Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Author Archive for: Jonathan Christopher

dr. Jonathan Christopher

About dr. Jonathan Christopher

Showing 1–10 of 14 results

  • Padatnya aktivitas dan kesibukan sehari-hari yang dimulai dari pagi hingga sore membuat banyak orang tidak sempat berolahraga di pagi hari sehingga harus berolahraga di malam hari.1 Namun, pertanyaannya, boleh kah berolahraga di malam hari? Banyak yang beranggapan bahwa berolahraga di malam hari dapat menyebabkan penyakit,2 seperti jantung, angin malam, atau asma, dan kesulitan bernapas akibat banyaknya CO2 […]

    Hal-hal yang Perlu Diketahui dari Berolahraga di Malam Hari

    Padatnya aktivitas dan kesibukan sehari-hari yang dimulai dari pagi hingga sore membuat banyak orang tidak sempat berolahraga di pagi hari sehingga harus berolahraga di malam hari.1 Namun, pertanyaannya, boleh kah berolahraga di malam hari? Banyak yang beranggapan bahwa berolahraga di malam hari dapat menyebabkan penyakit,2 seperti jantung, angin malam, atau asma, dan kesulitan bernapas akibat banyaknya CO2 yang dilepaskan tanaman.

    berolahraga di malam hari

    Baca Juga: Hindari Kesalahan Berolahraga Saat Pandemi Corona

    Sebenarnya, boleh-boleh saja olahraga pada malam hari, apalagi jika tujuannya ingin tetap membuat tubuh bugar dan tidak mudah terserang penyakit. Olahraga di malam hari juga lebih baik daripada yang tidak berolahraga sama sekali. Berikut manfaat yang dapat diperoleh dari berolahraga di malam hari:2

    • Tubuh mudah mengatur detak jantung dan pernapasan
    • Menjaga kadar hormon
    • Meningkatkan performa
    • Meningkatkan massa otot
    • Leluasa meningkatkan bentuk latihan
    • Menangkal stres bekerja
    • Pikiran lebih jernih dan mengatasi kecemasan
    • Meningkatkan suhu tubuh, detak jantung, dan melepaskan epinefrin

    Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin berolahraga di malam hari. Apa saja itu? Yuk, Sobat Sehat yang ingin memulai olahraga malam atau sedang melakukannya, simak penjelasan-penjelasan di bawah ini.

    Yang Perlu Diketahui Sebelum Berolahraga di Malam Hari

    Lakukan dengan intensitas ringan

    Hal pertama yang perlu dilakukan ketika ingin berolahraga di waktu malam adalah jangan melakukan olahraga dengan intensitas berat. Sebab, berolahraga dengan intensitas yang berat di malam hari dapat menganggu waktu tidur akibat dikeluarkannya hormon endorfin dari dalam tubuh. Karena itu, disarankan melakukan olahraga dengan intensitas ringan seperti yoga, fitness, tai chi, jalan kaki, atau berlari-lari kecil.3

    Baca Juga: 3 Jenis Olahraga dan Jumlah Kalori yang Dibakar

    Jangan terlalu dekat dengan jam tidur

    Berolahraga di malam hari sebaiknya tidak terlalu dekat jam tidur, sebab hal tersebut akan mengganggu jam tidur dan mempengaruhi kualitas tidur. Sobat akan merasa susah tidur, resah, dan gelisah. Usahakan berolahraga minimal 2 jam sebelum tidur. Lakukan pendinginan dan peregangan setelah berolahraga.3

    Pakai pakaian yang tertutup

    Mengingat suhu di malam hari cukup dingin, sebaiknya jangan berolahraga dengan pakaian terbuka, namun tetap dapat menyerap keringat. Pakailah jaket, terutama jaket tipis, yang dapat menyerap keringat. Selain melindungi diri dari suhu dingin, pakaian yang tertutup seperti jaket juga dapat menghindari diri dari penyakit akibat suhu dingin di malam hari.1

    Minum banyak air putih

    Jangan lupa minum banyak air putih untuk membantu proses pendinginan pada tubuh sehingga suhu tubuh akan cepat kembali ke suhu normal. Banyak minum air putih juga mampu mengeliminasi asam laktat yang terbentuk sangat cepat saat berolahraga sehingga badan menjadi lebih rileks. Selain air putih, jika Sobat berolahraga terlalu lama, Sobat bisa meminum cairan elektrolit yang berfungsi menggantikan cairan elektrolit atau keringat yang terbuang.1

    Lakukan 2-3 jam setelah makan malam

    Olahraga di malam hari sebaiknya tidak dilakukan saat begitu saja selesai makan malam karena akan membuat badan cepat lelah akibat aktivitas lambung ketika mencerna makanan dan otot beraktivitas dalam waktu yang bersamaan.1

    Jangan lupakan pemanasan

    Seperti halnya olahraga di pagi hari, olahraga di malam hari juga memerlukan pemanasan supaya tubuh tidak kaget ketika berolahraga. Untuk pemanasan ini lakukan saja selama 5 menit jika di luar ruangan dan sampai 10 menit jika di dalam ruangan.1

    Selain beberapa hal yang perlu diperhatikan, di bawah ini juga terdapat risiko yang ditimbulkan jika berolahraga di waktu malam, terutama jika sering dilakukan dan berolahraga dengan intensitas yang berat.

    Risiko Berolahraga di Malam Hari

    Daya tahan tubuh berkurang

    Risiko yang ditimbulkan berolahraga di malam hari dapat berupa berkurangnya daya tahan tubuh karena tubuh akan kehilangan banyak energi tanpa ada jeda yang cukup untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Apalagi jika intensitas olahraga yang dilakukan tergolong berat seperti angkat beban atau berenang. Daya tahan tubuh yang lemah membuat Sobat rentan terhadap berbagai penyakit seperti flu atau demam.4

    Mudah sesak napas

    Yang harus Sobat sadari ketika berolahraga di waktu malam adalah kandungan oksigen sebagai asupan untuk metabolisme tubuh akan menipis. Apabila ini terjadi, Sobat kemungkinan besar akan mengalami sesak napas jika Sobat memaksakan diri berolahraga terlalu sering dan intensitasnya sangat berat.4

    Baca Juga: 5 Olahraga Terbaik untuk Kesehatan Jantung

    Sulit tidur

    Risiko terakhir yang bakal didapatkan dari berolahraga di waktu malam terlalu sering atau dengan intensitas yang berat adalah sulit tidur apalagi jika dilakukan menjelang jam tidur. Karena itu, pilihlah olahraga yang ringan dan lakukan tidak dekat dengan jam tidur.4

    Baca Juga: Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Tanpa ke Bioskop

    Itulah hal-hal yang perlu Sobat ketahui mengenai berolahraga di malam hari yang ternyata boleh saja dilakukan, asalkan Sobat mengetahui hal-hal penting serta risikonya sebelum melakukannya. Apabila Sobat ingin mengetahui lebih dalam seputar olahraga malam hari, silakan klik tonton video berikut, dan jangan lupa subscribe YouTube Prosehat.

    Jika memerlukan informasi lebih lanjut mengenai olahraga di waktu malam dan produk kesehatan yang berkaitan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Hal yang Harus Diperhatikan Jika Ingin Olahraga Malam | Lifestyle – Bisnis.com [Internet]. Bisnis.com. 2020 [cited 9 September 2020]. Available from: https://lifestyle.bisnis.com/read/20150826/106/466101/hal-yang-harus-diperhatikan-jika-ingin-olahraga-malam
    2. Indonesia C. Untung dan Rugi Olahraga Malam Hari [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 9 September 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200226082928-255-478191/untung-dan-rugi-olahraga-malam-hari
    3. 7 Olahraga Malam yang Tak Beresiko, Apa Saja? [Internet]. liputan6.com. 2020 [cited 9 September 2020]. Available from: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3158337/7-olahraga-malam-yang-tak-beresiko-apa-saja
    4. Media K. Apa Efeknya bagi Kesehatan kalau Sering Olahraga Malam-malam? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 9 September 2020]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2018/04/27/184821620/apa-efeknya-bagi-kesehatan-kalau-sering-olahraga-malam-malam?page=all
    Read More
  • Pekerjaan yang menuntut konsistensi dan performa yang tinggi terutama di daerah perkotaan tidak jarang menuntut para pekerjanya untuk melakukan pekerjaan hingga larut malam atau dini hari. Hal ini yang kemudian menyebabkan para pekerja tersebut begadang atau bekerja di waktu jam-jam biologis untuk istirahat atau tidur. Ternyata banyak sekali pekerjaan yang mengharuskan para pekerjanya untuk begadang […]

    Karyawan yang Sering Begadang, Waspada Dampaknya pada Kesehatan

    Pekerjaan yang menuntut konsistensi dan performa yang tinggi terutama di daerah perkotaan tidak jarang menuntut para pekerjanya untuk melakukan pekerjaan hingga larut malam atau dini hari. Hal ini yang kemudian menyebabkan para pekerja tersebut begadang atau bekerja di waktu jam-jam biologis untuk istirahat atau tidur.

    dampak negatif kerja lembur, bahaya kerja larut malam

    Ternyata banyak sekali pekerjaan yang mengharuskan para pekerjanya untuk begadang atau bekerja di malam hari terutama di media massa seperti televisi dan media online, bidang konstruksi, keamanan, atau malah kesehatan itu sendiri.Tentu saja hal ini sebenarnya kurang bagus untuk kesehatan mengingat banyak sekali dampak negatif yang dihasilkan dari begadang.

