Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ covid 19”

Showing 1–10 of 105 results

  • Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, menyempatkan diri mengunjungi program vaksinasi Bandara City Mall, Dadap, Kosambi, 10 April 2021. Pada hari kedua pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Prosehat bekerja sama dengan Rumah Sakit Mitra Husada, Rumah Sakit Bun, LPPM Atmajaya, dan puskesmas-puskemas di Kecamatan Kosambi tersebut, Bupati Zaki terlihat memantau pelaksanaan vaksinasi yang menyasar pada […]

    Bupati Kabupaten Tangerang Kunjungi Program Vaksinasi Bandara City Mall

    Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, menyempatkan diri mengunjungi program vaksinasi Bandara City Mall, Dadap, Kosambi, 10 April 2021.

    Foto: Firman Fakhrudin/Prosehat

    Pada hari kedua pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Prosehat bekerja sama dengan Rumah Sakit Mitra Husada, Rumah Sakit Bun, LPPM Atmajaya, dan puskesmas-puskemas di Kecamatan Kosambi tersebut, Bupati Zaki terlihat memantau pelaksanaan vaksinasi yang menyasar pada kelompok prioritas seperti lansia dan pekerja layanan publik.

    Baca Juga: Prosehat Menggelar Vaksinasi Massal di Bandara City Mall

    Dalam kesempatan itu ia cukup mengapresiasi terhadap program vaksinasi ini khususnya di wilayah Kabupaten Tangerang.

    Karena program ini, menurutnya, dapat membantu fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan yang ada seperti puskesmas, rumah sakit, dan target Kabupaten Tangerang untuk vaksinasi 15.000 orang per hari bisa tercapai.

    Foto: Firman Fakhrudin/Prosehat

    Ia juga menyatakan bahwa acara berjalan cukup lancar, aman, dan tertib selama dua hari penyelenggaraan, dan terlihat banyak masyarakat yang cukup antusias mengikuti vaksinasi ini, yang terlihat dari jumlah peserta.

    Di hari pertama ia menyebut ada 400, dan hari kedua ada 600 orang. Ke depannya ia mengharapkan terdapat jumlah pasokan vaksin Covid-19 yang cukup khususnya di Kabupaten Tangerang.

    Baca Juga: Prosehat Gelar Vaksinasi Covid-19 Bagi Lansia

    Tak lupa Bupati Zaki meminta masyarakat  setelah divaksinasi supaya tetap mematuhi protokol kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

    Baca Juga: Perilaku 5M, Cara Tepat dan Efektif Menimimalkan Penyebaran Covid-19

    Selain selain penerapan protokol kesehatan ia juga berpesan kepada masyarakat supaya tetap menjaga imunitas tubuh dan berolahraga.

    Tentang Prosehat

    Prosehat adalah sebuah penyedia layanan jasa kesehatan Indonesia yang berdiri sejak 2015. Prosehat hadir untuk menjawab permasalahan layanan kesehatan di Indonesia terutama vaksinasi.

    Salah satu layanan utama Prosehat adalah layanan vaksinasi ke rumah. Di samping itu Prosehat juga menyediakan kebutuhan kesehatan lainnya secara online seperti telemedisin berupa chat dokter 24 jam, fisioterapi, obat herbal, vitamin, cek lab, hingga kebutuhan ibu hamil dan bayi.

    Semua layanan yang ada dikerjakan oleh para tenaga profesional yang terpercaya, dan Prosehat bermitra dengan apotek, laboratorium, dan produsen kesehatan untuk menjamin keaslian produk.

    Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau www.prosehat.com.

     

    Read More
  • Setelah melarang mudik pada 23 Maret 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19, Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 kembali mengeluarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah dan Upaya Pengendalian Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah. Baca Juga: Mudik Lebaran 2021 Resmi […]

    Sah! Pemerintah Resmi Larang Mudik 6-17 Mei 2021

    Setelah melarang mudik pada 23 Maret 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19, Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 kembali mengeluarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah dan Upaya Pengendalian Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah.

    pemerintah resmi larang mudik 6-17 Mei 2021

    Baca Juga: Mudik Lebaran 2021 Resmi Dilarang, Berikut Alasan dan Sanksinya

    Surat edaran yang diterbitkan pada 8 April 2021 ini turut mencantumkan larangan mudik bagi semua jenis moda transportasi yang mulai berlaku pada 6-17 Mei 2021.

    Adapun tujuan dikeluarkannya surat edaran yang telah ditandatangani oleh Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo, adalah untuk memantau dan mengevaluasi penyebaran Covid-19 selama bulan Ramadan dan Idul Fitri.

    Larangan Tidak Berlaku Bagi…

    Meski demikian terdapat pengecualian larangan mudik sesuai surat edaran tersebut, bagi orang yang melakukan perjalanan mendesak dan pelayanan distribusi logistik.

    Yang dimaksud dengan perjalanan mendesak, meliputi:

    • Bekerja atau melakukan perjalanan dinas.
    • Kunjungan kepada keluarga yang sakit.
    • Kunjungan kepada anggota keluarga yang meninggal.
    • Ibu hamil yang didampingi 1 keluarga.
    • Kepentingan persalinan yang didampingi maksimal 2 orang.

    Baca Juga: Beragam Syarat Perjalanan Dalam Negeri Terbaru, Ada GeNose

    Persyaratan Perjalanan Darurat

    Bagi pelaku perjalanan yang hendak melakukan perjalanan darurat harus tetap memiliki surat izin keluar masuk (SIKM). Adapun SIKM yang disyaratkan berbeda bagi setiap pelaku perjalanan.

    ASN/TNI/Polri

    Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri, wajib melampirkan bukti fisik SIKM dari pejabat setingkat eselon II yang dilengkapi dengan tanda tangan basah atau tanda tangan elektronik dan identitas diri.

    Pegawai Swasta

    Bagi pegawai swasta, wajib melampirkan bukti fisik SIKM dari pimpinan perusahaan yang dilengkapi tanda tangan basah atau tanda tangan elektronik dan identitas diri.

    Pekerja Sektor Informal

    Bagi pekerja sektor informal, wajib melampirkan bukti fisik SIKM dari pekerja sektor informal dari kepala desa/lurah yang dilengkapi tanda tangan basah atau tanda tangan elektronik dan identitas diri.

    Masyarakat Non Pekerja

    Bagi masyarakat non pekerja, wajib melampirkan bukti fisik SIKM dari dari kepala desa/lurah yang dilengkapi tanda tangan basah atau tanda tangan elektronik dan identitas diri.

