Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ corona”

Showing 1–10 of 47 results

  • Sejak 15 Desember 2020 Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang mewajibkan para wisatawan yang datang ke Pulau Dewata untuk menunjukkan surat keterangan yang menyatakan negatif pada PCR swab dan rapid swab antigen. Keputusan ini diambil berdasarkan rapat para pemimpin provinsi di Indonesia yang wilayahnya mempunyai banyak penderita Covid-19, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, […]

    Ingin Liburan ke Bali dengan Sehat dan Aman? Yuk, PCR Swab dan Rapid Swab Antigen Dulu di Prosehat!

    Sejak 15 Desember 2020 Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang mewajibkan para wisatawan yang datang ke Pulau Dewata untuk menunjukkan surat keterangan yang menyatakan negatif pada PCR swab dan rapid swab antigen. Keputusan ini diambil berdasarkan rapat para pemimpin provinsi di Indonesia yang wilayahnya mempunyai banyak penderita Covid-19, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali dengan Menko Marves Luhut Panjaitan sehari sebelumnya.1

    liburan ke Bali dengan sehat dan aman

    Baca Juga: List dan Biaya Tempat Rapid Swab Antigen di Jabodetabek

    Tindakan yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Bali ini bertujuan mencegah penularan Covid-19 agar tidak meluas di provinsi andalan wisata Indonesia tersebut. Dalam surat keputusan tersebut, Pemprov Bali juga melarang secara luas perayaan Tahun Baru 2021 serta mengetatkan protokol-protokol kesehatan di kafe, hotel, ruang publik, dan tempat makan. Apabila melanggar, akan segera ditindak oleh aparat dari TNI-Polri serta Satpol PP. Dampak dari pemberlakuan harus menunjukkan hasil PCR Swab dan rapid antigen yang negatif membuat beberapa antrean yang cukup membludak. Hal itulah yang terlihat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, pada 17 Desember 2020. Antrean itu adalah karena petugas bandara harus memvalidasi surat keterangan bebas dari Corona yang dibawa penumpang sebagai syarat untuk terbang.2

    Produk Terkait: Rapid-PCR Swab

    Selain antrean panjang yang membuat pelayanan dan mobilitas penumpang menjadi terhambat, serta menyebabkan kerumunan, dampak lain yang dirasakan adalah adanya banyak pembatalan secara sepihak yang dilakukan oleh para calon wisatawan. Hal inilah yang dikeluhkan oleh para pengusaha wisata di Bali melalui Sekretaris Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) wilayah Bali, Putu Asita. Ia menilai kebijakan pemerintah ini sangat mendadak sekali dan membuat calon wisatawan mengurungkan niat ke Bali untuk liburan akhir tahun 2020 bersama keluarga.3

    Baca Juga: Tempat PCR Swab di Jabodetabek, List dan Biayanya

    Biaya rapid antigen disebutnya menjadi penghalang karena dibanderol pada kisaran mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per orang. Kebanyakan yang membatalkan adalah wisatawan dari Pulau Jawa.3 Dampak pembatalan tidak hanya dirasakan oleh pihak pengusaha Bali melalui Asita, tetapi juga melalui Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum PHRI, Haryadi Sukamdani. Dilansir dari CNN Indonesia, Haryadi mengungkapkan pembatalan melalui pengembalian tiket atau refund mencapai Rp 317 miliar, berasal dari refund 133 ribu tiket pesawat. Pembatalan ini sendiri, menurutnya, sangat berdampak pada perekonomian Bali yang mencapai Rp 967 miliar.1

    Sahabat Sehat sebetulnya tidak perlu membatalkan liburan ke Bali hanya karena aturan PCR swab dan rapid antigen. Agar Sahabat tidak terbebani dengan aturan pemerintah mengenai perlunya PCR swab dan rapid antigen yang dinilai memberatkan dari harga, Sahabat sebenarnya bisa melakukannya di Prosehat. Mengapa Prosehat?

    Baca Juga: Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik Tempat Rapid Test di Jakarta

    Karena Prosehat menyediakan layanan PCR swab dan rapid antigen yang berkualitas dengan harga yang terjangkau sehingga tidak menguras kantong sama sekali. Selain itu, Sahabat mendapatkan surat keterangan bebas Covid-19 yang juga diperlukan sebagai tanda bahwa Sahabat tidak terinfeksi Covid-19, dan juga sebagai pegangan ketika sedang berada di Bali. Untuk mendapatkan layanan tes Covid-19 dari Prosehat caranya Sahabat bisa mengakses Prosehat melalui website atau aplikasi untuk memesan langsung atau konsultasi terlebih dahulu dengan dokter Prosehat. Untuk info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800.

    Referensi:

    1. Indonesia C. Refund Tiket Tembus Rp317 M usai Wajib Swab Antigen ke Bali [Internet]. ekonomi. 2020 [cited 17 December 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201216181823-92-583089/refund-tiket-tembus-rp317-m-usai-wajib-swab-antigen-ke-bali
    2. Antrean Cek Surat Swab Test di Bandara Soetta Membeludak, Hotman Paris Beraksi [Internet]. kumparan. 2020 [cited 17 December 2020]. Available from: https://kumparan.com/kumparannews/antrean-cek-surat-swab-test-di-bandara-soetta-membeludak-hotman-paris-beraksi-1unOgcWy3lI
    3. Indonesia C. Pengusaha soal Wajib Rapid Antigen: Banyak Pesanan Dibatalkan [Internet]. ekonomi. 2020 [cited 17 December 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201216113208-92-582812/pengusaha-soal-wajib-rapid-antigen-banyak-pesanan-dibatalkan
    Read More
  • Seluruh dunia sepakat bahwa hingga saat ini Covid-19 merupakan sebuah pandemi. Bahkan, WHO sendiri juga sudah menegaskan dalam beberapa pertanyaan badan kesehatan dunia tersebut karena sifat Covid-19 yang terjadi secara global alias mewabah di seluruh dunia. Hingga hari ini tercatat sudah 52,6 juta kasus virus di seluruh dunia, dengan 34,1 juta sembuh dan 1,29 juta […]

    Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa itu Sindemi?

    Seluruh dunia sepakat bahwa hingga saat ini Covid-19 merupakan sebuah pandemi. Bahkan, WHO sendiri juga sudah menegaskan dalam beberapa pertanyaan badan kesehatan dunia tersebut karena sifat Covid-19 yang terjadi secara global alias mewabah di seluruh dunia. Hingga hari ini tercatat sudah 52,6 juta kasus virus di seluruh dunia, dengan 34,1 juta sembuh dan 1,29 juta meninggal. Untuk Indonesia sendiri sudah tercatat melebihi 450.000, yaitu 452.000l, dengan 382.000 sembuh dan 14.933 meninggal. Beberapa langkah juga sudah dilakukan seperti meminta masyarakat untuk melakukan 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sebanyak 1-2 meter kemudian melakukan tes-tes Corona seperti PCR swab dan rapid test. Tak hanya itu, beberapa negara pun juga sudah melakukan karantina wilayah atau lockdown dan menutup beberapa akses meskipun harus mengorbankan perekonomian yang juga terguncang akibat virus yang mewabah ini.

    sindemi

    Baca Juga: Mastubasi Dapat Menguatkan Imun Tubuh Hadapi Covid-19?

    Hasilnya, ada beberapa negara yang sukses, ada juga yang tidak. Jumlah penderita virus perlahan bisa dikurangi meskipun kemudian mengalami lonjakan kembali setelah ada pelonggaran. Harapan satu-satunya pun kini tertuju pada vaksin Covid-19 yang masih dalam pengembangan meskipun vaksin tidak serta-merta dengan cepat menghilangkan pandemi. Kini setelah Covid-19 sudah dinyatakan sebagai pandemi muncul lagi istilah untuk menyebut virus asal Wuhan tersebut sebagai sindemi. Tentu banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya apa itu sindemi?

    Pengertian Sindemi

    Sindemi adalah akronim yang berasal dari dua kata, yaitu sinergi dan pandemi. Artinya, penyakit seperti Covid-19 tidak boleh berdiri sendiri sebab pada kenyataannya di satu sisi ada Covid-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, dan di sisi lainnya ada serangkaian penyakit yang sudah diidap seseorang. Kedua elemen ini berinteraksi dalam konteks ketimpangan sosial yang mendalam.Istilah ini sendiri dimunculkan oleh Richard Horton, pemimpin redaksi jurnal ilmiah The Lancet pada 26 September 2020. Melalui sindemi ini, Horton hendak menunjukkan satu tingkat keseriusan yang lebih parah dari pandemi. Dengan demikian, para pemangku kebijakan perlu mengambil langkah yang lebih serius untuk menjaga kesehatan masyarakat.

    Komentar ini ia tulis tepat saat virus Covid-19 atau Corona merenggut 1 juta nyawa manusia di seluruh dunia. Horton juga menyatakan bahwa pendekatan yang diambil dalam penanganan virus memakai pendekatan yang terlalu sempit. Sebab, selama ini ia menilai semua intervensi hanya berfokus pada pemotongan laju penularan virus. Penanganan ini bahwa penanganan yang ada lebih berdasarkan pada pandangan bahwa Covid-19 sebagai penyakit menular. Sejarah ilmu pengetahuan epidemiologi selama berabad-abad menunjukkan bahwa memutus rantai penularan adalah cara yang tepat untuk mengatasi wabah penyakit menular.

    Baca Juga: Isolasi Mandiri Covid-19 di Fasilitas Pemerintah dan Pengajuannya

    Ketimpangan sosial yang pernyataan Horton soal sindemi terlihat dari pernyataan PBB pada awal tahun 2020. PBB telah memperingatkan bahwa pandemi memiliki dampak yang tidak proporsional di antara populasi termiskin di dunia. Hal itu ditegaskan oleh Sekjen PBB, Antonio Guterres. Yang paling terdampak adaklah kelompok masyarakat paling rentan, orang yang hidup dalam kemiskinan, pekerja miskin, perempuan dan anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal lainnya.

