Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ vaksinasi”

Showing 31–40 of 51 results

  • Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih […]

    5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi Yang Perlu Kamu Ketahui

    Vaksin. Siapa sih di antara kita yang rutin mendapatkan vaksin sejak dini? Atau siapa sih di antara kita yang belum pernah melakukan vaksin sejak dini? Vaksin lebih dikenal dengan program imuninsasi, di mana program ini rutin diberikan sejak anak berusia dini alias baru berusia beberapa bulan dan perlu diulangi hingga usia tertentu. Memang apa sih sebenarnya imunisasi ini? Imunisasi adalah sebuah program yang dilakukan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya pencegahan penyakit menular dengan cara memberikan vaksin pada satu orang dan orang lainnya yang setelah orang tersebut menerima vaksin pastinya akan lebih resisten alias lebih kebal terhadap penyakit tertentu.

    Memangnya di mana sih kita bisa mendapatkan imunisasi? Jawabannya tentu saja di pelayanan kesehatan terdekat, seperti di Puskesmas, Posyandu, atau bahkan di sekolah anak kita. Lalu bagaimana cara vaksin diberikan pada kita? Ternyata vaksin tidak hanya diberikan dengan metode suntik saja lho! Wah, yang benar nih? Yup, vaksin bisa diberikan dengan berbagai metode seperti dengan cara diteteskan ke dalam mulut dan melalui penyuntikan.Beberapa jenis vaksin ada yang perlu diberikan secara berkala alias tidak cukup hanya diberikan sekali seumur hidup dan vaksin lainnya ada yang cukup hanya diberikan sekali.

    Apakah anak bisa sehat tanpa mendapatkan vaksin? Pertanyaan yang satu ini sering kali muncul di benak kita mengingat banyaknya angka bayi di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin. Pemberian vaksin bukan saja hanya digalakkan di Indonesia saja, tetapi juga menjadi program wajib di beberapa negara maju. Program vaksin yang digalakkan di berbagai negara terbukti sukses meminimalisir timbulnya berbagai penyakit berbahaya pada anak, contohnya saja dalam beberapa tahun terakhir kita hampir tidak pernah mendengar kasus tentang polio liar di Indonesia. Polio merupakan suatu penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.

    Apakah hanya vaksin polio saja yang bisa diberikan pada anak? Kapankah sebaiknya vaksin mulai diberikan? Berbagai pertanyaan sering kali diajukan mengenai vaksin anak terlebih kapankah saat yang tepat dan jenis vaksin apa sajakah yang bisa diberikan untuk anak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, vaksin bisa diberikan pada anak sejak anak berusia beberapa bulan alias sejak bayi. Namun, apakah vaksin hanya cukup perlu dilakukan sekali saja? Pada usia berapakah anak sudah bisa diberikan vaksin?

    Berikut adalah beberapa pertanyaan seputar vaksin bayi yang sering ditanyakan dan harus kita ketahui jawabannya sehingga kita tidak ragu lagi untuk melakukan vaksin bayi:

    1. Kapankah saat yang tepat untuk melakukan vaksin bayi?

    Vaksin bayi sudah dapat diberikan sejak anak lahirm lebih tepatnya dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir. Vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksin hepatitis B (HB) di mana sebelumnya juga akan dilakukan suntikan vitamin K1. Vaksin hepatitis juga perlu dilakukan secara rutin yaitu mulai dari bayi lahir, usia 2, 3, 4 bulan. Selain vaksin hepatitis, sebelum bayi dibawa pulang ke rumah kita juga perlu memberikan vaksin polio dari lahir, 2, 3, 4 bulan. Kita bisa memberikan jenis vaksin lainnya apabila anak sudah berada pada usia tertentu.

    2. Apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan untuk bayi?

    Seperti yang kita bahas sebelumnya, pemberian vaksin sangatlah penting untuk diberikan pada bayi bahkan beberapa jenis vaksin sebaiknya diberikan sebelum bayi dibawa pulang. Terdapat empat jenis vaksin yang seharusnya diberikan sebelum bayi menginjak usia satu tahun, yaitu vaksin polio, DPT, campak, BCG, serta hepatitis B. Vaksin hepatitis B hanya diberikan satu kali sebelum bayi menginjak usia dua bulan dan setelahnya kita perlu melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin BCG dilanjutkan. Vaksin DPT adalah vaksin yang wajib diberikan berikutnya di mana vaksin ini merupakan vaksin gabungan untuk meminimalisir datangnya penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), serta tetanus. Vaksin DPT ini perlu diberikan sebanyak lima kali ketika anak menginjak usia dua bulan hingga lima tahun.

    3. Apakah efek samping yang biasanya timbul setelah bayi mendapatkan vaksin?

    Faktanya, kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena efek samping yang timbul ketika vaksin diberikan hanyalah sementara dan tidak akan mengancam keselamatan jiwa anak. Beberapa efek samping yang biasanya timbul adalah timbulnya ruam merah serta daerah yang cukup bengkak dan nyeri pada daerah suntikan dan hal ini hanyalah berlangsung beberapa jam atau hingga dua hari. Penanganan efek paska suntikan bukanlah suatu perkara yang sulit karena yang perlu kita lakukan hanyalah mengompres dingin daerah suntikan dan lama-lama bengkak akan hilang dengan sendirinya dan bayi pun tidak akan merasa nyeri lagi. Bayi juga biasanya akan mengalami demam ringan serta tidak selera makan seperti biasanya dan kita tidak perlu mencemaskan hal ini karena hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.

    4. Apa jadinya jika kita terlambat memberikan vaksin pada bayi?

    Pertanyaan ini sering kali diajukan terlebih bagi orang tua yang sudah rutin memberikan vaksin pada anaknya. Kabar baiknya, tidak akan ada efek samping ketika kita terlambat memberikan vaksin lanjutan apabila kita sudah memberikan vaksin wajib terlebih dahulu. Kita juga bisa menunda pemberian vaksin pada anak ketika mereka dalam kondisi yang sedang tidak fit, seperti anak sedang flu, batuk, demam, ataupun diare. Meskipun penyakit ini terlihat sepele, sebaiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu terhadap dokter agar tidak timbul efek samping yang dapat membahayakan anak kita

    5. Kenapa sih bayi perlu mendapatkan vaksin?

    Pertanyaan yang satu ini merupakan pertanyaan yang paling mendasar sebelum kita melakukan vaksin pada anak. Tentu saja jawabannya sangat jelas, yaitu untuk meminimalisir datangnya penyakit berbahaya pada anak kita sejak dini dan mencegah anak tertular penyakit infeksi dari orang lain. Kita juga tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam ringan setelah diberikan vaksin karena hal ini adalah reaksi alami terhadap imun yang dimasukkan melalui vaksin dan pastinya membuat daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat. Ketika anak tidak mendapatkan imunisasi justru hal ini akan membahayakan kesehatan anak bahkan dapat menyebabkan kecatatan pada anak karena penyakit tertentu bahkan berujung pada kematian.

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah jelas kan mengenai pentingnya melakukan vaksin pada bayi? Setelah kita paham tentang hal yang satu ini pastinya tidak ada alasan lagi kan untuk menunda memberikan vaksin pada bayi kita. So, tunggu apalagi? Yuk, berikan vaksin pada bayi di fasilitas kesehatan terdekat!

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Hepatitis A mungkin sering terdengar oleh Sobat apalagi  mengenai bahaya penyakit ini. Berita mengenai wabah hepatitis A banyak terdengar dan sering menyerang mahasiswa-mahasiswa. Sobat pasti sedikit was-was, apalagi ketika tahu penularan penyakit ini melalui makanan yang tercemar oleh virus Hepatitis A. Nah, mari kita lebih mengenal jauh seluk beluk penyakit ini. Hepatitis A disebabkan oleh virus […]

    Pencegahan Hepatitis A – Yuk Dipahami Lebih Jauh

    Hepatitis A mungkin sering terdengar oleh Sobat apalagi  mengenai bahaya penyakit ini. Berita mengenai wabah hepatitis A banyak terdengar dan sering menyerang mahasiswa-mahasiswa. Sobat pasti sedikit was-was, apalagi ketika tahu penularan penyakit ini melalui makanan yang tercemar oleh virus Hepatitis A. Nah, mari kita lebih mengenal jauh seluk beluk penyakit ini.

    Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A yang menyerang organ hati kita. Penyakit ini menyebar melalui fekal (anus) dan oral (mulut). Kotoran penderita hepatitis A yang mengandung virus dapat tersebar dan mencemari lingkungan. Selain itu, makanan yang terkontaminasi virus berasal dari makanan yang tidak bersih. Seringkali makanan seperti sayuran, kerang, dan makanan laut menjadi sumber penyebaran penyakit ini. Kemudian, sumber air juga dapat terkontaminasi oleh virus hepatitis A, sehingga kita harus lebih waspada.  Penyebaran lain hepatitis  A dapat melalui kontak erat dan lama dengan penderita, saat menyiapkan makanan, hubungan seks tanpa pengaman lewat anus, serta transfusi darah dari penderita hepatitis A.

    Beberapa orang berisiko terkena hepatitis A seperti wisatawan, orang yang kerjanya berhubungan dengan makanan (koki, pramusaji), pasangan gay, dan pengguna jarum suntik narkoba. Mereka yang bekerja di laboratorium dan berhubungan dengan virus hepatitis A juga memiliki risiko terkena penyakit ini.

    Baca Juga: Apa Itu Vaksin Hepatitis B

    Setelah kita mengetahui cara penularan hepatitis A, mari kita beranjak untuk mengetahui gejala yang sering dikeluhkan penderita. Kulit yang menguning merupakan gejala yang sering terjadi pada hepatitis A. Hal ini disebabkan karena hati sedang mengalami peradangan sehingga bilirubin (zat kuning) yang seharusnya diolah di hati menjadi tidak terolah dan menimbulkan warna kuning pada kulit. Warna kuning sering terlihat di mata, telapak kaki dan tangan serta badan. Peradangan pada hati dapat disertai dengan pembesaran hati. Selain kuning, urin berwarna gelap dan feses berwarna pucat juga sering ditemui. Lalu, penderita hepatitis A seringkali mengalami mual dan muntah yang hebat, sehingga nafsu makan mereka pun akan menurun. Demam, diare, badan lemas dan lesu, rasa tidak nyaman di perut  juga menyertai penyakit ini. Waspada ya, Sobat, penyakit ini bisa menyerang siapa saja, loh.

    Jangka waktu masuknya virus hepatitis A hingga timbulnya gejala penyakit lebih kurang 15-50 hari. Gejala biasanya tidak berlangsung lebih dari 2 bulan, meskipun pada 10 hingga 15% penderita akan mengalami perpanjangan atau kekambuhan gejala pada lebih dari 6 bulan. Pada anak kurang dari 6 tahun, penyakit hepatitis virus A bahkan tidak bergejala atau asimptomatik.

    Penderita hepatitis A jarang mengalami komplikasi dari penyakit yang dideritanya. Namun, komplikasi pernah ditemukan dan mengenai sistem imun, saraf, darah, pankreas dan sekitar ginjal. Hepatitis fulminan merupakan komplikasi terberat yang jarang terjadi. Hepatitis fulminan menyebabkan gagal hati akibat kerusakan hati berat yang diderita akibat virus hepatitis A. Komplikasi ini sering terjadi pada penderita hepatitis A dengan usia di atas 40 tahun ke atas.

