat meningkat.

    Nah, jika Sobat ingin mengetahui lebih lanjut seputar flu atau bahkan ingin melakukan vaksin flu, Anda bisa akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, tersedia layanan vaksin flu ke rumah loh! Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Burckel E, Ashraf T, Galvão de Sousa Filho JP, Forleo Neto E, Guarino H, Yauti C, et al. Economic Impact of Providing Workplace Influenza Vaccination. Pharmacoeconomics. 1999;16:563–76.
    2. Jordaan K. Colds and flu medicine for office workers : colds and flu. SA Pharmacist’s Assistant. 2013;13:16–8.
    3. Key Facts About Influenza (Flu) | Seasonal Influenza (Flu) | CDC [Internet]. 2017 [cited 2018 Aug 19]. Available from: cdc.gov/flu/keyfacts.htm
    4. Cassini A, Colzani E, Pini A, Mangen M-JJ, Plass D, McDonald SA, et al. Impact of infectious diseases on population health using incidence-based disability-adjusted life years (DALYs): results from the Burden of Communicable Diseases in Europe study, European Union and European Economic Area countries, 2009 to 2013. Eurosurveillance. 2018;23:17–00454.
    5. Iuliano AD, Roguski KM, Chang HH, Muscatello DJ, Palekar R, Tempia S, et al. Estimates of global seasonal influenza-associated respiratory mortality: a modelling study. The Lancet. 2018;391:1285–300.
    6. Ficalora RD. Mayo Clinic Internal Medicine Board Review. Oxford University Press; 2013. 819 p.
    7. Respiratory Hygiene/Cough Etiquette in Healthcare Settings | Seasonal Influenza (Flu) | CDC [Internet]. 2017 [cited 2018 Aug 19]. Available from: cdc.gov/flu/professionals/infectioncontrol/resphygiene.htm
    Read More
  • Kapan terakhir kali kalian mendapatkan vaksin? Apakah kalian sering melihat saudara atau sepupu kalian memberikan vaksin terhadap anaknya? Vaksin adalah salah satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan karena vaksin berfungsi untuk meningkatkan daya imun anak dan pastinya bermanfaat untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Jenis dari vaksin sendiri bermacam-macam yang bisa diberikan […]

    Bagaimana Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT atau Sering Disebut KIPI

    Kapan terakhir kali kalian mendapatkan vaksin? Apakah kalian sering melihat saudara atau sepupu kalian memberikan vaksin terhadap anaknya? Vaksin adalah salah satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan karena vaksin berfungsi untuk meningkatkan daya imun anak dan pastinya bermanfaat untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Jenis dari vaksin sendiri bermacam-macam yang bisa diberikan pada usia tertentu dan kebanyakan dari vaksin dapat diberikan sejak anak barusan lahir. Lalu bagaimana dengan vaksin DPT? Vaksin DPT adalah salah satu jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah tiga penyakit sekaligus, yaitu penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.

    Lalu kapan kita bisa memberikan vaksinasi DPT pada anak? Vaksin DPT sendiri perlu diberikan berkala sebanyak lima kali, lebih tepatnya sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Vaksinasi pertama dilakukan pada usia 2, 3, dan 4 bulan yang kemudian akan diulangi ketika anak sudah menginjak usia 18 bulan. Vaksinasi DPT akan terakhir diberikan ketika anak berusia 5 tahun dan perlu dilakukan booster atau imunasi ulang setiap 10 tahun sekali.

    Apakah ada reaksi setelah pemberian vaksinasi DPT pada anak? Tentu saja ada, demam ringan dan terjadinya pembengkakan pada daerah suntikan adalah contoh reaksi dari vaksinasi DPT yang biasanya hanya berlangsung selama satu hingga tiga hari.

    Sejatinya, kita tidak perlu mencemaskan ketika anak menjadi demam setelah mendapatkan vaksinasi DPT karena hal ini adalah hal yang lumrah. Namun, pastinya kita tidak mau melihat anak menderita karena demam kan? Selain demam, anak biasanya akan menjadi lebih rewel daripada biasanya. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk permasalahan yang satu ini?

    Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi demam anak setelah vaksinasi DPT:

    1. Diberikan obat penurun panas

    Parasetamol adalah salah satu jenis obat pereda rasa sakit yang aman untuk berikan kepada anak dan pastinya dengan pengawasan tertentu sehingga dosis yang diberikan tidak berlebihan. Kita bisa memberikan parasetamol 15 mg setiap 3 atau 4 jam sekali dan maksimal kita berikan sebanyak 6 kali dalam rentang waktu 24 jam.

    2. Memberikan ASI lebih banyak

    Cara berikutnya yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan menyusui anak lebih sering, karena anak akan merasa lebih nyaman dan dipercaya dapat mengurangi rasa sakit anak. Cara ini bisa dilakukan apabila anak masih menyusu dan apabila anak sudah tidak menyusu kita bisa menggantinya dengan memberikan anak buah. Fungsi buah di sini adalah untuk menyegarkan tubuh anak.

    3. Memakaikan baju tipis

    Ketika anak demam, kita bisa mengganti baju tebal anak dengan baju yang lebih tipis sehingga anak akan merasa lebih nyaman dalam kesehariannya. Memperhatikan tebal baju anak juga berfungsi untuk menurunkan suhu tubuh dan pastinya mempercepat suhu tubuh anak turun. Selain itu, kita juga bisa mengompres bekas suntikan anak dengan air dingin sehingga anak tidak terlalu rewel.

    4. Berendam dengan air hangat

    Air hangat adalah hal yang cocok untuk diberikan pada anak terutama ketika kondisi tubuh mereka sedang tidak fit. Berendam air hangat juga sangat cocok untuk mempercepat suhu tubuh anak kembali menjadi normal dan pastinya juag membuat anak menjadi rileks dan nyaman.

