Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ covid19”

  • Sesuai dengan anjuran WHO dan UNICEF per 21 Agustus 2020, pemakaian masker pada anak baru-baru ini menjadi hal yang wajib dilakukan selama masa pandemi virus Corona untuk mengurangi penyebaran virus asal Wuhan ini. Meskipun begitu, kedua badan PBB tersebut menyatakan bahwa anak yang diwajibkan memakai masker adalah mereka yang berusia 12 tahun ke atas, karena […]

    Aturan Penggunaan Masker Pada Anak dan Tips Memakainya

    Sesuai dengan anjuran WHO dan UNICEF per 21 Agustus 2020, pemakaian masker pada anak baru-baru ini menjadi hal yang wajib dilakukan selama masa pandemi virus Corona untuk mengurangi penyebaran virus asal Wuhan ini. Meskipun begitu, kedua badan PBB tersebut menyatakan bahwa anak yang diwajibkan memakai masker adalah mereka yang berusia 12 tahun ke atas, karena pada kelompok usia ini ternyata seringkali berinteraksi dengan orang dewasa, dan physical distancing sulit diterapkan oleh mereka. Apalagi berdasarkan riset terbaru, anak remaja ternyata lebih berpotensi terinfeksi virus Corona jika dibandingkan dengan dengan anak-anak yang usianya muda. Masker untuk anak ini setidaknya dapat mencegah penularan virus Corona pada mereka, walaupun bukti mengenai hal tersebut masih sedikit dan cara penularannya pun masih dipelajari. 

    masker untuk anak, masker bagi anak

    Baca Juga: Masker, Ampuhkah Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker?

    Anjuran WHO Mengenai Pemakaian Masker Pada Anak Sesuai Umur

    Anak Usia 12 Tahun ke Atas

    Anak-anak usia ini diwajibkan memakai masker seperti orang dewasa terutama ketika mereka tidak bisa menjaga jarak dari orang lain, karena mereka lebih rentan dan berisiko lebih tinggi tertular virus Corona.

    Anak Usia 6-11 Tahun

    Untuk kelompok anak usia 6-11 tahun, keharusan memakai masker tergantung pada beberapa faktor risiko yang harus diperhitungkan, antara lain intensitas penularan di suatu daerah, kemampuan anak untuk menggunakan masker, serta apakah anak berinteraksi dengan orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus Corona atau tidak. WHO juga menekankan perlunya pengawasan orang dewasa untuk membantu anak memakai dan melepaskan masker dengan aman.

    Baca Juga: 3 Tips Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Selama Pandemi

    Anak Usia 5 Tahun ke Bawah

    Menurut WHO, balita atau anak-anak berusia dibawah 5 tahun dalam keadaan normal tidak diharuskan mengenakan masker.

    Itulah aturan penggunaan masker untuk anak. Lalu bagaimana caranya anak mau menggunakan masker supaya mereka tidak tertular virus Corona terutama anak usia 12 tahun ke atas yang harus memakai masker ketika di tempat-tempat umum? Yuk, tanpa berlama-lama, simak tipsnya berikut ini.

    Tips Memakai Masker Pada Anak

    Ajak Mereka Langsung Memilih Masker yang Ingin Dipakai

    Ketika Sobat membeli masker buat anak terutama masker kain sesuai anjuran American Academy of Pediaterics (APA), coba ajaklah anak untuk memilih sendiri motif masker untuk dirinya. Atau ketika Sobat membuat masker kain itu sendiri, libatkanlah mereka dalam proses pembuatannya. Namun bagaimana jika masker sudah telanjur dibeli? Siasatilah dengan mengajak mereka untuk membuat dekorasi tambahan seperti menuliskan inisial nama. Cara seperti ini akan menciptakan rasa kepemilikan anak terhadap masker sehingga mereka juga secara tidak langsung menyadari menjadi bagian dari pencegahan penularan virus Corona.

    Baca Juga: Masker Habis? Ini Caranya untuk Membuat Masker Sendiri

    Jadilah Contoh untuk Anak

    Anak-anak akan selalu meniru apa yang diperbuat dan diucapkan oleh orang tuanya. Jadi, biarkan anak melihat secara langsung jika Sobat sebagai orang tua juga bisa beraktivitas seperti biasa ketika menggunakan masker dan tetap terlihat nyaman.

    Jelaskan Pada Anak Memakai Masker Itu Menyehatkan

    Orang tua sebaiknya tidak lupa mengedukasi anak-anak mengenai fungsi masker di masa pandemi seperti sekarang ini. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa penggunaan masker tidak hanya berguna sebagai pelindung diri tapi juga pelindung orang-orang di sekitar. Apabila anak tidak merasa nyaman dan takut, janganlah dimarahi, tetapi coba dengarkan hal-hal yang membuatnya takut kemudian tenangkan, dan yakinkan bahwa memakai masker itu adalah salah satu cara menjaga tubuh tetap sehat selama pandemi.

    Buatlah Jadwal Rutin di Rumah Latihan Memakai Masker

    Cara lain supaya supaya anak mau menggunakan masker adalah dengan latihan memakai masker di dalam rumah seperti membuat semacam ritual memakai masker bersama seluruh anggota keluarga di rumah selama 30 menit. Hal ini tentu akan membentuk persepsi anak bahwa menggunakan masker bukanlah hal yang aneh, sehingga nantinya mereka akan percaya diri memakai masker di tempat umum seperti di sekolah.

    Cari Masker yang Paling Nyaman Digunakan

    Apakah masker kain yang selama ini digunakan cukup nyaman untuk anak Sobat? Hal ini sungguh sesuatu yang relatif karena masker kain itu bisa nyaman, bisa tidak. Karena itu, coba tanyakan apakah masker yang sudah dipakai anak itu nyaman atau tidak sama sekali? Kalau nyaman, bersyukurlah. Tetapi kalau tidak nyaman, sebaiknya Sobat segera mempelajari bahan kain apa saja yang bisa membuat anak bisa lebih tenang ketika menggunakan masker kain. Cobalah lakukan pengujian bahan tersebut setelahnya apakah nyaman untuk bernapas atau berbicara.

    Baca Juga: Seperti Apa Plus-Minus Penggunaan Face Shield?

    Jangan Terlalu Memaksa

    Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu memaksa terutama pada anak usia 3 tahun ke bawah, dimana memang menurut WHO dalam keadaan normal tidak perlu memakai masker. Karena itu, lakukan secara bertahap, biarkan hingga mereka benar-benar merasa nyaman memakai masker.

    Bolehkah Anak Memakai Masker Medis?

    Jawabannya tentu saja tidak boleh, karena masker medis diperuntukkan bagi petugas medis. Itu artinya anak harus memakai masker kain seperti yang sudah dianjurkan. Akan tetapi, bagi anak-anak dengan penyakit tertentu, seperti fibrosis kistik atau kanker, justru sebaiknya menggunakan masker medis, yang tentu harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada penyedia layanan kesehatan. Hal ini dikarenakan anak dengan penyakit berat seperti ini akan memiliki risiko tertular virus Corona yang lebih tinggi, atau justru bisa menularkan penyakit mereka ke orang lain. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak yang memiliki gejala mengarah pada Covid-19. Mereka sebaiknya menggunakan masker medis selama berada dalam masa isolasi. Selama periode ini, anggota keluarga atau pengasuh yang datang dalam jarak 1 meter juga harus memakai masker supaya tidak tertular.

    Baca Juga: Ingin Aman Memakai Masker Saat Berolahraga? Berikut Tipsnya!

    Itulah mengenai penggunaan masker pada anak yang sudah menjadi keharusan di masa pandemi virus Corona seperti saat ini, terutama pada kelompok anak berusia 12 tahun ke atas. Hal ini mengindikasikan bahwa pemakaian masker itu tetap merupakan hal yang penting selama masa pandemi. Karena itu, hal ini jangan disepelekan supaya virus Corona tidak menyebar terlalu luas sehingga penananganannya pun tidak membuat repot pihak-pihak yang terkait, terutama petugas medis.

    Apabila Sobat mempunyai pertanyaan atau memerlukan informasi lebih lanjut mengenai virus Corona beserta rapid test silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Media K. Pedoman Baru WHO soal Covid-19, Anak Usia 12 Tahun Wajib Pakai Masker Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 25 August 2020]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/08/24/080200423/pedoman-baru-who-soal-covid-19-anak-usia-12-tahun-wajib-pakai-masker?page=all
    2. Pramudiarja A. 3 Saran WHO Soal Penggunaan Masker pada Anak [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 25 August 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5143825/3-saran-who-soal-penggunaan-masker-pada-anak
    3. Prasasti G. Saran Pemakaian Masker pada Anak Dengan Kondisi Khusus dan Disabilitas Dari WHO [Internet]. liputan6.com. 2020 [cited 25 August 2020]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/4337874/saran-pemakaian-masker-pada-anak-dengan-kondisi-khusus-dan-disabilitas-dari-who
    4. 6 Cara Agar Anak Mau Memakai Masker | Parentstory Blog [Internet]. Parentstory.com. 2020 [cited 25 August 2020]. Available from: https://www.parentstory.com/blog/6-cara-agar-anak-mau-memakai-masker
    Read More
  • Sejak Corona merambah secara global mulai awal 2020, banyak kebiasaan baru yang diterapkan oleh seluruh masyarakat di dunia termasuk juga di Indonesia. Kebiasaan-kebiasaan baru itu dilakukan untuk tujuan kesehatan, yaitu supaya penyebaran virus Corona menjadi terkendali dan tidak terlalu banyak menyebar ke segala tempat. Adapun kebiasaan-kebiasaan baru itu adalah: Cuci tangan pada air yang mengalir […]

    Jangan Sepelekan Masker dan Tips Nyaman Memakainya

    Sejak Corona merambah secara global mulai awal 2020, banyak kebiasaan baru yang diterapkan oleh seluruh masyarakat di dunia termasuk juga di Indonesia. Kebiasaan-kebiasaan baru itu dilakukan untuk tujuan kesehatan, yaitu supaya penyebaran virus Corona menjadi terkendali dan tidak terlalu banyak menyebar ke segala tempat. Adapun kebiasaan-kebiasaan baru itu adalah:

    jangan remehkan masker

    • Cuci tangan pada air yang mengalir selama 20 detik ketika akan dan setelah beraktivitas di tempat-tempat ramai
    • Menggunakan hand sanitizer apabila tidak ada tempat mencuci tangan
    • Memakai masker kain bagi orang-orang non-medis
    • Jaga jarak atau physical distancing dengan jarak 1-2 meter pada saat di keramaian
    • Memakai face shield sebagai perlindungan tambahan
    • Tetap di rumah apabila tidak ada kepentingan yang mendesak dan perlu supaya tidak terjangkit penyakit.

    Baca Juga: Plus-Minus Penggunaan Face Shield

    Selain kebiasaan-kebiasaan baru, beberapa kebiasaan lama juga kembali digaungkan seperti tidak stres secara berlebihan, olahraga dengan teratur supaya imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik, serta banyak mengonsumsi buah dan sayuran sebagai cara alami menghindari diri dari virus Corona atau COVID-19.

    Salah satu yang cukup menarik perhatian dalam kebiasaan-kebiasaan baru adalah penggunaan masker. Kini di mana pun tempatnya, kebanyakan orang akan memakai masker terutama saat beraktivitas di luar rumah seperti kantor, sekolah, dan fasilitas publik lainnya. Penutup mulut dan hidung ini menjadi salah satu benda wajib selama masa pandemi ini apalagi beberapa jasa pelayanan publik seperti KRL mewajibkan pengguna setianya memakai masker saat di dalam stasiun atau kereta api. Apabila tidak memakai masker tentu saja tidak diperbolehkan.

    Baca Juga: Masker Habis? Ini Caranya untuk Membuat Masker Sendiri

    Selain itu, beberapa tempat publik lainnya, seperti pasar, juga meminta para pengunjungnya untuk mengenakan masker. Jika tidak mengenakan, akan dikenakan sanksi atau dilarang masuk oleh Satpol PP yang bertugas menertibkan para pengunjung yang tidak mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi. Hal inilah yang terjadi di Pasar Kramat Jati Jakarta Timur, dimana beberapa orang yang tidak mematuhi peraturan akan langsung ditindak.

    WHO sebagai Badan Kesehatan Dunia juga telah menghimbau masyarakat dunia untuk mengenakan masker saat hendak beraktivitas dengan tujuan mencegah penularan virus Corona sejak virus asal Wuhan, Cina, itu merebak. Bahkan, pada 5 Juni 2020, WHO kembali menegaskan rekomendasinya yang berkaitan dengan pentingnya penggunaan masker. Adapun rekomendasi yang dimaksud adalah apabila ada orang yang memiliki gejala infeksi virus Corona harap segera menggunakan masker medis, konsultasi ke dokter, dan isolasi mandiri.

    Rekomendasi lainnya adalah meminta pemerintah setempat untuk menerapkan pemakaian masker pada masyarakatnya agar virus Corona terkendali dan tidak semakin banyak menyebar. Namun sayangnya, hingga saat ini masih banyak yang menyepelekan hal tersebut. Padahal, dengan memakai masker ada beberapa keuntungan yang didapat, yaitu:

    • Menurunkan risiko penularan virus bagi orang tanpa gejala
    • Menurunkan stigma masyarakat dalam penggunaan masker
    • Memberikan peran kepada semua orang dalammembantu menghentikan pandemi
    • Mengingatkan orang untuk melakukan langkah pencegahan lain

    Meskipun demikian, sebenarnya memakai masker juga ada kerugiannya, yaitu:

    • Terjadinyapeningkatan risiko self-contamination
    • Kesulitan bernapas jika tipe dan ukuran masker tidak sesuai
    • Timbul jerawat dan masalah kulit wajah lainapabila digunakan terlalu lama
    • Lebih sulituntuk berkomunikasi

    Karena menggunakan masker sudah menjadi suatu keharusan di masa pandemi ini, ada beberapa hal yang perlu Sobat perhatikan agar dapat memakai masker secara aman, nyaman, dan tepat, yaitu:

    1. Memakai Masker Tiga Lapis

    WHO menganjurkan masyarakat untuk menggunakan jenis masker tiga lapis berbahan kain yang susunannya adalah sebagai berikut:

    • Lapisan luar yang terdiri dari bahan kedap air seperti polyester
    • Lapisan tengah yang terdiri dari propylene sebagai filter atau penyaring
    • Lapisan dalam yang terdiri dari katun yang bisa menyerap

    2. Pas dan Tepat dengan Ukuran Wajah

    Memakai masker yang pas dan tepat dengan ukuran wajah tentunya akan membuat Sobat Sehat merasa aman, nyaman, serta tidak terganggu ketika beraktivitas. Karena itu, usahakan memilih masker yang tepat, dan jangan asal memilih masker.

    3. Pilih Masker yang Tetap Memudahkan Bernapas

    Memakai masker tentu saja dapat membuat nafas menjadi lebih sulit, sehingga Sobat mungkin akan melepaskan atau menurunkan masker ke dagu, yang sebenarnya justru akan meningkatkan risiko penularan virus. Karena itulah, sebaiknya Sobat pilih masker yang memang cukup nyaman untuk bernapas ketika digunakan. Kalaupun Sobat merasa tidak nyaman bernapas karena memakai masker, lepaskanlah dan jangan turunkan ke dagu ya!

    Baca Juga: Masker, Ampuhkah Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker?

    4. Cuci Tangan

    Setelah Sobat memakai masker, hendaknya untuk segera mencuci tangan supaya virus atau penyakit lainnya tidak menyebar. Cucilah tangan dengan sabun di air yang mengalir selama 20 detik atau hand sanitizer jika tempat cuci tangan tidak ada atau tidak sempat untuk cuci tangan.

    5. Cucilah Masker dengan Air Panas

    Sehabis digunakan, sebaiknya Sobat mencuci masker dengan air panas karena cara ini cukup efektif untuk membunuh kuman. Kemudian tambahkan deterjen atau sabun supaya hasilnya optimal sehingga masker dapat digunakan lagi dalam keadaan bersih sehabis dipakai.

    Jadi Sobat, itulah pembahasan mengenai pentingnya memakai masker di masa pandemi agar bisa mencegah dan menurunkan risiko penularan virus. Karena itu, jangan disepelekan ya penggunaannya. Dengan memakai masker berarti kita juga sudah membantu untuk mengurangi jumlah penderita Infeksi Virus Corona di Indonesia yang semakin hari semakin bertambah. Apalagi memakai masker saat ini pun sudah menjadi gaya hidup sehari-hari dan bukan lagi hanya dipakai orang yang sedang sakit.

    Baca Juga: Ingin Aman Memakai Masker Saat Berolahraga? Berikut Tipsnya!

    Apabila Sobat ingin mengetahui secara lengkap tentang penggunaan masker silakan tonton video Youtube di bawah ini, dan jangan lupa subscribe Youtube Prosehat.

     

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. COVID-19 G. Cara Memakai Masker yang Benar – Masyarakat Umum | Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 [Internet]. covid19.go.id. 2020 [cited 23 July 2020]. Available from: https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/cara-memakai-masker-yang-benar2
    2. 26 Pelanggar Tidak Pakai Masker di Pasar Induk Kramat Jati [Internet]. Situs Resmi Kota Administrasi Jakarta Timur. 2020 [cited 23 July 2020]. Available from: https://timur.jakarta.go.id/v15/news/Pemerintahan/6333/26-pelanggar-tidak-pakai-masker-di-pasar-induk-kramat-jati
    3. Makdori Y. Pengguna KRL Wajib Pakai Masker Mulai Hari Ini 12 April 2020 [Internet]. liputan6.com. 2020 [cited 23 July 2020]. Available from: https://www.liputan6.com/news/read/4225397/pengguna-krl-wajib-pakai-masker-mulai-hari-ini-12-april-2020
    4. Media K. Pemerintah Sebut Naik Turunkan Masker ke Dagu Berisiko Besar Tularkan Virus [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 23 July 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/07/15/08284491/pemerintah-sebut-naik-turunkan-masker-ke-dagu-berisiko-besar-tularkan-virus
    Read More
  • Pandemi COVID-19 masih berlanjut dan tampaknya belum menemukan titik terangnya. Tak hanya dalam bidang kesehatan, COVID-19 juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, pangan, ekonomi, dan ketenagakerjaan. Negara – negara di berbagai belahan dunia kini berada dalam krisis. Dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, beberapa negara dikategorikan memberikan respons pertahanan yang efektif terhadap […]

    Mengembangkan Vaksin dalam Pandemic Speed, Bagaimana dengan Indonesia?*

    Pandemi COVID-19 masih berlanjut dan tampaknya belum menemukan titik terangnya. Tak hanya dalam bidang kesehatan, COVID-19 juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, pangan, ekonomi, dan ketenagakerjaan. Negara – negara di berbagai belahan dunia kini berada dalam krisis. Dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, beberapa negara dikategorikan memberikan respons pertahanan yang efektif terhadap COVID-19. Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Singapura berhasil menekan pertambahan kasus dan angka kematian akibat COVID-19. Akan tetapi, seluruh usaha untuk mencegah penyebaran penyakit dianggap tidak bisa maksimal tanpa ditemukannya vaksin SARS-CoV-2. Lantas, sudah sampai di manakah proses pengembangan vaksin untuk mengeradikasi COVID-19?

    Baca Juga: Benarkah Berjemur Matahari Pagi Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh?

    Dalam beberapa dekade terakhir, peneliti di seluruh dunia dituntut untuk memberikan respons segera dalam mengatasi epidemi H1N1, Ebola, SARS, dan Zika. Pada tahun 2009, Vaksin H1N1 berhasil dikembangkan di tengah epidemi. Berdasarkan kilas balik sejarah, target pengembangan vaksin adalah patogen (agen penyebab penyakit) yang membebani dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi.

    Proses pengembangan vaksin secara umum melalui tahapan riset praklinis dan 4 fase uji klinis. Riset praklinis adalah tahapan untuk mempelajari patogen secara mendalam. Hal yang dipelajari di antaranya karakteristik, susunan genetik, sediaan vaksin, toksisitas, route of administration, perlukah pengulangan, masa perlindungan vaksin, dan sebagainya. Pada tahap riset praklinis, vaksin diuji efektivitas dan keamanannya pada hewan percobaan. Jika tidak ada penolakan, dilanjutkan pada uji klinis.  Uji klinis fase 1 melibatkan subyek sekelompok manusia sehat berjumlah puluhan hingga ratusan. Penilaian utama adalah keamanan vaksin dan respons imunitas.

    Fase 2 menguji efektivitas vaksin pada kelompok yang lebih besar, melibatkan ratusan hingga ribuan subyek. Dosis optimal ditentukan pada fase ini. Pada uji klinis fase 3, vaksin diuji pada populasi yang lebih beragam ( n > 10,000) dan melibatkan area yang lebih luas, kemudian dinilai apakah terdapat efek samping yang tidak muncul sebelumnya. Jika lolos fase 3, vaksin akan ditelaah oleh lembaga terkait seperti The Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum akhirnya didistribusikan secara luas. Fase 4 adalah pemantauan berkelanjutan terkait keamanan dan efektivitas setelah vaksin didistribusikan.

    Baca Juga: Lindungi Diri dan Keluarga, Lakukan 9 Langkah Ini Setibanya di Rumah

    Diperlukan waktu beberapa tahun hingga puluhan tahun untuk vaksin dapat didistribusikan secara luas. Mempelajari suatu patogen secara mendalam, melakukan trial and error pada uji klinis, menunggu legalisasi, dan memproduksi vaksin dalam jumlah besar memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang besar. Sebagai pembanding, vaksin Varicella untuk cacar air dapat didistribusikan setelah melewati proses selama 28 tahun.

    Contoh lainnya adalah vaksin Human Papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker mulut rahim memerlukan waktu 15 tahun untuk dapat dipasarkan secara umum. Sementara itu, waktu yang ditargetkan untuk pengembangan vaksin COVID-19 adalah 18 bulan. Target tersebut tidak ditentukan tanpa dasar. Faktor pendukung target yang singkat ini di antaranya adalah pengetahuan terhadap SARS-CoV-2 yang dianggap sudah memadai, teknologi pendukung yang sudah jauh berkembang, dan kesepakatan untuk mempersingkat fase uji klinis. Sampai saat ini, pada database WHO telah terdaftar lebih dari 170 kandidat vaksin dalam proses pengembangan. Tahapan terjauh adalah fase III. Bagaimana peran Indonesia dalam pengembangan vaksin ini?

    Baca Juga: Bagaimana Bersihkan Rumah Menggunakan Desinfektan Mencegah Corona?

    Sayangnya, belum ada pengembang asal Indonesia yang terdaftar dalam database WHO saat ini. Namun, bukan berarti vaksin COVID-19 buatan Indonesia itu mustahil. Dalam pengembangan vaksin, peneliti asal Indonesia sudah berhasil memproduksi beberapa vaksin di antaranya vaksin oral polio, vaksin hepatitis B, vaksin tetanus toksoid, vaksin difteri dan tetanus (DT), vaksin difteri-pertusis-tetanus (DPT), vaksin BCG, vaksin measles-rubella (MR), dan vaksin pentabio (DPT-HB-Hib).

    Vaksin–vaksin tersebut telah teruji secara klinis dan digunakan secara luas baik di dalam, maupun luar negeri. Turut mendukung program pemerintah terkait Imunisasi Wajib Dasar, penggunaan vaksin buatan Indonesia sudah merata hingga ke daerah terpencil. Saat kejadian luar biasa (KLB) difteri tahun 2018 lalu, perusahaan asal Indonesia berhasil memproduksi vaksinnya secara massal dalam merespons KLB. Pencapaian Indonesia terkait pembuatan vaksin secara mandiri patut diapresiasi. Bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu yang akan datang, Indonesia dapat memproduksi vaksin COVID-19 secara mandiri. Dengan jumlah penduduk peringkat 4 dunia, pangsa pasar Indonesia yang sangat besar seharusnya menggerakan para produsen untuk berlomba mengembangkan vaksin.

    Baca Juga: Waspada Terinfeksi Corona Tanpa Gejala

    Peneliti, perusahaan farmasi, bioengineer, dan pemerintah harus bekerja sama untuk mewujudkannya. Lalu, untuk sobat sehat dan masyarakat lainnya. Apakah bijak jika kita hanya berharap dan menunggu vaksin COVID-19 tanpa mengindahkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus? Tentu tidak. Every small thing we do matters. Jika belum bisa berkontribusi dalam pengembangan vaksin, kita bisa menjaga kesehatan diri kita dan lingkungan sekitar kita, disertai pula harapan optimis bahwa kita dapat menghadapi pandemi ini bersama.

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai corona dan rapid test, silakan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Helfert S. Historical Aspects of Immunization and Vaccine Safety Communication. Current Drug Safety. 2015;10(1):5-8.
    2. Heaton, P., 2020. The Covid-19 Vaccine-Development Multiverse. New England Journal of Medicine,.
    3. Thanh Le T, Andreadakis Z, Kumar A, Gómez Román R, Tollefsen S, Saville M et al. The COVID-19 vaccine development landscape. Nature Reviews Drug Discovery. 2020;19(5):305-306.
    4. Hendriks J, Blume S. Measles Vaccination Before the Measles-Mumps-Rubella Vaccine. American Journal of Public Health. 2013;103(8):1393-1401.
    5. Draft landscape of COVID-19 candidate vaccines [Internet]. Who.int. 2020 [cited 17 August 2020]. Available from: https://www.who.int/publications/m/item/draft-landscape-of-covid-19-candidate-vaccines.
    Read More
  • Kehamilan tentu saja merupakan suatu hal yang sangat diharapkan dari pasangan yang sudah menikah. Apalagi bagi yang sudah menikah bertahun-tahun karena akhirnya akan ada keturunan yang dihasilkan setelah melalui proses reproduksi yang dilakukan berkali-kali. Namun ketika Corona mewabah timbul pertanyaan apakah aman hamil di masa pandemi? Apalagi virus Corona adalah penyakit yang mudah menular bahkan […]

    Inilah 7 Tips Aman Hamil di Masa Pandemi

    Kehamilan tentu saja merupakan suatu hal yang sangat diharapkan dari pasangan yang sudah menikah. Apalagi bagi yang sudah menikah bertahun-tahun karena akhirnya akan ada keturunan yang dihasilkan setelah melalui proses reproduksi yang dilakukan berkali-kali. Namun ketika Corona mewabah timbul pertanyaan apakah aman hamil di masa pandemi? Apalagi virus Corona adalah penyakit yang mudah menular bahkan menurut sebuah penelitian, ibu hamil berpotensi besar tertular terutama pada trisemester ketiga kehamilan.

    hamil di masa corona, hamil di masa covid-19

    Baca Juga: Ini Dia Penambahan Berat Badan Normal Ibu Hamil

    Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bagi para ibu hamil karena bagaimana pun mereka berharap tidak tertular virus Corona. Begitu juga dengan bayi yang dikandung dan dilahirkan sehingga keduanya menjadi sehat. Apalagi bayi yang lahir pada era pandemi di masa mendatang merupakan calon kuat generasi Indonesia Emas 2045 atau 100 tahun Indonesia merayakan kemerdekaan. Generasi ini yang diharapkan dapat membangun Indonesia ke depannya.

    Lalu bagaimanakah cara aman hamil selama pandemi Corona? Yuk, mari simak tips-tips bawah ini supaya Sobat Sehat tidak khawatir saat hamil dan memeriksakan kehamilan.

    1. Tidak ke Rumah Sakit

    Hal pertama yang perlu Sobat lakukan supaya hamil aman saat Corona adalah sebaiknya tidak ke rumah sakit terlebih dahulu. Soalnya, rumah sakit adalah tempat rawan tertularnya virus Corona. Sobat boleh ke rumah sakit apabila mengalami hal-hal yang darurat dalam kehamilan seperti muntah hebat, pendarahan, pecah ketuban, nyeri perut hebat, dan tidak merasakan janin.

    Baca Juga: 4 Hal Penting Terkait Melahirkan Saat Pandemi Menurut IDAI

    2. Mengetahui Waktu yang Tepat untuk Kontrol Kehamilan

    Kontrol kehamilan merupakan salah satu cara tepat yang harus dilakukan selama pandemi. Kontrol kehamilan ini sebaiknya dilakukan pada usia kehamilan mencapai 11 minggu, 20 hingga 24 minggu, 28 minggu, 32 minggu, dan 36 minggu. Dengan mengetahui waktu yang tepat, Sobat tentu bisa menimalkan kunjungan ke fasilitas-fasilitas kesehatan supaya dapat terhindar dari Corona.

    3. Olahraga 30 Menit

    Supaya Sobat ketika hamil tetap bugar dan sehat, begitu juga dengan bayi yang dikandungnya, olahraga rutin yang disarankan sebaiknya tetap dilakukan maksimal 30 menit. Selain berolahraga, jangan lupa menyantap makanan-makanan yang bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh. Apabila kandungan sudah membesar, tidak ada salahnya menyiapkan tas untuk diisi baju yang dibutuhkan saat bersalin ke rumah sakit.

    4. Kontak Dokter Jika Mengalami Gejala Keguguran

    Apabila Sobat merasa mengalami gejala keguguran kandungan seperti pendarahan banyak yang disertai kram perut, jangan terburu-buru ke luar rumah untuk ke rumah sakit demi mencegah penyebaran virus Corona. Selama pandemi ini sebaiknya di rumah saja, dan usahakan tanya pada dokter terlebih dahulu jika mengalami gejala seperti itu untuk benar-benar memastikan.

    5. Vaksinasi di Klinik atau Rumah Sakit Kecil

    Ibu hamil tetap harus divaksinasi supaya tidak tertular penyakit seperti virus Corona. Vaksinasi yang dianjurkan untuk mereka adalah vaksinasi pneumokokus untuk paru dan vaksinasi flu. Untuk pelaksanaan dan penjadwalan dapat dilakukan di klinik atau rumah sakit kecil, dan bukan rumah sakit besar supaya tidak tertular virus Corona.

    6. Lakukan Protokol Kesehatan

    Protokol-protokol kesehatan Covid-19 tetap harus dilakukan supaya ibu hamil benar-benar terhindar dari infeksi virus Corona. Yang paling utama adalah adalah cuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir selama 20 detik, melakukan physical distancing saat berada di fasilitas kesehatan, memakai masker, jangan keluar rumah kalau tidak ada urusan yang darurat, terapkan etika batuk dan bersin yang tepat saat di fasilitas publik, dan hindari kontak dengan binatang-binatang yang berpotensi menyebarkan virus Corona.

    Baca Juga: Masker, Ampuhkah Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker

    7. Tetap Tenang dan Jangan Panik

    Tips terakhir yang bisa Sobat lakukan ketika hamil di masa pandemi adalah tetap tenang dan jangan panik. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga kesehatan mental selain kesehatan fisik. Sebab, kehamilan bisa menjadi sumber kecemasan dan stres terutama di masa pandemi yang penuh dengan banyak ketidakpastian. Supaya tidak panik, usahakan melakukan berbagai rutinitas baru dan terstruktur. Hindari membaca berita-berita yang menyebabkan kepanikan dan berisi kabar bohong atau hoaks, dan pastikan mendapatkan berita dari sumber-sumber terpercaya. Seringlah berkabar dengan teman dan kerabat supaya tidak merasa terisolasi sehingga hal tersebut bisa menguatkan Sobat lalu luangkan waktu sejenak untuk relaksasi. Kesehatan mental yang baik akan berpengaruh juga pada kandungan.

    Itulah 7 tips yang bisa dilakukan untuk Sobat yang sedang mengalami fase kehamilan di saat pandemi. Semoga tips-tips ini bisa membantu. Intinya, patuhi protokol kesehatan, tetap tenang, dan jangan panik. Apabila Sobat ingin mengetahui lebih lanjut mengenai hamil di saat pandemic, silakan tonton video Youtube berikut ini, dan jangan lupa subscribe Youtube Prosehat.

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut terutama produk-produk kesehatan untuk ibu hamil, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Pratiwi Y. Hamil saat Pandemi, Bumil Batasi Keluar Rumah dan Jangan Panik [Internet]. Tempo. 2020 [cited 13 August 2020]. Available from: https://cantik.tempo.co/read/1339860/hamil-saat-pandemi-bumil-batasi-keluar-rumah-dan-jangan-panik/full&view=ok
    2. Media K. Hamil Trimester Awal di Masa Pandemi Corona, Apa yang Harus Dilakukan? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 13 August 2020]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/13/083207520/hamil-trimester-awal-di-masa-pandemi-corona-apa-yang-harus-dilakukan?page=all
    3. Program hamil saat pandemi Corona, amankah? Begini penjelasan dokter [Internet]. theAsianparent: Situs Parenting Terbaik di Indonesia. 2020 [cited 13 August 2020]. Available from: https://id.theasianparent.com/program-hamil-saat-pandemi-corona
    4. Hamil saat Pandemi Corona, Ini Cara Lakukan Pemeriksaan Kehamilan | Page 3 [Internet]. www.jpnn.com. 2020 [cited 13 August 2020]. Available from: https://www.jpnn.com/news/hamil-saat-pandemi-corona-ini-cara-lakukan-pemeriksaan-kehamilan?page=3
    Read More
  • Berbagai perubahan situasi terjadi sejak adanya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian termasuk mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin membuat Mama menjadi bingung apakah anaknya harus tetap imunisasi sesuai dengan jadwalnya? Berikut adalah anjuran mengenai jadwal imunisasi anak […]

    Cara Imunisasi Tetap Aman Selama COVID-19

    Berbagai perubahan situasi terjadi sejak adanya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian termasuk mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin membuat Mama menjadi bingung apakah anaknya harus tetap imunisasi sesuai dengan jadwalnya? Berikut adalah anjuran mengenai jadwal imunisasi anak pada situasi pandemi COVID-19 dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

    Baca Juga: Jadwal Imunisasi Anak dan Bayi Terbaru dan Lengkap 2020

    Imunisasi dasar bagi bayi hingga anak berusia 18 bulan tergolong penting untuk dilakukan guna melindungi Si Kecil dari berbagai penyakit berbahaya. Walaupun saat ini vaksin untuk COVID-19 masih dalam tahap pengembangan, imunisasi dasar bagi bayi dan balita harus tetap dilakukan. Apabila banyak bayi dan balita yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap akan memungkinkan terjadi wabah penyakit lain yang bisa mengakibatkan banyak anak sakit berat, cacat, atau meninggal.

    Berikut adalah jadwal layanan imunisasi dasar yang harus tetap diberikan di puskesmas, praktik pribadi dokter, atau rumah sakit:

    • Imunisasi dasar
    • Segera setelah lahir : Hepatitis B 0 + OPV 0 (oral poliovirus vaccine)
    • Usia 1 bulan : BCG
    • Usia 2 bulan : Pentavalent 1 (DPT + Hepatitis B + Hib) + OPV
    • Usia 3 bulan : Pentavalent 2 + OPV 2
    • Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + OPV 3 + IPV (inactivated poliovirus vaccine)
    • Usia 9 bulan : MR 1 (vaksin campak)
    • Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + OPV 4 + MR 2

    Sebagai catatan, vaksin Pentavalent + OPV dapat diganti dengan pemberian vaksin Hexavalent, yaitu gabungan antara vaksin Pentavalent dengan IPV.

    • Imunisasi tambahan
    • Usia 2 bulan : PCV 1 (pneumococcal conjugate vaccine)
    • Usia 4 bulan : PCV 2
    • Usia 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
    • Usia 7 bulan : Influenza 2

    Jika keadaan tidak memungkinkan pada wilayah dengan penularan luas COVID-19, imunisasi Si Kecil dapat ditunda 1 bulan. Namun, sebaiknya imunisasi segera diberikan bila situasi memungkinkan. Berikut adalah tips aman untuk Si Kecil dalam melaksanakan pemberian imunisasi dasar:

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19

    • Sebelum berangkat untuk imunisasi ke puskesmas, posyandu, atau rumah sakit sebaiknya Mama membuat janji kedatangan terlebih dulu agar antrian lebih teratur dan tidak terlalu banyak anak yang berkumpul terlalu lama.
    • Pastikan berkunjung ke fasilitas kesehatan yang telah memisahkan area atau waktu kunjungan anak sehat dari pengunjung lain yang sedang sakit. Jangan lupa mencatat imunisasi yang diberikan dan menjadwalkan kunjungan imunisasi berikutnya.
    • Sediakan handrub berbahan dasar alkohol atau tetap sering cuci tangan dengan air dan sabun.1
    • Tetap melaksanakan physical distancing, yaitu menjaga jarak 1-2 meter dari orang lain, ini dilakukan karena apabila seseorang batuk atau bersin, terdapat percik renik yang mungkin mengandung virus dan bisa menyebar, lalu terjatuh ke permukaan dalam radius sekitar 1 meter.
    • Setelah melakukan imunisasi, Mama dan Si Kecil sebaiknya langsung pulang ke rumah dan usahakan tidak keluar rumah kecuali ada keperluan yang sangat penting. Sampai di rumah, segera mencuci tangan dengan air dan sabun, serta mengganti pakaian.
    • Di rumah tetap berikan Si Kecil ASI, makanan yang bergizi, jauhi orang yang sedang sakit, pastikan Mama cuci tangan sebelum menyentuh bayi, jangan mencium bayi.
    • Perhatikan bila ada tanda dan gejala COVID-19 seperti batuk, pilek, demam, atau kesulitan bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas, segera dibawa berobat ke dokter.
    • Manfaatkan aplikasi kesehatan seperti ProSehat yang melayani vaksinasi ke rumah. Cukup install aplikasi ProSehat dari Google PlayStore. Pilih layanan imunisasi anak dan pesan sekarang. Nikmati kemudahan layanan dengan dokter ke rumah Anda.

    Selain itu, bagi Mama yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Rekomendasi Imunisasi Anak pada Situasi Pandemi COVID-19 [Internet]. IDAI.

    Available from: http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/rekomendasi-imunisasi-anak-pada-situasi-pandemi-covid-19

    1. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: FAQ COVID-19. IDAI. 20 Maret 2020. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/uncategorized/faq-covid-19-dari-idai
    Read More
  • Maraknya pandemi yang terjadi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19), penting bagi Sobat yang sudah menjadi orang tua untuk mengenali apa saja yang menandakan anak terinfeksi virus SARS-CoV-2 ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk para orang tua:1 Apakah COVID-19 itu? COVID-19 adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2 […]

    Panduan COVID-19 untuk Anak-anak

    Maraknya pandemi yang terjadi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19), penting bagi Sobat yang sudah menjadi orang tua untuk mengenali apa saja yang menandakan anak terinfeksi virus SARS-CoV-2 ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk para orang tua:1

    1. Apakah COVID-19 itu?

    COVID-19 adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019.1,2

    1. Apakah COVID-19 berbahaya pada anak?

    Angka kejadian COVID-19 adalah 1% pada kelompok usia 10-19 tahun dan 0.9% pada kelompok usia <10 tahun. Sehingga pada saat ini anak merupakan kelompok dengan angka kejadian COVID-19 paling rendah. Dari penelitian lain yang dilakukan pertengahan bulan Januari 2020, kasus jarang sekali ditemukan kasus pada anak usia dibawah 15 tahun, serta bila terjadi infeksi pada anak-anak gejala yang ditimbulkan bersifat lebih ringan.1,3

    1. Di mana saja area terjangkit di Indonesia?

    Area terjangkit di Indonesia: DKI Jakarta, Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Depok, Cirebon, Purwakarta, Bandung), Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan), Jawa Tengah (Solo, Semarang, Magelang), Kalimantan Barat (Pontianak), Sulawesi Utara (Manado), Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.1

    1. Apa itu Orang dalam Pemantauan (ODP)?

    Seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gejala klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.4

    1. Pasien dalam Perawatan (PDP)?
    • Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat.

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    • Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19
    • Seseorang dengan gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat di area transmisi lokal di Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.4
    1. Bila salah satu orang tua/pengasuh terdekat menjadi ODP, apakah anak menjadi ODP juga?

    Belum tentu. Lakukan pengawasan mandiri, apabila pada anak timbul gejala, lakukan isolasi mandiri dan lapor petugas kesehatan.1

    1. Bila salah satu orang tua/pengasuh terdekat menjadi PDP, bagaimana mengetahui apakah anak sudah terjangkit?

    Belum tentu. Lakukan pengawasan mandiri, apabila pada anak timbul gejala, lakukan isolasi mandiri dan lapor petugas kesehatan.1

    1. Apa saja tanda dan gejala COVID-19 pada anak?

    Tanda dan gejala COVID-19 sebenarnya menyerupai common cold biasa yang umumnya bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan. Namun bila sudah menyerang paru-paru akan timbul radang paru yang dikenal juga sebagai pneumonia. Gejala pneumonia adalah demam, batuk, kesulitan bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas.1,5

    1. Bagaimana cara mengetahui kesulitan bernafas pada anak?

    Hitunglah jumlah pernafasan anak dalam waktu satu menit. Nafas dikatakan cepat bila pada usia 0-<2 bulan lebih dari 60 kali /menit, pada usia 2 bulan – <12 bulan lebih dari 50 kali/menit, dan usia 1-<5 tahun lebih dari 40 kali/menit. Saat menghitung nafas anak, jangan lupa perhatikan sesak nafas dengan melihat usaha tambahan untuk bernafas seperti cuping hidung yang kembang kempis dan tarikan dinding dada.1

    1. Kapan anak perlu dibawa ke dokter?

    Bila gejala anak cenderung ringan dan masih dapat ditangani sendiri di rumah, sebaiknya tidak segera berkunjung ke fasilitas kesehatan. Berikan obat demam paracetamol 10 mg/kg berat badan, dapat diulang setiap 4-6 jam selama masih demam, maksimal 5 kali dalam 24 jam. Apabila demam terus-menerus dan memasuki hari ketiga, atau ada tanda bahaya seperti anak lemas cenderung tertidur, sesak nafas, demam lebih dari 39oC atau lebih, kejang, tampak biru, muntah-muntah, buang air kecil berkurang, segera bawa ke fasilitas kesehatan.1,5

    1. Bagaimana cara mencegah tertular COVID-19 ?
    • Rajin mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor. Bila tidak ada sabun, dapat menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol.
    • Mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, bila batuk atau bersin tutuplah bagian hidung dan mulut dengan tisu atau lipat siku bagian dalam. Segera buang tisu dan cuci tangan dengan air dan sabun.
    • Menjaga jarak lebih dari 1-2 meter dari orang lain, hal ini dilakukan karena adanya percik renik yang mungkin mengandung virus yang dapat menyebar saat seseorang batuk maupun bersin. Hindari membawa anak ke tempat yang ramai dan hindari pula perjalanan keluar kota terutama dalam rangka mengunjungi kakek nenek yang merupakan kelompok risiko tinggi tertular dan sakit berat akibat COVID-19.1,6

     

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. IDAI. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: FAQ COVID-19.20 Maret 2020
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    3. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    4. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    5. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24.0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html

     

    Read More
Chat Asisten ProSehat aja