Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Author Archive for: Jesica Chintia Dewi

dr. Jesica Chintia Dewi

About dr. Jesica Chintia Dewi

Showing 1–10 of 11 results

  • Selama masa pandemi akibat penyebaran virus corona menyebabkan kita tidak bisa keluar rumah karena pemerintah membuat aturan untuk tetap tinggal di dalam rumah serta menghindari pusat-pusat keramaian, baik itu pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan juga tempat pelayanan kesehatan. Banyak sekali Sobat yang menunda rencana atau kegiatan yang harusnya dilakuan, termasuk beberapa Sobat yang memiliki buah […]

    Pilih Mana? Imunisasi di Rumah atau Faskes Selama Pandemi?

    Selama masa pandemi akibat penyebaran virus corona menyebabkan kita tidak bisa keluar rumah karena pemerintah membuat aturan untuk tetap tinggal di dalam rumah serta menghindari pusat-pusat keramaian, baik itu pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan juga tempat pelayanan kesehatan. Banyak sekali Sobat yang menunda rencana atau kegiatan yang harusnya dilakuan, termasuk beberapa Sobat yang memiliki buah hati untuk mambawanya ke fasilitas kesehatan guna mendapatkan imunisasi yang telah dijadwalkan. Lalu, apakah dalam masa pandemi seperti ini imunisasi masih wajib untuk dilakukan Si Kecil atau lebih baik ditunda saja?

    Sesuai dengan anjuran Kemenkes dan juga Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan bahwa pada masa pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, pelayanan imunisasi merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang tetap menjadi prioritas wajib untuk dilaksanakan sesuai jadwal, terutama bagi anak yang rentan tehadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (misalnya vaksin Hepatitis, Polio dan Difteri).

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi?

    Berikut ini jadwal imunisasi pada Si Kecil:

    Usia 0 bulan    : Vaksin Hepatitis B ke-0 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-0
    Usia 1 bulan    : Vaksin BCG
    Usia 2 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-1 (DPT + Hepatitis B + Haemophilus influenzae b atau Hib) + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-1
    Usia 3 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-2 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-2
    Usia 4 bulan    : Vaksin Pentavalen ke-3 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-3 + Vaksin Polio Suntik
    Usia 9 bulan    : Vaksin Campak (MR) ke-1
    Usia 18 bulan  : Vasin Pentavalen ke-4 + Vaksin Polio Oral (tetes) ke-4 + Vaksin Campak (MR) ke-2.1

    Rumah Sakit, Puskesmas, serta Klinik merupakan fasilitas umum yang biasa dikunjungi oleh orang sakit untuk datang berobat, sehingga ini menimbulkan kecemasan saat ingin membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi.1 Pelayanan imunisasi di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Klinik dan Rumah Sakit masih dapat dilakukan dengan menerapkan:

    Produk Terkait: Layanan Imunisasi ke Rumah

    1. Pilih fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan rumah tinggal.
    2. Menjaga jarak antrian 1-2 meter dengan pasien lainnya.
    3. Menggunakan masker, baik untuk pengantar dan Si Kecil.
    4. Memastikan Si Kecil dalam kondisi sehat saat diimunisasi. Jika Si Kecil mengalami demam, batuk, pilek, diare dan riwayat kontak dengan pasien OTG (Orang tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), maka segera untuk melapor ke petugas kesehatan untuk menunda jadwal imunisasi dan membuat jadwal kembali saat Si Kecil sudah dalam kondisi sehat.
    5. Memastikan Si pengantar juga dalam kondisi sehat dan tanpa riwayat kontak dengan pasien COVID-19.
    6. Datang sesuai jadwal imunisasi yang telah ditentukan oleh petugas kesehatan (petugas kesehatan akan mengatur jadwal kunjungan dengan tujuan agar pasien tidak terlalu ramai).
    7. Pada saat tiba di fasilitas kesehatan, segera cuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau hand sanitizer sebelum masuk ke dalam ruang imunisasi.
    8. Segera pulang ke rumah setelah vaksin selesai.
    9. Sesudah pelayanan imunisasi selesai, segera cuci tangan pakai sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer dan segera pulang ke rumah.
    10. Segera membersikan diri atau mandi dan cuci rambut serta mengganti semua kain/linen anak dan pengantar (pakaian, bedong, gendongan) dan lain–lain yang dibawa ke fasilitas kesehatan.1-5

    Walaupun di tengah pandemi COVID-19, Sobat harus tetap membawa Si Kecil untuk diimunisasi katena vaksin BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, Hib, Campak (MR) harus tetap dilakukan sesuai jadwal. Namun, apabila terpaksa ditunda maka maksimal mundur 2 minggu dari jadwal yang relah ditetapkan. Namun, apabila Si Kecil sedang tidak sehat atau adanya riwayat kontak dengan pasien COVID-19 (OTG, ODP atau PDP) maka imunisasi dapat ditunda sampai masa karantina selesai.1,2,4,5

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap untuk Bayi

    Melakukan imunisasi Si Kecil baik di Puskesmas, Klinik maupun Rumah Sakit masih dapat dikatakan aman apabila Sobat memperhatikan anjuran-anjuran dari Kemenkes di atas.

    Apabila Anda khawatir membawa Si Kecil utuk melakukan imunisasi di fasilitas kesehatan namun tidak mau menunda jadwal imunisasinya, disarankan untuk melaksanakan imunisasi di rumah dengan menghubungi petugas kesehatan untuk datang ke rumah. Seperti saat ini sudah kita kenal dengan nama telemedicine atau layanan kesehatan digital, salah satunya termasuk layanan imunisasi, baik bagi anak maupun dewasa. Apabila imunisasi dilakukan di rumah, tentu saja lebih aman dibandingkan imunisasi di tempat layanan kesehatan umum karena meminimalkan kontak dengan orang banyak sehingga Sobat tidak perlu khawatir Si Kecil akan terpapar dengan virus. 4,5

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Achmad, dr Y. Petunjuk Tehnis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi COVID 19. Jakarta: KEMENKES RI – GERMAS; 2020.
    2. Imunisasi dalam konteks pandemi COVID-19 [Internet]. Who.int. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/tanya-jawab-imunisasi-dalam-konteks-pandemi-covid-19-16-april-2020.pdf?sfvrsn=66813218_2
    3. PAHO urges countries to maintain vaccination during COVID-19 pandemic – PAHO/WHO | Pan American Health Organization [Internet]. Paho.org. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.paho.org/en/news/24-4-2020-paho-urges-countries-maintain-vaccination-during-covid-19-pandemic
    4. Vaccinations and COVID-19: What parents need to know [Internet]. Unicef.org. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://www.unicef.org/coronavirus/vaccinations-and-covid-19-what-parents-need-know
    5. Fadhel M. COVID-19 putting routine childhood immunization in danger: UN health agency [Internet]. UN News. 2020 [cited 29 May 2020]. Available from: https://news.un.org/en/story/2020/04/1062712

     

    Read More
  • Dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, konsultasi dengan dokter semudah dari genggaman tangan saja. Betul Sobat, kini kian marak konsultasi kesehatan hanya dengan menggunakan gadget saja. Hal ini disebut telemedicine, lalu apakah yang dimaksud dengan telemedicine? Apakah telemedicine cukup efektif dalam konsultasi antara dokter dengan pasien terutama bagi para orang tua dalam berkonsultasi mengenai kesehatan […]

    Peran dan Efektivitas Telemedicine Bagi Kesehatan Anak

    Dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, konsultasi dengan dokter semudah dari genggaman tangan saja. Betul Sobat, kini kian marak konsultasi kesehatan hanya dengan menggunakan gadget saja. Hal ini disebut telemedicine, lalu apakah yang dimaksud dengan telemedicine? Apakah telemedicine cukup efektif dalam konsultasi antara dokter dengan pasien terutama bagi para orang tua dalam berkonsultasi mengenai kesehatan anak-anak?

    Akses kesehatan yang lebih baik, efisien, berkualitas dan cost effective merupakan keuntungan utama penggunaan telekesehatan. Sulitnya akses ke tenaga kesehatan di daerah terpencil merupakan masalah yang besar di Indonesia. Penggunaan telekesehatan untuk dapat menjembatani akses dan penanganan pasien di daerah terpencil. Telekesehatan tidak memiliki batasan waktu dan tempat.

    Sobat, ada baiknya kita berkenalan dengan apa yang dimaksud dengan telemedicine ini terlebih dahulu. Telemedicine atau yang disebut dengan e-health merupakan sistem kesehatan yang diselenggarakan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pelayanan dan informasi kesehatan sehingga lebih efektif dan efisien. Diharapkan telemedicine dapat menyajikan informasi kesehatan yang tepat, akurat serta kredibel. Tentunya telemedicine telah didukung oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) dan juga KEMENKES RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia). Salah satu aplikasi kesehatan yang sudah bekerja sama dengan KEMENKES RI adalah ProSehat.

    Telemedicine meliputi konsultasi dengan dokter serta edukasi berupa artikel kesehatan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat hanya dengan genggaman gadget saja. Tujuan diadakannya telemedicine untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan dengan dokter para dokter. Sedangkan artikel kesehatan bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kesehatan dan berbagai pencegahan penyakit sebagai upaya promotif dan preventif.

    Lalu, apakah telemedicine ini berpengaruh baik bagi orangtua dalam kesehatan anak? Ya, tentu saja. Dengan adanya fasilitas e-health, memudahkan para orangtua dalam mengakses berbagai artikel kesehatan bagi anak serta bagaimana mengoptimalkan tumbuh kembang anak karena seperti yang diketahui sebelumnya, salah satu tujuan telemedicine adalah untuk mengedukasi masyarakat terutama para orang tua, membantu para orangtua memilih makanan yang tepat bagi kesehatan anak, pola asuh yang tepat bagi anak, serta dapat menolong para orang tua untuk berkomunikasi langsung dengan tenaga medis saat anak mengalami keadaan gawat darurat.

    Salah satu media pernah mencatat bahwa telemedicine mampu menyelamatkan bayi berusia 7 bulan pada tahun 2011 yang mengalami gawat darurat akibat infeksi otak meningococcemia, yang memiliki akses tempat tinggal jauh dari layanan kesehatan. Dipandu dengan telemedicine saat itu, orangtuanya tahu apa yang harus dilakukannya segera, selama dalam perjalanan ke rumah sakit.

    Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Departemen Veteran Amerika Serikat melaporkan bahwa telemedicine menghemat pasien rata-rata 142 menit dan 233 kilometer perjalanan per kunjungan. Studi lain dalam bidang neurologi juga melaporkan bahwa telemedicine menghemat pasien rata-rata 2 jam perjalanan dan 70 dolar per kunjungan. Telemedicine juga sudah diteliti mampu dilaksanakan dan menjembatani layanan kesehatan sebelum dan setelah melahirkan pada daerah pedalaman Afrika serta layanan kesehatan jiwa di pedalaman Australia. Selain keuntungan sosioekonomi yang didapat pasien, keluarga, tenaga kesehatan dan sistem kesehatan, penggunaan telemedicine juga dapat digunakan untuk edukasi dan komunikasi dua arah antara dokter-pasien terutama para orangtua dalam mengedukasi kesehatan anak.

    Selain itu, penggunaan telemedicine telah ditemukan dapat mengurangi secara langsung maupun tidak langsung jumlah rujukan. Pelaksanaan telemedicine yang menggunakan media digital tidak terbatas oleh tempat, sehingga bukan tidak mungkin bahwa pelayanan kesehatan terutama yang bersifat promotif dan preventif dilaksanakan bukan di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas saja. Kedua hal ini akan dapat membantu mengurangi kebutuhan peningkatkan kuantitas fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga telemedicine sangat baik bagi kesehatan seluruh masyarakat termasuk kesehatan anak-anak.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Hadian Rahim A. Edukasi Masyarakat Menggunakan Digital Platform [Internet]. Kemkes.go.id. 2019 [cited 23 April 2020]. Available from: https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/rakerkesnas-2019/SESI%20II/Kelompok%206/1-Edukasi-Masyarakat-Menggunakan-Digital-Platform.pdf
    2. Patriella Y. Payung Hukum Aplikasi Kesehatan Online Mendesak | Ekonomi – Bisnis.com [Internet]. Bisnis.com. 2019 [cited 24 April 2020]. Available from: https://ekonomi.bisnis.com/read/20190820/12/1138705/payung-hukum-aplikasi-kesehatan-online-mendesak
    3. P Sunjaya A. Potensi, Aplikasi dan Perkembangan Digital Health di Indonesia. Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara, Jakarta.
    4. Telehealth Saves Lives [Internet]. WeCounsel. 2018 [cited 24 April 2020]. Available from: https://www.wecounsel.com/blog/telehealth-saves-lives/
    5. Burke B, Hall R. Telemedicine: Pediatric Applications. PEDIATRICS [Internet]. 2015 [cited 24 April 2020];136(1):e293-e308. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5754191/
    Read More
  • Sobat, karena angka kejadian kasus COVID-19 semakin lama semakin meningkat, banyak sekali usahayang dilakukan masyarakat untuk membantu mematikan virus corona ini, mulai dari menggunakan masker, penggunaan hand sanitizer, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan sarung tangan, menggunakan Alat pelindung Diri (APD) saat keluar rumah, berjemur dibawah sinar matahari yang dipercaya mampu membunuh virus corona, menyemprotkan desinfektan […]

    Berbahayakah Disinfektan Disemprotkan ke Tubuh

    Sobat, karena angka kejadian kasus COVID-19 semakin lama semakin meningkat, banyak sekali usahayang dilakukan masyarakat untuk membantu mematikan virus corona ini, mulai dari menggunakan masker, penggunaan hand sanitizer, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan sarung tangan, menggunakan Alat pelindung Diri (APD) saat keluar rumah, berjemur dibawah sinar matahari yang dipercaya mampu membunuh virus corona, menyemprotkan desinfektan ke rumah-rumah warga dan jalanan, dan yang terakhir adalah menyemprotkan disinfektan ke tubuh dan pakaian menggunakan bilik disinfektan maupun menyemprotkan secara langsung menggunakan alat semprot atau spray.

    Terlalu banyak mitos-mitos yang beredar sebagai upaya dalam menghadapi virus corona, tanpa didukung dari sumber yang jelas. Lalu, apakah benar menyemprotkan disinfektan langsung ke tubuh dan pakaian seseorang (termasuk melalui bilik disinfektan) merupakan cara yang ampuh untuk membunuh virus corona? Serta, apakah sebenarnya cukup aman apabila kulit tubuh terpapar bahan disinfektan secara langsung ?