    SIKM berlaku bagi setiap individu untuk satu kali perjalanan dan wajib dibawa bagi pelaku perjalanan yang sudah berusia 17 tahun ke atas. Namun SIKM tidak berlaku bagi para pelaku perjalanan yang berada di wilayah aglomerasi perkotaan, seperti Jabodetabek.

    Pihak Satgas Covid 19 akan memberikan sanksi berupa denda, sanksi sosial, kurungan ataupun pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Demikianlah Sahabat Sehat, mengenai larangan mudik yang telah resmi dikeluarkan oleh Satgas Covid-19 demi menekan penyebaran Covid-19.

    Baca Juga: Tips Mengelola Stres Karena Dilarang Mudik Lebaran

    Yuk, Sahabat Sehat tetap lakukan perilaku 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi) serta terapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

    Sahabat Sehat, jangan lupa lakukan deteksi dini Covid-19 di Prosehat. Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah dan Upaya Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah [Internet]. 1st ed. Jakarta: Satgas Covid-19; 2021 [cited 9 April 2021]. Available from: https://covid19.go.id/storage/app/media/Regulasi/2021/April/SE%20Ka%20Satgas%20Nomor%2013%20Tahun%202021%20Larangan%20Mudik%20Hari%20Raya%20Idul%20Fitri%20dan%20Pengendalian%20COVID-19%20selama%20Bulan%20Suci%20Ramadhan%201442H.pdf
    Read More
  • Tuberkulosis atau yang biasa disebut TBC ternyata memiliki berbagai perbedaan. Walaupun ada juga kesamaannya, Sahabat Sehat harus bisa membedakan antara TBC dan Covid-19. Agar Sahabat Sehat dapat segera aware terhadap penyakit yang diderita TBC Tuberculosis merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC merupakan salah satu penyakit yang  sangat mengancam keselamatan jiwa, sama […]

    Mari Kenali Perbedaan TBC dan Covid-19

    Tuberkulosis atau yang biasa disebut TBC ternyata memiliki berbagai perbedaan. Walaupun ada juga kesamaannya, Sahabat Sehat harus bisa membedakan antara TBC dan Covid-19. Agar Sahabat Sehat dapat segera aware terhadap penyakit yang diderita

    perbedaan tbc dan covid-19

    TBC

    Tuberculosis merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC merupakan salah satu penyakit yang  sangat mengancam keselamatan jiwa, sama seperti Covid-19.

    Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin?

    Menurut WHO, setiap detiknya paling tidak ada satu orang yang treinfeksi TBC di dunia. Indonesia sendiri telah menempati urutan atau peringkat kedua sebagai negara dengan kasus penyakit TBC terbanyak setelah India.

    TBC bahkan menjadi infeksi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Namun sayangnya, masih banyak yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu tentang penyakit TBC.

    Kebanyakan, orang biasanya tidak menyadari saat mengalami gejala penyakit TBC dan bingung membedakannya dengan penyakit lain, karena memang tidak mudah untuk mengenalinya. Padahal sebenarnya, gejala penyakit TBC dimulai secara bertahap dan berkembang dalam jangka waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan.

    Gejala TBC

    Biasanya pasien sering mengalami satu atau dua gejala ringan yang membuat tidak bisa mengenali gejala penyakit apa tersebut.

    Mengidentifikasi gejala penyakit TBC sendiri bisa membantu seseorang mencegah komplikasi seperti infeksi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) pada organ tubuh lainnya. Berikut gejala penyakit TBC:

    – Batuk terus-menerus

    Batuk sendiri merupakan gejala umum dari penyakit TBC. Apabila Sahabat Sehat batuk yang terus menerus dan menyakitkan selama lebih dari dua minggu, sebaiknya segera periksa ke dokter.

    – Batuk darah

    Selain batuk yang tidak juga kunjung sembuh, penderita TBC biasanya juga mengalami batuk darah. Oleh karena itu waspadalah ketika ada noda darah ketika batuk.

    – Penurunan berat badan

    Penderita TBC juga biasanya mengalami penurunan berat badan. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya bakteri TB yang berkembang di dalam tubuh penderita penyakit TBC.

    – Demam

    Biasanya setiap penderita infeksi TBC disertai dengan demam.

    – Lemah

    Sahabat Sehat harus tahu, biasanya penyakit TBC bisa membuat tubuh menjadi cepat merasa lemah.

    – Rasa sakit di paru-paru

    TBC sendiri merupakan penyakit yang menginfeksi paru-paru. Jika Sahabat Sehat merasakan nyeri tajam di paru-paru dan merasa kesakitan ketika menghembuskan udara, maka bisa dipastikan memiliki infeksi paru-paru yang parah.

    – Infeksi yang tidak kunjung sembuh

    Selain membuat infeksi paru-paru, TBC juga dapat menginfeksi setiap bagian tubuh seperti perut, hati, bahkan otak. Jika Sahabat Sehat memiliki infeksi di daerah tersebut lebih dari 3 minggu, sebaiknya periksakanlah hal tersebut ke dokter.

    Baca Juga: Pelayanan TBC Selama Masa Pandemi Covid-19

    – Menggigil di malam hari

    Jika Sahabat Sehat menggigil di malam hari padahal udara sedang tidak dingin atau bisa dibilang normal, hal ini bisa juga menjadi tanda TBC. Sebab, infeksi dari bakteri TBC ini biasanya akan menyebabkan menggigil di malam hari.

    – Kelelahan

    Gejala yang lain adalah Sahabat Sehat akan mudah sekali lelah karena daya tahan tubuh mulai melemah saat menderita penyakit TBC.

    – Urine kemerahan

    Sahabat Sehat bisa mengamati urine yang berubah warna (kemerahan) atau urine keruh. hal ini juga merupakan gejala yang muncul pada tahap selanjutnya.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona jenis SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

    Virus ini dapat menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Baca Juga: Kiat Penderita Asma Menghadapi Covid-19

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    – Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Persamaan TBC dan Covid-19

    Persamaan TBC dan Covid-19 adalah dapat menular melalui droplet atau percikan ludah dan saluran pernapasan. Penularannya pun bisa berasal dari orang-orang yang memang tidak memiliki gejala (asimptomatik).

    Namun, Covid-19 juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui kontak pada permukaan, seperti pada mata, hidung, dan mulut, jika sebelumnya virus terdapat di permukaan tubuh.

    Terkait pengendalian infeksi penyakitnya, TBC dan Covid-19 dapat dikendalikan lewat tindakan administratif termasuk triase pasien berdasarkan gejala pernapasan serta menyarankan pasien atau penderita untuk menggunakan masker.

    Baca Juga: Tepat dan Efektifkah  Masker Berlapis untuk Menangkal Covid-19?

    Selain menggunakan masker, tindakan lingkungan atau penerapan perilaku hidup bersih dan sehat bisa mempercepat pemulihan masing-masing penyakit tersebut. Seperti memberikan ventilasi dengan aliran udara yang baik.

    Nah, kini Sahabat Sehat sudah mengetahui perbedaan dan persamaan dari penyakit TBC dan Covid-19. Sahabat Sehat bisa memeriksakan apabila sudah mulai ada gejala yang sudah disebutkan di atas.

    Namun, di masa pandemi Covid-19 seperti ini, guna mengecek kepastian, Sahabat Sehat bisa langsung melakukan tes swab atau sebagainya guna mengecek kesehatan pada Sahabat Sehat masing-masing.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Untuk TBC Sahabat bisa mencegahnya dengan vaksinasi BCG di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Ansori, A., 2021. Wajib Tahu Beda Penularan TBC dengan COVID-19. [online] liputan6.com. Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/4331285/wajib-tahu-beda-penularan-tbc-dengan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    2. merdeka.com. 2021. Pahami Perbedaan TBC dengan Covid-19 di Tengah Pandemi | merdeka.com. [online] Available at: <https://www.merdeka.com/sehat/pahami-perbedaan-tbc-dengan-covid-19-di-tengah-pandemi.html> [Accessed 5 April 2021].
    3. liputan6.com. 2021. 10 Gejala Penyakit TBC dan Cara Pengobatannya, Kenali Sejak Dini Sebelum Terlambat. [online] Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/3874937/10-gejala-penyakit-tbc-dan-cara-pengobatannya-kenali-sejak-dini-sebelum-terlambat> [Accessed 5 April 2021].
    4. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    Read More
  • Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia […]

    Yang Perlu Sahabat Ketahui Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

    perbedaan pneumonia dan covid-19

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia karena kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang hampir serupa. Bahkan, pneumonia sama seperti Covid-19 bisa bersifat dan menyebabkan kematian.

    Namun bukan berarti kedua penyakit tersebut tidak memiliki perbedaan. Berikut perbedaan antara Pneumonia dan Covid-19.

    Pneumonia

    Penyakit peradangan jaringan paru-paru mengakibatkan kantung udara di ujung pernapasan di paru-paru terisi oleh cairan. Pneumonia berisiko pada orang yang biasanya memiliki sistem kekebalan atau imunitasnya rendah. Bisa menyerang usia berapa pun, mulai dari bayi, orang tua, perokok, peminum berat dan lainnya.

    Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), pneumonia atau radang paru-paru menjadi penyebab kematian pada balita dan juga anak tersebesar di Indonesia.

    Sedangkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat pneumonia menyumbang  14 sampai 16% dari total kematian anak yang ada di Indonesia.

    Pneumonia dapat memiliki derajat berat maupun ringan. Hal tersebut dipengaruhi oleh jenis kuman penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatan penderita dari penyakit pneumonia itu sendiri.

    Dalam kasus pneumonia ringan, biasanya penderita hanya memerlukan waktu beberapa hari atau satu minggu untuk bisa kembali sehat.

    Namun, jika dalam kasus yang parah, pneumonia bisa memerlukan waktu sampai dengan enam bulan, agar penderita pulih atau sehat kembali. Bahkan bisa juga menyebabkan kematian.

    Pada seseorang dengan kesehatan yang buruk atau dengan sistem kekebalan yang lemah, Pneumonia yang tidak diobati dapat menyebabkan kadar oksigen turun sehingga jaringan tubuh akan berpengaruh.

    Penyakit pneumonia ini juga bisa menular lewat percikan cairan pernapasan saat penderita batuk, bersin, ataupun bernapas.

    Gejala Pneumonia

    Gejala dari pneumonia biasanya mirip dengan influenza sehingga penderita bisa merasakan gejala yang umum terjadi, seperti:

    – Demam atau suhu tinggi

    – Menggigil

    – Batuk

    – Kehilangan nafsu makan

    – Merasa sakit di sisi dada

    – Jantung berdebar

    – Tidak selera makan

    – Batuk berdarah

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Badan terasa nyeri

    – Nyeri sendi dan otot

    – Linglung atau merasa bingung, terutama biasanya terjadi pada orang lansia

    Penyakit pneumonia bisa diketahui lewat pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Dokter pada umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian merekomendasikan rontgen dada, tes dahak, atau juga melakukan tes darah.

    Produk Terkait: Jual Vaksinasi Pneumonia Dewasa

    Apabila memang bisa mengancam jiwa, penyakit ini seharusnya bisa segera ditangani atau diobati. Penderita juga perlu minum banyak air putih dan banyak istirahat selama atau dalam proses pemulihan.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona yang bernama SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya, di mana pun. Virus ini juga bisa menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, seperti yang sama-sama diketahui, banyak penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Nah, Sahabat Sehat sudah mengetahui kan perbedaan dari Pneumonia dan juga Covid-19. Namun, guna memastikan dan mengecek kebenaran, sebaiknya apabila sudah bergejala, Sahabat Sehat bisa melakukan tes swab. Sehingga nantinya tidak hanya menerka-nerka jenis penyakit apa yang ada di tubuh Sahabat Sehat.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Tetaplah berperilaku hidup sehat, senantiasa patuh dan taat dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan juga mencuci tangan dengan sabun.

    Baca Juga: Berikut 5 Alat Pemantau Kesehatan yang Sahabat Wajib Punya di Masa Pandemi!

    Pneumonia sendiri bisa dicegah dengan vaksinasi. Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah.

    Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media, K., 2021. Kenali Apa Itu Pneumonia, Gejala, dan Penyebabnya Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://health.kompas.com/read/2020/11/12/170100868/kenali-apa-itu-pneumonia-gejala-dan-penyebabnya?page=all#page2.> [Accessed 5 April 2021].
    2. [online] Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/16/151500565/apa-bedanya-pneumonia-dengan-covid-19-yang-disebabkan-virus-corona?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    3. suara.com. 2021. Punya Gejala Mirip, Ini Cara Membedakan Pneumonia dan Covid-19. [online] Available at: <https://www.suara.com/health/2020/11/07/094431/punya-gejala-mirip-ini-cara-membedakan-pneumonia-dan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    4. Widiyarti, Y., 2021. Kenali Beda Pneumonia dan Covid-19. [online] Tempo. Available at: <https://gaya.tempo.co/read/1405686/kenali-beda-pneumonia-dan-covid-19/full&view=ok> [Accessed 5 April 2021].
    5. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021]
    Read More
  • Virus Covid-19 diketahui telah bermutasi, kali ini dalam bentuk varian baru yang disebut E484K atau EEK yang berasal dari Jepang. Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 menyatakan bahwa varian baru virus Corona E484K lebih cepat menular dibandingkan varian sebelumnya, seperti B117 dari Inggris. Baca Juga: Mengenal Varian Baru B117 yang Sudah Masuk ke Indonesia Kementerian Kesehatan (Kemenkes) […]

    Waspada! Varian Baru Virus Corona E484K Sudah Masuk Indonesia

    Virus Covid-19 diketahui telah bermutasi, kali ini dalam bentuk varian baru yang disebut E484K atau EEK yang berasal dari Jepang.

    Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 menyatakan bahwa varian baru virus Corona E484K lebih cepat menular dibandingkan varian sebelumnya, seperti B117 dari Inggris.

    varian baru virus corona E484K

    Baca Juga: Mengenal Varian Baru B117 yang Sudah Masuk ke Indonesia

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memastikan bahwa varian baru virus Corona, E484K telah masuk ke Indonesia.

    Kemenkes melalui juru bicara vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyatakan akan tetap menelusuri asal virus dan meminta masyarakat untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat serta mengikuti program vaksinasi yang saat ini tengah dilaksanakan.

    Seperti dilansir dari CNN Indonesia, kemunculan varian baru virus Corona E4848K in terjadi pada pertengahan bulan Februari-Maret 2021.

    Sekitar 70% pasien yang dites di sebuah rumah sakit di Tokyo dilaporkan terinfeksi virus Corona varian E484K, dan sebanyak 10 dari 14 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Tokyo Medical and Dental University Medical Hospital ternyata telah terinfeksi varian baru virus Corona E484K.

    Seperti Apa Varian Baru Virus Corona E484K?

    Dilansir dari Detikcom, varian baru virus Corona E484K (EEK) sebenarnya bukanlah varian baru virus Covid-19 melainkan mutasi yang terjadi pada virus Corona.

    Varian baru virus Corona E484K (EEK) disebut sebagai escaped mutant, yakni versi mutan virus Corona yang terbukti dapat lepas dari antibodi tubuh yang dibentuk oleh vaksin.

    Baca Juga: Mutasi Virus Corona yang Perlu Sahabat Tahu

    Mutasi ini awalnya ditemukan pada mutasi virus Corona asal Afrika Selatan, yakni varian B 1351. Namun seiring perkembangannya, mutasi juga ditemukan pada varian B117 di Inggris dan P1 di Brasil.

    Pengaruh Mutasi Varian Virus Corona E484K pada Vaksinasi

    Berdasarkan sebuah penelitian di Afrika Selatan, varian baru virus Corona E484K disebut kebal terhadap vaksin yang diberikan pada tubuh karena kemampuannya membentuk kombinasi dengan mutasi lain.

    Uji vaksinasi yang telah dilaksanakan di University of Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan, dengan menggunakan vaksin AstraZeneca diketahui dapat mengurangi gejala ringan hingga sedang mencapai 22%.

    Vaksin Novavax diketahui memiliki efektivitas 89%, dalam uji klinis fase 3 yang telah dilakukan di Inggris. Sementara vaksin Johnson & Johnson diketahui memiliki efektivitas mencapai 72% dalam uji klinis fase 3 di Amerika Serikat dan mencapai 57% dalam uji klinis fase 3 di Afrika Selatan.

    Saat ini mutasi baru virus Corona E484K (EEK) telah masuk ke Indonesia, yuk Sahabat Sehat mari tetap lakukan perilaku 5M yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, mengenakan masker, menjaga jarak, membatasi mobilisasi, dan menghindari kerumunan.

    Baca Juga: Setahun Covid di Indonesia Ditandai dengan Munculnya Varian Baru Virus dari Inggris

    Sahabat Sehat, jangan lupa untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dan lakukan pemeriksaan deteksi dini Covid-19 di Prosehat. Tertarik untuk melakukan pemeriksaan Covid 19 di Prosehat? Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Varian Virus Corona Eek Muncul di Jepang, Beda dari Inggris [Internet]. 2021 [cited 6 April 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210405125243-199-626061/varian-virus-corona-eek-muncul-di-jepang-beda-dari-inggris
    2. Virus Corona Varian Eek Masuk RI, Kemenkes Lacak Kontak [Internet]. 2021 [cited 6 April 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210405124656-20-626058/virus-corona-varian-eek-masuk-ri-kemenkes-lacak-kontak
    3. Pinandhita V. Hebohkan Dunia ‘Per-COVID-an’ Jepang, Sebenarnya Varian ‘Eek’ Itu Apa Sih? [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 6 April 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5520559/hebohkan-dunia-per-covid-an-jepang-sebenarnya-varian-eek-itu-apa-sih
    Read More
  • Seminggu lagi bulan Ramadan tiba, dan umat Islam mulai menjalankan salah satu amalan suci yaitu dengan berpuasa. World Health Organization (WHO) selaku organisasi kesehatan dunia telah mengeluarkan pedoman untuk melaksanakan puasa di tengah masa pandemi Covid-19. Baca Juga: 8 Solusi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Fit Saat Puasa WHO menyarankan untuk tetap melakukan aktivitas fisik, […]

    Amankah Berpuasa Bagi Penderita Covid-19?

    Seminggu lagi bulan Ramadan tiba, dan umat Islam mulai menjalankan salah satu amalan suci yaitu dengan berpuasa. World Health Organization (WHO) selaku organisasi kesehatan dunia telah mengeluarkan pedoman untuk melaksanakan puasa di tengah masa pandemi Covid-19.

    berpuasa bagi penderita Covid-19

    Baca Juga: 8 Solusi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Fit Saat Puasa

    WHO menyarankan untuk tetap melakukan aktivitas fisik, menjaga asupan nutrisi, hindari merokok serta menjaga kesehatan mental, selama menjalankan puasa. Berpuasa disebut dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi virus.

    WHO dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan bahwa penderita Covid-19 dapat menjalani puasa selama memperhatikan ketentuan agama dan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

    Apabila penderita Covid-19 merasa kesulitan untuk menjalankan puasa akibat penyakit yang sedang diderita maka yang bersangkutan diperbolehkan untuk tidak menjalankan puasa, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan namun puasa tetap harus diganti pada hari lain saat tubuh telah kembali pulih.

    Lalu bagaimana caranya supaya penderita Covid-19 bisa tetap menjalankan puasa selama bulan Ramadan? Yuk, Sahabat Sehat mari simak penjelasan di bawah ini!

