Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ imunisasi”

Showing 31–40 of 46 results

  • Kita tentunya tidak asing lagi dengan kata vaksin. Vaksin adalah produk biologi yang berasal dari bakteri atau virus yang telah dilemahkan atau telah mati lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Vaksin berfungsi sebagai pelindung tubuh dari serangan bakteri dan virus. Di Indonesia, vaksin telah lama dikenalkan oleh pemerintah untuk memberikan perlindungan lebih kepada masyarakat, terutama […]

    Mengenal Lebih Jauh Tentang Jenis – Jenis Vaksin

    Kita tentunya tidak asing lagi dengan kata vaksin. Vaksin adalah produk biologi yang berasal dari bakteri atau virus yang telah dilemahkan atau telah mati lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Vaksin berfungsi sebagai pelindung tubuh dari serangan bakteri dan virus. Di Indonesia, vaksin telah lama dikenalkan oleh pemerintah untuk memberikan perlindungan lebih kepada masyarakat, terutama anak-anak. Terdapat beberapa jenis vaksin yang dikenal di Indonesia, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Vaksin BCG

    Vaksin BCG biasanya diberikan ketika bayi baru lahir hingga berusia 2 bulan dan hanya diberikan satu kali saja. Vaksin BCG ini mempunyai manfaat melindungi tubuh dari serangan tuberkulosis. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung Mycobacterium bovis hidup yang dilemahkan (Bacillus Calmette Guerin), strain Paris. Biasanya pemberian vaksin BCG ini akan menimbulkan bekas luka parut pada bagian yang disuntik.

    Produk Terkait:  Imunisasi BCG ke Rumah

    2. Vaksin oral polio

    Polio adalah penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada penderitanya. Vaksin oral polio diberikan pada anak usia 0, 2, 3, dan 4 bulan secara oral atau diteteskan langsung ke dalam mulut masing-masing sebanyak 2 tetes. Vaksin polio merupakan cairan berwarna kuning kemerahan dalam botol kaca kecil.

    Produk Terkait: Imunisasi Polio ke Rumah

    3. Vaksin campak

    Anak-anak yang rentan terkena campak wajib mendapatkan perlindungan dari vaksin campak. Campak dapat menyebabkan demam yang tinggi hingga kerusakan pada otak. Dengan memberikan vaksin campak pada usia 9 bulan maka Sobat akan melindungi anak dari serangan penyakit campak.

    Baca Juga: Gejala Campak yang Dapat Ibu Kenali dan Cara Mencegahnya

    Vaksin campak berisi virus campak strain CAM 70 yang tidak kurang dari CCID 50 (Cell Culture Infective doses 50) yang telah dilemahkan dan dikemas dalam botol kaca steril dan hanya bisa digunakan dengan campuran larutan campak yang terpisah. Vaksin campak diberikan dengan melarutkan 0.05 ml vaksin dengan pelarutnya dan disuntikkan langsung pada anak.

    4. Vaksin hepatitis B rekombinan

    Hepatitis B merupakan penyakit yang berbahaya yang menyerang hati. Penyakit ini juga bisa menyerang orang dewasa sehingga bagi orang dewasa yang terkena hepatitis B harus diberikan vaksin hepatitis B.

    Baca Juga: Fungsi dan Manfaat Vaksin Hepatitis B

    Vaksin hepatitis B rekombinan mengandung antigen virus hepatitis B, HBs Ag yang telah melewati beberapa  rekayasa DNA. Pemberian vaksin hepatitis B yang dilakukan pada anak-anak di bawah 10 tahun diberikan dengan dosis 0.5 ml, sedangkan yang berusia lebih dari 10 tahun diberikan sebanyak 1 ml. Pemberian vaksin dilakukan pada saat lahir, usia 2,3,4 bulan.

    5. Vaksin DTP

    Vaksin DTP biasanya diberikan sebanyak 3 kali pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan dengan dosis 0.5 ml. Vaksin DTP terdiri dari Toksoid difteri murni, Toksoid tetanus murni, dan B. pertusis yang dilemahkan. Vaksin DTP berfungsi untuk melindungi anak dari pertusis atau batuk rejan, tetanus, dan difteri.

    6. Vaksin jerap DT

    Vaksin jerap DT berfungsi untuk melindungi anak-anak dari serangan difteri dan tetanus secara simultan. Vaksin jerap DT memiliki kandungan Toksoid difteri murni 20 Lf pada tiap 0.5 ml. Vaksin ini diberikan pada anak Sekolah Dasar usia 5 hingga kurang 7 tahun, terutama pada anak yang mengalami alergi terhadap komponen pertusis pada vaksin DTP.

    7. Vaksin DTP-HB

    Vaksin ini berfungsi untuk perlindungan dan pencegahan terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B. Vaksin DTP-HB diberikan sebanyak 3 kali pada anak usia 2, 3, dan 4 bulan. Namun, pemberian ini dilakukan setelah anak mendapatkan vaksin hepatitis B ketika lahir.

    8. Vaksin TT

    Vaksin TT adalah vaksin yang berisikan kandungan toksoid tetanus murni 10 Lf dalam 0.5 ml. Vaksin TT berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit tetanus dan neonatal tetanus yang menyerang bayi baru lahir, maka dari itu vaksin ini diberikan pada wanita dalam usia subur atau sedang hamil. Vaksin TT diberikan  pada ibu hamil sebanyak 5 kali, dimana tiap dosis terdiri dari 0.5 ml vaksin dengan jeda 4-6 minggu pada pemberian pertama dan kedua, sedangkan pemberian ketiga diberikan pada 6 bulan berikutnya, TT 4 diberikan setahun setelah TT 3 dan begitu juga TT 5 diberikan setahun setelah TT4.