    Bukan Istilah Baru

    Sindemi bukanlah istilah baru dan sudah muncul pada dekade 90-an oleh seorang antropolog medis asal Amerika Serikat, Merill Singer. Istilah ini dicetuskannya untuk menyebiut kondisi ketika dua penyakit atau lebih berinteraksi sedemikian rupa sehingga menyebablan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak dari masing-masing penyakit tersebut. Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang tidak bisa dijelaskan dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya. Istilah ini muncul saat Singer dan koleganya sedang meneliti penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS. Ia dan koleganya menemukan bahwa banyak masyarakat yang menggunakan narkoba menderita sejumlah penyakit seperti TBC dan penyakit menular seksual. Kesimpulan dari penelitian bahwa dalam beberapa kasus kombinasi penyakit memperkuat dampak dan kerusakan yang dialami penderita.

    Cara Penanganan

    Mengenai sindemi ini beberapa ahli seperti Tiff-Annie Kenny dari Laval University di Kanada menyarankan hal yang sama seperti Norton, yaitu mengganti pendekatan epidemiologi klasik mengenai risiko penularan Covid-19 dengan pendekatan dalam konteks sosial. Hal lainnya, menurut Merill Singer adalah mengatasi faktor struktural yang mempersulit masyarakat miskin untuk mengakses layanan kesehatan atau mengonsumsi makanan yang memadai. Perubahan strategi ini diperlukan untuk menghadapi pandemi di masa depan sebagai akibat tindakan manusia yang selalu melampaui batas yang menyebabkan beberapa hal negatif seperti perubahan iklim dan deforestasi. Hal ini perlu supaya pengobatan atau pencegahan terhadap Covid-19 benar-benar berjalan efektif.

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid1-19, Mulai dari Suspek hingga Kematian

    Nah, itulah Sobat Sehat mengenai sindemi, istilah yang baru-baru ini diluncurkan untuk menyebut Covid-19 yang masih mewabah. Yuk, Sobat, tetap jaga diri dari Covid-19 dengan menerapkan 3M, menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, serta jangan lupa untuk PCR-swab dan rapid test di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. COVID-19: Dulu Pandemi Kini Jadi Sindemi, Apa Itu? [Internet]. kumparan. 2020 [cited 13 November 2020]. Available from: https://kumparan.com/kumparansains/covid-19-dulu-pandemi-kini-jadi-sindemi-apa-itu-1uZnXdKkJNo
    2. Media K. Ilmuwan Sebut Covid-19 Bukan Lagi Pandemi, tetapi Sindemi, Apa Itu? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 13 November 2020]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/11/12/180200023/ilmuwan-sebut-covid-19-bukan-lagi-pandemi-tetapi-sindemi-apa-itu?page=all
    3. Indonesia B. Sejumlah Ilmuwan Sebut COVID-19 Bukan Pandemi Tapi Sindemi, Maksudnya? [Internet]. detiknews. 2020 [cited 13 November 2020]. Available from: https://news.detik.com/bbc-world/d-5251747/sejumlah-ilmuwan-sebut-covid-19-bukan-pandemi-tapi-sindemi-maksudnya
    Read More
  • Di saat pandemi virus Corona belum mereda sama sekali, pemerintah berencana membuka kembali bioskop pada 10 September 2020. Pembukaan ini untuk menggiatkan kembali perekonomian negara yang terganggu akibat Covid-19 semenjak virus asal Wuhan tersebut merebak di Indonesia mulai awal Maret 2020. Meskipun begitu, rencana pembukaan kembali bioskop ini menimbulkan banyak pro dan kontra sehubungan dengan […]

    Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Tanpa ke Bioskop

    Di saat pandemi virus Corona belum mereda sama sekali, pemerintah berencana membuka kembali bioskop pada 10 September 2020. Pembukaan ini untuk menggiatkan kembali perekonomian negara yang terganggu akibat Covid-19 semenjak virus asal Wuhan tersebut merebak di Indonesia mulai awal Maret 2020. Meskipun begitu, rencana pembukaan kembali bioskop ini menimbulkan banyak pro dan kontra sehubungan dengan sifat virus Corona yang bisa airborne atau lintas udara. Mengingat bioskop berada dalam ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang juga tertutup, dikhawatirkan hal tersebut malah akan membuat kluster baru penyebaran virus Corona, dan justru akan meningkatkan jumlah penderita infeksi virus Corona di Indonesia sehingga petugas medis pun bisa semakin kewalahan.

    imun tubuh alami, imunitas tubuh natural

    Baca Juga: Mengapa Terjadi Covid-19 di Perkantoran Saat PSBB Transisi?

    Pro dan kontra itu semakin bertambah ketika Satgas Covid-19 melalui juru bicara Profesor Wiku Adisasmito pada 26 Agustus 2020 mendukung rencana pembukaan kembali bioskop. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa menonton bioskop bisa menciptakan kekebalan tubuh secara alami melalui perasaan senang dan gembira yang diciptakan. Apabila masyarakat senang, imunitas dengan sendirinya juga akan meningkat. Imunitas kuat menurutnya juga sangat diperlukan dalam kondisi pandemi seperti ini. Rencana pembukaan ini juga sudah berdasarkan kajian dari Satgas Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir yang meliputi aspek sosial, kesehatan, dan ekonomi.

    Meski begitu, Profesor Wiku menyatakan bahwa pembukaan kembali ini harus melihat beberapa hal, seperti kesiapan daerah, waktu yang tepat, dan menerapkan protokol-protokol kesehatan seperti pembatasan usia, dilarang masuk bagi yang mempunyai gejala batuk dan pilek dan suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius, pemesanan secara online, serta physical distancing untuk antre dan tempat duduk. Ahli Epidemologi UI, Tri Yunis Miko Wahyono mengkritik rencana tersebut, dan mengatakan bahwa imunitas tubuh dapat tercipta jika melihat pada 3 hal, yaitu genetika, asupan gizi, dan kondisi psikologis.

    Terlepas dari pernyataan yang dilontarkan Profesor Wiku soal bioskop dapat meningkatkan imunitas tubuh secara alami, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan tanpa harus menonton ke bioskop. Apa saja itu? Yuk, Sobat Sehat silakan simak ya!

    Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami

    Keseimbangan dalam Tubuh

    Cara pertama untuk bisa meningkatkan kekebalan dalam tubuh secara alami adalah dengan membentuk keseimbangan dalam tubuh, yang bisa didapatkan dengan cara menjalankan gaya dan strategi hidup sehat yang meliputi:

    • Tidak merokok
    • Mengonsumsi banyak buah dan sayuran
    • Berolahraga secara teratur
    • Tidak mengonsumsi alkohol
    • Menimimalkan stres
    • Mencuci tangan
    • Tidur yang Cukup

    Tidur dan imunitas tubuh mempunyai keterkaitan yang begitu erat karena kualitas tidur yang tidak memadai atau buruk berhubungan dengan kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit. Istirahat yang cukup dapat memperkuat kekebalan tubuh secara alami. Selain itu, tidur lebih banyak di kala sakit juga dapat membuat sistem kekebalan tubuh bekerja lebih baik dalam melawan penyakit. Untuk orang dewasa, waktu tidur yang dibutuhkan adalah 7 jam atau lebih, sementara remaja 8-10 jam, dan anak-anak yang lebih muda serta bayi adalah 14 jam. Apabila Sobat mengalami kesulitan saat tidur, cobalah membatasi waktu menatap layar elektronik selama satu jam sebelum tidur. Sebab, cahaya biru yang dipancarkan dari ponsel, televisi, dan komputer dapat mengganggu ritme sirkadian atau siklus bangun-tidur alami. 

    Olahraga Teratur

    Imunitas tubuh secara alami bisa juga Sobat dapatkan dengan olahraga secara teratur. Selain dapat meningkatkan kekebalan tubuh, olahraga juga bisa menimimalkan stres, meningkatkan kesehatan jantung, membantu mengontrol berat badan, dan melindungi diri dari berbagai penyakit. Apabila stres pada diri Sobat dapat diminimalkan, hal tersebut akan membantu Sobat tercegah dari berbagai penyakit yang mudah menyerang tubuh, termasuk virus Corona. Karena itu, berolahragalah karena olahraga juga dapat menciptakan perasaan senang dan bahagia.

    Baca Juga: Hindari Kesalahan Berolahraga Saat Pandemi Corona

    Mengonsumsi Makanan yang Baik

    Mengonsumsi makanan yang baik dan menyehatkan juga menjadi salah satu faktor kekebalan tubuh dapat tercipta secara alami. Makanan yang baik itu seperti buah-buahan, sayur-sayuran, atau kacang-kacangan yang kaya akan nutrisi dan antioksidan, yang dapat memberikan kekuatan bagi tubuh Sobat untuk menangkal berbagai patogen berbahaya. Antioksidan dalam makanan ini juga dapat membantu mengurangi peradangan dengan memerangi senyawa tidak stabil atau radikal bebas yang dapat menyebabkan peradangan dalam kadar yang tinggi ketika menumpuk di dalam tubuh.

    Selain itu, Sobat juga perlu mengonsumsi makanan dengan lemak yang sehat seperti salmon dan minyak zaitun yang dapat meningkatkan respons kekebalan tubuh terhadap patogen dengan mengurangi inflamasi dalam tubuh. Makanan-makanan fermentasi yang mengandung bakteri baik atau probiotik seperti yogurt, asinan kubis, dan kimchi, juga baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Sobat. Karena penelitian menunjukkan bahwa jaringan bakteri usus yang berkembang dapat membantu sel-sel kekebalan tubuh menjadi dapat membedakan antara sel-sel normal yang sehat dan organisme penyerbu berbahaya.

    Tetap Terhidrasi

    Cara terakhir yang bisa Sobat lakukan untuk bisa mendapatkan kekebalan tubuh secara alami adalah Sobat tetap harus terhidrasi agar kebutuhan cairan dalam tubuh tetap terpenuhi. Karena dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan, Sobat dapat mengalami keluhan sakit kepala yang akan menghambat kinerja fisik, konsentrasi, suasana hati, pencernaan hingga fungsi jantung dan ginjal. Untuk mencegah dehidrasi, Sobat harus minum cukup cairan setiap hari, dan air yang dianjurkan adalah bebas kalori, zat adiktif, dan gula. Jadi, pilihan air yang tepat untuk hal ini adalah air putih.