    5. Kompres hangat

    Kompres hangat dapat diberikan pada anak yang sedang demam. Daerah yang dikompres biasanya adalah dahi, kedua ketiak, dan kedua lipat selangkangan. Berikan kompres hangat pada anak setiap 5-10 menit sekali.
    Nah, itu tadi adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menangani demam anak setelah mendapatkan vaksinasi DPT. Pastinya mudah untuk diingat untuk dilakukan bukan? So, mulai sekarang sudah tidak perlu panik lagi ketika anak mengalami demam setelah melakukan vaksinasi ya mom!

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • TBC adalah salah satu penyakit yang menjadi momok untuk banyak orang karena penyakit ini menjadi faktor kematian terbesar yang dapat menyerang segala usia, alias juga bisa menyerang anak-anak di mana daya imun mereka belum terlalu baik. TBC diperkirakan menyebabkan kematian 14 persen lebih banyak daripada malaria dan AIDS dan 10 hingga 15 persen kasus TB […]

    Masih Kena TB padahal Sudah Imunisasi?

    TBC adalah salah satu penyakit yang menjadi momok untuk banyak orang karena penyakit ini menjadi faktor kematian terbesar yang dapat menyerang segala usia, alias juga bisa menyerang anak-anak di mana daya imun mereka belum terlalu baik. TBC diperkirakan menyebabkan kematian 14 persen lebih banyak daripada malaria dan AIDS dan 10 hingga 15 persen kasus TB menyerang anak yang berusia 0 sampai 14 tahun.

    Parahnya lagi, ketika seseorang terserang TBC hal ini sulit diketahui alias gejalanya sulit untuk dikenali. Hal inilah yang menyebabkan penanganan TB terlambat dan dapat berujung pada kematian. Namun terdapat beberapa gejala TB yang bisa kita amati dan perlu kita waspadai ketika anak mulai menunjukkan beberapa perubahan dan pastinya tim dokter juga mengetahui hal ini. Beberapa gejala TB pada anak antara lain adalah nafsu makan yang berkurang atau justru tidak nafsu makan sama sekali, anak yang mudah lelah atau tidak bersemangat sama sekali ketika diajak bermain, mengalami demam dan batuk dalam jangka waktu yang lama; yaitu bisa lebih dari 2 minggu, ataupun berkeringat saat malam hari. Lalu apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah datangnya penyakit ini pada anak?

    Vaksin BCG

    Pemberian vaksin BCG adalah langkah yang tepat untuk mencegah timbulnya penyakit TB menjadi lebih berat di kemudian hari. Vaksin BCG berisi kuman Mycobacterium bovis yang dilemahkan dan tujuan diberikannya vaksin BCG ini adalah untuk membuat mencegah TB yang lebih berat kedepannya. Vaksin BCG dianjurkan untuk diberikan sejak dini karena berbagai manfaat yang bisa kita dapatkan, seperti mengurangi kemungkinan terserang penyakit TB sebanyak 50 persen ketika dewasa bahkan memberikan efek perlindungan yang berlangsung hingga 10 tahun.

    Vaksin BCG sendiri wajib diberikan saat anak barusan lahir hingga berusia 2 bulan dan hal ini perlu diulangi di kemudian hari apabila kita bekerja di bidang yang berinteraksi langsung dengan penderita penyakit TB aktif.

    Lalu seberapa efektif vaksinasi BCG ini? Apakah dengan mendapatkan vaksin BCG berarti kita tidak mungkin terserang penyakit TB di kemudian hari? Faktanya, meskipun telah melakukan vaksin BCG kita tetap berisiko mengalami penyakit TB. Kok bisa? Pemberian vaksin ini hanya berfungsi untuk membuat tubuh kita kebal terhadap Mycobacterium bovis, yaitu penyebab utama penyakit TB. Faktor lingkungan dan pola hidup juga mempengaruhi hal ini, yang berarti ketika pola hidup kita kurang sehat ataupun lingkungan cenderung kotor maka meningkatkan kemungkinan penyakit TB di kemudian hari.

    Bukan hanya faktor lingkungan, kondisi tubuh juga bisa menjadi faktor kita terserang penyakit TB. Ketika daya tahan tubuh menurun atau ketika kita sedang sakit maka akan memudahkan kuman Mycobacterium bovis untuk masuk tubuh dan menyerang sistem imun tubuh kita. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika kita terserang penyakit TB? Tentu saja kita harus menemui dokter segera untuk mencegah penyakit ini bertambah parah dan kita bisa mendapatkan pelayanan kesehatan serta obat gratis melalui Puskemas ataupun pusat layanan kesehatan lainnya.

    Apakah ada reaksi setelah vaksinasi dengan melakukan vaksinasi BCG? Meskipun timbul efek samping dengan pemberian vaksinasi, kita tidak perlu khawatir mengenai hal ini karena hanya akan berlangsung selama 2 hingga 3 hari. Contoh beberapa reaksi yang mungkin timbul adalah timbulnya rasa sakit, kemerahan, ataupun pembengkakan pada daerah sekitar suntikan. Demam jarang terjadi sebagai salah satu bentuk reaksi yang biasanya muncul setelah vaksinasi.

    Nah itu tadi adalah beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai penyakit TB dan vaksinasi BCG sebagai cara untuk mencegahnya. Pastinya tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksinasi BCG? So, tunggu apalagi untuk membawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat dan melakukan vaksin?

    Read More

Showing 1–10 of 45 results

Chat Asisten ProSehat aja