    Dilansir dari Badan Kesehatan Dunia atau dikenal dengan WHO (World Health Organization), mengatakan bahwa penyemprotan disinfektan secara langsung ke pakaian maupun tubuh manusia secara langsung sangat tidak dianjurkan. Karena, bahan-bahan disinfektan merupakan bahan kimia dengan konsentrasi yang cukup tinggi, sehingga apabila terkena bagian tubuh (terutama selaput lendir seperti mata, dan mulut), apalagi sampai terhirup sangatlah membahayakan kesehatan seseorang. Penyemprotan disinfektan yang saat ini digunakan pada bilik disinfektan di perkantoran maupun di pemukiman warga biasanya menggunakan alkohol dan juga klorin.

    Alkohol dan klorin biasanya digunakan sebagain disinfektan permukaan untuk meja, gagang pintu maupun benda lainnya yang sering dipegang. Namun, apabila terkena bagian tubuh dan juga pakaian tentunya sangat berbahaya dan berpotensi menganggu sistem kesehatan tubuh seseorang. Apalagi, bila digunakan dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu yang lama atau berkali-kali. Bayangkan, apabila seseorang masuk ke kantor setiap hari, setiap ia akan memasuki kantor harus disemprot disinfektan, misalnya saat masuk kerja dan kembali setelah jam makan siang. Berarti, minimal ia disemprot sebanyak 2 kali dalam sehari dan diulang terus setiap harinya. Bisakah Sobat bayangkan, kira-kira apa yang akan terjadi kemudian?

    Penggunaan gas klorin dan klorin dioksida akan mengakibatkan iritasi yang cukup parah terutama pada saluran napas, yang akan menimbulkan gejala pernapasan kemudian hari seperti batuk, pedih pada hidung, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, rasa kering pada tenggorokan sampai timbul sesak napas. Apabila alkohol serta klorin terkena kulit maka akan menimbulkan gejala alergi dan iritasi pada kulit seperti timbul iritasi, kemerahan, gatal, rasa panas dan terbakar pada kulit.

    Lalu, apakah bilik disinfektan yang digunakan untuk menyemprotkan disinfektan ke tubuh seseorang terbukti efektif untuk membunuh virus corona? jawabannya, Tidak. Salah satu negara yang menjadi pelopor membuat bilik disinfektan adalah China, namun para ahli justru berpendapat bahwa menyemprotkan klorin dan alkohol melalui kubik disinfektan dinilai tidak efektif karena lebih banyak efek samping yang ditimbulkan dibandingkan dengan manfaat yang dihasilkan.

    Menurut beberapa ahli, penyemprotan disinfektan lebih berguna apabila kita menyemprotkan ke permukaan benda yang sering kita pegang dan gunakan seperti gagang pintu, telepon genggam, meja, komputer, jendela, lantai dan berbagai benda lainnya. Cara lainnya yang paling penting adalah menjaga kebersihan diri seperti rajin mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker apabila timbul gejala batuk, hindari interaksi sosial, jaga jarak dengan orang lain, menerapkan etika batuk dan bersin apabila sedang berada di tempat umum, hindari sering menyentuh wajah dengan tangan, apabila setelah berpergian dari luar rumah segera mandi dan menaruh baju kotor langsung pada tempatnya untuk segera dicuci dan yang paling penting adalah menjaga imunitas tubuh (dengan cara tidur cukup minimal 6-8 jam serta olahraga yang teratur minimal 30 menit setiap harinya). Usaha-usaha ini dinilai lebih efektif dibandingkan menyemprotkan disinfektan secara langsung ke tubuh.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Sedangkan terkait informasi corona, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Myth busters [Internet]. Who.int. 2020 [cited 31 March 2020]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
    2. spraying alcohol – COVID-19 | Ministry of Health [Internet]. Health.go.ug. 2020 [cited 31 March 2020]. Available from: https://www.health.go.ug/covid/spraying-alcohol/
    3. Pramudiarja A. WHO Tak Sarankan Semprot Disinfektan, Bahaya Jika Kena Selaput Lendir [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 31 March 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4957730/who-tak-sarankan-semprot-disinfektan-bahaya-jika-kena-selaput-lendir
    4. Use of disinfectants: alcohol and bleach [Internet]. Ncbi.nlm.nih.gov. 2014 [cited 31 March 2020]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK214356/
    5. Insider B. Chinese cities are rolling out disinfectant tunnels and spray trucks to ward off the coronavirus — but experts don’t think it will work [Internet]. Business Insider Singapore. 2020 [cited 31 March 2020]. Available from: https://www.businessinsider.sg/coronavirus-china-wuhan-spray-disinfectant-tunnel-bleach-2020-2?r=US&IR=T
    Read More
  • Belakangan ini beredar kabar lewat broadcast atau grup WA bahwa sinar matahari dapat membunuh virus corona. Seorang ahli gizi komunitas, dr. Tan Shot Yen, mengatakan bahwa jam 10 merupakan waktu terbaik untuk berjemur karena sinar UVB paling tinggi dimulai dari pukul 10 pagi. Lalu, benarkah bahwa sinar matahari dapat membunuh virus corona? Lantas, benarkah matahari […]

    Benarkah Berjemur Matahari Pagi Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh?

    Belakangan ini beredar kabar lewat broadcast atau grup WA bahwa sinar matahari dapat membunuh virus corona. Seorang ahli gizi komunitas, dr. Tan Shot Yen, mengatakan bahwa jam 10 merupakan waktu terbaik untuk berjemur karena sinar UVB paling tinggi dimulai dari pukul 10 pagi. Lalu, benarkah bahwa sinar matahari dapat membunuh virus corona? Lantas, benarkah matahari jam 10 pagi adalah waktu terbaik untuk berjemur? Mari kita bahas satu persatu ya, Sobat.

    Baca Juga: Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Alami Tanpa ke Bioskop

    Sinar matahari mempunyai banyak sekali manfaat bagi tubuh. Seperti yang kita ketahui bahwa sinar matahari adalah pembentuk vitamin D di tubuh manusia. Vitamin D terbentuk dari kolesterol di kulit yang terpapar sinar matahari. Sinar UVB yang dihasilkan matahari (panjang gelombang 290-315 nm) menyebabkan photolysis yang mengubah kolesterol menjadi vitamin D.  Oleh karena itu, sangatlah penting bagi tubuh kita untuk tetap terpapar sinar matahari setiap harinya untuk menjaga kadar vitamin D dalam tubuh. 1-4

    Vitamin D mempunyai peran yang sangat penting bagi tubuh dalam menjaga kesehatan. Apabila tubuh kekurangan vitamin D, akan menyebabkan gangguan kesehatan yang cukup serius, antara lain osteoporosis, kanker, depresi, lemah otot, bahkan kematian. Selain itu, dengan dosis yang tepat, sinar matahari juga memiliki sejumlah manfaat, seperti kualitas tidur yang baik, meningkatkan mood serta meningkatkan sistem imun tubuh. 1-4

    Produk Terkait: Nature Plus Vitamin D3

    Beberapa penelitian menyatakan bahwa salah satu fungsi sinar matahari yang terpenting selain pembentuk vitamin D adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan berbagai penyakit seperti menurunkan resiko penyakit jantung, sklerosis atau kelemahan otot, penyakit autoimun, flu dan juga mengurangi risiko terkena kanker. 1-4

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Karena semakin parahnya penyebaran virus corona dalam beberapa waktu belakangan ini, banyak sumber yang tidak dapat dipercaya mengatakan bahwa paparan sinar matahari dapat membantu membunuh virus corona. Namun, menurut para ahli, hal ini belum dapat dibenarkan. Alasannya, temperatur dari sinar matahari tidak mencapai lebih dari 560 C sehingga tidak dapat membunuh virus corona.5 Karena virus corona masih merupakan virus baru, maka belum banyak penelitian yang menyatakan bahwa virus corona dapat mati dengan paparan panas matahari dan juga sinar UV.6-7

    Tidak Membunuh Virus Corona

    Dapat kita ambil simpulkan bahwa sinar matahari tidak dapat membunuh virus corona, namun sinar matahari dapat membantu Sobat meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar Sobat tidak mudah terinfeksi dengan virus corona.

