Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ imunisasi”

Showing 31–40 of 42 results

  • Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih […]

    5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi Yang Perlu Kamu Ketahui

    Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? Imunisasi adalah sebuah program yang dilakukan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada satu orang dan orang lainnya yang setelah orang tersebut menerima vaksin pastinya akan lebih resisten alias lebih kebal terhadap penyakit tertentu.

    Memangnya di mana sih kita bisa mendapatkan imunisasi? Jawabannya tentu saja di pelayanan kesehatan terdekat, seperti di Puskesmas, Posyandu, atau bahkan di sekolah anak kita. Lalu bagaimana cara vaksin diberikan pada kita? Ternyata vaksin tidak hanya diberikan dengan metode suntik saja lho! Wah, yang benar nih? Yup, vaksin bisa diberikan dengan berbagai metode seperti dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan melalui penyuntikan.Beberapa jenis vaksin ada yang perlu diberikan secara berkala alias tidak cukup hanya diberikan sekali seumur hidup dan vaksin lainnya ada yang cukup hanya diberikan sekali.

    Apakah anak bisa sehat tanpa mendapatkan vaksin? Pertanyaan yang satu ini sering kali muncul di benak kita mengingat banyaknya angka bayi di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin. Pemberian vaksin bukan saja hanya digalakkan di Indonesia saja, tetapi juga menjadi program wajib di beberapa negara maju. Program vaksin yang digalakkan di berbagai negara terbukti sukses meminimalisir timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak, contohnya saja dalam beberapa tahun terakhir kita hampir tidak pernah mendengar kasus tentang polio liar di Indonesia. Polio merupakan suatu penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

    Apakah hanya vaksin polio saja yang bisa diberikan pada anak? Kapankah sebaiknya vaksin mulai diberikan? Berbagai pertanyaan sering kali diajukan mengenai vaksin anak terlebih kapankah saat yang tepat dan jenis vaksin apa sajakah yang bisa diberikan untuk anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, vaksin bisa diberikan pada anak sejak anak berusia beberapa bulan alias sejak bayi. Namun, apakah vaksin hanya cukup perlu dilakukan sekali saja? Pada usia berapakah anak sudah bisa diberikan vaksin?

    Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar vaksin bayi yang sering ditanyakan dan harus kita ketahui jawabannya sehingga kita tidak ragu lagi untuk melakukan vaksin bayi:

    1. Kapankah saat yang tepat untuk melakukan vaksin bayi?

    Vaksin bayi sudah dapat diberikan sejak anak lahirm lebih tepatnya dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksin hepatitis B (HB) di mana sebelumnya juga akan dilakukan suntikan vitamin K1. Vaksin hepatitis juga perlu dilakukan secara rutin yaitu mulai dari bayi lahir, usia 2, 3, 4 bulan. Selain vaksin hepatitis, sebelum bayi dibawa pulang ke rumah kita juga perlu memberikan vaksin polio dari lahir, 2, 3, 4 bulan. Kita bisa memberikan jenis vaksin lainnya apabila anak sudah berada pada usia tertentu.

    2. Apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan untuk bayi?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya, pemberian vaksin sangatlah penting untuk diberikan pada bayi bahkan beberapa jenis vaksin sebaiknya diberikan sebelum bayi dibawa pulang. Terdapat empat jenis vaksin yang seharusnya diberikan sebelum bayi menginjak usia satu tahun, yaitu vaksin polio, DPT, campak, BCG, serta hepatitis B. Vaksin hepatitis B hanya diberikan satu kali sebelum bayi menginjak usia dua bulan dan setelahnya kita perlu melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin BCG dilanjutkan. Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib diberikan berikutnya di mana vaksin ini merupakan vaksin gabungan untuk meminimalisir datangnya penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus. Vaksin DPT ini perlu diberikan sebanyak lima kali ketika anak menginjak usia dua bulan hingga lima tahun.

    3. Apakah efek samping yang biasanya timbul setelah bayi mendapatkan vaksin?

    Faktanya, kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena efek samping yang timbul ketika vaksin diberikan hanyalah sementara dan tidak akan mengancam keselamatan jiwa anak. Beberapa efek samping yang biasanya timbul adalah timbulnya ruam merah serta daerah yang cukup bengkak dan nyeri pada daerah suntikan dan hal ini hanyalah berlangsung beberapa jam atau hingga dua hari. Penanganan efek paska suntikan bukanlah suatu perkara yang sulit karena yang perlu kita lakukan hanyalah mengompres dingin daerah suntikan dan lama-lama bengkak akan hilang dengan sendirinya dan bayi pun tidak akan merasa nyeri lagi. Bayi juga biasanya akan mengalami demam ringan serta tidak selera makan seperti biasanya dan kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.

    4. Apa jadinya jika kita terlambat memberikan vaksin pada bayi?

    Pertanyaan ini sering kali diajukan terlebih bagi orang tua yang sudah rutin memberikan vaksin pada anaknya. Kabar baiknya, tidak akan ada efek samping ketika kita terlambat memberikan vaksin lanjutan apabila kita sudah memberikan vaksin wajib terlebih dahulu. Kita juga bisa menunda pemberian vaksin pada anak ketika mereka dalam kondisi yang sedang tidak fit, seperti anak sedang flu, batuk, demam, ataupun diare. Meskipun penyakit ini terlihat sepele, sebaiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu terhadap dokter agar tidak timbul efek samping yang dapat membahayakan anak kita

    5. Kenapa sih bayi perlu mendapatkan vaksin?

    Pertanyaan yang satu ini merupakan pertanyaan yang paling mendasar sebelum kita melakukan vaksin pada anak. Tentu saja jawabannya sangat jelas, yaitu untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya pada anak kita sejak dini dan mencegah anak tertular penyakit infeksi dari orang lain. Kita juga tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam ringan setelah diberikan vaksin karena hal ini adalah reaksi alami terhadap imun yang dimasukkan melalui vaksin dan pastinya membuat daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat. Ketika anak tidak mendapatkan imunisasi justru hal ini akan membahayakan kesehatan anak bahkan dapat menyebabkan kecatatan pada anak karena penyakit tertentu bahkan berujung pada kematian.

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah jelas kan mengenai pentingnya melakukan vaksin pada bayi? Setelah kita paham tentang hal yang satu ini pastinya tidak ada alasan lagi kan untuk menunda memberikan vaksin pada bayi kita. So, tunggu apalagi? Yuk, berikan vaksin pada bayi di fasilitas kesehatan terdekat!

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia […]

    Imunisasi Polio Tetes VS Suntik, Yuk Disimak Penjelasannya

    Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia bayi 18 bulan. Vaksin yang diberikan dapat berupa Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV).

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus polio yang sudah tidak aktif dan diberikan dalam bentuk suntikan di bahu atau paha dalam. Pada vaksin ini terdapat sedikit komponen neomisin, streptomisin dan polimiksin B, sehingga bagi mereka yang memiliki alergi terhadap antibiotik tersebut tidak disarankan mendapatkan vaksin IPV karena ditakutkan akan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ringan yang dapat terjadi setelah penyuntikan adalah kemerahan, bengkak di tempat suntikan yang akan hilang dalam 2-3 hari. Reaksi berat biasanya jarang terjadi, yaitu berupa reaksi alergi yang dapat menyebabkan syok anafilaksis.

    Efektivitas perlindungan vaksin polio IPV sampai dengan 99%-100% bila diberikan dalam 3 dosis.3 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlindungan lapisan usus terhadap virus polio sedikit lebih rendah daripada perlindungan yang didapat dari vaksin polio OPV, namun, perlindungan lapisan kerongkongan terhadap virus polio sama saja dengan vaksinasi polio OPV.

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus Polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini diberikan secara oral berupa tetesan ke dalam mulut bayi. Pemberian vaksin polio tetes masih mungkin sekalipun sangat jarang sekali, menimbulkan reaksi berat berupa Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP) dan Vaccine-derived Polioviruses (VDPVs), yang dapat menyebabkan wabah polio.

