Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ covid 19”

Showing 1–10 of 15 results

  • Bolehkah sebenarnya traveling pada masa pandemi Covid-19? Tentu saja pasti banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya mengenai hal tersebut mengingat adanya banyak pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah demi memutus penyebaran Covid-19 yang sangat mudah menular. Hal inilah yang dibahas oleh dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp. PD, internist, dan Ridwan Hanif Rahmadi, Youtuber road trip traveling pada webinar […]

    Rangkuman Webinar Prosehat Traveling Sehat dan Aman di Era Covid-19 7 Oktober 2020

    Bolehkah sebenarnya traveling pada masa pandemi Covid-19? Tentu saja pasti banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya mengenai hal tersebut mengingat adanya banyak pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah demi memutus penyebaran Covid-19 yang sangat mudah menular. Hal inilah yang dibahas oleh dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp. PD, internist, dan Ridwan Hanif Rahmadi, Youtuber road trip traveling pada webinar yang diselenggarakan oleh Prosehat pada tanggal 7 Oktober 2020 pukul 17.00 dengan judul “Travelling Sehat dan Aman di Era #COVID 19, dan dimoderatori oleh dr. Rosa Widian dari Prosehat.

    Baca Juga: Cara Mengatasi Sakit Saat Traveling

    Dari kacamata medis, dr. Jeffri mengatakan, traveling boleh dilakukan asalkan menerapkan ruang udara terbuka –membuka kaca jendela- seperti ketika traveling dengan mobil sebagai upaya pemutusan penyebaran virus Corona yang bersifat airborne dan sangat cukup reaktif di dalam sirkulasi udara tertutup meskipun sangat mustahil dilakukan terutama di Jakarta yang tingkat polusinya sangat tnggi. Dokter Jeffri yang pemaparannya berdasarkan jurnal-jurnal penelitian internasional, WHO, dan Dishub RI, juga menekankan perlunya protokol-protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Selain itu, perlunya melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan penyemprotan desinfektan. Dokter Jeffri juga menekankan bahwa tidak semua bisa melakukan traveling di masa pandemi, dan hanya profesi tertentu seperti petugas medis, pejabat, atau orang-orang yang pekerjaannya sangat mendesak untuk ke luar kota.

    Baca Juga: Cara Mendapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Tanpa ke Bioskop

    Lalu bagaimana dari kacamata seorang traveler?

    Sebagai seorang travel vlogger terkenal, Ridwan Hanif Rahmadi, menyatakan bahwa supaya traveling tetap aman dan sehat di masa pandemi adalah sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi sebagai cara paling aman untuk menghindari Covid-19. Lalu bagaimana jika terpaksa menggunakan transportasi publik jika tidak menggunakan atau mempunyai kendaraan pribadi? Sang vlogger membagikan beberapa tips seperti menghindari kontak fisik, jaga jarak, menyediakan hand sanitizer. Tentu saja tips ini juga dibarengi dengan pengalaman pribadi.  Apalagi saat memaparkan, Ridwan juga menceritakan pengalamannya saat traveling di awal-awal Corona merebak yang membuat dia dan timnya harus segera mungkin mengakhiri traveling supaya tidak di-lockdown.  Ridwan merekemondasikan tempat wisata yang aman adalah yang sifatnya luar ruangan atau outdoor seperti ke gunung atau pantai jika memang ingin tetap berwisata. Sedangkan untuk hotel, Ridwan juga menyarankan pilih hotel-hotel yang branded atau sudah ternama karena dianggap mampu menjalankan protokol-protokol kesehatan dengan baik. Jika tidak ada penerapan, sebaiknya segera pindah hotel.

    Webinar ini sendiri cukup berjalan menarik,  dan dalam suasana yang penuh keakraban. Dua narasumber bahkan saling berinteraksi terutama ketika Ridwan bertanya  kepada dr. Jeffri mengenai perlukah memakai masker ketika di dalam mobil sendirian yang dijawab dr. Jeffri sangat perlu mengingat kapasitas mobil itu sendiri. Meski bukan sebagai orang yang bukan ahli di bidang kesehatan, Ridwan meminta kepada para peserta yang mengikuti webinar untuk tetap mematuhi protokol-protokol kesehatan, dan jangan berprasangka buruk kepada pemerintah dan petugas-petugas kesehatan serta meremehkan Covid-19 apalagi menganggap Covid-19 sebagai konspirasi.

    Baca Juga: Jangan Sepelekan Masker dan Tips Memakainya

    Webinar kemudian dilanjutkan dengan sesi pertanyaan terutama dari Mamih Ocih Indonesia yang bertanya kepada Ridwan apakah kesal terhadap orang yang menganggap Covid-19 di Indonesia itu tidak ada. Pertanyaan itu dijawab oleh Ridwan bahwa ia kesal jika Covid-19 dianggap tidak ada. Apalagi ia mengungkap bahwa keluarga dan teman-temannya ada yang terkena virus tersebut.  Nah, itulah Sobat mengenai traveling aman dan sehat di era pandemi yang tetap harus menerapkan protokol-protokol kesehatan. Untuk pembahasan lebih dalam silakan Sobat Sehat tonton video di bawah ini, dan jangan lupa subscribe Youtube Prosehat.

    Apabila Sobat Sehat berencana traveling di masa pandemi, jangan lupa juga untuk tes swab dan rapid test di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Setelah 3,5 bulan PSBB Transisi diterapkan sebagai bagian dari adaptasi kebiasaan baru, PSBB ketat di Jakarta mulai kembali diberlakukan per 14 September 2020 seiring dengan mulai meningkatnya kasus Corona di Ibu Kota, yang ketika tulisan ini dibuat per 10 September mencapai 43.397 kasus, dengan perincian 37.224 sembuh dan 1.334 meninggal. Tak hanya jumlah kasus yang […]

    PSBB Ketat di Jakarta, Poin-poin yang Perlu Sobat Ketahui

    Setelah 3,5 bulan PSBB Transisi diterapkan sebagai bagian dari adaptasi kebiasaan baru, PSBB ketat di Jakarta mulai kembali diberlakukan per 14 September 2020 seiring dengan mulai meningkatnya kasus Corona di Ibu Kota, yang ketika tulisan ini dibuat per 10 September mencapai 43.397 kasus, dengan perincian 37.224 sembuh dan 1.334 meninggal. Tak hanya jumlah kasus yang meningkat, jumlah kematian penderita Corona di Jakarta mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan, yaitu rasio kasus positif atau positivity rate mencapai 3,2% atau 6,9% sejak awal pandemi pada Maret 2020 lalu.

    psbb ketat di jakarta, psbb total di jakarta

    Baca Juga: Mengembangkan Vaksin dalam Pandemic Speed, Bagaimana dengan Indonesia?

    Kebijakan penerapan PSBB ketat atau total ini diumumkan sendiri oleh Gubernur Anies Baswedan dalam konferensi pers daring pada 9 September pukul 19.35 WIB, dan tidak memerlukan izin lagi dari Kementerian Kesehatan. Selain meningkatnya jumlah penderita dan kematian akibat Corona, Anies mengungkapkan bahwa penerapan ini juga untuk mengantipasi daya tampung rumah-rumah sakit di DKI Jakarta yang tingkat ketersediaannya sudah mencapai 77% untuk ruang isolasi, dan ICU 83%,  dan diprediksi akan melonjak hingga 100% pada 17 September 2020, yang tentu saja hal ini akan membuat rumah sakit beserta para tenaga medis kewalahan menangani kasus Corona di Jakarta yang merupakan penyumbang terbesar kasus Corona di Indonesia yang sudah mencapai 207.203 hingga Kamis, 10 September 2020.

    Tentu saja pelaksanaan PSBB ketat di DKI Jakarta ini juga akan dikoordinasikan Pemprov dengan DKI dengan kota-kota penyangga yang tergabung dalam Jabodetabek seperti Depok, Bogor, dan Bekasi, supaya lancar mengingat kebanyakan penduduk Jakarta di siang hari adalah orang-orang dari kota-kota tersebut yang datang untuk mencari nafkah, dan  kota-kota seperti Bogor dan Depok pun sudah menerapkan aturan jam malam seiring dengan status zona merah pada keduanya.

    Lalu hal-hal apa saja yang perlu diketahui mengenai pelaksanaan kembali PSBB seperti di awal-awal pandemi ini? Yuk, Sobat Sehat, mari simak beberapa poin di bawah supaya Sobat sudah siap, dan tidak terkejut.

    Poin-poin yang Perlu Diketahui

    WFH dan Pembatasan Aktivitas Perkantoran

    Poin pertama yang ditekankan dari penerapan kembali PSBB total di Jakarta adalah kantor-kantor diwajibkan untuk menggelar kegiatan perkantoran dari rumah atau WFH sehingga aktivitas perkantoran dari tempat langsung dibatasi. Hal ini untuk mencegah penularan virus corona yang semakin massif. Apalagi kebanyakan kasus Corona di Jakarta berada di perkantoran.