    Hati-Hati Jika Memiliki Riwayat Komorbid

    Diketahui bahwa seseorang yang memiliki riwayat penyakit komorbid (riwayat penyakit penyerta sebelumnya) misalnya penyakit diabetes, karena menjadi lebih rentan terinfeksi Covid-19.

    Penderita diabetes tentu tidak boleh sembarangan ketika menjalankan puasa karena tidak makan dalam kurun waktu tertentu dapat menurunkan jumlah kadar gula darah.

    Kadar gula darah yang turun dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Karena itu, penderita diabetes harus memperhatikan kondisi tubuh terlebih dahulu jika ingin melaksanakan puasa dan konsultasikan lebih lanjut ke dokter.

    Konsumsi Buah & Sayur

    Agar sistem kekebalan tubuh tetap terjaga baik, penderita Covid 19 sebaiknya rajin mengkonsumsi buah dan sayuran serta makanan bernutrisi lainnya. Hindari konsumsi makanan bergas saat sahur dan buka puasa.

    Produk Terkait: Jual Vegeblend Adult

    Minum Air Putih Saat Buka & Sahur

    Selama berpuasa seseorang dapat kekurangan asupan cairan sehingga tubuh terasa lemas, pusing, dan bibir kering. Agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, sebaiknya minum air putih yang cukup saat sahur maupun buka puasa dengan takaran 6-8 gelas per hari.

    Baca Juga: Si Kecil Mulai Puasa Setengah Hari, Apa Saja yang Perlu Ibu Ketahui?

    Beristirahat yang Cukup

    Kunci penting supaya Sahabat Sehat tetap dapat menjalankan puasa meski sedang menderita Covid-19, adalah dengan beristirahat yang cukup selama kurang lebih 8 jam sehari agar sistem kekebalan tubuh tetap baik untuk melawan virus Covid 19.

    Berhenti Merokok

    Penderita Covid-19 disarankan untuk berhenti merokok sebab merokok berpotensi menimbulkan rasa sesak, dan kandungan dalam rokok kurang baik bagi kesehatan tubuh.

    Bagaimana Jika Mengalami Demam Saat Berpuasa?

    Salah satu gejala yang dialami saat terinfeksi Covid-19 adalah demam. Apabila Sahabat tiba-tiba mengalami demam saat berpuasa, sebaiknya segera membatalkan puasa dengan minum air putih yang cukup serta minum obat penurun demam.

    Baca Juga: Siasati 8 Macam Penyakit Ini Saat Puasa

    Bagi Sahabat Sehat yang menginginkan informasi lebih lanjut mengenai puasa bagi penderita Covid-19, segera konsultasikan dengan dokter di Prosehat. Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Wajibkah Pasien Covid-19 Puasa saat Bulan Ramadhan? Ini Kata WHO dan MUI [Internet]. KOMPAS.tv. 2021 [cited 5 April 2021]. Available from: https://www.kompas.tv/article/161115/wajibkah-pasien-covid-19-puasa-saat-bulan-ramadhan-ini-kata-who-dan-mui?page=all
    2. K N. 3 Tips Aman Jalani Puasa Jika Alami Gejala Ringan Corona [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 5 April 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4988783/3-tips-aman-jalani-puasa-jika-alami-gejala-ringan-corona
    3. 4 Tips Puasa Ramadan jika Alami Gejala Ringan Virus Corona COVID-19 [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 5 April 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/ramadan/read/4233700/4-tips-puasa-ramadan-jika-alami-gejala-ringan-virus-corona-covid-19
    4. Panduan WHO agar Aman Jalani Puasa Ramadan di Tengah Pandemi COVID-19 [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 5 April 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/ramadan/read/4237033/panduan-who-agar-aman-jalani-puasa-ramadan-di-tengah-pandemi-covid-19
    5. Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Boleh Berpuasa? Begini Penjelasannya ——— Artikel ini sudah Terbit di AyoJakarta.com, dengan Judul Pasien Covid-19 Tanpa Gejala Boleh Berpuasa? Begini Penjelasannya, pada URL https://www.ayojakarta.com/read/2020/05/04/16877/pasien-covid-19-tanpa-gejala-boleh-berpuasa-begini-penjelasannya [Internet]. Ayo Jakarta. 2021 [cited 5 April 2021]. Available from: https://www.ayojakarta.com/read/2020/05/04/16877/pasien-covid-19-tanpa-gejala-boleh-berpuasa-begini-penjelasannya
    Read More
  • Setiap tahunnya, tanggal 1 April dirayakan sebagai hari April Mop, yaitu suatu hari yang dimanfaatkan setiap orang untuk berbuat iseng atau membuat lelucon kepada orang lain. Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Namun ternyata hal tersebut dapat berdampak bagi kesehatan mental. Apa saja dampak April mop bagi kesehatan mental? Yuk, Sahabat Sehat […]

    Apa Dampak April Mop Bagi Kesehatan Mental?

    Setiap tahunnya, tanggal 1 April dirayakan sebagai hari April Mop, yaitu suatu hari yang dimanfaatkan setiap orang untuk berbuat iseng atau membuat lelucon kepada orang lain.

    dampak April Mop bagi kesehatan mental

    Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    Namun ternyata hal tersebut dapat berdampak bagi kesehatan mental. Apa saja dampak April mop bagi kesehatan mental? Yuk, Sahabat Sehat mari simak penjelasan di bawah ini!

    Dampak April Mop Bagi Kesehatan Mental

    Menganggap Berita Benar Menjadi Hoax

    April Mop identikkan dengan berita tidak benar (hoax), maka segala berita yang ada di tanggal 1 April dianggap bohong meskipun kenyataannya berita tersebut benar.

    Contohnya pada saat Tsunami yang terjadi pada tanggal 1 April 2008 silam di Hawaii, awalnya dianggap hoax oleh banyak orang sehingga diabaikan begitu saja.

    Mengalami Gangguan Cemas

    Seseorang yang sering dijahili selama April Mop, dikhawatirkan dapat mengalami gangguan cemas yang ditandai dengan munculnya rasa cemas yang berlebihan sehingga berdampak pada kondisi emosional dan psikologis.

    Baca Juga: Rendahnya Penanganan Kesehatan Jiwa di Indonesia

    Gejala cemas bervariasi, misalnya keringat berlebihan, nyeri dada hingga sesak napas. Cara untuk mengatasinya cukup mudah, yaitu dengan menenangkan diri dan melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk mengalihkan dari rasa cemas.

