Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ corona”

Showing 41–50 of 51 results

  • Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah […]

    Kenali Avigan dan Klorokuin, Obat yang Disiapkan Jokowi untuk COVID-19

    Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah Avigan dan Kloroquin? Bagaimana cara kedua obat tersebut dapat melawan virus corona?

    Favipiravir (Avigan)

    Avigan merupakan nama dagang dari Favipiravir (T-705), yaitu suatu agen anti-viral yang ditemukan di Laboratorium Penelitian Toyama Chemical Co., Ltd. Pada saat itu, Favipiravir digunakan sebagai obat anti-viral terhadap virus Influenza yang merupakan virus RNA. Selain itu, Favipiravir juga menunjukkan aktivitas anti-viralnya terhadap virus RNA lainnya seperti flavivirus, alphavirus, filovirus, bunyavirus, arenavirus, dan norovirus.4,5

    Favipiravir bekerja dengan menghambat replikasi virus. Mekanisme ini termasuk unik untuk suatu obat anti-viral karena pada umumnya hanya menghambat proses masuk (entry) atau penyebaran (release) virus dari sel. Proses ini awalnya dimulai dengan Favipiravir masuk ke dalam sel yang terinfeksi virus. Enzim dalam sel tersebut akan mengaktivasi Favipiravir menjadi bentuk aktifnya yaitu Favipiravir-RTP yang dianggap sebagai substrat oleh virus sehingga masuk ke rantai RNA virus lalu menghambat pemanjangan rantai RNA virus yang mengakitbatkan terhentinya proses replikasi dari virus pada sel tersebut.4 Dengan dasar tersebut dan fakta bahwa COVID-19 merupakan virus RNA, maka Favipiravir  diduga memiliki potensial sebagai anti-viral untuk COVID-19. Namun terdapat juga efek samping dari obat ini berupa teratogenik dan embriotoksik yang berarti dapat mengganggu perkembangan dan bersifat racun untuk janin pada ibu hamil.4 Saat ini telah didapatkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral terhadap COVID-19. Sebuah penelitian terhadap 80 pasien juga menunjukkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral yang lebih poten dibandingkan dengan Iopinavir/Ritopinavir terhadap COVID-19. Meski demikian, penemuan tersebut masih dalam tahap penelitian lebih lanjut.5,6

    Kloroquin

    Obat ini mungkin pernah terdengar familiar bagi Sobat? Ini karena Kloroquin telah digunakan sebagai obat anti malaria lebih dari 70 tahun. Selain itu kloroquin juga digunakan sebagai obat autoimun, dan juga dapat digunakan sebagai anti-viral spektrum luas sejak 2006.5,6 Kloroquin termasuk dalam pedoman pengobatan COVID-19 di Cina dan juga CDC.5,7

    Peran Kloroquin dalam tubuh adalah mem-block infeksi dari COVID-19 pada konsentrasi mikromolar-rendah. Kloroquin bekerja dengan cara mengganggu proses fusi virus/sel (dengan meningkatkan pH endosom) dan mengganggu (proses glikosilasi) reseptor selular virus corona. Ditemukan bahwa Kloroquin bekerja pada stadium entry dan post entry dari COVID-19. Selain itu, Kloroquin juga memiliki efek meningkatkan imun yang dapat membantu dalam melawan infeksi virus. Obat ini tersebar dengan mudah ke seluruh jaringan tubuh, termasuk paru.6,8 Pemberian Kloroquin harus dengan dosis dan anjuran yang tepat karena terdapat beberapa efek samping seperti mual, muntah, diare, nyeri perut hingga keracunan Kloroquin yang menyebabkan kerusakan pigmen epitel retina, gangguan jantung, dan kerusakan saraf.9,10,11

    Dari hasil penelitian terkini, telah didapatkan bahwa Favipiravir dan Kloroquin dapat melawan infeksi COVID-19. Favipiravir dan Kloroquin memiliki mekanisme anti-viral yang berbeda. Favipiravir menghambat replikasi virus dalam sel, sedangkan Kloroquin menghambat masuknya virus ke dalam sel. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk kedua obat tersebut. Pastikan untuk tidak membeli dan menggunakan kedua obat tersebut tanpa anjuran atau instruksi dari dokter. Jika Sobat mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, sesak napas, dan berkunjung atau terpapar seseorang yang berkunjung pada negara risiko tinggi, segeralah periksakan diri Sobat ke dokter atau hubungi call center krisis virus corona 119 ext 9.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
    2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html
    3. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    4. FURUTA Y, KOMENO T, NAKAMURA T. Favipiravir (T-705), a broad spectrum inhibitor of viral RNA polymerase. Proceedings of the Japan Academy, Series B. 2017;93(7):449-463.
    5. Dong L, Hu S, Gao J. Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19). Drug Discoveries & Therapeutics. 2020;14(1):58-60.
    6. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M et al. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020;30(3):269-271.
    7. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html
    8. Cortegiani A, Ingoglia G, Ippolito M, Giarratano A, Einav S. A systematic review on the efficacy and safety of chloroquine for the treatment of COVID-19. Journal of Critical Care. 2020;.
    9. Chloroquine and Hydroxychloroquine : Side Effects of Medications : The Eyes Have It [Internet]. Kellogg.umich.edu. 2020.Available from: http://kellogg.umich.edu/theeyeshaveit/medica/chloroquine-hydorxychloroquine.html
    10. DeMott M, Young M, Williams S, Clark R. Overdose of Cardiotoxic Drugs. Cardiac Intensive Care. 2010;:427-442.
    11. Cavaletti G. Toxic and Drug-Induced Neuropathies. Neurobiology of Disease. 2007;:871-883.
    Read More
  • Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya. Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan […]

    6 Tips Menjaga Kesehatan bagi Sobat yang Tidak Bisa Kerja dari Rumah (WFH)

    Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya.

    Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Sehingga Sobat yang tidak dapat melakukan pekerjaannya dari rumah harus lebih menjaga kesehatan. Saat ini vaksin untuk COVID-19 masih belum ada, sehingga hal terbaik untuk mencegah penularan adalah mengurangi paparan pada virus. COVID-19 menular melalui kontak erat dan percikan saat batuk maupun bersin.1

    Berikut tips yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan dan terhindar dari COVID-19:

    1. Rutin mencuci tangan, biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang bersih selama minimal 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudahtercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol minimal 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, dan bila tangan terlihat kotor. Hindari menyentuh wajah baik sebelum maupun sesudah cuci tangan.
    1. Mengetahui etika batuk dan bersin, gunakan tisu atau bagian lipat dalam siku untuk menutup hidung dan mulut saat batuk maupun bersin, jangan gunakan tangan. Tisu yang digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya.
    2. Menjaga jarak dengan orang lain, jagalah jarak minimal 1 meter dari orang lain. Hindari kontak fisik dengan orang lain, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala, atau membungkuk.
    3. Membersihkan barang-barang yang sering disentuh, membersihkan barang-barang yang digunakan setiap hari dengan disinfektan seperti meja, gagang pintu, handphone, dan keran air.
    4. Menerapkan pola hidup sehat:
    • Pola makan yang baik dan benar, biasakan untuk mengonsumsi makanan bergizi, pastikan untuk memenuhi kebutuhan makronutrien Sobat, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien seperti vitamin dan mineral juga yang banyak didapatkan dari buah dan sayuran. Selain makan, jaga pula hidrasi tubuh, konsumsi air putih sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari.
    • Cukup istirahat, tidur yang cukup karena regenerasi sel tubuh terjadi saat sedang beristirahat. Pastikan untuk tidur selama minimal 8 jam sehari agar sistem imun tetap prima.
    • Hindari stres, adanya pandemik dapat menyebabkan stres bagi beberapa orang baik orang dewasa maupun anak-anak. Cobalah untuk mengambil waktu sejenak dan ambil nafas yang dalam atau melakukan meditasi. Lakukan aktivitas yang membuat Anda santai dan lebih rileks. Berbicaralah dengan orang-orang sekitar. Hindari membaca atau mendengar berita mengenai pandemik secara terus-menerus.
    • Rutin berolahraga, olah raga yang rutin dapat meningkatkan kebugaran sistem jantung dan paru-paru Sobat. Lakukanlah olah raga minimal 150 menit selama satu minggu. Aktif bergerak dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti membatasi duduk yang terlalu lama, memilih untuk naik tangga dibandingkan dengan eskalator, jalan kaki bila tujuan dekat, dan lain-lain.
    • Hindari rokok dan alkohol, rokok dapat menurunkan sistem imun tubuh karena zat kimia yang terkandung didalamnya mengandung banyak radikal bebas yang dapat menurunkan kerja sistem imun tubuh.
    1. Segera memeriksakan diri bila terdapat gejala, segera melakukan pemeriksaan bila Sobat mengalami demam, batuk, pilek, serta kesulitan bernapas. Gunakan masker hanya bila Sobat sakit, masker yang dapat digunakan adalah masker bedah atau masker N95 yang memiliki saringan untuk mencegah penularan virus.

    Untuk informasi kesehatan lainnya,silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    2. Advice for public [Internet].Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    4. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    5. A healthy lifestyle [Internet]. 2020. Available from: http://www.euro.who.int/en/health-topics/disease-prevention/nutrition/a-healthy-lifestyle
    6. Chaput J-P, Dutil C, Sampasa-Kanyinga H. Sleeping hours: what is the ideal number and how does age impact this? Nat Sci Sleep. 2018 Nov 27;10:421–30.
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    8. Sato J, Takahashi I, Umeda T, Matsuzaka M, Danjyo K, Tsuya R, et al. Effect of alcohol drinking and cigarette smoking on neutrophil functions in adults. Luminescence. 2011;26(6):557–64.
    9. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    Read More
  • Maraknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), terdapat banyak hal yang dihimbau kepada masyarakat. Salah satunya mengenai self isolation pada seseorang yang memiliki riwayat berpergian atau tinggal di area transmisi lokal atau pernah kontak erat dengan pasien positif COVID-19 yang dilakukan secara volunter atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan untuk melakukan isolasi diri di rumah selama 14 hari […]

    7 Cara Melakukan Self Isolation yang Tepat saat Wabah Corona

    Maraknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), terdapat banyak hal yang dihimbau kepada masyarakat. Salah satunya mengenai self isolation pada seseorang yang memiliki riwayat berpergian atau tinggal di area transmisi lokal atau pernah kontak erat dengan pasien positif COVID-19 yang dilakukan secara volunter atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan untuk melakukan isolasi diri di rumah selama 14 hari atau sampai dikatakan negatif COVID-19. Kontak erat adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam satu ruangan dalam radius 1 meter dengan kasus pasien dalam pengawasan, probabel, atau konfirmasi COVID-19.

    Gejala klinis dari COVID-19 adalah gangguan pernapasan akut seperti demam serta gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak nafas. Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan percik renik (droplet) saat batuk atau bersin.2 Bila Sobat disarankan untuk melakukan isolasi mandiri, berikut tips untuk melakukan isolasi di rumah:

    1. Tidak keluar dari rumah kecuali untuk mendapatkan pengobatan. Tetaplah berada di rumah. Jika harus keluar rumah, gunakan masker, hindari tempat ramai dan hindari menggunakan transportasi umum. Sebaiknya batasi orang-orang yang berkunjung.
    2. Pisahkan diri dari orang-orang sekitar yang tinggal serumah. Sebaiknya walaupun tinggal di rumah yang sama, pasien yang melakukan isolasi diri berada dalam ruangan yang terpisah dari anggota keluarga yang lain. Jaga jarak lebih dari 1 meter dengan orang yang sehat. Hindari penggunaan alat makan atau linen bersamaan, cucilah dengan air dan sabun setelah digunakan. Linen sebaiknya dipisahkan dari linen anggota keluarga yang lain, gunakan deterjen, dan suhu air 60-90
    3. Menggunakan masker. Gunakan masker yang dilengkapi dengan filter seperti masker bedah atau masker N95 untuk menyaring partikel yang keluar saat batuk atau bersin. Buang masker sehabis digunakan di tempat sampah.
    4. Melakukan etika batuk yang benar. Menutup batuk atau bersin dengan menggunakan tisu atau lipat dalam siku. Langsung membuang tisu di tempat sampah dan mencuci tangan.
    5. Sering mencuci tangan. Mencuci tangan dengan air dan sabun minimal selama 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudah tercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan gunakan hand-rub yang berbahan dasar alkohol diatas 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor.
    6. Membersihkan benda yang sering disentuh setiap harinya. Bersihkan gagang pintu, meja, kursi, gadget, dan benda lain yang sering disentuh. Gunakan larutan pembersih atau lap. Sebaiknya gunakan sarung tangan saat membersihkan benda-benda tersebut.
    7. Melakukan observasi gejala. Memantau gejala klinis selama dilakukan isolasi diri, gejala yang perlu di perhatikan adalah demam disertai gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas. Bila terjadi perburukan gejala segera menghubungi petugas kesehatan.