    Baca Juga:

    Orang tua pasti memilih jenis vaksin yang paling aman untuk diberikan kepada anaknya. Vaksin polio tetes masih diberikan di banyak negara di berbagai belahan dunia karena praktis dan kemudahan pemberian vaksin. Rekomendasi dari IDAI 2017 bagi anak Indonesia adalah memberikan vaksin polio tetes sebanyak 3 dosis dan pada dosis ketiga, diberikan vaksin polio suntik (IPV) bersamaan dengan vaksin polio tetes (OPV). Dosis penguat vaksinasi polio dapat diberikan berupa vaksin polio tetes (OPV) atau vaksin polio suntik (IPV).

    Baca Juga: 5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi

    Kini orangtua tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: cdc.gov
    2. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    3. Polio Vaccine Effectiveness and Duration of Protection | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: cdc.gov
    4. WHO | Inactivated polio vaccine (IPV) [Internet]. Who.int. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: who.int
    5. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id
    Read More
  • Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk […]

    POSISI ANAK SAAT IMUNISASI

    Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk menahan anak. Lalu, bagaimanakah posisi yang tepat bagi anak saat dilakukannya imunisasi?

    Rasa sakit pada saat dilakukannya imunisasi memberikan dampak fisik dan psikologis pada anak. Oleh karena itu, beberapa metode memposisikan anak saat penyuntikan imunisasi seringkali dilakukan. Namun, belum ada posisi yang pas yang ditemukan untuk bayi atau anak yang akan diimunisasi. Pada bayi usia 2 bulan posisi bayi telentang mengurangi rasa nyeri bila dibandingkan dengan posisi bayi ditegakkan. Posisi ini ditambah sambil menyusui diharapkan dapat menjadi salah satu kombinasi yang dapat dilakukan oleh orang tua saat anak mereka diimunisasi.

    Posisi lain  yang dapat dilakukan orang tua adalah posisi memeluk anak dari samping. Posisikan bayi dalam kondisi duduk menyamping di paha Anda, satu tangan menahan kaki anak dan tangan yang lainnya menahan kedua lengan anak. Keuntungan dari posisi ini adalah bagian lengan dan kaki dapat ditahan bila anak bergerak, anak juga akan merasa nyaman karena kontak langsung dengan orang tuanya. Selain posisi ini, posisi memeluk dari depan dengan cara mendudukkan anak di atas paha Anda sambil memeluknya dari depan juga dapat dilakukan.

    Pada bayi yang baru lahir, posisi bayi dengan kaki dilipat dapat dilakukan saat imunisasi. Penelitian mengemukakan bahwa bayi yang baru lahir dengan posisi kaki dilipat pada saat imunisasi bila dibandingkan dengan bayi baru lahir dengan posisi terlentang akan lebih tenang dan mengurangi nyeri saat dilakukan imunisasi. Jadi, pastikan posisi anak Anda nyaman sehingga vaksinasi dapat dengan aman diberikan.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Yin HC, Cheng SW, Yang CY, Chiu YW, Weng YH. Comparative survey of holding position for reducing vaccination pain in young infant. Pain Research and Management. 2017.
    2. World Health Organization. Immunization in practices. [Internet]. Retrieved from: http://www.who.int/immunization/documents/IIP2014Mod5_5june.pdf (04.02.2018).
    3. Kucukoglu S, Kurt S, Aytekin A. The effect of facilitated tucking position in reducing vaccination-induced pain in newborns. Italian Journal of Pediatric. 2015;41:51.
    Read More
  • Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mencegah anak agar tidak tertular oleh penyakit tertentu. Orang tua juga harus mempersiapkan anak agar sebelum dilakukan imunisasi. Persiapan imunisasi berupa persiapan fisik dan mental anak. Anak sebaiknya dalam keadaan tidak sakit, sehingga tujuan imunisasi dapat tercapai secara maksimal. Pada anak yang sedang sakit dan lemah atau yang sedang […]

