Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ vaksinasi”

Showing 1–10 of 53 results

  • Vaksinasi terbukti dapat menurunkan angka penyakit, angka kecacatan dan kematian dari berbagai penyakt infeksi. Sebuah penelitian vaksin terbaru untuk melindungi 13 penyakit mengemukakan bahwa vaksin dapat mencegah 20 juta kasus penyakit dan lebih dari 40 ribu kematian. Vaksin bukan hanya memberikan perlindungan bagi individu, tetapi dapat memberikan perlindungan komunitas dengan mengurangi penyebaran penyakit pada populasi. […]

    Pentingnya Vaksinasi untuk Ibu Menyusui

    Vaksinasi terbukti dapat menurunkan angka penyakit, angka kecacatan dan kematian dari berbagai penyakt infeksi. Sebuah penelitian vaksin terbaru untuk melindungi 13 penyakit mengemukakan bahwa vaksin dapat mencegah 20 juta kasus penyakit dan lebih dari 40 ribu kematian. Vaksin bukan hanya memberikan perlindungan bagi individu, tetapi dapat memberikan perlindungan komunitas dengan mengurangi penyebaran penyakit pada populasi.

    Vaksinasi untuk ibu menyusui sangat penting. Pada saat hamil, antibodi ibu melewati plasenta ke bayi yang sedang tumbuh selama akhir kehamilan sehingga dapat memberikan bayi perlindungan pasif paling signifikan selama beberapa minggu kehidupannya. Setelah bayi lahir, antibodi yang diproduksi oleh wanita menyusui yang telah divaksinasi dikeluarkan dalam ASI. Kemungkinan vaksin memberikan perlindungan bagi bayi setelah tertelan bayi tergantung pada jenis vaksin yang diterima dan faktor ibu yang mempengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh seperti gen, usia dan kesehatan.

    apakah menyusui menyebabkan osteoporosis prosehat

    Beberapa vaksin aman diberikan pada ibu menyusui, antara lain:

    • Vaksin yang inaktif (vaksin hepatitis A, HPV, Japanese Enchepalitis, Polio (IPV), dan rabies),
    • Vaksin yang berisi virus hidup yang dilemahkan (vaksin influenza, MMR, varisela, tifoid/Ty21A),
    • Vaksin rekombinan (hepatitis B, meningokokal meningitis/MenB),
    • Vaksin konjugasi (meningitis (MPSV4 danMenACWY), pneumokokal (PCV13)),
    • Vaksin polisakarida (Pneumokokal (PPSV23) dan tifoid/ViCPS)
    • Vaksin toksoid (Tdap/Td)

    Meskipun beberapa vaksin ada yang berisi virus hidup yang dilemahkan, sebagian tidak dieksresikan di ASI. Vaksin rubella dapat dieksresikan di ASI, tetapi virusnya tidak menginfeksi bayi, bila infeksi terjadi bayi dapat menoleransinya karena virusnya dilemahkan.

    Pemberian vaksin variola (smallpox) dan yellow fever  pada ibu hamil harus ditunda karena adanya kemungkinan transmisi virus ke janin yang dikandung. Meskipun begitu, bila ibu menyusui tidak dapat menunda kepergiannya ke daerah endemis, pemberian vaksin ini diperbolehkan.

    Nah, Sobat tidak ada alasan lain lagi kan yang dapat menunda ibu menyusui untuk mendapatkan vaksinasi. Ingat, penyakit pada ibu menyusui dan bayi dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Segera konsultasikan dengan dokter Sahabat mengenai cara pemberian vaksinasi ibu menyusui. Sobat Sehat juga bisa memanfaatkan layanan vaksinasi ke rumah dari Prosehat. Layanan ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

     

     

     

    Referensi:

    1. Orenstein WA, Ahmed R. Simply put: vaccination saves life. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 2017;114(16).
    2. Immunisation Advisory Center The University of Auckland. Immunisation and breastfeeding. [Internet]. Available at: immune.org.nz/sites/default/files/AdministrationBreastfeedingImac20160820V02Final_1.pdf
    3. Center for Disease Control and Prevention. Vaccination safety for breastfeeding mothers. 2018. [Internet]. Available at: cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/vaccinations-medications-drugs/vaccinations.html
    Read More
  • Selama masa pandemi akibat penyebaran virus corona menyebabkan kita tidak bisa keluar rumah karena pemerintah membuat aturan untuk tetap tinggal di dalam rumah serta menghindari pusat-pusat keramaian, baik itu pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan juga tempat pelayanan kesehatan. Banyak sekali Sobat yang menunda rencana atau kegiatan yang harusnya dilakuan, termasuk beberapa Sobat yang memiliki buah […]

    Pilih Mana? Imunisasi di Rumah atau Faskes Selama Pandemi?

    Selama masa pandemi akibat penyebaran virus corona menyebabkan kita tidak bisa keluar rumah karena pemerintah membuat aturan untuk tetap tinggal di dalam rumah serta menghindari pusat-pusat keramaian, baik itu pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan juga tempat pelayanan kesehatan. Banyak sekali Sobat yang menunda rencana atau kegiatan yang harusnya dilakuan, termasuk beberapa Sobat yang memiliki buah hati untuk mambawanya ke fasilitas kesehatan guna mendapatkan imunisasi yang telah dijadwalkan. Lalu, apakah dalam masa pandemi seperti ini imunisasi masih wajib untuk dilakukan Si Kecil atau lebih baik ditunda saja?

    Sesuai dengan anjuran KEMENKES RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) dan juga Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa pada masa pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, pelayanan imunisasi merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang tetap menjadi prioritas wajib untuk dilaksanakan sesuai jadwal, terutama bagi anak yang rentan tehadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (misalnya vaksin Hepatitis, Polio dan Difteri).

    Berikut ini jadwal imunisasi pada Si Kecil:

    Usia 0 bulan    : Vaksin Hepatitis B ke-0 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-0
    Usia 1 bulan    : Vaksin BCG
    Usia 2 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-1 (DPT + Hepatitis B + Haemophilus influenzae b atau Hib) + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-1
    Usia 3 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-2 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-2
    Usia 4 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-3 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-3 + Vaksin Polio Suntik
    Usia 9 bulan    : Vaksin Campak (MR) ke-1
    Usia 18 bulan  : Vasin Pentavalen ke-4 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-4 + Vaksin Campak (MR) ke-2.1

    Rumah Sakit, Puskesmas, serta Klinik merupakan fasilitas umum yang biasa dikunjungi oleh orang sakit untuk datang berobat, sehingga ini menimbulkan kecemasan saat ingin membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi.1 Pelayanan imunisasi di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Klinik dan Rumah Sakit masih dapat dilakukan dengan menerapkan:

    1. Pilih fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan rumah tinggal.
    2. Menjaga jarak antrian 1-2 meter dengan pasien lainnya.
    3. Menggunakan masker, baik untuk pengantar dan Si Kecil.
    4. Memastikan Si Kecil dalam kondisi sehat saat diimunisasi. Jika Si Kecil mengalami demam, batuk, pilek, diare dan riwayat kontak dengan pasien OTG (Orang tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), maka segera untuk melapor ke petugas kesehatan untuk menunda jadwal imunisasi dan membuat jadwal kembali saat Si Kecil sudah dalam kondisi sehat.
    5. Memastikan Si pengantar juga dalam kondisi sehat dan tanpa riwayat kontak dengan pasien COVID-19.
    6. Datang sesuai jadwal imunisasi yang telah ditentukan oleh petugas kesehatan (petugas kesehatan akan mengatur jadwal kunjungan dengan tujuan agar pasien tidak terlalu ramai).
    7. Pada saat tiba di fasilitas kesehatan, segera cuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau hand sanitizer sebelum masuk ke dalam ruang imunisasi.
    8. Segera pulang ke rumah setelah vaksin selesai.
    9. Sesudah pelayanan imunisasi selesai, segera cuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer dan segera pulang ke rumah.
    10. Segera membersikan diri atau mandi dan cuci rambut serta mengganti semua kain/linen anak dan pengantar (pakaian, bedong, gendongan) dan lain–lain yang dibawa ke fasilitas kesehatan.1-5