    Penyakit yang disebabkan oleh virus bersifat self limiting, yang artinya dapat sembuh dengan sendirinya. Sehingga penting juga untuk menguatkan sistem imun tubuh untuk membantu melawan penyakit. Istirahat yang cukup minimal 8 jam sehari. Perbanyak mengonsumsi makanan yang sehat seperti sayur dan buah. Minum air yang cukup sebanyak 2 liter atau 8 gelas setiap harinya. Rutin berolahraga bila tidak ada gejala penyakit, sebanyak 30 menit setiap harinya, 2 kali setiap minggu.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    2. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24 [cited 2020 Jan 27];0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    3. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 20]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/guidance-prevent-spread.html
    4. Advice for public [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    5. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    6. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    Read More
  • Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya. Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut […]

    5 Mitos yang Perlu Sobat Ketahui Tentang Virus COVID 19

    Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya.

    Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut apakah resmi dari badan kesehatan seperti Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) atau badan kesehatan Republik Indonesia atau KEMENKES RI.

    Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-COV-2) merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan yang menyebabkan infeksi COVID-19 yang dapat menyebabkan kematian karena dapat berakibat gagal napas. Virus ini dapat menyerang berbagai usia baik anak sampai dewasa.

    Infeksi virus corona ini sangat berbahaya, sehingga, muncullah berbagai macam mitos, antara lain:

    1. Antibiotik Bisa Cegah Virus Corona

    WHO menyatakan bahwa antibiotik tidak bekerja terhadap infeksi virus. Antibiotik hanya bekerja pada infeksi bakteri. Dengan kata lain, antibiotik tidak dapat mengatasi apalagi mencegah COVID-19. Pemberian antibiotik tentunya harus secara bijaksana dengan resep dokter. Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat menyebabkan resisten.

    Lalu, obat-obatan apa yang dapat mencegah infeksi virus corona? Sampai saat ini belum ada obat-obatan khusus yang dapat mencegah infeksi virus corona. WHO tidak merekomendasikan mengonsumsi obat-obatan termasuk antibiotik segai pencegahan COVID-19.

    1. Bawang Putih Ampuh Menangkal Virus Corona

    Bawang putih memang dikenal mempunyai segudang manfaat positif bagi kesehatan, seperti mencegah risiko terjadinya penyakit jantung, anti-tumor, anti infeksi bakteri dan menurunkan tekanan darah serta menurunkan gula darah.

    Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa mengonsumsi bawang putih dapat mencegah infeksi virus corona.

    1. Paket dari Cina Dapat Membawa Virus Corona

    Bagi Sobat yang terbiasa belanja online mungkin sudah biasa menerima kiriman paket dari luar negeri, terutama Cina. Namun tak perlu was-was, seperti yang diketahui penyebaran virus corona dari manusia ke manusia dapat melalui droplet (bersin, batuk) serta kontak tubuh pada pasien yang positive COVID-19. Karakteristik dari virus corona tidak tahan lama hidup pada benda mati. Sehingga, menurut WHO menerima paket dari Cina cukup aman.

    1. Mandi Air Panas Dapat Membunuh Virus Corona yang Menempel di Badan

    WHO telah menyatakan bahwa mandi dengan air suhu panas tidak dapat mencegah terjangkitnya COVID-19. Mandi dengan air panas justru dapat membahayakan kulit karena dapat menyebabkan kulit menjadi kering, iritasi atau malah terbakar karena kulit tidak tahan dengan suhu yang terlalu panas.

    Mengingat cara penyebaran virus corona yang dapat terjadi akibat kontak dengan penderita positive COVID-19, baik dengan bersalaman atau dengan droplet (bersin dan batuk) dalam jarak dekat, maka mandi dengan air panas tidak dapat mencegah masuknya virus apabila kita tidak memerhatikan faktor pencegahan lainnya seperti mencuci tangan setelah memegang benda, menghindari orang dengan gejala batuk, bersin dan demam serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan yang sehat.

    1. Penyemprotan Alkohol di Seluruh Tubuh Efektif Mencegah Corona

    Masih menurut WHO, penyemprotan alkohol di seluruh tubuh tidak akan membunuh virus corona yang telah masuk ke dalam tubuh, sebaliknya malah akan berbahaya karena akan mengiritasi kulit serta melukai selaput lendir seperti mulut dan mata. Alkohol 60% dapat digunakan dengan menyemprotkannya ke tangan untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh. Namun, perlu diperhatikan, terlalu sering Sobat menyemprotkan alkohol ke tangan dapat menyebabkan kulit menjadi kering sampai timbul iritasi.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/health-topics/coronavirus
    2. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    3. Myth busters [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
    4. Bayan L, Hossain Koulivand P, Gorji A. Garlic: a review of potential therapeutic effects. NCBI [Internet]. 2014 [cited 20 March 2020];v.4(1); Jan-Feb 2014. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4103721/
    5. Staff L. 13 Coronavirus myths busted by science [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/coronavirus-myths.html
    6. Lockerd Maragakis, M.D., M.P.H. L. Coronavirus Disease 2019: Myth vs. Fact [Internet]. Johns Hopkins. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/2019-novel-coronavirus-myth-versus-fact
    Read More
  • Penyebaran infeksi Corona virus telah dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization). Arti dari pandemi adalah wabah yang menyerang hampir seluruh belahan dunia. Lalu bagaimana virus ini dapat menyebar dengan cepat? Seperti yang diketahui bahwa penyebaran virus corona disebabkan akibat kontak dengan penderita, baik dari droplet penderita (bersin atau batuk) […]

    Berapa Lama Virus Corona Hidup pada Benda di Sekitar Kita?

    Penyebaran infeksi Corona virus telah dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization). Arti dari pandemi adalah wabah yang menyerang hampir seluruh belahan dunia. Lalu bagaimana virus ini dapat menyebar dengan cepat?