    Lalu, kapan waktu yang tepat serta berapa lama waktu yang dibuutuhkan untuk berjemur dibawah sinar matahari untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ?

    Para ahli mengatakan bahwa waktu terbaik paparan sinar matahari yang baik bagi kesehatan adalah berjemur pagi hari dibawah jam 11 pagi. Namun, kadar tertinggi UVB adalah pada pukul 11-15.30, seperti yang disebutkan di atas bahwa UVB berperan dalam pembentukan vitamin D tubuh8 namun, karena tingginya sinar ultraviolet A (UV) pada tengah hari dapat menyebabkan berbagai kelainan kulit seperti kulit terbakar sehingga timbul kemerahan, penuaan pada kulit (kerutan serta flek hitam pada wajah).
    Hal yang paling ditakutkan apabila terpapar sinar matahari melebihi jam 11 pagi ialah meningkatnya risiko terkena kanker kulit. Sehingga waktu terbaik untuk berjemur antara jam 10-11 pagi.1-3

    Perhatikan Jam & Durasi Berjemur!

    Waktu berjemur yang aman mungkin tidak sama untuk semua orang, hal ini memerlukan penyesuaian seberapa lama seseorang berjemur dan dengan beberapa faktor lain seperti jenis kulit, kondisi cuaca atau lokasi geografis untuk menghindari efek samping potensial seperti terbakar matahari atau kanker kulit. Seperti halnya negara dingin atau pada musim dingin misalnya di Spanyol, paparan matahari paling baik untuk kesehatan adalah pukul 10 pagi sampai 4 sore selama 2 jam paparan sinar matahari. 1-3

    Bagaimana bila dibandingkan di Indonesia? Selama Sobat tidak memiliki komplikasi dengan paparan sinar matahari seperti kulit mudah terbakar maupun flek hitam, Sobat dapat berjemur tanpa menggunakan tabir surya selama 20 menit setiap hari, hindari paparan matahari lebih dari 30 menit karena dapat menimbulkan kemerahan pada kulit dan risiko kanker kulit. 1-3

    Baca Juga: Jaga Daya Tahan Tubuh Saat Liburan ke Bali

    Selain berjemur di bawah sinar matahari pagi, diperlukan beberapa faktor lain dalam menangkal infeksi COVID-19 yaitu dengan menjaga kebersihan tubuh, selalu mencuci tangan selama minimal 20 detik, melakukan desinfeki dengan cairan desinfektan pada barang-barang yang sering disentuh, hindari memegang wajah (terutama mata, hidung dan mulut), manjaga jarak sosial (hindari bersentuhan dengan orang lain), menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan bersin, istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi serta berolahraga yang teratur setiap harinya.7

    Produk Terkait: Obat Osteoporosis

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. How much sun is good for our health? [Internet]. ScienceDaily. 2017 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.sciencedaily.com/releases/2017/03/170308083938.htm
    2. Rayman R. How to Safely Get Vitamin D From The Sun [Internet]. Healthline. 2018 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.healthline.com/nutrition/vitamin-d-from-sun#overview
    3. Publishing H. Benefits of moderate sun exposure – Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2015 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/benefits-of-moderate-sun-exposure
    4. Repinski K. The Health Benefits of Some Sun Exposure [Internet]. Consumer Reports. 2018 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.consumerreports.org/health-wellness/sun-exposure-health-benefits/
    5. Can sun exposure kill the novel coronavirus? – Chinadaily.com.cn [Internet]. Chinadaily.com.cn. 2020 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.chinadaily.com.cn/a/202002/08/WS5e3eb7aea31012821727601d.html
    6. Roach J. UV radiation from the sun increases ‘by a factor of 10’ by summer and could be key in slowing COVID-19 [Internet]. ACCU Weather. 2020 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.accuweather.com/en/health-wellness/uv-radiation-from-the-sun-increases-by-a-factor-of-10-by-summer-and-could-be-key-in-slowing-covid-19/703393
    7. Fallon S. Spring equinox: Will season’s longer days, stronger sunlight, warmer air help kill coronavirus? [Internet]. Northjersey.com. 2020 [cited 27 March 2020]. Available from: https://www.northjersey.com/story/news/coronavirus/2020/03/20/springs-longer-days-more-sunlight-warmer-temperatures-help-kill-coronavirus-covid-19/2871156001/
    8. When is the Best Time to Get Vitamin D from Sunlight ?. [Internet]. Theralight. 2020. [cited 28 March 2020]. Available from: https://theralightinc.com/best-time-to-get-vitamin-d-from-sunlight/
    Read More
  • Sobat, saat ini dunia masih dibuat  resah dengan pandemi Corona virus atau COVID-19 karena jumlah kasus baru yang semakin lama semakin membludak dan angka kematian semakin lama semakin meningkat diseluruh belahan dunia. Saat ini per tanggal 26 maret, menurut WHO (World Health Organization) tercatat 416.686 kasus positif COVID-19 di dunia dengan angka kematian sebanyak 18.589 […]

    Apa itu Hantavirus? Benarkah Lebih Berbahaya dari Corona?

    Sobat, saat ini dunia masih dibuat  resah dengan pandemi Corona virus atau COVID-19 karena jumlah kasus baru yang semakin lama semakin membludak dan angka kematian semakin lama semakin meningkat diseluruh belahan dunia. Saat ini per tanggal 26 maret, menurut WHO (World Health Organization) tercatat 416.686 kasus positif COVID-19 di dunia dengan angka kematian sebanyak 18.589 yang tersebar di 196 negara. Sedangkan di Indonesia sendiri, sudah tercatat 893 kasus positif COVID-19 dengan angka kematian sebanyak 78 orang.1

    hantavirus

    Baca Juga: Infografik Virus Corona Terkini

    Belum selesai tugas kita memerangi dan mengendalikan virus Corona, sekarang dunia kembali dikejutkan dengan adanya virus baru yaitu Hantavirus yang diduga sama mematikannya dengan virus Corona. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Hantavirus dan benarkah lebih berbahaya bila dibandingkan dengan virus Corona?

    Apa Itu Hantavirus?

    Kasus Hantavirus pertama kali dilaporkan terjadi di China dan dikabarkan penderitanya meninggal, sehingga kembali membuat panik dunia. Belum selesai kasus virus Corona, sekarang dunia semakin dibuat panik dengan hantavirus. Hantavirus adalah virus yang ditularkan melalui perantara hewan pengerat (rodent atau tikus) yang dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan, sebelumnya hantavirus dikenal sebagai “old world” hantaviruses yang menyerang terutama di Asia dan Eropa dapat menyebabkan Hemorrhagic fever with renal syndrome yang menyerang  ginjal dengan gejala demam berdarah disertai dengan gangguan ginjal.2

    Hantavirus dapat ditularkan oleh tikus ke manusia melalui urine, tinja, air liur dan gigitan dari tikus yang terinfeksi dengan hantavirus. Apabila di rumah Sobat terdapat tikus yang sedang menggerogoti makanan, maka secara tidak langsung tikus akan meninggalkan air liur disekitarnya, apabila makanan terkontaminasi, maka Sobat akan tertular hantavirus. Oleh karenanya, sangatlah penting bagi Sobat untuk menjaga kebersihan rumah.3-5

    Seperti Apa Gejalanya?

    Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) menunjukkan gejala yang cukup berat bahkan fatal hingga berujung kematian. HPS ditularkan melalui urine tikus yang terinfeksi hantavirus. Pada manusia yang terinfeksi hantavirus akan menunjukkan gejala pernapasan yang cukup berat. 3-5

    Baca Juga: Cara Membersihkan Tempat Kerja dari Virus Corona

    Hantavirus dapat menular dari tikus ke manusia melalui urine, liur dan kotorannya, kemudian partikel virus menguap di udara kemudian terhirup manusia maka akan menginfeksi manusia, proses ini disebut airborne transmission atau transmisi udara. Namun para peneliti berpendapat, ada bebrapa cara lain virus dapat menginfeksi manusia, yaitu:

    1. Jika tikus yang terinfeksi hantavirus menggigit manusia, kemungkinan hantavirus juga akan menginfeksi manusia. Namun penularan jenis ini sangat jarang terjadi.3,5
    2. Peneliti percaya bahwa hantavirus menular dari tikus ke manusia apabila manusia memegang benda yang terkontaminasi dengan kotoran, urin dan liur tikus kemudian memegang hidung atau mulut maka hantavirus dapat menular ke manusia. 3,5
    3. Selain itu, peneliti juga berpendapat bahwa kontaminasi makanan yang terkontaminasi kotoran, urin dan liur pendertita hantavirus juga dapat berpotensi menginfeksi manusia. 3,5

    Hantavirus tidak dapat menular dari orang yang sakit ke orang yang sehat, artinya hantavirus tidak menular melalui kontak seperti berjabat tangan atau berpelukan dengan orang yang terinfeksi HPS atau pasien dengan HPS tidak dapat menularkan kepada tenaga medis yang merawatnya. 3,5

    Setiap orang akan berpotensi terjangkit HPS apabila mempunyai kontak dengan tikus atau yang berpotensi untuk kontak dengan kotoran atau urine tikus. Karena virus dapat menyebar ke udara, maka cara pencegahannya adalah bersihkan rumah agar terbebas dari hewan pengerat, menggunakan masker saat membersihkan kotoran tikus dan hindari membersihkan tikus dengan cara mem-vakum atau menyapu, mengingat bahwa partikel virus yang terdapat pada urine, liur, dan kotoran tikus dapat menguap ke udara. 3,5

    Lalu, gejala apa yang terjadi apabila seseorang terinfeksi hantavirus? Gejala awal, lelah, nyeri pada sendi, nyeri otot terutama pada otor besar seperti punggung, pinggang dan bahu. Mungkin disertai dengan nyeri kepala, lemas, sampai gangguan pencernaan seperti mual, muntah, diare dan nyeri perut.4,5

    Baca Juga: Jangan Sepelekan Masker dan Tips Nyaman Memakainya

    Gejala lanjutan biasanya terjadi antara 4-10 hari gejala awal, gejala HPS mulai timbul seperti napas pendek-pendek, batuk, dada terasa berat saat napas seperti terikat atau ditekan benda berat (hal ini terjadi karena paru-paru mulai terisi cairan). Hartavirus dapat menjadi sangat fatal, dengan angka kematian sebanyak 38%.4,5

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. World Health Organization. Experience.arcgis.com. 2020. Experience. [online] Available at: <https://experience.arcgis.com/experience/685d0ace521648f8a5beeeee1b9125cd> [Accessed 26 March 2020].
    2. Miller, R., 2020. A Case Of Hantavirus Has Been Reported In China. Here’s Why You Shouldn’t Worry.. [online] Usatoday.com. Available at: <https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/03/24/hantavirus-case-china-why-not-worry-amid-coronavirus/2907736001/> [Accessed 26 March 2020].
    3. gov. 2020. How People Get Hantavirus Infection. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/hantavirus/hps/transmission.html> [Accessed 26 March 2020].
    4. gov. 2020. Signs & Symptoms | Hantavirus | DHCPP | CDC. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/hantavirus/hps/symptoms.html> [Accessed 26 March 2020].
    5. Mayo Clinic. 2020. Hantavirus Pulmonary Syndrome – Symptoms And Causes. [online] Available at: <https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hantavirus-pulmonary-syndrome/symptoms-causes/syc-20351838> [Accessed 26 March 2020].

     

    Read More
  • Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona. Penyebaran infeksi virus corona di […]

    Kenali Apa dan Bagaimana Rapid Test Corona

    Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona.

    Penyebaran infeksi virus corona di dunia sangatlah cepat dan sudah menjadi masalah dunia atau pandemi. Menurut data yang diambil dari WHO (World Health Organization), per tanggal 23 Maret 2020 telah tercatat kasus positif corona sebanyak 294.110 kasus, dengan kasus kematian yang disebabkan karena infeksi virus corona sebanyak 12.944 kasus yang tersebar di 186 negara di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah terdeteksi sebanyak 579 kasus positif COVID-19, dengan kasus yang meninggal sebanyak 49 kasus dan kasus sembuh sebanyak 30 kasus.

    Tingginya kasus COVID-19 terurtama di Indonesia, membuat pemerintah menggalakkan salah satu upaya pendeteksi dini yang disebut rapid test corona. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan rapid test dan apakah efektif untuk mendeteksi corona ?

    Rapid test merupakan salah satu cara atau pemeriksaan yang dapat dilakukan secara cepat untuk melihat suatu adanya infeksi di dalam tubuh manusia. Pada kasus ini, rapid test corona berarti alat yang digunakan sebagai pendeteksi diri secara cepat adanya infeksi corona di dalam tubuh seseorang. Pada kasus corona, cara kerja rapid test menggunakan metode pemeriksaan kadar antibodi (sistem imun tubuh) terhadap infeksi penyakit, dalam hal ini adalah IgM dan IgG yang diambil dari sampel darah.

    IgM atau immunoglobulin M dan IgG adalah immunoglobulin G, yang keduanya merupakan bentuk antibodi atau sistem imun yang ada di dalam tubuh, yang terbentuk apabila tubuh terjadi infeksi. Selain itu, IgG bertugas sebagai sel memori yang dapat mengingat infeksi bakteri yang pernah masuk sebelumnya. Sedangkan antibodi IgM merupakan pertanda bahwa kita sedang terinfeksi virus tertentu. Intinya, saat kita terinfeksi, IgM yang paling awal naik kemudian lambat laun akan menurun dan digantikan dengan IgG. Karena rapid test merupakan test secara kasar saja, apabila hasilnya positif, maka diperlukan pemeriksaan lebih spesifik yang dilakukan di laboratorium yang ditunjuk, yaitu pemeriksaan swap tenggorokan dan swap hidung. Namun, apabila hasilnya negatif, jangan berbesar hati terlebih dahulu, dalam test ini bisa saja terjadi false negative (artinya, seseorang sedang terinfeksi namun belum terdeteksi di dalam darah), sehingga tidak menutup kemungkinan masih dapat menularkan virus ke orang lain.

    Lalu, siapa saja yag memerlukan rapid test? Bapak Presiden RI, Joko Widodo menyarankan untuk melakukan rapid test masal bagi seluruh warga Indonesia. Namun, karena alat rapid test masih terbatas, maka yang didahulukan adalah para tenaga medis, pasien dengan gejala khas (demam, batuk, pilek dan sesak napas), adanya paparan atau kontak dengan para penderita yang telah di diagnosis COVID-19 atau mempunyai riwayat perjalanan ke luar negeri atau kontak dengan seseorang yang baru pulang dari luar negeri.

    Saat rapid test, pasien ditusuk dengan jarum pada salah satu jari tangannya kemudian diteteskan ke papan rapid test, lalu ditambahkan tetesan reagen kemudian ditunggu selama beberapa menit, lalu akan timbul garis. Pemeriksaannya terbilang sangat cepat dan mudah sehingga dapat dijadikan sebagai tes penyaring untuk mendeteksi infeksi virus corona namun bukan pemeriksaan acuan atau pegangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Menurut beberapa peneliti, rapid test menjadi kurang efektif bagi pasien dengan penyakit immunocompromized (gangguan penurunan sistem imun akibat penyakit kronis) seperti HIV karena kekebalan tubuhnya sedang mengalami gangguan. Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    DAFTAR PUSTAKA

    1. arcgis.com. 2020. Experience. [online] Available at: <https://experience.arcgis.com/experience/685d0ace521648f8a5beeeee1b9125cd> [Accessed 23 March 2020].
    2. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). [online] Available at: <https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/testing-laboratories.html> [Accessed 23 March 2020].
    3. Confirm BioSciences. 2020. Coronavirus (COVID-19) Instant Test Kit | Confirm Biosciences. [online] Available at: <https://www.confirmbiosciences.com/covid19-instant-coronavirus-test-kit/> [Accessed 23 March 2020].
    4. European Centre for Disease Prevention and Control. 2020. Rapid Risk Assessment: Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic: Increased Transmission In The EU/EEA And The UK – Sixth Update. [online] Available at: <https://www.ecdc.europa.eu/en/publications-data/rapid-risk-assessment-novel-coronavirus-disease-2019-covid-19-pandemic-increased> [Accessed 23 March 2020].
    5. Rodriguez, A., O’Donnell, J. and Alltucker, K., 2020. How Can I Get Tested For Coronavirus? What You Should Know About Test Kits. [online] Usatoday.com. Available at: <https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/03/06/coronavirus-test-kit-how-can-get-tested-us-covid-19-virus/4973697002/> [Accessed 23 March 2020].
    Read More
  • Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan membeli antiseptik, hand sanitizer, sabun cuci tangan serta alkohol yang diyakini dapat membunuh virus penybab infeksi Corona. Lalu, apakah pembersih tubuh yang benar-benar efektif dapat membunuh virus Corona? Perlu Sobat ketahui, cairan pembersih seperti antiseptik, alkohol, hand sanitizer bahkan sabun mandi biasa secara teori dapat merusak struktur […]

    Ingat! Batasi Gunakan Hand Sanitizer Sampai 5 Kali

    Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan membeli antiseptik, hand sanitizer, sabun cuci tangan serta alkohol yang diyakini dapat membunuh virus penybab infeksi Corona. Lalu, apakah pembersih tubuh yang benar-benar efektif dapat membunuh virus Corona?

    Perlu Sobat ketahui, cairan pembersih seperti antiseptik, alkohol, hand sanitizer bahkan sabun mandi biasa secara teori dapat merusak struktur virus. Lantas, manakah yang lebih baik? Jawabannya semua baik, tergantung ketersediaan dan cara menggunakannya.

    Apabila memungkinkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, hal ini lebih direkomendasikan. Namun, apabila tidak dekat dengan sumber air, penggunaan alkohol ataupun hand sanitizer boleh digunakan.

    Sabun Biasa VS Sabun Antiseptik

    Penggunaan sabun antiseptik nyatanya sangat efektif untuk membasmi kuman seperti bakteri, virus dan juga jamur. Sabun antiseptik umumnya mengandung bahan aktif triclosan 0,1-0,45% atau triclocarbon yang lebih ampuh untuk membasmi kuman dibandingkan dengan sabun biasa. Namun, karena mengandung bahan kimia aktif maka tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan iritasi seperti kulit kering dan gatal apabila sering dipakai. Pada orang yang mempunyai kulit yang sensitif, maka akan menimbulkan dermatitis kontak iritan atau dermatitis kontak alergi. Namun, sejumlah penelitian menyatakan bahwa sabun biasa ternyata juga efektif untuk membunuh kuman, karena struktur virus yang terdiri dari lipid (lemak) dan protein dapat dirusak juga dengan sabun mandi biasa, minimal cuci tangan 20 detik dan dengan gerakan cuci tangan yang benar.

    Hand sanitizer Batasi Sampai 5 Kali

    Hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60% dapat membunuh kuman, keuntungan hand sanitizer dibanding alkohol biasa karena hand sanitizer biasanya telah dilengkapi dengan kandungan pelembap sehingga tidak menyebabkan kulit kering.

    Namun ternyata, KEMENKES RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) menyatakan bahwa penggunaan hand sanitizer lebih dari 5 kali berturut-turut dapat menyebabkan kuman menjadi resisten, sehingga setelah 5 kali penggunaan, tangan perlu tetap dicuci dengan sabun kemudian dibilas dengan air mengalir.

    Ditambah lagi, penggunaan alkohol diatas 60% memang terbukti efektif dalam membunuh kuman. Namun, penggunaannya diperlukan perhatian khusus, karena dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi, penyimpanan di rumah juga perlu perhatian khusus, jauhkan dari jangkauan anak-anak (hindari terhirup atau terminum oleh anak-anak) dan hati-hati karena alkohol mudah terbakar.

    Selain penggunaan antiseptik untuk mencuci tangan, berikut hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah infeksi virus Corona :

    1. Membersihkan lingkungan rumah (buka jendela rumah setiap pagi agar cahaya matahari masuk serta memperbaiki pertukaran udara).
    2. Bersihkan benda-benda yang sering digunakan (seperti gagang pintu, telpon selular, laptop) dengan menggunakan cairan antiseptik.
    3. Mandi setelah bepergian dari luar rumah.
    4. Apabila sedang sakit batuk dan pilek, gunakan masker penutup hidung dan mulut.
    5. Jangan sentuh bagian depan masker.
    6. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau dengan antiseptik lainnya setelah memegang benda.
    7. Hindari memegang wajah (mata, hidung dan mulut).
    8. Social distancing (hindari keluar rumah untuk hal yang tidak penting, hindari kerumunan).
    9. Jangan menggunakan pakaian yang telah dipakai berulang kali.
    10. Jaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang sehat (sayur, buah-buahan, suplemen multivitamin) serta istirahat yang cukup.
    11. Apabila terdapat gejala demam, batuk, sesak napas, serta riwayat berpergian keluar negeri (selama 14 hari terakhir) atau kontak dengan orang yang baru pulang dari luar negeri atau orang yang positif COVID-19 segera hubungi Dokter.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Lodish H. Molecular cell biology. 4th ed. New York: W.H. Freeman; 2000.
    2. Yasemin Saplakoglu L. Researchers Map Structure of Coronavirus &ldquo;Spike&rdquo; Protein [Internet]. Scientific American. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: scientificamerican.com/article/researchers-map-structure-of-coronavirus-spike-protein/
    3. Cuci Tangan dengan Sabun dan Air Mengalir versus Hand sanitizer [Internet]. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: promkes.kemkes.go.id/?p=2589
    4. Mohammed M. Why Alcohol-Based Hand sanitizers Are the Best to Use During the Coronavirus Pandemic [Internet]. The National Interest. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: nationalinterest.org/blog/buzz/why-alcohol-based-hand-sanitizers-are-best-use-during-coronavirus-pandemic-132977
    5. Advice for public [Internet]. Who.int. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Prevention & Treatment [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/prevention.html

     

    Read More
  • Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya. Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut […]

    5 Mitos yang Perlu Sobat Ketahui Tentang Virus COVID 19

    Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya.

    Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut apakah resmi dari badan kesehatan seperti Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) atau badan kesehatan Republik Indonesia atau KEMENKES RI.

    Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-COV-2) merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan yang menyebabkan infeksi COVID-19 yang dapat menyebabkan kematian karena dapat berakibat gagal napas. Virus ini dapat menyerang berbagai usia baik anak sampai dewasa.

    Infeksi virus corona ini sangat berbahaya, sehingga, muncullah berbagai macam mitos, antara lain:

    1. Antibiotik Bisa Cegah Virus Corona

    WHO menyatakan bahwa antibiotik tidak bekerja terhadap infeksi virus. Antibiotik hanya bekerja pada infeksi bakteri. Dengan kata lain, antibiotik tidak dapat mengatasi apalagi mencegah COVID-19. Pemberian antibiotik tentunya harus secara bijaksana dengan resep dokter. Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat menyebabkan resisten.

    Lalu, obat-obatan apa yang dapat mencegah infeksi virus corona? Sampai saat ini belum ada obat-obatan khusus yang dapat mencegah infeksi virus corona. WHO tidak merekomendasikan mengonsumsi obat-obatan termasuk antibiotik segai pencegahan COVID-19.

    1. Bawang Putih Ampuh Menangkal Virus Corona

    Bawang putih memang dikenal mempunyai segudang manfaat positif bagi kesehatan, seperti mencegah risiko terjadinya penyakit jantung, anti-tumor, anti infeksi bakteri dan menurunkan tekanan darah serta menurunkan gula darah.

    Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa mengonsumsi bawang putih dapat mencegah infeksi virus corona.

    1. Paket dari Cina Dapat Membawa Virus Corona

    Bagi Sobat yang terbiasa belanja online mungkin sudah biasa menerima kiriman paket dari luar negeri, terutama Cina. Namun tak perlu was-was, seperti yang diketahui penyebaran virus corona dari manusia ke manusia dapat melalui droplet (bersin, batuk) serta kontak tubuh pada pasien yang positive COVID-19. Karakteristik dari virus corona tidak tahan lama hidup pada benda mati. Sehingga, menurut WHO menerima paket dari Cina cukup aman.

    1. Mandi Air Panas Dapat Membunuh Virus Corona yang Menempel di Badan

    WHO telah menyatakan bahwa mandi dengan air suhu panas tidak dapat mencegah terjangkitnya COVID-19. Mandi dengan air panas justru dapat membahayakan kulit karena dapat menyebabkan kulit menjadi kering, iritasi atau malah terbakar karena kulit tidak tahan dengan suhu yang terlalu panas.

    Mengingat cara penyebaran virus corona yang dapat terjadi akibat kontak dengan penderita positive COVID-19, baik dengan bersalaman atau dengan droplet (bersin dan batuk) dalam jarak dekat, maka mandi dengan air panas tidak dapat mencegah masuknya virus apabila kita tidak memerhatikan faktor pencegahan lainnya seperti mencuci tangan setelah memegang benda, menghindari orang dengan gejala batuk, bersin dan demam serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan yang sehat.

    1. Penyemprotan Alkohol di Seluruh Tubuh Efektif Mencegah Corona

    Masih menurut WHO, penyemprotan alkohol di seluruh tubuh tidak akan membunuh virus corona yang telah masuk ke dalam tubuh, sebaliknya malah akan berbahaya karena akan mengiritasi kulit serta melukai selaput lendir seperti mulut dan mata. Alkohol 60% dapat digunakan dengan menyemprotkannya ke tangan untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh. Namun, perlu diperhatikan, terlalu sering Sobat menyemprotkan alkohol ke tangan dapat menyebabkan kulit menjadi kering sampai timbul iritasi.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/health-topics/coronavirus
    2. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    3. Myth busters [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
    4. Bayan L, Hossain Koulivand P, Gorji A. Garlic: a review of potential therapeutic effects. NCBI [Internet]. 2014 [cited 20 March 2020];v.4(1); Jan-Feb 2014. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4103721/
    5. Staff L. 13 Coronavirus myths busted by science [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/coronavirus-myths.html
    6. Lockerd Maragakis, M.D., M.P.H. L. Coronavirus Disease 2019: Myth vs. Fact [Internet]. Johns Hopkins. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/2019-novel-coronavirus-myth-versus-fact
    Read More
  • Penyebaran infeksi Corona virus telah dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization). Arti dari pandemi adalah wabah yang menyerang hampir seluruh belahan dunia. Lalu bagaimana virus ini dapat menyebar dengan cepat? Seperti yang diketahui bahwa penyebaran virus corona disebabkan akibat kontak dengan penderita, baik dari droplet penderita (bersin atau batuk) […]

    Berapa Lama Virus Corona Hidup pada Benda di Sekitar Kita?

    Penyebaran infeksi Corona virus telah dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization). Arti dari pandemi adalah wabah yang menyerang hampir seluruh belahan dunia. Lalu bagaimana virus ini dapat menyebar dengan cepat?

    Seperti yang diketahui bahwa penyebaran virus corona disebabkan akibat kontak dengan penderita, baik dari droplet penderita (bersin atau batuk) maupun dari benda yang terkontaminasi droplet penderita lalu kita pegang dan kemudian masuk ke saluran pernapasan melalui hidung maupun mulut. Oleh sebab itu, menjaga jarak dengan pasien penderita COVID-19 atau pasien yang dicurigai menderita COVID-19 sangat diperlukan. Minimal jarak yang ditetapkan adalah 1 sampai 2 meter.

    Lalu, apakah virus corona dapat hidup di luar tubuh manusia dan berapa lamakah virus corona dapat bertahan di luar tubuh manusia? Jawabannya ya, virus corona dapat bertahan hidup di luar tubuh sel inang atau host (manusia atau hewan) namun tidak dapat berkembang biak di luar tubuh sel inangnya dan hanya bertahan beberapa waktu saja tergantung dari permukaannya.

    Penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases’ laboratory of Virology in the Division of Intramural Research di Hamilton, Montana menyatakan bahwa coronavirus yang disemprotkan ke udara menjadi partikel airborne dapat bertahan hidup di udara selama 1-3 jam. Hasil penelitian ini telah dicantumkan pada jurnal kedokteran New England Journal of Medicine pada 17 maret 2020. Artinya, ketika pasien dengan COVID-19 bersin atau batuk, partikel aerosol yang ada di udara dapat bertahan selama 1-3 jam.

    Sedangkan pada beberapa penelitian lainnya menyebutkan bahwa virus corona dapat bertahan hidup selama 4 jam pada besi, 24 jam bertahan hidup di atas permukaan kayu, dan lebih dari 3 hari dapat bertahan hidup pada permukaan plastik dan stainless steel. Tetapi ada banyak faktor yang dapat memengaruhi lama hidup virus corona di atas permukaan tersebut, antara lain suhu, kelembapan, paparan sinar matahari atau paparan suhu yang terlalu dingin.

    Oleh karena itu, Lembaga pusat pengendalian penyakit atau CDC (Centers for Disease control and Prevention) merekomendasikan untuk membersihkan permukaan benda yang sering digunakan setiap hari seperti telepon seluler, gagang pintu, toilet, dan komputer dengan menggunakan cairan pembersih, cairan antiseptik atau alkohol 70% untuk membunuh virus corona. Sehingga, secara tidak langsung dapat meminimalkan penyebaran virus corona. Selain itu, biasakan cuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol setelah memegang benda atau permukaan benda.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burhan E, Isbaniah F, Dwi Susanto A, Yoga Aditama T. Pneumonia COVID 19, Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2020.
    2. Publishing H. Coronavirus Resource Center – Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: health.harvard.edu/diseases-and-conditions/coronavirus-resource-center
    3. New coronavirus stable for hours on surfaces [Internet]. National Institutes of Health (NIH). 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: nih.gov/news-events/news-releases/new-coronavirus-stable-hours-surfaces
    4. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Environmental Cleaning and Disinfection Recommendations [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/organizations/cleaning-disinfection.html
    5. Writer Y. Here’s how long the coronavirus will last on surfaces, and how to disinfect those surfaces. [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/how-long-coronavirus-last-surfaces.html

     

    Read More
  • Pada tanggal 31 Desember 2019, Tiongkok melaporkan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya. Hanya dalam waktu 3 hari, pasien dengan kasus tersebut bertambah menjadi 44 pasien dan terus bertambah sampai saat ini menjadi ribuan dengan kasus kematian akibat infeksi virus ini mencapai ribuan. Pada awalnya, menurut data epidemiologi, menunjukkan 66% pasien berkaitan dengan pasar […]

    Vitamin C, Wajibkah Dikonsumsi agar Tidak Terserang Corona?

    Pada tanggal 31 Desember 2019, Tiongkok melaporkan kasus pneumonia misterius yang tidak diketahui penyebabnya. Hanya dalam waktu 3 hari, pasien dengan kasus tersebut bertambah menjadi 44 pasien dan terus bertambah sampai saat ini menjadi ribuan dengan kasus kematian akibat infeksi virus ini mencapai ribuan. Pada awalnya, menurut data epidemiologi, menunjukkan 66% pasien berkaitan dengan pasar seafood di Wuhan provinsi Hubei Tiongkok. Sampel dari pasien yang menunjukkan adanya infeksi virus Corona tipe baru yaitu 2019-nCoV. Pada tanggal 11 Febuari 2020, Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO (World Health Organization) memberi nama virus tersebut  Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

    Menurut data dunia saat ini, masih ada kasus aktif Corona virus sebanyak 39.651 kasus aktif. Dengan gejala ringan sebanyak 82% kasus (32.553 kasus) dan sebanyak 18% (7.098) kasus dengan menunjukkan gejala berat sampai kritis. Sedangkan sebanyak 48.162 kasus berhasil sembuh total dan sebanyak 3.119 kasus berakhir dengan kematian. Kasus infeksi virus Corona tersebar dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang pada tanggal 2 Maret 2020 lalu ditemukan kasus baru terinfeksi virus korona sebanyak 2 kasus.

    Baca Juga: Vitamin Untuk Kamu yang Suka Begadang

    Cara penularan terutama menginfeksi dewasa atau anak usia lebih tua, dengan gejala yang ringan seperti common cold dan faringitis sampai gejala lebih berat seperti SARS atau MERS serta beberapa tipe virus Corona lainnya dapat menyebabkan diare. Sama seperti infeksi virus lainnya, infeksi virus Corona sangat dipengaruhi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh, begitu juga tatalaksananya yaitu pemberian obat sesuai gejala serta meningkatkan daya tahan tubuh. Apabila daya tahan tubuh sedang rendah, sedang melakukan perjalanan yang membuat sistem imun turun, serta keadaan cuaca (pada musim dingin atau semi) dapat meningkatkan penularan infeksi virus Corona.

    Karena pada dasarnya  infeksi virus Corona sama seperti infeksi virus pada umumnya yang membutuhkan daya tahan tubuh, maka salah satu pencegahan dapat dilakukan dengan mengoptimalkan daya tahan tubuh. Salah satunya dengan mengonsumsi vitamin C. Apakah benar vitamin C dapat meningkatkan daya tahan tubuh?

    Dari berbagai penelitian, disebutkan bahwa vitamin C terbukti dapat meningkatkan sistem imun dengan meningkatkan pertahanan tubuh seperti neutrofil (sel tubuh yang melawan kuman patogen seperti virus), meningkatkan antioksidan tubuh, serta meningkatkan sel T (T-cell) yang berfungsi sebagai penangkal kuman patogen di dalam tubuh. Sehingga, fungsi vitamin C dapat sebagai pencegah dan terapi pasien dengan infeksi saluran napas dan infeksi sistemik.

    Baca Juga: 5 Vitamin Penambah Stamina yang Harus Dicoba

    Penelitian lainnya menyebutkan bahwa mengonsumsi vitamin C sebanyak 200 mg setiap hari akan menurunkan risiko flu, serta menurunkan durasi terkena flu pada 8% dewasa dan 14% anak-anak. Dosis vitamin C yang diperlukan pada dewasa yang sehat hanya sebanyak 90 mg untuk laki-laki dan 75 mg pada perempuan per harinya. Apabila dosis vitamin C yang dikonsumsi melebihi 2000 mg, maka akan timbul berbagai efek samping seperti mual, muntah, nyeri perut dna diare. Vitamin C didapatkan dari berbagai makanan sehari-hari seperti strawberry, jeruk dan tomat.

    Selain vitamin C, ada beberapa cara yang dapat Sobat lakukan untuk menghindari diri dari penularan infeksi virus corona, antara lain:

    Gambar 1. Pencegahan lain infeksi Corona virus

    1. Meningkatkan daya tahan tubuh (mengonsumsi makanan yang sehat seperti buah dan sayur, suplemen vitamin C, tidur cukup minimal 6 jam per hari, olahraga setiap hari minimal 30 menit).
    2. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau alkohol minimal 60% atau hand sanitizer.
    3. Menutup hidung dan mulut ketika bersin dan batuk.
    4. Membersihkan benda yang sering dipegang setiap hari seperti handphone, komputer serta gagang pintu.
    5. Tetap tinggal di rumah apabila sedang sakit untuk mencegah penularan ke orang sekitar.
    6. Menggunakan masker medis sesuai standar apabila sedang flu.
    7. Hindari kontak dengan pasien yang terinfeksi.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burhan E, Isbaniah F, Dwi Susanto A, Yoga Aditama T. Pneumonia COVID-19 Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI); 2020.
    2. [Internet]. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: worldometers(dot)info/coronavirus/
    3. AC C, S M. Vitamin C and Immune Function. NCBI [Internet]. 2017 [cited 3 March 2020];017 Nov 3;9(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29099763
    4. Can vitamin C prevent a cold? [Internet]. Harvard Health Publishing. 2017 [cited 3 March 2020]. Available from: health.harvard.edu/cold-and-flu/can-vitamin-c-prevent-a-cold
    5. Sparks H. Health gurus advise lethal vitamin doses to fight coronavirus [Internet]. Nypost.com. 2020 [cited 3 March 2020]. Available from: nypost(dot)com/2020/02/27/phony-health-gurus-are-advising-deadly-vitamin-doses-to-fight-coronavirus/

    Daftar Pustaka Gambar

    Gambar 1 diunduh dari website klikpdpi(dot)com pada tanggal 3 maret 2020.

    Read More

Showing 1–10 of 11 results

Chat Asisten ProSehat aja