    Namun, jika gangguan cemas dirasa mengganggu aktivitas sehari hari maka sebaiknya dikonsultasikan lebih lanjut ke dokter.

    Memicu Emosi Berlebihan

    Dampak April Mop bagi kesehatan mental lainnya adalah dapat menimbulkan emosi yang berlebihan. Hal ini dapat terjadi pada orang yang sering menerima kabar bohong pada April Mop.

    Bagaimana Dengan April Mop di Masa Pandemi?

    Menggunakan pandemi Covid-19 sebagai sebuah lelucon dianggap kurang etis dan tidak lucu karena pandemi Covid-19 adalah salah satu tragedi terburuk sepanjang masa yang telah merenggut nyawa hingga puluhan ribu jiwa di seluruh dunia.

    Apabila pandemi digunakan sebagai lelucon, hal ini dapat menyebabkan kebingungan, ketakutan, dan kepanikan, serta memunculkan perselisihan.

    Baca Juga: Infodemik: Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    Sahabat Sehat sebaiknya tidak menggunakan Covid-19 sebagai sebuah lelucon di hari April Mop dan bijaklah dalam bercanda terutama di masa pandemi.

    Apabila Sahabat ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai kesehatan mental, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Bahaya April Mop [Internet]. MerahPutih. 2021 [cited 31 March 2021]. Available from: https://merahputih.com/post/read/bahayanya-april-mop-untuk-kesehatan-mental
    2. Alasan Tidak Gunakan Tema Virus Corona Sebagai Lelucon April Mop [Internet]. Telkomsel. 2021 [cited 31 March 2021]. Available from: https://www.telkomsel.com/about-us/blogs/alasan-tidak-gunakan-tema-virus-corona-sebagai-lelucon-april-mop
    Read More
  • Sahabat Sehat, kondisi pandemi Covid-19 ini memberi kita pelajaran berharga akan pentingnya jaminan akan kondisi kesehatan kita. Risiko tingkat keparahan dan kefatalan paparan virus Covid-19 termasuk tinggi, apalagi jika penderita sudah mempunyai penyakit komorbid yang berpotensi terjadi komplikasi. Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi? Fakta menunjukkan tingkat kematian akibat Covid-19 di […]

    Lebih Tenang dan Terlindungi Berkat Asuransi Simedis dari Equity Life

    Sahabat Sehat, kondisi pandemi Covid-19 ini memberi kita pelajaran berharga akan pentingnya jaminan akan kondisi kesehatan kita. Risiko tingkat keparahan dan kefatalan paparan virus Covid-19 termasuk tinggi, apalagi jika penderita sudah mempunyai penyakit komorbid yang berpotensi terjadi komplikasi.

    asuransi simedis, asuransi kesehatan Prosehat

    Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Fakta menunjukkan tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia tinggi. Berdasarkan laporan di laman covid-19.go.id (15/3), persentase kematian di Indonesia mencapai 2,7% per 14 Maret 2021. Ini artinya, sudah 38.000 lebih penduduk Indonesia meninggal dunia dari total kasus yang mencapai 1,4 juta lebih.

    Jika dibandingkan presentasenya dengan tingkat rata-rata kasus kematian secara global, tingkat kematian akibat di Indonesia lebih tinggi. Menuru laporan dari World Health Organization (WHO) di hari yang sama, tingkat kematian di dunia mencapai 2,6 juta dari 119,2 juta total kasus. Sehingga, persentasenya lebih rendah dari Indonesia yaitu 2,2%.

    Kombinasi Pencegahan dan Perlindungan

    Ancaman tingkat kematian yang tinggi tersebut tentunya meresahkan kita. Dari fakta yang menguatirkan tersebut, langkah ideal yang bisa kita pilih adalah dengan mengombinasikan antara pencegahan terhadap infeksi virus Corona dan tak kalah penting, perlindungan serta jaminan yang pasti terhadap potensi tertular penyakit yang sangat mengancam tersebut.

    Kombinasi antara upaya pencegahan dengan menerapkan 5M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Membatasi mobilitas, dan Menjauhi kerumunan) dengan dengan membekali diri dengan jaminan dari asuransi terpercaya menjadi kombinasi ideal yang akan memberi keamanan dan kenyamanan.

    Untuk memberi manfaat tersebut bagi para Sahabat Sehat, Prosehat bekerja sama dengan Asuransi Medis (Simedis) dari Equity Life. Layanan perlindungan asuransi ini berlaku untuk setiap pembelian paket PCR Swab COVID-19 di semua kanal Prosehat.

    Tidak sebatas itu, Sahabat Sehat juga akan mendapatkan jaminan perlindungan finansial terhadap risiko meninggal dunia karena penyakit atau kecelakaan serta memberikan tambahan manfaat meninggal dunia dan santunan biaya perawatan harian Rumah Sakit akibat terinfeksi Virus COVID-19.

    Baca Juga: Gratis! Mahalnya Biaya Perawatan Covid-19 Ditanggung Pemerintah, Begini Cara Klaimnya!

    Manfaat Maksimal dengan Biaya Minimal

    Siapapun tentu ingin mendapatkan manfaat maksimal dengan pengeluaran minimal, bukan? Anda tidak salah. Begitu pula dengan memanfaat perlindungan dari Simedis ini.

    Ada beberapa manfaat yang bisa Anda peroleh. Secara garis besar, terdapat manfaat utama dan manfaat tambahan yang tersedia. Untuk manfaat utama, peserta Simedis mendapatkan jaminan jika meninggal dunia karena penyakit atau kecelakaan.

    Jika tertanggung meninggal dunia karena penyakit atau kecelakaan yang terjadi dalam masa asuransi (90 hari), penanggung akan membayarkan 100% klaim perlindungan.

    Sebagai catatan, jika tertanggung memiliki beberapa kepesertaan asuransi, maka maksimum manfaat meninggal dunia karena penyakit atau kecelakaan yang dibayarkan adalah sebesar Rp20.000.000 (dua puluh juta Rupiah).

    Manfaat utama yang kedua adalah jaminan jika tertanggung meninggal dunia akibat Covid-19. Jika tertanggung meninggal dunia karena secara pasti terinfeksi Virus COVID-19, Penanggung akan membayarkan tambahan Manfaat Meninggal Dunia sebesar 50% klaim perlindungan.