    Baca Juga: Mengapa Terjadi COVID-19 di Perkantoran?

    Hanya 11 Bidang yang Diizinkan Beroperasi

    Pemprov DKI Jakarta dalam penerapan PSBB ketat hanya membolehkan 11 bidang saja yang beroperasi, dan 11 bidang itu merupakan bidang yang esensial dan penting. Mereka adalah

    • Kesehatan
    • Bahan pangan dan minuman
    • Energi
    • Komunikasi dan teknologi informatika
    • Keuangan
    • Logistik
    • Perhotelan
    • Komunikasi dan teknologi informatika
    • Keuangan
    • Logistik
    • Perhotelan
    • Konstruksi
    • Industri strategis
    • Pelayanan dasar, utilitas publik, dan industri yang ditetapkan sebagai objek vital nasional, dan objek tertentu
    • Pemenuhan kebutuhan sehari-hari

    Pengecualian 11 bidang ini mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 33 tahun 2020 tentang Pelaksanaan PSBB. Meskipun mendapat pengecualian, pengoperasian 11 bidang ini tetap harus dilaksanakan dalam operasi yang minimal, dan tidak boleh seperti biasanya. Untuk izin bidang non-esensial yang sudah mendapatkan izin akan dievaluasi ulang supaya pergerakan terkendali dan tidak menyebabkan penularan. Jika ingin beroperasi, bidang non-esensial ini harus mengajukan izin terlebih dahulu.

    Pembatasan lalu lintas dan operasional transportasi umum

    Kegiatan lalu lintas akan dibatasi sebagai akibat pemberlakuan PSBB ketat di Jakarta. Karena, itu Pemprov DKI meniadakan ganjil-genap sebagai tindakan lanjut. Akan tetapi, peniadaan ini bukan berarti orang bebas bepergian ke sana kemari. Selain pembatasan lalu lintas, Pemprov DKI juga akan membatasi jam operasional transportasi umum yang juga dianggap sebagai tempat penyebaran virus. Transportasi-transportasi yang akan dibatasi itu adalah TransJakarta, MRT, dan KRL. Pemprov juga akan kembali menyetop operasional ojek online.

    Tempat Hiburan Ditutup Kembali

    Tempat-tempat hiburan di Jakarta yang selama PSBB Transisi beroperasi kembali kini akan ditutup kembali sebagai dampak dari pengetatan PSBB Jakarta. Itu berarti tempat-tempat hiburan yang dikelola Pemprov DKI seperti Kebun Binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, dan Taman Mini Indonesia Indah akan ditutup.

    Kembali Belajar dari Rumah

    Selain kegiatan perkantoran, kegiatan belajar-mengajar juga kembali dari rumah, dan sejauh ini banyak sekolah di DKI yang belum beroperasi normal atau kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka langsung meskipun di masa PSBB Transisi.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Kafe dan restoran boleh tetap buka namun hanya melayani pesan antar

    Kafe dan restoran di masa PSBB ketat di Jakarta tetap diperbolehkan beroperasi namun hanya sebatas melayani pesan antar. Dengan begitu, Sobat tidak diperbolehkan makan di tempat. Hal ini tentu saja untuk membatasi penyebaran virus.

    Kegiatan berkumpul dan berkerumun dilarang

    Pemprov DKI juga menekankan pelarangan kegiatan berkumpul dan berkerumun karena dapat menjadi kluster penyebaran virus. Bahkan, untuk kegiatan kumpul keluarga dan reuni sebaiknya ditunda terlebih dahulu.

    Beribadah kembali di rumah

    Poin terakhir pada pengetatan kembali PSBB Jakarta adalah beribadah kembali di rumah. Itu berarti tempat-tempat ibadah seperti masjid dan gereja ditutup kembali namun yang ditutup adalah tempat-tempat Ibadah yang berada di jalan raya atau tepi jalan atau yang berkapasitas cukup besar karena sangat berpotensi besar dapat menjadi tempat penyebaran virus. Selain di jalan raya, yang ditutup adalah yang berada di zona merah. Sedangkan untuk tempat ibadah yang berada di dalam kompleks masih diperbolehkan buka namun tetap dengan menerapkan protokol kesehatan.

    Baca Juga: Tempat PCR Swab di Jabodetabek, List dan Biayanya

    Itulah poin-poin penting yang perlu Sobat Sehat ketahui mengenai penerapan kembali PSBB ketat di Jakarta sebagai akibat dari meroketnya kasus Corona di Jakarta. Diharapkan penerapan PSBB secara total ini bisa mengurangi jumlah penderita Corona di Ibu Kota. Karena itu, Sobat Sehat diharapkan tetap menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjalankan 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak atau physical distancing. Apabila memerlukan panduann PSBB di Jakarta, silakan klik di sini.

    Nah, karena semua harus di rumah kembali, bagi Sobat yang ingin melakukan pemeriksaan tes Corona seperti rapid test dan PCR swab di rumah supaya aman dan nyaman, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Indonesia C. Poin-poin Penting PSBB Total Anies [Internet]. nasional. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200910072733-20-544721/poin-poin-penting-psbb-total-anies
    2. Anies Tarik Rem Darurat, Jakarta Kembali ke PSBB Ketat [Internet]. kumparan. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://kumparan.com/kumparannews/anies-tarik-rem-darurat-jakarta-kembali-ke-psbb-ketat-1uAPs3R8Py0/full
    3. detikcom T. PSBB Jakarta, Ini 11 Bidang Perkantoran yang Boleh Beroperasi [Internet]. detiknews. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://news.detik.com/berita/d-5166872/psbb-jakarta-ini-11-bidang-perkantoran-yang-boleh-beroperasi
    4. Media K. PSBB Transisi Dicabut, Mulai Senin Depan Perkantoran di Jakarta Wajib Full WFH Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/09/09/20280301/psbb-transisi-dicabut-mulai-senin-depan-perkantoran-di-jakarta-wajib-full?page=all
    5. detikcom T. 7 Poin Penting Pemberlakuan Kembali PSBB Ketat di Jakarta [Internet]. detiknews. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://news.detik.com/berita/d-5166768/7-poin-penting-pemberlakuan-kembali-psbb-ketat-di-jakarta/4
    6. Jakarta Kembali Perketat PSBB, Anies-Ridwan Kamil dan Kepala Daerah Bodebek Bakal Rapat Bersama : Okezone Megapolitan [Internet]. https://megapolitan.okezone.com/. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://megapolitan.okezone.com/read/2020/09/10/338/2275439/jakarta-kembali-perketat-psbb-anies-ridwan-kamil-dan-kepala-daerah-bodebek-bakal-rapat-bersama
    7. COVID-19 pandemic data [Internet]. En.wikipedia.org. 2020 [cited 10 September 2020]. Available from: https://en.wikipedia.org/wiki/Template:COVID-19_pandemic_data
    Read More
  • Ketika kasus Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merebak di Indonesia, banyak sekali istilah yang bermunculan berkaitan dengan infeksi virus yang menyebabkan pandemi tersebut. Di Indonesia, terdapat istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) untuk mengambarkan status orang yang mungkin terkena virus yang berasal dari Wuhan tersebut. Namun, sejak 13 […]

    8 Istilah Baru Penderita COVID-19, Mulai Dari Suspek Hingga Kematian

    Ketika kasus Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merebak di Indonesia, banyak sekali istilah yang bermunculan berkaitan dengan infeksi virus yang menyebabkan pandemi tersebut. Di Indonesia, terdapat istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) untuk mengambarkan status orang yang mungkin terkena virus yang berasal dari Wuhan tersebut. Namun, sejak 13 Juli 2020 malam, melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah Indonesia menyatakan telah mengganti istilah-istilah tersebut dengan istilah baru seperti kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi dengan atau tanpa gejala, yang mulai diketahui secara luas pada 14 Juli 2020.2 (hal 1) Selain ketiga istilah baru tersebut, terdapat lima istilah baru lainnya, yaitu kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi, dan kematian.1 (hal 31) Secara total, terdapat delapan istilah baru yang digunakan pemerintah di saat New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru ini.

    penderita Corona, penderita virus Corona, penderita virus Covid-19

    Penggantian istilah-istilah ini berdasarkan Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.2 (hal 1) Alasan pemerintah mengganti istilah tersebut adalah untuk kemudahan dan efisiensi dalam penanganan penderita COVID-19, terutama bagi para petugas medis. Salah satu pakar epidemologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menyatakan bahwa penggantian istilah juga untuk memperbaiki data statistik COVID-19.3 (hal 2)

    Baca Juga: Infografik Corona Virus Terkini

    Lalu, seperti apakah penjelasan mengenai istilah-istilah baru tersebut? Berikut Prosehat lampirkan berdasarkan keputusan Kemenkes Terawan Agus Putranto.

    Istilah Baru Penderita COVID-19

    1. Kasus Suspek

    Suspek adalah istilah baru pertama untuk penderita COVID-19. Dalam lembaran keputusan Kemenkes, istilah ini digunakan untuk:

    • Orang yang menderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan selama 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di salah satu wilayah Indonesia yang terkonfirmasi positif mempunyai kasus COVID-19.
    • Orang yang mempunyai salah satu gejala ISPA, dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19.
    • Penderita ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak mempunyai penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

    Apabila melihat penjabaran di atas, kasus suspek ini digunakan untuk menggantikan istilah ODP atau PDP.1 (hal 31-32)

    2. Kasus Probable

    Setelah suspek adalah probable, yaitu orang yang mempunyai kasus suspek dengan ISPA berat atau acute respiratory disease system (ARDS) yang meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19, namun belum ada hasil pemeriksaan laboratorium reverse-transcriptase PCR (RT-PCR) menggunakan spesimen swab tenggorok.1 (hal 32)

    3. Kasus Konfirmasi

    Istilah selanjutnya adalah konfirmasi yang oleh pemerintah dibagi menjadi dua, yaitu kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).  Keputusan Kemenkes menyebut orang dalam status kasus ini adalah mereka yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR.1 (hal 32-33)

    4. Kontak Erat

    Kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau terkonfirmasi positif. Riwayat kontak erat yang dimaksud meliputi:1 (hal 33)

    • Kontak tatap muka/berdekatan dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
    • Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi, seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain.
    • Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar.
    • Situasi lain yang mengindikasikan terdapat kontak erat, berdasarkan penilaian risiko lokal oleh tim penyelidikan epidemiologi.

    5. Pelaku Perjalanan

    Istilah ini merujuk pada orang-orang yang melakukan perjalanan domestik dan mancanegara selama 14 hari terakhir.1 (hal 33)

    6. Discarded

    Discarded merupakan istilah untuk orang-orang sebagai berikut:1 (hal 33)

    • Orang dengan status kasus suspek yang hasil RT-PCR (swab) sebanyak 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan jarak waktu lebih dari 24 jam.
    • Orang dengan status kontak erat yang sudah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.

    7. Selesai Isolasi

    Istilah ini digunakan untuk orang-orang yang memenuhi salah satu kriteria di bawah ini:1 (hal 34)

    • Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan RT-PCR swab lanjutan dan orang ini sudah menyelesaikan 10 hari isolasi mandiri sejak dilakukan pemeriksaan swab untuk konfirmasi diagnosis
    • Kasus probable atau kasus terkonfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak  diperiksa RT-PCR lanjutan, terhitung 10 hari sejak tanggal munculnya gejala, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan
    • Kasus probable atau kasus terkonfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang hasil pemeriksaan RT-PCR lanjutan 1 kali negatif, lalu ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

    8. Kematian

    Istilah terakhir adalah kematian. Istilah kematian COVID-19 digunakan untuk kasus konfirmasi atau probable COVID-19 yang meninggal.1 (hal 34)

    Itulah 8 istilah baru yang digunakan pemerintah untuk membedakan kasus infeksi COVID-19 di Indonesia sebagai bentuk upaya penanggulangan salah satu bencana nasional ini. Apabila Sobat Sehat bukan termasuk orang dengan status suspek, probable, dan konfirmasi tanpa atau dengan gejala, tentunya Sobat tetap harus menjalankan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, memakai masker saat keluar rumah, dan physical distancing, supaya dapat memutus penyebaran virus Corona yang jumlah penderita positifnya terus meningkat setiap hari.1 (hal 74)

    Apabila Sobat ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai virus Corona, Sobat bisa bertanya kepada instansi-intansi pemerintah yang menangani virus ini, serta bisa memeriksakan diri di beberapa fasilitas kesehatan pemerintah atau swasta. Selain itu, Sobat bisa memeriksakan diri di Prosehat yang juga menyediakan layanan rapid test  layanan PCR  swab. Nah, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2020.
    2. Nugraheny D. Perubahan Istilah OTG, ODP, PDP, dan Penjelasan. Kompas.com [Internet]. 2020 [cited 22 July 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/07/15/07531781/perubahan-istilah-otg-odp-pdp-dan-penjelasan-pemerintah?page=all
    3. K N. 4 Fakta Gonta-ganti Istilah ODP-PDP Jadi Suspek Corona. detikHealth [Internet]. 2020 [cited 22 July 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5093795/4-fakta-gonta-ganti-istilah-odp-pdp-jadi-suspek-corona
    Read More
  • Hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang masih bingung dan belum mengetahui  perbedaan PCR Swab dan rapid test sebagai metode-metode yang dijalankan pemerintah untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Kebingungan dan ketidaktahuan itu kebanyakan disebabkan oleh hasil tes manakah yang sebenarnya lebih akurat dan menjanjikan […]

    Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang masih bingung dan belum mengetahui  perbedaan PCR Swab dan rapid test sebagai metode-metode yang dijalankan pemerintah untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Kebingungan dan ketidaktahuan itu kebanyakan disebabkan oleh hasil tes manakah yang sebenarnya lebih akurat dan menjanjikan atau kedua-duanya sama saja.

    Ketidaksamaan PCR Swab dan rapid test

    Pemberlakuan PCR swab dan rapid test sebagai cara untuk mengetahui penderita Corona di Indonesia menjadi hal yang wajib dilakukan terutama setelah pemerintah memberlakukan New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru sejak awal Juni 2020. Pada fase ini masyarakat diperbolehkan kembali menjalankan aktivitas seperti biasa yang terhenti selama 3 bulan akibat diberlakukannya PSBB sehingga mengharuskan mereka bekerja dari rumah atau menganggur sama sekali. Namun, semua itu tetap dengan protokol-protokol kesehatan.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Pemberlakuan keduanya pada masa New Normal itu sesuai dengan Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 5 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dengan munculnya aturan tersebut, kedua tes Corona itu wajib bagi orang-orang yang hendak beraktivitas kembali atau kantor atau bepergian jarak jauh. Kedua hasil tes ini pun wajib dibawa sebagai bukti bahwa yang bersangkutan bebas dari virus Corona, dan keduanya masuk dalam persyaratan SIKM seperti yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

    Lalu mengenai perbedaan keduanya, sebenarnya hal-hal apa sajakah yang membuat keduanya tidak sama? Tanpa berlama-lama, mari Sobat simak poin-poin kedua metode penanggulangan Corona itu supaya tidak bingung dan salah kaprah.

    Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Fungsi

    Meskipun bertujuan untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona, baik rapid test maupun PCR Swab ternyata mempunyai fungsi yang sebenarnya berbeda jika diperhatikan. Rapid test atau tes cepat atau uji cepat jika melihat pada namanya adalah sebuah tes untuk mengetahui penderita Corona secara cepat, dengan melihat dua antibodi pada tubuh, yaitu immnuglobulin G (IgG) dan immunoglobulin M (IgM) sebagai pertahanan untuk melawan Corona. Jika seseorang terindikasi positif terkena Covid-19, antibodi-antibodi tersebut akan terdeteksi. Dapat juga dikatakan, tes ini merupakan sebuah skrining atau pemeriksaan tahap awal.

    Sedangkan PCR adalah sebuah tes Corona yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh melalui material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Material genetik yang terdapay dalam bakteri atau virus bisa berupa DNA atau RNA, yang mempunyai tampilan berbeda pada jumlah rantai yang dipunyai keduanya. DNA mempunyai rantai ganda sedangkan RNA mempunyai rantai tunggal. Keberadaan keduanya melalui swab test adalah melalui teknik amplifikasi atau pembanyakan sehingga dari situ penyakit bisa diketahui dan didiagnosis. Hasil penelitian bahwa ternyata Corona merupakan virus RNA. Dari pemaparan di atas bisa disimpulkan bahwa PCR swab merupakan tes lanjutan setelah rapid test.

    Produk Terkait: Rapid Test Covid-19

    Proses

    Baik PCR swab maupun rapid test mempunyai perbedaan dalam proses untuk mengetahui seseorang terkena  virus Corona atau tidak sama sekali. Untuk PCR, seseorang akan menjalani proses dengan petugas memasukkan alat swab ke dalam hidung atau tenggorokan untuk diambil cairan atau lendir dalam tubuh seseorang tersebut. Selanjutnya, alat swab itu dimasukkan ke dalam tabung khusus dan dikirim ke laboratorium, dan di sana petugas akan mencocokkan DNA yang terdapat pada alat swab dengan DNA virus Corona.

    Sedangkan pada rapid test prosesnya jauh lebih simpel. Sobat yang menjalani proses hanya diminta oleh petugas untuk diambil sampe darah dari ujung jari kemudian diteteskan ke alat rapid test. Kemudian, cairan pendeteksi antobodi itu diteteskan ke alat yang sama. Karena cepat, hasil dari proses ini memakan waktu 10-20 menit. Hal ini tentu saja berbeda pada PCR yang memakan waktu hingga beberapa hari sehingga cukup lama untuk memastikannya.