     9. Vaksin MMR

    Vaksin MMR adalah vaksin yang berisikan virus gondong, campak, dan rubella yang telah dilemahkan. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 kali pada saat anak berusia 15-18 bulan dan 6 tahun. Rubella adalah penyakit yang membuat anak mengalami demam tinggi, ruam pada wajah dan leher, hingga munculnya pembengkakan pada kelenjar.

    Baca Juga: Seberapa Pentingkah Vaksin MMR Dilakukan?

    10. Vaksin HPV

    Vaksin HPV diberikan sebanyak tiga kali dan dapat dimulai pada usia 11 atau 12 tahun setelah anak mengalami menstruasi pertama. Vaksin HPV kedua diberikan dengan rentang waktu 1 hingga 2 bulan setelah pemberian vaksin pertama dan pemberian ketiga diberikan 6 bulan setelah vaksin pertama. Vaksin ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan virus HPV atau Human Papiloma Virus yang menyebabkan kanker serviks.

    Produk Terkait: Vaksinasi HPV ke Rumah

    11. Vaksin HiB

    Vaksin HiB berisi Haemophilus Influenza Tipe B yang telah dilemahkan dan berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit radang selaput otak atau meningitis. Vaksin ini diberikan pada anak mulai usia 2,3, dan 4 bulan dan penguatan diberikan pada usia 15-18 bulan.

    Baca Juga: Vaksinasi Hib Haemophilus Influenza Tipe B

    12. Vaksin PCV

    Vaksin PCV adalah vaksin yang berfungsi untuk melindungi anak dari serangan pneumokokus. Vaksin PCV diberikan pada anak di bawah 1 tahun pada usia 2,4,6 bulan dan penguatan pada usia 12-15 bulan. Tapi jika anak belum mendapatkan vaksin ini diatas usia 2 tahun, maka dapat diberikan 1 kali.

    13. Vaksin rotavirus

    Vaksin rotavirus diberikan pada anak berusia 6-14 pada penyuntikan pertama dan suntikan kedua 4 minggu setelahnya. Pemberian vaksin rotavirus berguna untuk mencegah anak terkena diare parah akibat rotavirus yang biasanya terjadi pada musim pancaroba.

     14. Vaksin varicella

    Vaksin varicella adalah vaksin yang berisikan virus varicella zooster yang telah dilemahkan. Vaksin ini diberikan pada anak berusia 1 tahun ke atas dan berfungsi untuk melindungi anak dari cacar air.

    Produk Terkait: Vaksinasi Varicella ke Rumah

    Itulah beberapa jenis vaksin yang perlu Anda ketahui. Pemerintah telah mewajibkan pemberian beberapa vaksin penting di atas pada masyarakat secara gratis sehingga anak-anak bisa mendapatkan perlindungan penuh dari penyakit yang berbahaya.

    Demikianlah artikel tentang vaksin yang singkat ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda dan semoga pemerintah semakin mendukung untuk pemberian vaksin lainnya secara gratis agar seluruh masyarakat Indonesia terlindungi. Selain itu semua jenis vaksin diatas juga tersedia di ProSehat loh. Jadi buat kamu yang ingin imunisasi ke rumah, maka Prosehat bisa jadi pilihan tepatmu. Untuk info lebih lanjut silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imunisasi, yang rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? […]

    5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi yang Sering Diajukan

    Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imunisasi, yang rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? Imunisasi adalah sebuah program yang dilakukan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada satu orang dan orang lainnya yang setelah orang tersebut menerima vaksin pastinya akan lebih resisten alias lebih kebal terhadap penyakit tertentu.

    vaksinasi polio, efek samping vaksinasi polio, vaksin bayi

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi?

    Memangnya di mana sih kita bisa mendapatkan imunisasi? Jawabannya tentu saja di pelayanan kesehatan terdekat, seperti di puskesmas, posyandu, atau bahkan di sekolah anak kita. Lalu bagaimana cara vaksin diberikan pada kita? Ternyata vaksin tidak hanya diberikan dengan metode suntik saja lho! Wah, yang benar nih? Yup, vaksin bisa diberikan dengan berbagai metode seperti dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan melalui penyuntikan.Beberapa jenis vaksin ada yang perlu diberikan secara berkala alias tidak cukup hanya diberikan sekali seumur hidup dan vaksin lainnya ada yang cukup hanya diberikan sekali.

    Apakah anak bisa sehat tanpa mendapatkan vaksin? Pertanyaan yang satu ini sering kali muncul di benak kita mengingat banyaknya angka bayi di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin. Pemberian vaksin bukan saja hanya digalakkan di Indonesia saja, tetapi juga menjadi program wajib di beberapa negara maju. Program vaksin yang digalakkan di berbagai negara terbukti sukses meminimalisir timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak, contohnya saja dalam beberapa tahun terakhir kita hampir tidak pernah mendengar kasus tentang polio liar di Indonesia. Polio merupakan suatu penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

    Baca Juga: Mengenal Penyakit Polio dan Vaksin untuk Mencegahnya

    Apakah hanya vaksin polio saja yang bisa diberikan pada anak? Kapankah sebaiknya vaksin mulai diberikan? Berbagai pertanyaan sering kali diajukan mengenai vaksin anak terlebih kapankah saat yang tepat dan jenis vaksin apa sajakah yang bisa diberikan untuk anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, vaksin bisa diberikan pada anak sejak anak berusia beberapa bulan alias sejak bayi. Namun, apakah vaksin hanya cukup perlu dilakukan sekali saja? Pada usia berapakah anak sudah bisa diberikan vaksin? Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar vaksin bayi yang sering ditanyakan dan harus kita ketahui jawabannya sehingga kita tidak ragu lagi untuk melakukan vaksin bayi:

    1. Kapankah saat yang tepat untuk melakukan vaksin bayi?

    Vaksin bayi sudah dapat diberikan sejak anak lahirm lebih tepatnya dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksin hepatitis B (HB) yang sebelumnya juga akan dilakukan suntikan vitamin K1. Vaksin hepatitis juga perlu dilakukan secara rutin yaitu mulai dari bayi lahir, usia 2, 3, 4 bulan. Selain vaksin hepatitis, sebelum bayi dibawa pulang ke rumah kita juga perlu memberikan vaksin polio dari lahir, 2, 3, 4 bulan. Kita bisa memberikan jenis vaksin lainnya apabila anak sudah berada pada usia tertentu.

    1. Apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan untuk bayi?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya, pemberian vaksin sangatlah penting untuk diberikan pada bayi bahkan beberapa jenis vaksin sebaiknya diberikan sebelum bayi dibawa pulang. Terdapat empat jenis vaksin yang seharusnya diberikan sebelum bayi menginjak usia satu tahun, yaitu vaksin polio, DPT, campak, BCG, serta hepatitis B. Vaksin hepatitis B hanya diberikan satu kali sebelum bayi menginjak usia dua bulan dan setelahnya kita perlu melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin BCG dilanjutkan. Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib diberikan berikutnya di mana vaksin ini merupakan vaksin gabungan untuk meminimalisir datangnya penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus. Vaksin DPT ini perlu diberikan sebanyak lima kali ketika anak menginjak usia dua bulan hingga lima tahun.

    1. Apakah efek samping yang biasanya timbul setelah bayi mendapatkan vaksin?

    Faktanya, kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena efek samping yang timbul ketika vaksin diberikan hanyalah sementara dan tidak akan mengancam keselamatan jiwa anak. Beberapa efek samping yang biasanya timbul adalah timbulnya ruam merah serta daerah yang cukup bengkak dan nyeri pada daerah suntikan dan hal ini hanyalah berlangsung beberapa jam atau hingga dua hari. Penanganan efek pasca suntikan bukanlah suatu perkara yang sulit karena yang perlu kita lakukan hanyalah mengompres dingin daerah suntikan dan lama-lama bengkak akan hilang dengan sendirinya dan bayi pun tidak akan merasa nyeri lagi. Bayi juga biasanya akan mengalami demam ringan serta tidak selera makan seperti biasanya dan kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.

    Baca Juga: Apa Beda Vaksin yang Bikin Anak Demam dan Tidak?

    1. Apa jadinya jika kita terlambat memberikan vaksin pada bayi?

    Pertanyaan ini sering kali diajukan terlebih bagi orang tua yang sudah rutin memberikan vaksin pada anaknya. Kabar baiknya, tidak akan ada efek samping ketika kita terlambat memberikan vaksin lanjutan apabila kita sudah memberikan vaksin wajib terlebih dahulu. Kita juga bisa menunda pemberian vaksin pada anak ketika mereka dalam kondisi yang sedang tidak fit, seperti anak sedang flu, batuk, demam, ataupun diare. Meskipun penyakit ini terlihat sepele, sebaiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu terhadap dokter agar tidak timbul efek samping yang dapat membahayakan anak kita

    1. Kenapa sih bayi perlu mendapatkan vaksin?

    Pertanyaan yang satu ini merupakan pertanyaan yang paling mendasar sebelum kita melakukan vaksin pada anak. Tentu saja jawabannya sangat jelas, yaitu untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya pada anak kita sejak dini dan mencegah anak tertular penyakit infeksi dari orang lain. Kita juga tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam ringan setelah diberikan vaksin karena hal ini adalah reaksi alami terhadap imun yang dimasukkan melalui vaksin dan pastinya membuat daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat. Ketika anak tidak mendapatkan imunisasi justru hal ini akan membahayakan kesehatan anak bahkan dapat menyebabkan kecatatan pada anak karena penyakit tertentu bahkan berujung pada kematian.

    Produk Terkait: Imunisasi Bayi dan Anak

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah jelas kan mengenai pentingnya melakukan vaksin pada bayi? Setelah kita paham tentang hal yang satu ini pastinya tidak ada alasan lagi kan untuk menunda memberikan vaksin pada bayi kita. So, tunggu apalagi? Yuk, berikan vaksin pada bayi di fasilitas kesehatan terdekat!

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai vaksin bayi dan produk yang terkait, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Baru-baru ini ramai dibincangkan mengenai vaksin Rubela, terkait kandungannya yang halal atau haram untuk digunakan pada anak. Pada artikel ini kita akan membahas secara lengkap mengenai Rubela dan penanganan serta diagnosisnya. Rubela masuk kedalam penyakit sangat langka tapi bukan berarti Rubela tidak bisa terjadi di Indonesia, bahkan sudah ada yang terkena penyakit ini. Apa itu […]

    Apa itu Rubella? Berikut Pembahasan Lengkapnya

    Baru-baru ini ramai dibincangkan mengenai vaksin Rubela, terkait kandungannya yang halal atau haram untuk digunakan pada anak. Pada artikel ini kita akan membahas secara lengkap mengenai Rubela dan penanganan serta diagnosisnya. Rubela masuk kedalam penyakit sangat langka tapi bukan berarti Rubela tidak bisa terjadi di Indonesia, bahkan sudah ada yang terkena penyakit ini.

    Apa itu Rubela?

    Rubela adalah penyakit yang biasa disebut campak Jerman yang disebabkan oleh virus yang menyerang anak-anak dan remaja. Menurut data WHO di tahun 2016, anak-anak yang terserang sudah 800 penderita dan terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Masalah dan kasus ini terjadi di Indonesia.

    Penyakit ini jarang terjadi di banyak negara, tetapi jika sudah terjangkit maka kemungkinan virus menyerang sangat tinggi karena virus Rubela dapat menyebar dengan sangat mudah. Penularan terjadi melalui cairan yang dikeluarkan penderita berupa batuk atau bersin.

    Rubela dan Kehamilan

    Bagaimana dengan Rubela dan kehamilan?Ibu hamil yang terserang Rubela akan menularkan pada bayi yang dikandungnya. Rubela pada wanita yang sedang hamil  sebelum tiga bulan dapat menyebabkan sindrom Rubela kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan.

    Sindrom ini menyebabkan bayi cacat lahir mulai dari tuli, katarak, penyakit jantung bawaan hingga kerusakan otak yang menyebabkan keterlambatan perkembangan.

    Gejala-gejala Rubela

    Penyakit seperti ini membutuhkan waktu sekitar 14-21 hari dari terinfeksi hingga timbulnya gejala. Pada anak, gejala ini diantaranya adalah :

    • Demam disertai sakit kepala
    • Hidung tersumbat dan juga pilek
    • Batuk
    • Tidak nafsu makan
    • Mata merah disertai pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan juga leher
    • Ruam berbentuk bintik kemerahan yang diawal muncul di wajah dan tangan setelah itu ruam akan menyebar selama 1 – 3 hari.

    Jika sudah terinfeksi, virus ganas akan menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 5 hari hingga 1 minggu, dimana potensi tertinggi penderita untuk menularkan Rubela mulai dari ruam muncul. Jika gejala sudah muncul maka Sobat harus segera mengisolasi penderita dan pergi ke dokter, mengingat virus ini bisa saja menular pada siapapun dan membuatnya jadi wabah.

    Langkah Pencegahan Rubella

    Pencegahan Rubela yang paling efektif dan bisa digunakan yaitu dengan vaksinasi, sehingga banyak orang terselamatkan dan juga jauh dari wabah menakutkan ini. Pencegahan Rubela yang bisa dilakukan untuk wanita hamil adalah pemberian vaksin pada wanita sebelum merencanakan kehamilan, bukan saat dia hamil.

    Pemerintah  menggunakan vaksin MR dan menggantikan vaksin MMR sebagai pencegahan terhadap Rubela. Vaksin MR ini merupakan perlindungan yang dibuat untuk menghidnari campak (measles) dan Rubela sekaligus, sedangkan untuk MMR merupakan vaksin yang mencegah Rubela dan tergabung untuk menghindari campak dan gondongan (mumps).

    Vaksin MR direkomendasikan dalam usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun dan diberikan melalui suntikan di bagian lengan atas. Vaksin MR diberikan sebagai penguat saat anak berusia 5 tahun. Apakah orang dewasa bisa mendapatkan vaksin ? tentu saja jawabannya bisa dimana orang dewasa mendapat satu kali suntikan MMR dan vaksin MR diusia berapapun.

    Ada juga beberapa cara untuk menghindari Rubela setelah melalui vaksin untuk mencegah penularan dan penyebaran Rubela juga penting. Cara-caranya meliputi:

    1. Jika bisa Sobat hindari kontak dengan penderita sebisa mungkin terutama untuk ibu hamil. Apalagi Sobat yang merupakan anggota keluarga yang terkena rubela, memiliki risiko tinggi terkena Rubela.
    2. Isolasi atau pindahkan penderita ke ruangan yang terpisah atau khusus, menunggu pasien untuk dilarikan ke rumah sakit. Hal ini untuk mengurangi penyebaran wabah yang dialami karena akan sulit dialami jika yang terkena Rubela akan lebih dari satu orang.
    3. Menjaga kebersihan juga bisa jadi cara mudah yang bisa mengusir virus rubela. Selain itu Sobat bisa bepergian, makan dan melakukan kontak dengan penderita dari radius beberapa meter. Usahakan tidak terjadi kontak fisik

    Itulah penjelasan lengkap mengenai penyakit rubela. Virus tidak pernah diketahui kapan dan dimana menyerangnya. Rubela juga bukan virus kecil yang bisa dihilangkan secara ringan melainkan virus yang berbahaya dan ganas. Jangan lupa untuk segara melakukan vaksinasi MR sebagai pencegahan utama dari Rubela.

    Untuk kamu yang berencana melakukan vaksinasi Rubela, bisa pilih prosehat yang bisa melayani vaksinasi / imunisasi ke rumah. Tidak perlu repot – repot antri karena dokter langsung datang ke rumah kamu. Ingat sehat, ingat prosehat.

     

    Read More
  • Sobat pasti sudah tidak asing kan dengan flu atau influenza ? penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini menyerang saluran pernafasan manusia. Biasanya, influenza menyerang tiba-tiba kemudian menular ke banyak orang disekitarnya. Flu rata-rata terjadi tidak terlalu lama sekitar 7-10 hari dan biasanya hilang setelah istirahat serta mengonsumsi obat. Namun, bila terlalu lama diderita, flu […]

    7 Cara Menangani Flu dengan Cepat dan Mudah

    Sobat pasti sudah tidak asing kan dengan flu atau influenza ? penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini menyerang saluran pernafasan manusia. Biasanya, influenza menyerang tiba-tiba kemudian menular ke banyak orang disekitarnya. Flu rata-rata terjadi tidak terlalu lama sekitar 7-10 hari dan biasanya hilang setelah istirahat serta mengonsumsi obat. Namun, bila terlalu lama diderita, flu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan dapat mengurangi produktivitas kerja.

    Mungkin banyak yang menyepelekan, tetapi menurut penelitian setiap tahunnya ada sekitar 15% kasus flu menyerang  250.000 – 500.000 orang di sebuah negara secara rutin. Selain itu, jenis baru dari influenza A (H1N1) bahkan dapat menyerang dan menyebabkan wabah pada Juni 2009.  Flu seringkali timbul pada musim dingin atau ketika suhu menurun.

    Sebagian orang dapat terserang flu bahkan lebih dari 4 kali dalam setahun, hal tersebut terjadi karena virus menyerang tiba-tiba atau karena tertular kembali dari orang lain. Yuk, mari kita bahas tentang 7 cara menangani flu dengan cepat dan mudah selengkapnya.

    1. Perbanyak cairan

    Flu biasanya memberikan rasa tidak nyaman seperti hidung mampet di malam hari sedangkan hidung akan meler mengeluarkan cairan di siang hari. Hal seperti ini akan membuat tubuh kekurangan cairan akibat pilek yang dialami, khususnya anak-anak. Pemberian air putih ataupun jeruk hangat yang ditambahkan madu dapat mengurangi gejala tidak enak yang dialami saat flu.

    Baca Juga: 10 Ciri – Ciri Terkena Hepatitis B

    Saat kita flu, hindari dulu soda, kopi dan berbagai jenis minuman yang dingin karena akan menambah virus flu dalam tubuh. Bila flu bertambah parah disertai dengan demam, badan akan  terasa lelah dan metabolisme tubuh turun. Hal ini menyebabkan tubuh kekurangan cairan sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. Perbanyak konsumsi air putih agar tubuh anda cepat pulih dari flu.

    1. Makan sup ayam hangat

    Siapa sangka sup ayam hangat dapat meredakan gejala flu ringan? Penelitian menyebutkan bahwa sup ayam hangat mengandung bahan-bahan bermanfaat seperti sistein, asam amino dan vitamin yang dapat meredakan gejala flu. Nafsu makan Sobat hilang karena flu? Segera konsumsi makanan ini sebagai penambah energi agar cepat sembuh.

    1. Berikan probiotik

    Jika yang menderita flu ringan adalah anak-anak, lebih mudah memberikan probiotik untuk mengusir flu dibandingkan obat. Berikan yoghurt atau susu yang mengandung probiotik agar daya tahan tubuh anak meningkat dan gejala flu reda. Bakteri baik pada probiotik akan membantu mengusir dan melawan virus di dalam tubuh. Minuman seperti ini cukup mudah didapatkan, Sobat tinggal pergi ke pasar swalayan atau toko kelontong untuk mendapatkannya. Jangan lupa, ya,  untuk memberikan asupan nutrisi yang bergizi sehingga mereka cepat pulih kembali.

    Produk Terkait: Nature’s Plus Acidophilus 90’s-Probiotik

    1. Istirahat Maksimal

    Orang dewasa atau anak-anak yang terserang flu membutuhkan istirahat yang cukup. Tidur akan membuat sistem kekebalan mengatur ulang kembali tubuh yang tadinya kurang sehat menjadi sehat kembali. Jangan ragu untuk meliburkan anak jika memang flu yang dilanda sudah cukup berat. Maksimalkan istirahat anak untuk mengembalikan tenaga mereka.

    1. Uap Air

    Sekarang ini, banyak ibu muda yang membawa anak atau bayinya yang sedang flu ke rumah sakit untuk di uap. Cara tersebut baik dilakukan ketika anak/bayi mengalami kesulitan bernafas. Namun, jika Sobat sedang tidak berada di perkotaan yang dekat dengan rumah sakit, Sobat bisa melakukannya sendiri di rumah untuk mengatasi flu yang menyerang.

    Baca Juga: 8 Home Remedy Untuk Obat Batuk Anak

    Sobat dapat menuangkan air panas di mangkok ataupun wadah, lalu dudukan anak tersebut di depan baskom dan kerudungi dengan handuk basah. Jaga anak agar tidak menyentuh air panas dan diamkan wajahnya didekat uap air tersebut. Sobat juga dapat menambahkan minyak kayu putih di air panas tersebut agar bisa terhirup oleh hidung dan melegakan pernafasan anak-anak.

    1. Mandi Air Hangat

    Banyak orang tua menghindari memandikan anak ketika pilek atau flu karena khawatir penyakitnya semakin parah. Padahal, tidak ada salahnya memandikan anak saat mereka flu. Jika Sobat tidak memandikannya sama sekali, tubuh anak akan terasa tidak nyaman dan juga lengket.

    Sobat bisa menggunakan handuk yang dicelupkan ke air hangat kemudian membasuhnya pada anak, sehingga mereka tidak akan merasa lengket dan nyaman setelahnya. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan merendam anak di air hangat dan membasuh dalam waktu singkat. Badan bersih dan diharapkan anak dapat pulih dengan cepat.

    1. Vaksin Flu

    Hal terakhir yang paling ampuh untuk mencegah flu adalah vaksin. Vaksin flu aman diberikan kepada dewasa dan anak. Vaksin ini dapat mencegah sobat terkena flu selama satu tahun ke depan.

    Banyak yang masih menyepelekan vaksin flu karena merasa penyakit ini dapat  disembuhkan tanpa menggunakan vaksin. Pada dasarnya Sobat tidak pernah tahu, kan jenis flu apa yang dapat menyerang, sehingga vaksin menjadi pilihan utama agar terhindar dari flu yang mengganggu kesehatan.

    Nah, Sobat, sudah tahu kan, apa saja yang dapat dilakukan bila flu menyerang. Jangan menunggu flu menyerang terlalu lama, ya. Segera lakukan hal di atas agar  Sobat dapat pulih kembali secepatnya. Semoga lekas sembuh, ya. Ingat sehat, ingat Prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih […]

    5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi Yang Perlu Kamu Ketahui

    Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? Imunisasi adalah sebuah program yang dilakukan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada satu orang dan orang lainnya yang setelah orang tersebut menerima vaksin pastinya akan lebih resisten alias lebih kebal terhadap penyakit tertentu.

    Memangnya di mana sih kita bisa mendapatkan imunisasi? Jawabannya tentu saja di pelayanan kesehatan terdekat, seperti di Puskesmas, Posyandu, atau bahkan di sekolah anak kita. Lalu bagaimana cara vaksin diberikan pada kita? Ternyata vaksin tidak hanya diberikan dengan metode suntik saja lho! Wah, yang benar nih? Yup, vaksin bisa diberikan dengan berbagai metode seperti dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan melalui penyuntikan.Beberapa jenis vaksin ada yang perlu diberikan secara berkala alias tidak cukup hanya diberikan sekali seumur hidup dan vaksin lainnya ada yang cukup hanya diberikan sekali.

    Apakah anak bisa sehat tanpa mendapatkan vaksin? Pertanyaan yang satu ini sering kali muncul di benak kita mengingat banyaknya angka bayi di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin. Pemberian vaksin bukan saja hanya digalakkan di Indonesia saja, tetapi juga menjadi program wajib di beberapa negara maju. Program vaksin yang digalakkan di berbagai negara terbukti sukses meminimalisir timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak, contohnya saja dalam beberapa tahun terakhir kita hampir tidak pernah mendengar kasus tentang polio liar di Indonesia. Polio merupakan suatu penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

    Apakah hanya vaksin polio saja yang bisa diberikan pada anak? Kapankah sebaiknya vaksin mulai diberikan? Berbagai pertanyaan sering kali diajukan mengenai vaksin anak terlebih kapankah saat yang tepat dan jenis vaksin apa sajakah yang bisa diberikan untuk anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, vaksin bisa diberikan pada anak sejak anak berusia beberapa bulan alias sejak bayi. Namun, apakah vaksin hanya cukup perlu dilakukan sekali saja? Pada usia berapakah anak sudah bisa diberikan vaksin?

    Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar vaksin bayi yang sering ditanyakan dan harus kita ketahui jawabannya sehingga kita tidak ragu lagi untuk melakukan vaksin bayi:

    1. Kapankah saat yang tepat untuk melakukan vaksin bayi?

    Vaksin bayi sudah dapat diberikan sejak anak lahirm lebih tepatnya dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksin hepatitis B (HB) di mana sebelumnya juga akan dilakukan suntikan vitamin K1. Vaksin hepatitis juga perlu dilakukan secara rutin yaitu mulai dari bayi lahir, usia 2, 3, 4 bulan. Selain vaksin hepatitis, sebelum bayi dibawa pulang ke rumah kita juga perlu memberikan vaksin polio dari lahir, 2, 3, 4 bulan. Kita bisa memberikan jenis vaksin lainnya apabila anak sudah berada pada usia tertentu.

    2. Apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan untuk bayi?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya, pemberian vaksin sangatlah penting untuk diberikan pada bayi bahkan beberapa jenis vaksin sebaiknya diberikan sebelum bayi dibawa pulang. Terdapat empat jenis vaksin yang seharusnya diberikan sebelum bayi menginjak usia satu tahun, yaitu vaksin polio, DPT, campak, BCG, serta hepatitis B. Vaksin hepatitis B hanya diberikan satu kali sebelum bayi menginjak usia dua bulan dan setelahnya kita perlu melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin BCG dilanjutkan. Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib diberikan berikutnya di mana vaksin ini merupakan vaksin gabungan untuk meminimalisir datangnya penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus. Vaksin DPT ini perlu diberikan sebanyak lima kali ketika anak menginjak usia dua bulan hingga lima tahun.

    3. Apakah efek samping yang biasanya timbul setelah bayi mendapatkan vaksin?

    Faktanya, kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena efek samping yang timbul ketika vaksin diberikan hanyalah sementara dan tidak akan mengancam keselamatan jiwa anak. Beberapa efek samping yang biasanya timbul adalah timbulnya ruam merah serta daerah yang cukup bengkak dan nyeri pada daerah suntikan dan hal ini hanyalah berlangsung beberapa jam atau hingga dua hari. Penanganan efek paska suntikan bukanlah suatu perkara yang sulit karena yang perlu kita lakukan hanyalah mengompres dingin daerah suntikan dan lama-lama bengkak akan hilang dengan sendirinya dan bayi pun tidak akan merasa nyeri lagi. Bayi juga biasanya akan mengalami demam ringan serta tidak selera makan seperti biasanya dan kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.

    4. Apa jadinya jika kita terlambat memberikan vaksin pada bayi?

    Pertanyaan ini sering kali diajukan terlebih bagi orang tua yang sudah rutin memberikan vaksin pada anaknya. Kabar baiknya, tidak akan ada efek samping ketika kita terlambat memberikan vaksin lanjutan apabila kita sudah memberikan vaksin wajib terlebih dahulu. Kita juga bisa menunda pemberian vaksin pada anak ketika mereka dalam kondisi yang sedang tidak fit, seperti anak sedang flu, batuk, demam, ataupun diare. Meskipun penyakit ini terlihat sepele, sebaiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu terhadap dokter agar tidak timbul efek samping yang dapat membahayakan anak kita

    5. Kenapa sih bayi perlu mendapatkan vaksin?

    Pertanyaan yang satu ini merupakan pertanyaan yang paling mendasar sebelum kita melakukan vaksin pada anak. Tentu saja jawabannya sangat jelas, yaitu untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya pada anak kita sejak dini dan mencegah anak tertular penyakit infeksi dari orang lain. Kita juga tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam ringan setelah diberikan vaksin karena hal ini adalah reaksi alami terhadap imun yang dimasukkan melalui vaksin dan pastinya membuat daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat. Ketika anak tidak mendapatkan imunisasi justru hal ini akan membahayakan kesehatan anak bahkan dapat menyebabkan kecatatan pada anak karena penyakit tertentu bahkan berujung pada kematian.

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah jelas kan mengenai pentingnya melakukan vaksin pada bayi? Setelah kita paham tentang hal yang satu ini pastinya tidak ada alasan lagi kan untuk menunda memberikan vaksin pada bayi kita. So, tunggu apalagi? Yuk, berikan vaksin pada bayi di fasilitas kesehatan terdekat!

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia […]

    Imunisasi Polio Tetes VS Suntik, Yuk Disimak Penjelasannya

    Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia bayi 18 bulan. Vaksin yang diberikan dapat berupa Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV).

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus polio yang sudah tidak aktif dan diberikan dalam bentuk suntikan di bahu atau paha dalam. Pada vaksin ini terdapat sedikit komponen neomisin, streptomisin dan polimiksin B, sehingga bagi mereka yang memiliki alergi terhadap antibiotik tersebut tidak disarankan mendapatkan vaksin IPV karena ditakutkan akan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ringan yang dapat terjadi setelah penyuntikan adalah kemerahan, bengkak di tempat suntikan yang akan hilang dalam 2-3 hari. Reaksi berat biasanya jarang terjadi, yaitu berupa reaksi alergi yang dapat menyebabkan syok anafilaksis.

    Efektivitas perlindungan vaksin polio IPV sampai dengan 99%-100% bila diberikan dalam 3 dosis.3 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlindungan lapisan usus terhadap virus polio sedikit lebih rendah daripada perlindungan yang didapat dari vaksin polio OPV, namun, perlindungan lapisan kerongkongan terhadap virus polio sama saja dengan vaksinasi polio OPV.

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus Polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini diberikan secara oral berupa tetesan ke dalam mulut bayi. Pemberian vaksin polio tetes masih mungkin sekalipun sangat jarang sekali, menimbulkan reaksi berat berupa Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP) dan Vaccine-derived Polioviruses (VDPVs), yang dapat menyebabkan wabah polio.

    Baca Juga:

    Orang tua pasti memilih jenis vaksin yang paling aman untuk diberikan kepada anaknya. Vaksin polio tetes masih diberikan di banyak negara di berbagai belahan dunia karena praktis dan kemudahan pemberian vaksin. Rekomendasi dari IDAI 2017 bagi anak Indonesia adalah memberikan vaksin polio tetes sebanyak 3 dosis dan pada dosis ketiga, diberikan vaksin polio suntik (IPV) bersamaan dengan vaksin polio tetes (OPV). Dosis penguat vaksinasi polio dapat diberikan berupa vaksin polio tetes (OPV) atau vaksin polio suntik (IPV).

    Baca Juga: 5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi

    Kini orangtua tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: cdc.gov
    2. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    3. Polio Vaccine Effectiveness and Duration of Protection | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: cdc.gov
    4. WHO | Inactivated polio vaccine (IPV) [Internet]. Who.int. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: who.int
    5. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id
    Read More
  • Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk […]

    POSISI ANAK SAAT IMUNISASI

    Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk menahan anak. Lalu, bagaimanakah posisi yang tepat bagi anak saat dilakukannya imunisasi?

    Rasa sakit pada saat dilakukannya imunisasi memberikan dampak fisik dan psikologis pada anak. Oleh karena itu, beberapa metode memposisikan anak saat penyuntikan imunisasi seringkali dilakukan. Namun, belum ada posisi yang pas yang ditemukan untuk bayi atau anak yang akan diimunisasi. Pada bayi usia 2 bulan posisi bayi telentang mengurangi rasa nyeri bila dibandingkan dengan posisi bayi ditegakkan. Posisi ini ditambah sambil menyusui diharapkan dapat menjadi salah satu kombinasi yang dapat dilakukan oleh orang tua saat anak mereka diimunisasi.

    Posisi lain  yang dapat dilakukan orang tua adalah posisi memeluk anak dari samping. Posisikan bayi dalam kondisi duduk menyamping di paha Anda, satu tangan menahan kaki anak dan tangan yang lainnya menahan kedua lengan anak. Keuntungan dari posisi ini adalah bagian lengan dan kaki dapat ditahan bila anak bergerak, anak juga akan merasa nyaman karena kontak langsung dengan orang tuanya. Selain posisi ini, posisi memeluk dari depan dengan cara mendudukkan anak di atas paha Anda sambil memeluknya dari depan juga dapat dilakukan.

    Pada bayi yang baru lahir, posisi bayi dengan kaki dilipat dapat dilakukan saat imunisasi. Penelitian mengemukakan bahwa bayi yang baru lahir dengan posisi kaki dilipat pada saat imunisasi bila dibandingkan dengan bayi baru lahir dengan posisi terlentang akan lebih tenang dan mengurangi nyeri saat dilakukan imunisasi. Jadi, pastikan posisi anak Anda nyaman sehingga vaksinasi dapat dengan aman diberikan.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Yin HC, Cheng SW, Yang CY, Chiu YW, Weng YH. Comparative survey of holding position for reducing vaccination pain in young infant. Pain Research and Management. 2017.
    2. World Health Organization. Immunization in practices. [Internet]. Retrieved from: http://www.who.int/immunization/documents/IIP2014Mod5_5june.pdf (04.02.2018).
    3. Kucukoglu S, Kurt S, Aytekin A. The effect of facilitated tucking position in reducing vaccination-induced pain in newborns. Italian Journal of Pediatric. 2015;41:51.
    Read More
  • Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mencegah anak agar tidak tertular oleh penyakit tertentu. Orang tua juga harus mempersiapkan anak agar sebelum dilakukan imunisasi. Persiapan imunisasi berupa persiapan fisik dan mental anak. Anak sebaiknya dalam keadaan tidak sakit, sehingga tujuan imunisasi dapat tercapai secara maksimal. Pada anak yang sedang sakit dan lemah atau yang sedang […]

    PERSIAPAN IMUNISASI ANAK DAN KONDISI YANG MEMBUAT ANAK TIDAK DAPAT DIIMUNISASI

    Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mencegah anak agar tidak tertular oleh penyakit tertentu. Orang tua juga harus mempersiapkan anak agar sebelum dilakukan imunisasi. Persiapan imunisasi berupa persiapan fisik dan mental anak. Anak sebaiknya dalam keadaan tidak sakit, sehingga tujuan imunisasi dapat tercapai secara maksimal.

    Pada anak yang sedang sakit dan lemah atau yang sedang demam lebih dari 380C pemberian vaksinasi sebaiknya ditunda terlebih dahulu dan diberikan di kemudian hari. Anak dengan batuk, pilek, atau diare boleh diberikan vaksin asalkan tidak demam. Namun, anak yang sedang mengalami mual muntah, sebaiknya ditunda pemberian vaksin dalam bentuk tetes (polio).

    Vaksin sebaiknya tidak diberikan kepada anak dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (leukimia, HIV) atau sedang dalam pengobatan sediaan kortikosteroid atau obat penekan kekebalan tubuh lainnya dan memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin (misalkan alergi berat terhadap telur untuk penerima vaksin influenza atau riwayat alergi berat pada dosis vaksin sebelumnya).

    Tidak ada persiapan khusus bagi anak yang akan divaksinasi. Anak tidak perlu puasa, tidak perlu melakukan hal khusus sebelumnya. Ibu hanya perlu menyiapkan kondisi anak agar lebih tenang saat divaksinasi. Jangan lupa untuk menceritakan semua riwayat penyakit dan alergi yang pernah diderita oleh anak Anda dan membawa kartu imunisasi sebagai tanda anak Anda telah divaksinasi.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    2. Hadinegoro SR, Soedjatmiko. Rekomendasi satgas imunisasi. Sari Pediatri. 2006; 8(1):84-92.
    3. Canadian Pediatric Society. A guide to contraindications to childhood vaccination. Canadian Journal Infectious Disease. 2000;11(1).

     

    Read More
  •   Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya. Lokasi […]

    Inilah 3 Lokasi Penyuntikan Imunisasi Pada Tubuh Anak

     

    Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya.

    Lokasi Penyuntikan Pada Tubuh Anak

    • Suntikan intramuskular (dalam otot): vaksin biasanya disuntikkan pada otot bahu (M.deltoids) pada anak usia 3 tahun dan lebih dari 3 tahun atau otot paha luar (M.quadriceps anterolateral) pada anak usia kurang dari 3 tahun.
    • Suntikan intradermal: vaksin BCG dan terkadang vaksin rabies dan tifoid diberikan secara intradermal yaitu suntikan diberikan pada lapisan bawah kulit di lengan kanan atas.
    • Suntikan subkutan: vaksin disuntikan pada bagian paha atas atau bahu kemudian jarum ditusukkan dengan kemiringan kira-kira 45 derajat.

    Tidak ada vaksin yang disuntikkan langsung ke dalam darah melalui pembuluh darah. Rata-rata penyuntikan vaksin dilakukan secara intramuskular, melalui otot. Hal inilah yang menyebabkan banyak anak-anak yang taku disuntik. Padalah, rasa nyeri pada lokasi penyuntikan hanya sementara saja, dan nyeri akan hilang pada 2-3 hari pasca penyuntikan. Anda tidak perlu khawatir mengenai lokasi penyuntikan vaksin pada anak karena semua metodenya aman dan sesuai dengan prosedur yang ada.

    Itulah tadi mengenai lokasi penyuntikan imunisasi pada tubuh anak. Selain di fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, dan posyandu, Sobat Sehat juga bisa memanfaatkan layananan vaksinasi ke rumah dari Prosehat. Layanan ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Satgas Imunisasi IDAI. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI. 2000;2(1): 43-47.
    Read More
  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More

Showing 31–40 of 46 results

Chat Asisten ProSehat aja