    Sebagai catatan, jika tertanggung memiliki beberapa tanda kepesertaan asuransi, maksimum tambahan manfaat meninggal dunia karena COVID-19 yang dibayarkan sebesar Rp10.000.000 (sepuluh juta Rupiah)

    Bagaimana dengan manfaat tambahannya? Tak kalah menarik, yaitu jika tertanggung menjalani perawatan di Rumah Sakit akibat terinfeksi Virus COVID-19 yang terjadi dalam masa asuransi, akan diberikan santunan biaya perawatan Rumah Sakit sebesar 1% per hari dari Manfaat Meninggal Dunia karena Penyakit atau Kecelakaan dengan maksimum 14 (empat belas) hari per Masa Kontrak Asuransi.

    Baca Juga: Pentingnya Asuransi Keluarga Terbaik di Masa Pandemi

    Sebagai catatan, manfaat ini hanya diberikan 1 (satu) kali selama masa asuransi. Dan, jika Tertanggung memiliki beberapa tanda kepesertaan asuransi, maka maksimum santunan harian rawat inap yang dibayarkan sebesar Rp200.000 (dua ratus ribu Rupiah) per hari

    Segera manfaatkan layanan plus jaminan kesehatan yang bisa Anda peroleh dengan membeli paket pemeriksaan Covid-19 dari Prosehat. Promo kerjasama ini dapat dapat Anda nikmati selama satu tahun,  mulai dari 8 Maret 2021 hingga 7 Maret 2022.

    Anda pun dapat mendapatkan layanan ini secara mudah. Sahabat Sehat tinggal menanyakan paket ini kepada petugas kami baik secara langsung di klinik Prohsehat atau melalui layanan chat Asisten Kesehatan Maya 08111816800. Petugas Prosehat akan melayani dan mendata Anda sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

    Baca Juga: 8 Tips Memilih Asuransi yang Tepat di Tengah Pandemi

    Tidak ribet, kan? Yuk, makin lindungi diri dan keluarga Anda dengan layanan kesehatan komprehensif dari Prosehat, yang di dalamnya meliputi jaminan asuransi. Dalam kondisi yang seperti sekarang ini, apalagi yang Anda cari selain kesehatan serta rasa aman?

    Read More
  • Kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI adalah hal yang wajar dalam setiap vaksinasi termasuk vaksinasi Covid-19. Di Indonesia sendiri terdapat dua jenis vaksin Covid-19 yang digunakan, yaitu produksi Sinovac dan AstraZeneca yang baru tiba pada 8 Maret 2021. Baca Juga: Cara Mengatasi KIPI Pasca Vaksinasi Covid-19 Mengenai KIPI pada vaksin asal Inggris ini belum begitu […]

    Amankah Vaksin AstraZeneca? Simaklah Pendapat Para Ahli Ini!

    Kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI adalah hal yang wajar dalam setiap vaksinasi termasuk vaksinasi Covid-19. Di Indonesia sendiri terdapat dua jenis vaksin Covid-19 yang digunakan, yaitu produksi Sinovac dan AstraZeneca yang baru tiba pada 8 Maret 2021.

    amankah vaksin AstraZeneca

    Baca Juga: Cara Mengatasi KIPI Pasca Vaksinasi Covid-19

    Mengenai KIPI pada vaksin asal Inggris ini belum begitu banyak yang tahu seperti apa reaksi  yang diterima. Pemberitaan banyak menyebutkan bahwa AstraZeneca akan memberikan efek samping berupa bengkak, demam, muntah, diare, dan bahkan sakit perut.

    Selain efek samping itu, terdapat isu-isu yang cukup meresahkan seperti kejang, dan tentu saja kehalalan vaksin. Di Sulawesi Utara, pemberian AstraZeneca sementara dihentikan karena efek samping yang dirasakan seperti demam, menggigil, panas.

    Namun sebenarnya bagaimana efek samping atau KIPI dari AstraZeneca tersebut?

    Sri Rezeki Hadinegoro dari ITAGI menyatakan bahwa efek samping yang dirasakan adalah ringan dan tidak akan menyebabkan penerimanya dirawat di rumah sakit.

    Demikian ia ungkapkan dalam keterangan pers di YouTube “Penjelasan KIPI Terkait Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Covax Facilty” pada Selasa, 30 Maret 2021.

    AstraZeneca merupakan produk vaksin yang aman karena dikombinasikan dengan adenovirus sehingga virus Corona tidak berkembang dalam tubuh. AstraZeneca bahkan dalam prosesnya sudah menjalani uji klinis 20.000 relawan di Amerika Serikat dan Jepang.

    Terkait dengan gangguan pembekuan darah beliau menyatakan bahwa itu hal yang alami terjadi namun tidak akan menambah risiko. Dapat disimpulkan bahwa lebih banyak manfaat yang akan didapatkan. Untuk Indonesia sendiri vaksin yang digunakan diambil langsung dari pabriknya sehingga aman.

    Lalu apakah AstraZeneca Aman?

    Hal senada diungkapkan oleh Ketua Komnas KIPI, Indra Himawan pada keterangan pers tersebut yang menyatakan bahwa efek samping vaksin AstraZeneca adalah ringan.

    Hal ini berkaitan dengan yang terjadi di Sulawesi Utara mengenai efek samping yang dirasakan penerima ternyata berhubungan dengan kecemasan, dan yang mengalami efek samping berdasarkan investigasi Komnas sudah sembuh.

    Dengan demikian, vaksinasi dengan AstraZeneca direkomendasikan tetap dilanjutkan dan harus dimasukkan ke dalam program vaksinasi nasional.

    Pemerintah Tidak Sembarangan Memilih Vaksin

    Dr. Siti Nadia Tarmizi sebagai juru bicara vaksinasi Covid-19 menyatakan bahwa pemerintah tidak sembarangan dalam memilih vaksin karena melalui beberapa kajian yang mendetail, baik oleh WHO, ITAGI, dan Komnas KIPI. Pemberian izin darurat dari BPOM pun tidak sembarangan karena sudah melalui uji klinis 1,2, dan 3.

    Bahkan dr. Nadia juga menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya efek samping berat dan mematikan dalam proses penyuntikan vaksin dengan AstraZeneca. Demam di angka >38 derajat Celcius dan nyeri di tempat suntikan merupakan hal yang wajar dan normal.

    Baca Juga: BPOM Resmi Mengeluarkan Izin Penggunaan Darurat untuk Vaksin AstraZeneca

    Indonesia lalu disebutnya sudah mengamankan pasokan vaksin demi mencapai kekebalan kelompok, dengan kebutuhan vaksin 436 juta, dan per Jumat 26 Maret sudah 10 juta orang divaksinasi dari 500.000 pemberian vaksin per hari yang selanjutnya ditargetkan menjadi 1 juta per hari.