    Tingkat Keakuratan

    Perbedaan PCR swab dan rapid test lainnya adalah pada tingkat keakuratan, suatu hal yang sebenarnya sangat diharapkan seseorang ketika sudah menjalani kedua tes tersebut. Karena dengan hasil yang akurat akan bisa menjadi bahan untuk tindakan selanjutnya. Pada rapid test tingkat keakuratan yang dihasilkan rendah karena pembentukan antibodi membutuhkan waktu hingga beberapa minggu. Oleh karena itu, orang yang mendapat hasil positif dalam rapid test belum tentu positif Corona, begitu pula sebaliknya sehingga hasil tes harus segera dipastikan melalui PCR.

    Sedangkan pada PCR karena merupakan tes lanjutan, tingkat keakuratan yang dihasilkan tinggi sehingga hasilnya juga pasti, dan tidak memerlukan tes lain. Karena hasilnya yang benar-benar akurat tersebut, tidak salah jika epidemolog UI, Pandu Riono, meminta pemerintah untuk memperbanyak PCR daripada rapid test yang belum tentu akurat sama sekali.

    Biaya

    Biaya juga membuat kedua tes Corona ini benar-benar berbeda. Apabila Sobat menginginkan tes yang tidak hanya cepat namun juga ekonomis, Sobat bisa memilih rapid test. Untuk biayanya pun sesuai peraturan pemerintah adalah Rp 150.000 meskipun masih banyak sekali fasilitas kesehatan yang ternyata menetapkan biaya yang berbeda-beda bahkan hingga Rp 1 jutaan.

    Sedangkan PCR membutuhkan biaya yang tentu saja tidak sedikit alias lebih mahal dari rapid test. Biayanya pun berbeda-beda tergantung fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang memberikan layanan tersebut. Rata-rata biaya untuk PCR adalah berkisar pada angka Rp 1,3 jutaan hingga Rp 1,7 jutaan bahkan bisa di angka Rp 2 jutaan. Karena itu, bagi Sobat yang menginginkan tes PCR harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam.

    Orang-orang Wajib Tes

    Untuk orang-orang wajib tes pada kedua tes Corona ini tentu saja berbeda. Pada rapid test orang-orang yang wajib adalah mereka yang punya status suspek, probable, dan konfirmasi dengan atau tanpa gejala. Istilah-istilah ini digunakan oleh Kementerian Kesehatan per 14 Juli 2020 untuk menggantikan istilah-istilah lama, yaitu ODP, PDP, dan OTG.  Selain itu, adalah orang-orang yang berprofesi sebagai sebagai pelayan publik, dan lebih sering berinteraksi dengan masyarakat. Untuk PCR, yang wajib menjalaninya adalah orang-orang yang hasil rapid test-nya positif.

    Baca Juga: Kapan dan Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Tindakan

    Baik PCR Swab maupun rapid test punya tindakan yang berbeda-beda. PCR Swab sendiri karena merupakan tes lanjutan harus dilakukan secara profesional oleh pihak rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah. Dengan demikian, penanganannya tidak main-main dan tidak bisa sembarangan. Hal ini tentu berbeda dari rapid test yang bisa dilakukan secara sendiri bahkan bisa membeli alatnya langsung secara online. Namun hal tersebut malah membuat hasilnya tidak akurat bahkan abal-abal karena alat yang dijual belum tentu berkualitas.

    Efek Samping

    Perbedaan kedua tes Corona yang lain lagi adalah dalam hal efek samping. Pada rapid test, efek samping yang dihasilkan adalah memar dan nyeri pada bagian tubuh pengambilan sampel darah sedangkan pada PCR efek samping yang dialami oleh mereka yang sudah menjalaninya adalah rasa sakit dan geli terutama di bagian hidung dan tenggorokan sebagai tempat untuk memasukkan alat swab.

    Itulah 7 perbedaan PCR swab dan rapid test yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus Corona dalam tubuh seseorang sehingga dari hasil yang didapatkan akan dilakukan tindakan lanjutan seperti isolasi 14 hari jika orang yang menjalani tes tersebut benar-benar terkena virus Corona. Apabila melihat pada sisi keakuratannya, sudah jelas bahwa PCR swab sangat direkomendasikan sebagai tes untuk mendeteksi virus Corona daripada rapid test apalagi secara prosedur juga harus dilakukan secara profesional oleh petugas medis dan fasilitas kesehatan yang terpercaya dan ditunjuk oleh pemerintah.

    Meski begitu, karena akurat, PCR swab menjadi mahal dari sisi harga. Tak hanya itu, untuk hasilnya pun tidak bisa dalam waktu cepat sehingga banyak orang yang menjalani rapid test karena alasan ekonomis dan waktu yang diperlukan. Bagaimana pun, kedua tes Corona ini sangat penting untuk membantu mencegah dan menanggulangi penyebaran virus Corona yang dari hari ke hari semakin meningkat terutama di masa New Normal. 

    Apabila Sobat ingin melakukan rapid test dan swab test melalui layanan ke  rumah, Sobat bisa segera memanfaatkan layanan rapid test secara drive thru dan layanan ke rumah atau ke kantor minimal 20 orang untuk PCR swab. Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut mengenai layanan PCR swab dan rapid test ini ke rumah silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Wangi R. Mengenal Perbedaan 2 Jenis Tes Corona: Rapid Test dan PCR Test, Biar Nggak Bingung dan Salah Kaprah [Internet]. Hipwee. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.hipwee.com/feature/jenis-tes-corona/
    2. Sianturi E. PCR vs Rapid Test COVID-19, Yuk Kenali Perbedaan Keduanya [Internet]. tech. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200527153620-40-161267/pcr-vs-rapid-test-covid-19-yuk-kenali-perbedaan-keduanya
    3. Apa Itu Kasus Suspek, Kasus Probable, dan Kasus Konfirmasi untuk Covid-19? [Internet]. suara.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.suara.com/health/2020/07/15/195226/apa-itu-kasus-suspek-kasus-probable-dan-kasus-konfirmasi-untuk-covid-19
    Read More
  • Selama ini rapid test mungkin lebih familiar di telinga Sobat dibanding PCR swab test untuk mendeteksi virus corona dalam tubuh. Lalu apakah sebenarnya PCR swab test itu? Apa saja perbedaannya dengan rapid test yang juga jamak dilakukan?  Apakah PCR Swab Itu? PCR Swab Test atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi material genetik […]

    Sudahkah Sobat Paham Tentang PCR Swab?

    Selama ini rapid test mungkin lebih familiar di telinga Sobat dibanding PCR swab test untuk mendeteksi virus corona dalam tubuh. Lalu apakah sebenarnya PCR swab test itu? Apa saja perbedaannya dengan rapid test yang juga jamak dilakukan? 

    Apakah PCR Swab Itu?

    pcr swab test corona, tes pcr

    PCR Swab Test atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Pemeriksaan laboratorium ini juga digunakan sebagai salah satu metode untuk mendiagnosis sebuah virus, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus tersebut.
    Material genetik yang terdapat dalam bakteri atau virus bisa berupa DNA atau deoxyribonucleic acid atau RNA (ribonucleic acid). Kedua jenis materi genetik ini tentu saja berbeda, dan perbedaan keduanya dapat dilihat dari jumlah rantai yang ada di dalamnya.

    Produk terkait: PCR Swab Test

    Diketahui bahwa DNA merupakan material genetik yang mempunyai rantai ganda sedangkan RNA adalah material genetik dengan rantai tunggal. Baik DNA maupun RNA pada setiap spesies makhluk hidup membawa informasi genetik yang unik.


    Untuk bisa mengetahui keberadaan DNA dan RNA dalam swab test adalah melalui teknik amplifikasi atau pembanyakan. Dari swab test ini, keberadaan material genetik yang ditimbulkan dari berbagai jenis penyakit akibat infeksi bakteri atau virus akan bisa dideteksi, dan akhirnya bisa membantu mendiganosis penyakit tersebut.

    Jenis Penyakit Apa Saja yang Bisa Didiagnosis?

    Ada beberapa jenis penyakit atau infeksi yang bisa didiagnosis menggunakan swab test atau PCR, antara lain: 

    • HIV
    • Hepatitis C
    • Cytomegalovirus
    • HPV
    • Gonore
    • Klamdia
    • Lyme
    • Pertusis (batuk rejan)

    Ternyata selain untuk mendiagnosis penyakit-penyakit di atas, swab test juga dapat digunakan untuk mendeteksi virus corona. Virus ini adalah salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, dan merupakan jenis virus RNA.

    Siapa Saja yang Harus Menjalani Swab Test?

    Orang-orang yang perlu menjalani swab test adalah mereka yang dikenakan status ODP, PDP, orang-orang yang mempunyai kontak erat dengan pasien positif Corona, dan pasien dengan hasil rapid test yang positif.

    Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukannya

    Untuk melakukan swab test ini sebaiknya dilakukan selama 2 hari ketika Sobat mengalami gejala Corona, dan hasilnya akan keluar dalam 2×24 jam. Jika Sobat melakukan swab pada pagi hari, hasilnya pun sudah bisa keluar pada sore harinya. Selama menanti hasil swab tersebut, Sobat tetap diarahkan oleh dokter untuk melakukan isolasi.

    Seperti Apa Prosedurnya?

    Ada dua prosedur dalam pelaksanaan swab test ini. Pertama, melalui hidung, dan yang kedua melalui tenggorokan.

    Untuk hidung adalah sebagai berikut:

    • Pasien agak mendongak dan diminta membuang napas dari hidung.
    • Alat swab akan masuk ke lubang hidung pasien hingga ke bagian belakang hidung.
    • Petugas medis akan mengambil sampel dengan cara memutar alat swab selama beberapa detik.

    Sedangkan melalui tenggorokan adalah sebagai berikut:

    • Pasien membuka mulut lebar-lebar lalu petugas medis akan memasukkan alat swab ke dalam mulut sampai menyentuh tenggorokan.
    • Alat swab tidak boleh menyentuh lidah.
    • Setelah itu, alat swab akan diputar selama beberapa detik untuk mengambil sampel.

    Sampel dahak yang diambil melalui metode swab ini memakan waktu sekitar 15 detik, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Setelah itu sampel dahak tersebut akan diteliti di laboratorium.

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    Untuk bisa mendeteksi keberadaan virus Corona dalam tubuh manusia melalui swab test, terlebih dahulu akan diawali dengan mengubah RNA yang ada dalam sampel menjadi DNA. Hal ini perlu dilakukan sebab Corona merupakan virus RNA. Proses pengubahannya dilakukan dengan enzim reverse-transcriptase sehingga teknik pemeriksaan virus RNA dengan mengubah terlebih dahulu menjadi DNA, dan mendeteksinya dengan PCR yang kemudian disebut dengan reverse-transcriptase polymerase chain reaction atau RT-PCR.

    Baca Juga: Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test

    Setelah pengubahan tersebut, barulah alat yang digunakan untuk PCR akan melakukan amplifikasi atau pembanyakan materi genetik ini sehingga bisa terdeteksi. Jika mesin PCR mendeteksi RNA virus Corona di sampel dahak atau lendir yang diperiksa, sudah dapat dipastikan hasilnya positif.

    Di Mana Bisa Melakukannya?

    Sobat bisa melakukan swab test Corona ini di rumah sakit mana saja terutama rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh pemerintah untuk menangani wabah Covid-19. Tidak ada persiapan khusus untuk melakukan ini. Sobat cukup datang saja, dan melalukan prosedur yang diminta oleh petugas kesehatan yang memeriksa Sobat. Selain rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang punya kewenangan, swab test juga bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas publik seperti stasiun kereta api dan terminal bis. Untuk di rumah sakit pun, Sobat bisa melakukannya secara drive thru yang bakal mempermudah Sobat sekaligus juga menimimalkan penyebaran virus yang rentan terjadi di rumah sakit.

    Baca Juga: Kapan & Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Apakah Swab PCR Bisa Dilakukan Sendiri?

    Tentu Sobat Sehat bertanya-tanya apakah swab test bisa dilakukan sendiri seperti halnya rapid test? Jawabannya, tidak bisa karena swab test adalah tes finalisasi atau terakhir, seseorang positif atau negatif terkena Corona. Karena merupakan tes terakhir, berarti tes ini bukanlah tes yang main-main sehingga semua prosedur dan protokol kesehatannya harus dilakukan petugas medis yang sudah mempunyai keahlian dalam hal tersebut.

    Mengapa Harus Swab Test?

    Swab test diperlukan untuk mengetahui secara pasti dan tepat bahwa orang yang terindikasi terkena virus Corona itu benar-benar positif atau malah negatif sehingga setelah diketahui hasilnya, bagi yang positif akan diarahkan untuk diisolasi selama 14 hari untuk menghentikan penyebaran virus.


    Sedangkan bagi yang negatif, otomatis akan dinyatakan sembuh sehingga tidak perlu menjalani isolasi. Meski begitu, untuk Sobat yang mendapatkan hasil yang negatif tetap harus menjalankan protokol kesehatan dari pemerintah dan WHO, yaitu mencuci tangan dengan sabun, memakai hand sanitizer, serta memakai masker bila akan keluar rumah.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Selain sebagai indikator positif dan negatif Corona, swab test juga bisa digunakan sebagai  persyaratan bagi mereka yang akan bepergian keluar kota melalui SIKM atau surat izin keluar masuk seperti yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang PSBB Transisi. Dengan mengantongi SIKM yang di dalamnya ada hasil swab test, tentu akan mempermudah Sobat yang bepergian untuk urusan bisnis dan pekerjaan.

    Adakah Efek Samping?

    Sebagaimana halnya sebuah tes atau uji kesehatan, tentu saja ada efek samping yang akan dirasakan. Untuk swab test ini efek sampingnya merupakan efek samping yang tergolong ringan. Efek samping itu adalah rasa sakit dan geli. Kedua rasa itu timbul sebagai akibat alat swab masuk ke salah satu atau dua lubang hidung yang kemudian diputar beberapa kali.

    Perbedaan dengan Rapid Test

    Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa swab test dan rapid test itu sangat berbeda. Perbedaan mendasar keduanya adalah jika swab test untuk mendiagnosis secara final, sedangkan rapid test sebagai pemeriksaan tahap awal atau pembuka. Perbedaan lainnya adalah pada prosedur. Apabila swab menggunakan dahak atau liur, rapid menggunakan sampel darah. Begitu juga dengan alat-alat yang digunakan.

    Untuk keakuratan hasil, swab test tentu saja lebih akurat karena merupakan tes final. Meski begitu, swab test tidak serta-merta bisa dijadikan sebagai deteksi pasti Corona. Karena, positif atau negatifnya seseorang terkena Corona adalah dari daya tahan atau imun dalam tubuhnya. Apabila daya tahan tubuhnya bagus, orang tersebut akan bisa dinyatakan negatif atau sembuh. Apabila Sobat ingin melakukan rapid test maupun swab PCR, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Hasibuan L. Daftar Lokasi Swab Test Covid-19 Jalur Mandiri dan Tarifnya [Internet]. tech. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200603142032-37-162783/daftar-lokasi-swab-test-covid-19-jalur-mandiri-dan-tarifnya
    2. Shafa F. Bedanya Rapid Test, Swab atau PCR, Mana yang Lebih Efektif? [Internet]. POPMAMA.com. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://www.popmama.com/life/health/faela-shafa/bedanya-rapid-test-swab-atau-pcr-mana-yang-lebih-efektif
    3. Media K. Mengenal Tes Swab Corona: Pengertian, Tahapan hingga Biayanya Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/01/183200065/mengenal-tes-swab-corona–pengertian-tahapan-hingga-biayanya?page=all
    4. Berbagai Metode Test Covid-19; PCR A. Berbagai Metode Test Covid-19; PCR, Rapid Test, TCM, Apa Perbedaannya? – Semua Halaman – Grid Health [Internet]. Health.grid.id. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://health.grid.id/read/352088718/berbagai-metode-test-covid-19-pcr-rapid-test-tcm-apa-perbedaannya?page=all
    Read More
  • Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut. Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan […]

    4 Hal Penting Terkait Melahirkan Saat Pandemi Menurut IDAI

    Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut.

    ibu melahirkan


    Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan terdepan dalam menghadapi Covid-19. Tak ketinggalan protokol kesehatan untuk ibu hamil.

    Baca Juga: 6 Panduan Nutrisi Ibu Hamil untuk Menjaga Kesehatan Calon Buah Hati

    Protokol diperlukan mengingat Corona adalah virus yang mudah menyebar dan cepat masuk ke dalam sistem pernafasan utama seperti paru-paru. Apalagi ibu hamil merupakan orang yang mudah terpapar virus tersebut karena daya tahan tubuh yang menurun. 

    Tidak hanya ibu hamil, bayi yang dikandung juga terpapar virus sehingga setelah dilahirkan harus segera dijauhkan dari sang ibu. Meskipun penelitian belum bisa dengan pasti mengungkapkan tingkat penularan tersebut. Adanya Corona yang mempunyai efek sangat mematikan juga membuat ibu hamil menjadi enggan memeriksakan diri ke puskesmas atau mengikuti kelas khusus ibu hamil. Ketakutan juga ditambah dengan belum adanya standarisasi yang lengkap untuk APD tenaga medis.

    Lalu seperti apakah protokol atau pedoman kesehatan untuk ibu hamil pada masa pandemi atau new normal? Simak poin-poin di bawah ini seperti yang dipaparkan oleh dr. Toto Wisnu Hendarto dari PP IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

    1. Memulai Pencegahan dengan Membaca KIA
      Seperti yang sudah diumumkan oleh WHO pada akhir 2019 bahwa untuk mencegah dan memutus penyebaran virus Corona adalah mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir selama 20 detik.
      Perihal mencuci tangan yang baik dan benar ini juga ada dalam buku KIA atau Kesehatan Ibu dan Anak 2020 yang telah direvisi. Di dalam buku pegangan utama tersebut juga dijabarkan bahwa mencuci tangan untuk ibu hamil harus memakai juga hand sanitizer dengan kandungan alkohol sebanyak 70% apabila sabun cuci tangan tidak tersedia.
      KIA untuk Corona ini juga memuat beberapa poin penting seperti penggunaan masker untuk mencegah cipratan air liur, baik langsung maupun tidak langsung. Kemudian menghindari kontak dengan tidak bepergian ke daerah-daerah rawan Corona serta tidak berinteraksi dengan hewan-hewan penyebab virus tersebut seperti kelelawar, tikus, dan musang.
    2. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Sesuai Protokol Covid-19
      Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang harus dilakukan untuk ibu hamil supaya bisa mengetahui kesehatan bayi yang dikandungnya. Pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan terpercaya milik pemerintah atau swasta.
      Namun dalam masa pandemi atau new normal ini, diusahakan agar bumil tidak terlalu menunggu lama dalam memeriksakan kehamilan. Karena itu, perlu dibuat perjanjian antara ibu hamil dan pihak pemeriksa.

    Untuk panduan pemeriksaan kesehatan, bumil dapat membaca panduannya melalui KIA 2020 yang telah direvisi. KIA juga memuat beberapa risiko tanda bahaya yang mesti diketahui oleh si ibu hamil untuk bayi yang dikandungnya. Apabila si ibu hamil merasa ada tanda bahaya seperti yang termuat dalam KIA, disarankan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan.

    Baca Juga: 9 Tips ASI setelah melahirkan


    Untuk masa pandemi ini, petugas kesehatan bisa mendatangi rumah supaya ibu hamil bisa menghindari virus Corona, dan ibu hamil dapat mengikuti kelas pelatihan kehamilan secara online. Apabila bumil terindikasi terkena Covid-19, pemeriksaan USG bisa ditunda sampai masa isolasi berakhir.


    Untuk ibu hamil yang terindikasi terkena Covid-19 juga memerlukan beberapa penanganan khusus seperti tidak memberikan tablet tambah darah, petugas kesehatan melakukan antenatal care selama 14 hari setelah isolasi, dan pembentukan tim multi-disiplin yang terdiri dari beberapa dokter spesialis, serta pemberian konseling.

    1. Ketahui Beberapa Tingkatan Pelayanan
      Toto Wisnu Hendarto juga memaparkan tingkatan pelayanan kelahiran pada masa pandemi dan new normal. Terdapat tiga level seperti yang tercantum di KIA 2020 hasil revisi yaitu,
    • Level I untuk kemampuan penanganan dasar
    • Level II A dan B untuk kemampuan penanganan khusus
    • Level III A dan B untuk penanganan dasar namun subspesial 
    • Level III C dan D untuk penanganan lanjutan

    Level-level ini diberikan kepada fasilitas kesehatan sesuai dengan standar dan APD yang dimiliki untuk pengananan ibu hamil saat pandemi. Juga sesuai dengan status yang disandang si ibu hamil apakah penderita atau bukan. Jika ia penderita, tentu harus diketahui status penderitanya.


    Untuk level 1 di Indonesia berlaku ketentuan pelayanan umum seperti pasca kelahiran bayi, yaitu 37-42 minggu, dengan berat berkisar di 2.500-4.000 gram. Sedangkan pelayanan luar biasa ada pada level III plus. Karena level atau tingkatan yang berbeda, tentu saja APD yang digunakan juga berbeda seperti level III harus menggunakan delivery chamber.

    1. Pemberian Pelayanan untuk Bayi Baru Lahir
      Bayi yang baru lahir rentan terkena Corona dikarenakan belum mempunyai daya imunitas yang bagus. Untuk hal ini dalam pemaparannya IDAI memberikan 4 tahapan periode waktu dalam penanganan pasca-kelahiran.
    • Tahapan pertama adalah berdasarkan detik (30 detik)
    • Tahapan kedua berdasarkan jam (6-12 jam)
    • Tahapan ketiga berdasarkan hari (47-72 jam)
    • Tahapan  keempat berdasarkan minggu

    Pada tahapan pertama penanganan yang perlu dilakukan adalah resusitasi neonatal kurang lebih 30 detik yang meliputi pemberian kehangatan, pemberian posisi kepala untuk bernafas, pengeringan, dan perangsangan taktil.

    Apabila dalam tahapan ini bayi terindikasi Corona, langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan prosedur aerosol generated secara isolatif. Pada tahapan kedua prosedur yang perlu dilakukan adalah neonatal esensial, pemberian vitamin K1, antibiotik, dan vaksin hepatitis B.

    Baca Juga: Bolehkah Ibu Hamil Terbang?


    Apabila bayi terkena Corona, neonatal esensial tetap dilakukan namun dengan melakukan isolasi selama 14 hari. Pada kategori ketiga perawatan yang perlu dilakukan adalah rooming in, pemeriksaan detak jantung, dan pemeriksaan hipotiroidisme. Apabila bayi terkena Covid-19 langkah yang perlu dilakukan adalah isolasi khusus berdasarkan protokol Covid-19, dan boleh meninggalkan rumah sakit. Tahapan terakhir adalah berdasarkan minggu yaitu dimulainya pemberian ASI secara terkontrol, monitor berat badan, dan monitor metabolisme bilirubin. Jika bayi pada tahapan ini terkena Corona, prosedur yang dilakukan adalah identifikasi final berdasarkan protokol Covid-19.

    Nah, itulah 4 poin penting dari IDAI mengenai prosedur melahirkan pada masa pandemi. Semoga bermanfaat bagi para ibu hamil yang ingin tetap melahirkan dalam keadaan sehat dan aman. Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Read More
  • Pemerintah telah menetapkan kebijakan kerja dari rumah semasa pandemi COVID-19 untuk mengurangi rantai penularan penyakit ini. Namun, terdapat sejumlah profesi yang masih mengharuskan karyawan untuk tetap bekerja di kantor. Untuk mengetahui cara pencegahan yang benar, Sobat sebaiknya juga mengenal cara penularan virus tersebut, yaitu melalui percik renik yang keluar saat seseorang sedang batuk atau bersin. […]

    Cara Mengendalikan Laju COVID-19 di Lingkungan Kantor

    Pemerintah telah menetapkan kebijakan kerja dari rumah semasa pandemi COVID-19 untuk mengurangi rantai penularan penyakit ini. Namun, terdapat sejumlah profesi yang masih mengharuskan karyawan untuk tetap bekerja di kantor. Untuk mengetahui cara pencegahan yang benar, Sobat sebaiknya juga mengenal cara penularan virus tersebut, yaitu melalui percik renik yang keluar saat seseorang sedang batuk atau bersin.

    mengendalikan laju Covid-19

    Baca Juga: PSBB Ketat di Jakarta, Poin-poin yang Perlu Sobat Ketahui

    Percik renik ini bisa menyebar lalu terjatuh ke permukaan benda seperti meja, kursi, atau benda lainnya dalam radius sekitar 1 meter. Seseorang bisa tertular bila percik renik tersebut terhirup oleh orang lain, atau bila seseorang memegang permukaan benda yang sudah terkena percik renik lalu orang tersebut memegang bagian wajah seperti mata, hidung, dan mulut. Berikut adalah cara untuk mencegah penularan COVID-19 di lingkungan kantor:

    Membiasakan cuci tangan bagi pekerja 

    Sebaiknya disediakan tempat khusus untuk mencuci tangan serta hand rub berbahan dasar alkohol di lingkungan kantor. Biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang bersih selama minimal 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudah tercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, dan bila tangan terlihat kotor. Hindari menyentuh wajah, baik sebelum maupun sesudah cuci tangan.

    Membiasakan etika batuk dan bersin yang benar

    Gunakan tisu atau bagian lipat dalam siku untuk menutup hidung dan mulut saat batuk maupun bersin, jangan gunakan tangan. Tisu yang digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya. Untuk orang yang tidak bergejala disarankan untuk menggunakan masker kain setiap harinya.

    Tetap menjaga jarak dengan orang lain

    Jagalah jarak minimal 1 meter dari orang lain. Hindari kontak fisik dengan orang lain, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala, atau membungkuk.

    Baca Juga: Dampak Covid-19 pada Kesehatan Karyawan

    Jaga kebersihan benda atau peralatan kantor yang sering digunakan

    Bersihkan barang-barang yang digunakan setiap hari dengan air dan sabun bila terlihat kotor secara kasat mata, lalu bersihkan dengan disinfektan secara rutin benda-benda yang sering disentuh seperti meja, gagang pintu, handphone, keyboard, dan keran air.

    Membatasi pertemuan orang dalam jumlah banyak

    Sebelum melakukan pertemuan sebaiknya memastikan terlebih dahulu apakah pertemuan perlu dilakukan secara langsung atau dapat digantikan melalui bantuan media online (teleconference), serta membatasi jumlah orang yang berada dalam satu ruangan kantor.

    Baca Juga: Mengapa Terjadi Covid-19 di Perkantoran?

     

     

    Bila memang diperlukan pertemuan langsung sebaiknya dilakukan di ruangan berventilasi baik, dengan tetap menjaga jarak minimal 1 meter dan menggunakan masker.

    Secara aktif mengingatkan karyawan yang sakit untuk tetap di rumah

    Karyawan yang memiliki gejala atau kontak erat dengan penderita sebaiknya memberitahu atasannya dan dianjurkan untuk tetap di rumah. Serta dilakukan skrining kesehatan setiap harinya sebelum karyawan atau pelanggan masuk ke dalam gedung kantor, seperti mengukur suhu tubuh dan menanyakan gejala, bila ada yang tidak memenuhi syarat maka segera berikan masker bedah dan diarahkan untuk tetap di rumah.

    Mengetahui tata cara pencegahan dan pengendalian virus sepulang dari kantor

    Setelah pulang dari kantor, lepas masker kain dari bagian belakang, setelah itu masker kain segera dicuci dan dikeringkan di tempat yang telah disediakan. Letakan kunci, dompet, dan tas di tempat di luar kamar Sobat. Lepaskan baju dan rendam dengan deterjen. Hindari memegang benda lainnya di dalam rumah Sobat, segera mandi dan bersihkan badan.

    Baca Juga: Jangan Sepelekan Masker dan Tips Nyaman Memakainya

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    2. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. World Health Organizaton. Getting your workplace ready for COVID-19 [Internet]. 2020. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/getting-workplace-ready-for-covid-19.pdf
    4. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet].]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    5. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Interim Guidance for Businesses and Employers [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/guidance-business-response.html

     

    Read More
  • Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalkan paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai […]

    Bagaimana Berobat Setelah Masa Pandemi Berakhir?

    Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalkan paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai perubahan dalam cara berobat, apa saja yang akan terjadi setelah masa pandemi ini berakhir:

     

    Baca Juga: Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    1. Masyarakat akan lebih memanfaatkan fasilitas telemedicine

    Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah meminta masyarakat yang sedang sakit untuk memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk berobat secara online (telemedicine). Dengan adanya layanan online, tidak semua orang yang sakit perlu dibawa berobat ke rumah sakit. Setelah masa pandemi ini berakhir, pola berobat atau konsultasi medis secara online diharapkan tetap mampu menjadi budaya baru di masyarakat. Mengingat tingginya paparan terhadap kuman penyakit di rumah sakit, pengobatan secara online juga yang memungkinkan Sobat untuk melakukan konsultasi dengan dokter tanpa perlu keluar dari rumah juga sudah terbukti merupakan pilihan yang efektif dan efisien. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan melalui konsultasi online:

    • Memberikan kemudahan untuk bertanya- jawab mengenai penanganan pertama sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah, seperti pada kasus luka akibat terjatuh, batuk pilek biasa, diare, gigitan serangga, dan lain-lain.
    • Menjawab pertanyaan dengan tepat seputar penyakit dan pengobatan yang sedang atau sudah selesai dijalani sebelumnya.
    • Mempermudah pasien untuk mengetahui hasil laboratorium dengan cepat dan tepat.
    • Memberikan saran mengenai kunjungan ke spesialisasi bidang kedokteran yang sesuai dengan penyakit yang dialami.

    Pelayanan kesehatan secara online ini juga akan sangat bermanfaat khususnya bagi pasien dengan mobilitas rendah yang membutuhkan pelayanan dalam jangka panjang seperti pasien penderita sakit kronis (hipertensi, diabetes, perawatan luka, perawatan paska stroke, dan lain-lain). Telemedicine sudah diterima sebagai salah satu cara manajemen yang efektif untuk pasien dengan penyakit kronis oleh sebagian besar penyedia pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penggunaan telemedicine sendiri akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman, namun bukan berarti dapat menggantikan kunjungan langsung ke dokter untuk kasus yang memang memerlukan penanganan lebih lanjut. Telemedicine merupakan pendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang mudah diakses dan efisien.

    1. Membuat appointment sebelum ke rumah sakit

    Bila kondisi penyakit Sobat memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, ada baiknya untuk tetap membiasakan diri membuat penjadwalan (appointment) terlebih dahulu dengan pihak rumah sakit, sehingga Sobat tidak perlu mengantri terlalu lama dan jumlah pasien yang berobat juga dibatasi sesuai dengan jam sehingga tidak menumpuk. Selain itu, sebaiknya janji pertemuan dengan dokter dilakukan secara rutin sesuai anjuran dokter, sebelum obat rutin yang dikonsumsi habis atau sebelum munculnya gejala penyakit baru.

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19?

    1. Tetap memerhatikan pola hidup bersih dan sehat

    Sejak terjadinya pandemi COVID-19, membiasakan kehidupan pola hidup bersih dan sehat lebih ditekankan kepada masyarakat seperti rutin mencuci tangan, mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak dengan orang lain, cara-cara untuk menjaga kesehatan agar imun tubuh tetap kuat, dan lainnya. Pola hidup seperti ini juga harus tetap dipertahankan bahkan sampai masa pandemi ini berakhir, baik dalam kehidupan sehari-hari, serta terutama bila Sobat sedang berobat ke rumah sakit. Jumlah kuman penyebab bakteri di rumah sakit tentunya lebih banyak sehingga pastikan untuk tetap melakukan pola hidup bersih dan sehat.

    Baca Juga: Dampak Covid-19 Pada Kesehatan Karyawan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kurangi Risiko Tenaga Medis Tertular Covid-19, Jokowi Minta Warga Berobat Online [Internet]. Available from: nasional(dot)kompas(dot)com/read/2020/04/13/10491681/kurangi-risiko-tenaga-medis-tertular-covid-19-jokowi-minta-warga-berobat
    2. Global Observatory for eHealth series. Telemedicine: Opportunities and developments in Member States. Vol. 2. World Health Organization; 2010.
    3. Williamson R. The Role of Telemedicine in Chronic Disease Management [Internet]. Medium. 2019. Available from: medium(dot)com/@ryanwilliamsonc/the-role-of-telemedicine-in-chronic-disease-management-5ec79bb0e575
    4. How Telemedicine Can Make Getting Your Prescription Easier – GoodRx [Internet]. The GoodRx Prescription Savings Blog. 2019. Available from: goodrx(dot)com/blog/how-telemedicine-can-make-getting-your-prescription-easier/
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    Read More
  • Bulan Ramadan tahun ini cukup berbeda karena dijalani bersamaan dengan pandemi COVID-19 yang membuat masyarakat Indonesia tidak dapat bersilahturahmi dengan keluarga di kampung halaman. Ibadah selama bulan Ramadan juga harus dilaksanakan di rumah masing-masing demi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Oleh karena itu, Sobat dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi pandemi COVID agar tidak […]

    7 Barang Penting Selama Bulan Ramadan saat Pandemi COVID-19

    Bulan Ramadan tahun ini cukup berbeda karena dijalani bersamaan dengan pandemi COVID-19 yang membuat masyarakat Indonesia tidak dapat bersilahturahmi dengan keluarga di kampung halaman. Ibadah selama bulan Ramadan juga harus dilaksanakan di rumah masing-masing demi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Oleh karena itu, Sobat dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi pandemi COVID agar tidak menggangu jalannya ibadah puasa selama bulan suci ini. Berikut merupakan 7 barang yang perlu dipersiapkan selama Bulan Ramadan saat pandemi COVID-19.

    1. Hand sanitizer

    Penerapan PSBB membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Namun, tetap ada saatnya Sobat harus keluar rumah karena urusan mendesak. Terkadang, tidak semua tempat menyediakan wastafel untuk mencuci tangan. Oleh karena itu, dianjurkan untuk selalu membawa hand sanitizer setiap keluar rumah. Hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 70 persen dapat membunuh virus yang menempel di permukaan tangan.

    1. Masker

    Apabila Sobat hendak bepergian keluar rumah menggunakan angkutan umum, sepeda motor, maupun mobil pribadi, masker wajib dikenakan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Penelitian membuktikan bahwa pengunaan masker, baik itu masker N95, masker medis, dan masker kain dapat menghambat penyebaran virus dan mencegah virus langsung masuk ke hidung ataupun mulut.