    PERSIAPAN IMUNISASI ANAK DAN KONDISI YANG MEMBUAT ANAK TIDAK DAPAT DIIMUNISASI

    Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mencegah anak agar tidak tertular oleh penyakit tertentu. Orang tua juga harus mempersiapkan anak agar sebelum dilakukan imunisasi. Persiapan imunisasi berupa persiapan fisik dan mental anak. Anak sebaiknya dalam keadaan tidak sakit, sehingga tujuan imunisasi dapat tercapai secara maksimal.

    Pada anak yang sedang sakit dan lemah atau yang sedang demam lebih dari 380C pemberian vaksinasi sebaiknya ditunda terlebih dahulu dan diberikan di kemudian hari. Anak dengan batuk, pilek, atau diare boleh diberikan vaksin asalkan tidak demam. Namun, anak yang sedang mengalami mual muntah, sebaiknya ditunda pemberian vaksin dalam bentuk tetes (polio).

    Vaksin sebaiknya tidak diberikan kepada anak dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (leukimia, HIV) atau sedang dalam pengobatan sediaan kortikosteroid atau obat penekan kekebalan tubuh lainnya dan memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin (misalkan alergi berat terhadap telur untuk penerima vaksin influenza atau riwayat alergi berat pada dosis vaksin sebelumnya).

    Tidak ada persiapan khusus bagi anak yang akan divaksinasi. Anak tidak perlu puasa, tidak perlu melakukan hal khusus sebelumnya. Ibu hanya perlu menyiapkan kondisi anak agar lebih tenang saat divaksinasi. Jangan lupa untuk menceritakan semua riwayat penyakit dan alergi yang pernah diderita oleh anak Anda dan membawa kartu imunisasi sebagai tanda anak Anda telah divaksinasi.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    2. Hadinegoro SR, Soedjatmiko. Rekomendasi satgas imunisasi. Sari Pediatri. 2006; 8(1):84-92.
    3. Canadian Pediatric Society. A guide to contraindications to childhood vaccination. Canadian Journal Infectious Disease. 2000;11(1).

     

    Read More
  •   Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya. Beberapa […]

    LOKASI PENYUNTIKAN IMUNISASI PADA ANAK

     

    Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya.

    Beberapa lokasi pemberian vaksin antara lain adalah:

    1. Suntikan intramuskular (dalam otot): vaksin biasanya disuntikkan pada otot bahu (M.deltoids) pada anak usia 3 tahun dan lebih dari 3 tahun atau otot paha luar (M.quadriceps anterolateral) pada anak usia kurang dari 3 tahun.
    2. Suntikan intradermal: vaksin BCG dan terkadang vaksin rabies dan tifoid diberikan secara intradermal yaitu suntikan diberikan pada lapisan bawah kulit di lengan kanan atas.
    3. Suntikan subkutan: vaksin disuntikan pada bagian paha atas atau bahu kemudian jarum ditusukkan dengan kemiringan kira-kira 45 derajat.

    Tidak ada vaksin yang disuntikkan langsung ke dalam darah melalui pembuluh darah. Rata-rata penyuntikan vaksin dilakukan secara intramuskular, melalui otot. Hal inilah yang menyebabkan banyak anak-anak yang taku disuntik. Padalah, rasa nyeri pada lokasi penyuntikan hanya sementara saja, dan nyeri akan hilang pada 2-3 hari pasca penyuntikan. Anda tidak perlu khawatir mengenai lokasi penyuntikan vaksin pada anak karena semua metodenya aman dan sesuai dengan prosedur yang ada.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. Satgas Imunisasi IDAI. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI. 2000;2(1): 43-47.
    Read More
  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More
  • Awal tahun 2017, Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal sebelumnya. Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun 2017 sebagai berikut: Pertama akan dijelaskan makna dari warna pada  kolom: Kolom hijau menAndakan jadwal pemberian imunisasi optimal sesuai usia. Kolom kuning menAndakan masa untuk melengkapi imunisasi yang […]

    Jadwal Imunisasi Anak dan Bayi Terbaru dan Lengkap

    Awal tahun 2017, Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal sebelumnya. Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun 2017 sebagai berikut:

    Pertama akan dijelaskan makna dari warna pada  kolom:

    1. Kolom hijau menAndakan jadwal pemberian imunisasi optimal sesuai usia.
    2. Kolom kuning menAndakan masa untuk melengkapi imunisasi yang belum lengkap (catch up immunization).
    3. Kolom biru menAndakan imunisasi penguat atau booster
    4. Kolom warna merah muda menAndakan imunisasi yang direkomendasikan untuk daerah endemis.

    Berikut adalah beberapa keterangan dari imunisasi rekomendasi IDAI 2017:

    1. Vaksin hepatitis B (HB) terbaik diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Apabila diberikan vaksin HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian di usia 2, 3, dan 4 bulan.
    2. Vaksin polio diberikan secara oral pertama kali setelah bayi lahir atau sebelum bayi dibawa pulang dari tempat bersalin. Vaksin polio selanjutnya saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan bisa berupa vaksin oral maupun suntik. Namun, disarankan setidaknya mendapatkan 1 kali polio suntik.
    3. Vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) pertama diberikan paling cepat usia 6 minggu. Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin polio, HB, dan Hib di usia 2,3,dan 4 bulan. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun vaksin yang diberikan adalah Td/Tdap.
    4. Vaksin BCG diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Apabila bayi berusia lebih dari 3 bulan dianjurkan untuk melakukan uji tuberkulin dahulu sebelum vaksinasi BCG.
    5. Vaksin pneumonia (PCV) diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis booster. Pada anak usia di bawah 1 tahun diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Selanjutnya booster  diberikan setelah usai 1 tahun.
    6. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan saat usia 6-14 minggu dan dosis kedua diberikan minimal 4 minggu berikutnya. Maksimal pemberian dosis kedua pada usia 24 minggu. Untuk, vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan pada usia 6-14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian di usia 32 minggu.
    7. Vaksin influenza diberikan setelah usia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun.
    8. Vaksin MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.
    9. Vaksin HPV diberikan untuk remaja usia 10-13 tahun sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan.
    10. Vaksin Japanese encephalitis (JE) diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis.
    11. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah.

    Setelah mengetahui jadwal imunisasi terbaru IDAI, segera bawa anak Anda untuk melengkapi imunisasinya. Anak sehat karena imunisasi yang lengkap. Namun bila  ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Budi Santoso B. Sekilas Vaksin Pneumokokus [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus
    2. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
    3. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2017 [cited 8 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
    4. Gunardi H, Kartasasmita C, Hadinegoro S, Satari H, Soedjatmiko S, Oswari H et al. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017. Sari Pediatri. 2017;18(5):417.
    Read More
  • Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada […]

    BAHAYA POLIO PADA ANAK

    Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada bagian kaki yang hampir sama dengan penyakit GBS. Hanya saja, pada GBS kelumpuhan kaki terjadi simetris (kedua kaki) dan terjadi selama 10 hari tanpa disertai dengan demam, sakit kepala, mual dan muntah.

    Poliovirus ditularkan melalui feses yang mengkontaminasi ke makanan dan cepat menyebar pada area dengan kebersihan yang buruk dan sering terjadi pada negara-negara tropis dengan iklim panas. Pada umumnya, tidak ada gejala yang dapat dirasakan karena penyakit ini tetapi gejala yang sering terjadi antara lain adalah:

    1. Gejala gangguan pencernaan: mual, muntah, diare
    2. Gejala seperti terserang flu dan batuk: demam, sakit kepala, batuk
    3. Kekakuan otot leher, punggung, dan kaki yang dapat terjadi pada 1% penderita polio2

    Penyakit ini paling ditakutkan karena akan menyebabkan kecacatan sehingga anak tidak mampu untuk berjalan apabila kelumpuhan tidak segera ditangani. Penyembuhannya akan berlangsung kurang dari 12 bulan, tetapi bila kelumpuhan terjadi lebih dari waktu tersebut, umumnya akan menyebabkan kelumpuhan seumur hidup. Akibatnya, penderita tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Polio tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin polio terdapat dua buah yaitu Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV). IPV diberikan melalui suntikan di paha atau lengan atas, sedangkan OPV diberikan melalui tetesan mulut. Polio diberikan 4 dosis ditambah satu dosis penguat, pada waktu lahir-1 bulan, bulan ke 2, 3, dan 4 dan penguat diberikan pada usia 18 bulan.

    Ibu lebih baik memilih vaksin polio suntik pada anak karena lebih aman. Lalu, kenapa harus menunda lagi? Ayo, segera datang ke pelayanan kesehatan setempat untuk mendapatkan vaksin polio untuk anak Anda sehinga anak terhindar dari penyakit polio yang sangat berbahaya. Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Heymann D, Aylward B. Polimyelitis. Orphanet Encyclopedia. 2014 .[Internet]. Retrieved from: https://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-Poliomyelitis.pdf (02.02.2018).
    2. Mehndiratta MM, Mehndiratta P, Pande R. Polimyelitis: hystorical facts, epidemiology and current challenge in eradication. The Neurohospitalist. 2014;4(4):223-229.
    3. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/ipv.pdf (02.02.2018).
    Read More
  • Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah kondisi sakit yang diderita yang diduga terjadi setelah menerima imunisasi. KIPI dapat terjadi orang dewasa. KIPI ditetapkan oleh para ahli yang bergerak di bidang vaksin dan pelaporannya harus dilakukan berjenjang. Kemudian, apabila ada suatu kondisi diduga akibat imunisasi, maka harus dilacak dan ditelti dengan benar apakah kejadian sakit tersebut […]

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Pada Orang Dewasa

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah kondisi sakit yang diderita yang diduga terjadi setelah menerima imunisasi. KIPI dapat terjadi orang dewasa. KIPI ditetapkan oleh para ahli yang bergerak di bidang vaksin dan pelaporannya harus dilakukan berjenjang. Kemudian, apabila ada suatu kondisi diduga akibat imunisasi, maka harus dilacak dan ditelti dengan benar apakah kejadian sakit tersebut benar akibat imunisasi atau memang sudah ada risikonya pada penerima imunisasi.

    Penyebab KIPI dapat berasal dari reaksi terkait produk vaksin, reaksi terkait dengan kualitas produk vaksin, reaksi terkait kesalahan imunisasi (vaksin yang tidak tepat penanganannya), reaksi kecemasan yang timbul terkait dengan imunisasi, dan gejala yang timbul kebetulan terjadi setelah diimunisasi.

    KIPI ringan yang dapat terjadi pada orang dewasa secara lokal adalah rasa sakit, bengkak, dan kemerahan pada lokasi penyuntikan yang akan menghilang dengan sendirinya pada 1-3 hari pasca imunisasi. Reaksi KIPI berat yang melibatkan sistemik antara lain demam, pegal, sakit kepala, dan penurunan nafsu makan. Penanganan demam akibat KIPI biasanya adalah pemberian obat anti demam untuk meredakannya.

    KIPI yang jarang terjadi pada orang dewasa, tetapi pernah terjadi dan dapat menimbulkan kegawatan bila tidak ditangani dengan cepat adalah kejang, pembengkakan kelenjar getah bening, reaksi alergi dan anafilaktik. Pada reaksi anafilaktik dapat terjadi dengan sangat cepat dan ditandai dengan pusing, penurunan tekanan darah tiba-tiba dan terkadang pingsan, nadi yang tidak teraba, mata dan bibir yang bengkak harus ditangani di tempat dengan segera karena akan menimbulkan kegawatan. KIPI berat dapat langsung ditangani oleh tenaga medis yang sudah terlatih, sehingga kegawatannya pun dapat diatasi dengan baik.

    Kejadian atau reaksi pasca imunisasi/vaksinasi sebaiknya jangan ditakuti karena manfaat perlindungan yang Anda dapatkan melalui vaksinasi jauh lebih besar. Selain itu, reaksi berat yang terjadi akibat vaksin sangat jarang terjadi. Yang umum dirasakan oaring pasca vaksinasi adalah reaksi lokal ringan, misalnya nyeri ataupun bengkak pada area bekas suntikan. Jangan lupa untuk memberitahu dokter Anda bila ada reaksi terebut terjadi.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. World Health Organization. Causallity Assesment of an Adverse Events Following Immunization (AEFI). 2013.[Internet]. Retrieved from: who.int
    2. UKDH. Vaccine safety and management of adverse events following immunization. [Internet]. Retrieved from: vaccine-safety-training.org
    3. FKUII. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. [Internet]. Retrieved from: fk.uii.ac.id
    Read More
  • Imunisasi adalah upaya perlindungan optimal dari penularan infeksi penyakit.  Pemberian imunisasi bertujuan untuk melindungi anak dari infeksi penyakit tertentu, menurunkan angka kejadian penyakit, dan melindungi anak lain di sekitarnya. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85%-95%, tergantung respons individu. Di lain pihak, muncul kekhawatiran pada orangtua akan efek imunisasi karena seringkali timbul bengkak […]

    5 TIPS REDAKAN BENGKAK DAN NYERI SETELAH IMUNISASI ANAK

    Imunisasi adalah upaya perlindungan optimal dari penularan infeksi penyakit.  Pemberian imunisasi bertujuan untuk melindungi anak dari infeksi penyakit tertentu, menurunkan angka kejadian penyakit, dan melindungi anak lain di sekitarnya. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85%-95%, tergantung respons individu.

    Di lain pihak, muncul kekhawatiran pada orangtua akan efek imunisasi karena seringkali timbul bengkak dan nyeri setelah imunisasi. Padahal akibat dari penyakit yang akan muncul karena tidak diimunisasi jauh lebih membahayakan dibandingkan efek nyeri dan bengkak ringan yang dihasilkan. Selain itu, bengkak dan nyeri yang muncul biasanya hanya sekitar beberapa hari setelah penyuntikan.

    Selang beberapa saat setelah imunisasi akan dijumpai bengkak atau rasa nyeri di lokasi suntikan, amankah hal tersebut? Vaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua vaksin memberikan reaksi yang bersifat ringan dan sementara.  Bengkak dan nyeri pasca imunisasi merupakan hal wajar sebagai bentuk respon alami tubuh yang dialami sebagian besar anak. Umumnya keluhan nyeri dan bengkak tersebut akan hilang dalam beberapa hari.

    Lantas, jika muncul rasa nyeri dan bengkak pasca imunisasi anak apa sebaiknya yang harus Anda lakukan? Berikut beberapa cara untuk meredakan bengkak dan nyeri pasca imunisasi pada anak:

    1. Sebelum imunisasi buat anak relaks dan santai agar ototnya tidak tegang.
    2. Kompres air dingin untuk meredakan nyeri.
    3. Berikan paracetamol sesuai petunjuk dokter untuk mengurangi rasa nyeri.
    4. Hindari memberikan berbagai “ramuan” yang belum terbukti ilmiah karena dikhawatirkan malah memperparah kondisi bekas suntikan.
    5. Hindari terlalu sering menyentuh daerah bekas suntikan.

    Kini, hal yang perlu Anda ketahui adalah vaksinasi bisa dilakukan dengan cara praktis. Anda hanya perlu mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi [Internet]. IDAI. 2013 [cited 7 February 2018]. Available from: idai.or.id
    2. Gunardi H. Persepsi yang Salah Tentang Imunisasi (Bagian 2) [Internet]. IDAI. 2014 [cited 7 February 2018]. Available from: idai.or.id
    Read More

Showing 31–40 of 42 results

WhatsApp Asisten Maya saja