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan HPV / Kanker Serviks

    Penyakit hepatitis A ini ternyata terdengar menyeramkan juga, ya, sehingga pencegahan hepatimerupakan usaha terbaik yang dapat kita lakukan agar tidak tertular oleh virus hepatitis A ini. Bagaimanakah pencegahan hepatitis A terkini? Yuk, mari kita lihat penjelasannya berikut ini.

    Vaksinasi Hepatitis A

    Hepatitis A dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Vaksinasinya berisi virus hepatitis A yang sudah mati/tidak aktif  yang akan merangsang sistem imun dan menghasilkan antibodi yang akan melindungi kita dari virus hepatitis A.

    Vaksinasi hepatitis A diberikan 2 kali dengan selang waktu 6-12 bulan. Setelah suntikan pertama, vaksin akan mulai bekerja 2 minggu setelah pemberian. Vaksinasi pada anak dapat diberikan setelah usia 2 tahun dan diberikan dalam 2 dosis juga.

    Baca Juga: 7 Informasi Penting Seputar Hepatitis A yang Perlu Kamu Ketahui

    Vaksinasi hepatitis A dianjurkan diberikan pada orang yang sering berpergian ke daerah yang banyak terdapat hepatitis A, laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki (pasangan gay), pengguna obat-obatan terlarang, orang yang memiliki riwayat penyakit hati kronis seperti hepatitis B dan C, orang yang sedang dalam pengobatan dengan menggunakan faktor pembekuan darah,  peneliti yang bekerja dengan hewan yang terinfeksi hepatitis A atau pekerja laboratorium yang bekerja dengan virus hepatitis serta orang tua asuh yang akan mengadopsi anak yang berasal dari negara endemis hepatitis A.

    Lalu, siapa saja yang tidak boleh mendapatkan vaksinasi hepatitis A?Mereka yang memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin dan bila Sobat sedang sakit atau terkena flu, sebaiknya pemberian vaksin ditunda terlebih dulu.

    Menjaga Kebersihan Diri dan Makanan yang Dikonsumsi

    Pencegahan berikutnya berhubungan dengan kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Pastikan Sobat selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, setelah buang air besar/kecil, sebelum mengolah/menghidangkan makanan, sebelum menyusui bayi dan setelah mengganti popok bayi.

    Produk Terkait:

    Pengolahan makanan juga harus diperhatikan agar terhindar dari kontaminasi virus hepatits A. Sebenarnya, pengolahan makanan harus diperhatikan dari mulai penanaman sayuran. Memasak makanan yang benar dan sampai matang, penggunaan air bersih, menggunakan bahan-bahan yang segar adalah pencegahan dari hepatitis A.6

    Jadi Sobat, setelah mengetahui seluk beluk penyakit hepatitis A, ayo kita cegah penyakit ini dengan vaksinasi serta tidak lupa menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Jangan sampai kita tertular virus ini, ya. Segera datangi layanan kesehatan terdekat disekitar anda untuk mendapatkan vaksinasi hepatitis A. Jangan lupa ajak keluarga dan teman-teman juga.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Suwito A. Hepatitis A. [Internet]. Retrieved from: Tanyadok
    2. E. Fiore A. Hepatitis A transmitted by food. Clinical Infectious Disease. 2004; 38: 705-715.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and prevention of vaccine-preventable diseases. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/hepa.html (01.07.2018)
    4. Gillroy RK. Hepatitis A clinical presentation. 2017. [Internet]. Retrieved from: emedicine.medscape.com (01.07.2018)
    5. Pallavi K, Sravani D, Durga S, et al. Hepatitis-A: Review on Current and Future Scenario. Journal of In Silico & In Vitro Pharmacology. 2017, 3:1.
    6. Herdiana M, Arief S, Setyoboedi B. Mengenal hepatitis A pada anak. 2015. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
    Read More
  • Vaksin hepatitis B termasuk salah satu jenis imunisasi yang diberikan ketika bayi baru lahir. Apa itu hepatitis B? Mengapa harus diberikan sejak dini? Seberapa pentingkah vaksin ini perlu diberikan pada buah hati Anda? Apa Efek Sampingnya? Mungkin ada banyak pertanyaan tentang hepatitis B di benak Sahabat, nah simak dulu ulasan di bawah ini: Vaksin hepatitis […]

    Apa Itu Vaksin Hepatitis B? Berikut Penjelasannya

    Vaksin hepatitis B termasuk salah satu jenis imunisasi yang diberikan ketika bayi baru lahir. Apa itu hepatitis B? Mengapa harus diberikan sejak dini? Seberapa pentingkah vaksin ini perlu diberikan pada buah hati Anda? Apa Efek Sampingnya? Mungkin ada banyak pertanyaan tentang hepatitis B di benak Sahabat, nah simak dulu ulasan di bawah ini:

    Vaksin hepatitis B dilakukan untuk mencegah infeksi virus hepatitis B. Pada anak, virus hepatitis B dapat ditularkan dari ibu yang menderita hepatitis B saat persalinan. Sedangkan pada remaja, virus hepatitis B ditularkan melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik pada pengguna narkoba. Infeksi virus hepatitis B menyebabkan peradangan pada hati yang memberikan gejala demam, mual/muntah, dan kuning pada mata dan kulit. Infeksi kronik oleh hepatitis B dapat menyebabkan komplikasi sirosis hepatis dan kanker hati.

    Kapan vaksin hepatitis B bisa diberikan?

    Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), vaksin hepatitis B pada bayi dianjurkan untuk diberikan pada bayi sejak lahir, lalu diberikan kembali pada usia bayi 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan. Sedangkan pada orang dewasa (rentang usia 19 tahun sampai dengan usia di atas 65 tahun), vaksin hepatitis B disarankan sebanyak 3 kali (bulan ke 0, 1 dan 6).

    Bagi Sahabat wanita, sebenarnya vaksin hepatitis B termasuk sangat disarankan. Mengutip pemaparan Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI dari FKUI/RSCM, vaksin hepatitis B adalah salah satu vaksin ‘wajib’ untuk perempuan usia reproduktif. “Untuk melindungi diri dari penyakit yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual, sekaligus melindungi calon bayi,” urainya. Idealnya, vaksinasi dilakukan sebelum perempuan berhubungan seksual untuk pertama kali.

    Baca Juga: 7 Informasi Penting Seputar Hepatitis A yang Perlu Kamu Ketahui

    Namun jika sudah hamil sebelum mendapat vaksin, maka vaksin hepatitis B tetap bisa diberikan saat hamil. Pasalnya ini termasuk jenis vaksin mati yang berasal dari partikel antigen permukaan virus yang tidak bersifat menginfeksi, sehingga tidak ada risiko infeksi ke janin.

    Vaksin terutama dianjurkan untuk bumil yang memiliki faktor risiko. Misalnya memiliki pasangan seksual lebih dari satu dalam 6 bulan terakhir, memiliki pasangan yang positif HbsAg, pengguna, mantan pengguna atau memiliki pasangan pengguna narkoba suntik, serumah dengan penderita hepatitis B. Vaksin diberikan dalam tiga dosis, dilakukan pada bulan ke-0, 1 dan 6.

    Saat hamil, lakukan pemeriksaan HBsAg. Bila positif, bayi harus diberi vaksin hepatitis B dan suntikan HBIg (antibodi hepatitis B) segera setelah lahir di paha yang berbeda. Perlu dilakukan <24 jam setelah bayi lahir, untuk melindungi diri dari infeksi hepatitis B. Bila HBsAg negatif, bayi sebaiknya tetap diberi vaksin.

    Siapa yang tidak disarankan menerima vaksin hepatitis B?

    Pada  dasarnya  jadwal  vaksinasi  hepatitis  B  bayi kurang  bulan  atau  bayi  berat  lahir  rendah  sama dengan  bayi  cukup  bulan,  hanya  dosis  yang pertama diberikan pada umur 2 bulan atau lebih sesuai dengan usia kronologisnya, atau berat badan telah mencapai ≥ 2 kg. Kecuali apabila diketahui ibu mempunyai titer HBsAg positif, vaksin hepatitis B mulai diberikan dalam 12 jam pertama dan dosis pertama ini tidak dihitung, namun dilanjutkan 3 dosis lagi sampai total 4 dosis dengan jadwal yang sama dengan bayi cukup bulan (0,1,6 bulan).

    Baca Juga: 12 Cara Cegah Penularan Hepatitis B

    Vaksin hepatitis B aman untuk diberikan, namun perlu perhatian khusus bagi orang-orang yang pernah diberikan vaksin hepatitis B dan alami reaksi alergi berat pasca vaksinasi hepatitis B, yaitu sesak nafas atau syok anafilaksis. Reaksi alergi ini juga perlu diwaspadai pada orang-orang yang memiliki alergi berat terhadap ragi. Pemberian vaksin hepatitis B juga sebaiknya ditunda pada orang yang sedang demam tinggi (> 38 derajat Celsius) pada hari pemberian.

    Efek samping vaksin hepatitis B?

    Beberapa reaksi yang umum terjadi setelah vaksinasi hepatitis B adalah adanya reaksi lokal pada lokasi suntikan, misalnya rasa nyeri, bengkak dan kemerahan pada lokasi suntik. Selain itu, demam juga bisa terjadi. Reaksi-reaksi ini umumnya ringan dan akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 hari. Bila ada reaksi pasca vaksinasi yang menetap, sebaiknya Sahabat berkonsultasi ke dokter.

    Baca Juga: Hepatitis B – Faktor Risiko, Gejala, Penanganan, Pengobatan, Pencegahan

    Jika vaksin hepatitis B dianjurkan untuk mencegah penyakit hepatitis B, lantas apa itu penyakit hepatitis B?

    Hepatitis B adalah penyakit pada organ hatiyang diakibatkan oleh infeksi virus hepatitis B dan dapat terjadi secara akut maupun kronis. Hepatitis B yang tidak mendapat pengobatan secara tepat, dapat berkembang menjadi sirosis hati ataupun kanker hati. Kedua kondisi ini dapat berakibat pada kematian. Menurut WHO, sejak tahun 2000 angka kematian karena hepatitis B mencapai 600.000 jiwa per tahunnya.

    Seberapa berbahaya virus hepatitis B?

    Virus Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati. Virus ini dapat ditransmisikan melalui kontak darah atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. Sekitar 350 juta orang di dunia telah terinfeksi virus Hepatitis B. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, setiap tahunnya terdapat 100.000 orang yang terinfeksi dengan virus Hepatitis B. WHO merekomendasikan untuk melakukan imunisasi hepatitis B terutama untuk bayi.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis B, salah satu solusi pencegahannya dengan melakukan vaksin hepatitis B. Kini Anda tak perlu bingung, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Produk Terkait: 

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Bonita Effendi B. TanyaDok.com | Pentingnya Imunisasi Hepatitis B [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    2. Trisbiantara I. TanyaDok.com | Tanya Jawab: Hepatitis B [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    3. Trisbiantara I. TanyaDok.com | Tanya Jawab: Hepatitis B [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    4. Imunisasi Hepatitis B Pada Anak – BundaNet [Internet]. BundaNET. 2018 [cited 2 July 2018].
    5. Vaksin Hepatitis B, Segala Hal Yang Perlu Anda Tahu | Dunia Kesehatan [Internet]. Dunia Kesehatan. 2018 [cited 2 July 2018].
    6. Vaksinasi Hepatitis B untuk Ibu [Internet]. Otcdigest.id. 2018 [cited 2 July 2018].
    7. Vaksin Hepatitis B [Internet]. Babyologist.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    8. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 2 July 2018].
    9. Djauzi, Samsuridjal, dkk. 2017. Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa 2017. Jakarta. Interna Publishing, Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.