    Baca Juga: 5 Cara Tingkatkan Imun untuk Lawan Corona

    Itulah hal-hal yang bisa dilakukan untuk dapat meningkatkan imunitas tubuh secara alami tanpa harus ke bioskop hanya untuk mendapatkan rasa senang dan bahagia. Sebab, bukan hal yang tepat untuk menonton film di bioskop saat pandemi virus Corona ini masih ada di sekitar kita. Apabila Sobat ingin informasi lebih lanjut mengenai imunitas tubuh yang baik dan produk-produk kesehatan imunitas tubuh, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Novika S. Tunggu Izin, Bioskop Siap Buka 10 September [Internet]. detikfinance. 2020 [cited 28 August 2020]. Available from: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5148081/tunggu-izin-bioskop-siap-buka-10-september
    2. Benarkan Menonton di Bioskop Bisa Meningkatkan Imunitas Tubuh? [Internet]. VOA Indonesia. 2020 [cited 28 August 2020]. Available from: https://www.voaindonesia.com/a/benarkan-menonton-di-bioskop-bisa-meningkatkan-imunitas-tubuh-/5560233.html
    3. (www.dw.com) D. Pemerintah Akan Izinkan Bioskop Dibuka Kembali di Tengah Pandemi | DW | 26.08.2020 [Internet]. DW.COM. 2020 [cited 28 August 2020]. Available from: https://www.dw.com/id/pemerintah-izinkan-buka-kembali-bioskop-saat-pandemi/a-54698531
    4. Media K. Cara Meningkatkan Imunitas Tubuh, Tak Hanya Nonton di Bioskop Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 28 August 2020]. Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/27/190200165/cara-meningkatkan-imunitas-tubuh-tak-hanya-nonton-di-bioskop?page=all
    5. Elmira P. 9 Cara Meningkatkan Imunitas Tubuh Secara Alami [Internet]. liputan6.com. 2020 [cited 28 August 2020]. Available from: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4221534/9-cara-meningkatkan-imunitas-tubuh-secara-alami
    Read More
  • Pandemi COVID-19 masih berlanjut dan tampaknya belum menemukan titik terangnya. Tak hanya dalam bidang kesehatan, COVID-19 juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, pangan, ekonomi, dan ketenagakerjaan. Negara – negara di berbagai belahan dunia kini berada dalam krisis. Dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, beberapa negara dikategorikan memberikan respons pertahanan yang efektif terhadap […]

    Mengembangkan Vaksin dalam Pandemic Speed, Bagaimana dengan Indonesia?*

    Pandemi COVID-19 masih berlanjut dan tampaknya belum menemukan titik terangnya. Tak hanya dalam bidang kesehatan, COVID-19 juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, pangan, ekonomi, dan ketenagakerjaan. Negara – negara di berbagai belahan dunia kini berada dalam krisis. Dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, beberapa negara dikategorikan memberikan respons pertahanan yang efektif terhadap COVID-19. Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Singapura berhasil menekan pertambahan kasus dan angka kematian akibat COVID-19. Akan tetapi, seluruh usaha untuk mencegah penyebaran penyakit dianggap tidak bisa maksimal tanpa ditemukannya vaksin SARS-CoV-2. Lantas, sudah sampai di manakah proses pengembangan vaksin untuk mengeradikasi COVID-19?

    Baca Juga: Benarkah Berjemur Matahari Pagi Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh?

    Dalam beberapa dekade terakhir, peneliti di seluruh dunia dituntut untuk memberikan respons segera dalam mengatasi epidemi H1N1, Ebola, SARS, dan Zika. Pada tahun 2009, Vaksin H1N1 berhasil dikembangkan di tengah epidemi. Berdasarkan kilas balik sejarah, target pengembangan vaksin adalah patogen (agen penyebab penyakit) yang membebani dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi.

    Proses pengembangan vaksin secara umum melalui tahapan riset praklinis dan 4 fase uji klinis. Riset praklinis adalah tahapan untuk mempelajari patogen secara mendalam. Hal yang dipelajari di antaranya karakteristik, susunan genetik, sediaan vaksin, toksisitas, route of administration, perlukah pengulangan, masa perlindungan vaksin, dan sebagainya. Pada tahap riset praklinis, vaksin diuji efektivitas dan keamanannya pada hewan percobaan. Jika tidak ada penolakan, dilanjutkan pada uji klinis.  Uji klinis fase 1 melibatkan subyek sekelompok manusia sehat berjumlah puluhan hingga ratusan. Penilaian utama adalah keamanan vaksin dan respons imunitas.

    Fase 2 menguji efektivitas vaksin pada kelompok yang lebih besar, melibatkan ratusan hingga ribuan subyek. Dosis optimal ditentukan pada fase ini. Pada uji klinis fase 3, vaksin diuji pada populasi yang lebih beragam ( n > 10,000) dan melibatkan area yang lebih luas, kemudian dinilai apakah terdapat efek samping yang tidak muncul sebelumnya. Jika lolos fase 3, vaksin akan ditelaah oleh lembaga terkait seperti The Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum akhirnya didistribusikan secara luas. Fase 4 adalah pemantauan berkelanjutan terkait keamanan dan efektivitas setelah vaksin didistribusikan.

    Baca Juga: Lindungi Diri dan Keluarga, Lakukan 9 Langkah Ini Setibanya di Rumah

    Diperlukan waktu beberapa tahun hingga puluhan tahun untuk vaksin dapat didistribusikan secara luas. Mempelajari suatu patogen secara mendalam, melakukan trial and error pada uji klinis, menunggu legalisasi, dan memproduksi vaksin dalam jumlah besar memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang besar. Sebagai pembanding, vaksin Varicella untuk cacar air dapat didistribusikan setelah melewati proses selama 28 tahun.

    Contoh lainnya adalah vaksin Human Papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker mulut rahim memerlukan waktu 15 tahun untuk dapat dipasarkan secara umum. Sementara itu, waktu yang ditargetkan untuk pengembangan vaksin COVID-19 adalah 18 bulan. Target tersebut tidak ditentukan tanpa dasar. Faktor pendukung target yang singkat ini di antaranya adalah pengetahuan terhadap SARS-CoV-2 yang dianggap sudah memadai, teknologi pendukung yang sudah jauh berkembang, dan kesepakatan untuk mempersingkat fase uji klinis. Sampai saat ini, pada database WHO telah terdaftar lebih dari 170 kandidat vaksin dalam proses pengembangan. Tahapan terjauh adalah fase III. Bagaimana peran Indonesia dalam pengembangan vaksin ini?

    Baca Juga: Bagaimana Bersihkan Rumah Menggunakan Desinfektan Mencegah Corona?

    Sayangnya, belum ada pengembang asal Indonesia yang terdaftar dalam database WHO saat ini. Namun, bukan berarti vaksin COVID-19 buatan Indonesia itu mustahil. Dalam pengembangan vaksin, peneliti asal Indonesia sudah berhasil memproduksi beberapa vaksin di antaranya vaksin oral polio, vaksin hepatitis B, vaksin tetanus toksoid, vaksin difteri dan tetanus (DT), vaksin difteri-pertusis-tetanus (DPT), vaksin BCG, vaksin measles-rubella (MR), dan vaksin pentabio (DPT-HB-Hib).

    Vaksin–vaksin tersebut telah teruji secara klinis dan digunakan secara luas baik di dalam, maupun luar negeri. Turut mendukung program pemerintah terkait Imunisasi Wajib Dasar, penggunaan vaksin buatan Indonesia sudah merata hingga ke daerah terpencil. Saat kejadian luar biasa (KLB) difteri tahun 2018 lalu, perusahaan asal Indonesia berhasil memproduksi vaksinnya secara massal dalam merespons KLB. Pencapaian Indonesia terkait pembuatan vaksin secara mandiri patut diapresiasi. Bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu yang akan datang, Indonesia dapat memproduksi vaksin COVID-19 secara mandiri. Dengan jumlah penduduk peringkat 4 dunia, pangsa pasar Indonesia yang sangat besar seharusnya menggerakan para produsen untuk berlomba mengembangkan vaksin.

    Baca Juga: Waspada Terinfeksi Corona Tanpa Gejala

    Peneliti, perusahaan farmasi, bioengineer, dan pemerintah harus bekerja sama untuk mewujudkannya. Lalu, untuk sobat sehat dan masyarakat lainnya. Apakah bijak jika kita hanya berharap dan menunggu vaksin COVID-19 tanpa mengindahkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus? Tentu tidak. Every small thing we do matters. Jika belum bisa berkontribusi dalam pengembangan vaksin, kita bisa menjaga kesehatan diri kita dan lingkungan sekitar kita, disertai pula harapan optimis bahwa kita dapat menghadapi pandemi ini bersama.

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai corona dan rapid test, silakan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Helfert S. Historical Aspects of Immunization and Vaccine Safety Communication. Current Drug Safety. 2015;10(1):5-8.
    2. Heaton, P., 2020. The Covid-19 Vaccine-Development Multiverse. New England Journal of Medicine,.
    3. Thanh Le T, Andreadakis Z, Kumar A, Gómez Román R, Tollefsen S, Saville M et al. The COVID-19 vaccine development landscape. Nature Reviews Drug Discovery. 2020;19(5):305-306.
    4. Hendriks J, Blume S. Measles Vaccination Before the Measles-Mumps-Rubella Vaccine. American Journal of Public Health. 2013;103(8):1393-1401.
    5. Draft landscape of COVID-19 candidate vaccines [Internet]. Who.int. 2020 [cited 17 August 2020]. Available from: https://www.who.int/publications/m/item/draft-landscape-of-covid-19-candidate-vaccines.
    Read More
  • Penyebaran COVID-19 di perkantoran menjadi klaster baru penyebaran virus asal Wuhan tersebut di Indonesia, terutama di Jakarta.1 COVID-19 di tempat kerja meningkat saat Indonesia sudah melaksanakan fase New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru sejak 4 Juni 2020 lalu. AKB yang di Jakarta disebut sebagai PSBB Transisi ini malah menjadi fase yang justru kembali meningkatkan kasus COVID-19 […]

    Mengapa Terjadi COVID-19 di Perkantoran Saat PSBB Transisi?

    Penyebaran COVID-19 di perkantoran menjadi klaster baru penyebaran virus asal Wuhan tersebut di Indonesia, terutama di Jakarta.1 COVID-19 di tempat kerja meningkat saat Indonesia sudah melaksanakan fase New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru sejak 4 Juni 2020 lalu. AKB yang di Jakarta disebut sebagai PSBB Transisi ini malah menjadi fase yang justru kembali meningkatkan kasus COVID-19 sebanyak 10 kali lipat jika dibandingkan pada masa pemberlakuan PSBB dari Maret hingga Mei. Pemerintah sendiri menyatakan bahwa penyumbang terbaru kasus COVID-19 di Jakarta adalah dari perkantoran.2

    corona di perkantoran, corona di tempat kerja

    Total, terdapat 459 kasus COVID-19 yang terjadi di tempat kerja sampai dengan 29 Juli 2020. Kasus dengan jumlah tersebut tersebar di 90 klaster perkantoran, mulai dari kantor pemerintah hingga swasta. Dari 90 klaster, kebanyakan kasus malah terjadi di kantor-kantor pemerintah. Tercatat, terdapat 139 kasus di kementrian. Bahkan, Pemerintah Daerah DKI sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas kehidupan di Jakarta, juga tidak bisa terhindar dari kasus COVID-19. Sebanyak 141 kasus terdapat di lingkungan pemerintah provinsi.2

    Berikut ini adalah rincian klaster penyebaran COVID-19 di tempat kerja sampai 29 Juli 2020.2

    • Kementerian: 20 klaster, 139 kasus
    • Badan/lembaga: 10 klaster, 25 kasus
    • Kantor di lingkungan Pemda DKI: 34 klaster, 141 kasus
    • Kepolisian: 1 klaster, 4 kasus
    • BUMN: 8 klaster, 35 kasus
    • Swasta: 14 klaster, 92 kasus

    Meroketnya kembali kasus COVID-19 di Jakarta tentu saja mengkhawatirkan semua orang karena keadaan tersebut berpotensi mengembalikan keadaan seperti di awal datangnya virus asal Wuhan tersebut sehingga wacana akan melaksanakan kembali PSSB mengemuka sebagai salah satu cara menghentikan penyebaran virus secara massif.

    Lalu, mengapa bisa muncul penyebaran COVID-19 di tempat kerja? Apa saja penyebabnya? Yuk, Sobat Sehat, mari simak penjelasan di bawah ini supaya Sobat Sehat bisa tetap beraktivitas, namun tetap waspada.

    Baca Juga: Siapkan Diri Kembali Bekerja Setelah PSBB

    Penyebab Terjadinya COVID-19 di Perkantoran

    Tidak Mematuhi Protokol Kesehatan

    Ketika PSBB Transisi akan diberlakukan di Jakarta, Satgas COVID-19 meminta semua pihak yang hendak beraktivitas kembali untuk tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah dianjurkan dan disepakati. Protokol itu antara lain memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir selama 20 detik atau dengan hand sanitizer jika tidak air, dan melakukan physical distancing 1-2 meter di ruang kerja.3

    Melepas Masker

    Memakai masker sudah menjadi anjuran wajib bagi para pekerja yang ingin bekerja pada saat PSBB Transisi. Akan tetapi, masih banyak yang meremehkan penggunaan masker ini saat berada di lingkungan kantor, terutama ketika sedang makan di kantin kantor lalu makan saling berhadap-hadapan, dan tidak menyadari air liur yang keluar dari mulut saat bicara sebagai salah satu penyebab penyebaran virus Corona.4

    Ruangan Tidak Dibatasi

    Pedoman untuk tetap bekerja di masa New Normal sesuai anjuran WHO adalah kapasitas ruangan kerja harus dibatasi jumlahnya, supaya tidak terjadi penularan dengan menerapkan physical distancing. Apabila dalam ruangan tersebut biasa diisi 10 orang, harus dibatasi hingga 3 atau 5 orang. Namun, kenyataan yang terjadi adalah banyak perkantoran tidak menerapkan hal tersebut sehingga terjadilah penularan virus. Selain kapasitas ruangan yang harus dibatasi, banyak rapat yang tidak sesuai protokol, yaitu berlangsung melebihi setengah jam yang berpotensi memunculkan penderita baru.5

    Sirkulasi Udara Tertutup

    Penyebab terjadinya penyebaran COVID-19 di perkantoran lainnya adalah sirkulasi udara yang dibiarkan tertutup karena banyak perkantoran yang mengandalkan AC sebagai sirkulasi. Padahal, sirkulasi udara yang tertutup merupakan salah satu media penyebaran virus Corona secara airborne atau lintas udara.4

    Lupa Membersihkan Diri

    Penyebab terakhir mengapa penyebaran COVID-19 di tempat kerja meningkat adalah karena para pekerja lupa membersihkan diri ketika akan dan sudah pulang bekerja. Banyak yang lupa mencuci tangan dan ketika kembali ke rumah tidak melepas baju yang digunakan ke tempat cucian serta tidak membersihkan semua peralatan yang sudah digunakan.4

    Itulah beberapa penyebab umum terjadinya penyebaran COVID-19 di tempat kerja. Meski begitu, menurut Kepala Dinas Provinsi DKI Jakarta, Widiastuti, penularan Covid-19 bukan hanya terjadi di dalam kantor, namun juga bisa terjadi luar kantor atau permukiman.3 Supaya Sobat Sehat tetap dapat beraktivitas dengan aman dan sehat, dan terhindar dari virus Corona, berikut ini adalah cara-caranya:

    Cara Menghindari COVID-19 di Perkantoran

    Tetap Melaksanakan Protokol Kesehatan

    Protokol kesehatan untuk COVID-19 bagaimana pun tetap harus dilaksanakan supaya Sobat tidak tertular. Karena itu, Sobat diharapkan tetap rajin mencuci tangan, memakai masker, dan melakukan physical distancing. Sebelum memasuki kantor dan meninggalkan kantor, hendaklah mencuci tangan. Tak lupa untuk selalu dicek suhu tubuh saat akan memasuki tempat kerja.4

    Membawa Makanan dan Minuman Sendiri

    COVID-19 terjadi di tempat kerja juga karena adanya penumpukan para pekerja di kantin kantor. Penumpukan ini tentu saja menjadi salah satu media penyebaran virus, apalagi jika dalam penumpukan tidak ada penerapan physical distancing sama sekali. Cara terbaik untuk menghindarinya adalah Sobat membawa saja bekal makanan dan minuman dari rumah. Dengan begitu, Sobat tidak perlu antre saat di kantin.2

    Rapat Tidak Terlalu Lama

    Rapat di kantor pada satu ruangan juga menyebabkan virus Corona dapat menular cepat di perkantoran. Karena itu, disarankan tidak mengadakan rapat terlalu lama dan maksimal adalah 30 menit seperti yang direkomendasikan WHO.5

    Kapasitas Tidak Lebih dari 50%

    Supaya kantor tidak menjadi klaster penyebaran virus Corona, sebaiknya kapasitas yang dianjurkan adalah tidak melebihi 50%. Karena itu, diusahakan supaya kantor dapat mengatur jadwal masuk kerja bagi karyawannya.4

    Buat Sirkulasi Udara Terbuka

    Jika selama ini mengandalkan AC untuk sirkulasi udara dan tertutup, ada baiknya perkantoran mulai membuka jendela dan menyalakan kipas angin sebagai pengganti AC. Sirkulasi udara yang terbuka ini akan meminimalkan penyebaran virus Corona melalui udara.4

    Melaksanakan Shift

    Shift kerja bagi karyawan merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah penyebaran virus. Shift bisa dilakukan dengan mengatur kedatangan karyawan supaya mereka tidak datang secara bersamaan. Waktu pertama shift adalah pukul 08.00 dan kedua adalah pukul 10.00 sesuai jam masuk kantor, dan dilakukan dengan jeda kedatangan 1,5 sampai 2 jam.1

    Work from Home

    Work from home atau WFH juga merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mencegah penyebaran virus. WFH ini merupakan cara yang paling dianjurkan dan aman dilakukan sebab tidak ada perjumpaan fisik sama sekali. Karena itu, bagi perkantoran yang bisa melakukan WFH, lakukan!

    Rapid Test dan PCR Swab Rutin

    Cara terakhir yang bisa digunakan untuk menghindari COVID-19 di perkantoran adalah perlunya rapid test dan PCR swab secara rutin. Melalui dua metode ini, kantor bisa mengetahui para pegawainya yang positif atau negatif COVID-19. Untuk metode ini, kantor bisa memfasilitasi sendiri atau bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dalam pengadaan alat. Selain itu, kantor bisa bekerja sama dengan Prosehat yang juga mempunyai layanan rapid test  dan PCR swab.

    Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut mengenai layanan PCR swab dan rapid test Prosehat ke rumah, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Media K. Pemerintah Sebut Perkantoran Jadi Klaster Baru Penyumbang Kasus Covid-19 Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 30 July 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/07/27/20462231/pemerintah-sebut-perkantoran-jadi-klaster-baru-penyumbang-kasus-covid-19?page=all
    2. Azizah K. 90 Perkantoran di DKI Jakarta Jadi Klaster Corona, Ini Rinciannya [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 30 July 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5112281/90-perkantoran-di-dki-jakarta-jadi-klaster-corona-ini-rinciannya
    3. Pemprov DKI Ungkap Alasan Perkantoran jadi Klaster Corona [Internet]. nasional. 2020 [cited 30 July 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200723234851-20-528383/pemprov-dki-ungkap-alasan-perkantoran-jadi-klaster-corona
    4. Mediatama G. Banyak kasus baru corona dari perkantoran, ini panduan aman selama di kantor [Internet]. PT. Kontan Grahanusa Mediatama. 2020 [cited 30 July 2020]. Available from: https://kesehatan.kontan.co.id/news/banyak-kasus-baru-corona-dari-perkantoran-ini-panduan-aman-selama-di-kantor?page=all
    5. Mediatama G. Ini cara mencegah penyebaran virus corona saat rapat di kantor [Internet]. PT. Kontan Grahanusa Mediatama. 2020 [cited 30 July 2020]. Available from: https://kesehatan.kontan.co.id/news/ini-cara-mencegah-penyebaran-virus-corona-saat-rapat-di-kantor
    Read More
  • Hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang masih bingung dan belum mengetahui  perbedaan PCR Swab dan rapid test sebagai metode-metode yang dijalankan pemerintah untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Kebingungan dan ketidaktahuan itu kebanyakan disebabkan oleh hasil tes manakah yang sebenarnya lebih akurat dan menjanjikan […]

    Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang masih bingung dan belum mengetahui  perbedaan PCR Swab dan rapid test sebagai metode-metode yang dijalankan pemerintah untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Kebingungan dan ketidaktahuan itu kebanyakan disebabkan oleh hasil tes manakah yang sebenarnya lebih akurat dan menjanjikan atau kedua-duanya sama saja.