    Tentunya ini bukanlah hal yang mudah karena Indonesia bersama dengan 130 negara lainnya berebut mendapatkan vaksin, dan vaksinasi yang dilakukan Indonesia menempatkannya sebagai 4 besar negara non-produsen vaksin dengan penyuntikan vaksin terbesar.

    Karena itu, ia meminta kepada masyarakat untuk tidak takut divaksin karena manfaatnya yang lebih besar untuk pencegahan yang optimal terutama pada kelompok prioritas seperti lansia yang angka kematiannya 3 kali lebih tinggi.

    Pandangan WHO dan UNICEF Indonesia

    Mengenai manfaat vaksin juga dipaparkan oleh Vinod Bura dari WHO Indonesia berkaitan dengan yang sudah dipaparkan oleh Komnas KIPI dan Kemenkes. Disebutnya bahwa AstraZeneca berkualitas tinggi, dan WHO sudah mengecek faktor keamanan yang ada.

    Vinod Bura bahwa yang terjadi di Sulawesi Utara berdasarkan investigasi dari Komnas KIPI tidak berhubungan sama sekali dengan efek samping vaksin

    Mengenai pengentalan darah juga tidak ada hubungannya dengan efek samping yang dirasakan. Demikian yang diungkapkan oleh Rizki Ika Syafitri dari UNICEF Indonesia. Ia juga menyatakan AstraZeneca aman untuk orangtua, dan sudah dijamin keamanannya oleh BPOM.

    Kesimpulan

    Intinya adalah vaksin AstraZeneca aman karena efek samping yang diberikan termasuk ringan serta wajar dalam vaksinasi.

    Karena itu, Sahabat Sehat, jangan ragu untuk divaksin sebab vaksin itu baik dan perlu serta dapat mencegah secara optimal Covid-19.

    Namun tetap ingat jangan lupa tetap terapkan perilaku 5M dan pola hidup bersih dan sehat meskipun sudah divaksin.

    Baca Juga: Perilaku 5M, Cara Tepat dan Efektif Meminimalkan Penyebaran Covid-19

    Apabila Sahabat perlu informasi lebih lanjut mengenai vaksinasi, konsultasikan saja dengan para dokter di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun rupanya turut mempengaruhi pelayanan kesehatan bagi penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) secara global, termasuk Indonesia. Demikian yang diungkapkan oleh Jose Luis Castro, Presiden dan CEO sebuah organisasi kesehatan di New York, Amerika Serikat. Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin? Dalam tulisan yang dimuat di The […]

    Pelayanan TBC Selama Masa Pandemi Covid-19

    Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun rupanya turut mempengaruhi pelayanan kesehatan bagi penderita penyakit Tuberkulosis (TBC) secara global, termasuk Indonesia. Demikian yang diungkapkan oleh Jose Luis Castro, Presiden dan CEO sebuah organisasi kesehatan di New York, Amerika Serikat.

    pelayanan TBC di masa pandemi Covid-19

    Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin?

    Dalam tulisan yang dimuat di The Jakarta Post berjudul “Covid-19 Causes Major Setbacks for RI as TB High Burden Country”, terdapat beberapa pandangan mengenai pelayanan TBC di Indonesia selama masa pandemi Covid 19. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak setelah Cina dan India.

    Besarnya jumlah penderita tersebut tentunya harus diiringi dengan tingkat pelayanan kesehatan yang baik. Secara global, sebelum terjadinya pandemi Covid-19 telah terjadi peningkatan pelayanan kasus TBC yang ditandai dengan angka penurunan penderita TBC mencapai 9% pada periode 2015-2019.

    Namun tercatat sekitar 3 juta orang penderita TBC secara global tidak terdiagnosa atau tidak dilaporkan ke badan kesehatan yang berwenang untuk penanganan TBC, demikian menurut laporan World Health Organization (WHO).

    WHO juga menyebutkan bahwa pada tahun 2019 sekitar 465.000 orang terdiagnosa TBC yang resisten terhadap obat, dan kurang dari 40% penderita dapat mengakses pengobatan TBC. Hal itu turut didukung karena keterbatasan akses pengobatan untuk mencegah penyakit tersebut.

    Bagaimana Pelayanan TBC Selama Pandemi Covid 19 ?

    Pandemi Covid-19 kenyataannya turut mempengaruhi pelayanan TBC yang sebelumnya merupakan salah satu layanan kesehatan yang diprioritaskan. Hal ini ditandai dengan alokasi pelayanan yang lebih difokuskan pada penanganan Covid 19.

    WHO menyatakan bahwa telah terjadi penurunan laporan secara signifikan dalam pelaporan kasus TBC mencapai 25-30% yang terjadi pada negara-negara dengan jumlah penderita TBC terbesar, salah satunya di Indonesia. Di Indonesia pada periode Januari hingga Juni 2020, angka jumlah kematian akibat TBC diperkirakan mencapai 400.000 jiwa pada 2020.

    Baca Juga: Cegah Tuberkulosis pada Anak dengan Daya Tahan Tubuh Kuat

    Apabila pelayanan kesehatan masih difokuskan untuk penanganan Covid-19, diprediksikan bahwa jumlah penderita TBC akan meningkat hingga mencapai 6,3 juta kasus pada 2020 hingga 2025. Sehingga pemerintah baik secara global dan di Indonesia memerlukan strategi khusus penanganan TBC selama masa pandemi Covid 19, yaitu dengan melakukan pelacakan, pengujian, dan pengisolasian pada setiap kasus TBC.

    TBC dapat dicegah melalui pemberian vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin) sebagai salah satu bentuk pencegahan yang tepat, dengan efektivitas mencapai 70-80% terutama pada anak-anak.

    Pemberian vaksin BCG merupakan suatu keharusan sebagai cara pencegahan sekaligus peningkatan pelayanan kesehatan di negara dengan angka penderita TBC terbanyak. Vaksinasi harus tetap dilaksanakan meskipun masih dalam kondisi pandemi Covid 19 agar dapat menekan angka kesakitan TBC selama masa pandemi Covid 19.

    Baca Juga: Apa Guna Vaksin BCG? Berikut Penjelasannya!

    Mengingat vaksinasi BCG sangat penting sebagai salah satu cara pencegahan penyakit TBC, Sahabat dapat melakukan vaksinasi di Prosehat yang memiliki layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Post T. COVID-19 causes major setbacks for RI as TB high burden country [Internet]. The Jakarta Post. 2021 [cited 30 March 2021]. Available from: https://www.thejakartapost.com/index.php/academia/2021/03/26/covid-19-causes-major-setbacks-for-ri-as-tb-high-burden-country.html
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja