Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Author Archive for: dr Jonathan Christopher

Jonathan Christopher

About Jonathan Christopher

  • Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? […]

    5 Persiapan untuk Kondisi New Normal

    Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? Perlukah Sobat bersiap-siap untuk menghadapi fase New Normal?

    Dikutip dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB), fase New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona jenis baru, penyebab COVID-19.1 Dengan kata lain, fase New Normal adalah situasi dimana terdapat perubahan standar yang menjadi kondisi normal yang baru. Beberapa dari Sobat mungkin akan kembali bekerja di kantor dan melakukan aktivitas rutin lainnya, namun harus ditambahkan dengan perilaku social distancing dan protokol pencegahan lainnya dalam masa pandemi COVID-19. Semua hal ini dianggap standar yang baru sehingga menjadi normal yang baru. Sobat akan menghadapi rutinitas sehari-hari dengan perilaku yang berbeda, pastikan Sobat siap untuk menghadapi fase New Normal. Berikut adalah perilaku yang harus Sobat siapkan untuk fase New Normal:

    1. Social Distancing Dimanapun Berada

    Perilaku social distancing sudah berjalan sekian lama seiring dengan masa pandemi COVID-19 ini. Tentu Sobat mungkin sudah terbiasa dengan social sistancing seperti bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) atau menghindari untuk berkumpul dengan teman-teman. Namun Sobat suatu saat akan kembali bekerja ke kantor, atau harus menggunakan angkutan umum. Selama pandemi ini berlangsung, social distancing tetap harus diterapkan. Pada saat di angkutan umum, berilah jarak 1 kursi kosong dengan penumpang lain dan jangan berjalan dalam kerumunan orang. Hal ini dikarenakan metoda penyebaran virus yang berupa droplet yang diproduksi oleh orang terinfeksi yang batuk atau bersin.2 WHO merekomendasikan untuk menjaga jarak minimal 1 meter antara Sobat dan orang lain.

    1. Selalu Gunakan Masker

    Untuk Sobat yang akan kerja dan bepergian melalui tempat umum, pastikan selalu menggunakan masker. Masker merupakan pencegahan yang efektif agar virus tidak masuk melalui hidung dan mulut Sobat. Lebih efektif lagi jika orang yang sedang sakit menggunakan masker, sehingga sumber penyebarannya terhenti pada masker orang sakit tersebut. Masker harus digunakan secara benar untuk dapat bekerja dengan efektif. Pastikan masker Sobat menutupi bagian hidung dan mulut dengan rapat. Masker bedah memiliki tingkat efektivitas paling tinggi.4 Apabila Sobat ingin membeli atau membuat masker buatan sendiri, pilihlah yang berbahan 100% katun karena memiliki efektivitas yang cukup tinggi dibandingkan bahan lain.

    1. Jangan Lupa untuk Mencuci Tangan

    Virus COVID-19 dalam bentuk droplet tidak hanya dibatukkan saja lalu menghilang. Droplet penuh virus dapat menempel pada permukaan-permukaan benda di sekitar Sobat. Pada permukaan plastik dan stainless steel virus dapat bertahan hingga 72 jam, selain itu pada kardus dapat bertahan hingga 24 jam dan pada tembaga hanya bertahan hingga 4 jam.6 Sebelum Sobat makan atau menyentuh wajah, pastikan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan menggunakan air mengalir dengan sabun atau dengan hand sanitizer berbasis alkohol cukup untuk membunuh virus tersebut.

    1. Jagalah Kesehatan Tubuh

    Makan makanan yang bergizi, minumlah yang cukup, rutin berolahraga, istirahat yang cukup dan jangan lupa untuk menghindari alkohol dan rokok. Jalanilah hidup Sobat dengan pola hidup yang sehat. Semua hal ini akan berdampak terhadap sistem imun tubuh Sobat. Jika imun tubuh sobat sedang tidak optimal, infeksi lebih mudah terjadi.

    1. Vaksin untuk Mencegah Infeksi Lain

    Sobat dapat melakukan vaksinasi untuk mencegah tubuh terinfeksi oleh penyakit lain. Salah satu contoh vaksinasi berupa vaksin influenza. Vaksin influenza akan membuat tubuh Sobat menjadi lebih tidak rentan terhadap virus yang memiliki tanda dan gejala yang mirip dengan COVID-19. Vaksin influenza dapat mengurangi 60% angka kejadian kasus pada orang yang dibawah 65 tahun, dan dapat menurunkan 50-60% angka rawat inap pada orang lanjut usia.7 Lalu, untuk mengurangi kunjungan Sobat ke rumah sakit, manfaatkan layanan Drive Thru seperti yang disediakan ProSehat, untuk meminimalisir kontak.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Jonathan Christopher

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ariansyah A. Ketika Semua Harus Memulai Fase “New Normal” Hadapi COVID-19 [Internet]. BNPB. [cited 2020 May 19]. Available from: https://bnpb.go.id/berita/ketika-semua-harus-memulai-fase-new-normal-hadapi-covid19-1
    2. Shereen MA, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. J Adv Res. 2020 Jul 1;24:91–8.
    3. Coronavirus [Internet]. [cited 2020 May 19]. Available from: https://www.who.int/westernpacific/health-topics/coronavirus
    4. Bowen LE. Does That Face Mask Really Protect You? Appl Biosaf. 2010 Jun 1;15(2):67–71.
    5. Davies A, Thompson K-A, Giri K, Kafatos G, Walker J, Bennett A. Testing the efficacy of homemade masks: would they protect in an influenza pandemic? Disaster Med Public Health Prep. 2013 Aug;7(4):413–8.
    6. van Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med. 2020 Apr 16;382(16):1564–7.
    7. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C, National Center for Immunization and Respiratory Diseases (U.S.), Communication and Education Branch. Epidemiology and prevention of vaccine-preventable diseases. 2015.
    Read More
  • Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai Work From Home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat […]

    Panduan Ergonomi Saat WFH

    Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai Work From Home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan isu ergonomi. Ergonomi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan komponen sistem lainnya untuk mendapatkan rancangan yang optimal terkait dengan human well-being dan kinerja sistem secara keseluruhan.1

    Beberapa isu ergonomi yang dapat Sobat alami pada umumnya seperti pegal pada bahu, leher, atau nyeri pinggang, keluhan mata seperti gatal atau perih, nyeri pada pergelangan tangan, hingga kelelahan. Semua isu tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar dari Sobat tidak memiliki lingkungan bekerja yang ergonomis di rumah, atau Sobat bekerja dalam posisi yang tidak baik untuk kesehatan seperti:1

    • Duduk dengan posisi membungkuk dan punggung tidak tersangga.
    • Bekerja di sofa dengan leher yang membungkuk atau pergelangan tangan yang menekuk.

    Sebuah penelitian menyatakan bahwa keluhan nyeri pada leher dan mata gatal atau perih disebabkan karena penderita melihat layar terlalu bawah yang dapat dihindari jika layar diposisikan sedikit di bawah ketinggian mata.2 Penelitian lain menemukan bahwa nyeri pada pergelangan tangan berupa Carpal Tunnel Syndrome dapat dikaitkan dengan penggunaan mouse yang lama.3 Semua keluhan tersebut dapat dihindari jika Sobat bekerja dalam posisi yang ideal. Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) telah mengeluarkan sebuah panduan untuk posisi yang ideal bagi tubuh Sobat saat bekerja. Sobat dapat ikuti panduannya sebagai berikut:1

    Untuk bekerja dalam durasi <1 jam

    Dapat dilakukan pada posisi duduk atau berdiri.

    • Untuk bekerja dengan posisi duduk di kursi/sofa:
      • Pilih kursi/sofa yang mendukung sikap duduk tegak yang nyaman.
      • Jika ada meja, maka tempatkan laptop di meja, dan posisi pergelangan tangan lurus saat mengetik.
      • Jika tidak ada meja, tempatkan laptop di pangkuan, pergelangan tangan harus tetap lurus saat mengetik.
      • Tambahkan buku/laptop riser/adjustable desk agar leher tidak menekuk.
      • Gunakan handuk gulung atau bantal untuk menopang punggung bagian bawah.
      • Miringkan layar laptop untuk mempertahankan postur netral.
    • Untuk bekerja dengan posisi berdiri, menggunakan prinsip yang sama.

    Untuk bekerja dalam waktu yang lama (> 1 jam)

    • Hindari bekerja sambil duduk di atas kasur atau sofa dalam jangka panjang.
    • Pilih meja yang paling memadai (cukup luas dengan ruang di bawah kaki memadai).
    • Pilih kursi yang bisa memberikan support untuk punggung bawah.
    • Tambahkan bantalan jika diperlukan.
    • Gunakan keyboard dan mouse terpisah dengan laptop Anda.
    • Posisi pergelangan tangan tetap lurus saat mengetik.
    • Posisikan laptop Anda sehingga bagian atas layar sejajar dengan ketinggian mata Anda. Gunakan kotak atau beberapa buku untuk meninggikan laptop anda atau pasang monitor terpisah jika ada.

    Saat Sobat bekerja dimanapun, 3 hal yang selalu harus diperhatikan adalah:1

    1. Pertahankan siku dalam posisi 90 derajat.
    2. Jarak mata dengan monitor 50-70 cm.
    3. Posisi tubuh netral dan rileks.

    Sebuah penelitian diadakan untuk menilai apakah ada perbedaan pada para pekerja setelah menerima pelatihan ergonomik. Hasilnya menunjukkan bahwa kejadian nyeri pinggang atau low back pain berkurang.4 Selain itu, Sobat juga dapat melakukan peregangan selama 5-10 menit sesuai panduan PEI. Modifikasi ergonomik seperti menggunakan posisi yang benar dan aktivitas peregangan terbukti dapat memperbaiki keluhan nyeri otot secara signifikan.5 Peregangan dapat dilakukan dengan cara seperti gambar di bawah:

    Saat WFH maupun nanti saat kembali ke kantor, jangan lupa untuk kerja dalam posisi ergonomis dan lakukan peregangan otot sesuai panduan PEI. Dengan posisi yang ergonomis dan peregangan otot, Sobat akan terhindar dari isu ergonomis yang menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan tidak nyaman.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Jonathan Christopher

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Yassierle, Titis W, Dewi H, Orchida D, Khoirul M, Wyke K. Panduan Ergonomis: “Working From Home”. Perhimpunan Ergonomi Indonesia; 2020.
    2. Mowatt L, Gordon C, Santosh ABR, Jones T. Computer vision syndrome and ergonomic practices among undergraduate university students. Int J Clin Pract. 2018;72(1):e13035.
    3. Shiri R, Falah-Hassani K. Computer use and carpal tunnel syndrome: A meta-analysis. J Neurol Sci. 2015 Feb 15;349(1):15–9.
    4. Kajiki S, Izumi H, Hayashida K, Kusumoto A, Nagata T, Mori K. A randomized controlled trial of the effect of participatory ergonomic low back pain training on workplace improvement. J Occup Health. 2017;advpub.
    5. Shariat A, Cleland JA, Danaee M, Kargarfard M, Sangelaji B, Tamrin SBM. Effects of stretching exercise training and ergonomic modifications on musculoskeletal discomforts of office workers: a randomized controlled trial. Braz J Phys Ther. 2018 Mar 1;22(2):144–53.
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja