Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Parosmia dan Phantosmia, Gejala-gejala Baru Covid-19, Apa Saja Perbedaannya?

Setelah anosmia, yaitu hilangnya kemampuan indera penciuman yang disebut sebagai gejala baru Covid-19, kini muncul lagi gejala-gejala baru virus tersebut yang masih berhubungan dengan hidung, yaitu Parosmia dan Phantosmia. Apabila Anosmia merupakan kehilangan indera penciuman yang bisa terjadi selama-lama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, dan cukup membuat frustasi bagi yang terkena, parosmia dan phantosmia kerap disalahartikan memiliki hal yang sama.

Parosmia dan Phantosmia

Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

Perbedaan Parosmia dan Phantosmia

Padahal jika ditelusuri lebih detail keduanya mempunyai banyak perbedaan. Lalu apa saja perbedaan keduanya? Yuk, Sahabat Sehat, mari simak dalam penjelasan berikut ini!

Parosmia

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi kesehatan yang mengganggu indera penciuman. Apabila Sahabat Sehat menderita Parosmia, ada kemungkinan Sahabat mengalami intensitas aroma yang berarti Sahabat tidak dapat mendeteksi seluruh aroma yang berada di sekitar. Parosmia ini dapat menyebabkan hal-hal yang ditemui setiap hari memiliki bau yang kuat dan tidak menyenangkan. Hal ini jugalah yang membuat Parosmia kerap disamakan dengan Phantosmia yang menyebabkan Sahabat mendeteksi bau “hantu” saat tidak ada aroma.

Hal itu tentu saja berbeda karena Parosmia menyebabkan orang yang mengidapnya dapat mendeteksi bau yang ada tetapi baunya “salah”. Misalkan, bau harum dari roti yang dipanggang seharusnya halus dan manis bukan menyengat dan busuk.

Gejala-gejala yang Dirasakan

Gejala-gejala utama yang dirasakan adalah Sahabat merasakan bau busuk yang terus-menerus terutama saat ada makanan. Selain itu, Sahabat juga mengalami kesulitan mengenali atau memperhatikan beberapa bau di lingkungan akibat kerusakan pada neuron penciuman. Aoma yang tadinya menyenangkan sekarang menjadi sangat kuat dan tidak tertahankan, dan membuat Sahabat muak dan mual saat makan.

Penyebab

Penyebab munculnya Parosmia biasanya terjadi setelah neuron pendeteksi aroma atau indera penciuman telah rusak karena virus atau kondisi kesehatan lainnya. Neuron-neuron ini melapisi hidung dan memberi tahu otak cara menafsirkan informasi kimiawi yang membentuk bau. Kerusakan pada neuron mengubah cara bau mencapai otak. Neuron-neuron ini kemudian menyampaikan sinyal kepada bola olfaktorius di bawah bagian depan otak untuk memberikan sinyal kepada otak mengenai aroma, baik itu menyenangkan, memikat, membangkitkan selera, maupun busuk.

Phantosmia

Seperti namanya, Phantosmia adalah istilah untuk halusinasi penciuman atau bau “hantu” yang muncul tanpa adanya bau apa pun. Itu berarti Sahabat mencium bau sesuatu padahal tidak ada sumber yang berkaitan dengan bau tersebut. Misalkan, mencium aroma roti yang dipanggang padahal tidak ada toko roti di sekitar. Aroma yang dicium itu juga merupakan aroma imajiner atau hanya tercipta dalam sebuah imajinasi.

Baca Juga: Fenonema Long-Covid, Gejala yang Menyerang Eks Pasien Covid-19

Gejala-gejala yang Dirasakan

Gejala-gejala yang dirasakan adalah Sahabat mencium bau yang tidak sedap tetapi sebenarnya tidak ada sama sekali benda yang menimbulkan bau tersebut. Bau tidak sedap yang dirasakan adalah bau busuk, terbakar, bau karet terbakar, asap rokok, bau bahan kimia dan lainnya.

Penyebab

Terjadinya Phantosmia diakibatkan oleh cedera kepala atau kehilangan penciuman pasca-trauma yang bisa sampai infeksi saluran pernapasan atas. Masalah ini kemudian dikaitkan dengan adanya masalah di hidung atau mulut jika dibandingkan dengan di otak. Beberapa masalah di hidung yang menyebabkan halusinasi ini antara lain adalah alergi, dingin, sinus, polip, dan iritasi pernapasan. Sementara itu, penyebab umum lainnya adalah migrain, masalah gigi, terapi radiasi sampai paparan neurotoksin.

Baca Juga: Waspada Terinfeksi Corona Tanpa Gejala (Silent Carrier)

Bagaimana Cara Menyembuhkannya?

Kedua gejala disebabkan karena saraf penciuman yang rusak dan dapat pulih dengan sendirinya dengan rata-rata waktu sekitar sebulan. Meski begitu, penyembuhan juga dapat memakan waktu hingga 2 atau 3 tahun untuk pemulihan yang sempurna. Vitamin A, Seng, dan antibiotik juga dapat diresepkan untuk membantu proses penyembuhan.

Produk Terkait: Jual Vitamin, Suplemen, Multivitamin Lengkap

Nah, seperti itulah perbedaan Parosmia dan Phanosmia yang merupakan gejala baru Covid-19 dan berhubungan dengan indera penciuman. Apabila Sahabat merasakan gejala-gejala seperti ini disarankan untuk tes deteksi dini Covid-19 di Prosehat. Caranya cukup mudah. Sahabat bisa mengakses via website atau aplikasi lalu pilih Layanan Kesehatan dan klik Rapid Test Covid-19. Info selengkapnya silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi:

  1. Beda Parosmia dan Phantosmia yang Jadi Bagian Gejala Covid-19 [Internet]. gaya hidup. 2021 [cited 7 January 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210106083146-255-589994/beda-parosmia-dan-phantosmia-yang-jadi-bagian-gejala-covid-19
  2. Hummel T, N. Landis B, Huttenbrink K. Smell and Taste Disorders. NCBI [Internet]. 2012 [cited 11 January 2021];. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3341581/
  3. Septiani A. Anosmia Disebut Jadi Tanda Tubuh ‘Terlindungi’ dari Corona, Kok Bisa? [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 7 January 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5268736/anosmia-disebut-jadi-tanda-tubuh-terlindungi-dari-corona-kok-bisa
  4. Penyintas Covid-19 Alami Parosmia dan Phantosmia, Apa Itu? |Republika Online [Internet]. Republika Online. 2021 [cited 7 January 2021]. Available from: https://republika.co.id/berita/qhj8r5414/penyintas-covid19-alami-parosmia-dan-phantosmia-apa-itu
  5. Leopold D. Distortion of Olfactory Perception: Diagnosis and Treatment. Chemical Senses [Internet]. 2002;27(7):611-615. Available from: https://academic.oup.com/chemse/article/27/7/611/324055
  6. Ciurleo R, De Salvo S, Bonanno L, Marino S, Bramanti P, Caminiti F. Parosmia and Neurological Disorders: A Neglected Association. Frontiers in Neurology. 2020;11

Chat Asisten ProSehat aja