    Walaupun ditengah pandemi COVID-19, Sobat harus tetap membawa Si Kecil untuk diimunisasi katena vaksin BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, Hib, Campak (MR) harus tetap dilakukan sesuai jadwal. Namun, apabila terpaksa ditunda maka maksimal mundur 2 minggu dari jadwal yang relah ditetapkan. Namun, apabila Si Kecil sedang tidak sehat atau adanya riwayat kontak dengan pasien COVID-19 (OTG, ODP atau PDP) maka imunisasi dapat ditunda sampai masa karantina selesai.1,2,4,5

    Melakukan imunisasi Si Kecil baik di Puskesmas, Klinik maupun Rumah Sakit masih dapat dikatakan aman apabila Sobat memperhatikan anjuran-anjuran dari KEMENKES RI diatas.

    Apabila Anda khawatir membawa Si Kecil utuk melakukan imunisasi di fasilitas kesehatan namun tidak mau menunda jadwal imunisasinya, disarankan untuk melaksanakan imunisasi di rumah dengan menghubungi petugas kesehatan untuk datang ke rumah. Seperti saat ini sudah kita kenal dengan nama telemedicine atau layanan kesehatan digital, salah satunya termasuk layanan imunisasi, baik bagi anak maupun dewasa. Apabila imunisasi dilakukan di rumah, tentu saja lebih aman dibandingkan imunisasi di tempat layanan kesehatan umum karena meminimalkan kontak dengan orang banyak sehingga Sobat tidak perlu khawatir Si Kecil akan terpapar dengan virus. 4,5

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Jesica Chintia Dewi

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Achmad, dr Y. Petunjuk Tehnis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi COVID 19. Jakarta: KEMENKES RI – GERMAS; 2020.
    2. Imunisasi dalam konteks pandemi COVID-19 [Internet]. Who.int. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/tanya-jawab-imunisasi-dalam-konteks-pandemi-covid-19-16-april-2020.pdf?sfvrsn=66813218_2
    3. PAHO urges countries to maintain vaccination during COVID-19 pandemic – PAHO/WHO | Pan American Health Organization [Internet]. Paho.org. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.paho.org/en/news/24-4-2020-paho-urges-countries-maintain-vaccination-during-covid-19-pandemic
    4. Vaccinations and COVID-19: What parents need to know [Internet]. Unicef.org. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.unicef.org/coronavirus/vaccinations-and-covid-19-what-parents-need-know
    5. Fadhel M. COVID-19 putting routine childhood immunization in danger: UN health agency [Internet]. UN News. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://news.un.org/en/story/2020/04/1062712

     

    Read More
  • Tidak hanya anak, orang dewasa juga seringkali enggan untuk berhubungan dengan jarum suntik. Walaupun Sobat sudah pernah mendapatkan vaksinasi lengkap saat masih kecil, perlu diketahui bahwa orang dewasa juga butuh vaksinasi karena ada beberapa jenis vaksin tertentu yang masih harus diberikan sebagai booster (penguat) dalam jangka waktu beberapa tahun setelah pemberian terakhir. Setidaknya ada 15 […]

    Apa Keuntungan Perusahaan Memberikan Benefit Vaksinasi Bagi Karyawan Kantor?

    Tidak hanya anak, orang dewasa juga seringkali enggan untuk berhubungan dengan jarum suntik. Walaupun Sobat sudah pernah mendapatkan vaksinasi lengkap saat masih kecil, perlu diketahui bahwa orang dewasa juga butuh vaksinasi karena ada beberapa jenis vaksin tertentu yang masih harus diberikan sebagai booster (penguat) dalam jangka waktu beberapa tahun setelah pemberian terakhir.

    Setidaknya ada 15 kasus penyakit menular yang dapat terjadi pada pekerja (karyawan) yang bisa dicegah oleh vaksinasi. Penyakit menular pada pekerja dapat menyebar melalui individu dan komunitas melalui kontak fisik, makanan, cairan tubuh, darah, serangga/binatang, dan udara. Vaksinasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sampai batas optimal, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut, tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Selain itu, salah satu keuntungan vaksin adalah adanya herd immunity yaitu, suatu kekebalan kelompok yang didapatkan karena sebagian besar orang telah mendapatkan kekebalan melalui imunisasi sehingga tidak terjadi penularan penyakit.

    Suatu profesi mengharuskan seseorang untuk bekerja setiap harinya selama sekian tahun lamanya, hal ini akan memengaruhi jumlah paparan terhadap kuman penyakit yang didapatkan dari tempat kerja. Lambat laun paparan terus-menerus ini akan menimbulkan efek terhadap kesehatan. Sehingga perlu dipertimbangkan pemberian vaksinasi pada pekerja dengan memerhatikan jenis paparan di lingkungan kerja atau proses kerja, risiko penularan, dan status kekebalan tubuh pekerja. Selain itu, terdapat beberapa dasar regulasi yang mengatur pemberian vaksinasi di tempat kerja seperti UU No.1 Tahun 1970 pasal 2 yang berbunyi, “Pemberi kerja mempunyai kewajiban menyediakan layanan kesehatan kerja untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan pekerja” dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi.

    Tanpa mendapatkan informasi yang lengkap, mungkin vaksinasi untuk melindungi pekerja masih dianggap pemborosan biaya, namun sebenarnya banyak keuntungan yang didapatkan dari sisi upaya pencegahan penularan penyakit yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksinasi dan produktivitas. Berikut adalah keuntungan vaksinasi di lingkungan kantor:

    • Meringankan biaya yang dikeluarkan dengan menurunkan waktu izin karyawan untuk vaksinasi di luar kantor.
    • Meringankan biaya yang dikeluarkan dengan mengurangi jumlah absensi karyawan akibat penyakit dan akan meningkatkan produktivitas kerja.
    • Pencegahan penyakit tertentu akan mencegah keluarga dan lingkungan sekitar untuk ikut terjangkit penyakit (herd immunity), sehingga biaya perawatan pencegahan penyakit akan lebih murah.1,3

    Semua keuntungan yang disebutkan di atas dapat dinilai dengan indikator peningkatan produktivitas dan efisiensi pemberian vaksin berikut ini:

    • Turunnya absensi karena sakit.
    • Meningkatkan moral dan motivasi pekerja dengan memberikan rasa tenang dan nyaman dalam bekerja.
    • Meningkatnya citra perusahaan.
    • Menurunnya biaya berobat.