     

    Read More
  • Vaksinasi merupakan upaya perlindungan optimal untuk mencegah penularan infeksi penyakit. Pada beberapa kasus vaksinasi menjadi hal utama yang harus dilakukan. Misalnya, imunisasi anak, vaksinasi wajib sebelum bepergian untuk persyaratan visa, yaitu vaksinasi meningitis. Untuk Anda yang belum mengetahui meningitis, Meningitis adalah terjadinya pembengkakan pada selaput (meninges) yang mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang. Bengkak yang […]

    Vaksinasi Antre? Yuk, Vaksinasi di Rumah Saja

    Vaksinasi merupakan upaya perlindungan optimal untuk mencegah penularan infeksi penyakit. Pada beberapa kasus vaksinasi menjadi hal utama yang harus dilakukan. Misalnya, imunisasi anak, vaksinasi wajib sebelum bepergian untuk persyaratan visa, yaitu vaksinasi meningitis.

    Untuk Anda yang belum mengetahui meningitis, Meningitis adalah terjadinya pembengkakan pada selaput (meninges) yang mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang. Bengkak yang ditimbulkan dari meningitis akan memicu beberapa gejala seperti sakit kepala, demam dan leher terasa kaku. Meningitis dapat meniru gejala-gejala influenza, namun akan berkembang lebih dari beberapa jam ataupun beberapa hari. Bila tidak ditangani dengan tepat, meningitis dapat berakibat fatal dengan meningkatnya risiko kerusakan otak secara permanen hingga kematian.

    Cukup membuat ngeri bukan? Maka dari itu penting untuk melakukan vaksinasi sebagai upaya pencegahan. Sayangnya, untuk mendapatkan vaksinasi seringkali Anda perlu mengantre panjang di rumah sakit. Oleh sebab itu, mau tidak mau Anda bisa menghabiskan waktu seharian untuk melakukan vaksinasi. Tapi sekarang Anda bisa melakukan vaksinasi ke rumah yang bisa Anda dapatkan di Pro Sehat.

    Apa saja sih keuntungan yang bisa kita dapatkan jika vaksinasi ke rumah? Yuk kita intip.

    1. Bebas Pilih Jadwal & Tempat Vaksinasi Tanpa Antre
      Mau vaksinasi tapi waktunya nggak tepat, tapi Anda tidak perlu khawatir. Karena jadwal vaksinasi bisa Anda pilih sendiri. Mau vaksinasi di hari kerja? Atau di weekend? Bisa semua kok, selain itu tempat vaksinasi bisa dilakukan di rumah jadi lebih nyaman dan nggak perlu ketemu macet.
    2. Vaksinasi Dijamin Asli
      Takut dapat vaksinasi yang palsu? Jangan khawatir, karena di sini Anda akan mendapatkan vaksinasi yang dijamin asli. Untuk melihat vaksin asli atau tidak dengan cara, kemasan vaksinasi masih tersegel rapi, terdapat label keterangan seputar vaksin, label ampul yang telah diberikan akan dilepas dan ditempelkan pada buku kesehatan yang Anda gunakan
    3. Ditangani langsung oleh dokter profesional
      Selain itu Anda akan ditangani oleh dokter yang telah memiliki izin resmi dalam melakukan vaksinasi. Selain itu Anda dapat  berkonsultasi dengan dokter secara langsung jadi aman dan nyaman.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!.

    Sumber :

    1. Mayo Clinic. “Meningitis”. mayoclinic.org
    2. Suseno, Agassi. “Beribadah Haji atau Melancong ke Arab Saudi? Vaksin Dulu, Yuk!”. tanyadok.com
    Read More
  •   Kanker serviks menjadi hal yang menakutkan bagi para wanita di dunia termasuk di Indonesia. Persepsi seseorang pada penyakit ini masih dianggap miring, karena pola hidup yang kurang sehat, merokok, infeksi kelamin  hingga seringnya berganti-ganti pasangan. Memang hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kanker serviks. Kanker yang menyerang daerah leher rahim wanita ini disebabkan […]

    Takut Sama Kanker Serviks? Vaksinasi HPV Aja

     

    Kanker serviks menjadi hal yang menakutkan bagi para wanita di dunia termasuk di Indonesia. Persepsi seseorang pada penyakit ini masih dianggap miring, karena pola hidup yang kurang sehat, merokok, infeksi kelamin  hingga seringnya berganti-ganti pasangan. Memang hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kanker serviks.

    Kanker yang menyerang daerah leher rahim wanita ini disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus).  Kanker ini tidak memiliki gejala, hingga seseorang baru mengetahui terkena kanker serviks setelah mencapai stadium lanjut. Jika kalian yang mengalaminya bagaimana? Rasa takut dan hancur menjadi satu karena kanker serviks merenggut masa depanmu.

    Mengatasi ketakutan kalian pada kanker serviks, maka bisa dicegah dengan vaksinasi HPV. Namun sebelum melakukan vaksinasi, harus ketahui beberapa hal berikut ini.