    Seperti yang diketahui bahwa penyebaran virus corona disebabkan akibat kontak dengan penderita, baik dari droplet penderita (bersin atau batuk) maupun dari benda yang terkontaminasi droplet penderita lalu kita pegang dan kemudian masuk ke saluran pernapasan melalui hidung maupun mulut. Oleh sebab itu, menjaga jarak dengan pasien penderita COVID-19 atau pasien yang dicurigai menderita COVID-19 sangat diperlukan. Minimal jarak yang ditetapkan adalah 1 sampai 2 meter.

    Lalu, apakah virus corona dapat hidup di luar tubuh manusia dan berapa lamakah virus corona dapat bertahan di luar tubuh manusia? Jawabannya ya, virus corona dapat bertahan hidup di luar tubuh sel inang atau host (manusia atau hewan) namun tidak dapat berkembang biak di luar tubuh sel inangnya dan hanya bertahan beberapa waktu saja tergantung dari permukaannya.

    Penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases’ laboratory of Virology in the Division of Intramural Research di Hamilton, Montana menyatakan bahwa coronavirus yang disemprotkan ke udara menjadi partikel airborne dapat bertahan hidup di udara selama 1-3 jam. Hasil penelitian ini telah dicantumkan pada jurnal kedokteran New England Journal of Medicine pada 17 maret 2020. Artinya, ketika pasien dengan COVID-19 bersin atau batuk, partikel aerosol yang ada di udara dapat bertahan selama 1-3 jam.

    Sedangkan pada beberapa penelitian lainnya menyebutkan bahwa virus corona dapat bertahan hidup selama 4 jam pada besi, 24 jam bertahan hidup di atas permukaan kayu, dan lebih dari 3 hari dapat bertahan hidup pada permukaan plastik dan stainless steel. Tetapi ada banyak faktor yang dapat memengaruhi lama hidup virus corona di atas permukaan tersebut, antara lain suhu, kelembapan, paparan sinar matahari atau paparan suhu yang terlalu dingin.

    Oleh karena itu, Lembaga pusat pengendalian penyakit atau CDC (Centers for Disease control and Prevention) merekomendasikan untuk membersihkan permukaan benda yang sering digunakan setiap hari seperti telepon seluler, gagang pintu, toilet, dan komputer dengan menggunakan cairan pembersih, cairan antiseptik atau alkohol 70% untuk membunuh virus corona. Sehingga, secara tidak langsung dapat meminimalkan penyebaran virus corona. Selain itu, biasakan cuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol setelah memegang benda atau permukaan benda.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burhan E, Isbaniah F, Dwi Susanto A, Yoga Aditama T. Pneumonia COVID 19, Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2020.
    2. Publishing H. Coronavirus Resource Center – Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: health.harvard.edu/diseases-and-conditions/coronavirus-resource-center
    3. New coronavirus stable for hours on surfaces [Internet]. National Institutes of Health (NIH). 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: nih.gov/news-events/news-releases/new-coronavirus-stable-hours-surfaces
    4. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Environmental Cleaning and Disinfection Recommendations [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/organizations/cleaning-disinfection.html
    5. Writer Y. Here’s how long the coronavirus will last on surfaces, and how to disinfect those surfaces. [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/how-long-coronavirus-last-surfaces.html

     

    Read More
  • Saat membaca pemberitaan mengenai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), seringkali digunakan istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Apakah Sobat sudah mengetahui perbedaanya? Kapankah harus memeriksakan diri ke Rumah Sakit? Mari simak artikel di bawah ini. COVID-19 adalah jenis penyakit baru yang ditemukan pertama kali di Kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. […]

    Perbedaan Orang dalam Pemantauan dan Pasien dalam Pengawasan COVID-2019

    Saat membaca pemberitaan mengenai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), seringkali digunakan istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Apakah Sobat sudah mengetahui perbedaanya? Kapankah harus memeriksakan diri ke Rumah Sakit? Mari simak artikel di bawah ini.

    COVID-19 adalah jenis penyakit baru yang ditemukan pertama kali di Kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan SARS-COV-2. Setidaknya ada dua jenis coronavirus lainnya yang menimbulkan gejala berat seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Gejala klinis dari COVID-19 adalah gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk, dan sesak nafas. Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan percik renik (droplet) saat batuk atau bersin.

    Berdasarkan definisi operasional yang keluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,

    • Orang Dalam Pemantauan (ODP) adalah:
      Seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan
      DAN
      Tidak ada penyebab lain berdasarkan gejala klinis yang meyakinkan
      DAN
      Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.
    • Pasien dalam Pengawasan (PDP) adalah:
    1. Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat.

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    1. Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19
    2. Seseorang dengan gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat di area transmisi lokal di Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
    • Kasus konfirmasi adalah seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.
    • Kontak probabel adalah PDP yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi tidak dapat disimpulkan.4

    Apabila ditemukan kasus PDP maka perlu dilakukan pemantauan dan penelusuran lebih lanjut terhadap kontak erat termasuk keluarga maupun petugas kesehatan yang merawat pasien. Kontak erat risiko rendah wajib dilakukan observasi selama 14 hari, apabila PDP dinyatakan negatif COVID-19 maka kegiatan pemantauan dapat dihentikan, bila PDP dinyatakan probabel/positif COVID-19 maka digolongkan sebagai kontak erat risiko tinggi. Kontak erat risiko tinggi wajib dilakukan observasi dan pengambilan spesimen oleh petugas laboratorium setempat, apabila hasil pemeriksaan laboratorium positif maka pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan.4

    ODP wajib melakukan isolasi diri di rumah dan dilakukan pengambilan spesimen oleh petugas laboratorium setempat. ODP perlu dipantau secara berkala untuk dievaluasi apabila terjadi perburukan gejala selama 14 hari. Bila hasil pemeriksaan positif maka pasien di rujuk ke rumah sakit rujukan, begitu pula bila ODP memenuhi kriteria PDP selama pemantauan 14 hari tersebut segera di rujuk ke rumah sakit rujukan. Pemantauan yang dilakukan dalam bentuk pemeriksaan suhu tubuh dan skrining gejala harian yang dilakukan oleh petugas kesehatan setempat. Jenis pemeriksaan spesimen pada COVID-19 bisa diambil dari uji usap hidung, tenggorok, pemeriksaan dahak, dan jaringan saluran pernafasan. Spesimen dikirim ke laboratorium dan dilakukan pemeriksaan dengan metode spesimen Polymerase Chain Reaction (PCR).

    Kini setelah Sobat Sehat telah mengetahui perbedaan keduanya, yuk kita sama-sama lebih menjaga kesehatan pribadi dan selalu waspada. Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019
    2. Wuhan novel coronavirus: epidemiology, virology and clinical features [Internet]. GOV.UK. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-background-information/wuhan-novel-coronavirus-epidemiology-virology-and-clinical-features
    3. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24 [cited 2020 Jan 27];0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    4. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    5. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 19]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html

     

    Read More
  • Apakah Sobat pernah mengalami flu biasa? Saat mengalami flu biasa, Sobat tentu akan merasa hidung tersumbat, kadang disertai batuk dan demam. Itu merupakan tanda dan gejala infeksi saluran napas atas. Namun akhir ini dunia dihebohkan dengan virus baru yang bernama Coronavirus (COVID-19). Virus Corona dimulai di Negara Cina, Wuhan, kemudian menyebar ke berbagai negara. Sampai […]

    Cermat Bedakan Flu Biasa dan Corona

    Apakah Sobat pernah mengalami flu biasa? Saat mengalami flu biasa, Sobat tentu akan merasa hidung tersumbat, kadang disertai batuk dan demam. Itu merupakan tanda dan gejala infeksi saluran napas atas. Namun akhir ini dunia dihebohkan dengan virus baru yang bernama Coronavirus (COVID-19). Virus Corona dimulai di Negara Cina, Wuhan, kemudian menyebar ke berbagai negara. Sampai saat ini belum didapatkan pengobatan dan vaksin yang khusus untuk virus Corona tersebut. Infeksi Corona memiliki beberapa tanda dan gejala yang sama seperti flu.1,2 Kalau begitu bagaimanakah kita membedakan keduanya?

    Flu biasa atau Common Cold merupakan infeksi saluran napas atas (ISPA). Pada umumnya, flu biasa disebabkan oleh virus, terutama Human Rhinovirus (HRV) yang menyebabkan >50% ISPA. Penyebab lain yang menyebabkan flu biasa adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), Adenovirus, bakteri dan lain-lain. Tanda dan gejala yang timbul adalah batuk, pilek, bersin, nyeri tenggorokan dan demam. Selama 5-7 hari tanda dan gejala tersebut akan hilang. 3 Flu biasa dapat ditularkan melalui droplet dari orang terinfeksi yang dikeluarkan saat bersin atau batuk. Droplet ini dapat menginfeksi Sobat jika masuk ke saluran pernapasan atau mulut. Pencegahannya mudah, jagalah kebersihan dengan mencuci tangan pada saat yang tepat dan pakailah masker saat sedang sakit. Jika tidak memiliki masker, Sobat dapat melakukan etika batuk dengan benar untuk mencegah droplet tersebar.4 Untuk pengobatan flu biasa jarang diperlukan antibiotik karena penyebab terseringnya adalah virus. Pengobatan terutama ditujukan untuk meredakan tanda dan gejala.

    Virus Corona berbeda dan lebih berbahaya dibandingkan flu biasa karena menyebabkan infeksi saluran napas bawah. Tanda dan gejala yang timbul saat terinfeksi virus corona adalah demam, batuk, dan sesak napas. Tanda dan gejala timbul setelah 2-14 hari terpapar dengan virus tersebut.1 Hingga saat ini, virus Corona sudah menyebar ke berbagai negara, diantaranya yaitu Cina, Korea, Jepang, Singapore, Australia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Kambodia, hingga benua Eropa, Amerika dan akhir-akhir ini Indonesia dengan 2 kasus baru.5

    Penularan virus corona terjadi melalui droplet yang diproduksi oleh orang yang terinfeksi, sama seperti dengan flu biasa. Droplet dapat menginfeksi Sobat juga, masuk melalui saluran pernapasan, mulut, atau mata.1,2 Untuk pencegahan sama seperti flu biasa yakni selalu jaga kebersihan dengan mencuci tangan pada saat yang tepat dan pakailah masker jika Sobat sedang sakit. Droplet akan tertahan dengan masker sehingga tidak tersebar ke orang lain. Hal ini kurang efektif jika orang sehat yang menggunakan masker, karena tidak ada droplet yang dihentikan.6 Pengobatan dan vaksin yang spesifik untuk virus Corona belum ditemukan sampai saat ini. Pengobatan sama dengan flu biasa, ditujukan untuk meredakan tanda dan gejala yang memperberat tubuh menjalankan fungsi normalnya.

    Sudah jelaskah Sobat mengenai perbedaan flu biasa dengan Corona? Keduanya merupakan infeksi virus, namun flu biasa pada umumnya hanya menyebabkan infeksi saluran napas atas sedangkan virus corona menyebabkan infeksi saluran napas bawah. Tentu dampaknya akan lebih berat jika terjadi infeksi saluran napas bawah. Pastikan Sobat selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dan menggunakan masker saat sakit. Jika Sobat kontak dengan keluarga atau teman yang memiliki riwayat berpergian ke Negara Cina dalam waktu dekat dan mengalami tanda dan gejala virus Corona, segeralah periksakan diri Sobat ke dokter.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Daftar Pustaka

    1. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-nCoV/summary.html
    2. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus
    3. Blaas D, Fuchs R. Mechanism of human rhinovirus infections. Molecular and Cellular Pediatrics. 2016;3(1).
    4. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/about/transmission.html
    5. Common Colds [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.cdc.gov/features/rhinoviruses/index.html
    6. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report – 42 [Internet]. WHO; 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports
    Read More
  • Saat ini dunia sedang dihebohkan dengan infeksi virus Corona. Virus ini pertama ditemukan di Cina, khususnya di kota Wuhan. Virus Corona yang diberikan nama COVID-19 oleh CDC dan WHO sudah menyebar keluar dari negara Cina. Dari data terbaru WHO, virus Corona sudah menginfeksi orang-orang di Korea, Jepang, Singapura, Australia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Kambodia, hingga benua […]

    5 Cara Tingkatkan Imun untuk Lawan Corona

    Saat ini dunia sedang dihebohkan dengan infeksi virus Corona. Virus ini pertama ditemukan di Cina, khususnya di kota Wuhan. Virus Corona yang diberikan nama COVID-19 oleh CDC dan WHO sudah menyebar keluar dari negara Cina. Dari data terbaru WHO, virus Corona sudah menginfeksi orang-orang di Korea, Jepang, Singapura, Australia, Malaysia, Vietnam, Filipina, Kambodia, hingga benua Eropa, Amerika dan Indonesia dengan 2 kasus baru.

    imun untuk lawan corona

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid-19, Mulai dari Suspek hingga Kematian

    Para ahli menemukan bahwa rata-rata virus Corona menginfeksi orang berusia diatas 49 tahun. Pasien virus Corona yang mengalami gejala berat juga ditemukan pada usia tua dengan penyakit lain seperti darah tinggi dan diabetes. Dengan kata lain, virus Corona lebih sering ditemukan pada pasien dengan sistem imun yang lemah. Jika demikian, bagaimanakah caranya Sobat meningkatkan imun tubuh untuk dapat melawan virus Corona? Kita akan membahas beberapa cara yang mudah dan mungkin sepele, namun sangat penting untuk menjaga agar sistem imun tubuh kita tetap prima!

    1. Memiliki pola makan yang baik dan benar

    Makan merupakan hal yang sehari-hari Sobat lakukan bukan? Makan merupakan asupan gizi utama agar sistem imun tubuh dapat bekerja dengan baik. Buatlah jadwal untuk makan 3 kali sehari yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam dengan teratur. Tubuh kita akan membentuk jam tubuh yang bergantung dari jadwal pola makan Sobat.

    Selain itu, makanan yang Sobat makan haruslah makanan yang bergizi. Pastikan Sobat mendapatkan makronutrien yaitu karbohidrat, protein, dan lemak dengan kandungan yang cukup. Jangan lupa untuk konsumsi mikronutrien yaitu vitamin dan mineral yang didapatkan dari buah dan sayur. Direkomendasikan untuk mengkonsumsi 3-5 porsi buah dan sayur setiap harinya.

    1. Jaga tingkat hidrasi tubuh

    Makan memang penting, namun tak kalah juga untuk Sobat minum. Air mungkin mudah diremehkan, tetapi air sangat penting agar sistem imun tubuh kita bekerja. Tubuh kita 60% terdiri dari air. Selain untuk sistem imun tubuh Sobat, air juga memiliki banyak peran yang penting agar setiap sel dalam tubuh dapat berjalan dengan baik. Minumlah 5-8 gelas sehari agar kebutuhan hidrasi Sobat terpenuhi.

    1. Istirahat dengan cukup

    Sistem imun dan sel tubuh Sobat meregenerasi saat Sobat sedang tidur. Tidur yang cukup merupakan hal yang penting karena sel-sel baru akan dibentuk untuk menggantikan sel-sel yang sudah mati. Hal ini akan menjaga agar sistem imun tubuh Sobat tetap berjalan dengan prima esok harinya. Pastikan untuk tidur selama minimal 8 jam dalam satu hari.

    Baca Juga: Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Tanpa ke Bioskop

    1. Berolahraga dengan rutin

    Tubuh yang beraktivitas dengan rutin akan menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah tinggi, dan menjaga berat badan tubuh agar tetap ideal. Dengan menjaga tubuh tetap berjalan dengan sehat, maka sistem imun tubuh juga akan berjalan dengan baik. Disarankan untuk berolahraga aerobik selama 150 hingga 300 menit setiap minggunya dengan intensitas sedang untuk dewasa.

    1. Hindari merokok

    Sobat pasti sudah mengetahui efek merokok pada tubuh bukan? Merokok dapat menurunkan imun tubuh dengan berbagai cara. Kimia-kimia yang dihirup saat merokok merupakan racun dan radikal bebas yang merusak sistem imun tubuh. Selain itu, racun dan radikal bebas juga dapat merusak sistem pembuluh darah, sistem pernapasan, dan lainnya dalam tubuh sehingga fungsi tubuh tidak dapat berjalan dengan normal. Ini juga pada akhirnya mengakibatkan sistem imun tubuh Sobat tidak efektif dalam melawan infeksi.

    Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok? Konsumsilah 6 Makanan Berikut

    Sekarang Sobat sudah mengetahui beberapa cara untuk meningkatkan imun tubuh. Tidak sulit bukan untuk melakukan hal tersebut? Menjaga sistem imun tubuh Sobat tidak hanya membantu dalam melawan virus Corona, tapi juga dari berbagai penyakit menular lainnya. Jangan lupa untuk menerapkan hal tersebut untuk Sobat, keluarga dan teman agar dapat terhindar dari infeksi virus Corona dan juga penyakit menular lain.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-nCoV/summary.html
    2. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus
    3. Novel Coronavirus (2019-nCoV) situation reports [Internet]. Who.int. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports/
    4. del Rio C, Malani P. 2019 Novel Coronavirus—Important Information for Clinicians. JAMA. 2020;.
    5. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Who.int. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    6. Publishing H. How to boost your immune system – Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/how-to-boost-your-immune-system
    7. 8 tips for healthy eating [Internet]. nhs.uk. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: nhs(dot)uk/live-well/eat-well/eight-tips-for-healthy-eating/
    8. The Water in You: Water and the Human Body [Internet]. Usgs.gov. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.usgs.gov/special-topic/water-science-school/science/water-you-water-and-human-body?qt-science_center_objects=0#qt-science_center_objects
    9. Physical Activity Guidelines for Americans [Internet]. HHS.gov. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: https://www.hhs.gov/fitness/be-active/physical-activity-guidelines-for-americans/index.html
    Read More
  • Pada tanggal 31 Desember 2019, Tiongkok melaporkan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya. Hanya dalam waktu 3 hari, pasien dengan kasus tersebut bertambah menjadi 44 pasien dan terus bertambah sampai saat ini menjadi ribuan dengan kasus kematian akibat infeksi virus ini mencapai ribuan. Pada awalnya, menurut data epidemiologi, menunjukkan 66% pasien berkaitan dengan pasar […]

    Vitamin C, Wajibkah Dikonsumsi agar Tidak Terserang Corona?

    Pada tanggal 31 Desember 2019, Tiongkok melaporkan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya. Hanya dalam waktu 3 hari, pasien dengan kasus tersebut bertambah menjadi 44 pasien dan terus bertambah sampai saat ini menjadi ribuan dengan kasus kematian akibat infeksi virus ini mencapai ribuan. Pada awalnya, menurut data epidemiologi, menunjukkan 66% pasien berkaitan dengan pasar seafood di Wuhan provinsi Hubei Tiongkok. Sampel dari pasien yang menunjukkan adanya infeksi virus Corona tipe baru yaitu 2019-nCoV. Pada tanggal 11 Febuari 2020, Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO (World Health Organization) memberi nama virus tersebut  Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

    Menurut data dunia saat ini, masih ada kasus aktif Corona virus sebanyak 39.651 kasus aktif. Dengan gejala ringan sebanyak 82% kasus (32.553 kasus) dan sebanyak 18% (7.098) kasus dengan menunjukkan gejala berat sampai kritis. Sedangkan sebanyak 48.162 kasus berhasil sembuh total dan sebanyak 3.119 kasus berakhir dengan kematian. Kasus infeksi virus Corona tersebar dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang pada tanggal 2 Maret 2020 lalu ditemukan kasus baru terinfeksi virus korona sebanyak 2 kasus.

    Baca Juga: Vitamin Untuk Kamu yang Suka Begadang

    Cara penularan terutama menginfeksi dewasa atau anak usia lebih tua, dengan gejala yang ringan seperti common cold dan faringitis sampai gejala lebih berat seperti SARS atau MERS serta beberapa tipe virus Corona lainnya dapat menyebabkan diare. Sama seperti infeksi virus lainnya, infeksi virus Corona sangat dipengaruhi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh, begitu juga tatalaksananya yaitu pemberian obat sesuai gejala serta meningkatkan daya tahan tubuh. Apabila daya tahan tubuh sedang rendah, sedang melakukan perjalanan yang membuat sistem imun turun, serta keadaan cuaca (pada musim dingin atau semi) dapat meningkatkan penularan infeksi virus Corona.

    Karena pada dasarnya  infeksi virus Corona sama seperti infeksi virus pada umumnya yang membutuhkan daya tahan tubuh, maka salah satu pencegahan dapat dilakukan dengan mengoptimalkan daya tahan tubuh. Salah satunya dengan mengonsumsi vitamin C. Apakah benar vitamin C dapat meningkatkan daya tahan tubuh?

    Dari berbagai penelitian, disebutkan bahwa vitamin C terbukti dapat meningkatkan sistem imun dengan meningkatkan pertahanan tubuh seperti neutrofil (sel tubuh yang melawan kuman patogen seperti virus), meningkatkan antioksidan tubuh, serta meningkatkan sel T (T-cell) yang berfungsi sebagai penangkal kuman patogen di dalam tubuh. Sehingga, fungsi vitamin C dapat sebagai pencegah dan terapi pasien dengan infeksi saluran napas dan infeksi sistemik.

    Baca Juga: 5 Vitamin Penambah Stamina yang Harus Dicoba

    Penelitian lainnya menyebutkan bahwa mengonsumsi vitamin C sebanyak 200 mg setiap hari akan menurunkan risiko flu, serta menurunkan durasi terkena flu pada 8% dewasa dan 14% anak-anak. Dosis vitamin C yang diperlukan pada dewasa yang sehat hanya sebanyak 90 mg untuk laki-laki dan 75 mg pada perempuan per harinya. Apabila dosis vitamin C yang dikonsumsi melebihi 2000 mg, maka akan timbul berbagai efek samping seperti mual, muntah, nyeri perut dna diare. Vitamin C didapatkan dari berbagai makanan sehari-hari seperti strawberry, jeruk dan tomat.

    Selain vitamin C, ada beberapa cara yang dapat Sobat lakukan untuk menghindari diri dari penularan infeksi virus corona, antara lain:

    Gambar 1. Pencegahan lain infeksi Corona virus

    1. Meningkatkan daya tahan tubuh (mengonsumsi makanan yang sehat seperti buah dan sayur, suplemen vitamin C, tidur cukup minimal 6 jam per hari, olahraga setiap hari minimal 30 menit).
    2. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau alkohol minimal 60% atau hand sanitizer.
    3. Menutup hidung dan mulut ketika bersin dan batuk.
    4. Membersihkan benda yang sering dipegang setiap hari seperti handphone, komputer serta gagang pintu.
    5. Tetap tinggal di rumah apabila sedang sakit untuk mencegah penularan ke orang sekitar.
    6. Menggunakan masker medis sesuai standar apabila sedang flu.
    7. Hindari kontak dengan pasien yang terinfeksi.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burhan E, Isbaniah F, Dwi Susanto A, Yoga Aditama T. Pneumonia COVID-19 Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI); 2020.
    2. [Internet]. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: worldometers(dot)info/coronavirus/
    3. AC C, S M. Vitamin C and Immune Function. NCBI [Internet]. 2017 [cited 3 March 2020];017 Nov 3;9(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29099763
    4. Can vitamin C prevent a cold? [Internet]. Harvard Health Publishing. 2017 [cited 3 March 2020]. Available from: health.harvard.edu/cold-and-flu/can-vitamin-c-prevent-a-cold
    5. Sparks H. Health gurus advise lethal vitamin doses to fight coronavirus [Internet]. Nypost.com. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: nypost(dot)com/2020/02/27/phony-health-gurus-are-advising-deadly-vitamin-doses-to-fight-coronavirus/

    Daftar Pustaka Gambar

    Gambar 1 diunduh dari website klikpdpi(dot)com pada tanggal 3 maret 2020.

    Read More
  • Sobat, akibat maraknya penyebaran virus Corona di dunia maka masyarakat sekarang ini dibuat panik. Menurut data dunia saat ini, masih ada Corona virus sebanyak 39.651 kasus aktif. Dengan gejala ringan sebanyak 82% kasus (32.553 kasus) dan sebanyak 18% (7.098) kasus dengan menunjukkan gejala berat sampai kritis. Sedangkan sebanyak 48.162 kasus berhasil sembuh total dan sebanyak […]

    Masker, Ampuhkah Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker?

    Sobat, akibat maraknya penyebaran virus Corona di dunia maka masyarakat sekarang ini dibuat panik. Menurut data dunia saat ini, masih ada Corona virus sebanyak 39.651 kasus aktif. Dengan gejala ringan sebanyak 82% kasus (32.553 kasus) dan sebanyak 18% (7.098) kasus dengan menunjukkan gejala berat sampai kritis. Sedangkan sebanyak 48.162 kasus berhasil sembuh total dan sebanyak 3.119 kasus berakhir dengan kematian. Kasus infeksi virus Corona tersebar dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang baru-baru ini ditemukan kasus baru terinfeksi virus korona sebanyak 2 kasus.