    Para ahli pun menekankan pentingnya tidur demi kesehatan mental dan fisik. Tak hanya itu, tidur juga mampu mengonservasi energi, merestorasi tubuh, dan untuk perkembangan otak.Terlihat cukup mudah sebenarnya untuk dilakukan, namun ternyata hal tersebut sukar bagi orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan untuk begadang demi menyelesaikan tugas. Sebenarnya seperti apa dampak negatif begadang tersebut? 

    Baca Juga: 7 Makanan Ini Dapat Cegah Akibat Buruk Bergadang

    Dampak Negatif Bergadang

    Konsentrasi Menurun

    Dampak negatif yang Sobat akan rasakan akibat sering begadang adalah Sobat mengalami turunnya konsentrasi. Hal itu karena begadang juga mengubah aktivitas otak. Konsentrasi yang menurun itu membuat Sobat menjadi lambat dalam merespons segala sesuatu terutama pada lingkungan sekitar. Hal ini yang kemudian keinginan untuk sering tidur menjadi lebih tinggi. Tentu saja hal ini dapat membahayakan mengingat keseringan tidur atau bahkan tidur secara berlebihan akibat begadang dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan seperti diabetes, obesitas, sakit kepala, sakit punggung hingga malah menyebabkan kematian.

    Mood menjadi Labil

    Dampak kedua yang Sobat rasakan adalah mood menjadi labil. Akibatnya, Sobat akan menjadi orang yang tidak mudah mengendalikan emosi atau gampang emosian. Sobat juga mudah sensitif terhadap hal-hal yang sebenarnya sepele, dan bahkan Sobat bisa mempunyai kecenderungan tinggi untuk depresi.

    Menjadi Pelupa

    Lupa adalah hal wajar yang terjadi pada setiap orang akibat menurunnya daya ingat dalam otak. Hal ini biasanya terjadi pada orang yang sudah tua atau lanjut usia.Namun ternyata sifat lupa juga bisa terjadi pada orang yang sering begadang. Lupa muncul karena adanya hambatan pada otak untuk memproses sesuatu yang sudah terjadi, dan dapat dipastikan informasi yang baru diterima itu hilang dalam sekejap. Karena itu, supaya Sobat tidak menjadi orang yang pelupa sebaiknya mulai mengurangi begadang atau tidak begadang sama sekali.

    Turunnya Daya Tahan Tubuh

    Keseringan begadang ternyata juga dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh sehingga tubuh dapat mudah terserang penyakit termasuk Corona. Turunnya daya tahan tersebut dikarenakan kemampuan sel imun untuk melawan kuman terganggu kemudian hal tersebut diperparah dengan meningkatnya hormon stres sehingga kuman dapat mudah masuk ke tubuh.

    Berdampak Negatif pada Pekerjaan

    Keseringan begadang karena tuntutan pekerjaan ternyata malah berdampak negatif bagi pekerjaan itu sendiri. Beberapa dampak yang Sobat rasakan adalah sebagai berikut:

    • Terjadinya kecelakaan kerja akibat atensi yang terganggu dan kurang waspada terhadap lingkungan sekitar.
    • Menyebabkan miskomunikasi yang berujung pada terjadinya emosi akibat salah persepsi, dan salah menerima informasi.
    • Produktivitas menurun yang berujung pada respon yang menurun, bekerja secara lambat, dan sering tertidur saat bekerja.
    • Absen karena sakit berawal dari daya tahan tubuh yang menurun sehingga mudah terserang penyakit. Apabila dibiarkan terus-menerus tentu akan menganggu performa dan kelanjutan Sobat di tempat kerja.

    Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengatasi Dampaknya?

    Untuk mengurangi dampak negatif akibat begadang sebenarnya cukup mudah. Sobat hanya perlu tidur cukup selama 8 jam, kemudian merelaksasi pikiran, konsumsi vitamin, dan melakukan vaksinasi. Namun apabila Sobat memang tidak bisa mengurangi begadang karena pekerjaan, beberapa hal ini bisa Sobat lakukan supaya tetap sehat saat begadang.

    Istirahatlah dengan Cukup Terlebih Dahulu

    Kunci pertama supaya begadang tetap sehat adalah Sobat sebaiknya tidur dengan cukup terlebih dahulu di waktu siang.  Dengan istirahat yang cukup tersebut, Sobat tidak akan merasa terbebani dan mengantuk sehingga bisa semangat dalam bekerja. Karena itu, aturlah pencahayaan dengan cukup di tempat kerja supaya Sobat tidak mengantuk, dan bisa bekerja.

    Baca Juga: 5 Tips Bergadang Agar Tidak Cepat Lelah

    Perhatikan yang Harus Dikonsumsi

    Supaya begadang tetap sehat dan dalam keadaan prima, konsumsi makanan harus juga diperhatikan. Usahakan jangan mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan yang berat yang justru akan menyebabkan kantuk, dan menurunkan performa. Karena itu, sebaiknya konsumsi saja makanan yang ringan dan menyehatkan alias mengandung vitamin untuk kebugaran tubuh. Jika Sobat ingin meminum kopi, hal itu boleh saja asalkan diminum secara teratur dan tidak berlebihan.

    Jika Sudah Mengantuk, Tidurlah Sejenak

    Meski Sobat sudah mempersiapkan diri dengan tidur di waktu pagi atau siang, tentu saja yang namanya rasa kantuk akan kembali melanda. Jika Sobat sudah merasakan hal tersebut, sebaiknya Sobat tidur saja sejenak. Namun apabila Sobat tidak ingin tidur karena tidak enak dengan atasan, Sobat bisa mengalihkan rasa kantuk itu dengan menonton TV atau mendengarkan musik. Atau Sobat bisa berdiri, melakukan peregangan atau berjalan-jalan di sekitar tempat kerja supaya aliran darah menjadi lancar dan tidak kaku, serta Sobat mendapatkan penyegaran.

    Baca Juga: Ternyata Tidur 6 Jam Saja Tidak Cukup

    Itulah dampak negatif dari begadang serta mengatasinya, dan cara begadang yang sehat apabila Sobat memang tidak bisa menghindari yang namanya begadang karena tuntutan pekerjaan. Meski begitu, jika ingin mempunyai kehidupan yang bagus dan berkualitas, sebaiknya Sobat tetap menghindari begadang jika hal itu memang bisa dihindari.

    Apabila Sobat ingin mengetahui secara lengkap dampak negatif dari begadang, silakan tonton video Youtube berikut inidan jangan lupa subscribe YouTube ProSehat.



    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Inilah 6 profesi yang menuntut aktif bekerja pada malam hari [Internet]. brilio.net. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.brilio.net/creator/inilah-6-profesi-yang-menuntut-aktif-bekerja-pada-malam-hari-cfa7bb.html
    2. [Internet]. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://greatdayhr.com/id/kerjaan-banyak-mengharuskan-begadang-inilah-tips-sehat-saat-begadang/
    3. Bahaya Begadang untuk Kesehatan [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191021141513-255-441495/7-bahaya-begadang-untuk-kesehatan
    Read More
  • Pandemi COVID-19 telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, sehingga pemerintah memutuskan untuk mengadakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada sejumlah daerah. Namun dengan berjalannya PSBB, semua kegiatan menjadi terhambat, termasuk perekonomian negara. Dengan situasi seperti ini, perekonomian negara harus tetap berjalan dengan dilakukan langkah-langkah pencegahan. Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor […]

    Siapkan Diri Kembali Bekerja Setelah PSBB

    Pandemi COVID-19 telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, sehingga pemerintah memutuskan untuk mengadakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada sejumlah daerah. Namun dengan berjalannya PSBB, semua kegiatan menjadi terhambat, termasuk perekonomian negara. Dengan situasi seperti ini, perekonomian negara harus tetap berjalan dengan dilakukan langkah-langkah pencegahan. Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

    bekerja setelah psbb

    Baca Juga: Sudah Tahukah Sobat, Apa Itu The New Normal?

    Dengan pengakhiran dari PSBB dan masih berlangsungnya COVID-19, maka Sobat akan menjalankan fase New Normal. Dalam fase ini, Sobat akan menjalani kehidupan normal dengan beberapa perubahan kebiasaan baru. Bagi Sobat yang akan keluar dari rumah dan bekerja ke kantor, beberapa kebiasaan ini penting untuk menjaga kesehatan serta mencegah terinfeksi COVID-19. Berikut adalah beberapa kebiasaan yang perlu Sobat lakukan:

    • Menjaga kesehatan dengan tidur dan nutrisi yang cukup

    Kesehatan merupakan salah satu hal utama yang harus dijaga agar imun tubuh tetap siap dan prima untuk melawan infeksi. Perilaku yang perlu dijaga dan biasanya dianggap remeh adalah pola tidur. Penelitian telah menemukan bahwa dengan tidur yang cukup, regulasi imun tubuh Sobat dapat berjalan dengan baik.2 Para pakar  menyarankan untuk tidur selama minimal 7 jam setiap harinya. Selain itu, nutrisi yang cukup juga penting untuk tubuh dapat menjalankan fungsinya secara baik. Jangan lupa untuk mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran.

    • Konsumsi vitamin jika tersedia

    Vitamin memiliki peran penting dalam sistem imun tubuh Sobat. Beberapa vitamin diperlukan untuk proses replikasi sistem imun tubuh dan ada juga yang berfungsi sebagai antioksidan dan membantu enzim tubuh bekerja dengan normal.4 Salah satunya yang mungkin Sobat sering jumpai adalah vitamin C.
    Vitamin C berperan dalam berbagai proses pada sistem imun dan juga berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian juga membuktikan bahwa mengonsumsi vitamin C dapat mencegah infeksi saluran pernapasan.5 Untuk saat seperti ini, dimana pandemi COVID-19 sedang terjadi, jika memungkinkan konsumsilah suplemen yang mengandung vitamin C. Pemberian suplemen vitamin C juga disebutkan dalam peraturan dari Kementerian Kesehatan RI agar para pekerja diberikan suplemen tersebut jika memungkinkan.

    Baca Juga: Vitamin C, Wajibkah Dikonsumsi Agar Tidak Terserang Virus Corona?

    • Menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan kerja

    Kebersihan memang harus selalu dijaga untuk kepentingan bersama, namun saat ini harus dijadikan salah satu prioritas. Dengan ditemukannya proses penularan COVID-19 melalui droplet7 perlu diperhatikan bahwa droplet tersebut dapat tersebar ke benda-benda di sekitar Sobat. Pada permukaan plastik dan stainless steel COVID-19 dapat bertahan hingga 72 jam. Pada kardus dapat bertahan hingga 24 jam sedangkan pada tembaga hanya bertahan hingga 4 jam. WHO merekomendasikan Sobat untuk membersihkan lingkungan kerja seperti meja, telepon, keyboard dengan disinfektan. Selain itu, pastikan juga Sobat menjaga kebersihan pribadi seperti mencuci tangan dengan benar. Sobat dapat menggunakan sabun dengan air mengalir atau hand sainitizer berbasis alkohol.

    • Membiasakan menggunakan masker

    Mungkin ini adalah salah satu kebiasaan yang baru dan sulit Sobat lakukan, yaitu menggunakan masker setiap pergi keluar rumah. Masker mungkin membuat Sobat merasa sesak napas atau tidak nyaman, namun ingat bahwa masker memiliki peran besar dalam mencegah penularan melalui droplet, khususnya jika digunakan oleh orang yang sedang sakit. Saat ini masker sudah tidak sulit untuk dicari, Sobat juga dapat menggunakan masker kain, tapi pastikan untuk mencucinya setiap setelah memakainya agar tidak tumbuh kuman-kuman pada masker tersebut. Saat menggunakan masker, pastikan bagian hidung dan mulut Sobat tertutup dengan rapat.

    Baca Juga: Masker, Ampuhkan Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker?

    Dengan berakhirnya PSBB nanti, Sobat harus bersiap untuk memasuki fase New Normal. Beberapa hal yang dibahas di atas merupakan sebagian kebiasaan yang dapat Sobat lakukan untuk menghadapi fase baru tersebut. Apabila Sobat mengalami gejala seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, dan atau sesak napas, konsultasikan segera dengan tenaga kesehatan terdekat.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Pencegahan Covid-19 di Tempat Kerja Era New Normal [Internet]. Sehat Negeriku. 2020. Available from: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20200523/5133951/pencegahan-covid-19-tempat-kerja-era-new-normal/
    2. Besedovsky L, Lange T, Born J. Sleep and immune function. Pflüg Arch – Eur J Physiol. 2012 Jan 1;463(1):121–37.
    3. Healthy Sleep Habits and Good Sleep Hygiene [Internet]. Available from: http://sleepeducation.org/essentials-in-sleep/healthy-sleep-habits
    4. Childs CE, Calder PC, Miles EA. Diet and Immune Function. Nutrients [Internet]. 2019 Aug 16;11(8). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6723551/
    5. Carr AC, Maggini S. Vitamin C and Immune Function. Nutrients. 2017 Nov;9(11):1211.
    6. COVID-19 GTPP. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 – Protokol | Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 [Internet]. covid19.go.id. Available from: https://covid19.go.id/p/protokol/panduan-pencegahan-dan-pengendalian-corona-virus-disease-2019-covid-19-di-tempat-kerja-perkantoran-dan-industri-dalam-mendukung-keberlangsungan-usaha-pada-situasi-pandemi
    7. Shereen MA, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. J Adv Res. 2020 Jul 1;24:91–8.
    8. van Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med. 2020 Apr 16;382(16):1564–7.
    9. advice-for-workplace-clean-19-03-2020.pdf [Internet]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/advice-for-workplace-clean-19-03-2020.pdf
    Read More
  • Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? […]

    5 Persiapan untuk Kondisi New Normal

    Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? Perlukah Sobat bersiap-siap untuk menghadapi fase New Normal?

    kondisi new normal

    Baca Juga: Sudah Tahukah Sobat, Apa itu The New Normal?

    Dikutip dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB), fase New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona jenis baru, penyebab COVID-19.1 Dengan kata lain, fase New Normal adalah situasi terdapat perubahan standar yang menjadi kondisi normal yang baru. Beberapa dari Sobat mungkin akan kembali bekerja di kantor dan melakukan aktivitas rutin lainnya, namun harus ditambahkan dengan perilaku social distancing dan protokol pencegahan lainnya dalam masa pandemi COVID-19. Semua hal ini dianggap standar yang baru sehingga menjadi normal yang baru. Sobat akan menghadapi rutinitas sehari-hari dengan perilaku yang berbeda, pastikan Sobat siap untuk menghadapi fase New Normal. Berikut adalah perilaku yang harus Sobat siapkan untuk fase New Normal:

    Baca Juga: Siapkan Diri Kembali Bekerja Setelah PSBB

    1. Social Distancing Di Mana Pun Berada

    Perilaku social distancing sudah berjalan sekian lama seiring dengan masa pandemi COVID-19 ini. Tentu Sobat mungkin sudah terbiasa dengan social sistancing seperti bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) atau menghindari untuk berkumpul dengan teman-teman. Namun Sobat suatu saat akan kembali bekerja ke kantor, atau harus menggunakan angkutan umum. Selama pandemi ini berlangsung, social distancing tetap harus diterapkan. Pada saat di angkutan umum, berilah jarak 1 kursi kosong dengan penumpang lain dan jangan berjalan dalam kerumunan orang. Hal ini dikarenakan metode penyebaran virus yang berupa droplet yang diproduksi oleh orang terinfeksi yang batuk atau bersin.2 WHO merekomendasikan untuk menjaga jarak minimal 1 meter antara Sobat dan orang lain.

    1. Selalu Gunakan Masker

    Untuk Sobat yang akan kerja dan bepergian melalui tempat umum, pastikan selalu menggunakan masker. Masker merupakan pencegahan yang efektif agar virus tidak masuk melalui hidung dan mulut Sobat. Lebih efektif lagi jika orang yang sedang sakit menggunakan masker, sehingga sumber penyebarannya terhenti pada masker orang sakit tersebut. Masker harus digunakan secara benar untuk dapat bekerja dengan efektif. Pastikan masker Sobat menutupi bagian hidung dan mulut dengan rapat. Masker bedah memiliki tingkat efektivitas paling tinggi.4 Apabila Sobat ingin membeli atau membuat masker buatan sendiri, pilihlah yang berbahan 100% katun karena memiliki efektivitas yang cukup tinggi dibandingkan bahan lain.

    1. Jangan Lupa untuk Mencuci Tangan

    Virus COVID-19 dalam bentuk droplet tidak hanya dibatukkan saja lalu menghilang. Droplet penuh virus dapat menempel pada permukaan-permukaan benda di sekitar Sobat. Pada permukaan plastik dan stainless steel virus dapat bertahan hingga 72 jam, selain itu pada kardus dapat bertahan hingga 24 jam dan pada tembaga hanya bertahan hingga 4 jam.6 Sebelum Sobat makan atau menyentuh wajah, pastikan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan menggunakan air mengalir dengan sabun atau dengan hand sanitizer berbasis alkohol cukup untuk membunuh virus tersebut.

    Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    1. Jagalah Kesehatan Tubuh

    Makan makanan yang bergizi, minumlah yang cukup, rutin berolahraga, istirahat yang cukup dan jangan lupa untuk menghindari alkohol dan rokok. Jalanilah hidup Sobat dengan pola hidup yang sehat. Semua hal ini akan berdampak terhadap sistem imun tubuh Sobat. Jika imun tubuh sobat sedang tidak optimal, infeksi lebih mudah terjadi.

    1. Vaksin untuk Mencegah Infeksi Lain

    Sobat dapat melakukan vaksinasi untuk mencegah tubuh terinfeksi oleh penyakit lain. Salah satu contoh vaksinasi berupa vaksin influenza. Vaksin influenza akan membuat tubuh Sobat menjadi lebih tidak rentan terhadap virus yang memiliki tanda dan gejala yang mirip dengan COVID-19. Vaksin influenza dapat mengurangi 60% angka kejadian kasus pada orang yang dibawah 65 tahun, dan dapat menurunkan 50-60% angka rawat inap pada orang lanjut usia.7 Lalu, untuk mengurangi kunjungan Sobat ke rumah sakit, manfaatkan layanan Drive Thru seperti yang disediakan ProSehat, untuk meminimalkan kontak.

    Produk Terkait: Vaksinasi Flu

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat  bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ariansyah A. Ketika Semua Harus Memulai Fase “New Normal” Hadapi COVID-19 [Internet]. BNPB. [cited 2020 May 19]. Available from: https://bnpb.go.id/berita/ketika-semua-harus-memulai-fase-new-normal-hadapi-covid19-1
    2. Shereen MA, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. J Adv Res. 2020 Jul 1;24:91–8.
    3. Coronavirus [Internet]. [cited 2020 May 19]. Available from: https://www.who.int/westernpacific/health-topics/coronavirus
    4. Bowen LE. Does That Face Mask Really Protect You? Appl Biosaf. 2010 Jun 1;15(2):67–71.
    5. Davies A, Thompson K-A, Giri K, Kafatos G, Walker J, Bennett A. Testing the efficacy of homemade masks: would they protect in an influenza pandemic? Disaster Med Public Health Prep. 2013 Aug;7(4):413–8.
    6. van Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med. 2020 Apr 16;382(16):1564–7.
    7. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C, National Center for Immunization and Respiratory Diseases (U.S.), Communication and Education Branch. Epidemiology and prevention of vaccine-preventable diseases. 2015.
    Read More
  • Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai work from home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat […]

    Panduan Ergonomi Saat WFH Seperti Apa?

    Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai work from home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan isu ergonomi. Ergonomi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan komponen sistem lainnya untuk mendapatkan rancangan yang optimal terkait dengan human well-being dan kinerja sistem secara keseluruhan.1

    WFH sehat

    Baca Juga: Dampak Covid-19 Pada Kesehatan Karyawan

    Beberapa isu ergonomi yang dapat Sobat alami pada umumnya seperti pegal pada bahu, leher, atau nyeri pinggang, keluhan mata seperti gatal atau perih, nyeri pada pergelangan tangan, hingga kelelahan. Semua isu tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar dari Sobat tidak memiliki lingkungan bekerja yang ergonomis di rumah, atau Sobat bekerja dalam posisi yang tidak baik untuk kesehatan seperti:1

    • Duduk dengan posisi membungkuk dan punggung tidak tersangga.
    • Bekerja di sofa dengan leher yang membungkuk atau pergelangan tangan yang menekuk.

    Sebuah penelitian menyatakan bahwa keluhan nyeri pada leher dan mata gatal atau perih disebabkan karena penderita melihat layar terlalu bawah yang dapat dihindari jika layar diposisikan sedikit di bawah ketinggian mata.2 Penelitian lain menemukan bahwa nyeri pada pergelangan tangan berupa carpal tunnel syndrome dapat dikaitkan dengan penggunaan mouse yang lama.3 Semua keluhan tersebut dapat dihindari jika Sobat bekerja dalam posisi yang ideal. Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) telah mengeluarkan sebuah panduan untuk posisi yang ideal bagi tubuh Sobat saat bekerja. Sobat dapat ikuti panduannya sebagai berikut:1

    Untuk bekerja dalam durasi <1 jam

    Dapat dilakukan pada posisi duduk atau berdiri.

    • Untuk bekerja dengan posisi duduk di kursi/sofa:
      • Pilih kursi/sofa yang mendukung sikap duduk tegak yang nyaman.
      • Jika ada meja, maka tempatkan laptop di meja, dan posisi pergelangan tangan lurus saat mengetik.
      • Jika tidak ada meja, tempatkan laptop di pangkuan, pergelangan tangan harus tetap lurus saat mengetik.
      • Tambahkan buku/laptop riser/adjustable desk agar leher tidak menekuk.
      • Gunakan handuk gulung atau bantal untuk menopang punggung bagian bawah.
      • Miringkan layar laptop untuk mempertahankan postur netral.
    • Untuk bekerja dengan posisi berdiri, menggunakan prinsip yang sama.

    Untuk bekerja dalam waktu yang lama (> 1 jam)

    • Hindari bekerja sambil duduk di atas kasur atau sofa dalam jangka panjang.
    • Pilih meja yang paling memadai (cukup luas dengan ruang di bawah kaki memadai).
    • Pilih kursi yang bisa memberikan support untuk punggung bawah.
    • Tambahkan bantalan jika diperlukan.
    • Gunakan keyboard dan mouse terpisah dengan laptop Anda.
    • Posisi pergelangan tangan tetap lurus saat mengetik.
    • Posisikan laptop Anda sehingga bagian atas layar sejajar dengan ketinggian mata Anda. Gunakan kotak atau beberapa buku untuk meninggikan laptop anda atau pasang monitor terpisah jika ada.

    Saat Sobat bekerja di mana pun, 3 hal yang selalu harus diperhatikan adalah:1

    1. Pertahankan siku dalam posisi 90 derajat.
    2. Jarak mata dengan monitor 50-70 cm.
    3. Posisi tubuh netral dan rileks.

    Sebuah penelitian diadakan untuk menilai apakah ada perbedaan pada para pekerja setelah menerima pelatihan ergonomik. Hasilnya menunjukkan bahwa kejadian nyeri pinggang atau low back pain berkurang.4 Selain itu, Sobat juga dapat melakukan peregangan selama 5-10 menit sesuai panduan PEI. Modifikasi ergonomik seperti menggunakan posisi yang benar dan aktivitas peregangan terbukti dapat memperbaiki keluhan nyeri otot secara signifikan.5 Peregangan dapat dilakukan dengan cara seperti gambar di bawah:

    Saat WFH maupun nanti saat kembali ke kantor, jangan lupa untuk kerja dalam posisi ergonomis dan lakukan peregangan otot sesuai panduan PEI. Dengan posisi yang ergonomis dan peregangan otot, Sobat akan terhindar dari isu ergonomis yang menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan tidak nyaman.

    Baca Juga: 8 Cara Mengatasi Stress Kerja yang Perlu Kamu Lakukan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Yassierle, Titis W, Dewi H, Orchida D, Khoirul M, Wyke K. Panduan Ergonomis: “Working From Home”. Perhimpunan Ergonomi Indonesia; 2020.
    2. Mowatt L, Gordon C, Santosh ABR, Jones T. Computer vision syndrome and ergonomic practices among undergraduate university students. Int J Clin Pract. 2018;72(1):e13035.
    3. Shiri R, Falah-Hassani K. Computer use and carpal tunnel syndrome: A meta-analysis. J Neurol Sci. 2015 Feb 15;349(1):15–9.
    4. Kajiki S, Izumi H, Hayashida K, Kusumoto A, Nagata T, Mori K. A randomized controlled trial of the effect of participatory ergonomic low back pain training on workplace improvement. J Occup Health. 2017;advpub.
    5. Shariat A, Cleland JA, Danaee M, Kargarfard M, Sangelaji B, Tamrin SBM. Effects of stretching exercise training and ergonomic modifications on musculoskeletal discomforts of office workers: a randomized controlled trial. Braz J Phys Ther. 2018 Mar 1;22(2):144–53.
    Read More
  • Pernakah Sobat akhir-akhir ini mendengar tentang telemedicine? Presiden Jokowi telah menyarankan bagi Sobat yang sedang sakit untuk menggunakan berbagai aplikasi sebagai cara berobat online atau disebut juga sebagai telemedicine. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan telemedicine untuk membantu memperluas cakupan berobat secara online, salah satunya adalah ProSehat. Dengan menggunakan aplikasi telemedicine, […]

    Amankah Menggunakan Resep Secara Online?

    Pernakah Sobat akhir-akhir ini mendengar tentang telemedicine? Presiden Jokowi telah menyarankan bagi Sobat yang sedang sakit untuk menggunakan berbagai aplikasi sebagai cara berobat online atau disebut juga sebagai telemedicine. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan telemedicine untuk membantu memperluas cakupan berobat secara online, salah satunya adalah ProSehat. Dengan menggunakan aplikasi telemedicine, Sobat dapat melakukan konsultasi hingga peresepan obat tanpa harus bertemu tatap muka dengan tenaga kesehatan. Namun apakah peresepan secara online aman dibandingkan peresepan pada poliklinik?

    resep secara online

    Baca Juga: Bijak Berbelanja Melalui Aplikasi Online

    Telemedicine diartikan oleh WHO sebagai pemberian pelayanan kesehatan,karena jarak merupakan faktor kritis. Layanan kesehatan ini menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendapatkan informasi valid untuk diagnosis, tatalaksana dan pencegahan penyakit, penelitian dan evaluasi, dan untuk kelanjutan edukasi dari tenaga kesehatan. Berhubungan dengan pandemi COVID-19 yang sedang terjadi, pemerintah menyarankan bagi Sobat yang sedang sakit untuk tidak keluar rumah. Dari bekerja hingga berobat saat ini disarankan untuk dilakukan secara online. Dengan melakukan hal tersebut, Sobat dapat mengurangi risiko terinfeksi COVID-19 dengan tidak pergi keluar rumah. Beberapa negara sudah melakukan hal ini untuk mengurangi transmisi COVID-19. Tidak hanya untuk Sobat, tetapi tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat juga dapat terhindar dari faktor risiko paparan COVID-19.

    Apabila Sobat menggunakan aplikasi untuk telemedicine, Sobat akan dilayani dengan konsultasi secara online. Langkah selanjutnya adalah peresepan untuk mendapatkan obat. Proses peresepan secara  konvensional seperti dalam keadaan poliklinik memiliki beberapa perbedaan dengan telemedicine. Apakah proses peresepan secara telemedicine yang bersifat online lebih aman? Berikut terdapat beberapa perbedaannya:

    1. Penulisan Resep

    Resep konvensional dibuat dengan tulisan tangan. Dibandingkan dengan telemedicine yang diketik berbasis komputer, tentu pembacaan huruf yang diketik akan lebih mudah. Hal ini akan meminimalisir salah pembacaan sehingga pasien tidak mendapatkan obat yang salah. Hal ini ditekankan untuk obat Look Alike Sound Alike (LASA).

    1. Data untuk Pertimbangan Pemberian Resep

    Sebelum meresepkan obat, dokter perlu mempertimbangkan banyak hal. Beberapa diantaranya seperti anamnesis untuk gejala penyakit, riwayat alergi, interaksi dengan obat yang sedang Sobat konsumsi, dan efek samping obat terhadap kondisi tubuh Sobat saat ini. Sebuah penelitian untuk pasien obstetrik dan ginekologi menemukan bahwa check list yang diisi mandiri sama atau bahkan lebih efektif dibandingkan skrining kontraindikasi dari tenaga medis secara konvensional. Terdapat penelitian lain yang membanding pertimbangan pemeriksaan fisik dari poliklinik dan tanpa pemeriksaan fisik pada telemedicine untuk pemberian antibiotik pada pasien infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Hasil yang didapatkan menyatakan tidak ada perbedaan signifikan untuk pemberian antibiotik pada dua kelompok tersebut. Ini menunjukkan bahwa hanya dari anamnesis, pertimbangan untuk peresepan antibiotik tidak berbeda dengan yang melakukan pemeriksaan fisik secara konvensional. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua obat dapat diresepkan tanpa dilakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu.

    Produk Terkait: Obat Pereda Demam untuk Anak

    1. Penyerahan Resep dan Obat

    Proses penyerahan resep konvensional dalam keadaan poliklinik diserahkan secara langsung ke pasien secara tatap muka. Dengan telemedicine, penyerahan resep dilakukan secara online sehingga tidak terdapat kontak langsung antara dokter dengan pasien untuk meminimalisir kontak. Setelah itu, proses pengambilan obat juga dilakukan secara online. Pada sistem telemedicine ProSehat, obat yang diresepkan dapat langsung diantarkan ke rumah agar Sobat dapat menghindari risiko kontak jika keluar mencari apotik.

    Penggunaan telemedicine dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk mengurangi kontak langsung saat pandemi. Beberapa faktor untuk peresepan secara online juga terbukti tidak berbeda dengan cara konvensional. Dengan berobat secara online, Sobat dapat menghindari risiko kontak yang tidak diperlukan. Untuk penyakit yang lebih berat, saat konsultasi online, Sobat mungkin akan disarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit. Apabila Sobat memiliki gejala yang mengarah ke COVID-19 atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19, pastikan untuk memberitahu saat melakukan konsultasi online. Tenaga kesehatan akan memandu langkah selanjutnya yang perlu Sobat lakukan.

    Baca Juga: Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Situs Resmi Monitoring COVID-19 milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Covid-monitoring.kemkes.go.id. 2020. Available from: https://covid-monitoring.kemkes.go.id/telemedicine
    2. Telemedicine. Geneva, Switzerland: World Health Organization; 2010.
    3. Hollander J, Carr B. Virtually Perfect? Telemedicine for Covid-19. New England Journal of Medicine. 2020;.
    4. Hariton E, Tracy E. Telemedicine Companies Providing Prescription-Only Medications. Obstetrics & Gynecology. 2019;134(5):941-945.
    5. Yao P, Clark S, Gogia K, Hafeez B, Hsu H, Greenwald P. Antibiotic Prescribing Practices: Is There a Difference Between Patients Seen by Telemedicine Versus Those Seen In-Person?. Telemedicine and e-Health. 2020;26(1):105-107.
    Read More
  • Infeksi virus COVID-19 saat ini masih berjalan hingga hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Melihat penyebaran virus COVID-19 yang masih bertambah, maka pemerintah mulai melakukan rapid test di beberapa wilayah. Rapid Test dapat memberikan hasil dengan cepat dibandingkan dengan tes PCR. Apakah Rapid Test tersebut? Apakah Sobat perlu melakukan Rapid test dan bagaimana jika hasilnya positif […]

    Kenali Rapid Test dan Pembacaan Hasilnya

    Infeksi virus COVID-19 saat ini masih berjalan hingga hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Melihat penyebaran virus COVID-19 yang masih bertambah, maka pemerintah mulai melakukan rapid test di beberapa wilayah. Rapid Test dapat memberikan hasil dengan cepat dibandingkan dengan tes PCR. Apakah Rapid Test tersebut? Apakah Sobat perlu melakukan Rapid test dan bagaimana jika hasilnya positif atau negatif?

    Baca Juga: Hal-hal yang Perlu Sobat Ketahui tentang Rapid Test

    Pengenalan Rapid Test

    Rapid Test atau secara lengkap disebut Rapid Diagnostic Test (RDT) merupakan sebuah pemeriksaan skrining awal untuk mendeteksi antigen atau antibodi (IgG, IgM) dalam tubuh terhadap virus COVID-19.2 Tipe RDT yang lebih sering dijumpai adalah yang mendeteksi antibodi. Antibodi diproduksi oleh respon tubuh terhadap sebuah infeksi, dalam kasus ini terbentuk antibodi terhadap virus COVID-19. Pembentukkan antibodi membutuhkan waktu sekitar beberapa hari hingga minggu dan dipengaruhi oleh faktor usia, status nutrisi, keparahan infeksi, dan obat-obatan yang mensupresi sistem imun.

    Tes ini dapat mendeteksi jika sudah terdapat antibodi terhadap COVID-19 di dalam tubuh Sobat. Waktu yang diperlukan untuk melakukan tes tersebut hanya sekitar 15 menit. Namun harus diingat kembali bahwa tujuan dari RDT adalah untuk skrining. RDT berbeda dari pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis COVID-19, yaitu Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). RT-PCR merupakan pemeriksaan yang mendeteksi apakah terdapat virus COVID-19 di dalam tubuh Sobat dan merupakan gold standard untuk mendiagnosis pasien COVID-19.

    Produk Terkait: Rapid Test Covid-19

    Apakah Sobat perlu melakukan RDT?

    Menurut Kementerian Kesehatan RI, berikut adalah yang diprioritaskan untuk dilakukan RDT:4

    • Orang yang telah kontak dekat dengan pasien positif.
    • Tenaga kesehatan.

    Namun jika Sobat mengalami gejala COVID-19 seperti demam, sesak, dan batuk pastikan untuk memeriksakan diri Sobat ke dokter.

    Hasil dari RDT

    Setelah Sobat menjalani RDT, hasil yang dijumpai dapat berupa kualitatif, yaitu negatif atau positif.

    Hasil negatif menunjukkan saat ini didalam tubuh Sobat belum terdapat antibodi terhadap COVID-19. Hasil ini menunjukkan bahwa memang belum terdapat infeksi virus COVID-19 dalam tubuh Sobat. Namun Sobat perlu waspada karena hasil dapat menunjukkan negatif palsu, yang terjadi jika sudah terdapat infeksi namun antibodi yang diproduksi tubuh belum cukup untuk memberikan hasil positif atau terdapat faktor-faktor lain yang memengaruhi penurunan produksi antibodi tubuh seperti yang dijelaskan sebelumnya. Langkah selanjutnya yang harus Sobat lakukan adalah tetap waspada dan pantau diri Sobat selama 14 hari. Jika terdapat gejala COVID-19 seperti demam, sesak, dan batuk, pastikan untuk memeriksakan diri Sobat ke dokter secepatnya.

    Baca Juga: Kapan & Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Hasil positif menunjukkan bahwa dalam tubuh Sobat terdapat antibodi terhadap COVID-19. Namun perlu diingat juga terdapat hasil positif palsu, yang terjadi karena terdapat antibodi terhadap tipe virus corona lain seperti yang menyebabkan flu biasa.2 Jika hasil RDT positif, Sobat perlu melakukan pemeriksaan RT-PCR untuk memastikan apakah terdapat virus COVID-19 di dalam tubuh Sobat.

    Selain hasil negatif atau positif, Sobat juga mungkin mendapatkan hasil berupa IgM dan IgG negatif atau positif. IgM merupakan antibodi tubuh yang diproduksi dalam jangka waktu cepat, yaitu beberapa hari hingga 1 minggu, sedangkan IgG merupakan antibodi tubuh memerlukan waktu sekitar 2-4 minggu dan dapat bertahan selama 6 bulan hingga beberapa tahun.5,6 Terdapat penelitian lain yang menunjukkan bahwa IgM dan IgG dapat timbul pada hari ke-4.

    Berikut tabel penjelasan lebih mudah mengenai hasil IgM dan IgG.

    IgM IgG Keterangan
    Tidak terdapat infeksi COVID-19 atau antibodi tidak terdeteksi
    + Terdapat infeksi COVID-19 akut
    + + Terdapat infeksi COVID-19 akut
    + Terdapat infeksi COVID-19 lampau

    Sebuah penelitian dilakukan untuk membandingkan hasil dari RDT dengan RT-PCR yang merupakan gold standard. Didapatkan RDT memiliki nilai sensitifitas 88,66% dan spesifisitas 90,63%.

    Selama pandemi COVID-19 ini berlangsung, pastikanlah Sobat tetap waspada. Lakukanlah social distancing dan gunakan masker, jagalah kebersihan tangan dan lakukan etika batuk. Bila Sobat mengalami gejala COVID-19 periksakanlah diri Sobat secepatnya ke dokter.

    Baca Juga: Seperti Inilah Cara Melepas Masker yang Benar

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. COVID-19 situation reports. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports
    2. Advice on the use of point-of-care immunodiagnostic tests for COVID-19. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/advice-on-the-use-of-point-of-care-immunodiagnostic-tests-for-covid-19
    3. Li Z, Yi Y, Luo X, Xiong N, Liu Y, Li S et al. Development and Clinical Application of A Rapid IgM‐IgG Combined Antibody Test for SARS‐CoV‐2 Infection Diagnosis. Journal of Medical Virology. 2020;.
    4. Rapid Test Corona Diprioritaskan bagi Nakes dan Orang Kontak dengan Pasien Positif | Direktorat Jendral P2P. P2p.kemkes.go.id. 2020. Available from: http://p2p.kemkes.go.id/rapid-test-corona-diprioritaskan-bagi-nakes-dan-orang-kontak-dengan-pasien-positif/
    5. FAQs on Diagnostic Testing for SARS-CoV-2. U.S. Food and Drug Administration. 2020. Available from: https://www.fda.gov/medical-devices/emergency-situations-medical-devices/faqs-diagnostic-testing-sars-cov-2
    6. SARS-CoV-2 (Covid-19): Diagnosis by IgG/IgM Rapid Test Clinisciences. Clinisciences.com. 2020. Available from: https://www.clinisciences.com/es/leer/newsletter-26/sars-cov-2-covid-19-diagnosis-by-2264.html
    7. Xiang F, Wang X, He X, Peng Z, Yang B, Zhang J et al. Antibody Detection and Dynamic Characteristics in Patients with COVID-19. Clinical Infectious Diseases. 2020;.
    Read More
  • Pernakah Sobat menghadapi banyak tekanan hingga merasakan stres? Mungkin akhir-akhir ini Sobat tertekan karena virus corona sedang menyebar hingga ke Indonesia. Membaca artikel tentang virus corona yang sahih atau tanpa sumber yang akurat seperti hoax atau terbawa suasana untuk menimbun barang-barang berlebihan juga termasuk sumber stres. Stres dalam waktu singkat mungkin tidak dirasakan dampaknya pada […]

    Stres dan Panik Hadapi Corona, Justru Turunkan Imun Tubuh

    Pernakah Sobat menghadapi banyak tekanan hingga merasakan stres? Mungkin akhir-akhir ini Sobat tertekan karena virus corona sedang menyebar hingga ke Indonesia. Membaca artikel tentang virus corona yang sahih atau tanpa sumber yang akurat seperti hoax atau terbawa suasana untuk menimbun barang-barang berlebihan juga termasuk sumber stres. Stres dalam waktu singkat mungkin tidak dirasakan dampaknya pada tubuh Sobat. Namun stres dalam jangka waktu lama dapat menurunkan imun hingga mengganggu keseimbangan imun tubuh. Alhasil Sobat pun lebih rentan terhadap infeksi penyakit termasuk virus corona. Bagaimanakah stres dapat terhubung dengan terganggunya imun tubuh? Kita akan membahas definisi dari stres itu sendiri, bagaimana proses respon tubuh terhadap stres, hingga keadaan yang menyebabkan imun terganggu karena stres.

    Baca Juga: Lakukan Langkah Ini Jika Stres Akibat Corona

    Stres emosional adalah khawatir besar yang disebabkan oleh situasi sulit. Situasi sulit ini dapat dialami oleh kondisi di sekitar Sobat seperti kepanikan atau ketakutan akan suatu kondisi. Stres juga merupakan suatu proses dinamis yang dipengaruhi oleh bagian kognitif dari seseorang. Mengalami stres merupakan suatu hal yang normal. Durasi stres yang dapat dialami dapat berupa singkat atau lama. Contoh bentuk stres yang dialami saat singkat seperti saat dikejar lebah atau saat ingin berbicara di umum. Stres lama dapat berupa gangguan depresi atau gangguan panik yang menimbulkan tekanan dalam jangka waktu lama. Contoh yang saat ini dapat terjadi adalah kekhawatiran atau ketakutan berlebih yang berjalan dalam waktu lama selama pandemik virus corona.

    Stres dalam jangka waktu lama bersifat buruk untuk tubuh karena tubuh mengeluarkan hormon-hormon stres yang mengganggu daya tahan tubuh Sobat seperti kortisol. Kortisol merupakan suatu hormon dalam golongan Glukokortikoid. Hormon ini dikeluarkan tubuh saat mengalami stres. Proses ini dimulai dari sistem Hypothalamus Pituitary Adrenal (HPA) Axis akan mengeluarkan Corticotropin Releasing Hormone (CRH), hormon CRH menyebabkan  kelenjar adrenal mengeluarkan Glukokortikoid yang berupa Kortisol. Dalam jangka waktu singkat, hormon kortisol bersifat protektif untuk tubuh. Fungsi kortisol adalah sebagai respon anti radang dalam tubuh. Namun jika terjadi paparan hormon kortisol dalam jangka waktu lama, tubuh menjadi tidak sensitif terhadap hormon tersebut sehingga respon untuk menurunkan radang pada tubuh terganggu. Hal ini menyebabkan peningkatan respon radang tubuh. Semua proses ini pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan imun tubuh. Penelitian menunjukkan hal serupa terlihat pada pasien dengan gangguan depresi mayor dan gangguan panik.

    Baca Juga: Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Tanpa ke Bioskop

    Pada kondisi imun tubuh yang terganggu, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi penyakit. Tidak hanya itu, bahkan penelitian menunjukkan kondisi tersebut dapat memperpendek umur.7 Penyakit-penyakit kronis yang sering dijumpai pada umumnya juga disebabkan oleh paparan respon radang tubuh dalam jangka waktu lama. Salah satu contoh dari penyakit kronis ini adalah penyakit jantung dan pembuluh darah berupa atherosclerosis atau penyumbatan pembuluh darah.7,8 Kondisi peningkatan respon radang dalam tubuh untuk jangka waktu lama dapat menyebabkan luka pada pembuluh darah. Luka ini dapat berkembang, lalu menjadi suatu penyumbatan pembuluh darah.

    Baca Juga: Mengembangkan Vaksin dalam Pandemic Speed, Bagaimana dengan Indonesia

    Apabila Sobat sedang dalam stres karena banyak tekanan dari kondisi saat ini, tenanglah dan luangkan waktu sejenak. Lakukan kegiatan-kegiatan untuk menenangkan diri Sobat seperti meditasi atau hobi yang Sobat gemari di rumah dengan keluarga. Untuk sementara waktu hindari membaca artikel tentang virus corona. Jika Anda ingin membaca informasi tentang virus Corona, bacalah dari website yang sahih seperti World Health Organization (WHO) atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Jangan terbawa suasana panik untuk menimbun barang-barang yang tidak diperlukan. Stres dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan imun tubuh terganggu, sehingga tubuh menjadi rentan untuk infeksi dan penyakit-penyakit kronis lain. Pastikan kondisi Sobat tetap sehat baik secara fisik maupun emosional.

    Produk Terkait: Layanan Suntik Vitamin C ke Rumah

    Untuk informasi terkait corona, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Stress Meaning in the Cambridge English Dictionary [Internet]. [cited 2015 Sep 5]. Available from: http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/stress
    2. Butler G. Definitions of stress. Occas Pap R Coll Gen Pract. 1993;(61):1.
    3. Habib Yaribeygi A. The impact of stress on body function: A review [Internet]. PubMed Central (PMC). 2020. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5579396/
    4. Liu Y, Wang Y, Jiang C. Inflammation: The Common Pathway of Stress-Related Diseases. Frontiers in Human Neuroscience. 2017;11.
    5. Takahashi A, Flanigan M, McEwen B, Russo S. Aggression, Social Stress, and the Immune System in Humans and Animal Models. Frontiers in Behavioral Neuroscience. 2018;12.
    6. Hou R, Garner M, Holmes C, Osmond C, Teeling J, Lau L et al. Peripheral inflammatory cytokines and immune balance in Generalised Anxiety Disorder: Case-controlled study. Brain, Behavior, and Immunity. 2017;62:212-218.
    7. Rohleder N. Chronic Stress and Disease. Insights to Neuroimmune Biology. 2016;:201-214.
    8. Esler M. Mental stress and human cardiovascular disease. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 2017;74:269-276.
    Read More
  • Masker merupakan sebuah alat pelindung diri (APD) yang digunakan pada wajah atau kepala dan menutupi setidaknya hidung dan mulut. Pada umumnya, masker hanya digunakan oleh orang yang sedang sakit. Tetapi saat ini masyarakat sedang berbondong-bondong membeli masker terutama jenis masker bedah (surgical mask). Semua ini bertujuan  menghindari infeksi virus Corona (COVID-19) yang sedang menjadi pandemik.1,2 […]

    Masker Habis? Ini Caranya untuk Membuat Masker Sendiri

    Masker merupakan sebuah alat pelindung diri (APD) yang digunakan pada wajah atau kepala dan menutupi setidaknya hidung dan mulut. Pada umumnya, masker hanya digunakan oleh orang yang sedang sakit. Tetapi saat ini masyarakat sedang berbondong-bondong membeli masker terutama jenis masker bedah (surgical mask). Semua ini bertujuan  menghindari infeksi virus Corona (COVID-19) yang sedang menjadi pandemik.1,2 Jika semua masker habis, ada tips untuk membuatnya sendiri. Namun sebelum itu, kita pelajari lebih dahulu apa itu masker bedah.

    Baca Juga: Jenis dan Efektivitas Masker Menurut WHO, Tak Ada Scuba dan Buff

    Masker bedah secara umum terdiri dari 3 lapisan. Lapisan terluar merupakan lapisan yang menangkal cairan (hidrofobik) sehingga tidak masuk ke lapisan dalam. Lapisan tengah merupakan lapisan penyaring. Lapisan terdalam merupakan lapisan yang menyerap air (hidrofilik). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa masker bedah memiliki nilai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan bandana untuk menutupi mulut dan hidung.3 Ini membuktikan bahwa 3 lapisan unik dari masker bedah memiliki fungsi untuk memfiltrasi kuman-kuman.

    Dengan menipisnya persediaan masker pada berbagai tempat, Sobat dapat membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang dapat Sobat temukan di rumah. Sebuah penelitian di Cambridge membandingkan beberapa bahan rumah tangga yang dapat digunakan sebagai substitusi masker bedah. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa bahan yang direkomendasikan untuk dijadikan pengganti masker adalah:

    • Baju 100% katun
    • Sarung bantal

    Kedua bahan rumah tangga tersebut diuji dengan ketebalan 2 lapis. Dibandingkan dengan bahan rumah tangga yang lain, kedua bahan tersebut memiliki efektivitas untuk menyaring dan aliran udara untuk bernapas yang dapat ditoleransi. Meskipun demikian, efektivitas dari kedua bahan tersebut tidak lebih tinggi dibandingkan dengan masker bedah.4 Jika Sobat ingin membuat masker sendiri, diperlukan 3 lapisan kain nonwoven meltblown yang tahan air, menjadi penyaring, dan menyerap air. Jika Sobat tidak memiliki bahan tersebut, Anda dapat menggunakan bahan lain sebagai pengganti.

    Baca Juga: Aturan Penggunaan Masker pada Anak dan Tips Memakainya

    Untuk pembuatan masker substitusi:

    • Jahitlah 2 lembar bahan (baju 100% katun atau sarung bantal) untuk bagian depan dan belakang masker.
    • Buat bukaan pada tengah dari bagian belakang untuk dimasukkan lapisan penyaring sebagai lapisan tengah. Lapisan penyaring dapat disubstitusi dengan bahan kain nonwoven berupa tisu basah yang dikeringkan, popok bayi atau dewasa baru, atau pembalut baru.
    • Sisipkan bahan penguat pada bagian atas agar masker dapat dikencangkan pada bagian hidung Sobat.
    • Jahitlah ujung kiri dan kanan masker dengan kain untuk dikaitkan pada telinga kiri dan kanan Sobat.

    Masker ini dapat Sobat gunakan hanya untuk keadaan darurat dimana tidak dapat dijumpai lagi masker bedah. Untuk penggunaan ulang, buang bahan penyaring pada bagian dalam masker lalu cuci masker dengan detergen atau sabun, lalu keringkan hingga tuntas. Gunakan lapisan penyaring yang baru.

    Penggunaan masker direkomendasikan oleh WHO untuk orang sakit, atau orang yang sedang merawat orang yang dicurigai atau sudah terinfeksi COVID-19.5 Ini dikarenakan  penularan virus yang terjadi secara kontak dekat (dalam 1.8 meter).6 Metode penularan virus corona berupa droplet yang diproduksi orang sakit.7 Droplet tersebut dapat dihentikan oleh masker saat orang yang sakit batuk atau bersin, sehingga tidak tersebar ke benda atau orang lain. Untuk Sobat yang sehat, cukup hanya menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit dan hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan.6

    Baca Juga: Seperti Inilah Cara Melepas Masker dengan Benar

    Penggunaan masker buatan sendiri tentu tidak akan sama efektivitasnya dengan masker bedah, namun dapat digunakan dalam keadaan darurat. Jika saat ini Sobat dalam keadaan sehat, maka Sobat tidak perlu menggunakan masker. Apabila Sobat memiliki masker bedah, pastikan Sobat menggunakan masker hanya jika diperlukan karena saat ini persediaan masker sangat terbatas. Dengan melakukan hal demikian, Sobat dapat membantu menghentikan penyebaran COVID-19 dengan memberikan kesempatan orang yang membutuhkan untuk memiliki masker seperti yang sedang sakit dan para tenaga kesehatan.

    Produk Terkait: Masker Medis

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-nCoV/summary.html
    2. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus
    3. Bowen L. Does That Face Mask Really Protect You?. Applied Biosafety. 2010;15(2):67-71.
    4. Davies A, Thompson K, Giri K, Kafatos G, Walker J, Bennett A. Testing the Efficacy of Homemade Masks: Would They Protect in an Influenza Pandemic?. Disaster Medicine and Public Health Preparedness. 2013;7(4):413-418.
    5. When and how to use masks [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/when-and-how-to-use-masks
    6. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/respirator-use-faq.html
    7. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    Read More
  • Tentu Sobat sering melihat #stayathome atau social distancing tersebar di media sosial bukan? Gerakan ini diadakan karena virus corona (COVID-19) yang sedang menjadi pandemik. Berada di rumah dalam jangka waktu yang lama mungkin membuat Sobat sedikit jenuh, atau menurunkan tingkat aktivitas fisik Sobat. Namun tanpa perlu keluar dari rumah untuk berlari maupun ke tempat fitness […]

    6 Ide Olahraga di Rumah agar Tetap Fit Melawan Corona

    Tentu Sobat sering melihat #stayathome atau social distancing tersebar di media sosial bukan? Gerakan ini diadakan karena virus corona (COVID-19) yang sedang menjadi pandemik. Berada di rumah dalam jangka waktu yang lama mungkin membuat Sobat sedikit jenuh, atau menurunkan tingkat aktivitas fisik Sobat. Namun tanpa perlu keluar dari rumah untuk berlari maupun ke tempat fitness atau gym, Sobat dapat melakukan aktivitas fisik yang cukup di dalam rumah.

    Aktivitas fisik dinilai baik untuk tubuh karena dapat menekan peradangan dan meningkatkan imunitas tubuh.4 Beraktivitas fisik yang menggunakan beban termasuk berat tubuh sendiri dapat mengurangi risiko mengalami sindroma metabolik.5 Berikut adalah beberapa ide olah raga ringan di rumah yang dapat dilakukan Sobat agar tetap fit:

    1. Latihan Aerobik

    Latihan aerobik atau disebut dengan cardio merupakan latihan yang memerlukan oksigen yang adekuat untuk menjalani proses metabolisme aerobik. Latihan ini akan membuat Sobat bernapas dan jantung berdetak lebih cepat. Pada umumnya jenis latihan aerobik adalah berlari, berenang, atau bersepeda. Namun berikut adalah alternatifnya yang dapat dilakukan di rumah:

    • Jumping Jacks
    • Mountain Climbers
    • Burpees
    • High knees
    1. Push Up

    Gerakan push up menggunakan otot dada dan trisep dengan gaya mendorong. Gerakan ini memiliki banyak variasi, namun variasi yang paling standarnya adalah:

    • Posisikan kedua tangan Sobat selebar bahu.
    • Saat menekuk siku dan merendahkan tubuh Sobat, posisi siku adalah sekitar 45 derajat dari tubuh.
    • Pastikan tangan Sobat terbuka dengan jari tengah menunjuk ke arah jam 12.
    • Selama gerakan ini, perut atau core Sobat harus dikontraksikan dan punggung Sobat datar, sehingga tubuh Sobat lurus dari kepala hingga tumit.
    • Posisikan kaki Sobat seperti saat berjinjit, namun jika terasa terlalu berat, Sobat dapat melakukan gerakan ini dengan dengkul Sobat.
    1. Squat

    Untuk pemula yang melakukan squat sering melakukan kesalahan dengan posisi berjongkok dan berjinjit. Squat juga memiliki beberapa variasi, yang paling standar adalah dengan beban tubuh:

    • Posisikan kedua kaki selebar bahu dengan arah keluar sekitar 15 derajat.
    • Kontraksikan perut Sobat dan pastikan punggung tetap lurus.
    • Lakukan seperti Sobat ingin duduk, kedua telapak kaki tetap menempel ke lantai.

    Saat gerakan ini dilakukan dengan benar, otot paha (quadriceps dan hamstring) dan otot bokong (glutes) akan terlatih.

    1. Lunges

    Sobat pasti pernah mengikat tali sepatu yang terlepas saat berjalan bukan? Gerakan lunges mirip dengan posisi itu. Gerakan ini digunakan untuk melatih otot paha, otot bokong, dan otot pinggul.

    • Posisikan kedua kaki selebar pinggul.
    • Melangkah dengan kaki kiri atau kanan, tumit menyentuh lantai terlebih dahulu.
    • Posisikan paha pada kaki yang melangkah sejajar dengan lantai dan dengkul tidak melewati jari kaki.
    • Untuk kaki yang lain posisikan paha lurus dengan tubuh dan jari kaki seperti menjinjit.
    • Pastikan tubuh tetap tegak dan perut dikontraksikan.
    • Gunakan tumit kaki yang melangkah untuk kembali ke posisi semula.
    • Ulangi gerakan pada kaki sebelah.
    1. Sit Up

    Pasti saat sekolah, Sobat sudah melakukan sit up tentunya. Gerakan ini melatih otot perut (Abs) dan otot pinggul (Hip flexor).

    • Posisikan tubuh Sobat tidur pada lantai, tekuk dengkul dan jika ada, gunakan benda seperti kursi atau minta tolong orang lain untuk menahan kedua kaki Sobat.
    • Letakkan kedua tangan Sobat di belakang kepala atau disilang di depan dada, tekuk pinggul untuk menarik tubuh Sobat dan kontraksikan perut.
    • Saat menurunkan tubuh, pastikan tubuh Sobat menyentuh lantai hingga punggung atas.
    1. Plank

    Sama seperti gerakan sebelum-sebelumnya, plank memiliki banyak variasi bahkan dapat dijadikan gerakan cardio. Plank yang standar dilakukan dengan:

    • Posisi tangan lurus dan selebar bahu, posisi tubuh lurus, dan jari kaki seperti menjinjit (seperti push up).
    • Kontraksikan otot perut dan bokong, lalu tahan posisi selama mungkin.

    Gerakan ini akan melatih terutama otot perut, otot bokong, otot bahu, dan otot lengan.

    Itulah beberapa contoh ide gerakan olahraga tanpa alat yang dapat Sobat lakukan di rumah. Pastikan Sobat melakukan aktivitas fisik selama 150 hingga 300 menit setiap minggunya dengan intensitas sedang.6 Jangan lupa untuk sementara waktu ini, hindari untuk keluar dari rumah demi kepentingan bersama.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Daftar Pustaka

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
    2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html
    3. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    4. Mikkelsen K, Stojanovska L, Polenakovic M, Bosevski M, Apostolopoulos V. Exercise and mental health. Maturitas. 2017;106:48-56.
    5. Bakker E, Lee D, Sui X, Artero E, Ruiz J, Eijsvogels T et al. Association of Resistance Exercise, Independent of and Combined With Aerobic Exercise, With the Incidence of Metabolic Syndrome. Mayo Clinic Proceedings. 2017;92(8):1214-1222.
    6. Physical Activity Guidelines for Americans [Internet]. HHS.gov. 2020. Available from: https://www.hhs.gov/fitness/be-active/physical-activity-guidelines-for-americans/index.html
    Read More

Showing 1–10 of 14 results

Chat Asisten ProSehat aja