    1. Vaksinasi HPV Dapat diberikan Pada Anak-anak
      Beberapa pendapat dari Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP) serta Centre for diagnosis Control Prevention (CDC) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi HPV dapat diberikan pada anak perempuan mulai dari usia 10 tahun.
    2. Mungkin Anda pernah mendengar atau mendapat broadcast tentang vaksinasi HPV yang bisa menyebabkan menopause?
      Jangan langsung percaya, kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto menyangkal hal tersebut. Menurutnya “Setiap 1 jam ada 33 wanita di Indonesia meninggal karena kanker serviks. Dengan tingginya kasus kanker serviks maka pemerintah mengambil keputusan untuk memberikan vaksinasi guna mencegah kanker serviks. Sedangkan berita di luar sana tidak bisa di pertanggungjawabkan alasannya”.
      Menopause sendiri dipengaruhi dari fungsi sel ovarium yang berkurang karena usia sehingga produksi hormon estrogen menurun. Penyebab lainnya akibat dari operasi pengangkatan ovarium (yang dilakukan bersamaan dengan pengangkatan kandungan atau histerektomi) atau adanya paparan radiasi dan juga kemoterapi.
    3. Paps Smear Dulu Baru Vaksinasi HPV
      Untuk Anda wanita yang telah aktif secara seksual disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear yang berfungsi untuk mendeteksi sel abnormal atau lesi prakanker dan dilakukan secara berkala untuk wanita berusia di atas 40 tahun atau wanita yang beresiko tinggi terkena kanker. Apabila menunjukkan hasil negatif, maka bisa dijalankan proses vaksinasi HPV.
    4. Vaksinasi HPV Dilakukan Sebanyak 3 Kali
      Untuk pemberian vaksinasi HPV ini pada umumnya dilakukan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu 0, 2 dan 6 bulan dan pemberian tidak dianjurkan melebihi dari waktu 1 tahun. Khusus untuk anak usia 10-13 tahun, cukup dengan pemberian 2 dosis, yaitu bulan 0 dan bulan 6.
    5. Dapat Mencegah Penyebaran Kanker Serviks
      Hingga saat ini, penelitian menunjukkan keberhasilan vaksinasi HPV bisa mencapai 100%. Walau demikian, tetap disarankan untuk melakukan pap smear secara berkala sebagai pencegahan sekunder.

    Jadi itulah hal-hal yang perlu Anda ketahui seputar vaksinasi HPV. Mari cegah sekarang juga, lindungi dirimu dan orang yang Anda cintai dengan vaksinasi HPV guna cegah kanker serviks. Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Sumber:

    1. TanyaDok. “Info Tentang Kanker Serviks”. tanyadok.com
    2. Khusen, Daniel Denny. “Kanker Serviks Pembunuh Banyak Wanita” . tanyadok.com
    3. Winardo, Donny Sutrisno. “Kanker Serviks dan Imunisasi HPV”. tanyadok.com
    4. CDC. “Human Papillomavirus (HPV)”. cdc.gov
    5. Alief, Bisma. “Ini Penjelasan Dinkes DKI Soal Kabar Vaksin Sebabkan Menopause Dini”. detik.com
    6. Valentine, Maria. “Apa Sebenarnya Menopause Bagi Wanita?”. tanyadok.com
    7. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id

     

    Read More
  • Penyakit Tuberkulosis pada anak merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang paru serta organ tubuh lainnya. Gejala penyakit ini pada anak tidak khas, sehingga pengobatan sering terlambat atau terabaikan. Anak sangat rentan terhadap penyakit ini terutama bagi mereka yang kontak erat dengan penderita TB dewasa karena imunitas anak yang belum optimal. Pemeriksaan […]

    PENTINGNYA VAKSINASI BCG BAGI ANAK

    Penyakit Tuberkulosis pada anak merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang paru serta organ tubuh lainnya. Gejala penyakit ini pada anak tidak khas, sehingga pengobatan sering terlambat atau terabaikan. Anak sangat rentan terhadap penyakit ini terutama bagi mereka yang kontak erat dengan penderita TB dewasa karena imunitas anak yang belum optimal. Pemeriksaan penyakit ini tidak hanya melalui pemeriksaan rontgen dada, tetapi melalui tes mantoux dan sistem skoring TB anak.

    Bagaimana agar anak Anda dapat terhindar dari penyakit ini? Salah satu pencegahan penyakit TB adalah dengan diberikannya vaksin BCG pada anak. Vaksin BCG penting untuk mencegah tuberkulosis berat. Vaksin ini mengandung bakteri penyebab TB yang dilemahkan, sehingga bila disuntikkan pada orang sehat, maka akan membentuk kekebalan pada tubuh. Menurut rekomendasi IDAI, vaksin BCG diberikan 1 kali pada saat bayi lahir hingga usia 2 bulan. Vaksin ini sangat efektif untuk mencegah komplikasi TB yang parah yaitu TB yang menyerang selaput otak (meningitis TB), dengan perlindungan 70% lebih kuat.

    Vaksin BCG direkomendasikan untuk bayi yang baru lahir, anak dengan tes tuberkulin negatif dan memiliki riwayat kontak dengan penderita TB dewasa.Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil dan orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (orang dengan HIV, penerima donor organ, dll).

    Vaksin BCG disuntikkan secara intrakutan pada bahu lengan atas. Reaksi akibat vaksin yang sering terjadi adalah timbulnya bisul pada tempat suntikan. Selain itu, reaksi ringan lain yang dapat terjadi adalah pembesaran kelenjar getah bening pada bagian ketiak atau leher. Reaksi lain yang harus diwaspadai adalah timbulnya reaksi yang berat antara lain benjolan yang berubah menjadi bisul yang bernanah/keloid, reaksi syok anafilaksis dan peradangan yang terjadi pada kelenjar getah bening (limfadenitis). Oleh karena itu, orang tua harus mengawasi bayi dan anaknya setelah vaksin dan melihat apakah ada reaksi-reaksi tersebut.