    Baca Juga: Mengapa Terjadi Covid-19 Saat PSBB Transisi?

    Dengan terdeteksinya kasus baru di Indonesia, tentu saja membuat masyarakat Indonesia berbondong-bondong memborong masker, antiseptik dan berbagai jenis alat pelindung tubuh untuk menangkal terjangkitnya virus Corona. Sehingga, harga masker dan antiseptik mendadak membludak naik dan sulit dicari. Namun, apakah sebenarnya kita membutuhkan menggunakan masker? Lalu, kapan sebaiknya kita benar-benar harus menggunakan masker?

    Produk Terkait: Jual Masker Kain

    Sebelum kita membahas kapan sebaiknya menggunakan masker, kita perlu memahami cara penyebaran dari beberapa virus atau patogen dapat menular melalui kontak dekat, lingkungan atau benda yang terkontaminasi virus, droplet saluran napas, liur dan partikel airborne. Droplet merupakan partikel berisi air (misalnya, air yang keluar saat kita bersin) dengan diameter >5um. Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu, biasanya 1 meter ke permukaan mukosa yang rentan (seseorang dengan daya tahan tubuh yang rendah). Partikel droplet terbilang cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam beberapa waktu yang lama.

    Produksi droplet berasal dari saluran napas diantaranya batuk, bersin atau berbicara serta saat pasien melakukan tindakan invasif prosedur respirasi sputum atau bronkoskopi dan insersi tuba trakea. Sedangkan partikel airborne merupakan partikel dengan ukuran <5um yang dapat menyebar dengan jarak jauh dan masih sangat infeksius. Patogen airborne menyebar  melalui kontak. Kontak langsung merupakan penyebaran virus secara langsung melalui kulit, mukosa, darah, cairan darah yang masuk ke dalam membran mukosa atau kulit yang rusak atau luka.

    Baca Juga: 12 Cara Mencegah Hepatitis B

    Prinsip pencegahan dan strategi penyebaran virus Corona secara umum masih belum dapat dilakukan dengan cara vaksinasi, karena belum ditemukan vaksinasi virus COVID-19. Cara terbaik menghindari tertularnya infeksi virus Corona adalah dengan cara menghindari paparan yaitu dengan cara:

    • Cuci tangan dengan sabun setidaknya 20 detik. Gunakan hand sanitizer berbasis alkohol setidaknya mengandung alkohol 60% apabila air dan sabun tidak tersedia.
    • Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.
    • Hindari kontak dengan orang yang sakit.
    • Saat Sobat sedang sakit, gunakan masker medis, dan tetap tinggal di rumah saat sakit dan hindari aktivitas di luar rumah.
    • Tutup mulut saat batuk dan bersin dengan tisu, serta buang tisu di tempat sampah.
    • Bersihkan dan lakukan desinfeksi secara rutin permukaan benda yang sering Sobat sentuh, misalnya handphone, gagang pintu dan komputer.

    Gambar 1. Bagian Masker

    Menggunakan masker medis merupakan salah satu cara pencegahan penularan infeksi virus Corona, namun penggunaan masker saja tentunya tidak cukup untuk melindungi seseorang dari infeksi virus COVID-19, harus disertai dengan usaha lainnya seperti meningkatkan daya tahan tubuh, mencuci tangan dengan sabun dan alkohol.

    Penggunaan masker medis tidak sesuai indikasi sangat tidak diperlukan, yang memerlukan masker adalah orang yang sedang sakit serta tenaga medis yang berinteraksi sering dengan pasien yang terpapar virus Corona. Selain menambah beban ekonomi, penggunaan masker yang salah dapat mengurangi keefektivitasannya dan  dapat membuat masyarakat awam mengabaikan pentingnya usaha pencegahan lainnya yang sama seperti higienitas tangan dan perilaku hidup sehat.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Seputar HIV Aids

    Berikut ini cara penggunaan masker medis yang tepat dan sesuai:

    1. Gunakan masker dengan menutupi mulut dan hidung, kemudian rekatkan dengan baik untuk mencegah celah antara masker dengan wajah.

    Gambar 2: Cara menggunakan  masker wajah

    1. Saat digunakan hindari menyentuh bagian depan masker.
    2. Lepas masker dengan teknik yang benar (jangan menyentuh bagian depan masker (sentuh bagian dalam masker yang tidak berwarna atau bagian tali masker).
    3. Segera cuci tangan setelah melepas masker.
    4. Gunakan masker baru dan kering, segera ganti masker apabila sudah terasa basah atau lembap.
    5. Hindari menggunakan masker bergantian dengan orang lain.
    6. Jangan menggunakan masker yang telah digunakan sebelumnya.
    7. Buang masker ke tempat sampah medis.
    8. Masker pakaian seperti katun tidak direkomendasikan karena virus masih dapat masuk.

    Semoga Sobat dapat lebih bijaksana dalam menggunakan masker medis, dan jangan lupa meningkatkan daya tahan tubuh serta cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burhan E, Isbaniah F, Dwi Susanto A, Yoga Aditama T. Pneumonia COVID-19 Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI); 2020.
    2. Isbaniah, dr, Sp.P F, Dwi Saputro, dr, Sp.A D, Agustina Sitompul, dr, Sp.P P, Manalu, dr, Sp.An, KIC R, Setyawati, Dr,dr,, MBiomed V. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCoV). 1st ed. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P); 2020.
    3. [Internet]. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: worldometers(dot)info/coronavirus/
    4. When and how to use masks [Internet]. Who.int. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: who(dot)int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/when-and-how-to-use-masks
    5. O’kane C, Lynch Baldwin S. Should you wear a face mask to protect against coronavirus? [Internet]. Cbsnews(dot)com. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: cbsnews(dot)com/news/coronavirus-face-mask-symptoms-prevent-protect/

     

    Daftar Pustaka Gambar

    Gambar 1 dan 2 diunduh dari website doctorxdentist(dot)com/surgical-masks-vs-n-95-respirators-shield-against-wuhan-virus-part-1 pada tanggal 3 Maret 2020.

    Read More

Showing 41–50 of 51 results

Chat Asisten ProSehat aja