    1. Desinfektan

    Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menekan penyebaran virus corona adalah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan rumah. Desinfektan dapat digunakan untuk membunuh berbagai jenis virus dan bakteri, termasuk virus corona. Desinfektan berbahan dasar hydrogen peroksida atau alkohol ampuh untuk mensterilkan permukaan benda yang sering disentuh seperti gagang pintu, saklar lampu, kunci rumah, dan sebagainya.

    1. Sabun cuci tangan

    Penelitian membuktikan bahwa sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dapat membunuh virus corona yang ada di permukaan tangan. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menyediakan sabun cuci tangan di rumah dan mencuci tangan sebelum sahur, sebelum berbuka, sebelum menyentuh wajah, dll, untuk menjaga kebersihan diri dan menekan penyebaran virus corona.

    1. Vitamin C

    Kekurangan vitamin C membuat seseorang rentan terhadap infeksi dan menurunnya kekebalan tubuh. Sebaliknya, asupan vitamin C yang cukup dapat meningkatkan fungsi imun tubuh, yang sangat penting untuk mencegah corona. Vitamin C mudah didapat melalui buah-buahan dan tersedia pula dalam bentuk suplemen makanan. Oleh karena itu, konsumsi vitamin C saat sahur dapat membantu menjaga daya tahan tubuh selama beraktivitas sepanjang hari.

    1. Vitamin E

    Selain vitamin C, vitamin E juga dipercaya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Vitamin E merupakan senyawa yang larut dalam lemak dan berfungsi sebagai antioksidan yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Vitamin E yang terdapat dalam kacang-kacangan, alpukat, dan biji-bijian dapat dikonsumsi saat sahur dan berbuka untuk menjaga daya tahan tubuh.

    1. Makanan Bergizi

    Selama menunaikan ibadah puasa, tubuh menahan haus dan lapar selama kurang lebih 12 jam. Oleh karena itu, Sobat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi seperti sayuran dan buah-buahan saat sahur dan buka puasa. Dengan mengkonsumsi makanan bergizi, nutrisi tubuh akan tetap terpenuhi sehingga tidak mudah sakit.1 Makanan bergizi juga dapat meningkatkan sistem imun tubuh untuk mencegah virus corona.1

    Menyiapkan barang-barang di atas dapat membantu Sobat untuk tetap sehat dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Menjalankan ibadah puasa dengan kondisi pandemi COVID-19 memang tidak mudah, namun Bulan Ramadan tetap harus dimaknai sebagai bulan yang suci dan membawa berkah.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Childs, Calder, & Miles. (2019). Diet and Immune Function. Nutrients11(8), 1933. doi: 10.3390/nu11081933
    2. Gold NA, Avva U. Alcohol Sanitizer. [Updated 2020 Feb 6]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513254/
    3. Ma, Q., Shan, H., Zhang, H., Li, G., Yang, R., & Chen, J. (2020). Potential utilities of mask-wearing and instant hand hygiene for fighting SARS-CoV-2. Journal Of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25805
    4. Carr, A., & Maggini, S. (2017). Vitamin C and Immune Function. Nutrients9(11), 1211. doi: 10.3390/nu9111211
    5. Lewis, E., Meydani, S., & Wu, D. (2018). Regulatory role of vitamin E in the immune system and inflammation. IUBMB Life71(4), 487-494. doi: 10.1002/iub.1976
    6. Rabenau, H., Kampf, G., Cinatl, J., & Doerr, H. (2005). Efficacy of various disinfectants against SARS coronavirus. Journal Of Hospital Infection61(2), 107-111. doi: 10.1016/j.jhin.2004.12.023
    7. org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. How can you prevent a coronavirus infection? 2020 Mar 26 [Updated 2020 Mar 26].Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555498/
    Read More
  • Selama ini bulan suci Ramadan identik dengan kehangatan kegiatan sosial serta keagamaannya. Seperti adanya sahur dan berbuka puasa bersama teman dan keluarga, serta peningkatan kunjungan ke tempat ibadah. Namun, mengingat situasi pandemi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19), ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan pada Ramadan tahun ini. Penularan COVID-19 terjadi melalui percik renik yang keluar […]

    Ramadan Saat Pandemi Corona, Inilah Rekomendasi WHO

    Selama ini bulan suci Ramadan identik dengan kehangatan kegiatan sosial serta keagamaannya. Seperti adanya sahur dan berbuka puasa bersama teman dan keluarga, serta peningkatan kunjungan ke tempat ibadah. Namun, mengingat situasi pandemi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19), ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan pada Ramadan tahun ini.

    Penularan COVID-19 terjadi melalui percik renik yang keluar saat penderita batuk dan bersin. Percikan ini bisa terkena pada permukaan benda maupun langsung ke orang lain. Seseorang dapat tertular bila memegang permukaan ini lalu memegang area mata, hidung, maupun mulut. Sehingga secara umum himbauan dari pemerintah adalah dengan melakukan physical distancing untuk menurunkan angka penularan penyakit tersebut, yaitu dengan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, menghindari kontak fisik dengan orang lain dan mengganti sapaan, cukup dengan mengangguk atau melambaikan tangan saja, serta melarang aktivitas yang mengumpulkan orang dalam jumlah yang banyak, termasuk penutupan tempat ibadah.

    Berikut adalah rekomendasi dari the World Health Organization (WHO) agar Sobat dan keluarga tetap aman menajalani Ramadan ditengah pandemi COVID-19:

    1. Puasa

    Sejauh ini belum ada penelitian yang mempelajari hubungan puasa dengan risiko terinfeksi COVID-19. Seseorang yang sehat tetap direkomendasikan untuk melakukan puasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan, untuk pasien penderita COVID-19 perlu menanyakan ke dokter yang merawatnya untuk mempertimbangkan apakah boleh puasa atau tidak.

    1. Aktivitas fisik

    Selama masa pandemi ini, bila masih memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik, pastikan untuk tetap menjaga jarak dengan orang lain, melakukan kebersihan tangan yang rutin. Sebagai pengganti aktivitas di luar ruangan, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik di dalam ruangan saja, bisa juga dengan mengikuti beragam kelas aktivitas fisik yang tersedia secara online.

    1. Makanan sehat dan bergizi

    Status gizi yang kurang maupun berlebih dapat berdampak buruk pada sistem imun tubuh, sehingga penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Status gizi kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi imunosupresi yaitu daya tahan tubuh yang kurang sehingga mudah terkena penyakit. Sedangkan, status gizi yang berlebih meningkatkan risiko terjadi inflamasi kronis yang akan mengganggu daya tahan tubuh juga. Kebutuhan nutrisi manusia dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan nutrisi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta nutrisi mikro yaitu vitamin dan mineral. Pastikan Sobat tetap mendapatkan asupan nutrisi dan hidrasi yang cukup selama bulan suci Ramadan ini.

    1. Merokok

    Merokok tidak dianjurkan dalam segala kondisi, terutama selama bulan suci Ramadan dan pandemi COVID-19 ini. Seorang perokok bisa jadi sudah memiliki penyakit paru-paru yang dapat mengurangi kapasitas fungsi paru-paru sehingga dapat meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19. Selain itu, saat merokok, jari bisa saja memegang rokok yang sudah terkontaminasi dan memegang area mulut serta meningkatkan kemungkinan virus menyerang sistem pernafasan.

    1. Menjaga kesehatan mental dan psikososial

    Walaupun kegiatan beribadah yang mengumpulkan orang dalam jumlah besar dibatasi, tetaplah berdoa, berbagi, dan mempedulikan orang-orang disekitar Sobat dengan tetap melakukan physical distancing. Sobat bisa tetap menjaga hubungan dengan kerabat melalui bantuan media digital, mendoakan yang sakit, serta menyebarkan pesan yang membangkitkan semangat dan harapan bagi sesama.

    1. Sedekah atau zakat

    Saat membagikan sedekah atau zakat selama bulan suci Ramadan, pastikan tetap melakukan physical distancing. Hindari kerumunan orang banyak, bila mau berbagi makanan lebih baik makanan yang sudah dikemas sebelumnya. Sebaiknya dibentuk pengurus khusus untuk mengumpulkan, mengemas, menyimpan, dan mendistribusi.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. World Health Organizaton. Safe Ramadan practices in the context of the COVID-19.
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    3. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    4. Alwarawrah Y, Kiernan K, MacIver NJ. Changes in Nutritional Status Impact Immune Cell Metabolism and Function. Front Immunol [Internet]. 2018 May 16;9. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5968375/
    5. Karacabey K. The Effect of Nutritional Elements on the Immune System. J Obes Wt Loss Ther [Internet]. 2012.;02(09). Available from: https://www.omicsonline.org/open-access/the-effect-of-nutritional-elements-on-the-immune-system-2165-7904.1000152.php?aid=10186
    Read More

Showing 1–10 of 15 results

Chat Asisten ProSehat aja