    Jadi, segera bawa anak Anda untuk menerima vaksin BCG, sehingga anak dapat terhindar dari penularannya. Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. TB Anak. 2018.[internet]. Retrieved from: tbindonesia.or.id
    2. Queensland Health. Lembar fakta vaksinasi BCG. [internet]. Retrieved from: health.qld.gov.au
    3. Center for Diseases Control and Prevention.BCG Vaccine. [internet]. Retrieved from: cdc.gov
    4. World Health Organization. Information sheet observed rate of vaccine reactions: BCG Vaccine.2012. Retrieved from: who.int
    5. YolAnda N. Skar BCG. 2016. Retrieved from: idai.or.id
    Read More
  • Vaksin pada orang dewasa tidak terlalu populer dibandingkan dengan vaksin bagi anak-anak. Hal ini disebabkan karena orang dewasa merasa sudah terlindungi karena vaksin yang telah mereka dapatkan sewaktu kecil. Padahal, beberapa kondisi mengharuskan orang dewasa untuk mendapatkan vaksin seperti saat pergi melancong ke daerah endemis atau saat pergi haji/umroh. Lalu, ada beberapa orang dewasa yang […]

    KONSUMSI OBAT RUTIN, BOLEHKAH VAKSINASI?

    Vaksin pada orang dewasa tidak terlalu populer dibandingkan dengan vaksin bagi anak-anak. Hal ini disebabkan karena orang dewasa merasa sudah terlindungi karena vaksin yang telah mereka dapatkan sewaktu kecil. Padahal, beberapa kondisi mengharuskan orang dewasa untuk mendapatkan vaksin seperti saat pergi melancong ke daerah endemis atau saat pergi haji/umroh. Lalu, ada beberapa orang dewasa yang rutin mengkonsumsi obat tertentu karena penyakitnya, seperti obat jantung, obat anti diabetes, anti hipertensi, dan sebagainya. Bagaimana dengan pemberian vaksin terhadap mereka?

    Orang dewasa dengan riwayat penyakit jantung dan konsumsi rutin obat jantung, riwayat menderita penyakit paru kronik dan diabetes tetap direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin. Orang dewasa dengan diabetes melitus lebih rentan terkena penyakit seperti penyakit influenza dan hepatitis B bila menyerangnya dapat meningkatkan kadar gula darah. Penderita diabetes juga berisiko lebih tinggi untuk terserang infeksi paru (pneumonia), infeksi pada darah dan infeksi selaput otak (meningitis). Pemberian vaksin merupakan cara terbaik untuk melindungi kesehatan Anda meskipun mengonsumsi obat teratur.

    Begitu pula dengan orang dewasa dengan riwayat penyakit jantung dan penyakit paru kronis. Mereka lebih berisiko terkena komplikasi penyakit yang dianggap biasa oleh sebagian orang. Misalnya penyakit flu pada orang dengan riwayat jantung dan penyakit paru kronis lebih meningkatkan risiko mereka untuk terkena serangan jantung bila dibandingkan dengan orang sehat. Vaksin hanya tidak boleh diberikan pada orang yang memiliki alergi terhadap komposisi vaksin. Jadi, jangan ditunda lagi pemberian vaksin pada mereka dengan kondisi penyakit kronis ini. Vaksin sangat aman dan efektif bagi mereka yang hidup dengan penyakit kronis.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. Center for Diseases Control and Prevention. Recommended Immunizations for adults. 2017. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    2. Center for Diseases Control and Prevention. What you need to know about diabetes and adult vaccines. 2015. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    3. Center for Diseases Control and Prevention. What you need to know about heart diseases and adult vaccines. 2015. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    4. Center for Diseases Control and Prevention. What you need to know about heart diseases and adult vaccines. 2015. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    Read More
  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More
  • Difteri merupakan penyakit infeksi saluran napas atas yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Penularan terjadi lewat udara saat penderita bersin atau batuk Penyakit ini bisa berbahaya karena menyerang daerah nasofaring (tenggorokan), membentuk selaput semu (pseudomembran) di tenggorokan, menyebabkan penyumbatan saluran napas atas yang dapat mengakibatkan kematian. Komplikasi dari difteri antara […]

    APAKAH ORANG DEWASA BUTUH VAKSINASI DIFTERI?

    Difteri merupakan penyakit infeksi saluran napas atas yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Penularan terjadi lewat udara saat penderita bersin atau batuk Penyakit ini bisa berbahaya karena menyerang daerah nasofaring (tenggorokan), membentuk selaput semu (pseudomembran) di tenggorokan, menyebabkan penyumbatan saluran napas atas yang dapat mengakibatkan kematian. Komplikasi dari difteri antara lain peradangan pada jantung (miokarditis), gagal ginjal, neuritis, dan tromobositopenia.

    Sebagai respon atas merebaknya kasus difteri di Indonesia pemerintah mengajurkan untuk melakukan vaksinasi difteri sebagai pencegahan. Kejadian ini di respon pemerintah Indonesia melalui ORI (Outbreak Response Immunization) dengan memberikan imunisasi difteri untuk penduduk usia 1-19 tahun yang tinggal di daerah terjangkitnya kasus difteri.

    Walaupun yang diwajibkan oleh pemerintah untuk dilakukan vaksinasi difteri adalah usia 1-19 tahun melalui program ORI, bukan berarti orang dewasa yang berusia lebih dari 19 tahun tidak memerlukan vaksin difteri tersebut. Vaksinasi difteri untuk orang dewasa dapat dilakukan secara mandiri di fasilitas-fasilitas kesehatan.