    Untuk petugas layanan publik, seperti karyawan perkantoran, jenis vaksinasi yang disarankan diberikan oleh perusahaan adalah vaksin terhadap penyakit Influenza, Varicella, Tetanus, Difteri, dan Pertusis (Td/Tdap). Pemberian vaksin influenza sebaiknya diulang setiap setahun sekali, karena virus influenza mudah untuk bermutasi, sehingga isi dari vaksin pun akan berbeda setiap tahunnya, hal ini ditentukan oleh pertimbangan para ahli yang dapat memprediksi jenis virus influenza apa saja yang akan menyebabkan penyakit paling banyak pada tahun itu. Vaksin Varicella melindungi dari penyakit cacar air, penyakit ini sangat mudah menular, sehingga bila Sobat belum pernah terkena cacar air sebelumnya sebaiknya melakukan vaksinasi booster untuk melindungi diri. Penyakit tetanus, difteri, dan pertusis merupakan jenis penyakit yang bisa mematikan. Namun sejak ditemukannya vaksin Tdap ini, kasus kematian akibat tetanus dan difteri telah menurun hingga 99% dan pertusis turun hingga 80%. Oleh karena itu, orang dewasa juga perlu melakukan booster vaksin Td/Tdap ini setiap 10 tahun.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia. Imunisasi untuk Perlindungan dan Upaya Peningkatan Produktivitas Pekerja. I. Jakarta;
    2. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C. Epidemiology and Prevention of Vaccine-preventable Diseases. Centers for Disease Control and Prevention; 2015. 376 p.
    3. Promoting Vaccination in the Workplace | CDC [Internet]. 2019 [cited 2020 May 30]. Available from: https://www.cdc.gov/flu/business/promoting-vaccines-workplace.htm
    4. Shahrabani S, Benzion U. Workplace Vaccination and Other Factors Impacting Influenza Vaccination Decision among Employees in Israel. International Journal of Environmental Research and Public Health. 2010 Mar;7(3):853.
    Read More
  • Ketika buah hati Moms jatuh sakit, tentu kecemasan melanda Anda ya. Tentu tak akan ada satupun ibu yang tidak khawatir. Berbagai cara tentu dilakukan seorang ibu agar si kecil kesayangannya tetap sehat dan bugar. Seperti kita ketahui, vaksin merupakan salah satu hal terpenting untuk kesehatan si buah hati. Pemberian vaksin akan membuat anak terlindung dari […]

    Apa Beda Vaksin yang Bikin Anak Demam dan Tidak?

    Ketika buah hati Moms jatuh sakit, tentu kecemasan melanda Anda ya. Tentu tak akan ada satupun ibu yang tidak khawatir. Berbagai cara tentu dilakukan seorang ibu agar si kecil kesayangannya tetap sehat dan bugar. Seperti kita ketahui, vaksin merupakan salah satu hal terpenting untuk kesehatan si buah hati. Pemberian vaksin akan membuat anak terlindung dari kemungkinan terpaparnya penyakit.

    Pada bayi yang baru lahir, sistem imun di dalam tubuhnya belum terbentuk sempurna, bahkan selama beberapa bulan kehidupannya, seorang bayi masih menggunakan imun atau kekebalan tubuh yang didapat dari ibunya. Pastinya kasihan sekali Moms, bayi yang masih begitu mungil dengan segala keterbatasan sistem organ tubuh yang belum matang, harus berperang melawan penyakit. Itulah gunanya dilakukan vaksinasi. Oleh karena itu, vaksinasi sangat penting bagi bayi, jangan melewatkan jadwal vaksinasi buah hati ya Moms. Jadwal imunisasi di Indonesia direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Meskipun vaksin terbukti efektif, tak sedikit para ibu mengeluhkan tentang si kecil yang menjadi demam atau rewel setelah vaksin. Hal ini membuat Moms khawatir dan bingung untuk menanganinya atau mungkin menjadi ragu untuk membawa si kecil untuk imunisasi. Mari kita bahas tentang kejadian demam setelah imunisasi dan apa beda vaksin yang bikin anak demam dan tidak.

    Demam merupakan salah satu bentuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yaitureaksi yang dapat terjadi setelah dilakukannya imunisasi. Tapi tenang saja Moms, tidak semua vaksin memberikan respons demam, hanya beberapa vaksin saja yang sering memberikan respons tubuh berupa demam. Contoh vaksin yang umumnya memberikan respons demam adalah campak dan difteri-pertusis-tetanus (DPT). Sebanyak 42,9% anak yang divaksinasi DPT mengalami demam ringan dan sekitar 2,2% anak mengalami demam berat. Kemudian, tercatat 5-15% kasus demam dijumpai pada anak yang divaksinasi campak. Demam ringan ini biasanya mulai dijumpai pada hari kelima sampai keenam sesudah imunisasi dan demam ini dapat terus berlangsung selama 5 hari. Namun, Momstak perlu khawatir, mengingatsetiap respons imun manusia berbeda-beda, maka tidak semua anak yang diimunisasi campak dan DPT akan mengalami respons tubuh berupa demam. Ada anak yang setelah diimunisasi campak atau DPT akan baik-baik saja, tidak ada demam sama sekali.

    Hal yang sering menjadi pertanyaan banyak orang adalah apa beda antara vaksin yang bikin anak demam dan tidak? Salah satu alasan utama pembedanya adalah komponen vaksin tersebut. Vaksin dapat terbuat dari kuman yang sudah mati, atau kuman yang hanya dilemahkan, ada yang seluruh bagian utuh, atau sebagian, dan ada juga yang berupa toksin (zat racun) dari mikroorganisme tersebut. Reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi sering kali lebih hebat bila imunisasi berisi kuman hidup yang dilemahkan yang terbuat dari seluruh komponen antigen kuman. Hal ini terjadi karena reaksi pertahanan tubuh akan lebih kuat melawan kuman yang utuh dibandingkan hanya sebagian kecil dari komponen kuman. Reaksi tubuh terhadap antigen kuman dari vaksin inilah yang merupakan proses pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

    Salah satu contoh, saat ini terdapat dua jenis vaksin Difteri Pertusis Tetanus (DPT), atau sering dituliskan sebagai DPT dan DPaT. Lantas apa bedanya? Vaksin DPT terbuat dari seluruh komponen antigen kuman Pertusis, sedangkan vaksin DPaT hanya mengandung bagian antigen kuman Pertusis tertentu yang diperlukan untuk kekebalan tubuh. Perbedaan jenis antigen inilah yang menyebabkan DPT lebih sering menimbulkan efek samping seperti demam dan ruam setelah penyuntikan, dibandingkan dengan DPaT. Atas dasar tersebut, beberapa Moms memilih untuk vaksin DPaT dibandingkan dengan DPT. Dari segi efektivitas sendiri, DPaT terbukti juga efektif dalam memberikan perlindungan optimal bagi si kecil dari kuman difteri-pertusis-tetanus. Untuk menjaga keefektifan vaksin, perlu dilakukan pengulangan imunisasi DPT pada jadwal yang telah ditentukan.

    Setelah mengetahui perbedaan vaksin yang membuat anak demam dan tidak, sudahkah Moms tahu bagaimana cara menangani anak yang demam pasca dilakukan vaksinasi? Pastinya setiap ibu akan merasa panik saat menghadapi anak yang demam pasca vaksinasi, tidak tahu apakah hal ini normal, tidak tahu kapan anak yang demam harus dibawa ke rumah sakit dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan saat di rumah.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemberian parasetamol (penurun panas) pada anak, 30 menit sebelum akan dilakukan imunisasi DPT/DT. Hal ini tidak hanya untuk mengurangi demam tetapi juga mengurangi nyeri pasca vaksinasi. Setelah itu, obat penurun panas dapat dilanjutkan setiap 3-4 jam sekali apabila masih terjadi demam dan maksimal sebanyak 6 kali dalam 24 jam. Hal lainnya yang dapat dilakukan ialah memberikan minum atau ASI lebih banyak kepada anak, memakaikan anak pakaian yang tipis dan memberikan kompres hangat agar demam turun. Apabila anak tetap demam, segera bawa anak ke dokter. Moms tidak perlu takut, obat penurun demam tidak memengaruhi potensi vaksin.

    Parasetamol sebagai Pencegahan dan Pengobatan Demam Pasca Vaksinasi

    Nah, bagi Moms yang ingin melakukan vaksin pada si kecil, kini tak perlu repot. Ada layanan vaksin ke rumah loh! Silakan cek lewat www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan vaksinasi maupun kesehatan. Info lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Dasar. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009;8: 557.
    2. Fuleihan, R. Imunologi. Dalam: Endaryanto A, Sumadiono, editor. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi VI. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011:311-4.
    3. Hadinegoro SRS. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri. 2000; 2(1):2-10.
    4. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. 2013.
    5. Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi [Internet]. IDAI. 2018 [cited 31 August 2018]. Available from: idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi.
    6. Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Pedoman Imunisasi di Indonesia.Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014;5:404.
    Read More
  • Moms, mungkin kita masih banyak yang belum begitu mengerti tentang apa yang dimaksud vaksin serta vaksin apa saja yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu yang sangat penting adalah vaksin polio. Kurangnya pengetahuan serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai vaksin menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit polio di Indonesia. Sebelum dibahas mengenai vaksin polio, ada baiknya kita […]

    Apa Penyebab Penyakit Polio?

    Moms, mungkin kita masih banyak yang belum begitu mengerti tentang apa yang dimaksud vaksin serta vaksin apa saja yang dibutuhkan oleh anak. Salah satu yang sangat penting adalah vaksin polio. Kurangnya pengetahuan serta kurangnya kesadaran masyarakat mengenai vaksin menjadi salah satu penyebab meningkatnya penyakit polio di Indonesia. Sebelum dibahas mengenai vaksin polio, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan vaksin, apa itu vaksin polio, kapan waktu yang tepat bagi si anak untuk mendapatkan vaksin polio, serta apa yang dimaksud dengan polio, gejala yang mungkin ditimbulkan apabila sudah terjangkit virus polio serta apa saja yang dapat kita lakukan apabila sudah terjangkit polio.

    Kita mulai dari membahas apa yang dimaksud dengan vaksinasi atau imunisasi, Vaksinasi merupakan suatu cara memasukan virus mati atau virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia yang bertujuan dengan pemberian vaksin ini, sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat mengatasinya secara otomatis apabila suatu saat kita terinfeksi virus tersebut. Vaksinasi polio terdapat 2 jenis yaitu OPV (Oral Polio Vaccine) atau Imunisasi Polio Oral merupakan vaksinasi dari virus hidup yang sudah dilemahkan dan yang kedua adalah IPV (Injection Polio Vaccine) atau polio suntik yang menggunakan virus yang telah dimatikan atau dinonaktifkan dan diberikan dengan cara suntikan di lengan. Jadwal penyuntikan IPV ketika anak berusia 2 bulan, 4 bulan dan 6-18 bulan, sedangkan dosis penambah atau booster diberikan sejak anak berusia 6-8 tahun. Sedangkan OPV diberikan secara tetes di mulut anak sejak saat lahir, usia 2, 4, 6, 18 bulan.

    Sedangkan vaksinasi pada dewasa diberikan hanya kepada seseorang yang status vaksinasinya masih diragukan atau yang tidak pernah melakukan vaksinasi polio sama sekali sebelumnya dan apabila seseorang hendak mengunjungi negara dengan angka insiden polio tinggi. Vaksinasi polio dewasa diberikan dengan jarak waktu antara dosis pertama dan kedua, 4-8 bulan dan dosis ketiga, 6-12 bulan setelah pemberian dosis kedua.

    Reaksi yang mungkin timbul akibat penyuntikan vaksinasi polio sangat ringan berupa kemerahan di tempat suntikan, demam ringan, reaksi ini bersifat sementara, apabila anak demam setelah imunisasi, maka lakukan pengompresan pada dahi, lipat paha serta lipat ketiak anak serta diberikan obat penurun panas. Sedangkan reaksi yang dapat terjadi karena penyuntikan OPV mungkin diare tapi hal ini sangat jarang terjadi.

    Tidak semua anak dapat diimunisasi polio, misalnya anak sedang dalam kondisi demam atau tidak sehat, anak dengan riwayat alergi yang parah atau alergi terhadap obat tertentu, sebaiknya konsultasikan dahulu ke dokter sebelum melakukan vaksinasi.

    Lalu, apakah yang terjadi bila kita menolak dilakukan imunisasi pada si kecil? Tentunya anak kita tidak terhindar dari risiko infeksi virus polio.Polio merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio yang terdapat di tenggorokan dan di dalam saluran pencernaan, polio sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf, pada pasien penderita polio dapat menimbulkan gejala kesulitan bernapas, kelumpuhan atau bahkan sampai terjadi kematian.

    Indonesia bersama dengan regional Asia Tenggara telah mendapatkan sertifikat negara bebas polio dari WHO (World Health Organization) berkat program pemerintah yang serius untuk membasmi kasus polio. saat ini, negara endemis polio sangat berkurang drastis yaitu dari 125 negara menjadi hanya 3 negara yaitu Nigeria, Pakistan dan Afganistan (data WHO tahun 2017).

    Penyakit polio disebabkan oleh virus polio, yang dapat terinfeksi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja atau kotoran yang mengandung virus polio, dari tetesan bersin atau batuk. Dalam tubuh manusia, virus ini menginfeksi tenggorokan sampai usus, bahkan sampai masuk ke aliran darah dan menyerang sistem saraf. Orang-orang yang berisiko terjangkit polio adalah anak-anak, wanita hamil, seseorang dengan imunitas rendah, serta seseorang yang tinggal dengan sanitasi yang buruk, misalnya belum ada toilet bersih di daerah tinggal serta sumber air minum yang buruk.

    Apabila seseorang sudah positif terjangkit virus polio, awalnya tidak disadari karena tidak menimbulkan gejala yang berat. Masing-masing polio mempunyai gejala yang berbeda, yaitu:

    POLIO NON-PARALISIS

    merupakan tipe polio yang tidak pernah mengalami kelumpuhan. Berikut ini gejala Polio Non-Paralisis:

    1. Demam lemah otot atau kaku, biasanya anggota gerak serta leher terasa sakit dan kaku.
    2. Muntah
    3. Demam
    4. Meningitis
    5. Sakit tenggorokan.
    6. Sakit kepala.

    Gejala umum Polio Non paralisis umumnya dapat berlangsunng antara 1-10 hari.

    POLIO PARALISIS

    Polio jenis paralisis merupakan polio yang paling parah, gejalanya hampir sama dengan gejala non paralisis yaitu pusing, sakit kepala, lemah otot, serta saluran pernapasan terganggu sampai kematian. Kelumpuhan pada polio jenis ini dapat terjadi hanya beberapa jam setelah infeksi virus polio. Polio paralisis dapat dibagi sesuai dengan bagian tubuh yang terjangkit misalnya batang otak, saraf tulang belakang ataupun campuran keduanya. Hal yang paling ditakuti dari polio tipe paralisis adalah kelumpuhan dari sistem pernapasan sehingga pernapasan menjadi terhambat atau bahkan tidak berfungsi sama sekali, hal ini diperlukan penanganan medis secara serius.

    Sindrom Pasca Polio

    Sindrom pasca polio biasanya terjadi pada pasien yang pernah mengalami riwayat polio, 30-40 tahun yang lalu. Gejala yang terjadi dapat ringan sampai berat. Berikut gejala yang mungkin timbul pada sindrom pasca polio:

    1. Mudah lelah
    2. Tidak kuat menahan suhu dingin
    3. Gangguan tidur
    4. Gangguan mood atau suasana hati, dapat jatuh ke dalam kondisi depresi.
    5. Kelainan bentuk anggota gerak, lemah pada anggota gerak dan nyeri.
    6. Gangguan daya ingat
    7. Kesulitan bernapas atau menelan.

    Apabila seseorang mengalami gejala di atas, untuk memastikan apakah benar terjangkit polio atau tidak, tentunya diperlukan berbagai tes untuk menegakkan diagnosis pasti. Mulai dari pemeriksaan fisik oleh dokter, pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah, tinja serta cairan serebrospinal.

    Sayangnya, belum ada pengobatan yang pasti untuk vaksin polio ini, hanya obat-obatan untuk menghilangkan gejala serta fisioterapi untuk mengurangi kekakuan anggota gerak. Oleh karena itu, pemerintah sangat menggalakkan untuk mengikuti program vaksinasi polio.

    Selain vaksinasi, berikut ini langkah untuk mencegah penyakit polio:

    1. Selalu biasakan cuci tangan sebelum makan.
    2. Tutup makanan agar tidak dihinggapi lalat.
    3. Gunakan air minum dari air bersih yang sudah dimasak.
    4. Virus polio menyebar dari sanitasi yang buruk, sehingga usahakan di lingkungan tempat tinggal sudah dibangun sarana MCK yang memadai, sehingga warganya tidak buang air besar di sungai.
    5. Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan masker atau sapu tangan apabila sedang batuk, pilek dan bersin.
    6. Makan makanan yang sehat.
    7. Istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh meningkat sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit.

    Nah, setelah membaca ulasan di atas, Moms tentunya sudah lebih mengetahui seputar penyebab polio dan lainnya bukan? Untuk informasi kesehatan lainnya, Moms bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Bahkan ada layanan vaksin polio ke rumah loh! Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Poliomyelitis [Internet]. World Health Organization. 2018 [cited 7 September 2018]. Available from: who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
    2. Ochmann S, Rosser M. Polio [Internet]. Our World in Data. 2017 [cited 7 September 2018]. Available from: ourworldindata.org/polio
    3. Semi Annual Status Report Polio July to December 2017 [Internet]. 3rd ed. Switzerland: Polio Global Eradication Initiative; 2018 [cited 5 September 2018]. Available from: polioeradication.org/wp-content/uploads/2018/05/who-polio-donor-report-july-december-2017-20180504.pdf
    4. Mehndiratta M, Mehndiratta P, Pande R. Poliomyelitis. The Neurohospitalist [Internet]. 2014 [cited 5 September 2018];4(4):223-229. Available from: Poliomyelitis Historical Facts, Epidemiology, and Current Challenges in Eradication.

     

    Read More
  • Penyakit polio adalah salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan seringkali mereka yang mengalami penyakit ini terlihat dari bentuk kakinya yang beda daripada orang normal – yaitu cenderung berbentuk O. Polio sendiri merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular antara satu orang ke orang lainnya, contohnya saja bisa […]

    Tujuan Imunisasi Polio yang Perlu Diketahui

    Penyakit polio adalah salah satu penyakit yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia dan seringkali mereka yang mengalami penyakit ini terlihat dari bentuk kakinya yang beda daripada orang normal – yaitu cenderung berbentuk O. Polio sendiri merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular antara satu orang ke orang lainnya, contohnya saja bisa melalui makanan, minuman, air liur, bahkan tinja. Lalu apa yang akan terjadi ketika virus polio menyerang seseorang?

    Ketika seseorang terserang polio, virus ini akan masuk melalui mulut dan menyerang usus yang tentunya akan menyebabkan infeksi. Polio yang terlambat ditangani akan menyebar ke bagian tubuh lainnya dan tentu saja akan menyerang pada bagian sistem syaraf pusat. Bagian syaraf yang terserang virus polio inilah yang akan menyebabkan bentuk kaki mereka berbeda bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Pastinya tidak ada yang mau hal ini terjadi pada diri mereka bukan? Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah polio?

    Imunisasi Polio

    Vaksinasi atau lebih sering dikenal dengan imunisasi polio adalah jawaban yang tepat untuk mencegah risiko anak mengalami polio sejak dini atau di kemudian hari. Vaksin polio sendiri terbuat dari virus polio yang sudah dilemahkan dan justru hal ini lah yang membuat tubuh kita menjadi kebal terhadap virus polio. Di Indonesia, vaksin polio yang sering diberikan adalah jenis vaksin OPV atau biasa dikenal dengan vaksin oral yang diberikan dengan cara diteteskan pada mulut. Vaksin polio perlu dilakukan beberapa kali dan vaksin pertama kali diberikan setelah anak lahir.

    Vaksinasi ini perlu diulangi ketika anak menginjak usia 2, 3, 4 dan dosis penguat usia18 bulan. Apakah vaksinasi ini perlu diulang ketika dewasa? Vaksinasi polio perlu diulangi terlebih ketika kita tidak mendapatkan vaksinasi ini ketika kecil. Tujuan dilakukannya vaksinasi polio ini adalah mencegah risiko mengalami penyakit ini terlebih ketika kita sedang bepergian ke tempat yang rawan akan kasus polio. Pekerja laboratorium ataupun petugas kesehatan yang sering berinteraksi langsung dengan orang yang mengalami penyakit polio tentu saja harus mendapatkan vaksinasi polio sebelumnya untuk menimilisir polio dapat menyerang mereka sewaktu-waktu.

    Pemberian Vaksinasi Polio

    Mempersiapkan kondisi anak sebelum vaksinasi polio dilakukan merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah beberapa reaksi yang mungkin timbul setelah vaksinasi dilakukan. Manfaat vaksinasi polio yang mencegah datangnya penyakit polio di kemudian hari adalah alasan utama masyarakat melakukan vaksinasi yang satu ini dan sebaiknya orang tua tidak menunda memberikan vaksinasi ini pada anak. Penunandaan pemberian vaksinasi merupakan pengecualian bagi anak yang sakit sedang atau parah karena jika dipaksakan maka dikhawatirkan akan timbul reaksi tertentu setelah vaksinasi dilakukan. Oleh sebab itulah sebaiknya kita menunggu hingga anak benar-benar sembuh.

    Pengecualian berikutnya juga berlaku untuk anak yang mengalami alergi terhadap polio suntik. Alergi ini disebabkan oleh berbagai kandungan yang terdapat pada vaksin polio, seperti polymyxin B, streptomycin, serta neomycin. Beberapa contoh reaksi yang dapat terjadi dari vaksinasi polio antara lain adalah anak mengalami demam beberapa jam setelah vaksinasi, kulit anak yang memerah bahkan bisa bengkak pada daerah sekitar suntikan, ataupun terjadi pengerasan kulit pada daerah sekitar suntikan. Kabar baiknya, kita bisa mengurangi efek samping ini dengan mengompres menggunakan air dingin atau dengan memberikan parasetamol. Reaksi ini biasanya berlangsung hanya selama 1 hingga 2 hari.

    Nah bagaimana? Pastinya sudah tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksinasi polio pada anak? So, tunggu apalagi untuk memberi jaminan kesehatan pada anak sejak dini?

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Apakah aman suntik vaksin MR pada saat hamil? Hal ini mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita ya Moms. Sebelum mengetahui aman atau tidaknya suntik MR, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud suntik MR, seberapa pentingnya suntik MR serta apa sajakah efek samping penyuntikan vaksin MR terutama bagi ibu hamil. Namun, sudahkah Anda ketahui, apa […]

    Amankah Suntik Vaksin MR pada Bumil?

    Apakah aman suntik vaksin MR pada saat hamil? Hal ini mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita ya Moms. Sebelum mengetahui aman atau tidaknya suntik MR, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud suntik MR, seberapa pentingnya suntik MR serta apa sajakah efek samping penyuntikan vaksin MR terutama bagi ibu hamil.

    Namun, sudahkah Anda ketahui, apa yang dimaksud dengan vaksinasi? Nah Moms, vaksinasi sebenarnya merupakan suatu cara memasukkan virus mati atau virus yang telah dilemahkan ke dalam tubuh manusia, tujuannya agar sistem pertahanan tubuh mampu mengenali virus, sehingga sistem kekebalan tubuh dapat mengatasinya secara otomatis apabila suatu saat kita terinfeksi virus tersebut.

    Vaksinasi MR merupakan kombinasi dari vaksin Campak atau Measles (M) serta vaksin Campak Jerman atau Rubella (R), fungsi dari pemberian vaksinasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella. Campak merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi anak, terutama pada seseorang yang tidak terlindungi vaksinasi sebelumnya, seseorang dengan gizi kurang serta sistem imun rendah (HIV, kanker, pasien dengan gangguan sistem imun). Gejala yang dapat terjadi bila seseorang terkena campak adalah demam, ruam kemerahan di seluruh tubuh, serta gejala seperti flu (batuk, pilek serta mata berair), campak juga dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius lagi seperti pneumonia (infeksi paru), kerusakan otak, infeksi telinga sampai kematian. Sedangkan rubella, sering sekali terjadi pada anak, remaja maupun ibu hamil yang dapat berakibat pada keguguran, bayi lahir cacat seperti tuli maupun kebutaan  atau sampai terjadi bayi lahir mati.

    Vaksinasi MR (Measless Rubella) merupakan program pemerintah yang mulai digalakkan kembali, mengingat dampak yang timbulkan dari infeksi Campak dan Rubella yang cukup serius. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI tahun 2016, terdapat sekitar 8.185 kasus Rubella atau Campak Jerman pada tahun 2015. Bila dihitung dari tahun 2010 sampai 2015, terdapat 23.164 kasus Campak dan 30.463 kasus Rubella di Indonesia, dengan kasus campak tertinggi terjadi di Sulawesi Tengah (15,65%). Program vaksinasi MR yang diberikan pemerintah ditargetkan khususnya untuk anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Dengan jadwal penyuntikan 9 bulan, 18 bulan serta usia 6 tahun (kelas 1 SD atau sederajat).

    Lalu, Apakah aman suntikan vaksin diberikan untuk wanita yang sedang berbadan dua? Jawabannya adalah TIDAK! Vaksinasi diberikan pada saat Ibu belum positif hamil. Pemberian vaksinasi MR saat kehamilan dikhawatirkan dapat membahayakan Ibu dan bayi di dalam kandungan. Apabila Moms ingin melakukan vaksin MR sebelum kehamilan, maka kehamilan harus ditunda selama 4 minggu atau 30 hari setelah penyuntikan vaksin MR dilakukan.

    Mengingat adanya mitos-mitos yang beredar mengenai efek samping dari penyuntikan vaksin MR, mungkin banyak yang masih ragu mengenai apakah aman suntikan vaksin MR bila tetap diberikan. Jangan khawatir, Kementrian Kesehatan RI serta WHO atau Badan Kesehatan Dunia telah menyatakan bahwa vaksinasi ini sangat aman diberikan, bahkan vaksin MR telah diberikan pada lebih dari 141 negara di dunia serta izin beredarnya sudah disahkan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), sehingga kita tidak perlu ragu lagi untuk menjalankan program pemerintah dalam mencegah penyebaran virus Campak dan Rubella.

    Mengenai mitos efek samping yang mungkin ditimbulkan setelah vaksinasi MR yaitu berupa autisme ataupun kelumpuhan, para pakar dalam Badan Kesehatan Dunia telah menyanggah mitos tersebut Moms. Jadi, tidaklah benar vaksinasi MR dapat menyebabkan autisme dan kelumpuhan. Beberapa jurnal kedokteran serta penelitian para ahli belum ada yang dapat membuktikan bahwa vaksin MR dapat menyebabkan kelumpuhan serta autisme. Apabila terjadi kelumpuhan setelah vaksinasi maka dianggap hal ini merupakan suatu kebetulan saja, dan diperlukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang seperti laboratorium yang harus dilakukan untuk mencari penyebab sebenarnya.

    Reaksi yang lazim dapat ditimbulkan setelah penyuntikan vaksin MR umumnya ringan dan bukan merupakan reaksi yang berarti seperti ruam kulit atau kemerahan di tempat penyuntikan, nyeri pada tempat penyuntikan, serta demam ringan. Biasanya reaksi ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar 24 jam sampai 3 hari. Reaksi paska vaksinasi yang berat karena alergi pada bahan yang terkandung dalam vaksin, hampir tidak pernah ditemukan, karena vaksin mengandung virus atau kuman yang dilemahkan. Namun, apabila anak atau seseorang memiliki riwayat alergi komponen vaksin, baiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter untuk menghindari risiko alergi.

    Pemberian suntik vaksinasi MR tidak dapat dilakukan kepada setiap orang. Ada beberapa kondisi yang tidak disarankan menerima suntik vaksinasi MR seperti:

    • Bayi baru lahir.
    • Ibu yang sedang hamil (wanita yang masih dalam perencanaan hamil sangat disarankan).
    • Anak ataupun orang dewasa yang sedang menjalani pengobatan atau sedang mengonsumsi obat penurun sistem imun (Imunosupresan) misalnya pengobatan dengan kortikoseroid.
    • Seseorang yang mengalami lemahnya sistem imun (pada penyakit kanker, HIV).
    • Seseorang dengan kelainan darah seperti anemia, leukimia, trombositopenia atau kelainan darah lainnya.
    • Kelainan fungsi ginjal (sedang menjalani cuci darah).
    • Kelainan fungsi hati.
    • Riwayat adanya hipersensitif terhadap bahan vaksin maupun bahan obat tertentu (sebaiknya lakukan konsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum melakukan vaksinasi).
    • Vaksinasi harus ditunda apabila seseorang yang berencana akan disuntik mengalami gejala demam, batuk, pilek, diare, atau dalam kondisi yang tidak sehat.

    Setelah mengetahui banyaknya manfaat yang dapat dirasakan setelah melakukan vaksinasi MR, serta mengetahui bahwa mitos reaksi paska vaksinsasi dari penyuntikan vaksin MR berupa autisme serta kelumpuhan tidaklah benar, diharapkan kita tidak takut lagi untuk turut serta melaksanakan program pemerintah untuk vaksinasi MR.

    Selain itu, jangan lupa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat untuk mendapatkan segala informasi yang berkaitan dengan kesehatan. Bahkan Moms bisa melakukan vaksin MR dengan layanan dokter ke rumah loh! Penasaran? Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Subuh H, Soepardi J, Yosephine P. Petunjuk Tehnis Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. 1st ed. Jakarta: Direktorat Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan; 2017 [cited 24 August 2018]. Available from: ibi.or.id/media/files/Kampanye%20dan%20Intro%20MR%20Final.pdf
    2. Measles Rubella Immunization Campaign in Java Island on Aug –Sep 2017 [Internet]. South-East Asia Regional Office. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: searo.who.int/indonesia/topics/immunization/MR_CAMPAIGN/en/
    3. Swamy G, Heine R. Vaccinations for Pregnant Women. Obstetrics & Gynecology [Internet]. 2015 [cited 24 August 2018];125(1):212-226. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4286306/
    4. MMR (measles, mumps, rubella) vaccine: advice for pregnant women [Internet]. GOV.UK. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: gov.uk/government/publications/vaccine-in-pregnancy-advice-for-pregnant-women/mmr-measles-mumps-rubella-vaccine-advice-for-pregnant-women
    5. Nelson W, Kliegman R. Nelson Textbook of pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016.
    6. Safety of Immunization during Pregnancy A review of the evidence [Internet]. Who.int. 2018 [cited 24 August 2018]. Available from: who.int/vaccine_safety/publications/safety_pregnancy_nov2014.pdf

     

    Read More
  • Kapan terakhir kali kalian mendapatkan vaksin? Apakah kalian sering melihat saudara atau sepupu kalian memberikan vaksin terhadap anaknya? Vaksin adalah salah satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan karena vaksin berfungsi untuk meningkatkan daya imun anak dan pastinya bermanfaat untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Jenis dari vaksin sendiri bermacam-macam yang bisa diberikan […]

    Bagaimana Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT atau Sering Disebut KIPI

    Kapan terakhir kali kalian mendapatkan vaksin? Apakah kalian sering melihat saudara atau sepupu kalian memberikan vaksin terhadap anaknya? Vaksin adalah salah satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan karena vaksin berfungsi untuk meningkatkan daya imun anak dan pastinya bermanfaat untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Jenis dari vaksin sendiri bermacam-macam yang bisa diberikan pada usia tertentu dan kebanyakan dari vaksin dapat diberikan sejak anak barusan lahir. Lalu bagaimana dengan vaksin DPT? Vaksin DPT adalah salah satu jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah tiga penyakit sekaligus, yaitu penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.

    Lalu kapan kita bisa memberikan vaksinasi DPT pada anak? Vaksin DPT sendiri perlu diberikan berkala sebanyak lima kali, lebih tepatnya sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Vaksinasi pertama dilakukan pada usia 2, 3, dan 4 bulan yang kemudian akan diulangi ketika anak sudah menginjak usia 18 bulan. Vaksinasi DPT akan terakhir diberikan ketika anak berusia 5 tahun dan perlu dilakukan booster atau imunasi ulang setiap 10 tahun sekali.

    Apakah ada reaksi setelah pemberian vaksinasi DPT pada anak? Tentu saja ada, demam ringan dan terjadinya pembengkakan pada daerah suntikan adalah contoh reaksi dari vaksinasi DPT yang biasanya hanya berlangsung selama satu hingga tiga hari.

    Sejatinya, kita tidak perlu mencemaskan ketika anak menjadi demam setelah mendapatkan vaksinasi DPT karena hal ini adalah hal yang lumrah. Namun, pastinya kita tidak mau melihat anak menderita karena demam kan? Selain demam, anak biasanya akan menjadi lebih rewel daripada biasanya. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk permasalahan yang satu ini?

    Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi demam anak setelah vaksinasi DPT:

    1. Diberikan obat penurun panas

    Parasetamol adalah salah satu jenis obat pereda rasa sakit yang aman untuk berikan kepada anak dan pastinya dengan pengawasan tertentu sehingga dosis yang diberikan tidak berlebihan. Kita bisa memberikan parasetamol 15 mg setiap 3 atau 4 jam sekali dan maksimal kita berikan sebanyak 6 kali dalam rentang waktu 24 jam.

    2. Memberikan ASI lebih banyak

    Cara berikutnya yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan menyusui anak lebih sering, karena anak akan merasa lebih nyaman dan dipercaya dapat mengurangi rasa sakit anak. Cara ini bisa dilakukan apabila anak masih menyusu dan apabila anak sudah tidak menyusu kita bisa menggantinya dengan memberikan anak buah. Fungsi buah di sini adalah untuk menyegarkan tubuh anak.

    3. Memakaikan baju tipis

    Ketika anak demam, kita bisa mengganti baju tebal anak dengan baju yang lebih tipis sehingga anak akan merasa lebih nyaman dalam kesehariannya. Memperhatikan tebal baju anak juga berfungsi untuk menurunkan suhu tubuh dan pastinya mempercepat suhu tubuh anak turun. Selain itu, kita juga bisa mengompres bekas suntikan anak dengan air dingin sehingga anak tidak terlalu rewel.

    4. Berendam dengan air hangat

    Air hangat adalah hal yang cocok untuk diberikan pada anak terutama ketika kondisi tubuh mereka sedang tidak fit. Berendam air hangat juga sangat cocok untuk mempercepat suhu tubuh anak kembali menjadi normal dan pastinya juag membuat anak menjadi rileks dan nyaman.

    5. Kompres hangat

    Kompres hangat dapat diberikan pada anak yang sedang demam. Daerah yang dikompres biasanya adalah dahi, kedua ketiak, dan kedua lipat selangkangan. Berikan kompres hangat pada anak setiap 5-10 menit sekali.
    Nah, itu tadi adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menangani demam anak setelah mendapatkan vaksinasi DPT. Pastinya mudah untuk diingat untuk dilakukan bukan? So, mulai sekarang sudah tidak perlu panik lagi ketika anak mengalami demam setelah melakukan vaksinasi ya mom!

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • TBC adalah salah satu penyakit yang menjadi momok untuk banyak orang karena penyakit ini menjadi faktor kematian terbesar yang dapat menyerang segala usia, alias juga bisa menyerang anak-anak di mana daya imun mereka belum terlalu baik. TBC diperkirakan menyebabkan kematian 14 persen lebih banyak daripada malaria dan AIDS dan 10 hingga 15 persen kasus TB […]

    Masih Kena TB padahal Sudah Imunisasi?

    TBC adalah salah satu penyakit yang menjadi momok untuk banyak orang karena penyakit ini menjadi faktor kematian terbesar yang dapat menyerang segala usia, alias juga bisa menyerang anak-anak di mana daya imun mereka belum terlalu baik. TBC diperkirakan menyebabkan kematian 14 persen lebih banyak daripada malaria dan AIDS dan 10 hingga 15 persen kasus TB menyerang anak yang berusia 0 sampai 14 tahun.

    Parahnya lagi, ketika seseorang terserang TBC hal ini sulit diketahui alias gejalanya sulit untuk dikenali. Hal inilah yang menyebabkan penanganan TB terlambat dan dapat berujung pada kematian. Namun terdapat beberapa gejala TB yang bisa kita amati dan perlu kita waspadai ketika anak mulai menunjukkan beberapa perubahan dan pastinya tim dokter juga mengetahui hal ini. Beberapa gejala TB pada anak antara lain adalah nafsu makan yang berkurang atau justru tidak nafsu makan sama sekali, anak yang mudah lelah atau tidak bersemangat sama sekali ketika diajak bermain, mengalami demam dan batuk dalam jangka waktu yang lama; yaitu bisa lebih dari 2 minggu, ataupun berkeringat saat malam hari. Lalu apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah datangnya penyakit ini pada anak?

    Vaksin BCG

    Pemberian vaksin BCG adalah langkah yang tepat untuk mencegah timbulnya penyakit TB menjadi lebih berat di kemudian hari. Vaksin BCG berisi kuman Mycobacterium bovis yang dilemahkan dan tujuan diberikannya vaksin BCG ini adalah untuk membuat mencegah TB yang lebih berat kedepannya. Vaksin BCG dianjurkan untuk diberikan sejak dini karena berbagai manfaat yang bisa kita dapatkan, seperti mengurangi kemungkinan terserang penyakit TB sebanyak 50 persen ketika dewasa bahkan memberikan efek perlindungan yang berlangsung hingga 10 tahun.

    Vaksin BCG sendiri wajib diberikan saat anak barusan lahir hingga berusia 2 bulan dan hal ini perlu diulangi di kemudian hari apabila kita bekerja di bidang yang berinteraksi langsung dengan penderita penyakit TB aktif.

    Lalu seberapa efektif vaksinasi BCG ini? Apakah dengan mendapatkan vaksin BCG berarti kita tidak mungkin terserang penyakit TB di kemudian hari? Faktanya, meskipun telah melakukan vaksin BCG kita tetap berisiko mengalami penyakit TB. Kok bisa? Pemberian vaksin ini hanya berfungsi untuk membuat tubuh kita kebal terhadap Mycobacterium bovis, yaitu penyebab utama penyakit TB. Faktor lingkungan dan pola hidup juga mempengaruhi hal ini, yang berarti ketika pola hidup kita kurang sehat ataupun lingkungan cenderung kotor maka meningkatkan kemungkinan penyakit TB di kemudian hari.

    Bukan hanya faktor lingkungan, kondisi tubuh juga bisa menjadi faktor kita terserang penyakit TB. Ketika daya tahan tubuh menurun atau ketika kita sedang sakit maka akan memudahkan kuman Mycobacterium bovis untuk masuk tubuh dan menyerang sistem imun tubuh kita. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika kita terserang penyakit TB? Tentu saja kita harus menemui dokter segera untuk mencegah penyakit ini bertambah parah dan kita bisa mendapatkan pelayanan kesehatan serta obat gratis melalui Puskemas ataupun pusat layanan kesehatan lainnya.

    Apakah ada reaksi setelah vaksinasi dengan melakukan vaksinasi BCG? Meskipun timbul efek samping dengan pemberian vaksinasi, kita tidak perlu khawatir mengenai hal ini karena hanya akan berlangsung selama 2 hingga 3 hari. Contoh beberapa reaksi yang mungkin timbul adalah timbulnya rasa sakit, kemerahan, ataupun pembengkakan pada daerah sekitar suntikan. Demam jarang terjadi sebagai salah satu bentuk reaksi yang biasanya muncul setelah vaksinasi.

    Nah itu tadi adalah beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai penyakit TB dan vaksinasi BCG sebagai cara untuk mencegahnya. Pastinya tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksinasi BCG? So, tunggu apalagi untuk membawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat dan melakukan vaksin?

    Read More
  • Penyakit Influenza adalah penyakit yang terjadi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus influenza. Beda dengan batuk pilek biasa yang dapat di sembuhkan dengan obat biasa, tapi Influenza dapat menyebabkan sebuah komplikasi yang dapat mengakibatkan sebuah penyakit yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Vaksinasi Influenza adalah sebuah solusi yang sangat baik untuk memberikan kekebalan tubuh […]

    Pilek Bisakah Dicegah dengan Vaksin Influenza?

    Penyakit Influenza adalah penyakit yang terjadi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus influenza. Beda dengan batuk pilek biasa yang dapat di sembuhkan dengan obat biasa, tapi Influenza dapat menyebabkan sebuah komplikasi yang dapat mengakibatkan sebuah penyakit yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Vaksinasi Influenza adalah sebuah solusi yang sangat baik untuk memberikan kekebalan tubuh dan dapat menghidarkan resiko komplikasi penyakitnya. Namun beberapa orang yang telah melakukan vaksinasi mengeluhkan bahwa mereka masih mengalami pilek setelah selesai melakukan vaksinasi.

    Seseorang yang baru saja selesai melakukan vaksinasi memang masih sangat bisa tertular virus influenza, karena vaksinnya baru akan efektif setelah 2 minggu pemakaian hingga satu bulan setelah vaksinasi. Jadi apabila seseorang melakukan vaksinasi dan besoknya terkena pilek bukan berarti vaksinnya tidak bermanfaat tapi antibodinya yang belum berjalan dengan baik. Bukan hanya virus influenza saja yang dapat menyebabkan batuk dan pilek tapi ada beberapa virus lainnya diantaranya adalah virus Parainfluenza, Adenovirus, Rhinovirus dan hMPV

    Pilek cenderung dikategorikan penyakit ringan dan berbeda dengan flu yang dapat menyebabkan sebuah komplikasi penyakit yang berbahaya seperti radang paru (pneumonia), infeksi telinga otitis media akut, infeksi sinus, bronkitis hingga bronkiolitis.

    Berbeda dengan selesma yang cenderung ringan, flu dapat menyebabkan beragam komplikasi seperti penyakit jantung koroner, penyakit paru obstruktif kronik(PPOK), asma dan diabetes mellitus. Flu juga ternyata sudah berkembang dan dikategorikan sebagai salah satu penyakit mematikan. World Health Organizatio(WHO) mencatat bahwa ada sekitar 500 ribu kasus kematian yang diakibatkan oleh penyakit influenza dan sekitar 70 persen yang meninggal akibat penyakit influenza adalah lansia.

    Vaksinasi Influenza sangatlah penting dilakukan dan baiknya satu kali setiap tahun vaksin ini dilakukan, karena virus ini sangatlah cepat menular. Efektivitas yang didapat dari vaksin influenza sangatlah baik bagi tubuh. Vaksinasi sangat berguna untuk diberikan pada anak-anak dan lansia karena di usia anak yang menginjak enam bulan ke atas maka vaksinasi sudah boleh dilakukan. Reaksi paska vakasinasi biasanya hanya akan menimbulkan sakit dan bengkak pada bagian bekas suntikan.

    Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO menyarankan vaksin influenza untuk kategori seperti, anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun, orang lanjut usia(lebih dari 65 tahun), wanita hamil, penderita penyakit kronis dan pekerja medis.
    Seusai melakukan vaksin influenza pasti menimbulkan suatu reaksi yang berbeda-beda. Jika reaksi yang terjadi sangat berbahaya maka segeralah datang dan menghubungi dokter untuk mendapatkan penangganan yang baik dengan tenaga medis. Selain dengan vaksinasi, pencegahan flu dapat juga dilakukan dengan beberapa hal seperti mengurangi kedekatan dan kontak dengan orang yang yang sedang sakit, istirahat yang cukup, makan dan minum yang sesuai pola hidup sehat, gunakan masker saat melakukan sosialisasi dan selalu mencuci tangan dengan sabun sampai bersih.

    Pola hidup sehat memang menjadi penentu untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik dan janganlah mencoba untuk melakukan pola hidup yang kurang baik seperti kurang tidur, telat makan dan sering memakan gorengan. Semua hal itu dapat menyebabnya timbulnya berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh.
    Itulah ulasan mengenai pilek yang dapat dicegah dengan vaksinasi influenza. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi setiap pembacanya dan dapat dijadikan referensi terbaik untuk mencari tau tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi artikel:
    sains.kompas.com/read/2018/05/05/120500223/sudah-vaksin-influenza-kok-masih-batuk-dan-pilek-
    republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/17/11/21/ozqiu3359-sudah-vaksinasi-influenza-masih-batukpilek-ini-alasannya

    Read More

Showing 1–10 of 53 results

Chat Asisten ProSehat aja