    Ketidaksamaan PCR Swab dan rapid test

    Pemberlakuan PCR swab dan rapid test sebagai cara untuk mengetahui penderita Corona di Indonesia menjadi hal yang wajib dilakukan terutama setelah pemerintah memberlakukan New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru sejak awal Juni 2020. Pada fase ini masyarakat diperbolehkan kembali menjalankan aktivitas seperti biasa yang terhenti selama 3 bulan akibat diberlakukannya PSBB sehingga mengharuskan mereka bekerja dari rumah atau menganggur sama sekali. Namun, semua itu tetap dengan protokol-protokol kesehatan.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Pemberlakuan keduanya pada masa New Normal itu sesuai dengan Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 5 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dengan munculnya aturan tersebut, kedua tes Corona itu wajib bagi orang-orang yang hendak beraktivitas kembali atau kantor atau bepergian jarak jauh. Kedua hasil tes ini pun wajib dibawa sebagai bukti bahwa yang bersangkutan bebas dari virus Corona, dan keduanya masuk dalam persyaratan SIKM seperti yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

    Lalu mengenai perbedaan keduanya, sebenarnya hal-hal apa sajakah yang membuat keduanya tidak sama? Tanpa berlama-lama, mari Sobat simak poin-poin kedua metode penanggulangan Corona itu supaya tidak bingung dan salah kaprah.

    Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Fungsi

    Meskipun bertujuan untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona, baik rapid test maupun PCR Swab ternyata mempunyai fungsi yang sebenarnya berbeda jika diperhatikan. Rapid test atau tes cepat atau uji cepat jika melihat pada namanya adalah sebuah tes untuk mengetahui penderita Corona secara cepat, dengan melihat dua antibodi pada tubuh, yaitu immnuglobulin G (IgG) dan immunoglobulin M (IgM) sebagai pertahanan untuk melawan Corona. Jika seseorang terindikasi positif terkena Covid-19, antibodi-antibodi tersebut akan terdeteksi. Dapat juga dikatakan, tes ini merupakan sebuah skrining atau pemeriksaan tahap awal.

    Sedangkan PCR adalah sebuah tes Corona yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh melalui material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Material genetik yang terdapay dalam bakteri atau virus bisa berupa DNA atau RNA, yang mempunyai tampilan berbeda pada jumlah rantai yang dipunyai keduanya. DNA mempunyai rantai ganda sedangkan RNA mempunyai rantai tunggal. Keberadaan keduanya melalui swab test adalah melalui teknik amplifikasi atau pembanyakan sehingga dari situ penyakit bisa diketahui dan didiagnosis. Hasil penelitian bahwa ternyata Corona merupakan virus RNA. Dari pemaparan di atas bisa disimpulkan bahwa PCR swab merupakan tes lanjutan setelah rapid test.

    Produk Terkait: Rapid Test Covid-19

    Proses

    Baik PCR swab maupun rapid test mempunyai perbedaan dalam proses untuk mengetahui seseorang terkena  virus Corona atau tidak sama sekali. Untuk PCR, seseorang akan menjalani proses dengan petugas memasukkan alat swab ke dalam hidung atau tenggorokan untuk diambil cairan atau lendir dalam tubuh seseorang tersebut. Selanjutnya, alat swab itu dimasukkan ke dalam tabung khusus dan dikirim ke laboratorium, dan di sana petugas akan mencocokkan DNA yang terdapat pada alat swab dengan DNA virus Corona.

    Sedangkan pada rapid test prosesnya jauh lebih simpel. Sobat yang menjalani proses hanya diminta oleh petugas untuk diambil sampe darah dari ujung jari kemudian diteteskan ke alat rapid test. Kemudian, cairan pendeteksi antobodi itu diteteskan ke alat yang sama. Karena cepat, hasil dari proses ini memakan waktu 10-20 menit. Hal ini tentu saja berbeda pada PCR yang memakan waktu hingga beberapa hari sehingga cukup lama untuk memastikannya.

    Tingkat Keakuratan

    Perbedaan PCR swab dan rapid test lainnya adalah pada tingkat keakuratan, suatu hal yang sebenarnya sangat diharapkan seseorang ketika sudah menjalani kedua tes tersebut. Karena dengan hasil yang akurat akan bisa menjadi bahan untuk tindakan selanjutnya. Pada rapid test tingkat keakuratan yang dihasilkan rendah karena pembentukan antibodi membutuhkan waktu hingga beberapa minggu. Oleh karena itu, orang yang mendapat hasil positif dalam rapid test belum tentu positif Corona, begitu pula sebaliknya sehingga hasil tes harus segera dipastikan melalui PCR.

    Sedangkan pada PCR karena merupakan tes lanjutan, tingkat keakuratan yang dihasilkan tinggi sehingga hasilnya juga pasti, dan tidak memerlukan tes lain. Karena hasilnya yang benar-benar akurat tersebut, tidak salah jika epidemolog UI, Pandu Riono, meminta pemerintah untuk memperbanyak PCR daripada rapid test yang belum tentu akurat sama sekali.

    Biaya

    Biaya juga membuat kedua tes Corona ini benar-benar berbeda. Apabila Sobat menginginkan tes yang tidak hanya cepat namun juga ekonomis, Sobat bisa memilih rapid test. Untuk biayanya pun sesuai peraturan pemerintah adalah Rp 150.000 meskipun masih banyak sekali fasilitas kesehatan yang ternyata menetapkan biaya yang berbeda-beda bahkan hingga Rp 1 jutaan.

    Sedangkan PCR membutuhkan biaya yang tentu saja tidak sedikit alias lebih mahal dari rapid test. Biayanya pun berbeda-beda tergantung fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang memberikan layanan tersebut. Rata-rata biaya untuk PCR adalah berkisar pada angka Rp 1,3 jutaan hingga Rp 1,7 jutaan bahkan bisa di angka Rp 2 jutaan. Karena itu, bagi Sobat yang menginginkan tes PCR harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam.

    Orang-orang Wajib Tes

    Untuk orang-orang wajib tes pada kedua tes Corona ini tentu saja berbeda. Pada rapid test orang-orang yang wajib adalah mereka yang punya status suspek, probable, dan konfirmasi dengan atau tanpa gejala. Istilah-istilah ini digunakan oleh Kementerian Kesehatan per 14 Juli 2020 untuk menggantikan istilah-istilah lama, yaitu ODP, PDP, dan OTG.  Selain itu, adalah orang-orang yang berprofesi sebagai sebagai pelayan publik, dan lebih sering berinteraksi dengan masyarakat. Untuk PCR, yang wajib menjalaninya adalah orang-orang yang hasil rapid test-nya positif.

    Baca Juga: Kapan dan Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Tindakan

    Baik PCR Swab maupun rapid test punya tindakan yang berbeda-beda. PCR Swab sendiri karena merupakan tes lanjutan harus dilakukan secara profesional oleh pihak rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah. Dengan demikian, penanganannya tidak main-main dan tidak bisa sembarangan. Hal ini tentu berbeda dari rapid test yang bisa dilakukan secara sendiri bahkan bisa membeli alatnya langsung secara online. Namun hal tersebut malah membuat hasilnya tidak akurat bahkan abal-abal karena alat yang dijual belum tentu berkualitas.

    Efek Samping

    Perbedaan kedua tes Corona yang lain lagi adalah dalam hal efek samping. Pada rapid test, efek samping yang dihasilkan adalah memar dan nyeri pada bagian tubuh pengambilan sampel darah sedangkan pada PCR efek samping yang dialami oleh mereka yang sudah menjalaninya adalah rasa sakit dan geli terutama di bagian hidung dan tenggorokan sebagai tempat untuk memasukkan alat swab.

    Itulah 7 perbedaan PCR swab dan rapid test yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus Corona dalam tubuh seseorang sehingga dari hasil yang didapatkan akan dilakukan tindakan lanjutan seperti isolasi 14 hari jika orang yang menjalani tes tersebut benar-benar terkena virus Corona. Apabila melihat pada sisi keakuratannya, sudah jelas bahwa PCR swab sangat direkomendasikan sebagai tes untuk mendeteksi virus Corona daripada rapid test apalagi secara prosedur juga harus dilakukan secara profesional oleh petugas medis dan fasilitas kesehatan yang terpercaya dan ditunjuk oleh pemerintah.

    Meski begitu, karena akurat, PCR swab menjadi mahal dari sisi harga. Tak hanya itu, untuk hasilnya pun tidak bisa dalam waktu cepat sehingga banyak orang yang menjalani rapid test karena alasan ekonomis dan waktu yang diperlukan. Bagaimana pun, kedua tes Corona ini sangat penting untuk membantu mencegah dan menanggulangi penyebaran virus Corona yang dari hari ke hari semakin meningkat terutama di masa New Normal. 

    Apabila Sobat ingin melakukan rapid test dan swab test melalui layanan ke  rumah, Sobat bisa segera memanfaatkan layanan rapid test secara drive thru dan layanan ke rumah atau ke kantor minimal 20 orang untuk PCR swab. Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut mengenai layanan PCR swab dan rapid test ini ke rumah silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Wangi R. Mengenal Perbedaan 2 Jenis Tes Corona: Rapid Test dan PCR Test, Biar Nggak Bingung dan Salah Kaprah [Internet]. Hipwee. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.hipwee.com/feature/jenis-tes-corona/
    2. Sianturi E. PCR vs Rapid Test COVID-19, Yuk Kenali Perbedaan Keduanya [Internet]. tech. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200527153620-40-161267/pcr-vs-rapid-test-covid-19-yuk-kenali-perbedaan-keduanya
    3. Apa Itu Kasus Suspek, Kasus Probable, dan Kasus Konfirmasi untuk Covid-19? [Internet]. suara.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.suara.com/health/2020/07/15/195226/apa-itu-kasus-suspek-kasus-probable-dan-kasus-konfirmasi-untuk-covid-19
    Read More
  • Sejak virus Corona melanda secara global pada awal 2020 ini, banyak masyarakat dunia mulai mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan untuk menekan dan melawan salah satu virus ganas tersebut. Dimulai dari mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, hingga memakai masker. Kebiasaan-kebiasaan ini melengkapi peraturan yang sudah ada, yaitu jaga jarak selama 1 meter, dan tidak boleh berkumpul dalam satu area. […]

    Seperti Apa Plus Minus Penggunaan Face Shield?

    Sejak virus Corona melanda secara global pada awal 2020 ini, banyak masyarakat dunia mulai mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan untuk menekan dan melawan salah satu virus ganas tersebut. Dimulai dari mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, hingga memakai masker. Kebiasaan-kebiasaan ini melengkapi peraturan yang sudah ada, yaitu jaga jarak selama 1 meter, dan tidak boleh berkumpul dalam satu area. Kemudian muncul lagi kebiasaan baru belakangan ini selain memakai masker untuk melindungi diri dari percikan air ludah penyebab Corona, yaitu face shield.

    pemakaian face shield

    Sobat Sehat tentu bertanya-tanya apakah face shield itu? Face shield jika dibahasandonesiakan adalah pelindung wajah. Alat ini merupakan salah satu APD atau alat pelindung diri yang kerap dipakai oleh para petugas medis saat menangani pasien yang terkena virus Corona. Di masa sebelum terjadinya Corona, face shield sering digunakan oleh petugas medis gigi untuk melindungi diri dari cipratan ludah saat operasi gigi.Belakangan, penggunaan alat pelindung diri ini meluas sehingga bukan hanya petugas medis saja yang memakainya namun juga petugas pelayanan publik lainnya seperti petugas di stasiun kereta api, terminal bis bahkan polisi sekalipun.

    Baca Juga: Masker, Ampuhkah Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker

    Tak hanya petugas medis dan petugas pelayanan publik yang memakai alat berbentuk perisai dan transparan menutupi wajah tersebut. Masyarakat pun sekarang mulai juga menggunakannya sebagai alat perlindungan ekstra selain masker. Pemerintah melalui Keputusan Kementerian Kesehatan HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum mewajibkan masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di keramaian.

    Pemerintah beralasan bahwa tempat-tempat tersebut sangat berpotensi besar menjadi area penyebaran virus Corona sehingga masyarakat harus membekali diri dengan perlindungan ekstra dan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Tempat-tempat umum yang disarankan pemerintah bagi Sobat Sehat untuk memakai face shield adalah sebagai berikut:

    • Pasar
    • Mal
    • Hotel
    • Pusat kebugaran
    • Pusat olahraga
    • Stasiun kereta api
    • Terminal bus
    • Tempat wisata

    Bagi Sobat Sehat yang berniat memakai face shield di tempat-tempat tersebut tentunya harus mengetahui terlebih dahulu aturan-aturan memakainya. Apa saja aturan-aturannya? Simak di bawah ini ya, Sobat!

    Aturan Penggunaan Face Shield

    Ketahui Jenis Bahan Pembuatan dan Bentuknya

    Hal pertama yang perlu Sobat Sehat ketahui dalam aturan penggunaan face shield adalah jenis bahan pembuatan dan bentuknya. Seperti dilansir oleh Journal American Medical Association, APD ini mempunyai banyak ragam bentuk. Namun, sangat disarankan bagi Sobat untuk memilih produk yang terbuat dari plastik bening yang menutupi wajah, dengan ketebalan 0,50 mm.

    Selain itu, face shield yang digunakaan harus berada hingga di bawah dagu, panjang samping tidak menutupi cuping telinga, dan tidak boleh ada celah terbuka antara dahi dan penutup kepala. Pita dahinya juga terbuat dari plastik bening dengan ketebalan yang sama, dan tali silikon bebas lateksnya mempunyai ketebalan 1,4-1,6 mm. Hal lain yang perlu Sobat perhatikan adalah bahan yang digunakan harus jelas secara optic dan tidak retak saat dilipat ke atas hingga sudut 180 derajat untuk membentuk lipatan.

    Masker Tetap Dipakai

    Memakai face shield sebagai alat perlindungan diri memang terlihat lebih praktis daripada menggunakan masker yang jika belum terbiasa membuat tidak bernapas maksimal. Bahkan, pelindung wajah ini kenyataannya dapat melindungi seluruh bagian wajah bahkan yang sangat sensitif sekalipun seperti mata.

    Meski begitu, tidak serta-merta APD ini dapat melindungi secara efektif dari serangan virus Corona. Pemerintah melalui Gugus Tugas Covid-19 menyatakan bahwa face shield bukanlah satu-satunya alat yang dapat melindungi diri dari virus tersebut. Hal itu dikarenakan adanya microdroplet yang bisa saja masuk ke celah face shield yang terbuka sehingga untuk penggunaan secara maksimal harus disertai dengan masker yang dapat dengan efektif menutup rapat hidung dan mulut.

    Baca Juga: Ingin Aman Memakai Masker Saat Berolahraga? Berikut Tipsnya

    Harus Rutin Dibersihkan

    Seperti halnya masker terutama masker kain, face shield pun bisa digunakan supaya dapat digunakan berkali-kali. Cara membersihkannya pun cukup mudah, yaitu cukup bersihkan bagian dalam secara hati-hati lalu bersihkan bagian luarnya dengan menggunakan sabun dan air atau disinfektan rumah tangga biasa.

    Selama masih terlihat utuh, dan belum rusak, serta nyaman dipakai, face shield bisa tetap digunakan berkali-kali sehingga dapat menjadi penghalang masuknya virus Corona, dan mencegah si pemakai untuk menyentuh wajah sendiri secara langsung. Selain aturan pemakaian untuk pencegahan Corona yang efektif, face shield tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan yang perlu Sobat Sehat ketahui.

    Kelebihan Face shield

    Face shield mempunyai beberapa kelebihan daripada memakai masker, yaitu mampu memproteksi keseluruhan area muka, memudahkan Sobat untuk berbicara karena dengan APD ini suara Sobat tidak teredam. Selain itu, alat ini juga membuat Sobat mudah menghirup oksigen, dan tidak merasa gerah ketika memakai masker, dan bagi para pengtuna kacamata tidak membuat kacamata tidak berembun. Hal lainnya lagi adalah face shield juga mudah dibersihkan daripada masker karena untuk membersihkannya cukup menggunakan tisu anti-bakteri dan lap yang telah dibasahi sabun dan air.

    Kekurangan Face shield

    Selain kelebihan, face shield juga mempunyai beberapa kekurangan yang perlu Sobat ketahui, yaitu tidak benar-benar efektif melindungi diri dari Corona karena ada celah yang terbuka yang memungkinkan air liur yang jatuh bisa masuk ke alat pernapasan. Apalagi diketahui bahwa virus lebih lama bertahan di permukaan plastik daripada kain dan kertas sehingga setiap kali dipakai harus disterilkan. Selain itu, APD ini juga terasa panas saat digunakan, dan membuat gerah.

    Baca Juga: Perhatikan Cara Gunakan APD yang Benar

    Face shield ternyata juga bisa berembun jika digunakan secara ketat, dan tidak praktis karena sulit disimpan dalam tas saat akan dibawa bekerja. Itulah mengenai aturan penggunaan serta kelebihan dan kekurangan face shield sebagai salah satu APD terhadap Corona. Jika Sobat ingin mengetahui lebih dalam mengenai aturan penggunaan face shield dan efektivitasnya untuk mencegah Corona silakan klik video Youtube berikut ini:

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Menteri Terawan Terbitkan Aturan Kesehatan Menggunakan Face Shield [Internet]. JawaPos.com. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.jawapos.com/nasional/20/06/2020/menteri-terawan-terbitkan-aturan-kesehatan-menggunakan-face-shield/
    2. Media K. Face Shield atau Masker, Mana Lebih Efektif Tangkal Covid-19? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/06/05/083747120/face-shield-atau-masker-mana-lebih-efektif-tangkal-covid-19?page=all
    3. Mulai Banyak Digunakan A. Mulai Banyak Digunakan, Apa Itu Face Shield? Berikut Ini Kelebihan dan Kelemahannya – Semua Halaman – Kids [Internet]. Kids.grid.id. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://kids.grid.id/read/472172627/mulai-banyak-digunakan-apa-itu-face-shield-berikut-ini-kelebihan-dan-kelemahannya?page=all
    4. Cara Memakai Face Shield yang Benar dan Aman, Tetap Menggunakan Masker | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.merdeka.com/sumut/cara-memakai-face-shield-yang-benar-dan-seberapa-efektif-melindungi-dari-covid-19-kln.html
    5. Face Shield Saja Disebut Tak Ampuh Cegah Microdroplet Corona [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200712182011-255-523782/face-shield-saja-disebut-tak-ampuh-cegah-microdroplet-corona
    Read More
  • Perlukah berolahraga saat pandemi Corona? Tentu saja banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Jawabannya, tentu saja perlu sebab olahraga sebagai salah satu aktivitas fisik mempunyai banyak manfaat. Baca Juga: Hindari Kesalahan Berolahraga Saat Pandemi Corona Manfaat-manfaat itu adalah: Menurunkan berat badan Meningkatkan imunitas tubuh Mengurangi stres dan rasa cemas Meningkatkan kualitas tidur Selain […]

    Ingin Aman Memakai Masker Saat Berolahraga? Berikut Tipsnya!

    Perlukah berolahraga saat pandemi Corona? Tentu saja banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Jawabannya, tentu saja perlu sebab olahraga sebagai salah satu aktivitas fisik mempunyai banyak manfaat.

    Baca Juga: Hindari Kesalahan Berolahraga Saat Pandemi Corona

    berlari memakai masker

    Manfaat-manfaat itu adalah:

    • Menurunkan berat badan
    • Meningkatkan imunitas tubuh
    • Mengurangi stres dan rasa cemas
    • Meningkatkan kualitas tidur

    Selain itu, olahraga di masa pandemi juga mempunyai manfaat mampu menurunkan risiko tertular infeksi saluran pernapasan atas. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan pada seekor mencit yang ternyata mampu bertahan terhadap sindrom pernapasan akut setelah diuji untuk berolahraga. Namun bagaimanakah olahraga yang aman ketika pandemi Corona tersebut mengingat Corona adalah virus mematikan yang mudah menyebar dengan cepat bahkan dalam olahraga yang tentu saja berkumpul banyak orang?

    Baca Juga: Tren Bersepeda di Masa Pandemi, Apa Saja Tipsnya?

    Salah satu cara aman supaya tetap bisa berolahraga saat pandemi adalah tetap memakai masker sebagai salah satu protokol kesehatan Covid-19 terutama di masa New Normal atau PSBB Transisi. Memakai masker diyakini akan mencegah dan mengurangi penyebaran virus Wuhan tersebut terutama dari droplet atau air liur atau udara yang baru-baru ini oleh WHO disebut sebagai medium penyebaran virus mematikan tersebut.

    Masker juga perlu dipakai untuk perlindungan diri selain mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir selama 20 detik atau hand sanitizer jika tidak sempat mencuci tangan. Meski begitu, perihal memakai masker ini juga menjadi pertanyaan apakah hal tersebut aman karena banyak sekali kasus orang meninggal saat berolahraga karena memakai masker?Untuk hal ini, ada beberapa tips supaya aman memakai masker saat berolahraga di saat New Normal. Apa saja tipsnya? Tanpa berlama-lama, yuk mari simak!

    Tips Aman Memakai Masker Saat Berolahraga

    Jangan Berolahraga dengan Intensitas Berat

    Para pakar kesehatan menyarankan untuk berolahraga yang aman saat pandemi adalah jangan berolahraga dengan intensitas yang berat. Mengapa? Karena olahraga dengan intensitas seperti itu akan membutuhkan pasokan oksigen yang besar.

    Pasokan oksigen ini tentu saja akan terganggu ketika alat pernapasan, baik hidung atau mulut tertutup karena memakai masker. Akibatnya, terjadilah sesak napas, pingsan, dan masalah kesehatan lainnya. Apabila Sobat merasakan sesak napas, tetap tidak melepas masker sama sekali namun Sobat bisa menurunkan intensitas. 

    Baca Juga: 5 Trik Kuruskan Badan dengan Cepat, Tepat, dan Sehat

    Karena itu, usahakan berolahraga dengan intensitas ringan seperti jogging atau bersepeda. Penggunaan masker ini relatif aman untuk olahraga dengan intensitas tersebut selama yang berolahraga tidak mempunyai riwayat penyakit pada jantung dan pernapasan.

    Pakailah Masker Kain

    Masker memang wajib digunakan saat berolahraga. Meski begitu, Sobat Sehat harus mengetahui bahwa masker yang harus digunakan saat berolahraga adalah masker kain bukan masker medis atau N95. Masker kain ini merupakan pilihan yang tepat saat berolahraga di luar rumah karena akan memudahkan sirkulasi udara akibat kebutuhan oksigen yang tinggi saat berolahraga menggunakan masker. Namun masker kain merupakan masker yang tipis sehingga rentan basah saat berolahraga. Jika sudah seperti itu, Sobat Sehat dianjurkan untuk menggantinya supaya tidak mengganggu pernapasan.

    Konsultasi ke Dokter

    Sebelum memulai olahraga kembali dengan memakai masker, sebaiknya Sobat Sehat yang punya masalah penyakit kardiovaskular atau pernapasan untuk terlebih dahulu berkonsultasi pada dokter. Dari konsultasi dokter akan memberikan saran kesehatan yang terbaik untuk Sobat lakukan saat berolahraga sehingga menghindari risiko yang tidak diinginkan.

    Istirahat Jika Merasa Tidak Enak Badan

    Apabila Sobat Sehat merasa badan tidak begitu enak saat berolahraga sewaktu menggunakan masker, sobat disarankan untuk beristirahat. Gejala yang didapat dari tidak enak badan ini adalah merasa pusing, tidak seimbanf, serta terlalu lelah. Hal ini terjadi karena perlunya seseorang melakukan adaptasi selama beberapa waktu saat berolahraga menggunakan masker. Hal ini juga akan menimpa orang-orang yang memiliki tingkat kebugaran tinggi. Karena itu, Sobat sebaiknya beristirahat, dan tidak memaksakan diri.

    Apakah Boleh Melepaskan Masker Saat Berolahraga?

    Memakai masker memang wajib karena sudah termasuk protokol kesehatan Covid-19 untuk kegiatan di luar rumah termasuk berolahraga. Namun yang menjadi pertanyaan apakah boleh melepaskan masker saat berolahraga.

    Jawabannya tentu saja tidak boleh karena dengan tidak memakai masker saat berolahraga malah akan memperbanyak risiko penularan virus Corona, baik melalui air liur atau udara sehingga memakai masker itu perlu. Apabila tidak memakai masker saat berolahraga di masa pandemi, bukan hanya masalah kesehatan yang menimpa, namun juga akan dikenakan tindakan disiplin dan denda bagi yang melanggar. Meski begitu, ada hal yang diperbolehkan untuk tidak memakai masker saat berolahraga. Hal-hal tersebut adalah:

    Saat Berolahraga di Rumah

    Berada di dalam rumah tentu saja merupakan hal yang paling aman untuk tidak terkena virus Corona. Karena itu, di dalam rumah boleh saja berolahraga tanpa menggunakan masker. Karena berada di dalam rumah jenis olahraga yang bisa dilakukan bisa mulai dari intensitas ringan hingga tinggi.

    Baca Juga: 5 Makanan Sehat bagi Kamu yang Suka Ngegym

    Untuk bisa mengukur ringan atau tidaknya intensitas olahraga, Dr. Vika Ardianto Laksono dari Rumah Sakit Siloam menyarankan untuk memakai metode talk test. Metode ini diukur dari cara berbicara sewaktu berolahraga. Apabila masih bisa berbicara panjang namun sudah tidak bisa menyanyi, berarti intensitasnya sedang. Intensitas berat akan didapat jika sudah tidak bisa mengobrol sama sekali.

    Saat Menjaga Jarak

    Melepaskan masker saat berolahraga di luar rumah diperbolehkan asalkan Sobat Sehat menjaga jarak satu sama lain dalam jarak 1-2 meter sesuai protokol kesehatan. Selain menjaga jarak adalah tidak melakukan kontak sama sekali demi meminimalkan penyebaran virus Corona.

    Berolahraga di Tempat yang Sepi

    Sobat Sehat juga diperbolehkan untuk melepaskan masker saat berolahraga ketika berolahraga di tempat yang sepi atau jauh di keramaian. Sebab, tempat yang sepi tidak akan menimbulkan risiko terkena virus. Selain itu, dengan berolahraga di tempat yang sepi, Sobat akan merasa tenang dan nyaman, serta bisa lebih leluasa.

    Baca Juga: 10 Tips Langsing Alami, Mudah Kok

    Itulah tips-tips berolahraga dengan aman saat memakai masker di masa pandemi. Olahraga tetap dianjurkan selain makan makanan yang sehat dan teratur. Apabila Sobat ingin mengetahui secara lengkap dan dalam mengenai olahraga dengan aman memakai masker saat Corona silakan tonton video Youtube berikut ini:

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatansilakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. 4 Tips Aman Olahraga Pakai Masker di Saat Pandemi – Halaman 4 [Internet]. style. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.insertlive.com/style/20200611103918-19-145753/4-tips-aman-olahraga-pakai-masker-di-saat-pandemi/4
    2.  Tips Aman Olahraga Saat Memasuki Masa New Normal, Jaga Tubuh Tetap Prima | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.merdeka.com/jatim/6-tips-aman-olahraga-saat-memasuki-masa-new-normal-jaga-tubuh-tetap-prima-kln.html
    3. Ketahui 5 Tips Aman Menggunakan Masker Saat Olahraga di Tengah Pandemi Corona Covid-19 [Internet]. Plus.kapanlagi.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://plus.kapanlagi.com/ketahui-5-tips-aman-menggunakan-masker-saat-olahraga-di-tengah-pandemi-corona-covid-19-42b3c7.html
    Read More
  • Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut. Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan […]

    4 Hal Penting Terkait Melahirkan Saat Pandemi Menurut IDAI

    Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut.

    ibu melahirkan


    Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan terdepan dalam menghadapi Covid-19. Tak ketinggalan protokol kesehatan untuk ibu hamil.

    Baca Juga: 6 Panduan Nutrisi Ibu Hamil untuk Menjaga Kesehatan Calon Buah Hati

    Protokol diperlukan mengingat Corona adalah virus yang mudah menyebar dan cepat masuk ke dalam sistem pernafasan utama seperti paru-paru. Apalagi ibu hamil merupakan orang yang mudah terpapar virus tersebut karena daya tahan tubuh yang menurun. 

    Tidak hanya ibu hamil, bayi yang dikandung juga terpapar virus sehingga setelah dilahirkan harus segera dijauhkan dari sang ibu. Meskipun penelitian belum bisa dengan pasti mengungkapkan tingkat penularan tersebut. Adanya Corona yang mempunyai efek sangat mematikan juga membuat ibu hamil menjadi enggan memeriksakan diri ke puskesmas atau mengikuti kelas khusus ibu hamil. Ketakutan juga ditambah dengan belum adanya standarisasi yang lengkap untuk APD tenaga medis.

    Lalu seperti apakah protokol atau pedoman kesehatan untuk ibu hamil pada masa pandemi atau new normal? Simak poin-poin di bawah ini seperti yang dipaparkan oleh dr. Toto Wisnu Hendarto dari PP IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

    1. Memulai Pencegahan dengan Membaca KIA
      Seperti yang sudah diumumkan oleh WHO pada akhir 2019 bahwa untuk mencegah dan memutus penyebaran virus Corona adalah mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir selama 20 detik.
      Perihal mencuci tangan yang baik dan benar ini juga ada dalam buku KIA atau Kesehatan Ibu dan Anak 2020 yang telah direvisi. Di dalam buku pegangan utama tersebut juga dijabarkan bahwa mencuci tangan untuk ibu hamil harus memakai juga hand sanitizer dengan kandungan alkohol sebanyak 70% apabila sabun cuci tangan tidak tersedia.
      KIA untuk Corona ini juga memuat beberapa poin penting seperti penggunaan masker untuk mencegah cipratan air liur, baik langsung maupun tidak langsung. Kemudian menghindari kontak dengan tidak bepergian ke daerah-daerah rawan Corona serta tidak berinteraksi dengan hewan-hewan penyebab virus tersebut seperti kelelawar, tikus, dan musang.
    2. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Sesuai Protokol Covid-19
      Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang harus dilakukan untuk ibu hamil supaya bisa mengetahui kesehatan bayi yang dikandungnya. Pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan terpercaya milik pemerintah atau swasta.
      Namun dalam masa pandemi atau new normal ini, diusahakan agar bumil tidak terlalu menunggu lama dalam memeriksakan kehamilan. Karena itu, perlu dibuat perjanjian antara ibu hamil dan pihak pemeriksa.

    Untuk panduan pemeriksaan kesehatan, bumil dapat membaca panduannya melalui KIA 2020 yang telah direvisi. KIA juga memuat beberapa risiko tanda bahaya yang mesti diketahui oleh si ibu hamil untuk bayi yang dikandungnya. Apabila si ibu hamil merasa ada tanda bahaya seperti yang termuat dalam KIA, disarankan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan.

    Baca Juga: 9 Tips ASI setelah melahirkan


    Untuk masa pandemi ini, petugas kesehatan bisa mendatangi rumah supaya ibu hamil bisa menghindari virus Corona, dan ibu hamil dapat mengikuti kelas pelatihan kehamilan secara online. Apabila bumil terindikasi terkena Covid-19, pemeriksaan USG bisa ditunda sampai masa isolasi berakhir.


    Untuk ibu hamil yang terindikasi terkena Covid-19 juga memerlukan beberapa penanganan khusus seperti tidak memberikan tablet tambah darah, petugas kesehatan melakukan antenatal care selama 14 hari setelah isolasi, dan pembentukan tim multi-disiplin yang terdiri dari beberapa dokter spesialis, serta pemberian konseling.

    1. Ketahui Beberapa Tingkatan Pelayanan
      Toto Wisnu Hendarto juga memaparkan tingkatan pelayanan kelahiran pada masa pandemi dan new normal. Terdapat tiga level seperti yang tercantum di KIA 2020 hasil revisi yaitu,
    • Level I untuk kemampuan penanganan dasar
    • Level II A dan B untuk kemampuan penanganan khusus
    • Level III A dan B untuk penanganan dasar namun subspesial 
    • Level III C dan D untuk penanganan lanjutan

    Level-level ini diberikan kepada fasilitas kesehatan sesuai dengan standar dan APD yang dimiliki untuk pengananan ibu hamil saat pandemi. Juga sesuai dengan status yang disandang si ibu hamil apakah penderita atau bukan. Jika ia penderita, tentu harus diketahui status penderitanya.


    Untuk level 1 di Indonesia berlaku ketentuan pelayanan umum seperti pasca kelahiran bayi, yaitu 37-42 minggu, dengan berat berkisar di 2.500-4.000 gram. Sedangkan pelayanan luar biasa ada pada level III plus. Karena level atau tingkatan yang berbeda, tentu saja APD yang digunakan juga berbeda seperti level III harus menggunakan delivery chamber.

    1. Pemberian Pelayanan untuk Bayi Baru Lahir
      Bayi yang baru lahir rentan terkena Corona dikarenakan belum mempunyai daya imunitas yang bagus. Untuk hal ini dalam pemaparannya IDAI memberikan 4 tahapan periode waktu dalam penanganan pasca-kelahiran.
    • Tahapan pertama adalah berdasarkan detik (30 detik)
    • Tahapan kedua berdasarkan jam (6-12 jam)
    • Tahapan ketiga berdasarkan hari (47-72 jam)
    • Tahapan  keempat berdasarkan minggu

    Pada tahapan pertama penanganan yang perlu dilakukan adalah resusitasi neonatal kurang lebih 30 detik yang meliputi pemberian kehangatan, pemberian posisi kepala untuk bernafas, pengeringan, dan perangsangan taktil.

    Apabila dalam tahapan ini bayi terindikasi Corona, langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan prosedur aerosol generated secara isolatif. Pada tahapan kedua prosedur yang perlu dilakukan adalah neonatal esensial, pemberian vitamin K1, antibiotik, dan vaksin hepatitis B.

    Baca Juga: Bolehkah Ibu Hamil Terbang?


    Apabila bayi terkena Corona, neonatal esensial tetap dilakukan namun dengan melakukan isolasi selama 14 hari. Pada kategori ketiga perawatan yang perlu dilakukan adalah rooming in, pemeriksaan detak jantung, dan pemeriksaan hipotiroidisme. Apabila bayi terkena Covid-19 langkah yang perlu dilakukan adalah isolasi khusus berdasarkan protokol Covid-19, dan boleh meninggalkan rumah sakit. Tahapan terakhir adalah berdasarkan minggu yaitu dimulainya pemberian ASI secara terkontrol, monitor berat badan, dan monitor metabolisme bilirubin. Jika bayi pada tahapan ini terkena Corona, prosedur yang dilakukan adalah identifikasi final berdasarkan protokol Covid-19.

    Nah, itulah 4 poin penting dari IDAI mengenai prosedur melahirkan pada masa pandemi. Semoga bermanfaat bagi para ibu hamil yang ingin tetap melahirkan dalam keadaan sehat dan aman. Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Read More
  • Maraknya pandemi COVID-19 yang masih belum mereda di Indonesia membuat masyarakat ingin mengecek status kesehatan mereka. Bahkan banyak yang membeli rapid test yang dijual online untuk melakukan tes secara mandiri. Apakah Sobat perlu melakukan rapid test secara mandiri? Bolehkah dilakukan sendiri? Baca Juga: Kenali Rapid Test dan Pembacaan Hasilnya Rapid test merupakan sebuah pemeriksaan skrining […]

    Kapan & Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Maraknya pandemi COVID-19 yang masih belum mereda di Indonesia membuat masyarakat ingin mengecek status kesehatan mereka. Bahkan banyak yang membeli rapid test yang dijual online untuk melakukan tes secara mandiri. Apakah Sobat perlu melakukan rapid test secara mandiri? Bolehkah dilakukan sendiri?

    Baca Juga: Kenali Rapid Test dan Pembacaan Hasilnya

    Rapid test merupakan sebuah pemeriksaan skrining awal untuk mendeteksi antigen maupun antibodi yaitu IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Tipe rapid test yang lebih sering dijumpai adalah yang mendeteksi antibodi melalui sampel darah. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh sebagai respon bila terdapat paparan virus corona. Pembentukan antibodi membutuhkan waktu sekitar beberapa hari hingga minggu, dipengaruhi oleh faktor usia, status gizi, tingkat keparahan penyakit, konsumsi obat-obatan sebelumnya, dan penyakit sebelumnya yang dapat memengaruhi sistem imun.

    Hasil rapid test positif menandakan bahwa orang yang diperiksa pernah terinfeksi virus Corona. Namun, orang yang sudah terinfeksi virus Corona dan memiliki virus di dalam tubuhnya bisa saja mendapatkan hasil rapid test yang negatif karena tubuhnya belum membentuk antibodi terhadap virus Corona. Peristiwa ini dikenal juga sebagai false negative, oleh karena itu jika hasilnya negatif maka pemeriksaan rapid test perlu diulang 7-10 hari setelahnya. Bila hasil test Sobat positif, tidak perlu panik terlebih dahulu, terdapat juga peristiwa false positive karena rapid test mendeteksi antibodi terhadap coronavirus jenis lain, bukan yang menyebabkan COVID-19.  Jadi pemeriksaan rapid test ini hanyalah digunakan sebagai pemeriksaan skrining atau penyaring awal saja bukan pemeriksaan untuk mendiagnosis infeksi COVID-19. Tes yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus, adalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) karena pemeriksaan ini bisa mendeteksi langsung keberadaan virus Corona.1,2

    Produk Terkait: Rapid Test ke Rumah atau Klinik

    Perlu diketahui, rapid test hanya dilakukan kepada orang yang berisiko tertular COVID-19. Sehingga tidak semua orang perlu melakukan pemeriksaan ini. Rapid test corona direkomendasikan untuk:

    • Orang Tanpa Gejala (OTG), terutama yang pernah melakukan kontak minimal 7 hari dari pasien positif COVID-19.
    • Orang Dalam Pemantauan (ODP), yaitu seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.
    • Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yaitu seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.
    • Profesi yang mengharuskan kontak dengan banyak orang seperti petugas kesehatan, polisi, tentara petugas kurir, dan lainnya.2

    Meski prosedurnya terlihat mudah dan kit pemeriksaan sudah bisa didapatkan online, pemeriksaan rapid test sebaiknya tetap dilakukan dibawah pengawasan petugas kesehatan karena setelah pengambilan sampel, perlu dilakukan pencatatan dan pelaporan kasus sesuai dengan pedoman penatalaksanaan COVID-19 yang berlaku di Indonesia. Selain itu, petugas kesehatan juga dapat mengarahkan apa yang harus dilakukan setelah mendapatkan hasil pemeriksaan. Kit rapid test yang beredar bebas di kalangan masyarakat pun tidak semuanya memenuhi standar yang diakui oleh pemerintah Indonesia, ketika pemeriksaan ini dilakukan menggunakan alat yang tidak valid, maka bisa timbul hasil false negative yang tinggi, hal ini bisa jadi sangat berbahaya. Orang yang menerima hasil false negative mungkin akan merasa tidak terinfeksi sehingga tidak melakukan pencegahan penyebaran virus Corona. 2,3

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Pemeriksaan rapid test yang disarankan tetap dilakukan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit pemerintah maupun swasta. Selain di rumah sakit, untuk mengurangi paparan terhadap kuman penyakit, pemeriksaan rapid test sekarang juga sudah bisa dilakukan melalui bantuan aplikasi kesehatan dan juga pemeriksaan drive thru seperti layanan yang dimiliki ProSehat. Dengan bantuan aplikasi kesehatan, maka Sobat dapat membuat penjadwalan rapid test terlebih dahulu sehingga tidak perlu repot-repot mengantri. Pengambilan sampel juga seringkali dengan menggunakan metode drive thru jadi Sobat tidak perlu turun dari mobil. Pemeriksaan ini tentunya juga tetap dilakukan dibawah pantauan dan arahan petugas kesehatan.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Advice on the use of point-of-care immunodiagnostic tests for COVID-19 [Internet]. Available from: https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/advice-on-the-use-of-point-of-care-immunodiagnostic-tests-for-covid-19
    2. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    3. Azizah KN. Marak Rapid test Corona Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri? [Internet]. detikHealth. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4977547/marak-rapid-test-corona-mandiri-bolehkah-dilakukan-sendiri
    Read More

Showing 1–10 of 47 results

Chat Asisten ProSehat aja