    Vaksinasi difteri untuk orang dewasa diberikan jenis vaksinasi Td atau Tdap. Dilanjutkan dengan pemberian vaksinasi penguat (booster) minimal setiap 10 tahun sekali. Vaksin Tdap adalah vaksin kombinasi untuk menangkal infeksi tetanus, difteri, dan pertusis (batuk rejan). Tdap terbuat dari bakteri yang sudah diinaktifkan sehingga tidak menimbulkan reaksi sakit. Sedangkan vaksin Td adalah booster vaksin untuk tetanus dan difteri tanpa komponen pertusis. Pemberian vaksinasi dapat dilakukan kapan saja. Menurut rekomendasi CDC tahun 2013, vaksin ini juga aman diberikan pada usia 65 tahun lebih.

    Sebaiknya orang dewasa yang perlu untuk mendapatkan vaksinasi difteri atau vaksinasi Tdap, terlebih pada kondisi sebagai berikut:

    1. Belum pernah mendapatkan vaksinasi difteri sebelumnya.
    2. Petugas kesehatan yang sering kontak dengan pasien.
    3. Orangtua, kakek, nenek, atau pengasuh bayi yang merawat anak usia di bawah 1 tahun.
    4. Berencana melakukan perjalanan ke daerah yang berpotensi difteri.
    5. Bermukim di wilayah yang terjangkit difteri.
    6. Ibu hamil dengan usia kandungan sekitar 27-36 minggu.

    Jika Anda memiliki riwayat alergi atau sedang mengonsumsi obat rutin jangan lupa sampaikan pada petugas kesehatan. Dengan melakukan vaksinasi Anda telah mencegah terjangkitnya penyakit difteri pada diri Anda dan mencegah penularan kepada orang lain di sekitar Anda. Bila ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Adult Tetanus, Diphtheria, Pertussis (Td, Tdap) Vaccine [Internet]. WebMD. 2017 [cited 9 February 2018]. Available from: webmd.com
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Internet]. Depkes.go.id. 2018  Available from: depkes.go.id

     

    Read More
  • Apakah bayi Anda terserang diare? Wah, bisa jadi bayi Anda terinfeksi rotavirus. Rotavirus merupakan virus famili Reoviridae yang masuk dan menginfeksi saluran pencernaan. Penyebaran virus melalui kontak dengan makanan, air, tangan, dan permukaan objek yang tekontaminasi. Virus ini menyebabkan diare berat, dimana pada bayi dan anak dapat berbahaya karena bisa berakibat dehidrasi berat yang berujung kematian. […]

    CEGAH DIARE ANAK AKIBAT ROTAVIRUS DENGAN VAKSINASI

    Apakah bayi Anda terserang diare? Wah, bisa jadi bayi Anda terinfeksi rotavirus. Rotavirus merupakan virus famili Reoviridae yang masuk dan menginfeksi saluran pencernaan. Penyebaran virus melalui kontak dengan makanan, air, tangan, dan permukaan objek yang tekontaminasi. Virus ini menyebabkan diare berat, dimana pada bayi dan anak dapat berbahaya karena bisa berakibat dehidrasi berat yang berujung kematian.  

    Setelah terpapar rotavirus, biasanya gejala akan muncul setelah 2 hari kemudian. Gejala muncul berupa demam, muntah, nyeri perut,  dan diare cair yang dapat menyebabkan dehidrasi berat. Gejala-gejala tersebut berlangsung selama 3-8 hari. Oleh sebab itu sangat penting bagi Anda untuk mengetahui tAnda dehidrasi pada anak, agar cepat tertangani.

    1. Dehidrasi ringan: anak tetap aktif namun sedikit lesu, masih kuat untuk menyusui dan minum.
    2. Dehirasi sedang: anak terlihat lemas, tampak kehausan, kulit mengendur, dan mata cekung. Segera bawa ke pelayanan kesehatan.
    3. Dehidrasi berat: anak sangat lemas, kesadaran anak menurun, tidak bisa minum, sedikit kencing, mata sangat cekung, bibir kering dan biru, kulit lama kembali bila dicubit. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

    Pada kasus diare akibat rotavirus pemberian antibiotik bukan solusi karena penyebabnya adalah virus bukan bakteri. Pengobatan bersifat meringankan gejala dengan rehidrasi atau pemenuhan cairan melalui perbanyak asupan cairan, air minum, ASI, dan infus. Bisa diberikan zink untuk membantu penyembuhan diare dan menjaga daya tahan tubuh anak.

    Pencegahan infeksi rotavirus yang optimal dan direkomendasikan adalah dengan imunisasi rotavirus. WHO merekomendasikan imunisasi rotavirus secara rutin pada April 2009. Di Indonesia sendiri vaksin ini sudah direkomendasikan oleh IDAI sejak tahun 2011. Vaksin rotavirus yang beredar adalah vaksin hidup yang mengandung 1 strain (monovalen) dan 5 strain (pentavalen).

    Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan saat usia 6-14 minggu dan dosis kedua diberikan minimal 4 minggu berikutnya. Maksimal pemberian dosis kedua pada usia 24 minggu. Untuk, vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan pada usia 6-14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian di usia 32 minggu.

    Sebaiknya segera berikan vaksinasi rotavirus pada bayi Anda, mengingat angka kejadian diare di bawah usia 2 tahun cukup tinggi. Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Sumber:

    1. Rotavirus | Transmission | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2016 [cited 5 February 2018]. Available from: cdc.gov
    2. Haurissa A. TanyaDok.com | Infeksi Rotavirus dan Imunisasinya [Internet]. TanyaDok.com. [cited 5 February 2018]. Avaialable from: tanyadok.com
    Read More

Showing 31–40 of 51 results

WhatsApp Asisten Maya saja